Teori belajar adalah landasan penting dalam dunia pendidikan, memberikan panduan bagi para pendidik untuk mengembangkan strategi pengajaran yang efektif. Salah satu teori yang menonjol dalam bidang ini adalah Teori Belajar Bruner. Jerome Bruner, seorang psikolog pendidikan asal Amerika, mengembangkan teori ini dengan fokus pada pendekatan kognitif terhadap proses pembelajaran.
Jerome Bruner mengemukakan teorinya pada tahun 1960-an sebagai respons terhadap dominasi teori behaviorisme yang saat itu populer. Bruner berargumen bahwa pembelajaran bukan sekadar hasil dari stimulus-respons, tetapi melibatkan proses mental yang kompleks. Menurut Bruner, manusia adalah makhluk aktif yang secara terus-menerus membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan.
Bruner percaya bahwa pembelajaran melibatkan tiga tahapan utama: enaktif, ikonik, dan simbolik. Ketiga tahapan ini berfungsi sebagai representasi mental yang membantu individu memahami konsep-konsep yang kompleks.
1. Tahap Enaktif: Pada tahap ini, pembelajaran terjadi melalui tindakan langsung terhadap objek. Anak-anak, misalnya, belajar mengenal bentuk dengan memanipulasi objek secara fisik.
2. Tahap Ikonik: Pada tahap ini, pembelajaran terjadi melalui penggunaan gambar atau representasi visual. Anak-anak mulai dapat memvisualisasikan objek tanpa harus langsung memanipulasinya.
3. Tahap Simbolik: Tahap terakhir ini melibatkan penggunaan simbol-simbol, seperti bahasa atau angka, untuk mewakili konsep. Ini adalah tahap di mana pembelajaran abstrak, seperti matematika, mulai terjadi.
Prinsip-Prinsip Teori Bruner dalam Pembelajaran
Bruner mengemukakan beberapa prinsip dasar yang mendasari teorinya:
- Kesiapan (Readiness)**: Pembelajaran harus disesuaikan dengan kesiapan kognitif siswa. Artinya, materi pembelajaran harus disampaikan sesuai dengan tahap perkembangan mental siswa. Misalnya, dalam pembelajaran matematika, konsep-konsep abstrak seperti aljabar tidak boleh diajarkan terlalu dini sebelum siswa memahami konsep dasar angka.
- Spiral Curriculum**: Bruner memperkenalkan konsep kurikulum spiral, di mana materi pembelajaran diperkenalkan pada tingkat dasar terlebih dahulu dan kemudian diulang dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi seiring perkembangan siswa. Misalnya, konsep pecahan diperkenalkan pada tahap awal dengan representasi visual, dan kemudian diajarkan secara lebih abstrak pada tahap selanjutnya.
- Penemuan (Discovery Learning)**: Bruner menganjurkan metode belajar penemuan, di mana siswa didorong untuk menemukan konsep-konsep baru melalui eksplorasi dan investigasi. Dalam matematika, ini bisa berarti memberikan siswa kesempatan untuk menemukan pola atau rumus melalui pengamatan dan percobaan sendiri.
Aplikasi Teori Bruner dalam Pendidikan Matematika
Teori Bruner memiliki aplikasi yang signifikan dalam pendidikan matematika. Pendekatan ini mendorong siswa untuk tidak hanya menghafal fakta-fakta matematis, tetapi juga memahami konsep-konsep dasar melalui proses eksplorasi dan penemuan.
1. Pembelajaran yang Berfokus pada Pemahaman Konseptual: Dengan menerapkan prinsip kurikulum spiral, guru matematika dapat memperkenalkan konsep-konsep dasar seperti penjumlahan, pengurangan, dan perkalian pada tahap awal, dan kemudian secara bertahap memperkenalkan konsep-konsep yang lebih kompleks seperti persamaan dan fungsi. Ini membantu siswa membangun pemahaman konseptual yang kuat.
2. Penggunaan Alat Manipulatif: Pada tahap enaktif, penggunaan alat manipulatif seperti balok, koin, atau gambar dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematis secara konkret sebelum beralih ke representasi simbolik. Misalnya, siswa dapat menggunakan balok untuk mempelajari konsep pecahan sebelum beralih ke notasi angka.
3. Pembelajaran Berbasis Penemuan: Dalam pembelajaran matematika, siswa dapat didorong untuk menemukan rumus atau pola melalui eksperimen dan pengamatan. Misalnya, guru dapat memberi siswa berbagai segitiga dan meminta mereka menemukan hubungan antara panjang sisi-sisi segitiga tersebut. Dengan cara ini, siswa akan belajar tentang teorema Pythagoras melalui proses penemuan.
Implikasi Teori Bruner untuk Pendidik
Teori Bruner memiliki beberapa implikasi penting bagi pendidik, terutama dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran:
1.Pendekatan Individual: Guru perlu mempertimbangkan tahap perkembangan kognitif masing-masing siswa saat merancang pembelajaran. Ini berarti bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan siswa, serta memberikan tantangan yang sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir mereka.
2. Pengulangan Materi dengan Tingkat Kesulitan yang Meningkat: Kurikulum spiral yang diusulkan oleh Bruner menekankan pentingnya pengulangan materi dengan tingkat kesulitan yang semakin meningkat. Ini memungkinkan siswa untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif terhadap konsep-konsep yang telah mereka pelajari.
3. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis**: Metode belajar penemuan mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Guru harus menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, mengeksplorasi kemungkinan, dan menemukan jawaban sendiri.
Kritik Terhadap Teori Bruner
Meskipun Teori Bruner memiliki banyak keunggulan, ada beberapa kritik yang diajukan terhadapnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa teori ini terlalu idealis dan sulit diterapkan dalam praktik, terutama dalam konteks kelas dengan jumlah siswa yang besar. Selain itu, tidak semua siswa dapat belajar secara efektif melalui metode penemuan; beberapa siswa mungkin membutuhkan lebih banyak panduan dan instruksi langsung dari guru.
Teori Belajar Bruner menawarkan pendekatan yang komprehensif dan berpusat pada siswa dalam proses pembelajaran. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Bruner dalam pendidikan matematika, guru dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan bermakna terhadap konsep-konsep matematis. Meskipun menghadapi beberapa kritik, teori ini tetap relevan dan berharga dalam merancang strategi pembelajaran yang efektif dan inspiratif.

Saya setuju dengan kritik yang disampaikan kepada teori Bruner, teori ini terlalu kompleks jika diterapakn pada anak didik yang jumlahnya banyak, belum lagi harus memperhatikan kegiatan eksplorasi pada poin 3 untuk penemuan, munkin ketika dicontoh untuk pembelajaran matematika bisa saja memanfaatkan media buatan yang ada, tapi kalo dalam pembelajaran ipa? sains? apakah harus ada penemuan oleh siswa sendiri? apakah tidak memperhatikan bagaimana kondisi sekolah dan letak sekolah?
BalasHapushmm,, agak sulit ya diterapkan.
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Menurut saya, tanggapan Alusia sangat realistis dan masuk akal , kritik bahwa teori Bruner terasa kompleks dan sulit diterapkan di kelas dengan jumlah siswa banyak, fasilitas terbatas, dan kondisi sekolah yang beragam itu memang benar adanya. Namun, di sisi lain, teori Bruner sebenarnya tidak harus dipahami sebagai siswa wajib menemukan semuanya sendiri lewat percobaan besar dan lengkap, melainkan lebih pada cara bertahap membangun pemahaman , dari pengalaman langsung (enaktif), ke gambar atau model (ikonik), lalu ke simbol dan rumus (simbolik). Dalam IPA atau sains, penemuan tidak selalu harus berupa eksperimen laboratorium; bisa saja lewat pengamatan sederhana, demonstrasi guru, diskusi berdasarkan gambar atau video, atau kegiatan kecil yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Jadi, kekhawatiran Alusia soal konteks dan keterbatasan di lapangan itu sangat tepat, dan di situlah peran guru untuk tidak mengambil teori Bruner secara mentah-mentah, tetapi memilih dan menyesuaikan bagian-bagian yang masih mungkin diterapkan agar tetap memberi ruang bagi siswa untuk berpikir, mengeksplorasi, dan memahami konsep dengan lebih bermakna.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Alusia Arafia Windiati, aku sepakat dengan pendapat yang diberikan oleh Alusia jadi kritikan terhadap teorinya Bruner memanglah sudah releven/sesuai, dikarenakan pendekatan discoveri learning itu menuntut kondisi yang ideal, seperti jumlah siswanya yang mungkin sedikit, lalu fasilitasnya yang memadai, dan juga waktu yang cukup. Nahh dalam pembelajaran IPA atau SAINS tidaklah semua konsep itu harus di temukan sendiri oleh siswa, terutama jika ada keterbatasan alat dan juga kesiapan siswa yang tidak mendukung. Nahh oleh karena itu, teori Bruner ini perlu untuk diterapkan secara fleksibel dikombinasikan dengan penjelasan langsung dari gurunya dan juga disesuaikan dengan kondisinya sekolahnya juga agar pembelajarannya akan tetap efektif.
Nama : Putri Anggraeni
HapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menanggapi pendapat Alusia ya. Menarik banget poin yang kamu sampaikan, Al! Memang benar kalau kita bicara realita di lapangan, apalagi dengan jumlah siswa yang banyak dan fasilitas sekolah yang terbatas, penerapan Discovery Learning ala Bruner ini punya tantangan besar.
Mengenai pertanyaan kamu soal sains atau IPA, menurut pandanganku, "penemuan" di sini nggak harus selalu berarti siswa menemukan teori baru layaknya ilmuwan di laboratorium canggih. Kita bisa mengakalinya dengan eksperimen sederhana menggunakan bahan alam di sekitar sekolah. Justru dengan memperhatikan letak sekolah, kita bisa memanfaatkan lingkungan sebagai laboratorium alami.
Tapi aku setuju sama kamu bahwa teori ini memang butuh persiapan guru yang ekstra matang supaya kelas nggak jadi kacau saat proses eksplorasi. Jadi, mungkin kuncinya ada pada modifikasi metode sesuai kondisi sekolah masing-masing, nggak harus dipaksakan kaku sesuai teori aslinya. Terima kasih ya Alusia
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Luar biasa Pak.
Cukup membaca satu blog tulisan Bapak saya sudah tau dan memahami apa itu teori belajar Brunner. Dengan gaya penulisan Bapak yang sangat informatif dan membuat pembahasan menjadi tidak terlalu berat saya jadi tau siapa tokoh yang menciptakan teori belajar Brunner ini, pengertian teori Brunner, tahapan-tahapan utamanya, prinsip-prinsipnya, penerapannya dalam ilmu matematis, dampak teori Brunner pada pendidik, dan juga kritik kepada teori Brunner itu sendiri.
Terimakasih banyak Pak! 😃
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Saat saya membaca paragraf yang membahas kritik terhadap teori Brunner, saya jadi timbul pertanyaan Pak. Bagaimana seandainya teori Brunner ini benar-benar tidak ada atau tidak di terapkan dalam pendidikan di Indonesia terutama pada pembelajaran matematika? kira-kira apa yah yang bakal terjadi?
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Kalau seandainya teori Brunner ini tidak di terapkan atau bahkan tidak ada sama sekali pasti banyak sekali kan persoalan yang timbul. Karena teori belajar ini sangat berharga dan relevan.
Kalau teori belajar Brunner tidak ada, pembelajaran di Indonesia bisa jadi terlalu sulit dan pastinya makin membingungkan, terutama bagi anak-anak. Teori Brunner membantu guru mengajarkan matematika secara bertahap—mulai dari praktik langsung (seperti menghitung benda), lalu lewat gambar, dan akhirnya mengenal dan mempelajari simbol atau angka. Tanpa pendekatan ini, anak-anak bisa jadi langsung dihadapkan pada angka dan rumus tanpa tau 'maknanya'. Akibatnya, mereka mungkin hanya menghafal tanpa benar-benar paham. Pembelajaran juga pasti akan terasa membosankan dan tidak menyenangkan sama sekali. Karena tidak menggunakan permainan, alat peraga (media pembelajaran), atau eksplorasi.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Ada anak yang lebih suka bergerak atau melihat gambar, kalau tidak dibarengi dengan teori belajar Brunner ini, pasti anak tersebut akan sangat kesulitan mengikuti pelajaran. Selain itu, guru mungkin akan lebih sering menggunakan metode ceramah dan hafalan, bukan menciptakan pembelajaran yang membuat anak aktif dan menemukan pembelajaran itu sendiri (prinsip discovery learning).
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Jadi, bisa dibayangkan bagaimana pembelajaran di Indonesia tanpa teori Brunner
Pembelajaran matematika pasti akan kehilangan banyak sekali makna, terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Tidak cocok untuk anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar dengan cara yang beragam. Tanpa teori belajar Brunner, pembelajaran matematika bisa berubah seperti hanya memberikan peta kepana anak tanpa mengajak mereka berjalan mengikuti arah peta itu. Anak-anak hanya disuruh menghafal arah tanpa tau apa sih itu gunung, sungai, atau jalan setapak. Padahal, belajar matematika seharusnya seperti petualangan. Dimulai dari menyentuh, melihat, lalu memahami. Kalau saya analogikan teori Brunner ini bagaikan kompas yang membantu guru menuntun anak-anak dari dunia nyata ke dunia simbol. Tanpa kompas tadi, pembelajaran bisa jadi kehilangan warna, kehilangan makna, dan kehilangan senyum anak-anak yang sedang belajar dengan cara mereka masing-masing.
BalasHapusNama: Maya Aprivani
Npm: 2386206013
Kelas: VA
setelah saya membaca materi ini khususnya pada bagian tahapan teori bruner saya sangat setuju dengan tahapan tersebut saya rasa tahapan-tahapan itu sangat membantu guru dalam memberikan pemahaman materi matematika agar mudah di mengerti karena apabila belajar matematika dengan metode ceramah saya rasa agak sulit untuk di pahami peserta didik.
3 poin tahapan teori bruner yaitu:
1. tahap enaktif, yang di mana kita mengajar dengan adanya tindakan langsung, misalnya ingin belajar tentang bangun ruang maka kita bisa membawa benda-benda yang masuk dalam bangun ruang seperti dadu, buku tulis, bola benda ini kita gunakan untuk memperkenalkan ini yang di nama kan sisi, rusuk, ddl. siswa langsung melihat dan mudah memahami
2. Tahap ikonik, siswa belajar dengan melihat gambar kubus, bola.dll, untuk membentuk pemahaman mereka tanpa melihat benda nyatanya.
3. tahap simbolik, kita mulai memberikan penjelasan cara menghitung jumlah sisi dengan rumus-rumus yang ada.
Terima kasih
Saya sangat setuju dengan Implikasi Teori Bruner untuk pendidikan, Dimana Guru yang bisa menarapkan ke 3 poin ini berarti Guru yang sudah siap menerima keadaan kelas yang ribut dan berantakan. Penerapan ke 3 poin ini juga adalah cara untuk pengajaran yang unggul atau individualitas, spiral menjamin kedalaman, dan penemuan menciptakan kemampuan berpikir kritis bagi siswa.
BalasHapusNama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Baik Pak menurut saya materi ini sangat baik karena memberikan pemahaman mendalam terkait bagaimana teori belajar bruner, yang dapat dijadikan dasar bagi peserta didik dalam menciptakan pengalaman belajar matematika yang bermakna. Materi di atas juga sangat penting bagi calon guru karena mengajarkan tentang pentingnya memahami proses berpikiberkelanjutan untuk membangun pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan🙏
Nama : Putri Anggraeni
HapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menanggapi, Isdiana! Aku setuju banget, materi ini emang jadi fondasi kuat buat kita sebagai calon guru SD. Poin kamu tentang "proses berpikir berkelanjutan" itu esensial banget, karena dengan memahami cara anak membangun pengetahuannya secara bertahap, kita bisa menciptakan pengalaman belajar yang nggak cuma efektif tapi juga bener-bener membekas buat siswa nanti, terimakasih isdi
Terima kasih bapak Materi mengenai Teori Belajar Bruner ini sangat mencerahkan, terutama saat dikaitkan dengan pendidikan matematika. Penekanan pada mode representasi (enaktif, ikonik, simbolik) memberikan kerangka yang kuat untuk merancang pembelajaran yang lebih mendalam dan bertahap.
BalasHapusNama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya membaca materi ini, menurut saya materi diatas cukup jelas dan lengkap dalam menjelaskan mengenai bagaimana proses kognitif berfungsi dalam pembelajaran, yaitu khususnya dalam mata pelajaran matematika. Pada penjelasan mengenai tiga tahap representasi yaitu enaktif, ikonik, dan juga simbolik menurut saya cukup membantu untuk memahami bagaimana siswa bergerak dari pemahaman yang konkret/nyata menuju abstraksi.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Menurut saya sebagai seorang mahasiswa, terutama calon guru, materi tentang Teori Belajar Bruner ini sangat membuka wawasan tentang bagaimana seharusnya kita memandang proses pembelajaran, khususnya dalam matematika. Selama ini, sering kali matematika diajarkan dengan cara langsung ke simbol dan rumus, padahal Bruner mengingatkan bahwa sebelum siswa bisa memahami simbol, mereka perlu melalui tahap enaktif (memanipulasi benda), kemudian ikonik (melihat gambar/representasi), baru simbolik (angka, rumus).
Saya jadi sadar bahwa banyak kesulitan siswa dalam matematika bukan semata-mata karena “tidak pintar”, tetapi karena mereka mungkin langsung dipaksa lompat ke tahap simbolik tanpa cukup pengalaman konkret dan visual. Misalnya, belajar pecahan langsung dengan 1/2, 1/4 di papan tulis, padahal seharusnya bisa dimulai dari memotong kue, kertas, atau menggunakan benda konkret. Di sini prinsip Bruner sangat relevan , siswa perlu “membangun sendiri” pemahamannya melalui pengalaman.
Konsep kurikulum spiral juga menurut saya sangat menarik. Bruner menekankan bahwa suatu konsep boleh dan bahkan sebaiknya diperkenalkan sejak dini dalam bentuk yang sederhana, lalu diulang lagi dengan tingkat kedalaman yang lebih tinggi sesuai perkembangan siswa. Ini mengajarkan kita bahwa tujuan mengajar bukan “habis materi, selesai”, tetapi memberi kesempatan siswa bertemu kembali dengan konsep yang sama, dengan sudut pandang yang makin dalam. Dalam konteks matematika, ini terlihat misalnya pada konsep pecahan, yang bisa muncul mulai dari kelas rendah dengan benda konkret, lalu naik menjadi operasi pecahan, sampai nanti ke persamaan dan fungsi.
Saya juga tertarik dengan ide belajar penemuan (discovery learning). Sebagai mahasiswa, saya merasa pendekatan ini bisa membuat pembelajaran lebih hidup dan bermakna, karena siswa dilibatkan untuk mencari pola, mengamati, dan menyimpulkan sendiri, bukan hanya diberi “rumus jadi”. Namun, saya juga setuju dengan kritik yang disebutkan di materi Bahwa tidak semua siswa nyaman atau mampu langsung belajar lewat penemuan, dan dalam kelas yang besar, guru perlu strategi dan manajemen yang baik agar tidak kacau. Artinya, menurut saya, discovery learning tetap penting, tetapi perlu dipadukan dengan penjelasan terarah dari guru, bukan dilepas begitu saja.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin bertanya pak dan teman - teman semua jika ingin menanggapi pertanyaan saya , Sebagai calon guru, bagaimana cara kamu mengetahui bahwa siswa sudah siap dalam kesiapan kognitif untuk berpindah dari tahap enaktif ke ikonik, atau dari ikonik ke simbolik?🙏🏻😊
Hallo ka Oktavia saya izin menjawab pertanyaannya.
HapusMenurut saya sebelum saya berpindah dari tahapan kognitif ke tahapan enaktif, ikonik ,ataupun simbolik. saya pertama-tama harus memastikan dulu bahwasannya siswa saya ini telah menguasai tingkat tahapan perkembangan kognitifnya, dengan cara memberikan materi untuk menambah pengetahuan mereka dan mengukur pengetahuan mereka sudah sejauh mana, menggunakan latihan-latihan seperti soal tertulis ataupun secara lisan menggunakan stimulus dan juga respon, setelah saya mengetahui hasil lalu kalau ada siswa yang belum mampu menguasai tahap kognitifnya saya akan memberikan pengulangan materi kembali tentunya dengan metode pembelajaran yang berbeda agar mereka lebih mampu menguasai tahap kognitifnya, selanjutnya juga saya menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk bisa belajar menguasai tahap kognitifnya sebelum benar-benar masuk ke tahap enaktif,ikonik dan juga simbolik dalam representasi mental siswa yang mempunyai fungsi memahami konsep-konsep yang lebih kompleks kedepannya.
Sekian Semoga bermanfaat..
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia Ramadani, sebagai calon guru kesiapan kognitif siswa itu dapat diketahui melalui observasi dan juga asesmen yang sederhana. Siswa itu dinilai siap berpindah ke tahap selanjutnya jikalau para siswa itu sudah mampu untuk menjelaskan kembali konsep secara mandiri, tidaklah lagi bergantungan pada benda konkret/enaktif, maupun memahami sebuah gambar atau model/ikonik, lalu mulai juga menggunakan simbol atau bahasa matematika dengan benar/simbolik.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Halo kak Oktavia izin menjawab ya, cara paling sederhana untuk tahu siswa siap pindah adalah dengan melihat kemandirian mereka, kalau siswa sudah lancar menjelaskan konsep pakai benda nyata berarti mereka sudah siap lanjut ke gambar, begitu juga selanjutnya ikonik ke simbolik, kita jangan terburu-buru pindah tahap sebelum pondasinya kuat.
semoga dapat menjawab pertanyaan dari kak Oktavia
Nama : Putri Anggraeni
HapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menjawab pertanyaannya ya, Oktavia! Menurutku, cara paling gampang buat ngecek kesiapan siswa adalah dengan observasi langsung saat proses belajar. Misalnya, kalau di tahap enaktif siswa sudah lancar memanipulasi benda nyata tanpa ragu, kita bisa coba pancing dengan menunjukkan gambar (ikonik) terkait benda tersebut.
Kalau mereka sudah bisa menjelaskan hubungan antara gambar dengan benda nyatanya tanpa bantuan fisik lagi, berarti kognitif mereka sudah siap buat lanjut. Jadi kuncinya ada di asesmen formatif kecil-kecilan atau tanya jawab santai di sela kegiatan buat lihat sejauh mana pemahaman mereka sebelum kita kasih simbol-simbol yang lebih abstrak. Semoga membantu ya!
Nama:Arjuna
BalasHapusKelas:5A
Npm:2386206018
Baik pak terimakasih menurut saya, teori belajar Bruner punya peran penting dalam membantu guru memahami bagaimana siswa sebenarnya belajar. Selama ini, banyak pembelajaran hanya menekankan hafalan atau langkah-langkah prosedural, padahal Bruner mengingatkan bahwa belajar itu proses yang melibatkan pemikiran, bukan sekadar menerima informasi.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menanggapi terkait materi ini,dari teori Bruner ini menarik karena membagi proses belajar jadi tahapan-tahapan yang jelas, mulai dari yang paling konkret (langsung pakai benda) sampai yang abstrak (pakai simbol).jadi, guru bisa lebih mudah menyesuaikan cara mengajar dengan kemampuan siswa.nah dalam teori Belajar Bruner tetap relevan sampai sekarang karena menekankan pentingnya pemahaman konsep daripada hafalan.ini sesuai dengan tujuan pendidikan modern yang ingin menghasilkan siswa yang kritis dan kreatif.
Nama : Putri Anggraeni
HapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menanggapi ya, Maria! Aku sepakat banget sama poin kamu tentang gimana teori Bruner ini membantu kita sebagai calon guru untuk nggak cuma fokus ke hafalan. Menurutku, transisi dari tahap konkret ke abstrak itu emang krusial banget buat anak SD, supaya mereka nggak bingung sama konsep yang "awang-awang".
Bener kata kamu, pemahaman konsep itu jauh lebih awet nempelnya di ingatan siswa dibanding cuma hafal teks saja. Ini sangat relevan sama tujuan kita nanti untuk menciptakan suasana belajar yang kritis dan kreatif. Dengan membagi proses belajar jadi tahapan yang jelas, kita jadi lebih mudah buat memetakan kemampuan anak didik kita yang pastinya berbeda-beda. Makasihh maria
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
nah dalam Teori ini menekankan pentingnya siswa mengalami sendiri proses belajar.misalnya, daripada cuma dikasih rumus, lebih baik siswa diajak bereksperimen atau mengamati sesuatu.ini bikin siswa lebih paham dan ingat materi pelajaran.kemudian juga dalam teori ini, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan sendiri pengetahuan.guru tidak hanya memberikan informasi, tapi juga menciptakan lingkungan belajar yang mendukung siswa untuk bereksplorasi dan bertanya.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM: 2386206009
Kelas: V A PGSD
Dari konsep kurikulum spiralnya bagus, karena materi pelajaran bisa diajarkan berulang-ulang dengan tingkat kesulitan yang berbeda.jadi, siswa bisa terus memperdalam pemahaman mereka tentang suatu konsep.dalam teori ini juga mengingatkan kita bahwa setiap siswa punya kesiapan belajar yang berbeda-beda.jadi, guru perlu memperhatikan karakteristik siswa sebelum memberikan materi pelajaran.
Nama : Maria RitnaTati
BalasHapusNPM:2386206009
Kelas:VA PGSD
Tambahan terkait materi ini,nah walaupun teorinya bagus, tapi ada juga kritiknya dari saya.salah satunya, teori ini mungkin sulit diterapkan kalau jumlah siswa terlalu banyak.selain itu, tidak semua siswa bisa belajar efektif dengan metode penemuan, ada yang butuh instruksi langsung.dan dalam teori belajar Bruner bisa dikombinasikan dengan teori belajar lain untuk menciptakan strategi pembelajaran yang lebih efektif.misalnya, bisa dikombinasikan dengan teori konstruktivisme yang menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka.
Terima kasih bapak telah memberikan materi ini, setelah saya baca materi bapan saya rasa saya suka sekali dengan pemaparan tentang tiga tahapan representasi mental menurut Bruner, yaitu Enaktif, Ikonik, dan Simbolik. Konsep ini benar-benar memberikan gambaran jelas bahwa proses belajar itu bukan cuma sekadar hafalan atau respons, tapi ada langkah-langkah yang harus dilalui agar pemahaman kita jadi kuat dan kompleks.
BalasHapusKalau kita hubungkan ke pengalaman sehari-hari, ini menjelaskan kenapa anak-anak harus belajar sambil melakukan (Enaktif), misalnya memegang balok untuk mengerti konsep jumlah. Setelah itu, baru mereka bisa pindah ke gambar (Ikonik), dan akhirnya ke angka atau rumus (Simbolik).
Khususnya di pendidikan matematika, menurut saya ini jadi dasar penting banget. Guru nggak boleh buru-buru langsung kasih rumus abstrak kalau siswanya belum kuat di tahap konkret atau visual. Jadi, pemahaman konsep dasar itu dibangun perlahan, dari yang paling nyata sampai yang paling abstrak. Intinya, materi ini menekankan bahwa belajar itu adalah proses aktif, di mana kita sendiri yang membangun pengetahuannya.
Dan juga pada bagian materi bapak tentang Kurikulum Spiral (Spiral Curriculum) Bruner ini menurut saya sangat menarik dan logis, terutama saat diterapkan di mata kuliah kita. Ide pengulangan materi dengan tingkat kesulitan yang makin lama makin tinggi itu terdengar masuk akal banget.
BalasHapusJadi, kita nggak cuma sekali belajar satu konsep terus selesai. Tapi, konsep dasarnya dikenalkan dulu, lalu di kelas berikutnya atau semester berikutnya, konsep yang sama itu diulas lagi, tapi dengan tambahan kedalaman dan tantangan yang lebih susah.
Contohnya yang ada di materi pecahan diperkenalkan awalnya pakai visual atau gambar atau alat bantu, lalu di tingkat selanjutnya diajarkan secara lebih abstrak. Ini bikin pondasi pemahaman kita jadi kuat, dan saat ketemu materi yang lebih rumit, kita nggak kaget karena dasarnya sudah pernah disentuh. Menurut saya, prinsip ini sangat membantu kita sebagai mahasiswa agar materi-materi yang kompleks bisa diserap secara bertahap dan lebih bermakna.
Saya juga mau mengomentari bagian Penemuan (Discovery Learning) dan juga kritiknya di akhir materi. Saya setuju banget kalau Bruner menganjurkan kita untuk mencari tahu konsep baru melalui eksplorasi dan percobaan sendiri. Metode ini jelas bisa melatih kita untuk berpikir kritis dan mandiri, bukan cuma menunggu disuapi informasi.
BalasHapusNamun, di sisi lain, saya juga melihat kritik terhadap teori ini ada benarnya. Seperti yang disampaikan, metode penemuan mungkin terasa idealis dan agak sulit diterapkan kalau jumlah siswanya terlalu banyak di kelas. Belum lagi, ada tipe mahasiswa atau siswa yang memang lebih nyaman dan butuh panduan yang lebih jelas dan langsung dari dosen atau guru.
Artinya, Teori Bruner ini memang keren banget karena berpusat pada siswa dan mendorong pemahaman mendalam, tapi dalam praktiknya, guru harus pintar-pintar menyeimbangkan. Kadang perlu metode penemuan, tapi di waktu lain mungkin siswa butuh instruksi langsung. Jadi, kita nggak bisa mengandalkan satu metode saja. Materi bapak ini sangat membantu karena juga menampilkan sisi kritik dari teori ini.
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Materi ini membahas tentang pentingnya guru memahami bagaimana anak berkembang dari berbagai aspek, yaitu :
1. Perkembangan bahasa
2. Perkembangan fisik
3. Perkembangan keterampilan (skill)
Jadi, guru itu nggak cuma ngajar materi tapi juga harus ngerti perkembangan anak dari segala sisi. Biar pas ngasih tugas kegiatan atau cara ngomong semuanya sesuai dengan tahap anak dengan begitu proses belajar, jadi lebih enak lebih ramah, dan pastinya lebih membekas.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Materi tentang teori bruner di udah ngejelasin banget gimana belajar itu bukan cuma ngafar rumus tapi bener-bener ngerti lewat proses cara bruner yang lewat tahap efektif ikonik sampai simbolik itu masuk akal karena anak memang butuh lihat, pegang, baru paham. spiral kurikulum juga keren karena anak-anak bisa belajar hal yang sama tapi levelnya naik terus cuma emang kalau kelasnya ramai, kadang guru susah ngatur aktivitas penemuan tapi secara umum teori ini bikin pembelajaran lebih hidup dan gak monoton
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Pendekatannya juga sebenarnya cocok banget buat matematika karena anak diajak mikir, bukan cuma nurut. Penggunaan benda manipulatif itu ngebantu banget biar konsep nggak cuma teori di papan tulis saja. Discovery learning juga bikin anak merasa penemuan sendiri, jadi belajarnya lebih nempel walaupun begitu butuh waktu lebih lama buat nerapin metode kayak gini. Jadi gurunya juga harus pintar ngatur ritme biar tetap efektif dalam pembelajaran.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Menurut saya juga materi tentang bruner ini nunjukin kalau belajar itu proses bertahap nggak bisa langsung instan ke simbol aja. banyak guru kadang lupa kalau anak itu sebenarnya butuh lihat gambar atau benda dulu sebelum masuk ke angka. Prinsip kesiapan dan spiral itu meningkatkan bahwa setiap anak punya tempo dari dirinya mereka sendiri. tapi benar juga kalau teori ini kelihatan ideal banget buat kondisi kelas besar. Meskipun begitu, ambil sebagian prinsipnya aja udah bisa bikin pembelajaran lebih bermakna buat siswa.
setelah membaca materi ini saya dapat tau bahwa kalau belajar itu bukan sekadar hafal dari apa yang dikasih guru, tapi ada proses berpikir yang dibangun dari tahap ke tahap mulai dari pembelajaran terjadi melalui tindakan langsung terhadap objek sampai tahap terakhir yang melibatkan penggunaan simbol seperti bahasa atau angka untuk mewakili konsep, dan juga semuanya itu bertahap Jadi, peran guru bukan cuma menyampaikan pelajaran, tapi menyiapkan langkah-langkah yang pas supaya anak bisa memahami konsep secara alami dan bertahap.
BalasHapusdan juga prinsip-prinsip teori Bruner ini dalam pembelajaran, makin kelihatan kalau pendekatannya benar-benar menekankan proses belajar yang bertahap dan masuk akal. Mulai dari kesiapan siswa, kurikulum yang disusun spiral, sampai pentingnya penemuan—semuanya saling nyambung. Intinya, Bruner ingin agar siswa memahami konsep bukan karena dipaksa hafal, tapi karena mereka memang siap dan diberi kesempatan untuk mengeksplor sendiri. Pendekatan ini bikin pembelajaran terasa lebih hidup, terutama di matematika, karena anak diberi ruang untuk mencoba, menemukan pola, dan membangun pengertian langkah demi langkah. Dengan cara seperti ini, konsep yang mereka pelajari jadi lebih kuat dan melekat karena tumbuh dari pengalaman, bukan sekadar penjelasan semata.
BalasHapusteori Bruner dalam pendidikan matematika dan implikasi teori Bruner untuk pendidikan juga ngajarin kita untuk engga hanya hafal fakta matematis, tapi juga paham konsep dasar melalui proses eksplorasi dan penemuan juga proses nya dilakukan secara bertahap dan berulang, tetapi tiap diulang harus dinaikin level pemahamannya jadi siswa bisa lebih paham
BalasHapusNama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Teori belajar Burner ini ngasih perspektif yang penting banget buat pembelajaran matematika, intinya Burner bilang kalau belajar itu bukan soal menunggu kita diberi jawaban, tapi proses aktif di mana siswa sendiri membangun pengetahuan mereka melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitar, itu beda banget dari cara belajar yang hanya menghafal atau sekedar mengikuti instruksi guru tanpa memahami esensinya. Bruner memperkenalkan tiga tahapan pembelajaran yang menurut saya keren sekali kalau diterapkan di kelas, terutama di sekolah dasar yaitu tahap enaktif, tahap ikonik dan tahap simbolik selain itu prinsip Bruner yang lain juga menarik, terutama tentang kesiapan siswa dan kurikulum spiral, Bruner bilang kalau materi harus disampaikan sesuai dengan kesiapan kognitif siswa, lalu diulang dan siperdalam secara bertahap seiring kemampuan mereka meningkat. Itu bikin pembelajaran terasa nyambung dari yang sederhana ke yang kompleks tanpa bikin siswa kebingungan. Namun dengan diterapkannya pendekatan teori belajar Bruner ini guru dapat membuat siswa mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan bermakna terhadap konsep-konsep matematis.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Menurut saya, pendekatan ini sangat cocok buat matematika karena matematika itu kan sering dianggap abstrak dan susah, dengan cara Bruner pembelajaran jadi lebih bermakna karena siswa benar-benar mengalami sendiri proses belajarnya bukan cuman ngehafal rumus tanpa ngerti kenapa rumus itu harus begitu dan cara ini juga bikin suasana belahar lebih hidup dan menyenangkan karena siswa aktif mencari tahu pola atau hubungan lewat eksplorasi, bukan duduk dian dan mencatat saja. Selain itu pendekatan ini juga punya tantangan yaitu untuk kelas besar, sulit banget buat guru kasih perhatian individual atau ngajarin tiap siswa sesuai tahap kognitifnya, kadang siswa yang belum siap fase simbolik tapi langsung diajak abstraksi bisa jadi malah bingung.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Selain itu proses penemuan teori ini memakan waktu lebih lama dibanding cara konvesional yang sekedar memberi rumus dan latihan soal serta kritik dari beberapa ahli terhadap teori belajara Bruner yang dianggap terlalu idealis dan sulit diterapkan dalam perakti. Tapi menurut saya jika diterapkan secara bertahap dan kreatif misalnya alat peraga yang sederhana, diskusi dan aktivitas yang memancing siswa bertanya maka pembelajaran matematika bisa jadi jauh lebih mudah dimengerti dan lebih bermakna ini bukan sekedar bikin mereka bisa berhitung, tapi bikin mereka ngerti apa makna dari angka dan konsep itu dalam kehidupan sehari-hari.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Menurut pandangan saya, saya memahami kalau teori belajar bruner ini menekankan kalau belajar adalah proses kognitif yang aktif, dimana siswa tak hanya menerima informasi secara pasif tetapi membangun pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi dengan lingkungandan pengalam belajar. Bruner menjelaskan bahwa belajar terjadi secara bertahap, mulai dari belajar lewat praktik langsung, lalu lewat gambar atau visual, sampai akhirnya memahami simbol seperti kata dan angka. Menurut saya sebagai pembaca, teori ini membantu guru membuat pembelajaran lebih bermakna dan tidak membosankan, karena siswa diajak berpikir dan mengeksplorasi, meskipun penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi kelas.
Nama : Putri Anggraeni
HapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menanggapi opini dari Erlynda ya. Setuju banget sama apa yang kamu sampaikan! Poin kamu tentang belajar sebagai "proses kognitif yang aktif" itu memang kunci utama dari pemikiran Bruner. Di artikel Bapak Dosen juga ditekankan kalau kita sebagai calon guru SD nanti nggak boleh sekadar "menyuapi" materi ke anak-anak.
Aku mau nambahin sedikit soal tahapan yang kamu sebutkan tadi (enaktif, ikonik, dan simbolik). Menurutku, teori ini bener-bener jadi solusi supaya pembelajaran di kelas nggak membosankan. Misalnya, kalau kita mau mengajarkan matematika, kita mulai dulu dari benda nyata (enaktif), baru ke gambar (ikonik), baru ke rumus (simbolik). Jadi, anak-anak nggak kaget dan merasa belajar itu beban.
Tantangannya memang bener kata kamu, kita harus pinter-pinter menyesuaikan dengan kondisi kelas dan karakteristik siswa yang beda-beda. Tapi kalau kita terapkan pendekatan Discovery Learning ini secara konsisten, pasti siswanya jadi lebih kritis dan mandiri. Semangat ya buat kita calon guru SD dalam menerapkan teori ini nanti!
Izin menambahkan pak, teori belajar bruner ini secara runtuhnya bisa dipahami dengan baik. Penjabaran tiga tahapan representasi, enaktif, ikonik, dan simbolik di paparkan dengan jelas serta diberi comtoh yang relevan, sehingga membantu para pembaca memahami cara proses perkembangan berpikir peserta didik dari konkret menuju hal yang abstrak.
BalasHapusMateri ini juga sangat kuat pada penekanan pemebelajaran tidak hanya terjadi secara instan, akan tetapi melalui representasi mental yang saling terikat. Hal ini sejalan dengan praktik pembelajaran yang bermakna.
Hapusmateri ini dapat memperluas pengetahuan dengan menambahkan kan beberapa contoh penerapan dalam kelas, misalnya bagaiamana guru dapat merancang aktivitas pembelajaran yang integrasi, selain itu penguatan pada impllikasi teori bruner dengan pemebelajaran inklusif dapat membuat materi ini semakin kontekstual.
BalasHapusPada prinsip kesiapan belajar dalam teori bruner secara tepat. Yang menekankan bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan suatu kesiapan kognitif siswa melihat kan pemahaman yang kuat terhadap suatu gagasan utama bruner, yakni belajsr akan lebih bermakna jika materi ini dituangkan dalam tahap perkembangan berpikir siswa.
BalasHapusDengan adanya contoh yang sudah diberikan dalam pemebelajaran matematika ini, khususnya untuk konsep aljabar, sangat relevan karena hal tersebut menggambarkan suatu resiko pemebelajaran yang terlalu dini terhadap suatu konsep.
HapusHal ini juga melihat kan penguatan guru dalam melakukan suatu asasemen di awal kesiapan belajar para siswa juga akan memperluas materi ini secara lebih mudah
BalasHapusTeori bruner di pembelajaran matematika, khusus nya dalam menggeser pembelajaran dari sekedar hafal hingga pemahaman konseptual. Penekanan pada hal ini sejalan dengan suatu pendekatan discovery learning.
BalasHapusHal ini menunjukkan bahwa suatu matematika tidak bisa di pahami dengan kumpulan rumu , melainkan konsep yang berkaitan dan dapat di temukan melalui pengalaman belajar. Hal ini sangat penting karena untuk mengembangkan kemampuan cara berpikir kritis pada siswa.
HapusMateri ini merangkum esensi Teori Belajar Bruner dengan baik, khususnya dalam penekanan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan pentingnya suatu pemahaman konseptual dalam matematika. Penekanan pada peran guru sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan berbagai konsep secara mandiri menunjukkan pemahaman yang tepat terhadap pendekatan discovery learning yang dikemukakan Bruner. Selain itu, pengakuan terhadap adanya kritik menambah keseimbangan materi.
BalasHapusSebagai calon pendidik ,bisa nih untuk mengaitkan suatu teori dengan praktik dalam kelas. Dan juga memberikan suatu landasan yang baik untuk para guru dalam merancang pemebelajaran matematika yang bermakna.
HapusTeori Bruner ini bikin saya sadar kalau matematika bukan cuma soal hasil akhir (stimulus-respons), tapi soal bagaimana proses mental siswa membangun konsep dari hal yang konkret ke yang abstrak. Keren banget pendekatannya!
BalasHapusSaya setuju sama poin Discovery Learning. Matematika itu seringnya bikin bosan kalau cuma menghafal rumus. Tapi kalau siswanya diajak bereksperimen sendiri buat nemuin pola—kayak contoh rumus Pythagoras tadi—pasti nempelnya lebih lama di otak karena mereka merasa 'menemukan' sendiri jawabannya.
HapusMenarik banget bagian Kurikulum Spiral-nya. Ternyata memang penting ya mengulang materi yang sama tapi tingkat kesulitannya dinaikkan pelan-pelan. Jadi siswa nggak merasa kaget, tapi pemahamannya makin lama makin dalam seiring perkembangan usia mereka.
BalasHapusNama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
teori belajar jerome bruner memberikan perspektif segar kalau matematika seharusnya nggk di ajarkan melalui hafalan kaku, melainkan melalui proses penemuan yang menyenangkan dan bertahap. dengan mengikuti urutan dari memanipulasi benda nyata hingga memahami simbol abstrak, siswa di ajak untuk membangun konsep secara mendalam dan nggk mudah lupa. penggunaan kurikulum spiral yang mengulang materi dengan tingkat kesulitan yang meningkat untuk memastikan pemahaman siswa semakin kokoh seiring waktu. sehingga matematika bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai tantangan kreatif yang seru.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
menurut saya, tiga prinsip utama di dalam teori belajar bruner sangat penting dalam pembelajaran matematika. di prinsip kesiapan membantu guru menyesuaikan materi dengan kemampuan berpikir siswa agar tidak terlalu sulit. dan di kurikulum spiral membuat siswa lebih mudah memahami konsep karena materi diperkenalkan secara bertahap dan diulang dengan tingkat kesulitan yang meningkat. sementara itu ada jua prinsip penemuan yang mendorong siswa untuk aktif mencari dan menemukan konsep sendiri, sehingga pembelajaran tidak hanya menghafal rumus, tapi jua benar memahami makna.
Nama : Putri Anggraeni
HapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menanggapi pendapat Rosidah ya! Setuju banget, poin kamu tentang "kurikulum spiral" itu emang menarik banget buat dibahas. Menurutku, itu salah satu keunggulan teori Bruner yang paling berasa manfaatnya buat kita di PGSD. Dengan materi yang diulang-ulang tapi tingkat kesulitannya naik terus, anak SD jadi nggak gampang lupa dan pemahaman konsepnya jadi makin matang seiring waktu.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Teori Brunei mengingatkan kita bahwa belajar bukan sekedar memindahkan informasi,tapi sebuah proses penemuan,intinya ada 3 tahapan kurikulum spiral. Kesimpulan utamanya bahwa efektivitas pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menyelaraskan materi dengan tingkat kesiapan kognitif siswa.Jika kita mengabaikan belajar hanya akan menajadi proses hapalan jangka pendek bukan pemahaman mendalam.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Konsep spiral bruner mengajarkan bahwa materi yang sulit dapat di ajarkan kepada siapa saja dengan bahasa yang sesuai,asalkan diberikan secara berulang dengan tingkat kompleksitas yang terus meningkatt.
Nama : Dita Ayu Safarila
HapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Izin menyampaikan lagi pak.
Kunci keberhasilan pengajaran bruner terletak pada keseimbangan antara memberikan kebebasan siswa untuk bereksplorasi dan memberikan panduan terstruktur agar mereka tidak tersesat.
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Jujur pak, waktu saya baca materi ttg teori burner ini kepala saya kayak langsung bikin ilusi anak anak yg lagi pegang benda benda yang sesuai ama topik pembelajaran mtknya. Bagian ttg tahap tahap tuh menarik buat saya karna kayak hal baru tapi bukan hal baru gitu pak wkwkwkw. Yang ada tiga tahap itu pak, enaktik, ikonik ma simbolik ituu menurut saya bener sesuai ma anak anak yang konteksnya atau ibaratnya tuh di dalam dirinya tuh blm ada pengalaman apa apa gitu kan. Dah bener kata burner, anak tuh ga bisa langsung disuguhkan simbol simbolanya langsung, tapi kita kasih momen biar mereka “megang dulu“, “perhatiin dlu“ baru “mikirin abstarknya“.
245
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Ahiyaa, saya juga jadi keinget waktu SD dlu, saya sering diajarin mtk make bendanya langsung, benda benda yang keliatannya sepele yang ada di sekitar, bukan langsung rumus. Dan nyatanya sekarang saya paham, oohh ternyata ini sesuai ma tiga tahap dari burner yang kayak bapak jelasin di atas. Teori burner nih kayak saya baru denger tapi kayak udah ga asing gitu, ada yang sama ga temen temen? Hehe. Dari pengalaman saya itu saya percaya bahwa pembelajaran mtk ga akan semenakutkan itu kalau anak anaknya terjun langsung dulu hihi.
246
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Nah, saya juga mau tanggepin prinsip yang ada burner bilang nih, yang bagian spiral kurikulum dulu. Berarti, spiral kurkulum yang burner omongin itu sekarang lagi diterapkan pada pendidikan di Indonesia ya pak?. Masuk di akal saya sih kurikulumnya, burner bilang kalau di awal anak anak itu pentingnya dikenalkan dulu, nanti tingkat tingkat selanjutnya ya ada pengulangan tetapiiii yang membedakannya ada kedalamannya. Saya setuju pak ama yang dibilang burner ini, coba kita bayangkan kalau anak anak di sd udah disuguhin materi plus kedalaman materi, yang ada ga sesuai ama perkembangan kognitif diusianya.
247
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Nah, saya mau lanjut tanggepin prinsip ketiga nya si burner ini lagi pak tentang discovery learning. Saya setuju sih apa yang dibilang burner, pasti kalau anak anak diajarin dengan metode ini pada pembelajaran mtk yg dasar, materinya akan jauh lebih nempel karna mereka tahu dan kenal asal usulnya. Tapi ya pak, saya jujur juga, poinr prinsip yang ini jadi PR saya, soalnya saya sendiripun banyak tida mengetahui asal usul konsep konsep mtk. Saya paham, saya senang ketika diajarkan mtk waktu saya SD, tapi dulu pendekatannya ga sedalam penemuan inii, kalaupun ada yang berbasis penemuan itu lebih ke kayak pengamatan yg menurut saya levelnya di bawah sama prinsip yang dibilang burner ini.
248
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Misal belajar jaring jaring balok, pak guru minta kami mengamati balok dan cari kemungkinan ada berapa jaring jaringnya. Nah itu kan kayak, baloknya bisa saya otak atik dan bayangkan, kemudian saya gambar baru saya hitung berapa saya dapetnya. Mungkin ini juga termasuk ya, tapi dibayangan saya tuh yang kayak asal usul rumus gituu pak, dan disitu saya belum terlaluu ndalami.. Makanya ini saya bilang saya ada PR nih sebelum terjun jadi guru beneran di sekolah, karna saya pun pengen ngajarin anak anak saya nanti pake teori burner ini.
249
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Lanjut lanjut, saya juga ada mau tanggepin yang bagian implikasi nii, yang pendekatan individual. Kan katanya, peneliti lain ada memberikan kritik terhadap toeri burner nih, kalau teori burner tuh terlalu idelis kayak sempurna padahal kalau dipraktik ga semudah itu apalagi kalau diajarkan di kelas yang gede. Nah, menurut saya pendapat si peneliti yang lain nih betul aja, emang kayak ada tantangannya lagi si teori burner ni. Tapi, bukan berarti tak bisa kan, emang extra gitu, tapi kalau dengan cara seperti itu membuat tingkat perkembangan anak naik secara signifikan kenapa tidak. Atau mungkin, ada pendekatan lain yang lebih manusiawi? Hmm..
250 (maaf ya pak komen komen saya ada watermarknya hehe, ini biar saya bisa melek dan temen temen yang sekiranya ngeliat jejak komen saya tergugah semangatnya hehe)
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Dan berarti juga, si teori burner nih ada kaitannya ama pendekatan berdiferensiasi yang lagi naik daun di pembelajaran dalam ni kan. Soalnya burner ada bilang kalau guru tu harus mempertimbangkan ‘masing masing‘ tahap perkembangan tiap siswanya. Nah dari apa yg dibilang burner tu masuk ke dalam ciri berdiferensiasi yang menekankan pada memperhatikan perkembangan tiap anaknya. Nah, ini menurut saya combo sih, dan saya harus lebih banyak belajar lagi, karna saya udah tau teori burner dan pendekatan berfirensiasi, cuman blm punya pengalaman langsung yg sbg pendidiknya, but ist okey, kita belajar pelan pelan..
251
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Oh iya pak, di materi ini saya jadi sadar kalau teori belajar tuh kerasa banget pentingnya. Di mata kuliah pak samsul kami diajarin teori belajar yang cocok ama pelajaran ipa. Nah, di sini di mata kuliah bapak kami pun diajari teori belajar yang cocok untuk mtk. Ini bikin saya punya bekal dan pegangan untuk mengajar nanti di sekolah. Terima kasih bapak...
252
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Abis dari komen komen saya yang di atas pada materi ini, saya ngerasain satu hal pak. Saya ngerasa wajar kalau saya sekarang masih banyak banget hal yang mesti dipelajari. Teori teorinya udah diajarkan ama dosen dosen di sini si kampus, tapi praktiknya di lapangan mesti penuh tantangan. Hhehe, gapapa gapapa, sekarang, yang bisa dilakukan dan hal pentingnya adalah punya bekal dan kesiapan mindset dulu. Bagian praktik kompleks dan realita yang ada di lapangan itu di luar kendali kita saat ini karna kami masih menjadi mahasaiswa.. Bismillah.. bismillah..
253
Teori Bruner dengan pendekatan spiralnya ini memang sangat efektif buat belajar matematika.
BalasHapusNama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya suka sekali sama konsep Spiral Curriculum-nya Bruner ini. jadi materi itu tidak cuma sekali lewat saja, tetapi harus diulang lagi dengan level yang lebih menantang pas siswanya sudah lebih siap lagi. hal ini membantu sekali agar pemahaman kita makin dalam dan tidak gampang lupa. definisi belajar yang tidak instan, tapi bermakna.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
npm:2386206092
Teori Jerome Bruner ini sangat masuk akal kalau kita lihat cara anak anak belajar di dunia nyata. Intinya tuh Bruner mau hilangin ide lama kalau belajar itu cuma soal menghafal rumus. Dia percaya kalau kita itu makhluk aktif yang membangun pengetahuan sendiri lewat pengalaman.Jadi gak selalu cuma wadah kosong yang diisi informasi oleh guru.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
npm:2386206092
Ada tiga tahap utama dalam cara kita memproses informasi menurut Bruner kayak
• Belajar lewat aksi nyata atau menyentuh benda fisik. Misalnya, anak belajar ngitung pakai kelereng atau balok.
• Mulai menggunakan gambar atau bayangan mental untuk mewakili benda tadi.
• Tahap akhir di mana anak sudah bisa pakai simbol abstrak seperti angka, bahasa, atau rumus matematika.
nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
npm:2386206092
Hal yang menurut saya paling menarik dari artukel ini tuh tentng konsep kurikulum spiral. Bayangin kita pelajari topik yang sama berulang kali.Tapi setiap kali balik ke topik itu, level kesulitannya naik sedikit demi sedikit. Cara ini jauh lebih efektif daripada belajar satu materi sampai habis trus dilupakannya begitu saja, karena memori kita jadi lebih kuat lewat pengulangan yang bermakna.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Belajar lewat penemuan juga jadi poin penting. Gak langsung dikasih tahu rumus a^2 + b^2 = c^2.Tapi siswa diajak bereksperimen dulu dengan segitiga sampai mereka sadar sendiri polanya. Ini bikin siswa merasa jadi ilmuwan kecil dan punya rasa kepemilikan terhadap ilmu yang mereka dapatin.
nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Tapi, kita juga harus realistis kalau teori ini punya tantangan besar di lapangan. Mengajar dengan metode penemuan butuh waktu lama dan persiapan guru yang sangat matang. Kalau jumlah siswa di kelas terlalu banyak, guru pasti kewalahan memantau eksplorasi tiap anak. Meski begitu, prinsip Bruner tetap jadi pengingat berharga kalau pemahaman yang dalam jauh lebih penting daripada cuma nilai bagus di atas kertas.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, perihal Discovery Learning. pada materi yang bapak berikan disitu tertulis kalau murid lebih baiknya menemukan rumus sendiri seperti Pythagoras. menurut bapak lebih efektif mana, murid dibiarkan eksplorasi sendiri atau langsung saja diberikan rumusnya oleh guru agar cepat selesai?
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Hai Selma aku izin bantu menjawab pertanyaanmu.
Menurut saya, dalam teori belajar Bruner yang tertulis di atas bahwa pembelajaran melalui discovery learning lebih menekankan pada proses murid menemukan konsep atau rumus sendiri, bukan langsung diberikan oleh guru dan hal ini karena Bruner berpendapat bahwa pengetahuan yang ditemukan sendiri oleh murid akan lebih bermakna dan lebih lama diingat, dibandingkan jika murid hanya menerima rumus secara langsung. Namun, bukan berarti murid harus dibiarkan sepenuhnya eksplorasi tanpa arahan, dalam discovery learning peran guru tetap sangat penting sebagai pembimbing yang mana guru dapat memberikan petunjuk, pertanyaan pemantik, atau contoh sederhana agar murid tetap berada pada jalur yang benar, misalnya pada materi Pythagoras murid bisa diajak mengamati hubungan antara sisi-sisi segitiga siku-siku melalui gambar, potongan kertas, atau alat peraga, hingga akhirnya menyimpulkan sendiri rumusnya.
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Sedikit tambahan ya Selma.
Hal yang akan terjadi jika guru langsung memberikan rumus, memang pembelajaran bisa lebih cepat selesai, namun murid cenderung hanya menghafal tanpa benar-benar memahami asal-usul rumus tersebut nah akibatnya, murid mudah lupa dan kesulitan menerapkan rumus dalam soal yang berbeda. Jadi kalaj menurut saya, yang paling efektif adalah mengombinasikan discovery learning dengan bimbingan guru dan murid diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan berpikir, lalu guru membantu merangkum dan menegaskan rumus di akhir pembelajaran. Dengan cara ini, pembelajaran tetap terarah, tetapi murid juga mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan pendekatan kognitif Bruner.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin menjawab pertanyaan dari Selma, menurutku langsung kasih rumus memang lebih cepat tapi eksplorasi sendiri jauh lebih membekas, kalau anak menemukan rumus sendiri mereka enggak cuman hafal huruf saja tapi paham kenapa rumusnya bisa begitu, lebih baik telat dikit tapi paham banget daripada cepat selesai tapi cepat lupa.
semoga dapat membantu menjawab pertanyaan dari Selma
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya lagi pak, tentang Spiral Curriculum ini kan maksudnya materi yang di ulang-ulang. menurut bapak apakah hal ini akan membuat murid bosan karena merasa "kok belajar ini lagi sih?" atau justru malah membantu mereka banget untuk paham dasarnya?
Izin menjawab yah, Spiral Curriculum memang melibatkan pengulangan materi, tapi dengan tingkat kompleksitas yang meningkat. Ini bisa sangat membantu siswa memahami konsep dasar dengan lebih baik.
HapusJika dilakukan dengan cara yang tepat, pengulangan materi tidak akan membuat siswa bosan. Malah, mereka akan melihat bagaimana konsep yang sama bisa diterapkan dalam konteks yang berbeda dan lebih kompleks.
Kunci suksesnya adalah bagaimana guru menyajikan materi dengan cara yang menarik dan menantang, sehingga siswa merasa mereka sedang mempelajari sesuatu yang baru dan lebih dalam, bukan hanya mengulang yang sama.
Nama: Margaretha Elintia
Hapuskelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin menjawab pertanyaan dari Selma, memang kalau cuma didengar sekilas materi diulang kedengarannya membosankan, tapi sebenarnya kurikulum spiral itu bukan mengulang hal yang sama persis melainkan membangun tangga, tujuannya supaya siswa naik kelas dengan pondasi yang kokoh, bukan cuman lewat begitu saja, dan sebagai guru kita bisa kasih tantangan yang berbeda di setiap putaran spiralnya supaya siswa tidak merasa bosan, melainkan mereka bakal merasa lebih jago karena pemahamannya makin dalam.
semoga dapat membantu menjawab pertanyaan dari Selma.
Teori Belajar Bruner memang sangat relevan dalam pendidikan matematika. Fokusnya pada pendekatan kognitif dan tahapan enaktif, ikonik, simbolik membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih mendalam.
BalasHapusPrinsip kesiapan, kurikulum spiral, dan penemuan (discovery learning) Bruner sangat berguna dalam merancang pembelajaran matematika yang efektif. Siswa tidak hanya menghafal, tapi juga memahami konsep melalui eksplorasi dan penemuan.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Soal kritik yang mengatakan metode Bruner kadang susah untuk dipraktikkan, saya izin berpendapat pak, sebagai kseorang guru harus pintar-pintar menyampurkan antara kasih arahan jelas dengan kasih ruang untuk siswa mengksplorasi sendiri. Jadi jangan cuma membiarkan siswa merasa bingung karena disuruh cari tahu sendiri terus, tapi juga jangan cuma ceramah aja. Dengan cara ini, tantangan di kelas yang besar atau siswa yang butuh bimbingan ekstra bisa diatasi dan pembelajaran tetap aktif tapi tetap terarah.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Menurut saya, menerapkan teori Bruner di kelas itu keren karena bikin belajar jadi lebih hidup dan ngga monoton. Guru ngga cuma ngajarin dari depan doang, tapi mengajak siswa langsung mencoba atau main dulu supaya ngerti konsepnya. Misalnya,siswa diajak pegang alat peraga dulu, terus baru lihat gambarnya, baru deh paham teori atau simbolnya.
Cara kayak gini bikin pelajaran lebih gampang nyangkut di otak. Terus, dengan belajar secara bertahap dan diulang-ulang seperti kurikulum spiral, siswa jadi ngga kebingungan walau materinya makin rumit. Yang seru juga, kita dikasih kesempatan buat mikir sendiri dan cari solusi lewat diskusi atau eksperimen, jadi belajar jadi seru dan nggak ngebosenin. Tapi ya, guru harus pinter atur waktunya dan tahu kapan harus bantu supaya semua siswa tetap semangat dan gak nyasar.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Setelah saya baca ulang teori Burner ini semakin menarik dan menurut pedapat saya dengan pendekatan teori belajar ini pembelajaran akan jadi lebih masuk akal buat anak-anak misalnya dalam pelajaran sains atau matematika, anak diajak dulu pegang benda nyata, lihat contoh visual, baru nanti masuk ke konsep abstraknya dan cara ini membantu mereka paham kenapa sesuatu itu terjadi, bukan sekadar bagaimana menghitung atau menuliskannya dan ini juga bisa bikin siswa lebih percaya diri karena mereka merasa ikut terlibat aktif dalam proses belajarnya, bukan cuma ngikutin kata guru.
Terus soal kritik yang ada di materi diatas juga menarik bagiku, misalnya kalau teori Bruner terasa rumit diterapkan di kelas yang besar atau dengan fasilitas terbatas, itu juga wajar banget akan tetapi menurutku, inti teorinya tetap bisa kita ambil yakni memberi ruang buat siswa eksplorasi dan berpikir, bukan hanya mendengarkan ceramah. Guru bisa menyesuaikan misalnya pakai demonstrasi sederhana, diskusi kelompok kecil, atau alat peraga yang mudah dibuat sendiri supaya tetap sesuai kondisi sekolahnya, jadi intinya aku merasa teori Bruner itu relevan banget buat pendidikan sekarang, karena dia mengajak kita ngeliat belajar sebagai proses aktif yang bertahap dan bermakna, meskipun implementasinya nggak selalu mudah akan tetapi semangatnya untuk mengembangkan cara belajar yang lebih murid-sentris dan kognitif itu penting banget buat bikin pembelajaran lebih baik dan lebih nyambung sama cara berpikir siswa.
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Materi ini membuat bahwa belajar akan lebih bermakna ketika siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri. Bruner menekankan bahwa proses belajar bukan hanya tentang hasil, tapi juga proses berpikir yang dilalui siswa.
Pendekatan Bruner adalah cara untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa. Dengan discovery learning, siswa tidak hanya memahami konsep tapi juga belajar bagaimana cara belajar.
HapusMateri ini menekankan pada tiga mode representasi Bruner yaitu:
Hapus1. Enaktif yaitu siswa belajar melalui tindakan langsung.
2. Ikonik yaitu siswa memahami melalui gambar atau visualisasi.
3. Simbolik yaitu siswa menggunakan bahasa dan simbol abstrak
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin menanggapi ya pak, saya setuju terkait konsep kurikulum spiral, dimana dalam matematika seringkali siswa lupa materi dasar, dengan sistem spiral siswa tidak hanya diingatkan kembali tapi juga diajak melihat keterkaitan materi lama dengan materi baru yang lebih kompleks.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Menyambung poin diatas, tahap Enaktif sangat penting di jenjang SD, saya setuju kerena memberikan kesempatan siswa memegang alat peraga secara langsung membuat konsep matematika yang abstrak jadi terasa lebih nyata dan masuk akal bagi mereka.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin menambahkan lagi pak, saya setuju terkait teori Discovery Learning membuat pembelajaran lebih bermakna, saat siswa menemukan sendiri rumusnya, mereka tidak sekedar hafal tapi benar-benar paham asal-usul angka tersebut sehingga ilmu lebih awet di ingatan.
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin bertanya pak, bagaimana cara guru menyeimbangkan antara metode Discovery Learning yang butuh waktu lama dengan tuntutan kurikulum yang materinya sangat banyak dan harus cepat selesai?
Nama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Teori Bruner dengan bahasa yang runtut dan mudah dicerna, sehingga kelihatan jelas bagaimana siswa membangun pemahaman dari hal konkret sampai abstrak. Contoh penerapannya dalam pembelajaran matematika juga terasa nyata, jadi guru bisa langsung membayangkan bagaimana membuat siswa lebih aktif, berpikir kritis, dan tidak sekadar menghafal rumus.
Nama : Miftahul hasanah
BalasHapuskelas : 5c
npm : 2386206040
menurut Bruner pembelajaran harus melalui tiga tahapan representasi — enaktif, ikonik, dan simbolik — serta prinsip spiral curriculum dan discovery learning yang menekankan kesiapan siswa dan eksplorasi aktif dalam belajar. Kalau begitu, menurut Bapak, bagaimana guru bisa merancang pembelajaran yang tetap mengikuti ketiga tahapan Bruner secara sistematis di kelas dengan waktu pelajaran yang terbatas dan jumlah siswa yang banyak? Apakah mungkin setiap materi harus diawali dengan manipulatif, kemudian visualisasi, dan baru abstraksi setiap kali, atau guru bisa memodifikasi urutan tahapan itu sesuai kebutuhan topik dan karakter siswa?
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
Saya setuju dengan teori Bruner ini karena caranya sangat masuk akal, yaitu mengajak siswa belajar lewat praktek langsung dulu baru ke simbol-simbol, sehingga materi yang sulit seperti matematika jadi lebih gampang dipahami, apalagi dengan konsep belajar sambil menemukan sendiri yang membuat siswa jadi lebih kreatif dan tidak cepat bosan karena materi diulang-ulang secara bertahap dari yang mudah ke yang susah.
Ditambah lagi, cara ini menurut saya sangat efektif karena guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan bertindak sebagai teman belajar yang memancing rasa penasaran siswa lewat alat peraga atau eksperimen sederhana. Dengan begitu, suasana kelas tidak akan terasa kaku atau membosankan, karena setiap siswa diberi ruang untuk mengeksplorasi ide mereka sendiri sampai benar-benar paham akar masalahnya, sehingga ketika mereka berhadapan dengan soal yang lebih rumit di masa depan, mereka sudah punya mental petualang dan logika yang kuat untuk menyelesaikannya tanpa perlu merasa takut salah.
HapusNama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Menurut saya, artikel ini menjelaskan dengan cukup jelas bagaimana Jerome Bruner melihat proses belajar sebagai sesuatu yang aktif. Bruner tidak melihat belajar sebagai sekadar menerima informasi dari guru, tetapi sebagai proses di mana siswa harus mengonstruksi sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman.
Yang saya baca juga Artikel ini membahas tiga tahapan utama cara kita memahami sesuatu:
1. Enaktif (belajar melalui aksi atau pengalaman langsung)
2. Ikonik (melalui gambar atau representasi visual)
3. Simbolik (melalui simbol seperti bahasa dan angka)
Ini membuat saya berpikir bahwa belajar itu perjalanan, bukan hanya sekadar hafalan.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Artikel menyebut tiga tahapan itu, tapi saya masih bertanya:
Apakah setiap siswa harus benar-benar menyelesaikan satu tahap sebelum pindah ke tahap berikutnya?
Karena dalam kelas nyata, mungkin siswa sudah paham simbolik meskipun belum terlalu kuat di tahap enaktif atau ikonik.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Artikel mengatakan siswa harus didorong menemukan sendiri pengetahuan baru. Ini bagus, tapi:
Bagaimana kalau siswa justru bingung terus karena tidak menemukan sendiri?
Apakah ada strategi supaya siswa tetap mendapatkan pemahaman tanpa merasa frustasi?
Menurut saya, penekanan bruner pada discovery learning sangat baik untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam menemukan konsep.
BalasHapusnama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
npm:2386206065
Bruner menekankan penemuan (discovery learning) sebagai bagian penting dari proses pembelajaran untuk mengembangkan pemikiran kritis siswa. Namun di kelas nyata, tidak semua siswa dapat menemukan konsep secara efektif tanpa bimbingan langsung, terutama pada materi yang abstrak seperti aljabar atau fungsi. Strategi apa yang Bapak rekomendasikan supaya siswa tetap aktif menemukan ide-ide utama tanpa guru harus mengorbankan terlalu banyak waktu — misalnya melalui kelompok kecil, proyek mini, atau penggunaan teknologi pembelajaran?
Pada bagian kritik terhadap teori Bruner menurut saya penting, karena menunjukkan bahwa tidak semua metode bisa diterapkan secara ideal, jadi membuat materi terasa lebih realistis dan seimbang
BalasHapusNama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin menanggapi pak, terima kasih pak atas materinya. Dari tulisan ini saya jadi lebih paham bahwa teori belajar Bruner itu menekankan pentingnya siswa aktif mengeksplorasi konsep sendiri dengan bimbingan guru. Dengan memberi pengalaman langsung dan dialog yang baik, siswa bisa membangun pemahaman mereka secara bertahap. Menurut saya pendekatan ini bikin pembelajaran jadi lebih bermakna dan tidak hanya menghafal.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Permisi pak saya izin bertanya, bagaimana cara guru menerapkan teori Bruner di kelas supaya siswa lebih aktif berpikir? terimakasih pak
Nama: Arjuna
HapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Penerapan teori belajar Bruner di kelas dapat dilakukan dengan mendorong siswa untuk aktif menemukan konsep melalui pengalaman belajar guru bisa memulai dari kegiatan konkret seperti praktik langsung atau pengamatan tahap enaktif lalu dilanjutkan dengan penggunaan gambar atau media visual tahap ikonik dan akhirnya mengarahkan siswa pada penggunaan simbol atau konsep abstrak tahap simbolik
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
Izin menyimpulkan Pak terkait materi diatas Pak, menurut saya Teori Bruner itu intinya proses belajar matematika yang bertahap, mulai dari ngutak-ngatik benda nyata (enaktif), lanjut pakai gambar atau bayangan visual (ikonik), sampe akhirnya mahir pakai simbol angka dan rumus abstrak (simbolik). Dia juga percaya kalau anak bakal lebih paham kalau mereka "nemuin" sendiri konsepnya lewat eksperimen daripada cuma sekadar dengerin penjelasan guru, makanya materi harus disusun dari yang paling simpel ke yang makin kompleks biar logika mereka kebangun dengan kuat.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Jerome Bruner adalah seorang psikolog pendidikan dari Amerika yang ngeluarin teori belajar di tahun 1960an iaa nentang cara belajar yang cuma ngandelin stimulus response kayak behaviorisme karena menurutnya belajar itu proses mental yang aktif bukan sekadar reaksi otomatis terhadap perintah atau informasi
Nama: Arjuna
HapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Meskipun keren teori ini kadang dianggap terlalu idealis dan susah dipraktikkan di kelas yang besar atau dengan fasilitas yang terbatas tidak semua siswa juga langsung cocok dengan metode penemuan tanpa bimbingan guru
HapusMenurut saya juga penting dicatat teori Bruner bisa terasa terlalu idealis di kelas yang besar dan beragam nggak semua siswa nyaman atau siap langsung eksplor sendiri kadang tetap butuh penjelasan langsung dan panduan yang jelas dari guru.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Putri Anggraeni
BalasHapusNPM : 2386206022
Kelas : VB (PGSD)
Izin menanggapi materinya, Pak. Artikelnya sangat menarik dan membantu saya memahami bagaimana teori Bruner ini bekerja, terutama pada tiga tahapan (Enaktif, Ikonik, dan Simbolik). Sebagai calon guru SD, saya jadi sadar kalau mengajar anak-anak itu tidak bisa langsung ke rumus atau teks (Simbolik), tapi memang harus dimulai dari benda nyata dulu supaya konsepnya "nempel" di ingatan mereka. Terima kasih banyak sharingnya, Pak, sangat bermanfaat untuk bekal kami praktik mengajar nanti!
Pak ijin menambahkan lagi. Saya sangat setuju dengan poin mengenai Discovery Learning. Menurut saya, pendekatan Bruner ini memberikan tantangan tersendiri bagi kita sebagai pendidik untuk tidak sekadar "menyuapi" materi, tapi memancing rasa ingin tahu siswa agar mereka menemukan konsepnya sendiri. Dengan cara ini, pembelajaran di kelas pasti jadi lebih aktif dan tidak membosankan bagi anak-anak SD.
HapusArjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Beberapa orang bilang pendekatan Bruner itu terlalu idealis dan kadang sulit diterapin di kelas yang banyak siswa waktu terbatas atau fasilitas kurang lengkap juga tidak semua siswa belajar paling efektif dengan cara penemuan sendiri beberapa butuh lebih banyak arahan guru walaupun begitu esensi Bruner tetap membantu guru buat merancang belajar yang lebih bermakna bukan hanya ngasih jawaban tanpa siswa ngerti prosesnya
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Pembahasannya sangat mencerahkan dan mudah dipahami Pak, terutama penjelasan mengenai tiga tahap representasi (enaktif, ikonik, dan simbolik). Menurut saya, artikel ini sangat bermanfaat bagi calon guru atau pendidik dalam memahami bahwa mengajarkan matematika itu tidak bisa langsung hantam dengan rumus, tapi butuh proses bertahap dari hal yang konkret dulu.
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Yang paling menarik adalah poin mengenai Spiral Curriculum. Saya setuju bahwa pengulangan materi dengan tingkat kompleksitas yang meningkat itu penting agar pemahaman siswa tidak terputus. Kadang kita sering terburu-buru mengejar kurikulum sampai lupa apakah pondasi dasar siswa sudah kuat atau belum. Teori Bruner ini seolah mengingatkan kita untuk lebih sabar dan menghargai proses kognitif anak yang unik di setiap fasenya.
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Izin bertanya Pak, terkait tahap simbolik, apakah ada tanda-tanda khusus atau asesmen sederhana yang bisa digunakan guru untuk memastikan bahwa seorang siswa memang sudah benar-benar siap beralih dari tahap ikonik (visual) ke simbolik (rumus/angka abstrak) agar mereka tidak mengalami shock kognitif?
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C
Npm :2386206067
Dan mengingat metode Discovery Learning seringkali membutuhkan waktu yang lebih lama dan kondisi kelas yang mungkin jadi lebih aktif/ramai karena eksplorasi, bagaimana tips praktisnya agar guru tetap bisa mencapai target kurikulum tepat waktu namun tetap setia pada prinsip Bruner ini? Terima kasih sebelumnya Pak.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Jembatan E-I-S (Enaktif, Ikonik, Simbolik) Tanggapan saya, teori Bruner ini menjelaskan kenapa banyak anak SD benci matematika. Mereka dipaksa menghafal rumus luas lingkaran (Simbolik), padahal mereka belum pernah memotong-motong kertas berbentuk lingkaran (Enaktif) atau melihat animasi bagaimana lingkaran berubah jadi susunan persegi panjang (Ikonik). Bruner mengajarkan kita bahwa pemahaman itu harus tumbuh dari tangan ke mata, baru ke pikiran.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Dan menurut saya Konsep kurikulum spiral Bruner sangat cerdas karena ia menghargai proses lupa dan ingat manusia. Matematika bukan soal sekali diajarkan lalu selesai, tapi soal memperdalam konsep yang sama dengan level yang berbeda. Misalnya, di kelas 1 belajar penjumlahan lewat kelereng, di kelas 4 lewat garis bilangan, dan di SMP lewat variabel aljabar.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Menurut artikel, Bruner menekankan pentingnya belajar melalui pengalaman dan penemuan sendiri. Saya penasaran, bagaimana guru bisa membuat siswa lebih aktif menemukan konsep sendiri tanpa merasa bingung atau frustasi? Apakah semua materi bisa diajarkan dengan cara discovery learning, atau ada materi yang lebih cocok dengan metode lain?
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Saya tertarik dengan konsep tiga tahap belajar Bruner: enaktif, ikonik, dan simbolik. Saya ingin tahu, bagaimana guru menentukan tahap mana yang paling tepat untuk siswa tertentu? Apakah siswa selalu harus melewati ketiga tahap ini berurutan, atau bisa ada yang langsung ke simbolik kalau sudah siap?
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Saya pikir menarik bagaimana Bruner menekankan pembelajaran yang partisipatif. Saya setuju kalau diskusi, kerja kelompok, atau proyek bisa bikin siswa lebih aktif dan kreatif. Selain itu, siswa bisa belajar tidak cuma dari jawaban soal, tapi juga dari proses mencari jawaban sendiri. Menurut saya, cara ini juga melatih kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa.
Menurut saya, materi ini menarik karena menunjukkan bahwa belajar itu proses aktif, bukan sekadar menerima informasi. Tahapan enaktif sampai simbolik sangat masuk akal jika dikaitkan dengan cara anak memahami konsep matematika
BalasHapusIzin menanggapi pak Materi Teori Belajar Bruner: Pendekatan Kognitif dalam Pendidikan Matematika ini disajikan dengan alur yang runtut, bahasa yang komunikatif, dan sangat relevan dengan praktik pembelajaran di kelas. Sejak bagian awal, materi sudah menegaskan bahwa belajar bukan proses pasif, melainkan aktivitas mental yang aktif.pesan penting yang sering terlupakan dalam pembelajaran matematika.Penjelasan tentang tiga tahap representasi Bruner (enaktif, ikonik, dan simbolik) disampaikan secara sederhana namun bermakna. Contoh yang diberikan membuat pembaca mudah membayangkan bagaimana siswa SD belajar dari memanipulasi benda konkret, beralih ke gambar, hingga akhirnya memahami simbol matematika. Ini menunjukkan bahwa abstraksi dalam matematika seharusnya dibangun bertahap, bukan dipaksakan.Bagian prinsip-prinsip teori Bruner juga memperkuat bahwa peran guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi merancang pengalaman belajar yang menantang rasa ingin tahu siswa. Secara keseluruhan, materi ini berisi, mengalir, dan asik dibaca, sekaligus menjadi pengingat bahwa pembelajaran matematika yang baik adalah pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk menemukan, memahami, dan memaknai konsep secara mandiri
BalasHapusNama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386296003
Berdasarkan materi ini saya memahami bahwa belajar tidak hanya soal menghafal rumus. Bruner menekankan bahwa siswa perlu memahami konsep dari dasar. Tahap enaktif sangat membantu siswa yang masih membutuhkan benda nyata. Setelah itu siswa perlahan bisa memahami gambar dan simbol. Proses ini membuat pembelajaran terasa lebih ringan dan tidak menakutkan bagi siswa.