Cognitive Load Theory (Teori Beban Kognitif): Pengorganisasian Ingatan (Memory Organization) Part 2

 




Kapasitas memori kerja (WM) diukur dalam kapasitas operasional tergantung pada jenis tugas latar belakang tertentu yang digunakan dalam domain tertentu (Carpenter & Just, 1989). Misalnya, tes rentang membaca digunakan untuk mengukur kapasitas WM sebagai ukuran terbesar dari kumpulan kalimat sederhana yang dapat diandalkan oleh subjek untuk mengingat kata-kata akhir dari semua kalimat (Daneman & Carpenter, 1983). Daneman dan Tardif (1987) menetapkan bahwa rentang membaca adalah ukuran khusus untuk keterampilan berbahasa, bukan ukuran kapasitas memori kerja secara umum, dan berkorelasi signifikan dengan kemampuan pemahaman membaca.

 Meskipun jelas terdapat perbedaan sistematik antar individu dalam kapasitas memori kerjanya untuk tugas-tugas tertentu, dan perbedaan ini mempengaruhi kinerja ketika orang tersebut beroperasi pada batas kapasitas memori kerjanya, tidak ada pendekatan atau hipotesis tunggal mengenai penafsiran tugastugas tersebut. perbedaan individu dalam kapasitas WM telah menerima dukungan empiris yang meyakinkan. Perbedaan tersebut bisa sangat dipengaruhi oleh struktur pengetahuan yang tersedia dalam memori jangka panjang. Setiap rentang WM secara implisit mencerminkan pengetahuan dan pengalaman individu dalam suatu domain, dan pengetahuan ini pasti mempengaruhi kinerjanya dalam bagian pemrosesan dan penyimpanan tugas (misalnya, Hulme, Maughan, & Brown, 1991; Hulme, Roodenrys, Brown, & Mercer, 1995). Ukuran rentang WM dengan demikian dapat digunakan sebagai prediktor kinerja seseorang dalam domain yang sesuai daripada mengukur kapasitas WM umum sebenarnya. Hal ini praktis tidak mungkin untuk menghilangkan pengaruh basis pengetahuan seseorang ketika tugas-tugas bermakna dilibatkan dalam tes rentang WM. Dari sudut pandang ini, pendekatan yang berfokus pada hubungan antara konten dan pengoperasian memori kerja dan memori jangka panjang bisa menjadi lebih relevan dan produktif. 

Sederhana potongan mekanisme menyediakan sebuah contoh dari menggunakan jangka panjang struktur memori dalam mengubah konten memori kerja. Potongannya adalah unit informasi yang familiar berdasarkan pembelajaran sebelumnya. Misalnya, mungkin sulit untuk mengingat dan mengingat serangkaian huruf acak seperti B,B,C,C,I,A,A,B,C,F,B,I, kecuali kita mengelompokkannya menjadi BBC, CIA, ABC, FBI. Dalam hal ini, kami menggunakan pengetahuan kami sebelumnya yang disimpan di LTM untuk mengurangi jumlah elemen menjadi empat bagian yang dapat dikelola. Metode yang sama dapat digunakan dengan rangkaian angka berikut: 1,9,1,4,1,9,4,5,1,9,9,6,2,0,0,1. Contoh umum lainnya dari pengelompokan dalam pemahaman bahasa adalah cara kita mengelompokkan huruf menjadi kata-kata yang familiar, dan kata-kata menjadi frasa yang familiar. Perkiraan kapasitas STM sekitar tujuh unit (Miller, 1956) sebenarnya menunjukkan jumlah potongan daripada jumlah total informasi yang disimpan dalam STM. Mekanisme ini menjelaskan bagaimana kita berhasil mengatasi hambatan pemrosesan informasi yang disebabkan oleh terbatasnya kapasitas memori kerja kita, dan untuk mempelajari sejumlah besar informasi yang kita miliki dari pengetahuan di LTM. 

Orang dapat dilatih untuk secara efektif meningkatkan kapasitas memori mereka hingga tingkat yang luar biasa melalui pelatihan ekstensif dalam pengelompokan dan pengelompokan ulang informasi menjadi unit-unit yang bermakna menggunakan pengetahuan sebelumnya yang disimpan dalam LTM. Teori memori terampil (Chase & Ericsson, 1982) mengklaim bahwa orang mengembangkan mekanisme yang memungkinkan mereka menggunakan basis pengetahuan yang besar dan familiar untuk dengan cepat menyandikan, menyimpan, dan mengambil informasi dalam bidang keahlian mereka dan dengan demikian menghindari keterbatasan kapasitas memori kerja. . Hasilnya, para ahli memiliki peningkatan kapasitas memori kerja fungsional dalam domain keahlian mereka (Ericsson & Staszewski, 1989). 

Pengetahuan khusus domain yang tersedia memungkinkan para ahli dengan cepat menyandikan dan menyimpan informasi dalam jumlah besar di LTM. Operasi penyimpanan dan pengambilan LTM seperti itu dipercepat dengan latihan dan sebanding dengan pengkodean dan pengambilan STM, menghasilkan kinerja tugas yang unggul dari para ahli dan daya ingat yang unggul untuk materi yang sudah dikenal (efek memori yang terampil; Ericsson & Staszewski, 1989). Misalnya, ahli mnemonis dapat meningkatkan rentang digitnya jauh melampaui batas tujuh digit plus atau minus dua digit Miller. Mereka menggunakan potongan pengetahuan yang familiar di LTM untuk menyandikan informasi baru dalam bentuk yang mudah diakses. Ericsson dan Staszewski (1989) menggambarkan seseorang yang memperluas rentang digitnya menjadi 84 digit dengan mengelompokkannya ke dalam urutan pendek dan mengkodekannya dalam istilah, yang dikenalnya, waktu lari atletik, tanggal, dan usia. Namun ia beroperasi di bawah batasan STM berkapasitas terbatas: ukuran grup digit tidak pernah melebihi lima digit, dan grup ini tidak pernah dikelompokkan dalam supergrup dengan lebih dari empat grup dalam satu supergrup. 

Dalam model WM Carpenter dan Just (1989), pengoperasian WM selama pemahaman membaca juga didasarkan pada hubungan antara WM dan LTM. Dalam model ini, WM terdiri dari pointer aktif ke struktur LTM dan produk pemrosesan parsial atau akhir. Seorang pembaca menyimpan tema teks, representasi umum situasi, proposisi utama dari kalimat sebelumnya, serta representasi kalimat yang sedang dibacanya (Just & Carpenter, 1992). Ketika berhadapan dengan rangkaian kata yang tidak terstruktur, kita biasanya hanya dapat mengingat enam atau tujuh kata yang tidak berhubungan secara berurutan (sesuai dengan rentang STM kita). Sebaliknya, pembaca yang terampil dapat mengingat dan memahami dalam waktu yang lama kalimat (sekitar 77% kata dalam kalimat hingga 22 kata) karena menggunakan struktur internal di LTM untuk menghindari batasan WM. Jadi, kalimat Pemahaman dapat dianggap sebagai pengkodean ulang (chunking) simbol- simbol yang masuk ke dalam beberapa struktur (Carpenter & Just, 1989). 

Ericsson dan Kintsch (1995) mengembangkan lebih lanjut gagasan tersebut menjadi teori memori kerja jangka panjang (LT-WM). Dalam teori ini, struktur pengetahuan LTM yang terkait dengan komponen memori kerja membentuk struktur LT-WM yang mampu menampung informasi dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Beberapa mekanisme tambahan diperkenalkan untuk mengatasi dampak gangguan dalam penggunaan pengetahuan LTM oleh para ahli untuk penyimpanan dan pengambilan informasi yang baru dikodekan. Mekanisme operasi LT-WM yang diusulkan melibatkan pengambilan informasi berbasis isyarat dari LTM. Metode pengkodean dapat didasarkan pada struktur pengambilan yang dibangun secara khusus, memori yang sudah ada dan diuraikan struktur, atau kombinasi keduanya. Kinerja terampil bergantung pada struktur pengetahuan spesifik domain yang relevan dengan tugas tertentu, dan, akibatnya, terdapat perbedaan individual dalam pengoperasian LT-WM untuk tugas tertentu (Ericsson & Kintsch, 1995).

Referensi

Kalyuga, S. 2009. Cognitive Load Factors in Instructional Design for Advanced Learners. New York: Nova Science Publishers

104 Komentar

  1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Izin bertanya mengenai materi di atas pak, pertanyaan saya pak bagaimana cara penerapan prinsip teori beban kognitif dapat membantu guru dalam merancang pembelajaran. Khusus nya di slSekolah Dasar pak🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Putri Lestari Pinang
      NPM : 2386206081
      Kelas : 5D PGSD

      Izin menjawab pertanyaan diatas, Guru dapat menerapkan teori beban kognitif dalam merancang pembelajaran di SD dengan menyederhanakan konsep kompleks, meminimalkan distraksi, dan mengintegrasikan alat bantu visual. Caranya adalah dengan memecah materi menjadi bagian-bagian kecil, menggunakan peta pikiran atau visualisasi untuk menghubungkan konsep, serta memberikan tugas yang sesuai dengan kapasitas kognitif siswa agar fokus pada pemahaman materi (beban intrinsik dan germane) daripada memikirkan hal lain yang tidak perlu (beban eksternal). Semoga membantu.

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:VD

      Izin menjawab pak dengan menerapkan prinsip teori beban kognitif, guru SD dapat Menyusun pembelajaran yang lebih terarah dan efisien,Membantu siswa memahami materi tanpa merasa kewalahan,Menjadikan pembelajaran lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna

      Semoga membantu😁

      Hapus
    3. Nama : Oktavia Ramadani
      NPM : 2386206086
      Kelas : 5D

      Hallo isdi izin menjawab ya , adanya prinsip teori beban kognitif itu dapat membantu guru SD dengan cara merancang beberapa pembelajaran yang sesuai dengan kapasitas memori kerja anak , guru bisa menyederhanakan informasi dengan menggunakan contoh atau konteks yang sudah familiar , serta mengelompokkan materi menjadi bagian - bagian kecil ( chunking ) , agar lebih mudah dipahami , dengan begitu , anak tidak akan kewalahan. Dan bisa menyimpan informasi memori jangka panjang , serta lebih mudah mengaitkan pengetahuan yang baru dengan yang sudah mereka ketahui.

      Hapus
  2. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin menanggapi pak, saya setuju dengan pernyataan teks diatas, membuat saya belajar mengenai model memori kerja (WM) Carpenter dan just (1989) dalam konteks pemahaman membaca. Model ini menjelaskan bagaimana WM bekerja sama dengan memori jangka panjang (LTM) untuk memproses kalimat. Pembaca yang terampil dapat menggunakan struktur internal LTM untuk mengatasi keterbatasan WM, sehingga mereka dapat mengingat dan memahami kalimat yang lebih panjang.

    BalasHapus
  3. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin bertanya mengenai Working Memori, bagaimana cara guru mengukur kapasitas memori kerja (WM) pada anak SD? dan apakah guru kesulitan dalam mengukur (WM) anak SD?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:VD

      Izin menjawab pertanyaan dari putri lestari pinang pak

      Dengan cara Guru SD dapat mengukur kapasitas memori kerja secara sederhana melalui aktivitas dan pengamatan di kelas.
      Menurut saya mengukur dengan tepat memang sulit tanpa bantuan alat formal dari psikolog pendidikan.
      Yang terpenting adalah guru memahami keterbatasan memori kerja anak dan menyesuaikan pembelajaran seperti :
      Memberi instruksi pendek dan jelas
      Menyediakan contoh visual
      Memberi waktu lebih untuk memproses informasi.

      Hapus
    2. Nama : Oktavia Ramadani
      NPM : 2386206086
      Kelas : 5D

      Izin putri menanggapi untuk mengukur sebuah kapasitas memori kerja (WM) pada anak SD , guru itu bisa menggunakan tes yang menilai sejauh mana sih anak dapat menyimpan dan memproses informasi dalam waktu yang singkat dan salah satu contoh yang di sebut dalam materi diatas adalah “tes tentang membaca” , yaitu di mana anak diminta membaca beberapa kalimat yang sederhana dan kemudian mengingat kata- kata terakhir dari setiap kalimat , nah tes ini menunjukkan seberapa banyak sih informasi yang bisa diingat dan diproses anak secara bersamaan dalam konteks bahasa .

      Namun, guru itu memang bisa menghadapi kesulitan dalam mengukur WM pada anak SD , hal ini karena kapasitas WM , sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman sebelumnya , jika anak belum memiliki pengetahuan yang cukup maka kemamapuan mereka dalam mengingat atau memproses informasi bisa terlihat lebih rendah , padahal nih sebenarnya kemampuan memori itu kerjanya biasa berbeda jika konteksnya lebih familiar , selain itu anak- abak bisa lebih mudah terdistribusi atau cepat lelah , sehingga hasil pengukuran bisa tidak konsisten.

      Hapus
  4. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya baca materi ini, menurut saya materi ini memberikan penjelas yang cukup mendalam mengenai hubungn antara memori kerja (Warking Memory/CW), memori jangka panjang (Long Term Memory/LTM), serta juga mekanisme organisasi pengetahuan dalam konteks Cognitive Load Theory (CLT). Penjelasan yang telah disampaikan oleh penulis pada materi diatas tidak hanya mencakup mengenai fenomena dasar seperti chunking, namun juga mengintegrasikan/menghubungkan berbagai penelitian kognitif klasik dan juga modern.

    BalasHapus
  5. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    kelas: V.A
    Izin menanggapi bacaan di atas pak, dari bacaan di atas menyatakan bahwa memori kerja itu sangat terbatas sesuai dengan tingkat tugas yang diberikan, namun kita dapat mengatasi kapasitas memori kerja ini yaitu dengan cara mengelompokkan informasi-informasi yang diterima menjadi beberapa bagian sehingga kita dapat mampu mengingat dalam jangka panjang.
    Karena memori bekerja hanya dapat mengelola 7 informasi dalam waktu bersamaan.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      saya izin menambahkan pendapat dari Maya, yah setelah baca semua ini, makin kelihatan banget kalau belajar itu sebenernya bukan cuma ngumpulin info, tapi lebih ke ngebangun struktur pengetahuan di LTM supaya WM nggak gampang kehabisan kapasitas. Jadi, yang sering merasa “otakku cepat penuh,” bisa jadi bukan otaknya yang lemah, tapi belum punya cukup pola untuk bantu meringankan beban di memori kerja. Materinya benar-benar ngebuka cara pandang baru soal bagaimana memori kita bekerja dalam aktivitas sehari-hari maupun proses belajar.

      Hapus
  6. Wah senang sekali rasanya menemukan website buyaadin.com ini.
    Banyak sekali uraian-uraian yang ditulis pada website ini memiliki banyak manfaat dan menambah pengetahuan. Salah satunya uraian pada laman ini menjelaskan mengenai kapasitas memori kerja pada manusia.
    Pada laman ini saya diajarkan untuk menyadari bahwasannya memori kerja kita sebagai manusia itu terbatas. Nah ada yang menarik bagi saya dari uraian diatas :
    Saya sangat setuju sekali dengan uraian peda laman ini yang mengatakan bahwasanya perbedaan kapasitas memori kerja pada manusia salah satunya dapat dipengaruhi oleh pengalaman karena poin pengalaman ini dapat mempengaruhi kinerja dalam bagian pemrosesan dan penyimpanan tugas.
    Menurut saya ini valid karena,ketika seseorang ingin menyimpan informasi ataupun pengetahuan dalam memorinya itu lebih bagus ketika seseorang menerapkan/melakukan praktik yang dapat dijadikan sebuah pengalaman ketika kita sudah menerapkan/praktik langsung kita dapat mengingat bagian-bagian kecil dari setiap langkah ataupun proses pengerjaannya, ini meminimalisir memenuhi memori kerja dengan hanya membaca teori atau informasi saja karena, dengan pengalaman yang telah ada kita dapat lebih mudah untuk mengingat dan menyimpan informasi dalam memori kita.

    BalasHapus
  7. Setelah membaca materi bapak Saya sangat tertarik dengan pembahasan mengenai perluasan rentang digit, dari batas tujuh digit plus-minus dua digit Miller hingga contoh kasus 84 digit Ericsson dan Staszewski. Bagian ini benar-benar memberikan perspektif baru tentang batasan Working Memory (WM). Saya pikir, penjelasannya sangat jelas bahwa intinya bukan pada peningkatan kapasitas fisik STM/WM, melainkan pada kemampuan kita untuk mengatur informasi menjadi 'unit-unit' atau supergrup yang bermakna dengan memanfaatkan pengetahuan dari LTM. Jadi, kuncinya ada pengodean informasi. Hal ini menunjukkan bahwa belajar yang efektif adalah tentang membangun struktur pengetahuan yang kuat di LTM, bukan hanya menghafal, karena struktur itulah yang memungkinkan kita 'mengakali' keterbatasan kapasitas memori kerja kita.

    BalasHapus
  8. Setelah baca saya cukup tertarik dengan pembahasan mengenai model lanjutan LT-WM (Long-Term Working Memory) oleh Ericsson dan Kintsch. Menurut saya, konsep LT-WM ini menjembatani gap yang penting, yaitu bagaimana kita bisa menyimpan dan memproses informasi dalam jumlah yang sangat besar seperti saat membaca teks panjang meskipun kapasitas WM kita terbatas. Gagasan bahwa struktur pengetahuan LTM kita sendiri yang membentuk struktur LT-WM yang menampung informasi hampir tak terbatas itu sangatlah cerdas. Ini juga sangat relevan dengan contoh pemahaman membaca yang melibatkan pointer aktif ke LTM dan penyimpanan parsial. Jadi, kemampuan kita untuk membaca dan memahami itu bukan hanya tentang ingatan jangka pendek, tapi merupakan operasi canggih yang secara konstan memanfaatkan dan memperbarui 'database' pengetahuan kita di LTM. Pembahasan ini membuat saya lebih memahami kompleksitas di balik proses belajar."

    BalasHapus
  9. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Izin pak memberikan tanggapan mengenai materi di atas. Menurut saya, materi ini sangat membantu untuk memahami bagaimana cara kerja memori, terutama tentang pentingnya pengelompokan informasi dalam mengurangi beban kognitif. Penjelasannya membuat saya sadar bahwa memori kerja dan memori jangka panjang saling berkaitan, dan kita bisa mengingat lebih baik ketika informasi disajikan dalam bentuk yang familiar atau bermakna. Contoh angka dan huruf yang digunakan juga membuat konsepnya lebih mudah dibayangkan. Secara keseluruhan, tulisan ini relevan dan informatif, apalagi bagi yang ingin meningkatkan kemampuan mengingat atau memahami teori beban kognitif secara lebih mendalam.🙏🏻

    BalasHapus
  10. Nama : Oktavia Ramadani
    NPM : 2386206086
    Kelas : 5D

    Materi ini membahas bagaimana kapasitas memori kerja ( WM ) dan memori jangka panjang (LTM) , saling beruhubungan dalam proses belajar dan pemahaman , kapasitas memori kerja itu terbatas , tetapi kita bisa memperluasnya dengan memanfaatkan pengetahuan yang sudah tersimpan di LTM melalui strategi seperti chunking atau pengelompokan informasi , memori kerja memiliki batas sekitar tujuh unit informasi , tetapi ini sebenarnya menunjukkan Jumat unit yang dapat diproses , bukan Jumlah total elemen tetapi pengetahuan dan pengelaman sebelumnya sangat mempengaruhi kemampuan kita untuk mengingat dan memproses informasi yang baru , misalnya , seorang ahli dalam suatu bidang bisa mengingat lebih banyak detai , karena mampu mengkode informasi baru dengan menggunakan struktur pengetahuan yang sudah ada , dengan latihan yang intensif , seseorang dapat meningkatkan kapasitas fungsional memori kerjanya di domain tertentu , seperti yang mampu mengingat puluhan digit dengan mengelompokkan angka menjadi informasi yang lebih bermakna. Teori memori kerja dengan jangka yang panjang ( LT - WM ) menggabungkan WM DAN LTM , menunjukkan bahwa ahli dapat memanfaatkan struktur LTM untuk menyimpan dan mengambil informasi dalam jumlah yang besar tanpa di batasi oleh kapasitas memori kerja .

    BalasHapus
  11. Nama : Oktavia Ramadani
    NPM : 2386206086
    Kelas : 5D

    Izin menambahkan pak , bahwa Materi ini juga sangat relevan untuk pendidikan dan pelatihan, karena menekankan bahwa keterbatasan memori kerja bukanlah hambatan yang mutlak , dengan adanya strategi yang tepat seperti pengelompokan , latihan intensif dan pengaktifan pengetahuan sebelumnya seseorang itu bisa meningkatkan kemampuan kognitifnya secara signifikan , hal ini juga bisa menjelaskan mengapa siswa yang sudah memiliki latar belakang pengetahuan , tertentu lebih cepat memahami materi yang baru dibandingkan mereka yang tidak memiliki basis pengetahuan yang sama , secara praktis juga materi ini mengingatkan pengajar untuk memanfaatkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa ketika mengajarkan konsep baru , misalnya dengan analogi , contoh yang familier agar informasi agar lebih mudah dipahami dan diingat .

    BalasHapus
  12. Nama : Oktavia Ramadani
    NPM : 2386206086
    Kelas : 5D

    Izin bertanya pak , dan kepada teman “ semuanya jika ingin menjawab , bagaimana teori LT - WM ini bisa diterapkan secara praktis dalam kurikulum pendidikan untuk meningkatkan pemahaman siswa ? 🙏🏻🙏🏻😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : 5B PGSD

      Hallo oktavia izin menjawab yh. Menurut teori Beban Kognitif dan Pengorganisasian Ingatan materi di atas, kita bisa bantu siswa lebih paham dengan cara mengurangi beban pikirannya saat belajar. Misalnya, materi yang sulit bisa dibagi-bagi jadi bagian yang lebih gampang dimengerti, jadi nggak bikin otak mereka kebanyakan mikir. Dengan cara ini, materi jadi lebih terstruktur dan nggak bikin siswa kewalahan. Selain itu, kalau materi baru dihubungkan dengan pengetahuan yang udah mereka punya sebelumnya, mereka bakal lebih mudah ingat dan paham. Intinya, dengan pakai cara-cara ini, pembelajaran bisa jadi lebih efektif dan siswa bisa lebih gampang ngerti pelajaran.

      Terimakasih😊

      Hapus
  13. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Sebagai seorang mahasiswa yang sedang memprdalam pengetahuan mengenai teori belajar, informasi di artikel kali ini penting banget!

    Ternyata, memori kerja kita itu terbatas, jadi ga bisa kita asal masukkin informasi sebanyak-banyaknya sekaligus. Kalau kebanyakan, otak malah jadi "overload" dan akhirnya susah untuk fokus deh. Dari artikel ini juga saya jadi tau solusi dari overload tadi, yaitu strategi pengelompokkan memori. Kalau kita bisa menerapkan strategi ini dengan tepat, kerja otak jadi efesian, ga gampang capek, dan lebih cepat untuk nangkep inti pelajaran.

    BalasHapus
  14. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Bayangin aja nih kalau kita sebagai siswa belajar mareri IPA tentang sistem pernapasan. Kalau semua detail informasi langsung ditumpuk, pasti bikin pusing. Tapi kalau dibagi jadi bagian kecil, misalnya organ, fungsi, dan prosesnyaa, belajar jadi lebih gampang dan nyantol deh di ingatan.

    Sebagai calon guru, kita harus paham cara ngatur beban kognitif siswa biar mereka ga kewalahan, dan belajar jadi pengalaman yang menyenangkan :)

    BalasHapus
  15. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Materi Ini adalah materi yang sangat rinci dan mendalam mengenai Pengorganisasian Ingatan (Memory Organization), khususnya tentang bagaimana Memori Kerja (Working Memory/WM) dan Memori Jangka Panjang (Long-Term Memory/LTM) berinteraksi untuk mengatasi keterbatasan kapasitas WM, yang merupakan inti dari Cognitive Load Theory (CLT).
    Penulis (Buya Adin) berhasil menyoroti peran sentral mekanisme chunking (pemotongan) dan peran pengetahuan spesifik domain yang tersimpan di LTM dalam meningkatkan kapasitas fungsional WM (teori Memori Terampil dan LT-WM).

    BalasHapus
  16. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Pak saya mau tanya tentang materi diata tadi setelah saya baca ada yg saya kurang paham dri materi tersebut Bagaimana seorang perancang instruksional (instructional designer), yang menerapkan Cognitive Load Theory, dapat secara sistematis merancang dan mengukur efektivitas pemberian isyarat (cues) dalam materi pembelajaran, untuk memastikan bahwa isyarat tersebut memicu struktur pengambilan LTM yang relevan dan efisien (seperti yang terjadi pada ahli), alih-alih hanya menjadi beban kognitif ekstrinsik tambahan bagi pemula?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Hallo bella izin menjawab yh. Menurut saya, teori Cognitive Load itu penting banget buat memahami cara belajar yang efektif. Otak kita punya batasan dalam memproses informasi, jadi kalau terlalu banyak atau terlalu sulit, bisa bikin kita kebingungan dan nggak paham. Ada dua jenis beban kognitif: pertama, extrinsic cognitive load, yaitu beban dari luar seperti cara penyajian materi yang bikin bingung atau informasi yang nggak perlu; kedua, intrinsic cognitive load, yaitu beban dari materi yang memang sulit untuk dipahami. Untuk mengurangi beban ini, kita bisa menyusun materi dengan lebih jelas dan terstruktur, misalnya dengan teknik chunking, yang membagi informasi besar jadi bagian kecil-kecil supaya lebih mudah dipahami otak. Jadi, buat yang baru belajar, penting banget menyusun materi dengan cara yang nggak bikin otak kewalahan.

      Terimakasih😊

      Hapus
    2. Maaf Pak kedobel jawabannya kepencet dua kali pak loading jaringannya saat kirim pak🙏

      Hapus
  17. Nama: Imelda Rizky Putri
    Npm:2386206024
    Kelas:5B

    Izin menanggapi pak, materi ini seru karena ngejelasin gimana otak kita ngatur informasi biar gampang diproses dan diterima dengan baik kadang kita ngerasa belajar itu berat, padahal seringnya cuma karena informasi yang masuk nggak ditata dengan rapi, jadi dengan konsep ini, kita jadi tahu kalau menghubungkan informasi jadi pola itu bisa bikin belajar lebih ringan dan mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      saya setuju dengan tanggapan Imelda jadi secara keseluruhan, materi ini bikin makin sadar bahwa belajar itu banyak bergantung pada gimana kita ngatur informasi di kepala, bukan cuma seberapa keras kita ngafal. Teknik yang tepat bisa bikin kapasitas memori kerja terasa jauh lebih besar dari aslinya.

      Hapus
  18. Kembali membuka laman ini untuk lebih memahami bagaimana sih pengorganisasian ingatan dalam otak manusia itu bekerja.
    Setelah saya membaca kembali uraian pada laman ini ternyata kapasitas memori kerja (WM) pada manusia itu bisa memecah potongan-potongan informasi untuk lebih diingat secara familiar berdasarkan informasi yang kita peroleh atau pembelajaran yang telah kita peroleh, dalam uraian di laman ini juga diberikan contoh ada serangkaian huruf acak seperti B,B,C,C,I, A,A,B,C,F,B,I . Nah ternyata ketika otak kita mendapatkan serangkaian huruf acak seperti di atas itu sulit untuk mengingatnya maka dari itu kita seharusnya mengelompokkan dulu huruf-huruf acak tadi menjadi kelompok-kelompok kecil yang tersusun, yaitu BBC, CIA ,ABC dan FBI.
    Teman-teman sadar nggak sih pengelompokan ini tuh ternyata sudah sering kita temui dalam pembelajaran matematika, dalam pembelajaran matematika juga menggunakan metode pengelompokan ini, misalnya sebuah bangun nah di sebuah bangun itu kan ada titik titik-titik kan, dan kita mengelompokkannya menjadi bagian-bagian kecil, dan saya sadar ternyata matematika diajarkan untuk mengelompokkan bagian-bagian itu agar kita lebih mudah menyimpan informasi tersebut di memori kerja kita untuk jangka waktu yang lebih panjang. LUAR BIASA BUKAN.

    BalasHapus
  19. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    izin menanggapi pak, Materinya ini ngejelasin dengan detail gimana WM dan LTM itu saling berhubungan, dan ternyata kinerja kita dalam tugas-tugas tertentu itu nggak cuma soal “otak kuat atau nggak,” tapi lebih ke seberapa banyak pengetahuan yang udah tersimpan di LTM buat bantu ngolah info baru.Setelah baca materi ini, jujur aja saya jadi makin kebuka wawasannya soal gimana sebenarnya memori manusia tuh kerja. Awalnya saya mikir memori kerja itu ya cuma “kapasitas nginget sesaat,” tapi ternyata prosesnya jauh lebih rumit dan keren dari yang dibayangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi saya lebih paham kenapa belajar itu kadang terasa berat. Ternyata bukan karena otak kita lemah, tapi karena memori kerja emang punya batas dan sangat bergantung sama apa yang udah kita simpan di memori jangka panjang. Penjelasan tentang model memori kerja dan chunking tuh masuk akal banget, bikin saya sadar kalau makin banyak pengetahuan dasar yang kita punya, makin gampang kita ngolah info baru. Dari sini jadi paham kalau perbedaan kemampuan orang itu bukan cuma masalah “lahir dengan memori bagus” tapi lebih ke seberapa banyak latihan dan struktur pengetahuan yang mereka punya, Sederhana tapi ngena.

      Hapus
  20. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Materi ini tuh relete sekali sama pengalaman kita sehari-hari pas belajar, karena dijelasin kalau kapasitas memori kerja atau working network (WN) itu ibarat kayak meja kerja di otak kita yang ukurannya terbatas kalau isinya kebanyakan, kita jadi gampang bingung, capek, bahkan malah ga paham. Dari sini keliatan kenapa kalo guru nerangin materi terlalu cepat dan terlalu padat siswa bisa langsung kewalahan, bukan karena nggak mampu, tapi karena WN nya sudah terbebani. Menariknya lagi WN ini sangat bergantung pada memori jangka panjang LTM, kalau dasar materi sudah tersimpan di memori jangka panjang kerja WN jadi lebih ringan dan belajar terasa jadi lebih mudah. Jadi menurut saya materi ini ngingetin banget kalau belajar itu harus bertahap, pelan-pelan dan terstruktur supaya otak kita nggak kelelahan duluan.

    BalasHapus
  21. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    baik setelah saya baca lagi, bagian model Carpenter dan Just juga menarik karena mereka nunjukin kalau pemahaman membaca itu sebenarnya proses nyambungin teks yang masuk ke struktur pengetahuan yang udah ada di LTM. Itu kenapa kita bisa baca kalimat panjang tanpa merasa berat, tapi susah banget kalau yang dibaca itu daftar kata acak. Lagi-lagi, polanya yang menentukan. Jadi jelas kalau pemahaman itu bukan cuma soal bisa baca kata, tapi seberapa banyak pola dan struktur makna yang sudah kita miliki sebelumnya.
    Secara keseluruhan, materi ini tuh kaya banget dan bener-bener bikin kita nyadar betapa pentingnya pengetahuan sebelumnya, latihan, dan strategi dalam proses belajar. Bukan cuma soal memori itu kuat atau lemah, tapi gimana kita memanfaatkannya dengan cara yang paling efektif. Materinya bener-bener ngasih gambaran lengkap mengenai WM, LTM, chunking, sampai teori LT-WM yang nunjukin bahwa manusia bisa memproses informasi lebih banyak dari yang kita kira selama kita punya dasar pengetahuan dan teknik yang tepat.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  22. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    Materi ini tentang teori beban kognitif dan organisasi memori sangat relevan sekali ya. konsep bahwa pengetahuan yang tesimpan di memori jangka panjang memungkinkan kita memproses informasi baru di memori kerja secara lebih efisien,menunjukkan bahwa kehalian,secara fungsional meningkatkan kapasitas memori kerja kita dalam domain tersebut. Dalam kehidupan pun kita sering mengalami pemikiran berlebihan bayangkan mencoba mengikuti arah jalan baru sambil membalas pesan dari wa dan memikirkan nanti di toko mau belanja apa?. Kapasitas nya yang kita punya terbatas dan langsung terlampaui. Jadi kinerja kita saat melakukan itu jadi meniru mengapa? karena kita kesulitan multitasking secara efektif. Pelajarannya adalah memecahkan masalah atau mempelajari hal baru kita harus menindakkan gangguan dan memproses satu informasi baru pada satu waktu.

    BalasHapus
  23. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    Efisiensi dalam hidup baaik dalam belajar,bekerja atau menguasai skul baru sangat bergantung pada seberapa kita mengorganisir informasi di memori jangka panjang kita. Ketika kita menghadapi masalah baru,kita harus aktif membangun struktur pengetahuan yang relevan di memori jangka panjang kita terlebih dahulu. Ini adalah kunci untuk mengubah kesulitan menjadi keahlian dan menjamin kinerja yang unggul.

    BalasHapus
  24. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Menurut saya materi tentang Cognitive Load Theory ini cukup membantu untuk memahami bagaimana cara kerja ingatan manusia saat belajar. Penjelasan tentang memori kerja dan memori jangka panjang membuat saya lebih mengerti kenapa kadang kita merasa " penuh" atau sulit menangkap materi ketika informasinya terlalu banyak. Materi ini mmberikan sebuah gambaran bahwa otak manusia, mempunyai kapasitas yang terbatas. Karena itu kalau informasi yang kita terima terlalu banyak atau terlalu rumit, kita jadi cepat lelah dan sulit memahami materi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menanggapi pernyataan dari Kak Erlynda, saya setuju dengan pendapat Kak Erlynda. Penjelasan dalam Cognitive Load Theory ini memang ngebantu kita mahamin Kenapa saat belajar kita bisa merasa penuh atau kewalahan. Itu terjadi karena memori kerja kita kapasitasnya terbatas, jadi tidak bisa langsung ngeproses terlalu banyak informasi sekaligus. Karena kalau materi disampaikan terlalu cepat, terlalu banyak istilah baru atau tidak terstruktur, beban kognitifnya jadi tinggi. Jadinya, memori kerja itu kerjanya/bekerja terlalu keras dan informasi sulit dipindahin ke memori jangka panjang. Itu yang membuat kita cepat capek dan ngerasa tidak paham, meskipun sudah berusaha memperhatikan. Dari materi juga dijelasin kalau pengetahuan yang udah ada di memori jangka panjang itu ngebantu banget buat ngeringanin kerja memori kerja. Misalnya, ketika kita sudah familiar dengan suatu topik, otak bisa mengelompokkan informasi (chunking), jadi kerasa lebih ringan dan mulai ngerasa mudah dipahamin. Jadi perasaan penuh yang kak Erlynda sebutin itu wajar dan bukan karena kurang pintar. Itu lebih karena cara penyampaian materi dan jumlah informasi belum sesuai sama kapasitas otak. Karena itu a belajar akan lebih efektif kalau materi itu disajikan bertahap, diberi contoh yang familiar, dikaitkan sama pengetahuan yang udah kita punya/miliki. Jadi Cognitive Load Theory ngajarin kalau belajar yang baik bukan cuma tentang masukkan sebanyak mungkin informasi tapi tentang ngatur informasi spaya sesuai sama kemampuan otak kita.

      Hapus
  25. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Saya ijin menanggapi pak, Materi ini membahas tentang memori kerja (working memory/WM) dan bagaimana kapasitasnya berbeda-beda pada setiap orang, tergantung tugas dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Intinya, kemampuan seseorang dalam mengingat dan mengolah informasi tidak bisa disamaratakan, karena sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan yang sudah tersimpan di memori jangka panjang (LTM). Jadi, bukan berarti seseorang “lemah ingatan”, tapi bisa jadi ia belum punya bekal pengetahuan yang cukup di bidang tertentu.

    Materi ini juga menekankan bahwa latihan dan pengalaman bisa meningkatkan kemampuan memori kerja secara fungsional. Contohnya pada para ahli atau orang yang sudah terbiasa di bidang tertentu, mereka bisa mengingat informasi dalam jumlah besar bukan karena kapasitas otaknya lebih besar, tetapi karena mereka sudah punya struktur pengetahuan yang rapi di LTM. Ini menjelaskan kenapa orang yang ahli terlihat cepat memahami dan menyelesaikan tugas yang bagi orang lain terasa sulit.

    BalasHapus
  26. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Ijin menambahkan
    Selain itu, hubungan antara memori kerja dan memori jangka panjang dijelaskan sangat erat. Dalam proses membaca dan memahami teks, seseorang tidak hanya mengandalkan memori kerja saja, tetapi juga menggunakan pengetahuan yang sudah tersimpan sebelumnya untuk mengolah makna kalimat. Kalau pembaca sudah familiar dengan topik bacaan, ia akan lebih mudah memahami isi teks meskipun kalimatnya panjang.

    Secara keseluruhan, materi ini menyadarkan bahwa keterbatasan memori kerja sebenarnya bisa “diakali” dengan strategi belajar yang tepat, seperti pengelompokan informasi, latihan berulang, dan mengaitkan materi baru dengan pengalaman sebelumnya. Hal ini penting untuk diperhatikan dalam dunia pendidikan, agar pembelajaran tidak hanya menuntut hafalan, tetapi juga membantu siswa membangun pemahaman yang bermakna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menanggapi pernyataan dari Kak Aprilina, aku setuju banget sama pernyataan dari Kak Aprilina. Benar kalau memori kerja dan memori jangka panjang itu saling bekerja sama, bukan berdiri sendiri. Karena pada saat membaca memori kerja hanya menampung sementara informasi, kalau memori jangka panjang itu nyediain pengetahuan lama buat ngebantu memahami arti kalimat. Jadi, kalau pmbaca sudah familiar sama topiknya, beban memori kerjanya jadi lebih ringan. Itu lah kenapa kalimat panjang tetap bisa dipahami. Kayak yang Kak Aprilia bilang soal keterbatasan memori kerja bisa dikali itu juga sangat sesuai sama konsep chunking dan memori terampil. Karena kita tidak menambahkan kapasitas memori kerja secara langsung tapi ngatur informasi supaya lebih bermakna. Misalnya, seseorang yang sering baca akan lebih cepat mahami teks karena sudah punya banyak pola dan pengalaman di memori jangka panjang. Dalam konteks pendidikan ini tuh penting banget. Karena kalau pembelajarannya cuma nekanin hafalan, memori kerja siswa itu tidak akan cepat penuh dan mereka gampang lupa. Sebaliknya kalau guru bantu siswa mengaitkan materi baru sama pengetahuan yang udah mereka punya, belajar itu jadi lebih ringan dan tahan lama. Jadi bisa dibilang, belajar yang efektif bukan tentang mengingat lebih banyak, tetapi memahami dengan baik. Semakin bermakna informasi itu bagi siswa maka semakin besar peluang untuk tersimpan dan digunakan kembali.

      Hapus
  27. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Ijin bertanya pak, Mengapa kapasitas memori kerja seseorang bisa berbeda-beda tergantung pada jenis tugas yang dikerjakan?
    Dan Bagaimana cara menerapkan konsep memori kerja dan memori jangka panjang ini dalam proses pembelajaran di kelas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: V B (PGSD)

      Hallo kak Aprilina, izin menjawab ya
      Betul sekali, kapasitas memori seseorang bisa berbeda - beda, tergantung jenis tugas, Karena setiap tugas menuntut proses kognitif yang berbeda. Jika tugas sesuai dengan pengetahuan yang sudah tersimpan di memori jangka panjang, maka memori kerja akan terasa lebih luas, dikarenakan juga infomasi bisa dikelompokkan dan diproses sebagai satu kesatuan bermakna dan juga sebaliknya.
      Nah kalau dalam pembelajaran di kelas, konsep ini bisa diterapkan dengan mengaitkan ilmu baru dengan pengalaman, atau pengetahuan awal siswa, menyajikan materimateri secara bertahap, serta menggunakan contoh, dan berdiskusi. Dengan itu siswa tidak hanya menghafal, tetapi bisa membangun struktur pengetahuan di memori jangka panjang yang mampu meringankan beban memori kerja dan membuat pembelajaran lebih efektif dan bermakna.

      Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman lainnya 😊

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:VD

      Izin menjawab ya aprilinina mengapa kapasitas memori kerja seseorang bisa berbeda beda dan bagaimana cara menerapkan konsep memori kerja dan memori jangka panjang dalam proses pembelajaran di kelas
      Memori kerja adalah tempat berpikir sementara yang kapasitasnya terbatas dan bisa terasa berbeda tergantung jenis tugas, tingkat kesulitan, pengalaman siswa, serta kondisi fokusnya. Tugas yang baru, kompleks, dan banyak langkah mudah membuat memori kerja cepat penuh. Karena itu, dalam pembelajaran guru perlu mengurangi beban memori kerja dengan menyajikan materi secara bertahap, menggunakan contoh konkret, mengaitkan dengan pengetahuan awal siswa, memberi instruksi sederhana, serta menyediakan bantuan (scaffolding) yang dilepas perlahan. Dengan cara ini, informasi lebih mudah berpindah ke memori jangka panjang, sehingga siswa tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar memahami dan mampu menerapkan pengetahuan dalam konteks baru.

      Hapus
  28. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: V B (PGSD)

    Di blog ini, menekankan bahwa keterbatasan memori kerja dapat diatasi dengan cara mengorganisasikan informasi menggunakan pengetahuan yang sudah tersimpan dalam memori jangka panjang. Melalui proses pengelompokan (chunking), infomasi yang awalnya banyak dan terpisah dapat diubah menjadi unit-unit yang lebih bermakna sehingga lebih mudah diproses dan diingat. Ini bukan sekedar menghafal, tetapi proses pengkodean ulang infomasi ke dalam struktur pengetahuan yang sudah ada.

    BalasHapus
  29. Menurut tanggapan saya, dalam materi ini Kapasitas memori kerja memang sangat penting dalam proses kognitif, terutama dalam memahami dan memproses informasi Penggunaan tes membaca sebagai ukuran kapasitas melihatkan bahwa ada hubungan erat antara memori kerja dan kemampuan berbahasa.
    Adanya Perbedaan individu dalam kapasitas memori kerja dapat mempengaruhi kinerja mereka dalam tugas-tugas yang memerlukan pemrosesan informasi kompleks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penting bagi kita untuk bisa memahami bagaiamana caranya meningkatkan kapasitas memori siswa dalam konteks pembelajaran.

      Hapus
    2. Kapasitas memori kerja merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi kognitif yang terkait dengan suatu kemampuan seseorang untuk memproses dan menyimpan informasi dalam jangka pendekPenggunaan tes rentang membaca sebagai ukuran kapasitas WM menunjukkan bahwa kemampuan memori kerja dapat diukur dalam konteks yang spesifik, seperti kemampuan berbahasa.

      Hapus
  30. Materi ini juga menegaskan bahwa adanya perbedaan kapasitas memori kerja antarindividu merupakan faktor penting yang memengaruhi kinerja belajar, apalagi ketika seseorang dihadapkan pada tugas-tugas yang menuntut pemrosesan informasi . akan tetapi , materi ini juga menunjukkan kelemahan utama, yaitu belum adanya pendekatan atau hipotesis yang utuh dan terpadu dalam menafsirkan bagaimana individu memahami dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut

    BalasHapus
  31. Tetapi materi ini juga melihat kan sisi kelemahan nya, yaitu gak ada pendekatan yang utuh dan terpadu di dalam menafsirkan gimana individu memahami cara menyelesaikan tugas tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suatu hal ini menjadi pedoman yang penting dalam konteks pembelajaran, karena guru harus merancang pembelajaran yang tidak hanya mempertimbangkan perbedaan kapasitas pada memori kerja siswa.

      Hapus
  32. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    memori kerja itu sebenarnya nggak berdiri sendiri, tapi sangat dipengaruhi sama pengetahuan dan pengalaman yang sudah kita punya. Jadi, kelihatan “kuat” atau “lemah” nya memori kerja seseorang sering banget tergantung seberapa familiar dia sama tugas atau bidangnya.

    BalasHapus
  33. kaya contoh chunking di materi ini jelas banget, kalau informasi dikelompokkan jadi hal yang bermakna, otak jadi lebih gampang nyimpen dan ngolahnya. Itu juga jelasin kenapa orang yang sudah ahli bisa kelihatan punya memori luar biasa, padahal sebenarnya mereka pintar pakai pengetahuan lama buat bantu nginget yang baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya, buat ningkatin kemampuan mikir dan nginget, yang penting bukan cuma ngelatih hafalan, tapi juga nambah pengetahuan dan sering latihan biar otak terbiasa bikin pola. Kalau sudah paham polanya, batasan memori kerja jadi nggak terlalu kerasa.

      Hapus
  34. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    Izin menanggapi ya pak, membahas tentang teknik pengelompokan informasi ini sangat membantu, saya baru sadar kalau kita mengelompokan materi jadi bagian kecil maka otak kita engga gampang capek dan informasi itu jadi lebih nempel di ingatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Margaretha Elintia
      Kelas: 5C PGSD
      Npm: 2386206055

      Menyambung poin di atas, nah ini menjelaskan kenapa orang yang sudah ahli bisa lebih cepat paham daripada yang baru, karena mereka sudah ada banyak tabungan pengetahuan memori jangka panjang, dengan begitu mereka tinggal menghubungkan informasi baru ke pola yang sudah ada.

      Hapus
    2. Nama: Margaretha Elintia
      Kelas: 5C PGSD
      Npm: 2386206055

      Izin menambahkan lagi pak, kita sebagai pengajar bila langsung memberikan materi yang terlalu rumit tanpa bantuan pengelompokan tadi, siswa akan merasa kewalahan dan beban pikiran mereka jadi berat karena memorinya di paksa bekerja ekstra memproses informasi yang belum mereka kenal.

      Hapus
  35. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    izin bertanya pak, bagaimana cara praktis bagi guru untuk mengajarkan teknik pengelompokan ini kepada siswa yang benar-benar pemula agar beban pikiran mereka berkurang dan mereka tetap dapat membangun tabungan pengetahuan yang kuat untuk jangka panjang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:VD

      halooo Margaretha izin menjawab yaa bagaimana cara praktis guru untuk mengajarkan teknik pengelompokan kepada siswa yang pemula agar beban pikiran berkurang Dengan cara, guru perlu memodelkan teknik pengelompokan (chunking)terlebih dahulu, bukan langsung meminta siswa melakukannya sendiri. Materi dibagi menjadi sedikit kelompok saja (2–3 bagian) dengan pola dan bahasa yang samasetiap kali (misalnya: diketahui–ditanya–jawaban). Gunakan alat bantu visual sederhana seperti kotak atau warna agar siswa tidak perlu mengingat di kepala. Latihan dilakukan bertahap: guru contohkan, kerjakan bersama, lalu siswa mandiri. Dengan cara ini, beban memori kerja berkurangdan pengetahuan dapat tersimpan kuat di memori jangka panjang.

      Hapus
    2. Izin menjawab yah, untuk mengajarkan teknik pengelompokan (chunking) kepada siswa pemula, kamu bisa coba beberapa cara praktis:

      1. Mulai dengan contoh sederhana: Gunakan contoh sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti mengelompokkan benda-benda di rumah atau kata-kata yang terkait dengan topik tertentu.
      2. Gunakan visualisasi: Gunakan diagram atau peta konsep untuk membantu siswa melihat hubungan antara informasi.
      3. Latihan bersama: Lakukan latihan pengelompokan bersama-sama dengan siswa, sehingga mereka bisa melihat prosesnya.
      4. Mulai dari yang kecil: Mulai dengan mengelompokkan informasi menjadi 2-3 bagian, lalu secara bertahap meningkatkan jumlahnya.
      5. Gunakan mnemonik: Ajarkan siswa menggunakan mnemonik atau akronim untuk membantu mengingat informasi.

      Contoh: Jika siswa belajar tentang bagian-bagian tumbuhan, kamu bisa mengelompokkan informasi menjadi:
      - Akar
      - Batang
      - Daun
      - Bunga

      Gunakan diagram atau peta konsep untuk membantu siswa melihat hubungan antara bagian-bagian tumbuhan.

      Hapus
  36. Pak Izin bertanya, dalam prakteknya di kelas, seringkali kita sudah merasa memberikan penjelasan yang sangat simpel, tapi ternyata bagi siswa tertentu beban kognitifnya tetap terasa berat. Apakah ada strategi khusus untuk 'mendiagnosa' bagian mana dari instruksi kita yang sebenarnya bikin mereka bingung/keberatan beban?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Sinta
      NPM: 2386206033
      Kelas; VB PGSD

      Izin menjawab pertanyaanmu Alda, Dari yang aku baca kondisi tersebut memang sering terjadi walaupun menurut kita sudah memberikan penjelasan yang sangat simpel, namun setiap siswa memiliki kaapsitas memori kerja dan struktur pengetahuan awal yang berbeda-beda sehingga beban kognitif yang dirasakan juga bisa berbeda, karena itu penting bagi kita untuk bisa mendiagnosa bagian mana dari instruksi yang justru memberatkan siswa. Namun tenang saja ada beberapa strategi khusu diagnosa yang relevan dengan pengorganisasian ingatan dalam CTL yaitu jangan langsung menanyakan "sudah paham atau belum" akan lebih efektif jika guru menanyakan ulang langkah atau konsep secara spesifik misalnya "langkah pertana tadi apa?" dengan pertanyaan seperti ini akan terlihat apakah siswa gagal membangun skema memori secara utuj atau terputus dibagian tertentu, selain itu dengan meminta siswa menjelaskan kembali menggunakan kata-kata merek sendiri, guru dapat melihat bagaimana informasi tersebut terorganisasi dalam memori siswa jika urutannya kacau atau ada bagian yang hilang kemungkinan di situlah beban kognitif terlalu tinggi, serta dalam CTL beban kognitif sering muncul saat siswa harus mengintegrasikan beberapa informasi sekaligus ketika banyak siswa berhenti di langkah yang sama itu menandakan instruksi tersebut mengandung beban atau terlalu banyak elemen yang harus diproses bersamaan. Jadi dalam perspektif CLT diagnosa beban kognitif bukan mencari siswa yang tidak mampu secara kognitif melainkan mencari bagian instruksi yang menghambat pembentukan dan pengorganisasian memori. Dengan refleksi kecil seperti cek pemahaman dan pemecahan masalah guru dapat mengurangi beban yang tidak perlu dan membuat pembelajaran lebih ramah bagi semua siswa.

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      Keren jawabannya Sinta, Aku setuju sama jwbnmu Memang benar, tugas kita sebagai guru bukan cuma kasih materi, tapi jadi detektif untuk cari tahu di mana pikiran siswa mulai merasa keberatan beban. Strategi yang kamu kasih soal menanyakan langkah-langkah spesifik itu sangat praktis. Dibanding tanya Sudah paham?, tanya Setelah ini langkahnya apa? itu jauh lebih efektif karena kita bisa langsung tahu di mana memori mereka terputus. Kalau mereka bingung di tengah, berarti di titik itulah instruksi kita terlalu ribet atau butuh disederhanakan. Poin kamu soal meminta siswa menjelaskan pakai bahasa sendiri juga pas banget. Itu cara paling gampang buat cek apakah informasi sudah nyangkut di otak mereka atau cuma numpang lewat saja. Intinya, tanggapan kamu mengingatkan kita kalau mengajar itu harus ramah buat memori siswa, bukan cuma soal menyelesaikan materi. Mantap, Sinta!

      Hapus
    3. Izin menjawab yah, Pertanyaan yang bagus! Untuk mendiagnosa bagian mana dari instruksi yang bikin siswa bingung atau keberatan beban, kamu bisa coba beberapa strategi:

      1. Tanya siswa langsung: Setelah memberikan instruksi, tanya siswa apa yang mereka pahami dan apa yang masih membingungkan.
      2. Mintakan contoh: Minta siswa memberikan contoh atau menjelaskan kembali instruksi dengan kata-kata mereka sendiri.
      3. Perhatikan ekspresi wajah: Perhatikan ekspresi wajah siswa, apakah mereka terlihat bingung atau tidak.
      4. Gunakan teknik 'think-aloud': Lakukan 'think-aloud' saat memberikan instruksi, sehingga siswa bisa melihat proses berpikir kamu.
      5. Bagi instruksi menjadi langkah-langkah kecil: Bagi instruksi menjadi langkah-langkah kecil dan tanya siswa apakah mereka sudah paham sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya.

      Hapus
  37. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    saya setuju kalau daya ingat kita itu sebenarnya fleksibel, bukan cuma soal punya 'otak encer' atau tidak. Kapasitas memori kita yang terbatas bisa jadi sangat luas kalau kita pintar menghubungkan informasi baru dengan apa yang sudah kita tahu sebelumnya. Cara kerjanya sederhana daripada menghafal info satu per satu secara acak, kita mengelompokkannya menjadi sesuatu yang bermakna (seperti menyingkat deretan huruf menjadi kata yang kita kenal). Inilah yang menjelaskan kenapa orang yang ahli di bidang tertentu kelihatan punya memori yang hebat, bukan karena otaknya berbeda, tapi karena mereka punya banyak simpanan di memori jangka panjang yang membantu mereka mencerna informasi lebih cepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, kunci buat punya daya ingat kuat bukan cuma soal bakat, tapi soal seberapa banyak kita belajar dan latihan menyambungkan informasi agar otak kita tidak cepat penuh.

      Hapus
  38. Materi tentang pengorganisasian ingatan (memory organization) dan teori beban kognitif sangat relevan dengan pembelajaran. Fokus pada bagaimana informasi diproses dan disimpan dalam memori dapat membantu guru memahami bagaimana siswa belajar dan mengolah informasi.
    Konsep pengelompokan (chunking) dan memori kerja jangka panjang (LT-WM) dapat membantu guru merancang pembelajaran yang lebih efektif, terutama dalam mata pelajaran yang kompleks. Dengan memahami bagaimana siswa mengorganisasikan informasi, guru dapat membantu siswa mengembangkan strategi belajar yang lebih baik.

    Materi ini sangat menarik! Fokus pada pengorganisasian ingatan dapat membantu guru memahami bagaimana siswa belajar dan mengembangkan strategi belajar yang lebih efektif.

    BalasHapus
  39. Pengelompokan (chunking) informasi adalah strategi yang sangat berguna untuk meningkatkan kapasitas memori kerja siswa. Guru bisa mengajarkan siswa cara mengelompokkan informasi menjadi unit-unit yang bermakna.

    BalasHapus
  40. Saya izin bertanya pak atau teman” yang bisa menjawab🙏🏻
    Bagaimana guru bisa mengintegrasikan teknik pengelompokan (chunking) dengan strategi pembelajaran lainnya, seperti pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan pembelajaran kooperatif, untuk meningkatkan pemahaman konsep yang kompleks pada siswa dengan kemampuan belajar yang beragam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:VD
      Haloo Dina izin menjawab pertanyaanmu ya guru mengintegrasikan chunking,PBL,dan pembelajaran kooperatif dengan cara:

      * Materi kompleks dipecah menjadi bagian kecil agar mudah dipahami (*chunking*).
      * Setiap bagian dipelajari melalui masalah nyata yang sederhana (PBL).
      * Siswa bekerja dalam kelompok dengan pembagian peran sesuai kemampuan (kooperatif).
      * Siswa saling menjelaskan untuk memperkuat pemahaman.
      * Semua bagian digabungkan kembali menjadi konsep utuh.
      * Guru memberi bantuan sesuai kebutuhan siswa.


      Intinya Kombinasi chunking, PBL, dan pembelajaran kooperatif membantu semua siswa memahami konsep sulit secara bertahap, aktif, dan bermakna.

      Hapus
  41. Nama: Ema yulianda
    Kelas :5D
    Npm. :2386206075

    Guru dapat menerapkan teori beban kognitif dalam merancang pembelajaran di SD dengan menyederhanakan konsep kompleks, meminimalkan distraksi, dan mengintegrasikan alat bantu visual. Caranya adalah dengan memecah materi menjadi bagian-bagian kecil, menggunakan peta pikiran atau visualisasi untuk menghubungkan konsep, serta memberikan tugas yang sesuai dengan kapasitas kognitif siswa agar fokus pada pemahaman materi (beban intrinsik dan germane) daripada memikirkan hal lain yang tidak perlu (beban eksternal). Semoga membantu.

    BalasHapus
  42. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Cognitive Load Theory menjelaskan bahwa struktur pengetahuan yang tersimpan di memori jangka panjang membantu kita mengurangi beban pada memori kerja. Contohnya, ketika kita sudah familiar dengan pola atau struktur tertentu, kita bisa mengelompokkan informasi baru secara efisien (chunking). Contohnya kayak saat menghafal nomor hp kalau 089876543210 pasti terasa sulit utuk dihafal satu persatu tapi kalau dikelompokkan jadi 08198 - 7654 - 3210, otak kita langsung mengelompokkannya menjadi 3 pola saja. Setiap bagian menjadi satu kesatuan kecil yang lebih bermakna, sehingga lebih mudah disimpan dan diingat kembali. Nah ini yang saya alami juga saat menghafal nomor hp saya / orangtua jadi rasanya kyk lebih ringkes gitu.

    BalasHapus
  43. Nama :Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Sepertinya prinsip - prinsip Cognitive Load Theory ini memang sudah kita terapkan sehari - hari dalam proses pembelajaran, contohnya ketika kita bisa cepat menyelesaikan soal karena sudah familiar dengan pola-polanya, mengingat nomor telepon dengan membaginya menjadi beberapa bagian, membaca kata bukan huruf satu-per-satu, tetapi langsung sebagai unit yang bermakna dan masi banyak lagi..Jadi, meskipun kita belum pernah belajar Cognitive Load Theory secara formal sebelumnya, otak kita sudah secara otomatis mengatur, mengelompokkan, dan menyederhanakan informasi supaya beban berpikir tidak terlalu berat.

    BalasHapus
  44. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    Pak, terima kasih pak atas penjelasannya. Dari artikel ini saya jadi tahu kalau pembelajaran yang terlalu padat atau kompleks bisa bikin siswa cepat bingung karena otak mereka punya batas dalam memproses informasi. Menurut saya penting banget buat menyusun pembelajaran secara bertahap dan memberi waktu agar siswa bisa mencerna satu hal dulu sebelum lanjut ke yang lain. Ini sangat membantu supaya proses belajar jadi lebih nyaman dan efektif

    BalasHapus
  45. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    Izin bertanya pak, strategi apa yang bisa digunakan guru supaya siswa tidak kewalahan saat belajar banyak hal sekaligus? terimakasih pak

    BalasHapus
  46. Nama: Ajuna
    Npm: 2386206018
    Kelas: 5A
    Jadi terimakasih atas materinya pak pengorganisasian ingatan dalam Cognitive Load Theory sangat berkaitan dengan bagaimana memori kerja digunakan saat seseorang mengerjakan tugas tertentu. Kapasitas memori kerja tidak bisa dilepaskan dari jenis tugas dan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Artinya, kemampuan seseorang bukan hanya ditentukan oleh “besar” memori kerjanya, tetapi juga oleh seberapa akrab ia dengan konteks atau domain tugas tersebut.

    BalasHapus
  47. Izin menanggapi pak Materi ini menegaskan bahwa kapasitas memori kerja (working memory/WM) bersifat terbatas dan kontekstual, bergantung pada jenis tugas dan domain pengetahuan yang dimiliki siswa. Penjelasan bahwa perbedaan kapasitas WM antarindividu bukan semata-mata karena “kepintaran”, tetapi karena struktur pengetahuan dalam memori jangka panjang (LTM), merupakan poin penting yang sering disalahpahami dalam praktik pendidikan. Hal ini membantu guru untuk tidak mudah melabeli siswa “lemah” atau “tidak mampu”, melainkan memahami bahwa siswa membutuhkan pengalaman belajar yang membangun skema.
    Contoh tentang chunking (pengelompokan informasi), seperti mengelompokkan huruf acak menjadi singkatan bermakna atau angka menjadi pola tertentu, sangat membantu menjelaskan bagaimana LTM berperan meringankan beban WM. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang bermakna terjadi ketika guru mengaitkan materi baru dengan pengetahuan awal siswa, bukan sekadar menambah informasi baru secara terus-menerus. Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal, tetapi mengorganisasi informasi secara mental.Materi ini juga menguatkan pandangan bahwa mengajar bukan soal seberapa banyak materi disampaikan, melainkan bagaimana materi tersebut diorganisasi agar dapat diproses oleh memori kerja siswa. Penekanan pada hubungan antara WM dan LTM memberikan dasar ilmiah mengapa strategi seperti scaffolding, contoh bertahap, pengulangan bermakna, dan penggunaan konteks sangat penting dalam pembelajaran SD.

    BalasHapus
  48. Izin bertanya pak atau teman -teman yg bisa menjawab Mengapa mengajarkan terlalu banyak prosedur sekaligus kepada siswa SD dapat menghambat pembentukan skema dalam memori jangka panjang, meskipun waktu pembelajaran terasa efisien?

    BalasHapus
  49. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Pembahasan ini menarik karena menjelaskan dengan sederhana bagaimana otak sebenarnya “menyiasati” keterbatasan memori kerja lewat pengelompokan dan pemanfaatan pengetahuan yang sudah tersimpan. Contoh chunking yang diberikan sangat membantu membayangkan mengapa orang yang berpengalaman terlihat lebih mudah memahami dan mengingat informasi yang kompleks. Ini jadi pengingat penting bahwa belajar efektif bukan soal menghafal lebih banyak, tetapi membangun struktur pengetahuan yang tepat agar beban kognitif terasa lebih ringan.

    BalasHapus
  50. nama : Miftahul Hasanah
    kelas : 5c
    npm : 2386206040

    Dari penjelasan tentang beban intrinsik, ekstrinsik, dan germane, saya jadi mikir: di kelas nyata, gimana cara guru membedakan apakah siswa kesulitan karena materinya memang sulit, atau justru karena cara penyampaiannya yang terlalu “ramai”? Kadang rasanya siswa capek duluan sebelum paham konsepnya.

    BalasHapus
  51. Nama : Miftahul Hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    artikel ini juga menekankan pentingnya memecah informasi kompleks menjadi bagian-bagian sederhana dan menggunakan media pendukung agar siswa tidak kewalahan. Namun di praktik nyata, beberapa siswa memiliki kemampuan memori kerja yang berbeda. Menurut Bapak, bagaimana guru bisa menyeimbangkan penyajian materi agar tetap menantang tetapi tidak membebani siswa secara kognitif?

    BalasHapus
  52. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    nom:2386206065
    Pak, saya masih agak bingung kalau tujuan CLT itu mengurangi beban kognitif yang tidak perlu, apakah artinya guru sebaiknya mengurangi variasi metode dalam satu pertemuan? Soalnya sering juga kita lihat niatnya biar menarik, tapi malah bikin siswa kewalahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Izin menjawab pertanyaan dri fina
      Menurut saya habis baca materi disebutkan dalam konteks CLT itu bisa terjadi kesulitan Bukan berarti variasi metode itu salah, tapi kalau terlalu banyak dalam satu pertemuan justru bisa nambah beban kognitif yang tidak perlu. CLT menyarankan guru fokus dulu ke satu tujuan inti dengan metode yang konsisten, jelas, dan saling mendukung. Variasi tetap boleh, asal terstruktur dan nggak bikin siswa harus terus menyesuaikan diri, supaya memori kerja mereka fokus ke memahami konsep, bukan ke bingung ngikutin caranya.

      Hapus
  53. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    mengurangi beban kognitif yang berlebihan dapat membantu siswa memproses informasi lebih efisien dan meningkatkan retensi belajar, sehingga guru perlu merancang materi secara sistematis. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif agar guru bisa menyesuaikan tingkat kompleksitas materi dengan kapasitas memori kerja siswa di kelas?

    BalasHapus
  54. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: VC
    Wahh habis baca bagian Penjelasan tentang memori terampil dan LT-WM nunjukin kalau belajar itu bukan soal nambah kapasitas otak, tapi memperkaya struktur pengetahuan yang relevan. Semakin kuat skema di LTM, semakin cepat dan efisien WM bekerja, sehingga siswa atau ahli bisa memahami materi kompleks tanpa kewalahan ini penting banget buat desain pembelajaran yang fokus ke pemahaman, bukan hafalan,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      bahwa kapasitas memori kerja itu sebenarnya fleksibel dan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang sudah tersimpan di memori jangka panjang. Lewat proses yg disebut buya chunking, informasi yang awalnya terasa berat bisa dipadatkan jadi unit bermakna, makanya orang yang sudah berpengalaman atau ahli terlihat punya memori kerja lebih besar padahal mereka cuma lebih jago ngatur skema.

      Hapus
  55. Nama: Arjuna
    Npm: 2386206018
    Kelas: 5A
    ini bikin kita lebih ngerti kenapa proses belajar itu bukan sekadar ngapal tapi bagaimana cara otak kita nerima dan nyimpen informasi kalau kita ngerti ini cara belajar jadi lebih efektif bukan cuma ngafalin tapi bikin keterhubungan antara pengetahuan lama dengan yang baru sehingga bisa dipakai di situasi lain juga

    BalasHapus
  56. Dari materi yang telah disajikan ini kita bisa tahu bahwa beban kognitif bukan hanya soal kesulitan materi, tetapi juga cara materi tersebut disajikan. Jika penyajian terlalu padat dan tidak terstruktur, memori kerja akan cepat penuh. Sebaliknya, pengorganisasian yang baik membantu siswa memproses informasi dengan lebih fokus dan terarah

    BalasHapus
  57. Secara keseluruhan, materi ini menekankan bahwa Cognitive Load Theory dan Memory Organization saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, karena keduanya sama-sama memengaruhi cara otak memproses informasi. Pengorganisasian materi yang baik membantu mengontrol beban kognitif dan membuat pembelajaran lebih efektif. Hal ini penting sebagai dasar dalam merancang strategi pembelajaran yang ramah bagi kemampuan kognitif siswa.

    BalasHapus
  58. Nama: Cecillia Titha Fortunata S
    Kelas: VD
    Npm: 2386206080



    wah, menurut saya Cognitive Load Theory ini penting banget terutama buat yang lagi belajar atau ngajar. Jadi intinya otak kita itu punya “kapasitas terbatas” buat ngerjain banyak hal sekaligus — kayak RAM di komputer. Makanya kalo materi yang kita terima kebanyakan atau cara penyampaiannya ribet banget, kita bisa langsung overwhelmed dan susah nyimpen informasinya ke ingatan panjang. Nah, teori ini ngajarin kita buat ngatur beban itu supaya gak kelewat penuh, misalnya dengan chunking atau ngeringin informasi jadi bagian-bagian kecil yang lebih gampang dicerna. Cara ini ngebantu banget waktu aku belajar hal yang susah karena saya jadi gak gampang stuck atau blank terus ngulang dari awal lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Cecillia Titha Fortunata S
      Kelas: VD
      Npm: 2386206080


      Pas baca teori ini saya mulai sadar kenapa kadang saya suka stuck waktu belajar sesuatu yang baru: karena saya ngelewatin batas otak saya sendiri waktu ngelola banyak hal sekaligus. Otak saya cuma bisa pegang beberapa unit informasi di working memory, jadi kalo kebanyakan banget, langsung ngeblank. Teori ini tuh ngasih “aturan main” supaya kita gak kebablasan — misalnya dengan nyiapin materi yang pas levelnya, atau gak bikin slide penuh teks semua. Akhirnya saya mulai nerapin kayak break down materi susah ke blok-blok kecil, dan hasilnya jauh lebih nempel di kepala!

      Hapus
  59. Nama: Cecillia Titha Fortunata S
    Kelas: VD
    Npm: 2386206080


    Saya setuju banget bahwa ini artikel bantu banget buat ngerti gimana memori kita bekerja. Dari bacaannya jelas bahwa memori jangka pendek itu kapasitasnya terbatas banget, jadi kalau informasi yang masuk terlalu banyak, otak kita jadi kewalahan dan susah nyimpen apapun ke ingatan jangka panjang. Itu sebabnya belajar dengan cara dipecah-pecah itu jauh lebih efektif daripada disuruh nyimak sekaligus banyak hal baru. Kalau aku ngerasain sendiri ketika belajar, kalau terlalu panjang dan campur-campur malah cepat lupa dan bingung sendiri karena otak kelebihan beban kerja memorinya.

    BalasHapus
  60. Nama: Cecillia Titha Fortunata S
    Kelas: VD
    Npm: 2386206080


    Pembagian materi itu menurut saya malah bikin proses belajarnya jadi lebih manusiawi. Dan kalau guru atau desainer pembelajaran bisa ngerti prinsip ini, cara ngajarnya juga bisa disesuaikan supaya fokusnya bukan sekadar “banyak materi” tapi efisien dan nggak bikin siswa stres. Soalnya kalau memori kerja sudah kebanyakan input, efeknya nggak cuma pelajaran yang nggak nyantol, tapi kadang siswa jadi gampang bingung dan males. Jadi buat kita yang sering belajar sendirian juga bisa mulai coba metode belajar yang lebih sederhana dulu, baru naik tingkatnya sedikit-sedikit biar otak nggak kaget sekaligus

    BalasHapus
  61. Menurut saya Materi ini ngejelasin kalau memori kerja (working memory) itu tidak bisa dipisahin dari pengetahuan yang udah kita punya sebelumnya di memori jangka panjang. Artinya tuh kemampuan seseorang dalam mengingat dan memahami informasi tidak hanya ditentukan sama besar atau kecilnya kapasitas memori kerja, tapi bisa dipengaruhi oleh pengalaman, latihan dan pengetahuan di bidang tertentu. Materi ini juga negasin kalau tes rentang memori kerja itu tidak selalu mengukur kapasitas umum, tapi seringkali mengukur kemampuan dalam dominan tertentu, kayak Bahasa pada tes rentang membaca. Jadi karena itu, hasil tes bisa dipengaruhi sama seberapa baik seseorang menguasai bidang tersebut, bukan murni kemampuan memorinya.

    BalasHapus
  62. Di sini ada poin tentang chunking (pengelompokan) menurut saya chunking ini nunjukin kalau keterbatasan memori kerja itu bukan hambatan yang mutlak, karena otak bisa ngatasin dengan manfaatin memori jangka panjang atau LTM. Kayak pada saat informasi baru punya kaitan dengan pengetahuan yang udah ada, otak tidak menyimpannya sebagai potongan kecil yang tepisah, tapi bisa ngegabunginnya jadi satu unit yang bermakna. Dengan cara ini, beban memori kerja itu jadi ringan meskipun jumlah informasi yang diproses tetap banyak. Ini juga sama, sama pandangan kalau kapasitas memori kerja itu bersifat fungsional dan kontekstual, bukan kapasitas tetap yang sama buat semua jenis tugas. seseorang bisa kelihatan punya memori kerja yang lebih besar dalam bidang yang dikuasainya, karena dia mampu ngelakuin chunking secarah lebih cepat dan efektif.

    BalasHapus
  63. Bagian ini juga sangat bagus, mengenai gagasan tentang memori kerja jangka panjang LT-WM. Karena nunjukin kalau dengan latihan dan pengetahuan yang mendalam, seseorang bisa mengatasi keterbatasan memori kerja. Tapi, hal ini bukan berarti batas memori kerja itu hilang, melainkan disiasati pakai strategi dan struktur pengetahuan yang lebih baik. Nah dari materi ini juga masih pemahaman kalau belajar bukan cuma soal menghafal, tapi juga soal ngebangun makna struktur dan keterkaitan pengetahuan. Karena semakin sering seseorang belajar dan berlatih dalam suatu bidang, semakin efektif pula memori kerjanya dalam bidang tersebut.

    BalasHapus
  64. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: VC
    Materi ini kasih Pengetahuan baru buat saya bahwa kapasitas memori kerja kita yang katanya cuma sekitar 7 unit itu nggak kaku. Kita bisa nge-hack keterbatasan itu lewat chunking. Contoh angka 1945 atau singkatan FBI tadi ngebuktiin kalau kita nggak perlu pusing hapalin tiap digit, cukup hapalin maknanya. Di dunia pendidikan, ini berarti guru jangan kasih informasi printilan, tapi harus dikelompokkan jadi unit-media yang bermakna buat siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Kalau kapasitas memori kerja sangat dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya domain specific, gimana cara guru memberikan materi baru yang bener-bener asing bagi siswa tanpa bikin mereka langsung mental atau overload, mengingat mereka belum punya chunk atau skema awal sama sekali di memori jangka panjangnya?

      Hapus
  65. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM:2386206089
    Wah artikel ini bikin aku makin ngerti kenapa belajar yang keliatan gampang aja bisa kadang terasa berat banget kalau caranya kurang pas. Jadi ceritanya otak kita itu punya memori kerja (working memory) yang cuma bisa pegang sedikit informasi sekaligus — kayak tempat sementara sebelum informasi itu disimpen ke memori jangka panjang. Kalau kita dikasih terlalu banyak hal baru sekaligus, otak kita malah kebanjiran dan susah nyerap semuanya. 🔄 Dalam artikel dijelasin juga gimana orang yang udah ahli bisa memecah info besar jadi bagian-bagian kecil yang lebih gampang diingat karena dia udah punya struktur pengetahuan sebelumnya. Itu sebabnya belajar dengan cara mengelompokkan informasi atau pake contoh yang familiar tuh jauh lebih ngebantu daripada cuma ngebaca satu paragraf panjang tanpa tahu harus diapain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Kalau dipikir-pikir, artikel ini nyeritain hal yang sering kita rasain pas belajar tapi gak sadar ada teorinya: otak kita itu cuma bisa fokus dan ngolah sejumlah informasi tertentu sebelum akhirnya penuh. 😅 Misalnya kalau disuruh ngapal satu kalimat panjang panjang banget, pasti cepet lupa, tapi kalau kita bagi ke beberapa bagian kecil atau kaitkan sama hal yang udah kita tahu, itu jadi lebih gampang nempel di kepala. Penulis juga bilang bahwa orang yang udah terbiasa dalam suatu bidang — misalnya pembaca cepat atau ahli — bisa memanfaatkan pengetahuan lama dalam memori jangka panjang supaya hal baru lebih gampang dipahami. Jadi inti dari teori ini bukan cuma soal hafalan doang, tapi gimana kita ngatur informasi biar otak gak kewalahan dulu.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Artikel ini bikin aku mikir ulang soal cara belajar yang selama ini aku pake. Banyak dari kita ngerasa “lebih banyak belajar = lebih paham”, tapi ternyata jika itu dikasih sekaligus tanpa urutan yang jelas, malah bikin memori kerja kita kelebihan beban dan akhirnya gampang lupa lagi. 😵‍💫 Teori beban kognitif yang dibahas di artikel ini nunjukin bahwa strategi kayak ngelompokin info menjadi chunk (bagian kecil) atau hubungin sama pengalaman yang udah kita punya itu ngebantu banget supaya informasi itu bisa masuk ke memori jangka panjang. Itu kayak kita nyusun puzzle biar gampang dilihat gambarnya, bukan nyamain semua potongan sekaligus tanpa arah. Jadi belajar bisa jauh lebih efisien dan gak bikin otak cepat capek.

      Hapus
  66. Nama : Yasmin
    Kelas : 5D
    NPM : 2386206071

    materi tentang representasi pengetahuan ini penting banget buat calon guru seperti kami pak, karena ngajarin kita bagaimana penyajian materi bisa ngaruh besar ke pemahaman siswa. representasi pengetahuan yang baik itu membantu siswa bangun skema di ingatan jangka panjang, bukan sekadar ngehalal konsep yang belum nyambung ke pengalaman mereka. misalnya, penyajian lewat diagram, tabel, atau peta konsep bisa bikin siswa lebih gampang hubungin informasi baru dengan pengetahuan yang udah mereka punya. kalau kita paham ini, kita bisa nyusun materi pelajaran biar lebih gampang dipahami dan ngurangin kebingungan siswa

    BalasHapus
  67. Nama : Yasmin
    Kelas : 5D
    NPM : 2386206071

    menurut saya, representasi pengetahuan yang tepat itu bikin pembelajaran jadi lebih jelas karena siswa bisa lihat hubungan antar konsep dengan lebih gampang daripada cuma teks panjang doang

    BalasHapus
  68. Nama : Yasmin
    Kelas : 5D
    NPM : 2386206071

    Hasil baca ini nunjukin kalau representasi pengetahuan itu bukan hanya soal visual atau gambar, tapi juga cara kita ngatur skema supaya siswa bisa memproses informasi tanpa kebingungan. seringkali penyampaian materi yang monoton dan padat bikin beban kognitif siswa meningkat, sehingga mereka jadi cepat lupa atau kehilangan fokus. dengan representasi yang dirancang baik — misalnya diagram yang nyambung sama teks atau animasi yang nerangin langkah-langkah proses — siswa bisa lebih cepat nyerap inti pelajaran. Saya rasa ini bakal sangat membantu waktu nanti saya praktik mengajar supaya semua siswa bisa ikut paham pelajaran tanpa kewalahan

    BalasHapus
  69. Nama : Yasmin
    Kelas : 5D
    NPM : 2386206071

    Izin bertanya pak, bagaimana caranya supaya kita bisa memilih jenis representasi pengetahuan yang paling cocok untuk tiap tipe siswa di kelas? Apakah guru bisa pakai kombinasi visual dan teks dalam satu materi biar beban kognitif siswa lebih terkendali?

    BalasHapus
  70. Nama : Yasmin
    Kelas : 5S
    NPM : 238620607

    Terima kasih atas penjelasan materi nya karena penjelasan tentang representasi pengetahuan bikin saya sadar kalau bukan cuma isi materi yang penting, tapi juga cara penyampaiannya. representasi yang baik bisa bantu siswa bangun skema mental sendiri, jadi mereka bisa paham hubungan antar ide dan nyimpen informasi ke ingatan jangka panjang dengan lebih efektif. Ini bikin saya makin ngerti kenapa desain materi itu harus dipikirin dari perspektif beban kognitif supaya siswa gak kewalahan dengan informasi yang terlalu banyak atau terlalu kompleks sekaligus

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak