Mengelola siswa yang terpengaruh trauma merupakan tugas yang membutuhkan keseimbangan yang cermat.
Sebagai pendidik, harus menyadari dampak masa lalu yang sulit, sambil berharap masa depan yang lebih baik bagi siswa. Terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman untuk mereka berbagi cerita, namun tetap mempertahankan batas profesional. Di sisi lain, sebagai pendidik juga harus menjaga kesehatan mental diri juga sambil memberikan dukungan pada siswa. Meski berpusat pada ruang kelas, peran guru sangat bergantung pada dukungan dari komunitas guru-guru.
Terkait tentang trauma dan pembelajaran sosial emosional (SEL). Dua prinsip mendasar mencuat dari diskusi tersebut: pertama, pentingnya mendekati siswa sebagai individu dan membangun hubungan kuat serta personal yang dapat mendukung mereka yang terdampak trauma. Kedua, menciptakan hubungan ini menuntut adanya perubahan budaya yang lebih luas, di mana komunitas berkolaborasi untuk menyediakan ruang di mana siswa, guru, dan staf lainnya bisa berkembang.
Bahkan di kelas yang tampaknya tidak terpengaruh trauma, penting untuk tidak mengabaikan kemungkinan trauma pada siswa. Penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa trauma masa kecil lebih luas dari yang diperkirakan dan sering kali tak terlihat. Praktik yang sadar trauma dan pembelajaran sosial emosional sebenarnya bermanfaat bagi semua siswa, mendorong pengembangan kesadaran diri, empati, pengaturan diri, dan keterbukaan pada kerja tim. Zero to Three, organisasi nirlaba, menyarankan pendekatan "universal," di mana semua anak dianggap mungkin terkena dampak trauma dan memerlukan dukungan dalam pembelajaran sosial emosional.
Sejumlah studi mendukung pendekatan ini. Sebuah metastudi pada 2017 yang melibatkan lebih dari 97.000 siswa TK-SMA menemukan bahwa praktik SEL dapat meningkatkan prestasi akademik, mengurangi perilaku bermasalah, serta menurunkan tekanan emosional dalam jangka panjang.
Lalu, bagaimana kita bisa menyeimbangkan fokus pada kebutuhan individu dengan komitmen komunitas terhadap SEL yang peka trauma? Para pendidik dapat untuk:
Kenali Siswa Anda
Untuk mendukung siswa yang mengalami trauma, prioritas harus diberikan pada hubungan daripada isi pelajaran. Banyak pendidik menegaskan bahwa jika kita tidak memperhatikan trauma, maka siswa yang terganggu dan tidak fokus tidak akan mendapatkan manfaat dari kurikulum terbaik sekalipun. Saran mereka: hubungan yang personal adalah fondasi bagi SEL dan praktik yang sadar trauma.
Namun, dengan jumlah siswa yang berbeda-beda di setiap kelas, bagaimana guru dapat mengenali dan mendukung setiap siswa secara efektif? Jawabannya adalah dukungan kolektif, dengan pendekatan berbasis tim yang melibatkan seluruh sistem pendidikan. Menurut Mathew Portell, seorang kepala sekolah yang sadar trauma, penting untuk memahami bahwa setiap siswa merespons trauma dengan cara yang berbeda, dan mengenali kisah hidup mereka dapat membantu guru dalam memberikan dukungan yang tepat.
Trauma dapat muncul dalam berbagai bentuk perilaku yang sering kali disalahartikan sebagai gangguan. Misalnya, Sarah MacLaughlin mencatat bahwa kewaspadaan yang berlebihan bisa tampak seperti hiperaktif, sementara ketakutan bisa terlihat seperti agresi. Pentingnya memahami perilaku ini terlihat jelas dalam pengalaman Kareem Farah, seorang guru matematika, yang mengamati bahwa siswa yang mengalami kemiskinan sering kali mengekspresikan rasa sakit mereka melalui kemarahan.
Model Sekolah Secara Menyeluruh
Hubungan personal memang sangat penting, tetapi dampak dari hubungan ini akan lebih besar bila didukung oleh pendekatan di seluruh sekolah dan komunitas. Banyak pendidik yang menyarankan adanya konsistensi tim dalam penerapan pendekatan sadar trauma, di mana semua orang di sekolah, termasuk administrator dan staf, berkomitmen pada perubahan pola pikir ini. Dukungan ini memperkuat solidaritas dalam mendukung siswa secara berkelanjutan.
Sejumlah guru juga berbagi pendekatan yang bisa digunakan untuk menggalakkan keterlibatan staf. Di beberapa sekolah, pertemuan kelompok kecil digunakan untuk saling mendukung dan mengingatkan rekan kerja tentang pentingnya kesadaran akan trauma. Beberapa sekolah bahkan melibatkan semua staf dalam lingkaran pemulihan, memberikan pengalaman langsung dalam keterampilan sosial emosional yang diperlukan oleh siswa.
Fokus pada Kesejahteraan Guru
Sebagai pendidik, kita tidak boleh mengabaikan kebutuhan sosial dan emosional diri kita sendiri. Banyak pendidik dalam diskusi menyadari bahwa dukungan sosial emosional juga perlu dimulai dari guru. Dukungan ini tidak hanya membantu guru menangani dampak trauma tidak langsung, tetapi juga membangun ekosistem belajar yang sehat di mana semua anggota komunitas dapat berkembang. Menurut organisasi Move This World, perhatian pada kesejahteraan guru memungkinkan mereka untuk lebih siap dalam mendukung kebutuhan siswa secara autentik.
Akhirnya, tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam mendukung siswa tidak dapat diatasi oleh sekolah sendiri. Diperlukan kerja sama dengan orang tua, konselor, dan pihak lain untuk membimbing siswa melalui tantangan. Sehingga, trauma dan pembelajaran sosial emosional (SEL) adalah tanggung jawab kita semua.
Referensi

Nama:Elisnawatie
BalasHapusKela:VD
NPM:2386206069
Izin menambahkan pak trauma bisa dialami sejak usia sangat dini, bahkan sebelum anak masuk sekolah. Pengalaman-pengalaman sulit seperti kehilangan, kekerasan, atau ketidakstabilan keluarga dapat meninggalkan jejak emosional yang memengaruhi cara anak belajar dan berinteraksi di kelas. Karena itu, penting bagi guru untuk memahami bahwa perilaku siswa seperti sulit fokus, mudah marah, atau tampak tidak peduli bisa jadi merupakan respons terhadap trauma yang telah dialami sebelumnya.Izin menambahkan pak bahwa trauma bisa dialami sejak usia sangat dini, bahkan sebelum anak masuk sekolah. Pengalaman-pengalaman sulit seperti kehilangan, kekerasan, atau ketidakstabilan keluarga dapat meninggalkan jejak emosional yang memengaruhi cara anak belajar dan berinteraksi di kelas. Karena itu, penting bagi guru untuk memahami bahwa perilaku siswa seperti sulit fokus, mudah marah, atau tampak tidak peduli bisa jadi merupakan respons terhadap trauma yang telah dialami sebelumnya.Izin menambahkan pak bahwa trauma bisa dialami sejak usia sangat dini, bahkan sebelum anak masuk sekolah. Pengalaman-pengalaman sulit seperti kehilangan, kekerasan, atau ketidakstabilan keluarga dapat meninggalkan jejak emosional yang memengaruhi cara anak belajar dan berinteraksi di kelas. Karena itu, penting bagi guru untuk memahami bahwa perilaku siswa seperti sulit fokus, mudah marah, atau tampak tidak peduli bisa jadi merupakan respons terhadap trauma yang telah dialami sebelumnya.Dengan dukungan dari seluruh pihak di sekolah, serta perhatian terhadap kesejahteraan guru, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang sadar trauma dan mampu mendukung siswa sejak tahap perkembangan paling awal.
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Izin menanggapi pak, terkait materi ini adalah sebagai guru kita harus menciptakan lingkungan nyaman aman dan mendukung siswa. Karena mengelola siswa yang memiliki trauma sangatlah mempengaruhi mental siswa dan kesehatannya. Sebagai guru Kita juga harus memperhatikan kesehatan mental siswanya. Karena kita tidak tahu bahwa anak tersebut mengalami trauma di mana saja baik di lingkungan keluarga ataupun lingkungan sekitarnya maka dari itu, penting untuk guru menerapkan dua prinsip yang ada pada materi di atas. Materi di atas juga mengajarkan kita untuk cara mengatasi masalah trauma salah satunya adalah melakukan pendekatan kepada siswa tersebut. selain itu juga materi ini memberi wawasan yang berguna tentang peran guru dan komunitas sekolah dalam membantu siswa yang mengalami trauma.
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Baik pak saya izin bertanya, pelatihan apa Pak atau materi apa yang paling membantu guru untuk menerapkan pendekatan trauma ini kususnya di sekolah dasar pak🙏
Hallo ka Isdi saya izin menjawab pertanyaanya ya.
Hapuskalo menurut saya materi yang dapat membantu guru untuk melakukan pendekatan trauma pada anak didik itu ialah mempelajari psikolog anak, biasanya kalo guru yang lulusan PGSD itu ada mata kuliah tentang mempelajari Psikologis anak, pertumbuhan dan perkembangan anak dan filsafat pendidikan, nah guru dengan lulusan ini bisa mengingat kembali mata kuliahnya agar dapat digunakan untuk menyelesaika permasalan ini.
Selain itu juga strategi yang di uraikan laman ini dapat dimanfaatkan oleh seorang guru untuk mengatasi trauma anak.
Nama : Putri Lestari Pinang
HapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
izin bantu menjawab dari pertanyaan Isdiana, Guru dapat mempelajari tentang pengertian trauma dan dampaknya pada siswa, sehingga mereka dapat memahami bagaimana trauma dapat mempengaruhi perilaku dan kemampuan belajar siswa. Mereka juga dapat belajar tentang strategi untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung, seperti membangun hubungan yang positif dengan siswa dan menyediakan ruang yang nyaman untuk siswa berbicara tentang perasaan mereka. Guru juga dapat mempelajari teknik pengelolaan emosi dan perilaku siswa yang mengalami trauma, sehingga mereka dapat membantu siswa mengelola perasaan dan perilaku mereka dengan lebih efektif. Dengan memahami dan menerapkan pendekatan trauma, guru dapat membantu siswa-siswi yang mengalami trauma untuk merasa lebih aman dan didukung, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pembelajaran dan mencapai potensi mereka. Semoga membantu.
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Haloo isdiana izin menjawab yak Agar guru SD bisa menerapkan trauma-informed approach, pelatihan yang paling membantu adalah pelatihan yang mengajarkan guru mengenali tanda-tanda trauma pada anak, mengelola emosibaik untuk diri sendiri maupun siswa, membuat lingkungan kelas yang aman dan konsisten, serta berkomunikasi dengan empati. Selain itu, materi tentang cara menangani perilaku tanpa memicu stres, bekerja sama dengan orang tua, dan menjaga kesehatan mental guru juga sangat penting. Kombinasi materi-materi ini membantu guru memahami bahwa perilaku sulit sering berasal dari pengalaman anak, sehingga guru dapat merespons dengan cara yang lebih tenang, hangat, dan tidak menghakimi. Ini membuat kelas lebih aman, hubungan guru–siswa lebih kuat, dan proses belajar anak lebih optimal.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana Susilowati Ibrahim, menurut sepengetahuan aku sih ya isdiana mungkin pelatihan yang paling membantu para guru Sekolah Dasar itu ialah pelatihan Trauma Informed Teacing dan juga pembelajaran Sosial Emosional yang bersifat universal/menyeluruh, dan juga menegaskan tentang mengenai tanda trauma melalui prilaku, pendekatan sekolahan menyeluruh, dan juga perawatan diri bagi para guru supaya mampu untuk mendampingi para siswanya secara autentik/nyata.
Nama: Ratna andina
Hapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
izin menanggapi ya, menurut saya pelatihan yang paling ngebantu guru itu pelatihan yang bahas dasar trauma pada anak dan cara ngadepinnya langsung di kelas. guru perlu tau tanda-tanda anak yang punya trauma, jadi ga langsung nganggep anak bandel atau malas.
Nama: Ratna andina
Hapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
Ijin menambahkan sedikit lagi, selain itu guru juga butuh pelatihan soal cara komunikasi yang baik, ngatur emosi sendiri, dan disiplin tanpa marah-marah atau hukuman keras. hal-hal kayak gini kepake banget di sd. menurut saya, pendekatan trauma bakal lebih jalan kalau sekolah juga ngajak orang tua kerja sama, biar ngadepin anak di sekolah dan di rumah ga bertabrakan
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana, jadi menurut saya, pelatihan yang paling membantu biasanya tentang Trauma-Informed Teaching, yang isinya ngenalin guru ke dampak trauma pada emosi dan perilaku anak, cara bangun kelas yang aman dan hangat, strategi ngelola emosi siswa, komunikasi empatik, serta disiplin positif tanpa hukuman keras; ditambah materi Social Emotional Learning (SEL), manajemen kelas berbasis relasi, dan dasar-dasar kesehatan mental anak supaya guru lebih peka, sabar, dan fokus ke pemulihan serta perkembangan anak, bukan cuma ke aturan atau nilai.
5b pgsd
Hapus2386206057
izin menjawab Menurut saya, pelatihan yang paling membantu guru dalam menerapkan pendekatan trauma di sekolah dasar adalah pelatihan trauma-informed teaching dan pembelajaran sosial emosional (SEL). Pelatihan ini membantu guru memahami perilaku siswa yang dipengaruhi kondisi emosional, bukan sekadar kemampuan akademik.
Selain itu, guru juga perlu dibekali materi tentang cara mengenali tanda-tanda trauma dan komunikasi empatik, supaya bisa menciptakan kelas yang aman dan nyaman. Dengan pelatihan yang praktis dan aplikatif, guru bisa lebih siap mendampingi siswa tanpa merasa terbebani dan tahu kapan perlu melibatkan orang tua atau guru BK.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Saya izin menjawab pertanyaan dari isdiana, menurut saya pelatihan yang paling membantu untuk guru SD dalam menerapkan pendekatan trauma ini adalah pelatihan yang berfokus membangun keterampilan mengenali tanda-tanda trauma pada anak seperti memahami bahwa kewaspadaan berlebihan bisa terlihat seperti hiperaktif atau ketakutan yang muncul sebagai agresi atau perilaku, kemudian juga pelatihan mudah tentang pembelajaran sosial emosional (SEL) yang bisa langsung diterapkan di kelas seperti teknik membangun hubungan personal dengan siswa, cara menciptakan ruang aman untuk anak bercerita dan yang tidak kalah penting adalah pelatihan kesejahteraan guru sendiri karena kalau kita sebagai guru tidak sehat secara mental dan emosional akan sulit sekali untuk bisa mendukung anak-anak yang mengalami trauma secara nyata dan berkelanjutan.
Semoga membantu.
Saya itu kadang sedih ketika membaca berita yang berisikan pengalaman yang menyakitkan atau trauma pada anak didik, apalagi masih tingkatan sekolah dasar.
BalasHapusRasanya untuk umur yang masih dibilang sangat muda merupakan pukulan keras bagi anak didik tersebut untuk merasakan trauma, lebih kasihan lagi ketika siswa yang mengalami trauma ini masuk ke dalam lingkungan sekolah yang menganggap remeh rasa trauma itu , semakin bertubi-tubi rasa trauma itu tumbuh dalam diri siswa tersebut.
