Sejak diresmikan pada tahun 2000, PISA telah memberikan dampak besar terhadap reformasi pendidikan global, serta kebijakan pendidikan nasional di negara-negara yang berpartisipasi. Hal ini telah menjadi alasan penting bagi pengembangan pendidikan di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, dan mendapatkan perhatian dari seluruh dunia. Di negara Indonesia sejak tahun 2021 dengan di tiadakan UN berubah menjadi AKM, yang dimana materi yang di ujikan untuk AKM yakni mengetahui kemampuan literasi dan numerisasi dari peserta didik. Apakah ini proses perbaikan pendidikan atau proses verifikasi terhadap PISA itu sendiri?
Kita menengok dari negara Finlandia yang dikatakan sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan yang luar biasa baik di dunia. Sahlberg (2021) dalam bukunya bahwa
"para pendidik Finlandia tidak terlalu tertarik dengan PISA OECD seperti yang diharapkan oleh orang asing. Banyak guru dan kepala sekolah di Finlandia berpikir bahwa PISA hanya mengukur spektrum pembelajaran di sekolah secara sempit dan tidak menjelaskan apa pun tentang bagaimana anak-anak mempelajari kompetensi non-akademik yang sering kali merupakan prediktor yang lebih baik untuk keberhasilan dalam hidup dan studi lebih lanjut dibandingkan apa yang dimasukkan dalam PISA"
lebih lanjut bagaimana yang tertuang dalam buku Sahlberg (2021) bahwa
"David Spieghalter (2013) dari Universitas Cambridge, yang menulis di Guardian, “Jika PISA mengukur sesuatu, maka itu adalah kemampuan untuk melakukan tes PISA. Menyelaraskan kebijakan dengan satu indikator kinerja dapat berdampak buruk. Kita perlu melihat gambaran keseluruhannya.” Yong Zhao dari Universitas Kansas berargumentasi bahwa meskipun negara-negara di Asia Timur menikmati nilai tertinggi dalam tes PISA, mereka sama sekali tidak puas dengan hasil pendidikan mereka. “Mereka telah menyadari,, “kerusakan pendidikan mereka sejak lama dan telah mengambil tindakan untuk mereformasi sistem mereka.”."
David Berliner (Sahlberg, 2023) berargumen bahwa " 1) PISA berupaya memprediksi kualitas angkatan kerja serta pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam perekonomian masa depan berdasarkan nilai ujian siswa berusia 15 tahun di sekolah; 2) nilai penilaian PISA bukan merupakan fungsi dari sekolah tempat siswa bersekolah, melainkan lebih ditentukan oleh kondisi sosial sekolah dan komunitas siswa. ; 3) PISA telah mempercepat peralihan ke “kembali ke dasar” dalam kurikulum sekolah, yang berarti memberikan prioritas pada membaca, matematika, dan literasi sains sebelum mata pelajaran atau topik lain dalam proses belajar mengajar.
Fischman (Sahlberg, 2021) mengatakan bahwa PISA juga berdampak serupa pada sistem pendidikan nasional. Perkataan tersebut dirasa benar untuk negara kita saat ini. Hal menarik lanjutnya bahwa Sahlberg (2021) menyampaikan bahwa
"...Meskipun argumen optimis tentang bagaimana modal pengetahuan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi telah terbukti salah dalam beberapa penelitian (Komatsu & Rappleye, 2017, 2020; Ramirez dkk., 2006), argumen yang sama tampaknya lebih berlaku dan sekali lagi juga dalam strategi Bank Dunia, Uni Eropa, dan sejumlah lembaga pemikir neoliberal. Pada tahun 2019, Komisi Eropa mempekerjakan Eric Hanushek dari Hoover Institute (Stanford University) dan Ludger Woessmann dari Pusat Ekonomi Pendidikan (Universitas Munich) untuk memberikan nasihat kepada negara-negara Eropa tentang reformasi sistem pendidikan mereka di masa depan. Laporan berjudul “Manfaat Ekonomi dari Peningkatan Prestasi Pendidikan di Uni Eropa: Pembaruan dan Perluasan” (Hanushek & Woessmann, 2019) mengulangi klaim yang sama yang dibuat OECD dalam laporannya tahun 2010 yang disebutkan di atas: Dengan meningkatkan skor PISA, negara-negara anggota dapat mengharapkan keuntungan yang signifikan dalam perekonomian nasional mereka. Janji-janji tersebut tidak hanya didasarkan pada analisis ekonomi yang salah dan kemungkinan pengukuran keterampilan siswa yang salah, namun juga bisa berbahaya bagi pemerintah yang mencamkan janji-janji tersebut. Misalnya, perdana menteri Australia dan Denmark, didorong oleh janji-janji palsu ini, melanjutkan untuk menetapkan tujuan pendidikan nasional mereka dengan mengharapkan negara mereka berada di posisi 5 teratas dalam PISA pada awal tahun 2020an. Sam Sellar dan rekannya juga memperingatkan para pemimpin sistem pendidikan agar tidak terjerumus ke dalam perangkap perlombaan pendidikan global.".
Indonesia bagaimana saat ini? Saat tulisan ini dipost, terdapat menteri baru dalam pendidikan di Indonesia, Sebelumnya menjadi satu menteri untuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Kini menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Kementerian Kebudayaan. Selamat bertugas bapak Menteri untuk pendidikan di Indoensia 5 tahun kedepan dan membuat pendidikan Indonesia yang menciptkan penerus bangsa yang semakin banyak ikut serta di kancah dunia.
Semoga dengan adanya hasil PISA yang di lakukan oleh OECD dan hasil lainnya seperti TIMSS, PIRLS, atau NAEP yang telah ada sebelum-sebelumnya, menjadikan para pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia terus memberikan usaha dengan nantinya didapatkan dampak lebih baik pendidikan di Indonesia dan menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia, bukan mengcopy paste budaya negara lain yang karakteristiknya berbeda dengan Negara Kita. Demi menciptakan Generasi Emas 2045, bukan Generasi (C)Emas 2045.
Referensi
Sahlberg, P. 2021. Finnish Lessons 3.0: What can the world learn from educational change in Finland?. New York: Teachers College Press

Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Tanggapan saya pak, telah membaca materi tersebut menurut saya hasil PISA untuk Indonesia Bahaya atau usaha ini dapat disimpulkan bahwa meskipun hasil PISA ini penting sebagai wadah untuk mengukur kualitas pendidikan Indonesia. Tetapi kita juga perlu berhati-hati dalam menerapkannya karena sistem pendidikan yang baik itu tidak hanya memfokuskan pada pengukuran akademik tetapi juga pada proses atau perkembangan kemampuan tersebut, selain itu juga harus berfokus dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang baik secara menyeluruh karena, dampak yang kita dapatkan juga akan memberikan usaha lebih baik untuk pendidikan Indonesia dan dapat menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia, dan bukan hanya mengcopy paste budaya negara lain yang karakteristiknya berbeda dengan negara kita🙏
Saya setuju dengan pendapat isdiana selain itu, hasil PISA juga harus dikembangkan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, bukan hanya sebagai ukuran keberhasilan semata saja . Kita sebagai calon pendidik perlu memahami bahwa setiap negara memiliki ciri khusus dan kebutuhan yang unik, sehingga sistem pendidikan yang efektif di negara lain belum tentu sama dengan yang dibutuhkan di Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan kurikulum dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik bangsa Indonesia, serta meningkatkan kualitas guru dan fasilitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik."
HapusDengan demikian, kita dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan bangsa Indonesia, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat bersaing di era global.
Menurut saya hasil PISA ini untuk Indonesia memiliki dampak yang positif juga dampak negatif.
BalasHapusDampak positifnya para ahli pendidikan di negara kita bisa mengetahui kemampuan membaca dan menghitung para pelajar di negara ini sudah sejauh mana jika dibandingkan dengan negara luar, hasil dari pengamatan ini akan membangkitkan semangat para ahli pendidik untuk lebih mengevaluasi implementasi kurikulum di negara kita.
Lalu untuk dampak negatifnya, pendidik atau para ahli pendidikkan di negara kita ,akan hanya berfokus untuk membandingkan kemampuan membaca dan menghitung pelajar kita dengan pelajar luar , alhasil diluar kegiatan itu pemerintah masih kurang mendukung misalnya, di bagian hobi anak didik yang bisa menghasilkan prestasi yang luar biasa kurang dilirik dan kurang di perjuangakn pemerintah.
Nama:Elisnawatie
HapusKelas:VD
NPM:2386206069
Saya setuju dengan tanggapan KA alusia , karena memang PISA memiliki dua sisi, di satu sisi dapat menjadi alat evaluasi yang baik untuk melihat sejauh mana kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia dibandingkan negara lain, namun di sisi lain dapat menimbulkan fokus yang sempit jika hanya digunakan untuk membandingkan hasil tanpa memperhatikan pengembangan potensi lain siswa seperti minat, bakat, dan kreativitas yang juga penting untuk kemajuan pendidikan.
Nama: Zakky Setiawan
BalasHapusNPM:( 2386206066 )
Kelas: 5C
PISA ini bisa menjadi dampak negatif bagi keberlangsungan pendidikan indonesia, jika tidak dikelola dengan baik dan benar, mengapa begitu tuh karena PISA ini menilai kemampuan secara sempit dalam hal akademik tidak dikaitkan dengan hal di luar akademik
Nama: Zakky Setiawan
HapusNPM:( 2386206066 )
Kelas: 5C
Sedikit menambahkan, sebenarnya keduanya sama-sama penting bagi keberlangsungan Peserta didik dari akademik maupun non akademik, cuma PISA ini tuh hanya menilai dari segi akademik,sedangakan untuk seorang peserta didik yang akademik nya kurang mereka jadi tersingkir, padahal jika kemampuan non akademik mereka di gali mereka juga bisa bersaing dengan yang punya kemampuan akademik
Nama:syahrul
BalasHapusKelas:5D
NPM:2386206092
jelas bisa kita lihat kalau PISA tuh punya pengaruh masif dalam pendidikan global, tapi kritik terhadapnya juga nggak main main. Negara dengan sistem pendidikan yang bisa dibilang bagus,kayak Finlandia justru bilang mereka tidak tertarik karena menganggap PISA hanya mengukur spektrum akademik secara sempit.Mereka bahkan mengkritik keras kalau PISA dianggap hanya mengukur kemampuan untuk lulus tes PISA itu sendiri, bukan kesuksesan hidup secara menyeluruh.Ia mengabaikan kompetensi non akademik yang padahal sering jadi prediktor keberhasilan yang lebih bahkan busa dibilang baik.Makanya,kalau kebijakan nasional cuma diselaraskan dengan satu indikator skor,seperti kata David Spieghalter,kita berisiko besar mengorbankan gambaran pendidikan secara keseluruhan.
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Apa yang disampaikan Syahrul itu memang benar. PISA memang berpengaruh besar dalam arah pendidikan dunia, karena sering dijadikan ukuran keberhasilan sistem pendidikan suatu negara. Namun kritik yang muncul juga sangat relevan. Jika negara hanya mengejar skor PISA, maka pendidikan bisa menjadi sempit hanya fokus pada kemampuan yang diukur oleh tes itu saja. Padahal, seperti yang dikatakan Finlandia, kesuksesan siswa dalam kehidupan nyata sangat dipengaruhi oleh kompetensi non-akademik seperti karakter, kreativitas, kemampuan bekerja sama, serta kesehatan mental.
Pendapat David Spieghalter juga mengingatkan bahwa ketika kebijakan pendidikan hanya disesuaikan dengan satu indikator, maka potret pendidikan secara utuh justru bisa terabaikan. Pendidikan tidak hanya tentang nilai tinggi, tetapi tentang membentuk manusia yang utuh, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Jadi benar bahwa kita perlu menempatkan PISA sebagai salah satu alat evaluasi, bukan satu-satunya tujuan dalam pendidikan nasional.
Nama:syahrul
BalasHapusKelas:5D
Npm:2386206092
Kritik ini penting banget buat Indonesia karena langkah pemerintah mengganti UN ke AKM sejak 2021 itu bisa dilihat sebagai respons sadar untuk keluar dari perangkap perlombaan pendidikan global.Bisa dilihat sendiri kalau fokus AKM pada literasi dan numerasi dasar adalah upaya untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan yang lebih mendesak dan praktis,bukan cuman ngejar peringkat. Tujuannya tuh harus jelas kek menjadikan hasil asesmen ini entah PISA,AKM,atau lainnya tuh sebagai pemicu perbaikan yang sesuai karakter bangsa,bukannya menjiplak sistem luar yang belum tentu cocok.Ini baru bisa dibilang jalan kita menuju Generasi Emas 2045, bukan cuma generasi yang pintar mengerjakan tes standar internasional.
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya membaca materi ini, materi ini memberikan refleksi yang sangat amat menarik dan kritis terhadap hubungan antara hasil PISA dengan arah kebijakan pendidikan indonesia. Pada bagian akhir tulisan yang mengaitkan pada kondisi terbaru indonesia, termasuk perubahan struktur kementrian dan harapan generasi emas 2045, juga menambah konteks aktual dan nasionalistik. Penulis juga mengajak agar indonesia tidak sekedar meniru sistem negara lain, melainkan menggambarkan model pendidikan yang sesuai dengan nilai, budaya, dan juga kebutuhan bangsa sendiri.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya setuju sekali dengan poin bahwa Indonesia tidak boleh sekadar meniru sistem negara lain, dan ini terbukti dari kritik dalam materi yang Anda berikan. Tambahannya, menurut saya, yang paling krusial dari materi Hasil PISA Untuk Indonesia Bahaya atau Usaha? adalah kita harus berhati-hati agar perbaikan pendidikan di Indonesia tidak cuma jadi alat untuk mengejar skor PISA, melainkan benar-benar menyentuh akar masalahnya yaitu kualitas pembelajaran dan pemerataan di lapangan. Para ahli di materi itu, seperti dari Finlandia dan David Berliner, sudah memperingatkan kalau PISA hanya mengukur hal yang sempit, dan obsesi pada skor justru bisa membuat kurikulum kita jadi kaku, hanya fokus pada literasi, numerasi, dan sains, serta mengabaikan pengembangan karakter dan kompetensi lain yang lebih penting untuk bekal hidup nyata. Jadi, harapan kita pada Generasi Emas 2045 harus diwujudkan dengan sistem yang fleksibel dan sesuai budaya kita, bukan sekadar memenangkan perlombaan pendidikan global yang penuh risiko dan janji palsu.
Materi ini memberikan sudut pandang yang sangat menarik tentang bagaimana memaknai PISA di Indonesia, selama ini banyak orang - orang termasuk pemerintah bagaimana melihat PISA seolah olah merupakan rapor utama kualitas pendidikan padahal PISA tidak selalu menggambarkan keseluruhan proses pendidikan yang terjadi di sekolah, saya sangat setuju pada bagian yang menyinggung skor PISA membuat negara terjebak dalam perlombaan global , banyak yang ikut - ikutan mengejar angka, padahal kondisi sosial , budaya , ekonomi serta tantangan negara itu berbeda , sangat tidak tepat jika kebijakan pendidikan di Indonesia itu dibuat hanya berdasarkan hasil tes internasional yang sebenarnya punya banyak keterbatasan . PISA itu bisa menjadi alat bantu , tapi tidak boleh menjadi suatu tujuan , pendidikan di Indonesia membutuhkan arah yang sesuai jati diri bangsa bukan hasil salinan negara lain.
BalasHapusNama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak oktavia, Saya sependapat dengan pendapat kakak, memang PISA sering dianggap sebagai rapor utama pendidikan, padahal dari materi yang kita pelajari dijelaskan bahwa PISA hanya mengukur sebagian kemampuan akademik siswa dan tidak menggambarkan keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Nah Jika skor PISA dijadikan satu-satunya dasar kebijakan, pendidikan bisa terjebak pada perlombaan global yang mengabaikan perbedaan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi tiap negara. Menurut saya PISA sebaiknya digunakan sebagai alat refleksi untuk melihat kelemahan sistem, sementara guru dan sekolah tetap perlu mengembangkan pembelajaran yang bermakna, berkarakter, dan sesuai dengan konteks peserta didik Indonesia, bukan sekadar mengejar angka tes internasional.
Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membaca nya
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : 5B PGSD
Izin menambah kan tanggapan pak,setelah membaca kembali saya jadi sadar pak bahwa PISA sebenarnya bukan sekadar angka peringkat, tetapi cermin untuk melihat sejauh mana sistem pendidikan kita sudah memfasilitasi kemampuan berpikir kritis, literasi, dan numerasi siswa. Menurut saya, yang berbahaya bukan PISA-nya, tetapi kalau kita hanya terpaku mengejar skor tanpa memperhatikan proses belajar di kelas. Sesuai dengan materi di atas bahwa ngara kita juga perlu belajar dari negara lain tetapi dimana bukan dengan menyalin sistem negara lain atau negara mereka begitu saja. Karena setiap negara punya budaya, kondisi sosial, dan kebutuhan yang berbeda. Bagi saya pak , yang lebih penting adalah bagaimana guru, sekolah, dan pemerintah menggunakan hasil PISA sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki pembelajaran: memberi ruang pada siswa untuk berpikir, bertanya, dan memecahkan masalah, bukan hanya menghafal rumus. Jika digunakan dengan bijak, PISA bisa menjadi dorongan untuk terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, bukan menjadi ancaman pak🙏🏻
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Materi ini menarik banget, ya. PISA memang jadi sorotan utama dalam dunia pendidikan, dan dampaknya terasa di banyak negara, termasuk Indonesia. Dari tahun 2000 sampai sekarang, PISA telah memengaruhi kebijakan pendidikan global, dan di Indonesia, kita lihat perubahan dari Ujian Nasional (UN) ke Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Ini menunjukkan bahwa pemerintah kita berusaha untuk beradaptasi dan mencari cara yang lebih baik untuk mengukur kemampuan siswa.
