Jelas bahwa penyelidikan psikologis memainkan peran penting dalam pendidikan matematika. Ini juga merupakan contoh bagus tentang bagaimana pendekatan interdisipliner dapat sangat efektif, melibatkan praktisi pendidikan dan berbagai subdisiplin psikologi. Puluhan tahun penelitian telah mengajarkan kita banyak hal, terutama dalam konteks kognisi matematika dan respons emosional terhadap matematika. Di sini saya akan menyinggung beberapa hal yang telah diajarkan oleh penelitian tentang kecemasan matematika, serta saran untuk langkah selanjutnya.
Matematika sebagai Pemicu Stres?
Banyak orang menikmati matematika. Namun, bagi banyak orang, matematika menimbulkan respons emosional negatif. Inilah sebabnya, selama bertahun-tahun, para peneliti respons stres manusia menggunakan tugas aritmatika mental yang dipaksakan sebagai cara untuk memicu stres. Ironisnya, pengujian matematika yang cepat dan secara sosial dievaluasi sering kali terjadi di ruang kelas. Secara anekdot (dan dari beberapa penelitian kualitatif), banyak orang dewasa menceritakan pengalaman mereka saat kecil ketika guru matematika "menyudutkan mereka" atau mempermalukan mereka karena jawaban yang salah. Menariknya, kenangan seperti itu sering kali memenuhi kriteria yang oleh psikolog kognitif disebut sebagai "memori lampu kilat". Penelitian terbaru menyelidiki kecemasan matematika pada anak-anak yang baru saja menjalani pendidikan formal (misalnya, Petronzi et al. 2018). Sayangnya, melalui sistem penilaian dan waktu yang eksplisit, menjadi ahli matematika segera dikaitkan dengan seberapa cepat seseorang melakukannya; seorang anak mungkin memiliki efikasi diri matematika yang sangat rendah karena mereka dikelilingi oleh teman-teman yang kebetulan sangat cepat, mengabaikan fakta bahwa satu kelas mungkin cukup cepat dalam pemecahan masalah matematika dan variasi tertentu adalah a) hal yang diharapkan, b) terlalu banyak perhatian diberikan pada penyelesaian soal matematika dengan cepat. Dengan demikian, sejak usia muda, anak-anak mengidentifikasi struktur hierarkis dalam kelas mereka. Hal ini membuka jalan bagi pengalaman negatif terhadap matematika. Dapat dikatakan, sistem pendidikan matematika yang berfokus pada penilaian perlu dirombak, dan penelitian psikologis akan sangat penting dalam hal ini.
Kognisi dan Emosi
Kecemasan matematika adalah contoh bagus tentang perpaduan antara kognisi dan emosi. Sebagian besar pekerjaan eksperimental atau kuasi-eksperimental yang telah dilakukan didasarkan pada model teoritis tentang memori kerja dan proses perhatian. Namun, sedikit penelitian yang secara eksplisit berusaha mempelajari mekanisme dasar yang terkait dengan model-model ini. Misalnya, hanya beberapa studi yang meneliti pikiran-pikiran mengganggu selama pemecahan masalah matematika (misalnya, Hunt et al. 2014). Meskipun secara metodologis sulit, ini bisa dilakukan dan akan sangat berguna untuk memahami cara kerja pikiran tersebut. Demikian pula, penelitian lebih lanjut harus memanfaatkan pengukuran objektif perhatian, misalnya teknologi pelacakan mata, untuk menilai relevansi proses perhatian tertentu dalam kaitannya dengan kecemasan matematika dan rangsangan visual yang disajikan (soal matematika, timer, instruksi, dll.), misalnya kewaspadaan yang meningkat, hambatan, perhatian yang terus-menerus, pergeseran, dan pelepasan perhatian.
Metakognitif
Penelitian terbaru menyoroti relevansi meta-kognisi dalam kaitannya dengan kecemasan matematika, terutama dalam konteks kinerja. Meta-kognisi dapat dianggap sebagai "berpikir tentang berpikir" (Flavell, 1979) dan berkaitan dengan proses di mana pembelajar merencanakan, memantau, mengevaluasi, dan mengubah perilaku belajar sesuai dengan tugas yang diberikan (Chauhan & Singh, 2014). Morsanyi et al. (2019) memberikan diskusi yang sangat baik tentang kecemasan matematika dan proses meta-kognitif di mana mereka menekankan dampak kecemasan matematika terhadap penilaian dan pengambilan keputusan pembelajar dalam tugas-tugas penalaran numerik dan pemecahan masalah. Ini mencakup pertimbangan tentang kepercayaan diri dan upaya kognitif pembelajar, yang berkaitan dengan konsep penghindaran – sesuatu yang sering dikaitkan dengan kecemasan matematika (misalnya, Choe et al. 2019). Gagasan bahwa kecemasan matematika berkaitan erat dengan upaya dibahas oleh Skemp pada tahun 1971, di mana ia berargumen bahwa jika seorang siswa gagal menemukan solusi yang benar untuk masalah matematika, respons cemas dapat memicu upaya lebih besar untuk menemukan solusi yang benar. Namun, ini bisa menjadi bumerang, sehingga semakin mempersulit pemahaman terhadap solusi tersebut, menciptakan lingkaran setan. Ada banyak ruang untuk mengeksplorasi gagasan ini lebih lanjut, dan saya merekomendasikan dimasukkannya ukuran motivasi siswa, mengingat ini telah terbukti berinteraksi dengan kecemasan matematika dalam memprediksi kinerja (Wang et al. 2015).
Pendekatan Observasional
Banyak penelitian terapan dalam pendidikan matematika cenderung didasarkan pada laporan diri, yang sangat baik dalam hal memperoleh sejumlah besar data dan mengidentifikasi pola. Namun, hal ini terkadang melewatkan interaksi verbal dan perilaku yang lebih bernuansa. Ada sedikit penelitian yang menyoroti relevansi mempelajari interaksi khusus antara anak-anak dan orang dewasa selama pembelajaran matematika, menunjukkan kemungkinan "penularan emosional", di mana anak-anak meniru emosi negatif yang diekspresikan oleh orang tua, misalnya frustrasi dan kemarahan (misalnya, Else-Quest et al. 2008). Mengingat banyak orang tua merasa stres ketika berada di lingkungan numerasi rumah, misalnya saat membantu pekerjaan rumah matematika, interaksi orang tua-anak perlu dieksplorasi lebih lanjut. Terkait dengan hal ini, beberapa pihak berpendapat bahwa dukungan guru yang dirasakan merupakan prediktor penting kecemasan matematika (misalnya, Sultan et al. 2015). Penelitian akan mendapat manfaat dari pendekatan observasional dan longitudinal untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut.
Guru
Sebagian besar program pelatihan guru tidak mencakup fokus pada fitur psikologis yang relevan dalam pendidikan matematika. Misalnya, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada kecemasan yang dialami guru saat mengajar matematika. Beberapa penelitian menyoroti relevansi kecemasan matematika pada guru, misalnya terkait dengan motivasi guru untuk mendukung anak-anak (misalnya, Trujillo & Hadfield, 1999), tetapi juga kaitannya secara tidak langsung dengan penurunan kinerja siswa sebagai akibat dari ancaman stereotip (Beilock et al. 2010). Penting untuk menyoroti perbedaan halus antara kecemasan matematika di satu sisi dan kecemasan terhadap pengajaran matematika di sisi lain: meskipun terkait, skor yang tinggi pada satu aspek tidak selalu berarti skor yang tinggi pada aspek lainnya. Misalnya, salah satu aspek kecemasan mengajar matematika adalah kekhawatiran terkait hasil matematika siswa (yang mungkin terkait dengan tekanan eksternal yang ditempatkan pada guru) (Hunt & Sari, 2019). Penelitian harus fokus pada faktor-faktor yang dapat menyebabkan, memperburuk, atau mengurangi kecemasan matematika pada guru, mendorong kerja sama interdisipliner yang lebih besar antara psikolog dan mereka yang terlibat dalam pelatihan guru.
Intervensi
Para peneliti telah menguji beberapa strategi inovatif untuk membantu mengurangi kecemasan matematika (misalnya, Brunyé et al. 2013; Park et al. 2014; Jamieson et al. 2016). Namun, masih banyak ruang untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi dan saya mendorong para peneliti untuk lebih terlibat dengan sekolah dan institusi pendidikan lainnya. Keterlibatan dengan pemangku kepentingan utama di tahap awal memungkinkan pendekatan berbasis kemitraan yang lebih kuat; para pendidik mendapatkan wawasan tentang ketelitian pendekatan akademis, sementara akademisi mengembangkan apresiasi yang lebih baik terhadap berbagai pertimbangan praktis dan kesesuaian berbagai desain dan metode penelitian di dunia nyata.
Referensi
Thomas Hunt. The Future of Psychology in Maths Education: A Focus on Maths Anxiety

Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Tanggapan saya tentang materi ini pak adalah materi ini membahas tentang hubungan antara psikologi dalam pendidikan matematika dimana, fokusnya pada kecemasan yang sering dialami pada siswa ketika belajar matematika. Dari kecemasan ini akan berdampak pada kemampuan siswa dalam memahami materi tersebut. Dalam hal ini juga psikologi dalam matematika sangat penting untuk mengatasi masalah yang akan terjadi saat kita sedang belajar matematika. Apalagi dalam jaman sekarang ini pak🙏
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Saya setuju dengan pendapat akak is ini. Memang kecemasan dalam belajar matematika memang tidak hanya memengaruhi emosi siswa, tetapi juga dapat menghambat proses berpikir, seperti konsentrasi dan pemecahan masalah. Dari materi ini saya jadi memahami bahwa peran psikologi dalam pendidikan matematika sangat penting, terutama dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan tidak menekan.
Bagi calon guru SD kayak kita ini, hal ini menjadi pengingat bahwa cara guru menyampaikan materi, memberi umpan balik, dan menilai hasil belajar sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri siswa.
Nama:Elisnawatie
BalasHapusKelas:VD
NPM:2386206069
Izin bertanya pak
Dalam kehidupan sehari-hari pak bagaimana caranya saya bahkan teman teman bisa menggunakan matematika tanpa merasa tertekan atau takut salah
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
HapusNpm : 2386206058
Kelas : 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari elisnawatie pak, menurut pendapat saya, cara agar saya dan teman-teman bisa menggunakan matematika tanpa merasa tertekan adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri dan menikmati proses belajarnya. Seperti yang dijelaskan dalam materi di atas, kecemasan muncul saat kita terlalu fokus pada hasil dan takut salah. Jika kita belajar bersama, saling mendukung, dan melihat matematika sebagai latihan berpikir, bukan beban, maka rasa cemas itu akan berkurang dan belajar jadi lebih menyenangkan🙏🏻
Hallo ka Elisnawatie saya izin menjawab pertanyaanya ya
HapusDi sini saya akan membagikan pengalaman saya ,dari yang saya sering merasa takut dalam pembelajaran matematika tapi semakin lama saya semakin berani untuk belajar matematika. Hal tersebut dikarenakan saya menanamkan bahwasanya pembelajaran matematika itu berguna bagi saya pada kehidupan sehari-hari saya.
Selain itu juga dalam pembelajaran matematika Saya tidak ingin terlalu memikirkan bagaimana hasil akhir saya, tetapi saya memikirkan bagaimana saya dapat melewati proses atau tahapan dalam penyelesaian masalah pada pembelajaran matematika.
Kita juga perlu menggaris bawahi bahwasannya di setiap kehidupan kita, kita membutuhkan pengetahuan terkait matematika, hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena setiap hari kita pasti melakukan kegiatan membeli,berbelanja,olahraga bahkan kita perlu memprediksi hal-hal yang akan terjadi kedepannya
Nah itu pastinya membutuhkan membutuhkan pengetahuan matematika.
Jadi saran saya jangan hanya mau berpatokan pada hasil akhir tapi proses juga perlu menjadi suatu hal penting yang kita perhatikan.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Hai Elis! aku izin mau jawab pertanyaan kamu juga yaa 😃
Kalau menurut aku nih, untuk kita sema calon guru, bisa banget pakai matematika sehari-hari dengan santai. Misalnya saat belanja, masak, atau mengatur waktu. Anggap aja angka itu bagian dari rutinitas, karena itu hal yang dekat dengan kita, kita jadinya engga takut deh.
Perlu diingat juga, kalau salah hitung jadikan itu kesempatan belajar. Bukan kegagalan.
di artikel ini juga kan tadi ada ngebahas pentingnya mengurangi tekanan. Jadi perlu banget kita sebagai guru yang berada di sekitar anak mengurangi tekanan dan memberi dukungan.
cmiiw guys 😀🙌
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, jadi menurut saya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya bisa pakai matematika dengan cara yang santai, misalnya pas ngatur uang jajan, belanja di pasar, bagi waktu, atau ngira-ngira jarak dan waktu perjalanan tanpa harus mikir rumus yang ribet. Kuncinya jangan takut salah, karena salah itu bagian dari belajar, bukan kegagalan. Kalau matematika dipandang sebagai alat bantu buat nyelesain masalah nyata, bukan cuma soal ujian, kita dan teman-teman jadi lebih rileks dan percaya diri saat memakainya.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Sebenernya matematika di kehidupan sehari-hari itu dipake tanpa kita sadari, dan nggak pernah dituntut harus sempurna. Kayak pas belanja, ngira-ngira uang cukup apa nggak, ngatur waktu berangkat, atau bagi makanan sama temen. Di situ kita mikir pake logika, bukan hafalin rumus.
Biar nggak tegang, jalani aja matematikanya pelan-pelan. Nggak apa-apa salah, toh di kehidupan nyata juga bisa dibenerin. Nggak ada yang langsung ngasih nilai merah
Yang bikin takut biasanya karena kebiasaan di sekolah: harus cepet, harus bener, harus maju ke depan. Padahal matematika itu alat bantu, bukan ajang adu pinter. Kalau dipake santai dan sesuai kebutuhan, lama-lama rasa takut sama matematikanya bakal luntur sendiri.
Hmm ternyata kita yang stres dan mempunyai emosional serta kecemasan dalam mengerjakan soal matematika atau pemecahan masalah pada matematika pada laman ini peneliti bilang baik dan bagus waduh gimana yak haha( huhu nangis saya ), bahkan peneliti menggunakan tugas ARITMATIKA MENTAL sebagai cara untuk memicu STRES. Luar biasa matematika ini.
BalasHapusNama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hehe iya ya, ternyata rasa stres dan cemas pas ngerjain matematika itu bukan cuma perasaan saya doang 😅.
Di materi ini malah dijelasin kalau aritmatika mental bisa dipakai buat memicu stres. Dari sini kelihatan banget kalau emosi punya peran besar dalam belajar matematika. Jadi wajar kalau ada siswa yang langsung “tegang duluan” sebelum mikir.
Tapi Ini jadi pengingat buat kita kak alusia sebagai calon guru supaya matematika jangan bikin takut, tapi dibuat lebih santai dan ramah biar anak-anak berani mikir tanpa rasa panik duluan hehe
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
izin menanggapi ya pak, saya setuju untuk materi di atas bahwa mengatasi rasa takut atau cemas terhadap pelajaran matematika itu sama pentingnya dengan mengajarkan rumus matematika itu sendiri, karena saya merasa sendiri kalau sudah panik atau gugup pasti susah untuk fokus sama pelajaran yang di paparkaan.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
Saya setuju margaretha, bahwa mengatasi rasa takut atau cemas terhadap matematika sama pentingnya dengan mengajarkan rumus, karena pengalaman pribadi membuktikan bahwa kepanikan atau kegugupan akan sangat mengganggu fokus dan membuat sulit untuk memahami materi yang disampaikan
Nama :Zakky Setiawan
HapusNPM ; ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Betul banget elin, aku juga kadang kalau gugup jadi kurang fokus atau bisa di bilang fokusnya hilang, nah dengan adanya materi ini tuh bikin aku belajar pelan-pelan untuk mengahadapi situasi tersebut
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya baca materi ini, menurut saya materi ini memberikan pandangan yang sangat amat cukup menarik dan komprehensif tentang bagaimana psikologi berperan penting didalam memahami dan juga mengatasi kecemasan matematika itu salah satu tantangan yang cukup besar dalam proses pembelajaran matematika. Pada materi diatas memberitahukan bahwasanya masa depan pendidikan matematika itu tidak hanya bergantungan pada metode pengajaran, namun juga pada pemahaman mendalam terhadap faktor psikologis yang melatarbelakanginya.