Sebagai calon pendidik saya sangat bersyukur mendapatkan uraian pada laman ini ,ini merupakan bekal saya ketika mendidik untuk mengenali apakah anak didik saya mempunyai trauma bawaan sejak dini ,dan dengan strategi yang diuraikan pada laman ini akan saya coba terapkan untuk anak didik saya.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNpm : 2386206086
Kelas : 5D
materi inii sangat penting menurut saya karena membahas sisi manusiawi dari Pendidikan yaitu bagaimana guru itu berperan tidak hanya sebagai pengajar saja , tetapi juga sebagai pendamping emosional bagi siswa yang mengalami trauma , mengelola siswa yang memiliki trauma itu memang membutuhkan keseimbangan antara empati, profesionalitas, dan Kesehatan mental guru itu sendiri , trauma pada anak sering kali tidak tampak secara langsung, tetapi mempengaruhi prilaku,emosi, dan kemampuan mereka untuk tetap focus belajat, anak yang tampak nakal , pendiam, atau mudah marah bisa jadi dia sedang berjuang dengan pengalaman masa lalu yang menyakitkan, karena itu, guru harus melihat prilaku anak , bukan karena sebagai masalah untuk disiplin , tetapi sebagai bentuk komunikasi dari luka batin yang belum sembuhmemang benar hubungan personal antara guru dan siswa merupakan kunci Utama , anak yang merasa aman , dihargai, dan di terima akan lebih mudah terbuka dan termotivasi untuk belajat, hubungan yang positif perlu dibangun tidak hanya oleh guru saja , tetapi juga seluruh warga sekolah , dukungan antar guru dan kolaborasi Bersama orang tua sangat dibutuhkan agar anak tidak merasa sendirian , mengelola siswa yang memiliki trauma itu bukan hanya soal mengubah prilaku merka saja , tetapi menciptakan lingkungan belajar yang aman , penuh empati, dan saling mendudkung , Ketika guru sadar pentinghnya pembelajar sosial emosional ( SEL ) , maka proses Pendidikan tidak hanya mencerdaskan pikiran saja , tetapi juga menyembuhkan hati dan membangun karakter.
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
materi nya sangat bermanfaat pak, memang sebagai pendidik kita harus memperhatikan mengenai trauma dan pembelajaran sosial emosional siswa, supaya membangun erat hubungan dengan siswa agar mereka tidak trauma lagi dengan pembelajaran, juga mendorong pengembangan kesadaran diri, empati, dan pengaturan diri.
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Saya sangat setuju dengan apa yang Putri sampaikan pak. Sebagai pendidik, kita memang perlu memperhatikan kondisi sosial emosional siswa, termasuk pengalaman trauma yang mungkin mereka bawa ke sekolah. Ketika guru membangun hubungan yang hangat, aman, dan penuh kepercayaan, siswa akan merasa dihargai dan tidak lagi takut terhadap proses pembelajaran.Pendekatan ini juga membantu siswa mengembangkan kesadaran diri, empati, serta kemampuan mengatur emosi. Dengan begitu, mereka tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Artikel ini buat saya makin paham kalau ternyata trauma itu bisa dialami siapa saja, terutama anak-anak. Artikel ini ngajak kita sebagai pendidik buat lebih peka dan sabar, karena anak yang punya trauma butuh ruang yang aman, bukan di tambah dengan tekanan. Pendekatan yang lembut..penuh kasih sayang.. dan bertahap pastinya, pasti bisa bantu mereka buat pulih lagi.
Kerennya lagi, seorang guru itu bukan cuma pengajar, tapi juga pendamping emosi. Saya punya pengalaman sendiri sewaktu mengajar bimbel. Kadang ada anak yang keliatannya 'malas' ternyata cuma taku salah. Jadi penting banget nih di inget buat kita-kita calon guru kalau nanti jadi guru, sebisa mungkin buat bangun suasana belajar yang hangat, supaya anak bisa berkembang tanpa rasa takut.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Ohh iyaa saya ada pertanyaan nih Pak. Teman-teman boleh bantu jawab yaa..
Saya rasa (masih ragu juga sih sebenarnya hehehe) salah satu murid saya tuh kaya punya trauma belajar gitu. Karena dia kaya ga semangat belajar, rasa ingin taunya kurang. Padahal kata orang tuanya waktu SD kelas 1 dia rajin anaknya (sekarang duduk dikelas 2). Sudah kurang lebih sebulan saya ngajar, tetap ga ada perubahan yang signifikan.
Pertanyaannya
Gimana yaa caranya membangun rasa aman dan percaya diri pada anak yang pernah trauma belajar, terutama saat mereka mulai belajar lagi dari nol?
Hallo ka Nabila saya izin menjawab pertanyaanya ya
Hapuskalo dari saya cara untuk mengatasi permasalahan tersebut ialah :
Yang pertama coba ka Nabila dekati anak muridnya secara intens, dengan cara ajak dulu bermain permainan kesukaannya 1/2 kali atau bahkan lebih ,nah sambil berjalanya waktu ketika anak didik tersebut sudah merasa nyaman baru deh coba ka Nabila tanyakan dengan pertanyaan yang tidak menyinggung perasaanya.
Lalu yang kedua coba kerjasama dengan orang tua anak didik tersebut, misalnya ka Nabila meminta orang tuanya untuk sering-sering mengajak anak tersebut jalan-jalan ketempat yang diinginkan untuk membangun hubungan yang lebih erat dan nyaman dan kalo bisa selalu menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita,bertanya keadaan dan perasaan anak didik, supaya anak didik itu bisa terbuka tentang apa yang dia rasakan.
Dan untuk yang terakhir coba ka Nabila sedikit mengubah gaya pembelajaran, bisa dengan menggunakan gambar atau bahkan permainan serta bisa menggunakan cerita yang mengaitkan kegiatan sehari-hari peserta didik untuk menerangkan pembelajaran, supaya diia semakin semangat dan kembali aktif belajar.
semoga bermanfaat ka...
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Izin coba menjawab ya, menurut saya, jangan langsung nuntut anak berubah cepat. yang paling penting itu bangun rasa aman dulu, misalnya dengan sering ngajak ngobrol santai, dengerin ceritanya, dan ga gampang nyalahin. usahain juga jangan negur anak di depan teman-temannya. mulai dari tugas-tugas yang ringan biar anak ngerasa "oh, aku bisa", lalu kasih pujian kecil tiap ada usaha. kalau anak sudah ngerasa aman dan dipercaya, pelan-pelan rasa percaya diri dan semangat belajarnya bisa muncul lagi.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Tanggapan saya dari materi yang di berikan, emang benar mengelola siswa yang terpengaruh trauma adalah tantangan yang kompleks bagi para pendidik. Dengan demikian, penting bagi guru untuk menyadari bahwa setiap siswa memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Trauma yang dialami anak-anak bisa muncul dalam berbagai bentuk perilaku, seperti kewaspadaan berlebihan yang sering kali disalahartikan sebagai hiperaktif. Oleh karena itu, membangun hubungan personal yang kuat dengan siswa menjadi prioritas utama. Dengan memahami kisah hidup mereka, guru dapat memberikan dukungan yang lebih tepat dan efektif, yang pada akhirnya dapat membantu siswa merasa lebih aman dan dihargai di lingkungan sekolah. Mungkin penting juga untuk menciptakan budaya sekolah yang mendukung dan peka terhadap trauma.Dari hal ini memerlukan kolaborasi antara guru, staf, dan seluruh komunitas sekolah. Pendekatan berbasis tim bisa menjadi solusi, di mana semua pihak terlibat dalam penerapan praktik yang sadar trauma. Misalnya, pertemuan rutin antar staf untuk saling mendukung dapat membantu menciptakan kesadaran dan konsistensi dalam menghadapi siswa yang mengalami trauma. Dengan cara ini, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan memahami kebutuhan semua siswa, bukan hanya yang terlihat terpengaruh trauma.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
saya setuju dengan tanggapan ini, kalau ngadepin siswa yang punya trauma itu memang kompleks dan sering salah dipahami, misalnya dianggap hiperaktif atau bermasalah. karena itu, hubungan personal guru dan siswa jadi penting banget supaya guru bisa lebih ngerti kondisi anak. pendekatan ini juga ga bisa jalan sendiri, tapi perlu kerjasama semua warga sekolah biar anak ngerasa aman dan didukung.
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya membaca materi ini, menurut saya pada materi ini memberikan pemahaman yang luas/mendalam tentang betapa pentingnya pendekatan pembelajaran yang sadar trauma (trauma-informed education) serta kaitannya juga dengan pembelajaran emosional (SEL). Dan juga memberitahukan bahwa tugas guru bukan hanya mengajar tentang materi akademik, namun juga harus mendampingi siswa secara emosional, khususnya mereka yang pernah/sedang mengalami pengalaman traumatis.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nanda sudah sangat tepat bahwa tugas guru kini melampaui akademik, yaitu mendampingi siswa secara emosional, apalagi yang punya pengalaman traumatis. Tambahan dari saya, ini menuntut adanya perubahan budaya sekolah secara menyeluruh, di mana semua orang di sekolah, termasuk staf dan administrator, harus memiliki pemahaman yang sama tentang pendekatan sadar trauma. Hal ini penting karena dampak dari hubungan personal guru akan lebih besar bila didukung oleh konsistensi tim dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif secara berkelanjutan.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Menurut saya, mengelola siswa yang punya trauma memang butuh kesabaran dan empati tinggi titik guru harus bisa memahami latar belakang setiap anak karena pengalaman masa lalu bisa sangat mempengaruhi cara mereka belajar. Kalau guru bisa dekat secara emosional dengan siswanya maka anak jadi lebih nyaman dan lebih percaya kepada gurunya. Hal ini bikin mereka lebih berani mencoba dan tidak takut untuk salah. Jadi, hubungan yang hangat antara guru dan siswa itu adalah kunci penting guru dalam membantu anak yang punya trauma.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Saya setuju pak kalau sekolah perlu punya budaya yang peduli dan peka terhadap emosional anak semua pihak di sekolah bukan cuma guru tapi juga harus bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman dan suportir. Dengan begitu anak yang punya pengalaman sulit merasa diterima dan lebih dihargai. Kadang yang dibutuhkan siswa bukan hanya nasehat panjang, tetapi juga rasa aman dan diterima apa adanya pada lingkungan sekolah baik dari guru atau maupun teman mereka sendiri. Kalau di sekolah memiliki suasana positif semangat belajar anak pasti ikut tumbuh.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Selain fokus ke siswa kesejahteraan guru juga nggak kalah penting. Guru yang stres atau kelelahan akan sulit untuk memberikan dukungan emosional pada anak-anaknya. Oleh karena itu di sekolah perlu memberi ruang bagi guru untuk beristirahat, berbagi cerita, dan saling mendukung. Kalau guru merasa tenang dan dihargai mereka bisa lebih sabar menghadapi siswa dengan trauma. Jadi kesehatan mental guru dan siswa harus berjalan seiringan supaya proses belajar bisa berjalan baik.
Terima kasih banyak, Bapak, atas materi yang sangat relevan dan mencerahkan mengenai pengelolaan siswa dengan trauma belajar. Penekanan pada pendekatan yang sensitif terhadap trauma (trauma-informed approach) adalah kunci yang sangat kami butuhkan di lapangan
BalasHapusNama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Izin menanggapi ya Rakinah, saya setuju dengan tanggapan kamu, bahwa pendekatan yang sensitif terhadap trauma memang sangat dibutuhkan dilapangan, apalagi kondisi siswa yang saat ini semakin beragam dan komplek.
Sedikit tambahan dari saya, satu hal penting yang saya pelajari dari materi ini adalah bahwa guru tidak harus selalu menyelesaikan trauma siswa, tetapi bisa menyediakan ruang aman agar siswa merasa didengar.
Semoga ilmu ini, bisa kita terapkan ketika nanti terjun langsung ke sekolah ya😊
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: 5B PGSD
Izin menanggapi pak...
Mengelola siswa yang mengalami trauma sangat penting karena berpengaruh dengan mental dan proses belajar siswa, namun kita perlu pertimbangan yang cermat dalam mengelola siswa yang mengalami trauma salah satunya dengan cara praktik pembelajaran sosial emosional (SEL) yang sudah di dukung sejumlah studi, pendekatan sadar trauma dan kenali siswa atau latar belakang siswa melalui orang tuanya. Namun jangan lupakan diri sendiri juga harus menjaga kesehatan mental sebagai pendidik, masalah trauma memang berat jadi perlu banyak orang terlibat untuk membimbing siswa melalui tantangan pastinya harus di mulai dari lingkungan yang sehat
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Sinta sudah sangat tepat, bahwa mengelola siswa dengan trauma itu butuh pertimbangan cermat dengan pendekatan sadar trauma, dan kesehatan mental guru juga harus dijaga. Tambahan dari saya, penerapan pendekatan sadar trauma ini harus dilakukan secara universal oleh seluruh sekolah, bukan cuma guru tertentu, karena semua anak mungkin terdampak trauma. Konsistensi tim ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang hangat, aman, dan saling mendukung di mana guru bisa bekerja sama dengan orang tua, sehingga potensi belajar siswa bisa terbuka secara berkelanjutan.
Nama:Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Menurut saya, isi tulisan ini kena sekali, karena kadang kita lupa kalau ada siswa yang datang ke kelas dengan beban masa lalu yang tidak kelihatan. Mereka tetap belajar, tapi hatinya belum tentu tenang. Tugas guru bukan cuma ngajar, tapi juga ngerti kondisi mereka.Yang penting, kelas dibuat aman, nggak menghakimi, dan siswa merasa didengar. Walaupun begitu, guru tetap perlu menjaga batas profesional. Intinya, kita berusaha jadi orang dewasa yang bisa mereka percaya tanpa membuat mereka merasa terbebani.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Arjuna sangat kena, bahwa guru harus menjadi orang dewasa yang bisa dipercaya dan memastikan siswa merasa didengar dan aman di kelas. Tambahan dari saya, peran ini menuntut kita untuk memperhatikan perilaku sebagai ekspresi trauma. Perilaku yang terlihat agresif atau terlalu waspada itu seringkali adalah ekspresi rasa sakit atau ketakutan dari pengalaman sulit di masa lalu. Dengan mengubah cara pandang ini, guru dapat merespons dengan empati dan dukungan personal, bukan dengan penghakiman atau hukuman, sehingga lingkungan aman yang Arjuna sebutkan benar-benar tercipta.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Hmmm saat membaca materi ini saya jadi mengingat kembali trauma saya saat masih kecil dan trauma itu yang membuat saya selalu kepikiran hingga sekarang.jika mengingat kembali saya rasanya ingin menangis kembali;(tapi mau bagaimana pun kehidupan harus tetap berjalan kita sebagai manusia hanya bisa iklas menerima semuanya.
kembali ke materi dari materi yang saya baca bahwa memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana trauma dapat memengaruhi siswa di sekolah dan mengapa penting bagi guru untuk memiliki pemahaman yang baik tentang hal ini. pendekatan yang menekankan pada dukungan emosional dan sosial, serta kerjasama antara guru, staf sekolah, dan komunitas, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi siswa yang mengalami trauma.matri ini juga mengingatkan kita bahwa setiap siswa unik dan mungkin membutuhkan dukungan yang berbeda-beda, sehingga penting bagi guru untuk mengenal siswa mereka secara individual.dengan mengelola siswa yang mengalami trauma adalah tugas yang kompleks dan membutuhkan kesabaran, pemahaman, dan kerjasama dari semua pihak.dengan menciptakan lingkungan sekolah yang aman, mendukung, dan inklusif, kita dapat membantu siswa yang mengalami trauma pulih, membangun ketahanan, dan mencapai potensi penuh mereka.pendidikan yang berfokus pada kesejahteraan emosional dan sosial (SEL) kunci untuk menciptakan lingkungan seperti itu.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Haii Tati, makasih loh kamu sudah berani membagi kisah kamu waktu masih kecil karena itu yang akan membuat kamu menjadi guru yang lebih peka dan memahami perasaan anak-anak yang mungkin juga sedang berjuang dengan trauma mereka sendiri, karena seperti yang kamu katakan setiap siswa itu unik dan butuh dukungan yang berbeda-beda, jadi dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana rasanya mengalami trauma, kamu punya kelebihan untuk bisa membangun hubungan personal yang kuat dengan siswa dan menciptakan ruang aman di kelas seperti yang ditekankan dalam materi ini dan ingat yaa bahwa kesejahteraan kita sebagai guru juga penting.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM:2386206009
Kelas : V A PGSD
Tambahan lagi terkait materi ini jadi,materi ini juga menyoroti pentingnya kesejahteraan guru dalam mendukung siswa yang mengalami trauma. guru yang sehat secara emosional akan lebih mampu memberikan dukungan yang efektif kepada siswa mereka.oleh karena itu, sekolah perlu memberikan dukungan kepada guru agar mereka dapat menjaga kesejahteraan mereka sendiri dan menghindari kelelahan.serta materi ini tuh mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk keberhasilan dalam hidup.dengan memberikan dukungan yang tepat kepada siswa yang mengalami trauma, kita dapat membantu mereka membangun masa depan yang lebih baik dan berkontribusi positif kepada masyarakat.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
berarti kesimpulannya literasi siswa tidak akan optimal tanpa ada kesejahteraan emosional yang kokoh. Hubungan personal dan solidaritas sekolah dalam menerapkan pendekatan tanpa sadar trauma adalah kunci untuk membuka potensi belajar siswa secara berkelanjutan.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Dita sangat benar, bahwa literasi dan belajar tidak akan optimal tanpa kesejahteraan emosional yang kokoh. Tambahan dari saya, untuk menciptakan kesejahteraan emosional ini, kunci utamanya adalah solidaritas sekolah dalam menerapkan pendekatan sadar trauma yang Dita sebutkan. Artinya, semua orang di sekolah (guru, staf, administrasi) harus punya pemahaman yang sama, karena dukungan kolektif ini akan memperkuat hubungan personal yang diberikan guru di kelas. Hanya dengan konsistensi tim ini, lingkungan yang aman bisa tercipta, dan potensi belajar siswa bisa terbuka secara berkelanjutan.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Izin bertanya pak, jika kesejahteraan siswa adalah tanggung jawab bersama,langkah nyata apa yang paling mendesak yang harus di lakukan oleh seluruh staf sekolah tanpa terkecuali untuk membangun budaya sekolah yang sadar trauma?
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Haloo Dita izin menjawab ya Langkah paling mendesak untuk membangun budaya sekolah yang sadar trauma adalah membuat lingkungan yang aman dan konsisten. Caranya: semua staf menyapa siswa dengan ramah, menggunakan komunikasi lembut, tidak mempermalukan, menjaga suasana sekolah tetap tenang, menerapkan aturan yang sama, memberi ruang tenang bagi siswa yang kewalahan, dan segera melaporkan perubahan perilaku siswa. Jika seluruh staf melakukan ini bersama-sama, sekolah menjadi tempat yang aman bagi semua anak.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Dita Ayu Safarila, menurut sepengetahuan aku ya dita mungkin langkah yang paling mendesak itu ialah untuk menyatukan semua staf pada satu komitmen dan juga praktik yang konsisten, ya itu untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan juga empatik. Maka dari itu seluruh staf tanpa terkecuali itu harus sepakat dan juga konsisten untuk menciptakan lingkungan yang aman dan juga empatik melalui palatihan mengenai tentang sadar atas trauma dan juga rutinitas SEL bersatu.
Nama: Ratna andina
Hapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
Izin manjawab yaa, menurut saya langkah paling mendesak yang harus dilakukan semua staf sekolah itu adalah punya sikap dan cara pandang yang sama ke siswa. semuanya harus sepakat buat memperlakukan anak dengan sabar, ga mudah marah dan ngecap anak bermasalah. terus teguran juga jangan pakai bentakan atau yang buat anak jadi malu, tapi lebih ke ngajak ngobrol dan jelasin pelan-pelan.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Dita, jadi menurut saya, langkah paling mendesak adalah menyamakan pemahaman dan sikap seluruh staf bahwa perilaku siswa itu sinyal, bukan sekadar kenakalan, jadi semua orang di sekolah perlu konsisten bersikap empatik, pakai bahasa yang aman, menghindari bentakan atau hukuman mempermalukan, mau mendengar siswa, dan cepat merespons saat anak terlihat tertekan, sehingga sekolah jadi tempat yang terasa aman, peduli, dan bisa dipercaya oleh semua siswa.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Materi ini membahas pendekatan penting dalam pendidikan yang disebut "Praktik Sadar Trauma" (Trauma-Informed Practices), menekankan bahwa pengelolaan siswa yang terdampak trauma memerlukan keseimbangan antara dukungan individu dan komitmen komunitas (SEL) untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Trauma masa kecil tersebar luas dan sering tidak terlihat, sehingga pendekatan "universal" (menganggap semua anak mungkin terdampak) dan praktik sadar trauma sangat penting untuk semua siswa.
• Praktik sadar trauma dan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) saling mendukung dan bermanfaat bagi semua siswa, meningkatkan prestasi akademik, dan mengurangi perilaku bermasalah.
• Hubungan personal yang kuat antara guru dan siswa adalah fondasi utama untuk mendukung siswa yang mengalami trauma, bahkan lebih penting daripada kurikulum.
• Perilaku yang sering disalahartikan sebagai "gangguan" (misalnya, hiperaktif, agresi, kemarahan) sering kali merupakan manifestasi dari trauma, kewaspadaan berlebihan, atau rasa sakit.
• Dukungan efektif memerlukan pendekatan menyeluruh di tingkat sekolah dan komunitas, di mana semua staf (termasuk administrator) berkomitmen pada perubahan pola pikir sadar trauma.
• Kesejahteraan guru adalah kunci; guru harus didukung secara sosial dan emosional agar dapat mendukung siswa secara autentik (mencegah secondary trauma).jadi kesimpulan dari materi diatas adalah Kesimpulan utama adalah bahwa mendukung siswa yang terdampak trauma adalah tanggung jawab kolektif yang menuntut perubahan budaya sekolah menjadi lingkungan yang sadar trauma, berbasis hubungan, dan fokus pada kesejahteraan menyeluruh.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Dalam konteks pendekatan universal sadar trauma, jelaskan dua strategi SEL spesifik yang dapat diterapkan oleh guru di dalam kelas setiap hari, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness) dan regulasi diri (self-regulation) siswa, terlepas dari status trauma mereka?
Nama : Zakky Setiawan
BalasHapusNPM : ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Menjadi persoalan yang sulit untuk mebuat peserta didik mengatasi trauma dalam belajar terkhususnya matematika, dengan adanya materi ini bisa membuat guru paham bagaimana cara untuk mengatasinya, saya sangat setuju dengan perlahan-lahan guru memciptakan susana belajar yang asik,dan cara guru mengajar agar perlahan-lahan peserta didik mau belajar
Nama : Zakky Setiawan
HapusNPM : ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Sedikit menambahkan, memang sulit tapi perlahan-lahan hal positif yang dilakukan guru akan berdampak baik bagi peserta didik, bisa di cari tau dari orang tua atau peserta didik itu sendiri mengapa bisa sampai trauma akan belajar, jika sudah dapt informasi, baru guru membuat cara agar anak tersebut mau belajar lagi dan perlahan mulai lupa dengan trauma tersebut
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Setelah saya membaca materi ini, peran seorang guru juga sangat penting dalam mengelola siswa yang memiliki trauma, guru juga harus menjadi pendengar yang baik untuk siswa, menciptakan lingkungan yang aman untuk mereka berbagi cerita dan guru juga harus memberikan dukungan pada siswa agar siswa tidak merasa sendiri.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusNama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Imelda sudah sangat benar, bahwa peran guru sebagai pendengar yang baik dan pencipta lingkungan aman itu adalah kunci dalam membantu siswa trauma. Tambahan dari saya, peran ini menuntut guru untuk memahami perilaku siswa sebagai ekspresi dari trauma. Jadi, perilaku yang terlihat negatif seperti kewaspadaan berlebihan, hiperaktif, atau agresi seringkali adalah ekspresi rasa sakit atau ketakutan dari pengalaman sulit di masa lalu. Dengan memandang perilaku dari sudut pandang ini, guru dapat merespons dengan empati dan dukungan personal, alih-alih dengan hukuman, sehingga siswa benar-benar merasa didukung dan tidak sendirian.
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Saya setuju terkait pembahasan di atas bahwa membangun hubungan yang baik dengan siswa adalah kunci utama, kalau guru sudah dekat dan di percaya siswa yang punya trauma pasti dirinya akan merasa lebih aman, mau terbuka dan belajar.
Nama: Margartha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
dan dari pernyataan di atas, saya ingin bertanya yaitu apa ciri-ciri yang paling mudah yang bisa kita lihat dari siswa yang sedang merasakan trauma, karena sering kali terlihat seperti mereka cuman nakal atau malas?
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
HapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Hallo margaretha izin menjawab yh. Menurut aku, ciri-ciri siswa yang lagi mengalami trauma itu sebenarnya sering kelihatan seperti nakal atau malas, padahal mereka sedang berjuang dengan perasaan yang berat. Biasanya mereka jadi gampang marah atau gelisah, susah fokus saat belajar, sering menghindari tugas karena merasa kewalahan, dan kadang bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil. Ada juga yang jadi menarik diri dari teman-temannya atau malah terlihat agresif. Jadi menurut aku, perilaku mereka itu bukan semata-mata karena nggak mau belajar, tapi lebih karena ada beban emosional yang mereka belum bisa ceritakan atau atasi, makanya guru perlu lebih peka dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.
Terimakasih😊
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
menurut saya ciri-ciri anak yang lagi ngalamin trauma itu emang sering ketuker sama anak yang dibilang nakal atau malas. padahal kalau diperhatikan lagi, tandanya beda. biasanya anak jadi menutup diri, jarang mau bertanya, atau keliatan ga percaya diri walaupun sebenarnya bisa. ada juga yang gampang banget takut salah, jadi lebih milih diem daripada nyoba. terus juga anak yang trauma kadang suka tiba-tiba marah atau nangis. ada juga yang jadi susah fokus dan kelihatan capek.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, ciri yang paling gampang kelihatan biasanya anak jadi gampang meledak atau sebaliknya sangat diam, sering susah fokus, cepat capek, kelihatan malas padahal sebenarnya menghindar, sering melanggar aturan atau menarik diri dari teman, respons emosinya berlebihan untuk hal kecil, dan prestasinya bisa naik-turun tanpa sebab jelas, jadi perilaku yang kelihatan “nakal” atau “malas” itu sering cuma cara anak bertahan karena merasa nggak aman.
Nama:Elisnawatie
BalasHapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Haloo Margaretha menurut aku gimana si caranya kita mengetahui anak itu memilikiciri ciri trauma nahh ciri cirinya itu bisa kita tandai dengan:
1.Mudah cemas atau takut
Terlihat tegang saat mendapat tugas baru atau ketika ditegur,Sering merasa salah meski belum melakukan apa-apa
2.Mudah marah atau meledak secara emosional Reaksi berlebihan terhadap hal kecil,Cepat tersinggung atau agresif
3.Tampak tidak fokus atau melamun
Sulit berkonsentrasi saat belajar,sering terlihat seperti “tidak peduli”
4.Tidak mau mencoba karena takut gagal
Lebih memilih diam, menyendiri, atau menjauh dari teman dan guru
5.Perubahan perilaku tiba-tiba Dari aktif menjadi pendiam, atau sebaliknya , Pola makan atau tidur (sering mengantuk) ikut berubah
6.Perfeksionis atau takut membuat kesalahanSelalu ingin benar dan panik jika salah,Bisa jadi terlalu bergantung pada guruMenghindar dari tugas atau interaks
Izin menambahkan ya Trauma sering muncul sebagai fight, flight, freeze, atau fawn:
Fight: marah, melawan, tampak nakal
Flight: menghindar, pergi, tidak mau terlibat
Freeze: diam membeku, terlihat malas
Fawn: selalu ingin menyenangkan orang lain agar aman.
Semoga membantu🙏🏻
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Dari materi yang bapak berikan saya menyimpulkan bahwa mengelola siswa yang punya trauma belajar itu sangat penting, karena terkadang guru mungkin ada yang hanya fokus dengan materi tetapi tidak dengan personal siswa. Karena sebuah trauma dalam belajar bisa timbul akibat sebuah kejadian saat belajar misalnya trauma saat gagal berulang ( mendapat nilai yang rendah, susah memahami materi, medapatkan nilai yang rendah), dan trauma karena dimarahi atau dipermalukan( ditertawakan teman , salah menjawab ) dan lain sebagainya . Sebagai seorang guru kita perlu membangun rasa aman sebelum membangun pemahaman dengan menggunakan bhasa yang lebut , memberi ruang bagi siswa, serta menyediakanaktivitas yang sederhana dan konkret secara bertahap. Dan intinya proses pembelajaran harus membuat siswa merasa dihargai.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Erlynda sudah sangat akurat, bahwa rasa aman dan perasaan dihargai itu adalah fondasi utama untuk siswa yang punya trauma belajar. Tambahan dari saya, cara paling penting untuk membangun rasa aman itu adalah dengan mengubah cara pandang guru terhadap perilaku siswa. Guru harus ingat bahwa perilaku yang terlihat hiperaktif, melawan, atau agresif itu seringkali adalah ekspresi dari rasa sakit, ketakutan, atau trauma di masa lalu, bukan sekadar kenakalan biasa. Dengan memahami cerita hidup siswa dan melihat perilaku sebagai ekspresi trauma, guru bisa merespons dengan empati dan dukungan, alih-alih dengan hukuman, sehingga lingkungan yang aman dan membuat siswa dihargai bisa benar-benar tercipta.
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Izin menanggapi pak, setelah membaca kembli materi di atas. Menurut aku, selain soal bikin lingkungan belajar yang nyaman, materi di atas juga nunjukkin kalau ngadepin siswa yang punya trauma itu nggak bisa cuma ngandelin guru aja pak. Semua orang di sekolah—kayak guru lain, staf, bahkan orang tua—perlu kerja sama biar anak yang lagi kesulitan ini ngerasa aman. Soalnya tiap siswa beda-beda cara mereka nanggepin trauma, jadi nggak bisa disamain. Di materi tadi juga dibilang kalau hubungan yang dekat sama siswa itu penting banget, tapi hasilnya bakal lebih kerasa kalau seluruh sekolah punya pemahaman yang sama tentang pentingnya dukungan emosional. Aku juga setuju kalau guru harus jaga kesehatan mental diri sendiri dulu, karena kalau gurunya stabil, pasti lebih siap bantu siswa dengan sabar dan bener-bener ngerti kondisi mereka. Jadi intinya, kalau mau bantu siswa yang lagi ngalamin trauma, semuanya harus saling dukung dan bangun suasana sekolah yang peduli satu sama lain🙏🏻.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Isdiana sudah sangat tepat, bahwa menangani siswa dengan trauma itu tidak bisa cuma mengandalkan guru kelas, tapi harus didukung oleh seluruh sistem sekola agar konsisten. Tambahan dari saya, kolaborasi ini harus didasari oleh pendekatan universal di mana semua staf punya kesadaran trauma dan menyadari bahwa trauma itu luas dan seringkali tidak terlihat. Ini penting karena dukungan personal guru akan lebih berdampak jika didukung oleh konsistensi tim dalam penerapan pendekatan sadar trauma di seluruh sekolah. Dan ya, guru harus menjaga kesehatan mentalnya sendiri agar bisa mendukung siswa secara otentik.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Hal yang saya suka dari materi diatas adalah penekanan pada dukungan untuk guru, kadang banyak orang lupa, guru juga manusia yang punya batas energi dan perasaan, kalau guru terus-terusan menghadapi siswa dengan banyak masalah tanpa dukungan, tentu mereka akan kewalahan.
Dalam pendekatan sadar trauma ini bukan cuma soal metode mengajar, tapi tentang membangun lingkungan sekolah yang hangat, aman dan saling mendukung.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Rosidah sangat tepat, bahwa dalam menghadapi siswa dengan trauma, guru juga manusia yang butuh dukungan, dan pendekatan sadar trauma ini harus jadi budaya sekolah secara menyeluruh. Tambahan dari saya, dukungan ini penting banget karena guru yang merasa aman dan didukung akan lebih siap untuk memberikan dukungan sosial emosional yang otentik kepada siswa. Ini bukan cuma tentang guru menangani masalah siswa, tapi juga tentang membangun ekosistem belajar yang sehat di mana semua anggota komunitas, termasuk guru, merasa bisa berkembang dan tidak kewalahan.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, materi tentang pengelolaan siswa dengan trauma ini sangat penting dan up-to-date dengan kebutuhan pendidikan sekarang. Intinya, guru dan sekolah harus menyadari bahwa pengalaman sulit di masa lalu siswa bisa mengganggu proses belajar mereka di kelas, bahkan jika kurikulumnya sudah bagus. Jadi, sebelum kita fokus ke pelajaran atau materi akademik, prioritas utama guru haruslah membangun hubungan pribadi yang kuat dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif. Hal ini sejalan dengan Pembelajaran Sosial Emosional yang semakin ditekankan, karena EQ dan rasa aman adalah fondasi bagi siswa untuk bisa menyerap ilmu.
Praktik sadar trauma ini bukan cuma tugas guru di kelas, tapi harus jadi budaya seluruh sekolah. Semua staf, mulai dari guru, administrator, sampai karyawan lain, harus sadar bahwa setiap anak mungkin terdampak trauma dan membutuhkan dukungan. Ini juga berarti kita harus bisa melihat perilaku nakal atau hiperaktif itu sebagai ekspresi rasa sakit atau takut, bukan sekadar kenakalan biasa. Terakhir, guru juga tidak boleh lupa menjaga kesehatan mental diri sendiri, karena guru yang sehat secara emosional baru bisa mendukung siswa secara otentik.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
materi tentang trauma dan SEL ini juga menunjukkan bahwa guru harus mengubah cara pandang mereka terhadap perilaku siswa. Penting bagi guru untuk tidak mengabaikan kemungkinan adanya trauma pada siswa, bahkan di kelas yang terlihat normal. Kita harus mulai melihat perilaku yang tampak seperti hiperaktif atau agresi itu sebagai cara siswa mengekspresikan rasa sakit atau dampak dari pengalaman sulit di masa lalu. Dengan mengubah pandangan ini, guru bisa merespons dengan empati dan dukungan, alih-alih dengan hukuman, sehingga kita benar-benar bisa mendukung kebutuhan siswa secara otentik. Ini berarti hubungan personal antara guru dan siswa harus menjadi prioritas di atas konten pelajaran.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setuju pak, Materi ini seperti panduan yang sangat peduli pada kemanusiaan dalam dunia pendidikan. Mengajar itu bukan cuma kasih ilmu di otak, tapi juga membantu siswa jadi pribadi yang utuh, punya hati dan bekal kemampuan buat hidup. Dan ini semua bukan tugas guru saja, tapi harus jadi tanggung jawab kita semua di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Terima kasih bapak telah memberikan materi ini, setelah saya membaca materi bapak ini, saya jadi lebih paham ternyata peran pendidik itu sangat luas ya, enggak cuma fokus ke kurikulum dan nilai saja. Di bagian awal materi, bapak sudah menjelaskan kalau mengelola siswa yang punya trauma itu butuh keseimbangan yang cermat. Intinya, kita sebagai calon guru harus sadar betul dengan masa lalu siswa yang sulit, tapi di saat yang sama harus tetap profesional dan menjaga batasan. Saya setuju sekali sama dua prinsip dasar terkait Trauma-Informed Teaching dan SEL Pembelajaran Sosial Emosional yang ditekankan di materi bapak ini. Prinsip pertama soal membangun hubungan kuat dan personal dengan siswa itu memang penting banget. Menurut saya, kalau siswa sudah merasa aman dan dekat dengan gurunya, baru deh mereka bisa fokus belajar. Sama seperti kita, kalau ke dosen sudah nyaman, mau bertanya atau diskusi juga lebih gampang. Prinsip kedua, tentang menciptakan perubahan budaya yang lebih luas di komunitas. Ini berarti kita enggak bisa kerja sendirian. Sekolah harus jadi lingkungan yang aman, dan semua pihak guru, staf, bahkan sesama siswa harus kolaborasi. Jadi, PR ini memang tanggung jawab bersama, bukan hanya guru mata pelajaran saja. Salut sama materi yang sudah mengingatkan kita untuk menjaga kesehatan mental diri juga sebagai pendidik, itu point yang sering terlupakan.
BalasHapusDisini saya juga mau menanggapi materi bapak pada bagian tengah materi ini, terutama tentang Kenali Siswa Anda dan bagaimana kita perlu menanggapi trauma yang muncul dalam perilaku siswa. Materi ini benar-benar menekankan bahwa hubungan personal harus jadi prioritas utama di atas isi pelajaran, terutama untuk siswa yang mengalami trauma. Itu logika yang masuk akal, bapak. Kalau fondasi hubungan aman itu belum ada, sebagus apa pun kurikulumnya, siswa enggak akan bisa menyerap pelajarannya. Buktinya, materi ini juga menyebut bahwa fokus harus dimulai dari mengenal kisah hidup mereka, karena setiap siswa merespons trauma dengan cara yang berbeda. Bagian yang menarik adalah tentang trauma yang sering disalahartikan sebagai gangguan. Saya baru tahu kalau perilaku seperti hiperaktif atau marah itu bisa jadi ekspresi dari rasa sakit atau kesulitan yang mereka alami, misalnya karena kemiskinan. Ini jadi pengingat buat saya nanti sebagai calon guru untuk tidak gampang melabeli siswa nakal atau bermasalah, tapi justru mencari tahu akar masalahnya. Dan solusi untuk menangani banyak siswa dalam satu kelas, yaitu dukungan kolektif berbasis tim, itu ide yang bagus. Guru tidak perlu menanggung beban ini sendirian, tapi melibatkan seluruh sistem sekolah. Ini membuat peran kita sebagai guru jadi lebih ringan dan hasilnya lebih konsisten.
BalasHapusNama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
saya setuju dengan tanggapan ini. penekanannya ke hubungan personal itu masuk akal banget, karena tanpa rasa aman, pelajaran apapun susah masuk ke anak. poin soal perilaku anak yang sering disalahartikan sebagai gangguan juga penting, karena bisa jadi itu bentuk respon trauma. ini ngingetin kita sebagai guru supaya ga gampang ngecap siswa. dan ide kerja tim di sekolah juga bagus, biar guru ga jalan sendiri dan penanganannya lebih konsisten.
Disini saya ijin menangapi materi bapak tentang Kesejahteraan Guru dan kesimpulan bahwa SEL serta trauma adalah tanggung jawab kita semua. Jujur, saya sangat menghargai materi ini karena tidak hanya fokus ke siswa, tapi juga ke guru. Seringkali kita dengar guru harus ikhlas dan mengutamakan siswa, tapi materi ini mengingatkan bahwa kesejahteraan sosial dan emosional guru itu juga penting. Dukungan emosional dan sosial harus dimulai dari guru itu sendiri, karena guru yang sehat secara mental dan emosional akan jauh lebih siap dan tulus dalam mendukung kebutuhan siswanya. Ini bukan soal egois, tapi soal kesiapan. Kalau gurunya saja sudah kosong, bagaimana bisa mengisi siswanya?. Lalu, bagian penutup yang menyatakan bahwa tantangan ini tidak bisa diatasi oleh sekolah sendiri, saya rasa sangat realistis. Dibutuhkan kerja sama dengan orang tua, konselor, dan pihak lain. Ini menegaskan bahwa pendidikan itu adalah urusan semua orang di komunitas. Jadi, kalau nanti saya jadi guru, saya harus siap untuk berkolaborasi dengan banyak pihak agar siswa yang trauma bisa dibimbing dengan baik. Intinya, penanganan trauma dan SEL itu memang tugas bersama. Terima kasih, Bapak, materi ini sangat membuka wawasan.
BalasHapusNAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
Mengelola siswa yang punya pengalaman trauma itu butuh keseimbangan. Sebagai guru, kita harus peka sama masa lalu mereka, tapi tetap optimis sama perkembangan mereka ke depan. Kita juga perlu bikin kelas yang aman buat mereka bercerita, tapi tetap punya batas profesional. Di saat yang sama, guru juga harus jaga kesehatan mental diri sendiri. Intinya, dukungan dari guru itu sangat penting.
Dalam konteks trauma dan pembelajaran sosial emosional (SEL), ada dua hal besar yang perlu diingat:
Perlakukan siswa sebagai individu dan bangun hubungan yang kuat,
Perubahan ini harus jadi budaya sekolah, bukan hanya tugas guru tertentu.
Meskipun kelihatannya kelas aman-aman saja, trauma itu sering tidak terlihat.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
saya setuju, ngadepin siswa yang punya trauma itu perlu seimbang. guru harus peka sama kondisi anak, tapi tetap optimis sama perkembangan mereka. kelas perlu jadi tempat yang aman tapi tetap ada batasan. pendekatan ini juga ga bisa cuma jadi tugas satu guru, tapi harus jadi budaya di sekolah. soalnya trauma anak sering ga kelihatan.
Nama: Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Materi ini penting banget,ternyata trauma anak sering tidak terlihat. Kuncinya bukan cuma di kurikulum, tapi di hubungan personal guru dan siswa. Semua staf sekolah wajib kompak menerapkan pendekatan sadar trauma. Guru juga harus menjaga kesehatan mental diri.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
setuju banget yormaa! trauma pada anak sering ga keliatan dari luar. masalahnya juga bukan cuma di kurikulum atau metode belajar, tapi lebih ke hubungan pribadi antara guru dan siswa. kalau guru bisa lebih dekat dan dipercaya, anak bakal ngerasa lebih aman dan mau terbuka. pendekatan sadar trauma itu juga harus dijalani bareng-bareng sama semua staf sekolah, bukan cuma guru.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menanggapi lagi jadi,materi ini bener-bener ngebuka mata kita tentang betapa pentingnya guru-guru itu sadar kalau trauma itu bisa jadi penghalang besar buat proses belajar anak-anak. Kadang kita suka fokus sama nilai akademis aja, padahal kondisi mental dan emosional siswa itu juga penting banget.guru harus lebih peka sama tanda-tanda yang mungkin nunjukkin kalau ada siswa yang lagi berjuang sama traumanya.dengan begitu, guru bisa ngasih dukungan yang tepat dan ngebantu siswa buat tetep semangat belajar.penting banget guru-guru sadar kalau trauma itu bisa ganggu banget proses belajar anak.jadi, guru harus lebih peka dan bantu siswa yang lagi susah.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Pendekatan SEL (Sosial Emosional) ini menurut saya tuh keren banget, karena nggak cuma fokus sama aspek kognitif aja, tapi juga ngembangin kemampuan siswa buat lebih kenal diri sendiri, ngatur emosi, dan berinteraksi sama orang lain.nah tapi, yang perlu diinget, penerapannya nggak boleh asal-asalan.sekolah harus punya program SEL yang terstruktur dan guru-guru juga harus dilatih biar bisa ngimplementasiinnya dengan efektif. Kalau nggak, bisa-bisa malah nggak ada efeknya sama sekali.pendekatan SEL (Sosial Emosional) ini keren sih, bisa bantu siswa lebih kenal diri sendiri dan ngatur emosi.tapi, penerapannya harus bener-bener diperhatiin, jangan asal-asalan.pendekatan SEL itu cara yang bagus buat ngembangin kemampuan sosial dan emosional siswa.tapi, butuh komitmen dan kerjasama dari semua pihak.
Nama : Maria Ritna Tato
BalasHapusNPM : 2386206009
Kels : V A PGSD
Nahhhh,kerjasama antara guru, sekolah, dan orang tua itu menurutku kunci utama buat ngebantu siswa yang punya trauma.sekolah nggak bisa jalan sendiri, orang tua juga nggak bisa lepas tangan.harus ada komunikasi yang baik dan saling pengertian antara semua pihak. misalnya nih, guru bisa ngasih tau orang tua tentang perkembangan siswa di sekolah, dan orang tua juga bisa cerita ke guru tentang kondisi siswa di rumah.dengan begitu, penanganan yang diberikan bisa lebih komprehensif dan sesuai sama kebutuhan siswa.penting buat sekolah punya lingkungan yang aman dan nyaman buat siswa.biar mereka nggak takut buat cerita masalahnya.
Nama : Mari Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Tidak semua siswa nunjukkin trauma dengan cara yang sama.ada yang jadi pendiem dan menarik diri dari lingkungan, tapi ada juga yang malah jadi lebih aktif atau bahkan agresif.guru harus jeli banget ngeliat perubahan perilaku siswa, sekecil apapun itu.jangan langsung nge-judge atau ngasih hukuman kalau ada siswa yang tiba-tiba berubah.coba cari tau dulu apa penyebabnya, siapa tau dia lagi butuh bantuan.guru harus terus belajar dan ningkatin kemampuan buat ngenalin dan nanganin siswa yang punya trauma.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Tamabahan sedikit lagi,menurut saya selain ngebantu siswa yang udah kena trauma, sekolah juga harus punya program pencegahan.misalnya, ngadain workshop atau seminar tentang kesehatan mental buat siswa dan guru. atau, bikin kegiatan-kegiatan yang bisa ningkatin rasa percaya diri dan harga diri siswa.dengan begitu, diharapkan bisa ngurangin risiko terjadinya trauma di kalangan siswa.dengan penanganan yang tepat, siswa yang punya trauma bisa tetep berprestasi dan meraih cita-citanya.
Mengelola siswa yang memiliki rasa trauma dalam belajar..... Baru membaca judul materi artikel kali ini membuat saya pembaca tertarik pak hehehe.....
BalasHapusternyata di dalam dunia pendidikan seseorang bisa mengalami rasa trauma yang mendalam saat belajar atau masa proses belajar. Sebagai calon pendidik ternyata bukan hanya mental guru akan tetapi mental siswa yang harus bisa di seimbangkan. Betapa perlunya seorang guru menghadapi masa trauma siswa, hingga harus menciptakan lingkungan yang aman untuk mereka bisa berbagi cerita. Trauma dan pembelajaran sosial emosional (sel). dua prinsip yang terikat sangat kuat serta personal
Pentingnya seorang pendidik melakukan adanya pendekatan pada siswa. dan tidak mengabaikan trauma siswa. Pada penelitian centers for disease Control and prevention yang menunjukkan bahwa trauma masa kecil lebih luas dari yang di perkirakan. Pada point ini saya setuju pendapat tersebut, hal ini dapat kita ketahui praktik yang sadar trauma dan pembelajaran emosional bermanfaat bagi siswa.
HapusNAMA;VIRGINIA JAU
BalasHapusKELAS:vD
NPM:2386206089
Artikel yang bapak buat ini sangat baik dalam menggambarkan bagaimana trauma dapat memengaruhi proses belajar dan perilaku siswa. Banyak guru mungkin pernah menemui siswa yang jelas-jelas tidak fokus, mudah teralihkan, atau sulit diatur. Artikel ini membantu kita memahami bahwa masalah-masalah ini tidak selalu muncul tanpa alasan. Sangat realistis untuk menciptakan lingkungan yang aman dan penuh empati tanpa menggunakan batasan profesional. Artikel ini menyoroti perlunya memperhatikan kondisi emosional siswa sebelum materi pembelajaran dapat diajarkan secara efektif.
nama:virginia jau
Hapuskelas:vd
npm:2386206089
Saya sangat percaya bahwa hubungan pribadi antara guru dan siswa adalah fondasi terpenting untuk mempelajari trauma. Artikel ini menjelaskan dengan jelas bahwa mengajar siswa sebagai individu, termasuk reaksi emosional dan latar belakang mereka, dapat membantu guru memberikan bimbingan yang lebih tepat. Menjelaskan trauma yang sering digambarkan sebagai masalah, seperti orang yang agresif atau hiperaktif, membuat guru lebih memperhatikan siswanya. Pendekatan ini mendorong guru untuk lebih memahami daripada sekadar menghakimi.
nama:virginia jau
Hapuskelas:vd
npm:2386206089
Diskusi tentang pendidikan universal dan pembelajaran sosial emosional (SEL) sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Artikel ini menyoroti fakta bahwa praktik sadar trauma bermanfaat tidak hanya bagi siswa yang mengalami trauma tetapi juga bagi semua siswa di kelas. Dengan menumbuhkan kesadaran diri, empati, dan kemampuan mengendalikan emosi, pembelajaran dapat menjadi lebih sehat dan suportif. Hasil penelitian juga mendukung gagasan bahwa SEL merupakan komponen penting dari proses pembelajaran, bukan sekadar tambahan.
NAMA:VIRGINIA JAU
BalasHapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Artikel ini juga menyoroti poin penting bahwa kesejahteraan guru tidak boleh dikompromikan. Guru yang stabil secara emosional akan lebih mampu menginspirasi dan mendukung siswa dengan cara yang tulus. Dengan dukungan sosial dan emosional dari guru, sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih manusiawi dan seimbang. Singkatnya, artikel ini menjelaskan bahwa pendidikan berbasis trauma yang berlandaskan SEL adalah tanggung jawab bersama, dan ketika semua pihak yang terlibat—siswa dan guru—dapat berkembang dan tumbuh dengan cara yang lebih positif.
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Penekanan pendekatan sekolah secara menyeluruh merupakan salah satu kekuatan artikel ini. Guru tidak dapat membantu siswa yang mengalami trauma sendirian, sehingga semua orang di sekolah, dari kepala sekolah hingga staf, harus konsisten. Contoh kolaborasi melalui diskusi kelompok dan pemulihan lingkaran menunjukkan bahwa perubahan budaya sekolah sangat mungkin terjadi jika ada komitmen bersama. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya akan belajar dari satu guru tetapi juga dari lingkungan yang berkelanjutan.
Mengelola siswa yang memiliki trauma dalam belajar itu benar-benar diperlukan kerjasama antara orang tua, konselor, dan pihak yang langsung terjun berkegiatan bersama dalam kehidupan sehari-hari siswa misalnya guru.
BalasHapusYa rasanya percuma saja ketika guru berusaha mati-matian di sekolah untuk mengatasi rasa trauma belajar pada siswa namun ketika di rumah orang tuanya malah menekankan dan menumbuhkan rasa trauma saat siswa belajar berarti usaha guru di sekolah yang membantu mengatasi trauma dalam belajar itu tidak berjalan secara efisien juga dalam kehidupan siswa tersebut.
Maka dari itu menurut saya peran penting dalam mengatasi siswa yang memiliki trauma dalam belajar itu harus ada komunikasi rutin antara guru di sekolah dan juga orang tua bahkan psikolog anak.
Hal ini dikarenakan untuk mengurangi kesalahan komunikasi dan juga tekanan belajar yang ditimbulkan orang tua di rumah dan tidak diketahui oleh guru di sekolah.
Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua bakal psikolog anak akan sangat membantu mengelola dan meredakan siswa-siswa yang memiliki trauma dalam belajar.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
npm:2386206092
Ngurus siswa yang punya pengalaman trauma memang kerjaan yang butuh kehati hatian ekstra. Sebagai guru kita tuh wajib tau dampak masa lalu mereka, tapi di saat yang sama harus menciptakan lingkungan aman supaya mereka nyaman berbagi cerita tentu dengan tetap menjaga batasan profesional. Jangan lupa juga kita juga harus jaga kesehatan mental diri sendiri sambil terus kasih dukungan ke siswa. Intinya, kita tidak bisa sendirian dukungan dari sesama komunitas guru itu juga penting banget.
Kalo bicara soal trauma dan pembelajaran sosial emosional, ada dua hal mendasar yang perlu kita pegang
Hapus1.Penting untuk dekati tiap siswa sebagai individu dan bangun hubungan personal yang kuat. Banyak pendidik bilang, kalau trauma siswa tidak diurus, mereka akan terganggu dan tidak akan dapat manfaat dari kurikulum sebaik apa pun. Jadi, hubungan personal adalah fondasi utama bagi praktik yang sadar trauma.
2.Mewujudkan hubungan ini butuh kolaborasi dari semua pihak, mulai dari siswa, guru, sampai staf lainnya, untuk menciptakan ruang yang suportif di seluruh komunitas sekolah.
Nama:syahrul
Hapuskelas:2386206092
kelas5D
Mengingat jumlah siswa beda beda di tiap kelas, cara paling efektif untuk mendukung mereka biasanya dengan pendekatan kolektif yang melibatkan semua elemen sistem pendidikan satu sekolah harus sadar trauma. Penting bagi kita tahu cerita tiap siswa dan bagaimana mereka merespons trauma, karena trauma itu sering kali luas dan tidak terlihat, bahkan di kelas yang tampak baik baik aja. Trauma bisa muncul dalam bentuk kej
Waspada berlebihan yang terlihat seperti hiperaktif.
Rasa takut yang diekspresikan sebagai agresi.
Rasa sakit yang diungkapkan melalui kemarahan.
Mengenali perilaku ini membantu kita memberi dukungan yang tepat.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
npm 2386206092
Satu hal lagi yang sering terlewat kita tidak boleh abaikan kebutuhan sosial dan emosional diri sendiri sebagai pendidik. Perhatian pada kesejahteraan guru adalah awal dari segalanya. Kalau guru sehat dan siap secara emosional, barulah kita bisa mendukung kebutuhan siswa secara otentik. Tantangan trauma ini gak bisa diselesaikan hanya oleh sekolah. Ini butuh kerja sama dengan orang tua, konselor, dan pihak lain. Jadi mendukung siswa yang terdampak trauma itu tanggung jawab kita semua, bukan hanya guru di kelas.
Nama: Ratna andina
BalasHapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
izin menanggapi pak, menurut saya materi ini penting banget karena sering kali trauma belajar pada siswa kurang kelihatan dari luar. anak bisa aja kelihatan malas atau ga fokus, padahal sebenarnya mereka punya pengalaman buruk sebelumnya yang bikin mereka takut atau ga nyaman saat belajar. bacaan ini bikin kita sadar kalau guru ga bisa langsung menyalahkan anak, tapi perlu lebih peka sama kondisi emosional anak.
Nama: Ratna andina
Hapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
saya juga setuju kalau pendekatan yang lembut, sabar dan penuh empati itu jadi kunci. anak yang punya trauma butuh rasa aman dulu sebelum bisa fokus belajar. jadi, peran guru bukan cuma ngajar materi, tapi juga jadi pendamping yang bikin anak merasa dihargai dan diterima. kalau lingkungan belajarnya sudah nyaman, pelan-pelan anak bisa kembali percaya diri dalam belajar.
Nama: Ratna andina
Hapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
dari materi ini saya juga belajar kalau trauma itu ga bisa diselesaikan secara instan. guru ga bisa berharap anak langsung berubah cuma karena metode belajar diganti. kadang yang anak butuh bukan penjelasan yang panjang, tapi hadirnya guru yang dengerin dan ga menghakimi.
Nama: Ratna andina
BalasHapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
materi ini juga ngingetin kalau kerjasama antara guru dan orang tua itu penting banget. kalau di sekolah anak sudah dibimbing dengan sabar tapi di rumah masih sering dimarah atau ditekan, proses pemulihan traumanya jadi lebih lama. jadi, menurut saya, guru perlu ajak orang tua untuk sama-sama mengerti kondisi anak, biar pendekatan yang dipakai sejalan dan anak ga bingung.
Nama: Ratna andina
Hapusnpm: 2386206075
kelas: 5C pgsd
materi ini juga bikin kita sadar kalau keberhasilan belajar itu ga selalu soal nilai tinggi. buat anak yang punya trauma, beranu masuk kelas, mau mencoba, atau sekedar mau bertanya itu sudah termasuk kemajuan besar yang patut dihargai.
Materi ini mengangkat isu yang sangat penting dan sering kali tersembunyi dalam praktik pendidikan sehari-hari, yaitu dampak trauma terhadap proses belajar siswa. Penulis menyajikan topik ini dengan sudut pandang yang empatik dan seimbang, menekankan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar akademik, tetapi juga sebagai pendamping yang menciptakan rasa aman bagi siswa tanpa melampaui batas profesional.
BalasHapusPenekanan pada pentingnya hubungan personal sebagai fondasi pembelajaran sosial emosional (SEL) sangat relevan. Materi ini dengan jelas menunjukkan bahwa pembelajaran tidak akan efektif jika kondisi emosional siswa diabaikan. Penjelasan tentang bagaimana trauma dapat muncul dalam bentuk perilaku yang sering disalahartikan—seperti hiperaktivitas atau agresi—membantu guru melihat siswa dari sudut pandang yang lebih manusiawi dan reflektif.
materi ini juga terletak pada dorongan untuk menerapkan pendekatan sadar trauma secara menyeluruh di tingkat sekolah. Gagasan bahwa perubahan budaya sekolah, kolaborasi antarguru, serta dukungan dari seluruh komunitas pendidikan akan memperkuat dampak positif bagi siswa sangatlah tepat. Dengan demikian, tanggung jawab menangani trauma tidak dibebankan pada satu guru saja, melainkan menjadi komitmen bersama.
BalasHapusMenurut saya, tulisan “Mengelola Siswa yang Memiliki Trauma dalam Belajar” ini sangat reflektif, empatik, dan relevan dengan realitas dunia pendidikan saat ini.
BalasHapusArtikel ini dengan baik menegaskan bahwa trauma bukan sekadar isu individu, tetapi fenomena yang luas, sering tersembunyi, dan berdampak langsung pada proses belajar siswa. Penekanan bahwa kurikulum terbaik sekalipun tidak akan efektif tanpa hubungan yang aman dan bermakna dengan siswa adalah pengingat penting bagi pendidik untuk menempatkan relasi manusia sebagai fondasi pembelajaran.
Saya sangat sepakat dengan prinsip pendekatan universal trauma-informed, yaitu menganggap setiap siswa berpotensi membawa pengalaman sulit. Pendekatan ini mencegah guru terjebak pada asumsi atau pelabelan perilaku siswa. Penjelasan bahwa hiperaktif, agresif, atau kemarahan bisa menjadi ekspresi trauma memberikan sudut pandang baru yang lebih manusiawi, sehingga guru tidak hanya bereaksi terhadap perilaku, tetapi berusaha memahami akar masalahnya.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Setelah saya baca ulang materi ini, saya sangat tertarik dengan pembahasan poin terakhir fokus pada kesejahteraan guru dan menurut pendapat saya yang pertama mengenai pendekatan dalam menangani siswa yang memiliki trauma tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri oleh guru, diperlukan keterlibatan seluruh komunitas sekolah mulai dari konselor, staf sekolah, hingga orang tua siswa, agar siswa benar-benar merasa aman dan didukung baik di dalam maupun di luar kelas. Lingkungan yang suportif ini membantu siswa membangun kembali rasa percaya dan kenyamanan dalam belajar namun disisi lain kesejahteraan guru juga tidak boleh di abaikan. Guru yang kelelahan secara mental akan sulit hadir secara utuh bagi siswa ya, karena itu menjaga kesehatan mental guru sama penting dengan mendampingi siswa, supaya proses pendampingan bisa dilakukan dengan empati, kesabaran dan konsisten.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Selain itu tentang hubungan personal antara guru dan siswa itu penting karena dari situlah guru bisa lebih mengenal siswa sebagai individu, bukan sekadar melihat hasil belajar atau perilakunya saja apalagi trauma sering tidak terlihat secara langsung. Perilaku seperti sulit fokus, mudah marah, atau menarik diri bisa jadi bukan karena siswa “bermasalah”, tetapi merupakan respon dari pengalaman yang mereka alami di luar sekolah. Karena itu, kedekatan dan kepekaan guru menjadi kunci agar pembelajaran, termasuk aspek sosial emosional, bisa berjalan lebih bermakna.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setujuu dengan sinta, Memang betul bahwa hubungan personal adalah pintu masuk bagi proses pemulihan. Tanpa adanya kedekatan emosional, guru mungkin hanya akan melihat perilaku anak sebagai masalah atau kenakalan, padahal itu adalah cara anak meminta tolong atas trauma yang mereka pendam. Ketika guru punya kepekaan dan melihat siswa sebagai individu yang utuh, barulah anak merasa didengar dan aman. Rasa aman inilah yang nantinya akan meluluhkan tembok trauma mereka, sehingga proses belajar bukan lagi jadi beban, melainkan tempat mereka untuk tumbuh kembali secara perlahan.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, pengelolaan siswa yang terdampak trauma membutuhkan keseimbangan antara empati dan profesionalisme. Guru perlu memahami latar belakang siswa tanpa melampaui batas peran. Guru menciptakan lingkungan kelas yang aman agar siswa berani berbagi. Siswa merasa dihargai dan dilindungi dalam proses belajar. Guru juga menjaga kesehatan mental dirinya sendiri. Dukungan dari komunitas guru sangat dibutuhkan. Pendekatan ini membantu pembelajaran berjalan lebih efektif.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Pendekatan pembelajaran sosial emosional yang peka trauma menekankan pentingnya hubungan personal. Guru membangun relasi yang kuat dengan siswa sebagai individu. Hubungan ini membantu siswa yang mengalami trauma merasa aman. Guru tidak hanya fokus pada materi pelajaran. Siswa mendapatkan dukungan emosional yang konsisten. Perubahan budaya sekolah menjadi kunci keberhasilan. Komunitas pendidikan perlu berkolaborasi secara menyeluruh.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, trauma pada siswa sering kali tidak terlihat secara langsung. Guru perlu menyadari bahwa setiap siswa mungkin membawa pengalaman sulit. Penelitian menunjukkan trauma masa kecil lebih luas dari perkiraan. Guru menerapkan pendekatan universal dalam pembelajaran SEL. Siswa memperoleh manfaat berupa empati dan pengaturan diri. Pendekatan ini membantu semua siswa berkembang. Lingkungan belajar menjadi lebih inklusif dan aman.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Mengenali perilaku siswa merupakan langkah penting dalam pendekatan sadar trauma. Guru memahami bahwa perilaku tertentu bisa berasal dari rasa takut atau tekanan. Guru tidak langsung memberi label negatif pada siswa. Siswa merasa dipahami secara emosional. Dukungan berbasis tim membantu guru mengenali kebutuhan siswa. Sekolah membangun sistem dukungan kolektif. Pendekatan ini memperkuat peran guru dalam kelas.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Kesejahteraan guru merupakan bagian penting dalam pembelajaran sadar trauma. Guru tidak dapat mendukung siswa secara optimal tanpa dukungan emosional yang cukup. Sekolah perlu menyediakan ruang dukungan bagi guru. Guru mengelola dampak trauma tidak langsung dengan lebih baik. Ekosistem belajar yang sehat terbentuk dari kesejahteraan semua pihak. Kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional sangat diperlukan. Tanggung jawab SEL menjadi milik bersama.
dias pinasih
BalasHapus5b pgsd
2386206057
izin menanggapi materi yang bapak jelaskn di atas pak saya jadi lebih kebuka pemahamannya kalau kesulitan belajar siswa itu nggak selalu soal kemampuan akademik. Kadang ada pengalaman pribadi atau trauma tertentu yang bikin siswa jadi takut, menutup diri, atau nggak berani mencoba. Di materi ini kelihatan jelas kalau peran guru itu bukan cuma ngajar materi, tapi juga jadi sosok yang bisa menciptakan rasa aman di kelas. Menurut saya, ini penting banget karena sering kali siswa dianggap malas atau nggak mau belajar, padahal sebenarnya mereka sedang berjuang dengan kondisi emosionalnya sendiri.Saya juga setuju kalau lingkungan kelas yang aman dan suportif itu bisa pelan-pelan membantu siswa pulih. Hal-hal kecil seperti cara guru berbicara, memberi kesempatan siswa untuk salah, dan tidak langsung menghakimi itu ternyata punya pengaruh besar. Materi ini jadi pengingat buat kami sebagai calon guru bahwa memahami siswa secara utuh itu sama pentingnya dengan menyampaikan materi pelajaran.
izin menambahkan sedikit saran dan kritik di materi bapak Menurut saya, meskipun materinya sudah sangat membuka wawasan, pembahasannya masih terasa cukup umum. Sebagai mahasiswa atau calon guru, kadang masih bingung harus mulai dari mana ketika benar-benar menghadapi siswa yang punya trauma belajar. Di lapangan nanti, kondisi kelas bisa sangat kompleks, dan guru bisa saja kesulitan membedakan antara siswa yang trauma, siswa yang kurang motivasi, atau siswa yang memang butuh pendekatan belajar berbeda.
HapusSelain itu, di materi ini belum terlalu banyak dibahas bagaimana batasan peran guru. Karena di satu sisi guru dituntut peduli secara emosional, tapi di sisi lain guru juga bukan psikolog. Hal ini menurut saya perlu penekanan supaya guru tidak merasa terbebani atau salah langkah dalam menangani siswa dengan trauma.
dias pinasih
BalasHapus5b pgsd
2386206057
izin bertanyaa pak Menurut Bapak, bagaimana peran komunikasi antara guru dan orang tua dalam membantu pemulihan siswa yang mengalami trauma belajar?
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
izin menjawb ya dias, menurut aku, Sebenarnya kunci utama kesembuhan anak itu ada di kerjasama antara guru dan orang tua. Mereka harus jadi tim yang kompak supaya tahu persis apa yang sebenarnya dirasakan anak, baik saat di sekolah maupun di rumah.Kalau guru dan orang tua rajin ngobrol, mereka bisa kasih perhatian yang nyambung dan konsisten. Jadi, anak nggak bingung dan merasa aman karena di mana pun dia berada, lingkungannya mendukung dia buat bangkit lagi tanpa merasa dipojokkan. Intinya, kalau komunikasi lancar, anak bakal merasa dijagain penuh, sehingga rasa takutnya buat belajar lagi bisa hilang lebih cepat.
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Halo Dias aku coba bantu jawab dari pertanyaanmu yah. Kalau sepengetahuanku, komunikasi guru dan orang tua itu jadi jembatan utama buat memahami kondisi siswa yang mengalami trauma. Dengan saling berbagi informasi, guru nggak salah menafsirkan perilaku anak, dan orang tua juga paham apa yang terjadi di sekolah. Kalau komunikasi lancar, respon yang diberikan ke anak jadi searah, nggak saling bertabrakan, dan itu bisa bikin anak merasa lebih tenang serta percaya untuk belajar lagi.
sarannya saya pak Kalau boleh memberi saran, materi ini akan lebih kuat kalau ditambahkan contoh kasus nyata di kelas, misalnya bagaimana sikap guru ketika menghadapi siswa yang tiba-tiba diam, sering bolos, atau menolak mengerjakan tugas karena trauma tertentu. Akan lebih membantu juga kalau ada langkah sederhana yang bisa dilakukan guru, seperti strategi komunikasi awal, kerja sama dengan orang tua, atau kapan guru perlu melibatkan pihak lain seperti guru BK.
BalasHapusSelain itu, mungkin bisa ditambahkan penekanan bahwa membangun kepercayaan siswa itu proses jangka panjang dan nggak bisa instan. Guru cukup melakukan hal-hal sederhana tapi konsisten, seperti mendengarkan, tidak memaksa, dan memberi ruang aman bagi siswa. Dengan begitu, materi ini bukan hanya memberi pemahaman, tapi juga membekali calon guru dengan sikap yang realistis dan siap diterapkan di kelas.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Materi ini membuat saya semakin sadar bahwa perilaku siswa di kelas sering kali bukan sekadar soal disiplin, tetapi ada pengalaman hidup yang membentuknya. Ketika guru mampu melihat siswa sebagai individu dengan latar belakang berbeda, pendekatan yang digunakan pun menjadi lebih manusiawi. Saya merasa penekanan pada hubungan personal sangat penting, karena tanpa rasa aman dan dipercaya, siswa yang mengalami trauma akan sulit terlibat dalam pembelajaran. Di sini terlihat bahwa peran guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi figur yang memberi rasa aman.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Saya setuju nih, Pak. Bahwa praktik pembelajaran sosial emosional yang peka trauma seharusnya diterapkan kepada semua siswa, bukan hanya mereka yang terlihat bermasalah. Banyak trauma yang tidak tampak secara langsung, tetapi memengaruhi cara siswa bersikap dan belajar. Pendekatan universal seperti yang disarankan Zero to Three terasa lebih adil dan preventif. Dengan cara ini, kelas menjadi ruang yang mendukung semua siswa untuk belajar mengenali emosi, mengatur diri, dan bekerja sama tanpa harus memberi label tertentu.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin memberikan saran dari saya, Pak. Fokus pada kesejahteraan guru terasa sangat relevan dan sering terlupakan. Guru yang terus-menerus berhadapan dengan cerita dan perilaku yang berkaitan dengan trauma tentu bisa ikut terdampak secara emosional. Jika guru tidak mendapat ruang untuk didukung dan dipulihkan, maka akan sulit memberikan dukungan yang tulus kepada siswa. Materi ini mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental guru bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian penting dari ekosistem pendidikan yang sehat.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Materi di atas juga terasa seperti refleksi, Pak. Bahwa tanggung jawab mendukung siswa yang terdampak trauma tidak bisa dibebankan pada guru atau sekolah saja. Keterlibatan orang tua, konselor, dan komunitas sangat dibutuhkan agar siswa mendapat dukungan yang utuh. Dari sini saya melihat bahwa SEL dan pendekatan sadar trauma bukan sekadar strategi kelas, tetapi budaya bersama yang harus dibangun. Ketika semua pihak bergerak bersama, sekolah bisa benar-benar menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan belajar.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi yaa, Pak. Materi ini membuka pemahaman saya bahwa perilaku siswa di kelas sering kali merupakan bentuk respons dari pengalaman hidup yang tidak selalu terlihat oleh guru. Ketika siswa tampak tidak fokus, mudah marah, atau menarik diri, bisa jadi itu bukan karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena ada beban emosional yang sedang mereka hadapi. Oleh karena itu, pendekatan yang peka terhadap trauma dan pembelajaran sosial emosional menjadi sangat penting agar kelas menjadi ruang yang aman, di mana siswa merasa diterima dan dihargai sebagai individu, bukan sekadar dinilai dari perilakunya.
Nama : Ninda Amelia Saputri
HapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menambahkan, Pak. Di sisi lain, materi ini juga mengingatkan bahwa peran guru tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan lingkungan sekolah dan perhatian terhadap kesejahteraan guru itu sendiri. Guru yang mendapatkan dukungan emosional dan bekerja dalam budaya sekolah yang saling peduli akan lebih mampu membangun hubungan yang tulus dengan siswa. Dengan adanya kolaborasi antara guru, sekolah, dan komunitas, upaya mendampingi siswa yang terdampak trauma tidak terasa memberatkan, melainkan menjadi proses bersama yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Seorang anak memiliki masa trauma terhadap pembelajaran biasanya trauma bisa muncul saat anak mengalami kecemasan terhadap pembelajaran tersebut sehingga anak merasakan tekanan yang berat saat mengerjakan soal tersebut tapi guru selalu memberikan solusi supaya anak tidak takut dalam menghadapi pembelajaran tersebut dimana guru melakukan pendekatan terhadap anak tersebut memberikan respon terhadap mereka .
Artikel ini menegaskan bahwa trauma sering kali tidak terlihat, sehingga pendekatan universal menjadi sangat relevan di ruang kelas. Dengan menganggap setiap siswa berpotensi mengalami trauma, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, inklusif, dan penuh empati. Pendekatan ini tidak melabeli siswa, tetapi justru memperkuat keterampilan sosial emosional yang bermanfaat bagi seluruh peserta didik.
BalasHapus
BalasHapusPenekanan pada hubungan personal antara guru dan siswa menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya tentang kurikulum, tetapi juga tentang koneksi manusia. Ketika siswa merasa dikenal dan diterima, mereka lebih mampu mengelola emosi dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan akademik sangat berkaitan erat dengan kualitas hubungan di dalam kelas.
Artikel ini mengajak pendidik untuk melihat perilaku siswa bukan sekadar sebagai masalah disiplin, melainkan sebagai bentuk komunikasi atas pengalaman yang mereka alami. Respons seperti agresi atau hiperaktivitas dapat menjadi tanda mekanisme bertahan hidup akibat trauma.
BalasHapusDengan sudut pandang ini, guru dapat merespons perilaku siswa secara lebih empatik dan tepat sasaran.
Pendekatan sadar trauma akan lebih efektif jika diterapkan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah. Kolaborasi antara guru, staf, dan pimpinan sekolah menciptakan budaya yang mendukung pemulihan dan pertumbuhan siswa.
BalasHapusUpaya kolektif ini juga meringankan beban guru karena tanggung jawab tidak dipikul secara individual.
Artikel ini dengan tepat menekankan bahwa guru juga membutuhkan dukungan sosial dan emosional. Tanpa kesejahteraan mental yang terjaga, guru akan kesulitan memberikan dukungan yang tulus dan berkelanjutan kepada siswa. Dengan memperhatikan kesehatan emosional guru, sekolah membangun ekosistem pembelajaran yang sehat dan saling menguatkan.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Setelah memahami materi yang bapak berikan ini saya jadi paham. ternyata tugas guru itu bukan cuma berbagi ilmu saja. dan ternyata trauma masa kecil itu pengaruhnya besar sekali ke perilaku anak di kelas. kadang kita mikir mereka nakal atau tidak fokus, padahal mungkin saja itu cara mereka mengekspresikan rasa sakitnya. saya setuju sekali kalau hubungan personal antara guru dan murid itu fondasi paling utama sebelum masuk ke materi pelajaran.
Materi ini sangat menarik, Pak. Saya setuju bahwa penanganan trauma tidak bisa hanya dibebankan pada guru di kelas, melainkan harus menjadi komitmen seluruh komunitas sekolah (administrasi hingga staf) agar tercipta ekosistem belajar yang sehat dan inklusif.
BalasHapusSaya sangat terkesan dengan bagian yang menjelaskan bahwa kemarahan atau agresivitas siswa sering kali merupakan mekanisme pertahanan dari rasa sakit. Sebagai calon pendidik, ini mengubah cara pandang kita dari bertanya 'Kenapa anak ini nakal?' menjadi 'Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?
BalasHapusJujur, baca bagian 'hubungan lebih penting dari isi pelajaran' itu relatable banget. Kadang kita sibuk ngejar kurikulum, padahal kalau mental muridnya lagi berantakan, dikasih materi secanggih apa pun nggak bakal nyangkut.
BalasHapusNama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Menurut saya setelah membaca materi ini, saya menyimpulkan kalau perilaku siswa di kelas tidak bisa dilihat secara sekilas saja atau hanya dari yang kita lihat. Ada kalanya sikap gresip, menarik diri atau susah fokus itu terjadi, bukan karena siswa ngga mau belajar, tapi karena mereka punya pengalaman trauma yang belum selesai seperti ( sering dimarahi atau dihukum secara berlebihan, dibully, dipermalukan dikelas dll). Materi ini membuka sudut pandang saya kalau peran guru ngga cuma menyampaikan materi, tapi juga ngebangun hubungan yang aman dan penuh empati sama siswa.
Menurut saya, pendekatan sadar trauma itu penting banget diterapin di sekolah karena bisa ngebantu guru lebih bijak dalam nanggepin perilaku siswa, ngga langsung nge-judge atau menghukum. Lingkungan belajar yang aman secara emosional, ditambah kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua, bisa bikin siswa ngerasa lebih diterima dan pelan-pelan pulih. Jadi, proses belajar ngga cuma fokus ke akademik, tapi juga ke kesejahteraan emosional siswa.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Baru - baru ini saya pernah membaca dalam salah satu jurnal tentang Pendekatan Social Emotional Learning (SEL) ini pak tapi namanya Pembelajaran Sosial Emosional ( PSE), ternyata pendekatan PSE ini menjadi konteks khusus yang perlu diterapkan bahkan sudah dikembangkan dalam bentuk modul, saya baru tau.. Nah di dalam jurnal itu menjelaskan kalau PSE ngebantu siswa buat ngenalin dan ngelola emosi, bangun hubungan sosial yang sehat, dan bisa berinteraksi dengan orang lain secara positif. Dan menariknya Menariknya, hal ini ngga jauh beda sama yang dibahas di materi bapak tentang "Mengelola Siswa yang Memiliki Trauma dalam Belajar", di mana trauma sering bikin siswa susah ngatur emosi, susah fokus, atau terlihat "bermasalah" di kelas karena pengalaman masa lalu yang berat ( misalnya kayak dibully, dimarahi atau dihukum secara berlebihan). Materi bapak juga menjelaskan kalau pendekatan yang sadar trauma dan pembelajaran sosial emosional itu bermanfaat buat semua siswa, karena bisa ngebantu mereka mengembangkan kesadaran diri, empati, pengaturan diri, dan keterbukaan dalam kerja kelompok.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Pendekatan ini sangat relevan, terutama untuk siswa yang memiliki pengalaman trauma, karena membantu mereka merasa lebih aman, diterima, dan didukung dalam proses belajar. Dengan menerapkan SEL di sekolah, pembelajaran ngga cuma berfokus pada akademik, tapi juga pada pembentukan karakter, kesehatan emosional, dan kesiapan siswa menghadapi kehidupan sehari-hari maupun masa depan.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, mengapa urusan trauma itu tidak bisa dibebaskan ke satu guru saja, tetapi juga harus menjadi urusan seluruh orang di sekolah (sampai ke staf-stafnya)? kemudian bapak juga menyebutkan perihal lingkaran pemulihan. apa saja tujuannya mengajak semua staf sekolah untuk mengikuti praktik keterampilan sosial emosional ini?
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Hai Selma aku coba bantu jawab dari pertanyaan mu yah. Kalau sepengetahuanku, urusan trauma nggak bisa dibebankan ke satu guru aja karena kan siswa berinteraksi dengan banyak orang di sekolah, bukan cuma wali kelas. Kalau cuman satu guru yang paham, tapi staf lain belum, respon yang diterima siswa bisa beda-beda dan malah bikin bingung atau terpicu lagi traumanya. Jadi, semua warga sekolah perlu punya pemahaman yang sama supaya lingkungan sekolah terasa aman dan konsisten.
Terus di pertanyaanmu di Soal lingkaran pemulihan, ini menurutku tujuannya biar semua staf ikut belajar keterampilan sosial emosional, seperti empati, komunikasi, dan pengelolaan emosi. Dengan ikut praktik langsung, staf jadi lebih peka terhadap kondisi siswa dan juga terhadap sesama rekan kerja. Dampaknya juga bagus, hubungan di sekolah jadi lebih sehat dan siswa merasa benar-benar didukung, bukan cuma di kelas tapi di seluruh lingkungan sekolah.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya lagi pak, selain pihak sekolah, siapa saja yang harus diajak kerja sama untuk menangani tantangan trauma yang dihadali oleh siswa ini?
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Aku bantu coba jawab yah Selma. Kalau menurutku, selain pihak sekolah, yang perlu diajak kerja sama itu orang tua atau keluarga karena mereka paling dekat dengan keseharian anak. Selain itu, konselor, psikolog, atau tenaga kesehatan juga penting untuk bantu penanganan secara profesional. Komunitas sekitar dan lembaga sosial juga bisa dilibatkan supaya anak merasa didukung dari berbagai arah. Intinya, makin banyak pihak yang saling bekerja sama, makin besar peluang anak pulih dan berkembang dengan lebih baik.
Izin menjawab ya Selma, menurut saya selain komunitas guru dan staf sekolah, kerja sama yang kuat harus dijalin dengan orang tua atau wali murid sebagai pendukung utama di rumah, serta tenaga profesional medis atau psikolog jika diperlukan penanganan yang lebih mendalam. Kolaborasi ini sangat penting karena menciptakan lingkungan pendukung yang menyeluruh memungkinkan siswa untuk merasa aman dan terbantu dalam mengembangkan kesadaran diri serta empati mereka kembali.
HapusNama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi pak menurut saya mengelola siswa yang mengalami trauma memang bukan hal yang mudah karena guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran tetapi juga perlu memahami kondisi emosional siswa yang berbeda beda setiap harinya guru harus sabar dan peka terhadap perubahan sikap siswa namun tetap menjaga batas profesional agar peran guru tidak terlalu berat
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A
PGSD
NPM : 2386206003
Menurut saya membangun hubungan yang baik antara guru dan siswa sangat penting dalam pembelajaran karena ketika siswa merasa aman dan dipercaya mereka akan lebih terbuka dan nyaman berada di kelas hubungan yang dekat ini membantu guru mengenali kebutuhan siswa terutama bagi siswa yang pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
saya setuju bahwa trauma pada siswa sering kali tidak terlihat secara jelas karena bisa muncul dalam bentuk perilaku seperti marah sulit fokus atau terlalu aktif perilaku ini sering disalahartikan sebagai kenakalan padahal bisa jadi siswa sedang berusaha mengekspresikan perasaan yang tidak mampu mereka sampaikan dengan kata kata sehingga pendekatan pembelajaran sosial emosional sangat diperlukan untuk semua siswa
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi saya juga sepakat bahwa penanganan siswa yang terdampak trauma tidak bisa dilakukan oleh satu guru saja tetapi membutuhkan kerja sama seluruh warga sekolah mulai dari guru staf hingga kepala sekolah jika semua memiliki pemahaman yang sama maka lingkungan sekolah akan terasa lebih aman dan mendukung bagi siswa
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Menurut saya kesejahteraan guru juga harus menjadi perhatian karena guru yang kelelahan secara emosional akan sulit memberikan dukungan maksimal kepada siswa oleh karena itu dukungan dari sekolah rekan sejawat orang tua dan pihak lain sangat dibutuhkan agar guru dan siswa sama sama bisa berkembang dengan baik
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi menurut saya pendekatan pembelajaran yang sadar trauma dan sosial emosional sangat penting diterapkan di kelas karena setiap siswa memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda beda meskipun tidak semua siswa terlihat mengalami masalah bukan berarti mereka tidak membutuhkan dukungan dengan adanya pendekatan ini guru dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aman nyaman dan membuat siswa merasa dihargai sehingga proses belajar bisa berjalan dengan lebih baik
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Jadi setelah baca-baca, materi ini benar-benar menekankan bahwa memahami kondisi emosional siswa itu sama pentingnya dengan menyampaikan materi pelajaran. Anak yang membawa trauma ke kelas sering kali bukan sengaja bersikap sulit, tapi memang sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Jadi wajar kalau pendekatan yang paling masuk akal adalah menciptakan kelas yang aman, nyaman, dan penuh empati, bukan sekadar menuntut kepatuhan.
Nama: Rismardiana
HapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Tambahan lagi, aku juga setuju bahwa SEL yang peka trauma sebaiknya diterapkan ke semua siswa, bukan hanya yang terlihat bermasalah. Dengan begitu, guru tidak perlu menebak-nebak siapa yang sedang mengalami trauma, dan suasana kelas jadi lebih suportif secara keseluruhan.
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Nah ada juga nih yang sering terlupakan tapi disorot di materi ini yaitu kesejahteraan guru. Menurutku ini realistis dan relevan, karena guru juga manusia kan pastinya bisa capek secara mental. Kalau guru terus-terusan menahan stres tanpa dukungan, malahan lebih sulit untuk hadir secara empatik ke siswa. Jadi menjaga kesehatan mental guru itu bukan egois gusy, tapi bagian dari menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Nama: Rismardiana
BalasHapusNPM: 2386206025
Kelas: 5B PGSD
Secara keseluruhan, materi ini menegaskan bahwa penanganan trauma dan pembelajaran sosial emosional bukan cuma tugas guru di kelas, tapi tanggung jawab bersama. Kolaborasi dengan orang tua, konselor, dan komunitas sangat dibutuhkan supaya siswa merasa didukung dari berbagai arah. Menurutku, dengan pendekatan seperti ini, sekolah bisa jadi tempat yang benar-benar aman dan bermakna bagi semua siswa.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Pak, terima kasih atas materinya. Saya jadi lebih paham kalau menangani siswa yang punya trauma itu bukan hal yang mudah dan butuh pendekatan yang lembut serta sabar. Nggak semua siswa bisa langsung fokus belajar kalau mereka masih menyimpan pengalaman yang berat. Menurut saya, kalau guru bisa lebih peka, memberi ruang aman, dan dukungan emosional, pasti membantu siswa merasa lebih tenang dan siap belajar.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin bertanya ya pak, bagaimana sikap awal guru saat menghadapi siswa yang terlihat masih menyimpan trauma? terimakasih
izin menjawab ya Alya,sesuai dengan prinsip pembelajaran sosial emosional (SEL), guru perlu menunjukkan sikap empati dan kesadaran diri yang tinggi saat menghadapi siswa yang menyimpan trauma. Sikap awal ini sangat penting karena dukungan emosional yang kita berikan akan membantu siswa merasa tidak sendirian dalam menghadapi masa lalunya yang sulit, sekaligus mendorong perkembangan rasa percaya diri mereka di sekolah.Semoga membantu ya
HapusSangat setuju sebagai pendidik, sangat penting untuk membangun hubungan personal yang kuat dengan setiap siswa guna menciptakan lingkungan kelas yang aman, karena dukungan emosional yang tepat terbukti bermanfaat bagi perkembangan kesadaran diri dan empati seluruh siswa, baik yang terlihat terdampak trauma masa kecil maupun yang tidak.
BalasHapusMenurut saya,penerapan pembelajaran sosial emosional ini memerlukan kolaborasi luas dari komunitas guru dan staf sekolah untuk mengubah budaya pendidikan menjadi lebih suportif, sehingga guru tidak hanya fokus pada materi akademik tetapi juga mampu menjaga kesehatan mental diri sendiri sambil memberikan ruang bagi siswa untuk tumbuh dan berkembang.
BalasHapusDita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Sebagai calon guru,kita harus sadar bahwa peserta didik zaman sekarang hidup di era yang sangat kompleks. Banyak perilaku nakal atau sulit fokus sebenarnya adalah manifestasi dari trauma atau tekanan mental yang mereka alami di luar sekolah. Kita tidak bisa hanya menjadi pengajar materi,tapi harus menjadi pelabuhan aman bagi mereka. Pendekatan yang mengedepankan hubungan emosional di atas kurikulum adalah kunci agar mereka mau belajar secara sukarela.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
Menghadapi tantangan pendidikan yang makin berat,kerja sama dengan pihak luar seperti konselor sangat krusial.Guru tidak bekerja sendirian dalam membimbing siswa melewati masa-masa sulitnya. Kesuksesan pendidikan masa depan bergantung pada kemampuan kita dalam mengintegrasikan aspek kesehatan mental ke dalam proses belajar mengajar sehari hari.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Setiap siswa memiliki latar belakang unik yang membentuk cara mereka merespons pelajaran di kelas. Pendekatan yang dipersonalisasi sangat membantu siswa yang memiliki beban masa lalu. Dengan Mengenal siswa secara mendalam guru dapat memberikan dukungan yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan spesifik masing masing individu.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
Banyak siswa yang mengalami trauma masa kecil yang tersembunyi namun berdampak besar pada cara mereka belajar. Kita sebagai guru nantinya kita dilarang berasumsi bahwa semua siswa baik baik saja. Pendekatan yang peka terhadap trauma bermanfaat bagi semua siswa,baik mereka yang memiliki riwayat trauma maupun yang tidak.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Perilaku agresif atau hiperaktif sering kali bukan sekedar kenakalan,melainkan bentuk pertahanan diri dari trauma. Kita harus belajar melihat melampaui tindakan fisik mereka. Dengan memahami alasan di balik kemarahan siswa,kita tidak bisa merespon dengan empati,bukan dengan hukuman yang justru memperparah kondisi mental mereka.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Terkadang sebagian guru sering merasa kesal kalaj ada murid yang hiperaktif atau agresif sekali di kelas. tapi ternyata, menurut Sarah MacLaughlin, bisa jadi itu cara mereka menunjukkan kalau mereka sedang ketakutan atau waspada berlebihan karena trauma. malah ada yang sampai curhat lewat kemarahan karena faktor ekonomi (kemiskinan). jadi intinya, hubungan personal itu jauh lebih penting daripada isi kurikulum.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Ternyata kalau sekolah benar-benar menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL), hasilnya tidak main-main. ada riset yang bilang nilai akademik bisa naik, dan perilaku bermasalah menjadi jauh lebih berkurang. lalu ternyata tidak bisa kalau hanya satu guru saja yang peduli. semuanya, dari kepala sekolah sampai staf, harus mempunyai pola pikir yang sama soal sadar trauma ini agar murid merasa aman terus-terusan.
Izin bertanya pak atau teman -teman yg bisa menjawab Bagaimana seorang guru sekolah dasar dapat membedakan antara perilaku siswa yang disebabkan oleh trauma dengan perilaku yang muncul akibat kurangnya motivasi belajar, tanpa melakukan diagnosis psikologis?
BalasHapusIzin menanggapi pak Materi ini sangat relevan dengan realitas pembelajaran di sekolah dasar saat ini. Penulis menegaskan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kualitas kurikulum, tetapi juga oleh kemampuan guru memahami kondisi emosional siswa. Penekanan pada hubungan personal, pembelajaran sosial emosional (SEL), dan pendekatan sadar trauma menunjukkan bahwa siswa harus dipandang sebagai individu utuh, bukan sekadar penerima materi. Gagasan pendekatan “universal” juga tepat, karena trauma sering kali tidak terlihat namun berdampak besar pada perilaku dan prestasi belajar. Secara keseluruhan, materi ini mengingatkan pendidik bahwa membangun lingkungan aman, kolaboratif, dan empatik merupakan fondasi penting agar proses pembelajaran benar-benar bermakna dan berkelanjutan
BalasHapusIzin bertanya bagaimana si cara kita mempersiapkan diri secara profesional dan emosional untuk menghadapi siswa yang memiliki trauma, mengingat guru bukan terapis namun tetap memiliki tanggung jawab pedagogis?
BalasHapusNama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, artikel ini menekankan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar materi, tetapi juga memahami kondisi emosional siswa. Siswa yang memiliki trauma membutuhkan lingkungan belajar yang aman agar mereka dapat merasa nyaman dan dihargai.
Terima kasih atas tanggapannya, Leoni. Saya sangat setuju. Menciptakan ruang kelas yang aman secara emosional adalah fondasi utama sebelum proses transfer ilmu bisa berjalan efektif. Pemahaman guru terhadap trauma siswa bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam pendidikan inklusif.
HapusNama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, guru perlu memahami bahwa perilaku siswa yang terlihat mengganggu bisa jadi merupakan dampak dari trauma. Dengan pemahaman ini, guru dapat merespons perilaku siswa dengan lebih bijak dan penuh empati.
Nama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Materi ini mengajak kita melihat perilaku siswa dengan kacamata yang lebih manusiawi, bahwa di balik sikap yang “mengganggu” bisa saja ada luka yang belum sembuh. Penekanan pada hubungan, empati, dan kerja bersama seluruh komunitas sekolah terasa sangat relevan dengan realitas di kelas. Yang juga penting, tulisan ini tidak melupakan kesejahteraan guru, karena guru yang sehat secara emosional akan lebih mampu mendampingi siswa dengan tulus. Bacaan ini menguatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang merawat manusia secara utuh.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Pendekatan dari universal dari Zero to Three relevan karena trauma sering tidak terlihat, sehingga SEL yang peka trauma bermanfaat untuk semua siswa.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Ada dua prinsip mendasar dalam pendekatan sadar trauma dan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) adalah mendekati siswa sebagai individu unik dan membangun hubungan personal kuat yang dapat menopang mereka dalam proses belajar.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Mengelola siswa dengan trauma membutuhkan keseimbangan antara menciptakan lingkungan aman untuk mereka berbagi cerita dan memelihara batas profesional, sekaligus guru harus menjaga kesehatan mental diri sendiri agar tetap mampu memberikan dukungan.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Siswa sering merasakan truma yang berat biasanya sering terjadi di lingkungan keluarga dimana siswa tidak dapat mengelola emosional secara benar jadi akan memberi arahan kepada siswa tersebut untuk tidak takut yaitu memberi solusi .
Terkadang kala guru juga sering merasakan tekanan yang berat saat menghadapi pembelajaran tersebut disaat mengajar siswa jadi fokus guru menjadi kurang sehingga dapat mengakibatkan stress dan frustasi.
HapusJadi guru selalu memberikan waktu luang istirahat sejenak untuk memulai pembelajaran tersebut dimana guru dapat mengkondisikan suasana kelas lebih nyaman
HapusJadi selalu memberikan waktu jeda kepada siswa tersebut untuk istirahat sejenak dalam pembelajaran tersebut dimana situasi tersebut membuat siswa merasa nyaman saat belajar.
HapusJadi siswa yang mengalami rasa trauma yang berat jangan langsung memberikan sebuah pertanyaan alakah baik yaitu mendekati siswa tersebut
HapusDan mulai berbicara dengan tenang jadi siswa tidak merasa takut saat
Berbicara sama guru.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
baik sebelumnya izin menanggapi, menurut saya pembahasan kali ini cukup menarik dari yang saya lihat, karena dari artikel yang saya baca ini menggambarkan kondisi nyata yang sering dihadapi oleh guru di sekolah, ada saja siswa yang mengalami trauma, entah itu dari dari pengalaman hidup seperti pengalaman masa kecil dari orang sekitar seperti 'slalu terabaikan', konflik orang tua yang berimbas ke anak/bisa di jadikan pelampiasan orang tua, bullying/perundungan, tekanan akademik yang berlebih juga bisa jadi kurangnya rasa aman dan dukungan emosional di rumah atau sekolah yang bisa memicu timbul nya trauma.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
izin menanggapi kembali, membahas tentang sebuah 'trauma' dalam belajar bagi anak ini, cukup membuka wawasan saya, saya sangat setuju dengan bagian 'trauma sering kali tidak terlihat dan bisa muncul dalam bentuk perilaku yang di salah artikan', contohnya seperti "nakal" atau "tidak disiplin" yang ternyata itu bisa jadi bentuk respond siswa terhadap pengalaman hidup yang cukup berat, dan kita tentunya sebagai calon guru tidak harus langsung melabeli anak tersebut dengan label negatif atau 'anak nakal', kita harus melakukan pendekatan dan mencari tahu apa penyebab dan mencari tahu solusinya untuk anak itu.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
izin menanggapi kembali, saya juga sependapat dengan gagasan pendekatan universal dalam SEL, menurut saya pendekatan ini terasa adil dan realistis Karena Guru tidak selalu tahu kondisi pribadi siswa, dengan begitu, lingkungan kelas bisa dibuat lebih aman dan mendukung semua anak, tanpa harus menunggu ada masalah terlebih dahulu.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
membahas mengenai 'trauma' dalam belajar, menurut saya kita bisa menangani dengan beberapa cara yaitu, pertama kita bisa menciptakan rasa aman terlebih dahulu, kedua bisa membangun hubungan yang hangat dan percaya dengan cara guru tidak harus tahu semua cerita anak, melainkan cukup menunjukkan bahwa guru pedul,i mau mendengarkan dan menghargai perasaan mereka, ketiga Kita juga bisa menggunakan pembelajaran sosial emosional atau SEL dengan cara kita melatih anak mengenali emosi, mengelola perasaan, berempati, dan bekerja sama, dan terakhir kita juga bisa melibatkan dukungan dari sekolah dan keluarga agar penanganan anak menjadi konsisten antara rumah dan sekolah.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
izin menanggapi kembali, selain kita harus bisa menghadapi atau mengelola siswa yang memiliki trauma dalam belajar, kita memang perlu menekankan kesejahteraan guru, karena guru juga perlu dukungan sosial dan emosional penting, Karena guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadapi dan mendampingi siswa dengan tulus, dan sekolah juga penting membangun ekosistem yang saling menjaga.
nama: Sitti Fatimatus Zehroh
BalasHapusnpm: 2386206020
semester: 5A
yang dapat saya simpulkan dari artikel ini yaitu, mengelola siswa yang terdampak trauma itu membutuhkan sikap yang peka, hubungan yang hangat, dan kerja sama antara semua pihak di sekolah, dan guru pun di sini nggak cuman fokus sama pelajaran, tapi juga fokus sama kondisi emosional siswa, karena trauma seringkali tidak terlihat dan muncul lewat perilaku sehari-hari, dan juga Pendekatan pembelajaran sosial emosional yang sadar akan trauma juga bermanfaat untuk semua siswa, bukan hanya yang terkena masalah saja, serta kesejahteraan guru dan dukungan dari komunitas sekolah juga sangat penting agar lingkungan belajar bisa tetap aman, sehat, dan saling mendukung.
Nama : Miftahul hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Pak, saya penasaran… artikel ini juga menyarankan agar pendekatan sadar trauma tidak hanya dilakukan oleh guru saja tetapi melibatkan seluruh komunitas sekolah, termasuk kolaborasi antar guru, staf, dan orang tua untuk menciptakan budaya sekolah yang suportif. Namun di praktik nyata seringkali respon trauma siswa berbeda‑beda dan tidak semuanya tampak jelas. Menurut Bapak, bagaimana strategi terbaik agar sekolah bisa menerapkan pendekatan sadar trauma secara konsisten tanpa membuat beban kerja guru semakin berat, misalnya melalui pelatihan, sistem dukungan kolektif, atau rutinitas kelas tertentu?
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Wahh materi ini sangat relevan dan membuka mata saya bahwa trauma sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dalam proses belajar siswa. Penekanan pada hubungan personal, pendekatan sekolah secara menyeluruh, serta kesejahteraan guru menunjukkan bahwa praktik sel yang peka trauma bukan hanya strategi tambahan, melainkan fondasi penting dalam pendidikan. Menariknya, pendekatan universal membuat kelas menjadi lebih aman dan inklusif bagi semua siswa, bukan hanya mereka yang tampak bermasalah.
Pertanyaan saya bagaimana guru dapat membangun hubungan yang personal dengan siswa di kelas besar tanpa mengorbankan target akademik? Dan sejauh mana sekolah kita sudah memberi ruang bagi kesejahteraan guru sebagai bagian dari upaya sadar trauma?
HapusNAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
ada anak yang kadang mengalami trauma, yaitu perasaan atau kenangan dari pengalaman yang membuat mereka takut, sedih, atau susah berkonsentrasi saat belajar di sekolah. Trauma ini bisa bikin anak jadi gampang marah, susah fokus, atau terlihat berbeda dari teman-teman lainnya.
guru itu bukan cuma ngajarin pelajaran saja, tapi juga harus bisa ngerti perasaan dan keadaan siswa. Guru harus berusaha jadi teman yang aman dan hangat supaya anak yang punya pengalaman sulit merasa lebih tenang dan percaya diri.
HapusNAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
materi ini menegaskan bahwa kita semua di sekolah harus saling bantu supaya lingkungan sekolah jadi tempat yang aman dan menyenangkan. Bukan cuma guru, tapi juga teman, staf sekolah, bahkan orang tua bisa kerja sama supaya anak yang trauma merasa dihargai dan tidak sendirian.
Kalau kita paham bahwa perilaku teman yang terlihat “bermasalah” bisa jadi karena trauma, kita jadi lebih sabar dan pengertian. Kita tidak langsung marah atau mengejek, tapi mencoba memahami dan memberi dukungan supaya teman itu bisa merasa nyaman dan siap belajar.
Hapusnama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelad : 5c
npm : 2386206040
kalau pendekatan sadar trauma ini sifatnya “universal”, gimana cara guru membedakan mana perilaku yang memang dipicu trauma dan mana yang sekadar kenakalan biasa? Takutnya nanti semua perilaku dianggap trauma, jadi bingung sendiri ngambil langkahnya.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
pendekatan sadar trauma itu bikin aku mikir ulang soal cara kita memaknai perilaku siswa daripada langsung hukuman menurut aku lebih bijak buat lihat dulu apakah siswa itu butuh bantuan pengertian atau ruang buat menenangkan diri karena itu seringkali jauh lebih membantu daripada sekadar memberi konsekuensi disiplin biasa
nama:erfina feren heldiana
BalasHapus5c
kalau pendekatan sadar trauma ini sifatnya “universal”, gimana cara guru membedakan mana perilaku yang memang dipicu trauma dan mana yang sekadar kenakalan biasa? Takutnya nanti semua perilaku dianggap trauma, jadi bingung sendiri ngambil langkahnya.
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
Tadi ditekankan pentingnya kesejahteraan guru, tapi di banyak sekolah bebannya sudah cukup berat. Ada nggak sih contoh langkah kecil yang realistis dan bisa dilakukan guru sehari-hari tanpa harus nambah tekanan baru?
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskelas : 5C
Izin menjawab pertanyaan dari faren, langkah kecil itu nggak harus berupa program gede. Ini beberapa tips "receh" tapi ngefek banget buat jaga kesetaraan dan kesehatan mental tanpa nambah beban contoh nya Stop Bawa Kerja Ke Rumah (Batas Tegas) Kalau jam sekolah selesai, ya selesai. Langkah ini penting biar mental guru nggak burnout. Guru yang happy bakal lebih otomatis memperlakukan murid dengan setara daripada guru yang stres.
Kesetaraan itu bukan soal guru harus jadi "superhero", tapi lebih ke soal sikap jujur dan santai di depan murid. Makin gury "manusiawi", makin mereka merasa setara dan dihargai.
2386206060 (5B)
BalasHapusuntuk pembahasan di bagian traumah itu tidak hanya masalah perilaku aja ada yang harus dilihat bareng dengan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL), SEL membantu siswa ngerti diri sendiri, belajar empati, ngatur emosi, dan kerja sama, Pendekatan sadar trauma dan SEL saling dukung dan bisa bantu semua anak, gak cuma yang trauma aja tapi coba bayangin kelas yang biasa aja vs kelas yang bener-bener sadar sama sisi emosional siswa, di kelas yang sadar trauma + SEL, guru gak cuma ngajar materi, tapi juga bantu anak ngerti kenapa dia sedih, kenapa dia marah, kenapa dia diem aja. Ini bukan berarti sekolah jadi tempat curhat terus, tapi jadinya tempat anak bisa belajar ngobrol soal perasaan kayak belajar matematika ini keren banget karena anak jadi gak nahan emosi sendiri yang selama ini sering jadi biang perilaku negatif tanpa kita ngerti penyakitnya dulu. Kalau dipadukan dengan cara belajarnya, anak jadi lebih siap buat dengerin pelajaran karena emosinya juga lebih stabil.
nah kalau hubungan yang hangat dan personal antara guru dan siswa itu jauh lebih penting daripada kurikulum keren sekalipun Siswa yang trauma perlu merasa aman dan dipercaya dulu baru mereka bisa buka diri dan fokus belajar, nah ini bagian yang bikin aku ngerasa kayak ya ampun bener banget ya Kita sering mikir kurikulum yang keren itu bakalan bikin anak jago pelajaran padahal faktanya kalau siswa gak ngerasa aman sama gurunya itu mereka tetep gak bisa fokus bayangin kalau murid selalu cemas setiap masuk kelas karena takut diomelin, dibandingin sama yang lain, atau gak pernah dapet perhatian itu mentalnya langsung drop duluan. Sekarang coba bandingin sama guru yang ramah, inget nama muridnya, nanya kabar bahkan yang gak masalah pun ngerasa kelasnya enak. Jadi gak salah kalau artikel nekanin hubungan itu lebih penting daripada buku pelajaran yang tebelnya kaya novel.
BalasHapus2386206060 (5B)
BalasHapusdan seluruh sekolah harus kompak mulai dari kepala sekolah, staf, sampai pendidik lain buat menerapkan pendekatan yang sadar trauma Itu bakal bikin lingkungan sekolah jadi bener-bener aman dan suportif buat siswa Ini penting banget karena trauma gak bisa diatasi sendirian bayangin gimana kalau cuma guru kelas yang ngerti trauma, sementara bagian administrasi, guru lain, atau petugas kantin gak ngerti jadinya malah gak konsisten dan siswa bisa makin bingung. dan Sekolah tuh jadi kayak satu keluarga besar, jadi kalau semua orangnya peka dan ngerti tentang trauma, suasana jadi beda banget gitu anak bisa ngerasa “gue diterima di sini”, bukan “gue harus pura-pura kuat terus”. nah itu bikin suasana belajar lebih nyaman secara keseluruhan.
Nama : Miftahul hasanahh
BalasHapuskelas : 5 C
NPM : 2386206040
Diatas ditekankan pentingnya kesejahteraan guru, tapi di banyak sekolah bebannya sudah cukup berat. Ada nggak sih contoh langkah kecil yang realistis dan bisa dilakukan guru sehari-hari tanpa harus nambah tekanan baru?
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
npm:2386206065
mengelola siswa yang mengalami trauma membutuhkan pendekatan yang sensitif dan penuh empati, termasuk membangun hubungan personal yang kuat, menciptakan lingkungan belajar yang aman, serta menerapkan prinsip pembelajaran sosial‑emosional (SEL) yang sadar trauma agar siswa merasa didukung dan fokus belajar. Menurut Bapak, langkah konkret apa yang paling efektif untuk mengidentifikasi dan mendukung siswa yang memiliki trauma di kelas, mengingat perilaku mereka sering kali tampak seperti “nakal” atau tidak fokus padahal merupakan ekspresi dari pengalaman emosional masa lalu?
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
dukungan trauma sebaiknya melibatkan kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua, sehingga siswa merasa didukung di semua lingkungan. Namun di praktik nyata, beban kerja guru sudah cukup tinggi. Menurut Bapak, langkah praktis apa yang bisa dilakukan sekolah agar dukungan trauma berjalan konsisten tanpa menambah beban guru secara signifikan, misalnya melalui tim dukungan atau rutinitas kelas tertentu?
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskelas : 5C
Izin menjawab pertanyaan erfina, Sekolah perlu punya satu alur yang jelas. Kalau guru nemu anak yang trauma, dia nggak perlu nanganin sendiri.
Guru cukup lapor ke satu koordinator (bisa guru BK atau kepala sekolah). Biar koordinator ini yang tugasnya komunikasi intens sama orang tua. Guru fokus mengajar saja.
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskls : 5C
Mengelola siswa yang mengalami trauma membutuhkan pendekatan yang sensitif, empati, dan aman secara emosional, termasuk membangun hubungan positif serta lingkungan kelas yang mendukung agar siswa merasa nyaman dan siap belajar. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif untuk mengidentifikasi dulu siswa yang mungkin mengalami trauma di kelas, terutama ketika tanda‑tandanya tidak selalu terlihat jelas, agar guru bisa segera memberikan dukungan yang tepat?