Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcome) merupakan topik yang sangat relevan di era pendidikan modern di Indonesia saat ini, terutama dengan penekanan pada pembelajaran mendalam (deep learning). Taksonomi SOLO, dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis pada 1980-an, adalah kerangka untuk mengukur kualitas pemahaman siswa, bukan sekadar kuantitas pengetahuan (seperti Taksonomi Bloom yang lebih fokus pada hierarki kognitif). SOLO membagi proses belajar menjadi 5 tingkat, dari yang paling sederhana hingga kompleks. Ini membantu guru merancang pertanyaan, tugas, dan asesmen yang mendorong siswa naik level secara bertahap.
Taksonomi SOLO mendorong pembelajaran mendalam dengan fokus pada "bagaimana siswa berpikir", bukan "apa yang mereka hafal". Ini selaras dengan tren global 2025, di mana AI dan otomatisasi membuat hafalan usang—siswa butuh kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Keunggulannya:
- Fleksibel: Bisa diterapkan di semua jenjang dan mata pelajaran, termasuk STEM atau seni
- Mendorong inklusivitas: Guru bisa diferensiasi tugas berdasarkan level siswa, mengurangi frustrasi bagi yang lambat naik level.
- Kelemahan kecil: Butuh pelatihan guru untuk implementasi, tapi manfaatnya jauh lebih besar—studi menunjukkan peningkatan retensi pengetahuan hingga 30% saat digunakan.
Relevansi dengan Kurikulum Merdeka (KM) 2025 dan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM)
Di Indonesia, KMI (yang mulai diterapkan penuh sejak 2022 dan terus disempurnakan hingga 2025) sangat selaras dengan SOLO, terutama melalui Pembelajaran Mendalam yang ditekankan Kemdikbud. Pendekatan ini memuliakan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, dengan tujuan persiapan siswa menghadapi dunia VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous). SOLO diintegrasikan sebagai alat untuk mengklasifikasikan hasil belajar ke 5 level, mendukung diferensiasi dan proyek berbasis masalah.
1. Pre-structural (Pra-struktural)
- Definisi Detail: Ini adalah tingkat paling dasar, di mana siswa belum memiliki pemahaman yang terstruktur tentang topik. Jawaban mereka sering acak, tidak relevan, atau bahkan salah total karena kurangnya pengetahuan awal. Siswa mungkin mengulang kata-kata tanpa makna atau mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Ini seperti "kosong" atau "tidak terkoneksi" dengan konsep yang diajarkan.
- Ciri-Ciri: Tidak ada elemen pengetahuan yang benar-benar dipahami; siswa mungkin mengatakan "saya tidak tahu" atau memberikan respons yang tidak berhubungan. Ini normal pada tahap awal belajar, terutama bagi pemula atau saat topik baru
2. Tingkat Uni-structural (Uni-struktural)
- Definisi Detail: Siswa mulai paham satu aspek atau elemen tunggal dari topik, tapi pemahaman itu terisolasi dan terbatas. Mereka bisa mengidentifikasi atau menyebutkan satu fakta dasar, tapi tidak bisa mengembangkannya lebih lanjut. Ini seperti memiliki satu puzzle, tapi belum tahu bagaimana menyusunnya dengan yang lain.
- Ciri-Ciri: Respons fokus pada satu poin saja, sering berupa definisi sederhana atau contoh tunggal. Siswa mungkin berhenti di situ tanpa menghubungkan ke konteks lebih luas.
3. Tingkat Multi-structural (Multi-struktural)
- Definisi Detail: Siswa sudah menguasai beberapa aspek atau fakta, tapi belum bisa menghubungkannya menjadi satu kesatuan yang bermakna. Ini seperti memiliki banyak puzzle, tapi disusun secara acak tanpa pola. Pemahaman masih di level permukaan (surface level), dengan daftar elemen yang terpisah.
- Ciri-Ciri: Jawaban berupa enumerasi atau daftar, tapi tanpa analisis hubungan antar-elemen. Siswa bisa sebutkan banyak hal, tapi terasa "terpecah-pecah".
- Definisi Detail: Siswa mampu menghubungkan berbagai aspek menjadi satu kesatuan yang koheren. Pemahaman mencapai level mendalam (deep level), di mana fakta-fakta saling terkait, dianalisis, dan diintegrasikan. Ini seperti puzzle yang sudah tersusun sempurna, membentuk gambar utuh.
- Ciri-Ciri: Jawaban menunjukkan analisis, perbandingan, atau penjelasan sebab-akibat. Siswa bisa jelaskan "mengapa" dan "bagaimana" konsep bekerja bersama.
5. Tingkat Extended Abstract (Abstrak yang Diperluas)
- Definisi Detail: Ini tingkat tertinggi, di mana siswa tidak hanya paham dan hubungkan konsep, tapi juga bisa menggeneralisasi, memprediksi, atau menciptakan ide baru di luar konteks asli. Pemahaman mencapai level konseptual, dengan aplikasi kreatif ke situasi baru atau hipotetis.
- Ciri-Ciri: Jawaban melibatkan hipotesis, kritik, atau inovasi. Siswa bisa terapkan konsep ke masalah dunia nyata atau buat teori baru.
SOLO Cocok untuk Matematika SD?
Di SD, matematika bukan hanya tentang menghafal rumus atau angka, tapi membangun fondasi logika dan pemecahan masalah sehari-hari. SOLO membantu guru melihat "struktur pemikiran" anak, dari yang masih acak hingga bisa menerapkan konsep ke situasi baru. Ini selaras dengan Kurikulum Merdeka, di mana anak didorong untuk belajar melalui proyek dan eksplorasi, bukan rote learning. Misalnya, alih-alih sekadar menjumlahkan angka, anak diajak hubungkan konsep itu ke kehidupan seperti berbagi mainan atau mengukur bahan masak. Pendekatan ini membuat matematika terasa seperti petualangan, mengurangi rasa takut, dan meningkatkan rasa percaya diri.
SOLO punya 5 tingkat, seperti tangga yang anak panjat satu per satu. Guru bisa gunakan ini untuk merancang soal, aktivitas, dan evaluasi yang bertahap, sehingga setiap anak—termasuk yang lambat atau berbakat—bisa berkembang sesuai kecepatannya.
Taksonomi SOLO dalam Matematika SD,
- Tingkat Pre-Structural: Belum Ada Struktur Pemahaman Di sini, anak belum paham konsep sama sekali—jawabannya sering salah, acak, atau berdasarkan tebakan liar. Ini normal untuk pemula, seperti anak kelas 1 yang baru kenal angka. Contoh Matematika: Tema penjumlahan sederhana (2 + 3). Anak mungkin jawab "10" karena ingat lagu atau gambar acak, tanpa tahu arti penjumlahan. Strategi Penyampaian: Mulai dengan permainan visual, seperti gunakan balok mainan atau jari tangan untuk "lihat dan sentuh". Guru bisa bilang, "Ayo kita hitung apel: satu... dua... tambah tiga jadi apa ya?" Hindari koreksi kasar; alih-alih, ulangi demonstrasi sampai anak ikut. Aktivitas SD: "Permainan Hitung Jari" – Anak bermain kelompok, hitung benda sehari-hari seperti pensil di meja. Tujuannya: Bantu anak naik ke tingkat berikutnya tanpa tekanan. Hubungan dengan Kurikulum Merdeka: Ini cocok untuk fase pengenalan, di mana anak eksplorasi bebas untuk bangun rasa ingin tahu.
- Tingkat Uni-Structural: Paham Satu Aspek Saja Anak sudah tangkap satu ide dasar, tapi belum bisa kembangkan. Ini seperti fondasi rumah yang baru satu batu bata. Contoh Matematika: Pada pengukuran panjang, anak tahu "panjang adalah ukuran dari ujung ke ujung", tapi tak bisa bandingkan dua benda. Jawaban: "Pensil ini panjang 10 cm" (hanya satu fakta). Strategi Penyampaian: Gunakan pertanyaan terfokus, seperti "Apa satu hal yang kamu tahu tentang bentuk segitiga?" Dorong dengan gambar cerah atau alat peraga, agar anak merasa berhasil. Beri pujian spesifik: "Bagus, kamu sudah tahu satu sisinya lurus!" Aktivitas SD: "Buruan Fakta Tunggal" – Anak cari satu contoh bentuk geometri di kelas (misalnya, persegi di jendela), lalu ceritakan satu sifatnya. Ini bangun kepercayaan diri sebelum lanjut ke multi. Hubungan dengan Kurikulum Merdeka: Mendukung pembelajaran berbasis inkuiri, di mana anak mulai dari satu pengetahuan untuk eksplorasi lebih dalam.
- Tingkat Multi-Structural: Tahu Banyak Fakta, Tapi Belum Terhubung Anak bisa sebutkan beberapa elemen, tapi seperti daftar belanja—belum saling terkait. Ini tahap akumulasi pengetahuan. Contoh Matematika: Pada pengurangan (10 - 4), anak sebutkan "Pengurangan berarti kurangi, pakai jari, hasilnya 6, dan bisa pakai garis bilangan". Tapi tak jelaskan kenapa atau hubungannya. Strategi Penyampaian: Ajak anak buat "peta pikiran" sederhana dengan gambar, seperti hubungkan fakta dengan garis. Tanya: "Kamu tahu tiga hal tentang perkalian—apa saja?" Lalu, dorong hubungkan: "Bagaimana ketiganya saling bantu?" Aktivitas SD: "Koleksi Angka" – Kelompok anak kumpul fakta tentang bilangan genap/ganjil (misalnya, "2 genap, 4 genap, bisa dibagi 2"), lalu presentasikan tanpa urutan. Guru bantu susun jadi cerita. Hubungan dengan Kurikulum Merdeka: Ini fase pengumpulan data dalam proyek, seperti hitung benda alam untuk pelajaran lingkungan.
- Tingkat Relational: Hubungkan Konsep Secara Bermakna Di sini, anak mulai lihat "gambar besar"—fakta saling terkait seperti puzzle yang pas. Ini tingkat deep learning sejati. Contoh Matematika: Pada geometri, anak jelaskan "Segitiga punya tiga sisi, sudutnya jumlah 180 derajat, dan bisa jadi bagian rumah karena stabil seperti atap". Mereka hubungkan sifat dengan fungsi nyata. Strategi Penyampaian: Gunakan diskusi kelompok atau cerita, seperti "Bayangkan kamu bangun jembatan dengan bentuk—bagaimana lingkaran dan persegi saling bantu?" Beri waktu refleksi: "Apa hubungan antara penjumlahan dan pengukuran?" Aktivitas SD: "Cerita Matematika" – Anak buat komik sederhana di mana karakter gunakan konsep pecahan untuk bagi kue, jelaskan hubungan antar-bagian. Hubungan dengan Kurikulum Merdeka: Selaras dengan pembelajaran kontekstual, seperti integrasi matematika dengan budaya lokal (misalnya, hitung pola batik).
- Tingkat Extended Abstract: Generalisasi dan Aplikasi Baru Anak tak hanya paham, tapi bisa ciptakan ide baru atau terapkan ke masalah tak terduga. Ini seperti inovator kecil. Contoh Matematika: Pada pola bilangan, anak bukan hanya kenali urutan (1, 3, 5), tapi prediksi pola baru dan aplikasikan: "Pola ganjil bisa buat jadwal permainan agar adil, atau desain taman dengan pohon genap." Strategi Penyampaian: Dorong proyek kreatif, tanya: "Kalau kamu punya rumus ini, bagaimana ubah untuk masalah dunia nyata seperti hemat air?" Gunakan teknologi sederhana seperti app gambar untuk visualisasi. Aktivitas SD: "Inovator Muda" – Anak desain permainan papan dengan aturan matematika (misalnya, dadu dengan pola probabilitas), lalu jelaskan kenapa desain itu efektif. Hubungan dengan Kurikulum Merdeka: Ini puncak, di mana anak capai kompetensi holistik melalui proyek mandiri, seperti buat model matematika untuk isu lingkungan.


Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : 5B PGSD
izin menanggapi Pak. Menurut saya penjelasan dari materi di atas sangat bagus dan gampang dipahami, apalagi cara membahas Taksonomi SOLO dari level paling dasar sampai yang paling tinggi bikin saya lebih kebayang gimana proses berpikir siswa itu berkembang. Materi ini ngebuka sudut pandang kalau belajar, khususnya matematika, nggak cuma soal hafalan atau jawaban akhir, tapi lebih ke bagaimana siswa memahami dan menghubungkan konsep. Contoh aktivitas yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari juga terasa realistis dan cocok diterapkan di kelas SD. Menurut saya pendekatan SOLO ini relevan banget dengan Kurikulum Merdeka karena bisa bantu guru menyesuaikan pembelajaran sesuai kemampuan siswa tanpa bikin siswa merasa tertinggal.🙏
dias pinasih
Hapus5b pgsd
2386206057
izin menaggapai materi bapak yang bapak jelaskan
Menurut aku, penjelasan Isdiana itu sudah menggambarkan dengan jelas kalau Taksonomi SOLO bisa membantu guru memahami perkembangan cara berpikir siswa secara bertahap. Dari yang awalnya masih di tahap dasar sampai akhirnya bisa menghubungkan beberapa konsep, semua proses itu dihargai. Ini penting banget karena di kelas kemampuan siswa itu beda-beda, jadi nggak bisa disamaratakan semua harus langsung paham di level yang sama.
Selain itu, yang aku tangkap dari penjelasan Isdiana, pendekatan SOLO ini juga sejalan dengan Kurikulum Merdeka karena memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai kemampuan siswa. Dengan begitu, siswa nggak merasa tertinggal atau tertekan, tapi justru merasa dibimbing sesuai tahap perkembangannya. Guru juga bisa lebih fokus membantu siswa naik ke tahap berikutnya secara pelan-pelan.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan isdiana, Saya sangat mengapresiasi poin Anda mengenai bagaimana Taksonomi SOLO mengubah cara pandang terhadap matematika—dari sekadar hasil akhir menjadi proses berpikir.
Di jenjang SD, kemampuan siswa untuk beranjak dari level Unistructural (satu aspek) ke Relational (menghubungkan konsep) memang menjadi kunci. Dengan memahami level-level ini, Anda sebagai calon guru tidak hanya memberikan soal, tetapi bisa mendiagnosis di mana letak hambatan belajar siswa secara spesifik. Hal ini sangat sejalan dengan semangat 'Differentiated Learning' dalam Kurikulum Merdeka. Terus asah kemampuan analisis Anda dalam membedah jawaban siswa!"
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Hallo isdi izin menanggapi kembali ya 🙏 , saya sangat sependapat dengan isdi bahwa materi ini disajikan dengan jelas dan bertahap, sehingga memudahkan kita memahami perkembangan proses berpikir siswa melalui Taksonomi SOLO. Pandangan bahwa matematika tidak hanya tentang hafalan atau jawaban akhir, tetapi tentang pemahaman dan keterkaitan konsep, juga sangat tepat.
Contoh aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat materi ini terasa realistis untuk diterapkan di SD. Selain itu, relevansi Taksonomi SOLO dengan Kurikulum Merdeka terlihat jelas karena pendekatan ini membantu guru menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan siswa tanpa membuat mereka merasa tertinggal.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
HapusHalo Kak Isnaa!
Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Terima kasih atas tanggapannya, Isdiana. Senang mendengar bahwa contoh aktivitas sehari-hari dalam materi tersebut terasa realistis untuk level SD. Itulah esensi dari Kurikulum Merdeka: memanusiakan hubungan antara siswa dan materi pelajaran. Dengan pendekatan SOLO, kita memastikan tidak ada siswa yang merasa 'tertinggal' hanya karena cara berpikir mereka masih di level dasar, melainkan kita tuntun perlahan menuju pemahaman yang lebih kompleks.
Nama:syahrul
BalasHapusKelas:5D
Npm:2386206092
Taksonomi Solo tuh sebetulnya cara simpel buat kita tau seberapa jauh anak paham pelajaran. Jadi gak cuma hitung berapa banyak hafalan, metode ini tuh lebih fokus ke cara mereka mikir.Kayak mulai dari yang awalnya masih bingung sampai akhirnya bisa bikin ide baru dari apa yang sudah dipelajari.
dias pinasih
Hapus5b pgsd
2386206057
Kalau dari penjelasan Syahrul, menurut aku penekanannya ada di sisi praktiknya. Taksonomi SOLO dipandang sebagai cara yang simpel tapi bermakna untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa. Bukan soal seberapa banyak hafalan atau seberapa cepat dapat jawaban, tapi bagaimana proses berpikir siswa dari awal yang masih bingung sampai akhirnya bisa membangun ide sendiri.
Penjelasan Syahrul juga nunjukin kalau pendekatan ini membantu guru memahami perjalanan belajar siswa. Jadi guru bisa tahu apakah siswa masih perlu dibantu di konsep dasar atau sudah siap diajak ke tahap yang lebih kompleks. Menurut aku, ini bikin pembelajaran jadi lebih hidup karena siswa nggak cuma mengerjakan soal, tapi juga dilatih buat berpikir dan memahami apa yang dipelajari.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
HapusHalo Sahrul..!
Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Terima kasih atas opininya, Syahrul. Analogi puzzle yang kamu gunakan sangat tepat. Taksonomi SOLO memang membantu kita melihat bahwa kesulitan siswa seringkali bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka baru memegang satu potongan puzzle saja levelnya Uni-structural. Tugas kita adalah membantu mereka merangkai potongan tersebut agar identitas mereka sebagai 'orang matematika' tumbuh seiring terbentuknya gambar yang utuh.
Semangat terus di UWGM kita tercinta...!!
Nama:syahrul
BalasHapuskelas5D
Npm:2386206092
Ada lima tahap yang biasanya dilewati anak, dan tahapan inituh gampang banget diliat kayak
• Siswa masih bingung atau jawabannya belum nyambung sama sekali.
• Mereka udah mulai tau dasar, tapi pemahamannya masih terbatas di situ aja.
• Udah tahu beberapa hal, tapi belum bisa hubungin info info itu jadi satu.
• Anak sudah bisa lihat gambaran besar dan paham gimana antar konsep saling berkaitan.
• Terahir,di mana mereka bisa pakai logika tadi buat hadapi situasi baru yang beda.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Cara ini tuh cocok buat gaya belajar sekarang yang lebih mudah. Guru jadi gak maksakain semua anak harus punya kecepatan yang sama. Murid yang belajarnya pelan tetap merasa dihargai prosesnya jadi mereka bisa naik level pelan pelan, sementara yang cepat bisa terus dikasih tantangan biar gak bosan di kelas.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
npm:2386206092
Kalau diterapkan di matematika SD, fokusnya gak lagi rumus di papan tulis. Siswa diajak pakai logika buat urusan sehari hari, kayak pas lagi bagi bagi mainan atau ukur bahan masak. Matematika jadi terasa kayak petualangan yang seru, bukan lagi pelajaran menakutkan yang bikin pusing.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan syahrul, Saya sangat setuju dengan analogi 'petualangan' yang Anda gunakan. Memang benar, tantangan terbesar guru SD adalah menghilangkan math-anxiety atau rasa takut siswa terhadap angka.
Ide Anda menggunakan aktivitas berbagi mainan untuk mengajarkan pembagian atau mengukur bahan masak untuk materi satuan berat adalah contoh nyata dari level Relational dalam Taksonomi SOLO—di mana siswa tidak hanya menghafal rumus, tapi memahami fungsi konsep tersebut dalam kehidupan. Pertahankan cara pandang yang kreatif ini agar matematika selalu dinanti oleh siswa Anda nanti!"
NAMA : KORNELIA SUMIATY
HapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
halo syahrul aku setuju banget kalau matematika SD dibawa ke situasi sehari-hari, anak-anak jadi lebih “ngeh” gunanya buat apa. Mereka nggak cuma ngafalin rumus, tapi benar-benar mikir dan pakai logika, misalnya pas berbagi mainan biar adil atau ngukur bahan waktu masak. Dengan cara ini, matematika terasa lebih dekat, lebih hidup, dan pastinya nggak seseram yang sering dibayangkan. Malah bisa jadi petualangan seru yang bikin anak penasaran dan semangat belajar.
nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Intinya, metode ini tuh ngebantu anak punya kemampuan berpikir kritis yang berguna sampai mereka dewasa. Di era sekarang, cuma hafal fakta aja udah gak cukup buat bertahan. Anak butuh dilatih supaya bisa analisis masalah dan cari solusi kreatif sendiri sejak dini.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: V B (PGSD)
Ternyata taksonomi solo sangat ngebantu guru memahami bagaimana cara berpikir siswa, bukan hanya melihat benar atau salahnya jawaban. Anak yang masih tahap awal tidak langsung dianggap gagal, tapi dipahami sedang membangun pemahaman.
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin menanggapi yaaa rosidah 🙏 Saya sangat setuju dengan pendapat Rosidah. Taksonomi SOLO memang membantu guru melihat proses berpikir siswa secara lebih mendalam, tidak hanya menilai dari benar atau salahnya jawaban. Dengan pendekatan ini, siswa yang masih berada pada tahap awal tetap dihargai sebagai bagian dari proses belajar, bukan langsung dianggap gagal. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih manusiawi dan memberi ruang bagi siswa untuk berkembang secara bertahap sesuai kemampuannya.
halo kak rosa aku setuju bgt sama pendapat kak ros Taksonomi SOLO bikin guru bisa lihat proses berpikir siswa, bukan cuma fokus ke jawaban akhir. Jadi kalau jawabannya belum tepat, anak nggak langsung dicap “salah”, tapi dipahami memang masih di tahap belajar dan menyusun pemahaman. Dengan begitu, guru bisa lebih tepat ngasih bantuan, dan siswa juga jadi lebih percaya diri karena proses belajarnya dihargai.
Hapus
HapusNama : Desy Olivia Sapitri
Kelas / Npm : 5D / 2386206087
Haii kak Rosidah izin menambahkan juga yaa saya setuju dengan tanggapan kak Rosidah tersebut, yang menyatakan Taksonomi SOLO memberi sudut pandang dan melihat proses belajar siswa. Guru tidak lagi dapat memberi label “tidak bisa” atau “kurang pintar”, tapi membantu memahami bahwa setiap jawaban mencerminkan tahap berpikir tertentu. Dengan cara ini, kesalahan justru akan menjadi informasi penting untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya. Selain itu, pendekatan ini membantu guru memberi mengumpan balik yang lebih bermakna dan membangun rasa percaya diri siswa, karena mereka merasa proses belajarnya dihargai, bukan sekadar hasil akhirnya.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: V B (PGSD)
Menggali lebih dalam tentang materi taksonomi solo dan kurikulum nasional 2025 dengan pendekatan pembelajaran mendalam, ini menjadi tantangan bagi kami sebagai calon guru untuk memahami lebih dalam. Dizaman sekarang, siswa nggk lagi cukup hanya menghafal materi, tapi perlu memahami, mengaitkan dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Disini taksonomi solo membantu guru melihat sejauh mana kedalaman pemahaman siswa. Jadi kita sebagai calon guru, sangat penting memahami pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tuntutan zaman.
dias pinasih
Hapus5b pgsd
2386206057
izin menambahkan yah kak rosa dari penjelasan materi yang bapak jelaskan Menurut aku, penjelasan Rosidah sudah tepat banget karena menekankan bahwa di pembelajaran sekarang siswa nggak bisa lagi cuma menghafal materi. Dengan adanya Taksonomi SOLO, guru bisa melihat seberapa dalam pemahaman siswa, apakah mereka baru sekadar tahu, sudah paham, atau bahkan sudah bisa mengaitkan dan menerapkan pengetahuan ke kehidupan nyata. Ini penting karena tuntutan pembelajaran saat ini memang mengarah ke kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.Selain itu, yang aku tangkap dari penjelasan Rosidah, Taksonomi SOLO juga jadi tantangan sekaligus peluang buat calon guru. Tantangan karena guru harus lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, tapi juga peluang karena pembelajaran bisa dibuat lebih bermakna dan sesuai kebutuhan siswa. Dengan pendekatan ini, guru nggak cuma menyampaikan materi, tapi benar-benar mendampingi proses belajar siswa agar siap menghadapi perkembangan zaman.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan rosidah, Anda benar, tantangan bagi calon guru saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan bagaimana memastikan siswa memiliki kedalaman pemahaman.
Poin Anda mengenai Taksonomi SOLO sebagai alat bantu untuk melihat sejauh mana kedalaman pemahaman siswa adalah inti dari asesmen yang bermakna. Dengan memahami tingkat berpikir siswa—apakah mereka baru sekadar menghafal atau sudah mampu menerapkan pengetahuan di kehidupan nyata—kita bisa merancang intervensi yang tepat. Semangat terus dalam mendalami materi ini sebagai bekal menjadi pendidik yang adaptif!"
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Hallo rosidah tolong dijawab ya saya mau tanya nih , atau teman” lain ingin menjawab juga dipersilahkan ya, bagaimana sih Taksonomi SOLO bisa membantu guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa yang beragam???☺️
NAMA : KORNELIA SUMIATY
HapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
halo piaa aku ijin nanggapin yaa Menurut aku, Taksonomi SOLO bantu guru banget karena guru jadi tahu posisi cara berpikir tiap siswa. Ada yang masih ngerti sepotong-sepotong, ada juga yang sudah bisa mengaitkan konsep. Dari situ, pembelajaran bisa disesuaikan: yang masih awal dibimbing pelan-pelan, yang sudah paham ditantang lebih jauh. Jadi semua siswa tetap terlayani sesuai kebutuhannya
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
HapusHalo Kak Ross!!
Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Setuju sekali... Kak Ros... Sebagai calon guru di era AI, kita memang menghadapi tantangan di mana pengetahuan bukan lagi soal 'apa' yang dihafal, tapi 'bagaimana' ia dikaitkan dengan kehidupan nyata. Taksonomi SOLO adalah kompas yang membantu kita memastikan pembelajaran tidak berhenti di permukaan, tetapi menyentuh kedalaman yang relevan dengan tuntutan zaman.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Setelah membaca materi ini saya setuju bahwa Taksonomi SOLO sangat relevan dengan arah Kurikulum Nasional karena sama-sama menekankan kedalaman pemahaman siswa, bukan sekedar hasil akhir atau hafalan. Taksonomi SOLO membantu guru melihat proses berpikir siswa secara bertahap yang mana ada 5 tingkat, mulai dari pemahaman yang masih terbatas hingga mampu mengaitkan dan mengembangkan konsep secara luas, dalam konteks pembelajaran mendalam (deep learning), Taksonomi SOLO mendorong guru untuk merancang pertanyaan dan aktivitas yang menuntut siswa menjelaskan, menghubungkan dan merefleksikan pengetahuan, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Hal ini sejalan dengan tujuan kurikulum yang ingin membentuk siswa kritis, kreatif dan mampu memecahkan masalah, namun penerapan Taksonomi SOLO tidak bisa dilakukan secara instan, guru perlu pemahaman yang baik agar mampu menyusun soal dan menilai jawaban sesuai level Taksonomi SOLO. Tanpa pelatihan yang memadai, ada risiko Taksonomi SOLO hanya akan menjadi teori tanpa dampak nyata di kelas.
dias pinasih
Hapus5bpgsd
2386206057
izin menambhakan sedikit yah dari penjelasan dari sinta mengenai materi dari bapak yaitu penerapan Taksonomi SOLO nggak bisa instan. Guru perlu pemahaman yang kuat agar bisa menyusun pertanyaan dan menilai jawaban siswa sesuai level berpikirnya. Kalau tidak dibarengi pelatihan dan pendampingan yang cukup, ada kemungkinan SOLO hanya jadi teori tanpa benar-benar terasa dampaknya di kelas. Jadi menurut aku, keberhasilan penerapan SOLO sangat bergantung pada kesiapan guru dalam merancang pembelajaran dan penilaiannya.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan nur sinta, Saya sangat setuju dengan poin Anda bahwa penerapan Taksonomi SOLO tidak bisa dilakukan secara instan.
Kesadaran Anda bahwa guru memerlukan pelatihan memadai untuk menyusun soal dan menilai jawaban sesuai level SOLO adalah langkah awal menuju profesionalisme. Memang benar, alat secanggih apa pun tidak akan berdampak jika penggunanya belum menguasainya dengan baik. Inilah alasan mengapa kita mempelajari ini sejak sekarang—agar Anda memiliki waktu untuk berlatih mengubah teori 'pembelajaran mendalam' ini menjadi praktik nyata yang bermakna di kelas nanti. Teruslah kritis!"
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin menanggapi ya Nur Sinta🙏 Saya sepakat dengan pendapat kamu Penjelasan yang disampaikan sudah menunjukkan pemahaman yang baik bahwa Taksonomi SOLO sejalan dengan arah Kurikulum Nasional yang menekankan kedalaman pemahaman, bukan sekadar hafalan atau hasil akhir. Pandangan bahwa SOLO membantu guru melihat proses berpikir siswa secara bertahap juga sangat tepat, karena dari situlah pembelajaran mendalam bisa benar-benar terjadi. Saya juga setuju dengan catatan kritis yang disampaikan, bahwa penerapan Taksonomi SOLO tidak bisa dilakukan secara instan. Tanpa pemahaman dan pelatihan yang cukup, guru bisa kesulitan merancang soal dan menilai jawaban sesuai level SOLO. Oleh karena itu, kesiapan guru menjadi kunci agar Taksonomi SOLO tidak hanya berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar memberi dampak nyata dalam pembelajaran di kelas.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
HapusHalo Sinta!!
Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Menyala banget Sinta... Aku kasih 2 jempol untuk poin kritis yang kamu sampaikan... Sinta. Kamu benar, tanpa pemahaman mendalam dari sisi guru, Taksonomi SOLO berisiko hanya menjadi teori di atas kertas. Kuncinya memang ada pada kemampuan kita merancang pertanyaan yang memicu refleksi. Harapannya, melalui latihan yang konsisten, kita bisa mengubah metode ini menjadi dampak nyata yang membentuk karakter siswa yang kreatif dan solutif di kelas
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: V B (PGSD)
saya selalu bertanya-tanya, ketika saya sedang belajar tentang taksonomi dan kurikulum nasional apa lagi sekarang diarahkan dengan pendekatan pembelajaran mendalam. mungkin dari bapak atau teman-teman boleh berbagi pengalaman dan ilmunya, saya sangat penasaran, dari cerita yang sering saya dengar di lapangan, saat ini guru sering dikejar target materi, nah bagaimana cara seorang guru menerapkan taksonomi solo ini agar selaras dengan kurikulum nasional 2025 tanpa mengorbankan pemahaman siswa?
karena yang kita tau setiap anak itu memiliki proses berpikir yang berbeda-beda
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan rosidah, Dilema antara 'target materi' dan 'pemahaman mendalam' memang tantangan nyata di lapangan. Namun, disinilah peran Taksonomi SOLO.Dengan menggunakan SOLO, Anda tidak perlu mengajarkan semua materi secara mendalam di saat yang sama. Anda bisa memetakan mana materi esensial yang harus mencapai level Relational, dan mana yang cukup di level Multistructural. Strategi ini justru membantu guru agar tidak 'kejar tayang' tanpa arah, sehingga pemahaman siswa tetap terjaga meski dalam batasan waktu kurikulum. Pemikiran yang sangat kritis, tetap pertahankan rasa ingin tahu ini!"Di era Kurikulum Nasional 2025 yang menekankan pada kompetensi, bukan sekadar konten, peran guru sebagai desainer pembelajaran sangatlah vital.
Seperti yang Anda sampaikan, menghafal sudah tidak lagi relevan. Taksonomi SOLO hadir sebagai 'kompas' bagi guru untuk melihat perkembangan kognitif siswa secara objektif. Jika kita fokus pada proses (bagaimana siswa menghubungkan konsep), maka target materi akan tercapai dengan sendirinya karena siswa memiliki pondasi logika yang kuat. Semangat untuk terus mengeksplorasi peran Anda sebagai calon pendidik!"
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Saat saya membaca materi ini ada bagian paragraf yang menarik yaitu dibagian penjelasan "Taksonomi Solo dalam Matematika SD" bapak tidak hanya menjelaskan konsepnya saja melainkan juga memberikan contoh konkret nya. Jadi saya lngsung paham " oh.. ternyata begini maksud dari tingkatan/level berpkir yang dijelaskan". jadi bukan memahami istilanya saja tetapi juga langsung tau contohnya bagaimana, Dengan adanya contoh tersebut sebagai calon guru, saya memahami kalau siswa tidak cukup hanya dari benar atau salahnya jawaban saat menjawab soal tetapi bagaimana siswa dapat berpikir dan berkembang secara bertahap.Bagi saya ini menjadi bekal penting untuk kedepanya, agar saat mengajar nanti saya tidak hanya terpaku dengan target " materi selesai".Terimakasih bapak..
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Terima kasih atas tanggapan yang disampaikan, Erlynda. Saya sepakat bahwa bagian “Taksonomi SOLO dalam Matematika SD” menjadi sangat menarik karena tidak hanya menjelaskan konsep, tetapi juga dilengkapi dengan contoh-contoh konkret. Hal ini memang membantu pembaca, khususnya calon guru, untuk langsung memahami makna tiap tingkat berpikir siswa, bukan sekadar mengenal istilahnya saja, bahwa penilaian siswa tidak cukup dilihat dari benar atau salahnya jawaban, melainkan dari proses berpikir dan perkembangan pemahamannya, menunjukkan refleksi yang sangat baik. Sikap tidak terpaku pada target “materi selesai” juga penting, karena pembelajaran yang bermakna justru lahir dari proses yang memberi ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai tahapannya. Ini menjadi bekal yang sangat positif untuk praktik mengajar ke depan.
Hallo erlynda saya mau tanya nih menurut kamu contoh konkret seperti apa yang paling membantu calon guru memahami perbedaan tiap level Taksonomi SOLO saat diterapkan di kelas SD?