Nama: Maya Apriyani
BalasHapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Izin menanggapi materi di atas melalui bacaan di atas membahas tentang kecemasan tentang matematika yang memicu stress Menurut pendapat saya benar sekali bahwa matematika ini merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi sering sekali pada saat kita ingin mengerjakan soal itu bukan karena kita tidak bisa menjawab melainkan karena kita merasa cemas sehingga kita menjadi ngeblank dan tidak dapat menjawab pertanyaan.
Dari bacaan ini juga kita dapat belajar Apa penyebab saja penyebab dari dari kecemasan matematika yang dialami oleh siswa kemudian dampaknya dan solusi yang diberikan terima kasih
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Materi ini menurut saya sangat memberikan gambaran bagaimana psikologi itu memiliki peran yang sangat besar dalam pendidikan matematika , terutama terkait pada kecemasan matematika , saya sangat setuju bahwa matematika itu bukan hanya soal kemampuan kognitif saja tetapi. Juga berkaitan dengan emosi juga , pengalaman masa kecil dan di lingkungan kita belajar, matematika juga bukan sekedar soal yang benar dan salah tetapi juga sebagai pengalaman , interaksi dan dukungan emosional, tetapi banyak orang yang merasa menikmati pelajaran matematika tapi banyak orang juga kalo matematika itu menimbulkan respon emosional yang negatif .
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin menambahkan pak , apakah matematika itu sebagai pemicu stres ? Menurut saya memang banyak sering terjadi siswa merasa tertekan ya bukan karena soalnya saja yang sulit , tetapi karena suasana kelas yang kompetitif dan sikap guru kepada siswa nya , makanya dari itu kadang kenangan buruk seperti itu bisa menetap dalam ingatan dengan jangka yang panjang , dan bisa berdampak pada cara siswa memandang matematika itu adalah sebuah tuntutan , tetapi ternyata kecemasan pada matematika merupakan contoh yang bagus tentang perpaduan antara kognisi dengan emosi .
Pengamatan langsung terhadap interaksi antara anak-anak dengan orang tua atau guru itu menjadi poin penting , banyak sekali kecemasan matematika itu sebetulnya ditularkan melalui sikap negatif orang dewasa terhadap matematika, maka dari itu perubahan sikap di rumah dan di sekolah itu sama pentingnya seperti metode mengajar itu sendiri.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin bertanya pak , bagaimana ya pak agar guru dapat menciptakan suasana kelas yang tidak ada tekanan kepada siswanya , dan bagaimana sih pak agar siswa ini tidak gelisah saat diberi soal matematika , kadang saya juga merasa gelisah kalo tiba tiba disuruh maju mengerjakan soal matematika 🙏🏻🙏🏻
Nama : Maria Ritna Tati
HapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menjawab ya Oktavia,jadi menurut saya atas pertanyaan mu mengenai cara guru menciptakan suasana kelas yang tidak ada tekanan mungkin bisa dengan:
1.ciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.seperti,fokus pada proses, bukan hanya hasil hargai usaha siswa dalam mengerjakan soal, bukan hanya jawaban yang benar.
2.berikan umpan balik yang konstruktif fokus pada apa yang bisa diperbaiki, bukan hanya kesalahan yang dibuat.
3.ciptakan suasana yang inklusif pastikan semua siswa merasa diterima dan dihargai, tanpa memandang kemampuan matematika mereka.
Bisa juga nih gunakan metode pembelajaran yang bervariasi seperti
1.pembelajaran kolaboratif dengan libatkan siswa dalam kegiatan kelompok atau diskusi untuk mengurangi rasa takut salah.
2.permainan dan aktivitas interaktif buat pembelajaran matematika lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
3.gunakan teknologi manfaatkan aplikasi atau platform pembelajaran yang interaktif dan adaptif.
berikan soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa,contohnya
1.diferensiasi berikan soal yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing siswa.
2.soal yang menantang, tapi tetap bisa dipecahkan hindari memberikan soal yang terlalu sulit atau terlalu mudah.
3.berikan bantuan jika diperlukan jangan ragu untuk memberikan petunjuk atau penjelasan jika siswa kesulitan.
bisa juga nih untuk mengurangi tekanan saat penilaian,seperti :
1.penilaian formatif gunakan penilaian sebagai alat untuk memantau kemajuan siswa, bukan hanya untuk memberikan nilai.
2.berikan kesempatan untuk memperbaiki izinkan siswa untuk memperbaiki kesalahan mereka dan meningkatkan nilai mereka,
3.jangan membanding-bandingkan siswa fokus pada perkembangan individu masing-masing siswa.
nah terus cara siswa mengatasi kegelisahan saat diberikan soal matematika
1.persiapan yang matang:belajar secara teratur jangan menunda-nunda belajar matematika sampai mendekati ujian atau ulangan.
2.pahami konsep dasar pastikan anda memahami konsep-konsep dasar matematika sebelum mencoba mengerjakan soal yang lebih sulit.
3.latihan soal semakin banyak anda berlatih mengerjakan soal, semakin percaya diri Anda akan kemampuan anda seperti yang sering pak Nurdin katakan banyak-banyak berlatih untuk pelajaran matematika.
bisa juga nih dengan teknik relaksasi
1.tarik napas dalam-dalam lakukan beberapa kali untuk menenangkan diri sebelum mengerjakan soal.
2.visualisasi bayangkan diri Anda berhasil mengerjakan soal dengan lancar.
3.berbicara pada diri sendiri ucapkan kalimat-kalimat positif untuk meningkatkan kepercayaan diri atau kalau sekarang orang sering bilang harus positif thingking.
Bisa juga dengan ubah pola pikir negatif
1.fokus pada apa yang bisa anda kendalikan jangan terlalu khawatir tentang hasil akhir, tapi fokuslah pada proses mengerjakan soal.
2.lihat kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar jangan takut salah, karena kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
3.berikan penghargaan pada diri sendiri setelah berhasil mengerjakan soal, berikan penghargaan pada diri sendiri atas usaha Anda.
nah mungkin bisa juga nih minta bantuan jika diperlukan
1.angan malu untuk bertanya jika anda kesulitan mengerjakan soal, jangan ragu untuk bertanya kepada guru, teman, atau orang tua.
2.bergabung dengan kelompok belajar belajar bersama teman-teman dapat membantu Anda memahami konsep-konsep matematika dengan lebih baik dan mengurangi rasa takut salah.
3.cari sumber belajar tambahan manfaatkan buku, video, atau website yang dapat membantu Anda memahami matematika dengan lebih baik.
itu saja tips dari saya semoga membantu dan semoga bermanfaat ya
Nama:Elisnawatie
HapusKelas:5D
NPM:2386206069
Izin menjawab ya Oktavia secara singkat xixi
kecemasan matematika adalah hal yang wajar, tetapi dapat diatasi dengan suasana kelas yang mendukung dan strategi belajar yang tepat. Guru berperan penting dalam menciptakan lingkungan tanpa tekanan, menghargai usaha siswa, dan memberikan latihan yang bertahap. Siswa juga bisa mengurangi rasa gelisah dengan fokus pada proses belajar, berlatih secara rutin, dan menggunakan teknik relaksasi sederhana. Dengan kombinasi dukungan guru dan strategi pribadi, belajar matematika bisa menjadi lebih nyaman dan menyenangkan, serta rasa percaya diri siswa meningkat.
Serta agar siswa tidak gelisah saat menghadapi soal matematika, bisa dilakukan dengan beberapa cara: membiasakan latihan bertahap dari yang mudah ke sulit, fokus pada proses pengerjaan, menggunakan teknik relaksasi singkat, menerima dukungan positif dari guru, berlatih bersama teman, menciptakan lingkungan kelas yang nyaman, dan memberi waktu persiapan sebelum tampil. Dengan cara-cara ini, siswa akan lebih tenang, percaya diri, dan belajar matematika menjadi lebih menyenangkan.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Hai Pia! aku izin mau jawab pertanyaan kamu juga yaa 😃
Kalau menurut aku nih, tadi kan sudah dijelaskan di artikel ini kalau dukungan guru sangat berpengaruh terhadap kecemasan matematika.
Jadi, guru perlu tuh memberi apresiasi pada usaha anak, bukan cuma kalau jawaban anak benar baru diapresiasi, terus juga jangan sampai mempermalukan anak kalau jawaban mereka salah.
Terus juga dar artikel ini tadi kan menjelaskan kalau kecemasan sering muncul karna anak merasa kalah cepat dibanding teman-temannya. Kalau guru bisa menekankan kalau setiap anak punya cara belajar masing-masing, anak pasti ga akan mudah merasa minder.
cmiiw yaa guys 😀🙌
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia, jadi menurut saya, guru bisa bikin suasana kelas lebih santai dengan cara nggak langsung nyuruh maju tiba-tiba, tapi kasih pilihan atau waktu mikir dulu, terus jelasin kalau salah itu wajar dan bagian dari belajar. Suasana jadi lebih aman kalau guru sering nyemangatin, nggak ngebandingin siswa, dan ngajak diskusi bareng. Buat siswa sendiri, biar nggak terlalu gelisah saat dapet soal matematika, bisa tarik napas dulu, fokus ke langkah kecilnya, dan tanemin di pikiran kalau maju ke depan itu buat belajar, bukan buat diuji atau dipermalukan.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Supaya kelas nggak terasa menekan, guru bisa mulai dari sikap dulu. Nada bicara santai, nggak gampang nyalahin, dan nunjukin kalau salah itu bagian dari belajar. Jadi siswa ngerasa aman buat nyoba, bukan takut dimarahin atau diketawain. Misalnya kalau ada jawaban salah, dibahas bareng pelan-pelan, bukan langsung dibilang salah.
Biar siswa nggak gelisah pas dapet soal matematika, guru juga bisa ngurangin kejutan. Jangan tiba-tiba nyuruh maju, tapi kasih waktu mikir dulu, boleh diskusi sama temen, atau ngerjain bareng di papan. Soalnya juga bisa dikaitin sama hal sehari-hari biar nggak kerasa seram.
Kalau soal rasa gelisah pas disuruh maju, itu manusiawi banget. Biasanya muncul karena takut salah atau malu. Makanya penting kelas dibikin jadi tempat yang aman buat salah. Kalau suasananya suportif, lama-lama rasa takut itu bisa berkurang sendiri.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menanggapi materi tersebut,materi ini sangat penting karena membahas masalah kecemasan matematika yang seringkali diabaikan.saya setuju bahwa kecemasan matematika dapat menghambat kemampuan siswa/saya sendiri dalam belajar matematika dan perlu mendapatkan perhatian yang serius.saya suka materi ini menyoroti pentingnya peran psikologi dalam mengatasi kecemasan matematika.kecemasan matematika adalah respons emosional negatif terhadap matematika yang dapat menghambat kemampuan siswa dalam belajar matematika.kecemasan matematika dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pengalaman belajar yang negatif, tekanan untuk berprestasi, dan stereotip negatif tentang matematika.dampak kecemasan matematika dapat berupa penurunan prestasi akademik, kurangnya minat terhadap matematika, dan penghindaran terhadap situasi yang melibatkan matematika.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Tambahan dari saya,jadi menurut saya terkait dengan materi ini saya merasa materi ini sangat sesuai dengan pengalaman banyak siswa termaksud saya sendiri yang merasa cemas atau takut terhadap matematika.
dengan memahami penyebab dan dampak kecemasan matematika, kita bisa lebih berempati terhadap siswa dan memberikan dukungan yang tepat agar mereka bisa mengatasi kecemasan mereka dan berhasil dalam belajar matematika.
psikologi memiliki peran penting dalam mengatasi kecemasan matematika. beberapa pentingnya psikologis yang dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan matematika antara lain adalah terapi kognitif perilaku atau CBT, teknik relaksasi, dan perubahan pola pikir negatif. Selain itu juga, guru juga dapat berperan dalam mengurangi kecemasan matematika siswa dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan membantu siswa untuk mengembangkan strategi belajar yang efektif.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Menurut saya Materi ini menyajikan tinjauan yang komprehensif mengenai kecemasan matematika (math anxiety), menyoroti akar masalahnya dalam lingkungan pendidikan dan menggarisbawahi bagaimana psikologi dapat dan harus berperan dalam mengatasinya.
materi ini perlunya pendekatan interdisipliner—melibatkan psikolog, pendidik, dan pembuat kebijakan—untuk merancang intervensi yang inovatif dan berbasis kemitraan demi mengatasi masalah kecemasan matematika di semua tingkatan.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Mau bertanya pak
Penelitian menunjukkan perlunya perombakan sistem penilaian yang terlalu menekankan kecepatan, karena hal ini memicu kecemasan matematika.
Dengan mempertimbangkan peran sentral "pikiran yang mengganggu" (intrusive thoughts) dan tuntutan yang tinggi pada memori kerja selama kecemasan matematika, strategi penilaian alternatif apa yang dapat diusulkan kepada para pendidik—selain sekadar memperlambat waktu ujian—untuk secara eksplisit mengurangi kecemasan siswa dan memberikan penilaian yang lebih akurat terhadap kompetensi matematika mereka?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Bella, jadi selain cuma nambah waktu ujian, guru bisa pakai penilaian yang lebih fleksibel kayak tugas proyek, soal terbuka yang punya banyak cara jawab, penilaian proses berpikir bukan cuma hasil akhir, atau diskusi dan presentasi kecil. Bisa juga pakai kuis tanpa nilai tinggi, portofolio, dan refleksi singkat biar siswa fokus ke paham konsep, bukan kecepatan, jadi kecemasan berkurang dan kemampuan matematikanya kebaca lebih nyata.
Nama:Elisnawatie
BalasHapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Setelah membaca materi ini saya merasa lebih memahami bahwa kecemasan matematika bukan sekadar rasa takut atau tidak suka terhadap matematika, tetapi merupakan respons emosional yang nyata dan dapat memengaruhi kemampuan belajar. Saya menyadari bahwa faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari pengalaman negatif, tekanan untuk berprestasi, hingga stereotip yang melekat tentang matematika. Dampaknya pun serius, tidak hanya menurunkan prestasi akademik, tetapi juga membuat siswa kurang tertarik dan cenderung menghindari matematika. Dengan memahami hal ini, saya menjadi lebih sadar akan pentingnya peran psikologi dalam membantu mengatasi kecemasan matematika, sehingga proses belajar matematika bisa lebih efektif dan menyenangkan.
Nama:Elisnawatie
BalasHapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Berdasarkan materi yang telah dibaca tentang kecemasan matematika, bagaimana menurut bapa/teman teman dalam mengidentifikasi dan mengatasi kecemasan matematika pada siswa, terutama mengingat bahwa faktor penyebabnya bisa berasal dari pengalaman belajar negatif, tekanan untuk berprestasi, maupun stereotip negatif tentang matematika?
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Saya izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut saya cara mengenali kecemasan matematika pada siswa itu sebenarnya cukup dilihat dari sikap mereka saat belajar. Misalnya ada siswa yang tiba-tiba diam saat diminta mengerjakan soal matematika, cepet panik kalau waktunya mepet, berasusmsi terlebih dahulu bahwa dia pasti salah menjawab soal padahal belum mencoba sama sekali atau langsung menyerah begitu melihat angka yang banyak. Untuk mengatasi kecemasan matematika pada siswa jika kita menjadi guru nanti bisa mulai dari hal yang sederhana yaitu jangan terlalu menekan siswa harus benar menjawab soal matemtaika, harus dapat nilai tinggi terus hal tersebutlah yang akan menyebabkan mereka merasa takut salah duluan. Hilangkan anggapan negatif tentang matematika apa lagi ada omongan bahwa " hanya orang pintar yang bisa jawab soal matemtaika" maka dari itu cara mengatasinya adalah dengan menciptakan suasana belajar yang nyaman dan tidak menakutkan, mengurangi tekanan untuk selalu mendapatkan nilai tinggi, memeberi pengalaman belajar yang positif seperti latihan bertahap dan konsisten serta menghilangkan stereotip negatif, dengan pendekatan yang lebih manusiawai dan penuh dukungan siswa akan belajar matematika tanpa rasa takut sehingga kepercayaan diri mereka meningkat dan kecemasan matematika dapat berkurang. okeii sekian dari saya maaf jika ada salah kata ya dan jika ada yang kurang
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Hai Elis! aku izin mau jawab pertanyaan kamu yaa 😃
Jawaban aku mungkin masih kurang tepat karena aku juga masih belajar, ini menurut pemahamanku aja yaa sehabis baca artikel ini (sambil aku searching jugaa hehehe).
Kalau menurut aku, untuk mengenali kecemasan matematika, guru bisa ngeliat tanda-tanda seperti anak gelisah, takut mencoba, atau cepat nyerah waktu dikasih soal.
Penyebabnya tuh banyak, kaya yang udah dijelasin di atas (pengalaman buruk, tekanan berprestasi, atau stereotip negatif)
Nah, dari yang aku baca. Cara mengatasinya itu membuat kelas lebih ramah. Hargai usaha anak, kurangi tekanan soal kecepatan, dan kasih semangat terus untuk si anak.
cmiiw yaa guys 😀🙌
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Kalau dilihat-lihat, kecemasan matematika itu sebenarnya kelihatan dari sikap siswa sehari-hari. Misalnya baru dengar kata matematika aja udah ngeluh, kelihatan panik pas disuruh ngerjain soal, atau langsung bilang: aku nggak bisa, padahal belum nyoba. Biasanya ini efek dari pengalaman nggak enak sebelumnya, terlalu ditekan harus dapat nilai bagus, atau kebiasaan denger kalau matematika itu pelajaran paling susah.
Buat ngatasinnya, guru bisa mulai dari hal simpel dulu. Bikin kelas yang nggak menakutkan, kasih ruang buat salah tanpa dimarahin, dan hargai usaha siswa walau jawabannya belum tepat. Soal juga bisa dibikin lebih dekat sama kehidupan sehari-hari biar nggak kerasa asing. Pelan-pelan kalau rasa takutnya berkurang, kepercayaan diri naik, kemampuan matematikanya biasanya ikut jalan
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Elisnawatie. Menurut saya, untuk mengetahui kalau anak punya kecemasan matematika, guru bisa memperhatikan tanda-tandanya. Misalnya, anak jadi takut mengerjakan soal, gampang panik, atau bilang “saya nggak bisa matematika”.
Supaya kecemasan itu berkurang, guru bisa:
- Memberi soal pelan-pelan dari yang mudah dulu, jangan langsung yang sulit.
- Membuat belajar matematika menyenangkan, misalnya lewat permainan, cerita, atau gambar.
- Memberi semangat dan pujian ketika anak mencoba, walaupun jawabannya salah.
- Menghilangkan tekanan untuk selalu benar, supaya anak tidak takut gagal.
Kalau cara ini dilakukan, anak akan lebih percaya diri, berani mencoba, dan tidak takut matematika lagi 😊
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Menentukan keberhasilan belajar matemtaika bukan hanya soal kemampuan kognitif tetapi juga kondisi psikologi salah satu aspek yang sangat berpengaruh adalah kecemasan matematika baik itu perasaan takut saat mengerjakan ujian matematika, takut di tegur guru jika salah menjawab soal contohnya yang ada di materi seperti di sudutkan oleh guru, stres, tegang atau gugup ketika menghadapi apa pun yang berkaitan dengan matematika. Kecemasan matematika terjadi karena gabungan antar berpikir (kognisi) dan perasaan atau emosi, untuk memahami kecemasan jika melakukan penelitian tidak cukup hanya melihat hasil belajar tetapi harus melihat apa yang terjadi dalam pikiran dan perhatian siswa selama mengerjakan matematika walaupun sulit tapi hasilnya sangat penting untuk mengetahui bagaimana kecemasan mempengaruhi cara kerja pikiran selain itu dengan cara ini lebih mudah untuk menemukan solusi kepada siswa yang mengalami kecemasan terhadap matematika
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Materi ini ngebahas bahwa matematika bukan cuma belajar soal angka, tapi juga soal perasaan siswa,kebanyakan anak yang merasa takut duluan karena cemas, pada saat pelajaran matematika karena takut ga bisa mengerjakan soal nya. karna itu perlu peran guru dan orang tua untuk menenangkan anak dan nge-suport membuat suasana belajar yang nyaman jadi kedepannya matematika bakal jadi lebih ramah bikin fokus belajar.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setuju mel, matematika harus dipandang bukan hanya sebagai pelajaran tentang angka, tetapi juga tentang perasaan dan psikologi siswa. Kecemasan matematika, atau rasa takut gagal, seringkali menjadi penghalang utama fokus belajar. Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan nyaman, sehingga siswa merasa aman untuk membuat kesalahan dan melihat matematika sebagai subjek yang ramah dan mudah didekati.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
setuju banget nih sama Imelda, matematika itu memang bukan cuman soal hitungan tapi soal emosi dan mental juga, kebanyakan anak sudah kalah duluan karena rasa cemas bukan karena mereka bodoh, makanya peran guru dan orang tua sangat penting untuk mendukung dan membuat suasana nyaman.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menambahkan pak, menurut saya, masa depan psikologi dalam pendidikan matematika bakal makin fokus ke kecemasan matematika karena sekarang makin disadari kalau masalahnya bukan cuma di kemampuan hitung, tapi juga di perasaan siswa saat belajar. Ke depan, pendekatan pembelajaran kemungkinan lebih banyak ngandelin riset psikologi, misalnya soal cara kerja emosi, kepercayaan diri, dan pengalaman belajar siswa, supaya guru bisa nyusun metode yang lebih manusiawi. Kalau kecemasan bisa ditekan sejak awal, siswa jadi lebih berani mencoba, nggak takut salah, dan potensi akademiknya juga bisa keluar maksimal tanpa harus merasa tertekan.
Terima kasih bapan telah memberikan materi tentang bagian Kognisi dan Emosi sangat menarik perhatian saya. Penjelasan bahwa kecemasan matematika adalah perpaduan kognitif dan emosional, didukung dengan bahasan tentang metakognitif berpikir tentang berpikir dan konsep penghindaran, memberikan perspektif yang kaya. Saya setuju bahwa mengaitkan kecemasan dengan upaya kognitif seperti penghindaran itu logis. Ini menyadarkan bahwa tantangan dalam matematika bukan hanya soal 'bisa menghitung' atau tidak, tetapi juga bagaimana pikiran dan keyakinan diri kita memproses tugas tersebut. Perluasan penelitian tentang motivasi dan metakognitif ini akan sangat bermanfaat untuk memahami akar masalah kecemasan secara lebih mendalam.
BalasHapusNama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Margareta sangat bagus karena menyoroti bahwa kecemasan matematika adalah perpaduan antara kognitif dan emosional, dan peran metakognitif di sini penting banget. Jadi, tambahan dari saya, metakognitif ini krusial karena kecemasan secara langsung merusak kemampuan siswa untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi solusi matematika mereka. Ini menciptakan lingkaran setan siswa gagal, lalu cemas, kemudian mencoba lebih keras yang malah memperburuk pemahaman, konsep penghindaran, seperti yang Margareta sebut, adalah respons yang sering muncul karena rendahnya kepercayaan diri dan keinginan untuk lari dari tugas yang memicu kecemasan.
Saya juga ingin berkomentar pada bagian Intervensi dan keterlibatan guru. Menurut saya materi bapak pada bagian menyoroti bahwa meskipun sudah ada strategi inovatif yang diuji, masih banyak ruang untuk eksplorasi, terutama dengan melibatkan sekolah dan institusi pendidikan lainnya. Menurut saya, poin tentang perlunya pengembangan apresiasi yang lebih baik terhadap desain dan metode penelitian dunia nyata oleh akademisi sangat penting. Ini akan menjembatani kesenjangan antara teori akademis dengan apa yang benar-benar bisa diterapkan dan berhasil di ruang kelas, sehingga intervensi yang dikembangkan benar-benar praktis dan berdampak langsung pada guru maupun siswa.
BalasHapusNama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya setuju banget dengan Margareta bahwa meskipun sudah ada strategi inovatif yang diuji, keterlibatan akademisi dengan sekolah dan institusi pendidikan di dunia nyata harus ditingkatkan. Jadi, tambahan dari saya, keterlibatan awal ini bukan cuma soal uji coba, tapi memungkinkan adanya pendekatan berbasis kemitraan yang kuat. Para peneliti bisa mendapat apresiasi yang lebih baik terhadap desain dan metode penelitian yang benar-benar cocok dan praktis di ruang kelas. Di sisi lain, pendidik juga bisa mendapatkan wawasan akademik yang teliti, sehingga intervensi yang dibuat dan diterapkan guru di kelas jadi lebih teruji dan berdampak langsung pada siswa.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Materi ini ngasih gambaran jelas kalau kecemasan matematika itu bukan hal sepele titik banyak orang stres duluan cuman gara-gara harus ngerjain soal matematika, apalagi kalau pengalaman belajarnya dulu penuh dengan tekanan. Nggak heran sih, karena dari kecil kita sering dinilai cepat-cepatan untuk menjawab, bukan seberapa pahamnya kita. Makanya wajar kalau banyak anak tumbuh dengan rasa takut sama matematika. penelitian psikologi di bidang ini memang penting banget buat ngebantu sekolah ngerombak sarang ajar.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya sependapat banget sama Fika bahwa kecemasan matematika itu bukan masalah remeh, karena banyak orang stres duluan cuma karena mikirin soal matematika. Jadi, tambahan dari saya, masalah tekanan ini diperparah oleh sistem penilaian di sekolah yang seringkali mengaitkan matematika dengan kecepatan, padahal ini bisa memicu perasaan negatif yang kuat sejak usia dini. Selain itu, ada juga factor penularan emosional dari orang tua, di mana anak bisa meniru emosi negatif seperti frustrasi orang tua saat membantu PR matematika di rumah. Makanya, penelitian psikologi observasional itu penting banget buat tahu interaksi yang lebih mendalam ini.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Bagian soal hubungan antara kognisi dan emosi juga menarik banget dalam materi ini. Ternyata pikiran yang ganggu pas ngerjain matematika itu benar-benar ngaruh ke hasil belajar kita ya sayangnya penelitian soal mekanisme dasarnya masih sedikit.padahal kalau bisa ngerti cara kerja pikiran itu, guru bisa ngebantu siswa lebih baik dalam melakukan pengerjaan soal matematika. Teknologi kayak eye tracking juga bisa bikin penelitian makin akurat.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Fika tentang hubungan kognisi dan emosi itu menarik karena pikiran yang terganggu saat mengerjakan matematika memang sangat memengaruhi hasil belajar. Jadi, tambahan dari saya, meski kecemasan matematika jelas merusak memori kerja dan proses perhatian, penelitian tentang mekanisme dasar bagaimana pikiran terganggu saat cemas itu masih sedikit. Makanya, penelitian perlu beralih ke cara pengukuran yang lebih canggih dan objektif, seperti menggunakan teknologi eye tracking, seperti yang Fika sebutkan, agar kita benar-benar bisa mengerti cara kerja pikiran siswa dan membuat intervensi yang lebih tepat sasaran.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Yang paling kerasa Itu poin tentang guru. Ternyata guru juga bisa punya kecemasan matematika dan itu bisa berpengaruh ke cara mereka mengajar. Kalau guru sendiri takut atau enggak pendek, ya murid bisa ikut ke bawah juga sih. Makanya pelatihan guru harusnya bukan cuma soal materi, tapi juga sisi psikologisnya. Kolaborasi sama psikolog kelihatannya bakal ngebantu banget.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
betull andi, mengubah rasa takut guru adalah kunci pertama untuk mengubah rasa takut murid. Guru yang percaya diri, tenang, dan punya hubungan positif dengan matematika akan menciptakan suasana belajar yang sama positifnya.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Membaca artikel kali ini membuka mata ku, kalau ternyata belajar matematika itu bukan cuma soal angka angka dan angka, tapi juga soal perasaan dan pikiran. Banyak anak (bahkan guru) merasa cemas ketika berhadapan sama matematika, dan ternyata itu bisa mempengaruhi cara mereka berpikir, mengambil keputusan, bahkan motivasi belajar.
Saya kira itu semua hanya terjadi sama siswa, ternyata terjadi sama guru juga.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nabilah yang menyadari bahwa masalah matematika melibatkan perasaan dan pikiran bukan hanya angka itu sudah tepat, dan penting banget bahwa kecemasan itu ternyata juga dialami oleh guru, bukan hanya siswa. Jadi, tambahan dari saya, fokus pada kecemasan guru itu penting karena kecemasan mereka bisa memengaruhi cara mereka mengajar, bahkan bisa menurunkan kinerja siswa karena adanya ancaman stereotip di kelas. Selain itu, sebagian besar program pelatihan guru saat ini masih kurang memberikan perhatian pada aspek psikologis yang relevan dengan kecemasan ini. Makanya, kerja sama interdisipliner antara psikolog dan mereka yang melatih guru harus didorong agar masalah emosional ini bisa ditangani dari hulu ke hilir.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Artikel ini juga ngasih sokusi dari kecemasan matematika, yang ternyata solusinya ga cuma lewat soal latihan, tapi perlu intervensi psikologis (seperti yang sudah dijelaskan di atas) dan dukungan dari guru maupun orang tua.
Seandainya semua solusi yang ditulis di artikel benar-benar dijalankan, tentu suasana belajar matematika akan jauh lebih menyenangkan. Anak-anak ga lagi merasa tertekan dan guru pun juga merasa nyaman mengajar.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya setuju dengan Nabilah bahwa solusi untuk kecemasan matematika memang bukan cuma latihan soal, tapi perlu intervensi psikologis dan dukungan menyeluruh. Jadi, tambahan dari saya, intervensi yang dimaksud ini bisa berupa strategi inovatif yang sudah mulai diuji oleh peneliti untuk membantu mengurangi kecemasan matematika. Agar solusi ini benar-benar efektif dan suasana belajar jadi menyenangkan seperti harapan Nabilah, peneliti harus lebih aktif berkolaborasi dengan sekolah dan institusi pendidikan. Keterlibatan di awal ini memungkinkan pendekatan berbasis kemitraan yang lebih kuat, di mana pendidik mendapat wawasan dari akademisi, dan sebaliknya akademisi juga jadi lebih paham kebutuhan praktis di dunia nyata.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
materi ini memberikan pesan jelas yaitu keluarga adalah mitra paling penting dalam proses pendidikan seorang anak. Perkembangan anak baik kemampuan berpikir,emosi maupun literasi awal sangat bergantung pada kualitas interaksi dan dukungan yang diberikan di rumah. Sekolah hanya bisa berhasil jika ada energi kuat dengan lingkungan keluarga
Nama :Zakky Setiawan
HapusNPM ; ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Setuju banget dita, kalau keluarga itu berperan penting pada proses belajar anak, maka dari itu keluarga yang harmonis harus diciptakan demi kebaikan seorang anak tersebut agar proses belajar anak semakin baik
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
setuju banget dita, memang benar nih meskipun sekolah dan guru sudah bagus, keluarga itu mitra paling utama, kalau di rumah sudah ada interaksi dan dukungan yang kuat baik dalam emosi maupun berpikir anak akan pasti jauh lebih siap dilingkungan sekolah.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Setuju banget. Materi ini ngingetin kalau peran keluarga itu nggak bisa digantiin sama sekolah. Anak belajar mikir, ngatur emosi, sampai suka baca itu banyak kebentuk dari rumah lewat interaksi sehari-hari. Sekolah cuma bantu ngarahin, tapi kalau di rumah nggak ada dukungan, hasilnya pasti kurang maksimal. Jadi memang idealnya sekolah dan keluarga jalan bareng, saling dukung, bukan kerja sendiri-sendiri.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusKelas : 5 C
NPM : 2386206048
Nah ini mengubah peran kita menjadi penghubung dan edukator orang tua dengan mengintegrasikan lingkungan sebagai calon guru kita tidak boleh bekerja sendiri kita harus pintar mencari informasi dan menggunakan latar belakang siswa untuk merancang pengajaran yang relevan di sekolah dan yang kedua adalah mengukasi orang tua, kita memiliki tanggung jawab untuk mengukasi orang rua tentang penting nya lingkungan rumah yang suportif.
Jadi keberhasilan seorang guru SD sangat signifikan dipengaruhi oleh seberapa baik ia bekerja sama dengan keluarga.Kita harus memandang orang tua bukan hanya sebagai wali murid tetapi sebagai guru pertama dan mitra utama yang mendukung fondasi perkembangan dan literasi anak dirumah
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Menurut saya materi ini menjelaskan bagaimana psikologi memiliki peran penting dalam pendidikan matematika, terutama terkait dengan kecemasan matematika yang dialami oleh banyak siswa. Menarik untuk dicatat bahwa meskipun ada banyak orang yang menikmati matematika, banyak juga yang merasa tertekan atau cemas ketika harus berhadapan dengan pelajaran ini. Pengalaman negatif seperti merasa dipermalukan di kelas sering kali membekas dan bisa mempengaruhi bagaimana siswa melihat matematika di kemudian hari.
Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan matematika tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi juga dengan emosi. Bagaimana seorang siswa merasakan dan mengatasi stres saat belajar matematika bisa sangat mempengaruhi hasil belajar mereka. Terlebih lagi, ada juga faktor meta-kognitif yang berperan, di mana siswa perlu menyadari bagaimana cara mereka berpikir dan belajar agar bisa mengatasi kecemasan tersebut.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM :2386206113
Satu hal yang menarik dari materi ini adalah bahwa interaksi antara anak-anak dan orang dewasa, seperti orang tua atau guru, juga dapat mempengaruhi kecemasan matematika. Jika orang tua atau guru menunjukkan frustrasi atau stres saat membantu anak dalam matematika, anak tersebut mungkin akan meniru emosi negatif itu. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami dan mengelola kecemasan mereka sendiri agar bisa memberikan dukungan yang lebih baik kepada siswa.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Saya ijin bertanya pak, Bagaimana cara kita bisa mengurangi kecemasan matematika di kelas tanpa mengorbankan standar akademik?
Apa langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar matematika yang lebih positif?
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
izin menjawab aprliliana, kuncinya adalah mengubah cara kita menilai dan mengajar. Anggap Matematika sebagai latihan berpikir, bukan ujian cepat. Dengan begitu, standar akademik tetap jalan, tapi hati dan pikiran anak jadi lebih tenang.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
izin menanggapi pertanyaan dari awing ya, langkah paling penting kita sebagai guru yaitu dengan ubah fokus dari kecepatan ke pemahaman proses, jangan jadikan nilai akhir sebagai penentu segalanya, lalu menciptakan lingkungan yang aman dan fositif.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, kecemasan matematika bisa dikurangin tanpa nurunin standar dengan cara guru bikin kelas lebih aman dulu buat belajar, misalnya menegaskan kalau salah itu wajar dan bagian dari proses, nggak langsung fokus ke nilai tapi ke cara berpikirnya, sering pakai diskusi kelompok biar siswa nggak merasa sendirian, ngasih soal bertahap dari yang gampang ke menantang, serta variasi penilaian seperti proyek kecil atau refleksi singkat supaya siswa bisa nunjukin pahamnya dengan cara berbeda, jadi target akademik tetap jalan tapi suasana belajarnya lebih santai dan positif.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Izin menjawab ya. Kecemasan matematika bisa dikurangin tanpa nurunin standar kok. Caranya lebih ke suasana kelasnya. Guru bisa bikin kelas yang aman buat salah, jadi siswa nggak takut nyoba. Materi juga dikaitin sama kehidupan sehari-hari biar nggak kerasa abstrak. Nilai jangan ditekan di awal, yang penting paham dulu. Kalau suasananya nyaman, siswa biasanya malah lebih berani mikir dan hasilnya ikut naik.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Aprilina Awing. Menurut saya, guru bisa mengurangi kecemasan matematika tanpa mengorbankan pelajaran dengan cara membuat belajar jadi menyenangkan dan menenangkan.
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:
- Mulai dari soal yang mudah dulu, lalu tingkatkan kesulitannya pelan-pelan.
- Pakailah permainan, gambar, atau cerita untuk menjelaskan matematika, supaya anak tidak bosan dan takut.
- Memberi pujian dan semangat saat anak mencoba, walaupun jawabannya salah.
- Biarkan anak berdiskusi atau bertanya tanpa takut dimarahi.
- Membuat aturan kelas yang aman, supaya anak tidak malu kalau belum mengerti.
Dengan cara ini, anak bisa belajar matematika dengan senang, berani mencoba, tapi tetap paham pelajaran 😊
NAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
Materi ini ngejelasin gimana pendidikan matematika tidak bisa dipahami hanya dari sisi kognitif (cara berpikir), tetapi juga harus dilihat dari sisi emosional, sosial, dan psikologis. Banyak anak (dan orang dewasa) mengalami kecemasan matematika, yaitu perasaan takut, panik, atau stres ketika menghadapi matematika. Penelitian menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar “tidak bisa berhitung”, tetapi sering berasal dari pengalaman negatif, tekanan dari sekolah, interaksi dengan guru atau orang tua, serta cara penilaian yang terlalu menekankan kecepatan. Untuk memahami kesulitan matematika siswa, kita tidak cukup hanya melihat kemampuan kognitif. Kita harus melihat faktor emosional, pengalaman masa kecil, interaksi sosial, cara mengajar, hingga rasa percaya diri siswa. Penelitian psikologi sangat penting dalam membantu sekolah menciptakan pembelajaran matematika yang lebih manusiawi, bebas stres, dan lebih efektif.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Dari materi di atas dapat kita ketahui betapa pentingnya pendekatan yang lebih holistik dalam pendidikan matematika, dengan melibatkan aspek psikologi, jadi bukan hanya kemampuan kognitif saja. Misalnya kecemasan yang dialami anak saat menghadapi soal matematika dapat menurun motivasi dan kepercayaan diri mereka. Sebaliknya jika kecemasan itu bisa dikurangi, Anak-anak lebih bisa menikmati belajar matematika dan merasa lebih percaya diri menghadapi tantangan tersebut.
Namun saya sadari diri saya sendiri pun sering menghadapi kecemasan dan stress dalam matematika, apalagi saat mendekati ujian, hal ini terjadi karena saya belum ketemu metode belajar yang sesuai untuk matematika ini, sering kali saya berfokus pada rumus. Hingga kebanyakan rumus yang harus dihafal dan kuasai, membuat saya pusing
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setuju pak, untuk membuat pendidikan matematika lebih baik, kita harus memperlakukan kecemasan matematika sebagai masalah psikologis yang serius, bukan hanya masalah akademik. Kolaborasi antara psikolog dan pendidik adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan efektif.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Setuju banget dengan Naida. Jadi, tambahan dari saya, fokus pada kecemasan matematika sebagai masalah psikologis itu penting karena kecemasan ini bisa merusak kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah siswa. Misalnya, ketika siswa cemas, proses metakognitif jadi kacau, yang ujung-ujungnya membuat mereka makin kesulitan mencari solusi yang benar. Makanya, kolaborasi antara psikolog dan pendidik itu wajib, karena guru perlu dibekali ilmu psikologi untuk mengidentifikasi dan menangani kecemasan di kelas, bukan cuma mengajar rumus.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, materi tentang kecemasan matematika ini penting banget dan sangat relevan dengan kondisi pendidikan kita sekarang. Intinya, pelajaran matematika itu bukan cuma soal rumus dan hitung-hitungan di kepala (kognitif), tapi juga masalah perasaan dan mental. Banyak siswa jadi stres, takut, atau bahkan benci matematika karena sistem penilaian yang terlalu fokus pada kecepatan dan nilai akhir, seperti disinggung di artikel. Parahnya lagi, tekanan ini sering bermula dari pengalaman buruk saat kecil, misalnya dipermalukan guru atau stres orang tua yang ikut menular ke anak. Jadi, kalau kita mau Numerasi di Indonesia maju, kita enggak bisa cuma ganti kurikulum atau materi, tapi harus membenahi sisi psikologisnya dulu. Kita harus ubah anggapan kalau matematika itu monster yang cuma bisa diatasi orang pintar.
Lalu, menurut saya, kunci penyelesaian masalah ini ada di guru dan sistemnya. Artikel ini menyarankan agar pelatihan guru matematika diperbaiki, jangan hanya fokus pada cara mengajar materi, tapi juga cara menangani rasa cemas siswa. Guru juga harus sadar, jangan sampai kecemasan mereka sendiri ikut ditularkan ke anak-anak. Selain itu, perlu ada kolaborasi yang lebih erat antara psikolog dan sekolah. Daripada sekadar mengandalkan hasil tes, penelitian harus lebih banyak mengamati langsung interaksi di kelas dan di rumah, biar tahu persis di mana letak masalahnya. Kesimpulannya, sistem pendidikan matematika yang ada sekarang yang terlalu fokus pada penilaian harus dirombak total supaya siswa merasa aman dan nyaman saat belajar, bukan malah merasa tertekan dan stres.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Di luar guru dan sistem, menurut saya, faktor metakognitif yang dibahas di materi itu juga krusial banget dan sering terlewatkan. Metakognitif ini kan artinya berpikir tentang cara kita berpikir. Ketika siswa cemas, kemampuan mereka untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (metakognitif) pasti terganggu. Ironisnya, karena cemas, siswa malah berusaha lebih keras tapi hasilnya bumerang, malah jadi bingung sendiri. Jadi, edukasi matematika seharusnya juga mengajarkan siswa strategi menghadapi kegagalan dan pengelolaan diri (self-regulation). Kita perlu mendorong mereka untuk tidak takut salah, menjadikan kesalahan sebagai bahan belajar, dan punya strategi berpikir yang fleksibel, bukan malah menghindar dari tugas matematika hanya karena takut cemas.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Naida yang ini benar-benar kena sasaran. Jadi, tambahan dari saya, kolaborasi antara psikolog dan pendidik itu harus dimulai dari akar, yaitu di program pelatihan guru. Kebanyakan pelatihan guru sekarang kurang fokus pada aspek psikologis yang relevan dengan kecemasan matematika. Kalau guru punya pemahaman psikologi yang baik, mereka bisa menerapkan strategi intervensi yang inovatif dan efektif untuk mengurangi kecemasan siswa. Selain itu, kalau guru juga cemas saat mengajar matematika, kecemasan itu bisa menular ke siswa, makanya penting untuk fokus pada faktor yang bisa mengurangi kecemasan pada guru juga.
Banyak orang tidak menyukai adanya matematika tapi nyatanya 90% di pendidikan ini juga banyak yang menyukai matematika. akan tetapi, bagi banyak orang, matematika menimbulkan respon emosional negatif. akibatnya, selama bertahun-tahun, para peneliti respon stres manusia menggunakan tugas aritmatika mental yang dipaksakan sebagai cara untuk memicu stres. pengujian matematika yang cepat dan secara sosial dievaluasi sering kali terjadi di ruang kelas. Secara anekdot (dan dari beberapa penelitian kualitatif), banyak orang dewasa menceritakan pengalaman mereka saat kecil ketika guru matematika "menyudutkan mereka" atau mempermalukan mereka karena jawaban yang salah. Menariknya, kenangan seperti itu sering kali memenuhi kriteria yang oleh psikolog kognitif disebut sebagai "memori lampu kilat". Penelitian terbaru menyelidiki kecemasan matematika pada anak-anak yang baru saja menjalani pendidikan formal (misalnya, Petronzi et al.2018). Sayangnya, melalui sis penilaian dan waktu yang eksport,
BalasHapusSelain itu guru juga perlu pelatihan yang tidak mencakup psikologis pada pendidikan matematika. Poin ini juga memberikan solusi yang bagus, saya setuju. Sangat penting untuk melihat perbedaan halus antara kecemasan matematika di sisi lain pengajaran matematika.
HapusDalam dunia pendidikan matematika bagus untuk mengkolaborasi dengan psikolog, karena untuk mengurangi banyak kecemasan pada matematika.
BalasHapusPsikolog dapat membantu mengidentifikasi faktor emosional, stres, dan pengalaman negatif yang memengaruhi sikap siswa terhadap matematika. Melalui pemahaman psikologis, guru matematika dapat membuat/menyusun strategi pembelajaran yang lebih ramah emosi, misalnya, menciptakan suasana kelas yang aman, menghindari praktik mempermalukan siswa, serta menanamkan bahwa kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar. Kolaborasi ini juga bisa mengembangkan metode penilaian yang lebih manusiawi dan berfokus pada proses, sehingga siswa dapat membangun kepercayaan diri, motivasi, dan hubungan yang lebih positif dengan matematika.
HapusNama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm 2386206035
Menurut saya, gagasan tentang kecemasan matematika yang dikaitkan dengan upaya belajar ini menarik dan nyambung dengan pembahasan sebelumnya tentang matematika sebagai pemicu stres. Dari yang saya pahami, kecemasan memang bisa mendorong siswa untuk berusaha lebih keras saat gagal menyelesaikan soal, tapi di sisi lain justru bisa menjadi bumerang karena membuat siswa semakin tertekan dan sulit memahami konsep. Hal ini akhirnya membentuk semacam lingkaran setan antara kecemasan, usaha berlebihan, dan hasil belajar yang kurang optimal. Saya melihat ini sebagai pengingat bahwa guru tidak hanya perlu memperhatikan kesalahan siswa, tetapi juga motivasi dan kondisi emosional mereka. Kalau kecemasan dan motivasi bisa dikelola dengan baik, pembelajaran matematika berpeluang jadi lebih sehat, bermakna, dan tidak menakutkan.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Artikel yang bapak kasih ini lumayan menarik.Di sini membahas sisi psikologis yang sering dilupakan dalam belajar matematika. Ternyata rasa cemas terhadap angka gak cuma soal pintar atau nggak, tapi lebih ke gimana emosi dan pikiran kita bekerja sama. Rasa cemas gak cuma milik siswa, tapi juga bisa dialami oleh guru dan orang tua tanpa mereka sadari.
Nama:syahrul
BalasHapusKelas:5D
Npm:2386206092
Ada poin penting yang bisa kita liat di artikel yang bapak kirim kayak
• Belajar matematika gak cuma soal menghitung, tapi juga tentang berpikir tentang cara kita berpikir. kalau kita bisa liat dan pahamii cara belajar sendiri, rasa cemas itu bisa lebih terkendali.
• Kecemasan guru saat mengajar atau stres orang tua saat membantu PR di rumah bisa menular ke anak. Anak-anak cenderung meniru ekspresi yang diliat dari orang dewasa di sekitarnya.
• Banyak orang dewasa punya ingatan buruk yang sangat jelas tentang momen mereka dipermalukan guru matematika karena jawaban salah. Hal ini menciptakan luka jangka panjang terhadap angka.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
• Sistem sekolah sering menganggap anak yang cepat mengerjakan soal adalah yang paling hebat. Padahal, tekanan waktu justru menjadi pemicu stres utama yang menghambat kinerja otak anak.
Satu hal yang jadi catatan penting adalah bagaimana lingkungan sekolah perlu dirombak. Selama matematika hanya diukur dari seberapa cepat seseorang menjawab di bawah tekanan waktu, rasa cemas akan terus ada. Kita perlu lingkungan yang lebih santai di mana kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang memalukan.
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Halloo Syahrul, saya izin menanggapi komen mu yaa karna saya ngerasa tertarik untuk menanggapinya.
Kalimat pertama yang ada di komen mu itu sangat amat kerasa dan relatedable dengan keadaan yang ada di sekolah sekolah. Kita dulu pernah sekolah, dan yaa benar, anak anak yang berusaha menjadi nomer satu selesai mengerjakan membuat vibes terasa bahwa orang orang yang cepat selesai adalah orang yang hebat. Melihat kondisi itu waktu itu saya cukup degdegan karna saya tidak selesai dengan secepat itu. Timbul kecemasan di dalam diri karna udah ngerasa tertekan ama waktu di tambah tertekan dengan vibes kelas yang mencekam itu hahaha.
196
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Tapi, waktu demi waktu, dan tibalah kita menjadi mahasiswa. Di bangku kampus ini saya belajar banyak hal, termasuk mindset tentang hal ini. Saya mulai sadar dan rilex bahwa bukan siapa yang cepat tetapi dalam soal itu tentang fokus dan tepat. Jadi, ketika ada ujian matematika atau pelajaran apapun, saya sudah tidak lagi merasa degdegan kalau ngelihat ada teman teman yang sudah selesai lebih dulu.
197
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Mendapat pembelajaran ini di dunia kampus, saya ngerasa perlu membawanya ke sekolah saat saya mengajar nanti. Saya akan menenangkan murid murid saya, bahwa bukan soal siapa yang cepat, tapi soal fokus dan sungguh sungguh mengerjakan. Hal tersbut saya ingin bawa, supaya anak anak saya mereasa lebih safe dan tenang saat mengerjakan tugas, jadi akan meminimalisir hal blank pada mereka. Dan hasil mereka mengerjakan soal tersebut pun lega karna perasaan aman dan nyaman yang tercipta tadi.
198
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Bagi guru dan orang tua, kuncinya ada pada dukungan dan kesadaran diri. Padahal sebelum membantu anak, orang tua perlumastiin mereka sendiri gak stres dengan materinya. Kalau orang tua tenang, anak akan ngerasa kalo matematika tuh tantangan yang seru, bukan ancaman yang menakutkan. Kerja sama antara psikolog dan pendidik juga sangat dibutuhkan untuk menciptakan metode pelatihan yang lebih ramah mental.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Moga aja penelitian tentang kecemasan matematika ini harus lebih banyak turun langsung ke lapangan. Gak cukup hanya dengan teori di atas kertas, tapi perlu juga ngelihat bagaimana interaksi nyata terjadi di dalam kelas. Dengan begitu, kita bisa nemuin strategi yang betul betul ampuh untuk membuat matematika jadi pelajaran yang menyenangkan bagi semua orang.
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Ishh, setuju rul, penelitian mtk ttg kecemasan ini ga cukup kalau cuman sekedar angket atau teori di atas kertas dengan melewati tahap pengamatan langsung. Karna menurut saya belum sepenuhnya valid terhadap kebenaran diri setiap anak. Mungkin, bisa pake teori di atas kertas itu kayak angket, cuman ga boleh melewati step pengamatan. Jadi urutannya bisa pengamatan langsung dulu, baru kalau mau pake angket atau teori di atas kertas lagi bisa.
199
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Pengamatan langsung yang ada juga jadinya bisa melihat langsung sikon dan keadaan nyata di kelas gitu loh. Ga cuman dari pernyatan pernytaan di angket, tapi bener bener ngamatin langsung kejadian kejadian di kelas. Dan akhirnya menurut saya penelitiannya jauh lebih valid hehehe karna kayak langsung gituu. Kalau udah akurat dan valid bgt gini, jadi penelitiannya bisa ngasih atau mencari solusi yang tepat juga dari permasalahan yang ada di nyata.
200
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Waku baca materi tentang ini saya coba mencerna kalimat demi kalimatnya. Emm, di tengah saat pemikiran berjalan, saya agak ngeh dengan materi ini, Materi tentang kesehatan psikis yang berhubungan dengan pelajaran mtk. Kalau di SD alhamdulillahnya saya ngerasa bebas dan ngerasa ga ada tekanan yang menimbulkan trauma pada mtk.
190
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Tapi yang bikin saya ngeh banget itu bahwa, mtk tu ternyata sangat memancing emosional ya. Dan bener sih kalau diingat ingat, kalau saya paham sama materi tertentu ttg mtk, saya ngerasa seneeeng banget dan ini termasuk ke dalam emosional juga kan. Tapi pada pembahasan di materi ini lebih ke emosional ke arah negatif kayak cemas. Mungkin, temen temen saya waktu SD yang kayak ngeliat bahwa mtk itu adalah suatu hal yang cukup memancing emosional negatifnya punya trauma yang membekas tentang ini.
191
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
BalasHapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Emm bapak di atas ada bilang bahwa pada bagian metakognisi tentang ‘mengubah pola belajar untuk tugas yang di berikan‘. Nah, kalimat tersebut cukup related sama saya dan saya coba ceritakan pengalamannya ya pak ehehe. Waktu semester 3 ada mata kuliah gepeng, saya ngerasa cukup tertekan dengan tugas tugas yang ada pada mata kuliah ini. Bukan karna saya ngerasa ga suka, tapi saya kayak ngerasa bahwa materi di gepeng ini cukup berat.
192
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Nah, karna kayak ada timbul beban di dalam diri saya untuk mata kuliah gepeng ini saya selama semester 3 jadi cukup cemas. Dalam mk gepeng ini kan tugasnya buanyak dan bobotnya cukup berat ya menurut saya. Dari situ muncuk cemas saya pak, dan saya coba beradaptasi dengan mk gepeng ini waktu itu. Saya coba nyicil ngerjain tugas essay nya dikit dikit, dan inilah yang saya bilang related sama saya.
193
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Saya mengubah pola belajar saya untuk memahami pola tugas yang diberikan. Saya berpikir dalam kecemasan saya, bahwa sangat mustahil untuk dapat menyelesaikan tuga stugas essai tersebut kalau udah mepet deadline. Saya berpikir bahwa saya harus bisa menyicilnya dikit demi dikit sambil belajar sama materinya. Supaya tetap imbang antara mengerjakan tugas, sama paham terhadap materi. Olehnya, pelan pelan saya cicil tugas sambil ttp belajar lagi tiap soal yang bersangkutan dengan materinya.
194
Nama: Nur Aulia MIftahul Jannah
HapusNPM: 2386206085
Kelas: 5D PGSD
Ohh iya ehhehe, tugas yang sekarang juga related pak ternyataa hihi. Tugas yang bapak kasih untuk komen di blog bapak ini ga cuman belajar tentang materi materi isi yang ada di blog. Tapi, gimana caranya kita mengubah pola belajar supaya sesuai dengan pola tugas yang dikasih.. Jadi, pembelajarannya ga cuman di dapat dari baca materi, melainkan mengatur strategi untuk mengerjakan tugasnya dengan baik dan tepat waktu.
195
Materi ini menunjukkan bahwa belajar matematika bukan hanya soal pintar atau tidak, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh perasaan dan pengalaman emosional siswa. Banyak anak merasa takut, cemas, atau tertekan saat belajar matematika karena pengalaman negatif, seperti dimarahi, dipermalukan, atau selalu dikejar waktu. Perasaan ini bisa muncul sejak usia dini dan terus terbawa sampai dewasa.
BalasHapusKecemasan matematika membuat siswa sulit berpikir jernih, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena pikiran mereka dipenuhi rasa takut salah dan kurang percaya diri. Akibatnya, mereka cenderung menghindari matematika dan hasil belajarnya menjadi rendah. Ini seperti lingkaran yang berulang: takut → sulit memahami → makin takut.
Materi ini juga penting karena mengingatkan bahwa guru dan orang tua punya peran besar. Sikap guru yang terlalu menekan, fokus pada kecepatan, atau hanya menilai hasil akhir bisa memperkuat kecemasan siswa. Begitu juga orang tua yang menunjukkan stres saat membantu anak belajar matematika dapat “menularkan” emosi negatif tersebut.
BalasHapusSelain itu, guru sendiri juga bisa mengalami kecemasan matematika. Jika hal ini tidak disadari, kecemasan guru bisa memengaruhi cara mengajar dan berdampak pada siswa. Oleh karena itu, pelatihan guru seharusnya tidak hanya membahas materi, tetapi juga bagaimana mengelola emosi, membangun rasa aman, dan menumbuhkan kepercayaan diri siswa.
Ternyata faktor genetik bukan harga mati ya untuk kemampuan membaca anak. Saya setuju banget kalau stimulasi dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting buat membantu anak suka membaca.
BalasHapusNama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Setuju banget.
Genetik emang ada pengaruh, tapi bukan penentu segalanya. Lingkungan dan stimulasi itu jauh lebih kerasa dampaknya. Anak yang sering diajak baca, lihat contoh orang di sekitarnya suka baca, dan nggak dipaksa, biasanya lebih gampang tumbuh minat bacanya.
Jadi daripada nyalahin bakat, mending fokus nyiapin suasana yang bikin membaca jadi hal yang normal dan menyenangkan.
Nama : Dias Pinasih
BalasHapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menjawab, Pak.
Menurut saya, kecemasan matematika memang jadi masalah yang sering dialami siswa, terutama karena sejak awal mereka sudah merasa takut dan tertekan saat berhadapan dengan angka. Hal ini biasanya muncul karena pengalaman belajar yang kurang menyenangkan, seperti dimarahi saat salah atau terlalu ditekan untuk mendapat nilai bagus.
Peran guru sangat penting untuk mengurangi kecemasan ini, misalnya dengan menciptakan suasana belajar yang nyaman, tidak menghakimi kesalahan siswa, dan lebih menekankan proses daripada hasil. Jika siswa merasa aman dan dihargai, rasa takut terhadap matematika bisa perlahan berkurang.
Menurut saya, pendekatan psikologis dalam pembelajaran matematika sangat relevan ke depan, karena bukan hanya membuat siswa lebih paham materi, tapi juga membantu mereka lebih percaya diri dan berani mencoba tanpa takut salah.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Terimakasih atas materinya pak, dari materi ini saya jadi mengerti ternyata matematika itu bukan soal urusan otak kiri saja tetapi juga urusan hati. materi ini menjelaskan kalau Kecemasan Matematika itu nyata. banyak dari kita yang kalau melihat soal matematika langsung berkeringat dingin, hal itu bukan karena kita bodoh melainkan karena ada tabrakan antara kognitif dan emosi. jadi, memori buruk semasa kecil bisa menempel terus menerus sampai tua karena cara belajar yang salah.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, menurut bapak apakah kecemasan matematika ini bisa menular? misalnya dari orang tua yang stres ketika menemani anaknya mengerjakan PR, kemudian anaknya jadi ikutan parno sama matematika.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Izin menjawan ya selma. Kalau menurutku Iya, bisa banget malah. Kecemasan matematika itu bisa nular, apalagi dari orang tua ke anak. Kalau orang tua kelihatan stres, ngomel, atau sering bilang “aku juga dulu nggak bisa matematika”, anak bisa nangkep sinyal kalau matematika itu sesuatu yang menakutkan.
Lama-lama anak jadi ikut parno, padahal belum tentu soalnya susah. Anak belajar bukan cuma dari kata-kata, tapi juga dari sikap yang dia lihat. Makanya penting banget orang tua dan guru berusaha tenang, sabar, dan nggak nunjukin kepanikan saat dampingi anak belajar.
Kalau suasananya lebih santai dan suportif, anak juga lebih rileks dan berani nyoba
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Selma Alsayanti Mariam.
Menurut saya, kecemasan matematika bisa “menular”, misalnya kalau orang tua stres atau takut sama matematika, anak juga bisa merasa takut dan cemas saat belajar.
Kalau orang tua sering bilang, “Matematika itu susah!” atau terlihat panik waktu anak PR, anak bisa ikut merasa takut gagal.
Supaya tidak menular,6 orang tua dan guru harus tenang, sabar, dan memberi semangat. Anak diajari bahwa salah itu wajar, dan belajar matematika bisa menyenangkan. Dengan begitu, anak jadi percaya diri dan berani mencoba 😊
Nama: Ajuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Saya melihat bahwa bagi banyak orang matematika justru menjadi sumber stres sejak kecil pengalaman negatif seperti dimarahi karena jawaban salah atau dibandingkan dengan teman yang lebih cepat membuat siswa merasa takut dan tidak percaya diri sistem penilaian yang terlalu menekankan kecepatan dan jawaban benar juga memperkuat anggapan bahwa hanya siswa tertentu yang pandai matematika Akibatnya banyak siswa yang sebenarnya mampu justru merasa tidak sanggup karena kecemasan yang mereka alami.
Selain itu, kecemasan matematika menunjukkan adanya hubungan erat antara kognisi dan emosi. Ketika siswa merasa cemas, perhatian dan memori kerja mereka terganggu sehingga sulit berpikir jernih saat menyelesaikan soal.
BalasHapusNama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Pak, terima kasih atas materinya. Dari tulisan ini saya jadi lebih paham kalau psikologi punya peran besar dalam dunia pendidikan, bukan cuma untuk memahami perilaku siswa, tapi juga untuk menciptakan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Kalau kita paham prinsip-prinsip psikologi, guru bisa membantu siswa lebih efektif, baik dari sisi akademik maupun emosional. Artikel ini sangat membuka wawasan tentang bagaimana psikologi bisa jadi bagian penting dalam pendidikan ke depan.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Iya, bener banget. Materi ini kayak ngebuka mata kalau ngajar itu bukan cuma soal nyampein materi, tapi juga soal ngerti kondisi pikiran dan perasaan siswa. Kalau guru paham psikologi, mereka jadi lebih peka: tahu kapan siswa butuh ditantang, kapan butuh ditenangkan.
Jadinya belajar nggak cuma ngejar nilai, tapi juga bikin siswa nyaman, percaya diri, dan berani berkembang. Psikologi di pendidikan tuh bukan tambahan, tapi pondasi biar proses belajarnya bener-bener kena ke anaknya, bukan cuma ke materinya.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin bertanya ya pak, menurut bapak peran psikologi apa yang paling dibutuhkan dalam pendidikan saat ini? terimakasih
Nama: Selma Alsayanti Mariam
HapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bantu menjawab ya kak alya, menurut saya peran psikologi yang paling dibutuhkan dalam pendidikan saat ini itu psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak. karena, anak sekarang itu berbeda-beda sekali karakternya, cara belajarnya juga tidak sama. kalau guru paham perkembangan psikologis anak, guru jadi tau kapan anak siap diajak berpikir, kapan butuh dibantu, dan kapan cukup diarahkan saja. selain itu, psikologi emosional juga tak kalah penting. banyak anak yang sebenarnya bisa, tapi takut salah, tidak percaya diri, atau keburu cemas duluan. disini peran psikologi membantu guru untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan tidak membuat anak tertekan. jadi anak berani mencoba dan tidak takut gagal. intinya, pendidikan itu sekarang tidak cukup hanya berfokus ke nilai saja, tetapi juga ke kondisi mental dan emosi anak. kalau psikologinya diperhatikan, maka proses belajarnya bisa lebih efektif dan anak juga lebih bahagia di sekolah.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Kalau menurutku sih, yang paling dibutuhin sekarang itu psikologi yang bikin siswa ngerasa aman dan dihargai. Banyak anak sebenernya bisa, tapi keburu takut, minder, atau cemas duluan.
Peran psikologi di pendidikan itu penting buat bantu guru ngerti kondisi emosi siswa, cara bangun percaya diri, dan gimana bikin kelas jadi tempat yang nyaman buat belajar. Jadi bukan cuma ngejar materi selesai, tapi juga ngurus perasaan dan mental anak biar mereka berani nyoba dan nggak takut salah.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar Alya Salsabila. Menurut saya, peran psikologi yang paling dibutuhkan di pendidikan sekarang adalah membantu guru dan sekolah memahami perasaan dan cara berpikir anak. Dengan psikologi, guru bisa tahu kenapa anak takut, marah, atau malas belajar, lalu menolong mereka dengan cara yang tepat. Anak juga bisa belajar lebih percaya diri, sabar, dan mau bekerja sama.
Jadi psikologi membantu supaya belajar jadi menyenangkan dan anak bisa berkembang dengan baik 😊
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Penyelidikan psikologis memberikan kontribusi penting dalam pendidikan matematika. Penelitian menunjukkan bahwa matematika dapat memicu respons emosional negatif pada sebagian siswa. Sistem penilaian yang menekankan kecepatan sering menimbulkan stres belajar. Pengalaman kelas membentuk persepsi siswa terhadap matematika sejak dini. Guru terkadang tanpa sadar memperkuat hierarki kemampuan di kelas. Kondisi ini menurunkan efikasi diri siswa. Pendidikan matematika perlu lebih memperhatikan aspek emosional siswa.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Kecemasan matematika menunjukkan keterkaitan erat antara kognisi dan emosi. Proses memori kerja dan perhatian memengaruhi kinerja matematika siswa. Pikiran mengganggu menghambat pemecahan masalah matematika. Penelitian masih terbatas dalam mengkaji mekanisme kognitif secara langsung. Teknologi pelacakan mata dapat membantu mengukur perhatian siswa. Data objektif memperkuat pemahaman tentang kecemasan matematika. Pendekatan ini memperkaya kajian pendidikan matematika.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Metakognisi berperan penting dalam mengelola kecemasan matematika. Siswa merencanakan dan mengevaluasi strategi belajar melalui metakognisi. Kecemasan memengaruhi pengambilan keputusan siswa dalam pemecahan masalah. Kepercayaan diri dan usaha kognitif menentukan keberhasilan belajar. Kecemasan dapat memicu usaha berlebihan yang kontraproduktif. Lingkaran kecemasan menghambat pemahaman konsep. Motivasi perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran matematika.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Pendekatan observasional memberikan sudut pandang baru dalam penelitian pendidikan matematika. Laporan diri siswa belum sepenuhnya menangkap interaksi emosional di kelas. Interaksi orang tua dan anak memengaruhi sikap terhadap matematika. Emosi negatif dapat menular dalam proses belajar. Dukungan guru memengaruhi tingkat kecemasan matematika siswa. Penelitian longitudinal membantu memahami perkembangan kecemasan. Pendekatan ini memperdalam analisis konteks pembelajaran.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Peran guru sangat penting dalam mengelola kecemasan matematika. Program pelatihan guru masih minim membahas aspek psikologis. Kecemasan guru memengaruhi motivasi dan kinerja siswa. Tekanan eksternal meningkatkan kecemasan mengajar matematika. Penelitian perlu membedakan kecemasan matematika dan kecemasan mengajar. Kolaborasi psikolog dan pendidik sangat dibutuhkan. Intervensi berbasis sekolah membantu menciptakan pembelajaran matematika yang sehat.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Materi bagian kognisi dan emosi ini sangat penting karena keduanya saling berkaitan dalam proses belajar, khususnya pada pembelajaran matematika. Kemampuan kognitif seperti mengingat, memahami, dan memecahkan masalah tidak bisa berjalan optimal jika kondisi emosional siswa sedang tidak stabil. Ketika siswa merasa cemas, takut salah, atau tertekan, fokus dan daya pikir mereka cenderung menurun, sehingga materi yang sebenarnya bisa dipahami justru terasa sulit.
Sebaliknya, jika emosi siswa lebih positif merasa aman, didukung, dan tidak takut mencoba proses kognitif akan bekerja lebih maksimal.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Dalam materi ini bagian yang membahas intervensi, ternyata dipahami sebagai upaya untuk mengurangi kecemasan dan stres siswa agar proses belajar matematika bisa berjalan lebih efektif. Di materi menunjukkan bahwa saat siswa mengalami tekanan emosional, seperti cemas atau takut salah, kemampuan berpikir mereka akan menurun. Oleh karena itu, intervensi tidak hanya berfokus pada materi pelajaran, tetapi juga pada kondisi emosional siswa selama belajar.
Intervensi yang dibahas dalam materi bisa dimulai dari cara guru menyajikan pembelajaran, misalnya tidak menekan siswa dengan kecepatan, tidak mempermalukan saat salah, dan memberi kesempatan mencoba tanpa takut dinilai.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Menurut saya, materi ini menjelaskan dengan jelas bahwa matematika tidak bisa dilepaskan dari aspek psikologis siswa. Selama ini, di sekolah matematika sering dipahami hanya sebagai kemampuan berhitung atau menyelesaikan soal dengan benar dan cepat. Padahal, dari penjelasan di atas terlihat bahwa cara penilaian, tekanan waktu, dan suasana kelas sangat memengaruhi perasaan siswa terhadap matematika. Ketika sejak kecil siswa sudah merasa tertekan dan dibandingkan dengan teman yang lebih cepat, rasa percaya diri mereka bisa menurun. Hal ini menurut saya menjadi awal munculnya kecemasan matematika yang terbawa hingga dewasa.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Saya setuju, Pak, bahwa matematika sering menjadi pemicu stres bagi sebagian orang, bukan karena materinya terlalu sulit, tetapi karena pengalaman belajarnya kurang menyenangkan. Contoh tentang guru yang mempermalukan siswa atau menuntut jawaban cepat sangat menggambarkan realitas di kelas. Pengalaman seperti ini bisa membekas lama dan membuat siswa selalu merasa takut salah. Dari sini saya memahami bahwa penelitian tentang respons emosional terhadap matematika sangat penting, karena tanpa disadari sekolah justru bisa menjadi tempat munculnya tekanan psikologis bagi siswa, bukan tempat belajar yang aman.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Menurut Saya, Pak, bagian yang membahas hubungan antara kognisi dan emosi sangat menarik. Saat siswa cemas, memori kerja dan perhatian mereka terganggu, sehingga sulit fokus menyelesaikan soal. Akibatnya, kemampuan yang sebenarnya mereka miliki tidak bisa keluar secara maksimal. Menurut saya, penelitian yang lebih mendalam tentang pikiran-pikiran yang mengganggu saat mengerjakan soal matematika sangat dibutuhkan. Dengan memahami hal ini, guru bisa lebih memahami bahwa nilai rendah tidak selalu berarti siswa tidak mampu, tetapi bisa jadi karena kondisi mental yang tidak mendukung.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Menurut Saya, Pak, pembahasan tentang metakognisi sangat relevan dengan proses belajar matematika. Banyak siswa tidak terbiasa memikirkan bagaimana cara mereka belajar. Ketika gagal, mereka langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak pintar matematika. Padahal, bisa jadi strategi belajarnya yang kurang tepat. Kecemasan yang muncul kemudian membuat siswa semakin menghindari matematika. Menurut saya, jika siswa diajak untuk menyadari proses berpikirnya sendiri, seperti merencanakan langkah, mengevaluasi kesalahan, dan mencoba lagi, rasa takut terhadap matematika bisa berkurang.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Saya izin menanggapi, Pak, pendekatan observasional yang dibahas dalam materi ini menurut saya sangat penting. Selama ini banyak penelitian mengandalkan angket atau laporan diri, padahal interaksi langsung antara siswa dengan guru atau orang tua juga sangat berpengaruh. Cara guru berbicara, ekspresi saat mengajar, atau reaksi orang tua saat membantu pekerjaan rumah matematika bisa membentuk sikap anak terhadap matematika. Jika orang dewasa terlihat cemas atau frustrasi, anak bisa ikut merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, penelitian yang mengamati interaksi ini secara langsung perlu lebih dikembangkan.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Saya setuju, Pak, bahwa peran guru dan intervensi sangat menentukan dalam mengurangi kecemasan matematika. Menurut saya, guru juga perlu mendapatkan perhatian dari sisi psikologis, karena tekanan mengajar matematika dan tuntutan hasil siswa bisa menimbulkan kecemasan tersendiri. Jika guru merasa tertekan, suasana kelas juga bisa ikut tegang. Oleh karena itu, pelatihan guru dan program intervensi sebaiknya melibatkan kerja sama antara peneliti dan praktisi pendidikan, agar pendekatan yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi nyata di kelas dan bisa membantu siswa belajar matematika dengan lebih nyaman.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Menarik sekali bagaimana materi ini menegaskan bahwa kecemasan matematika bukan sekadar masalah tidak bisa menghitung, tapi masalah psikologis yang sangat nyata. Ini mengingatkan kita pentingnya guru tidak hanya fokus pada materi, tapi juga memperhatikan kondisi emosional siswa agar belajar matematika jadi lebih menyenangkan dan bebas stres.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Psikologi dalam pendidikan matematika membuka peluang baru untuk inovasi pengajaran. Bayangkan jika teknologi dan penelitian psikologis digabungkan untuk menciptakan metode belajar yang personal dan adaptif, yang bisa membantu siswa mengatasi rasa takut terhadap matematika. Masa depan pendidikan jadi lebih manusiawi dan efektif.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, saya pernah mendengar istilah memori lampu kilat (flashbulb memory). mengapa pengalaman dipermalukan guru matematika ketika SD karena salah menjawab itu bisa menempel sekali di ingatan sampai kita besar?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Soalnya kejadian itu kena emosi yang dalem banget. Waktu masih SD, terus dimarahin atau dipermalukan di depan temen-temen gara-gara salah jawab, otak langsung mikir wah ini bahaya dan nyimpen kejadian itu kuat-kuat. Rasa malu dan takutnya jadi nempel.
Apalagi pas kecil, kita belum bisa nyaring perasaan. Jadi sekali kena pengalaman jelek, langsung kebentuk pikiran “aku emang nggak bisa matematika”. Nah ingatan kayak gini tuh kayak foto yang kesimpen terus, makanya kebawa sampe gede.
Makanya pengalaman buruk di kelas matematika sering susah dilupain, bukan karena soalnya, tapi karena malunya itu yang keinget terus.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Selma Alsayanti Mariam. Menurut saya, pengalaman dipermalukan guru itu bisa menempel banget di ingatan karena otak kita mengingat peristiwa yang membuat kita takut, sedih, atau malu dengan lebih kuat daripada yang biasa saja.
Kalau anak merasa terancam atau sangat malu saat salah menjawab, otak menyimpannya seperti foto lampu kilat (flashbulb memory) supaya kita tidak lupa. Itu sebabnya, walaupun sudah besar, kita masih ingat perasaan itu.
Makanya guru harus sabar dan tidak memarahi anak di depan teman, supaya anak tidak takut matematika dan tetap berani mencoba 😊
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya kembali pak, katanya peneliti sedang mencari inovatif untuk mengurangi kecemasan matematika. menurut bapak, lebih efektif membenarkan cara mengajarnya atau membenarkan mental si muridnya dulu?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Izin menjawab ya sel. Kalau menurutku sih, dua-duanya nggak bisa dipisahin, tapi urutannya penting. Biasanya yang dibenerin dulu itu cara ngajarnya. Soalnya banyak kecemasan matematika muncul bukan dari anaknya, tapi dari pengalaman belajar yang bikin mereka takut duluan.
Kalau cara ngajarnya lebih santai, nggak menekan, boleh salah, dan fokus ke proses, mental anak pelan-pelan ikut kebangun. Anak jadi ngerasa aman, percaya diri, dan berani nyoba. Nah, di situ baru mentalnya bisa dibantu lebih jauh lewat dukungan, motivasi, dan kepercayaan diri.
Jadi intinya, mulai dari lingkungan dan cara ngajar yang sehat dulu, mental siswa biasanya ikut membaik.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Untuk mengurangi rasa kecemasan seorang anak terhadap pembelajaran matematika biasanya guru akan memberi motivasi dan inovasi terhadap anak yang dimana guru memberi contoh soal tersebut untuk mereka disini guru akan menjelaskan cara pengerjaan sehingga siswa merasa lebih tenang dan lebih rileks
Terhadap pembelajaran tersebut.
Dan juga guru akan memberi soal berdasarkan level dimana siswa dapat memahami dan mengerjakan soal tersebut dengan mudah berdasarkan level soal tersebut dan juga guru akan memantau siswa setiap dalam pembelajaran tersebut dimana bagian siswa tidak memahami maka guru akan menjelaskan kembali sehingga siswa dapat memahami kembali dan mereka tidak merasa tertekan dan cemas disaat pembelajaran matematika.
HapusMenambahkan diki pak, selain itu di masa depan dengan tantangan yang makin kompleks misalnya teknologi, perubahan sosial, kebutuhan keterampilan abad 21, menurut saya psikologi pendidikan bisa menjadi jembatan antara kurikulum yang ideal dan realitas murid di kelas. Guru bisa merancang pembelajaran bukan hanya berdasarkan materi, tetapi juga berdasarkan kebutuhan psikologis dan kemampuan kognitif siswa supaya belajar benar" efektif.
BalasHapusNama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Kesulitan belajar matematika tidak selalu soal kemampuan, tetapi sering berkaitan dengan emosi, pengalaman, dan cara lingkungan belajar dibangun. Penekanan pada peran guru, orang tua, serta pentingnya pendekatan psikologis membuat kita sadar bahwa menciptakan suasana belajar matematika yang aman, suportif, dan manusiawi adalah kunci untuk mengurangi kecemasan dan membantu siswa berkembang lebih percaya diri.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Setuju banget. Materi ini ngingetin kalau masalah di matematika itu sering bukan karena anak nggak bisa, tapi karena udah keburu takut duluan. Pengalaman kurang enak, tekanan, atau suasana kelas yang kaku bisa bikin anak langsung menutup diri.
Makanya peran guru dan orang tua penting banget buat bikin matematika terasa aman. Anak perlu ngerasa boleh salah, boleh nanya, dan nggak langsung dihakimi. Kalau suasananya suportif dan manusiawi, pelan-pelan rasa cemasnya turun, kepercayaan dirinya naik, dan belajar matematikanya jadi lebih jalan.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Pembelajaran matematika itu berdasarkan tingkat leval di mana siswa kurang tertarik pada pembelajaran jadi guru menciptakan pembelajaran matematika itu dengan memberi soal kuis di mana soal di beri kan berdasarkan level.
Di masa depan itu banyak sekali rintangan terutama pada teknologi jadi minat belajar sangat sulit terutama pada pembelajaran matematika jadi minat belajar siswa kurang jadi kunci bagi adalah menggunakan teknologi sebagai media sumber belajar jadi siswa tidak merasa bosen.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusJadi guru menggunakan teknologi menjadi media belajar terutama di HP
HapusGuru bisa menciptakan berbagai informasi pembelajaran terutama pada bangun ruang jadi guru menggunakan aplikasi geogebra untuk belajar mengenal bangun ruang.
Jika terlalu sering menggunakan teknologi jadi maka siswa tidak tertarik pada sebuah buku itu menjadi daya konsentrasi menjadi kurang di mana minat untuk membaca berkurang jadi mengimbangi menggunakan teknologi
HapusKarena itu berdampak kepada siswa.
Jika kita menggunakan teknologi di masa depan jadi seorang guru harus menguasai materi tersebut seperti bentuk bangun dan simbol matematika tersebut jadi kita harus mengimbangka dengan buku jadi pembelajaran lebih menarik .
HapusNama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Artikel ini menunjukkan bahwa kecemasan terhadap matematika bisa sangat mempengaruhi siswa — bukan cuma dari segi kemampuan kognitif, tapi juga emosional. Kalau begitu, menurut Bapak, seberapa besar peran guru dalam “mendeteksi” kecemasan itu sebelum menjadi masalah serius? Harusnya guru lebih dari sekadar mengajar, ya — juga peka terhadap perasaan siswa.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Iya, peran guru itu besar banget. Guru tuh orang yang paling sering ketemu siswa di kelas, jadi sebenarnya posisi paling pas buat ngeh dan nangkep tanda-tanda kecemasan sejak awal. Kadang tandanya bukan ngomong langsung, tapi dari anak yang tiba-tiba diam, nggak mau maju ke depan, sering bilang nggak bisa, atau kelihatan tegang pas pelajaran matematika.
Makanya guru emang nggak cuma tugasnya nyampein materi. Guru juga perlu peka sama perasaan siswa. Nggak harus jadi psikolog kok, cukup mau dengerin, nanya dengan santai, dan bikin kelas jadi tempat yang aman. Kalau kecemasan itu ketangkep lebih awal, guru bisa bantu pelan-pelan sebelum anak makin takut dan makin nutup diri sama matematika.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
masalah matematika itu sering bukan karena anaknya nggak bisa, tapi karena keburu takut duluan sejakk kecil, matematika udah dikasih image tegang harus cepat, harus benar, salah dikit malu akhurnya otak belum kerja maksimal, tapi panik duluan yg bikin makin ribet, rasa cemas ini bisa nular guru stres, murid ikut stres org tua tegang pas nemenin PR, anak ikut mikir matematika itu serem sayangnya, hal-hal psikologis kayak gini masih jarang dibahas serius di pendidikan guru pdhl kalau mau masa depan pendidikan matematika lebih sehat, kelasnya harus lebih ramah boleh salah, nggak semua harus cepat, dan fokus bangun percaya diri dulu. Kalau nggak, ya matematika bakal terus jadi momok, bukan alat mikir.
Nama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Wah saya punya pertanyaan buya adin, terlintas kalau guru sendiri punya kecemasan matematika, seberapa besar pengaruhnya ke murid di kelas?? Terus gmna caranya bikin kelas matematika jadi ruang yang aman buat salah tanpa bikin siswa jadi minder?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Izin menjawab ya stevani. Pengaruhnya tuh gede banget sebenarnya. Kalau gurunya keliatan takut, tegang, atau nggak pede sama matematika, murid bisa ikut kebawa. Anak jadi mikir, wah ini pelajaran serem ya, padahal belum tentu susah, cuma suasananya aja udah bikin tegang duluan.
Biar kelasnya jadi aman, guru bisa mulai dari hal simpel. Jangan ngegas kalau ada jawaban salah, jangan bikin anak malu. Salah itu biasa, malah bisa jadi bahan diskusi. Guru juga boleh kok bilang, ini soal susah, ayo kita mikir bareng. Itu bikin anak ngerasa ditemenin, bukan disidang 😅
Kalau kelasnya santai, banyak ngobrol, dan usaha anak dihargai, pelan-pelan mereka berani nyoba dan nggak takut salah lagi. Dari situ kepercayaan diri anak bisa tumbuh.
Izin menanggapi pak Materi Masa Depan Psikologi dalam Pendidikan Matematika Fokus pada Kecemasan Matematika disajikan secara komprehensif, runtut, dan sangat relevan dengan tantangan pembelajaran matematika masa kini. Tulisan ini berhasil menunjukkan bahwa persoalan rendahnya hasil belajar matematika tidak bisa semata-mata dilihat dari sisi kognitif, tetapi harus dipahami sebagai perpaduan kompleks antara kognisi, emosi, pengalaman belajar, dan sistem penilaian.
BalasHapusBagian awal yang membahas matematika sebagai pemicu stres terasa sangat kena dengan realitas di lapangan. Pengalaman negatif siswa sejak usia dini seperti tekanan waktu, evaluasi sosial di kelas, serta pelabelan cepat dan lambat secara tidak sadar membentuk memori emosional yang kuat terhadap matematika. Materi ini dengan tepat mengaitkan kondisi tersebut dengan konsep psikologi kognitif seperti working memory dan flashbulb memory, sehingga pembaca dapat memahami mengapa kecemasan matematika bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan respons psikologis yang menghambat proses berpikir.
Lanjut menanggapi Pembahasan tentang bagaimana sistem penilaian yang terlalu menekankan kecepatan dan ketepatan jawaban turut memperkuat kecemasan matematika merupakan kritik yang tajam namun konstruktif. Materi ini menyadarkan kita bahwa praktik pembelajaran yang selama ini dianggap normal justru dapat memperlebar kesenjangan efikasi diri siswa. Anak-anak yang sebenarnya memiliki potensi pemahaman konsep yang baik bisa kehilangan kepercayaan diri hanya karena tidak sesuai dengan standar kecepatan kelas. Di sinilah tulisan ini terasa sangat humanis dan berpihak pada peserta didik.Pada bagian kognisi dan emosi, materi ini semakin kuat secara akademik. Penjelasan mengenai keterbatasan penelitian yang hanya berfokus pada memori kerja, serta ajakan untuk mengembangkan pendekatan multidisipliner seperti penggunaan teknologi pelacakan perhatian menunjukkan arah masa depan penelitian psikologi pendidikan yang lebih mendalam dan kontekstual. Hal ini memberi pesan bahwa pembelajaran matematika perlu dirancang berdasarkan pemahaman ilmiah tentang cara kerja pikiran, bukan sekadar tradisi pedagogis yang diwariskan.
HapusNah Secara keseluruhan, materi ini bukan hanya memperkaya wawasan teoritis, tetapi juga menjadi refleksi kritis bagi guru, calon guru, dan pembuat kebijakan pendidikan. Tulisan ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan matematika menuntut perubahan paradigma: dari pembelajaran yang menekan menuju pembelajaran yang memberdayakan, dari penilaian yang menakutkan menuju penilaian yang menumbuhkan. Dengan demikian, psikologi bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting dalam menciptakan pembelajaran matematika yang bermakna, adil, dan berorientasi pada kesejahteraan belajar siswa.
HapusNama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
masa depan pendidikan yang baik sangat butuh integrasi antara ilmu pendidikan dan psikologi supaya proses belajar nggak cuma fokus ke konten tapi juga ke cara anak tumbuh dan berkembang secara keseluruhan
Saya merasa sangat setuju dengan poin bahwa matematika sering kali memicu respons emosional negatif, karena secara pribadi saya melihat banyak orang merasa terintimidasi bukan oleh angkanya, melainkan oleh tekanan sosial dan ekspektasi untuk selalu menjawab dengan cepat dan benar.Seperti contoh nya Momen ketika seorang guru memanggil siswa yang terlihat kurang siap untuk mengerjakan soal sulit di depan kelas.
BalasHapusTekanannya: Fokus siswa terpecah antara mengerjakan soal dan kesadaran bahwa puluhan pasang mata sedang memperhatikan setiap gerakannya, siap menertawakan jika ia melakukan kesalahan.Dan saya pernah mengalami seperti itu
Fakta bahwa peneliti menggunakan tugas aritmatika untuk memicu stres bagi saya adalah penegasan kuat bahwa lingkungan kelas yang penuh tekanan waktu sebenarnya justru menghambat proses belajar yang efektif dan merusak rasa percaya diri siswa sejak usia dini.
BalasHapusSaya cukup tersentuh sekaligus prihatin dengan istilah "memori lampu kilat" dalam artikel ini, karena hal tersebut menjelaskan mengapa pengalaman buruk dipermalukan oleh guru di depan kelas bisa membekas begitu dalam hingga membentuk trauma jangka panjang pada orang dewasa, saya juga punya pengalaman dlu waktu SD saya seperti ini kalo kita sebagai siswa tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru pasti akan dimarahi dan dipukul pakai penggaris di depan teman2 dan ingatan itu selalu membekas sampai saya dewasa.
BalasHapusMenurut pendapat saya, sangat disayangkan jika anak-anak yang baru memulai sekolah sudah harus mengalami kecemasan matematika, karena hal ini berisiko menutup pintu rasa ingin tahu mereka terhadap ilmu pengetahuan sebelum mereka sempat mengeksplorasi keindahan logika di dalamnya.
BalasHapusSaya percaya bahwa tanggapan terbaik terhadap artikel ini adalah dengan mulai menggeser fokus pendidikan dari sekadar penilaian skor yang kaku menuju pendekatan yang lebih humanis, di mana kesalahan dianggap sebagai anak tangga menuju pemahaman, bukan sebagai alasan untuk merasa rendah diri.
BalasHapusnama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5C
jika psikologi pendidikan ikut diperhitungkan (misalnya melalui pemahaman tentang kecemasan, metakognisi, dan dukungan emosional), apakah menurut Bapak sekolah kita bisa realistis menerapkannya di semua kelas — terutama di sekolah dengan siswa banyak dan sumber daya terbatas? Bagaimana sebaiknya memulainya agar tidak terbebani tetapi tetap peduli pada kesehatan mental siswa?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Menurutku sih masih masuk akal kok diterapin, walaupun sekolahnya muridnya banyak dan fasilitasnya minim. Soalnya peduli ke psikologis anak itu nggak harus ribet atau mahal. Kadang cukup dari cara guru ngomong dan merespons anak.
Mulainya bisa dari hal kecil dulu, misalnya nggak langsung nyalahin kalau anak salah, kasih waktu mikir, atau nanya: kamu bingung di bagian mana?. Terus bikin suasana kelas aman, jadi anak nggak takut buat nanya atau salah. Hal-hal simpel kayak gini udah bantu banget ngurangin cemas anak.
Jadi intinya, pelan-pelan aja. Nggak harus langsung sempurna, yang penting guru sadar dan peduli. Itu udah langkah besar buat jaga kesehatan mental siswa tanpa bikin guru kewalahan.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Selama ini banyak orang menganggap matematika hanya soal angka dan rumus, padahal kondisi mental dan perasaan siswa juga sangat berpengaruh. Penjelasan tentang kecemasan matematika membuat kita lebih peka bahwa rasa takut atau stres bisa menghambat kemampuan berpikir siswa. Dengan memahami hal ini, guru dan calon guru bisa lebih bijak dalam menyampaikan materi.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Pembahasan tentang kecemasan matematika sangat relevan dengan kondisi siswa saat ini. Banyak siswa merasa matematika itu sulit sebelum benar-benar mencoba memahaminya. Materi ini menjelaskan bahwa kecemasan tersebut bisa muncul dari pengalaman belajar yang kurang menyenangkan. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan tidak menekan siswa.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Materi ini membuka wawasan bahwa matematika tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga kepercayaan diri. Siswa yang sering merasa gagal akan lebih mudah mengalami stres saat belajar matematika. Penjelasan ini membantu kita memahami bahwa dukungan emosional dan motivasi sangat dibutuhkan dalam proses belajar. Dengan pendekatan yang tepat, siswa bisa lebih percaya diri dan berani mencoba.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Penulis menjelaskan peran psikologi dalam pendidikan matematika dengan cukup jelas dan mudah dipahami. Contoh-contoh yang disampaikan membuat pembaca lebih mengerti bagaimana stres bisa memengaruhi cara berpikir. Hal ini penting agar guru tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga proses belajar siswa. Pendekatan seperti ini dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
Nama : Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Secara keseluruhan, materi ini memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan. Matematika seharusnya tidak menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Dengan memahami aspek psikologis, guru dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan minat belajar. Materi ini sangat bermanfaat sebagai bahan refleksi bagi pendidik maupun mahasiswa calon guru.
Saya setuju dengan pendapat finansenson, karena memahami kondisi mental siswa adalah kunci utama bagi guru untuk mengubah matematika dari pelajaran yang menakutkan menjadi pengalaman belajar yang jauh lebih menyenangkan dan berkesan.
HapusNama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi Pak, menurut saya matematika emang sering jadi biang kerok stres kognitif karena pas ngerjain soalnya, otak kita dipaksa kerja keras banget buat fokus dan ngingat banyak aturan sekaligus. Kondisi ini biasanya disebut math anxiety, di mana rasa panik itu malah bikin beban kognitif makin penuh sampai akhirnya memori jangka pendek kita kayak "nge-hang" dan nggak bisa mikir jernih. Jadi pas lagi stres, otak bukannya mikirin jawaban malah sibuk ngurusin rasa takut salah, yang ujung-ujungnya bikin performa kita makin anjlok padahal sebenernya kita bisa. Intinya sih stres ini kayak kabut yang nutupin logika, bikin soal yang simpel pun kerasa jadi ribet banget.
NAMA:VIRGINIA JAU
BalasHapusKELAS:VD
NPM:2386206089
,. Artikel ini benar-benar membuka mata saya sebagai calon guru! Selama kuliah, saya sering mendengar bapak bilang bahwa kecemasan matematika itu “hanya soal mindset” atau “kurang latihan”, tapi setelah baca tulisan bapak, saya sadar betapa kompleksnya masalah ini—bukan sekadar emosi, tapi perpaduan sempurna antara kognisi (memori kerja, perhatian) dan emosi (pikiran mengganggu, flashbulb memories dari pengalaman traumatis masa kecil). Yang paling ngena buat saya adalah kritik terhadap sistem penilaian berbasis waktu dan kompetisi sosial yang menciptakan hierarki kelas sejak dini—saya ingat sendiri waktu SD, kalau nggak cepat selesai soal, langsung merasa “bodoh” dibanding teman yang sudah angkat tangan. Ini persis seperti yang bapak gambarkan: kecepatan dikaitkan dengan kecerdasan, padahal proses pemecahan masalah setiap anak beda. Saya juga terkesan dengan bagian metakognisi (“berpikir tentang berpikir”)—bayangkan kalau kita ajarkan anak untuk memantau pikiran mereka sendiri saat mengerjakan soal, plus bangun motivasi intrinsik, pasti lingkaran setan kecemasan bisa diputus! Rekomendasi masa depan seperti pakai eye-tracking untuk ukur perhatian secara objektif itu keren banget, terasa futuristik tapi realistis. Dan jangan lupa soal penularan emosional dari guru/orang tua—saya sering lihat orang tua marah saat bantu PR matematika anak, tanpa sadar “menularkan” kecemasan. Sebagai mahasiswa yang sebentar lagi mengajar, artikel ini seperti roadmap: kita perlu reformasi penilaian, pelatihan guru yang holistik (termasuk mengelola kecemasan mengajar sendiri), dan kolaborasi interdisipliner. Terima kasih banyak Bapak, ini bukan cuma tambah pengetahuan, tapi juga motivasi besar buat saya agar nanti mengajar dengan lebih empati dan berbasis psikologi. Semoga artikel ini dibaca banyak calon guru lain!
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
pak , terima kasih atas artikel yang super mendalam ini! Saya suka sekali bagaimana bapak menghubungkan konsep klasik seperti flashbulb memories (kenangan traumatis dimarahi guru karena jawaban salah) dengan penelitian terkini tentang intrusive thoughts dan working memory. Itu menjelaskan kenapa banyak teman saya (bahkan saya sendiri dulu) langsung blank saat ujian matematika—bukan karena nggak paham, tapi karena pikiran dipenuhi worry dan self-doubt. Bagian tentang sistem penilaian yang menekankan speed dan ranking sosial itu kritis banget; di Indonesia, ini masih jadi norma di banyak sekolah, padahal justru menurunkan efikasi diri dan memicu avoidance behavior seperti yang disebut Choe et al. (2019). Yang bikin saya excited adalah visi masa depan: integrasi teknologi seperti eye-tracking untuk studi perhatian objektif, pendekatan observasional/longitudinal untuk lihat interaksi anak-dewasa (termasuk emotional contagion dari orang tua saat PR), dan pelatihan guru yang nggak cuma konten matematika tapi juga psikologi kecemasan (baik siswa maupun guru sendiri—Hunt & Sari, 2019 itu eye-opening!). Saya juga setuju bahwa penelitian harus lebih masukkan ukuran motivasi siswa, karena kecemasan dan motivasi saling interaksi memprediksi performa. Sebagai mahasiswa, artikel ini menginspirasi saya untuk memilih skripsi tentang intervensi berbasis metakognisi atau kemitraan sekolah-psikolog. Ini bukti bahwa psikologi bukan “tambahan” di pendidikan matematika, tapi inti untuk membuat matematika jadi pengalaman empowering, bukan momok. Respect penuh, Bapak—semoga tulisan seperti ini terus mengalir dan mengubah paradigma pendidikan kita!
NAMA:VIRGINIA JAU
HapusKELAS:VD
NPM:2386206089
Artikel “Masa Depan Psikologi dalam Pendidikan Matematika: Fokus pada Kecemasan Matematika” ini seperti suntikan semangat sekaligus pengingat keras buat saya yang sebentar lagi akan mengajar di sekolah dasar. Saya sering praktik mengajar di sekolah mitra dan melihat langsung anak-anak yang cemas berat saat matematika—ada yang tangan gemetar, ada yang langsung bilang “saya nggak bisa” sebelum mencoba. Setelah baca artikel ini, saya paham akarnya: sistem yang menghubungkan keahlian dengan kecepatan, pengalaman negatif awal yang jadi flashbulb memories, sampai penularan emosi dari guru/orang tua yang frustrasi (Else-Quest et al., 2008 itu relatable banget!). Penjelasan tentang metakognisi sebagai alat untuk memantau dan mengatur pikiran sendiri (Flavell, 1979) membuat saya berpikir: kalau kita ajarkan anak SD untuk “berpikir tentang berpikir” mereka saat mengerjakan soal, plus bangun rasa percaya diri, pasti dampaknya besar. Yang paling visioner adalah rekomendasi masa depan: gunakan eye-tracking untuk ukur proses perhatian secara real-time, dorong studi observasional untuk lihat dinamika emosional di kelas/rumah, dan wajibkan pelatihan guru mencakup psikologi kecemasan (termasuk mengatasi kecemasan mengajar guru sendiri). Saya juga suka bagian tentang kemitraan antara peneliti dan sekolah untuk intervensi yang lebih grounded—ini solusi praktis yang bisa saya usulkan nanti di sekolah. Artikel ini membuat saya sadar bahwa sebagai calon guru, tanggung jawab saya bukan cuma menyampaikan materi, tapi juga menciptakan lingkungan belajar bebas dari rasa takut dan hierarki. Terima kasih banyak Mas Buya atas tulisan yang ilmiah tapi sangat humanis dan actionable. Ini akan jadi referensi utama saya saat skripsi dan nanti mengajar. Semoga semakin banyak mahasiswa pendidikan yang baca dan tergerak untuk berkontribusi pada perubahan ini!
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Izin menanggapi Pak. Pembahasan mengenai bagaimana psikologi akan terus berevolusi dalam dunia pendidikan memberikan gambaran bahwa tugas pendidik ke depan bukan lagi sekadar mengajar materi, tapi benar-benar memahami lanskap mental pembelajar. Artikel ini memberikan insight yang sangat berharga bagi siapa pun yang peduli pada masa depan pendidikan
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Sangat menarik menyimak poin mengenai peran psikologi di tengah gempuran teknologi digital. Sering kali kita hanya fokus pada kecanggihan alatnya, namun lupa pada kesiapan mental manusianya. Artikel ini mengingatkan bahwa pendekatan psikologis justru akan menjadi ruh yang menjaga agar pendidikan tetap manusiawi di masa depan.
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Saya sangat setuju dengan argumen Bapak bahwa psikologi pendidikan di masa depan akan lebih bersifat personal dan adaptif. Saya sepakat bahwa pendekatan one size fits all sudah tidak relevan lagi. Dengan memahami keunikan psikologis tiap individu, pendidikan bisa menjadi jauh lebih inklusif dan efektif. Sebagaimana yang Bapak sampaikan, sinergi antara data perkembangan anak dan pendekatan empati akan menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem belajar yang mendukung potensi maksimal setiap orang.
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Izin bertanya lebih lanjut, Pak. Dengan semakin masifnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan, menurut Bapak bagaimana cara memastikan agar aspek afektif dan sentuhan psikologis manusiawi tidak hilang dalam proses interaksi belajar-mengajar?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Kalau menurut saya, AI itu jangan sampai jadi pengganti guru, tapi cukup jadi asisten aja. Yang namanya perhatian, empati, dan ngerti perasaan siswa itu cuma bisa datang dari manusia, bukan mesin.
Guru tetap punya peran utama buat nyapa siswa, dengerin cerita mereka, nyemangatin pas lagi down, atau sekadar nanya: kamu kenapa hari ini?. Hal-hal kayak gitu yang bikin kelas terasa hidup dan nyaman, dan itu nggak bisa diganti AI secanggih apa pun.
Jadi selama AI dipakai buat bantu-bantu teknis aja (misalnya nyiapin soal atau materi), sementara gurunya tetap hadir dan peduli, sentuhan manusiawinya nggak bakal hilang kok
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas: 5 B
Npm : 2386206042
Izin menjawab juga ya, menurut saya, Cara paling mudah untuk menjaga sisi manusiawi adalah dengan membiarkan AI mengerjakan tugas-tugas sulit seperti mengoreksi atau membuat soal, agar guru punya lebih banyak waktu untuk menyemangati, mendengarkan curhat, dan memahami perasaan muridnya secara langsung.
Nama: Ratna Andina
BalasHapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Menurut saya, materi ini keren karena ngebuka mata kalau matematika itu nggak cuma soal angka dan rumus doang, tapi juga erat banget sama cara anak mikir dan bersikap. Jadi bukan cuma bikin anak “pintar”, tapi juga bantu mereka belajar sabar, teliti, dan nggak gampang nyerah pas nemu soal susah.
Aku juga setuju sama bagian yang bahas pentingnya peran guru. Kalau guru ngajarnya cuma ngejar materi, wajar kalau anak jadi ngerasa matematika itu berat dan menakutkan. Tapi kalau dikaitin sama kehidupan sehari-hari, pelan-pelan, anak bisa lebih nyambung dan nggak stres duluan.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Yang menarik lagi, materi ini ngingetin kalau proses itu lebih penting dari hasil. Salah itu wajar, yang penting anak mau nyoba lagi. Ini penting sih, soalnya selama ini banyak anak takut matematika gara-gara takut salah.
Intinya, bacaan ini ngasih gambaran kalau matematika seharusnya jadi pelajaran yang manusiawi, dekat sama kehidupan, dan bisa bantu membentuk karakter anak, bukan cuma soal nilai di rapot.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Selain itu, materi ini juga nyentil kebiasaan di sekolah yang terlalu fokus ke jawaban benar/salah. Padahal lewat matematika, anak sebenarnya bisa dilatih buat mikir runtut, jujur sama prosesnya, dan tanggung jawab sama jawabannya sendiri. Itu kan nilai hidup yang kepake terus, nggak cuma pas pelajaran matematika aja.
Aku juga ngerasa tulisan ini pas banget buat ngingetin kalau setiap anak punya cara belajar yang beda. Jadi nggak adil kalau semua dituntut harus cepat dan langsung bisa. Justru lewat matematika, guru bisa ngajarin kalau pelan-pelan tapi paham itu jauh lebih oke.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Saya suka bagian yang bilang memahami perkembangan psikologi anak itu penting. Anak-anak pasti lebih termotivasi kalau guru tahu cara belajar mereka masing-masing. Ini bikin proses belajar jadi lebih personal dan bermakna.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
HapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menambahkan pak,Artikel ini menarik karena menekankan peran psikologi dalam pendidikan masa depan. Karena guru yang paham psikologi bisa lebih mengerti karakter dan kebutuhan tiap siswa. Dengan begitu, pembelajaran jadi lebih efektif dan menyenangkan.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Menurut artikel ini, psikologi membantu membuat pembelajaran lebih personal dan menyesuaikan kemampuan siswa. Anak-anak pasti lebih termotivasi kalau guru paham cara belajar masing-masing. Saya ingin tahu pak, contoh praktik nyata apa yang bisa diterapkan di kelas supaya psikologi pendidikan terasa manfaatnya?
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
Kesimpulannya dri materi ini, Banyak orang merasa takut pada matematika bukan karena tidak bisa, tapi karena tekanan harus cepat mengerjakan soal, pengalaman masa lalu yang memalukan, dan rasa cemas yang "menular" dari orang tua atau guru. Untuk memperbaikinya, cara mengajar di sekolah harus diubah agar tidak hanya fokus pada nilai, melainkan lebih peduli pada perasaan dan mental siswa saat belajar.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
izin bertanya pak, bagaimana cara mengubah sistem ujian matematika agar tidak lagi dianggap sebagai hal yang menakutkan bagi siswa?
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Prediksi soal masa depan psikologi pendidikan ini menarik banget, apalagi soal peran teknologi. Tapi, apakah nantinya peran psikolog sekolah bakal sepenuhnya diganti sama AI yang bisa baca emosi? Lalu, gimana caranya memastikan sisi kemanusiaan tetap terjaga di tengah sistem pendidikan yang serba digital?
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
kebayang sih ke depannya psikologi bakal makin canggih di sekolah. Tapi, apa guru-guru kita sudah siap mental buat adaptasi sama teknologi ini? Terus, gimana caranya biar data pribadi anak tetap aman kalau semua perkembangan psikologis mereka terekam di sistem digital yang serba otomatis?
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
Npm : 2386206003
izin menanggapi pak menurut saya guru yang sering menyudutkan atau mempermalukan siswa saat salah menjawab soal matematika sangat merusak mental anak saya sangat setuju karena kenangan buruk itu akan diingat sampai dewasa dan membuat mereka selalu merasa takut setiap kali bertemu dengan angka atau hitungan di masa depan.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
mengenai tekanan waktu di kelas izin berpendapat pak menurut saya sistem yang menganggap anak pintar hanya kalau mereka mengerjakan soal dengan cepat itu harus segera diubah saya setuju kalau kecepatan bukan penentu kehebatan anak dalam matematika karena tekanan waktu dan penilaian yang terlalu ketat justru bikin anak jadi cemas dan malah tidak bisa berpikir jernih
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
Npm : 2386206003
izin bicara pak saya sangat tertarik dengan bagian yang membahas soal penularan emosi negatif dari orang tua dan guru ke anak didik saya sangat setuju kalau guru dan orang tua harus tenang dulu saat mengajar matematika supaya anak tidak ikut merasa stres atau takut saat melihat kita merasa kesulitan menghadapi angka angka
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas :5A PGSD
NPM : 2386206003
mengenai metakognisi atau berpikir tentang berpikir izin pak menurut saya penting sekali buat kita sebagai calon guru untuk membantu anak merencanakan dan mengevaluasi cara belajar mereka sendiri saya setuju dengan hal ini karena kalau anak sudah percaya diri dan tahu cara mengatasi kesulitan soal mereka tidak akan mudah menyerah atau menghindar saat ketemu soal matematika yang sulit
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
izin pak saya sangat setuju kalau pelatihan guru harus lebih banyak membahas soal psikologi dan bukan cuma soal materi hitungan saja menurut saya sebagai calon guru pgsd kami harus tahu cara mengatasi kecemasan siswa agar kelas matematika jadi tempat yang menyenangkan dan bukan lagi menjadi pemicu stres buat anak anak
Fokus ke cara mikir dan rasa percaya diri)
BalasHapusMateri ini menarik banget karena ngebahas soal cara kita mikir tentang cara kita belajar, atau yang disebut metakognitif itu ya, Bapak. Saya setuju banget kalau rasa cemas itu bisa bikin otak kita jadi macet. Kayak yang dijelasin tadi, kalau kita sudah panik duluan pas nggak nemu jawaban, bukannya makin semangat nyari jalan keluar, yang ada malah makin bingung dan jadi lingkaran setan gitu. Saya ngerasa ini masalah besar buat banyak siswa sekarang yang gampang nyerah kalau ketemu soal susah. Sebagai calon guru, saya mikirnya kita perlu banget buat nanemin rasa percaya diri ke siswa sebelum kita kasih mereka soal-soal yang berat. Kita harus bisa kasih tau mereka kalau nggak ketemu jawaban di percobaan pertama itu hal biasa, bukan kiamat. Jadi mereka nggak langsung cemas atau ngerasa bodoh. Fokusnya mungkin harus diubah dari "harus bener jawabannya" jadi "gimana cara kamu nyoba ngerjainnya
(Fokus ke mental anak dan tekanan waktu)
BalasHapusJujur pas baca materi ini saya jadi kepikiran sama pengalaman dulu waktu sekolah, Bapak. Ternyata bener banget kalau matematika itu sering bikin stres bukan karena angkanya susah, tapi karena kita dipaksa buat adu cepat. Saya baru sadar kalau sistem yang selalu memuja-muja siswa yang paling cepat ngerjain soal itu malah bikin mental siswa yang lain jadi drop atau ngerasa nggak mampu. Padahal kan setiap anak punya cara mikir yang beda-beda. Sebagai mahasiswa calon guru, saya ngerasa ini jadi tamparan juga sih, biar nanti kalau saya sudah beneran ngajar, saya nggak mau cuma fokus ke siapa yang paling cepat selesai. Saya pengennya lebih perhatian ke gimana proses mereka mikir dan ngasih ruang buat mereka yang butuh waktu lebih lama, supaya matematika nggak jadi hantu yang nakutin atau malah bikin mereka cemas tiap masuk kelas.
(Fokus ke pengaruh emosi orang tua dan guru)
BalasHapusDari materi yang Bapak kasih ini, ada satu hal yang bikin saya kaget, yaitu soal "penularan emosi". Saya baru kepikiran kalau ternyata rasa stres atau sebelnya orang tua pas nemenin anaknya belajar matematika di rumah itu bisa nular langsung ke si anak. Malah guru yang cemas pas mau ngajar pun efeknya bisa ke performa siswanya. Ini menurut saya penting banget sih buat kita pahami, apalagi saya kan nantinya bakal jadi guru. Ternyata jadi guru matematika itu tugasnya bukan cuma pinter ngitung aja, tapi harus bisa jaga suasana hati dan emosi sendiri dulu sebelum masuk kelas. Kalau gurunya aja sudah kelihatan tegang atau nggak nyaman sama materinya, pantesan aja siswanya jadi makin takut. Jadi ke depannya saya harus belajar gimana caranya bikin suasana belajar yang santai tapi tetep masuk, biar emosi negatif itu nggak menular ke anak-anak didik saya nanti.
NPM : 2386206060
BalasHapusKognisi dan Emosi bagian ini makin jelas kalau otak sama perasaan itu nggak bisa dipisahin selama ini orang mikir belajar ya urusan mikir aja padahal emosi juga ikut campur kalau anak lagi cemas takut salah, atau minder, otaknya jadi susah fokus sebenarnya dia bisa tapi karena emosinya nggak stabil jadi kelihatan nggak maksimal cerita ini kayak ngingetin kalau mau anak paham perasaannya juga harus dijagain jngan cuma disuruh mikir terus
NPM : 2386206060
BalasHapusMetakognitif ini sebenernya topik berat tapi di cerita ini jadi terasa lebih masuk akal Intinya anak perlu sadar sama cara dia berpikir dan belajar Jadi bukan cuma apa tapi aku ngerti nggak sih cara ngerjainnya Kalau anak terbiasa mikir kayak gini, dia jadi lebih percaya diri dan nggak gampang panik Ini juga bikin anak nggak terlalu takut salah karena dia ngerti prosesnya ini penting banget tapi sering kelewat karena fokusnya kebanyakan ke hasil akhir.
NPM : 2386206060
BalasHapusKognisi dan Emosi bagian ini makin jelas kalau otak sama perasaan itu nggak bisa dipisahin Selama ini orang mikir belajar ya urusan mikir aja, padahal emosi juga ikut campur Kalau anak lagi cemas, takut salah, atau minder, otaknya jadi susah fokus Walaupun sebenarnya dia bisa tapi karena emosinya nggak stabil, hasilnya jadi kelihatan nggak maksimal ini kayak ngingetin kalau mau anak paham, perasaannya juga harus dijagain, jangan cuma disuruh mikir terus.
NPM : 2386206060
BalasHapusguru sini peran guru kerasa banget sentralnya guru bukan cuma pengajar materi, tapi juga penentu suasana belajar guru ngomong, cara nanggepin salah, bahkan ekspresi wajah bisa ngaruh ke rasa percaya diri anak guru bikin kelas terasa aman, anak lebih berani nyoba dan nggak takut salah tapi kalau suasananya tegang, anak bisa langsung nutup diri cerita ini kayak ngingetin kalau jadi guru itu bukan cuma soal pintar, tapi juga soal empati.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
bagian yang ngomongin tentang bagaimana psikologi pendidikan bisa membantu guru memahami perbedaan tiap murid secara individual jadi guru bisa menyesuaikan pendekatan belajarnya bukan cuma satu model yg sama buat semua murid karena setiap murid punya cara berpikir dan kebutuhan berbeda
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
ini juga bikin aku mikir kalau menerapkan konsep psikologi dalam pendidikan itu bukan cuma buat murid yang punya kesulitan tapi juga buat semua murid supaya belajar lebih efektif dan nyaman dan itu bikin suasana kelas jadi lebih positif dan sehat untuk semua orang yang terlibat
Nama: Arjuna
HapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Kalau menurut aku masa depan pendidikan itu makin erat kaitannya dengan psikologi karena dunia terus berubah dan murid butuh keterampilan hidup bukan cuma materi pelajaran semata jadi artikel ini jadi pengingat buat semua pihak bahwa memahami psikologi murid itu sama pentingnya dengan memahami kurikulum yang kita ajarkan
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus