Apakah Gen Menentukan Kemampuan Membaca dan Matematika? Ini yang Perlu Kita Ketahui.

 

sebuah studi yang diterbitkan di Nature Communications, para ilmuwan menunjukkan bahwa sekitar setengah dari gen yang memengaruhi kemampuan matematika anak-anak usia 12 tahun di Inggris juga memengaruhi kemampuan mereka dalam membaca. Dan mereka menunjukkan hal ini dengan cara yang baru dan penting.


Untuk pertama kalinya, penelitian yang dipimpin oleh Oliver Davis dari UCL, Chris Spencer dari Oxford, dan Robert Plomin dari King's College London, mampu memperkirakan pengaruh genetik pada kemampuan belajar hanya menggunakan DNA. Implikasinya sangat penting untuk penelitian sensitif genetis di bidang ilmu perilaku dan sosial di masa depan. Tentu saja lebih mudah mendapatkan sampel DNA daripada hasil dari sampel kembar dalam jumlah besar, yang merupakan metode lain yang baik dalam penelitian ini.


Gen yang Tumpang Tindih untuk Matematika dan Membaca Para peneliti menganalisis jutaan variasi DNA dari hampir 3.000 orang dan menemukan bahwa lebih dari setengah perbedaan kinerja anak usia 12 tahun dalam membaca dan matematika dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam gen mereka. Namun, mereka juga menemukan bahwa kemampuan membaca dan matematika berkorelasi sebagian karena alasan genetik: banyak gen tampaknya beroperasi di kedua bidang tersebut.


Hasil ini sendiri bukanlah hal baru. Studi pada anak kembar telah mencapai kesimpulan yang sangat mirip sebelumnya. Namun, fakta bahwa temuan tersebut sekarang dikonfirmasi oleh studi asosiasi genome-wide – di mana banyak varian genetik umum dieksplorasi untuk kaitannya dengan sifat tertentu – adalah perkembangan yang sangat signifikan.


Yang menarik, meskipun menggunakan data DNA, tidak ada gen tertentu yang muncul sebagai pengaruh signifikan pada membaca atau matematika. Sebaliknya, para peneliti menemukan kumpulan variasi DNA yang halus.


Ini sejalan dengan penelitian lain yang mengarah pada pemahaman bahwa banyak gen dengan efek kecil bergabung untuk memengaruhi sifat kompleks dan efeknya terlalu kecil untuk terdeteksi secara andal, bahkan dengan sampel besar. Dengan gen, tampaknya kita lebih mungkin menemukan tim daripada pemain bintang.


Penelitian ini mendukung Hipotesis Gen Umum, yaitu gagasan bahwa gen bersifat umumis dan lingkungan bersifat spesialis. Studi pada kembar menemukan banyak bukti bahwa lingkungan penting cenderung spesifik untuk sifat atau hasil belajar tertentu. Misalnya, seorang guru bahasa Inggris yang baik mungkin memiliki profil yang sedikit berbeda dibandingkan dengan seorang guru matematika yang baik. Kedua mata pelajaran tersebut mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam pekerjaan rumah atau pengorganisasian kelas. Singkatnya, mereka mungkin perlu menawarkan cara berbeda untuk mengeluarkan potensi genetik.


Lingkungan Tetap Sangat Penting Bukti ini sangat meyakinkan bahwa gen memengaruhi kemampuan matematika dan membaca, dan bahwa setidaknya setengah dari gen yang memengaruhi satu kemampuan juga memengaruhi yang lain. Jadi, bagaimana mungkin ada anak-anak yang jauh lebih baik dalam membaca dibandingkan matematika, dan sebaliknya?


Jawaban pertama adalah bahwa gen tidak menentukan perilaku. Gen menawarkan probabilitas, bukan ramalan. Mereka mewakili "apa adanya" daripada "apa yang mungkin terjadi." Meskipun Anda memiliki kapasitas untuk unggul dalam suatu mata pelajaran, itu tidak secara otomatis berarti pencapaian tinggi. Motivasi, kepercayaan diri, dan minat juga memainkan peran penting.


Jawaban kedua adalah bahwa tumpang tindih genetik antara dua keahlian tersebut tidak 100%. Meskipun ada bukti efek genetik yang sama pada membaca dan matematika, ada juga bukti bahwa beberapa gen bersifat spesifik.


Yang paling penting, penelitian baru ini menyoroti peran lingkungan. Pengalaman hidup kita tampaknya berperan penting dalam membuat seseorang lebih unggul dalam satu mata pelajaran dibandingkan yang lain. Ini bisa terjadi melalui berbagai mekanisme, termasuk memicu minat, menginspirasi aspirasi masa depan, atau memupuk selera serta bakat. Baik gen maupun pengalaman memengaruhi pilihan pendidikan dan karier yang diambil oleh anak-anak, dan keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


Pemerintah Inggris baru-baru ini mendorong peningkatan kinerja matematika nasional untuk menyamai level di Asia Timur. Pengaruh genetik yang tumpang tindih antara membaca dan matematika menunjukkan bahwa jika kinerja rata-rata matematika tertinggal dari kinerja membaca, ini seharusnya bisa diatasi secara biologis.


Namun, kunci untuk mencapai ini terletak pada lingkungan kita, bukan pada DNA kita. Kita perlu memahami aspek mana dari lingkungan belajar matematika yang mendorong sifat-sifat seperti efikasi diri, minat, usaha, serta pencapaian – dan mana yang tidak. Kita juga perlu memahami bahwa pendekatan yang sama tidak akan berhasil untuk semua orang. Mengeluarkan potensi individu membutuhkan setidaknya tingkat personalisasi.

Referensi: 

Kathryn Asbury. 2014. University of York.

205 Komentar

  1. Nama : isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Tanggapan saya mengenai materi ini adalah materi ini membahas mengenai pentingnya memadukan pendekatan berbasis genetik di mana pembelajaran hanya menggunakan kemampuan DNA dan juga lingkungan karena penting , dimana ini dapat bercenderug spesifik untuk sifat atau hasil belajar tertentu. Selain itu juga untuk mencapai ini letakanya dapat kita dapat kan pada lingkungan bukan pada DNA, kita harus memahami terlebih dahulu pembelajaram dari lingkungan maupun DNA. Dari lingkungan kita belajar untuk mencapai pembelajaran ini terletak pada lingkungan kita bukan pada DNA. Kita juga perlu memahami aspek dari lingkunmgan mana yang mendorong belajar matematika dan mana yang tidak karena kita perlu memahami bahwa pendekatan yang sama itu tidak akan berhasil untuk semua orang.

    BalasHapus
  2. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    izin bertanya ya pak, seperti yang di sampaikan materi di atas bahwa gen hanya memberikan potensi sedangkan lingkungan itu paling menentukan hasilnya, pertanyaan saya bagaimana cara kita tahu lingkungan belajar yang paling cocok untuk anak-anak dengan potensi genetik yang berbeda-beda?, dan apa ada cara praktis untuk mengukur kecocokan itu di kelas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Margaretha saya iziin menanggapi ya

      Menurut saya cara kita mengetahui lingkungan belajar paling cocok untuk anak dengan potensi genetik yang berbeda-beda ialah, mengenali dulu bagaimana sih genetik dari anak yang kakak maksud ini,kan setiap anak memiliki genetik yang berebeda ya.
      Misalnya potensi genetik yang paling menonjol dari anak tersebut ialah sifat-sifat kepribadiannya seperti emosi,perilaku dll, setelah mengetahui hal tersebut kita bisa turun langsung untuk mengajarkan anak tersebut bahwa ketika berada dilingkungan anak tersebut harus bisa mengkrontol sifat atau genetiknya kepribadiannya seperti sifat emosi yang muncul saat bermain dan belajar. Sebagai orang tua juga pastinya kita akan terus memantau tuh kegiatan-kegiatan anak-anak di lingkungan-lingkungan tersebut apalagi sebagai seorang guru pastinya juga akan bertugas menggantikan peran orang tuanya di sekolah untuk memperhatikan lingkungan belajar yang paling cocok untuk anak-anak dengan potensi genetik yang berbeda-beda pastinya guru mengidentifikasi terlebih dahulu ,lalu bisa menemukan permasalahan terus bisa memberikan solusi dan menerapkan solusi tersebut.
      Selanjutnya salah satu cara praktis untuk mengukur kecocokan di kelas itu bisa dengan melihat apakah anak ini cocok atau tidak dengan teman sebangkunya misalnya ,dari hal yang sederhana dulu ka, guru nih melihat gitu ketika disatukan atau di tempatkan di tempat duduk yang sama di satu meja yang sama apakah kedua anak tersebut ini tidak berkelahi atau tidak selalu berselisih paham nah ketika anak-anak cocok maka guru akan menempatkan kedua anak ini dalam satu meja tetapi,jika ketika guru terus menemukan perselisihan atau permasalahan guru bisa memberikan solusi dengan cara memindahkan salah satu anak yang ada di meja atau di tempat duduk tersebut ke tempat duduk yang lain,dan begitu seterusnya sampai menemuka kecocokan teman sebangku, ini juga berfungsi untuk mendukung jalannya pembelajaran dengan baik
      Menurut saya seperti itu Kak terima kasih..

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      Halo Margaretha izin menjawabMemang benar, gen memberi potensi, tapi lingkungantermasuk cara belajar, suasana kelas, guru, dan temansangat menentukan apakah potensi itu bisa berkembang. Jadi, untuk mengetahui lingkungan belajar yang paling cocok bagi anak-anak dengan potensi berbeda, ada beberapa cara praktis:
      1. Observasi langsung
      Guru bisa memperhatikan bagaimana anak-anak merespons kegiatan belajar: apakah mereka antusias, cepat bosan, mudah memahami materi, atau butuh bantuan lebih. Dari sini bisa terlihat gaya belajar mereka (visual, auditori, kinestetik, dll.).
      2.Variasi metode belajar
      Menggunakan berbagai cara mengajar ceramah, diskusi, praktek, proyek kelompok membantu anak menemukan metode yang paling efektif bagi mereka. Anak-anak dengan potensi berbeda akan menunjukkan metode mana yang membuat mereka paling aktif dan fokus.
      3. Kuesioner atau self-assessment sederhana
      Anak bisa ditanya tentang apa yang mereka suka, kesulitan, dan cara mereka belajar paling nyaman. Ini memberi petunjuk tentang kecocokan lingkungan.
      4. Umpan balik rutin
      Memberikan kesempatan anak memberi pendapat tentang pelajaran atau kegiatan membantu guru menyesuaikan cara mengajar sesuai kebutuhan mereka.
      5. Percobaan kecil
      Guru bisa mencoba pendekatan berbeda untuk beberapa anak atau kelompok kecil, lalu lihat mana yang menghasilkan keterlibatan dan pemahaman terbaik.

      Kalau diterapkan secara konsisten, kombinasi observasi, variasi metode, dan umpan balik ini bisa menjadi cara praktis untuk “mengukur” kecocokan lingkungan belajar di kelas.

      Hapus
    3. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      izin menanggapi ya, gampangnya sih keliatan dari respon anak di kelas. ada yang cepet nangkep, kalau praktek, ada yang harus dijelasin pelan-pelan, ada juga yang kuat di diskusi. tinggal dicoba-coba aja caranya.
      ngukurnya juga simple bisa lewat tugas kecil, kuis, atau liat hasil kerja anak. kalau anaknya makin paham dan semangat, berarti caranya cocok. jadi ga ribet dan perlu tes aneh-aneh.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, cara tahu lingkungan belajar yang paling cocok itu dengan melihat respons anak saat belajar, misalnya apakah dia lebih aktif saat diskusi, praktik langsung, atau kerja mandiri, karena potensi genetik baru kelihatan lewat perilaku dan perkembangan nyata. Di kelas, guru bisa pakai cara praktis seperti observasi rutin, catatan anekdot, asesmen formatif sederhana, dan refleksi siswa, lalu menyesuaikan metode mengajar, jadi kecocokan lingkungan diukur dari apakah anak lebih termotivasi, nyaman, dan berkembang, bukan cuma dari nilai semata

      Hapus
    5. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, lingkungan bisa memberi kesempatan yang sama, tetapi hasil perkembangan anak tetap bisa berbeda karena setiap anak memiliki potensi genetik yang tidak sama. Lingkungan berperan sebagai pendukung agar potensi tersebut muncul, misalnya lewat cara mengajar guru, dukungan orang tua, dan kebiasaan belajar.
      Jadi, meskipun lingkungannya sama, hasil belajar anak bisa berbeda-beda karena gen memberi kemampuan awal yang berbeda. Namun, lingkungan yang baik tetap penting supaya setiap anak bisa berkembang semaksimal mungkin sesuai potensinya.

      Hapus
    6. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Margaretha Elintia. Menurut saya, supaya tahu lingkungan belajar yang cocok untuk anak berbeda-beda, guru harus sering mengamati dan mendengarkan anak.
      Misalnya, ada anak yang suka belajar dengan gambar atau bermain, ada yang suka mendengar cerita, atau ada yang suka mencoba sendiri. Guru bisa mencoba cara belajar yang berbeda dan lihat mana yang membuat anak senang dan paham pelajaran.
      Untuk mengukur kecocokan, guru bisa pakai cara sederhana, seperti memperhatikan apakah anak cepat mengerti, mau mencoba sendiri, dan senang belajar. Kalau iya, berarti cara belajarnya cocok 😊

      Hapus
  3. Nama:Elisnawatie
    Kelas:VD
    NPM:2386206069

    Izin menjawab Margaretha elintia


    Genetik kan hanya memberikan potensi awal, yaitu kecenderungan bawaan yang bersifat alami seperti kemampuan berpikir logis, bakat seni, atau kecepatan motorik. Namun potensi ini tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa adanya lingkungan belajar yang mendukung. Artinya, lingkunganlah yang berperan besar dalam “mengaktifkan” atau “mematangkan” potensi genetik tersebut agar menjadi kemampuan nyata.jdi dengan cara Melalui pengamatan perilaku, hasil belajar, serta respons anak terhadap berbagai metode pembelajaran, kita dapat menyesuaikan strategi pengajaran. Misalnya, anak yang tampak lebih cepat memahami materi lewat praktik langsung bisa lebih banyak diberi kesempatan belajar dengan metode eksperimen atau proyek. Sementara anak yang menunjukkan minat pada bahasa bisa distimulasi lewat diskusi, membaca, dan menulis kreatif.

    BalasHapus
  4. Saya sangat setuju dengan isi pada laman ini, lingkungan sekitar seseorang hidup, lingkungan sekitar seseorang bermain dan lingkungan sekitar seseorang tumbuh mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan membaca atau matematika atau bahkan yang lainnya. Bahkan ahli-ahli saja yang membuat kegiatan sedemikian rupa untuk menentukan apakah gen itu mempengaruhi kemampuan seseorang bisa kalah besarnya dengan pengukuran kemampuan berdasar pengaruh lingkungan seseorang tinggal dan tumbuh.

    membaca laman ini saya teringat kata-kata mama saya yang selalu di ulang ketika saya mau balik dari daerah saya ketempat tinggal kuliah saya, mama saya selalu bilang : berteman dengan orang baik kita jadi baik, berteman dengan pencur* kita juga akan menjadi pencur*, kata-kata selalu saya ingat, kata-kata ini saya bawa sebagai teman iringan perjalan hidup saya.

    Tidak dapat dipungkiri lingkungan kita itulah yang mencerminkan bagaimana kita tumbuh, walaupun ada kata-kata semua itu tergantung kita tapi ,menurut saya semua itu tinbgal tunngu waktunya untuk teriikut arus yang sama.

    BalasHapus
  5. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Wah saya baru tau nih Pak kalau ada penelitian khusus untuk melihat seberapa besar pengaruh gen untuk kemampuan membaca dan matematika anak 😃.
    Saya izin menjelaskan kembali di kolom komentar yaa Pak, jadi kalau Bapak atau teman-teman yang membaca melihat pemahaman saya keliru boleh tolong diluruskan yaa.

    Dari yang saya baca barusan, penelitian menunjukkan bahwa sekitar setengah gen yang memengaruhi kemampuan membaca juga berperan dalam kemampuan matematika. Artinya, ada gen tertentu yang membuat anak lebih mudah memahami bacaan dan angka. Namun, para ahli juga menekankan bahwa faktor lingkungan (dukungan orang tua, kualitas sekolah, kebiasaan belajar sangat memengaruhi perkembangan kemampuan tersebut).

    Berarti meskipun gen bisa memberi 'modal awal', kemampuan anak tetap bisa berkembang melalui latihan, motivasi, dan tentunya lingkungan yang mendukung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Anak yang rajin membaca, sering berdiskusi, dan mendapat bimbingan yang baik berarti bisa dong yaa lebih unggul daripada anak yang punya gen bagus tapi kurang latihan.

      Hapus
    2. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Pak, saya kan pernah baca tuh. Katanya 60% otak Ibu itu bakal nurun ke anak yang di kandungnya. Jadi 60% otak anak yaa dari Ibunyaa. Berarti yang dimaksud Gen di sini tuh ini yaa Pak?

      Hapus
    3. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Kalau boleh saya analogikan sederhananya mungkin seperti ini yaa maksud artikel ini :

      Kita anggap aja gen itu benih, supaya tumbuh jadi pohon yang kuat, perlu tanah yang subur, air, dan sinar matahari. Nah, belajar dan dukungan dari orang sekitar itu seperti pupuk dan cahaya buat tumbuhnya kemampuan kita

      Bener gaa? hehehehe

      Hapus
    4. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Duh kalau bicara soal lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak atau seseorang, saya jadi punya sedikit cerita nih.

      Jadi saya kan alumni salah satu pondok pesantren Muhammadiyah di Balikpapan. Sekolah asrama nih yaa, catat, lingkungan belajarnya di asrama. Satu kamar asrama saya itu isinya 8-10 orang. Setiap tahun teman sekamar itu pasti bakal berubah, pasti bakal di acak lagi teman sekamarnya, jadi tiap tahun pasti ada pindah-pindahan kamar gitu. Tujuannya ya supaya semuanya akrab, berteman dekat, karna semua kebagian jadi partner sekamar.

      Saya punya temen, sebut saja namanya Mawar *hehehe. Saya lumayan dekat sama si Mawar karena kami sekelas dan sekamar di tahun pertama saya mondok. Anaknya sholehah, cerdas, baik, ramah, cantik, pokoknya sempurna banget nih di mata saya. Kalau ada pelajaran yang kurang saya mengerti nanyanya pasti ke Mawar. Singkat cerita, setahun berlalu. Sudah datang masanya buat pindah kamar, ganti partner sekamar. Saya pindah ke kamar lain, Mawar juga pindah.

      Hapus
    5. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Saya masih sekelas sama Mawar. Masih sebangku juga, yang berubah cuman kita bukan teman sekamar lagi. Kalau di sekolah saya masih suka belajar bareng mawar, masih suka berdiskusi sama Mawar. Tapi itu di tiga bulan awal sehabis pindahan kamar. Bisa ditebak, bulan-bulan selanjutnya yaa si Mawar berubah sikapnya (fyi itu pertama kalinya saya ngerasain people come and go, sedih tapi yaa mau gimana lagi hehehe).

      Mawar yang tadinya dengan senang hati menjelaskan kalau saya bertanya jadi enggan menjawab pertanyaan-pertanyaaan saya kalau menyangkut pelajaran. Pindah kursi duduk—menjadi sebangku sama teman sekamarnya. Awalnya saya kira saya ada salah sama Mawar. Jadi sambil saya intropeksi diri saya juga menyadari kalau yang berubah bukan hanya sikap Mawar ke saya tapi kebiasaannya di kelas juga berubah. Mawar yang biasanya aktif bertanya di kelas jadi anak remaja yang pasif di kelas. Bandel mulai suka kabur dari asrama. Sholatnya mulai bolong-bolong. Pokoknya berubah banget deh.

      Kenapa Mawar bisa berubah? Kalau menurut saya Mawar berubah karena lingkungannya yang baru. Teman-teman sekamar Mawar punya pengaruh buruk di hidup Mawar yang membuat kepribadian Mawar berubah dari yang awalnya rajin jadi malas, yang awalnya ramah jadi judes banget. Ini lah yang saya maksud tadi kalau lingkungan mempengaruhi kemampuan belajar anak. Gen kecerdasan yang Mawar bawa jadi ga ada gunanya kalau Mawar gampang terpengaruh sama lingkungan yang kurang baik.

      Makanya ada kan pepatah yang mengatakan
      "jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka insya Allah kita juga akan ketularan wanginya”

      Maaf yaa jadi panjang ceritanya 😀🙏🏻

      Hapus
    6. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, analogi yang disampaikan Nabila itu sudah tepat. Gen bisa diibaratkan sebagai benih, sedangkan lingkungan seperti tanah, air, pupuk, dan cahaya matahari. Benih yang baik tidak akan tumbuh maksimal kalau lingkungannya tidak mendukung.
      Begitu juga dengan kemampuan membaca dan matematika anak. Meskipun anak punya potensi genetik, tanpa dukungan lingkungan belajar, bimbingan guru, dan motivasi, kemampuannya tidak akan berkembang optimal. Jadi, gen memberi potensi, tetapi lingkungan yang menentukan bagaimana potensi itu tumbuh.

      Hapus
  6. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya membaca materi ini, materi ini sangat menarik karena membahas tentang hubungan antara genetik dan juga kemampuan akademik, terutama dalam bidang membaca dan matematika. Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications memberikan bukti yang cukup kuat bahwasanya pada faktor genetik memang sangat berperan dalam menentukan potensi dasar seseorang dalam kedua kemampuan itu. Tetapi, yang sangat penting untuk diingat kembali adalah bahwasanya gen itu bukanlah satu-satunya dalam penentuan keberhasilan belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Nanda ini sudah betul banget kalau gen itu kasih potensi dasar, tapi saya ingin menambahkan sedikit penajaman. Jadi tambahan dari saya, meskipun Nanda bilang gen itu bukan satu-satunya penentu, kita harus ingat juga kalau penelitian ini juga menunjukkan bahwa gen yang memengaruhi kemampuan membaca itu tumpang tindih dengan gen untuk matematika. Ini penting, karena genetiknya bersifat umum, artinya satu set gen yang sama bisa buat kedua kemampuan. Ini menyanggah pandangan bahwa anak yang pintar membaca pasti punya gen yang beda total dari anak yang pintar matematika ternyata gennya itu banyak yang kerja bareng.

      Hapus
  7. Nama: Nanda Vika Sari
    Anom: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya membaca materi ini, ternyata pada materi ini penelitiannya ini juga menunjukkan/memberitahukan kalau sekitar setengah dari pengaruh terhadap kemampuan dan matematika itu berasal dari gen namun sisanya itu sangat bergantung pada lingkungan, pengalaman belajar, dan juga motivasi individu. Jadi bisa disimpulkan kalau sebenarnya faktor dari kualitas pengajaran, dukungan keluarga, kesempatan belajar, juga minat dan usaha anak itu juga memiliki peran yang cukup besar untuk mengembangkan pada potensi tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Nanda benar kalau separuh pengaruh kemampuan membaca dan matematika berasal dari gen, dan sisanya sangat bergantung pada faktor lingkungan, motivasi, dan kualitas pengajaran. Tapi, jadi tambahan dari saya, fokus Nanda masih terlalu di kualitas lingkungan secara umum. Artikel itu menekankan bahwa lingkungan itu spesialis. Jadi, intinya bukan cuma lingkungan yang baik atau berkualitas, melainkan lingkungan yang spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan individu. Peningkatan motivasi dan minat itu sendiri adalah hasil dari jenis lingkungan spesifik yang memicu potensi genetik anak.

      Hapus
  8. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya baca-baca ke balai materi ini, ternyata ada hal yang cukup menarik pada materi diatas yaitu adalah pada penekanan hipotesis gen umum, yang menyatakan kalau gen itu memiliki pengaruh yang luas (umum), sedangkan lingkungan dalam bekerja secara lebih spesifik/khusus. Jadi, walaupun dua anak memiliki potensi genetik yang sama/serupa, hasil diakhirnya bisa saja berbeda namun tergantung lagi dari gimana lingkungan belajar mereka terbentuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Nanda sudah memahami inti dari Hipotesis Gen Umum bahwa gen bersifat umum dan lingkungan bersifat spesialis dan ini yang menyebabkan hasil akhir bisa berbeda meskipun potensi genetiknya serupa. Jadi tambahan dari saya, Nanda harusnya menyoroti bagaimana lingkungan yang spesialis itu bekerja, sesuai materi. Lingkungan spesialis ini bekerja dengan cara menawarkan pendekatan yang berbeda dalam hal pekerjaan rumah, pengorganisasian kelas, dan cara guru mengajar. Jadi, lingkungan itu bukan hanya terbentuk, tapi harus sengaja diciptakan dan dipersonalisasi untuk mengeluarkan potensi genetik umum anak.

      Hapus
  9. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    pada paragraf terakhir saya berpendapat bahwa Aspek perubahan ketiga dalam sistem pendidikan Finlandia menggaris bawahi sebuah gagasan fundamental kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh desain kurikulum atau besarnya investasi finansial, tetapi terutama oleh bagaimana negara membangun ekosistem kerja yang bermartabat, inspiratif, dan profesional bagi guru serta kepala sekolah. Materi tersebut menyoroti bahwa keberhasilan Finlandia tidak semata-mata bertumpu pada program pendidikan guru yang berkelas dunia atau remunerasi yang kompetitif—dua hal yang sering dianggap sebagai faktor penentu dalam rekrutmen tenaga pendidik berkualitas. Sebaliknya, keberhasilan mereka berakar pada struktur profesionalisme yang memberi guru ruang otonomi, kepercayaan, dan mandat untuk mengelola inti proses pendidikan.

    Poin penting dari pengalaman Finlandia adalah bahwa guru diposisikan bukan sebagai pelaksana kebijakan, tetapi sebagai pemegang otoritas intelektual dan moral dalam praktik pendidikan. Mereka diberi kewenangan untuk merancang kurikulum, menetapkan bentuk penilaian, mengambil keputusan peningkatan mutu sekolah, hingga membangun model keterlibatan komunitas. Kebebasan profesional ini menjadikan profesi guru memiliki martabat sosial yang tinggi, sekaligus menarik bagi generasi muda yang berkualitas karena profesi ini memberikan ruang aktualisasi, tanggung jawab substantif, dan kepercayaan publik.

    Dengan demikian, materi tersebut mempertegas bahwa profesionalisme bukan hanya persoalan sertifikasi atau kualifikasi akademik, tetapi sebuah ekosistem yang mendorong guru untuk berpikir kritis, bertindak independen, dan berkolaborasi secara bermakna. Ini menjadi poin pembeda dengan banyak negara lain di mana guru justru terjebak dalam birokrasi, regulasi ketat, atau intervensi politis yang menghambat kreativitas pedagogis. Finlandia menunjukkan bahwa ketika guru diberi kepercayaan penuh sebagai pemimpin pembelajaran, profesi ini menjadi bukan hanya pilihan karier, tetapi panggilan profesional yang bermartabat.

    BalasHapus
  10. Izin menanggapi terkait dengan materi ini,jadi materi ini menarik karena membahas tentang peran gen dalam menentukan kemampuan membaca dan matematika.saya setuju bahwa gen memiliki peran dalam menentukan kemampuan ini, tetapi bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi.lingkungan dan pengalaman juga memiliki peran yang sangat penting.
    gen memiliki peran dalam menentukan kemampuan membaca dan matematika, tetapi bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi. lingkungan dan pengalaman juga memiliki peran yang sangat penting.penelitian menunjukkan bahwa banyak gen yang terlibat dalam kemampuan membaca dan matematika, dan masing-masing gen memiliki efek yang kecil.

    BalasHapus
  11. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Tambahan terkait materi ini saya suka dan setuju bagaimana materi ini menekankan bahwa meskipun ada faktor genetik yang memengaruhi kemampuan membaca dan matematika, kita tetap memiliki kendali atas bagaimana kita mengembangkan potensi kita.dengan kerja keras, latihan, dan dukungan yang tepat, kita semua dapat meningkatkan kemampuan kita dalam membaca dan matematika.
    meskipun ada faktor genetik yang memengaruhi kemampuan membaca dan matematika,kita tetap memiliki kendali atas bagaimana kita mengembangkan potensi kita.dengan kerja keras, latihan, dan dukungan yang tepat, kita semua dapat meningkatkan kemampuan kita dalam membaca dan matematika.penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki potensi yang unik, dan kita semua dapat mencapai kesuksesan dalam membaca dan matematika jika kita berusaha.

    BalasHapus
  12. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Setelah saya baca tentang materi ini, menurut saya ini memberikan pandangan yang canggih dan sangat penting tentang peran genetika dalam kemampuan kognitif, khususnya membaca dan matematika, sambil secara tegas menyeimbangkan peran lingkungan.
    Tanggapan ini menyeimbangkan antara pandangan biologis dan sosiologis, memberikan pemahaman yang komprehensif bahwa potensi ditentukan oleh genetika, tetapi aktualisasi potensi itu ditentukan oleh interaksi dengan pengalaman dan lingkungan.

    BalasHapus
  13. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Penelitian ini sangat mendukung Hipotesis Gen Umum, yang menyatakan bahwa gen bersifat umumis (mempengaruhi banyak kemampuan) sementara lingkungan bersifat spesialis (mengarahkannya ke hasil tertentu).
    Dalam konteks sistem pendidikan, bagaimana pendidik dan pembuat kebijakan dapat secara praktis merancang "lingkungan spesialis" yang paling efektif untuk "mengeluarkan potensi genetik" dalam mata pelajaran spesifik (misalnya, matematika atau sains), sambil tetap menumbuhkan potensi umum yang didorong oleh gen?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Bella, jadi menurut saya pendidik dan pembuat kebijakan bisa mulai dengan bikin lingkungan belajar yang fleksibel, misalnya di matematika dan sains ada pembelajaran berbasis masalah, eksperimen, dan proyek, jadi anak yang punya potensi kuat bisa lebih berkembang tanpa ninggalin yang lain. Di saat yang sama, kurikulum tetap menekankan kemampuan umum seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan literasi, dengan dukungan pelatihan guru, asesmen formatif, serta kebijakan yang memberi ruang diferensiasi, supaya potensi spesifik dan potensi umum bisa tumbuh bareng.

      Hapus
    2. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, kemampuan membaca dan matematika anak memang bisa dipengaruhi oleh gen, tetapi bukan berarti kemampuan tersebut tidak bisa berkembang. Gen hanya memberikan potensi awal, sedangkan perkembangan kemampuan anak sangat bergantung pada lingkungan belajar, seperti cara guru mengajar, dukungan orang tua, dan kebiasaan belajar sehari-hari.
      Jika anak mendapat bimbingan yang tepat, suasana belajar yang nyaman, serta latihan yang konsisten, kemampuan membaca dan matematikanya bisa meningkat meskipun potensi awalnya berbeda-beda. Jadi, gen bukan penentu utama, melainkan perlu didukung oleh lingkungan dan proses belajar yang baik agar kemampuan anak berkembang secara optimal.

      Hapus
    3. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Bella Ayu Pusdita. Menurut saya, supaya anak bisa mengeluarkan potensi genetiknya di pelajaran tertentu seperti matematika atau sains, guru bisa membuat lingkungan belajar yang sesuai dengan minat dan cara belajar anak.
      Misalnya, anak yang suka menggambar atau main alat ukur bisa belajar sains lewat percobaan dan visual. Anak yang suka menebak atau bermain angka bisa belajar matematika lewat permainan dan cerita soal. Dengan cara ini, anak lebih paham dan senang belajar.
      Tapi di saat yang sama, guru tetap bisa menumbuhkan potensi umum seperti berpikir kritis, bekerja sama, dan jujur, karena itu bisa dipakai untuk semua pelajaran. Jadi anak belajar spesialis dan umum sekaligus, dan kemampuan genetiknya bisa keluar dengan baik 😊

      Hapus
  14. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Para ilmuwan menemukan bahwa setengah dari gen mempengaruhi kemampuan membaca matematika. Namun temuan terbaru menyatakan bahwa gen tidak sepenuhnya menentukan kemampuan membaca matematika, peneliti terbaru menyoroti bahwa peran lingkunganlah yang paling penting dalam membentuk dalam membentuk kemampuan membaca matematika sedangkan gen itu hanya mempengaruhi mempengaruhi kecepatan memproses informasi, daya ingat dan perhatian tapi tidak dengan perilaku dan pengelaman belajar. Meskipun setiap anak memiliki potensi yang berbeda, kemampuan membaca matematika tetap bisa dikembangkan melalui latihan yang konsisten, dukungan dari orang tua, guru dan teman yang positif serta pendekatan yang tepat

    BalasHapus
  15. Nama:Elisnawatie
    Kelas:5D
    NPM:2386206069
    Setelah saya baca materi tersebut, saya mengerti bahwa kemampuan kognitif anak merupakan hasil kombinasi antara potensi genetik dan pengaruh lingkungan, di mana gen memberikan dasar, tetapi lingkungan dan pengalamanlah yang menentukan sejauh mana potensi itu bisa berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      komentar Elisnawatieiini sudah benar bahwa potensi genetik dan lingkungan adalah kombinasi penentu, jadi tambahan dari saya, kita harus lebih detail dalam melihat peran genetiknya. Artikel ini bilang kalau genetik itu sifatnya umum, artinya banyak gen yang sama itu memengaruhi baik kemampuan membaca maupun matematika. Nah, karena genetiknya umum, kenapa ada anak yang jago banget di membaca tapi biasa saja di matematika, dan sebaliknya? Itu karena lingkungan dan pengalaman yang didapat anak itu sifatnya spesialis. Lingkunganlah yang bantu membentuk potensi umum tadi menjadi keunggulan spesifik. Misalnya, guru yang sangat memicu minatnya di bahasa bisa membuat potensi membaca itu lebih menonjol daripada matematika. Jadi, kuncinya bukan hanya kombinasi, tapi memahami bahwa gen memberi panggung, dan lingkungan spesifik yang mendesain pertunjukannya.

      Hapus
  16. Nama: Imelda Rizky Putri
    Npm:2386206024
    Kelas:5B

    Izin bertanya pak, bagaimana sebenarnya peran gen dalam membentuk kemampuan membaca dan matematika pada anak, dan sejauh mana faktor lingkungan seperti pola asuh, kualitas pembelajaran di sekolah, motivasi belajar serta akses terhadap stimulasi sejak dini dapat memperkuat atau bahkan mengubah pengaruh genetik tersebut sehingga setiap anak tetap memiliki kesempatan yang sama untuk pengembangan secara optimal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206035

      Hai imel izin menjawab ya.. peran gen dalam membentuk kemampuan membaca dan matematika pada anak memang sangat kuat dan berpengaruh, karena faktor genetik sangat mempengaruhi kemampuan dasar kognitif seperti memori dalam pemikiran anak, kecepatan dalam memahami serta memproses informasi dan kecenderungan anak terkait memahami bahasa, simbol dan pola. Namun pengaruh gen bukan sesuatu yang bersifat tetap. Melainkan bisa diubah dari segi faktor lingkungan, misalnya dari pola asuh orangtua terhadap anak, kualitas pembelajaran disekolah, motivasi belajar yang bisa ditumbuhkan sejak dini, dan akses stimulus baik lewat buku, permainan edukatif maupun kegiatan eksplorasi alam yang mampu memperkuat bahkan mengubah arah tentag genetik tersebut.

      Anak yang secara genetik mungkin tidak menunjukkan kecenderungan kuat dalam membaca atau bagus dalam pembelajaran matematika tetap dapat berkembang secara optimal jika mereka tinggal atau dikelilingi dengan lingkungan yang kaya akan pengetahuan dan stimulus serta mendapatkan dukungan belajar yang tepat. Dengan demikian Lingkungan dan peran orangtualah yang dapat memastikan setiap anak bisa dan mampu memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai perkembangan yang baik. Terimkasihh semoga membantu yaa

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      izin menanggapi ya, singkatnya sih gen itu cuma bakat awal, bukan penentu akhir. anak tetap perlu latihan lingkungan kayak pola asuh, cara guru ngajar, motivasi dan stimulasi sejak kecil tuh pengaruhnya gede banget. lingkungan yang bagus bisa nguatin bakat bahkan nutup kekurangan. jadi semua anak tetap punya peluan berkembang asal didukung dengan baik.

      Hapus
    3. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, peran gen dalam kemampuan membaca dan matematika itu lebih ke potensi awal yang dimiliki anak. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang tepat. Faktor lingkungan seperti pola asuh, kualitas pembelajaran di sekolah, motivasi belajar, dan akses terhadap fasilitas belajar sangat berpengaruh.
      Jika lingkungan mampu memberikan stimulus yang positif dan sesuai dengan kebutuhan anak, maka potensi genetik yang ada bisa berkembang secara optimal. Sebaliknya, jika lingkungan kurang mendukung, potensi tersebut bisa tidak terlihat. Jadi, gen dan lingkungan saling melengkapi, dan keduanya sama-sama penting untuk perkembangan kemampuan anak.

      Hapus
    4. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Imelda Rizky Putri.
      Menurut saya, gen itu kayak benih yang memberi anak potensi untuk pintar membaca atau berhitung, tapi benih itu tidak otomatis tumbuh.
      Lingkungan, seperti cara orang tua mengajari, guru di sekolah, motivasi anak, dan banyak kesempatan belajar sejak kecil, itu seperti air, tanah, dan cahaya matahari yang membuat benih itu tumbuh. Kalau anak mendapat lingkungan yang baik, kemampuan membaca dan berhitungnya bisa lebih cepat berkembang, walaupun gennya sama atau berbeda. Jadi walaupun setiap anak punya gen berbeda, kalau lingkungan mendukung, semua anak tetap bisa belajar dengan baik dan punya kesempatan berkembang maksimal 😊

      Hapus
  17. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Setelah saya baca materi ini bikin kita sadar kalau kemampuan kayak matematika dan membaca itu ternyata nggak cuma soal rajin belajar tapi juga ada pengaruh dari gen. Tapi penting banget di garis bawahi, gen itu bukan penentu mutlak, cuman ngasih peluang aja. Jadi kalau ada anak yang jago baca tapi lemah di matematika bukan berarti gennya jelek, tetapi karena lingkungan dan pengalaman belajarnya beda antar anak tersebut titik yang menarik, penelitian ini nunjukin kalau gen yang ngaruh ke 2 kemampuan itu sekaligus. Tapi efek tiap gen itu kecil banget, jadi nggak ada gen matematika ataupun gen membaca yang jelas. intinya, potensi memang dibawa dari lahir tapi perkembangan tetap ditentukan dari lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      setuju fikaa materi ini menunjukkan kemampuan matematika dan membaca dipengaruhi oleh gen yang tumpang tindih dan bekerja sebagai tim variasi kecil yang hanya memberikan potensi, namun hasil akhir perkembangan individu sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan, motivasi, dan pengalaman belajar yang spesifik.

      Hapus
  18. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Menurut saya, penelitian ini ngasih pesan penting untuk orang tua dan guru jangan terlalu cepat mengucap anak nggak bakat matematika atau nggak bakat dalam membaca. soalnya gen itu bukan vonis cuma modal awal titik lingkungan belajar yang tepat tetapi jadi faktor terbesar buat bikin kemampuan anak berkembang misalnya nih guru yang seru dan peduli bisa banget ngeboost kemampuan matematika, walaupun anaknya awalnya kurang pedet. Jadi peran sekolah dan orang tua di rumah maupun orang terdekat tetap sangat kuat buat ngarahin kemampuan anak penelitian ini cuma bikin kita makin paham kalau tiap anak itu unik dan perlu cara belajar yang pas aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Fika ini sudah tepat banget, terutama soal gen bukan vonis melainkan modal awal, dan peran guru yang seru bisa ngeboost kemampuan anak. Tapi, jadi tambahan dari saya, Fika perlu menekankan kenapa lingkungan itu bisa punya faktor sebesar itu. Genetik itu cuma kasih probabilitas, bukan jaminan sukses. Jadi, meskipun anak punya modal genetik bagus, kalau dia nggak termotivasi atau nggak punya self-efficacy (percaya diri), potensi itu nggak akan keluar. Lingkunganlah, seperti guru yang peduli, yang menumbuhkan minat dan kepercayaan diri itu, sehingga potensi genetik umum anak bisa benar-benar dimaksimalkan jadi prestasi.

      Hapus
  19. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Bagian yang paling menarik dari materi ini menurut saya adalah penjelasan bahwa meski ada tumpang tindih genetik, kemampuan matematika dan membaca bisa tetap beda karena pengalaman hidup dari anaknya. Artinya, minat, dorongan, dan kesempatan yang anak dapat itu super berpengaruh. Kadang anak jadi jago di salah satu bidang karena ketemu guru yang inspiratif atau lingkungannya lebih mendukung ini juga bisa nunjukin kalau perubahan lingkungan bisa ngalahin batasan biologis. Jadi kalau negara pengen ningkatin prestasi matematika, fokusnya bisa dicari gen unggul tapi perbaiki cara pengajaran pengalaman belajar. kesimpulannya gen memang berperan tapi lingkungan yang bikin hasil akhirnya kelihatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Fika benar sekali bahwa meskipun ada tumpang tindih genetik, kemampuan bisa tetap beda karena pengalaman hidup lingkungan. Fika juga menyimpulkan kalau lingkungan yang bikin hasil akhir kelihatan, bahkan bisa mengalahkan batasan biologis. Jadi tambahan dari saya, Fika perlu menyoroti poin kunci yang disarankan untuk perbaikan di tingkat negara. Artikel menyebutkan kalau pemerintah ingin meningkatkan prestasi matematika, fokusnya harus dicari di lingkungan belajar matematika yang bisa mendorong sifat-sifat seperti efikasi diri, minat, dan usaha, bukan pada DNA-nya. Ini menunjukkan bahwa 'mengalahkan batasan biologis' itu dicapai dengan personalisasi dan memperbaiki cara pengajaran secara spesifik.

      Hapus
  20. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Saya izin bertanya kalau gen hanya memberi potensi dan lingkungan yang menentukan perkembangan, bagaimana sih cara memisahkan secara akurat mana bagian kemampuan seseorang anak yang muncul dari faktor genetik dan mana yang benar-benar hasil dari lingkungan mengingat keduanya saling mempengaruhi sejak anak lahir??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Andi saya izin menanggapi ya
      Saya ingin menjawab tapi perlu digarisbawahi saya juga nggak tahu apakah jawaban saya ini benar-benar bisa dibuktikan secara akurat untuk memisahkan bagaimana cara mengetahui kemampuan seorang anak yang muncul dari faktor genetik dan mana yang benar-benar dari hasil lingkungan.
      Menurut saya cara yang bisa kita ketahui bahwa kemampuan seorang anak itu muncul dari faktor genetik atau dari hasil lingkungan ialah, kalau dari faktor genetik misalnya kebiasaan seperti kebiasaan yang tak bisa diam ataupun yang ingin selalu mengetahui hal baru, lalu bisa juga dilihat dari bakat, bisa juga dilihat dari watak atau sifat anak tersebut misalnya pendiam ataupun aktif, baik,ramah dan sebagainya. Dan kalau untuk hasil lingkungan itu bisa dilihat dari cara bersosialisasi, prestasi-prestasi yang diraih pada bidang akademik maupun non akademik, lalu bisa juga motivasi belajar dilihat dari faktor lingkungan mungkin karena lingkungannya berisikan orang-orang yang pandai dengan nilai-nilai yang tinggi itu bisa menjadi pendukung dia untuk semangat belajar lalu bisa juga dari sikap disiplin, ketika dia berada pada lingkungan yang selalu menghargai waktu selalu tepat waktu dia akan ikut arus untuk menjadi orang yang selalu disiplin dan juga tepat waktu.

      Menurut saya seperti itu Kak semoga bermanfaat...

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      izin jawab ya, sebenarnya gen sama lingkungan itu susah banget dipisahin, karena dari awal dua-duanya jalan bareng. gen cuma ngasih bakat, tapi lingkungan yang bikin bakat itu muncul atau malah ga kepake. jadi daripada ribet nyari ini dari gen atau lingkungan, mending fokus nyiapin lingkungan belajar yang enak biar potensi anak bisa keluar maksimal

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Fika, jadi menurut saya, sebenarnya memisahkan secara akurat mana yang murni dari gen dan mana dari lingkungan itu hampir nggak mungkin, karena sejak lahir keduanya saling berinteraksi terus. Yang bisa dilakukan adalah melihat pola perkembangan, misalnya lewat perbandingan kemajuan anak di lingkungan berbeda, riwayat keluarga, dan respons anak saat diberi stimulasi tertentu, jadi gen dipahami sebagai potensi awal sementara lingkungan terlihat dari seberapa jauh potensi itu berkembang lewat pengalaman belajar dan dukungan yang diterima

      Hapus
    4. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, kalau hanya melihat potensi gen dan lingkungan secara umum, hasilnya memang belum tentu maksimal. Yang paling penting adalah bagaimana cara guru dan orang tua menerjemahkan potensi itu ke dalam pembelajaran sehari-hari, terutama pada membaca dan matematika.
      Anak yang punya potensi genetik baik tetap butuh metode belajar yang tepat, latihan yang konsisten, dan suasana belajar yang mendukung. Sebaliknya, anak yang potensinya biasa saja bisa berkembang dengan baik jika mendapatkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhannya. Jadi, gen dan lingkungan sama-sama berpengaruh, tetapi hasil akhirnya sangat ditentukan oleh bagaimana keduanya dimanfaatkan dalam proses belajar anak.

      Hapus
    5. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Andi Nurfika. Menurut saya, sulit banget memisahkan mana yang dari gen dan mana yang dari lingkungan, karena sejak lahir keduanya selalu bekerja sama.
      Gen memberi potensi, misalnya anak bisa cepat belajar membaca atau berhitung. Tapi lingkungan—seperti cara orang tua mengajari, guru di sekolah, mainan edukatif, dan teman-temannya—yang membuat potensi itu keluar dan berkembang.
      Jadi daripada pusing membedakan, guru dan orang tua lebih baik fokus membuat lingkungan belajar yang baik, supaya semua anak bisa memaksimalkan potensi mereka. Dengan begitu, anak bisa belajar senang, paham pelajaran, dan berkembang maksimal 😊

      Hapus
  21. Terima kasih bapak atas materi nya saya tertarik dengan Materi bapak ini menarik banget, karena membahas hal yang sering jadi perdebatan apakah kemampuan kita itu sudah takdir dari gen? Hasil penelitian yang bilang setengah dari gen yang memengaruhi matematika juga memengaruhi kemampuan membaca itu bikin penasaran. Ini artinya, ada faktor genetik yang sama-sama bekerja di kedua kemampuan tersebut. Tapi, yang perlu digarisbawahi, gen itu sifatnya hanya probabilitas, bukan penentu mutlak. Jadi, meskipun ada kesamaan gen, kalau lingkungan belajarnya beda, hasilnya juga akan beda. Ini membuktikan bahwa kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada keturunan kalau ada siswa yang kurang bagus di salah satu mata pelajaran.

    BalasHapus
  22. Ya meskipun setiap gen punya peran, bagian yang paling penting di akhir materi ini adalah tentang peran lingkungan belajar. Hasil penelitian yang bilang bahwa kunci untuk mencapai potensi itu terletak pada lingkungan kita, bukan pada DNA itu sangat menenangkan. Ini berarti, sebagai pendidik, kita punya kekuatan besar untuk membantu siswa. Kita harus ciptakan lingkungan belajar yang bisa memicu minat siswa, meningkatkan kepercayaan diri mereka, dan mendorong usaha keras. Jadi, kalau misalnya ada siswa yang nilai matematikanya kurang, kita tidak bisa pasrah, tapi harus mencari cara baru di lingkungan kelas agar self-efficacy dan motivasi mereka di matematika bisa muncul dan berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      setuju banget, justru bagian soal lingkungan itu yang paling ngena. rasanya lega juga ya tau kalau hasil belajar anak ga mutlak ditentuin sama DNA. artinya guru masih punya peran besar buat ngebantu siswa berkembang. kalau ada anak yang nilainya kurang, bukan berarti dia ga mampu tapi mungkin lingkungannya belum pas aja. jadi tugas kita ya nyoba cari cara lain di kelas biar anak lebih percaya diri, tertarik sama pelajaran dan mau berusaha.

      Hapus
  23. Saya juga tertarik dengan kesimpulan dari materi yang bapak berikan, bahwa pendekatan yang sama tidak akan berhasil untuk semua orang. Ini sangat berhubungan dengan temuan genetik tadi. Walaupun ada gen yang tumpang tindih, ada juga gen yang spesifik. Oleh karena itu, kita harus mengeluarkan potensi individu mereka. Mungkin siswa yang jago di Bahasa butuh cara belajar matematika yang berbeda misalnya lebih banyak menulis dan diskusi, dibandingkan dengan siswa yang jago Sains mungkin lebih cocok dengan eksperimen langsung. Ini mengingatkan kita bahwa kita harus jadi guru yang fleksibel dan bisa menyesuaikan gaya mengajar dengan profil siswa, agar gen yang baik itu bisa keluar dan siswa bisa unggul di bidangnya masing-masing.

    BalasHapus
  24. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5 C
    NPM : 2386206048
    izin bertanya
    jika pencegahan bullying dan literasi emosi harus dilakukan okeh seluruh staf sekolah,bentuk pelatihan atau komunikasi paling efektif seperti apa yang bisa menyatukan pemahaman antara guru,kepala sekolah dan staf non pengajar ( seperti satpam atau kantin ) untuk menangani kekerasan secara konsisten?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Dita Ayu Safarila. Menurut saya, supaya semua orang di sekolah sama-sama paham cara mencegah bullying dan mengerti perasaan teman, guru, kepala sekolah, dan staf non-pengajar bisa ikut pelatihan bersama.
      Pelatihannya bisa singkat tapi jelas, misalnya lewat cerita, permainan, atau simulasi tentang bagaimana menghadapi anak yang di-bully atau marah. Semua orang belajar apa yang harus dilakukan dan dikatakan supaya anak merasa aman.
      Selain itu, bisa ada pertemuan rutin atau grup komunikasi supaya semua staf selalu ingat dan menangani masalah dengan cara yang sama. Dengan begitu, bullying bisa dicegah, dan sekolah jadi aman dan nyaman untuk semua anak 😊

      Hapus
  25. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Menurut saya Materi ini memberikan wawasan yang menarik tentang bagaimana gen memengaruhi kemampuan matematika dan membaca pada anak-anak. Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan ini menunjukkan bahwa sekitar setengah dari gen yang berkontribusi pada kemampuan matematika juga berhubungan dengan kemampuan membaca. Ini membuka pemahaman baru bahwa kemampuan belajar tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga oleh faktor genetik.

    Satu hal yang menarik adalah meskipun ada hubungan genetik antara matematika dan membaca, tidak ada gen tunggal yang dapat dikatakan sebagai "penentu" kemampuan tersebut. Sebaliknya, ada banyak variasi DNA yang memiliki dampak kecil namun signifikan ketika digabungkan. Ini sejalan dengan pandangan bahwa sifat-sifat kompleks seperti kemampuan belajar memang dipengaruhi oleh banyak faktor genetik yang berbeda, dan bukan hanya satu atau dua gen saja.

    BalasHapus
  26. Nama : Aprilina awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Materi ini juga menyoroti pentingnya lingkungan dalam memengaruhi kemampuan belajar. Meskipun gen memberikan kemungkinan, faktor-faktor seperti motivasi, kepercayaan diri, dan pengalaman hidup juga sangat berpengaruh. Ini menunjukkan bahwa meskipun seorang anak memiliki bakat dalam membaca atau matematika, tanpa dukungan yang tepat dari lingkungan, potensi tersebut mungkin tidak terwujud.

    BalasHapus
  27. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Saya ijin bertanya pak, Apa yang bisa kita lakukan untuk menyesuaikan lingkungan belajar anak agar bisa memaksimalkan potensi genetik mereka dalam matematika dan membaca?
    Bagaimana cara kita mengidentifikasi gen mana yang mungkin berkontribusi pada kemampuan belajar anak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5B (PGSD)

      Hallo Aprilina, izin menjawab pertanyaan kamu ya sesuai pemahaman saya, menurut saya untuk membantu anak memaksimalkan potensi genetiknya dalam matematika dan membaca, hal pertama yang kita dilakukan adalah menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Misalnya memberi kesempatan untuk anak mencoba, memberi dorongan ketika mereka mengalami kesulitan, dan menyediakan aktivitas belajar yang menyenangkan sesuai dengan potensi mereka.

      Untuk menjawab pertanyaan kamu berikutnya, terkait mengidentifikasi gen mana yang mana berkontribusi pada kemampuan belajar, menurut saya hal tersebut tidak bisa dilakukan langsung oleh guru atau orang tua. Kan kalo penelitian gen itu masih dilakukan ilmuan, dan hasilnya bersifat umum, bukan menentukan kemampuan individu. Jadi yang paling penting sekarang fokus aja pada bagaimana lingkungan membantu anak berkembang, karena lingkungan yang baik dapat memperkuat potensi apapun yang dimiliki anak.

      Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk Aprilina dan teman-teman lainnya ☺

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      biar potensi anak makin keluar, lingkungannya harus dibikin nyaman dulu. belajarnya jangan ditekan, tapi biasain pelan-pelan lewat baca, main angka, atau metode lain yg ga ngebosenin. dukungan guru sama orang tua juga penting biar anak percaya diri. kalau soal gen, kita ga bisa tau pasti gen apa yang ngaruh. kita cuma bisa liat kecenderungannya, misalnya anak cepet nangkap hitungan atau suka baca, terus tinggal diarahkan sama didukung.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan lingkungan belajarnya, misalnya di matematika pakai benda konkret, permainan logika, dan tantangan bertahap, sementara di membaca ciptakan budaya literasi yang santai, banyak bacaan menarik, dan interaksi ngobrol soal isi bacaan. Soal gen, sebenarnya di sekolah kita nggak perlu dan belum realistis mengidentifikasi gen tertentu, karena kemampuan belajar lebih aman dibaca dari tanda-tanda perilaku seperti minat, kecepatan memahami, dan respons anak terhadap stimulasi, jadi fokusnya bukan cari gennya, tapi kasih lingkungan yang tepat supaya potensi bawaan itu bisa berkembang maksimal.

      Hapus
    4. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, untuk menyesuaikan lingkungan belajar agar potensi genetik anak bisa berkembang dengan baik, yang paling penting adalah menciptakan suasana belajar yang nyaman dan mendukung. Guru dan orang tua bisa memberi kesempatan anak untuk belajar sesuai dengan kemampuannya, tanpa membandingkan dengan anak lain.
      Selain itu, pembelajaran membaca dan matematika sebaiknya dilakukan secara bertahap dan menyenangkan, misalnya melalui permainan, cerita, atau kegiatan sehari-hari. Dengan lingkungan yang positif dan dukungan yang tepat, potensi anak dapat berkembang secara maksimal meskipun kemampuan awalnya berbeda-beda.

      Hapus
    5. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Aprilina Awing. Menurut saya, supaya anak bisa memaksimalkan potensi genetiknya di matematika dan membaca, guru dan orang tua bisa membuat lingkungan belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan anak.
      Misalnya:
      - Anak yang suka angka dan hitung-hitungan bisa belajar matematika lewat permainan, puzzle, atau cerita soal.

      - Anak yang suka membaca dan cerita bisa belajar membaca lewat buku menarik, membaca bersama, atau menceritakan ulang cerita.
      Kalau gen yang membuat anak pintar membaca atau berhitung itu seperti benih, kita tidak bisa langsung tahu gen mana saja. Tapi yang penting, kita bisa melihat minat dan kemampuan anak, lalu memberi stimulasi dan kesempatan belajar yang cocok. Dengan begitu, potensi anak bisa keluar maksimal meskipun kita tidak tahu gen spesifiknya 😊

      Hapus
  28. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Menurut pemahaman saya setelah membaca materi diatas pembahasan tentang apakah gen menentukan kemampuan membaca dan matematika memang penting untuk dipahami secara objektif. Kebanyakan memang benar kalau faktor genetik dapat memberikan modal awal seperti daya ingat, kecepatan memproses informasi, atau sensitivitas bahasa. Namun, gen bukan penentu dalam kemampuan membaca maupun matematika.

    materi yang ditekankan disini menjelaskan bahwa lingkungan belajar, kualitas pengajaran, pengalaman belajar positif, serta dukungan emosional jauh lebih berpengaruh pada perkembangan kemampuan siswa. Anak yang diberi stimulasi, dibiasakan dengan aktivitas literasi numerasi, dan mendapat metode pengajaran yang tepat dapat berkembang lebih jauh dibanding mereka yang hanya mengandalkan potensi bawaan. Gen mungkin bisa membuka pintu berpikir, tetapi lingkungan dan pembelajaranlah yang menentukan seberapa jauh siswa melangkah.

    BalasHapus
  29. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    setelah saya membaca tentang materi diatas saya baru tau bahwa , kemampuan membaca dan matematika pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga oleh faktor genetik. meskipun gen memiliki peran besar, kemampuan anak tetap sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Faktor seperti motivasi, minat, guru, metode belajar, dan pengalaman hidup menentukan apakah potensi genetik itu bisa berkembang atau tidak. Dua anak bisa memiliki kemampuan genetik yang mirip, tetapi hasil belajarnya berbeda karena perbedaan dukungan dan pengalaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      komentar Kornelia Sumiaty ini sudah sangat baik merangkum bahwa gen dan lingkungan sama-sama berpengaruh, jadi tambahan dari saya, kita perlu garis bawahi poin spesifik dari artikel yang sering terlewat. Kornelia benar kalau motivasi dan pengalaman itu penting, tapi yang ditekankan oleh materi adalah gen itu menawarkan probabilitas, bukan ramalan. Artinya, gen hanya memberi kita kapasitas untuk unggul, tapi tidak otomatis menjamin prestasi tinggi. Motivasi dan kepercayaan diri itulah yang menjadi jembatan antara potensi genetik yang mirip misalnya pada dua anak dan hasil belajar yang berbeda. Jadi, tugas kita bukan lagi mencari tahu gen mana yang unggul, melainkan bagaimana menciptakan lingkungan belajar matematika yang mendorong efikasi diri, minat, dan usaha pada setiap anak.

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      kalau menurut aku, materi ini bikin kita paham kalau kemampuan baca sama matematika itu ga cuma soal bawaan dari lahir. gen emang ngasih potensi, tapi kalau lingkungannya ga mendukung potensinya jadi ga bisa berkembang. hal-hal kayak cara guru ngajar, suasana di rumah, sama pengalaman sehari-hari tuh pengaruhnya gede banget. makanya biarpun kemampuan anak tuh mirip, hasil belajarnya bisa jadi beda karena lingkungan sama dukungannya juga beda.

      Hapus
  30. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Menurut saya, materi diblog ini menambah wawasan, bahwa kemampuan anak dalam membaca dan matematika tidak hanya dipengaruhi dari gen, tetapi juga dari faktor lingkungan yang mendukung. Meskipun gen tenyata mempunyai peran yang besar, hasil akhirnya tetap tergantung, bagaimana anak dibimbing, diberikan kesempatan, dan diberi motivasi. Jadi siapapun kita berpendidikan tinggi atau tidak, sebaiknya tetap berusaha menciptakan lingkungan belajar yang membantu anak bisa berkembang sesuai potensinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Tambahan dari saya, pendapat Rosidah ini sudah benar banget karena artikelnya memang bilang kalau gen itu kuat pengaruhnya, tapi yang paling menentukan itu bimbingan dan lingkungan yang suportif. Jadi tambahan dari saya, kita harus ingat bahwa penelitian itu juga menemukan kalau gen-gen yang memengaruhi membaca dan matematika itu banyak yang tumpang tindih. Artinya, anak yang punya potensi bagus di membaca, kemungkinan besar dia juga punya potensi yang baik di matematika. Nah, karena gen-nya umum, tantangan besar buat guru dan orang tua adalah menyediakan lingkungan yang spesifik. Jadi, kalau kita mau anak hebat di dua-duanya, kita perlu cari tahu cara belajar yang paling pas buat dia, karena pendekatan yang sama nggak akan berhasil buat semua orang. Intinya, gen kasih modal umum, lingkunganlah yang bantu si anak jadi spesiali di bidang yang dia minati.

      Hapus
  31. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    Saya setuju dengan materi ini, pertama materi ini keren, karena mereka bisa membuktikan pakai tes DNA saja (tanpa perlu repot pakai studi kembar) kalau bakat kita di Matematika dan Membaca itu saling nyambung. Ternyata, sekitar separuh gen yang bikin kita jago hitung itu juga ikut andil di kemampuan baca kita. Jadi, wajar kalau anak yang pintar hitung seringnya juga pintar baca. Gen kita itu tim kecil-kecil, bukan cuma satu gen super jagoan. Kedua, dan ini yang paling penting Gen itu cuma kasih modal, bukan nasib! Walaupun kita punya modal genetik, yang benar-benar menentukan sukses kita adalah lingkungan. Motivasi, minat, dan cara guru mengajar yang cocok buat kita (personalisasi) itu jadi kunci utama buat mengaktifkan modal genetik tadi. Makanya, fokus kita harusnya adalah membuat cara belajar yang lebih asyik dan sesuai buat tiap anak, bukan cuma nyalahin gen.

    BalasHapus
  32. Nama :Zakky Setiawan
    NPM ; ( 2386206066 )
    Kelas : 5C
    Saya baru tau kalau gen itu tenyata tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan anak membaca matematika, saya kira gen itu berperan besar terhadao kemampuan besar seorang anak dalam memahami pelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama :Zakky Setiawan
      NPM ; ( 2386206066 )
      Kelas : 5C
      Sedikit menambahkan pak, saya pikir selama ini gen itu berpengaruh besar tehadap kemampuan anak, kalau orang tuanya pintar, ternyata tidak, kalau tidak di barengi usaha untuk belajar tenyata pehaman mereka tidak akan sama dengan orang tua mereka

      Hapus
    2. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menambahkan ya Zakky, pemahaman ini memang sering bikin kaget, karena banyak orang mengira kemampuan membaca dan matematika itu bawaan lahir sepenuhnya. Padahal gen lebih ke memberi potensi awal, sementara yang benar-benar membentuk kemampuan anak adalah lingkungan, kebiasaan, dan pengalaman belajarnya. Anak yang sering diajak ngobrol, dibacakan cerita, atau dilibatkan dalam aktivitas berhitung sederhana sejak kecil biasanya berkembang lebih baik, terlepas dari latar genetiknya.
      Soal game juga sebenarnya nggak sepenuhnya salah. Game bisa berperan besar kalau dipilih dan digunakan dengan tepat, misalnya game yang melatih logika, strategi, membaca instruksi, atau pemecahan masalah. Masalahnya muncul kalau game cuma jadi hiburan pasif tanpa pendampingan atau tanpa dikaitkan dengan proses belajar. Jadi kuncinya bukan melarang game, tapi mengarahkan penggunaannya supaya jadi bagian dari lingkungan belajar yang mendukung perkembangan kemampuan anak.

      Hapus
  33. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Menurut saya, materi ini memberikan pandangan yang sangat penting dan seimbang soal kemampuan membaca dan matematika. Intinya, genetik itu kasih potensi dasarnya, semacam modal awal yang kita bawa dari lahir, dan ternyata gen yang memengaruhi kemampuan membaca itu banyak juga tumpang tindih dengan gen matematika. Jadi, kalau anak punya bakat di satu bidang, kemungkinan dia juga punya potensi di bidang yang lain. Tapi, poin terpentingnya adalah gen itu cuma kasih peluang (probabilitas), bukan nasib yang pasti. Punya gen bagus nggak otomatis bikin kita pintar kalau kita malas atau nggak suka. Di sinilah peran motivasi, minat, dan yang paling utama, lingkungan belajar yang masuk.

    Oleh karena itu, kalau kita kaitkan dengan dunia pendidikan sekarang, kita nggak bisa lagi samakan semua siswa dalam metode belajar. Karena lingkungan itu sifatnya spesialis dia yang membentuk dan mengasah potensi umum tadi jadi keahlian spesifik. Pendidikan harus lebih fokus pada personalisasi atau bikin cara belajar yang beda-beda buat tiap anak. Guru dan sekolah perlu cari tahu cara memicu minat siswa, membangun rasa percaya diri mereka, dan kasih pengalaman hidup yang bisa mengeluarkan modal genetik mereka. Jadi, kalau ada yang bilang genetik itu penentu, artikel ini membuktikan bahwa lingkungan dan kemauan keras kita jauh lebih berperan untuk memaksimalkan apa yang sudah Tuhan kasih.

    BalasHapus
  34. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    saya melihat bahwa temuan tentang adanya tumpang tindih genetik antara membaca dan matematika ini juga harusnya menjadi kabar baik bagi pemerintah dan pembuat kebijakan pendidikan. Kenapa? Karena ini menunjukkan bahwa investasi atau program peningkatan mutu pendidikan pada satu bidang, misalnya literasi, kemungkinan besar akan memberikan efek samping positif (spillover effect) pada bidang numerasi. Ini berarti kebijakan pendidikan dapat lebih efisien dan terfokus dengan mengembangkan kemampuan kognitif dasar yang umum pada anak, bukan hanya mengobati gejala per mata pelajaran. Yang terpenting, karena genetik hanya memberi potensi, fokus utama program harus tetap pada bagaimana cara menciptakan lingkungan belajar yang personal, inspiratif, dan kaya stimulasi yang mampu menyalakan potensi genetik umum tersebut ke dalam prestasi akademik spesifik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju juliana, adanya tumpang tindih genetik antara literasi dan numerasi adalah kabar baik karena memungkinkan pemerintah merancang kebijakan pendidikan yang lebih efisien dengan fokus pada pengembangan kemampuan kognitif dasar yang memiliki efek positif ganda (spillover effect), namun implementasinya harus tetap berpusat pada penciptaan lingkungan belajar yang inspiratif.

      Hapus
    2. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, apa yang disampaikan Juliana itu benar, bahwa kemampuan membaca dan matematika tidak hanya dipengaruhi oleh gen, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan. Ketika anak mendapatkan pendidikan yang baik sejak dini, misalnya melalui pembiasaan membaca, latihan berhitung, dan dukungan dari guru serta orang tua, kemampuan anak bisa berkembang lebih optimal.
      Selain itu, konsep spillover effect juga masuk akal, karena jika anak kuat di satu bidang, seperti membaca, biasanya akan membantu pemahaman di bidang lain, termasuk matematika. Jadi, meskipun gen memberikan potensi awal, peran pendidikan dan lingkungan tetap sangat penting untuk membantu anak mengembangkan kemampuannya secara maksimal.

      Hapus
  35. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    izin menanggapi ya pak, ternyata gen kita memang luar biasa, karena setengah dari gen yang bikin pintar matematika itu juga memengaruhi kemampuan membaca, tapi yang paling penting seberapa jauh kemampuan itu berkembang, tetap lingkungan adalah penentunya.

    BalasHapus
  36. Menurut saya pak studi ini memperlihatkan kerjasama yang sangat penting di dalam pemahaman kemampuan belajar pada anak, terutama kemampuan matematika dan membaca. Dapat dilihat bahwa sekitar setengah dari gen yang memengaruhi matematika juga berperan dalam kemampuan akademik tidak berdiri sendiri pendekatan yang digunakan oleh Dna secara langsung suatu hal yang bisa memperluas peluang dibidang pendidikan dan ilmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada materi diatas yang sudah menjelaskan secara menyeluruh dengan poin yang ada pada gen berarti jikaaaa kepintaran ibu yg 90% menurun pada anaknya juga dengan 90%, maka dapat diliat gen sangat mempengaruhi kemampuan dalam membaca matematika yaa pa...

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM: 2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      setuju banget, ini nunjukin kalau gen memang ngasih dasar, tapi lingkungan yang ngarahin dan ngebentuk hasil akhirnya. makanya pengalaman belajar, dukungan keluarga, dan kualitas pendidikan itu penting banget. anak bisa punya potensi sama, tapi hasilnya beda karena lingkungannya beda. disini peran pendidikan keliatan penting banget buat nyediain lingkungan yang adil dan mendukung semua anak.

      Hapus
  37. meskipun faktor genetik berperan dengan kemampuan akademik, ternyata lingkungan memiliki pengaruh yang sangat menentukan dalam mengarahkan potensi anak. Seperti Pengalaman belajar, dukungan keluarga, kualitas pendidikan, serta kesempatan yang dicapai oleh anak dapat membentuk minat dan bakatnya secara berbeda beda setiap bidang studi. Hal ini menunjukkan bahwasannya keberhasilan dalam belajar bukanlah hasil gen saja , akan tetapi interaksi dinamis antara gen dan lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan mempunyai peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang kaya, inklusif, dan memotivasi agar setiap anak dapat mengembangkan potensi terbaiknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM: 2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      Setuju banget, komentar ini nunjukin kalau gen bukan satu-satunya penentu tapi justru lingkungan yang ngarahin potensi anak mau berkembang kemana. lewat pengalaman belajar yang benar, dukungan keluarga, sama pendidikan yang berkualitas, anak bisa nemuin minatnya masing-masing. jadi keberhasilan belajar itu hasil kerja bareng antara gen dan lingkungan dan disinilah peran pendidikan jadi penting banget buat nyiapin lingkungan yang adil dan bikin anak semangat belajar.

      Hapus
  38. materi ini cukup menambah sedikit wawasan/pengetahuan sayaaa dalam hal kemampuan membaca dalam matematika yang di pengaruhi lingkungan serta gen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi paaa pada kesimpulan yang saya telaaah bukann jugaa gen serta lingkungan yang menjadi penentu utamanya akan tetapi jika tidak diiringi dengan suatu usaha maka hasilnya sama saja kan pa? tapi 90% menyeluruh itu dipengaruhi oleh faktor genetik.

      Hapus
  39. Pak izin bertanya sebelum nya kan sudah di jelaskan disitu bahwa faktor lingkungan juga sangat memperngaruhi dan memiliki peran yang sangat penting dalam membaca matematika nah pertanyaan sayaaaa pada point itu, mengapa peran lingkungan itu sangat penting ya pak untuk kemampuan akademik ? Meskipun disini faktor genetik juga mempengaruhi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      izin jawab ya, lingkungan itu penting banget soalnya dari situ anak jadi biasa belajar atau engganya. biarpun anak punya gen yang bagus tapi kalau di rumah jarang didampingin, di sekolah kurang nyaman, atau lingkungannya ga mendukung, kemampuannya bisa ga keluar. lingkungan tuh ngebentuk kebiasaan belajar, cara mikir, sama rasa percaya diri anak. jadi gen tuh cuma bawaan, tapi lingkungan yang bikin kemampuan anak bisa berkembang.

      Hapus
    2. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Agustiani, jadi menurut saya, peran lingkungan itu sangat penting karena lingkungan yang memberi rangsangan, kebiasaan, dan dukungan langsung ke anak setiap hari, sementara gen cuma menyediakan potensi awalnya saja. Anak bisa punya potensi genetik yang baik, tapi kalau lingkungannya kurang mendukung, jarang diajak membaca, berdiskusi, atau dilatih berpikir, maka potensi itu nggak berkembang maksimal, jadi lingkunganlah yang menentukan apakah kemampuan akademik seperti membaca dan matematika benar-benar tumbuh atau malah terhambat.

      Hapus
    3. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, meskipun faktor genetik memang punya pengaruh terhadap kemampuan membaca dan matematika anak, lingkungan tetap memegang peran yang sangat penting. Gen bisa dianggap sebagai potensi awal, tetapi lingkungan seperti cara mengajar guru, suasana belajar, dan dukungan orang tua yang menentukan apakah potensi itu berkembang atau tidak.
      Jika lingkungan belajarnya kurang mendukung, kemampuan anak bisa tidak berkembang secara maksimal, meskipun secara genetik punya potensi. Sebaliknya, dengan lingkungan yang baik dan pembelajaran yang tepat, anak bisa menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jadi, gen dan lingkungan saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan dalam memengaruhi kemampuan akademik anak.

      Hapus
  40. Nama: Ratna Andina
    NPM:2386206074
    Kelas: 5C PGSD

    menurut saya, materi ini ngingetin kalau gen itu emang bawaan dari orang tua, tapi bukan penentu segalanya. biarpun anak punya gen tertentu, hasil akhirnya tuh tetap dipengaruhi sama lingkungan, pendidikan, dan kebiasaan sehari-hari. jadi kemampuan anak ga bisa langsung disimpulin cuma dari keturunan aja, soalnya proses tumbuh dan belajarnya juga punya peran yang besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      menurut saya juga materi ini pengen nunjukin kalau gen itu cuma modal awal dari lahir. anak bisa punya gen bagus, tapi kalau lingkungan sekitar ga mendukung, hasilnya juga ga maksimal. sebaliknya biarpun gen biasa aja, tapi didukung pendidikan dan pola asuh yang baik, anak tetap bisa berkembang baik. jadi keturunan itu penting tapi bukan segalanya.

      Hapus
  41. Nama: Ratna Andina
    NPM:2386206074
    Kelas: 5C PGSD

    kalau menurut saya pribadi, materi ini ngingetin kita kalau anak ga bisa disamaratakan. biarpun tiap anak bawa potensi genetik yang beda, tugas guru justru nyiapin lingkungan belajar yang nyaman dan fleksibel. jadi fokusnya bukan cari anak yang pintar atau kurang, tapi gimana caranya bantu semua anak berkembang sesuai kemampuannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya materi ini juga bikin kita sadar kalau hasil belajar anak bukan cuma soal bakat. lingkungan yang tepat bisa bikin anak yang awalnya biasa aja jadi berkembang pesat. jadi peran guru dan orang tua itu penting banget, karena lewat dukungan dan cara belajar yang pas, potensi anak bisa bener-bener keluar.

      Hapus
  42. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Woow, pas baca judul materi ini saya langsung klik materinya hehehe. Saya penasaran sama isi materinya, soalnya judulnya kayak hook yg ada di tiktok tiktok bangeet itu bisa dalam 3 detik bikin org mau cari tau. Di dalam pikiran saya sebelum baca tuh kayak ‘wah ape nih’ ‘emang bisa ya DNA bisa mempengaruhi dua hal itu skaligus’. Soalnya tu pak, saya ingat ada temen sd saya dia pintar bgt mtk tapi ga suka baca makanya saya langsung kepo ama materi ini.

    178

    BalasHapus
  43. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Ternyata gen itu kayak nampilkan kemungkinan yg anak bisa ya tapi tetap berpengaruh pada aspek aspek yang lain. Dan gen itu jadinya kayak bukan yang nentuin hasil akhirnya kalau anak nih langsung jadi pintar di bidang tertentu gitu ya. Dan aspek aspek lainnya yaitu yang biasa kita kenaldan hari hari bahas, lingkungan belajar ma pengalaman belajar anak. Saya paham saya paham, jadi intinya gen bukan tolak ukur anak lgsg jadi pintar ina inu.

    179

    BalasHapus
  44. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Tapi ya pak, waktu saya baca yang bagian gen yang tumpang tindih tuh saya agak ga mudeng wkwkwkw. Maksudnya itu yang gimanaa, tapi pas saja coba baca pelan pelan, saya agak paham maksudnya. Kalau si gen ini ternyata ada yang macamnya itu bisa skaligus pembawaannya untuk membaca dan si mtk ini. Tapi balik lagi yang saya bilang di paragrag sebelumnya bahwa gen bukan satu satunya yg bikin anak tuh mahir pintar. Faktor besar yang mempengaruhi anak bisa pintar dan mahir di bidangnya ya karna lingkungan belajar yang mendukung dan pengalamannya belajar.

    180

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Emm kepala saya cukup terngiang ngiang ama bagian yang peran lingkungan ini sih yang dari tadi saya sebutin. Saya ngerasa kayak emm ini tuh semacam penegasan untuk pembahasan ini. Jadi kayak mau sekuat apapun gennya, perlu dan ttp butuh lungkungan yg bisa menyiram dan merawat gen supaya dia bisa tumbuh maksimal pada diri anak. Kalau lingkungannya cuek, bodoamat, atau bikin anak ngerasa takut salah, potensi anak bisa bisa ketutup dan ga ketahuan, sedih ☹. Saya jadi makin ngerti klo hasil belajar anak tu bukan cuman soal DNA gen gen ini, tapi hasil dari banyak tangan yang ikut andil di dalam hidupnya (termasuk kita gurunyaaaa).

      187

      Hapus
  45. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Kalau saya analogikan (gaya bangeet bahasanyaa yaAllah wkwkwk), berarti gen tuh jadi kayak semacam peluang gitu ya pak? Kayak misalnya, kalau di dalam diri saya punya gen mtk, ya saya pas sekolahnya blm tentu pintar mtk. Tapi saya ttp punya peluang pintar mtk, kalaauuu lingkungan ma pengelaman belajarnya klopp jugaa, gitu kan? Hihi. Jadi ges, balik lagi terhadap pola asuh kta sebagai orang gede di sekitar anak anak kita ini. Ada anak yang mungkin biasa aja gen mtk dan mbacanya, tapi karna aspek aspek penting yang berpengaruh besar support ke perkembangannya bisa aja kemampuannya berkembang pesat.

    181

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Nah, faktor besar yang mempengaruhi anak nih betul betul bisa berkembang baik nih kan lingkungan lagi ama pengalamannya. Berarti apa teman teman? Yakk betul, kita sebagai orang tua dan bahkan gurunya itu punya peran lagi di sini yak ges yak. Dari kita yang bikin lingkungan anak nih terasa nyaman buat mereka dan ngerasa disupport. Dan cara kita buat bikin mereka ngerasa nyaman sama proses belajarnya lagi jugak.

      182

      Hapus
    2. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Ga ada habis habisnya ya peran guru untuk mendampingi anak anak dalam perkembangannya nie. Ya kemarin saya baca tentang pendidikan karakter di dalam mtk, ya tentang pembeljaran kontektual, dan malam ini, ini lagi tentang DNA wkwkwkwkw. Semua itu kembali ke kita sebagai pendidik, strategi kita, cara kita dibutuhkan semua dan berpengaruh besar. Mangkanya, kita sebagai calon guru gen z penerus guru guru yg ada nanti, harus udah belajar tentang beginian, hehee makasihh yaaa bapaak.

      183

      Hapus
  46. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Eh tapi bapak ada bilang juga itu di atas kalau gen ama pengelaman itu adalah satu kesatuan. Emm, jadi maksudnya itu, kayak misalnya ada anak yang punya gen mtk, terus supaya anak ini bisa memaksimalkan gennya, jadi pengalamannya harus linier ma gen nya gitu yaa. Biar anak nya ini emm apa ya bahasanya, kayak anaknya ini unggul beneran sesuai ama gennya, tapi di dukung ama fakotr yang lain tu juga. Kalau misalkan anaknya itu punya gen mtk, terus karna pengalaman ama lingkungannya support ke hal yang lain, jadi anaknya kayak ga terlalu maksimal gitu ya?

    184

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dias Pinasih
      Kelas: 5B PGSD
      NPM: 2386206057
      Izin menjawab ya. Menurut saya, walaupun gen memang punya peran dalam kemampuan membaca dan matematika anak, tetapi lingkungan dan pengalaman belajar tetap sangat berpengaruh. Gen bisa diibaratkan sebagai potensi awal, sedangkan lingkungan, seperti cara mengajar guru, dukungan orang tua, dan kebiasaan belajar, menentukan bagaimana potensi itu berkembang.
      Jika anak memiliki potensi yang baik tetapi tidak didukung dengan lingkungan belajar yang tepat, hasilnya bisa tidak maksimal. Sebaliknya, anak yang awalnya terlihat biasa saja bisa berkembang dengan baik jika mendapat bimbingan, latihan, dan motivasi yang sesuai. Jadi, gen bukan penentu mutlak, melainkan salah satu faktor yang perlu didukung oleh lingkungan agar kemampuan anak bisa berkembang secara maksimal.

      Hapus
  47. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Oh ya pak, omong omong tentang gen, emm saya ada kepikiran suatu hal deh. Kan gen itu kayak pembawa peluang, kita itu nanti unggulnya di mana gitu kan. Nah, kalau semisal, ada anak yang kayak emm orang tuanya itu ga terlalu memperhatikan begini untuk anaknya. Terus kalau dia dihadapkan sesuatu hal untuk dipilih, orang tuanya selalu memilihkannya. Jadi dia ga pernah merasa bisa untuk memilih sesuatu untuk dirinya sendiri. Ketika dia semakin bertumbuh dan berkembang sampai gede, dia tetep manut sama pilihan orang tua, itu contoh emm gen yang tidak dimaksimalkan ya???

    185

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Hmm, dari materi ini saya juga jadi ada mikir ulang kalau misalkan lagi ngeliat anak yang agak tertinggal dari temen temennya. Mungkin, kenapa dia terlihat agak tertinggal karna peluang atau si gen itu ga diketahui apa. Jadi bukan karna si anak ga punya bakat apa apa sama sekali. Entahlah karna lingkungannya ga tahu menahu dan ga cukup perduli, atau dia blm ada pengalaman belajar yg ngarah ke bakatnya. Hmm, kalau dipikir pikir kasian ya ☹ sedihh ☹, saya yakin setiap anak punya bakatnya masing masing, dan saya usahakan anak anak saya nanti tau bakatnya masing masing (aamiiiin).

      186

      Hapus
  48. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Ohh iya pak ada satu lagi di kepala saya ttg materi ini, kayaknya related deh tapi agak out of topic ehehe. Dulu, waktu SMP saya punya teman pak, dia nda terlalu pintar di mtk, mbaca juga ga terlalu. Tetapi, suaranya tuu baguuuus betul, seumur saya waktu SMP tuh saya ga pernah dengar langsung suara yang sebagus temen saya punya ni, saya jadi kayak terkagum kagum. Nah, teruskan usut punya usut, ternyata mamanya, kakaknya bahkan kakak sepupunya juga punya suara yang bagus.

    188

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Dari situ, sebenarnya gen itu kayak ada yang bener bener kuat banget gitu ya. Soalnya sampe ke banyak orang di keluarganya itu sama semua suaranya bagus, gennya menyebar. Tetapi, karna mereka ini satu keluarga, jadikan otomatis lingkungannya juga sama ya. Nah, berarti udah klop nih ama materi bapak yang bilang kalau lingkungan juga amat penting untuk pengalamannya anak. Hehehe, saya td pas abis selesai komen yang di atas saya kepikiran temen saya yang ini pak, kayak sama gituu ama materi bapak walaupun bidangnya beda ehehe.

      189

      Hapus
  49. Nama:syahrul
    kelas:5D
    npm:2386206092

    Artikel yang bapak kasih ni ngejelasin alasan mengapa ada anak yang jago matematika tapi kurang dalam membaca, atau sebaliknya. Intinya, gen bukan penentu mutlak, melainkan pemberi peluang. Penelitian nunjukin kalo gen cenderung bekerja secara kolektif. Tidak ada satu gen tunggal yang membuat seseorang jenius. Justru banyak gen kecil bekerja sama kayak sebuah tim untuk memengaruhi kemampuan belajar kita.

    BalasHapus
  50. Nama:syahrul
    kelas:5D
    Npm:2386206092

    Ternyata gen kita tuh biasanya bersifat umum, artinya gen yang ngebantu kemampuan membaca sering kali sama dengan gen untuk matematika. Di sisi lain, lingkungan justru bertindak lebih spesifik.Kek pengalaman di sekolah, cara guru mengajar, atau suasana di rumah memberikan dampak yang berbeda untuk tiap mata pelajaran.

    BalasHapus
  51. Nama:syahrul
    kelas:5D
    Npm:2386206092

    Pasti disini kalian ada yang nanya kalo gen yang berpengaruh cenderung sama, trus kenapa kemampuan anak bisa berbeda jauh antara matematika dan membaca? Nah penjelasannya tuh gini. Ada pada interaksi antara faktor biologis dan pengalaman hidup. Contohnya kemungkinan kek gini
    • Minat dan motivasi pribadi yang memicu fokus pada satu bidang tertentu.
    • Metode pengajaran yang mungkin cocok untuk satu subjek tapi tidak untuk subjek lainnya.
    • Kebutuhan akan pendekatan belajar yang lebih personal bagi tiap anak.

    BalasHapus
  52. Nama:syahrul
    kelas:5D
    Npm:2386206092

    Intinya tuh potensi genetik itu memang ada, tapi lingkunganlah yang nentuin apakah potensi tersebut muncul atau nggak. Kita gak bisa hanya nyalahin DNA kalau ngerasa kurang jago di satu bidang. Fokuslah pada menciptakan lingkungan belajar yang mendukung rasa percaya diri dan usaha. Personalisasi dalam belajar terbukti jauh lebih efektif daripada menggunakan satu cara yang sama untuk semua orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul syahrul, Intinya gen itu cuma modal awal, bukan hasil akhir. Kita ga bisa menyalahkan bakat atau DNA kalau ada siswa yang sulit belajar.Ibaratnya, gen itu seperti bibit, tapi lingkungan dan cara kita mengajar adalah air dan pupuknya. Bagus atau tidaknya pertumbuhan siswa tergantung dari seberapa telaten kita memberikan dukungan dan cara belajar yang cocok buat mereka. Jadi, fokus pada usaha dan suasana kelas yang nyaman jauh lebih penting daripada mikirin faktor keturunan.

      Hapus
  53. Menurut saya, materi ini sangat penting karena membantu kita memahami bahwa kemampuan membaca dan matematika tidak sepenuhnya ditentukan oleh gen. Penelitian yang dijelaskan memang menunjukkan bahwa faktor genetik berpengaruh cukup besar, bahkan saling berkaitan antara kemampuan membaca dan matematika. Namun, hal ini tidak berarti anak ditakdirkan pintar atau lemah pada mata pelajaran tertentu.
    Yang paling menarik dari materi ini adalah penekanan bahwa gen hanya memberi peluang, bukan kepastian. Artinya, meskipun seorang anak memiliki potensi genetik yang baik, tanpa lingkungan belajar yang mendukung, potensi tersebut bisa saja tidak berkembang. Sebaliknya, anak yang secara genetik biasa saja tetap bisa berprestasi jika mendapatkan dukungan, motivasi, dan pengalaman belajar yang tepat.

    BalasHapus
  54. Saya juga setuju dengan gagasan bahwa lingkungan bersifat spesifik, sementara gen cenderung umum. Cara mengajar membaca tentu berbeda dengan cara mengajar matematika. Guru, metode pembelajaran, suasana kelas, dan pendekatan yang digunakan sangat menentukan apakah potensi anak bisa muncul atau tidak. Inilah mengapa pendekatan pembelajaran yang sama tidak selalu cocok untuk semua siswa.

    BalasHapus
  55. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Menurut saya, pembahasan peran gen dalam kemampuan membaca dan matematika ini penting untuk meluruskan cara pandang yang selama ini sering keliru, sering kali ketika siswa kesulitan belajar faktor genetik dijadikan alasan seolah-olah kemampuan anak sudah mentok padahal dari penjelasan di atas yang sudah ditulis atau disampaikan terlihat jelas bahwa gen hanya memberi pengaruh kecil sebagai potensi awal bukan penentuan hasil akhir. Justru lingkungan belajar, strategi guru dan kebiasaan latihan memiliki peran yang jauh lebih besar dalam membentuk kemampuan siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5
      Npm : 2386206042

      setuju dengan sintaa, Jangan sampai kita terjebak anggapan kalau anak sulit belajar itu berarti sudah "bawaan lahir" dan tidak bisa diubah. Padahal, gen itu cuma modal awal yang sangat kecil. Hasil akhirnya justru lebih banyak ditentukan oleh cara kita mengajar, lingkungan yang mendukung, dan seberapa sering si anak berlatih. Jadi, tidak ada kata "mentok" selama kita terus kasih dukungan dan strategi belajar yang tepat buat mereka.

      Hapus
  56. Ternyata faktor genetik bukan harga mati ya untuk kemampuan membaca anak. Saya setuju banget kalau stimulasi dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting buat membantu anak suka membaca.

    BalasHapus
  57. Nama Hanifah
    Kelas 5C
    NPM 2386206073

    Saya setuju dengan penekanan artikel bahwa lingkungan punya peran besar dalam mengaktifkan potensi genetik. Sebagai calon pendidik, saya melihat bahwa pendekatan yang sama tidak akan berhasil untuk semua siswa. Misalnya, anak yang lebih suka praktik langsung akan lebih cepat memahami matematika lewat eksperimen, sedangkan anak yang suka membaca bisa distimulasi lewat diskusi atau literasi. Jadi, fleksibilitas metode mengajar dan perhatian terhadap minat anak menjadi kunci agar potensi bawaan mereka bisa berkembang maksimal.

    BalasHapus
  58. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Barusan saya baca studi dari Nature Communications, ternyata sekitar setengah gen buat matematika itu sama dengan gen buat membaca. istilahnya itu Generalist Genes. tetapi tetap, lingkungan itu spesialis. artinya, meskipun bakat bawaan ada, cara guru mengajar atau bagaimana kita dapat motivasi di rumah itu yang membuat beda hasil antara satu anak sama yang lain.

    BalasHapus
  59. Nama: Dias Pinasih
    Kelas: 5B PGSD
    NPM: 2386206057
    Menurut saya, materi “Apakah Gen Menentukan Kemampuan Membaca dan Matematika?” ini cukup membuka wawasan, karena menjelaskan bahwa kemampuan anak tidak hanya ditentukan oleh gen, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan proses belajar. Materi ini membuat kita sadar bahwa setiap anak punya potensi yang berbeda, dan kemampuan tersebut masih bisa dikembangkan melalui latihan, bimbingan guru, serta dukungan dari orang tua. Hal ini penting agar kita tidak mudah menyimpulkan kemampuan anak hanya dari hasil awal saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, materi ini akan lebih mudah dipahami jika ditambahkan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di sekolah dasar, seperti pengalaman siswa yang awalnya kesulitan membaca atau berhitung lalu mengalami perkembangan setelah dibimbing. Selain itu, penggunaan bahasa di beberapa bagian bisa dibuat lebih sederhana agar pembaca awam lebih mudah memahami isi materi. Dengan begitu, pesan bahwa gen bukan satu-satunya penentu keberhasilan belajar bisa lebih tersampaikan dengan jelas.

      Hapus
  60. Nama: Dias Pinasih
    Kelas: 5B PGSD
    NPM: 2386206057
    Pertanyaan:
    Izin bertanya, Pak. Berdasarkan materi tersebut, sejauh mana peran faktor genetik memengaruhi kemampuan membaca dan matematika anak, dan bagaimana peran lingkungan serta cara mengajar guru dalam membantu mengembangkan kemampuan siswa yang memiliki potensi genetik berbeda-beda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Selma Alsayanti Mariam
      Npm: 2386206038
      Kelas: VC

      Saya izin bantu menjawab ya kak dias, menurut saya faktor genetik memang mempunyai pengaruh ke kemampuan membaca dan matematika anak, misalnya ada anak yang dari awal lebih cepat menangkap huruf atau angka, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. tapi gen itu bukan penentu mutlak. gen hanya memberi modal awal, bukan hasil akhirnya. justru yang paling menentukan berkembang atau tidaknya kemampuan anak itu dari lingkungan dan cara mengajar gurunya. lingkungan yang mendukung, seperti diajak membaca, diberi latihan yang sesuai, dan suasana belajar yang nyaman, bisa membantu anak dengan kemampuan genetik apa pun untuk berkembang. anak yang awalnya lemah pun bisa meningkat kalau terus didampingi. peran guru disini penting sekali, yaitu menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan anak. guru tidak bisa menyamakan semua anak. ada yang perlu contoh konkret seperti ada yang perlu diulang-ulang, ada juga yang cukup diberi tantangan lebih. dengan pendekatan yang fleksibel dan sabar, potensi genetik anak yang berbeda-beda bisa tetap berkembang secara maksimal.

      Hapus
  61. Nama: Ajuna
    Npm: 2386206018
    Kelas: 5A
    Tentang gen membaca dan matematika ini menarik sekali karena membuka cara pandang baru kemampuan anak bukan hanya soal rajin belajar atau tidak tetapi memang ada bagian bawaan dari dalam diri mereka di penelitian ini, para ilmuwan menganalisis jutaan variasi DNA dari ribuan orang. Dari situ, mereka menemukan bahwa sekitar setengah perbedaan kemampuan matematika dan membaca pada anak-anak usia 12 tahun bisa dijelaskan oleh faktor gen.

    BalasHapus
  62. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    Pak, terima kasih atas penjelasannya. Dari artikel ini saya jadi paham kalau kemampuan membaca anak itu bukan hanya ditentukan oleh gen atau bawaan, tapi juga dipengaruhi oleh lingkungan, stimulasi, dan cara kita membimbing mereka. Jadi meskipun ada faktor genetik, peran orang tua dan guru dalam mendampingi membaca tetap sangat penting. Artikel ini sangat membuka wawasan tentang bagaimana kita sebaiknya mendukung perkembangan membaca anak.

    BalasHapus
  63. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    izin ya pak saya mau tanya, seberapa besar pengaruh lingkungan dibandingkan faktor gen dalam kemampuan membaca anak? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Selma Alsayanti Mariam
      Npm: 2386206038
      Kelas: VC

      Saya izin bantu menjawab ya kak alya, menurut saya pengaruh lingkungan itu besar sekali. bahkan sering kali lebih kelihatan hasilnya dibanding faktor gen, terutama dalam kemampuan membaca anak. gen memang punya peran, misalnya anak jadi lebih cepat atau lebih lambat menangkap huruf, tapi itu bukan penentu utama berhasil atau tidaknya anak bisa membaca. lingkungan seperti kebiasaan membaca di rumah, dukungan orang tua, cara guru mengajar, dan suasana belajar sangat berpengaruh. anak yang sering diajak membaca, didampingi, dan diberi semangat biasanya berkembang lebih cepat, walaupun kemampuan awalnya biasa saja. sebaliknya, anak yang punya potensi tapi lingkungannya kurang mendukung bisa jadi tertinggal. jadi bisa dikatakan, gen itu bawaan, tapi lingkungan yang mengasah. dengan lingkungan yang tepat dan pendampingan yang konsisten, kemampuan membaca anak bisa terus berkembang, meskipun dari awal ada keterbatasan genetik.

      Hapus
  64. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, penelitian ini menunjukkan bahwa faktor genetik memengaruhi kemampuan matematika dan membaca anak. Para peneliti menemukan bahwa banyak gen bekerja pada kedua kemampuan tersebut. Gen-gen tersebut tidak bekerja secara tunggal, melainkan secara bersama-sama. Hasil penelitian menegaskan bahwa kemampuan belajar bersifat kompleks. Studi ini menggunakan data DNA sebagai pendekatan baru. Pendekatan ini memperkuat temuan studi kembar sebelumnya. Temuan ini membuka arah baru penelitian pendidikan dan perilaku.

    BalasHapus
  65. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Penelitian ini menegaskan bahwa gen tidak menentukan hasil belajar secara mutlak. Gen hanya memberikan kecenderungan, bukan kepastian prestasi. Anak tetap membutuhkan motivasi dan kepercayaan diri untuk berkembang. Minat belajar memengaruhi pencapaian akademik secara signifikan. Lingkungan belajar membantu mengaktifkan potensi genetik anak. Guru berperan penting dalam membentuk pengalaman belajar. Proses pendidikan tetap menjadi faktor penentu utama.

    BalasHapus
  66. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Hasil penelitian ini mendukung Hipotesis Gen Umum. Gen memengaruhi berbagai kemampuan belajar secara bersamaan. Lingkungan justru bersifat lebih spesifik terhadap mata pelajaran. Guru matematika dan guru bahasa memiliki pendekatan yang berbeda. Kelas memerlukan strategi pembelajaran yang bervariasi. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan potensi siswa. Pendidikan perlu menyesuaikan metode dengan kebutuhan siswa.

    BalasHapus
  67. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Penelitian ini menyoroti pentingnya personalisasi pembelajaran. Lingkungan belajar membentuk perbedaan prestasi antarindividu. Pengalaman hidup memengaruhi minat dan aspirasi siswa. Sekolah menyediakan ruang eksplorasi bakat yang beragam. Guru membantu siswa menemukan kekuatan akademiknya. Sistem pendidikan tidak bisa menerapkan pendekatan seragam. Pembelajaran yang fleksibel menjadi kunci keberhasilan.

    BalasHapus
  68. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Temuan ini memberikan implikasi penting bagi kebijakan pendidikan. Pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan faktor biologis. Lingkungan belajar perlu dirancang secara mendukung. Sekolah harus menumbuhkan efikasi diri dan minat belajar. Guru mendorong usaha dan ketekunan siswa. Pendekatan berbeda diperlukan untuk setiap anak. Pendidikan berkualitas lahir dari perpaduan gen dan lingkungan.

    BalasHapus
  69. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi Pak, kalau saya baca dari materi ini, menarik sekali melihat bahwa kemampuan membaca dan matematika ternyata saling berkaitan secara genetik. Selama ini kita sering menganggap dua kemampuan itu benar-benar terpisah, padahal dari penelitian ini terlihat bahwa banyak gen yang bekerja di kedua bidang tersebut. Menurut saya, temuan ini penting supaya kita tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa seorang anak “lemah” di satu mata pelajaran, karena kemampuan belajar itu terbentuk dari kombinasi faktor yang cukup kompleks.

    BalasHapus
  70. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Saya setuju Pak, pendekatan penelitian yang menggunakan data DNA ini terasa cukup revolusioner dibandingkan penelitian sebelumnya yang mengandalkan studi kembar. Selain lebih praktis, hasilnya juga memperkuat temuan lama dengan bukti biologis yang lebih langsung. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa riset pendidikan sekarang semakin terbuka untuk dikaji dari berbagai sudut, termasuk genetika, tanpa harus menyederhanakan masalah belajar hanya dari sisi metode pengajaran saja.

    BalasHapus
  71. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Menurut saya materi di atas, fakta bahwa tidak ada satu gen tertentu yang dominan dalam menentukan kemampuan membaca atau matematika justru membuat kita lebih paham bahwa kemampuan akademik bukan soal bakat tunggal. Banyak gen kecil yang saling bekerja, ditambah dengan pengaruh lingkungan. Dari sini saya melihat bahwa sistem pendidikan yang terlalu seragam sebenarnya kurang adil, karena setiap siswa membawa kombinasi potensi yang berbeda-beda.

    BalasHapus
  72. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi Pak, konsep Hipotesis Gen Umum yang dijelaskan cukup menarik untuk dikaitkan dengan praktik di sekolah. Walaupun gen bersifat umum, lingkungan belajar justru menjadi faktor pembeda yang sangat menentukan. Cara guru mengajar, suasana kelas, dan pendekatan pembelajaran yang digunakan bisa membuat seorang siswa lebih berkembang di satu mata pelajaran dibandingkan yang lain. Menurut saya, ini menjelaskan mengapa peran guru tetap sangat krusial meskipun ada faktor genetik.

    BalasHapus
  73. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Saya setuju Pak, penjelasan bahwa gen hanya memberi kemungkinan, bukan kepastian, terasa sangat relevan dengan kondisi nyata di lapangan. Banyak siswa yang sebenarnya punya potensi, tetapi tidak berkembang karena kurang percaya diri, kurang motivasi, atau tidak merasa nyaman dengan cara belajar yang diterapkan. Menurut saya, bagian ini penting agar pendidikan tidak terjebak pada anggapan bahwa kemampuan anak sudah “ditentukan sejak lahir”.

    BalasHapus
  74. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak, membaca materi ini membuat saya merasa bahwa tekanan pada pencapaian akademik, terutama matematika, sering kali terlalu besar. Padahal dari penelitian ini terlihat jelas bahwa peningkatan kemampuan tidak bisa hanya dipaksakan lewat target angka atau standar yang sama untuk semua. Menurut saya, kunci utamanya ada pada lingkungan belajar yang mendukung, pendekatan yang lebih personal, dan pemahaman bahwa setiap anak berkembang dengan caranya masing-masing.

    BalasHapus
  75. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya pak, apa peran lingkungan dalam menciptakan perbedaan spesifik pada kemampuan anak? kemudian mengapa pendekatan belajar perlu dipersonalisasikan sesuai dengan mata pelajarannya?

    BalasHapus
  76. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya kembali pak, apa saja keunggulan metode genome wide association dibandingkan dengan studi anak kembar tradisional? lalu bagaimana lingkungan belajar bisa mengatasi ketertinggalan kinerja rata-rata yang mempunyai dasar biologis?

    BalasHapus
  77. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Menurut saya, materi ini menjelaskan bahwa gen tidak bekerja secara tunggal, tetapi memberikan kecenderungan awal yang kemudian dipengaruhi oleh lingkungan dan hal ini tidak hanya berlaku pada kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan matematika. Penelitian genetik menunjukkan bahwa sekitar setengah dari perbedaan individu dalam kemampuan membaca dan matematika dapat dijelaskan oleh faktor genetik, dan bahwa banyak gen yang sama memengaruhi kedua kemampuan ini (bukan hanya membaca saja) yang mana artinya gen-gen yang memengaruhi keterampilan bahasa juga seringkali ikut memengaruhi keterampilan numerik dasar seperti menghitung atau memecahkan soal matematika. Namun, perlu diingat bahwa gen memberi “potensi”, bukan hasil pasti faktor lingkungan seperti kualitas pengajaran, dukungan orang tua, latihan yang konsisten, motivasi, dan suasana belajar jugalah yang menentukan sejauh mana potensi tersebut berkembang menjadi kemampuan nyata. Dengan kata lain, seorang anak yang genetiknya cenderung kuat dalam numerasi akan tetap membutuhkan lingkungan belajar yang tepat agar mampu mengekspresikan potensi matematikanya secara optimal.

    BalasHapus
  78. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Secara gen atau genetik atau bagi seorang anak kemudahan mempelajari membaca
    Tapi di lingkungan yang keras akan membangun karakter moralitas anak sehingga anak dapat berkembang baik dalam pendidikan maupun secara sosial terhadap sesama mereka jadi gen sangat pengaruh terhadap anak di lingkungan keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi gen anak yang pertama di lingkungan keluarga biasanya anak akan didik oleh orang tua untuk mereka bisa berkembang baik di kehidupan mereka jadi orang tua sangat penting bagi anak untuk membimbing mereka masa pertumbuhan mereka dan di lingkungan sekolah juga guru berperan penting bagi siswa yaitu mengajarkan untuk saling belajar lebih giat dan saling membantu sesama yang lain.

      Hapus
  79. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    izin menanggapi pak saya sangat setuju bahwa gen bukan penentu nasib anak selamanya karena gen cuma kasih kemungkinan saja sedangkan semangat dan rasa percaya diri tetap jadi kunci paling penting buat anak anak bisa sukses di sekolah nanti

    BalasHapus
  80. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    izin berpendapat pak saya setuju bahwa lingkungan dan pengalaman hidup itu sangat penting buat menentukan anak lebih jago di satu mata pelajaran tertentu saya rasa ini adil karena artinya setiap anak tetap punya kesempatan buat jadi hebat kalau mereka ketemu guru yang tepat

    BalasHapus
  81. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NP. : 2386206003

    izin masuk pak menurut saya usaha untuk memperbaiki nilai matematika lewat perbaikan lingkungan belajar adalah langkah yang tepat saya setuju karena jika secara biologi kita semua punya potensi yang sama maka yang perlu diperbaiki cuma cara kita mengajar saja agar lebih mudah dimengerti

    BalasHapus
  82. Kalau menurut saya, melihat kemampuan membaca hanya dari faktor gen bisa bikin kita salah kaprah. Misalnya, anak yang lambat membaca sering dihakimi sebagai “tidak berbakat”, padahal mungkin dia kurang mendapat pengalaman baca yang tepat di rumah atau sekolah. Padahal kemampuan membaca bisa dilatih, dibimbing, dan diperkuat lewat proses pembelajaran yang konsisten.

    BalasHapus
  83. Izin masuk sedikit pak karena keterampilan ini melibatkan banyak aspek (bahasa, pemahaman, pengalaman), wajar kalau perbedaan antara anak satu dan lainnya itu muncul. Tapi itu bukan berarti gen sepenuhnya menentukan hasil akhirnya.

    BalasHapus
  84. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Tulisan ini memberi pemahaman yang seimbang bahwa kemampuan membaca dan matematika memang dipengaruhi faktor genetik, tetapi tidak bersifat menentukan nasib anak. Penekanan bahwa lingkungan, motivasi, dan pendekatan belajar yang tepat tetap memegang peran besar sangat penting, karena hal ini menguatkan peran guru dan orang tua dalam membantu setiap anak mengembangkan potensi uniknya melalui dukungan dan pembelajaran yang lebih personal.

    BalasHapus
  85. Nama : Miftahul Hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    materi ini menimbulkan pertanyaan besar bagi saya: kalau gen bisa berpengaruh terhadap kemampuan membaca, apakah itu berarti bagi anak-anak dengan “bakat genetik rendah” peluang mereka lebih kecil? Tapi saya baca juga bahwa faktor lingkungan — seperti stimulasi literasi di rumah/sekolah — sangat berperan dalam perkembangan membaca. Menurut Bapak, di kondisi nyata di Indonesia (dengan variasi besar di lingkungan keluarga dan sekolah), mana yang lebih krusial: gen atau lingkungan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Izin menjawap pertanyaan dari mifta, Kalau menurut saya, di konteks nyata Indonesia, lingkungan jauh lebih krusial daripada gen. Gen itu ibarat modal awal , tapi lingkungan yang nentuin modal itu kepake atau malah nganggur ank dengan bakat genetik rendah bukan berarti peluangnya kecil kalau dapet stimulasi literasi yang oke, guru yang sabar, dan suasana belajar yang suportif, kemampuan bacanya tetap bisa berkembang jauh.

      Hapus
    2. Tambahan sedikit seperti yg sudah nyata dan terjadi di indonesia negara kita gap lingkungan rumah dan sekolah gede banget jdi pengaruh gen sering kalah sama faktor kayak kebiasaan dibacain buku, akses bacaan, metode ngajar, dan kepercayaan diri anak. Intinya, gen ngasih potensi, tapi lingkungan yang nentuin hasil. Makanya tugas pendidikan bukan nebak bakat dari DNA, tapi nyiapin lingkungan yang adil biar semua anak punya kesempatan berkembang.

      Hapus
  86. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: VC
    ini kayak ngasih tamparan halus ke pola pikir anak ini emang nggak berbakat matematika atau dia cuma jago baca doang, Faktanya, gen emang punya peran besar, bahkan gen yang ngaruh ke baca dan matematika itu banyak yang sma tpi poin pentingnya gen bukan vonis gen cuma ngasih potensi, bukan hasil akhir jdi punya bakat tanpa lingkungan yang mendukung ya tetap nggak ke mana-mana Anak bisa aja punya bakat, tapi kalau lingkungannya nggak mendukung, ya nggak berkembang yg paling penting justru lingkungan belajar: guru, metode, motivasi, dan kepercayaan diri krna tiap anak beda, pendekatan belajar juga nggak bisa disamain soo jangan buru-buru nyalahin gen pendidikan tetap punya peran besar buat ngeluarin potensi tiap individu.

    BalasHapus
  87. Izin menanggapi pak Materi ini sangat informatif, kritis, dan menyeimbangkan sains dengan perspektif pendidikan. Tulisan ini berhasil mematahkan pandangan sederhana bahwa kemampuan membaca dan matematika sepenuhnya ditentukan oleh bakat genetik.Dengan merujuk pada riset mutakhir berbasis DNA, materi ini menegaskan bahwa gen memang berperan, tetapi bekerja secara kompleks, saling tumpang tindih, dan tidak pernah berdiri sendiri tanpa pengaruh lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjut Yang menarik, penjelasan tentang tidak ditemukannya satu gen jenius justru memperkuat pesan edukatif yang penting bagi guru setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui pengalaman belajar yang tepat. Ini membuat materi relevan secara akademik sekaligus humanis, karena mendorong guru untuk fokus pada intervensi pembelajaran, bukan pelabelan kemampuan siswa.Secara keseluruhan, materi ini bukan hanya memperkaya pemahaman tentang hubungan genetika dan belajar, tetapi juga mengajak pendidik lebih optimis dan adil dalam memandang kemampuan peserta didik bahwa pendidikan yang berkualitas tetap memiliki peran besar dalam membentuk keberhasilan belajar anak.

      Hapus
  88. Izin bertanya pak Bagaimana risiko kesalahan interpretasi hasil penelitian genetik jika digunakan langsung dalam kebijakan pendidikan dan penilaian kemampuan siswa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Risiko terbesar dari kesalahan interpretasi hasil penelitian genetik adalah munculnya pandangan determinisme, di mana kemampuan siswa dianggap sudah tetap sejak lahir, sehingga memicu pelabelan (labeling) yang bisa menurunkan semangat belajar siswa dan ekspektasi guru di kelas. Jika kebijakan pendidikan hanya berfokus pada profil genetik, kita berisiko mengabaikan fakta penting bahwa gen hanyalah pemberi fondasi atau kecenderungan, sementara hasil akhirnya tetap sangat bergantung pada proses latihan dan kualitas pengajaran.semoga membantu

      Hapus
  89. gen itu memberi fondasi atau kecenderungan tapi kemampuan membaca itu banyak ditentukan juga oleh latihan kebiasaan membaca dukungan keluarga guru dan pengalaman belajar en bisa memberi modal awal tapi lingkungan yang tepat lah yang bikin kemampuan membaca itu benar berkembang

    BalasHapus
  90. Saya sangat tertarik dengan konsep Hipotesis Gen Umum yang dijelaskan dalam artikel ini, karena memberikan pemahaman baru bahwa gen memberikan dasar yang bersifat umum sementara lingkungan lah yang berperan spesifik dalam membentuk keahlian tertentu.

    BalasHapus
  91. Menurut pendapat saya, poin mengenai peran guru sangatlah krusial, di mana seorang pendidik harus mampu menawarkan cara atau pendekatan yang berbeda guna memicu dan mengeluarkan potensi genetik yang unik dari setiap siswa.

    BalasHapus
  92. Saya sangat setuju bahwa lingkungan berkualitas memiliki peran besar, karena tanpa dukungan lingkungan yang tepat, fondasi genetik yang dimiliki anak tidak akan pernah bisa bertransformasi menjadi keberhasilan belajar yang nyata.

    BalasHapus
  93. Membaca penjelasan ini menyadarkan saya bahwa kita tidak boleh melihat potensi anak secara kaku, melainkan harus fokus pada bagaimana menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu mengakomodasi perbedaan profil genetik setiap individu.

    BalasHapus
  94. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5C
    pak saya penasaran artikel menyentil kemungkinan dampak gen, tapi apakah ini bisa membuat guru atau orang tua jadi pesimis kalau anaknya “kurang genetik”? Bagaimana caranya supaya kita tetap optimis dan mendukung siswa — terutama yang awalnya kesulitan — tanpa otomatis mengaitkan masalah membaca dengan faktor keturunan?

    BalasHapus
  95. Sebuah studi yang diterbitkan di Nature communications benar-benar membuktikan bahwasannya seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik seperti kemampuan membaca yang baik dan kemampuan matematika yang baik tidak selamanya diturunkan oleh gen dan dipengaruhi oleh lingkungan, kemampuan tersebut bisa juga dihasilkan melalui motivasi yang ditanamkan dalam dirinya, kepercayaan diri ,dan minat yang tinggi mengenai kegiatan membaca yang lebih daripada yang lainnya dan ingin atau menyukai bidang matematika.
    Namun pada laman ini juga ditekankan bahwasanya penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan menyoroti peran penting lingkungan yang dapat membuat seseorang lebih unggul dalam satu pelajaran dibandingkan yang lain. Berarti lingkungan ataupun gen menurut saya sama-sama bisa mempengaruhi seseorang dalam menentukan kemampuan membaca dan matematika, namun kembali lagi kepada diri masing-masing ketika menyukai kegiatan yang santai namun memberikan informasi yang banyak maka bisa memulainya dengan meningkatkan kemampuan membaca, sedangkan jika ingin kehidupannya selalu tertata rapi dengan perhitungan yang tepat atau analisa yang baik untuk kedepannya maka seseorang harus memulainya dengan mempelajari matematika.

    BalasHapus
  96. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    hubungan antara faktor genetik dan kemampuan membaca serta matematika. Dijelaskan bahwa gen memang berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu kemampuan seseorang. Lingkungan, pendidikan, dan pengalaman belajar juga memiliki peran yang sangat besar. Hal ini membuat pembaca memahami bahwa kemampuan akademik dapat terus dikembangkan.

    BalasHapus
  97. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Materi ini menekankan bahwa pengaruh gen terhadap kemampuan membaca dan matematika bersifat kompleks. Tidak semua kemampuan diturunkan secara langsung melalui gen. Faktor latihan, metode pembelajaran, dan dukungan lingkungan sangat memengaruhi hasil belajar. Dengan penjelasan ini, pembaca dapat melihat bahwa setiap anak memiliki peluang untuk berkembang.

    BalasHapus
  98. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Pembahasan dalam materi ini membuka wawasan bahwa kemampuan belajar tidak boleh dilihat secara kaku. Anak yang awalnya mengalami kesulitan tetap dapat meningkat jika mendapatkan bimbingan yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru dan orang tua sangat penting dalam proses belajar. Materi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai proses belajar setiap individu.

    BalasHapus
  99. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5DPGSD
    Npm: 2386206090

    perbedaan kemampuan membaca dan matematika adalah hal yang wajar. Setiap individu memiliki potensi dan kecepatan belajar yang berbeda. Dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai, potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Materi ini mengajarkan pentingnya pendidikan yang inklusif dan adil.

    BalasHapus
  100. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    memberikan pemahaman yang seimbang antara peran gen dan lingkungan dalam kemampuan akademik. Penjelasan yang disampaikan membantu menghindari anggapan bahwa kemampuan ditentukan sejak lahir. Materi ini mendorong pembaca untuk lebih fokus pada usaha dan proses belajar. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan potensi setiap individu.

    BalasHapus
  101. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi Bapak, menurut saya gen emang punya pengaruh lumayan gede buat nentuin seberapa jago seseorang pas baca atau ngerjain soal matematika. Jadi, para peneliti itu nemu kalau faktor keturunan atau DNA tuh nyumbang sekitar setengah dari variasi kemampuan belajar kita. Uniknya lagi, gen yang bikin pinter matematika biasanya sama juga sama gen yang ngebantu pas belajar baca, jadi kayak satu paket gitu dari lahir. Tapi ya tetep aja, meskipun cetak birunya udah ada di DNA, lingkungan kayak cara guru ngajar atau sesering apa latihan di rumah tetep punya peran penting buat nentuin hasil akhirnya nanti.

    BalasHapus
  102. nama:virginia jau
    kelas:vd
    npm:2386206089
    Terima kasih banyak pak atas artikel yang sangat mendalam dan menyeimbangkan ini! Saya baru saja selesai membaca dan langsung merasa lega sekaligus termotivasi. Selama ini banyak orang (termasuk beberapa guru dan orang tua di sekitar saya) yang terlalu cepat menyimpulkan “ya sudah, anak ini memang genetiknya kurang di bidang membaca/matematika, susah dikejar”. Padahal dari penjelasan artikel ini jelas sekali bahwa hereditabilitas sekitar 50% itu hanyalah probabilitas awal, bukan ramalan nasib. Yang paling mengena buat saya adalah bagian Hipotesis Gen Umum: gen cenderung bersifat umum (banyak yang sama memengaruhi membaca sekaligus matematika), tapi justru lingkungan yang spesifik lah yang menentukan mengapa anak bisa jago di satu bidang tapi tertinggal di bidang lain. Ini menjelaskan kenapa ada anak yang super cepat ngitung tapi bacaannya masih tersendat, atau sebaliknya. Jadi tanggung jawab kita sebagai pendidik dan orang tua menjadi jauh lebih besar: bukan menyerah pada “DNA-nya begitu”, melainkan menciptakan lingkungan yang tepat untuk memicu minat, membangun efikasi diri, dan mendorong usaha berkelanjutan. Pesan penutupnya tentang perlunya personalisasi benar-benar powerful. Pendekatan yang sama untuk semua anak memang tidak akan berhasil. Makasih banyak, artikel ini seperti pengingat bahwa pendidikan itu bukan soal menyalahkan gen, tapi soal bagaimana kita “mengaktifkan” potensi yang sudah ada. Semoga semakin banyak yang membaca dan mengubah pola pikirnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama :virgnia jau
      kelas:vd
      npm:2386206089
      Wow, artikel ini benar-benar membuka mata saya sebagai mahasiswa sekaligus guru les privat. Bagian yang paling saya sukai adalah ketika bapak menjelaskan bahwa studi DNA langsung (bukan hanya studi kembar) sekarang sudah bisa memperkirakan pengaruh genetik hingga lebih dari 50% untuk kemampuan membaca dan matematika pada anak usia 12 tahun. Itu angka yang cukup besar, tapi yang membuat saya salut adalah cara penulis tidak berhenti di situ dan langsung mengingatkan bahwa gen bukan penentu akhir, melainkan starting point. Saya setuju banget dengan analogi “gen lebih mungkin menemukan tim daripada pemain bintang” – tidak ada satu gen ajaib yang membuat anak langsung jago baca atau matematika, melainkan kumpulan variasi kecil yang bekerja bersama. Yang bikin saya berpikir keras adalah bagian tentang tumpang tindih genetik hampir 50% antara membaca dan matematika. Artinya, anak yang punya potensi genetik bagus untuk salah satunya sebenarnya juga punya dasar bagus untuk yang lain – tinggal bagaimana lingkungan (guru, metode belajar, suasana rumah, motivasi diri) mengarahkan potensi itu. Ini menguatkan keyakinan saya bahwa kalau kita bisa membangun minat dan rasa percaya diri anak sejak dini, potensi genetik apapun bisa “dibuka” jauh lebih optimal. Terima kasih atas penjelasan yang ilmiah tapi tetap mudah dicerna dan empowering.

      Hapus
    2. nama :virginia jau
      kleas:vd
      npm:2386206089
      Artikel yang sangat bagus dan penting di era sekarang, di mana orang sering terjebak dalam pemikiran determinisme genetik yang berlebihan. Saya suka sekali bagaimana bpak menyajikan data ilmiah dari studi terbaru (analisis jutaan variasi DNA pada ribuan anak) tapi tetap menjaga perspektif yang sehat dan tidak menakut-nakuti pembaca. Temuan bahwa lebih dari setengah variasi kemampuan membaca dan matematika bisa dijelaskan oleh gen memang signifikan, tapi penekanan bahwa gen hanya memberi kapasitas, bukan menjamin pencapaian itu yang paling berharga. Bagian tentang pentingnya minat, usaha, dan efikasi diri sebagai “pemicu” lingkungan benar-benar menguatkan keyakinan saya sebagai orang tua. Anak anak sendiri kadang terlihat “lambat” di satu bidang, tapi setelah kita coba pendekatan yang lebih menyenangkan dan personal, perkembangannya luar biasa. Ini membuktikan bahwa 50% yang bukan genetik itu bukan sekadar angka, melainkan ruang besar untuk intervensi positif. Pesan penutup tentang perlunya personalisasi dalam pendidikan juga sangat relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Kalau kita terus pakai pendekatan seragam, banyak potensi anak yang terbuang sia-sia. Terima kasih bapak tulisan ini bukan hanya pengetahuan baru, tapi juga suntikan semangat untuk terus memperbaiki lingkungan belajar anak-anak kita!

      Hapus
  103. Nama : Reslinda
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206067

    Sangat menarik menyimak bahasan dalam tulisan ini. Sering kali ada stigma bahwa kemampuan akademik adalah bawaan lahir yang tidak bisa diubah. Namun, melalui artikel ini, Bapak menekankan bahwa lingkungan dan stimulasi yang tepat tetap memiliki ruang besar untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Ini merupakan pesan yang sangat optimis bagi dunia pendidikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Reslinda
      Kelas : 5C
      Npm : 2386206067

      Saya sangat setuju dengan argumen Bapak bahwa genetik mungkin memberikan peta jalan, namun lingkunganlah yang menentukan sejauh mana perjalanan itu berlangsung. Saya sepakat bahwa meskipun ada kecenderungan genetik tertentu, intervensi dini dan budaya literasi yang kuat di rumah maupun di sekolah tetap menjadi kunci utama. Mengetahui bahwa genetik berpengaruh seharusnya tidak membuat kita menyerah pada keadaan, melainkan justru membuat kita lebih sadar untuk memberikan dukungan yang lebih spesifik bagi mereka yang memiliki hambatan biologis tertentu dalam membaca.

      Hapus
  104. Nama : Reslinda
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206067

    Terkait pengaruh lingkungan yang Bapak bahas, di antara faktor-faktor eksternal seperti ketersediaan buku, cara mengajar guru, atau dukungan emosional orang tua, mana yang menurut riset memiliki korelasi paling kuat dalam menutupi kekurangan genetik pada kemampuan membaca seseorang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Reslinda
      Kelas : 5C
      Npm : 2386206067

      Izin bertanya lebih lanjut, Pak. Mengingat adanya faktor genetik ini, apakah menurut Bapak perlu dilakukan semacam screening dini berbasis kecenderungan genetik di sekolah untuk menentukan metode pengajaran membaca yang paling pas bagi setiap individu?

      Hapus
    2. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Izin menjawab pertanyaan yang pertama dari reslinda, menurut saya sulit untuk menunjuk satu faktor sebagai "pemenang" mutlak karena ketiganya bekerja secara sinergis. Namun, jika kita melihat mana yang paling kuat dalam menutupi (mengkompensasi) hambatan genetik, urutannya biasanya seperti Dukungan Emosional dan Motivasi Faktor Utama, Korelasi paling kuat untuk kompensasi biasanya ditemukan pada kombinasi Dukungan Emosional sebagai bahan bakar dan Cara Mengajar Guru sebagai mesinnya Lingkungan rumah yang penuh kasih sayang membuat anak berani mencoba, sementara teknik guru yang tepat membuat usaha mereka membuahkan hasil.

      Hapus
  105. Nama : Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C Pgsd
    Npm : 2386206082

    izin menanggapi pak,Materi ini menarik karena membahas apakah kemampuan membaca ditentukan oleh gen atau faktor lain. Menurut saya, walaupun gen bisa berpengaruh, lingkungan dan cara belajar juga sangat penting. Karena ini menekankan bahwa setiap anak bisa dilatih membaca dengan baik jika mendapat bimbingan yang tepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Yormatiana Datu Limbong
      Kelas : 5C Pgsd
      Npm : 2386206082

      saya juga ingin bertanya pak, seberapa besar pengaruh gen dibandingkan lingkungan dan cara belajar anak?

      Hapus
    2. Nama : Yormatiana Datu Limbong
      Kelas : 5C Pgsd
      Npm : 2386206082

      izin bertanya lagi pak, apakah ada metode khusus yang paling efektif untuk anak yang memiliki hambatan membaca sejak kecil?

      Hapus
    3. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      Aku coba bantu jawab yah Yormatiana. Singkatnya, gen dan lingkungan sama-sama penting, tapi perannya tentu beda. Kalau gen memberi modal awal atau potensi dasarseperti sekitar setengah pengaruh kemampuan membaca dan matematika, sedangkan lingkungan dan cara belajar menentukan apakah potensi itu berkembang atau nggak. Jadi, gen bukan penentu nasib dengan cara mengajar, dukungan orang tua, pengalaman belajar, dan motivasi anak justru sangat menentukan hasil akhirnya.

      Hapus
    4. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      nah untuk pertanyaanmu yang 1 lagi. Kalau sepengetahuanku sih ada yah, tapi nggak ada satu metode yang paling ampuh untuk semua anak. Yang paling efektif biasanya pendekatan bertahap dan personal. Misalnya, latihan membaca yang rutin dan menyenangkan, pendekatan fonik (mengenal bunyi huruf), banyak membaca bersama, dan mengaitkan bacaan dengan minat anak. Yang penting, anak tidak ditekan seperti lingkungan yang suportif, sabar, dan konsisten sering kali lebih berpengaruh daripada metode yang terlihat canggih.

      Hapus
  106. Nama : Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C Pgsd
    Npm : 2386206082

    Ternyata faktor genetik pengaruhnya besar juga ya buat kemampuan baca anak. Tapi kalau memang gen itu berpengaruh, sejauh mana lingkungan sekolah bisa bantu anak yang bawaannya sulit baca? Apa ada metode khusus biar mereka nggak merasa tertinggal dari teman-temannya yang lain?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Izin menjawab pertanyaan dari yorma, menurut saya Gen mungkin menentukan batas bawah dan atas potensi seseorang, tapi lingkunganlah yang menentukan apakah potensi itu tercapai atau tidak. Karena penelitian menyebut ada tumpang tindih gen antara baca dan matematika, gunakan kekuatan mereka di satu bidang untuk menarik bidang lainnya Jika mereka lebih suka angka, ajarkan membaca melalui pola-pola atau soal cerita matematika yang sederhana. Ini memicu jalur genetik yang sama dari sudut yang mereka sukai.

      Hapus
  107. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: VC
    Menarik banget materi ini soalnya lebih mendalam poin yang paling kuat di sini adalah bahwa gen bukan ramalan nasib. Meskipun secara biologis kemampuan baca dan matematika dipengaruhi oleh kumpulan gen yang mirip Hipotesis Gen Umum), lingkungan tetap menjadi penentu utama. Artinya, seorang anak mungkin punya mesin yang sama kuatnya untuk baca dan hitung, tapi kalau lingkungan kelasnya hanya mendukung bacaan dan membuat matematika menakutkan, maka potensi hitungnya akan terkubur. Inilah kenapa peran kita sebagai guru sangat krusial.

    BalasHapus
  108. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: VC
    Gen adalah Probabilitas, Lingkungan adalah Kunci seperti kamu beruntung tapi dengan usaha kamu jauh lebih beruntung dan hebat, Tidak Ada Gen Ajaib Menarik sekali bahwa penelitian ini tidak menemukan gen pemain bintang tapi tim pemain dna Ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar itu sangat kompleks. Sebagai guru, kita tidak bisa lagi melabeli anak dengan sebutan bakat matematikam atau bukan bakat matematika. Yang ada adalah anak-anak dengan berbagai tingkat potensi yang menunggu personalisasi yang tepat untuk bisa meledak prestasinya.

    BalasHapus
  109. (Fokus ke Gen vs Lingkungan)
    ​Bapak, setelah saya baca-baca materi ini, saya jadi kepikiran ternyata urusan anak pinter matematika atau jago baca itu nggak cuma soal mereka belajar rajin atau enggak ya. Jujur, baru tahu kalau gen itu punya peran besar, bahkan katanya sampai setengahnya itu saling nyambung antara kemampuan baca sama hitung-hitungan. Tapi yang bikin saya lega sebagai calon guru, ternyata gen itu bukan harga mati. Kayak yang dibilang di materi tadi, gen itu cuma kasih peluang, bukan ramalan masa depan yang nggak bisa diubah.
    ​Artinya, nanti kalau saya sudah jadi guru dan ketemu murid yang mungkin kesulitan di matematika tapi jagonya minta ampun di bahasa, saya nggak boleh langsung nyerah. Bisa jadi memang gen spesifiknya beda, atau lingkungannya yang belum pas. Tanggung jawab kita nanti ya nyari cara supaya potensi mereka yang "tersembunyi" itu bisa keluar lewat pendekatan yang lebih personal. Intinya sih, gen emang bawaan dari lahir, tapi lingkungan dan motivasi dari kita nanti yang bakal nentuin mereka bakal sejauh mana. Jadi nggak sabar pengen belajar cara nanganin karakter murid yang beda-beda kayak gitu nanti di kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanggapan Rakinah mengenai materi Genetik vs Lingkungan dalam konteks pendidikan sangat menarik dan menunjukkan pemahaman yang mendalam bagi seorang calon guru SD (PGSD), menangkap konsep bahwa genetik (nature) memang memberikan "blueprint" atau potensi dasar, namun lingkungan (nurture) adalah faktor yang menentukan apakah potensi tersebut akan berkembang maksimal atau tidak. Pernyataan bahwa gen adalah "peluang, bukan ramalan masa depan" adalah pola pikir (mindset) yang sangat krusial bagi seorang pendidik agar tidak memberikan label permanen kepada siswa.Dalam psikologi pendidikan, kemampuan kognitif seperti matematika dan bahasa memang dipengaruhi oleh banyak gen (poligenik). Namun, ada yang disebut dengan Epigenetik, di mana pengalaman hidup dan lingkungan dapat memicu atau justru "mematikan" ekspresi gen tertentu. Jadi, benar sekali bahwa tugas guru adalah menyediakan "lingkungan yang pas" agar gen positif anak bisa terekspresi. Jadi, Sebagai calon guru PGSD, memiliki empati dan pemahaman saintifik tentang perbedaan individu akan membantu Rakinah menciptakan kelas yang inklusif, di mana setiap anak merasa memiliki kesempatan untuk sukses tanpa terhalang oleh keterbatasan bawaannya.

      Hapus
  110. Fokus ke Peran Kita Sebagai Calon Pendidik)
    ​Menarik banget materinya, Bapak. Saya jadi dapet pandangan baru soal kenapa ada anak yang prestasinya beda-beda. Ternyata gen itu nggak kerja sendirian, kayak tim yang saling bantu gitu ya, bukan cuma satu gen pinter yang nentuin segalanya. Terus yang paling saya garis bawahi itu bagian lingkungan bersifat spesifik. Jadi meskipun secara genetik anak punya bakat, kalau lingkungannya—termasuk cara ngajar gurunya nanti—nggak pas, ya potensi itu nggak bakal muncul maksimal.
    ​Sebagai mahasiswa yang nanti bakal terjun ke sekolah, saya jadi sadar kalau kita nggak bisa pakai cara yang sama buat semua anak. Tiap anak punya "resep" sendiri-sendiri supaya mereka bisa paham materi. Kalau ada anak yang telat paham, mungkin memang cara pendekatannya yang harus kita ulik lagi, bukan anaknya yang nggak mampu. Materi ini bikin saya makin paham kalau tugas kita nanti bukan cuma mindahin ilmu dari buku ke otak murid, tapi juga jadi bagian dari "lingkungan" yang ngebantu gen mereka bekerja lebih baik. Jadi ngerasa punya tantangan tersendiri sih buat nyiapin diri jadi guru yang bisa ngertiin kondisi tiap murid yang unik-unik itu.

    BalasHapus
  111. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menambahkan Pak, menurut saya ada beberapa gen spesifik yang tugasnya ngatur gimana otak kita ngolah suara dan nangkep simbol visual jadi kata-kata yang punya makna. Kalau gen ini kerjanya oke, biasanya anak bakal lebih cepet lancar bacanya, tapi kalau ada variasi tertentu, bisa jadi pemicu kondisi kayak disleksia. Tapi ya tetep aja gen itu bukan harga mati ya, karena lingkungan kayak sesering apa kita dibacain buku atau gimana cara guru ngajar di kelas tetep punya peran gede banget buat nentuin kita bakal sejago apa pas baca nantinya.

    BalasHapus
  112. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menambahkan Pak, menurut saya biasanya anak bakal lebih cepet lancar bacanya, tapi kalau ada variasi tertentu, bisa jadi pemicu kondisi kayak disleksia. Tapi ya tetep aja gen itu bukan harga mati ya, karena lingkungan kayak sesering apa kita dibacain buku atau gimana cara guru ngajar di kelas tetep punya peran gede banget buat nentuin kita bakal sejago apa pas baca nantinya.

    BalasHapus
  113. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin menanggapi pak terkait materi diatas genetik emang punya pengaruh sekitar 50% sampai 80% dalam nentuin seberapa jago seseorang belajar baca karena faktor keturunan itu ngatur perkembangan saraf di otak. Tapi tenang aja, gen bukan segalanya kok, karena dukungan lingkungan kayak kebiasaan baca di rumah dan metode belajar yang asyik tetep bisa banget bikin kemampuan baca seseorang jadi makin mantap.

    BalasHapus
  114. NPM : 2386206060
    untuk gen sebagai probabilitas, bukan penentu pasti ini bagian yang paling “nampol” menurutku gen itu bukan takdir mutlak cuma nunjukin kemungkinan bukan kepastian yang artinya anak punya kecenderungan tertentu hasil akhirnya tetap bisa berubah tergantung apa yang dia alami Ini bikin sudut pandang kita jadi lebih optimis anak nggak perlu dikotak-kotakin sejak awal Semua masih bisa berkembang asal dikasih kesempatan, dukungan dan proses belajar yang tepat

    BalasHapus
  115. NPM 2386206060
    peran lingkungan dalam mengembangkan kemampuan makin jelas kalau lingkungan itu pengaruhnya gede banget cara guru ngajar, suasana rumah dukungan orang tua, bahkan rasa percaya diri anak sendiri semuanya ikut main peran Jadi bukan cuma soal gen juga soal bagaimana anak itu tumbuh. Kalau lingkungannya mendukung, anak yang awalnya biasa aja bisa jadi luar biasa Ini juga jadi pengingat buat orang dewasa supaya jangan gampang nyalahin anak tapi coba lihat lingkungannya dulu.

    BalasHapus
  116. NPM : 2386206060
    interaksi antara gen dan lingkungan dalam membentuk kemampuan anak ini kayak nyatuin semua pembahasan sebelumnya Gen dan lingkungan itu saling kerja sama, bukan saling ngalahin Gen kasih potensi lingkungan yang nentuin potensi itu mau berkembang atau nggak Jadi kemampuan anak itu hasil proses panjang, bukan hasil instan Ini bikin kita lebih sadar kalau pendidikan itu tugas bareng-bareng bukan cuma tanggung jawab anaknya doang.

    BalasHapus
  117. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Menurutku, materi ini menarik karena menegaskan kalau kemampuan matematika dan membaca itu saling berkaitan, tapi tetap bukan soal bakat bawaan semata. Jadi, anak yang awalnya terlihat lemah di matematika belum tentu nggak punya potensi , lingkungan dan pengalaman belajar sangat menentukan.

    BalasHapus
  118. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Terus aku juga setuju kalau gen itu memberi peluang, bukan kepastian. Motivasi, rasa percaya diri, dan cara guru mengajar bisa jadi pembeda besar. Ini jadi pengingat kalau tugas pendidik bukan menilai kemampuan anak secara statis, tapi membantu mengaktifkan potensi yang sudah ada.

    BalasHapus
  119. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Terahir, di bagian tentang personalisasi pembelajaran menurutku paling penting. Kalau pendekatan belajar disamakan untuk semua siswa, wajar kalau hasilnya beda-beda. Justru tantangannya adalah bagaimana sekolah bisa menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel dan relevan untuk tiap anak.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak