Peran Guru Membantu Peserta didik yang Mengalami ODD ( Oposisi Defiant Disorder)

 Banyak anak sering kali suka berdebat dan menguji batas, tetapi ada anak-anak yang perilakunya sangat menentang dan bahkan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Perilaku seperti ini terkadang didiagnosis sebagai Oppositional Defiant Disorder (ODD), menurut laporan dari WeAreTeachers.

“Anak-anak dengan ODD tidak hanya mempengaruhi hidup mereka sendiri tetapi juga mengganggu orang-orang di sekitar mereka,” ungkap penulis laporan tersebut. Mereka menunjukkan tingkat pembangkangan yang melebihi kewajaran. Tingkat perilaku bermasalah ini lebih intens dibandingkan anak-anak lain seusia mereka, dan frekuensinya jauh lebih tinggi.


Berdasarkan American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, anak-anak dengan ODD memperlihatkan pola perilaku yang tidak kooperatif, menantang, dan bermusuhan terhadap figur otoritas, yang secara signifikan mengganggu keseharian mereka selama setidaknya enam bulan. Tanda-tanda ODD meliputi tantrum yang sering, berdebat terus-menerus dengan orang dewasa, hingga ucapan kasar saat marah, yang biasanya muncul di lingkungan rumah atau sekolah. Meski penyebab pastinya belum jelas, faktor biologis, psikologis, dan sosial diduga berperan. Sekitar 16% anak-anak mungkin mengalami kondisi ini, dan anak-anak dengan ADHD sangat rentan. Ketika guru menghadapi ODD, reaksi defensif dapat memperburuk keadaan, sehingga para ahli menyarankan pendekatan lain untuk menghadapi perilaku menantang ini dan membangun hubungan dengan siswa.


Cara yang dilakukan untuk menangani siswa dengan perilaku ODD menurut Sarah Gonse sebagai berikut. 

Tetap Tenang dan Konsisten: Parrish menyadari bahwa merespons perilaku ODD dengan kemarahan hanya memperburuk situasi dan malah membuat siswa senang melihat reaksi emosional tersebut. Ia menyarankan menjaga nada suara yang positif, menggunakan bahasa tubuh yang netral, dan menghindari mendekati siswa dengan cara yang mungkin memperparah situasi. Konsistensi antara perkataan dan tindakan juga penting. Guru Brandy T. menggunakan serangkaian "kata pemicu" yang konsisten agar siswa mengerti keseriusan dirinya, seperti "tidak sekarang" atau "perbaiki masalah ini," yang menandakan waktu untuk menenangkan diri.

Perkuat Perilaku Positif: Penting bagi anak-anak, terutama mereka yang memiliki ODD, untuk mendapatkan perhatian lebih pada perilaku positif daripada negatif. Parrish, misalnya, mengirimkan catatan positif ke rumah untuk kemajuan perilaku kecil sekalipun. Menawarkan kesempatan untuk memperoleh hak istimewa juga bisa efektif, seperti waktu ekstra menggunakan iPad atau makan siang bersama guru.

Pahami Akar Masalahnya: Menurut Parrish, perilaku adalah bentuk komunikasi. Dengan melihat perilaku sebagai bentuk umpan balik, guru dapat lebih efektif memahami alasan siswa berperilaku negatif. Memahami faktor penyebab bisa membantu guru mengembangkan strategi untuk mengatasi tantangan perilaku ini di kelas.

Profesor Micere Keels dari Universitas Chicago menambahkan, tanda-tanda fisik dari stres pada siswa yang mengalami trauma, seperti mengepalkan tangan atau menarik diri, sering kali terlihat sebelum mereka mencapai puncak emosi. Ia juga menyarankan mengenali pemicu siswa, seperti ulang tahun yang mungkin emosional, untuk menghindari situasi-situasi yang memicunya.


Ciptakan Ruang Tenang yang Aman: Anak-anak dengan ODD dapat diajarkan untuk mengenali ketika mereka mulai merasa kewalahan. Di Fall-Hamilton Elementary, sekolah di Nashville, setiap kelas memiliki “sudut damai” dengan tempat duduk yang nyaman dan mainan sensorik, sehingga anak-anak memiliki tempat untuk menenangkan diri. Strategi Tap-in/Tap-Out juga digunakan untuk memberikan waktu istirahat bagi guru ketika mereka merasa tertekan.


Berikan Pilihan kepada Siswa: Memberikan pilihan bisa meningkatkan rasa otonomi siswa. Ketika anak-anak merasa dihormati, suasana hati mereka biasanya membaik. Keels menyarankan menghindari ultimatum dan menyampaikan pilihan dengan jelas, seperti memberi waktu untuk menenangkan diri. menyarankan untuk menyatakan pilihan dengan jelas, lalu membiarkan siswa memutuskan tanpa berdebat. Jika siswa tetap menolak memilih, mereka mungkin tidak bisa berpartisipasi dalam aktivitas tertentu yang mereka sukai.


Bangun Hubungan Positif: Anak-anak dengan ODD sering mencari hubungan dengan guru yang bisa membantu mereka mengatasi tantangan yang dihadapi. Membangun hubungan positif akan membantu mengatasi penyebab utama perilaku tersebut. Guru matematika Cicely Woodard, misalnya, menyisihkan waktu untuk mendengarkan cerita siswa secara langsung sebagai cara untuk membangun koneksi yang positif.

Dengan cara-cara ini, guru dapat memberikan pendekatan yang lebih empatik dan membantu siswa dengan ODD mengembangkan cara yang lebih produktif dalam berinteraksi dan mengatasi tantangan mereka.


Sarah Gonse. 2021. 6 Ways to Help Students with ODD

248 Komentar

  1. Nama:Elisnawatie
    Kelas:VD
    NPM:2386206069

    Anak-anak dengan Oppositional Defiant Disorder (ODD) menunjukkan pola perilaku yang menantang dan tidak kooperatif terhadap figur otoritas, yang dapat mengganggu kehidupan mereka sendiri maupun lingkungan sekitar. Kondisi ini membutuhkan pendekatan yang sabar, konsisten, dan penuh empati dari guru maupun orang dewasa di sekitarnya.

    Izin menambahkan pak adapun cara saya untuk menangani odd ,dan juga cara saya untuk menangani adik saya ketika menunjukan perilaku tantrum

    1.Gunakan Nada Suara yang Tenang dan Positif

    Saat anak mulai menentang atau marah, hindari berteriak atau membalas emosi.Bicaralah dengan nada rendah

    2.Gunakan Bahasa yang Konsisten

    Gunakan kata atau frasa yang sama setiap kali menghadapi perilaku menantang, misalnya:

    “Tenangkan diri dulu.” atau “Kita bahas setelah kamu siap.”

    3.Berikan Pilihan, Bukan Perintah

    Berikan pilihan yang terarah contohnya

    “Kamu mau mulai menulis sekarang atau setelah istirahat 5 menit?”

    Memberi pilihan membuat anak merasa dihormati dan punya kendali.

    4.Bangun Hubungan Positif

    Sediakan waktu khusus untuk berbicara santai, bermain, atau mendengarkan cerita anak

    Biasanya saya ajak jalan ke pelabuhan sambil bercerita

    Terimakasih pak segitu saja saran dari saya pak🙏🏻

    BalasHapus
  2. Nama : isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Setelah membaca materi di atas Saya ingin bertanya Pak mengenai ODD. Bagaimana Pak guru dapat mengetahui gejala ODD pada siswa dan juga bagaimana guru dapat membedakannya dari perilaku siswa yang sering terjadi pada siswa atau anak anak🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Isdiana saya izin menjawab pertanyaanya.
      Menurut saya seorang guru dapat mengetahui gejala ODD pada siswa itu ketika melihat perilaku siswa tersebut tidak sama dengan temannya atau tidak terlihat seperti umur anak umum lainnya di usia mereka.
      Pada laman ini juga dijelaskan bahwa anak ODD itu memperlihatkan pola perilaku yang tidak kooperatif ,menantang, dan bermusuhan terhadap figur otoritas, yang secara signifikan mengganggu keseharian mereka selama setidaknya 6 bulan. Lalu ternyata anak dengan ODD ini tidak hanya mengganggu pembelajaran tetapi juga dapat menggangu aktivitas kesehariaanya, jadi ketika seorang guru melihat anak didik dengan gejala-gejala yang telah dijelaskan di laman ini pastinya guru dapat mengambil kesimpulan bahwasannya anak ini dapat dikatakan sebagai anak yang ODD, namun lebih baiknya guru bisa langsung memberitahukan keadaan siswa tersebut kepada orang tua untuk ditindaklanjuti oleh orang tuanya agar dibawa kepada ahli yang memang benar-benar paham akan situasi dan gejala manusia seperti seorang psikolog.

      Lalu untuk cara membedakannya dari perilaku siswa yang sering terjadi pada siswa atau anak-anak ialah : kita melihat dari kebiasaan dia di sekolah, ataupun di kelas, ataupun saat pembelajaran berlangsung ,pastinya anak yang menderita ODD ini akan berbeda secara signifikan terhadap anak-anak yang normal lainnya karena, anak odd ini sering kali suka berdebat ,dan menguji batas dan perilaku mereka juga terlihat sangat menentang dan bahkan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari mereka, mengganggu kegiatan pembelajaran ,bahkan mengganggu teman-teman di sekitarnya .

      Segitu saja dari saya kah semoga bermanfaat...

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D
      Haloo isdiana izin menjawab ya menurut aku Odd adalah gangguan perilaku di mana anak sering menantang, mudah marah, dan sengaja menolak aturan secara berulang dan konsisten. Guru dapat mengenalinya lewat pola perilaku seperti: suka berdebat, menyalahkan orang lain, mengganggu teman, dan pendendam yang terjadi minimal 6 bulan dan mengganggu belajar serta hubungan sosial.

      Perilaku ini berbeda dari nakal biasa, karena:
      1.Tidak hilang hanya dengan teguran
      Muncul di banyak situasi, bukan hanya saat mood jelek
      2.Anak sengaja menentang dan memicu konflik
      3.Kesulitannya berasal dari kendali emosi dan perilaku, bukan sekadar mencari perhatian

      Jadii odd bukan sekadar kenakalan, tetapi kondisi yang membutuhkan pemahaman dan pendekatan khusus, agar anak dapat belajar mengelola emosi dan perilakunya dengan lebih baik.


      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana Susilowati Ibrahim, menurut sepengetahuan yang aku tau ya Isdiana guru itu bisa mengetahui anak yang mengalami ODD itu ketika di situasi menentang dan juga ketika berdebat. Itu biasanya berlangsung lumayan lama biasanya itu minimal kurang lebih enam bulan, dan itu sangat amat mengganggu kegiatam pembelajaran. Perbedaannya dengan anak yang ada gejala ODD dan yang tidak itu bisa darifrekuensinya sangat amat jauh lebih sering dan sanagat amat berdampak menggangu hubungannya dengan teman-temannya maupun gurunya, dan juga aktifvitas sehari-hari lainnya.

      Hapus
    4. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Izin menjawab ya Isdiana 🙏
      Pertanyaannya bagus banget dan memang sering jadi kebingungan para guru di sekolah.
      Ketika seorang guru ingin memahami gejala ODD pada seorang siswa, biasanya hal itu tidak terlihat dari satu kejadian saja, melainkan dari pola perilaku yang terus-menerus. Remaja dengan ODD seringkali membantu, melanggar aturan, mudah bergaul dengan orang lain, dan sengaja melanggar aturan. Seperti yang Anda lihat, perilaku ini terjadi setiap hari dan berlangsung dalam waktu lama, bukan hanya dua hari.
      Guru dapat melihat beberapa hal untuk membandingkannya dengan perilaku anak pada umumnya. Anak “nakal biasa” atau sedang mencari perhatian biasanya mungkin masih diingatkan, minta maaf, dan perilakunya dapat berubah tergantung situasi atau nasehat guru. Kadang timbul karena bosan, capek, atau suatu masalah sesaat.
      di sisi lain, pendekatan biasanya tidak berhasil untuk anak-anak yang masuk ODD. Perilaku menantangnya tetap muncul diberi konsekuensi, diajak bicara, atau halus. Sikapnya juga sering muncul pada beberapa guru dan dalam berbagai situasi, bukan hanya pada satu orang atau satu kelas.
      Selain itu, guru dapat menilai apakah perilaku tersebut menghambat proses pembelajaran dan ikatan sosial siswa, seperti seringnya konflik dengan guru, kesulitan kerja kelompok, atau menciptakan lingkungan kelas yang tidak kondusif. Jika hal ini berlanjut, dapat dianggap sebagai masalah yang lebih serius.
      Namun, penting bagi guru untuk tidak langsung mendiagnosis ODD. Peran guru lebih berfokus pada pengamatan, analisis, dan diskusi perilaku dengan BK dan orang lain. Jika perlu, anak tersebut dapat dirujuk ke psikolog atau terapis profesional karena ODD hanya dapat didiagnosis oleh ahli penilai.
      Intinya, kunci utama terdapat pada konsistensi perilaku, durasi, dan dampaknya. Anak dapat memperoleh penanganan yang tepat tanpa masalah jika mereka bekerja sama dengan guru, keluarga, dan teman-temannya.💙

      Hapus
    5. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana, jadi menurut saya, guru bisa mulai curiga ada gejala ODD kalau perilaku menentang siswa muncul terus-menerus, konsisten di berbagai situasi, dan bukan cuma sesekali, misalnya sering membantah orang dewasa, sengaja melanggar aturan, mudah marah, dan menyalahkan orang lain, bukan cuma saat capek atau bosan saja. Bedanya dengan perilaku anak pada umumnya, anak tanpa ODD biasanya masih bisa diingatkan, perilakunya muncul di waktu tertentu saja, dan bisa membaik dengan pendekatan biasa, sedangkan pada ODD perilaku cenderung menetap, intens, dan sulit berubah meski sudah dibimbing, sehingga guru perlu observasi jangka waktu cukup lama dan kerja sama dengan orang tua atau ahli sebelum menyimpulkan.

      Hapus
    6. Nama : Dias Pinasih
      NPM : 2386206057
      Kelas : 5B PGSD
      Halo Kak Isdiana, izin menjawab pertanyaannya ya 🙏
      Menurut saya, cara guru membedakan perilaku siswa yang mengarah ke ODD dengan perilaku anak pada umumnya bisa dilihat dari pola perilaku yang muncul secara terus-menerus. Kalau anak biasa, sikap membantah atau rewel biasanya hanya muncul sesekali dan masih bisa diarahkan. Namun pada anak dengan ODD, perilaku menentang seperti sering membantah, menolak aturan, mudah marah, dan sulit diajak bekerja sama cenderung terjadi berulang, meskipun sudah diberi arahan dengan baik.
      Selain itu, perilaku ODD biasanya tidak hanya ditujukan pada satu guru saja, tetapi juga pada orang dewasa lain di sekitarnya. Guru bisa memperhatikan bagaimana respon anak saat diberi instruksi, apakah justru memancing konflik atau semakin menolak. Karena itu, guru perlu melakukan pengamatan secara bertahap dan tidak langsung memberi label pada siswa hanya dari satu kejadian.
      Menurut saya, kerja sama antara guru kelas, orang tua, dan guru BK juga sangat penting agar penanganan siswa lebih tepat. Dengan begitu, guru tidak hanya melihat perilaku anak sebagai kenakalan, tetapi sebagai kondisi yang perlu dipahami dan ditangani dengan pendekatan yang lebih empatik dan tepat.

      Hapus
  3. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 286206125
    Kelas : 5D PGSD

    Di artikel sebelumnya yang juga membahas soal ODD ini kan saya komen kalau pengetahuan saya tentang ODD ini kurang Pak. Jadi saya search siapa tau ada artikel Bapak yang lain membahas soal ODD ini ternyata ada Pak hehehe.

    Jujur ya, pas baca judul artikelnya aja saya langsung mikir "wah ternyata jadi guru tuh ga cuma soal ngajarin rumus atau ngoreksi PR". Ada sisi lain yang jaug lebih dalam. Yaitu jadi tempat aman buat anak-anak yang sedang bingung mengatur emosinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Saya jadi keinget nih dulu kalau ketemu anak yang suka bantah, suka ngambek, atau nakal gitu saya biasanya lansung kesel Pak. Biarpun saya nih suka anak kecil tapi tetap aja saya juga manusia biasa, bisa juga kesel sama bocil-bocil kematian gitu Pak hehehe.

      Tapi sekarang saya mulai paham, bisa jadi mereka terindikasi terkena gangguan ODD. Jadi, kita harus punya telinga yang peka dan hati yang luas. Ga gampang memang, tapi sangat bermakna.

      Hapus
    2. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Ohh iya Pak, berarti cara yang tepat kita untuk menghadapi anak dengan ODD itu bukan dengan cara kita selalu mengalah kan yaa?

      Menurut saya tegas tapi tetap hangat juga bisa membangun komunikasi yang baik dengan anak ODD.

      Hapus
    3. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Saya juga jadi kepikiran nih soal pentingnya kolaborasi.

      Guru ga bisa jalan sendiri. Harus ada komunikasi yang baik sama orang tua, konselor, bahkan sama teman sekelas si anak dengan ODD. Karena menurut saya anak dengan ODD butuh lingkungan yang kompang dan konsisten.

      Kalau di rumah dibilang "boleh", tapi di sekolah dibilang "ga boleh" ga berhasil dongg. Anak jadinya makin bingung. Makin menentang.

      Hapus
    4. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Pokoknya, guru itu bukan sekedar profesi, tapi juga panggilan hati. Kita ga cuma ngajarin pelajaran, tapi juga jadi pendamping tumbuh kembang anak-anak yang sedang belajar mengenali dirinya sendiri. Termasuk mereka yang dikemudian hari bakal sering bikin kita belajar sabar. Dan mungkin, dari merekalah kita belajar jadi manusia yang utuh.

      Hapus
    5. Hallo ka Nabila saya izin menjawab pertanyaanya ya.
      Menurut saya memang benar cara yang tepat ketika kita menghadapi anak dengan ODD itu bukan dengan selalu mengalah.
      Anak dengan ODD ini harus merasa bahwa perilaku dan tindakan yang telah ia ciptakan itu salah, dengan cara guru memperlihatkan sikap yang tegas setiap kali anak dengan ODD ini bertindak, selain memperlihatkan sikap yang tegas guru juga bisa sedikit menciptakan hukuman bagi anak-anak yang menderita ODD ini supaya ketika mereka melakukan mereka akan berpikir bahwasanya "oh iya setelah saya melakukan ini saya akan mendapat hukuman" mungkin memang tidak secara instan mereka ikuti tapi dengan tahapan-tahapan dari hukuman yang ringan sampai hukuman yang lumayan berat mereka akan merasa segan ketika melakukan atau memperlihatkan perilaku ODD mereka lagi , baik di sekitaran lingkungan sekolah ataupun saat di lingkungan pembelajaran.
      Guru juga bisa mengajak orang tuanya untuk bertindak memberikan sikap yang tegas, membawa kepada orang yang memhami keadaan anak ODD untuk konsultasi dan sedikit hukuman yang ringan agar perilaku ODD mereka juga tidak selalu mereka terapkan di rumah atau di lingkungan masyrakat.

      sekian dari saya semoga bermanfaat ka.....

      Hapus
  4. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : 5B PGSD

    Izin menanggapi pak, menurut saya, materi ni sangat bermanfaat karena membuka wawasan guru dan calon guru seperti saya tentang bagaimana menghadapi peserta didik dengan perilaku menentang secara lebih empatik dan profesional. Pendekatan yang disampaikan tidak hanya berfokus pada disiplin, tetapi juga pada pemahaman akar masalah dan pembangunan hubungan positif dengan siswa. Hal ini penting agar guru tidak hanya menilai perilaku negatifnya, tetapi juga membantu siswa menemukan cara yang lebih baik untuk mengekspresikan diri dan mengelola emosinya🙏🏻

    BalasHapus
  5. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin menanggapi pak, materinya sangat bermanfaat pak, saya jadi tahu solusi untuk menghadapi anak yang ODD, kita memang harus membangun hubungan yang positif sebagai guru bisa membantu siswa menghadapi perilaku utama dari ODD. terima kasih atas materinya pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Putri ini sangat tepat karena langsung menekankan pentingnya membangun hubungan yang positif sebagai kunci untuk membantu siswa ODD. Sebagai tambahan dari saya, hubungan positif ini harus dibangun secara aktif oleh guru, bukan hanya menunggu. Materi menyarankan guru bisa mencontoh guru matematika Cicely Woodard yang secara rutin menyisihkan waktu untuk mendengarkan cerita siswa secara langsung. Pendekatan personal seperti ini adalah cara yang sangat kuat untuk mengatasi penyebab utama perilaku menentang, karena anak ODD sering mencari hubungan dengan guru yang bisa membantu mereka mengatasi tantangan yang dihadapi.

      Hapus
  6. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin bertanya pak, dari materi bapak diatas saya bingung gimana cara mengetahui bahwa siswa tersebut mengalami ODD dan bagaimana cara kita menangani ODD yang sangat menganggu siswa lain?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Izin pak untuk menjawab pertanyaan putri. Menurut saya, untuk mengetahui apakah seorang siswa mengalami ODD itu bisa dilihat dari perilakunya sehari-hari. Biasanya anak dengan ODD sering menentang, marah, dan susah diatur meskipun sudah diberi arahan dengan baik. Mereka juga sering berdebat, tidak mau mengakui kesalahan, dan mudah emosi. Tapi kita juga harus hati-hati, karena tidak semua anak yang suka menolak itu pasti ODD perlu waktu untuk mengamati dan mungkin butuh bantuan dari psikolog atau guru BK. Kalau ada siswa seperti itu, guru sebaiknya tetap tenang dan sabar, jangan ikut terpancing emosi. Coba ajak siswa bicara dengan cara yang lembut dan konsisten, beri mereka ruang untuk menenangkan diri, dan hargai kalau mereka mau berusaha memperbaiki sikapnya. Dengan pendekatan yang penuh empati dan suasana kelas yang nyaman, anak seperti ini bisa perlahan berubah jadi lebih baik🙏🏻

      Hapus
    2. HNama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D
      Haloo putri menurut aku Guru dapat mulai mencurigai ODD jika perilaku berikut muncul sering, konsisten, dan dalam waktu lama (minimal 6 bulan) serta mengganggu proses belajar:

      1. Mudah marah dan cepat tersinggung
      2. Terus membantah guru atau aturan kelas
      3. Suka berdebatbahkan untuk hal yang sederhana
      4. Sengaja mengganggu teman atau pelajaran
      5. Menolak bertanggung jawab, selalu menyalahkan orang lain
      6. Pendendamatau suka membalas
      Ciri utamanya bukan hanya sekali dua kali, tapi terjadi berulang dan di banyak situasi (di kelas, saat bermain, saat tugas kelompok).

      Bagaimana cara menangani siswa ODD yang sangat mengganggu siswa lain?adapun caranya :

      1.Aturan dan konsekuensi yang jelasContoh: duduk tenang, angkat tangan saat bicara, hormati teman
      2Fokus pada perilaku positif
      Setiap tindakan baik langsung diapresiasi
      3.Hindari adu argumen di depan kelas
      Semakin dibantah, makin ia terpancing.
      Gunakan komunikasi singkat
      4.Kelola emosi guruSiswa ODD sering memancing reaksi.
      Guru harus tenang, tegas, dan tidak terpancing emosi
      5.Ruang tenang sementara (Time Away)
      Jika mengganggu temanpindahkan ke area tenang untuk menenangkan diri
      bukan hukuman, tapi mengontrol situasi

      Jika perilaku menentang berlangsung lama, sering, dan mengganggu banyak orang, guru perlu melakukan pendekatan positif, konsisten, dan bekerja sama dengan pihak lain.

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm; 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, menurut sepengetahuan aku jadi guru itu bisa mengetahui siswanya yang sedang mengalami gejala ODD itu biasanya dapat dilihat dari perilaku anak itu yang selalu menentang/melawan , lalu juga suka membatah, itu biasannya berlangsung cukup lama biasa kurang lebih enam bulan, dan itu cukup membuat kegiatan belajar terganggu dan juga hubungannya dengan gurunya dan juga teman-temannya. Nahh cara menangani saat siswa yang memiliki gejala ODD itu menggangu teman-temannya yang lain pertama-tama guru harus tetap tenang, lalu bisa memberikan suatu pilihan, lalu arahkan ke ruang yang tenang, lalu tetap berperilaku positif, dan juga membangun hubungan. Intinya jangan dimarahi, namun guru harus membantu untuk menenangkan diri siswa tersebut.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, jadi menurut saya, siswa bisa dicurigai mengalami ODD kalau perilaku menentang, marah, dan suka melawan muncul terus-menerus, terjadi hampir setiap hari, tidak cuma ke satu guru tapi ke banyak orang, dan sulit berubah walau sudah diingatkan atau diberi konsekuensi yang konsisten. Kalau perilakunya sudah sangat mengganggu siswa lain, langkah paling realistis adalah tetap tenang, hentikan perilaku dengan batas yang jelas dan singkat, pisahkan sementara dari situasi ramai tanpa mempermalukan, lalu ajak bicara secara privat, fokus ke aturan dan pilihan perilaku, bukan ke label anaknya, serta libatkan wali kelas, orang tua, dan kalau perlu tenaga profesional supaya penanganannya konsisten dan tidak makin memperburuk situasi kelas.

      Hapus
  7. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    Materi ini membuka wawasan guru agar lebih memahami bahwa prilaku menentang atau membangkang pada anak itu tidak selalu di sebabkan oleh sikap anak yang nakal , tetapi bisa jadi merupakan gejala dari gangguan prilaku yang perlu di tangani dengan cara yang tepat , guru ga g mampu menahan emosi dan tetap konsisten bakal menciptakan suasana kelas yang lebih stabil , terutama bagi anak ODD yang mudah bereaksi terhadap nada keras atau ancaman , anak ODD sering kali lebih di tegur daripada di puji sehingga mereka justru bakat kehilangan motivasi untuk berubah , selain itu bagian bagaimana memahami akar masalah prilaku. Itu sangat penting , guru bukan hanya berperan sebagai pengajar saja , tetapi juga sebagai pengamat dan pendengar yang baik terhadap kondisi emosional siswanya, ODD itu bukan soal disiplin yang keras , melainkan tentang kesabaran dan konsistensi guru yang memahami , hal ini dapat membantu anak menemukan cara yang lebih sehat dalam mengekspresikan emosi dan bisa berinteraksi dengan orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Maya Apriyani
      Npm: 2386206013
      kelas: V.A

      Wah saya sangat setuju nih dengan pendapatnya Kak Oktavia Ramadhani yang menyatakan bahwa bahwa sebagai pendidik itu bukan hanya mengajarkan tetapi juga kita itu menjadi orang tua untuk mereka di sekolah jadi kita harus melihat apakah peserta didik kita ini ada mengalami gejala gangguan perilaku ataupun tidak, nah tentunya apabila siswa kita itu memiliki gangguan perilaku kita sebagai guru sebaiknya tidak memarahi mereka karena terkadang pada saat mereka di rumah orang tua mereka itu sering memarahi mereka sehingga hal itu membuat mereka semakin menentang ,membangkang. Mungkin hal itu terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua, tapi kita sebagai pendidik harus melakukan hal yang sebaliknya dengan memberikan motivasi memberikan dia nasehat tapi dengan cara halus tidak dengan cara memarahinya. Tentunya sebagai pendidik kita itu untuk menghadapi anak seperti ini kita memerlukan kesabaran yang ekstra. Terima kasih

      Hapus
  8. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    Izin bertanya pak apakah strategi dari “calm corner” dan “ tap in / tap out “ bisa di terapkan di semua sekolah, termasuk dalam sekolah yang dengan fasilitasnya terbatas ? Dan seberapa besar sih pak tantangan seorang guru saat di kelas atau di lingkungan sekolah mengenali anak dengan OOD dibandingkan dengan anak yang hanya nakal biasa saja ? 🙏🏻🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Halo kak Oktavia, izin yh menjawab. Menurut aku, strategi kayak calm corner dan tap in/tap out itu sebenarnya bisa banget diterapkan di sekolah mana aja, walau fasilitasnya nggak terlalu lengkap. Nggak harus tempat khusus juga, yang penting ada sudut atau ruang kecil buat anak bisa tenang dulu waktu dia lagi kesal atau kewalahan. Kalau soal tap in/tap out, guru bisa saling bantu, misalnya kalau satu guru udah mulai kewalahan, guru lain bisa gantian ngatur situasi biar nggak makin tegang. Jadi menurutku, yang paling penting bukan alatnya, tapi gimana guru dan sekolahnya kerja sama buat bantu anak dengan ODD biar tetap merasa aman dan dihargai😊🙏🏻

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D
      Haloo Oktavia ODD adalah kondisi ketika anak sering menentang, mudah marah, dan sengaja melawan aturan secara konsisten, berulang, dan mengganggu pembelajaran serta hubungan sosial. Guru dapat mengenalinya melalui pola perilaku seperti suka berdebat, menyalahkan orang lain, mengganggu teman, dan pendendam yang berlangsung minimal 6 bulan.
      Untuk membedakan ODD dari perilaku nakal biasa, guru perlu memperhatikan frekuensi, konsistensi, dan dampaknya di berbagai situasi. Anak nakal biasanya masih bisa diarahkan, sementara anak dengan ODD justru semakin menantang saat diberi teguran.Dalam penanganannya, guru tidak hanya fokus pada hukuman, tetapi memperkuat perilaku positif secara adil untuk semua siswa. Strategi seperti calm corner dan tap in/tap out dapat diterapkan di semua sekolah, termasuk yang fasilitasnya terbatas, karena lebih mengutamakan pengaturan emosi dan dukungan guru, bukan perlengkapan mahal.Tantangan terbesar guru adalah membedakan ODD dengan perilaku khas anak yang sedang mencari perhatian. Oleh karena itu, pengamatan yang terus-menerus, kerja sama dengan orang tua, guru BK, serta dukungan profesional sangat penting untuk membantu anak berkembang dengan lebih baik.


      Menurut aku Anak dengan ODD bukan nakal, tetapi memerlukan pemahaman, strategi yang konsisten, dan dukungan positif agar dapat mengendalikan emosi dan perilakunya dengan lebih baik.

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm; 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia Ramadani, pasti masih tetap bisa saja diterapkan di semua sekolah Via calm corner dan tap in/tap out tidaklah harus yang mahal-mahal cukup dengan sudut tenang, kursi, atau suatu benda yang sederhana saja. Intinya ruangan yang menenangkan, bukan fasilitan yang harus mahal. Nah kalau ditanya tentang hambatannya, jadi tangtangan bagi gurunya itu ialah membedakan antara anak yang hanya nakal biasa dengan anak yang memiliki gejala ODD, dikarenakan anak yang memiliki gejala ODD itu perilakuknya sangat amat menentangnnya lebih sering, dan sangat mengganggu kegiatan/aktivitas.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia, jadi menurut saya, bisa banget, strategi calm corner dan tap in tap out tetap bisa diterapkan di sekolah dengan fasilitas terbatas karena intinya bukan di alat tapi di kesepakatan, konsistensi, dan sikap guru; calm corner cukup pakai sudut kelas, kursi, atau alas sederhana, sedangkan tap in tap out bisa jalan lewat kerja sama antar guru. Tantangan terbesarnya buat guru adalah membedakan anak dengan ODD dan anak yang “nakal biasa”, karena perilakunya mirip, tapi pada ODD penentangan itu cenderung konsisten, intens, muncul di banyak situasi, dan sering disertai emosi yang meledak-ledak, sementara anak nakal biasanya masih bisa diarahkan, menyesal setelah ditegur, dan perilakunya situasional; sayangnya guru sering terkendala waktu, jumlah siswa banyak, dan minim pelatihan khusus sehingga proses mengenali ini memang butuh kesabaran dan observasi berulang.

      Hapus
  9. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Menurut saya Menjaga nada suara yang tepat di kelas tentunya bukan hal yang mudah, terutama ketika situasi kelas mulai tidak terkendali. Pengaturan intonasi, volume, dan tempo bicara menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Saya setuju bahwa emosi guru juga sangat memengaruhi suasana kelas. Ketika guru menunjukkan ketertarikan dan semangat, siswa cenderung lebih terlibat. Sebaliknya, jika guru terlalu kaku, suasana kelas bisa menjadi tegang. Ini mengingatkan kita bahwa pendekatan yang tenang dan penuh empati sangat dibutuhkan dalam situasi yang dinamis.

    Saya ingin bertanya Pak, bagaimana cara guru bisa melatih diri untuk mengatur nada suara mereka secara efektif? Apakah ada teknik atau latihan khusus yang bisa membantu? Selain itu, bagaimana cara memastikan bahwa komunikasi tulisan seperti email atau pesan daring tidak disalahartikan oleh siswa? Apakah ada contoh kalimat yang bisa digunakan untuk memberikan sentuhan pribadi dalam komunikasi tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : 5B PGSD

      Izin pak menjawab pertanyaan aprilina. Menurut aku, menjaga nada suara saat menghadapi siswa yang punya perilaku menantang memang nggak gampang, apalagi kalau situasi kelas lagi ramai atau tegang. Tapi guru bisa mulai belajar ngatur emosi dengan latihan kecil, misalnya ambil napas dulu sebelum menegur siswa atau ngomong dengan nada yang lebih pelan biar suasananya nggak makin panas. Guru juga bisa pakai cara refleksi, misalnya setelah mengajar coba pikirin bagian mana tadi yang bikin suasana jadi tegang, lalu cari cara biar besok bisa lebih tenang. Kadang, pendekatan yang lembut dan sabar justru lebih bikin anak mau denger dan nurut, daripada nada keras yang bikin mereka makin menantang. Pada intinya, guru juga manusia, tapi dengan empati dan kesabaran, suasana belajar bisa tetap nyaman buat semua😊🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, menurut sepengetahuan aku sih ya Awing guru itu bisa latihan dengan teknik pause, lalu tarik napas, dan berbicara pelan, lalu berbicaralah dengan tempo yang lebih lambat, dan latihan berbicara dengan ekspresi yang netral di dapan kaca. Lalu agar komunikasi tulisan itu tidak di salah pahami oleh para siswa itu maka guru harus komunikasi tulisannya di jaga dengan bahasa yang jelas, singkat , dan hindari nada perintah yang keras.

      Hapus
    3. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      izin menjawab ya, ngatur nada suara emang susah apalagi pas kelas rame. cara gampangnya guru bisa mulai dari ngatur napas dulu sebelum ngomong, terus biasain ngomong pelan tapi tegas. nada yang tenang biasanya malah lebih didengerin daripada teriak. terus kalau komunikasi lewat chat atau email biar ga salah paham usahain pake bahasay yang jelas tapi ramah, jadi pesannya tetap tegas tapi ga bikin siswa tersinggung.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, guru bisa melatih nada suara dengan latihan napas 4–4–6, ngomong lebih pelan dari biasanya saat emosi naik, dan biasakan “pause 3 detik” sebelum menegur supaya suara tetap rendah dan stabil; latihan rekam suara sendiri atau role play dengan guru lain juga cukup membantu. Supaya pesan tertulis nggak disalahartikan, pakai kalimat yang jelas, hangat, dan nggak multitafsir, hindari huruf kapital berlebihan, serta tambahkan konteks dan tujuan di awal. Contohnya: “Halo, terima kasih sudah berusaha hari ini. Ibu/Bapak mau mengingatkan soal tugas kemarin supaya kamu bisa menyelesaikannya dengan baik. Kalau ada kesulitan, bilang ya, kita cari solusi bareng.”

      Hapus
  10. Peserta didik yang mengalami ODD memang sering kali menjadi objek utama yang harus dapat dirangkul oleh pendidik, walaupun terkadang ketika melihat anak yang ODD ini membuat pendidik bahkan calon pendidik merasa geram karena sikap dan tingkah lakunya yang mencerminkan bukan anak seumurannya.
    Sepengalaman ketika Saya mengabdi kepada masyarakat dengan mengajar yang mengikuti organisasi Hima banyak sekali menjumpai anak-anak dengan perilaku yang hampir sama dengan ciri-ciri ODD yang telah dijelaskan pada laman ini
    Memang benar ketika kita menghadapi anak-anak yang memiliki perilaku yang menantang ataupun tidak kooperatif dengan situasi pembelajaran yang telah kita ciptakan kita tidak bisa menegur mereka dengan cara yang keras juga tetapi, menurut saya kita harus tegas dan memberikan hukuman yang mungkin bisa lebih menertipkan anak dengan ODD ini,karena kalau kita terlalu membiarkan, menurut saya mereka akan semakin menjadi karena pasti mereka akan berpikir tidak apa saya melakukan ini karena tidak terlalu dimarahi atau tidak mendapatkan hukuman.

    BalasHapus
  11. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya membaca materi ini, ternyata materi ini memberikan pemahaman yang menyeluruh/komprehensif mengenai bagaimana seorang guru dapat berperan secara efektif/produktif dalam membantu peserta didik yang mengalami Oppostional Defiant Disorder (ODD) atau gangguan perilaku yang ditandai dengan sikap menantang, mudah marah, dan sulit menerima otoritas. Pada materi ini juga dijelaskan bukan hanya menggambarkan gejalanya dan penyebabnya ODD, namun juga memberikan strategi praktis/simpel dan realistis yang dapat diterapkan oleh guru saat di ruang kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Nanda yang ini sangat akurat karena menyebutkan materi ini memberikan pemahaman yang menyeluruh, efektif, dan praktis tentang cara membantu siswa ODD. Sebagai tambahan dari saya, salah satu strategi praktis yang paling penting adalah memberikan pilihan kepada siswa. Ketika anak merasa dihormati dengan diberi pilihan, rasa otonomi mereka meningkat dan suasana hati mereka biasanya membaik. Guru harus menyampaikannya dengan jelas, misalnya memberi waktu untuk menenangkan diri, dan membiarkan siswa memilih tanpa perdebatan. Ini adalah contoh konkret bagaimana guru bisa bertindak efektif tanpa harus berdebat terus-menerus dengan anak ODD.

      Hapus
  12. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Izin menanggapi pak, saya sangat suka dengan materi ini sebab pada materi ini poin-poin yang disampaikan sangat amat berimbang antara teori dan praktik, contohnya, saran untuk tetap tenang dan konsisten memberitahukan pentingnya pengendalian diri guru dalam menghadapi situasi/menguji kemampuan diri. Guru yang bereaksi dengan cara yang emosi/marah-marah justru akan membuat keadaan memburuk, sedangkan ketika guru menghadapi dengan tenang dan konsisten maka akan memberi pesan stabil bagi siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Nanda bagus banget karena memuji keseimbangan materi antara teori dan praktik serta menyoroti pentingnya pengendalian diri guru untuk tetap tenang dan konsisten. Sebagai tambahan, konsistensi yang Nanda sebutkan itu tidak hanya berlaku saat ada masalah, tapi juga harus diterapkan dalam penguatan positif. Guru perlu banget memberikan perhatian lebih pada perilaku positif anak ODD, bahkan untuk kemajuan kecil sekalipun. Misalnya, dengan mengirim catatan positif ke rumah atau memberikan hak istimewa kecil, guru mengirimkan pesan stabil seperti yang Nanda bilang bahwa perilaku baik pasti akan diperhatikan dan dihargai.

      Hapus
  13. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD


    Guru memang punya peran penting dalam membantu anak dengan OOD. Dengan tetap tenang dan konsisten, guru bisa menunjukkan bahwa aturan itu berlaku untuk semua dan tidak perlu di perdebatkan terus. Hal ini membantu anak merasa aman karena tahu apa yang di harapkan darinya. Kalau guru ikut terpancing emosi justru anak bisa makin melawan dan menantang. Jadi, pengendalian guru itu menjadi kunci utama menghadapi anak yang OOD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Fika yang ini tepat sekali karena bilang kunci utamanya adalah pengendalian diri guru dan tetap tenang serta konsisten. Tambahan dari saya, konsistensi ini harus diwujudkan dalam dua hal yaitu perkataan dan tindakan. Guru harus menghindari marah karena merespons perilaku ODD dengan kemarahan justru memperburuk situasi. Sebaliknya, guru harus menggunakan bahasa tubuh yang netral dan nada suara yang positif saat menegur. Konsistensi ini membuat anak ODD tahu persis batasan yang ada, sehingga mereka merasa aman seperti yang Nurfika sebutkan.

      Hapus
  14. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Menurut saya, guru harus bisa mengerti kenapa anak suka melawan atau menantang. Kadang mereka cuma mau diperhatikan atau juga mereka bisa merasa gak di dengar. Makanya penting juga bagi guru buat denger dulu alasan mereka sebelum menegur, kalau gurunya sabar dan mau di ajak ngobrol baik baik , makan anak bisanya jadi lebih terbuka. Intinya itu hubungan yang baik bisa bikin anak lebih nurut kepada guru dan mau berubah pelan pelan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Fika yang ini luar biasa karena fokus pada pentingnya memahami alasan anak melawan dan membangun hubungan baik. Sebagai tambahan, ini sesuai dengan prinsip bahwa perilaku adalah bentuk komunikasi. Guru harus berupaya memahami akar masalahnya. Salah satu cara membangun hubungan baik dan membuat anak lebih nurut adalah dengan memperkuat perilaku positif sekecil apapun itu, bukan hanya fokus saat mereka bikin masalah.

      Hapus
  15. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Dengan melakukan hal positif dan dengan melakukan hal baik sekecil apapun serta memberi pujian dan hal sederhana anak OOD bisa berperilaku dengan baik. Apakah pendekatan yg di jelaskan bisa di lakukan oleh orang tua di rumah juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206058

      Hai Fika izin menjawab yah. Menurut aku Iya, pendekatan yang dijelaskan ini bisa banget dilakukan orang tua di rumah juga. Justru hasilnya akan lebih terasa kalau guru dan orang tua pakai cara yang sejalan. Di rumah, orang tua bisa membiasakan memuji setiap perilaku positif, memberi aturan yang jelas dan konsisten, membantu anak menenangkan diri saat emosi naik, serta memberi pilihan sederhana supaya anak merasa dihargai. Dengan kerja sama guru dan orang tua seperti ini, anak dengan ODD punya kesempatan lebih besar untuk mengembangkan perilaku yang lebih baik, baik di sekolah maupun di rumah.

      Terimakasih🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Andi Nurfika, menurut sepengetahuan aku sih pasti tentu saja bisa Fika. Pada pendekatan seperti orang tua memberikan perhatian pada perilaku yang positif, lalu guru bisa memberika pujian kecil, dan juga mendukung setiap usaha anak itu sangat dianjurkan untuk dilakukan di rumah. Pokoknya fokus pada perilaku yang baik, bukan sekedar menegur karena melakukan perilaku buruk saja. Dengan konsisten dilakukan oleh guru di sekolah dan orang tua di rumah maka perubahan perilaku itu bisa lebih cepat terlihat.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Fika, jadi menurut saya, pendekatan ini sangat bisa dan justru penting banget dilakukan orang tua di rumah, karena anak dengan ODD biasanya lebih responsif pada penguatan positif dibanding hukuman; hal baik sekecil apa pun kalau langsung diapresiasi dengan pujian yang spesifik dan tulus bisa bantu anak merasa dihargai dan menurunkan perilaku menentang. Kuncinya orang tua konsisten, fokus ke usaha bukan cuma hasil, pakai kalimat sederhana seperti “Mama lihat kamu sudah berusaha menahan emosi, itu hebat,” dan tetap beri batasan yang jelas tapi tenang, jadi anak belajar bahwa perilaku baik itu diperhatikan dan aman untuk diulang

      Hapus
  16. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Izin menanggapi pak...
    Saat saya baca materi ini saya pikir akan sulit untuk menghadapi peserta didik yang mengalami ODD apa lagi sudah terbayang bagaimana ya cara saya menghadapi jika ada peserta didik yang mengalami ODD, namun ternyata di materi ini sudah di jelaskan cara menanganinya dengan beberapa pendekatan yaitu tetap tenang dan konsisten, memperkuat perilaku positif, memahami akar masalahnya, ciptakan ruangan tenang yang aman, memberikan pilihan pada siswa dan membangun hubungan yang positif. Guru memiliki peran penting dalam mendampingi peserta didik yang mengalami ODD harus dengan kesabaran penuh dan menciptakan suasana belajar yang tenang, namun agar lebih efektif perlu kolaborasi antara orang tua dan tenaga profesional juga penting dalam mendampingi peserta didik yang mengalami ODD

    BalasHapus
  17. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    Kelas: V.A

    Dari materi di atas saya dapat mengetahui apa itu ODD yaitu yang di mana anak memiliki perilaku yang agak berbeda dengan teman sebayanya seperti anak ini tidak mau kalah, suka berdebat dengan orang yang dewasa, dan mudah terpancing emosinya.
    Tentunya saya rasa Nanti pada saat menjadi pendidik di sekolah dasar tentunya akan menemukan siswa-siswa seperti ini, Nah setelah membaca website ini Tentunya kita dapat memahami Bagaimana cara menangani hal tersebut Jadi kita itu sudah punya bekal.
    Terkadang apabila kita menemukan anak yang seperti ini Tentunya emosi kita tuh akan terpancing apalagi khususnya saya yang tidak suka anak kecil pasti saya akan marah, tetapi ternyata itu salah ternyata untuk menghadapi anak seperti ini tuh kita tidak boleh melawan mereka, mungkin salah satu faktor yang mempengaruhi anak ini menjadi ODD itu anak ini sering dimanjakan oleh orang tuanya dan tidak pernah ditegur Apabila salah dia selalu dianggap benar.
    Benar sekali dengan kita memberikan penguatan yang positif kepada anak dia akan memiliki hati yang luluh kepada kita dengan kita lebih mendekatkan diri kepadanya, untuk memecahkan permasalahan ini tentunya Kita juga harus melihat terlebih dahulu Apa sih penyebab dari hal ini bisa terjadi.

    BalasHapus
  18. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    Kelas: V.A

    Wah setelah membaca materi ini saya itu berpikir Pak bagaimana nanti Apabila saya menjadi seorang pendidik lalu saya menghadapi siswa yang seperti ini, tiba-tiba muncul di pemikiran saya Pak Apakah anak yang memiliki ODD ini tentunya pasti akan mengganggu efektivitas pembelajaran, karena mereka kan sulit untuk diberi instruksi, kemudian pastinya suka tuh berdebat sama temannya sama gurunya Saya yakin hal itu akan memicunya kelas yang tidak kondusif. Nah apabila hal ini terjadi di kelas Pak Apakah dengan strategi yang ada di atas tadi benar-benar efektif untuk digunakan di kelas yang memiliki siswa yang cukup banyak?
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      Kelas : 5 C
      NPM : 2386206048
      izin menjawab sharing jawaban ya pak. izin menjawab Maya Apriyani.
      Perilaku menantang yang menganggu efektivitas belajar sering kali datang atau berakar pada perasaan tidak aman atau kurang nya koneksi. Strategi “mengubah bahasa” dan “membangun hubungan personal dengan wawancara sederhana” adalah cara terbaik untuk mengatasi akar masalah ODD. bukan hanya gejalanya. Mereka yang menciptakan lingkungan aman yang merupakan syarat wajib bagi efektivitas pembelajaran. Untuk anak ODD hubungan positif yang di bangun dari bahasa yang mendukung adalah kurikulum terbaik.
      terimakasih itu saja,semoga bermanfaat

      Hapus
  19. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Izin menjawab pak Saya sangat setuju bahwa pendekatan guru terhadap siswa dengan ODD harus bergeser dari kontrol dan hukuman ke empati dan pemahaman fungsional perilaku. guru juga memiliki peran penting sebagai fasilitator perubahan perilaku dengan menerapkan pendekatan sadar trauma, berbasis hubungan, dan terstruktur untuk membantu siswa ODD mengembangkan keterampilan regulasi diri dan interaksi yang lebih produktif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5B (PGSD)

      Izin menanggapi ya kak bella, saya setuju dengan pendapat kakak, disini saya ingin memberikan sedikit tambahan, yaitu membangun hubungan positif dengan siswa ODD juga bisa memperkuat kemampuan mengendalikan diri mereka. Ketika guru konsisten, bicara dengan nada lembut, dan tetap tenang di situasi sulit. Anak insyaallah akan meniru respon tersebut. Jadi pendekatan empati, terstruktur, dan berbasis hubungan bukan hanya membantu mengurangi perilaku menantang, tetapi juga memberikan anak bekal keterampilan sosial dan emosional yang mereka butuhkan dikehidupan sehari-hari.

      Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman lainnya 😊

      Hapus
  20. Izin bertanya juga pak Bagaimana guru dapat secara efektif menerapkan strategi "perkuat perilaku positif" (misalnya, memberikan hak istimewa atau catatan positif) untuk siswa dengan ODD tanpa membuat siswa lain merasa bahwa perilaku negatif justru menghasilkan perhatian atau hadiah khusus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D
      menurut saya Bella, guru bisa menerapkan strategi memperkuat perilaku positif pada siswa dengan ODD tanpa membuat siswa lain merasa iri atau salah paham dengan cara:
      1. Berikan penghargaan pada perilaku bukan pada orangnya
      2. Gunakan sistem kelas yang sama untuk semua
      3. Berikan pujian secara tenang dan spesifik
      4. Fokus pada usaha kecil tapi nyata
      Untuk siswa ODD, perilaku positif mungkin kecil tapi penting untuk dilihat.
      5. Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten untuk semua siswa
      jadi kesimpulannya
      Apresiasi diberikan karena perilaku positif, bukan karena perilaku menantang. Semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya.Dengan cara ini, guru tetap bisa mendukung siswa ODD agar berubah ke arah yang lebih baik tanpa menimbulkan kecemburuan di kelas.

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Bella Ayu Pusdita, menurut aku guru itu bisa dengan menerapkan pengulangan yang positif secara tenang dan juga tidak mencolok, lalu fokus pada usaha kecil, lalu menerapkan aturan yang sama untuk semua siswa tanpa terkecuali. Jadi semua anak itu dapat catatan positif jika para siswanya menunjukkan perilaku baik bukan karena mereka habis berperilaku yang negatif.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Bella, jadi menurut saya guru bisa tetap memperkuat perilaku positif siswa dengan ODD tanpa memicu kecemburuan dengan cara memberi penguatan yang spesifik, tenang, dan seringnya privat, fokus ke usaha atau perubahan kecil, bukan ke label atau keistimewaan besar. Hak istimewa sebaiknya dikaitkan dengan target perilaku yang jelas dan juga berlaku untuk semua siswa yang memenuhi kriteria, jadi bukan terlihat “khusus karena bermasalah”. Catatan positif bisa disampaikan personal ke anak atau ke orang tua, bukan diumumkan di depan kelas, sementara di kelas guru tetap konsisten memberi perhatian ke perilaku positif semua siswa, sehingga pesan yang sampai adalah perilaku baik = diperhatikan, bukan perilaku negatif.

      Hapus
  21. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5 C
    NPM : 2386206048
    izin menanggapi materi pak.
    Berarti kita harus beralih fokus pada hasil ke proses. pendekatannya pun sudah di bahas di materi sebelum nya,sudah sangat jelas dengan menunda nilai dan nada suara yang tenang adalah cara yang bagus untuk membangun kepercayaan dan lingkungan yang aman bagi siswa termasuk anak yang memiliki perilaku seperti ODD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Dita yang ini sudah benar karena menekankan bahwa guru wajib kolaborasi dengan profesional dan tugas guru adalah menyediakan lingkungan suportif di kelas. Sebagai tambahan, lingkungan suportif yang Dita maksud itu harus diwujudkan dengan cara membangun hubungan positif dengan siswa ODD. Anak dengan ODD sering mencari guru yang bisa membantu mereka mengatasi masalah, jadi guru bisa mencontoh guru matematika Cicely Woodard yang menyisihkan waktu untuk mendengarkan cerita siswa secara langsung. Ini adalah cara konkret untuk memperkuat hasil terapi seperti yang Dita sebutkan karena hubungan yang baik bisa membantu mengatasi penyebab utama perilaku menentang.

      Hapus
  22. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5 C
    NPM : 2386206048
    jadi literasi dan akademik siswa akan meningkat secara signifikan ketika guru memprioritaskan keamanan emosional dan hubungan personal di atas tekanan nilai. Fokus pada proses usaha siswa adalah jembatan yang menghubungkan menjaga mental siswa dengan keberhasilan akademik mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Dita yang ini juga tepat sekali karena bilang tanggung jawab guru itu lebih dari sekadar transfer ilmu, yaitu menciptakan budaya kelas yang suportif. Tambahannya, budaya suportif yang paling penting adalah guru harus mengontrol reaksinya sendiri, yaitu tetap tenang dan konsisten. Ketika guru menghadapi penentangan ODD, reaksi defensif justru akan memperburuk keadaan. Jadi, menciptakan budaya suportif berarti guru harus menjaga nada suara tetap positif, menggunakan bahasa tubuh yang netral, dan punya kata pemicu yang konsisten agar anak mengerti batasannya.

      Hapus
  23. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Setelah saya membaca ODD part 2, saya memiliki keberlanjutan dalam pemikiran saya mengenai cerita panjang kali lebar saya pada ODD part 1. Kemarin saya curhat bahwa ada salah satu anak les yang saya ajar khawatir termasuk dari ODD itu. Hari ini pikiran saya berlanjut dan gajadi stop pada pemahaman materi ODD part 1 Karena setelah saya membaca ODD part 2 kasus anak saya si A ini bisa dianalisis lebih dalam lagi dan ternyata yang kemarin hanya bersambung belum tamat.~~~

    (101)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Pada part 1 saya cerita bahwa fakor penyebab yang dicurigai anaul (analisa aul) ada beberapa poin dan saya satukan dengan anaul dari hasil baca bacaan part 2, yaitu menjadi 1) kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, 2) umur 6 tahun yang menandakan si anak belum sepenuhnya siap untuk bersekolah, 3) Didikan kakaknya yang cukup keras menganut otoritas, 4) Tekanan pemahaman, keberlangsungan mata pelajaran yang banyak dan jadwal yang cukup padat karena anak saya si A bersekolah di salah satu SD swasta bagus di samarinda yang menurut saya ada pengaruhnya dengan jadwal anak yanh cukup padat ini. Dan yang saya ketahui langung bahwa mata pelajarannya berjumlah 10 mata pelajaran dengan kegiatan di sekolah mulai 07.30 sampai 16.00 (walaupun terdapat jam tidur siang). Dari semua itu, menurut saya fakotnya cukup kompleks dan bikin anak saya si A ini berprilaku manipulaitf (tidak selamanya tapi saat jam les sering kambuh).~~~

      (102)

      Hapus
    2. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Terus pak, dari teks di atas itu saya ada nangkap yang bapak ketik kalau anak yang ODD itu jika kita kepancing ikut marah dia akan merasa puas dan senang. Nah, kalau di kasus anak saya yang si A ini pak dia itu kalau dilembutin itu kayak nentang gitu pak makin menjadi jadi kelakuannya. Ntah dia ngeluarkan lidah, ntah dia gamau berdoa, ntah dia gamau belajar, ntah dia ke kasur. Tapi pas saya coba tegasin dengan intonasi yang lebih tinggi dari biasanya dia mau sedikit lebih manut dan terkontrol pak jadi lumayan enak suasana belajarnya waktu itu.~~~

      (103)

      Hapus
    3. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5 D PGSD

      Tapi, menurut saya ga cuman dari intonasi saya aja yang berpengaruh di kelakuan dan cara bersikapnya pak. Saya ngerasa ada beberapa faktor pendukung lain kayak saya modif pembelajarannya jadi pembelajaran yang dia suka kayak ada part part mewarnai gambar gitu pak dengan, Terus sama ini sih saya kasih kesepakatan juga di awal pembelajaran pak. Pada kesepakatan itu saya bilang yang intinya gini pak kalau kita malam ini bisa belajar dengan baik dan fokus tanpa dia bersikap atau berulang dengan kelakukan kelakuannya yang saya sebutin di atas, saya sebagai missnya atau ibu nya akan kasih hadiah dan ini cukup workss yang saya perhatiin pak. Selama proses belajarnya dia waktu itu kalau dia mulai kambuh lagi saya ingetin lagi supaya kondisinya tetap di jalurnya.~~~

      (104)

      Hapus
    4. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Nah, ada juga poin lain yang realated pak di materi ini tapi sikonnya gak pas di hari saya coba nganalisis dan memperbaiki kegiatan pembelajaran tu yang kayak di atas. Jadi sikonnya itu di first time adanya kegiatan belajar mengajar di les sama anak anak itu. Setiap kali awal pertemuan, saya ngambil 1x pertemuan pertama itu untuk lebih dekat ke anak. Jadi di dalam pertemuan pertama itu saya coba deketin dengan nanyain kegiatan kegiatannya dia, kalau cowo saya sering tanyainya tentang permainan gitu kayak sukanya main apa tapi kalau cewe saya tanyain kesehariannya kayak belajar apaa di sekolah dan lain lain. Nah ini menurut saya cukup penting kalau konteksnya (les private) karena di pertemuan awal itu koenci supaya anak bisa welcome ke kita dan nyaman yang akhirnya setelah pertemuan pertemuan selanjutnya saat belajar bisa lebih cepat enjoy dan akrab. Dan sebenernya saya sama anak saya yang si A ini akrab tau pak, cuman yaitu dia sering kambuh.~~~

      (105)

      Hapus
  24. Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Waktu saya baca materi ODD part 2 ini ada yang bikin saya salah fokus pak. Saya salah fokus sama “sudut damai”, ini hal baru buat saya. Saya selama ini yang umum dan sering temui dan dengar itu adalah ‘pojok baca‘. Sudut damai ini jadi variabel baru lagi pak dan saya udah ancang ancang kalau saya nanti jadi guru wali kelas saya mau bikin kelas ada sudut damainya ini. Jadi kalau anak anak emosinya lagi ga stabil mereka ga lagi mendem atau menyudahi perasaannya dengan paksa tetapi dialihkan dan dilegakan lewat sudut damai ini. Jazakallah khoir pakkk...

    (106)

    BalasHapus
  25. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    Izin menanggapi pak, setelah saya membaca materi di atas saya setuju dengan fokus materi ini bahwa prilaku siswa adalah bentuk komunikasi, untuk mencari akar masalah, kita sebagai guru harus melakukan pendekatan bukan hanya menghukum kenakalan, ini adalah kunci untuk benar-benar membantu anak-anak yang punya ODD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Margaretha Elintia
      Kelas: 5C PGSD
      Npm: 2386206055

      Izin bertanya pak, seperti dari pernyataan saya di atas pentingnya mencari akar masalah, pertanyaan saya bagaimana cara praktis yang paling mudah dilakukan guru di tengah kesibukan kelas untuk mengetahui penyebab emosi dari siswa yang ODD?

      Hapus
    2. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Hallo margaretha izin menjawab yh. Menurut aku, cara paling gampang yang bisa guru lakukan untuk tahu kenapa siswa dengan ODD jadi emosian adalah dengan lihat perubahan kecil pada sikap mereka, misalnya mulai gelisah, kelihatan kesal, atau tiba-tiba menjauh. Biasanya tanda-tanda kayak gitu muncul dulu sebelum mereka benar-benar marah. Guru juga bisa merhatiin situasi apa yang sering bikin mereka tersulut, jadi nanti lama-lama ketahuan pola penyebabnya. Di sela-sela kegiatan, guru cukup nanya singkat kayak "kamu nggak apa-apa" biar tahu kondisi mereka tanpa ganggu jalannya kelas. Intinya, dengan peka sama tanda-tanda kecil dan tetap ngobrol dengan cara yang santai dan empati, guru bisa lebih gampang ngerti apa yang bikin siswa itu emosional.

      Terimakasih😊

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, menurut sepengetahuan aku mungkin setiap guru itu bisa mengamati dari pemicu/penyebab yang sederhana misalnya nih saat anak tersebut mendapatkan tugas yang cukup sulit, atau saat ditegur, dan guru tersebut itu bisa mencatat pola singkat anak tersebut seperti apa yang terjadi sebelumnya dan bagaimana responsnya. Dengan adanya catatan singkat tadi, guru itu jadi bisa cepat dan mudah untuk melihat pola penyebab emosi tanpa menghabiskan waktu di kelas.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya,cara paling praktis buat guru di tengah kelas yang sibuk adalah dengan observasi pola dan ngobrol singkat tapi rutin, nggak perlu panjang. Guru cukup perhatikan kapan emosi anak ODD paling sering muncul (jam pelajaran apa, tugas seperti apa, dengan siapa, atau setelah kejadian tertentu), lalu saat anak sudah tenang ajak bicara 1–2 menit pakai pertanyaan sederhana seperti “Tadi bagian mana yang bikin kamu kesel?” atau “Kalau mulai marah, biasanya karena apa?”. Dicatat singkat di buku kecil atau HP, dan kalau bisa dikonfirmasi ke orang tua atau guru lain, lama-lama polanya kelihatan dan akar masalahnya lebih mudah dipahami tanpa mengganggu jalannya kelas.

      Hapus
  26. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Sepertinya menjadi guru ini emg susah - susah gampang, peran guru semakin terasa penting, dimana guru harus tetap tenang, sabar dan ngga gampang terpancing emosi. Di bacaan yang bapak berikan intinya kita sebagai guru harus bisa memahami perilaku setiap siswa walaupun ini membutuhkan proses yang lama tapi seiring berjalanya waktu kita sebagai guru pasti bisa. dan sebagai guru kita ngga boleh langsung menghakimi siswa tanpa alasan dan sudut pandang lain yang jelas. Dengan membangun komunikasi yang hangat, menerapkan aturan yang konsisten, dan memberikan apresiasi untuk perubahan sekecil apapun kepada siswa guru bisa pelan - pelan membantu siswa untuk mengatur emosi dan bersikap positif, walaupun ini tantangan yang besar bagi guru , pendekatan yang tepat bisa membuat hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih baik dan membuat kelas menjadi kondusif.

    BalasHapus
  27. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Menurut saya Kadang anak yang terlihat paling menantang justru anak yang paling butuh sosok guru yang bisa membangun hubungan positif dengan mereka, mereka butuh rasa aman dan didengar, karena itu, pendekatan yang lembut, konsisten, dan empati bukan cuma membantu anak dengan ODD untuk mengatasi tantangannya, tapi juga membantu guru menjaga suasana kelas agar tetap aman dan nyaman bagi semua siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Rosidah itu sangat berharga karena menangkap poin utama dari materi ini, yaitu bahwa anak yang terlihat menantang justru paling butuh hubungan positif dan merasa didengar dari guru. Sebagai tambahan, ini diperkuat oleh materi yang menyarankan guru membangun koneksi positif untuk membantu mengatasi penyebab utama perilaku ODD. Misalnya, guru bisa meniru cara guru matematika Cicely Woodard yang menyisihkan waktu mendengarkan cerita siswa secara langsung sebagai cara membangun hubungan. Pendekatan seperti ini bukan hanya membuat anak ODD merasa dihargai, tapi juga merupakan strategi cerdas yang memungkinkan guru untuk memberikan pilihan dan tetap tenang dengan nada suara positif saat mengoreksi, sehingga suasana kelas tetap aman dan nyaman bagi semua siswa.

      Hapus
  28. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Menurut saya, keseluruhan materi tentang ODD ini jelas banget dan pentingnya kebangetan buat kita di dunia pendidikan. Materi ini berhasil mengubah pandangan bahwa anak yang suka melawan atau menentang itu cuma nakal jadi pemahaman bahwa mereka punya gangguan kompleks dengan banyak akar masalah, mulai dari genetik, lingkungan rumah yang kurang stabil, sampai pengaruh fungsi otak. Jadi, kita tahu bahwa kunci penanganannya bukan dengan marah-marah, tapi harus multidisiplin melibatkan profesional, orang tua, dan guru. Penanganan yang paling efektif itu fokus pada melatih anak mengendalikan emosinya dan memperbaiki cara berinteraksi mereka, misalnya lewat CBT.

    Menurut saya guru itu punya peran ganda yang besar. Guru nggak cuma mentransfer ilmu, tapi harus jadi stabilisator emosi di kelas. Kita wajib banget tetap tenang saat anak menentang dan harus konsisten. Yang paling krusial, kita harus memperkuat perilaku positif sekecil apapun itu, bukan cuma memperhatikan saat mereka bertingkah negatif. Intinya, pendidikan harus bergeser dari sekadar menghukum menjadi menciptakan lingkungan inklusif dan suportif, di mana perilaku sulit dilihat sebagai sinyal butuh bantuan, bukan sebagai musuh yang harus dilawan.

    BalasHapus
  29. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Penyediaan Ruang Tenang yang Aman di kelas atau sekolah adalah strategi yang sangat cerdas dan sesuai dengan perkembangan pendidikan yang sensitif terhadap trauma. Materi menyebutkan bahwa anak-anak ODD bisa diajarkan untuk mengenali saat mereka mulai kewalahan, dan ruangan seperti sudut damai (dilengkapi tempat duduk nyaman dan mainan sensorik) bisa menjadi tempat mereka menenangkan diri. Ini adalah intervensi yang vital karena anak ODD rentan terhadap peningkatan emosi hingga puncaknya, dan mengenali tanda fisik stres lebih awal bisa mencegah ledakan perilaku menentang. Ini adalah penerapan praktis dari prinsip pengendalian emosi yang ditekankan dalam terapi untuk ODD.

    BalasHapus
  30. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    Saya sangat setuju pak, dengan materi ini karena telah menjelaskan bahwa Oppositional Defiant Disorder (ODD) adalah kondisi serius dengan pola perilaku menantang yang memerlukan pendekatan khusus. Inti dari penanganan ODD yang efektif adalah mengganti reaksi marah dengan sikap tenang dan konsisten, serta fokus membangun hubungan positif, memberikan pilihan, dan menghargai perilaku baik siswa, yang menunjukkan bahwa empati adalah kunci utama bagi guru.

    BalasHapus
  31. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    menghadapi anak-anak dengan perilaku ODD. Intinya, anak dengan ODD itu bukan cuma suka ngeyel biasa, tapi memang punya pola perilaku yang lebih ekstrem suka menantang, mudah marah, dan sering berdebat tanpa henti. Hal ini tentu bikin suasana kelas jadi lebih sulit kalau guru nggak punya strategi yang tepat. Tapi yang aku suka dari materi ini adalah penekanannya bahwa anak-anak seperti ini sebenarnya butuh dipahami, bukan dimarahi. Respon emosional yang berlebihan justru bikin kondisi makin runyam. Makanya, pendekatan yang tenang, konsisten, dan empatik itu sangat penting. Guru perlu menjaga nada suara, bahasa tubuh, dan tetap tegas tanpa marah-marah.
    Selain itu, fokus pada perilaku positif juga penting banget. Memberikan perhatian saat mereka melakukan sesuatu yang baik bisa membantu membentuk kebiasaan yang lebih sehat. Ditambah lagi, memahami akar masalahnya bikin guru bisa melihat bahwa setiap perilaku sebenarnya ada alasannya, bukan sekadar “nakal.”
    Adanya ruang tenang, pilihan untuk siswa, serta hubungan positif antara guru dan siswa juga jadi kunci besar dalam menghadapi ODD. Anak-anak seperti ini butuh merasa aman, dihormati, dan didengar. Kalau guru bisa membangun hubungan yang kuat, mereka biasanya lebih mau bekerja sama.

    BalasHapus
  32. Terima kasih bapak atas materinya, setelah membaca materi yang bapak sampaikan di bagian awal, saya jadi lebih paham ternyata anak-anak dengan ODD ( Oppositional Defiant Disorder ) itu bukan cuma sekadar nakal atau suka membantah biasa. Tingkat pembangkangan dan perilaku tidak kooperatifnya itu jauh lebih intens dibanding teman sebaya, bahkan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari mereka dan orang di sekitarnya. Yang menarik, ciri-ciri seperti tantrum sering, menantang figur otoritas, sampai suka menggunakan kata-kata kasar itu ternyata bisa muncul sejak usia enam bulan. Ini memberikan gambaran awal bagi saya, sebagai calon guru, bahwa penanganan ODD harus dilakukan dengan pendekatan yang benar-benar hati-hati dan tidak bisa disamakan dengan mendisiplinkan siswa biasa. Perlu pemahaman yang mendalam tentang kondisi ini.

    BalasHapus
  33. Di materi bapak pada bagian tentang Tetap Tenang dan Konsisten ini menurut saya adalah hal utama yang paling sulit untuk dilakukan, tapi paling penting. Logikanya masuk akal sekali, kalau kita merespons perilaku ODD dengan emosi marah, justru siswa itu senang karena dia berhasil memancing reaksi emosional kita. Pendekatan dari Parrish dan Brandy T. yang menyarankan untuk menjaga nada suara tetap positif, bahasa tubuh netral, dan punya kata pemicu yang konsisten seperti tidak sekarang atau perbaiki masalah ini itu sangat bisa diterapkan. Ini mengajarkan kita bahwa kontrol diri guru adalah alat pertama sebelum kita bisa mengontrol situasi di kelas. Konsistensi dalam ucapan dan tindakan ini juga memastikan siswa tahu batasan dan keseriusan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      saya setuju banget sama pendapat ini, komentar ini cocok banget sama realita di kelas. tetap tenang dan konsisten itu emang paling susah, apalagi kalau siswa udah sengaja mancing emosi. tapi bener sih, kalau kita ikut marah, malah dia ngerasa menang. saran dari Parrish dan Brandy T, ini kelihatan simple tapi kepake banget, kayak jaga nada suara, sikap badan, sama pake kata-kata yang itu-itu aja. intinya, sebelum ngatur siswa, guru harus bisa ngatur diri sendiri dulu biar kelas tetap kepegang.

      Hapus
  34. Dan dengan pandangan yang menyebutkan bahwa perilaku adalah bentuk komunikasi. Kadang sebagai calon guru, kita fokus ingin menghentikan perilaku negatifnya tanpa tahu kenapa siswa itu melakukannya. Dengan melihat perilaku, meskipun itu negatif, sebagai umpan balik, kita bisa mencari tahu faktor penyebab dia berulah, apakah karena butuh perhatian, rasa frustrasi, atau hal lain. Selain itu, menguatkan perilaku positif dengan memberikan perhatian dan apresiasi itu penting sekali, bahkan untuk kemajuan kecil. Memberikan catatan positif ke rumah atau memberikan sedikit keistimewaan seperti waktu ekstra main iPad bisa jadi motivasi yang ampuh bagi mereka.

    BalasHapus
  35. Dimateri ini juga memberikan ide yang sangat bagus, yaitu tentang menciptakan ruang tenang dan aman seperti sudut damai dan strategi Tap-in/Tap-Out. Ini menunjukkan bahwa saat anak ODD mulai merasa kewalahan atau stres, mereka butuh waktu dan tempat untuk menenangkan diri sebelum emosinya memuncak. Selain itu, ide memberikan pilihan juga cerdas karena ini menyentuh aspek otonomi dan rasa dihormati siswa. Seperti yang disampaikan Keels, daripada memberi ultimatum, lebih baik memberi pilihan yang jelas misalnya, Mau menenangkan diri sekarang atau setelah ini kita bahas tugasmu?. Dengan begini, siswa merasa memegang kendali atas dirinya, yang akhirnya bisa membuat mood mereka membaik dan mengurangi perilaku menantang.

    BalasHapus
  36. Saya juga membahas materi bapak pada bagian terakhir, yaitu tentang membangun hubungan positif dengan siswa ODD. Mereka ini sering mencari koneksi yang bisa membantu mereka mengatasi masalah. Contoh dari Guru Matematika Cicely Woodard yang meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita siswa secara langsung itu menunjukkan bahwa empati dan koneksi emosional itu sama pentingnya dengan metode mengajar. Dengan cara ini, guru tidak hanya dilihat sebagai figur otoritas yang harus dilawan, tetapi sebagai support system. Membangun hubungan positif ini akan membantu kita memahami akar penyebab perilaku mereka dan membimbing mereka dengan cara yang lebih produktif. Terima kasih banyak bapak untuk materi yang sangat bermanfaat ini.

    BalasHapus
  37. Nama: Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206082

    izin menanggapi pak,melihat artikel ini, saya jadi penasaran, bagaimana cara guru bisa tahu kalau sikap menantang anak itu benar-benar gejala ODD, bukan sekadar nakal biasa atau lagi cari perhatian? Soalnya beda penanganan kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Yormatiana Datu Limbong, menurut sepengetahuan yang aku tau sih mungkin setiap guru itu bisa mencurigai apakah ada dari para muridnya itu yang memiliki gejala ODD atau tidak. Guru itu bisa melihat dari sikapnya jika sikapnya menentang/sangat sering melawan, lalu sampai mengganggu kegiatan dan berlangsung lama. Nahh maka siswa tersebut mempunyai gejala ODD. Berbeda kalau anak itu hanya nakal atau cari perhatian pasti munculnya hanya sesaat, cepat mereda, dan tidak sering menggangu kegiatan.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Izin menanggapi ya pak 🙏
      Menurut saya, rasa penasaran ini sangat wajar karena di lapangan memang sulit, ada anak-anak yang sekadar nakal, mencari perhatian, atau yang sudah sampai pada ODD (Oppositional Defiant Disorder).
      Menurut pandangan guru, yang biasanya diamati adalah pola perilakunya, bukan kejadian sekali atau dua kali. Anak nakal biasa atau lagi mencari perhatian biasanya situasional: misalnya, hanya saat jam sibuk, saat guru, atau saat bosan. Jika sudah dilakukan dengan cara yang tepat, biasanya masih berpotensi untuk mengubah atau bahkan mengurangi perilaku tersebut.Sebaliknya, sikap menantangnya itu terlihat konsisten dan berulang, hampir setiap hari. Anak sering membantu, mengabaikan instruksi, mempermudah sesuatu, dan tidak mengikuti instruksi dengan jelas. Bukan hanya kepada satu guru saja, tetapi kepada banyak guru, bahkan kepada mereka yang berada di luar kelas. Dan yang terpenting, pendekatan tersebut seringkali tidak berhasil.
      Selain itu, guru biasanya mengamati apakah praktik ini memengaruhi proses pembelajaran dan hubungan sosial siswa. Jika anak-anak sering berselisih, sulit dalam kelompok kerja, atau menciptakan suasana yang tidak menyenangkan di kelas, mungkin perlu diperhatikan lebih seksama.Namun, penting juga agar guru tidak hanya memberi label ODD. Peran guru lebih berkaitan dengan memahami, mengamati, dan berkomunikasi dengan BK atau orang lain. Dari situasi baru, dapat dievaluasi oleh psikolog atau profesional karena ada perbedaan antara ODD dan kenakalan biasa atau anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih.
      Benar sekali, Pak, beda penyebab, beda penanganannya. Sangat penting bagi guru, siswa, dan profesional untuk bekerja sama agar anak-anak tidak dirugikan dan justru dapat dibantu dengan cara yang tepat.

      Hapus
    3. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      izin menjawab ya, memang benar, dari luar sikapnya keliatan mirip antara anak ODD sama anak yang cuma nakal biasa atau lagi cari perhatian. bedanya kalau ODD itu muncul terus-terusan dan berlangsung lama, ga cuma di waktu tertentu aja. biasanya juga terjadi dibanyak situasi, ga cuma ke satu guru. makanya guru perlu ngamatin perilaku anak dalam jangka waktu tertentu, komunikasi sama orang tua, dan kerjasama sama guru terkait. jadi penangannya lebih tepat dan ga asal nyamain semua anak.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Yorma, jadi menurut saya, guru bisa mulai membedakannya dengan melihat pola dan konsistensinya, bukan dari satu dua kejadian. Pada anak dengan ODD, sikap menentang biasanya muncul terus-menerus, intens, terjadi di banyak situasi dan ke beberapa orang (bukan cuma ke guru tertentu), sering disertai emosi meledak, mudah tersinggung, dan sulit mereda walau sudah ditegur dengan tenang. Anak yang nakal biasa atau cari perhatian umumnya masih bisa berhenti saat diberi batas jelas, responsif terhadap konsekuensi, dan perilakunya situasional. Karena itu guru perlu observasi berulang, catat perilaku, dan diskusi dengan orang tua atau tim sekolah sebelum menentukan penanganan.

      Hapus
  38. izin menanggapi pak... Dalam artikel ini sebagai seorang pendidik bukan hanya rumus, hafalan, praktik lainnya akan tetapi menghadapi bermacam-macam perilaku siswa salah satunya anak/siswa yang mempunyai Odd. Anak yang memiliki Odd tidak bisa kita abaikan. Mereka membutuhkan peran guru yang luar biasa. Dan sebagai seorang pendidik pun harus terus sabar, mendekati siswa dengan cara memperarah, memahami akar dari masalah perilaku siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap tenang dan konsisten merupakan sebuah kalimat tersebut kita dapat simpulkan merespon perilaku anak ood dengan kemarahan hanya akan memperburuk situasi dan para siswa senang akan hal itu. Jadi harus menjaga nada suara yang positif seperti menggunakan bahasa tubuh.

      Hapus
  39. Izin bertanya pak bagaiamana kita bisa mengetahui anak yang mempunyai Odd, karena terkadang perilaku anak anak pada umumnya sangat susah dibedakan, banyak sekali anak anak yang pada umumnya memiliki perilaku yang sama akan tetapi tidak termasuk dalam bagian Odd, terimakasih itu saja pertanyaan dari saya😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD


      Izin menjawab pertanyaan dari Agustiani, menurut sepengetahuan yang aku tau sih ya Ani anak bisa dicurigai mempunyai gejala ODD jikalau perilaku anak tersebut itu selalu menentang/sering melawan, lalu sangat sering mudah marah, lalu juga suka membatah, dan juga sering kali menyalahkan orang lain, dan itu berlangsung lama biasanya sekitar kurang lebih enam bulan. Dan itu sangat sering mengganggu saat kegiatan pembelajaran mapumn di kegiatan lainnya.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Halo, izin jawab ya 🙏
      Menurut saya pertanyaannya bagus banget dan memang sering bikin bingung banyak orang tua.
      Ketika seorang anak memiliki ODD (Oppositional Defiant Disorder), hal itu hanya dapat diamati dalam satu atau dua kejadian. Karena itu, anak-anak pada umumnya juga sering bertindak agresif, mengamuk, memberontak, atau menunjukkan sikap sulit diatur, yang semuanya merupakan bagian dari fase perkembangan yang wajar.
      Dalam kasus anak-anak dengan ODD, perilaku menentang itu terjadi terus-menerus, konsisten, dan dalam jangka waktu yang lama (biasanya lebih dari enam tahun). Misalnya:
      1. Setiap hari, ada banyak kemarahan.
      2. Sering membantu orang dewasa, bukan hanya sesekali
      3. Melanggar aturan Sengaja
      4. Mudah tersinggung dan menyalahkan orang lain
      5. Perilaku ini terjadi tidak hanya di rumah tetapi juga di sekolah dan tempat lain.
      Jika menyangkut anak biasa, mereka masih bisa berbicara, menyesal setelah diurus, dan perilakunya naik turun tergantung pada situasi. Di sisi lain, anak-anak dengan ODD cenderung sulit bekerja sama dan mampu melakukan tugas sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.Yang terpenting adalah ODD (Oppositional Defiant Disorder) tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengalaman pribadi; melainkan harus dievaluasi oleh para profesional seperti psikolog atau psikiater anak. Oleh karena itu, mudah untuk memberi label pada anak Anda karena mungkin hanya merupakan tahap perkembangan atau mungkin ada faktor lingkungan, pola asuh, atau emosi yang belum terselesaikan.
      Dengan kata lain, wajar jika orang tua bingung membedakannya. Peka, sabar, dan jika merasa perilaku anak sudah sangat mengganggu dan tidak membaik, maka lebih baik berkonsultasi dengan ahlinya agar anak dapat ditangani dengan tepat 💙.
      Semoga jawaban ini bisa sedikit membantu ya. Terima kasih 

      Hapus
    3. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD


      izin menjawab ya, menurut saya sebenarnya anak yang punya ODD itu ga bisa langsung keliatan dari satu dua perilaku aja, karena anak lain juga kadang suka bandel atau susah diatur. bedanya kalau ODD itu perilakunya muncul terus, sering banget, dan terjadi dibanyak situasi, bukan cuma sesekali. makanya guru perlu ngamatin anak dalam waktu yang cukup lama, ngobrol sama orang tua, dan kerjasama sama guru yang ahlinya. tugas guru lebih ke ngenalin ciri awal dan ngasih pendampingan.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Agustiani, jadi menurut saya, cara mengetahuinya adalah dengan melihat pola jangka waktu, intensitas, dan dampaknya, bukan cuma perilaku yang kelihatan sesaat. Anak dengan ODD biasanya menunjukkan sikap menentang, mudah marah, dan menyalahkan orang lain hampir setiap hari selama berbulan-bulan, muncul di lebih dari satu situasi (sekolah dan rumah), dan perilakunya sampai mengganggu proses belajar atau hubungan sosial, sementara anak pada umumnya perilakunya masih naik-turun, situasional, dan bisa membaik dengan arahan atau konsekuensi yang konsisten. Guru sebaiknya mengamati secara rutin, mencatat pola perilaku, lalu mengonfirmasi ke orang tua atau tim BK/psikolog karena ODD tidak bisa ditentukan dari satu kejadian saja.

      Hapus
  40. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386296009
    Kelas : V A PGSD

    Izin menanggapi materi ini,menurut saya dalam materi ini benar - benar membuka mata tentang bagaimana guru bisa berperan penting dalam membantu anak-anak yang punya OOD.nahh kadang,kita cuma lihat anak-anak nakal atau susah diatur,tapi tuh ternyata ada kondisi yang lebih dalam yang perlu kita pahami.nahhh dengan memahami OOD,guru dan calon guru seperti kita harus bisa lebih sabar dan kreatif dalam memahami anak-anak ini.

    BalasHapus
  41. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    NAHHHHH.Saya tertarik dengan materi ini karena memberikan contoh-contoh yang sesuai tentang apa yang bisa dilakukan guru.conohnya,dengan tetap tenang dan konsisten,atau dengan fokus pada hal-hal positif yang dilakukan anak.nahh,ini bukan cuma sebuah teori,tapi ini benar-benar bisa diterapkan di kelas sehari-hari.nah,kadang hal-hal kecil seperti ini bisa membuat perbedaan besar bagi anak-anak dengan OOD.

    BalasHapus
  42. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Salah satu poin yang saya ingat dari materi ini adalah tentang pentingnya komunikasi yang baik.bukan cuma guru ke anak tetapi juga antar guru,dan orang tua.dengan komunikasi yang baik,kita bisa sama-sama mencari cara terbaik untuk membantu anak tersebut.ini menujukan bahwa menangani OOD itu butuh kerja sama dari semua pihak.

    BalasHapus
  43. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Tambahan sedikit lagi terkait materi ini,nahh dalam materi ini mengingatkan kita bahwa anak-anak dengan OOD ini seringkali merasa frustrasi dan kesulitan.jadi,yang penting adalah kita sebagai guru/calon guru harus punya empati dan kesabaran yang ekstra.dengan memberikan dukungan dan pengertian,kita bisa membantu mereka mengembangkan potensi diri dan merasa lebih percaya diri.

    BalasHapus
  44. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM;2386206089
    Artikel ini menjelaskan dengan sangat jelas bahwa ODD (Gangguan Perilaku Oposisional) adalah kondisi yang berdampak signifikan pada kehidupan anak-anak dan lingkungan sekitar mereka, termasuk sekolah. Penjelasan tentang ciri-ciri ODD membantu guru lebih memperhatikan saat menilai kinerja siswa. Dengan memahami bahwa perilaku menantang merupakan komponen dari situasi saat ini, guru diharapkan lebih fokus pada menemukan cara terbaik untuk membantu siswa berkembang daripada hanya menghukum mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Salah satu poin terpenting dalam artikel ini adalah bahwa guru harus berhati-hati dan konsisten dalam menangani siswa yang memiliki ODD (Oppositional Defiant Disorder). Hal ini sangat relevan dengan situasi di kelas, karena emosi guru seringkali meluap ketika siswa menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Artikel ini berpendapat bahwa reaksi emosional dapat memperbaiki situasi. Pendekatan dengan suara yang stabil, bahasa tubuh yang netral, dan aturan yang konsisten dapat membantu siswa menjadi lebih aman dan memahami batasan yang ada.

      Hapus
  45. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM;2386206089
    Artikel ini juga menyoroti betapa pentingnya meningkatkan perilaku positif daripada terus-menerus mengurangi perilaku negatif. Menurut saya, pendekatan ini sangat efektif karena anak-anak dengan ODD sering menunjukkan perilaku gagal atau tidak responsif. Dengan menunjukkan antusiasme terhadap kemajuan kecil, seperti memberikan umpan balik positif kepada orang lain atau pemberian hak istimewa, siswa akan lebih mungkin diperhatikan. Secara praktis, ini dapat membantu mereka mengembangkan motivasi internal untuk berprestasi lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Singkatnya, artikel ini menyoroti pentingnya membina hubungan positif antara guru dan siswa dalam mencegah ODD (Oppositional Defiant Disorder). Memberi siswa pilihan dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan rasa dihargai dan otonomi mereka. Perilaku menantang perlahan dapat berkurang ketika siswa merasa dipahami dan diterima. Empati dan kesabaran penuh, seperti yang dijelaskan dalam artikel ini, sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendorong pertumbuhan emosional siswa.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Karena mengharuskan guru untuk memandang perilaku sebagai bentuk komunikasi, memahami akar masalah dari perilaku siswa sangatlah sulit. Anak-anak yang sering mengalami stres, trauma, atau tekanan emosional mungkin berisiko. Penjelasan tentang tanda-tanda fisik sebelum emosi membantu guru sehingga lebih banyak pencegahan dapat dilakukan. Selain itu, ruang tenang seperti "sudut damai" menawarkan alternatif yang sehat bagi siswa untuk mengelola emosi mereka tanpa perlu merasakan.

      Hapus
  46. Nama: Ratna Andina
    NPM:2386206074
    Kelas: 5C PGSD


    saya setuju pak, ini ngingetin kita sebagai guru supaya ga gampang ngecap siswa, tapi mau cari tau dulu penyebab perilakunya. pendekatan tim juga masuk akal, karena tanggung jawab mendidik siswa itu bukan cuma guru kelas aja. kalau semua pihak terlibat, guru jadi lebih terbantu dan penanganannya juga lebih konsisten

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      dan dari materi ini juga nunjukin kalau jadi guru itu ga cukup cuma ngajar materi, tapi juga peka sama kondisi siswa. kadang perilaku siswa itu ada ceritanya sendiri. ide kerja bareng antar guru juga bagus, soalnya masalah di kelas bakal lebih ringan kalau ditangani rame-rame, bukan sendirian.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Saya setuju bahwa materi ini mengajak guru untuk bersikap lebih sabar, empatik, dan memahami, serta melihat siswa dengan ODD sebagai anak yang membutuhkan dukungan, bukan hukuman. Pendekatan seperti ini akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan manusiawi bagi semua peserta didik.

      Hapus
  47. Saya setuju dengan penekanan pada penguatan perilaku positif. Memberi perhatian pada hal-hal kecil yang baik dapat membantu anak merasa dihargai dan mengurangi perilaku negatif. Anak dengan ODD sering kali lebih membutuhkan pengakuan daripada hukuman.
    Materi ini juga mengingatkan bahwa perilaku adalah bentuk komunikasi. Dengan memahami penyebab di balik perilaku siswa, guru dapat lebih bijak dalam mengambil tindakan. Mengenali tanda-tanda stres dan pemicu emosi siswa sangat membantu untuk mencegah ledakan emosi yang lebih besar.

    BalasHapus
  48. Materi ini menjelaskan dengan baik bahwa anak dengan ODD sering menunjukkan perilaku membantah, marah, dan sulit bekerja sama, baik di rumah maupun di sekolah. Jika guru merespons dengan emosi atau kemarahan, situasi justru bisa semakin buruk. Oleh karena itu, sikap guru yang tenang dan konsisten menjadi kunci utama dalam menangani siswa dengan ODD.

    BalasHapus
  49. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Menurut saya, guru perlu benar-benar peka dalam melihat perilaku siswa yang sering menentang tidak semua anak bisa langsung mengikuti aturan dengan mudah, dan di sinilah empati guru diuji yaitu dengan berusaha memahami penyebab di balik perilaku tersebut, guru bisa membantu siswa merasa diterima, bukan dijauhi. Pendekatan yang lebih manusiawi seperti ini justru membantu menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif dan membuat siswa perlahan belajar mengontrol dirinya sendiri.

    BalasHapus
  50. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Menurut saya materi ini mengajak kita sebagai calon guru untuk belajar bahwa tidak semua perilaku menantang siswa bisa langsung dilabeli sebagai kenakalan ada anak-anak yang memang sedang berjuang mengelola emosi dan responnya terhadap aturan maka dari itu dalam kondisi seperti ini, peran guru jadi lebih dari sekadar menegur atau menertibkan kelas, tapi juga memahami pola perilaku siswa dan meresponsnya dengan lebih sabar. Pendekatan yang tenang dan konsisten terasa jauh lebih bermakna daripada hukuman yang justru bisa memperburuk situasi.

    BalasHapus
  51. Nama: Arjuna
    Kelas: 5A
    Npm: 2386206018
    Menurut saya, fokus utama guru seharusnya bukan pada menghukum perilaku negatif, tetapi pada memperkuat perilaku positif sekecil apa pun. Dengan memberikan perhatian, pujian, dan kesempatan untuk berhasil, anak akan perlahan belajar mengontrol diri dan merasa dihargai. Pendekatan yang penuh empati dan kesabaran inilah yang dapat membantu anak dengan ODD berkembang lebih baik di lingkungan sekolah.

    BalasHapus
  52. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Dari materi ini saya jadi lebih memahami bahwa perilaku menantang pada anak, khususnya yang berkaitan dengan ODD, tidak bisa dilihat sekadar sebagai sikap bandel atau sengaja melawan guru. Perilaku tersebut ternyata punya pola, berlangsung cukup lama, dan sering kali menjadi bentuk komunikasi dari emosi yang tidak tersampaikan. Saya setuju bahwa respons guru yang emosional justru bisa memperkeruh keadaan, karena anak malah merasa “menang” saat melihat reaksi tersebut. Pendekatan tetap tenang, konsisten, dan tidak reaktif terasa sangat relevan, meskipun dalam praktiknya tentu tidak mudah, apalagi saat guru sedang lelah atau kelas sedang ramai. Materi ini membuka sudut pandang bahwa mengelola emosi guru sama pentingnya dengan mengelola perilaku siswa.

    BalasHapus
  53. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi yaa, Pak. Saya setuju bahwa penguatan perilaku positif memiliki peran besar dalam menangani siswa dengan ODD. Selama ini, tanpa disadari, perhatian guru sering kali lebih banyak tercurah pada perilaku negatif karena dianggap mengganggu, sementara perilaku baik yang kecil justru terlewat. Dari contoh catatan positif dan pemberian hak istimewa sederhana, terlihat bahwa apresiasi kecil bisa berdampak besar bagi siswa. Menurut saya, ini juga membantu mengubah relasi guru dan siswa menjadi lebih hangat, bukan relasi yang penuh konflik. Anak merasa dilihat dan dihargai, bukan hanya ditegur. Pendekatan seperti ini terasa lebih manusiawi dan selaras dengan tujuan pendidikan yang tidak hanya mengejar akademik, tetapi juga perkembangan emosional siswa.

    BalasHapus
  54. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin memberikan saran dari saya, Pak. Menurut saya materi di atas sangat menekankan pentingnya memahami akar masalah di balik perilaku siswa, bukan hanya mengatasi gejalanya. Gagasan bahwa perilaku adalah bentuk komunikasi membuat saya berpikir bahwa guru perlu lebih peka membaca tanda-tanda stres sebelum ledakan emosi terjadi. Contoh tentang sudut damai dan pemberian pilihan kepada siswa juga menarik, karena memberi ruang bagi anak untuk belajar mengatur dirinya sendiri. Secara pribadi, saya merasa pendekatan ini menuntut guru untuk membangun hubungan yang lebih personal dan sabar, namun hasilnya bisa jauh lebih bermakna. Dengan hubungan yang positif, siswa tidak hanya belajar mengendalikan perilaku, tetapi juga merasa aman dan didukung di lingkungan sekolah.

    BalasHapus
  55. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi lagi, Pak. Materi ini membuka sudut pandang saya bahwa perilaku menantang pada siswa, khususnya yang berkaitan dengan ODD, tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai sikap membangkang saja. Ada banyak faktor emosional dan pengalaman hidup yang memengaruhi perilaku tersebut, sehingga respons guru perlu lebih tenang, konsisten, dan tidak reaktif. Pendekatan yang menekankan pengendalian emosi guru serta penggunaan bahasa yang netral terasa sangat relevan untuk menjaga suasana kelas tetap aman dan kondusif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Ninda Amelia Saputri
      NPM : 2386206093
      Kelas : 5D PGSD

      Izin menambahkan, Pak. Menurut saya, fokus pada hubungan positif dan upaya memahami akar masalah perilaku siswa menjadi langkah yang sangat penting. Ketika guru memandang perilaku sebagai bentuk komunikasi, strategi seperti penguatan perilaku positif, pemberian pilihan, dan penyediaan ruang aman dapat membantu siswa belajar mengelola emosi mereka. Pendekatan ini tidak hanya mendukung ketertiban kelas, tetapi juga membantu siswa berkembang secara emosional dan sosial.

      Hapus
  56. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin memberikan kesimpulan yaa, Pak. Secara keseluruhan, materi ini menegaskan bahwa menghadapi siswa dengan perilaku ODD membutuhkan pendekatan yang empatik, tenang, dan konsisten, bukan reaksi emosional atau hukuman semata. Dengan memahami perilaku sebagai bentuk komunikasi, membangun hubungan positif, serta memberikan ruang aman dan pilihan kepada siswa, guru dapat membantu mereka mengelola emosi dan perilaku secara lebih sehat. Pendekatan ini tidak hanya mendukung perkembangan siswa secara sosial dan emosional, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, manusiawi, dan berkelanjutan bagi seluruh warga kelas.

    BalasHapus
  57. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Peserta didik mengalami odd itu biasanya cenderung tidak patuh dan mudah marah saat dalam pembelajaran matematika biasanya terjadi pada pengerjaan soal sehingga dia merasakan sulit mengerjakan soal tersebut tapi guru memberi mereka solusi supaya anak tersebut dapat memahami pembelajaran matematika tersebut yang pertama guru melakukan komunikasi terhadap mereka dan memberi arahan terhadap mereka berupa pengerjaan soal yang mudah supaya mereka dapat merespon terhadap pembelajaran tersebut dan guru memberi soal beberapa tingkat leval .

    BalasHapus
  58. Menurut pendapat saya pak, peran guru dalam menghadapi peserta didik dengan ODD sangat menuntut kemampuan pengendalian emosi yang matang. Artikel ini menegaskan bahwa reaksi emosional guru justru dapat memperburuk perilaku menentang siswa. Saya sepakat bahwa sikap tenang, konsisten, dan penggunaan bahasa yang netral bukan hanya membantu meredakan konflik, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi siswa tentang bagaimana mengelola emosi secara sehat. Ketika guru mampu mengendalikan diri, kelas menjadi ruang yang lebih aman dan kondusif bagi siswa dengan ODD untuk belajar mengatur perilakunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dias Pinasih
      NPM : 2386206057
      Kelas : 5B PGSD
      Izin menambahkan sedikit dari penjelasan Rida, Pak.
      Saya setuju dengan pendapat Rida bahwa peran guru dalam menghadapi peserta didik dengan ODD memang sangat menuntut kemampuan pengendalian emosi. Penekanan pada sikap tenang, konsisten, dan penggunaan bahasa yang netral menurut saya sangat penting, karena reaksi emosional guru justru bisa memperburuk perilaku menentang pada siswa.
      Tambahan dari saya, selain mengendalikan emosi, guru juga perlu mengenali pemicu perilaku siswa ODD. Kadang perilaku menentang muncul bukan tanpa sebab, bisa karena tugas terlalu sulit, kondisi emosional anak, atau merasa tidak dipahami. Kalau guru sudah peka terhadap hal ini, pendekatan yang dilakukan bisa lebih tepat dan tidak hanya berfokus pada menegur perilaku.

      Hapus
  59. Saya berpandangan bahwa penguatan perilaku positif merupakan strategi yang sangat efektif, terutama bagi siswa dengan ODD yang sering kali lebih dikenal karena perilaku negatifnya.

    Artikel ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kemajuan kecil, seperti pujian atau catatan positif kepada orang tua, dapat meningkatkan motivasi siswa. Menurut saya, pendekatan ini membantu siswa merasa dihargai dan diakui, sehingga mereka terdorong untuk mengulangi perilaku baik tersebut. Fokus pada hal positif juga membantu mengubah pola interaksi guru-siswa menjadi lebih sehat.

    BalasHapus
  60. Dalam artikel ini dijelaskan bahwa perilaku menentang sering kali merupakan cara siswa menyampaikan perasaan atau kebutuhan yang tidak mampu mereka ungkapkan secara verbal. Saya sangat setuju dengan pandangan ini, karena melihat perilaku sebagai bentuk komunikasi membuat guru lebih empatik dan tidak mudah menghakimi. Dengan memahami akar masalah, seperti trauma atau stres tertentu, guru dapat menyesuaikan pendekatan pembelajaran dan interaksi di kelas. Menurut saya, pemahaman inilah yang menjadi kunci utama dalam menangani siswa dengan ODD secara manusiawi.

    BalasHapus
  61. Saya menilai bahwa penyediaan ruang tenang seperti "sudut damai" merupakan langkah konkret yang sangat bermanfaat bagi siswa dengan ODD. Lingkungan belajar yang aman secara emosional membantu siswa belajar mengenali dan mengelola perasaan mereka sebelum perilaku menentang muncul. Artikel ini menunjukkan bahwa ketika siswa diberi ruang untuk menenangkan diri, konflik dapat diminimalkan. Menurut saya, strategi ini tidak hanya membantu siswa, tetapi juga menjaga kesejahteraan guru dan iklim kelas secara keseluruhan.

    BalasHapus
  62. membangun hubungan positif antara guru dan siswa dengan ODD adalah fondasi terpenting dalam perubahan perilaku jangka panjang. Artikel ini menegaskan bahwa siswa dengan ODD sering kali mencari koneksi emosional dengan orang dewasa yang dapat mereka percaya. Ketika guru meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memahami siswa, rasa saling percaya akan terbentuk. Saya percaya bahwa dari hubungan yang positif inilah siswa belajar merasa aman, dihargai, dan akhirnya mampu mengembangkan perilaku yang lebih adaptif.

    BalasHapus
  63. Nama : Dias Pinasih
    NPM : 2386206057
    Kelas : 5B PGSD
    Izin menambahkan dan menanggapi materi, Pak.
    Menurut saya materi tentang peran guru dalam menangani peserta didik dengan ODD ini sangat membuka wawasan, terutama buat kami sebagai calon guru SD. Selama ini mungkin banyak yang mengira anak yang sering membantah, menolak aturan, atau mudah marah itu hanya karena nakal atau kurang disiplin. Tapi lewat materi ini jadi lebih paham kalau perilaku tersebut bisa berasal dari kondisi psikologis anak, bukan semata-mata karena sikap sengaja melawan guru.
    Saya setuju dengan penjelasan bahwa guru punya peran penting dalam membangun hubungan yang positif dengan anak ODD. Pendekatan yang tenang, konsisten, dan penuh empati terasa lebih masuk akal dibandingkan pendekatan yang keras atau sering memarahi. Kalau guru terlalu sering menekan, anak justru bisa makin menentang dan makin sulit diatur. Di sini terlihat jelas bahwa guru bukan hanya pengajar materi, tapi juga pendamping emosional siswa.
    Menurut saya yang menarik juga adalah penekanan pada pentingnya aturan yang jelas dan konsisten. Anak dengan ODD butuh batasan yang tegas, tapi tetap disampaikan dengan cara yang manusiawi. Jadi bukan membiarkan, tapi juga bukan menghukum berlebihan. Ini jadi tantangan tersendiri bagi guru, apalagi di kelas yang jumlah siswanya banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau boleh memberi saran, mungkin materi ini bisa ditambahkan contoh kasus yang lebih konkret di kelas SD, misalnya contoh dialog guru saat menghadapi anak ODD yang sedang menolak tugas atau membantah. Dengan contoh nyata, kami sebagai mahasiswa bisa lebih kebayang bagaimana menerapkannya nanti di kelas.
      Untuk kritik, menurut saya materi ini masih terasa cukup berat kalau langsung diterapkan tanpa pendampingan. Di lapangan nanti, guru SD pasti menghadapi keterbatasan waktu, tenaga, dan jumlah siswa. Jadi akan lebih lengkap kalau dibahas juga bagaimana peran sekolah dan orang tua dalam mendukung guru, supaya penanganan anak ODD tidak hanya dibebankan ke guru kelas saja.
      Secara keseluruhan, materi ini sangat penting dan relevan dengan kondisi sekolah saat ini. Materi ini mengingatkan bahwa memahami perilaku anak adalah bagian dari tugas guru, bukan hanya menyampaikan pelajaran. Dengan pemahaman seperti ini, diharapkan guru bisa lebih sabar, adil, dan tidak cepat memberi label negatif pada siswa.

      Hapus
  64. Nama : Dias Pinasih
    NPM : 2386206057
    Kelas : 5B PGSD
    Izin bertanya, Pak.
    Berdasarkan materi tentang peserta didik dengan ODD, bagaimana strategi yang paling realistis untuk guru SD dalam mengelola perilaku anak ODD di kelas besar (jumlah siswa banyak), agar tetap bisa menjaga suasana kelas kondusif tanpa mengabaikan kebutuhan siswa lain?
    Selain itu, sejauh mana peran kolaborasi antara guru kelas, orang tua, dan pihak sekolah dalam menangani anak dengan ODD supaya penanganannya bisa berjalan konsisten?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Selma Alsayanti Mariam
      Npm: 2386206038
      Kelas: VC

      Izin bantu menjawab ya kak dias, menurut saya yang paling realistis dilakukan guru SD di kelas besar itu adalah menggunakan pendekatan yang sederhana tapi konsisten. anak dengan ODD perlu aturan yang jelas dari awal, tapi cara menyampaikannya harus tenang dan tegas, bukan dengan marah-marah. guru bisa membuat kesepakatan kelas yang berlaku untuk semua, jadi anak ODD tidak merasa diperlakukan beda, tapi tetap tau batasannya. dikelas yang muridnya banyak, guru juga bisa menggunakan strategi pengalihan, misalnya seperti memberi tugas kecil, tanggung jawab yang ringan, atau memberi pilihan terbatas supaya anak ODD merasa punya kontrol tanpa mengganggu kelas. kalau perilaku mulai muncul, ditangani seperlunya saja, tidak perlu ditarik menjadi pusat perhatian karena bisa makin memicu. Kemudian soal kolaborasi, peran kerja sama itu sangat penting sekali. guru kelas, orang tua, dan pihak sekolah harus satu suara. aturan dan cara menangani anak di sekolah sebaiknya sejalan dengan yang diterapkan di rumah. komunikasi rutin, meski singkat, sudah cukup untuk saling update perkembangan anak. kalau semua pihak konsisten, anak juga lebih mudah menyesuaikan diri dan suasana kelas tetap kondusif tanpa mengorbankan kebutuhan siswa lain.

      Hapus
    2. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      Aku coba bantu jawab yah Dias. Menurutku, di kelas besar guru bisa mengelola anak dengan ODD dengan cara menjaga rutinitas kelas yang terstruktur, memberi instruksi yang jelas, dan merespons perilaku menantang secara tenang tanpa drama. Fokus pada perilaku positif dan pencegahan konflik lebih efektif daripada sering menegur, sehingga pembelajaran tetap berjalan dan siswa lain tidak terganggu.

      Nah untuk kolaborasi, menurutku kerja sama antara guru, orang tua, dan sekolah itu wajib. Komunikasi yang rutin bikin penanganan anak jadi konsisten, baik di rumah maupun di sekolah, sehingga anak dengan ODD merasa lebih terarah dan didukung.

      Hapus
  65. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Terimakasih pak atas materinya dari materi ini saya jadi tau. ternyata anak yang suka membangkang atau keras kepala itu bisa jadi memang ada kondisi psikologisnya (ODD). sedih juga ya kalau mereka sebenarnya cuma ingin didengar tapi cara yang mereka gunakan itu salah. lalu ternyata kita juga bisa menangani anak yang susah diataur itu tanpa perlu menggunakan amarah juga.

    BalasHapus
  66. Nama: Lidia Maimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, perilaku menantang pada anak dengan ODD membutuhkan pemahaman yang mendalam dari guru. Guru perlu menyadari bahwa perilaku tersebut bukan sekadar kenakalan biasa. Anak menunjukkan pembangkangan yang lebih intens dan sering. Guru yang bereaksi defensif dapat memperburuk situasi. Pendekatan yang tenang dan konsisten sangat dibutuhkan. Guru menjaga emosi saat menghadapi perilaku menantang. Hubungan belajar dapat tetap terjaga dengan baik.

    BalasHapus
  67. Nama: Lidia Maimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Menjaga nada suara yang tepat di kelas merupakan tantangan tersendiri. Guru menghadapi situasi kelas yang dinamis setiap hari. Perubahan intonasi dan volume dapat memengaruhi emosi siswa. Nada suara yang terlalu tinggi dapat memicu stres siswa. Guru perlu mengelola emosi sebelum merespons situasi. Sikap tenang membantu menjaga suasana kelas. Pembelajaran dapat berlangsung dengan lebih kondusif.

    BalasHapus
  68. Nama: Lidia Maimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Keseimbangan nada suara sangat penting dalam manajemen kelas. Guru tidak selalu harus bersikap keras atau terlalu lembut. Nada tegas yang tenang membantu siswa merasa aman. Guru tetap menetapkan ekspektasi yang jelas. Siswa memahami batasan tanpa merasa tertekan. Hubungan guru dan siswa tetap terjaga. Lingkungan kelas menjadi lebih positif.

    BalasHapus
  69. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, membangun hubungan positif merupakan kunci dalam menangani siswa dengan ODD. Guru menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita siswa. Siswa merasa dihargai sebagai individu. Guru memberikan pilihan untuk meningkatkan rasa otonomi siswa. Pendekatan ini mengurangi konflik di kelas. Siswa belajar mengelola emosi dengan lebih baik. Interaksi belajar menjadi lebih produktif dan sehat

    BalasHapus
  70. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Memahami akar masalah perilaku membantu guru menentukan strategi yang tepat. Guru memandang perilaku sebagai bentuk komunikasi siswa. Guru mengamati tanda-tanda fisik stres pada siswa. Pemahaman ini membantu guru mencegah ledakan emosi. Guru menghindari situasi yang memicu stres siswa. Pendekatan ini menunjukkan empati guru. Siswa merasa lebih dipahami dan aman.

    BalasHapus
  71. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Penguatan perilaku positif sangat efektif bagi siswa dengan ODD. Guru memberikan perhatian lebih pada perilaku positif siswa. Siswa merasa dihargai atas usaha kecil yang mereka lakukan. Guru memberikan penguatan melalui catatan positif atau hak istimewa. Pendekatan ini meningkatkan motivasi siswa. Siswa menunjukkan perilaku yang lebih kooperatif. Hubungan guru dan siswa menjadi lebih positif.

    BalasHapus
  72. Nama: Rismardiana
    NOM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Baik pak di materi ini cukup membuka mata bahwa menghadapi anak dengan ODD itu nggak bisa pakai emosi atau hukuman semata. Justru sikap guru yang tenang, konsisten, dan mau memahami akar perilaku anak jadi kunci utama. Aku setuju banget dengan anggapan bahwa perilaku itu bentuk komunikasi, jadi tugas guru bukan cuma menertibkan, tapi juga mendengar lewat sikap anak.

    Pendekatan seperti tetap tenang, memberi pilihan, dan memperkuat perilaku positif terasa lebih efektif dibanding hukuman. Anak dengan ODD sebenarnya bukan ingin melawan, tapi sering kali belum mampu mengelola emosi dan merasa nggak dipahami. Kalau guru bisa hadir sebagai sosok yang aman dan adil, perlahan perilaku menentang itu bisa berkurang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      Aku liat strategi yang dijelaskan di materi ini sangat relevan dengan kondisi kelas nyata. Misalnya, konsep sudut tenang atau memberi waktu anak untuk menenangkan diri itu menurutku penting, karena anak juga manusia yang bisa kewalahan secara emosi. Daripada memaksa anak patuh saat emosinya sedang tinggi, memberi ruang justru bisa mencegah konflik yang lebih besar. Ini juga mengajarkan anak untuk mengenali dan mengatur emosinya sendiri.

      Hapus
  73. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Terus tuh pak, bagian tentang membangun hubungan positif antara guru dan siswa itu paling utama. Anak dengan ODD sering kali punya pengalaman negatif dengan orang dewasa, jadi wajar kalau mereka cenderung menolak otoritas. Ketika guru mau mendengarkan, memberi perhatian kecil, dan menghargai usaha siswa, anak akan merasa lebih dihargai. Dari situ, kepercayaan bisa tumbuh dan perilaku menentang perlahan bisa berubah.

    BalasHapus
  74. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Jadi intinya, penanganan siswa dengan ODD membutuhkan kerja sama dan pendekatan jangka panjang. Guru, orang tua, dan lingkungan sekolah harus sejalan supaya anak mendapat dukungan yang konsisten. Materi ini mengajarkan bahwa perubahan perilaku nggak bisa instan, tapi dengan pendekatan yang tepat dan penuh empati, anak dengan ODD tetap punya peluang besar untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih positif.

    BalasHapus
  75. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386296993


    Izin menanggapi pak menurut saya perilaku menantang pada anak dengan ODD memang tidak bisa dianggap sebagai kenakalan biasa karena perilaku ini terjadi berulang dan berdampak pada kegiatan belajar anak baik di kelas maupun di rumah anak sering menunjukkan sikap membantah marah dan sulit diarahkan sehingga jika guru tidak memahami kondisi ini maka respon yang diberikan bisa salah dan justru membuat perilaku anak semakin memburuk oleh karena itu pemahaman awal tentang ODD sangat penting bagi guru

    BalasHapus
  76. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Menurut saya sikap guru yang tetap tenang dan konsisten sangat berpengaruh dalam menghadapi siswa dengan ODD karena di situasi nyata sering terlihat ketika guru bereaksi dengan emosi siswa justru semakin menantang dengan menjaga nada suara yang stabil dan sikap yang tidak berubah ubah siswa dapat belajar bahwa aturan tetap berlaku tanpa harus disampaikan dengan kemarahan

    BalasHapus
  77. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2383206003

    saya setuju bahwa memberi perhatian pada perilaku positif jauh lebih baik daripada terus menegur kesalahan siswa karena pada kenyataannya anak anak sangat membutuhkan pengakuan ketika usaha kecil mereka diperhatikan seperti mau duduk rapi mau mengikuti aturan atau mau menenangkan diri hal ini membuat siswa merasa dihargai dan diperhatikan sehingga perlahan mereka terdorong untuk mengulang perilaku yang baik dan suasana kelas menjadi lebih kondusif

    BalasHapus
  78. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi Pak menurut saya perilaku siswa sebenarnya adalah cara mereka menyampaikan perasaan yang tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata kata ada siswa yang sering membantah karena ingin diperhatikan oleh guru ada juga yang mudah marah karena merasa tidak dipahami oleh lingkungannya sehingga guru perlu melihat lebih dalam dan mencari tahu penyebab perilaku tersebut agar respon yang diberikan tidak hanya berupa teguran tetapi juga solusi yang membantu siswa

    BalasHapus
  79. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Menurut saya membangun hubungan yang baik dengan siswa dan menyediakan tempat yang aman di kelas sangat membantu terutama bagi siswa yang mudah emosi ketika siswa merasa diterima dan tidak langsung dimarahi mereka akan merasa lebih tenang dengan adanya ruang untuk menenangkan diri siswa bisa belajar mengatur emosi mereka sendiri dan hubungan yang baik dengan guru juga membuat proses belajar menjadi lebih nyaman

    BalasHapus
  80. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Salah satu hal yang terpenting didalam materi ini menurut saya, guru tidak bisa kalau menangani perilaku seperti ini sendiri. Anak ODD bisa menunjukkan perilaku yang berbeda disekolah dan dirumah, maka dari itu perlunyakolaborasi antar guru dan orangtua untuk menangani perilaku ODD yang terjadi pada siswa. Ketika guru dan orang tua menerapkan pendekatan yang sama konsistennya terhadap perilaku anak, pasti peluang perubahan positif akan lebih besar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tugas sekolah, tetapi juga kerja sama seluruh lingkungan anak

    BalasHapus
  81. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB Pgsd
    Npm : 2386206035

    Materi tentang ODD ini memberikan strategi yang cukup praktis yang dapat diterapkan diberbagai kondisi sekolah bahkan tidak perlu membutuhkan fasilitas yang wah. Misalnya konsep ruang tenang tidak harus ruang khusus yang dilengkapi dengan peralatan mahal tetapi cukup sudut kecil dikelas untuk menenagkan diri sementara. Hal ini membuat pendekatan terhadapPDD menjadi lebih realistis dan humanis, karena guru tetap bisa membantu siswa secara konsisten.

    BalasHapus
  82. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Tanggung jawab seorang guru ternyata sangatlah besar dan memang benar kalau " guru harus serba bisa" merangkap kegiatan apasaja.. Saya semakin menyadari kalau tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga menjadi orangtua kedua bagi siswa, sebagai pendamping emosi, pembentuk karakter, sekaligus pengamat perkembangan perilaku siswa. erutama dalam menghadapi siswa dengan ODD, guru dituntut untuk tetap sabar, konsisten, dan empatik, meskipun situasi di kelas tidak selalu mudah. Semangat untuk kita semua..

    BalasHapus
  83. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas: V C
    Pak, terima kasih atas materinya. Dari tulisan ini saya jadi lebih paham kalau guru bukan cuma pengajar materi pelajaran, tapi juga pendamping yang perlu mengenali dan membantu siswa yang kesulitan belajar. Setiap anak itu unik, jadi kalau guru bisa sabar, mengamati kebutuhan mereka, dan memberi dukungan yang tepat, pasti proses belajarnya bisa lebih baik.

    BalasHapus
  84. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 238620602
    Kelas : V C
    Izin bertanya ya pak, bagaimana cara memberi bantuan kepada siswa tanpa membuat mereka merasa minder atau berbeda dari teman-temannya? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Sinta
      NPM: 2386206033
      Kelas: VB PGSD

      Hai Alya aku bantu jawab pertanyaanmu.
      Menurutku, cara memberi bantuan kepada siswa tanpa membuat mereka merasa minder atau berbeda adalah dengan memberikan bantuan secara wajar dan tidak berlebihan di depan kelas. Guru dapat mendampingi siswa secara bertahap dan lebih personal, misalnya dengan mendekati siswa saat kegiatan berlangsung tanpa menyoroti kekurangannya di hadapan teman-temannya.

      Selain itu dari yang aku baca guru perlu memperlakukan semua siswa secara adil, memberikan aturan dan kesempatan yang sama, serta menggunakan bahasa yang positif agar siswa merasa dihargai. Dalam kasus siswa dengan ODD, guru juga bisa memberi pilihan dan tanggung jawab kecil agar siswa merasa dilibatkan, bukan dikendalikan.

      Hapus
  85. Hanifah
    5C
    2386206073

    Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ketika siswa mengalami kesulitan, guru bukan hanya bertugas mengajar, tapi juga mendampingi dengan penuh kesabaran. Dan dari materi ini menegaskan bahasa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai, tapi dari bagaimana guru mampu membantu siswa melewati tantangan belajarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan kreativitas dan empati, guru bisa mengubah rasa putus asa menjadi semangat baru. Dukungan guru tidak hanya memperbaiki prestasi, tapi juga membangun kepercayaan diri siswa untuk terus berjuang dan berkembang.

      Hapus
    2. Dalam materi ini menekankan bahwa guru perlu memiliki strategi diferensiasi, pendekatan individual, dan kemampuan membaca kebutuhan siswa. Dengan cara ini, guru tidak hanya menyelesaikan masalah akademik, tapi juga membantu membentuk karakter dan daya juang siswa.

      Hapus
  86. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    wah menarik sekali pembahasan kali ini, jujur memang saya tidak terlalu suka anak kecil, tetapi tidak semua yaa, yang nakal-nakal aja saya tidak suka nya.
    nah dari pembahasan kali ini menurut saya membantu membuka pemahaman saya ni, karena ternyata perilaku menantang pada anak itu tidak selalu sekedar nakal atau ingin melawan aja, tetapi dia bisa jadi ada kondisi tertentu di baliknya, seperti ODD (Oppositional Defiant Disorder) ini.

    BalasHapus
  87. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    izin menanggapi kembali, kesimpulan yang bisa saya ambil dari penjelasan yang dibahas yaitu, perilaku yang menentang pada anak, khususnya yang berkaitan dengan ODD ini perlu di fahami secara lebih mendalam dan tidak bisa ditangani hanya dengan cara yang tegas atau hukuman. Anak dengan ODD ini juga menunjukkan perilaku yang intens dan berulang, karena adanya faktor tertentu baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar, jadi kita sebagai guru penting banget untuk merespon perilaku ini dengan tetap tenang, konsisten, dan empatik walau kesabaran nanti sudah mulai menipis.

    BalasHapus
  88. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    izin menanggapi kembali, untuk anak dengan ODD ini, menurut saya memang mereka harus segera ditangani, karena nantinya pasti akan berdampak, entah itu ke diri sendiri ataupun lingkungan sekitar, terutama saat di kelas. Dampak ke anak, anak nanti akan sulit mengendalikan emosi, susah bekerja sama, dan akhirnya bermasalah dalam proses belajar ataupun pergaulan, sedangkan di lingkungan sekitar terutama di kelas, anak dengan perilaku odd ini bisa mengganggu suasana belajar, memicu konflik dengan guru atau teman, serta membuat kegiatan belajar menjadi tidak kondusif.

    BalasHapus
  89. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    izin menambahkan sedikit, menurut saya anak dengan ODD ini, jika terus dibiarkan berkelanjutan, dia juga bisa gampang frustasi, merasa selalu kurang di fahami, kurang percaya diri, susah mendapatkan teman, dan juga berpengaruh ke akademik anak kedepannya.

    BalasHapus
  90. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    izin menanggapi kembali, saya sangat setuju dengan penjelasan penangan yang bapak bagikan tentang anak dengan ODD ini, karena menurut saya pendekatan yang digunakan ini tidak langsung menyalahkan si anak tetapi lebih fokus pada pemahaman dan hubungan. Terutama pada langkah yang seperti tetap tenang, konsisten, dan memperkuat perilaku positif itu juga penting, karena anak dengan ODD ini cenderung bereaksi lebih keras kalau kita menghadapinya dengan emosi atau hukuman, tetapi sebaliknya kalau kita bereaksi lebih tenang dan stabil anak merasa lebih aman dan tidak terpancing untuk terus melawan, selain itu kita juga harus memahami akar masalah, mengenali pemicu emosi nya, juga menciptakan ruang tenang untuk anak.

    BalasHapus
  91. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    dari pembahasan anak dengan ODD ini, selain penanganan yang ada di bagian web ini, menurut saya kita juga bisa melakukan beberapa cara lain untuk membantu si anak dengan ODD ini, contohnya yaitu jika dilakukan secara bersama-sama antara sekolah/guru dan keluarga. menurut saya kita bisa kerja sama yang kuat dengan orang tua di anak agar perilaku anak akan lebih mudah dikelola kalau aturan dan cara merespons di rumah dan di sekolah sejalan. Komunikasi rutin antara guru dan orang tua membantu memantau perkembangan anak dan menyepakati strategi yang sama, karena menurut saya penanganan ODD ini akan lebih efektif jika dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada perilaku di kelas, tetapi juga melibatkan lingkungan rumah dan lingkungan profesional.

    BalasHapus
  92. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Materi ini membuka wawasan saya bahwa menghadapi peserta didik dengan ODD tidak bisa disamakan dengan pendekatan disiplin pada umumnya. Guru perlu menyadari bahwa perilaku menentang sering kali muncul karena emosi yang belum terkelola, bukan karena siswa sengaja ingin melawan. Hal yang menarik dari materi ini adalah penekanan pada konsistensi guru dalam aturan dan respon, di kelas Sekolah Dasar konsistensi ini membantu siswa merasa aman karena tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jika guru berubah-ubah dalam menanggapi perilaku siswa, justru dapat memicu konflik baru pada anak dengan ODD.

    Selain itu, membangun hubungan positif antara guru dan siswa menjadi kunci utama, ketika siswa merasa diterima dan dihargai, mereka lebih mudah diajak bekerja sama dan juga guru perlu fokus pada kemajuan kecil yang dicapai siswa, bukan hanya pada perilaku negatif yang muncul. Dari materi ini saya belajar bahwa keberhasilan guru dalam membantu siswa dengan ODD tidak diukur dari cepatnya perubahan perilaku, tetapi dari proses pendampingan yang berkelanjutan dan penuh empati, pendekatan inilah yang sangat relevan diterapkan di sekolah dasar.

    BalasHapus
  93. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya pak, mengapa guru dilarang sekali untuk balas marah atau ngegas ketika menghadapi murid yang sedang tantrum atau menentang? apa efeknya ke murid kalau gurunya malah terpancing emosi?

    BalasHapus
  94. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya kembali pak, daripada memberikan ancaman (ultimatum), kenapa mendingan memberikan pilihan ke siswa? apa hubungannya sama rasa dihormati dan otonomi si murid?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya,ketika seorang guru menawarkan pilihan, hal itu menunjukkan bentuk penghormatan terhadap martabat siswa sebagai individu yang mampu berpikir, yang pada akhirnya dapat menurunkan sikap defensif atau membangkang yang sering muncul pada kondisi seperti ODD.Semoga membantu ya

      Hapus
  95. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, artikel ini menjelaskan dengan baik bahwa perilaku menentang pada siswa dengan ODD bukan sekadar kenakalan biasa. Guru perlu memahami bahwa perilaku tersebut adalah bentuk komunikasi, sehingga diperlukan kesabaran dan empati dalam menanganinya.

    BalasHapus
  96. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, sikap guru yang tetap tenang dan konsisten sangat penting dalam menghadapi siswa dengan ODD. Jika guru ikut terpancing emosi, situasi justru bisa semakin memburuk dan siswa merasa tidak dipahami.

    BalasHapus
  97. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090


    Guru dapat menciptakan lingkungan aman dengan tempat sensorik dan strategi tap-in/tap-out, memberikan pilihan untuk meningkatkan otonomi siswa, serta membangun hubungan positif untuk membantu mengatasi tantangan perilaku ODD. 😊

    BalasHapus
  98. Nama : Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Strategi penanganan ODD juga meliputi memperkuat perilaku positif melalui perhatian dan penghargaan untuk kemajuan kecil, memahami akar masalah dengan melihat perilaku sebagai bentuk komunikasi, serta mengidentifikasi tanda stres fisik untuk mencegah puncak emosi.

    BalasHapus
  99. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Reaksi defensif dari guru dapat memperburuk perilaku ODD, sehingga ahli menyarankan pendekatan yang lebih konstruktif seperti tetap tenang dan konsisten dengan nada suara positif, bahasa tubuh netral, serta penggunaan frasa pemicu konsisten untuk menandakan waktu menenangkan diri.

    BalasHapus
  100. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Oppositional Defiant Disorder (ODD) adalah kondisi di mana anak menunjukkan perilaku menentang, tidak kooperatif, dan bermusuhan terhadap figur otoritas secara intens dan berkelanjutan selama minimal enam bulan, dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial sebagai penyebab yang diduga serta sekitar 16% anak berisiko, terutama mereka dengan ADHD.

    BalasHapus
  101. Penjelasan mengenai hubungan antara ODD dengan ADHD sangat membantu untuk saya sebagai calon pendidik untuk memahami bahwa perilaku menantang siswa sering kali berakar pada faktor biologis dan psikologis yang kompleks, bukan sekadar kenakalan biasa yang disengaja.

    BalasHapus
  102. Saya setuju dengan poin bahwa konsistensi antara perkataan dan tindakan guru adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan dengan siswa ODD, karena ketidakkonsistenan hanya akan membuat siswa merasa memiliki celah untuk terus melanggar aturan.

    BalasHapus
  103. Artikel ini dengan sangat jelas menekankan bahwa dalam menghadapi siswa dengan ODD, guru harus mampu menahan diri dari reaksi defensif atau emosional, karena kemarahan guru justru akan memberikan kepuasan bagi siswa tersebut dan memperburuk situasi di dalam kelas.

    BalasHapus
  104. Artikel ini secara efektif mengingatkan para pendidik bahwa tujuan utama dalam menangani siswa ODD bukan sekadar menghukum perilaku buruknya, melainkan membangun hubungan yang lebih baik guna membantu siswa tersebut beradaptasi dengan lingkungan rumah maupun sekolah.

    BalasHapus
  105. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Jadi berperan penting bagi siswa yang mengalami gangguan atau mudah prustasi
    Jadi guru membimbing mereka supaya bisa mengikuti pelajaran tersebut dimana guru memberikan waktu kepada mereka untuk jeda sebentar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat pembelajaran dimulai guru akan melakukan literasi
      Singkat bagi siswa supaya tertarik untuk mau belajar.

      Hapus
    2. Selain itu juga guru mendukung siswa yang mengalami gangguan mental
      Sehingga guru membimbing mereka dalam pembelajaran tersebut
      Jadi guru memberi contoh dan simulasi singkat kepada siswa tersebut.

      Hapus
    3. Di lingkungan keluarga biasanya anak sering terganggu oleh keberisikan
      Oleh teman jadi orang tua sangat penting mendidik mereka dan penuh
      Kasih sayang

      Hapus
    4. Jadi guru memberi motivasi belajar kepada siswa yang mengalami gangguan jadi membaca secara pedagogis jadi dan memberi umpan balik
      Kepada siswa tersebut supaya semangat belajar

      Hapus
  106. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Tulisan ini mengingatkan kita bahwa perilaku menantang pada anak bukan sekadar soal “bandel”, tetapi sering kali merupakan cara mereka menyampaikan kebutuhan dan emosi yang belum bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pendekatan yang tenang, konsisten, dan penuh empati seperti membangun hubungan, memberi pilihan, serta menguatkan perilaku positif sangat relevan untuk diterapkan di kelas. Dengan memahami akar masalah dan menyediakan ruang aman bagi siswa, guru tidak hanya membantu meredakan konflik, tetapi juga berperan besar dalam membentuk kemampuan anak untuk mengelola emosi dan berinteraksi secara lebih sehat dalam keseharian mereka.

    BalasHapus
  107. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Ternyata menghadapi murid yang terkena ODD itu intinya jangan terpancing emosi. coba untuk menggunakan bahasa tubuh yang netral, lalu kemudian pahami akar permasalahannya (karena perilaku itu membentuk komunikasi). dan berikan mereka pilihan agar tidak merasa di ultimatum. hubungan yang baik sama guru itu kuncinya supaya mereka pelan-pelan bisa berubah.

    BalasHapus
  108. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Pembelajaran penting untuk hari ini yaitu, perilaku murid yang menentang itu sebenarnya cara mereka berkomunikasi. alih-alih langsung ngegas mending kita ajak mengobrol dan memberikan waktu untuk mereka bercerita. menghargai otonomi mereka dengan memberikan pilihan-pilihan juga ternyata bisa membuat suasana hati mereka lebih baik. jadi sabar itu memang kuncinya.

    BalasHapus
  109. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    Menurut aku, ini ngomongin tentang bagaimana guru sangat penting bantu anak yang susah belajar di sekolah. Guru bukan cuma ngajarin pelajaran, tapi juga ngerti anak-anak yang lagi kesulitan dan mau bantu mereka supaya tidak bingung di kelas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru itu kaya teman yang mengerti perasaan kita ketika belajar susah. Kadang anak merasa susah karena pelajarannya berat atau karena pengalaman yang bikin takut belajar, dan guru harus pinter cari cara supaya kita merasa nyaman dulu.

      Hapus
    2. guru itu harus pakai cara yang sabar dan penuh pengertian, bukan cuma marahin kalau anak nggak bisa. Dengan begitu, anak yang awalnya takut belajar bisa mulai percaya diri lagi dan berani tanya kalau tidak ngerti pelajarannya.

      Hapus
  110. Menurut aku, guru juga harus bisa bikin suasana belajar yang asyik dan aman, supaya kalau ada yang kesulitan, anak-anak nggak malu, dan bisa cerita atau tanya tanpa takut salah. Ini penting biar semua anak bisa ikut pelajaran dengan baik.

    BalasHapus
  111. Nama: Stevani
    NPM: 2386206945
    Kelas: VC
    Wahh baru dengar ODD Hmm, Setelah membaca materi ini, saya jadi paham bahwa perilaku ODD bukan sekadar anak “bandel” atau suka melawan, tapi ada kebutuhan emosional dan tekanan tertentu di balik sikap menentang tersebut. Materi ini menegaskan bahwa kunci penanganan ODD ada pada sikap guru yang tenang, konsisten, dan empatik, bukan reaktif atau emosional. Strategi seperti memperkuat perilaku positif, memberi pilihan, menyediakan ruang tenang, dan membangun hubungan personal terasa sangat realistis untuk diterapkan di kelas. Sebagai mahasiswa calon pendidik, ini mengingatkan saya bahwa memahami akar perilaku siswa jauh lebih penting daripada sekadar memberi hukuman, karena dari situlah perubahan perilaku yang lebih sehat bisa dibangun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah yang sering kejadian itu, anak dengan ODD sering dikira cuma “bandel” atau cari gara-gara. Alhasil, guru keburu emosi, main marah atau hukuman, padahal itu malah bikin anak makin ngeyel. Ditambah lagi, guru kadang susah konsisten, belum sempat ngulik penyebab perilakunya, dan capek sendiri karena kurang dukungan. Jadi bukannya beres, situasi kelas malah makin ribet.

      Hapus
  112. Nama: Arjuna
    Npm: 2386206018
    Kelas: 5A
    Peran guru juga termasuk ngasih dukungan emosional dan motivasi supaya siswa nggak cepat nyerah waktu menghadapi tantangan belajar yang susah kalau guru bisa jadi tempat yang aman buat siswa cerita atau minta bantuan itu bisa bikin siswa makin percaya diri dan berkembang

    BalasHapus
  113. nama;erfina feren heldiana
    kelas:5c
    guru berperan penting dalam mengidentifikasi dan mendukung siswa yang mengalami kesulitan belajar, melalui bimbingan individual, strategi diferensiasi, dan pemantauan progres belajar. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif agar guru bisa menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan masing-masing siswa tanpa mengganggu ritme kelas secara keseluruhan?

    BalasHapus
  114. Nama : Miftahul Hasanah
    kls : 5C

    Penggunaan alat evaluasi dan kegiatan remedial kreatif untuk membantu siswa mengatasi kesulitan belajar. Namun di praktik nyata, waktu dan sumber daya terbatas. Menurut Bapak, bagaimana guru bisa menyeimbangkan antara kebutuhan siswa yang mengalami kesulitan dan tuntutan kurikulum kelas secara efektif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Putri Lestari Pinang
      NPM : 2386206081
      Kelas : 5D PGSD

      Izin bantu jawab ya, keseimbangan antara kebutuhan siswa yang kesulitan dan tuntutan kurikulum dapat dicapai lewat pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yang mengutamakan materi esensial daripada hanya mengejar ketuntasan administratif. Guru perlu memetakan kompetensi dasar yang menjadi fondasi utama, lalu memberikan bantuan sementara atau scaffolding yang spesifik bagi siswa yang tertinggal agar mereka tetap bisa mengakses materi kelas tanpa merasa kewalahan. Dengan memanfaatkan strategi pengelompokan fleksibel dan tutor sebaya, guru dapat mendampingi kelompok kecil yang membutuhkan bantuan intensif selagi siswa lain belajar mandiri, sehingga standar kurikulum tetap terpenuhi tanpa mengabaikan perkembangan individual siswa. semoga membantu ya

      Hapus
  115. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    Terima kasih atas materi yang bapak sampaikan, penanganan siswa dengan Oppositional Defiant Disorder atau ODD menuntut perubahan paradigma dari pola otoriter menjadi pola yang lebih strategis dan taktis. Kunci utamanya terletak pada kemampuan guru untuk menghindari jebakan perebutan kekuasaan yang biasanya dipicu oleh keinginan siswa untuk memegang kendali. disaat seorang guru terlibat dalam argumen panjang di depan kelas, siswa ODD justru merasa menang karna berhasil mengalihkan perhatian dan mengendalikan emosi orang dewasa. guru harus bisa memberikan instruksi yang singkat dan netral, lalu segera mengalihkan pandangan atau menjauh untuk memberikan ruang bagi siswa tersebut memproses instruksi tanpa merasa "ditekan" di bawah tatapan publik.

    BalasHapus
  116. Nama : Reslinda
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206067

    Saya setuju banget kalau pendekatan personal itu kunci. Terkadang siswa cuma butuh didengarkan tanpa langsung dihakimi. Artikel ini ngasih gambaran konkret gimana cara kita sebagai pendidik untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun. Ini bakal jadi bekal berharga buat saya saat PPL nanti agar lebih sabar menghadapi dinamika di kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Reslinda
      Kelas : 5C
      Npm : 2386206067

      Nahh di tengah tuntutan kurikulum yang padat, isu kesehatan mental siswa kadang terlupakan. Padahal, kalau emosinya belum stabil, materi pelajaran setinggi apa pun bakal sulit masuk. Artikel ini sangat membantu mahasiswa untuk memahami bahwa kecerdasan emosional guru adalah instrumen utama dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif.

      Hapus
  117. Nama : Reslinda
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206067

    Izin bertanya Pak, bagaimana tips menghadapi siswa yang memiliki masalah emosional tapi cenderung sangat tertutup atau menarik diri (introvert)? Terkadang pendekatan yang terlalu langsung justru membuat mereka semakin menjauh. Kira-kira pendekatan halus seperti apa yang paling efektif buat tipe siswa seperti itu?

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak