A crucial part of mathematics, proportional thinking arises in many situations, such when you mix liquids or when you share properly. For this kind of reasoning to work, you need to know your language inside and out, especially for certain situations. As an example, in everyday life, if a recipe calls for two cups of sugar for four servings, then four cups would be needed for eight servings. "Double," "half," and "three times" are important mathematical terms in this field. Elementary school students learn proportional reasoning as a foundational ability for arithmetic, algebra, geometry, and statistics, among other more complex mathematical topics.
Having said that, proportional thinking might be difficult for youngsters. The proportional reasoning learning outcomes are not met by a large percentage of Flanders children by the conclusion of primary school . Little is known about how early primary school students' language abilities relate to their ability to reason proportionally, even though the role of language in children's mathematical development is becoming more acknowledged .
Young children may acquire the capacity to comprehend some proportional scenarios, according to preliminary research are only a few examples of the many studies that have examined the relationship between mathematics and language, despite the fact that they are taught independently in school. In addition to a broad vocabulary, children learn mathematical concepts like "perimeter" and "ratio" in a language-rich setting. In addition, knowing these particular words and the patterns of language they go with is frequently necessary for the construction of mathematical concepts.
Fuchs et al. (2002), Ostad (2009), and Willcutt et al. (2013) found that mathematics language impairments are a common comorbidity of learning disabilities. Early mathematics learning requires mastery of mathematics-specific language, according to studies (NCTM, 2006; Chard et al., 2008). Abedi and Lord are only a few of the many research that stress the importance of mathematics vocabulary in predicting children's mathematical ability.
As an example, LeFevre et al. (2010) investigated how children's mathematical ability was correlated with their general and early numeracy-related mathematical vocabulary. Compared to generic language, they discovered that mathematically focused terminology is a better indicator of numeracy ability. Researchers studying early numeracy abilities should pay close attention to students' mathematical vocabulary, according to Purpura and Reid (2016), as this is a more immediate indicator of future success in mathematics than students' overall language proficiency.
In addition, Vukovic and Lesaux (2013) looked at 6–9-year-olds' mathematical competence in areas such as geometry, algebra, analysis, and arithmetic, as well as the correlation between language ability and mathematical performance. Their research showed that proficiency in a language is a predictor of success in data analysis and geometry but not in algebra or arithmetic.
A Language and Proportional Reasoning Exercise
The idea of proportional reasoning is based on the fact that two ratios, a/b = c/d, indicate a multiplicative connection between two variables that are subject to change (Vergnaud, 1988). To maintain equity, it would be fair to give four children eight cookies instead of two. Recognized by the National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 1998) as crucial for the development of numerous mathematical ideas throughout school, proportional reasoning is a significant aim in early mathematics education.
There has been a dearth of study on proportional thinking, in contrast to the abundance of literature on the link between language and broad mathematical results. There have been requests to investigate the use of mathematical language in proportional reasoning, despite the fact that some research has operationalized language using broad metrics such phonological awareness and vocabulary (LeFevre et al., 2010; Vukovic & Lesaux, 2013). (Purpura & Reid, 2016).
Proportional reasoning is an important part of knowing rational numbers, probability, linear algebra, and other topics, and it is also a strong predictor of formal fraction abilities (McMullen et al., 2016; Van Dooren et al., 2018). To put these ideas into words, one must master the language of mathematics. For example, the word "product" may indicate both a produced good and a mathematical result; this might cause students to become confused when trying to study mathematics, according to research.
The fact that children as young as five or seven years old can participate in tasks requiring proportional thinking suggests that this skill develops sooner than originally believed, according to research by Resnick and Singer (1993). Students may also find it difficult to differentiate between the mathematical and common meanings of words when mathematical terminology is used interchangeably with daily English. As a result, ensuring that youngsters acquire the academic and technical language skills necessary to comprehend mathematical ideas, such as proportional reasoning, is of the utmost importance.
Reference
Vanluydt, E., et al. 2022. The importance of specific mathematical proportional language for early reasoning
You can read the full article at the following link
What are your thoughts? give your arguments.

Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Setelah saya menerjemahkan semuanya menjadi bahasa Indonesia , ternyata artikel ini menegaskan bahwa kemampuan anak dalam memahami perbandingan atau proporsi sangat di pengaruhi oleh penguasaan bahasa matematika, banyak orang mengira penalaran proporsional itu hanya soal angka , padahal anak itu juga perlu memahami kata - kata yang menjelaskan hubungan itu , misalnya “dua kali lipat” , “setengah” , “tiga kali” ‘atau “per” , jika anak tidak memahami beberapa istilah dasar seperti ini , maka mereka juga akan sulit dalam menyelesaikan soal yang sebetulnya sangat sederhana, kosakata matematika itu jauh lebih berpengaruh terhadap kemampuan numerasi dibanding bahasa umum , artinya , walaupun seorang anak lancar dalam berbicara , mereka akan tetap dapat mengalami kesulitan matematika jika tidak mengenal istilah khusus dalam matematika , selain itu , beberapa istilah matematika memiliki makna ganda seperti kaya product dalam bahasa Inggris , sehingga bisa membingungkan anak ketika ingin mempelajari konsep baru , dan mengembangkan penalaran proporsional , kita tidak hanya berfokus pada angka dan operasi hitung saja , tetapi juga harus memperkuat kemampuan matematika anak sejak awal .
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Saya setuju juga dengan pandangan bahwa bahasa matematika itu bisa diperkenalkan sejak dini , penelitian ini menunjukkan bahwa anak usia 5-7 tahun sebenarnya sudah mampu memahami konsep proporsi , hanya saja ya mereka membutuhkan bahasa yang tepat untuk memahami nya, karena itu pembelajaran matematika dan bahasa tidak bisa dipisahkan , guru juga perlu memberikan banyak kesempatan bagi siswa untuk mendengar , menggunakan , dan membahas , istilah matematika dalam konteks yang nyata.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Izin bertanya pak dan teman “ semua , saya kepo apa alasan banyak anak itu mengalami kesulitan dalam penalaran proporsional meskipun mereka sudah belajar matematika di sekolah ?
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
izin menjawab pertanyaan dari Oktavia Ramadani, menurut sepengetahuan saya bisa terlihat banyak sekali anak-anak yang kesulitan dalam penalaran proporsional dikarenakan mereka belum benar-benar yang namanya memahami hubungan perbandingan, yang mereka ketahui mungkin cenderung seperti menghafal rumus tanpa mereka pahami konsepnya, dan juga mungkin jarang mendapatkan/diberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka. Itu bisa jadi akibatnya, mereka sulit untuk melihat pola yang sebanding dalam berbagai situasi yang ada.
Nama:bella ayu pusdita
HapusKelas:5d
Nim:2386206114
Izin sedikit menjawab ya oktavia kalau setau saya ni Masalah kesulitan dalam penalaran proporsional pada anak, meskipun mereka sudah belajar matematika di sekolah, adalah isu yang kompleks dan sering terjadi. Hal ini disebabkan penalaran proporsional tidak hanya membutuhkan pengetahuan prosedural (rumus), tetapi juga memerlukan pergeseran kognitif yang mendalam dari pemikiran aditif ke pemikiran multiplikatif.mungkin ada banyak alasannya tapi yang aku tau ada 5, ada yang belum mencapai tahap operasi normal, kesalahan penggunaan strategi aditif, pengajaran yang terlalu prosedual, kurangnya koneksi dengan konteks nyata, dan konsep dasar yang belum kuat, jadu kesmpulannya itu kesulitan anak terletak pada kegagalan untuk beralih dari pemikiran aditif ke pemikiran multiplikatif dan pengajaran yang terlalu fokus pada prosedur cepat (seperti kali silang) tanpa membangun pemahaman konseptual yang mendalam tentang rasio dan kesetaraan.kalau salah tolong diperbaiki ya teman”🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Menurut saya Kesulitan anak dalam penalaran proporsional sering disebabkan oleh beberapa faktor utama: kurangnya pemahaman konsep dasar, keterbatasan kosakata matematika, kesulitan berpikir abstrak, metode pembelajaran yang terlalu prosedural, dan minimnya latihan dalam konteks dunia nyata. Masalah ini membuat anak cenderung menghafal rumus tanpa benar-benar memahami hubungan antar angka, sehingga mereka kesulitan menerapkan penalaran proporsional secara mendalam.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia, jadi menurut saya, banyak anak kesulitan penalaran proporsional karena pembelajarannya sering fokus ke rumus dan hitungan cepat, bukan ke makna perbandingan itu sendiri. Mereka jarang diajak mikir konteks nyata, kayak membandingkan resep, jarak, atau skala, jadi pas soalnya berubah sedikit langsung bingung. Selain itu, konsep proporsi itu cukup abstrak dan butuh pemahaman pecahan yang kuat, sementara dasar ini sering belum benar-benar matang.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menanggapi ya pak,wahh pakai bahasa Inggris yak,setelah saya menerjemahkan ke Bahasa Indonesia menggunakan app terjemah,jadi materi ini membahas materi ini membahas tentang pentingnya bahasa proporsional dalam matematika, terutama untuk mengembangkan kemampuan penalaran anak-anak. Seringkali kita menganggap matematika hanya tentang angka dan rumus, tapi ternyata bahasa yang kita gunakan untuk menjelaskan konsep matematika juga sangat penting. Jika anak-anak tidak memahami bahasa yang digunakan, mereka akan kesulitan memahami konsep matematika itu sendiri.ini seperti mencoba memahami instruksi perakitan tanpa memahami bahasa yang digunakan dalam instruksi tersebut.
Serta,bahasa proporsional adalah kunci untuk mengembangkan kemampuan penalaran anak-anak dalam matematika.dengan menggunakan bahasa yang tepat dan mudah dipahami, kita dapat membantu anak-anak memahami konsep-konsep matematika dengan lebih baik dan mengembangkan kemampuan penalaran mereka.ini seperti memberikan fondasi yang kuat bagi anak-anak untuk membangun pemahaman matematika mereka.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Tambahan sedikit tentang materi ini,nah saya sangat setuju nih ada pada poin yang membahas tentang kemampuan bahasa anak-anak berhubungan dengan kemampuan matematika mereka.jika anak-anak memiliki kosakata yang kaya dan mampu memahami hubungan antara kata-kata, mereka akan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika yang kompleks. ini seperti memiliki alat yang lengkap sebelum memulai pekerjaan,jadi pekerjaan akan lebih mudah dan efisien.serta juga nih dalam materi ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana cara meningkatkan kemampuan matematika anak-anak. dengan memperhatikan bahasa yang kita gunakan dalam menjelaskan konsep matematika, kita dapat membantu anak-anak mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan meningkatkan kemampuan matematika mereka secara keseluruhan.ini seperti memberikan kunci untuk membuka potensi matematika anak-anak.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2286206114
Izin sedikit memberi tanggapan saya sudsh terjemahkan materi diatas dan saya baca setelah saya baca saya sedikit mengerti bahwa secara keseluruhan artikel ini memberikan justifikasi kuat mengapa guru harus secara sadar mengintegrasikan pengajaran bahasa matematis (khususnya bahasa multiplikatif/rasio) dalam kelas mereka sebagai langkah kunci untuk mengatasi kesulitan siswa dalam penalaran proporsional.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Saya juga mau tanya pak dari materi diatas yang membahas Proportional Language in Mathematics: A Key to Developing Early Reasoning Skills in Children sebagai calon guru nih saya masih bingung pak Bagaimana guru dapat secara efektif mengatasi kebingungan siswa yang disebabkan oleh ambiguitas kosakata (kata-kata dengan makna umum dan matematis, seperti "product," "mean," atau "table") tanpa menghambat perkembangan bahasa umum siswa?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Bella, jadi menurut saya, guru bisa ngatasin kebingungan itu dengan cara secara sadar ngebedain makna sehari-hari dan makna matematis tanpa bilang salah, misalnya dengan bilang “kalau di matematika, kata produk artinya hasil perkalian, beda ya sama produk di iklan”. Guru juga bisa pakai contoh kontekstual, visual, dan tabel sederhana sambil ngajak siswa diskusi makna kata, jadi bahasa umum anak tetap berkembang tapi mereka juga paham kapan sebuah kata dipakai dalam arti matematis.
Wow bahasa inggris, setelah diterjemahkan materi ini menjelaskan tentang Penalaran proporsional, dimana penalaran proposional adalah bagian penting dari matematika. Agar penalaran ini bekerja dengan baik, seseorang perlu memahami bahasa dengan baik, terutama dalam situasi tertentu. Disini juga dijelaskan, NCTM (1998) menyatakan bahwa penalaran proporsional adalah tujuan penting dalam pendidikan matematika awal. Namun, penelitian tentang penalaran proporsional masih sedikit dibanding penelitian tentang hubungan bahasa dan matematika secara umum.
BalasHapusWaktu membaca terjemahan materi ini, saya langsung teringat pengalaman saya sendiri ketika masih di sekolah. Misalnya, ketika guru bilang “dua kali lipat”, “perbandingan”, atau “rasio”, saya sering berhenti sejenak hanya untuk memahami maksud kata-katanya. Jadi, setelah membaca materi ini, saya merasa memang benar bahwa bahasa dan matematika tidak bisa dipisahkan. Menurut saya, materi ini menunjukkan bahwa belajar matematika itu bukan cuma soal angka, tetapi juga soal bahasa. Jadi, kemampuan bahasa ternyata punya peran besar dalam keberhasilan belajar matematika. Dan dari materi ini juga menekankan pentingnya peran guru dan orang tua dalam membantu mereka memahami bahasa matematika sejak awal dengan contoh sehari-hari yang sederhana.
BalasHapusNama:Elisnawatie
BalasHapusKelas:5D
NPM:2386206069
Wahh ternyata setelah saya translate saya jadi tahu kemampuan bahasa yang baik dan kosakata yang kaya sangat berperan dalam membantu anak memahami konsep matematika. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat berpikir yang mempermudah pemahaman konsep-konsep matematika yang kompleks. Dengan memperhatikan bahasa yang digunakan dalam pembelajaran, guru dapat meningkatkan pemahaman matematika anak, sehingga membuka potensi mereka secara optimal.
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Mengingat pentingnya hubungan antara kemampuan bahasa dan pemahaman matematika pada anak-anak, bagaimana seorang guru dapat merancang strategi pembelajaran yang tidak hanya memperkaya kosakata anak, tetapi juga secara efektif mengaitkan istilah-istilah bahasa dengan konsep matematika yang kompleks, sehingga anak-anak tidak hanya mampu menghitung atau menyelesaikan soal, tetapi juga benar-benar memahami makna dari konsep tersebut?
Nama:Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Setelah saya membaca materi ini keren banget karena ngebantu anak mikir lebih logis sejak dini. Dan anak lebih gampang paham konsep jumlah, ukuran, sampai hubungan antar benda. Jadi bukan hanya hitung-hitungan tapi juga melatih cara mereka berpikir.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menambahkan pak, dari sini juga kelihatan kalau peran guru itu penting banget buat ngarahin cara berpikir anak, bukan cuma ngasih soal. Lewat bahasa yang tepat, contoh nyata, dan pertanyaan pemantik, anak jadi terbiasa mikir hubungan, perbandingan, dan alasan di balik jawaban mereka. Kalau ini dibiasakan sejak dini, anak nggak gampang takut sama matematika dan lebih siap buat materi yang lebih kompleks ke depannya.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Materi ini membahas Bahasa Proporsional dalam matematika hal yang sering dianggap sepele yaitu bahasa yang digunakan guru saat mengejar matematika padahal dari bahasa ini lah dasar penalaran Proporsional anak mulai terbentuk sejak dini yaitu usia lima sampai tujuh tahun sudah bisa mulai berpikir perbandingan, maka dari itu sebagai guru penting dalam membedakan makna kata dalam bahasa sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan matematika anak berhubungan erat dengan kosa kata umum dan kosa kata matematika, mereka menemukan bahwa kosa kata matematika memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap kemampuan matematika anak selain itu menurut NCTM penalaran Proporsional menjadi tujun utama dalam pendidikan matematika anak usia dini. Cara guru menggunakan bahasa saat mengajar matematika sangat mempengaruhi kemampuan berpikir dan menentukan pemahaman siswa, maka sebaiknya bahasa yang digunakan sederhana, kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. kesimpulannya materi ini mengajarkan kita bahwa perkembangan kemampuan berpikir matematika anak tidak hanya bergantung pada angka dan rumus, tetapi juga pada cara guru berkomunikasi jadi gunakanlah bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Terima kasih bapak untuk materi yang ini tentang Penalaran Proporsional (Proportional Reasoning) ini penting banget karena ternyata kemampuan ini adalah dasar untuk banyak topik matematika lain yang lebih susah. Di materi disebutkan, penalaran ini jadi fondasi untuk aljabar, geometri, dan statistika. Kalau siswa dari awal sudah paham konsep perbandingan (rasio), mereka pasti lebih gampang mengerjakan soal yang berkaitan dengan perbandingan pecahan, atau bahkan skala di peta. Konsep seperti setengah, dua kali lipat, atau tiga kali yang ada di materi juga sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Ini membuktikan bahwa penalaran proporsional itu bukan cuma teori, tapi adalah akal sehat yang wajib dikuasai siswa.
BalasHapusDan juga materi bapak pads bagian yang membahas keterkaitan antara bahasa dan kemampuan matematika ini adalah yang paling menarik perhatian saya. Ternyata, penguasaan kosakata matematika yang spesifik itu lebih penting daripada kemampuan bahasa umum untuk memprediksi kemampuan berhitung siswa. Ini artinya, kita sebagai guru tidak boleh menganggap remeh bahasa. Kita harus memastikan siswa benar-benar tahu perbedaan antara istilah matematika seperti produk yang berarti hasil kali dan arti kata itu di bahasa sehari-hari. Kalau tidak, siswa bisa jadi bingung di matematika karena terjebak di arti kata. Jadi, mengajar matematika itu juga berarti mengajar bahasa matematika itu sendiri dengan baik dan benar.
BalasHapusMateri bapak ini juga menjelaskan bahwa meskipun penalaran proporsional itu sangat penting, di materi disebutkan bahwa kemampuan ini masih sulit dikuasai oleh sebagian besar siswa di akhir sekolah dasar. Padahal, penelitian menunjukkan kemampuan berpikir proporsional ini bisa dikembangkan lebih cepat dari yang kita kira. Tantangannya adalah, bagaimana guru bisa menciptakan kegiatan belajar yang membuat siswa SD mampu berdiskusi dan berlogika tentang perbandingan. Kita harus sering mengenalkan konsep matematika seperti ' perimeter atau rasio menggunakan bahasa yang kaya di kelas. Saya rasa ini adalah PR besar kita agar siswa bisa menguasai dasar-dasar matematika dengan baik sebelum masuk ke jenjang yang lebih sulit
BalasHapusNama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
Nah setelah saya translate karna saya juga gak terlalu pintar bahasa inggris hehe.
Materi ini menekankan pentingnya bahasa dalam mengembangkan kemampuan matematika awal anak,khusus nya penalaran proporsional.
Dan materi ini menyimpulkan bahwa kemampuan berbahasa matematika adalah kunci utama agar anak anak bisa pintar berhitung khususnya memahami perbandingan. Nah kita sebagai calon guru wajib fokus mengajarkan kosakata matematika secara tepat dan jelas agar siswa tidak bingung antara istilah matematika dan bahasa sehari hari. Ini adalah cara kita membantu mereka menguasai konsep matematika yang sulit.
Nama :Zakky Setiawan
HapusNPM ; ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Izin menanggapi ya kak dita, saya setuju banget sama calon guru yang wajib fokus sama kosakata matematika. karena dengan kosakata yang mudah dipahami dengan mudah oleh peserta didik, betul sekali ini tuh akan membatu mereka agar mereka tu ga bingung dengan kosep matematika
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
Izin bertanya pak.
Tetapi juga saya bingung di bagian ini
Bagaimana cara kita sebagai calon guru dalam praktik nyata d kelas untuk membedakan secara efektif antara makna istilah matematika dan makna umum sehari hari dari kata yang sama,agar siswa tidak bingung dan dapat menguasai penalaran proporsional dengan lebih baik,secara kami mahasiswa yang kedepannya menjadi calon guru,pegangan kami dari sekarang hehe?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Dita, menurut saya, sebagai calon guru, dari sekarang kita bisa membiasakan diri buat selalu nyebutin dua makna kata sejak awal, makna sehari-hari dan makna matematika, lalu kasih contoh konkretnya biar jelas bedanya. Di kelas nanti, kita bisa pakai visual, tabel, atau cerita sederhana dan sering nanya balik ke siswa “ini maksudnya yang mana?” supaya mereka sadar konteksnya. Dengan begitu siswa nggak cuma hafal istilah, tapi juga paham maknanya dan penalaran proporsionalnya bisa berkembang lebih kuat.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Setelah saya menterjemahkan materi di atas ke dalam bahasa indonesia agar bisa memahami materi ini, terlihat jelas bahwa kemampuan memahami perbandingan atau proportional reasoning itu sebenarnya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, bukan cuma untuk pelajaran matematika. Hal-hal sederhana seperti membagi makanan, mengikuti resep, atau menghitung “dua kali lebih banyak” sudah membutuhkan cara berpikir proporsional. Menariknya, kemampuan ini ternyata sudah mulai muncul sejak anak usia dini, bahkan sebelum mereka secara formal belajar matematika di sekolah.
Namun, materi ini juga menegaskan kalau banyak anak masih kesulitan dalam memahami perbandingan, terutama karena mereka juga belum menguasai bahasa matematika yang tepat. Kata-kata seperti “setengah”, “dua kali lipat”, “rasio”, atau “perimeter” sebenarnya punya makna khusus di matematika, dan kalau siswa tidak paham bahasa tersebut, otomatis kemampuan matematikanya juga ikut terhambat. Kadang siswa bingung karena satu kata bisa punya arti berbeda dalam kehidupan sehari-hari dan dalam matematika misalnya kata “produk”.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Yang menarik dari materi ini juga adalah penelitian-penelitian yang disampaikan menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa, terutama bahasa matematika, sangat berhubungan dengan kemampuan berhitung dan memahami konsep-konsep penting. Jadi, bukan cuma pengetahuan rumusnya yang penting, tapi bahasa yang dipakai untuk memahami rumus itu juga sangat menentukan.
Materi ini seakan menunjukkan bahwa guru perlu memberi banyak perhatian pada mathematical language, bukan cuma langsung masuk ke hitung-hitungan. Dengan kata lain, sebelum anak bisa menyelesaikan soal perbandingan, mereka harus benar-benar paham dulu apa arti “dua kali lebih banyak”, “perbandingan 1:3”, atau “rasio a/b = c/d”.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Saya ijin bertanya pak dari materi di atas, Bagaimana cara guru memperkenalkan istilah matematika seperti “rasio”, “perbandingan”, atau “dua kali lipat” kepada anak usia dini agar mudah dipahami?
Adakah metode atau strategi khusus untuk melatih proportional reasoning pada siswa yang masih menghadapi kesulitan bahasa?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, guru bisa ngenalin istilah kayak rasio, perbandingan, atau dua kali lipat lewat aktivitas konkret dulu, misalnya pakai mainan, gambar, atau makanan buat dibandingin langsung tanpa banyak istilah. Setelah anak paham situasinya, baru pelan-pelan masukin kata matematikanya sambil nunjukin contohnya. Strategi yang efektif itu pakai bahasa sederhana, gerak tangan, visual, dan pertanyaan kayak “yang mana lebih banyak?” atau “kalau ditambah jadi berapa?” supaya penalaran proporsionalnya kebangun meski kemampuan bahasanya masih berkembang
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Setelah saya mentranslate materi di atas saya jadi tahu materi ini membahas kalau bahasa itu penting banget buat ngerti matematika. jadi bukan cuman hitungan-hitungan doang tapi gimana anak ngerti kata-kata juga. Pantas aja kadang anak bingung, karena istilah kayak setengah atau tiga kali lipat itu kelihatannya simpel, tapi maknanya lumayan dalam. Kasihan juga kalau ternyata banyak anak yang belum siap di bagian itu pas selesai dari jenjang sekolah dasar. Kayaknya guru dan orang tua memang perlu lebih sering biasain anak dengan istilah matematika dari kecil.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Materi ini menarik ternyata bahasa tentang matematika itu lebih penting daripada bahasa umum buat nebak kemampuan berhitung anak. aku kira selama anak lancar ngomong, dia bakal gampang ngerti matematika, ternyata enggak gitu. Banyak anak yang ngerti cerita panjang, tapi mandek waktu ketemu istilah kayak rasio atau proporsi. Jadinya yang mereka susah juga pas belajar artikel ini jadi ingetin kalau matematika itu sebenarnya juga pelajaran bahasa
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Bagian soal proporsional reasoning itu juga bener banget. di kehidupan nyata kita sering banget ngitung perbandingan, cuman kadang nggak sadar kalau anak nggak ngerti konsep itu dari kecil pas gede bisa makin susah titik apalagi kalau di sekolah konsepnya diajarin tapi bahasanya nggak nyampe ke anak. Makanya menurutku penting banget ajarin anak dari awal dengan contoh-contoh simpel dekat sama kehidupan sehari-hari mereka.
Nama :Zakky Setiawan
HapusNPM ; ( 2386206066 )
Kelas : 5C
izin menanggapi ya kak fika,saya setuju dengan pendapat kak fika terkait mengajari dari contoh-contoh simpel kepada mereka, nah mereka tuh pasti akan jauh lebih memahami konsep tersebut apalagi lewat kehidupan sehari-hari mereka,yang sering terjadi pada hidup mereka akan membuat mereka tuh tidak asing akan hal tersebut
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Setelah saya membaca terjemahan materi diatas, ternyata kemampuan bahasa kita itu penting untuk kita bisa menguasai matematika, terutama yang berhubungan dengan penalaran proporsional.
Misalnya aku ada contoh nie, saat kita sedang memasak, kalau dibuku resep tertulis 2 sendok gula untuk 4 porsi, lalu kita nih mau masak untuk 8 porsi, kita langsung tau berarti pakai 4 sendok gula. Tapi coba pikirkan Kata-katanya yang kita pakai, dua kali lipat, setengah, atau perbandingan. Nah Kata-kata ini adalah Bahasa proporsional itu sendiri.
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
izin menanggapi ya pak, ternyata banyak anak lulusan SD yang masih lemah dalam penalaran proposional dan kita sebagai guru terlalu fokus pada mengajar rumus bukan pemahaman logika, maka dari itu kita sebagai guru harus lebih fokus mengajarkan anak mengenai hubungan perkalian atau pembagian dalam perbandingan.
saya setuju dengan stetmeant/pendapat elin ya sangat memungkinkan anak sd yang sudah lulus masih belum bisa menguasai penalaran proposional,jadi sebagai calon pendidik ni kita harus bisa memberikan pengetahuan terkait semua rumus dan aspek lainnya.
HapusNama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
saya izin bertanya pak, bagaimana cara agar calon guru diajarkan untuk mengubah kebiasaan mengajar dari sekedar rumus menjadi mengajar logika perbandingan yang sebenarnya sejak dini?
halo elinn,izin menjawab yaa jadi caranya yaitu kita sebagai calonn pendidik harus membiasakan pembelajaran berbasis masalah,lebih tepatnya menekankan pertanyaan mengapa dan bagaimana ,melatih refleksi dan teacher nothing supaya guru peka akan cara berpikir siswa ,bukan hanya jawaban akhir saja.
HapusIzin menjawab yah, calon guru perlu dilatih mengajar dari konteks nyata dan bahasa perbandingan, membiasakan bertanya mengapa, menganalisis cara berpikir siswa, dan menunda rumus sampai makna proporsional benar-benar dipahami.
HapusNama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, caranya dengan membiasakan calon guru belajar konsep dari maknanya dulu, bukan langsung rumus, misalnya lewat masalah kontekstual, perbandingan nyata, dan diskusi “kenapa bisa begitu”. Di perkuliahan juga perlu banyak latihan microteaching dan refleksi, jadi mahasiswa nggak cuma bisa ngerjain soal, tapi juga terlatih menjelaskan logika perbandingan dengan bahasa sederhana yang cocok buat anak sejak dini.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB Pgsd
Npm : 2386206035
Materi ini mengajarkan kita betapa pentingnya bahasa proporsional dalam pembelajaran matematika. Selama ini, sering kali siswa bingung bukan karena konsep matematikanya susah, tapi karena cara penyampaiannya kurang pas atau bahasanya terlalu abstrak.Penggunaan kata dan kalimat dan konteks yang tepat ternyata sangat berpengaruh bagi pemahaman siswa,jadi guru perlu sekali menyesuaikan bahasa dengan level pemikiran siswa supaya matematika ini dapat masuk akal bagi mereka dan tidak menakutkan.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : Vb PGSD
Npm : 2386206035
Memang benar kita harus menyesuaikan bahasa untuk anak, karena cara penyampaian sangat berpengaruh terhadap pemahaman mereka. Terkadang saya juga kurang paham kalau materi matematika disampaikan dengan bahasa yang terlalu abstrak, apalagi kalau belum tahu arti istilahnya terlebih dahulu. Menurut saya, penggunaan bahasa memang bisa mempermudah, tapi kalau disampaikan ke anak dengan istilah yang terlalu ilmiah justru terasa kurang pas. Contohnya, daripada langsung mengatakan "rasio 2 : 4 disederhanakan menjadi 1 : 2", Guru bisa menjelaskan dengan kalimat "kalau ada 2 permen merah dan 4 permen biru, kita bisa kelompokkan supaya jumlahnya seimbang". Dengan contoh seperti itu, anak lebih mudah memahami konsep matematika
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak erlynda, apa kabarnya kak hehe
Saya di sini setuju banget dengan pendapat kaka. Menurut saya, sebelum anak diajak ke istilah matematika yang formal, mereka perlu “masuk” dulu lewat cerita atau situasi yang dekat dengan keseharian. Dengan begitu, anak tidak merasa matematika itu menakutkan atau rumit.
Tambahan dari saya kak, setelah anak paham lewat contoh konkret, barulah guru perlahan mengenalkan istilah seperti rasio atau perbandingan, supaya pemahaman anak terbentuk dari makna, bukan sekadar hafalan.
Semoga bermanfaat ya kak
jadi setelah saya menerjama'ahkan artikel bapak ini ke dalam bahasa indonesia ternyata membahas tentang pentingnya proporsional dalam banyak situasi,pemikiran proporsional mungkin sangat sulit bagi anak anak flandres .cukup sedikit yang dapat diketahui tentang bagaimana siswa sekola dasar awal berhubungan dengan kemampuan mereka untuk bernalar secara profesional.meskipun matematika dan bahasa indonesia diajarkan secara terpisah di sekolahnya,penelitian di awal menunjukkann bahwa aanak anak kecil dapat memahami beberapa konsep proporsoional.
BalasHapusizin bertanya terkait materi tersebut pak,apa yang akan terjadi apabila kesulitan utama bagi anal anak dalam memahami konsep proporsional,dan apa saja si pak yang dapat mempengaruhi pada kepemapahaman mereka?
BalasHapusIzin menjawab, Jika anak sulit memahami konsep proporsional, mereka akan keliru menafsirkan perbandingan dan cenderung berpikir menambah, bukan melipatgandakan. Pemahaman ini dipengaruhi oleh bahasa matematika, pengalaman konkret, peralihan dari berpikir aditif ke multiplikatif, serta cara guru menjelaskan konsep.
HapusNama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Agustiani, jadi menurut saya, kalau anak kesulitan memahami konsep proporsional, mereka bakal gampang salah saat membandingkan, menaksir, atau ngerjain soal yang melibatkan rasio dan skala. Kesulitan ini dipengaruhi banyak hal, kayak pemahaman pecahan yang belum kuat, bahasa soal yang ambigu, cara ngajar yang terlalu fokus rumus, minimnya contoh nyata, dan kurangnya kesempatan anak buat mikir perbandingan secara logis.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Setelah saya translate materi di atas memberikan perspektif menarik tentang gimana bahasa sebenarnya menjadi pondasi utama bagi anak anak untuk belajar matematika. Seringkali kita nganggap kalo matematika hanya soal angka dan hitungan, padahal kemampuan pahami istilah kayak dua kali lipat, atau keliling sangat bergantung pada penguasaan kosakata. Intinya, kalau anak belum paham bahasanya, mereka akan kesulitan membangun logika matematikanya.Terutama dalam memahami konsep perbandingan atau proporsional yang cukup kompleks.
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Beberapa poin penting yang bisa diambil dari artikel yang bapak kirim
• Istilah matematika sering kali punya arti berbeda dalam kehidupan sehari hari kayak kata produk, sehingga anak perlu bimbingan khusus supaya gak bingung.
• Penguasaan istilah teknis matematika sejak dini ternyata menjadi penentu yang lebih akurat bagi keberhasilan akademik anak di masa depan dibandingkan kemampuan bahasa umum mereka.
• Penalaran proporsional gak cuma soal rumus, tapi soal memahami hubungan antar variabel yang sering kita temui saat membagi makanan atau mengikuti resep masakan.
nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Intinya tuh meskipun penelitian nunjukin kalau anak usia lima tahun udah mulai bisa berpikir secara proporsional, banyak siswa SD yang masih kesulitan karena kurangnya dukungan bahasa di kelas. Hal ini jadi pengingat penting bagi guru maupun orang tua suapaya gak memisahkan pelajaran bahasa dari matematika. Dengan memperkuat pemahaman istilah dan pola bahasa, kita sebenarnya sedang membantu anak anak membangun jembatan untuk memahami konsep matematika yang lebih rumit nantinya.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak syahrul, Sependapat dengan pendapat kaka ini. Disini menurut saya, bahasa memang berperan sebagai “jembatan berpikir” dalam matematika. Anak bisa saja punya intuisi proporsional, tapi tanpa dukungan istilah dan pola bahasa yang tepat, intuisi itu sulit berkembang.
Tambahan dari saya kak, pembiasaan bahasa matematika sederhana seperti “lebih banyak–lebih sedikit” atau “untuk setiap” sejak kelas awal bisa membantu anak mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan konsep matematis yang lebih abstrak di jenjang berikutnya.
Semoga bermanfaat dan kita bisa menjadi guru hebat
Artikel ini dengan kuat menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat bantu, tetapi fondasi utama dalam perkembangan penalaran proporsional anak. Argumen yang disajikan meyakinkan karena didukung banyak riset yang menunjukkan bahwa kosakata matematika spesifik (seperti double, half, ratio, times) lebih berpengaruh terhadap kemampuan numerasi dibandingkan kemampuan bahasa umum.
BalasHapusSaya sependapat bahwa kesulitan anak dalam penalaran proporsional sering kali bukan karena tidak bisa berhitung, melainkan karena tidak memahami makna bahasa matematika yang digunakan. Ambiguitas istilah matematika yang juga dipakai dalam bahasa sehari-hari (misalnya product) semakin memperkuat pentingnya pengajaran bahasa matematika secara eksplisit sejak dini.
Implikasi penting dari artikel ini adalah bahwa pembelajaran matematika di kelas awal seharusnya lebih language-rich, dengan penekanan sadar pada penggunaan, pemaknaan, dan diskusi istilah proporsional. Dengan demikian, pengembangan penalaran proporsional tidak ditunda hingga konsep formal pecahan, tetapi ditumbuhkan sejak usia dini melalui bahasa yang tepat dan bermakna.
BalasHapusNama Hanifah
BalasHapusKelas 5C
NPM 2386206073
Materi ini membuat saya sadar bahwa bahasa adalah kunci dalam memahami matematika. Dulu,saya sering kesulitan dengan soal perbandingan karena penjelasan guru terasa rumit. Setelah membaca ini, saya paham bahwa masalahnya bukan pada konsep, tapi pada cara bahasa yang digunakan. Jika guru menjelaskan dengan bahasa yang lebih proporsional dan kontekstual, siswa akan lebih percaya diri.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Hanifah, Setuju beneh dengan kaka. Dari materi ini kelihatan kalau kepercayaan diri siswa muncul saat bahasa matematika terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Menariknya kak, di riset juga menunjukkan bahwa penggunaan bahasa kontekstual sejak awal membantu anak membangun sense of proportion tanpa harus menunggu konsep pecahan formal. Jadi tugas guru bukan hanya menyederhanakan soal, tapi memilih kata yang tepat supaya cara berpikir proporsional anak tumbuh secara alami dan bertahap kak.
Baru sadar kalau ternyata penggunaan bahasa yang tepat itu penting banget dalam konsep perbandingan (proporsi). Seringkali kita langsung masuk ke rumus, padahal istilah-istilah sederhana seperti 'setiap' atau 'untuk setiap' itu kunci buat anak paham logikanya.
BalasHapusNama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Alda, Setuju banget Dari materi ini kelihatan kalau memahami kata-kata sederhana justru jadi fondasi utama dalam berpikir proporsional. Saat anak paham makna “setiap” atau “untuk setiap”, mereka sebenarnya sudah diajak berpikir tentang hubungan antar jumlah, bukan sekadar hitung-hitungan. Jadi masuk akal kalau guru perlu menunda rumus dulu dan memperkuat bahasa, supaya logika perbandingan anak terbentuk dengan lebih alami dan tahan lama.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Ternyata matematika itu bukan hanya soal angka, tetapi soal bahasa juga. ternyata kalau anak tidak paham istilah seperti setengah, dua kali lipat, atau rasio. mereka akan loading lama ketika mengerjakan soal matematika. lalu anak kecil sebenarnya lebih pintar dari yang kita kira. karena kita berpikirnya anak di umur 5 tahun itu hanya bisa bermain saja. ternyata mereka sudah mulai bisa berpikir soal perbandingan atau porsi (proporsional), asalkan cara penyampaiannya benar.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak selma setuju banget dengan pendapat kaka. Dari materi ini kelihatan jelas kalau bahasa itu pintu masuk penting ke matematika. Anak sering terlihat “lama mikir” bukan karena nggak bisa berhitung, tapi karena belum paham makna kata di dalam soalnya. Kalau istilah seperti setiap, dua kali, atau dibagi rata sudah dipahami lewat konteks sehari-hari, proses berpikir matematis jadi lebih ringan.
Menariknya juga kak, di materi ini juga menunjukkan bahwa anak usia dini sebenarnya sudah punya intuisi proporsional. Tugas guru bukan mempercepat masuk ke rumus, tapi menjembatani bahasa sehari-hari ke bahasa matematika secara perlahan. Dari situ, anak belajar logika perbandingan dengan lebih natural dan tidak merasa matematika itu menakutkan.
Semoga tanggapan saya bermanfaat ya kak
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, menurut bapak kalau ada anak pintar sekali dalam berbahasa, apakah otomatis dia akan jago aljabar juga? lalu berikan saya contoh istilah simpel apa saja yang sebenarnya itu adalah bahasa matematika. tapi sering kita gunakan ketika lagi berbagi makanan atau masakan?
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya lagi pak, mengapa anak kecil masih suka kebingungan ketika mendengar kata produk di kelas matematika? lalu mengapa kita tidak boleh hanya pintar bahasa sehari-hari saja kalau ingin jago matematika?
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Pak, terima kasih atas materinya. Saya jadi lebih paham kalau bahasa proporsional itu bukan cuma soal angka, tapi juga cara kita menjelaskan hubungan antar nilai dengan kata-kata yang mudah dimengerti siswa. Dengan menggunakan bahasa yang tepat, siswa bisa lebih cepat mengerti konsep proporsional dan tidak sekadar hafal rumusnya saja. Artikel ini sangat membantu buat yang ingin membuat pembelajaran matematika jadi lebih jelas dan masuk akal bagi siswa.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin bertanya ya pak, bagaimana cara mengenalkan bahasa proporsional kepada siswa yang masih kesulitan memahami perbandingan? terimakasih
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hallo kak Alya, izin menjawab ya, sambil menunggu respon bapak (izin ya pak)
Kalo menurut saya, bahasa proporsional sebaiknya dikenalkan lewat bahasa sehari-hari terlebih dulu kak, bukan langsung dengan simbol atau rumus. Misalnya menggunakan kata seperti dua kali lebih banyak, setengahnya, atau dibagi rata dalam konteks nyata kayak resep, berbagi makanan, atau jumlah benda. Ini sejalan dengan materi yang menekankan bahwa pemahaman proporsional berkembang ketika anak memahami makna bahasa matematika, bukan sekadar angka.
Selain itu, guru jua perlu membiasakan siswa menjelaskan dengan kata-kata bagaimana mereka membandingkan sesuatu, walaupun jawabannya belum tepat. Dari situ guru bisa menangkap cara berpikir siswa dan meluruskan konsepnya secara perlahan.
Semoga bermanfaat ya kak, jika jawaban nya kurang, mungkin bisa ditambahkan oleh bapak nanti, Terima kasih
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Kembali saya kunjungan laman ini, dan tak lupa terjemahan bahasa nya hehe ternyata di materi ini menurut saya menegaskan bahwa keberhasilan anak dalam memahami matematika, khususnya penalaran proporsional, tidak muncul secara tiba-tiba ketika rumus diajarkan. Anak perlu terlebih dahulu “akrab” dengan bahasa matematika yang digunakan. Tanpa pemahaman istilah dan struktur kalimat dalam soal, anak bisa salah arah sejak membaca masalah, bukan karena tidak bisa menghitung, tetapi karena tidak menangkap maksudnya.
Dan hal menarik dari materi ini adalah penekanan bahwa kemampuan bahasa matematika bahkan bisa menjadi indikator awal keberhasilan belajar matematika ke depan.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5 B
Hmm di materi ini menegaskan bahwa penalaran proporsional pada anak sangat dipengaruhi oleh pemahaman bahasa matematika yang digunakan. Beberapa kajian menunjukkan bahwa kosakata matematika yang spesifik berperan penting dalam membantu anak memahami hubungan perbandingan, bukan sekadar melakukan perhitungan.
Dalam praktik pembelajaran dan belajar, sering kali konsep perbandingan diajarkan melalui rumus secara langsung, sementara pemaknaan bahasanya kurang mendapat perhatian. Padahal, penggunaan bahasa yang kontekstual dan dekat dengan pengalaman sehari-hari dapat membantu siswa membangun pemahaman yang lebih mendalam dan berkelanjutan terhadap konsep perbandingan.
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Menurut saya, bahasa memiliki peran besar dalam pembelajaran matematika. Sering kali siswa kesulitan bukan karena konsepnya yang terlalu rumit, tapi karena bahasa yang digunakan kurang jelas. Materi ini menegaskan bahwa guru perlu menggunakan bahasa yang sederhana, konsisten, dan kontekstual agar siswa dapat memahami dengan baik.
Dengan menggunakan bahasa yang tepat dan mudah dipahami, maka matematika akan mudah diterima untuk siswa. Ketika matematika dapat dikomunikasikan dengan bahasa yang hidup dan relevan, siswa akan lebih bersemangat untuk belajar dan menemukan makna dibalik angka.
HapusMateri ini menekankan bahwa konsistensi bahasa sangat penting, karena istilah yang ambigu dapat menimbulkan miskonsepsi. Analisis ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa proposional bukan hanya keterampilan linguistik, tapi juga strategi pedagogis untuk memastikan siswa memahami konsep matematika secara mendalam.
HapusNama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Saya paru ngeh kalau bahasa itu ternyata sangat berpengaruh banget waktu kita belajar konsep proporsi di matematika. Ternyata bukan cuma soal angka yang perlu dipahami tapi juga kata - kata seperti , " setengah, dua kali lipat, lebih dari/ kurang dari" itu sendiri harus benar‑benar masuk dulu ke bahasa anak supaya mereka bisa mikir secara proporsional. Itu bikin saya mikir ulang, selama ini mungkin saya dan teman‑teman terlalu fokus sama hitungan tanpa sadar kita sering salah paham karena bahasa yang dipakai belum jelas padahal bahasa itu bisa jadi kunci supaya penalaran kita tentang perbandingan jadi makin paham dan kuat.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Saya jadi mikir, ternyata guru punya tantangan besar bukan cuma soal ngajarin konsep matematika yang abstrak, tapi juga bagaimana membuat bahasa matematika yang mudah dipahami anak. Dalam materi proporsi, kalau bahasa yang dipakai terlalu rumit atau ambigu, malah bisa bikin anak bingung dan gak bisa ikuti logika proporsinya. Jadi, guru harus jeli memilih kata dan contoh supaya bahasa yang digunakan benar-benar nyambung dengan dunia anak, sehingga penalaran matematika mereka bisa tumbuh secara alami dan menyenangkan. Contohnya pada kata " Dua kali lipat" . " Kalau kamu punya 2 permen dan temanmu punya 4 permen, berarti temanmu punya dua kali lipat permen dari kamu. Artinya, jumlah permen temanmu adalah dua kali jumlah permen kamu".
Nama: Ajuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Pembelajaran proporsi yang efektif tidak hanya fokus pada angka dan prosedur hitung, tetapi juga pada bahasa matematika yang digunakan untuk menjelaskan dan membentuk pemahaman konsep proporsional siswa.
bahasa matematika itu berbeda dengan bahasa sehari hari Misalnya kalau dalam ngobrol sehari hari kita bilang half itu bisa berarti setengah dari sesuatu secara umum tapi dalam konteks soal matematika half itu punya makna yang lebih presisi dan mempengaruhi cara kita membentuk persamaan atau hubungan angka jadi menurut saya kalau siswa bisa memahami bahasa matematikanya dulu mereka akan jauh lebih mudah menerjemahkan soal cerita ke bentuk matematis
HapusNama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Dalam pembelajaran proporsi sangat penting bagi guru dalam mengajar
Mereka akan fokus ke materi saat menyampaikan sebuah materi kepada siswa
Saat menjelaskan cara pengerjaan soal tersebut jadi sangat penting bagi guru untuk memahami konsep pembelajaran tersebut.
Selain itu guru juga punya tantangan yang mereka hadapi yaitu menjelaskan
HapusDan menggunakan bahasa mereka sendiri saat menjelaskan ke sebuah materi matematika kepada siswa tapi guru bisa mengatasi yaitu menggunakan metode pembelajaran mendalam sehingga mereka dapat
Menerapkan konsep pembelajaran tersebut.
Dan juga guru dapat membentuk pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika tersebut dimana guru menjelaskan cara pengerjaan soal tersebut dengan cara menyusun kalimat secara pedagogis dan mendalam sehingga siswa dapat memahami konsep pembelajaran tersebut.
HapusSelain itu bahasa yang guru gunakan harus jelas kepada siswa saat menyampaikan sebuah materi supaya siswa dapat memahami materi tersebut dengan benar Dan tata berbicara itu sangat penting bagi seorang guru dalam mengajar matematika jadi sangat penting juga bagi guru.
HapusDalam materi tersebut menegaskan bagi seorang anak dalam pembelajaran matematika tersebut dan guru sangat berperan penting bagi mereka di pembelajaran matematika tersebut di mana guru akan menjelaskan dan membimbing mereka dan juga guru harus profesional dalam menyampaikan sebuah materi kepada siswa supaya siswa dapat memahami betul tentang pembelajaran matematika tersebut.
HapusNama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Materi ini sangat menarik karena menegaskan bahwa kemampuan berpikir proporsional pada anak tidak hanya soal angka, tetapi juga sangat bergantung pada pemahaman bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Penjelasannya membuat kita sadar bahwa kata-kata sederhana seperti “dua kali”, “setengah”, atau “lebih banyak” punya peran besar dalam membantu anak memahami hubungan antar jumlah. Dengan mengaitkan matematika dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan anak, materi ini memberi gambaran jelas bahwa pembelajaran matematika akan lebih mudah dan bermakna jika guru dan orang tua memperhatikan cara berbahasa saat menjelaskan konsep.
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
saya setuju bahwa mengenalkan “bahasa proporsional” — seperti kata double / dua kali lipat, half / setengah, three times / tiga kali dan sebagainya — sejak dini bisa membantu anak memahami hubungan antar kuantitas secara intuitif. Tapi bagaimana kalau di lingkungan atau rumah siswa, istilah-istilah ini jarang muncul dalam kehidupan sehari-hari? Apakah guru perlu “memaksa” menggunakan bahasa itu di kelas supaya terbiasa, atau ada cara lain agar konsep proporsi tetap terasa relevan bagi siswa?
Mauu jawab pertanyaan dari mifta menurut aku pastinya guru nggak perlu maksa anak langsung pakai istilah matematis yang kaku yglebih penting itu maknanya dulu nyampe guru bisa mulai dari bahasa sehari hari yang dekat sama anak misalnya jadi dua kali lebih banyak atau dibagi sama rata baru pelan pelan dikenalkan istilah seperti double atau setengah.
HapusNama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Mauu jawab pertanyaan dari mifta menurut aku pastinya guru nggak perlu maksa anak langsung pakai istilah matematis yang kaku yglebih penting itu maknanya dulu nyampe guru bisa mulai dari bahasa sehari hari yang dekat sama anak misalnya jadi dua kali lebih banyak atau dibagi sama rata baru pelan pelan dikenalkan istilah seperti double atau setengah.
Nama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
terus kalau konsepnya sudah terasa lewat contoh nyata makanan, mainan, berbagi, istilah matematikanya tinggal ditempelin sebagai nama resminya dji bahasa proporsional tetap dipakai di kelas, tapi secara bertahap dan kontekstual, bukan dipaksakan dengan begitu, konsep proporsi tetap relevan dan anak juga jadi terbiasa dengan bahasa matematikanya.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Waah ternyata kemampuan berpikir proporsional pada anak itu nggak bisa dilepas dari penguasaan bahasa matematika ank bukan cuma perlu bisa menghitung, tapi juga harus paham makna kata-kata seperti dua kali, setengah, perbandingan, atau rasio, karena kata-kata itu jadi alat bantu mereka buat bernalar saya juga nangkap kalau banyak anak sebenarnya sudah bisa memahami situasi proporsional sejak dini, tapi sering gagal karena bingung sama bahasanya, apalagi kalau istilah matematika mirip dengan bahasa sehari-hari dri sini kelihatan kenapa kosakata matematika dianggap lebih berpengaruh dibanding kemampuan bahasa umum
Nama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Terus harus dibarengin dengan pembiasaan bahasa matematika yang jelas dan konsisten jadi anak nggak cuma bisa jawab soal, tapi benar benar ngerti hubungan antarbilangan yang sedang dipelajari.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
terutama buat kita yang akan jadi guru belajar matematika itu bukan cuma soal angka dan rumus ada bahasa khusus yang harus dimengerti supaya anak benar2 paham konsepnya terutama pada bagian perbandingan atau proporsi
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Kenapa Bahasa Itu Penting dalam matematika istilah2 seperti dua kali lipat setengah lebih dari atau per bukan sekadar kata biasa mereka membawa makna matematis tentang hubungan antara besaran anak yang belum memahami makna kata ini akan kesulitan dalam soal yang sebenarnya sederhana sekalipun karena mereka belum bisa membaca maksudnya bukan sekadar menghitung
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapusnama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
izin pak artikel ini menyebut bahwa kemahiran bahasa matematika (kosakata & istilah khusus) sering kali menjadi prediktor keberhasilan siswa dalam numerasi dan konsep abstrak di kemudian hari. Kalau begitu, bagaimana menurut Bapak seharusnya guru memadukan latihan bahasa matematika dengan praktik konkret — supaya siswa tidak cuma hafal istilah tapi juga benar-benar memahami maknanya?