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan erlynda yuna nurviah, Saya sangat senang mendengar bahwa contoh-contoh konkret dalam materi 'Taksonomi SOLO dalam Matematika SD' bisa memberikan momen 'aha!' bagi Anda.Kesadaran Anda bahwa memahami proses berpikir siswa jauh lebih penting daripada sekadar benar atau salahnya jawaban adalah langkah awal untuk menjadi guru yang hebat. Dengan fokus pada perkembangan bertahap siswa, Anda akan lebih tenang dalam mengajar dan tidak lagi terbebani oleh target 'materi selesai' semata, melainkan target 'siswa paham'. Pertahankan semangat ini!"
tantangan calon guru adalah membumikan teori ke dalam praktik. Taksonomi SOLO dirancang bukan untuk menambah beban istilah, tapi sebagai alat bantu Anda untuk mendiagnosis kemampuan siswa secara objektif.
Ketika Anda nanti mengajar di kelas PGSD, ingatlah selalu prinsip ini: kualitas interaksi dan kedalaman pemahaman lebih berharga daripada kecepatan menghabiskan buku teks. Contoh-contoh yang Anda pelajari sekarang akan menjadi 'kamus' Anda saat melihat berbagai cara berpikir siswa yang unik di lapangan nanti. Luar biasa!"
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
HapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Sebelumnya terimakasih ya oktavia dan ana yang sudah menyanggah komentar saya.. Disini saya izin menjawab pertanyaan dari oktavia terkait "contoh konkrit seperti apa yang paling membantu calon guru memahami perbedaan tiap level Taksonomi SOLO saat diterapkan di kelas SD".
Dari materi diatas sudah dijelaskan tentang 5 tingkatan sesuai Taksonomi SOLO, dan masing - masing level juga sudah diberikan contohnya. Nah kalau menurut saya, contoh tugas yang paling membantu calon guru untuk benar-benar melihat perbedaan tiap level itu adalah tugas yang konteksnya sama, tapi tuntutan berpikirnya berbeda. Misalnya di materi penjumlahan, awalnya anak cukup diminta menghitung hasilnya saja. Lalu naik ke tahap berikutnya anak diminta menyebutkan beberapa cara untuk mendapatkan hasil yang sama. Setelah itu, anak diminta menjelaskan hubungan antar cara tersebut atau mengaitkannya dengan soal cerita. Sampai akhirnya, anak bisa membuat soal atau permainan sendiri menggunakan konsep penjumlahan. Dari situ kelihatan jelas bahwa perbedaan level SOLO bukan soal sulit atau mudahnya soal, tapi seberapa dalam cara berpikir dan pemahaman siswa.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Selain itu pembahasan Taksonomi SOLO dalam matematika ini membuka gambaran, bahwa di era sekarang tantangan guru bukan lagi kekurangan metode pemebelajaran tetapi menentukan pendekatan yang tepat sesuai cara berpikir siswa. dari contoh yang bapak sajikan menunjukkan kalau materi yang sama bisa dipahami siswa pada tingkatan yang beragam. Nah dari situ kesiapan guru di masa kini sepertinya diuntut untuk harus lebih adaptif., mampu menganalisis respon dari siswa, dan tidak menyamaratakan kemampuan siswa.
Saya bertanya dengan ibu saya pak, beliau kalau mengajar tidak menyamaratakan kemampuan siswa, dan perbedaan kemampuan siswa dilihat dari cara dia memperhatikan, cara menjelaskan, setelah itu ditanya " sudah paham atau belum?" dan diperhatikan sebagian besar responya bagus dan aktif , sebagian ada yang hanya diam saja jadi ibu saya kayak lihatnya kasihan gitu... nah dari situ beliau bisa menyimpulkan dan memberikan metode pengajaran sesuia kemampuan siswa.
Nah hal ini menunjukkan bahwa kesiapan guru di era sekarang tidak selalu dimulai dari penggunaan metode yang rumit, tetapi dari kepekaan dalam mengamati dan menindaklanjuti respon siswa. Ketika guru mampu menyesuaikan cara mengajar berdasarkan kondisi tersebut, pembelajaran matematika menjadi lebih responsif,adil dan memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai tahap berpikirnya.
dias pinasih
Hapus5b pgsd
2386206057
izin menjawab yah pertanyaan dari mba linda mengenai materi yang bapak jelaskan Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Linda itu sudah sangat menggambarkan kondisi nyata di kelas. Guru memang dituntut lebih adaptif dan peka terhadap respon siswa, bukan langsung menyamaratakan kemampuan mereka. Dari contoh yang Linda sampaikan tentang guru yang melihat respon aktif dan siswa yang cenderung diam, itu menunjukkan bahwa memahami siswa nggak selalu harus lewat metode rumit, tapi bisa dimulai dari observasi sederhana di kelas.
Materi Taksonomi SOLO sendiri mendukung hal ini, karena membantu guru melihat tahapan berpikir siswa, bukan hanya hasil akhirnya. Siswa yang diam belum tentu tidak paham, bisa jadi masih berada di tahap berpikir awal atau butuh pendekatan yang berbeda. Di sini peran guru sangat penting untuk menyesuaikan cara mengajar, baik dari cara menjelaskan, memberi pertanyaan, maupun memberi waktu berpikir.
Saya setuju dengan pandangan Linda bahwa kesiapan guru saat ini bukan soal seberapa canggih metode yang digunakan, tapi seberapa peka guru membaca situasi kelas. Ketika guru mampu menindaklanjuti respon siswa dan menyesuaikan pembelajaran sesuai tahap berpikir mereka, maka pembelajaran akan terasa lebih adil, responsif, dan memberi kesempatan semua siswa untuk berkembang sesuai kemampuannya.
nama : bangkit dwi prasetyo
BalasHapusnpm : 2386206044
kelas : 5b
Menurut saya pembahasan Taksonomi SOLO ini menarik. Tapi kalau diterapkan di kelas nyata, nah saya mau bertanya ya pak, bagaimana cara guru menyesuaikan level SOLO dengan capaian pembelajaran di Kurikulum Nasional tanpa bikin pembelajaran jadi terlalu rumit?
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Halo Bangkit aku jawab pertanyaanmu yaa, kalau menurutku guru itu dapat menyesuaikan level taksonomi SOLO dengan capaian pembelajaran tanpa membuat pembelajaran rumit dengan menjadikan taksonomi SOLO sebagai alat batu berpikir, bukan kerangka tambahan. Guru cukup memulai dari CP lalu menggunakan SOLO untuk memahami kedalaman pemahaman yang diharapkan, menyusun pertanyaan dan tugas secara bertahap serta mendukung diferensiasi siswa, taksonomi SOLO tidak perlu dituliskan dalam administrasi atau disampaikan ke siswa cukup digunakan sebagai kompas internal guru. Dengan cara ini pembelajaran tetap sederhana, fokus dan bermakna tanpa menambah beban kerja guru.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan bangkit dwi presetyo Menyesuaikan level SOLO dengan Capaian Pembelajaran (CP) di Kurikulum Nasional sebenarnya justru menyederhanakan tugas guru, bukan membuatnya rumit.
Caranya adalah dengan melihat kata kerja operasional dalam CP tersebut. Jika CP meminta siswa 'menghubungkan', maka target kita adalah level Relational. Jika hanya 'mengidentifikasi', maka cukup di level Unistructural. SOLO membantu Anda memberikan tugas yang presisi: tidak terlalu sulit sehingga membuat siswa menyerah, dan tidak terlalu mudah sehingga membuat mereka bosan. Ini adalah kunci agar pembelajaran tetap efektif dan tidak terasa bertele-tele di kelas nyata. Terima kasih sudah menghidupkan diskusi ini!"
NAMA : KORNELIA SUMIATY
HapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
hallo bangkit aku izin nanggapin ya menurut aku, penyesuaian level SOLO dengan capaian pembelajaran tidak perlu dibuat rumit. CP tetap jadi tujuan utama, sedangkan SOLO cukup aku gunakan sebagai alat bantu untuk melihat kedalaman pemahaman siswa. Aku menyesuaikannya lewat kata kerja dalam CP dan bentuk tugas yang aku berikan, dari yang sederhana sampai yang menuntut siswa menghubungkan dan menjelaskan. Tidak semua pembelajaran harus sampai level tertinggi, yang penting siswa bertahap memahami materi sesuai kemampuannya tanpa menambah beban belajar
Nama: Dias Pinasih
HapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386206057
Izin menjawab ya, Pak. Menurut saya, penerapan Taksonomi SOLO di kelas tetap bisa dilakukan tanpa membuat pembelajaran menjadi terlalu rumit, asalkan guru menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa. Guru bisa memulai dari level pemahaman yang paling dasar, lalu secara bertahap meningkatkan ke level berpikir yang lebih tinggi.
Dengan cara ini, siswa tidak merasa terbebani, tetapi justru terbantu untuk memahami materi secara bertahap. Jadi, Taksonomi SOLO bukan untuk mempersulit pembelajaran, melainkan sebagai panduan agar guru dapat menyesuaikan tujuan dan proses belajar sesuai perkembangan siswa.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Setelah saya baca materi di atas menurut saya materi ini sudah sangat tepat dan relevan dengan kondisi pendidikan sekarang. taksonomi Solo membantu guru melihat cara berpikir siswa bukan cuma hasil akhirnya saja. Ini penting banget apalagi kurikulum nasional 2025 ini menekankan pembelajaran mendalam dan bermakna. Anak jadi tidak sekedar menghafal saja, tapi benar-benar paham dari prosesnya. Pendekatan seperti ini bikin belajar terasa lebih manusiawi dan tidak menekan siswa.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Nurfika, aku setuju dengan pendapat kakak, disini taksonomi solo sangat membantu guru melihat proses berpikir siswa secara lebih utuh, bukan hanya menilai hasil akhir. ini sejalan dengan kurikulum merdeka yang menekankan pembelajaran mendalam dan bermakna. nah disini aku ada tambahan nie kak, ternyata solo ini juga bisa membantu kita sebagai calon guru dalam menyusun pertanyaan dan tugas yang bertahap. kayak memulai dari pertanyaan yang sederhana lalu mengarahkan ke tahap menghubungkan konsep dan menerapkan dalam situasi nyata. jadi dengan cara seperti ini kak siswa nggk akan tertekan, lebih percaya diri, dan proses nya lebih menyenangkan.
semoga tanggapan aku bermanfaat untuk kakak, dan teman-teman yang membacanya
NAMA : KORNELIA SUMIATY
HapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
halo fikaa bener bgt kalo menurut aku juga, materi ini memang pas banget sama kondisi pendidikan sekarang. Taksonomi SOLO bikin guru lebih fokus ke proses berpikir siswa, bukan cuma nilai akhirnya. Sejalan sama kurikulum 2025, anak jadi nggak sekadar hafalan, tapi benar-benar paham. Cara belajar kayak gini rasanya lebih manusiawi, bikin siswa nyaman dan nggak tertekan.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Saya setuju kalau taksonomi Solo cocok diterapkan di sekolah dasar, terutama untuk matematika. Anak sekolah dasar memang perlu dibimbing pelan-pelan dari yang belum paham sama sekali sampai bisa mengaitkan ke kehidupan sehari-hari mereka. Dengan 5 level Solo, guru jadi punya gambaran jelas posisi pemahaman anak ini juga membantu supaya anak yang lambat tidak merasa tertinggal dan yang cepat tetap tertantang jadi kelas bisa lebih inklusif dan adil buat semua siswa .
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan andi nurfika, Saya sangat setuju bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda, dan tugas kita sebagai guru adalah memastikan tidak ada yang merasa 'ditinggalkan' atau 'bosan' di dalam kelas."
Taksonomi SOLO sebagai Peta Navigasi Guru:
1. Gambaran Posisi Pemahaman: Seperti yang Anda sampaikan, dengan adanya 5 level dalam Taksonomi SOLO, guru memiliki gambaran yang jelas mengenai posisi pemahaman setiap anak secara objektif. Ini membantu kita untuk tidak hanya melabeli anak sebagai 'pintar' atau 'lambat', melainkan memahami di level mana proses berpikir mereka sedang berada.
2. Bimbingan Bertahap: Pendekatan 'pelan-pelan' dari yang belum paham sama sekali (Prestructural) hingga mampu mengaitkan konsep ke kehidupan sehari-hari (Relational) adalah kunci agar fondasi logika matematika siswa SD terbentuk dengan kuat.
Membangun Kelas yang Adil:
1.Dukungan bagi Siswa Lambat: Guru dapat memberikan intervensi yang tepat bagi siswa yang masih di level awal tanpa membuat mereka merasa rendah diri.
2. Tantangan bagi Siswa Cepat: Sebaliknya, siswa yang sudah mencapai level tinggi dapat terus ditantang dengan masalah yang lebih kompleks (Extended Abstract) agar potensi mereka terus berkembang.
'"Pemikiran Anda tentang kelas yang lebih inklusif dan adil menunjukkan bahwa Anda sudah memiliki jiwa seorang pendidik yang empati. Luar biasa, Andi! Teruslah membawa semangat ini dalam perjalanan Anda menjadi guru profesional."
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Materi ini juga realistis karena menyebutkan tantangan di lapangan seperti waktu belajar yang singkat dan keterbatasan fasilitas. Menariknya, Solo tetap bisa diterapkan pakai alat sederhana seperti kertas atau benda yang ada di sekitar. Guru memang perlu belajar dulu supaya bisa membedakan level pemahaman siswa tapi kalau sudah terbiasa, pembelajaran bisa jadi lebih seru dan efektif anak pun jadi tidak mudah bosan dan lebih aktif untuk berpikir.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Materi ini sangat menarik dan sangat relevan bagi kita sebagai mahasiswa calon guru,karena ini menyadarkan kita bahwa mengajar bukan sekedar menghabiskan materi tetapi memastikan kualitas pemikiran siswa. Kita tidak akan memberi label “anak bodoh” pada siswa yang akan menjawab salah,melainkan memahami bahwa mereka mungkin masih di tahap pre structural dengan begitu kita bisa merancang strategi pembelajaran yang lebih manusiawi dan tidak membuat anak merasa gagal.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan dita ayu safitri, pembelajaran yang lebih manusiawi'. Seringkali di lapangan, siswa langsung dicap 'bodoh' hanya karena belum bisa menjawab dengan benar, padahal mungkin mereka memang masih berada di tahap Pre-structural.
Dengan memahami Taksonomi SOLO, Anda sebagai calon guru tidak lagi melihat jawaban salah sebagai kegagalan, melainkan sebagai titik awal untuk membimbing mereka naik ke level berikutnya secara bertahap. Sikap empati seperti ini adalah modal utama untuk menjadi guru yang dicintai dan mampu membangkitkan rasa percaya diri siswa. Teruslah membawa semangat ini!"
dias pinasih
BalasHapus5b pgsd
2386206057
izin menanggapai materi yang bapak jelaskan di atas yah pak aku jadi lebih kebuka wawasannya soal bagaimana cara melihat pemahaman siswa secara bertahap, bukan cuma dari benar atau salahnya jawaban. Menurut aku, pendekatan ini relevan banget karena ngajak guru untuk lebih fokus ke kedalaman berpikir siswa. Jadi pembelajaran nggak lagi sekadar ngejar target materi, tapi benar-benar melihat proses dan kualitas pemahaman anak.
Menurut aku, penjelasan di materi ini masih cukup padat dan cenderung teoritis. Buat mahasiswa atau guru yang baru pertama kali kenal taksonomi SOLO, mungkin agak berat dan perlu waktu ekstra buat mencerna. Beberapa istilah juga masih terasa abstrak kalau belum dikaitkan langsung dengan contoh di kelas.
Kalau boleh saran, materi ini akan lebih mudah dipahami kalau ditambahkan contoh penerapan langsung di pembelajaran, misalnya contoh soal atau aktivitas kelas yang disesuaikan dengan tiap level SOLO. Akan lebih membantu juga kalau ada perbandingan sederhana antara SOLO dengan taksonomi lain supaya pembaca makin paham posisi dan keunggulan SOLO dalam Kurikulum Nasional 2025. Dengan begitu, materinya nggak cuma kuat secara konsep, tapi juga lebih aplikatif untuk calon guru.
dias pinasih
BalasHapus5b pgsd
2386206057
izin bertanya mengenai materi yang bapak jelaskan di atas Menurut Bapak, bagaimana cara paling sederhana menerapkan Taksonomi SOLO di kelas tanpa membuat guru terbebani administrasi?
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menjawab pertanyaan dias pinasih, Sebagai calon pendidik, kekhawatiran Anda mengenai beban administrasi sangatlah wajar. Kita ingin memberikan yang terbaik bagi siswa, namun guru juga manusia yang memiliki keterbatasan waktu dan energi."
Cara Sederhana Menerapkan SOLO tanpa Beban Administrasi:
1.Fokus pada Pertanyaan Lisan (Scaffolding): Cara termudah adalah dengan menjadikannya teknik bertanya di kelas. Anda tidak perlu mencatat setiap perkembangan di kertas. Cukup gunakan level SOLO untuk menuntun siswa; jika siswa hanya bisa menyebutkan satu fakta (Unistructural), berikan pertanyaan pancingan agar mereka bisa menyebutkan fakta lain (Multistructural), lalu minta mereka mencari hubungannya (Relational).
2.Desain Tugas yang Bertingkat: Saat membuat soal atau Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), buatlah struktur soal yang mencerminkan level SOLO. Misalnya, Soal A (dasar), Soal B (menghubungkan), dan Soal C (analisis/aplikasi). Anda cukup melihat sampai nomor berapa siswa mampu menjawab untuk mengetahui level mereka, tanpa perlu formulir administrasi tambahan.
3.Asesmen Teman Sejawat: Ajak siswa untuk saling memeriksa pekerjaan berdasarkan kriteria sederhana yang mencerminkan SOLO. Ini membantu siswa belajar mengevaluasi diri sendiri sekaligus mengurangi beban koreksi Anda.
Prinsip Guru sebagai Fasilitator: "Ingatlah, Dias, bahwa Taksonomi SOLO adalah alat bantu berpikir bagi Anda, bukan sekadar instrumen pengisian borang. Jika Anda sudah terbiasa dengan pola pikir (mindset) SOLO, diagnosis ini akan terjadi secara otomatis di kepala Anda saat berinteraksi dengan siswa di kelas. Efektivitas pembelajaran akan meningkat justru karena Anda tahu persis bantuan apa yang harus diberikan pada setiap siswa."
NAMA : KORNELIA SUMIATY
HapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
hallo dias izin menanggapi menurut aku, cara paling sederhana itu nggak perlu nambah administrasi ribet. Guru cukup pakai Taksonomi SOLO sebagai “kacamata” saat melihat jawaban siswa. Dari penjelasan lisan atau tulisan anak, guru bisa menilai kira-kira mereka masih di tahap awal atau sudah paham menyeluruh, lalu menyesuaikan pertanyaan dan bimbingannya. Jadi lebih ke cara berpikir guru di kelas, bukan nambah tumpukan laporan 😊
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Materi ini sangat adil untuk siswa karena menghargai setiap progres kecil yang di capai siswa,sebagai guru masa depan,kita di tuntut untuk lebih fleksibel dan kreatif dalam menyediakan aktivitas yang singkat namun mendalam sekitar 15-20 menit agar sesuai dengan rentang perhatian anak SD. Taksonomi SOLO bukan hanya teori akademis melainkan panduan praktis bagi kita untuk menciptakan kelas yang lebih hidup,bermakna,dan membahagiakan bagi setiap anak.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan dita ayu safitri, Saya sangat mengapresiasi poin Anda mengenai pentingnya merancang strategi pembelajaran yang lebih manusiawi agar anak tidak merasa gagal. Seringkali di lapangan, siswa langsung dicap dengan label negatif hanya karena belum bisa menjawab dengan benar, padahal mungkin mereka memang masih berada di tahap pre-structural.Dengan memahami Taksonomi SOLO, Anda sebagai calon guru tidak lagi melihat jawaban salah sebagai kegagalan, melainkan sebagai indikator bahwa siswa tersebut sedang membangun pemahaman. Sikap empati seperti ini adalah modal utama untuk menjadi guru yang mampu menciptakan kelas yang lebih hidup, bermakna, dan membahagiakan bagi setiap anak. Teruslah membawa semangat ini!"
NAMA : KORNELIA SUMIATY
HapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
izin dit menurut aku juga, materi ini memang adil banget buat siswa karena setiap kemajuan kecil tetap dihargai. Sebagai guru ke depan, kita dituntut lebih fleksibel dan kreatif bikin aktivitas singkat tapi bermakna, apalagi buat anak SD. Taksonomi SOLO jadi panduan praktis, bukan cuma teori, supaya kelas terasa lebih hidup, bermakna, dan bikin anak belajar dengan senang.
Nama: Arjuna
BalasHapusKelas: 5A
Npm: 2386206018
Taksonomi SOLO cocok dengan arah Kurikulum Nasional 2025 karena membantu guru memahami proses berpikir siswa, bukan hanya melihat nilai akhir. Dengan pendekatan ini, guru bisa mengetahui apakah siswa hanya sekadar tahu, sudah mulai paham, atau benar-benar mampu mengaitkan dan menerapkan pengetahuan yang dipelajari.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan arjuna, Saya sangat mengapresiasi poin Anda mengenai pentingnya berfokus pada proses berpikir siswa daripada sekadar melihat nilai akhir. Sebagai calon pendidik, pergeseran paradigma ini adalah kunci untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna di sekolah dasar."
Taksonomi SOLO sebagai Alat Diagnosis:
Melampaui 'Sekadar Tahu': Seperti yang Anda sebutkan, Taksonomi SOLO memang membantu guru membedakan mana siswa yang baru pada tahap 'sekadar tahu' (Unistructural atau Multistructural) dan mana yang sudah 'benar-benar paham' (Relational).
Penerapan Pengetahuan: Kemampuan untuk 'mengaitkan dan menerapkan pengetahuan' adalah inti dari level yang lebih tinggi dalam SOLO. Dengan pendekatan ini, Anda bisa memberikan bimbingan yang lebih spesifik agar siswa tidak terjebak pada hafalan semata.
Kesesuaian dengan Kurikulum Nasional 2025: "Kesimpulan Anda bahwa Taksonomi SOLO sejalan dengan arah Kurikulum Nasional 2025 sangatlah benar. Kurikulum ini memang menuntut siswa untuk memiliki kompetensi nyata, bukan sekadar tumpukan informasi. Dengan menggunakan SOLO, Anda memiliki instrumen objektif untuk memastikan setiap siswa berkembang sesuai dengan kapasitas berpikirnya. Luar biasa, Arjuna, pertahankan ketajaman analisis Anda!"
BalasHapusNama : Shela Mayangsari
Npm : 2386206056
Kelas : V C
Materi ini sangat kuat,karena tidak hanya menjelaskan konsep Taksonomi SOLO, tetapi juga menunjukkan bagaimana teori tersebut benar-benar hidup dalam praktik pembelajaran matematika SD. Pendekatannya terasa realistis dan aplikatif bagi guru. Dan mempermudah guru untuk menerapkan di kelas.
Penjelasan tiap level SOLO disampaikan secara runtut dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas bagaimana proses berpikir siswa berkembang dari tahap awal hingga tahap lanjutan. Contoh-contoh matematika SD yang diberikan sangat membantu dalam memvisualisasikan setiap tingkat SOLO, sehingga guru dapat langsung membayangkan penerapannya di kelas tanpa harus menafsirkan ulang.
HapusMateri ini juga menegaskan bahwa pembelajaran matematika itu tidak menakutkan, tetapi bisa menjadi proses eksplorasi yang menyenangkan, menggembirakan, dan bermakna bagi siswa, terutama di jenjang sekolah dasar. Penekanan pada inklusivitas sangat terasa, karena SOLO memberi ruang bagi semua anak untuk berkembang sesuai tahap berpikirnya, tanpa memberi rasa “tertinggal” ataupun “gagal”.
HapusPembelajaran mendalam menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap arah pendidikan masa depan, khususnya dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan dunia yang kompleks dan terus berubah-ubah. Strategi pembelajaran yang disarankan pada setiap level SOLO sangat praktis dan realistis, termasuk bagi sekolah dengan keterbatasan sarana, sehingga mudah diadaptasi oleh guru di berbagai kondisi.
HapusMateri ini berhasil menunjukkan bahwa asesmen bukan sekadar menilai hasil akhir, tetapi juga alat untuk memahami proses berpikir siswa secara lebih manusiawi dan bermakna. Dan tulisan ini memberikan inspirasi baru bagi guru untuk merancang pembelajaran matematika yang lebih reflektif, kreatif, dan berorientasi pada pemahaman jangka panjang siswa.
HapusNama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Pembelajaran ini juga menegaskan bahwa kualitas belajar jauh lebih penting daripada banyaknya materi, sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka. Penggambaran setiap level SOLO dengan analogi dan contoh konkret membuat konsep yang abstrak menjadi lebih dekat dengan realitas kelas, khususnya di jenjang sekolah dasar.
Memberi sudut pandang baru bahwa kesalahan siswa bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari proses naik tingkat dalam struktur pemahaman. Pada level extended abstract sangat juga inspiratif karena menunjukkan bahwa anak SD pun mampu berpikir kreatif dan inovatif jika diberi ruang yang tepat.
HapusRelevansi Taksonomi SOLO dengan tantangan pendidikan era VUCA dijelaskan dengan baik, sehingga pembaca memahami karakter perubahan pendekatan pembelajaran di sekolah. Contoh aktivitas yang sederhana namun bermakna membuktikan bahwa pembelajaran berkualitas tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau fasilitas mahal. Namun juga bisa menggunakan media tradisional seperti permainan congklak.
HapusMateri ini memberikan gambaran utuh tentang bagaimana pembelajaran matematika dapat menjadi sarana pembentukan cara berpikir logis, reflektif, dan berkelanjutan sejak usia dini. Penerapan SOLO dalam matematika SD memperlihatkan bagaimana pembelajaran dapat dirancang lebih manusiawi, menghargai proses, dan memberi ruang tumbuh bagi setiap anak sesuai tahap berpikirnya.
BalasHapusPembelajaran ini sangat menarik karena mampu mengubah cara pandang tentang belajar matematika, dari sekadar mengejar jawaban benar menjadi proses memahami bagaimana pikiran siswa tumbuh dan berkembang. Taksonomi SOLO digambarkan seperti perjalanan.
HapusDengan pendekatan ini, matematika di SD tidak lagi menjadi momok, melainkan ruang eksplorasi yang bermakna, membangun rasa percaya diri, dan menyiapkan anak untuk berpikir kritis menghadapi tantangan nyata di masa depan.
Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Materi ini menegaskan bahwa pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir peserta didik. Melalui penerapan Taksonomi SOLO, guru dapat memahami perkembangan cara berpikir siswa secara bertahap, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna, manusiawi, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak di sekolah dasar.
HapusNama : Ema yulianda
BalasHapusKelas. : 5D
Npm. : 2386206075
Pemahaman tentang Taksonomi SOLO membantu saya melihat bagaimana Kurikulum Nasional 2025 mendorong pembelajaran mendalam yang berfokus pada kualitas pemahaman peserta didik, bukan sekadar penguasaan materi.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan ema yulianda, Saya sangat setuju dengan poin yang Anda sampaikan bahwa fokus utama kita adalah pada kualitas pemahaman peserta didik, bukan sekadar mengejar target penguasaan materi secara kuantitas. Perubahan sudut pandang ini sangat krusial bagi calon pendidik di masa sekarang."
Taksonomi SOLO dan Kurikulum Nasional 2025:
Mendorong Pembelajaran Mendalam: Seperti yang Anda amati, Taksonomi SOLO memang menjadi alat yang sangat efektif untuk mendukung implementasi Kurikulum Nasional 2025 yang menekankan pada pembelajaran mendalam (deep learning).
Fokus pada Kualitas: Dengan memahami level berpikir siswa, guru dapat memastikan bahwa siswa benar-benar menguasai konsep secara bermakna, bukan hanya menghafal informasi untuk sementara waktu.
Membangun Fondasi Kompetensi: "Pemahaman Anda menunjukkan kesiapan untuk menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik karakter kognitif siswa. Fokus pada kualitas akan membantu siswa membangun fondasi kompetensi yang kuat yang akan berguna bagi mereka di masa depan. Luar biasa, Ema, pertahankan prinsip ini!"
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Saya melihat materi tentang Taksonomi SOLO dan penerapannya dalam Kurikulum Nasional 2025 dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam sebagai materi yang sangat relevan, aplikatif, dan membuka wawasan baru tentang bagaimana seharusnya proses belajar dirancang, khususnya di sekolah dasar.
Selama ini, pembelajaran , terutama matematika itu sering dipahami sebagai kegiatan menghafal rumus dan mengejar jawaban benar. Melalui penjelasan Taksonomi SOLO, saya jadi memahami bahwa yang jauh lebih penting adalah struktur berpikir siswa, bukan sekadar hasil akhirnya. Pendekatan ini terasa lebih manusiawi karena mengakui bahwa setiap siswa berada pada level pemahaman yang berbeda-beda, dan itu adalah hal yang wajar dalam proses belajar.
Saya juga menilai bahwa pemetaan lima level SOLO disampaikan dengan sangat jelas dan konkret. Contoh-contoh pada pembelajaran matematika SD membuat konsep yang awalnya teoritis menjadi mudah dibayangkan. Dari sudut pandang mahasiswa calon guru, ini sangat membantu karena memberi gambaran nyata tentang apa yang harus dilakukan di kelas, bukan hanya konsep abstrak tentang kurikulum.
Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana SOLO selaras dengan Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Merdeka. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, menghubungkan konsep dengan kehidupan sehari-hari, serta berani berinovasi. Ini terasa sangat relevan dengan tantangan masa depan, di mana kemampuan berpikir dan memecahkan masalah jauh lebih penting dibandingkan hafalan.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Selain itu, penekanan bahwa siswa tidak “gagal” hanya karena berada di level pre-structural memberikan perspektif baru bagi saya. Sebagai mahasiswa, saya jadi sadar bahwa proses belajar adalah perjalanan bertahap, bukan kompetisi cepat-cepatan. Pendekatan ini juga berpotensi mengurangi tekanan psikologis pada siswa dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan.
Namun, sebagai catatan kritis, saya melihat bahwa penerapan Taksonomi SOLO memang membutuhkan kesiapan guru, terutama dalam memahami level berpikir siswa dan merancang asesmen yang tepat. Tanpa pelatihan yang memadai, konsep ini bisa saja hanya berhenti sebagai teori. Meski begitu, solusi yang ditawarkan seperti penggunaan alat sederhana dan permainan tradisional dalam menunjukkan bahwa pendekatan ini tetap realistis untuk diterapkan di berbagai kondisi sekolah di Indonesia.
Secara keseluruhan, materi ini memberikan saya pemahaman baru bahwa pembelajaran yang baik bukan tentang seberapa cepat siswa menjawab, tetapi seberapa dalam mereka memahami. Taksonomi SOLO layak dipelajari lebih lanjut oleh mahasiswa pendidikan karena dapat menjadi landasan kuat dalam merancang pembelajaran yang inklusif, bermakna, dan berorientasi masa depan.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Hallo teman” izin bertanya ya , dari contoh penerapan SOLO di matematika SD, bagian mana yang menurut kalian paling menarik untuk diterapkan? Dan bagaimana sih jika di terapkan di dalam sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas?
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menjawab pertanyaan oktavia ramadani, Kekhawatiran mengenai keterbatasan fasilitas adalah tantangan nyata, namun hal ini justru menjadi peluang bagi kita untuk membuktikan fleksibilitas Taksonomi SOLO."
Penerapan SOLO di Sekolah dengan Fasilitas Terbatas:
Fokus pada Kekuatan Kognitif, Bukan Alat: Taksonomi SOLO pada dasarnya adalah alat ukur proses berpikir, bukan tergantung pada perangkat teknologi tinggi. Anda tetap bisa mengukur apakah seorang siswa berada di level Unistructural atau Relational hanya melalui kualitas pertanyaan dan jawaban lisan di dalam kelas.
Manfaatkan Media Lingkungan (Kontekstual): Seperti yang disinggung rekan Anda (Syahrul), matematika bisa diajarkan melalui benda-benda di sekitar (ranting, batu, atau barang bekas). Menggunakan media sederhana ini justru memudahkan siswa mencapai level Relational karena mereka langsung menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata mereka. * Efisiensi Lembar Kerja: Tanpa perlu proyektor atau komputer, guru bisa merancang soal-soal di papan tulis yang disusun bertingkat. Mulailah dari pertanyaan sederhana (apa?), lalu berlanjut ke pertanyaan hubungan (mengapa?), dan terakhir pertanyaan aplikasi (bagaimana jika?). Struktur pertanyaan inilah "fasilitas" utama yang dibutuhkan dalam SOLO.
Bagian Paling Menarik untuk Diterapkan: "Menurut saya, bagian paling menarik adalah bagaimana SOLO memberikan keadilan bagi siswa. Di sekolah dengan fasilitas terbatas, seringkali sulit memberikan perhatian individual. Namun dengan SOLO, Anda bisa mendiagnosis dengan cepat progres kecil setiap anak sehingga mereka merasa dihargai meskipun hanya naik satu level berpikir. Hal ini menciptakan suasana belajar yang lebih positif tanpa harus bergantung pada fasilitas mewah."
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Haii kak oktavia ijin menjawab pertanyaannya ya,
"bagian mana yang paling menarik untuk diterapkan? Dan bagaimana jika di terapkan di dalam sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas?"
Kalau membaca kembali contoh diatas yg bagian Solo mempunyai 5 tingkat, bagian yang paling menarik dan paling realistis untuk langsung diterapkan menurut saya justru ada di tingkat ke 4 yaitu Tingkat Relational. Kenapa? karena, di tahap ini anak mulai menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata, dan ini tidak butuh alat canggih. Cukup dengan cerita, diskusi sederhana, atau contoh yang dekat dengan keseharian mereka nah di sinilah matematika terasa “hidup”, bukan hanya angka yg ada di buku. Anak tidak hanya mengenal rumus rumus, tapi juga paham mengapa dan untuk apa?
Untuk sekolah dengan keterbatasan fasilitas, kalau saya baca kembali tingkat pre-structural sampai tingkat relational sangat mungkin dijalankan.
Alat peraga tidak harus mahal.
Jari tangan, batu, pensil, penghapus, lantai kelas, bahkan cerita lisan sudah cukup.
Kuncinya ada di cara guru mengarahkan pertanyaan dan aktivitas, bukan pada kelengkapan sarana. Misalnya, tanpa balok hitung pun anak bisa belajar penjumlahan lewat menghitung teman satu kelompok atau langkah kaki di kelas.
Yang paling penting adalah perubahan cara pandang guru, tidak semua anak harus sampai level yang sama di waktu yang sama. Ketika sekolah memberi ruang pada proses berpikir anak, Taksonomi SOLO justru membantu pembelajaran tetap bermakna meski dalam kondisi sederhana.. 😃🫰🏻
Nama: Dias Pinasih
HapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386206057
Izin menjawab ya. Menurut saya, bagian penerapan SOLO di matematika SD yang paling menarik adalah saat siswa mulai mengaitkan satu konsep dengan konsep lain, misalnya tidak hanya menghitung, tetapi juga menjelaskan alasan jawabannya. Di situ terlihat bagaimana pemahaman siswa berkembang, bukan sekadar hafal rumus.
Jika diterapkan di daerah atau sekolah dengan keterbatasan fasilitas, guru tetap bisa menyesuaikan dengan menggunakan contoh sederhana dari lingkungan sekitar, seperti benda di kelas atau kegiatan sehari-hari siswa. Jadi, meskipun tanpa alat yang lengkap, penerapan SOLO tetap bisa berjalan karena yang utama adalah cara bertanya dan cara mengarahkan siswa berpikir, bukan fasilitasnya.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Menurut saya, tabel yang telah bapa cantumkan pada materi di atas sangat membantu sekali dalam memahami Taksonomi SOLO secara lebih praktis dan aplikatif, bukan hanya sebagai teori. Penyajian dalam bentuk tabel membuat hubungan antara tingkat SOLO, kata kerja operasional, dan contoh aktivitas pembelajaran menjadi jelas dan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau calon guru.
Tabel itu menunjukkan bahwa setiap tingkat SOLO memiliki ciri berpikir yang berbeda, sehingga kata kerja dan aktivitas pembelajarannya juga tidak bisa disamakan. Misalnya, pada tingkat pre-structural, kata kerja seperti menyebutkan atau mengulang memang sesuai karena siswa belum memiliki struktur pemahaman. Ini menegaskan bahwa jawaban salah atau acak bukan berarti siswa malas, tetapi memang masih berada pada tahap awal belajar.
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin menambahkan pak pada tingkat uni-structural dan multi-structural, tabel itu sangat membantu saya memahami bahwa banyak pembelajaran di sekolah sering berhenti di dua tahap ini. Siswa sudah bisa mendefinisikan dan menyebutkan banyak hal, tetapi belum tentu memahami hubungan antar konsep. Hal ini terasa sangat relevan dengan pengalaman belajar saya sendiri, di mana sering kali diminta menghafal definisi atau rumus tanpa benar-benar mengaitkannya.
Bagian yang paling penting menurut saya adalah tingkat relational dan extended abstract. Di sini terlihat jelas bahwa pembelajaran mulai masuk ke pembelajaran mendalam, karena siswa diajak menjelaskan hubungan, menganalisis, bahkan menciptakan atau memprediksi. Contoh aktivitas yang diberikan juga menunjukkan bahwa matematika tidak lagi berdiri sendiri, tetapi bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan pemecahan masalah nyata.
tabel itu sangat memperjelas bahwa kata kerja dalam tujuan pembelajaran dan soal evaluasi sangat menentukan level berpikir siswa. Jika guru hanya menggunakan kata kerja tingkat rendah, maka siswa akan sulit mencapai pemahaman mendalam. Oleh karena itu, tabel itu sangat relevan untuk mendukung Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam, karena dapat menjadi panduan konkret bagi guru dalam merancang tujuan, aktivitas, dan asesmen yang bertahap, adil, dan bermakna.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Haii kak Oktavia izin Menambahkan dari tanggapannya ya,
Terlihat jelas bahwa Taksonomi SOLO sebgai pembuka “kaca pembesar” terhadap praktik pembelajaran yang selama ini dianggap sudah cukup. Banyak kelas memang terlihat berjalan baik karena siswa bisa menjawab dan mengerjakan soal dengan cepat dan benar, tetapi setelah dicermati, pemahamannya masih berhenti pada mengingat dan menyebutkan. Refleksi ini penting karena jujur menggambarkan pengalaman belajar banyak orang, bukan hanya siswa saat ini, tetapi juga pengalaman belajar kita dulu.
Penekanan pada tingkat relational dan extended abstract juga sangat tepat, karena di situlah pembelajaran mulai memberikanmakna. Di tahap ini siswa tidak lagi sekadar mengikuti instruksi, tetapi mulai berpikir, bertanya, dan mengaitkan. Ini yang sering hilang ketika pembelajaran terlalu dikejar target materi.
Selain itu, kesadaran bahwa kata kerja dalam tujuan dan asesmen sangat menentukan level berpikir siswa menjadi poin kunci. Guru sering tidak bermaksud membatasi cara berpikir siswa, tetapi tanpa sadar melakukannya melalui rumusan tujuan dan soal. Dengan adanya tabel SOLO, guru punya alat bantu yang konkret untuk mengecek, apakah pembelajaran sudah memberi ruang berpikir. Pada akhirnya, tanggapan ini menunjukkan bahwa Taksonomi SOLO bukan hanya relevan untuk guru, tetapi juga membantu siswa dan kita sebagai calon pendidik memahami mengapa belajar itu seharusnya bertahap, adil, dan menghargai proses.. 🤩🫶🏻
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Hallo teman “ izin bertanya, jika kalian sudah menjadi guru SD, contoh aktivitas apa yang ingin kamu buat berdasarkan tingkat relational atau extended abstract?
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak oktavia, izin menanggapi ya kalo saya sudah jadi guru SD nanti, insyaallah untuk tingkat relational saya akan buat aktivitas diskusi sederhana berbasis masalah sehari-hari, misalnya siswa di minta membandingkan dua cara menghitung uang jajan dan menjelaskan mana yang lebih efisien dan alasannya. nah dari situ anak belajar menghubungkan konsep matematika dengan situasi nyata.
sedangkan kalo untuk extended abstract saya akan mengajak siswa membuat proyek kecil, seperti merancang cara pembagian makanan agar adil saat kegiatan kelas. jadi anak tidak hanya menghitung, tapi jua berpikir kritis, membuat aturan sendiri, dan menerapkan konsep matematika ke situasi baru. nah dengan aktivitas seperti ini insyaallah pembelajaran terasa menyenangkan dan bermakna.
Nama: Maya Apriyani
HapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Nah Menurut pendapat saya nih taksonomi Solo ini sangat bagus dan sangat setuju untuk diterapkan di Sekolah Dasar karena ada beberapa hal.
Yang di mana pada taksonomi Solo ini kan memiliki tingkat Nah itu cocok untuk diterapkan di SD yang di mana siswa itu diajarkan perlahan melalui tingkat pemahaman mereka bukan hanya langsung diberikan pada tahap misalnya rumus tetapi, diberikan secara perlahan misalnya seperti yang ada tadi di bacaan anak kelas 1 itu diberikan permainan menghitung jari lalu begitu selanjutnya sampai tingkat pemahaman yang kelima. Dengan begitu Menurut saya itu akan mengurangi tekanan yang akan dihadapi siswa.
Lalu di taksonomi Solo ini guru itu bukan hanya melihat benar atau salah melainkan proses berpikir siswa. Yang gimana kalau guru itu hanya melihat benar atau salah bisa jadi anak ini hanya menebak bukan mereka mengetahui ataupun mereka Paham terkait pembelajaran.
Dan dari bacaan ini juga saya melihat bahwa kalau menerapkan Taksonomi Bloom ini pembelajaran matematika itu menjadi lebih menyenangkan tidak menakutkan karena dia itu banyak project-project kecil yang di mana itu akan menarik perhatian dan seru.
Dan tentunya melalui Taksonomi Bloom ini mengajarkan anak untuk berpikir kritis, kreatif dan kolaboratif.
Terima kasih
Nama: Dias Pinasih
HapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386206057
Izin menjawab ya. Menurut saya, penerapan SOLO di matematika SD yang paling mudah dan menarik adalah saat siswa diminta menjelaskan alasan dari jawabannya, bukan hanya menuliskan hasil akhir. Dari situ guru bisa melihat apakah siswa benar-benar paham atau hanya menebak.
Jika diterapkan di sekolah dengan fasilitas terbatas, guru tetap bisa menggunakan contoh sederhana dari lingkungan sekitar, seperti benda di kelas, cerita sehari-hari, atau diskusi lisan. Jadi, meskipun tanpa alat khusus, SOLO tetap bisa diterapkan karena yang terpenting adalah cara guru mengajukan pertanyaan dan mengarahkan cara berpikir siswa.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Taksonomi solo itu sangat mendukung dalam pembelajaran mendalam terutama di kurikulum saat ini dimana pembelajaran tersebut berfokus bagaimana siswa membangun koneksi konsep pembelajaran tersebut dan ini sangat membantu guru
Untuk melihat siswa menghapal rumus dan bisa melakukan abstraksi.
Nama: Rosa Lia Ana Rezki
HapusNpm: 2386206015
Kelas: 5B pgsd
Izin menanggapi tanggapan hizkia thiofany, Taksonomi SOLO, yaitu untuk bergeser dari sekadar menghafal rumus menuju kemampuan membangun koneksi konsep yang bermakna."
Taksonomi SOLO sebagai Jembatan Abstraksi:
Pembelajaran Mendalam: Sejalan dengan apa yang Anda sampaikan, Taksonomi SOLO memang menjadi instrumen pendukung utama dalam pembelajaran mendalam (deep learning).
Proses Abstraksi: Poin Anda mengenai 'melakukan abstraksi' sangatlah krusial. Dalam matematika, kemampuan abstraksi seringkali berada pada level tertinggi (Extended Abstract), di mana siswa tidak hanya tahu cara menghitung, tetapi memahami prinsip di balik angka-angka tersebut.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Menurut saya, materi ini juga relevan dengan kehidupan sehari-hari, meskipun awalnya terdengar teoritis. Dalam keseharian, kita sebenarnya sering melihat proses belajar bertahap seperti yang dijelaskan dalam Taksonomi SOLO. Misalnya saat anak belajar membantu orang tua memasak. Awalnya anak belum paham sama sekali , lalu mulai tahu satu hal seperti “kalau air mendidih itu panas” . Setelah itu, anak tahu beberapa langkah memasak, seperti menyiapkan bahan, menyalakan kompor, dan mengaduk . Ketika anak sudah bisa menghubungkan langkah-langkah tersebut dan memahami urutannya, barulah ia benar-benar bisa memasak dengan baik . Bahkan, anak bisa berkreasi dengan menambah bumbu atau membuat menu baru .
Dari materi yang diberikan ini bisa dilihat bahwa materi ini menekankan bahwa setiap anak belajar dengan kecepatan yang berbeda dan itu merupakan hal yang wajar. Taksonomi Solo atau Solo membantu para pendidik untuk melihat proses berpikir anak tanpa langsung memberi label pandai atau kurang. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih efektif sehingga anak tidak mudah merasa gagal atau takut pada matematika..
BalasHapusMateri yang diberikan ini sangat bermanfaat karena memberi gambaran bagaimana membimbing siswa dari pemahaman yang sederhana sehingga mampu berpikir kreatif. Dan jika diterapkan dengan konsisten taksonomi Solo ini dapat membantu meningkatkan motivasi belajar, pemahaman jangka panjang dan kemampuan berpikir anak sejak dini.
BalasHapusNama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Theresia, aku setuju dengan pendapat kakak, di materi ini memang memberikan gambaran jelas bagaimana seorang guru dapat membimbing siswa secara bertahap, dari yang pemahaman sederhana sampai mampu berpikir kritis. sedikit tambahan dari aku kak, ternyata taksonomi solo ini juga bisa loh membantu guru lebih peka dalam melihat kebutuhan belajar setiap siswa. nah dengan cara memahami level berpikir mereka, guru jadi bisa merancang aktivitas yang sesuai, sehingga motivasi belajar meningkat dan pemahaman jangka panjang anak juga terbentuk sejak dini. jadi pembelajaran pun terasa lebih terarah, adil dan mendukung perkembangan kemampuan siswa.
semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membacanya.
Terima kasih kak Rosidah atas tanggapan dan tambahan pendapatnya. Saya setuju bahwa taksonomi Solo dapat membantu guru lebih peka terhadap kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan memahami level berpikir siswa guru bisa merancang pembelajaran yang lebih sesuai, adil dan bermakna. Semoga para calon guru dapat menerapkan hal ini dalam pembelajaran agar kemampuan berpikir siswa berkembang dengan baik.
HapusNama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Kembali saya kunjungi laman ini untuk memahami lebih dalam tentang materi di atas, ternyata taksonomi solo sesuai dengan kurikulum merdeka karena membantu guru memahami tahapan berpikir siswa. setiap jawaban siswa menunjukkan level pemahaman yang berbeda, dan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran yang menghargai proses. selain itu juga solo mendukung pembelajaran mendalam yang mendorong siswa untuk menghubungkan konsep dan menerapkannya dalam kehidupan. ketika siswa dah mampu menjelaskan mengapa, dan bagaimana berarti pembelajaran yang terjadi sudah bermakna dan insyaallah ndk mudah dilupakan.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
saya ingin bahas lebih dalam terkait tabel kata kerja taksonomi solo itu sangat menarik perhatian saya, setelah saya baca-baca, ini sangat bagus dan membantu guru-guru dalam merancang pembelajaran yang bertahap dan sesuai dengan tingkat berpikir siswa, jadi setiap level solo itu memiliki kata kerja yang berbeda mulai dari menyebutkan dan mengenali di tahap awal, hingga menganalisis dan menghubungkan konsep ditahap relasional. dengan ini guru bisa menyesuaikan pertanyaan dan tugas agar siswa tidak merasa terlalu sulit ataupun terlalu mudah, jadi ini diliat dari tingkatannya. ini membuat proses belajar lebih bermakna, dan membantu siswa naik level dalam berpikir secara perlahan dan bertahap.
Penjelasan ini sangat bagus karena menempatkan Taksonomi SOLO sebagai alat berpikir guru, bukan sekadar teori evaluasi. Penjelasan tiap level yang dikaitkan langsung dengan contoh konkret matematika SD membuat SOLO terasa praktis, kontekstual, dan realistis diterapkan, terutama dalam semangat Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam.
BalasHapusSaya sepakat bahwa keunggulan utama SOLO adalah kemampuannya membaca struktur berpikir anak, sehingga guru tidak terburu-buru menuntut jawaban “benar”, tetapi fokus membantu siswa naik level pemahaman. Ini sangat relevan untuk mengatasi budaya hafalan dan rendahnya literasi matematika (termasuk PISA), karena anak dilatih menghubungkan, menalar, dan menggeneralisasi.
Contoh-contoh aktivitas yang diberikan juga menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam tidak harus mahal atau rumit. Dengan permainan sederhana, konteks kehidupan, dan bahasa yang tepat, matematika bisa menjadi bermakna dan inklusif bagi semua anak.
BalasHapusKesimpulannya, artikel ini menegaskan bahwa SOLO bukan hanya cocok, tetapi strategis untuk matematika SD di Indonesia: membantu diferensiasi, meningkatkan motivasi, dan membangun fondasi berpikir jangka panjang persis seperti tujuan Kurikulum Nasional 2025
Nama : Elisabeth Calista Putri Alo
BalasHapusNPM : 2386206037
Kelas: Vc
Materi ini sangat membantu saya sebagai mahasiswa dalam memahami konsep Taksonomi SOLO dan kaitannya dengan Kurikulum Nasional. Penjelasan setiap level disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan relevan dengan pembelajaran mendalam. Materi ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana guru dapat melihat tingkat pemahaman peserta didik secara lebih utuh dalam proses pembelajaran.
Saya ingin bertanya, apa perbedaan utama antara penggunaan Taksonomi SOLO dan Taksonomi Bloom dalam menilai pembelajaran mendalam pada Kurikulum Nasional. Selain itu, bagaimana guru dapat mengidentifikasi secara konkret bahwa peserta didik telah mencapai level extended abstract dalam Taksonomi SOLO, baik melalui aktivitas pembelajaran maupun bentuk asesmen yang digunakan di kelas?
HapusNama: Maya Apriyani
BalasHapusNpm: 2386206013
Kelas: IV.A
Selamat pagi Bapak izin menanggapi bacaan yang ada di atas, Oke Menurut pendapat saya taksonomi Solo itu lebih berfokus kepada pemahaman siswa, sedangkan Taksonomi Bloom itu berfokus terhadap pengetahuan.
Di taksonomi Solo itu ada 5 tingkatan pemahaman.
1. Yaitu pre-structural yang di mana ini tingkat pemahaman yang dasar yang di mana siswa itu belum mengerti ataupun belum memahami tentang sesuatu yang mereka pelajari yang di mana mereka tuh hanya menjawab asal saja tanpa mengetahui yang sebenarnya.
2. Uni-structural nah pada tahap ini tuh siswa mulai mengetahui salah satu tentang pemahaman ataupun tentang yang mereka ketahui. Dan hanya mengetahui sebagian penting tidak sampai secara detail dan menyeluruh.
3. Multi-structural, pada tahap ini tuh siswa sudah mengetahui beberapa topik Tapi dia itu tidak bisa mengaitkannya dengan hal yang lain.
4. Relational, nah pada tahap ini tuh siswa sudah mampu menghubungkan beberapa yang mereka ketahui dan bisa membentuk sesuatu yang utuh.
5. Extended abstract, Oke pada tahap ini merupakan tahap yang di mana tingkat pemahaman itu yang tertinggi yang di mana tidak hanya bisa menghubungkan ,tetapi bisa menerapkan ,bisa melihat,dan bisa membandingkan, dan bahkan bisa menciptakan ide baru dari pemahaman mereka.
Dari bacaan ini juga tentunya ada menjelaskan tentang bagaimana taksonomi Solo ini cocok dengan pembelajaran di SD khususnya pembelajaran matematika.
Dalam hal ini menjelaskan Bagaimana strategi yang bisa diberikan guru untuk mengimplementasikan setiap tingkat pemahaman, dan melalui dari yang saya baca pada bacaan ini tuh pembelajaran ini menurut saya tidak membosankan untuk siswa.
Terima kasih
mohon izin memberbaiki bapak, saya salah memasukkan kelas
HapusKelas V.A
Nama: Maya apriyani
BalasHapusNpm: 2386206013
Kelas: IV.A
Nah Menurut pendapat saya nih taksonomi Solo ini sangat bagus dan sangat setuju untuk diterapkan di Sekolah Dasar karena ada beberapa hal.
Yang di mana pada taksonomi Solo ini kan memiliki tingkat Nah itu cocok untuk diterapkan di SD yang di mana siswa itu diajarkan perlahan melalui tingkat pemahaman mereka bukan hanya langsung diberikan pada tahap misalnya rumus tetapi, diberikan secara perlahan misalnya seperti yang ada tadi di bacaan anak kelas 1 itu diberikan permainan menghitung jari lalu begitu selanjutnya sampai tingkat pemahaman yang kelima. Dengan begitu Menurut saya itu akan mengurangi tekanan yang akan dihadapi siswa.
Lalu di taksonomi Solo ini guru itu bukan hanya melihat benar atau salah melainkan proses berpikir siswa. Yang gimana kalau guru itu hanya melihat benar atau salah bisa jadi anak ini hanya menebak bukan mereka mengetahui ataupun mereka Paham terkait pembelajaran.
Dan dari bacaan ini juga saya melihat bahwa kalau menerapkan Taksonomi Bloom ini pembelajaran matematika itu menjadi lebih menyenangkan tidak menakutkan karena dia itu banyak project-project kecil yang di mana itu akan menarik perhatian dan seru.
Dan tentunya melalui Taksonomi Bloom ini mengajarkan anak untuk berpikir kritis, kreatif dan kolaboratif.
Terima kasih
yang ini juga pak saya ingin memperbaiki
HapusKelas: V.A
Nama: Maya Apriyani
BalasHapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Sebagai calon pendidik bacaan ini menurut saya sangat penting untuk kita pahami dan kita pelajari.
Yang di mana melalui bacaan ini tuh kita dapat mengetahui, siswa kita itu sedang berada di tingkat pemahaman yang mana, Di mana kita dapat memberikan penilaian terhadap siswa kita itu dia bukan salah ataupun tidak bisa tetapi belum sampai pada tingkat pemahamannya.
Dan juga pada pembelajaran matematika taksonomi Solo ini memudahkan guru untuk memberikan materi atau penjelasan yang di mana pada taksonomi Solo ini sudah memiliki step by step.
Menurut pendapat saya bacaan ini sangat cocok untuk calon pendidik yang di mana membekali calon pendidik.
Terima kasih
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Menurut saya penjelasan bapak mengenai transisi dari Surface Learning (fakta terpisah) ke Deep Learning (relasional), melalui contoh konkret matematika SD sangat membantu kami membayangkan bagaimana asesmen terdiferensiasi harus dilakukan dikelas. kemudian saya sepakat bahwa di tahun 2025 ini kemampuan Extended Abstract menjadi harga mati. saat AI bisa menjawab "apa", Taksonomi SOLO memaksa siswa untuk menguasai "bagaimana jika", yang merupakan inti dari berpikir kritis. kemudian pemanfaatan SOLO sebagai alat ukur kualitas (bukan sekedar kuantitas) adalah jawaban nyata bagi guru untuk menghargai setiap progres siswa tanpa memberikan tekanan yang berlebihan.
Nama : Desy Olivia Sapitri
BalasHapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Izin pak, Seluruh bacaan ini menekankan hal yang sangat penting, pembelajaran matematika di SD bisa dibuat menyenangkan, inklusif, dan bermakna meski dengan fasilitas terbatas. Fokus pada “naik level” akan membuat anak merasa pencapaiannya terlihat.
Selain itu juga,durasi singkat dan penggunaan bahan ajar sederhana seperti kertas, batu, atau permainan tradisional seperti congklak menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam tidak harus mahal atau rumit. Anak tetap bisa memahami konsep secara nyata dan mengaitkan pengalamannya ke kehidupan sehari-hari.. 🙏🏻
Izin pak, menambahkan sedikit pak 🙏🏻 tanggapan saya mengenai bacaan bahwa Taksonomi SOLO memang terlihat sangat berguna karena memberi fokus pada proses berpikir siswa, bukan sekadar jawaban benar atau salah. Dengan pendekatan ini, guru bisa melihat sejauh mana siswa memahami konsep dan bagaimana mereka mengaitkan ide, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
HapusSelain itu, fleksibilitas dan kemampuan untuk menyesuaikan tugas dengan kemampuan siswa membuat pembelajaran lebih inklusif. Anak yang lambat tidak merasa tertinggal, sementara yang cepat tetap tertantang..
Terima kasih Bapak materinya. Penjelasan mengenai Taksonomi SOLO ini sangat mencerahkan, terutama dalam memahami bahwa kualitas pemahaman siswa memiliki tahapan yang jelas. Hal ini sangat membantu kami dalam merancang asesmen yang lebih adil bagi siswa di masa depan.
BalasHapusSedikit tambahan Saya sangat tertarik pada bagian level Extended Abstract. Ternyata target tertinggi dalam belajar bukan cuma paham, tapi sampai bisa berinovasi. Materi ini memberi pandangan baru bagi kami tentang cara mengajar yang lebih mendalam.
HapusTerima kasih Bapak materinya. Penjelasannya sangat mudah dipahami, Apalagi perumpamaan tentang 'puzzle' untuk menjelaskan tingkatan pemahaman siswa, jadi lebih kebayang gimana caranya membimbing anak dari yang awalnya bingung sampai bisa mandiri.
BalasHapus2386206060
BalasHapuswktu baca artikeel di atas itu kayak ngerasa diingatkan lagi selama ini belajar sering fokus ke jawaban iya kan benar aja. Padahal ada loh di sini dijelasin kalau pemahaman siswa itu bertahap. jadi Kurikulum sekarang ternyata pengen siswa benar-benar paham, bukan cuma bisa jawab soal. Walaupun masih perlu dibaca pelan-pelan.
2386206060
BalasHapusbagi ku setelah baca baca ini cukup membuka pikiran,ya walau pun ni awalnya agak bingung juga pas baca istilah Taksonomi SOLO. Tapi kalo kita baca ulang ulang tuh lama-lama jadi ngerti kalau maksudnya itu bukan sekadar nilai atau hafalan,tapi cara melihat seberapa dalam siswa memahami pelajaran. jadi tuh ini ngasih gambaran kalau belajar itu ada prosesnya juga loh ga bisa langusng semuanya bisa.
2386206060
BalasHapussebanarnya ni teman teman awalnya saya ngga paham apa hubungan Taksonomi SOLO sama kurikulum nasional betul betul ngga paham nah Tapi setelah dibaca ulang di sini, ternyata maksudnya itu buat ngebantu guru melihat cara berpikir siswa juga ada ya. Jadi bukan cuma lihat hasil akhir, tapi juga prosesnya. jadi tuh ini penting, walau penerapannya mungkin nggak gampang ya teman teman.
OKTA PUTRI ADITIA
BalasHapus2386206060
5B (PGSD) teman teman gimana ni Kalau Taksonomi SOLO itu dipakai buat ngukur pemahaman, tapi tuh bedanya apa sama penilaian yang biasa dipakai guru selama ini?
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Hallo Okta aku bantu menjawab pertanyaanmu.
Kalau menurut pendapatku, Taksonomi SOLO dan penilaian yang biasa dipakai guru sebenarnya sama-sama bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa, tapi cara dan fokusnya berbeda. Penilaian yang biasa dilakukan guru seringkali lebih fokus pada jawaban benar atau salah, misalnya melalui kuis, ujian, atau tugas yang menilai apakah siswa bisa menghafal rumus atau fakta. Penilaian ini biasanya "menilai hasil akhir", bukan proses berpikir atau tingkat pemahaman siswa secara mendalam. Padahal, memahami proses berpikir siswa itu penting karena tidak semua siswa belajar dengan cara yang sama. Ada yang cepat menangkap konsep, ada yang perlu contoh konkret, dan ada juga yang baru bisa menghubungkan beberapa ide setelah beberapa kali latihan. Kalau guru hanya menilai dari jawaban akhir, seringkali kesulitan untuk mengetahui bagian mana dari materi yang belum dipahami siswa, atau bagaimana mereka menyusun pengetahuan mereka sendiri.
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Namun dari materi di atas dan dari yang aku baca untuk menjawab pertanyaan ini, oke hak aku lanjut jawab pertanyaanmu nih Okta.
Sedangkan Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) digunakan untuk mengukur kualitas pemahaman siswa berdasarkan tingkat kompleksitas jawaban mereka, misalnya Taksonomi SOLO membagi pemahaman menjadi beberapa level prestructural, unistructural, multistructural, relational, dan extended abstract. Dengan pendekatan ini, guru bisa melihat bukan hanya apakah siswa menjawab benar, tapi bagaimana siswa menghubungkan konsep, menyusun jawaban, dan berpikir secara mendalam. Jadi, perbedaan utamanya adalah Penilaian biasa fokus pada hasil jawaban sedangkan Taksonomi SOLO fokus pada proses berpikir dan kualitas pemahaman, memberi gambaran lebih lengkap tentang sejauh mana siswa mengerti materi. Dengan Taksonomi SOLO, guru bisa merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kemampuan berpikir siswa dan mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis dan analitis, sesuai dengan pendekatan pembelajaran mendalam di Kurikulum Nasional.
OKTA PUTRI ADITIA
BalasHapus2386206060
5B (PGSD)
nah teman teman kalau kita tau kan juga Di kelas itu nyata, contoh yang paling sederhananya Taksonomi SOLO itu diterapin pas kegiatan apa ni, supaya siswa itu nggak makin bingung gitu loh?
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
Hapuskeluar : VB PGSD
Npm : 2386206035
Hai okta saya izin menjawa ya.. Taksonomi SOLO paling tepat diterapkan saat kegiatan inti pembelajaran, khususnya ketika guru memberi pertanyaan, tugas, atau diskusi, bukan di awal penjelasan materi. Supaya siswa tidak makin bingung, SOLO digunakan sebagai alur bertanya bertahap, seperti yang bapk jelaskan diatas dari pre-structural, uni-structural, multi-structural, relational dan extended abstract dimulai dari pertanyaan paling sederhana (satu fakta atau satu ide) lalu perlahan dinaikkan ke pertanyaan yang menghubungkan beberapa konsep. Dengan cara ini, siswa berpikir setahap demi setahap sesuai tingkat pemahamannya, bukan langsung diminta menganalisis atau menyimpulkan hal yang belum mereka pahami, sehingga proses belajar terasa lebih terarah dan tidak membebani.
OKTA PUTRI ADITIA
BalasHapus2386206060
5B (PGSD) kalau aku ya temn tema ni bagus lebih membantu kalau di cerita ini ditambah contoh yang lebih sederhana gitu loh dan dekat dengan kegiatan belajar sehari-hari, supaya pembaca yang belum paham bisa lebih cepat nangkep maksud dari Taksonomi SOLO ini..
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
Sebelumnya izin menanggapi,
Menurut saya pembahasan tentang taksonomi Solo ini menarik sekali, karena di sini dia bukan hanya melihat hasil akhir pembelajaran nya saja, tetapi melihatkan juga menekankan cara atau proses berpikir siswa. dan menurut saya pendekatan seperti ini sangat membantu guru agar lebih memahami bagaimana siswa membangun pemahaman secara bertahap dari yang masih bingung sampai mampu mengaitkan konsep dan menerapkannya dalam situasi baru.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
izin menanggapi kembali, membahas tentang taksonomi Solo dalam pembelajaran matematika, bagus sekali untuk siswa sekolah dasar, karena menurut saya taksonomi Solo dalam kurikulum merdeka ini dirancang lebih bermakna dan kontekstual, juga menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif karena setiap anak atau siswa diberi ruang untuk berkembang sesuai kemampuan nya, sehingga siswa terlihat lebih aktif dan semangat saat pembelajaran berlangsung.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu
BalasHapusHalo teman-teman semua!
Perkenalkan, Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Materi mengenai Taksonomi SOLO yang Bapak bagikan sangat mencerahkan.... terutama dalam konteks transisi menuju Kurikulum Nasional 2025. Berbeda dengan Taksonomi Bloom yang menitikberatkan pada hierarki kognitif, SOLO menawarkan kerangka yang lebih praktis untuk mengukur kualitas pemahaman siswa, bukan sekadar kuantitas materi yang mereka hafal.
Hal ini sangat relevan dengan upaya kita mengubah cara pandang anak terhadap matematika. Melalui lima tingkatan SOLO mulai dari Pre-structural di mana siswa masih merasa kosong, hingga Extended Abstract yang mampu menciptakan inovasi baru kita bisa melihat matematika bukan sebagai kumpulan aturan kaku, melainkan sebagai proses berpikir yang mendalam deep learning.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
BalasHapusHalo teman-teman semua!
Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Saya balik lagi nihh... saya punya pendapat lagi mengenai Penerapan Taksonomi SOLO dalam pembelajaran matematika yang berfungsi sebagai instrumen diagnosis yang presisi untuk memetakan identitas matematika siswa. Seringkali.. rendahnya kepercayaan diri siswa berakar dari kegagalan melihat keterhubungan antar konsep. Sebagai contoh, siswa pada level Uni-structural yang hanya memahami satu aspek terisolasi cenderung merasa tidak kompeten karena mereka hanya melihat potongan kecil dari sebuah puzzle besar. Dengan mengidentifikasi level kognitif ini, guru dapat membantu siswa menyusun potongan-potongan tersebut hingga mereka mulai merasakan kepuasan intelektual saat mencapai pemahaman yang lebih utuh.
Selain itu.. pemahaman kita terhadap tingkatan ini bisa mendukung terciptanya inklusivitas melalui pembelajaran berdiferensiasi. Karena dengan kita memahami kita dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan zona perkembangan siswa, kita dapat mencegah terjadinya burnout atau rasa frustrasi akibat beban kognitif yang berlebihan. Proses transisi yang terjaga dari tingkat pemahaman permukaan menuju level yang lebih mendalam memungkinkan siswa membangun rasa efikasi diri secara bertahap, sehingga matematika tidak lagi dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai kompetensi yang bisa diraih.
Hapusnama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
izin menanggapi kembali, membahas tentang keterkaitan taksonomi Solo dengan kurikulum merdeka, kita bisa memberikan kegiatan atau tugas melalui proyek, permainan, masalah sehari-hari, dan kegiatan cerita matematika,
contoh nya misal dalam kegiatan 'cerita matematika', disini siswa di pinta untuk membuat cerita sederhana yang melibatkan antara penjumlahan dan pengurangan, misalnya tentang berbagi kue dengan teman atau membagi alat tulis seperti pensil/penghapus kepada teman, setelah itu, siswa menjelaskan hubungan antara cerita dan operasi hitung yang digunakan. pendekatan ini juga membantu siswa agar lebih percaya diri dan bisa melihat matematika sebagai bagian dari kehidupan bukan cuma pelajaran di kelas.
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Betul sekali, dari materi ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bukan hanya tentang menyelesaikan materi, tapi bagaimana siswa benar-benar memahami konsep. Taksonomi Solo memberikan panduan yang jelas untuk melihat sejauh mana pemahaman berkembang, mulai dari tahap sederhana sampai yang kompleks.
Materi ini berpesan bahwa Taksonomi Solo bisa menjadi jembatan antara kurikulum nasional dan kebutuhan nyata siswa. Dengan kerangka ini, guru dapat membantu siswa melangkah dari pemahaman dangkal menuju pemikiran yang lebih mendalam dan terintegrasi.
HapusDan materi ini relevan dengan kurikulum nasional. Banyak guru yang masih fokus pada pencapaian indikator secara kuantitatif, padahal kualitas pemahaman siswa sering terabaikan. Dengan ini, menjadi pesan penting agar kebijakan pendidikan benar-benar selaras dengan tujuan membangun generasi yang kritis dan reflektif.
Hapusiya pak benar sekali kita harus mempelajari taksonomi solo ( structure of observed learning outcome) merupakan topik yang sangat relevan di era sekarang pendidikan modern di Indonesia saat ini terutama dengan penekanan pada pembelajaran mendalam (deep learning) taksonomi solo ini di kembangkan oleh John biggs dan Kevin colis pada tahun 1980-an ini adalah kerangka untuk mengukur kualitas pada pemahaman siswa dan bukan sekedar kuantitas pengetahuan
BalasHapusiya pak benar sekali tentang materi taksonomi solo ini mendorong pembelajaran mendalam dengan fokus pada bagaimana siswa berpikir dan juga bukan apa yang mereka hafal ini sangat selaras dengan tren global 2025 di mana aplikasi ai dan otomatisasi membuat hafalan usang siswa juga butuh kemampuan berpikir kritis dan kreatif
BalasHapusiy pak benar sekali tentang keunggulannya seperti fleksibel ini bisa di terapkan di semua jenjang dan mata pembelajaran termasuk stem atau seni dan juga mendorong inklusivitas ini juga dapat membuat guru bisa diferensiasi tugas berdasarkan level siswa mengurangi frustasi bagi yang lambat naik level nya
BalasHapusiya pak materi ini sangat bagus tentang relevan dengan kurikulum merdeka (km)2025 dan pendekatan pembelajaran mendalam (pm) kerena di Indonesia KMI yang mulai di terapkan penuh sejak 2022 dan terus disempurnakan hingga 2025 sangat selaras dengan SOLO terutama melalui pembelajaran mendalam yang ditekankan Kemdikbud pendekatan ini memuliakan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan berkesadaran
BalasHapusNama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
materi ini menurut saya sangat kuat dan relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. penjelasan tentang taksonomi Solo disampaikan runtut, tari konsep dasar sampai penerapannya di matematika di SD, sehingga mudah dipahami. kelebihannya materi ini tidak hanya teoritis tapi juga memberi contoh konkret aktivitas di kelas yang realistis dan dekat dengan dunia anak. keterkaitannya dengan kurikulum merdeka dan pembelajaran mendalam juga terasa jelas terutama dalam hal diferensiasi dan pengembangan berpikir kritis.
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas: 5 C PGSD
materi ini juga menarik dan mudah dipahami penjelasan tentang taksonomi Solo disusun dengan rapi dan dilengkapi serta contoh yang dekat dengan pembelajaran di SD khususnya matematika. hubungannya dengan kurikulum merdeka juga terasa jelas karena sama-sama menekankan proses berpikir siswa bukan sekedar hafalan materi ini membantu guru melihat perbedaan cara berpikir siswa dan memberi ide pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan.
iya pak benar sekali tentang definisi pre-stuctural ini adalah tingkat paling dasar di mana siswa belum memiliki pemahaman yang terstruktur tentang topik jawaban mereka sering acak tidak relevan atau bahkan salah total kerena kurangnya pengetahuan awal dan juga ciri cirinya seperti tidak ada elemen pengetahuan yang benar benar dipahami siswa ini mungkin mengatakan saya tidak tahu atau memberikan respon yang tidak berhubungan.
BalasHapusNama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
materi ini sangat relevan dengan pembelajaran saat ini taksonomi Solo dijelaskan dengan jelas dan dikaitkan langsung dengan kurikulum merdeka sehingga membantu guru memahami cara berpikir siswa secara bertahap contoh-contohnya juga realistis dan mudah diterapkan di SD.
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5C PGSD
materi ini meningkatkan bahwa belajar itu proses bertahap dan tidak bisa disamakan untuk semua siswa pendekatan yang dijelaskan membantu guru lebih sabar dan kreatif dalam mendampingi perkembangan anak.
iya pak benar sekali tentang definisi tingkat uni-stuctural siswa mulai paham satu aspek atau elemen tunggal dari topik pemahaman itu terisolasi dan terbatas mereka juga bisa mengidentifikasi atau menyebutkan satu fakta dasar tapi tidak bisa mengembangkan lebih lanjut ciri-cirinya seperti fokus pada satu poin saja sering berupa definisi sederhana atau contoh tungggal.
BalasHapusiya pak benar sekali tentang definisi tingkat multi-structural siswa sudah menguasai beberapa aspek atau fakta tapi belum bisa menghubungkannya menjadi satu kesatuan yang bermakna ini seperti memiliki banyak puzzle ciri cirinya seperti memberikan jawaban berupa enumerasi atau daftar tapi tanpa analisis hubungan antar -elemen siswa bisa sebutkan banyak hal tapi terasa terpecah -pecah
BalasHapusNama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Menurut saya materi ini sangat membuka wawasan terutama soal bagaimana taksonomi Solo tidak hanya bicara hasil akhir belajar tapi benar-benar melihat cara berpikir siswa ini terasa relevan sekali dengan kondisi kelas saat ini apalagi di SD
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Saya setuju bahwa pendekatan Solo lebih manusiawi dibanding sekedar menuntut hafalan. Di kelas nyata tidak semua anak bisa langsung pintar dan Solo memberi ruang bagi proses itu tanpa memberi label gagal
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas :5C PGSD
Keterkaitan antara taksonomi Solo dan kurikulum merdeka dijelaskan dengan baik terlihat bahwa keduanya memang saling menguatkan terutama dalam hal diferensiasi dan pembelajaran berbasis proyek
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Saat tertarik dengan penekanan bahwa terstruktur itu bukan kegagalan tapi fase awal yang wajar itu penting agar guru tidak langsung menghakimi siswa yang belum paham
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Contoh-contoh penerapan Solo dalam matematika SD terasa sangat nyata dan dekat dengan kehidupan anak ini membuat matematika tidak lagi terasa melakukan tapi justru menyenangkan
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Materi ini meningkatkan bahwa guru perlu lebih sabar dan peka membaca pola pikir siswa bukan hanya melihat jawaban atau benar atau salah
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Penjelasan tentang level struktural dan multi struktural sangat relevan dengan kondisi di kelas di mana banyak siswa hafal banyak tapi belum benar benar paham hubungannya
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5C PGSD
Sepakat bahwa level relasional adalah titik penting pembelajaran mendalam di sinilah siswa benar-benar dan belajar dari bermakna
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Materi ini juga realistis karena tidak menutup mata terhadap kelemahan Solo yaitu kebutuhan pelatihan guru tapi dijelaskan bahwa manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5C PGSD
Saya suka bagaimana materi menekankan bahwa matematika SD bukan soal rumus tapi membangun logika dan rasa percaya diri anak
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5C PGSD
Contoh penggunaan permainan benda konkret dan aktivitas kelompok sangat cocok dengan karakteristik anak SD yang mudah bosan
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5C PGSD
Pendekatan Solo juga terasa lebih inklusif karena anak dengan kemampuan berbeda tetap bisa berkembang sesuai kepercayaan masing-masing
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Materi ini membuat saya berpikir ulang bahwa assessment seharusnya tidak hanya berupa tes tertulis tapi bisa berupa cerita proyek atau diskusi
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Hubungan antara Solo dan pembelajaran kontekstual seperti budaya lokal misalnya batik atau permainan tradisional sangat menarik dan relevan dengan konteks Indonesia
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Saya stuju bahwa dengan Solo anak bisa merasa seperti naik level dalam game sehingga motivasi belajarnya meningkat secara alami
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Materi ini juga secara tidak langsung ingatkan pentingnya kesehatan mental siswa karena tekanan belajar bisa kurangi dengan pendekatan bertahap
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Bagi guru di daerah dengan keterbatasan fasilitas solusi penggunaan bahan sederhana yang disebut di materi ini sangat aplikatif dan lebih baik karena prakteknya dengan sederhana
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5 C PGSD
Saya merasa materi ini bisa menjadi referensi penting untuk pelatihan guru terutama dalam merancang soal dan aktivitas yang berjenjang
Nama : Filomina Abdiwati
BalasHapusNpm : 2386206054
Kelas : 5C PGSD
Cmateri ini juga inspiratif relevan dengan kebijakan pendidikan saat ini dan memberi gambaran nyata bagaimana pembelajaran yang bermakna bisa diwujudkan di kelas
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Saya setuju dengan pemaparan tentang Taksonomi SOLO karena pendekatan ini benar-benar membantu guru memahami cara berpikir siswa, bukan sekadar melihat hasil akhir jawaban. Menurut saya, penjelasan tentang lima level SOLO sangat relevan dengan pembelajaran matematika SD, karena anak memang berkembang bertahap dan tidak bisa disamakan kecepatannya. Dengan pendekatan ini, guru jadi lebih bijak dalam menilai proses belajar anak tanpa langsung memberi label “bisa” atau “tidak bisa”.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Menurut saya materi di atas sangat membuka wawasan bahwa pembelajaran mendalam tidak harus rumit, tetapi bisa dimulai dari aktivitas sederhana yang sesuai dengan level pemahaman siswa. Saya pribadi merasa pendekatan SOLO ini lebih manusiawi, karena anak yang masih di tahap awal tidak langsung dianggap gagal, melainkan sedang berada di proses belajar. Hal ini menurut saya sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang memberi ruang tumbuh bagi setiap siswa.
M.GHOZIANNOOR
Hapus5D
Izin nambahin ninda, Memang benar, seringkali kita terjebak ingin hasil yang instan dan kompleks, padahal belajar itu adalah sebuah tangga. Berikut adalah beberapa poin yang memperkuat pendapat Anda:
Menghargai Proses: Dengan taksonomi SOLO, kita tidak lagi melihat jawaban salah sebagai "gagal", tapi sebagai tanda di anak tangga mana siswa sedang berdiri. Apakah dia baru mengenal satu konsep (Unistructural) atau sudah mulai menghubungkannya (Relational).
Ramah Psikologis: Ini membuat siswa lebih percaya diri. Mereka merasa kemampuannya diakui meskipun masih di tahap awal, sehingga motivasi belajarnya tidak cepat padam.
Selaras dengan "Teaching at the Right Level": Semangat Kurikulum Merdeka memang ingin kita mengajar sesuai level kemampuan anak, bukan sekadar mengejar ketuntasan materi di buku teks.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Saya setuju bahwa penerapan SOLO di matematika SD dapat mengurangi rasa takut anak terhadap pelajaran ini. Dari contoh-contoh aktivitas yang dijelaskan, terlihat bahwa matematika bisa dibuat kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Menurut saya, ketika anak merasa matematika itu “masuk akal” dan bisa dipakai dalam kehidupan nyata, mereka akan lebih percaya diri dan berani mencoba.
M.GHOZIANNOOR
Hapus5D
Nah iya ninda seringkali anak-anak takut matematika bukan karena angka-angkanya, tapi karena merasa matematika itu seperti "bahasa asing" yang tidak ada hubungannya dengan hidup mereka.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Kalau boleh sedikit curhat, selama ini saya melihat matematika sering hanya fokus pada jawaban benar dan cepat, sehingga banyak anak tertinggal dan kehilangan motivasi. Menurut saya, Taksonomi SOLO memberi sudut pandang baru bagi guru untuk lebih menghargai proses berpikir siswa. Dengan melihat level pemahaman, guru bisa memberi bantuan yang tepat tanpa membuat anak merasa tertinggal dibanding temannya.
M.GHOZIANNOOR
Hapus5D
Iya ninda Memang selama ini matematika sering dianggap seperti "lomba lari"—siapa yang paling cepat sampai di garis finis (jawaban benar), dialah yang menang. Padahal, matematika itu lebih mirip pendakian. Setiap anak punya kecepatan dan cara mendaki yang berbeda-beda.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Saya setuju bahwa tantangan penerapan SOLO, seperti kebutuhan pelatihan guru dan keterbatasan fasilitas, masih bisa diatasi dengan kreativitas. Menurut saya, penggunaan permainan tradisional dan alat sederhana adalah contoh solusi yang sangat realistis untuk kondisi sekolah di Indonesia. Jika pendekatan ini diterapkan secara konsisten, saya percaya pembelajaran matematika di SD akan menjadi lebih menyenangkan, bermakna, dan membangun kemampuan berpikir jangka panjang siswa.
M.GHOZIANNOOR
Hapus5D
Wah setuju ninda! Poin yang sampaikan sangat tepat Seringkali kita terjebak berpikir bahwa inovasi pendidikan harus selalu menggunakan teknologi canggih atau biaya mahal, padahal kunci utamanya ada pada kreativitas dan cara pandang. Jika konsistensi ini terjaga, matematika tidak lagi dianggap sebagai "momok", melainkan sebagai alat bantu untuk memecahkan masalah sehari-hari.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Taksonomi SOLO mengubah cara pandang kita terhadap kecerdasan. Bukan lagi soal beberapa banyak fakta yang di ingat,tapi kualitas struktur pemikiran siswa. Kita harus fokus pada perkembangan logika anak,bukan sekedar nilai angka,agar mereka memiliki fondasi pemahaman mendalam yang relevan dengan tantangan zaman sekarang.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
SOLO mendukung keberagaman di kelas. Siswa yang kesulitan bisa memulai dari level dasar tanpa merasa gagal,sementara yang cepat bisa langsung level abstrak. Ini menciptakan belajar yang adil,di mana setiap anak merasa dihargai proses nya,sehingga motivasi belajar mereka tetap terjaga secara alami dan konsisten.
M.GHOZIANNOOR
Hapus5D
Wah izin menanggapi , ini konsep yang keren banget! Kita bukan cuma kasih "peta" (jawaban jadi), tapi kita kasih "satelit" (cara berpikir) di kepala mereka.
Istilahnya, kita lagi melatih navigasi logika mereka. Supaya pas mereka ketemu masalah yang belum pernah diajarkan di sekolah pun, mereka nggak langsung panik atau "blank".
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Anak zaman sekarang cenderung cepat bosan dengan teori. SOLO menawarkan pendekatan yang bertahap seperti sistem naik level pada game. Dengan memberikan tantangan yang sesuai dengan tingkat kognitif mereka,pembelajaran menjadi lebih menyenangkan tidak menakutkan dan mampu memicu rasa ingin tahu lebih besar pada setiap tahapannya.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
Penggunaan kata kerja yang tepat dalam tugas membantu mengarahkan siswa. Dari sekedar menyebutkan hingga merancang setiap kata kerja menentukan kualitas berpikir. Kita harus terampil memilih instruksi agar mampu merangsang daya kritis siswa sesuai dengan kapasitas kognitif yang ingin dicapai pada setiap pertemuan kelas.
M.GHOZIANNOOR
Hapus5D
Setuju banget,dita Analogi tentang "naik level di game" itu pas sekali dan sangat kekinian. Memang benar, anak zaman sekarang kalau dikasih teori yang numpuk tanpa tahu tujuannya, mereka pasti langsung logout alias bosan. Jadi, sekolah nggak lagi terasa kayak tempat dengerin ceramah, tapi kayak "Arena Eksplorasi". Guru perannya kayak Game Master yang memandu mereka naik level demi level.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Dalam matematika SD,SOLO membantu membangun fondasi logika daripada sekedar menghafal rumus. Anak diajak memahami sifat bentuk atau angka secara bermakna. Dengan memahami “mengapa” dan “bagaimana” suatu rumus bekerja,siswa tidak akan mudah lupa dan mampu menerapkan logika matematika tersebut dalam memecahkan masalah praktis sehari hari.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
Menguasai Taksonomi SOLO adalah bentuk profesionalisme kita dalam merancang asesmen yang berkualitas. Kita tidak lagi membuat soal yang asal-asalan tetapi soal yang memiliki tujuan perkembangan kognitif yang jelas. Pemahaman ini akan menjadikan kita guru yang inspiratif yang mampu menuntun peserta didik mencapai potensi tertinggi mereka dengan cara manusiawi.
NAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Setuju banget,Ini poin yang paling krusial. Memang benar, kalau cuma hafal rumus, itu ibarat kita cuma tahu "nomor telepon" tapi nggak tahu "siapa orangnya". Begitu lupa satu angka saja, langsung macet total. Intinya, kita lagi ngajarin mereka "cara memancing", bukan cuma kasih "ikannya". Jadi kapan pun mereka lapar (ketemu masalah), mereka tahu harus berbuat apa.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Alhamdulillah sekarang kurikulum dan pendekatan pendidikan di Indonesia semakin bagus dibanding yang dulu-dulu. Kan yang kita tau kalo dulu itu lebih menekankan ke hafalan sekarang alhamdulillah menekankan ke proses berpikir siswa.
ini sejalan dengan Taksonomi SOLO mendorong siswa untuk memahami materi secara lebih mendalam, bukan sekadar mengingat. Perubahan kayak gini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis sejak dini
Izin menanggapi dan menambahkan Setoran
HapusDi Kurikulum 2025, yang dikejar bukan seberapa banyak materi yang habis dibahas, tapi seberapa dalam anak paham. Taksonomi SOLO membantu guru untuk bilang: "Oke, materi nggak usah banyak-banyak, yang penting anak bisa sampai level Relational atau bahkan Extended Abstract." Jadi, kualitas lebih penting dari kuantitas.
2. Guru Jadi "Arsitek" Berpikir
Dengan pendekatan ini, guru nggak lagi cuma ceramah di depan kelas. Guru jadi kayak arsitek yang ngerancang supaya anak bisa naik tangga pelan-pelan. Dari yang cuma tahu satu hal, sampai bisa menghubungkan banyak hal. Pembelajaran jadi lebih bermakna karena anak merasa ilmu itu berguna buat hidupnya.
3. Asesmen yang Lebih Manusiawi
Dulu kita menilai anak cuma pakai angka (benar/salah). Sekarang, dengan SOLO, kita bisa kasih nilai yang lebih "bercerita". Kita bisa bilang ke orang tua, "Anak Ibu sudah hebat di tahap menghubungkan konsep, sekarang kita latih yuk supaya dia bisa bikin ide baru." Ini jauh lebih memotivasi anak!
4. Cocok buat Karakter Anak Zaman Sekarang
Anak-anak sekarang (Gen Alpha) itu kritis. Mereka nggak suka kalau cuma disuruh hafal. Pendekatan Deep Learning ini memberi mereka ruang untuk bertanya "Kenapa?" dan "Gimana kalau?". Ini bikin mereka nggak bosan di kelas.
Terimakasih pak atas materinya taksonomi Taksonomi Solo dan Kurikulum Nasional 2025 dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Izin nambahin arjuna pertama Belajar Bukan Kejar Setoran
Di Kurikulum 2025, yang dikejar bukan seberapa banyak materi yang habis dibahas, tapi seberapa dalam anak paham. Taksonomi SOLO membantu guru untuk bilang: "Oke, materi nggak usah banyak-banyak, yang penting anak bisa sampai level Relational atau bahkan Extended Abstract." Jadi, kualitas lebih penting dari kuantitas.
2. Guru Jadi "Arsitek" Berpikir
Dengan pendekatan ini, guru nggak lagi cuma ceramah di depan kelas. Guru jadi kayak arsitek yang ngerancang supaya anak bisa naik tangga pelan-pelan. Dari yang cuma tahu satu hal, sampai bisa menghubungkan banyak hal. Pembelajaran jadi lebih bermakna karena anak merasa ilmu itu berguna buat hidupnya.
3. Asesmen yang Lebih Manusiawi
Dulu kita menilai anak cuma pakai angka (benar/salah). Sekarang, dengan SOLO, kita bisa kasih nilai yang lebih "bercerita". Kita bisa bilang ke orang tua, "Anak Ibu sudah hebat di tahap menghubungkan konsep, sekarang kita latih yuk supaya dia bisa bikin ide baru." Ini jauh lebih memotivasi anak!
4. Cocok buat Karakter Anak Zaman Sekarang
Anak-anak sekarang (Gen Alpha) itu kritis. Mereka nggak suka kalau cuma disuruh hafal. Pendekatan Deep Learning ini memberi mereka ruang untuk bertanya "Kenapa?" dan "Gimana kalau?". Ini bikin mereka nggak bosan di kelas.
iya pak benar sekali definisi tingkat relational siswa mampu menghubungkan berbagai aspek menjadi satu kesatuan yang koheren pemahaman ini mencapai level mendalam di mana fakta fakta saling terkait dianalisis dan di interaksikan ciri cirinya seperti menunjukkan analisis perbandingan atau penjelasan sebab akibat siswa bisa menjelaskan mengapa dan bagaimana konsep tersebut pekerja bersama
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Setuju banget, ipin Kalau tahap Extended Abstract tadi itu maka tahap Relational ini adalah "pondasi kokoh"-nya. Di tahap inilah anak mulai sadar kalau ilmu itu bukan kotak-kotak yang terpisah, tapi satu kesatuan yang saling nyambung.
iya pak materi ini sangat benar sekali tentang definisi tingkat extended abstract ini tingkat Tertinggi dimana siswa tidak hanya di kasih paham dan hubungan konsep tetapi juga bisa menggeneralisasi, memprediksi atau menciptakan ide baru di luar konteks asli ciri cirinya seperti melipatkan hipotensis,kritik,atau inovasi siswa juga bisa menerapkan konsep ke masalah dunia nyata atau buat teori Baru
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Wah, ini dia pin dalam proses belajar! Betul sekali, Pak. Kalau anak sudah sampai di tahap Extended Abstract, itu artinya mereka bukan cuma "pintar sekolah", tapi sudah jadi "problem solver" yang kreatif.Bayangkan kalau anak-anak SD kita sudah bisa berpikir sampai tahap ini, mereka nggak bakal bingung kalau nanti tantangan di masa depan berubah-ubah, karena "logika dasarnya" sudah sangat kuat.
iya pak ini sangat bagus sekali solo untuk matematika di SD bukan hanya menghafal rumus atau angka tetapi juga membangun fondasi logika dan pemecahan masalah sehari hari SOLO juga dapat membantu guru melihat struktur pemikiran anak yang masih Acak hingga bisa menerapkan konsep ke situasi baru ini juga sangat selaras dengan kurikulum merdeka di mana anak di dorong untuk belajar melalui proyek dan eksplorasi bukan rute learning misalnya seperti alih alih sekedar menjumlahkan angka anak juga di ajak hubungkan konsep itu ke kehidupan seperti berbagi mainan atau mengukur bahan masak
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Setuju banget! Apa yang ipin sampaikan itu kena banget poinnya. Matematika selama ini sering dianggap "monster" karena anak-anak cuma disuruh hafal rumus yang kaku. Padahal, kalau pakai pendekatan SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) ini, kita jadi lebih menghargai proses berpikir anak.
iya pak benar sekali tingkat Pre-stuctural belum ada struktur pemahaman di sini anak belum paham konsep sama sekali dan sering kali jawaban nya salah,acak,atau berdasarkan tebakan liar ini normal untuk pemula seperti anak kelas 1 yang baru mengenal angka contoh nya seperti tema perjumlahan sederhana 2+3 anak mungkin menjawab 10 karna Dia mengingat lagu atau gambar acak tanpa tahu arti perjumlahan nya strategi penyampaian nya dengan memulai permainan visual seperti gunakan balok mainan atau jari tangan untuk di lihat dan di sentuh
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS 5D
Beneh pin! Kalau yang tadi itu "satu batu bata", nah di level Pre-structural ini ibaratnya tanahnya masih kosong banget, belum ada batu bata sama sekali.Anak-anak di tahap ini sebenarnya nggak "salah", mereka cuma lagi mencoba mencocokkan apa saja yang pernah mereka dengar. Karena mereka belum paham konsepnya, mereka cuma ambil memori yang paling dekat di kepala, entah itu nomor rumah, umur mereka, atau lirik lagu
iya pak benar sekali tentang materi tingkat uni-stuctural ini adalah paham 1 aspek di mana anak sudah tangkap 1 ide dasar tetapi belum bisa mengembangkan nya ini seperti fondasi rumah yang baru satu batu bata contohnya seperti pengukuran panjang anak tahu panjang adalah ukuran dari ujung ke ujung tetapi tidak bisa bandingkan dua benda misalnya pensil ini panjang 10 cm hanya 1 fakta strategi yang di gunakan terfokus seperti apa 1 hal yang Kamu tahu tentang bentuk segitiga dorong dengan gambar cerah atau alat peraga agar anak merasa berhasil Dan beri pujian spesifik seperti Bagus kamu sudah tau 1 sisinya lurus
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Beneh jua pin Kalau kita langsung paksa anak membandingkan (misal: "Mana yang lebih panjang, pensil atau penghapus?"), padahal dia baru paham konsep "panjang itu dari ujung ke ujung", si anak bisa bingung dan akhirnya malas belajar.Dengan memuji satu langkah kecil itu, kita lagi bangun rasa percaya diri mereka. Jadi besok-besok pas kita ajak naik ke level berikutnya (mulai membandingkan), mereka nggak takut duluan.
iya pak benar sekali tentang tingkat multi-structural itu tahu banyak fakta tetapi belum terhubung pada anak yang bisa di sebut beberapa elemen tetapi mereka seperti daftar belanja yang belum saling tekait ini adalah tahap akumulasi pengetahuan contohnya matematika pada pengurangan 10-4 anak akan mengurangi pakai jari dan hasilnya 6 dan juga bisa pakai garing bilangan tetapi tidak di jelaskan kenapa atau apa hubungannya strategi ini mengajarkan anak buat peta pikiran sederhana Dengan gambar seperti hubungan fakta dengan garis
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Setuju sekali lagi pin. Intinya, di tahap ini anak seperti punya banyak paku dan kayu, tapi belum tahu cara merakitnya jadi kursi.
Untuk membantu anak "menyambungkan" fakta-fakta itu secara sederhana, kita bisa pakai teknik "Satu Tujuan, Banyak Jalan".
iya pak benar sekali tingkat relational ini menghubungkan konsep secara bermakna di sini anak mulai lihat gambar besar fakta saling terkait seperti puzzle yang pas ini tingkat deep learning sejati contohnya pada Matematika geometri anak menjelaskan segitiga punya 3 sisi sudutnya berjumlah 180° dan bisa jadi bagian rumah karna stabil seperti atap mereka juga bisa menghubungkan sifat dengan fungsi nyata strategi ini menyampaikan diskusi kelompok atau menceritakan seperti bayangan kamu membangun jembatan dengan bentuk bagaimana lingkaran dan persegi saling bantu beri waktu refleksi apa hubungan antara penjumlahan dan pengukuran aktifitas di SD
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Wah izin menanggapinya pin
Wah, setuju sekali! Analogi puzzle yang Anda gunakan sangat tepat. Di tahap ini, anak tidak lagi cuma "hafal" potongan-potongannya, tapi sudah mulai melihat gambar utuh di balik kotak puzzle tersebut.
Ketika anak paham bahwa segitiga bukan sekadar gambar di buku, tapi adalah bentuk yang menjaga atap rumah mereka tetap kokoh, itulah momen "keren uje!" yang kita cari dalam pembelajaran
iya pak benar sekali tingkat extended abstract ini generalisasi dan aplikasi baru bagi anak tidak hanya paham tetapi mereka juga bisa menciptakan ide baru atau terapkan ke Masalah yang tidak terduga ini seperti inovator kecil contohnya pada matematika pada bola bilangan anak bukan hanya kenali urutan 1 3 5 tapi prediksi bola baru dan aplikasi kan bola ganjil bisa buat jadwal permainan agar adil atau desain taman Dengan pohon genap strategi ini menyampaikan dorongan proyek kreatif tanya kalau kamu punyak rumus ini bagaimana ubah Untuk masalah dunia nyata seperti hemat air di gunakan teknologi sederhana seperti app gambar untuk visualisasi
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Wah betul sih pin Wah, setuju Analogi "Inovator Kecil" itu sangat tepat untuk menggambarkan level Extended Abstract.
Di tahap ini, anak memang sudah tidak lagi sekadar menghafal atau mengikuti instruksi, tapi mereka sudah mulai menghubungkan titik-titik informasi menjadi sesuatu yang baru.
Izin menanggapi pak Materi tentang Taksonomi SOLO yang dipaparkan ini sangat relevan dengan arah transformasi pendidikan Indonesia, khususnya dalam konteks Kurikulum Merdeka 2025 dan penguatan pembelajaran mendalam (deep learning). Penekanan pada kualitas pemahaman, bukan sekadar kuantitas hafalan, menunjukkan pergeseran paradigma pendidikan dari yang berorientasi hasil akhir menuju proses berpikir siswa yang autentik dan berkesadaran.Taksonomi SOLO menjadi kerangka yang kuat karena mampu memotret struktur pemahaman siswa secara bertahap, mulai dari pemahaman yang dangkal hingga pemahaman yang terintegrasi dan reflektif. Hal ini sangat penting di era VUCA, di mana siswa tidak cukup hanya “tahu”, tetapi harus mampu mengaitkan, menganalisis, dan mentransfer pengetahuan ke situasi baru. Dalam konteks ini, SOLO melengkapi Taksonomi Bloom dengan fokus yang lebih tajam pada kedalaman dan kualitas respons belajar.Kekuatan utama SOLO terletak pada kemampuannya membantu guru merancang pertanyaan, tugas, dan asesmen yang mendorong eskalasi berpikir. Guru tidak lagi berhenti pada pertanyaan faktual, tetapi secara sadar mengarahkan siswa naik dari level unistruktural ke multistruktural, relasional, hingga extended abstract. Pendekatan ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam yang menekankan pemaknaan, refleksi, dan konstruksi pengetahuan oleh siswa sendiri.Relevansi SOLO dengan Kurikulum Merdeka 2025 terlihat jelas pada prinsip pembelajaran berdiferensiasi dan berpusat pada peserta didik. Dengan SOLO, guru dapat memetakan posisi belajar siswa tanpa memberi label “pandai” atau “lemah”, melainkan memahami di level mana pemahaman siswa berada dan dukungan apa yang dibutuhkan untuk naik level berikutnya. Hal ini mendukung inklusivitas dan keadilan belajar, karena setiap siswa diberi ruang berkembang sesuai tahap kognitifnya.
BalasHapusNAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Wah setuju sih Taksonomi SOLO adalah alat yang sangat pas untuk mendukung Deep Learning. Ia membantu siswa bukan hanya menjadi "perpustakaan berjalan", tapi menjadi pemikir yang kritis dan solutif di masa depan yang penuh ketidakpastian (VUCA).
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
BalasHapusHalo teman-teman semua!
Saya Fauzan Nashrullah NPM.2386206021 dari Kelas 5B PGSD.
Di era digitalisasi ini... kita mengenal sesuatu yang disebut kecerdasan buatan atau AI... Hal ini memiliki dampak besar yang membuat integrasi di antaranya menjadi semakin relevan. Di saat kemampuan menghafal sudah mulai tergantikan oleh mesin, Taksonomi SOLO mengarahkan fokus pendidikan pada kemampuan berpikir kritis dan kreatif melalui level Relational dan Extended Abstract. Dengan menguasai kemampuan untuk menghubungkan konsep dan berteorisasi, siswa tidak lagi memandang matematika sebagai musuh yang menakutkan, melainkan sebagai alat berpikir yang krusial untuk menavigasi dan memecahkan masalah di dunia nyata.
NAMA:M.GHOZIANNOOR
HapusKELAS:5D
Setuju sekali paus.Intinya ni, di zaman AI ini, apa yang kita tahu tidak lagi sepenting apa yang bisa kita lakukan dengan pengetahuan itu.
Dulu, belajar sering kali hanya soal "menghafal rumus." Tapi sekarang, karena semua rumus bisa dicari di Google atau ditanyakan ke AI, cara belajar kita harus naik kelas.
Berikut adalah penjelasan sederhana mengapa Taksonomi SOLO yang Anda sebutkan itu sangat penting:
1. Dari Sekadar Menghafal ke Menghubungkan (Relational)
Kalau dulu kita cuma tahu 1 + 1 = 2, di level Relational, kita mulai paham kenapa itu penting. Siswa diajak melihat bahwa matematika bukan angka yang berdiri sendiri, tapi ada polanya. Mereka mulai bisa menghubungkan satu rumus dengan rumus lainnya seperti menyusun potongan puzzle.
2. Berpikir di Luar Kotak (Extended Abstract)
Ini adalah level tertinggi. Di sini, siswa tidak cuma mengerjakan soal di buku, tapi bisa memakai logika matematika untuk:
Membuat prediksi masa depan.
Menciptakan ide baru.
Menyelesaikan masalah yang belum pernah ada sebelumnya.
3. Matematika Bukan Lagi "Momok"
Saat siswa paham "untuk apa" mereka belajar matematika (sebagai alat bantu navigasi hidup), rasa takut itu hilang. Matematika berubah dari sekadar tumpukan angka yang membosankan menjadi "pisau bedah" yang tajam untuk membedah masalah di dunia nyata.
Kesimpulannya ni Di era AI, kita tidak perlu berlomba menjadi "kamus berjalan" dengan mesin. Kita harus berlomba menjadi pemikir yang kreatif.
NAMA:M.GHOZIANNOOR
BalasHapusKELAS:5D
Saya sangat setuju dengan pandangan tersebut....Mengajarkan berpikir kritis itu seperti memberi anak sebuah kompas, bukan memberi mereka peta
Peta mungkin membantu mereka sampai ke satu tujuan dengan cepat, tapi jika jalanan berubah, mereka akan tersesat. Sedangkan dengan kompas, mereka bisa menemukan jalan sendiri ke mana pun mereka pergi.