Namun, ada banyak kritik juga terhadap PISA. Misalnya, orang-orang di Finlandia yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang hebat, mereka merasa bahwa PISA terlalu sempit dalam mengukur pendidikan. Mereka lebih fokus pada bagaimana siswa belajar dan mengembangkan keterampilan non-akademik, yang juga penting untuk sukses di kehidupan sehari-hari. Ini jadi pertanyaan besar, apakah kita terlalu terfokus pada angka dan skor, padahal pendidikan itu lebih dari sekadar nilai ujian.
Nama : Aprilina Awing
HapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Ijin menambahkan pak, Ketika Sahlberg dan para ahli lainnya bilang bahwa nilai PISA bisa menyesatkan, itu bikin kita berpikir. Kita harus memperhatikan konteks sosial dan kondisi di mana siswa belajar. Misalnya, ada banyak faktor yang memengaruhi hasil ujian, seperti lingkungan rumah, dukungan keluarga, dan kondisi sekolah. Jadi, jika kita hanya melihat nilai PISA, kita mungkin kehilangan gambaran besar tentang kualitas pendidikan.
Selain itu, dengan adanya menteri baru di bidang pendidikan, ada harapan baru untuk perbaikan. Pembagian kementerian baru ini bisa jadi langkah positif untuk lebih fokus pada pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. Kita semua berharap langkah-langkah baru ini bisa membawa perubahan yang signifikan dalam sistem pendidikan kita.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Mengapa penting untuk tidak hanya fokus pada nilai PISA, tapi juga pada kompetensi non-akademik dalam pendidikan?
Apa harapan kalian untuk pendidikan di Indonesia menjelang Generasi Emas 2045? Apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan?
Hallo ka Aprilina saya izin menanggapi pertanyaanya ya.
HapusMenurut saya sangat penting ya kalau pemerintah Indonesia tuh tidak hanya fokus pada penilaian PISA tetapi juga kompetensi non akademik dalam pendidikan yang dimiliki siswa-siswi di Indonesia.
Sebenarnya kedua komponen ini sama-sama penting karena menurut saya penilaian pada PISA ini berguna untuk negara kita karena, dengan penilaian pada PISA yang ditetapkan kita bisa mengetahui kemampuan membaca dan menghitung para pelajar di negara kita, itu sudah sejauh mana jika dibandingkan dengan negara luar nah hasil dari pengamatan ini tentunya akan membangkitkan semangat para ahli pendidik di negara kita untuk mengevaluasi implementasi kurikulum di negara kita.
Namun menurut saya memang sebaiknya dibagikan antara fokus penilaian terhadap hasil PISA dan juga fokus terhadap kemampuan non akademik yang ada di negara kita karena, kita juga tidak bisa memungkiri bahwasannya para siswa-siswi ataupun mahasiswa yang di ada di negara kita ini memiliki kemampuan non akademik yang luar biasa bahkan sering mengikuti lomba-lomba baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Nah ini yang menjadi pokok kegiatan yang seharusnya juga difokuskan atau di fasilitasi sama pemerintah.
Harapan saya sendiri untuk pendidikan di Indonesia menjelang generasi emas di tahun 2045 iyalah berharap bahwasannya pemerintah dapat melirik kompetensi atau kemampuan non akademik juga yang ada di negaranya serta memfasilitasi pembelajaran non akademik untuk diprioritaskan juga di dalam pendidikan.
Tentunya juga diselaraskan dengan kurikulum dan juga penerapan pendidikan di sekolah-sekolah ataupun di universitas.
Dan hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan oleh pemerintah sendiri dalam mendukung penilaian PISA dan juga melirik keunggulan non akademik yang ada di Indonesia ialah dengan cara, pemerintah menelusuri permasalahan apa yang menjadi akibat penilaian PISA kepada Indonesia itu sangat di bawah rata-rata dan juga berusaha untuk mengembangkan,memperbaiki kekurangan yang ada dan melirik kompetensi atau kemampuan baik secara akademik maupun non akademik yang ada di Indonesia.
Menurut saya seperti itu ka, semoga bermanfaat....
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Haloo aprilina izin menjawab pertanyaanmu yaa mengapa penting untuk tidak hanya fokus pada nilai PISA tetapi juga pada kompetensi non-akademik karena:
1. Pendidikan bukan hanya soal nilai, tetapi mempersiapkan siswa untuk kehidupan nyata —bekerja, bersosialisasi, dan berperan di masyarakat.
2. Soft skills seperti karakter, disiplin, komunikasi, kreativitas, dan kerja sama adalah keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja masa depan.
3. Nilai PISA hanya mengukur sebagian kecil kemampuan siswa(literasi, matematika, sains), sedangkan keberhasilan hidup dipengaruhi banyak aspek lain.
4. Siswa yang kuat secara akademik tetapi lemah karakter akan kesulitan menghadapi tantangan, tekanan, atau situasi yang membutuhkan empati dan kepemimpinan.
5. Kompetensi non-akademik membantu perkembangan mental dan sosial, termasuk kemampuan mengelola emosi, percaya diri, dan tidak mudah menyerah.
Jadi, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menyeimbangkan otak dan karakterbukan hanya mengejar skor tes, tetapi membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak kuat.
Harapan saya ingin menjadikan anak-anak Indonesia sebagai generasi unggul yang berdaya saing global, namun tetap berkarakter dan mencintai bangsanya.Pendidikan Indonesia harus melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, berdaya saing, dan tetap menjunjung nilai kemanusiaan serta budaya bangsa untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.
Semoga bermanfaat ya😁
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, pendidikan itu nggak cukup kalau cuma ngejar nilai PISA, karena anak juga butuh dibekali sikap, karakter, kreativitas, dan kemampuan sosial biar siap hidup di masyarakat. Menjelang Generasi Emas 2045, harapannya pendidikan Indonesia bisa lebih seimbang antara akademik dan non-akademik, pembelajarannya lebih relevan dengan kehidupan nyata, dan guru didukung penuh supaya bisa mendidik anak jadi pintar sekaligus berkarakter.
Nama:Erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
npm2386206065
Pak, izin menanggapi sedikit ya. Saya merasa pembahasan soal PISA ini cukup bikin mikir, terutama ketika banyak negara justru meragukan relevansinya. Yang ingin saya tanyakan, apakah kita memang perlu sejauh itu menyesuaikan kebijakan pendidikan hanya demi naik skor PISA, padahal karakter dan konteks pendidikan tiap negara kan berbeda? Rasanya agak kontradiktif kalau tujuan kita membangun pendidikan Indonesia yang khas, tapi indikatornya masih “dipinjam” dari luar.
Hallo ka Erfina saya izin menanggapi
HapusSebelumnya saya ingin mengajak ke Erfina untuk membaca kembali dan memahami uraian pada laman ini mengenai hasil PISA untuk Indonesia. Saya rasa uraian ini sungguh sangat membantu menjawab pertanyaan kakak ,ketika kakak benar-benar membacanya dengan baik.
Di sini saya mau kasih beberapa pernyataan saya yang akan menjawab pertanyaan Kak Erfina , menurut saya memang kita perlu menyesuaikan kebijakan pendidikan untuk menaikkan skor PISA kenapa? karena skor ini bisa mengukur bagaimana pendidikan di Indonesia itu berlangsung, bisa mengetahui kemampuan membaca dan menghitung para pelajar negara kita ini sejauh mana kalau dibandingkan dengan negara luar, memang benar yang dikatakan Kak Erfina mengenai karakter dan konteks pendidikan setiap negara berbeda saya sangat setuju dengan pernyataan namun, setiap negara pasti ingin mengetahui bagaimana kemajuan atau sejauh mana keberhasilan penerapan kurikulum itu diterapkan dalam setiap negaranya dengan cara apa? nah salah satu caranya dengan cara mengukur nih skor hasil PISA untuk Indonesia itu di urutan keberapa kalau dibandingkan atau diukur dengan negara-negara lainnya.
Dan Saya kurang setuju dengan pernyataan ka Erfina mengenai membangun pendidikan Indonesia yang khas tapi indikatornya masih dipinjam dari luar negeri, menurut saya kurang cocok ya kalau di kaitkan dengan pernyataan Kak Erfina mengenai hasil PISA untuk Indonesia karena hasil PISA untuk Indonesia juga memiliki dampak positifnya salah satunya seperti yang saya jelaskan di atas mengukur sejauh mana sih keberhasilan pendidikan kurikulum yang diterapkan di Indonesia ini jika dibandingkan dengan negara luar melalui skor peserta didik dapat membaca ataupun menghitung.
Sebenarnya kita sebagai calon guru harus bisa nih menjadikan skor hasil PISA ini untuk membangkitkan rasa semangat kita lebih baik lagi dalam mengajar ,lebih memperhatikan lagi siswa-siswanya agar dalam pengukuran skor PISA kedepannya hasil untuk Indonesia itu dapat lebih tinggi dari skor-skor sebelumnya, ini bertujuan agar negara luar juga tahu nih oh setelah kemajuan zaman setelah pergantian guru dari tahun ke tahun skor PISA untuk Indonesia naik nih dari tahun ke tahun.
Jadi menurut saya pernyataan Erfina kurang tepat jika melihat manfaat dari hasil PISA untuk Indonesia.
Terima kasih semoga bermanfaat....
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas : 5C
Npm : 2386206040
Setelah saya pahami penjelasan tentang PISA ini, saya jadi agak bingung… sebenarnya seberapa besar sih PISA itu perlu dijadikan acuan utama untuk mengukur kualitas pendidikan kita? Soalnya dari contoh negara lain, kelihatannya fokus berlebihan ke PISA juga bisa bikin arah kebijakan jadi sempit. Jadi penasaran, apa mungkin Indonesia tetap bisa memperbaiki pendidikan tanpa terlalu terpaku pada skor PISA?
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Menurut aku ya Mifta PISA memang bermanfaat sebagai alat untuk melihat posisi pendidikan Indonesia secara global dan mengidentifikasi ketimpangan serta kelemahan sistem. Namun, PISA tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan, karena hanya menilai sebagian kecil dari tujuan pendidikan dan rawan membuat kebijakan menjadi sempit jika fokusnya hanya mengejar skor.
Indonesia tentu bisa meningkatkan kualitas pendidikannya tanpa terpaku pada PISA, asalkan tetap mengevaluasi pendidikan secara lebih holistik: memperhatikan pemerataan akses, kesejahteraan siswa, kualitas guru, karakter, kreativitas, dan relevansi dengan kondisi sosial-ekonomi serta budaya lokal.
Gunakan PISA sebagai alat bantu untuk perbaikan, tetapi bukan sebagai tujuan utama pendidikan.
Hallo ka Miftah saya izin menanggapi
HapusMenurut saya pengaruh hasil dari PISA untuk mengukur kualitas pendidikan kita di Indonesia itu cukup besar karena, dengan adanya PISA kita mengetahui ini bagaimana sih kemampuan membaca dan menghitung di negara kita dibandingkan dengan negara luar.
Lalu menurut saya juga Indonesia bisa memperbaiki pendidikan tanpa terpaku pada skor PISA karena, Indonesia kan memiliki keragaman budaya yang luar biasa ,terus anak-anak didiknya juga tidak hanya memiliki prestasi di bidang akademik namun ada juga yang memiliki prestasi di bidang non akademik tapi perlu diperhatikan, bidang akademik akan tetap menjadi bagian penting untuk mengukur kualitas pendidikan karena, walaupun kita memiliki kualitas prestasi non akademik yang luar biasa tapi kualitas akademik yang bisa dikatakan kurang itu akan menjadi patokan bahwasanya negara di Indonesia ini prestasi akan akademik itu kurang dibandingkan dengan negara lain dan bahkan menjadi pertanyaan bagaimana pendidikan selama ini dijalankan di negara Indonesia.
Semoga bermanfaat terima kasihMenurut saya hasil dari visa untuk mengukur kualitas pendidikan kita di Indonesia itu cukup besar karena dengan adanya bisa kita mengetahui ini bagaimana sih kemampuan membaca menghitung di negara kita dibandingkan dengan negara luar.
Lalu menurut saya juga Indonesia bisa memperbaiki pendidikan tanpa terpaku pada skor visa karena Indonesia kan memiliki keragaman budaya yang luar biasa terus anak anak didiknya juga tidak hanya memiliki prestasi di bidang akademik namun ada juga yang memiliki prestasi di bidang non akademik tapi perlu diperhatikan bidang akademik akan tetap menjadi bagian penting untuk mengukur kualitas pendidikan karena walaupun kita memiliki kualitas prestasi non akademik yang luar biasa tapi kualitas akademik yang kurang itu akan menjadi patokan bahwasanya negara di Indonesia ini prestasi akan akademik itu kurang dibandingkan dengan negara lain dan bahkan menjadi pertanyaan bagaimana pendidikan selama ini dijalankan di negara Indonesia
Semoga bermanfaat...
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Miftahul Hasanah, jadi menurut menurutku PISA itu penting sebagai gambaran umum kualitas pendidikan, tapi nggak harus dijadiin satu-satunya patokan. Indonesia tetap bisa memperbaiki pendidikan dengan fokus ke proses belajar di kelas, penguatan karakter, kemampuan berpikir kritis, dan pemerataan kualitas guru tanpa harus terobsesi sama skor PISA, karena pendidikan itu lebih luas dari sekadar angka.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Setelah membaca materi di atas kalau lihat hasil PISA, untuk Indonesia sebenarnya bukan cuma bahaya atau usaha tapi juga soal bagaimana kita menanggapinya. Banyak negara maju seperti Finlandia saja sudah menunjukkan bahwa PISA itu bukan segalanya. PISA memang bisa dikasih gambaran kemampuan dasar siswa, tapi nggak bisa mencerminkan keseluruhan kualitas pendidikan. Kadang pemerintah juga terlalu fokus mengejar skor sampai lupa sama kualitas belajar yang sebenarnya. Kita jadi sibuk nyari cara biar naik peringkat, tapi bukan perbaiki cara belajar yang bikin anak-anak senang dan paham beneran. PISA itu penting, tapi jangan sampai malah bikin kita panik dan kebijakan jadi terburu-buru titik yang lebih penting adalah konsisten memperbaiki sistem dari akar, bukan sekedar mengejar angka.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak nurfika, Pendapat kakak menurut saya menarik karena menekankan bahwa persoalan PISA bukan hanya soal hasil, tetapi cara kita meresponsnya.
Dalam materi yang kita pelajari juga dijelaskan bahwa PISA memang membantu melihat kemampuan dasar siswa, namun tidak cukup untuk menilai kualitas pendidikan secara menyeluruh. Ketika perhatian terlalu tertuju pada peringkat, proses belajar yang seharusnya membuat anak nyaman dan paham justru bisa terabaikan. Nah sebab itu, PISA seharusnya dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi, bukan sumber kepanikan, sehingga perbaikan pendidikan dilakukan secara bertahap dari kelas dan pembelajaran sehari-hari, bukan sekadar mengejar angka.
Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membacanya
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Pendapat para ahli kayak sahelberg dan berliner sebenarnya ngingetin kita bahwa hasil PISA itu banyak mempengaruhi kondisi sosial siswa. Jadi kalau Indonesia skornya rendah, bukan berarti sekolah gagal total, tapi lebih ke masalah ketimpangan yang masih besar titik pendidikan kita seringkali beda banget kualitasnya dari kota ke desa, jadi wajar saja kalau hasilnya juga nggak merata titik sayangnya, banyak kebijakan pendidikan yang fokus sama tes besar kayak PISA padahal belajar untuk bukan cuma soal matematika literasi atau sains. Anak-anak juga butuh pelajaran karakter, kreativitas, dan kemampuan hidup sehari-hari. Jadi penting banget buat kita melihat hasil PISA sebagai bahan refleksi bukan vonis.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Kalau negara-negara besar mengejar skor PISA demi alasan ekonomi, Indonesia sebaiknya jangan ikut-ikutan tanpa mikir konteks. Kalau bisa belajar dari negara lain, tapi nggak perlu sampai terjebak dalam perlombaan global yang bikin pendidikan jadi kayak kompetisi tanpa henti titik yang penting itu memastikan anak-anak punya pengalaman belajar yang bermakna dan nyambung sama kehidupan mereka. Pemerintah sebenarnya sudah ikut banyak assessment internasional seperti TIMSS dan PIRLS, dan itu bagus asal dipakai untuk mengevaluasi yang tepat titik tapi usaha perbaikan harus dilakukan terus-menerus bukan cuma waktu hasil tes keluar. Kita harus fokus juga ke guru, fasilitas sekolah, dan kondisi keluarga siswa yang sangat mempengaruhi belajar. Jadi mudah-mudahan dengan menteri baru nanti ada arang yang lebih stabil konsisten dan nggak terlalu tergantung kepada angka saja
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Kalau menuru saya sendiri, hasil PISA ini bisa jadi bahan renungan untuk kita semua (para pendidik, calon pendidik, dan juga pemerintah). Setelah saya baca-baca melalui sumber lain, hasil PISA memang sering bikin khawatir karena nilai Indonesia belum tinggi. Tapi menurut saya ini bukan cuma tanda bahaya, tapi bisa jadi dorongan untuk kita semua berusaha lebih baik dalam pendidikan. Jadi, hasilitu bukan akhir, tapi jadi bahan evaluasi.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya setuju dengan Nabilah bahwa hasil PISA harusnya jadi bahan evaluasi dan dorongan untuk berusaha lebih baik, bukan cuma bikin khawatir. Tambahannya, dari materi yang kita baca, kita juga harus hati-hati agar dorongan ini tidak membuat kita terjebak dalam perangkap perlombaan pendidikan global yang hanya mengejar angka. Para ahli pendidikan seperti Sam Sellar dan David Berliner memperingatkan kalau obsesi pada PISA bisa membuat kurikulum kita kembali ke dasar-dasar yang sempit dan hanya melatih anak untuk jago tes, padahal klaim PISA bisa membawa keuntungan ekonomi besar pun sudah banyak dibantah oleh penelitian. Jadi, dorongan untuk berubah itu bagus, asalkan fokus perubahannya benar-benar untuk membuat kualitas mengajar jadi lebih baik dan merata, bukan sekadar menaikkan skor.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Buat saya sendiri, ini juga bisa jadi pengingat kalau sebagai pelajar saya harus belajar terus dengan serius. Kalau saya terbiasa berpikir kritis dan aktif, nanti pas saya jadi guru saya bsa bantu anak-ana yang saya ajari belajar lebih bermakna.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nabilah tentang pentingnya belajar serius dan menjadi guru yang mengajarkan belajar bermakna sangat relevan. Tambahannya, sesuai materi kita, belajar bermakna itu harusnya lebih luas dari apa yang diukur PISA. Pendidik Finlandia saja berpikir bahwa PISA hanya mengukur hal yang sempit dan tidak mencakup kompetensi non-akademik seperti berpikir kritis dan problem-solving yang Nabilah sebutkan. Jadi, effort kita sebagai calon guru dan pelajar harus diarahkan pada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan aktif, karena hal-hal itu lebih baik sebagai prediktor keberhasilan dalam hidup daripada skor PISA itu sendiri.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Setelah saya baca materi ini, menurut saya hasil PISA bukan segalanya walaupun hasil PISA menunjukkan hasi kemampuan membaca, matematika dan sains dengan standar internasional namun seperti kata pendidikan Finlandia PISA hanya mengukur spektrum pembelajaran di sekolah secara sempit dan tidak menjelaskantentang kompetensi non akademik. Namun bagaimana dengan hasil PISA di negara kita? Jika hasilnya masih rendah itu bukan bahaya bagi negara kita hasil tersebut lebih tepat dilihat sebagai dorongan untuk terus berusaha memperbaiki cara mengajar, memperkuat literasi dan numersi dasar serta menciptakan lingkungan belajar yang menantang namun menyenangkan. Terus berusaha untuk memperbaiki kualitas pendidikan agar siswa lebih siap menghadapi tuntutan abad ke 21
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya sangat setuju dengan Nur Sinta bahwa hasil PISA, meskipun menunjukkan kemampuan dasar kita masih rendah, seharusnya dilihat sebagai dorongan untuk berusaha dan bukan sebagai bahaya mutlak. Tambahan dari saya, kita harus ingat bahwa pandangan para pendidik Finlandia di materi itu menyebut PISA hanya mengukur hal-hal sempit, tidak menjelaskan bagaimana anak-anak menguasai kompetensi non-akademik yang penting buat sukses di kehidupan. Oleh karena itu, usaha kita untuk memperbaiki cara mengajar, literasi, dan numerasi dasar harus diimbangi dengan kehati-hatian agar kita tidak jatuh ke dalam perangkap perlombaan pendidikan global yang ujung-ujungnya malah membuat kita hanya fokus teaching to the test, mengorbankan pengembangan kompetensi lain yang lebih luas dan menyenangkan bagi siswa, sesuai dengan tujuan kita menciptakan pembelajaran yang cocok dengan karakteristik bangsa Indonesia.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas5d
Nim:2386206114
Izin menanggapi materi diatas pak setelah saya baca dan saya pahami sedikit-sedikit materi ini menyajikan sebuah pandangan yang sangat menarik dan kritis mengenai peran serta dampak PISA (Programme for International Student Assessment) terhadap sistem pendidikan, khususnya di Indonesia.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya setuju dengan Bella bahwa materi ini menyajikan pandangan yang sangat kritis dan menarik, khususnya soal dilema PISA bagi Indonesia. Tambahan dari saya, pandangan kritis ini seharusnya membuat kita sadar bahwa janji-janji palsu yang menyebut skor PISA tinggi akan mendatangkan keuntungan signifikan dalam perekonomian nasional itu sudah banyak terbukti salah. Oleh karena itu, usaha perbaikan pendidikan kita, seperti mengganti UN menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang berfokus pada literasi dan numerasi, harus dilihat sebagai upaya meningkatkan kualitas dasar siswa, bukan sekadar mengejar peringkat semata. Para pakar seperti Sam Sellar sudah memperingatkan agar pemimpin sistem pendidikan tidak terjebak ke dalam perangkap perlombaan pendidikan global, dan Bella benar, kita perlu menjaga agar perbaikan pendidikan kita tetap berpegang pada nilai, budaya, dan kebutuhan unik bangsa Indonesia.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Izin menjawab lagi pak Artikel ini berhasil merumuskan dilema yang dihadapi Indonesia: Apakah PISA dipandang sebagai Bahaya (jebakan kompetisi global, fokus sempit, penentu kebijakan yang salah) atau sebagai Usaha (diagnostik untuk perbaikan sistem, fokus pada literasi/numerasi mendasar)?
Pesan utamanya jelas: Indonesia harus menggunakan data PISA sebagai alat diagnostik untuk perbaikan sistem yang sesuai dengan konteks nasional, alih-alih menjadikannya satu-satunya tujuan atau tolok ukur keberhasilan. Reformasi pendidikan, termasuk AKM, harus melampaui sekadar verifikasi PISA dan benar-benar mengarah pada penciptaan lulusan yang berdaya saing global dengan karakter kebangsaan yang kuat.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Izin bertanya pak Mengingat kritik bahwa skor PISA sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi siswa dan komunitas, serta adanya pemisahan kementerian di Indonesia yang baru:
Bagaimana seharusnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia memanfaatkan data PISA secara spesifik untuk merancang intervensi yang tidak hanya berfokus pada kurikulum (literasi/numerasi), tetapi juga efektif mengatasi disparitas dan masalah sosial-ekonomi yang menjadi prediktor kuat rendahnya skor PISA di berbagai wilayah Indonesia?
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Halooo Izin menjawab ya Bella PISA seharusnya tidak hanya dilihat sebagai penilaian kurikulum (literasi dan numerasi), tetapi sebagai alat penting untuk mendeteksi ketidaksetaraan pendidikan. Karena faktor sosial-ekonomi sangat memengaruhi capaian belajar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah perlu menggunakan data PISA untuk:
1. Memetakan wilayah dan sekolah yang paling tertinggal dengan menggabungkan skor PISA dan data sosial-ekonomi lokal.
2. Merancang intervensi yang tidak hanya akademik, tetapi juga menyentuh kebutuhan sosial, ekonomi, dan psikososial siswa—seperti perbaikan gizi, peningkatan fasilitas sekolah, pelatihan guru, dan penguatan literasi keluarga.
3. Memastikan kebijakan fokus pada pemerataan (equity), yaitu mengecilkan kesenjangan antar kelompok ekonomi dan daerah, bukan hanya menaikkan rata-rata nasional.
4. Berkoordinasi dengan sektor lain karena masalah pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh sekolah saja.
Dengan pendekatan berbasis data dan keadilan sosial ini, PISA dapat menjadi panduan untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia secara menyeluruh—agar semua siswa, apa pun latar belakangnya, mendapatkan kesempatan belajar yang sama dan layak.
Nama: Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm: 2386206024
Kelas:5B
Izin menanggapi pak, pada materi ini membahas tentang pentingnya karakter dalam belajar dan soal pisa di Indonesia. Jadi kebayang gimana pendidikan itu bukan soal, tetapi juga soal membangun cara berpikir yang baik, ringan tapi tetap insight (pemahaman baru) yang berguna.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Hallo Imelda, aku sependapat dengan kamu, benar banget yang kamu sampaikan pendidikan bukan sekedar soal, tetapi bagaimana membentuk pola pikir sehat, dan relevan untuk masa depan. Aku mau sharing nie, hal yang menarik di pembahasan ini, bahwa PISA tidak membuat kita hanya fokus pada angka, tapi justru jadi bahan refleksi bagaimana kita membangun karakter, cara berpikir kritis, dan kemampuan literasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan bangsa. Seperti yang dijelaskan di materi bapak, beberapa negara bahkan diingatkan agar tidak terjebak dalam perlombaan global, karena pendidikan yang baik tidak bisa diseragamkan untuk semua negara.
Semoga tanggapan aku bermanfaat untuk Imelda dan teman-teman lainnya ☺
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Sebelumnya saya baru mengetahui pak terkait PISA ini , dan setelah saya serch di internet tenyata PISA adalah Program untuk Penilaian Siswa Internasional yang bertujuan untuk menilai kinerja pendidikan, memfasilitasi perbandingan kinerja pendidikan internasional dan mendorong perbaikan. Dari materi yang telah saya baca, PISA tidak sepenuhnya mampu menggambarkan kulitas pendidikan secara menyeluruh dikarenakan cakupan tes yang sempit. tetapi hal ini menjadi pemicu penting bagi banyak negara untuk meningkatkan kulaitas pendidikan , apalagi di negara kita yaitu Indonesia kurangnya literasi dan kemampuan pemecahan masalah yang kritis. PISA ini menjadi bahan refleksi agar kebijakan pendidikan di Indonesia harus lebih berfokus pada penguatan literasi, dan proses belajar yang revelan serta pemecahan masalah.
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5CPgsd
Npm : 2386206067
Menurut saya Pak, artikel ini ngasih sudut pandang yang cukup realistis. Kita memang harus mengakui bahwa hasil PISA masih jadi alarm, tapi bukan berarti itu akhir dari segalanya. Justru itu kesempatan buat kita melihat apa yang perlu diperbaiki, terutama dalam cara mengajar, kualitas literasi, dan dukungan terhadap guru.Artikeini bagus karena tidak hanya menyoroti masalah, tapi juga menekankan bahwa perubahan itu proses jangka panjang.Jadi, hasil PiSA bukan semata-mata bahaya, tapi juga dorongan untuk terus berusaha memperbaiki pendidikan kita.
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206067
Sedikit tambahan Pak, selain itu artikel ini juga ngingetin bahwa hasil PISA yang rendah punya dampak nyata. Misalnya, siswa jadi terlihat kurang siap menghadapi tantangan abad 21, terutama dalam hal berpikir kritis dan memecahkan masalah.Dampak lainnya, guru dan sekolah sering mendapat tekanan lebih besar untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Bahkan secara nasional, hal ini bisa mempengaruhi kebijakan pendidikan dan prioritas program pemerintah. Jadi, menurut saya hasil PISA ini bukan cuma angka, tapi punya efek berantai yang penting banget buat masa depan pendidikan Indonesia.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 c
NPM : 2386206048
Izin menanggapi materi pak.
Intinya untuk meningkatkan minat membaca siswa SD guru harus terlebih dahulu mengenal siswa secara personal (minat dan pandangan mereka tentang membaca) melalui wawancara ringan 5-7 menit. Hubungan personal ini adalah pondasi bagi SEL. Strategi literasi paling efektif berawal dari kesejahteraan siswa. Dengan menginvestigasikan waktu pada percakapan personal kita membangun pondasi kepercayaan yang mungkin siswa merasa aman untuk belajar dan mengembangkan kecintaan membaca.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya setuju dengan Dita bahwa wawancara personal untuk mengetahui minat membaca siswa adalah pondasi penting untuk Strategi Literasi yang efektif, karena ini membangun kepercayaan dan rasa aman siswa di kelas. Tambahannya, keterkaitan antara wawancara personal dan pondasi SEL (Social Emotional Learning) ini menjadi sangat relevan dalam konteks PISA, para pakar dari Finlandia (Sahlberg) dalam materi Anda berpendapat bahwa PISA hanya mengukur hal-hal sempit dan tidak mengukur kompetensi non-akademik. SEL adalah salah satu kompetensi non-akademik yang krusial. Jadi, usaha Dita untuk mendekati siswa secara personal adalah langkah tepat untuk mengembangkan aspek penting yang justru diabaikan oleh tes besar seperti PISA, sehingga pembelajaran literasi bisa lebih bermakna dan berkelanjutan.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
izin bertanya pak
strategi wawancara personal membutuhkan 5-7 menit per siswa. Bagaimana kita bisa menerapkan strategi ini secara efektif dan berkelanjutan misalnya di kelas dengan 30-40 siswa tanpa mengurangi waktu mengajar mata pelajaran utama lainnya sama dengan pernyataan komentar saya di atas?
itu saja,terimakasih pak🙏🏻
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Dita, jadi menurut saya, strategi wawancara personal tetap bisa diterapkan dengan cara dicicil dan fleksibel, misalnya dilakukan bertahap tiap minggu, sambil kegiatan belajar berlangsung, atau digabung dengan refleksi singkat di akhir pelajaran. Jadi guru nggak harus mewawancarai semua siswa sekaligus, tapi tetap bisa mengenal kondisi dan kebutuhan siswa tanpa mengganggu waktu pembelajaran utama.
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin menanggapi pak, artikel ini membuka pikiran saya bahwa PISA harus kita jadikan dorongan untuk berusaha dan memperbaiki pendidikan kita, bukan hanya mengejar peringkat, pendidikan kita di indonesia harus kembali fokus ke karakter bangsa bukan sekedar ngikut negara lain.
Nama: Margertha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
jika PISA sering di keritik karena hanya mengukur aspek akademik, lalu langkah praktis apa yang harus diambil oleh kementrian pendidikan agar penilaian nasional bisa lebih menyeluruh dan juga bisa mengukur perkembangan karakter, dan keterampilan non akademik siswa?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:23862206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, kementerian bisa tetap pakai PISA sebagai referensi, tapi penilaian nasional perlu dilengkapi dengan asesmen karakter, proyek, dan observasi sikap serta keterampilan sosial siswa. Jadi yang dinilai nggak cuma kemampuan akademik, tapi juga perkembangan karakter, kerja sama, dan kemampuan berpikir kritis biar gambaran kualitas pendidikan jadi lebih utuh.
Nama: Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,setelah membaca materi tersebut, menurut kalian apakah hasil PISA ini bisa jadi acuan penting untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia?
Hallo ka Yormatiana saya izin menjawab ya
HapusMenurut saya hasil PISA ini memang bisa menjadi acuan penting untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia, seperti pendapat saya di atas kalau ka Yormatiana scroll ke atas menurut saya itu ada dua pandangan terkait hasil PISA ini, bisa dilihat dari sisi positif ataupun sisi negatifnya.
Nah salah satu sisi positif dari hasil PISA ini bisa menjadi acuan penting untuk perbaikan pendidikan di Indonesia kenapa? Karena dengan adanya hasil PISA para ahli pendidikan di negara kita di Indonesia bisa mengetahui kemampuan membaca dan menghitung para pelajar di negara ini sudah sejauh mana jika dibandingkan dengan negara luar, nah hasil dari pengamatan ini atau hasil dari PISA ini akan membangkitkan semangat para ahli pendidik di Indonesia untuk lebih mengevaluasi implementasi kurikulum di negara kita Kak.
Semoga bermanfaat Ka...
Terima kadih bapak karna sudah memberikan materi ini, setelah saya membaca materi yang Bapak berikan menurut saya, materi ini bagus karena membahas tentang hasil PISA dan bagaimana dampaknya terhadap pendidikan kita di Indonesia. Apalagi ada kutipan dari Hanushek & Woessmann ( 2019 ) yang menyebutkan bahwa meningkatkan skor PISA itu bisa membawa keuntungan signifikan bagi perekonomian nasional. Tentu saja, sebagai calon guru, kita pasti berharap Indonesia bisa terus maju dan menghasilkan SDM unggul. Namun, di sisi lain, materi ini juga mengingatkan kita bahwa PISA itu bukan segalanya, seperti yang diutarakan David Berliner 2023. Dia bilang kalau PISA itu lebih ditentukan oleh kondisi sosial sekolah dan komunitas siswa, bukan cuma dari kondisi sekolahnya saja. Ini membuat saya berpikir bahwa usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita tidak bisa hanya fokus pada kurikulum atau ujian saja. Kita juga harus benar-benar memperhatikan konteks sosial, kondisi di lapangan, dan karakteristik unik yang dimiliki anak-anak Indonesia, persis seperti yang disampaikan di akhir materi jangan cuma meniru budaya negara lain yang karakteristiknya beda sama Negara kita. Usaha ke arah Generasi Emas 2045 harus Asli dari Indonesia.
BalasHapusNama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Sejujurnya saya baru pertama kali mendengar tentang PISA, jadi banyak hal dari blog ini terasa baru buat saya, tapi setelah membaca penjelasannya saya sedikit paham, ternyata PISA bukan hanya sekedar tes untuk siswa, melainkan alat yang sering di jadikan dasar bagi negara untuk perbaikan sistem pendidikan.
Di materi bapak ini saya juga suka dengan materi bapak pada bagian yang membahas tentang perubahan struktur kementerian dan pergantian menteri pendidikan kita saat tulisan ini dibuat. Ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia memang sedang mencari bentuk terbaiknya. Apalagi, tugas beliau ke depan adalah menciptakan penerus bangsa yang bisa ikut di kancah dunia. Itu adalah tantangan yang luar biasa besar, Bapak. Materi ini juga menyinggung tentang hasil-hasil tes internasional seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS. Jujur, terkadang kita jadi terlalu terobsesi dengan ranking global, padahal materi ini memberikan insight penting dari Finlandia Sahlberg, 2021 yang bilang bahwa guru-guru di sana tidak terlalu fokus pada PISA karena PISA cuma mengukur spektrum pembelajaran yang sempit. Mereka lebih mementingkan kompetensi non-akademik yang ternyata sering jadi prediktor keberhasilan di masa depan. Ini menegaskan, yaitu kita harus menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia, bukan malah jatuh ke perangkap perlombaan pendidikan global seperti yang disinggung di kutipan sebelumnya. Sebagai calon pendidik, ini jadi pengingat buat saya agar selalu memprioritaskan kebutuhan siswa dan karakter lokal kita.
BalasHapusDisini bapak juga membahas di materi ini sangat berimbang, pandangan optimis yang mengaitkan PISA dengan pertumbuhan ekonomi Bank Dunia dan pandangan yang lebih hati-hati, bahkan kritis. Saya setuju dengan pandangan David Spieghalter 2013 yang mengatakan bahwa jika PISA mengukur sesuatu, itu adalah kemampuan untuk melakukan tes PISA, dan kebijakan yang didasarkan pada satu indikator bisa berdampak buruk. Lalu, pelajaran dari negara-negara Asia Timur seperti yang diungkap Yong Zhao juga sangat penting; meskipun skornya tinggi, mereka tetap tidak puas dan terus mereformasi sistem mereka. Ini menunjukkan bahwa pendidikan itu proses perbaikan yang tidak ada habisnya. Intinya, materi ini menyadarkan saya bahwa PISA bisa jadi alat untuk perbaikan (usaha), tetapi kita juga harus waspada agar tidak menjadi berbahaya. Kita harus fokus pada perbaikan pendidikan yang komprehensif, tidak hanya yang diukur oleh PISA, supaya kita bisa menciptakan Generasi Emas 2045, bukan Generasi Emas 2045.
BalasHapusNAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
materi diatas ngejelasin tentang gimana PISA memengaruhi arah kebijakan pendidikan dunia, termasuk Indonesia. Memang, setelah UN dihapus dan diganti dengan AKM, banyak yang bertanya apakah ini benar-benar upaya perbaikan pendidikan atau hanya bentuk penyesuaian terhadap standar PISA. padahal pandangan para ahli seperti Sahlberg, Zhao, dan Berliner juga mengingatkan kita bahwa nilai PISA tidak selalu mencerminkan kualitas pendidikan suatu negara secara utuh, apalagi jika faktor sosial dan konteks budaya tidak ikut dipertimbangkan. Kekhawatiran tentang PISA sebagai dorongan untuk kembali pada kurikulum “dasar” yang fokus pada membaca, matematika, dan sains terasa relevan dengan situasi pendidikan di Indonesia. Ketika fokus terlalu besar pada skor tes, ada risiko bahwa tujuan pendidikan yang lebih luas, seperti karakter, kreativitas, dan budaya, menjadi terpinggirkan.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menaanggapi materi ini sangat penting karena membahas tentang PISA, sebuah studi internasional yang sering digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan di berbagai negara.saya jadi tahu bahwa PISA itu bukan hanya sekadar angka, tetapi juga memberikan gambaran tentang kemampuan siswa dalam membaca, matematika, dan sains. Namun,materi ini juga mengingatkan kita untuk tidak terlalu terpaku pada hasil PISA, karena ada banyak faktor lain yang memengaruhi kualitas pendidikan suatu negara.PISA adalah studi internasional yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan di berbagai negara, namun kita harus hati-hati dalam menafsirkan hasilnya karena konteks dan kondisi setiap negara berbeda-beda.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM:2386206009
Kelas : V A PGSD
Saya setuju dengan pendapat bahwa PISA bisa menjadi alat yang berguna untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.dengan melihat hasil PISA, kita bisa mengetahui kelemahan dan kekuatan kita, serta membandingkannya dengan negara lain.kita juga harus hati-hati dalam menafsirkan hasil PISA, karena konteks dan kondisi setiap negara berbeda-beda.kita tidak bisa serta merta meniru sistem pendidikan negara lain tanpa mempertimbangkan karakteristik bangsa Indonesia.PISA bisa menjadi alat yang berguna untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia, namun kita tidak bisa serta merta meniru sistem pendidikan negara lain tanpa mempertimbangkan karakteristik bangsa Indonesia.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari materi ini adalah tentang perdebatan mengenai manfaat dan mudharat PISA bagi Indonesia.ada yang berpendapat bahwa PISA mendorong sekolah untuk fokus pada materi yang diujikan saja, sehingga mengabaikan aspek lain yang penting.tapi ada juga yang berpendapat bahwa PISA memacu sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global. perdebatan ini menunjukkan bahwa PISA bukanlah solusi tunggal untuk meningkatkan kualitas pendidikan.ada perdebatan mengenai manfaat dan mudharat PISA bagi Indonesia, namun yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan PISA untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Materi ini mengingatkan kita bahwa pendidikan itu bukan hanya tentang mempersiapkan siswa untuk dunia kerja, tetapi juga tentang membentuk karakter dan kepribadian yang baik.kita harus menyeimbangkan antara pengembangan keterampilan akademik dan non-akademik, agar siswa menjadi individu yang utuh dan berkontribusi positif bagi masyarakat.PISA memang penting, tetapi bukan satu-satunya tujuan dalam pendidikan.pendidikan itu bukan hanya tentang mempersiapkan siswa untuk dunia kerja,tetapi juga tentang membentuk karakter dan kepribadian yang baik, sehingga kita harus menyeimbangkan antara pengembangan keterampilan akademik dan non-akademik.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM :2386206009
Kelas : V A PGSD
Tambahan lagi,saya merasa bahwa keberhasilan pendidikan di Indonesia sangat bergantung pada kerjasama antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.semua pihak harus bahu-membahu untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan siswa.PISA bisa menjadi salah satu alat untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan, tetapi yang terpenting adalah komitmen kita untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak bangsa.keberhasilan pendidikan di Indonesia sangat bergantung pada kerjasama antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat, di mana PISA bisa menjadi salah satu alat untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan, tetapi yang terpenting adalah komitmen kita untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak bangsa.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, materi ini membahas dilema besar dalam pendidikan kita terkait hasil PISA. Di satu sisi, PISA itu bagus karena memaksa kita untuk melihat kenyataan pahit bahwa kemampuan dasar siswa kita dalam membaca dan berhitung masih lemah. Hasil buruk ini jadi semacam alarm buat pemerintah untuk buru-buru mengubah kurikulum dan sistem ujian, terbukti dengan munculnya Asesmen Nasional (AN) dan fokus pada literasi-numerasi. Jadi, kita menjadikan PISA sebagai usaha untuk memperbaiki diri. Tapi di sisi lain, PISA itu juga bahaya, para ahli dari Finlandia sampai Cambridge bilang PISA hanya mengukur hal-hal yang sempit, tidak melihat kemampuan penting lain seperti kreativitas dan problem-solving. Kalau kita terlalu terobsesi mengejar ranking PISA, kita bisa terjebak dalam perlombaan global yang memicu sekolah cuma melatih siswa untuk jago tes, mengorbankan pelajaran penting lain, dan akhirnya hanya menciptakan Generasi Emas palsu.
Nah, terkait dengan kondisi pendidikan Indonesia sekarang, menurut saya langkah kita sudah lumayan baik. Dengan adanya Kurikulum Merdeka dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), kita menunjukkan usaha untuk mengatasi kelemahan PISA dengan tidak hanya mengejar skor, tapi juga membangun karakter dan keterampilan non-akademik. Kita berusaha menyesuaikan kurikulum dengan karakteristik bangsa, bukan sekadar menjiplak negara lain. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada pemerataan kualitas guru dan fasilitas antar daerah. Jika kita gagal membuat kualitas pendidikan merata, kita akan terus-terusan berada di bawah dan terjebak dalam masalah lama. Intinya, PISA harus jadi cermin, bukan panduan mutlak; kita ambil datanya untuk perbaikan, tapi arah tujuan pendidikan kita harus tetap sesuai dengan kebutuhan unik bangsa Indonesia.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Di luar polemik PISA itu sendiri, menurut saya isu terpenting yang digarisbawahi oleh materi ini adalah perlunya Indonesia memiliki otonomi dan visi pendidikan yang kuat, agar tidak mudah diguncang atau didikte oleh instrumen asesmen asing, seketat apa pun itu. Penggantian Menteri Pendidikan yang disinggung di akhir teks, serta perombakan kementerian menjadi satu entitas besar, menunjukkan adanya upaya politik besar untuk menciptakan pondasi pendidikan yang kokoh menuju Generasi Emas 2045. Ini adalah momentum krusial untuk memastikan bahwa reformasi yang dilakukan, seperti Kurikulum Merdeka dan AN, benar-benar berakar pada kebutuhan riil siswa Indonesia khususnya dalam mengatasi ketimpangan kualitas antar daerah bukan sekadar upaya cosmetic untuk menaikkan skor di laporan internasional seperti PISA atau TIMSS, sehingga kita bisa fokus pada pengembangan manusia seutuhnya, bukan hanya sekadar siswa yang jago tes.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya sepakat sekali dengan Yormatiana bahwa pertanyaan terpenting adalah apakah sistem pembelajaran kita benar-benar membantu siswa berpikir kritis dan memecahkan masalah. Tambahan dari saya, kritik yang disajikan dalam materi, khususnya dari David Berliner, menggarisbawahi bahaya bahwa PISA telah mempercepat peralihan kurikulum kembali ke dasar (back to basics), yang cenderung hanya memprioritaskan membaca, matematika, dan literasi sains. Hal ini berpotensi mengorbankan pengembangan kompetensi yang lebih luas, seperti berpikir kritis yang Yormatiana sebutkan, padahal para pendidik Finlandia mengatakan bahwa kompetensi non-akademik ini adalah prediktor yang lebih baik untuk keberhasilan dalam hidup daripada skor yang dimasukkan dalam PISA. Jadi, saat ini kita sedang berusaha melalui Kurikulum Merdeka agar hasil PISA dijadikan usaha untuk perbaikan, bukan malah membuat kurikulum kita jadi sempit dan gagal mencetak siswa yang benar-benar kompeten.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5B
Npm : 2386206042
Saya setuju pak, bahwa meskipun langkah Indonesia mengganti ujian lama dengan AKM itu baik karena fokusnya pada kemampuan membaca dan berhitung dasar (mirip PISA), kita harus hati-hati karena para ahli bilang PISA itu ukurannya terlalu sempit dan janji ekonomi yang didapat dari skor tinggi itu belum tentu benar jadi, pendidikan kita harus tetap fokus menciptakan anak bangsa yang pintar dan punya karakter kuat sesuai budaya Indonesia, bukan cuma kejar-kejaran nilai.
Izin menanggapi pak Materi ini memberikan gambaran yang sangat kritis dan reflektif mengenai posisi Indonesia dalam PISA serta cara pandang yang perlu dimiliki dunia pendidikan terhadap hasil tersebut. Artikel ini tidak hanya menyajikan fakta tentang performa Indonesia, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat isu PISA dari perspektif yang lebih luas, seperti bagaimana negara lain termasuk Finlandia yang pendidikannya dianggap paling maju menafsirkan hasil PISA.Penekanan bahwa PISA bukanlah satu-satunya ukuran kualitas pendidikan sangat relevan, terutama ketika artikel menghadirkan pandangan Sahlberg, Zhao, hingga Berliner. Ketiga tokoh ini menunjukkan bahwa penilaian internasional seperti PISA hanya mampu melihat bagian sempit dari pembelajaran, terutama aspek akademik yang terukur. Padahal, pendidikan modern menuntut pengembangan kompetensi jauh lebih luas: kreativitas, karakter, ketahanan, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan sosial-emosional yang semuanya tidak tercapture di PISA.
BalasHapusIzin menanggapi pak menurut saya Artikel ini juga sangat kuat saat membandingkan konteks Indonesia dengan Finlandia. Meskipun Finlandia berada di posisi unggul PISA, para pendidiknya tidak menganggap PISA sebagai pusat evaluasi pendidikan mereka. Mereka justru lebih fokus pada kompetensi non-akademik dan kesejahteraan siswa. Ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia bahwa mengejar peringkat bukanlah tujuan utama; yang jauh lebih penting adalah memperbaiki ekosistem pendidikan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum, kualitas guru, budaya belajar, hingga kondisi sosial siswa.Pandangan David Berliner yang dikutip dalam materi juga memperluas wawasan: bahwa hasil PISA lebih dipengaruhi oleh faktor sosial dan lingkungan siswa dibandingkan oleh sekolah semata. Artinya, jika Indonesia ingin meningkatkan kualitas pendidikan, maka pembenahan tidak hanya perlu terjadi di ruang kelas, tetapi juga pada aspek ketimpangan sosial, akses pendidikan, fasilitas belajar, dan dukungan keluarga. Ini menegaskan bahwa pendidikan adalah persoalan sistemik, bukan hanya teknis.
BalasHapusTerus pak menurut saya Materi ini juga mengingatkan pembaca tentang konsekuensi dari terlalu mengutamakan nilai PISA, yaitu potensi penyempitan kurikulum atau "back to basics". Jika pembelajaran hanya difokuskan pada literasi, numerasi, dan sains demi kejar target, maka pendidikan bisa kehilangan unsur-unsur penting lain seperti seni, karakter, kreativitas, dan keterampilan abad 21.Yang paling menarik, artikel ini tidak terjebak pada dua ekstrem panik dengan hasil PISA atau mengabaikannya sepenuhnya. Sebaliknya, artikel ini mengajak pembaca untuk memandang PISA sebagai alat refleksi, bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Pertanyaannya “Apakah ini bahaya atau usaha?” dijawab dengan perspektif yang sangat seimbang: hasil PISA bisa menjadi bahaya jika membuat kita terjebak pada kebijakan reaktif; tetapi bisa menjadi peluang perbaikan jika dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pendidikan secara menyeluruh.Secara keseluruhan, materi ini memberikan wawasan komprehensif tentang dinamika PISA di Indonesia, menekankan pentingnya melihat pendidikan secara holistik, dan mengajak pembaca berpikir kritis terhadap bagaimana kebijakan pendidikan nasional seharusnya diarahkan. Artikel ini sangat bermanfaat untuk guru, mahasiswa pendidikan, pembuat kebijakan, maupun masyarakat yang ingin memahami kualitas pendidikan Indonesia secara lebih mendalam.
BalasHapus
BalasHapusContoh dari Finlandia, yang memiliki sistem pendidikan yang sangat baik, bisa kita lihat ia menunjukkan bahwa fokus pada pendidikan tidak hanya pada tolak ukur , akan tetapi juga pada proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Finlandia menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi, serta memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar dengan cara mereka sendiri.
Dalam hal ini PISA dapat kita lihat sebagai salah satu alat untuk mengukur kualitas pendidikan, akan tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan. Kita perlu memperhatikan proses pembelajaran yang lebih luas, termasuk pengembangan kemampuan sosial, emosional, dan kognitif siswa.
BalasHapusIzin bertanya pak terkait PISA ini di dalam materi ini kan sudah ad penjelasan tentang para pendidik Finlandia tidak tertarik dengan PISA.mereka berpikir bahwasanya PISA hanya mengukur spektrum pembelajaran di sekolah secara sempit dan tidak ada penjelasan apapun tentang bagaimana anak anak mempelajari kompetensi pada non akademik pertanyaan saya apa yang dapat kita simpulkan dari pendapat diatas tentang pandangan guru dan kepala sekolah Finlandia terhadap FISA? Itu saja pertanyaan saya terimakasih pak😊
BalasHapusIzin menjawab🙏🏻
HapusGuru dan kepala sekolah di Finlandia tidak menjadikan PISA sebagai tujuan utama pendidikan. Mereka memandang PISA hanya sebagai alat tes yang sangat terbatas, karena PISA lebih banyak mengukur kemampuan akademik tertentu (seperti membaca, matematika, dan sains), tetapi tidak mampu menggambarkan keseluruhan proses belajar anak.
Menurut mereka, PISA tidak menjelaskan bagaimana anak belajar keterampilan non-akademik yang justru sangat penting, seperti kerja sama, kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, karakter, dan kesejahteraan siswa. Padahal, kemampuan-kemampuan tersebut sering kali lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan dan pendidikan lanjutan.
Karena itu, pendidik di Finlandia lebih fokus pada kualitas proses pembelajaran, perkembangan anak secara menyeluruh, dan kepercayaan pada profesionalisme guru, bukan pada kejaran peringkat atau skor PISA.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Agustiani, jadi menurut saya, dari pandangan guru dan kepala sekolah di Finlandia bisa disimpulkan kalau PISA itu bukan tujuan utama pendidikan, tapi cuma alat ukur yang terbatas. Mereka lebih fokus ke proses belajar, kesejahteraan siswa, dan perkembangan karakter serta keterampilan non-akademik, jadi kualitas pendidikan dinilai dari bagaimana anak berkembang secara utuh, bukan sekadar dari skor tes.
Penulis dengan baik membandingkan kondisi Indonesia dengan Finlandia. Dari Finlandia kita belajar bahwa meskipun hasil PISA mereka baik, para pendidiknya tidak terlalu menjadikan PISA sebagai tujuan utama. Mereka lebih fokus pada proses belajar, kesejahteraan siswa, dan pengembangan kemampuan non-akademik yang justru penting untuk kehidupan jangka panjang.
BalasHapusPejelasan ini juga menekankan bahwa nilai PISA tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas sekolah, karena sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, lingkungan, dan latar belakang siswa. Jika pemerintah terlalu fokus mengejar peringkat PISA, ada risiko pendidikan menjadi sempit, hanya berpusat pada membaca, matematika, dan sains, sementara aspek karakter, kreativitas, dan budaya terabaikan.
Materi ini sangat menarik karena mengajak kita melihat PISA secara lebih bijak, tidak hanya sebagai angka peringkat, tetapi sebagai alat refleksi pendidikan. Penulis berhasil menunjukkan bahwa PISA memang penting, namun tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan suatu negara.
BalasHapusMateri ini juga mengkritisi anggapan bahwa peningkatan skor PISA otomatis akan meningkatkan ekonomi negara. Penulis dengan baik menyampaikan bahwa pemikiran tersebut belum tentu benar dan bahkan bisa berbahaya jika kebijakan pendidikan hanya berfokus pada pencapaian nilai. Jika terlalu mengejar skor, sekolah bisa mengabaikan kreativitas, seni, budaya, dan nilai-nilai lokal.
materi ini mengingatkan para pendidik dan pengambil kebijakan agar tidak terjebak dalam “perlombaan global” peringkat pendidikan. Yang terpenting adalah menciptakan pembelajaran yang bermakna, manusiawi, dan berakar pada karakter bangsa. Dengan cara inilah, pendidikan Indonesia dapat melahirkan Generasi Emas 2045 yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing, bukan sekadar generasi yang unggul di angka tetapi miskin makna.
BalasHapusNama: Ema yulianda
BalasHapusKelas :5D
Npm. :2386206075
Menurut saya, hasil PISA bagi Indonesia tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai bahaya atau kegagalan, melainkan sebagai bahan evaluasi dan usaha perbaikan pendidikan. Hasil tersebut dapat menjadi cermin untuk melihat kelemahan dan kekuatan sistem pembelajaran, khususnya dalam kemampuan literasi dan penalaran siswa.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
HapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Nah, saya setuju Ema, komentarmu menurut saya sejalan dengan sudut pandang saya. Yaitu kalau PISA bagi Indonesia tidak seharusnya dipandang semata - mata sebagai bahya atau kegagalan, melainkan sebagai bahan evaluasi dan upaya perbaikan pendidikan. Hasil tersebut dapat menjadi cermin untuk melihat kelemahan dan kekuatan sistem pembelajaran, khususnya dalam kemampuan literasi dan penalaran siswa. Saya setuju dengan pendapat Ema karena pandangan tersebut menekankan pentingnya sikap reflektif, bukan reaktif, dalam menyikapi hasil PISA. Dengan menjadikan PISA sebagai bahan pembelajaran bersama, pendidik dan pemangku kebijakan dapat lebih fokus pada perbaikan proses belajar yang relevan dengan kebutuhan siswa, bukan sekadar mengejar peningkatan peringkat semata.
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menanggapi pak, menurut saya, hasil PISA untuk Indonesia bisa jadi pengingat, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dari PISA kita bisa lihat gambaran kemampuan literasi dan numerasi siswa secara umum, jadi bisa dipakai sebagai bahan evaluasi untuk tahu bagian mana yang masih perlu dibenahi.
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menanggapi pak, jadi menurut saya, kalau terlalu fokus ke PISA juga bisa jadi bahaya, karena pendidikan seolah cuma diukur dari angka. Padahal ada banyak hal penting lain seperti karakter, kreativitas, dan kemampuan sosial siswa yang nggak bisa diukur lewat tes seperti PISA.
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menanggapi pak, jadi menurut saya, PISA sebaiknya dipandang sebagai usaha untuk memperbaiki kualitas pendidikan, bukan tujuan akhir. Yang paling penting tetap bagaimana proses belajar di sekolah bisa bermakna, adil, dan membantu siswa berkembang secara utuh.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Hasil pisa sering kali dianggap sebagai gambaran mutu pendidikan di Indonesia, padahal kalau dilihat secara teliti , skor PISA ini menunjukkan kemampuan siswa 15 tahun berdasarkan tes Internasional tertentu. PISA memang mengukur literasi, matematika, dan sains, tapi masih banyak kemampuan penting lain yang tidak ikut dinilai, seperti kreativitas, karakter, kerja sama, dan keterampilan sosial yang justru sering dipakai siswa di kehidupan sehari-hari. Daripada hanya berfokuske perbandingan angka dengan negar alain, sepertinya lebih baik kita melihat apa penyebab hasil tersebut muncul, misalnya dampak pembelajaran saat pandemi, kualitas guru, atau perbedaan fasilitas antar daerah. Dengan begitu, hasil PISA bisa jadi bahan evaluasi yang lebih tepat, bukan sekadar ajang adu peringkat antarnegara.
Tulisan ini benar-benar bikin kita melek soal kondisi pendidikan kita lewat hasil PISA. Memang tantangannya besar, tapi kalau kita jadikan motivasi untuk berubah, pasti ada jalan keluarnya.
BalasHapusNama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya setuju sekali dengan materi yang bapak berikan ini. karena terkadang guru terlalu terobsesi sama skor PISA sampai lupa kalau karakter anak itu tidak cuma soal angka di kertas. dan benar sekali apa yang bapak katakan bahwasannya, kita jangan sampai cuma copy-paste saja sistem negara lain tanpa kita tau bahwa hal itu sama sekali tidak cocok sama budaya kita sendiri. semoga kedepannya beberapa guru tidak hanya fokus mengrjar peringkat saja. tetapi juga benar-benar memikirkan kualitas manusia Indonesia yang sebenarnya.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Hasil pisa bukan sekedar angka tapi juga cermin dan cara kita mengajar kepada siswa namun menjadi usaha untuk menerapkan pembelajaran karakter tersebut dapat membantu siswa untuk belajar lebih percaya diri tapi juga guru dapat memahami konsep pembelajaran tersebut dan mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi ( HOST ) .
Tapi ada bahaya jika menggunakan metode satu kepada siswa jika menggunakan metode tersebut guru akan kesulitan mengatasi materi tersebut dimana guru harus menggunakan metode pembelajaran mendalam sehingga siswa dapat memahami pembelajaran.
HapusNama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Karena itu, menurut saya yang penting bukan sekadar mengejar ranking, tetapi memikirkan bagaimana proses belajar di kelas bisa lebih bermakna. Guru, sekolah, dan pemerintah perlu melihat hasil PISA sebagai bahan refleksi, bukan sebagai ancaman. Dari situ, kita bisa mencari cara memperbaiki pembelajaran terutama membaca, numerasi, dan berpikir kritis tanpa membuat siswa tertekan.
Izin nambahkan dikit pak, Dengan cara ini, PISA bukan lagi terlihat sebagai “bahaya”, tetapi bisa menjadi dorongan untuk memperbaiki sistem pendidikan secara perlahan dan lebih tepat sasaran.
HapusNama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi Pak, dari pemaparan di atas saya menangkap bahwa PISA memang membawa pengaruh besar terhadap arah kebijakan pendidikan global, termasuk di Indonesia, tetapi pengaruh tersebut tidak selalu sejalan dengan kebutuhan riil pembelajaran di kelas. Perubahan UN menjadi AKM memang terlihat sebagai langkah perbaikan, namun jika ditelusuri lebih dalam, arah penilaiannya masih sangat kental dengan logika PISA yang menekankan literasi dan numerasi sebagai tolok ukur utama. Padahal, seperti yang disampaikan Sahlberg dan para pakar lain, kualitas pendidikan tidak bisa direduksi hanya pada skor tes, karena banyak aspek penting seperti karakter, kreativitas, dan kompetensi non-akademik yang justru menentukan keberhasilan peserta didik dalam kehidupan jangka panjang.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Saya setuju nih, Pak. Bahwa kekhawatiran terhadap dominasi PISA dalam kebijakan pendidikan sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Ketika pendidikan terlalu diarahkan untuk mengejar peringkat global, ada risiko besar bahwa sekolah dan guru lebih fokus pada “bagaimana agar nilai naik” dibandingkan “bagaimana anak benar-benar belajar”. Pengalaman negara seperti Finlandia menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang kuat justru tidak dibangun dari kepatuhan terhadap tes internasional, melainkan dari kepercayaan pada guru, kesejahteraan siswa, dan kurikulum yang kontekstual. Dalam konteks Indonesia yang sangat beragam, pendekatan tunggal berbasis standar global justru berpotensi mengabaikan realitas sosial dan budaya peserta didik.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin memberikan saran dari saya, Pak. Kebijakan pendidikan Indonesia sebaiknya menempatkan PISA sebagai bahan refleksi, bukan sebagai tujuan utama yang harus dikejar. Hasil PISA, TIMSS, atau PIRLS memang penting sebagai cermin, tetapi tidak seharusnya menjadi kompas tunggal dalam menentukan arah pendidikan nasional. Pemerintah perlu lebih berani merancang kebijakan yang berangkat dari kebutuhan peserta didik Indonesia sendiri, termasuk memperhatikan kesenjangan sosial, kondisi sekolah, dan konteks lokal. Dengan begitu, reformasi pendidikan tidak hanya bersifat kosmetik atau administratif, tetapi benar-benar menyentuh kualitas pembelajaran di ruang kelas.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi yaa, Pak. Menurut saya materi di atas sangat membuka wawasan bahwa pendidikan sering kali terseret dalam logika ekonomi dan politik global, bukan murni pada kepentingan peserta didik. Argumen tentang janji peningkatan ekonomi melalui skor PISA yang ternyata lemah secara akademik menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh dipersempit sebagai alat produksi tenaga kerja semata. Jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar global, maka nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan identitas bangsa bisa terpinggirkan. Dalam jangka panjang, hal ini justru dapat melemahkan fondasi pendidikan itu sendiri.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Kalau boleh curhat sedikit, Pak. Sebagai mahasiswi saya sering merasa pendidikan kita seperti selalu “mengejar sesuatu” tanpa benar-benar bertanya apakah arah tersebut sesuai dengan siapa kita sebagai bangsa. Pergantian kebijakan, istilah baru, dan sistem penilaian baru sering kali membingungkan pelaku pendidikan di lapangan, terutama guru dan siswa. Harapan saya, dengan kepemimpinan pendidikan yang baru, Indonesia tidak lagi sekadar mengejar legitimasi global lewat peringkat, tetapi lebih fokus membangun pendidikan yang membumi, relevan, dan berpihak pada peserta didik. Dengan begitu, cita-cita Generasi Emas 2045 benar-benar lahir dari pendidikan yang bermakna, bukan sekadar hasil kompetisi angka.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi lagi Pak, dari materi di atas saya melihat bahwa PISA dan berbagai asesmen internasional memang memberi gambaran tertentu tentang kualitas pendidikan, tetapi belum tentu mencerminkan keseluruhan proses belajar yang dialami peserta didik di Indonesia. Perubahan UN menjadi AKM bisa dipahami sebagai upaya perbaikan, namun jika orientasinya masih sangat dipengaruhi oleh standar PISA, dikhawatirkan pendidikan kita justru terjebak pada logika pengukuran semata dan mengabaikan konteks sosial, budaya, serta karakter bangsa sendiri. Nah izin bertanya, Pak. Menurut Bapak bagaimana seharusnya Indonesia memposisikan PISA agar tetap bisa menjadi bahan refleksi tanpa mengorbankan jati diri pendidikan nasional?
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Izin menjawab pertanyaanmu ya Ninda, Jadi dari yang saya baca Indonesia seharusnya memposisikan PISA sebagai alat refleksi dan cermin evaluasi bukan sebagai tujuan utama pendidikan, seperti yang disampaikan dalam materi PISA memang memberikan gambaran tentang kemampuan literasi, numerisasi dan sains siswa dalam konteks global, tetapi hasil tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan nasional. Indonesia perlu mengambil nilai positif dari PISA terutama pada aspek penekanan kritis, pemecahan masalah dan penerapan pengetahuan dalam kehidupan nyata, namun penerapannya harus tetap disesuaikan dengan konteks sosial, budaya serta karakter peserta didik jika PISA dijadikan patokan mutlak dikhawatirkan pembelajaran akan terjebak pada logika tes dan pengukuran sehingga membagikan nilai-nilai karakter, kearifan lokal dan tujuan pendidikan nasional.
Oleh karena itu, PISA sebaiknya digunakan sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, seperti penguatan kompetensi guru dan pembelajaran yang lebih bermakna, tetapi harus mengorbankan jati diri pendidikan Indonesia. Dengan posisi seperti ini, PISA tetap berfungsi sebagai alat refleksi yang konstruktif, bukan tekanan yang justru menjauhkan pendidikan dari nilai dan tujuan utamanya.
Nama: Dias Pinasih
HapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386 20 60 57
Izin menjawab pertanyaan dari Ninda. Menurut saya, PISA sebaiknya diposisikan sebagai alat refleksi dan cermin untuk melihat kekuatan serta kelemahan pendidikan kita, bukan sebagai tujuan utama pendidikan nasional. Hasil PISA memang memberikan gambaran penting tentang kemampuan literasi, numerasi, dan pemecahan masalah siswa Indonesia dalam konteks global, tetapi hasil tersebut tidak bisa berdiri sendiri untuk menilai keseluruhan kualitas pendidikan.
Indonesia perlu mengambil hal-hal positif dari PISA, terutama pada aspek penguatan berpikir kritis dan pembelajaran berbasis konteks nyata. Namun, penerapannya harus tetap disesuaikan dengan karakteristik siswa, budaya lokal, serta nilai-nilai pendidikan nasional. Jika PISA dijadikan patokan utama tanpa penyesuaian, dikhawatirkan pembelajaran hanya akan berfokus pada pencapaian skor dan melupakan pembentukan karakter serta kebutuhan nyata peserta didik.
Oleh karena itu, menurut saya PISA lebih tepat digunakan sebagai bahan evaluasi dan masukan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas, meningkatkan kompetensi guru, serta menyempurnakan kebijakan pendidikan, tanpa mengorbankan jati diri dan tujuan utama pendidikan Indonesia.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM:2386206033
Kelas: VB PGSD
Menurut saya materi ini mengajak kita melihat hasil PISA bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai alat evaluasi yang bisa memberi arah perbaikan pendidikan, materi ini menjelaskan bahwa PISA memiliki dampak besar terhadap kebijakan pendidikan global dan nasional, namun kita juga perlu berhati-hati jika hanya fokus mengejar skor tinggi tanpa mempertimbangkan konteks pendidikan kita sendiri. Hal ini penting karena pendidikan yang baik bukan hanya soal rekening internasional, tetapi bagaimana kita benar-benar meningkatkan kualitas belajar siswa sesuai karakteristik bangsa Indonesia.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Materi ini mengutip pandangan beberapa ahli yang menyatakan bahwa terlalu menekankan indikator tunggal seperti skor PISA bisa membuat pendidikan menjadi sempit karena hanya fokus pada tes, bukan pada pengembangan potensi holistik siswa. Oleh karena itu saya setuju bahwa kita perlu melihat hasil PISA secara kritis dan menjadikannya sebagai bahan usaha untuk memperbaiki kurikulum, metode pembelajaran dan kualitas guru agar sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia bukan sekedar meniru standar luar negeri saja.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Sinta, saya suka dengan pandangan kakak terkait materi ini, yang mengatakan kalo penekanan indikator Tunggal seperti PISA membuat pendidikan menjadi sempit.
Dan menurut saya, sikap berpikir kritis yang kakak sampaikan juga justru menjadi hal yang paling penting terkait hasil pisa karena bisa digunakan sebagai bahan evaluasi, bukan malah sebagai sebagai standar Tunggal yang harus ditiru. jadi sehingga perbaikan kurikulum, metode pembelajaran, kualitas guru bisa diarahkan pada kebutuhan nyata siswa Indonesia.
Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membacanya...
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Perubahan dari UN ke AKM menunjukkan adanya upaya perbaikan arah pendidikan nasional. Pemerintah menggunakan AKM untuk memotret kemampuan literasi dan numerasi peserta didik secara lebih mendasar. Kebijakan tersebut selaras dengan indikator yang diukur oleh PISA. Namun, kebijakan ini berpotensi menjadi proses verifikasi terhadap standar internasional semata. Pemerintah perlu memastikan bahwa AKM tidak hanya menjadi alat perbandingan global. Pendidikan harus menyesuaikan kebutuhan konteks sosial dan budaya Indonesia. Reformasi pendidikan seharusnya berpihak pada pembelajaran bermakna bagi siswa.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Pengalaman Finlandia memberikan pelajaran penting bagi Indonesia dalam menyikapi PISA. Guru Finlandia memandang PISA sebagai alat ukur yang terbatas. Sistem pendidikan Finlandia mengutamakan kesejahteraan dan perkembangan holistik siswa. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa skor tinggi bukan satu-satunya tujuan pendidikan. Indonesia perlu belajar untuk tidak terjebak pada peringkat internasional. Kebijakan pendidikan harus menempatkan peserta didik sebagai subjek utama. Pendidikan nasional seharusnya mengembangkan kompetensi akademik dan non-akademik secara seimbang.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Kritik para akademisi terhadap PISA menunjukkan adanya risiko penyederhanaan makna pendidikan. PISA sering digunakan untuk memprediksi kualitas sumber daya manusia masa depan. Padahal, kondisi sosial dan ekonomi sangat memengaruhi capaian siswa. Sekolah tidak bekerja dalam ruang hampa tanpa konteks masyarakat. Kebijakan yang hanya berfokus pada hasil tes berpotensi mengabaikan aspek karakter dan kreativitas. Indonesia perlu berhati-hati dalam menjadikan PISA sebagai acuan utama. Pendidikan nasional harus berorientasi pada keadilan dan keberagaman.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak lidia, saya suka dan sependapat dengan pendapat kakak, bahwa penggunaan PISA sebagai acuan utama berisiko menyederhanakan makna pendidikan.
Dalam materi yang dibahas ini, dijelaskan bahwa PISA memang sering digunakan untuk memprediksi kualitas sumber daya manusia, dan hasilnya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi siswa, sehingga tidak bisa dilepaskan dari konteks masyarakat.
Jadi Menurut saya, di sinilah pentingnya melihat PISA bukan hanya sebagai alat pembanding antarnegara, tetapi juga sebagai cermin untuk membaca ketimpangan dan tantangan pendidikan di dalam negeri. Jika dimanfaatkan dengan tepat, PISA dapat membantu pemerintah dan pendidik memahami area yang perlu diperbaiki, tanpa mengorbankan aspek karakter, kreativitas, dan nilai keberagaman yang menjadi kekuatan pendidikan Indonesia.
Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membacanya..
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Pembagian kementerian pendidikan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengelola sektor pendidikan. Pemerintah memberikan harapan baru terhadap penguatan kebijakan pendidikan yang lebih fokus. Namun, arah kebijakan tetap perlu dikawal agar tidak semata-mata mengejar capaian global. Pendidikan dasar dan menengah harus memperhatikan karakteristik peserta didik Indonesia. Kurikulum perlu mencerminkan nilai budaya dan jati diri bangsa. Penilaian internasional dapat menjadi referensi, bukan tujuan akhir. Pendidikan nasional harus membangun generasi yang berdaya saing dan berkarakter.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Hasil PISA, TIMSS, dan PIRLS seharusnya dimaknai sebagai bahan refleksi, bukan tekanan kebijakan. Pemerintah dapat menggunakan hasil tersebut untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Namun, penyesuaian kebijakan harus dilakukan secara kontekstual. Indonesia memiliki keragaman budaya, sosial, dan geografis yang unik. Pendidikan tidak bisa diseragamkan dengan model negara lain. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya. Generasi Emas 2045 harus lahir dari pendidikan yang berakar pada nilai bangsa sendiri.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
baik sebelumnya izin menanggapi, menurut yang saya simpulkan, PISA memang mempunyai pengaruh besar terhadap kebijakan pendidikan termasuk di Indonesia, juga perubahan dari UN ke AKM menurut saya bisa dilihat sebagai usaha memperbaiki kualitas pendidikan lewat penguatan literasi dan numerasi, walaupun tidak lepas dari pengaruh penilaian internasional, tetapi menurut saya ada baik nya tidak dijadikan satu-satunya patokan, karena pendidikan juga menyangkut karakter, kemampuan sosial, dan kondisi siswa yang tidak selalu bisa diukur lewat tes.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Sitti, saya sependapat dengan pendapat kakak, bahwa PISA memang memberi pengaruh besar terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia, termasuk perubahan dari UN ke AKM yang menekankan literasi dan numerasi.
Jadi dalam materi yang dibahas, dijelaskan arah kebijakan seperti ini sebenarnya bisa menjadi langkah positif jika dipahami sebagai upaya memperbaiki cara belajar, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan penilaian internasional. Namun di materi tersebut juga menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa diukur hanya melalui tes, karena pembentukan karakter, kemampuan sosial, dan kesiapan hidup siswa sering kali tidak terlihat dalam angka.
Oleh karena itu kak PISA dan AKM ini sebaiknya digunakan sebagai alat bantu evaluasi, sementara dalam proses pembelajaran tetap berfokus pada kebutuhan siswa dan konteks pendidikan Indonesia agar perbaikan yang dilakukan benar-benar bermakna.
Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membacanya...
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
izin menanggapi kembali, menurut saya hasil PISA dan asesmen internasional lainnya ada baiknya digunakan untuk bahan refleksi dan evaluasi saja, bukan untuk tujuan utama atau ajang perlombaan antar negara. juga menurut saya bagi Indonesia ini, tantangannya adalah memanfaatkan data tersebut untuk perbaikan yang sesuai dengan karakteristik bangsa, tanpa meniru sistem pendidikan negara lain. Dengan kebijakan yang seimbang dan berpihak pada kebutuhan peserta didik, pendidikan Indonesia diharapkan mampu mencetak generasi yang cerdas berkarakter, dan siap bersaing secara global menuju generasi emas 2045.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Kembali saya buka laman ini, untuk memahami lebih dalam terkait materi tersebut. Nah dari penjelasan para ahli dalam materi itu, terlihat kalo terlalu menjadikan skor PISA sebagai tujuan utama justru berisiko menyempitkan makna pendidikan. Ketika kebijakan hanya berfokus pada peningkatan peringkat, proses belajar yang seharusnya membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan sosial bisa terabaikan. Jadi Hal ini penting untuk disadari, terutama di Indonesia yang memiliki kondisi sosial dan budaya yang beragam. karena itu, sebaiknya PISA diposisikan sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki sistem pembelajaran perlahan dan kontekstual, bukan sebagai tolok ukur tunggal. Jadi bagusnya menurut saya, pendidikan Indonesia perlu berkembang sesuai kebutuhan peserta didik dan jati diri bangsa, agar hasil belajar tidak hanya terlihat di angka, tetapi juga terasa dalam kehidupan nyata siswa.
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Dari materi ini saya melihat bahwa hasil PISA bukan sekedar angka, tapi gambaran nyata tentang bagaimana siswa kita belajar dan berpikir. Ketika skor rendah, itu bukan hanya masalah siswa, tapi juga cerminan sistem pendidikan yang perlu diperbaiki.
Dan dari materi ini mengingatkan bahwa setiap tantangan adalah peluang, dan dengan kerjasama semua pihak, pendidikan Indonesia bisa melahirkan generasi yang lebih kritis dan kompetitif di masa depan.
HapusHal ini menyoroti tantangan besar hasil PISA yang dianggap sebagai bahaya karena menunjukkan kelemahan sistem pendidikan, tapi sebenarnya bisa menjadi peluang jika dijadikan dasar kebijakan. Rendahnya skor bukan hanya tentang kemampuan siswa, tapi juga kualitas kurikulum, pelatihan guru, dan budaya belajar.
HapusNama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Pak, terima kasih atas materinya. Dari tulisan ini saya jadi paham kalau hasil PISA itu bukan cuma angka di laporan, tapi bisa jadi cerminan bagaimana kualitas pendidikan kita secara keseluruhan. Kalau kita bisa membaca hasilnya dengan jeli, justru itu jadi peluang untuk perbaikan bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Semoga guru dan sekolah bisa terus belajar dari hasil PISA supaya pembelajaran di kelas makin efektif dan relevan
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin bertanya ya pak, bagaimana cara guru di kelas menyesuaikan pembelajaran agar sejalan dengan tuntutan PISA? terimakasih
Izin memberikan tanggapan dari pertanyaan Kak Alya. Guru dapat menyesuaikan pembelajaran agar sejalan dengan tujuan PISA dengan mengalihkan pembelajaran dari hafalan ke pembelajaran bermakna berbasis masalah nyata cnthny, melalui soal cerita, diskusi dan kegiatan analisis yang melatih literasi, numerasi dan berpikir kritis siswa. Nah hal ini sesuai dengan materi yang disampaikan karena PISA seharusnya digunakan sebagai alat refleksi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran bukan sebagai tujuan utama atau sekedar mengejar peringkat, serta tetap disesuaikan dengan karakter dan konteks pendidikan Indonesia.
HapusNama: Dias Pinasih
HapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386 20 60 57
Izin menjawab pertanyaan dari Alya. Menurut saya, guru di kelas dapat menyesuaikan pembelajaran agar sejalan dengan tuntutan PISA dengan mengubah fokus pembelajaran dari sekadar hafalan rumus menjadi pembelajaran yang bermakna dan berbasis masalah. Guru bisa mulai dengan memberikan soal atau aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti masalah tentang belanja, pengukuran, atau situasi sederhana yang sering mereka temui.
Selain itu, guru perlu melatih siswa untuk bernalar dan menjelaskan cara berpikirnya, bukan hanya menuliskan jawaban akhir. Dengan membiasakan diskusi, bertanya, dan refleksi setelah belajar, siswa akan terbiasa berpikir kritis dan memahami konsep secara lebih mendalam. Hal ini sejalan dengan tujuan PISA yang menekankan kemampuan literasi, numerasi, dan pemecahan masalah, sehingga pembelajaran di kelas tetap relevan tanpa harus mengubah kurikulum secara drastis.
Saya setuju dengan pandangan yang ada dalam materi ini bahwa PISA sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan pendidikan. Perubahan dari UN ke AKM di Indonesia menurut saya merupakan langkah awal yang baik dalam proses perbaikan pendidikan, karena AKM menilai literasi dan numerasi yang lebih dekat dengan kemampuan berpikir peserta didik dalam kehidupan nyata, bukan sekedar hafalan. Namun, di sisi lain, memang tidak bisa dipungkiri bahwa AKM juga sangat dipengaruhi oleh kerangka PISA, sehingga ada kesan bahwa kebijakan pendidikan kita masih melihat keluar sebagai acuan utama.
BalasHapusContoh Finlandia yang disampaikan sangat penting. Karena kita belajar bahwa hasil PISA yang tinggi tidak otomatis menjadi tujuan utama pendidikan. Pendidikan seharusnya melihat anak secara utuh, termasuk karakter, kreatiffitas dan kompetensi non-akademik. Pernyataan para ahli yang disampaikan dalam materi ini, seperti Sahlbreg, Spiegelhalter dan Yong Zhao merupakan pandangan bahwa terlalu fokus pada suatu indikator seperti PISA justru bisa menyesatkan kebijakan pendidikan.
BalasHapusTerkait kondisi Indonesia saat ini, pembagian kementerian pendidikan bisa menjadi peluang besar jika diikuti dengan kebijakan yang selaras dan berfokus pada kebutuhan bangsa. Harapannya, hasil PISA TIMSS, Dan studi internasional lainnya digunakan sebagai cermin atau refleksi, bukan sebagai target lomba global.
BalasHapusMenurut saya PISA sbaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan tujuan akhir. Indonesia perlu mengmbil pelajaran dari hasil international, tetapi tetap mengembangkan pendidikan yang sesuai dengan karakter, budaya dan kebutuhan bangsa sendiri. Dengan begitu cita-cita Generasi Emas 2045 bsa tercapai, bukan sekedar unggul di angka, tetapi juga unggul sebagai manusia seuthnya.
BalasHapusNama: Ajuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
hasil PISA memang sering bikin kita kaget, karena angka-angkanya seolah menunjukkan bahwa pendidikan kita masih tertinggal jauh. Tapi kalau dipikir-pikir, PISA itu sebenarnya hanya menilai sebagian kecil dari kemampuan siswa, terutama membaca, matematika, dan sains dalam bentuk tes tertentu.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Saya setuju Pak bahwa tujuan pendidikan Indonesia seharusnya tidak hanya mengejar peringkat internasional tetapi membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter hasil PISA dan asesmen lain bisa dijadikan masukan namun kebijakan pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan nyata siswa Indonesia agar cita cita Generasi Emas 2045 benar benar terwujud
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Saya setuju Pak bahwa hasil PISA sebaiknya tidak dijadikan ukuran utama kualitas pendidikan karena kemampuan siswa tidak hanya bisa dilihat dari hasil tes saja menurut saya sikap karakter dan cara siswa belajar di kelas juga penting namun sering tidak terlihat dalam penilaian seperti PISA
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Menurut saya Pak AKM seharusnya digunakan sebagai bahan evaluasi bagi guru dan sekolah bukan sebagai alat untuk membandingkan Indonesia dengan negara lain karena kondisi siswa dan lingkungan belajar kita berbeda jika hasil AKM dimanfaatkan dengan baik maka pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan siswa
Nama: Dias Pinasih
BalasHapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386 20 60 57
Materi yang Bapak jelaskan sangat membuka wawasan tentang pentingnya hasil PISA sebagai cerminan kualitas pendidikan di Indonesia. Dari artikel ini terlihat bahwa rendahnya hasil PISA bukan hanya persoalan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal, tetapi lebih pada kemampuan berpikir kritis, bernalar, dan menerapkan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah masih perlu banyak perbaikan, terutama dalam menekankan pemahaman konsep dibandingkan sekadar menghafal rumus.
Saya juga memahami bahwa hasil PISA seharusnya tidak dilihat sebagai kegagalan semata, melainkan sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki sistem pendidikan. Materi ini menyadarkan saya sebagai calon guru bahwa pembelajaran matematika perlu dibuat lebih kontekstual dan bermakna agar siswa terbiasa menghadapi soal-soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi seperti yang diukur dalam PISA.
HapusMenurut saya, materi ini akan lebih kuat jika ditambahkan contoh konkret penerapan pembelajaran di kelas SD yang dapat meningkatkan kemampuan bernalar siswa, misalnya contoh aktivitas atau soal berbasis masalah sehari-hari. Selain itu, akan lebih menarik jika disertakan peran nyata guru SD dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan seperti PISA sejak dini, sehingga pembahasan tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif. Dengan begitu, pembaca khususnya calon guru dapat lebih mudah membayangkan langkah yang bisa dilakukan di kelas.
HapusNama: Dias Pinasih
BalasHapusKelas: 5B PGSD
NPM: 2386 20 60 57
Berdasarkan hasil PISA yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan bernalar dan pemecahan masalah siswa di Indonesia, langkah apa yang sebaiknya dilakukan guru sekolah dasar agar pembelajaran matematika lebih menekankan pada pemahaman konsep dan berpikir kritis sejak dini?
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
HapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Saya izin menjawab yaa..
Hasil PISA menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada kemampuan menghitung, tetapi pada pemahaman dan penalaran. Karena itu, di sekolah dasar pembelajaran matematika perlu menekankan pemahaman konsep dan berpikir kritis sejak dini agar siswa terbiasa memahami makna, mengaitkan konteks, dan memecahkan masalah, bukan sekadar menghafal rumus. Ini menjadi usaha jangka panjang untuk memperbaiki kualitas bernalar siswa Indonesia, bukan sekadar melihat PISA sebagai bahaya.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi Pak menurut saya jika pendidikan terlalu fokus mengejar nilai PISA maka pembelajaran bisa menjadi terbatas karena guru hanya mengajarkan materi tertentu saja padahal siswa juga perlu belajar sikap dan kebiasaan baik yang sesuai dengan kehidupan sehari hari di Indonesia
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi Pak menurut saya perubahan dari UN ke AKM memang sudah tepat karena selama ini siswa terlalu fokus mengejar nilai ujian saja dengan adanya AKM siswa lebih diarahkan untuk memahami bacaan dan berhitung dalam kehidupan sehari hari sehingga pembelajaran tidak terasa hanya untuk ujian
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Hasil PISA seharusnya dibaca sebagai cermin, bukan vonis. Seperti disampaikan di materi bapak, PISA hanya mengukur aspek tertentu dari pembelajaran, sehingga tidak adil jika dijadikan penentu tunggal kualitas pendidikan Indonesia.
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Setuju banget, Pak. Hasil PISA itu memang lebih tepat dibaca sebagai cermin, bukan vonis. Artinya, PISA bisa jadi bahan refleksi buat ngelihat bagian mana dari pembelajaran kita yang masih perlu diperbaiki, bukan buat ngecap kualitas pendidikan Indonesia itu jelek atau gagal.
Soalnya PISA sendiri cuma ngukur aspek tertentu seperti literasi membaca, matematika, dan sains. Padahal pendidikan itu jauh lebih luas dari sekadar apa yang bisa diujikan lewat tes. Ada pembentukan karakter, nilai gotong royong, kreativitas, empati, sampai konteks budaya dan kondisi sosial siswa yang jelas nggak bisa diwakilin cuma lewat angka PISA.
Kalau hasil PISA dijadikan satu-satunya patokan, jatuhnya jadi nggak adil. Sekolah dan guru bisa ditekan buat ngejar skor, bukan fokus ke kebutuhan nyata murid. Padahal setiap negara, termasuk Indonesia, punya tantangan dan konteks yang beda-beda.
Jadi yang paling tepat, hasil PISA dipakai sebagai bahan evaluasi dan perbaikan, bukan sebagai alat menyalahkan. Yang penting bukan sekadar naik peringkat, tapi gimana pendidikan kita benar-benar berdampak positif buat kehidupan peserta didik
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Menjadikan hasil PISA sebagai “referendum” pendidikan berisiko menggeser tujuan belajar menjadi sekadar mengejar skor. Yang lebih penting adalah menjadikannya pemicu usaha memperbaiki pembelajaran agar lebih bermakna, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan murid Indonesia.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, kenapa orang di Finlandia malah santai sama PISA? padahal pendidikan mereka kan dianggap paling oke sedunia, tapi guru-guru di sana seperti tidak terlalu peduli atau tidak tertarik sama hasil tes PISA?
Nama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: 2386206045
Selamaa aku jawab ya izin Singkatnya gini, Finlandia santai sama PISA karena mereka nggak ngejar ranking 😄
Guru di sana percaya kualitas pendidikan itu kelihatan dari proses belajar yang sehat, bukan dari skor tes. Mereka fokus ke kesejahteraan siswa, kepercayaan ke guru, dan karakter anak. Jadi PISA buat mereka cuma bonus info, bukan tujuan. Pendidikan jalan baik tanpa harus panik sama angka.
Nama:Virginia Jau
Hapuskelas:VD
npm:2386206089
Orang Finlandia itu bukan nggak peduli sama pendidikan, tapi mereka nggak ngejar ranking dan nilai PISA. Buat mereka, PISA cuma alat ukur, bukan tujuan utama. Fokus utama pendidikan di sana adalah bikin anak bahagia, sehat mental, dan suka belajar, bukan stres karena ujian.
Guru-guru di Finlandia kelihatan santai karena mereka dipercaya penuh, nggak ditekan target nilai, dan dinilai dari proses belajar, bukan hasil tes. Mereka percaya kalau prosesnya bener, hasil bakal ngikut sendiri.
Makanya, daripada ngejar skor tinggi tapi bikin anak tertekan, Finlandia lebih milih pendidikan yang manusiawi. Dan ironisnya, justru karena santai itulah sistem mereka dulu bisa dapet hasil PISA bagus.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya kembali pak, apakah PISA itu benar-benar dapat mengukur kepintaran anak saja atau hanya mengukur kemampuan mengerjakan tes? karena ada pendapat ahli yang berkata PISA itu hanya mengetes cara mengerjakan PISA, bukan gambaran utuh kemampuan siswa.
Nama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Ini juga ya sel sepemahaman aku PISA lebih banyak mengukur kemampuan mengerjakan soal PISA, bukan kepintaran anak secara utuh. PISA memang menguji literasi membaca, matematika, dan sains, tapi itu cuma sepotong dari kemampuan siswa. Kreativitas, karakter, empati, kerja sama, dan cara anak belajar di kehidupan nyata nggak benar-benar keukur di situ. Jadi PISA bisa jadi indikator, tapi nggak bisa dipakai sendirian buat menilai “pintar atau tidaknya”
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:23862060089
Menurut saya pertanyaan ini wajar banget, Pak, dan justru sering jadi bahan diskusi di kalangan pendidik juga.
Kalau ditanya apakah PISA itu mengukur kepintaran anak secara keseluruhan, jawabannya: tidak sepenuhnya. Tapi kalau dibilang PISA cuma mengukur kemampuan mengerjakan tes PISA saja, itu juga kurang tepat.
PISA itu pada dasarnya tidak menguji hafalan atau nilai rapor, tapi mengukur kemampuan literasi: bagaimana siswa memahami bacaan, bernalar dengan matematika, dan memecahkan masalah sains dalam konteks kehidupan sehari-hari. Jadi yang diuji bukan “seberapa pintar” dalam arti umum, tapi seberapa mampu anak menggunakan pengetahuan yang dia punya untuk menyelesaikan masalah nyata.
Nah, kritik yang sering muncul itu ada benarnya juga. Karena:
Anak yang terbiasa dengan tipe soal PISA tentu akan lebih siap.
Anak yang pintar tapi tidak terbiasa membaca soal panjang, konteks cerita, atau bernalar, bisa kelihatan “kurang” di PISA.
Faktor bahasa, budaya, cara mengajar di sekolah, dan kebiasaan belajar sangat berpengaruh.
Jadi betul, PISA bukan cermin utuh kemampuan siswa, apalagi untuk menilai kecerdasan individu. PISA lebih tepat dibaca sebagai gambaran sistem pendidikan: apakah sekolah-sekolah kita melatih anak untuk berpikir kritis, memahami bacaan, dan memecahkan masalah, atau masih fokus pada hafalan dan latihan soal rutin.
Ingin menanmbahkan pak, menurut saya, hasil PISA itu bukan “bahaya” kalau kita mengerti cara memakainya: sebagai bahan introspeksi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, bukan sekadar kompetisi angka dengan negara lain. Pendidikan Indonesia perlu menyesuaikan indikator itu dengan kebudayaan, konteks, dan kebutuhan anak bangsa, bukan hanya mencontoh negara lain secara langsung.
BalasHapusNama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Menurut saya, hasil PISA dapat menjadi cerminan kualitas pendidikan di suatu negara. Namun, hasil tersebut sebaiknya dijadikan bahan evaluasi, bukan untuk membandingkan secara berlebihan. Setiap negara memiliki sistem pendidikan dan karakter siswa yang berbeda. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Rendahnya peringkat PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi masih perlu ditingkatkan. Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami materi secara bermakna. Pembelajaran yang aktif dan menyenangkan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Dengan begitu, hasil belajar siswa dapat lebih baik.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Contoh negara Finlandia menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada nilai tes. Proses belajar yang nyaman dan sesuai kebutuhan siswa sangat diutamakan. Hal ini dapat membuat siswa belajar tanpa tekanan berlebihan. Indonesia dapat mengambil sisi positif dari sistem tersebut.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Tes seperti PISA memang penting untuk mengukur kemampuan siswa. Namun, pendidikan tidak bisa dinilai dari satu tes saja. Sikap, karakter, dan kreativitas siswa juga perlu diperhatikan. Pendidikan yang seimbang akan menghasilkan generasi yang berkualitas.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah, guru, dan orang tua harus saling mendukung. Fasilitas belajar dan metode pembelajaran juga perlu ditingkatkan. Dengan upaya bersama, mutu pendidikan Indonesia dapat semakin baik.
Nama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Materi ini mengajak kita melihat hasil PISA dengan cara yang lebih bijak, bukan sekadar sebagai peringkat yang harus dikejar, tetapi sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki pendidikan sesuai jati diri bangsa. Penekanan bahwa kualitas pendidikan tidak bisa diukur hanya dari satu tes sangat relevan, karena pembelajaran yang baik seharusnya juga menumbuhkan karakter, kreativitas, dan konteks sosial budaya Indonesia, sehingga upaya menuju Generasi Emas 2045 benar-benar berangkat dari kebutuhan dan kekuatan bangsa sendiri.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Jadi materi memberi kita untuk memahami nama konsep penilaian yang jujur jadi guru memberi nilai ke siswa secara adil dan bisa menjadi bahan referensi pembelajaran tersebut.
Dalam pembelajaran matematika ada perhitungan dan penilaian jadi guru dapat menilai kemampuan siswa saat belajar di kelas.
HapusUntuk menambah bagian dalam menilai kemampuan berpikir siswa guru dapat memberi berapa contoh latihan soal jadi guru dapat mengukur kemampuan berpikir siswa.
HapusDalam materi pembelajaran matematika tersebut ada nama refleksi dan evaluasi jadi guru dan siswa dapat merefleksikan bersama saat pembelajaran tersebut.
HapusJadi pembelajaran PISA mengajar guru untuk memberi nilai yang benar dan adil saat pemberian nilai jadi guru belajar untuk memahami konsep pembelajaran tersebut.
HapusMateri ini sangat penting Bagi mahasiswa PGSD, materi ini penting karena menumbuhkan kesadaran bahwa guru SD tidak hanya bertugas mengejar capaian skor internasional, tetapi membangun fondasi berpikir, karakter, dan keterampilan hidup siswa sejak dini. Dengan demikian, PISA seharusnya dipahami sebagai pemicu perbaikan praktik pembelajaran, bukan sebagai sumber tekanan atau label kegagalan pendidikan nasional.
BalasHapusIzin bertanya pak Menurut pendapat kamu, apakah fokus pada literasi dan numerasi yang diukur PISA sudah cukup untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan kehidupan nyata?
BalasHapusNama: Selma Alsayanti Mariam
HapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bantu menjawab ya kak sari, menurut saya fokus PISA ke literasi dan numerasi itu penting, tapi belum cukup kalau untuk berdiri sendiri. soalnya dua hal itu memang dasar sekali untuk kehidupan sehari-hari, misalnya seperti membaca informasi dengan benar, berpikir logis, berhitung, dan mengambil keputusan. itu jelas digunakan di dunia nyata. tapi kalau cuma berhenti di literasi dan numerasi saja, rasanya masih kurang. tantangan hidup sekarang juga membutuhkan skill lain, misalnya kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, berpikir kritis, adaptasi sama teknologi, sampai karakter dan etika. hal-hal seperti ini belum sepenuhnya terukur di PISA. jadi menurut saya, PISA itu alat ukur yang bagus sebagai dasar, tapi pendidikan tetap perlu dilengkapi dengan pembelajaran yang kontekstual, melatih problem nyata, dan membentuk karakter siswa. dengan begitu, siswa tidak hanya pintar mengerjakan soal, tapi juga siap menghadapi kehidupan sebenarnya.
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas : 5c
npm : 2386206040
artikel ini mengajak kita melihat hasil PISA bukan sekadar angka skor, tetapi sebagai indikator yang memberikan gambaran tentang kualitas pendidikan dan tantangan perbaikan, serta memperingatkan bahwa terlalu fokus hanya pada skor bisa berbahaya jika mengabaikan konteks pendidikan lokal dan pengembangan kecakapan lain di luar tes. Menurut Bapak, bagaimana cara terbaik guru dan sekolah menggunakan hasil PISA itu sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki pembelajaran sehari‑hari, tanpa terjebak hanya memikirkan peringkat atau skor internasional semata?
Nama: Selma Alsayanti Mariam
HapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bantu menjawab ya mifta, menurut saya cara terbaik guru dan sekolah menggunakan hasil PISA itu bukan untuk mengejar ranking, tapi untuk bahan bercermin atau evaluasi diri. misalnya, lihat bagian mana yang masih lemah, apakah siswa kurang paham bacaan panjang, kurang bisa bernalar, atau kesulitan soal yang konteksnya kehidupan sehari-hari. dari situ guru bisa menyesuaikan cara mengajarnya. hasil PISA juga bisa dijadikan inspirasi model soal dan pembelajaran, bukan untuk drilling, tapi untuk membuat pembelajaran lebih kontekstual dan dekat sama kehidupan siswa. contohnya, soal cerita yang diambil dari masalah sehari-hari di lingkungan sekitar sekolah. selain itu, sekolah tetap harus menghargai konteks lokal dan kebutuhan siswa, karena kondisi setiap daerah berbeda-beda. jadi PISA cukup dijadikan panduan arah, bukan patokan tunggal. intinya, fokus ke belajar yang bermakna, bukan hanya ke angka skor, supaya pembelajaran sehari-hari benar-benar membuat siswa berkembang.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Setelah membaca materi ini saya jadi berpikir, ternyata mengejar skor PISA itu tidak otomatis membuat ekonomi negara langsung melejit ya. menarik sekali poin soal Finlandia dimana guru-guru disana malah tidak terlalu ambil pusing soal ranking. mereka lebih fokus ke kompetensi non-akademik yang justru lebih berguna untuk kehidupan nyata. jangan-jangan selama ini kita hanya terjebak ikut lomba global tapi lupa membangun karakter asli anak bangsa sendiri. benar kata materi yang bapak sampaikan ini, jangan sampai menjadi Generasi (C)emas.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya setuju sekali sama materi yang bapak sampaikan ini. nilai tes tinggi tidak menjamin kualitas lulusan di dunia kerja kalau kita hanya berfokus belajar untuk ujian. PISA itu seharusnya menjadi cermin untuk evaluasi, bukan menjadi satu-satunya kiblat untuk membuat kurikulum. pendidikan itu soal berproses, bukan hanya soal angka di atas kertas.
Saya sangat sependapat dengan Selma bahwa pendidikan adalah sebuah proses panjang yang tidak seharusnya direduksi menjadi sekadar angka di atas kertas, karena nilai tes yang tinggi terbukti tidak menjamin kesiapan lulusan dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang nyata.
HapusNama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Omooo PISAaa, materi inj seruu haha bukan sebagai momok, tapi juga bukan sebagai kompas tunggal pendidikan. PISA, AKM, dan asesmen internasional lain memang bisa menjadi cermin untuk melihat posisi Indonesia, tetapi cermin tidak pernah cukup untuk menentukan arah perjalanan. Ketika kebijakan terlalu berorientasi pada skor, ada risiko pendidikan menyempit menjadi sekadar latihan menghadapi tes, sementara karakter, kreativitas, dan konteks sosial-budaya bangsa terpinggirkan. Waitt ingag bahkan pengalam Finlandia dan kritik para pakar menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tidak lahir dari perlombaan peringkat, melainkan dari kepercayaan pada guru, keadilan sosial, dan pembelajaran yang memanusiakan peserta didik. Bagi Indonesia, tantangannya bukan membuktikan diri di PISA, tetapi memperbaiki pendidikan sesuai jati diri bangsa. Jika PISA dijadikan alat refleksi, bukan tujuan akhir, maka ia bisa menjadi usaha. Namun jika dijadikan obsesi, ia justru berpotensi menjadi bahaya. Generasi Emas 2045 hanya akan lahir dari pendidikan yang utuh bukan sekadar cerdas secara angka, tapi juga kuat secara karakter.
Transisi dari UN ke AKM merupakan langkah progresif karena lebih berfokus pada kemampuan literasi dan numerasi yang jauh lebih relevan untuk kebutuhan dunia nyata dibandingkan sekadar menghafal materi.
BalasHapusMenurut saya meskipun mengacu pada standar global seperti PISA, pemerintah harus tetap memastikan bahwa implementasi AKM tetap memperhatikan keragaman fasilitas dan kualitas pendidikan di berbagai daerah terpencil di Indonesia.
BalasHapusSaya setuju dengan perubahan sistem evaluasi ini karna menuntut para guru untuk mengubah pola pengajaran mereka dari metode konvensional menjadi metode yang lebih mengedepankan logika berpikir kritis siswa.
BalasHapusBelajar dari kesuksesan Finlandia, Indonesia perlu menyadari bahwa perbaikan nilai PISA bukan sekadar tentang tes, melainkan tentang kesejahteraan siswa dan otonomi guru dalam mengajar.
BalasHapusnama : bangkit dwi prasetyo
BalasHapuskelas : 5b
npm : 2386206044
Seru banget artikel ini! Jadi paham kalau hasil PISA itu bukan sekadar peringkat, tapi sebenarnya bisa jadi cermin buat kita lihat kekuatan dan kelemahan sistem pendidikan nasional
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Setuju banget sama tanggapanmu Bangkit. Aku juga nangkapnya begitu. Betul yang kamu bilang PISA itu lebih pas dipakai sebagai cermin, bukan piala lomba. Dari situ kan kita bisa lihat area mana yang memang perlu dibenahi dan mana yang sudah jadi kekuatan, tanpa harus panik ngejar peringkat.
Yang pentingnya itu, hasil PISA jangan langsung diterjemahkan jadi kebijakan instan. Justru harus dibaca bareng konteks sosial, budaya, dan kondisi sekolah kita. Finlandia ngasih contoh bagus mereka tahu hasil PISA-nya bagus, tapi tetap fokus ke kesejahteraan siswa, kepercayaan pada guru, dan pembelajaran yang bermakna. Jadi pelajarannya buat kita bukan gimana caranya naik ranking, tapi gimana caranya bikin anak Indonesia benar-benar belajar dan berkembang sesuai jati dirinya.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
hasil pisa itu seharusnya jadi motivasi dan refleksi bukan tekanan supaya kita bisa mbangun sistem pembelajaran yang nggak cuma bikin skor naik tapi bikin siswa siap berpikir kritis dan kreatif di kehidupan nyata
NAMA;VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM;2386206089
Terima kasih, Arjuna, atas pandangan yang sangat reflektif dan matang. Apa yang kamu sampaikan menunjukkan pemahaman yang dalam terhadap makna sebenarnya dari hasil PISA.
Benar sekali bahwa hasil PISA seharusnya tidak diposisikan sebagai tekanan atau sekadar tolok ukur angka semata. Jika hasil tersebut hanya dikejar sebagai skor, maka esensi pendidikan justru bisa hilang. PISA semestinya menjadi cermin untuk melihat sejauh mana sistem pembelajaran kita mampu menyiapkan peserta didik menghadapi persoalan nyata, bukan hanya soal-soal di atas kertas.
Penekananmu pada berpikir kritis dan kreatif sangat relevan dengan tantangan abad ke-21. Dunia nyata tidak selalu menyediakan jawaban tunggal seperti di ujian, melainkan menuntut kemampuan menganalisis situasi, mengambil keputusan, beradaptasi, dan menciptakan solusi. Oleh karena itu, pembelajaran memang perlu diarahkan pada proses—bagaimana siswa belajar berpikir, bukan hanya apa yang mereka hafalkan.
Selain itu, gagasan tentang membangun sistem pembelajaran yang lebih manusiawi dan kontekstual juga penting. Guru dan pembuat kebijakan perlu menjadikan hasil PISA sebagai bahan refleksi bersama: metode apa yang perlu diperbaiki, bagaimana kurikulum bisa lebih relevan dengan kehidupan siswa, dan bagaimana kelas bisa menjadi ruang aman untuk bertanya, mencoba, dan bahkan gagal.
Pandanganmu menunjukkan bahwa kamu tidak hanya melihat pendidikan dari sisi hasil akhir, tetapi juga dari nilai jangka panjangnya bagi kehidupan siswa. Ini adalah cara berpikir yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perubahan positif dalam dunia pendidikan. Terus pertahankan cara berpikir kritis dan reflektif seperti ini, karena dari sanalah perbaikan yang bermakna bisa dimulai.
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Dilihat dari materi panjang ini, rasanya kegelisahan soal PISA yang di sampaikan itu sangat masuk akal pak. Di satu sisi, PISA memang memberi alarm bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan. Tapi di sisi lain, masalah muncul pas PISA berubah dari alat refleksi menjadi tujuan utama. Dari pengalamanku mengamati arah kebijakan pendidikan kita, AKM memang keliatan seperti upaya perbaikan lebih baik daripada UN yang sangat menentukan nasib siswa, tapi tetap terasa ada bayang-bayang PISA di belakangnya. Seolah-olah kita sedang berusaha menyesuaikan diri dengan indikator global, bukan benar-benar bertanya seperti anak Indonesia ini butuh belajar apa supaya hidupnya lebih baik
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Terus pak, apa yang disampaikan Sahlberg dan para akademisi lain menurutku penting banget untuk diingat. Kalau PISA cuman mengukur sebagian kecil dari pembelajaran terutama literasi dan numerasi lalu kebijakan pendidikan terlalu fokus ke sana, maka yang terjadi adalah penyempitan makna belajar. Ketika asesmen tertentu jadi sorotan utama, guru dan sekolah mau nggak mau menggeser prioritas. Yang nggak diukur perlahan dianggap nggak penting: karakter, empati, kreativitas, daya juang, dan kecakapan hidup.
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Ada juga contoh Finlandia justru menarik karena mereka terkenal akibat PISA, tapi nggak menjadikan PISA sebagai kompas utama. Mereka nggak panik, nggak buru-buru reformasi demi naik peringkat. Mereka sadar kalau pendidikan itu lebih luas daripada skor tes internasional. Ini kontras dengan banyak negara termasuk Indonesia yang sering kali langsung mengubah kebijakan begitu hasil PISA keluar. Padahal seperti kata Berliner, hasil PISA lebih banyak mencerminkan kondisi sosial dan ekonomi, bukan semata kualitas sekolah.
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
izin menanggapi sedikit ya. Saya merasa pembahasan soal PISA ini cukup bikin mikir, terutama ketika banyak negara justru meragukan relevansinya. Yang ingin saya tanyakan, apakah kita memang perlu sejauh itu menyesuaikan kebijakan pendidikan hanya demi naik skor PISA, padahal karakter dan konteks pendidikan tiap negara kan berbeda? Rasanya agak kontradiktif kalau tujuan kita membangun pendidikan Indonesia yang khas, tapi indikatornya masih “dipinjam” dari luar.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusNAMA:VIRGINIA JAU
BalasHapusKELS:VD
NPM:2386206089
Saya juga menangkap kekhawatiran penulis tentang kecenderungan “kembali ke dasar” yang berlebihan. Memang literasi dan numerasi penting, tapi kalau mata pelajaran lain dianggap tidak penting, justru pendidikan jadi kering dan tidak seimbang. Indonesia dengan keragaman budaya dan karakter masyarakatnya seharusnya punya pendekatan pendidikan yang lebih luas dan kontekstual, seperti yang disampaikan di artikel ini.
NAMA:VIRGINIA JAU
BalasHapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Kutipan David Spiegelhalter yang menyebut bahwa PISA hanya mengukur kemampuan mengerjakan tes PISA terasa sangat relevan. Kalau kebijakan pendidikan terlalu disesuaikan dengan satu indikator, risikonya besar. Bisa-bisa sekolah dan guru hanya fokus “mengajar untuk ujian”, bukan mendidik manusia seutuhnya. Artikel yang bapa buat ini berhasil mengingatkan bahaya tersebut dengan bahasa yang cukup jelas
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Pembahasan tentang kondisi sosial dan ekonomi sebagai faktor penentu hasil PISA juga sangat penting. Ini sering dilupakan oleh pembuat kebijakan. Banyak sekolah di Indonesia punya tantangan yang berbeda-beda, mulai dari fasilitas, lingkungan, hingga kondisi keluarga siswa. Kalau hasil PISA rendah lalu langsung menyalahkan guru dan kurikulum, itu jelas tidak adil. Artikel ini cukup tegas dalam menyampaikan hal itu.
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Saya juga menangkap kekhawatiran penulis tentang kecenderungan “kembali ke dasar” yang berlebihan. Memang literasi dan numerasi penting, tapi kalau mata pelajaran lain dianggap tidak penting, justru pendidikan jadi kering dan tidak seimbang. Indonesia dengan keragaman budaya dan karakter masyarakatnya seharusnya punya pendekatan pendidikan yang lebih luas dan kontekstual, seperti yang disampaikan di artikel ini
NAMA:VIRGINIA JAU
BalasHapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Saya juga menangkap kekhawatiran penulis tentang kecenderungan “kembali ke dasar” yang berlebihan. Memang literasi dan numerasi penting, tapi kalau mata pelajaran lain dianggap tidak penting, justru pendidikan jadi kering dan tidak seimbang. Indonesia dengan keragaman budaya dan karakter masyarakatnya seharusnya punya pendekatan pendidikan yang lebih luas dan kontekstual, seperti yang disampaikan di artikel ini
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Bagian kritik terhadap janji peningkatan ekonomi lewat skor PISA menurut saya sangat tajam. Artikel ini menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak selalu terbukti secara ilmiah, bahkan bisa menyesatkan kebijakan. Kalau pemerintah terlalu percaya bahwa skor PISA otomatis menaikkan ekonomi, bisa jadi kebijakan pendidikan malah diarahkan ke arah yang salah dan mengabaikan kebutuhan nyata masyarakat
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Perbandingan dengan negara-negara Asia Timur juga menarik. Meskipun mereka unggul di PISA, ternyata mereka sendiri tidak puas dengan sistem pendidikan mereka. Ini membuktikan bahwa skor tinggi bukan berarti sistemnya ideal. Artikel ini jadi pengingat bahwa Indonesia tidak perlu minder berlebihan, tapi juga tidak boleh menutup mata terhadap perbaikan yang memang perlu dilakukan
NAMA:VIRIGNIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Penutup artikel yang menyinggung perubahan struktur kementerian pendidikan terasa cukup relevan dengan situasi sekarang. Harapannya tentu besar, tapi juga realistis. Penulis tidak menjanjikan hal muluk, melainkan berharap kebijakan ke depan lebih berpihak pada karakter bangsa dan kebutuhan peserta didik Indonesia, bukan sekadar mengikuti tren global
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Kalimat terakhir tentang “Generasi Emas 2045, bukan Generasi (C)Emas 2045” menurut saya sangat kuat dan mengena. Ini seperti pesan moral dari keseluruhan artikel: pendidikan jangan hanya berorientasi pada angka, ranking, dan sertifikat, tapi pada pembentukan manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan mampu berkontribusi secara nyata. Artikel ini cocok jadi bahan refleksi bagi guru, mahasiswa pendidikan, maupun pembuat kebijakan
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Bangus juga nih dengan kritik terhadap narasi bahwa skor PISA otomatis berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi. Dari pengalaman melihat realitas sosial, negara dengan skor tinggi pun belum tentu masyarakatnya bahagia, inovatif, atau merasa sistem pendidikannya sehat. Bahkan di Asia Timur, seperti yang dikatakan Yong Zhao, banyak negara dengan skor tinggi justru merasa sistem pendidikannya rusak karena tekanan berlebihan pada siswa.
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Tambahan lagi pak, dalam konteks Indonesia hari ini, dengan perubahan struktur kementerian dan menteri baru, menurutku ini momen penting untuk berhenti sejenak dan bertanya tentang pendidikan kita mau dibawa ke mana? Kalau tujuan akhirnya hanya naik peringkat, guru berisiko menciptakan Generasi (C)Emas cerdas secara angka, tapi rapuh secara karakter dan jati diri. Tapi kalau PISA dan asesmen internasional dipakai sebagai cermin, bukan target, maka kebijakan bisa lebih bijak dan membumi.
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Jadi harapanku sama materi yang dipaparkan ini, pendidikan Indonesia dibangun dari karakter bangsa sendiri. Kita boleh belajar dari Finlandia, Jepang, atau negara lain, tapi bukan menyalin. Justru yang perlu ditiru adalah keberanian mereka untuk punya jalan sendiri. Generasi Emas 2045 nggak lahir dari kebijakan yang ikut-ikutan tren global, tapi dari sistem pendidikan yang memahami realitas sosial, budaya, dan kebutuhan anak-anak Indonesia.
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Menurutku, pendidikan yang kuat itu bukan yang paling cepat merespons tekanan global, tapi yang paling setia pada tujuan dasarnya seperti memanusiakan manusia dan mempersiapkan anak hidup bermakna di zamannya.
Nama : Miftahul hasanah
BalasHapuskelas 5C
Saya merasa pembahasan soal PISA ini cukup bikin mikir, terutama ketika banyak negara justru meragukan relevansinya. Yang ingin saya tanyakan, apakah kita memang perlu sejauh itu menyesuaikan kebijakan pendidikan hanya demi naik skor PISA, padahal karakter dan konteks pendidikan tiap negara kan berbeda? Rasanya agak kontradiktif kalau tujuan kita membangun pendidikan Indonesia yang khas, tapi indikatornya masih “dipinjam” dari luar.
Nama: Maya Apriyani
HapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari Miftahul Hasanah yaitu Apakah kita memang perlu sejauh itu untuk menyesuaikan kebijakan pendidikan hanya demi naik skor PISA, padahal karakter dan konteks pendidikan di tiap negara kan berbeda rasanya agak kontradiktif kalau tujuan kita membangun buktikan Indonesia yang khas tetapi indikatornya masih dipinjam dari luar.
Kalau menurut saya sendiri Kita tidak perlu menyesuaikan kebijakan pendidikan itu hanya demi menaikkan skor tetapi kita menggunakan kebijakan PISA itu sebagai alat untuk sebagai cerminan ataupun alat ukur yang di mana kita dapat mengetahui kemampuan siswa kita dalam literasi dan numerasi.
Nah seperti yang kita ketahui sekarang Indonesia itu sudah mulai menyesuaikan dengan ciri khas Indonesia yaitu dengan adanya profil pelajar Pancasila.
Selanjutnya Peran kita yaitu kita harus mempergunakan bisa ini sebagai untuk mengidentifikasi kelemahan agar kita mampu membenahi diri, jadi rangking itu bukanlah segalanya
nama:erfina feren heldiana
BalasHapus5c
menyampaikan bahwa hasil PISA bisa dilihat sebagai usaha untuk mendorong perubahan sistemik, bukan sekadar bahaya statistik rendah, serta bahwa kebijakan nasional seperti AKM dan perubahan kurikulum bisa menjadi bagian dari respons terhadap temuan PISA. Namun di praktik nyata, banyak guru dan sekolah yang masih fokus pada tuntutan kurikulum lokal. Menurut Bapak, strategi apa yang efektif agar hasil evaluasi seperti PISA bisa terintegrasi secara bermakna dalam perencanaan pembelajaran di tingkat sekolah atau kelas, sehingga tetap relevan dengan kebutuhan siswa di lingkungan kita?
Nama: Maya Apriyani
HapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari Efrina yaitu Strategi apa yang efektif agar hasil evaluasi seperti PISA bisa terintegrasi secara bermakna dalam perencanaan pembelajaran di tingkat sekolah atau kelas sehingga tetap relevan dengan kebutuhan siswa di lingkungan kita?
Yang pertama Menurut pendapat saya yaitu menjadikan PISA ini sebagai alat evaluasi, misalnya kita melihat bahwa skor literasi itu rendah maka tentunya kita harus melihat nih Bagaimana caranya kita dapat meningkatkan hal tersebut misalnya dengan memperkuat ataupun dengan membiasakan Siswa lebih rajin lagi membaca, Jadi kita itu menjadikannya sebagai alat untuk memperkuat bukan berarti kita gagal.
Yang kedua yaitu ubah gaya belajar yang tadinya menghafal ataupun hafalan menjadi berpikir yang di mana siswa ini menyelesaikan suatu permasalahan dengan berkolaborasi antar teman.
Kemudian yang ketiga mengajak siswa untuk mengevaluasi diri mereka dengan merefleksi.
Menurut pendapat saya ini yang bisa dilakukan terima kasih
nama : bangkit dwi prasetyo
BalasHapuskelas : 5b
npm : 2386206044
Menurutku, hasil PISA Indonesia muncul sebagai tantangan sekaligus peluang. Dengan data itu, guru dan pembuat kebijakan bisa evaluasi arah pembelajaran supaya siap hadapi tantangan global
Nama: Maya Apriyani
BalasHapusNpm: 2386206013
kelas: V.A
Izin menanggapi bacaan di atas, Oke pada bacaan ini tentunya kita disajikan dengan pembahasan tentang PISA. Saya baru mengetahui ternyata dengan dihapusnya ujian nasional itu merupakan salah satu kebijakan dari PISA, yang di mana Bisa ini ternyata dari bacaan ini ada dampak-dampak negatifnya yang di mana PISA hanya terfokuskan kepada beberapa mata pelajaran yang dianggap penting tetapi meninggalkan keterampilan-keterampilan yang lainnya.
Ternyata banyak sekali sekolah-sekolah yang mengejar angka tertinggi visa karena banyak sekali janji-janji yang mereka dapatkan apabila berada di skor tertinggi, banyak sekolah yang mengabaikan kebutuhan nyata siswa di lapangan demi untuk mencapai skor yang tertinggi, lalu skor tertinggi visa juga tidak menjamin pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Untuk negara Indonesia sendiri sesuai dengan yang ada di artikel kiranya pendidikan di Indonesia tidak hanya mengejar skor tertinggi melainkan benar-benar jadikannya sebagai bahan evaluasi agar dapat membentuk generasi yang baik dan sesuai dengan jati diri negara.
Terima kasih
Nama : bangkit dwi prasetyo
BalasHapusKelas : 5b
Npm : 2386206044
Sebagai mahasiswa, aku ngerasa penting banget kita belajar dari PISA supaya kualitas literasi, matematika, dan sains di Indonesia bisa makin membaik — bukan cuma sekedar ikut tes aja
Nama : bangkit dwi prasetyo
BalasHapusKelas : 5b
Npm : 2386206044
Keren juga bahasannya soal bagaimana PISA bisa bantu benchmarking prestasi siswa dengan negara lain. Kalau dipakai sebagai bahan refleksi, ini bisa jadi inspirasinya pendidikan kita lebih maju
Nama : bangkit dwi prasetyo
BalasHapusKelas : 5b
Npm : 2386206044
Artikel ini bikin aku mikir kalau skor PISA yang belum tinggi nggak selalu berarti “bahaya”. Justru itu bisa jadi pemicu perubahan supaya sistem belajar dan kurikulum diperbaiki