Efisien dan Produktif untuk Melakukan Penilaian Matematika

 

Banyak guru matematika di sekolah dasar merasakan hubungan yang kompleks terhadap pekerjaan mereka, terutama terkait penilaian. Guru membutuhkan data yang dapat mendukung proses pengajaran, namun sering kali merasa terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan. Hal ini menyebabkan banyak hal yang harus disaring, dan terkadang sulit untuk bekerja secara efisien. Ada cara untuk merampingkan proses ini agar lebih bermanfaat bagi pembelajaran siswa dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Melalui refleksi terhadap elemen-elemen pekerjaan yang dinilai, kami juga sering mendengar guru-guru mengungkapkan keinginan mereka untuk membantu siswa mengembangkan daya tahan belajar, mampu mengungkapkan pemikiran secara mandiri, dan mengatasi kekurangan waktu yang sering menjadi tantangan. Beberapa pertimbangan yang bisa menjadi langkah awal untuk menyempurnakan praktik pengajaran yang ada.

Pertimbangan Jumlah Pekerjaan

Pertimbangkan seberapa banyak pekerjaan yang Anda tugaskan kepada siswa. Guru sering kali dihadapkan pada dilema antara memberikan penilaian yang sesuai dan mempertimbangkan perspektif orang tua. Orang tua biasanya melihat nilai sebagai indikator penguasaan akademis anak mereka, yang mempengaruhi kekhawatiran mereka terhadap perkembangan anak. Hal ini mendorong beberapa guru untuk memberi siswa banyak tugas agar mereka tidak mendapat nilai rendah hanya karena satu soal tidak terjawab.

Namun, ini menimbulkan masalah, karena banyak alasan. Kita perlu menilai apa yang benar-benar kita anggap penting dan menyampaikan hal tersebut kepada siswa serta orang tua. Jika siswa melihat bahwa nilai mereka hanya bergantung pada jawaban yang benar, maka jawaban yang benar itu akan menjadi hal yang mereka anggap paling penting, begitu juga dengan pandangan orang tua.

Lalu, apa tujuan dari tugas tersebut? Tujuan utama bukan sekadar mendapatkan jawaban yang benar—meskipun kalkulator bisa menyelesaikan itu. Yang lebih penting adalah menciptakan siswa yang berpikir kritis dan fleksibel, yang dapat berpikir secara komputasional dan efisien. Untuk menjadi pembelajar yang siap menghadapi masa depan, siswa harus mampu mengomunikasikan dan merefleksikan pemikiran mereka dengan mendalam. Mereka harus dapat mengungkapkan ide yang ada dalam pikiran mereka dengan jelas, sehingga ketika menghadapi masalah yang kompleks, mereka tahu bagaimana menghadapinya dengan cara yang sistematis.

Jenis Pekerjaan yang Diberikan

Pertimbangkan jenis tugas yang Anda berikan kepada siswa. Mereka perlu mengkomunikasikan pemikiran mereka dengan baik, baik secara lisan maupun tulisan. Ini bukan hanya keterampilan yang digunakan oleh matematikawan yang hebat, tetapi juga keterampilan yang akan berguna bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Soal pilihan ganda, meskipun sering digunakan, tidak memungkinkan kita untuk melihat bagaimana proses berpikir siswa saat mereka memilih jawaban. Kita tidak tahu apakah mereka benar-benar memahami soal tersebut atau sekadar menebak. Pilihan jawaban yang terbatas ini menurunkan ketelitian penilaian dan ini menjadi alasan mengapa beberapa negara bagian menghindari penggunaan ujian pilihan ganda.

Dengan mengandalkan tipe penilaian ini, akan sangat sulit untuk menanggapi kebutuhan siswa secara akurat. Seperti yang dikatakan oleh Marilyn Burns, seorang pendidik matematika terkemuka, "Jawaban yang benar bisa menyembunyikan kebingungan, seperti halnya jawaban yang salah bisa menyembunyikan pemahaman." Siswa perlu menunjukkan penguasaan terhadap proses matematika dan bukan hanya sekadar hasil akhir atau perhitungan.

Parameter Penilaian yang Lebih Efektif

Untuk memahami pemikiran siswa secara lebih mendalam, berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

  1. Gunakan hanya dua atau tiga pertanyaan penting yang berfokus pada keterampilan yang harus dikuasai.
  2. Pilih pertanyaan dari standar yang relevan dan yang sudah diajarkan sebelumnya, sehingga siswa dapat berfokus pada penerapan keterampilan mereka.
  3. Berikan daftar periksa atau representasi yang jelas untuk mempermudah siswa dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran mereka.
  4. Identifikasi kesalahpahaman umum dan gunakan data ini untuk mengelompokkan siswa dalam sesi bimbingan kelompok kecil.
  5. Latih keterampilan yang lebih rumit secara bertahap, agar siswa menguasainya dengan tepat.

Setelah terbiasa dengan sistem ini, siswa akan memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang ekspektasi, dan pemikiran mendalam akan menjadi kebiasaan mereka.

Pekerjaan yang Dinilai Sebagai Alat Penilaian

Pertimbangkan untuk menggunakan pekerjaan yang dinilai sebagai alat penilaian yang juga mendukung pengajaran kelompok kecil Anda. Dengan menghargai proses berpikir siswa, kita dapat dengan mudah mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi. Beberapa guru berpikir bahwa siswa perlu lebih banyak latihan soal untuk mengembangkan stamina mereka dalam ujian, namun memikirkan masalah secara mendalam juga dapat meningkatkan stamina tersebut.

Selain itu, Anda bisa memanfaatkan pekerjaan yang dinilai untuk berbagai tujuan lain, seperti mengumpulkan data dan memberikan instruksi kelompok kecil yang lebih tepat. Ini akan mengurangi kebutuhan akan penilaian lain, seperti tiket keluar atau penilaian harian lainnya.

Dengan melihat kesalahpahaman yang muncul, Anda dapat merancang kegiatan atau latihan khusus yang membantu siswa untuk mengatasi kesalahan tersebut. Kelompokkan siswa berdasarkan kebutuhan mereka atau gunakan alat bantu lain saat menilai pekerjaan mereka. Hasil dari sesi penilaian ini adalah kelompok siswa yang lebih terarah, yang akan bekerja bersama untuk waktu yang lebih lama, membantu perkembangan mereka secara lebih terstruktur.

Melakukan sedikit penyesuaian ini pada penilaian pekerjaan siswa memiliki banyak manfaat. Selain membantu siswa berkembang dan menunjukkan kemajuan yang lebih jelas, cara ini juga akan menciptakan komunikasi yang lebih konsisten antara guru, siswa, dan orang tua. Ini menghemat waktu guru, karena mereka dapat menilai lebih sedikit soal dengan lebih efektif. Selain itu, guru akan mendapatkan wawasan lebih mendalam tentang kemajuan siswa, dan siswa akan semakin mandiri dan terarah dalam proses belajar mereka, memperkuat kemampuan mereka dalam matematika.


Referensi

Dany Fry. 2024. A More Efficient and Productive Way to Conduct Math Assessments



246 Komentar

  1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206058

    Izin menanggapi pak, menurut saya materi yang dijelaskan sangat baik Pak karena sebagai guru kita tidak hanya fokus pada penilaian tetapi juga perlu memperhatikan proses dan cara berpikir siswa. Hal ini penting Pak karena dengan cara ini kita mengajarkan siswa untuk memahami materi melalui proses berpikir bukan hanya sekedar mencari jawaban dan juga apabila kita terlalu banyak memberikan tugas murid akan berfokus mencari jawaban tersebut melalui internet yang pada akhirnya akan menghambat kemampuan mereka berpikir secara kritis. Materi ini juga mengajarkan bahwa pentingnya menyesuaikan penilaian dengan tujuan pembelajaran dan perkembangan siswa. Tujuan ini juga untuk meningkatkan pembelajaran efektivitas di sekolah khususnya dalam mata pelajaran matematika. 🙏

    BalasHapus
  2. Nama:Elisnawatie
    Kelas:V D
    NPM:2386206069

    Izin menambakan pak penilaian harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan perkembangan siswa. Artinya, asesmen bukan hanya alat mengukur kemampuan pak tetapi juga bagian dari proses belajar itu sendiri. contohnya dalam matematika, hal ini sangat penting karena matematika tidak hanya tentang jawaban benar, tetapi juga tentang cara siswa menalar, mencoba strategi, dan menjelaskan pemikirannya.

    Dengan cara seperti ini, guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, bermakna, dan berpusat pada siswa, sehingga tujuan pendidikan tidak hanya menghasilkan nilai tinggi, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis dan reflektif.

    BalasHapus
  3. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm :2386206058
    Kelas: VB PGSD

    Izin bertanya pak terkait materi, Mengapa banyak guru matematika di sekolah dasar merasakan bahwa proses penilaian itu rumit dan memakan banyak waktu Pak🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Isdi saya izin menjawab pertanyaannya sepengetahuan saya ya, menurut saya kenapa guru matematika di SD merasakan hal tersebut ialah karena,
      1. Saat penilain itu pasti ada saja siswa yang menjawab ya sekadar menjawab tanpa mengetahui cara menyelesaikan dan memahami perintah soalnya, nah ini yang membuat penilaian itu rumit, guru harus memperhatikan kembali kebiasaan dan tindakan siswa di kelas untuk membantu memenuhi nilai matematika sesuai kkm, pastinya perlu waktu lagi, kebanyakan guru pasti merasakan ini ka
      2. Guru matematika ini menjadi guru rangkap di sekolah, nah hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa penilaian itu rumit dan memakan waktu, selain di kejar deadline pengumpulan laporan nilai hasil pengerjaan soal siswa , guru harus pintar-pintar mengelola waktunya, karena banyak yang harus di periksa jawaban siswanya tentunya akan rumit dan memakan waktu.
      3. Jawaban siswa terhadap soal hampir tidak bisa dibaca oleh gurunya, mungkin karena kurang rapi tulisannya, jadi saat penelian membutuhkan ketelitian dan kesabaran hal ini tentunya rumit dan memakan waktu juga.

      semoga bermanfaat ka

      Hapus
    2. Nama : Putri Lestari Pinang
      NPM : 2386206081
      Kelas : 5D PGSD

      izin bantu menambahkan jawaban atas pertanyaan dari alusia arafia windiati, guru matematika di sekolah dasar mungkin merasakan bahwa proses penilaian itu rumit dan memakan waktu yang banyak karena mereka harus menilai tidak hanya kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika, tetapi juga kemampuan mereka dalam menerapkan konsep tersebut dalam berbagai situasi. Selain itu, guru juga harus menilai kemampuan siswa dalam berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi matematika. Dengan jumlah siswa yang banyak dan keterbatasan waktu, proses penilaian dapat menjadi sangat menantang bagi guru. Oleh karena itu, guru perlu menggunakan strategi penilaian yang efektif dan efisien untuk dapat menilai kemampuan siswa secara komprehensif.

      Hapus
    3. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      Izin menjawab ya Isdiana, jadi menurut saya penilaian matematika terasa rumit dan memakan waktu karena:

      1. Kemampuan siswa berbeda-beda, jadi guru harus menilai satu per satu.
      2. Matematika tidak cukup dinilai dari benar salah, tapi prosesnya juga harus dilihat.
      3. Jenis penilaian banyak, sehingga guru harus menyiapkan dan memeriksa lebih dari satu bentuk tugas.
      4. Administrasinya banyak, mulai dari rekap nilai sampai membuat deskripsi.
      5. Jumlah siswa banyak, jadi waktu yang dibutuhkan semakin panjang.

      Itu sebabnya penilaian terasa berat dan menyita waktu.

      Hapus
    4. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana Susilowati Ibrahim, menurut sepengetahuan aku sih ya isdiana mungkin itu karena disebabkan guru tersebut itu harus perlu mengumpulkan dulu bayak data, lalu memberikan banyak nilai pada banyak tugas, dan juga menyesuaikan kebutuhan setiap siswanya sedangkan waktu di kelas itu sangatlah terbatas waktunya.

      Hapus
    5. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana, jadi menurut saya, banyak guru matematika SD merasa penilaian itu rumit dan memakan waktu karena harus menilai banyak aspek sekaligus, mulai dari proses berpikir siswa, cara mereka menyelesaikan soal, sampai hasil akhirnya, sementara jumlah siswa banyak dan waktu terbatas, ditambah lagi tuntutan administrasi seperti rubrik, laporan, dan pengisian nilai yang detail sehingga penilaian terasa berat dan melelahkan.

      Hapus
    6. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Izin menjawan pertanyaan dari Isdiana, Jadi begini penilaian yang terasa rumit dan memakan waktu itu karena banyak guru yang merasa harus memberikan tugas dalam jumlah yang banyak supaya nilai siswa menjadi aman dan orang tua tidak khawatir, ditambah lagi mereka terjebak dalam rutinitas penilaian yang terlalu berlebihan dan penilaian harian yang harus terus disaring datanya, padahal sebenarnya yang lebih penting itu kualitas penilaiannya bukan kuantitasnya makanya kalau kita fokus ke 2 atau 3 soal berkualitas kita bisa melihat cara berpikirnya siswa, prosesnya akan jauh lebih efisien dan tidak menghabiskan banyak waktu guru.

      Hapus
  4. Dari pembahasan diatas saya mulai paham tentang penilaian kepada mata pelajaran matematika, ternyata penilain pada pembelajaran ini memiliki banyak perhitungannya jadi tidak sembarang seorang guru memberikan penilain terhadap hasil kerja siswa. Selain itu dari pemaparan materi ini telah membuat pikiran saya sadar akan soal pilihan ganda matematika, semasa sekolah ketika mendapatkan soal pilihan ganda apa lagi pembelajaran matematika saya sangat senang karena tidak perlu berpikir terlalu keras untuk mengerjakannya hehe, zaman dulu biasanya pakai cara hitung kancing baju haha, tapi setelah membaca laman ini ternyata soal pilihan ganda dalam matematika itu jarang digunakan negara lain ketika ujian, karena memang betul yang dikatakan oleh seorang pendidik matematika Marilyn Burns pada uraian diatas. Seorang siswa itu perlu menunjukan penguasaan terhadap proses matematika bukan handa sekadar hasil hakir, bagian ini seperti boom yang menyadarkan saya.

    Sebagai Calon pendidik saya sebisa mungkin akan membuat soal yang dapat dimengerti siswa yang dapat menilai proses bagaimana siswa tersebut mendapatkan jawaban, bukan hanya sekadar jawaban tanpa adanya prosesn pencarian jawaban, hal ini akan saya lakukan untuk dapat mengetahui pemahaman siswa saya sudah mencapai tujuan pembelajaran apa belum.

    BalasHapus
  5. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    Materi ini sangat relevan karena melihat pentingnya guru bagaimana untuk lebih efisiensi dan produktif dalam penilaian matematika, ya bukan hanya sekedar memberi banyak tugas atau menghitung nilai akhir , penilaian itu seharusnya menjadi sarana untuk memahami cara berpikir siswa bukan sekedar nilai angka di rapor saja .

    Memang banyak guru yang mengalamai situasi saat ini , dalam pembelajaran matematika banyak guru yang terlalu fokus pada nilai akhir dan kuantitas tugas sehingga esensiasi dari penilaian itu sebagai alat pembelajaran sering terabaikan , menurut saya , memang benar penilai itu bukan sekedar mengukur hasil , tetapi juga harus menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri , guru juga perlu kemabli meninjau jumlah dan jenis tugas yang diberikan, agar tidak hanya menilai saja dalam kemampuan menghitung , tetapi juga kemampuan berpikir kritis.

    Saya sangat setuju dengan pandangan bahwa jumlah tugas itu belum tentu efektif , karena bisa membuat siswa lelah dan guru kewalahan dalam menilai, yang lebih berkualitas itu bagaimana tugas yang diberikan dan sejauh mana tugas itu mendorong siswa untuk berpikir kritis.

    BalasHapus
  6. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Menurut saya ini penting sekali sih untuk guru mempertimbangkan jumlah dan jenis tugas yang diberikan kepada siswanya kadang juga tugas yang terlalu banyak justru bikin siswa kewalahan dan tidak fokus pada pemahaman konsepnya lebih baik kalau guru kasih tugas yang lebih sedikit tapi benar-benar mengasah cara berpikir dan pemahaman mereka. dengan cara itu, penilaian jadi lebih efisien dan hasilnya juga lebih bermakna. Jadi bukan cuma soal banyaknya tugas tapi kualitas soal yang harus diperhatikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Andi Nurfika
      NPM : 2386206017
      Kelas : VB PGSD

      Saya tambahkan lagi pak jadi saya setuju banget kalau penilaian sebaiknya harus lebih fokus pada dua atau tiga keterampilan utama siswa. Kalau juga terlalu banyak yang dinilai guru malah bisa kehilangan arah dan siswa juga bingung mau fokus yang di mana. Dengan fokus yang lebih jelas guru juga bisa lebih paham sejauh mana sih kemampuan siswa dalam hal-hal tertentu. Selain itu juga, siswa jadi tahu bagaimana yang perlu mereka tingkatkan. Intinya penilaian yang terarah bisa bikin proses pembelajaran yang lebih aktif

      Hapus
  7. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Saya menemukan bagian yang menarik dari materi di atas menurut saya adalah tentang menggunakan pekerjaan siswa sebagai alat untuk mengajar kelompok kecil. Ini karena guru juga bisa langsung melihat kesalahan umum dan membantu siswa memperbaikinya lewat bimbingan langsung oleh guru tersebut. Jadi penilaian bukan cuma untuk kasih nilai, tetapi juga untuk jadi bahan refleksi pengajaran selanjutnya pendekatan ini bikin pembelajaran terasa lebih personal dan lebih bermakna. Dengan itu guru dan siswa bisa tumbuh bersama dalam proses belajar

    BalasHapus
  8. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin menanggapi materi bapak, saya sangat setuju dengan materi bapak diatas guru dapat menjadi lebih efisien dan produktif dalam penilaian matematika dengan menggunakan strategi mengumpulkan dan menilai tugas, membuat rubrik penilaian yang jelas dan spesifik, serta memberikan tugas yang lebih singkat dan fokus pada konsep tertentu. Dengan demikian, guru dapat menghemat waktu dan meningkatkan kualitas penilaian, sehingga mereka dapat lebih fokus pada membantu siswa memahami konsep matematika yang sulit.

    BalasHapus
  9. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin bertanya pak, bagaimana cara mengatasi guru yang melakukan penilaian matematika hanya dengan terus mengerjakan soal tanpa ada penilaian keterampilan yang dinilai? bagaimana solusinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206058

      Izin pak menjawab pertanyaan dari putri. Menurut saya pak, masalah guru yang menilai matematika cuma dari banyaknya soal bisa diatasi dengan mengganti cara ngasih tugasnya, bukan nambah soal terus pak. Selain ulangan atau lembar soal, guru bisa kasih tugas lain, misalnya siswa diminta jelasin langkah penyelesaian satu soal di depan kelas, kerja kelompok buat nyelesain masalah cerita, atau bikin poster soal di kertas. Dari situ guru bisa lihat apakah siswa paham konsepnya, bisa jelasin dengan kata-kata sendiri, teliti atau masih sering salah, dan bagaimana cara mereka kerja sama dengan temannya, jadi bukan cuma lihat benar–salah jawaban nya saja pak. Supaya nggak ribet juga, menurut aku guru cukup pilih beberapa tugas yang paling kelihatan usaha dan proses berpikir siswa, lalu dinilai pakai lembar penilaian sederhana. Dengan cara ini, penilaian matematika jadi lebih lengkap: bukan hanya seberapa banyak soal yang bisa dikerjakan, tapi juga bagaimana siswa berpikir dan memakai matematika dalam kegiatan belajar pak.

      Terimakasih🙏🏻

      Hapus
    2. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Hai Putri! aku izin mau jawab pertanyaan kamu yaa 😃

      Aku gatau jawabanku ini tepat atau engga, ini menurut pemahaman ku aja setelah baca artikel ini, dan sambil aku searching-searching juga. Tapi aku usahakan buat kasih jawaban terbaikku yaa.

      Menurut ku, kalau guru cuma menilai lewat soal hitungan terus, bisa bisa keterampilan siswa jadi ga keliatan. Misalnya cara mereka menjelaskan, kerja sama, atau strategi berpikir. Solusinya, guru bisa tambah penilaian lain yang lebih simpel. Kaya bikin tugas kecil atau kerja kelompok. Jadinya penilaian lebih lengkap deh karena ga cuma angka.

      cmiiw guys 😀🙌

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, menurut sepengetahuan yang saya ketahui mungkin guru tersebut perlu untuk mengubah jenis tugasnya untuk diberikan kepada para siswanya, bukanlah hanya sekedar mengubah dari jumlah soalnya saja. Solusi menurut saya yang saya ketahui mungkin bisa meminta kepada para siswanya untuk menceritakan secara lisan mengenai bagaimana cara para siswa tersebut menyelesaikannya, lalu bisa juga dengan menggunakan juga soal yang meminta sebuah penjelasan suatu langkah atau alasan, dan juga menjadikan hasil itu dari bahan berupa bimbingan kelompok kecil.

      Hapus
    4. Izin menjawab yaa dan menambahkan.....
      Mungkin dengan cara dimulai dengan langkah awal memahami bahwasannya penilaian bukan hanya angka akan tetapi proses belajar siswa. Terimakasih semoga jawabannya terbantu dan tercukupi hehehehe

      Hapus
    5. ama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, jadi menurut saya, cara mengatasinya bisa dengan menyadarkan guru bahwa matematika bukan cuma soal jawaban benar atau salah, tapi juga cara berpikir siswa, jadi penilaian bisa ditambah lewat observasi saat siswa menjelaskan langkahnya, diskusi kelompok, atau tugas sederhana yang menilai cara menyelesaikan masalah, solusinya sekolah bisa memberi pendampingan, contoh instrumen penilaian yang praktis, dan pelatihan ringan supaya guru merasa penilaian keterampilan itu tidak ribet dan tetap realistis dilakukan di kelas

      Hapus
    6. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Putri Lestari Pinang. Menurut saya, kalau guru menilai matematika hanya dari banyaknya soal, anak bisa jadi capek dan bosan 😔
      Padahal matematika itu bukan cuma hitung cepat, tapi juga cara berpikirnya.

      Solusinya bisa begini:
      - Guru nggak hanya lihat jawaban, tapi juga cara anak menjelaskan langkahnya 😊
      - Anak boleh menggambar atau bercerita bagaimana caranya menyelesaikan soal ✏️
      - Guru kasih nilai pada usaha dan proses, bukan hanya hasil akhir 👍
      - Sesekali anak kerja kelompok, lalu saling menjelaskan ke teman

      Contoh di kelas:
      - Anak yang jawabannya salah tapi caranya sudah benar, tetap dihargai 🌟
      - Anak yang berani bertanya dan mencoba, dipuji

      Dengan cara ini:
      - Anak nggak takut matematika
      - Anak merasa dihargai
      - Matematika jadi lebih seru dan bermakna 😄

      Jadi menurut saya, penilaian matematika harus adil dan lengkap, nggak cuma soal, tapi juga cara berpikir anak 🧠✨

      Hapus
  10. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin menambahkan kesimpulan saya mengenai parameter penilaian yang lebih efektif, guru dapat memahami pemikiran siswa lebih dalam lewat penilaian matematika dengan menggunakan beberapa strategi, seperti meminta siswa untuk menjelaskan proses berpikir mereka dalam menyelesaikan soal, menggunakan pertanyaan terbuka yang memungkinkan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka, dan menganalisis kesalahan siswa untuk memahami konsep yang belum dipahami. Dengan demikian, guru dapat memahami bagaimana siswa berpikir dan memahami konsep matematika, sehingga dapat memberikan bantuan yang lebih tepat dan efektif. Selain itu, guru juga dapat menggunakan asesmen formatif untuk memantau kemajuan siswa dan menyesuaikan pengajaran mereka.

    BalasHapus
  11. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas 5B PGSD

    Setelah saya baca materi ini, menurut saya materi ini sangat bernilai karena membahas/menyoroti betapa pentingnya efisiensi/ketepatan dan kualitas dalam penilaian matematika. Pendekatan yang memberitahukan pemahaman proses berpikir siswa, bukan sekedar hasil akhir, membantu guru menilai dengan lebih bermakna/berarti/bermanfaat. Selain itu juga dapat menghemat waktu, strategi ini juga meningkatkan komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua serta dapat membangun kebiasaan berpikir kritis dan refleksi/evaluasi diri pada siswa.

    BalasHapus
  12. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Izin menanggapi materi diatas pak materi ini menyajikan kritik yang tepat terhadap praktik penilaian matematika yang berlebihan dan berfokus pada hasil akhir (jawaban benar) di sekolah dasar. Solusinya berpusat pada pergeseran filosofis dari kuantitas tugas ke kualitas pemikiran dan komunikasi proses.
    melakukan penyesuaian pada penilaian pekerjaan siswa menciptakan komunikasi yang lebih konsisten, menghemat waktu guru, memberikan wawasan mendalam tentang kemajuan siswa, dan mendorong kemandirian siswa.

    BalasHapus
  13. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Izin bertany juga pak Untuk guru yang mengajar kelas dengan jumlah siswa yang sangat besar, strategi apa yang paling efektif untuk menganalisis proses berpikir siswa (bukan hanya jawaban akhir) dari dua atau tiga pertanyaan penting tanpa menambah beban kerja yang berlebihan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : 5B PGSD

      Hallo bella izin menjawab yah. Menurut aku, kalau guru mengajar di kelas yang siswanya banyak, cara yang paling efektif untuk melihat proses berpikir tanpa nambah beban kerja adalah dengan memaksimalkan sedikit soal yang benar-benar bermutu. Misalnya guru cukup hanya memberi dua atau tiga pertanyaan terbuka yang minta siswa menulis langkah dan alasannya, bukan sekadar hasil akhirnya saja. Penilaiannya bisa dibuat lebih ringan dengan kerja kelompok kecil, jadi satu lembar jawaban mewakili beberapa siswa, dan guru sambil keliling mengamati cara mereka berdiskusi. Selain itu, guru bisa minta beberapa siswa secara acak untuk menjelaskan caranya di depan kelas ataupun di akhir pelajaran. Dengan strategi seperti ini, guru tetap bisa membaca cara berpikir siswa dari sedikit pertanyaan penting, tetapi waktu koreksi dan beban kerjanya tidak terlalu berat.

      Terimakasih 🙏

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      Kelas:5D
      NPM:2386206069

      Izin menjawab ya Bella jdi menurut saya meskipun jumlah siswa banyak, guru tetap bisa menganalisis proses berpikir mereka tanpa menambah beban kerja dengan cara memilih 2–3 pertanyaan yang benar-benar mengungkap cara mereka berpikir, meminta siswa menuliskan langkah secara singkat, memanfaatkan alat penilaian cepat seperti exit ticket atau Google Form, serta mengelompokkan jawaban dalam kategori sederhana seperti paham, setengah paham, dan belum paham. Dengan strategi ini, guru tetap mendapatkan gambaran jelas tentang pemahaman siswa, tetapi proses penilaiannya tetap efisien dan tidak memakan waktu terlalu banyak.

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Bella Ayu Pusdita, menurut sepengetahuan yang saya ketahui mungkin guru tersebut bisa menggunakan rubik sederhana nah jadi misalnya tu tiga indikator yaitu strategi, langkah, dan juga beserta dengan alasan itu bisa untuk menilai dua sampai tiga soal yang cukup mendalam. Nah dengan rubik tadi itu, guru tersebut bisa untuk menilai sebuah proses berpikir setiap para siswanya secara cepat, dan harus membaca semua dengan detail jawaban siswa tersebut dari sini guru itu bisa menganalisis akan tetap akurat tetapi pekerjaannya tidak semakin berat.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Bella, jadi menurut saya, strategi yang paling efektif adalah memilih sedikit soal kunci tapi minta siswa menuliskan atau menjelaskan langkah berpikirnya secara singkat, lalu guru bisa pakai ceklis atau kode sederhana (misalnya paham konsep, sebagian paham, belum paham) saat mengamati atau membaca jawaban, jadi guru tetap dapat gambaran proses berpikir siswa tanpa harus memberi komentar panjang dan tanpa menambah beban kerja berlebihan.

      Hapus
    5. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Hai Bella, izin menjawab pertanyaan dari kamu, jadi menurut saya strategi yang paling efektif itu sebenarnya sudah dijelaskan di dalam materi ini yaitu dengan memberikan daftar periksa atau representasi yang jelas kepada siswa saat mengerjakan soal karena dengan begitu siswa sudah terbiasa menyusun dan menunjukkan cara berpikirnya secara teratur, jadi guru tidak perlu lagi menebak-nebak atau menganalisis terlalu dalam satu persatu karena prosesnya sudah terlihat jelas dari pekerjaan siswa, terus itu guru bisa mengidentifikasi kesalahpahaman umum yang muncul dari hasil pekerjaan siswa tersebut, lalu guru itu mengelompokkan siswa berdasarkan kesalahpahaman yang sama untuk dibimbing dalam kelompok kecil jadi tidak perlu lagi menganalisis 30-40 siswa satu-satu secara detail, tapi cukup lihat polanya dan kelompokkan mereka yang punya masalah serupa nah cara ini sebenarnya menghemat waktu sekali karena kita menilai lebih sedikit soal tapi dengan kualitas yang lebih dalam dan juga sudah dilatih untuk mengomunikasikan pemikirannya sendiri lewat daftar periksa tadi, jadi beban analisis guru jauh berkurang dibandingkan harus mengoreksi puluhan soal pilihan ganda yang bahkan tidak menunjukkan proses berpikir siswa sama sekali.

      Semoga membantu.

      Hapus
    6. Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
      NPM : 2386206068
      Kelas : Vb

      Hallo Bella Ayu Pusdita saya izin menjawab pertanyaan komentar anda yaa. Menurut saya, supaya guru bisa tahu cara berpikir anak walaupun muridnya banyak, guru bisa pakai cara yang sederhana dan nggak capek 😊
      Caranya bisa begini:
      - Guru pilih 2 atau 3 soal penting saja, nggak perlu banyak
      - Anak diminta menulis atau menggambar sedikit cara berpikirnya ✏️
      - Guru cukup melihat bagian pentingnya, nggak harus membaca semua lama-lama

      Guru juga bisa:
      - Minta beberapa anak menjelaskan di depan kelas
      - Anak lain mendengarkan dan menilai sendiri 👍
      - Guru berkeliling dan melihat cepat pekerjaan anak

      Dengan cara ini:
      - Guru tahu cara berpikir anak
      - Anak belajar menjelaskan
      - Guru nggak kewalahan

      Jadi menurut saya, guru nggak harus mengajar dengan kasih banyak soal, yang penting guru bisa lihat gimana anak berpikir, bukan cuma jawaban akhirnya 😄

      Hapus
  14. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    saya setuju dengan pembahasan di atas, jelas sekali kalau penilaian matematika tidak boleh hanya fokus pada jawaban akhir saja, kalau hanya melihat jawaban benar atau salah, kita tidak tahu apakah siswa benar-benar paham atau hanya menebak, dengan mengurangi jumlah soal dan fokus pada proses berpikir ini akan membuat guru lebih efisien dalam menilai dan membuat siswa lebih pintar dalam berpikir kritis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Saya setuju sekali dengan poin Margaretha bahwa fokus penilaian seharusnya tidak hanya pada jawaban akhir. Tambahan saya, jika guru terus-terusan hanya melihat jawaban benar atau salah, kita tidak akan tahu apa benar-benar pemikiran siswa, karena jawaban yang benar saja bisa saja menyembunyikan kebingungan mereka. Jadi, dengan mengurangi jumlah soal dan fokus pada proses berpikir ini, guru jadi lebih efisien dalam menilai karena mereka bisa mengumpulkan data yang berguna untuk memberikan instruksi kelompok kecil yang tepat. Ini juga sangat bagus untuk siswa, karena mereka akan semakin mandiri dan terarah dalam belajar, memperkuat kemampuan mereka dalam Matematika, dan mereka didorong untuk menjadi pemikir yang kritis dan fleksibel.

      Hapus
    2. Setuju sekali dengan poin mu, Margaretha! Memang benar bahwa fokus pada proses berpikir jauh lebih penting daripada sekadar jawaban akhir. Dengan mengurangi kuantitas soal dan meningkatkan kualitas kedalaman soal, guru bisa lebih efisien dalam menilai sekaligus membantu siswa mengasah kemampuan berpikir kritis mereka. Terima kasih atas pendapatnya yang sangat membangun.

      Hapus
  15. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Pak, dari materi ini saya jadi sadar kalau penilaian dalam matematika itu ternyata jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Banyak guru sebenarnya ingin memahami cara berpikir siswa, tapi justru terjebak dalam banyaknya tugas dan penilaian yang harus diberikan. Menurut saya, Pak, ini membuat tujuan utama pembelajaran, yaitu melatih siswa berpikir kritis dan fleksibel malah jadi tertutup oleh rutinitas administrasi nilai.

    Yang menarik buat saya, Pak, adalah penekanan bahwa jumlah tugas itu harus benar-benar dipertimbangkan. Ternyata memberi banyak tugas bukan selalu berarti hasil belajar lebih baik, apalagi kalau semua tugas itu hanya menilai “jawaban benar”. Penjelasan bahwa tujuan sebenarnya adalah membuat siswa mampu menjelaskan cara berpikir mereka, menurut saya penting sekali, Pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Aprilina Awing
      Kelas : 5D PGSD
      NPM : 2386206113

      Saya juga tersadar, Pak, bahwa jenis tugas itu sangat memengaruhi pemahaman guru terhadap kemampuan siswa. Soal pilihan ganda mungkin cepat diperiksa, tapi tidak memberikan gambaran bagaimana siswa berpikir. Kutipan Marilyn Burns yang bilang bahwa jawaban benar bisa menyembunyikan kebingungan itu benar-benar membuka wawasan saya, Pak. Jadi menurut saya, tugas yang mendorong siswa menjelaskan proses berpikir memang jauh lebih bermanfaat untuk pembelajaran.

      Hapus
  16. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Saya ijin bertanya pak, bagaimana cara menyeimbangkan antara kebutuhan orang tua yang ingin banyak nilai dengan kebutuhan guru untuk mengurangi jumlah tugas?
    Karena orang tua biasanya melihat nilai sebagai tolok ukur utama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Aprilina saya izin menanggapi pertanyaanya ya
      Menurut saya walaupun guru mengurangi jumlah tugas tetapi pemberian tugas atau soal kepada siswa itu dengan memperhatikan poin-poin yang penting saya rasa tidak mengurangi penilaian antara guru dan juga penilaian kebutuhan orang tua terhadap nilai yang keluar dari pembelajaran yang diikuti oleh anaknya.
      Karena saya rasa kalau memberikan jumlah tugas yang banyak namun tidak memiliki bobot atau tujuan yang jelas yang bisa mengukur pemahaman siswa atas pembelajaran itu sama saja membuang-buang waktu dan tidak efisien bagi guru ataupun bagi siswa.
      Nah jadi walaupun guru mengurangi jumlah tugas namun tugas yang diberikan itu efisien dan benar-benar bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa akan pembelajaran yang telah dilangsungkan Saya rasa tidak menurunkan dan bisa menyeimbangkan antara penilaian yang didapat lalu diberikan kepada orang tua siswa tersebut.

      semoga bermanfaat...

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      Izin menjawab ya april Menurut saya, cara menyeimbangkan kebutuhan orang tua dan guru bisa dengan:

      1. Menjelaskan bahwa kualitas tugas lebih penting daripada banyaknya tugas.
      2. Menggunakan penilaian beragam seperti observasi atau asesmen lisan, jadi nilai tetap ada tanpa menumpuk PR.
      3. Membuat rubrik yang jelas, supaya orang tua paham bagaimana nilai diperoleh.
      4. Memberi update perkembangan anak secara rutin, sehingga orang tua tidak merasa “kekurangan nilai”.
      5. Mengajak orang tua memahami beban anak dan guru, bahwa tugas terlalu banyak justru tidak efektif.

      Dengan cara ini, kebutuhan orang tua terpenuhi, tetapi guru tetap bisa menjaga jumlah tugas agar tidak berlebihan.

      Hapus
    3. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Hai April! aku izin mau jawab pertanyaan kamu juga yaa 😃

      Ini relate banget nih sama pengalaman aku. Waktu aku jadi guru bimbel privat, aku sering ketemu orang tua yang pengen anaknya punya banyak nilai sebagai bukti belajar. Sementara aku sendiri ngerasa kalau terlalu banyak tugas malah bikin anak capek dan berujung ga fokus ke pemahaman.

      Jadi aku coba bikin peniilaian yang lebih sederhana tapi teteap bisa nunjukkin kemampuan anak, misalnya lewat proyek kecil yang hasilnya bisa langsung dilihat tuh sama orang tuanya.

      Aku juga biasanya ngobrol sama orang tuanya kalau sudah selesai sesi bimbelnya. Aku jelasin baik-baik kalau nilai itu bukan cuma angka, tapi bisa juga berupa catatan perkembangan atau hasil kerja si anak (berdampak juga ke perilaku anak sehari-hari).

      Dengan cara itu, orang tua tetap merasa ada bukti, anak ga terbebani, dan aku sebagai guru bisa lebih fokus bikin belajar jadi seru dan bermakna deh.

      cmiiw guys 😀🙌

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, cara menyeimbangkannya adalah dengan mengurangi jumlah tugas tapi meningkatkan kualitas penilaiannya, misalnya satu tugas bermakna bisa menghasilkan beberapa nilai sekaligus (konsep, proses, dan sikap), lalu guru perlu mengomunikasikan ke orang tua bahwa nilai itu diambil dari proses belajar yang jelas, bukan sekadar banyaknya tugas, sehingga orang tua tetap melihat perkembangan anak tanpa guru kewalahan.

      Hapus
  17. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Materi ibu membahas tentang penilaian matematika yang efisien dan produktif karena banyak guru yang kesulitan saat penilaian karena rutinitas penilaian yang berlebihan, dalam penilaian matematika juga perlu mempertimbangkan banyak hal seperti siswa tidak hanya bisa menjawab soal dengan benar namun siswa bisa berpikir kritis dan fleksibel siswa bisa mengungkapkan ide yang ada di dalam pikiran. Agar penilaian matematika efisien dan produktif maka jangan gunakan jenis penilaian pilihan ganda karena kita tidak melihat proses berpikir siswa saat mengerjakan soal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Nur Sinta ini sangat tepat. Memang, banyak guru yang masih terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan, padahal yang terpenting dalam Matematika itu bukan cuma jawaban benar, tapi kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan fleksibel serta bisa mengungkapkan ide yang ada di pikiran mereka. Tambahan dari saya, salah satu solusi paling jitu yang diusulkan materi ini adalah mempertimbangkan untuk menggunakan pekerjaan yang dinilai sebagai alat penilaian. Artinya, tugas-tugas siswa itu dihargai bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi sebagai cara untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahpahaman yang muncul. Jadi, kita tinggalkan penilaian pilihan ganda yang tidak bisa melihat proses berpikir siswa, dan ganti dengan tugas yang mendorong mereka untuk mengomunikasikan pemikiran mereka secara lisan maupun tulisan.

      Hapus
  18. Nama: Nur sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Izin menanggapi pak...
    Dengan penerapan penilaian matematika yang efisien dan produktif membuat guru untuk lebih fokus pada kebutuhan belajar setiap siswa dan cara berpikir siswa tentang soal matematika dapat meningkat secara berkelanjutan. Selain itu membuat siswa lebih memahami dan menggali konsep matematika secara lebih mendalam, melatih cara berpikir siswa, siswa lebih mandiri dan terarah dalam proses belajar karena siswa tahu apa yang harus di tingkatkan dan diperbaiki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Pendapat Nur Sinta yang kedua tentang guru yang jadi lebih fokus dan siswa yang lebih mandiri juga sangat didukung oleh materi ini. Ketika guru menerapkan penyesuaian kecil ini, manfaatnya banyak sekali. Selain membantu siswa berkembang dan menunjukkan kemajuan yang jelas, cara ini juga menciptakan komunikasi yang lebih konsisten antara guru, siswa, dan orang tua. Dengan menilai sedikit soal namun lebih efektif, guru akan mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang kemajuan siswa, dan siswa pun akan semakin mandiri dan terarah dalam proses belajarnya, sehingga kemampuan Matematika mereka semakin kuat. Fokus guru akan beralih dari mengumpulkan data yang banyak menjadi menggunakan data tersebut untuk memberikan instruksi kelompok kecil yang tepat, yang pada akhirnya mengurangi kebutuhan akan penilaian harian atau tiket keluar lainnya.

      Hapus
  19. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    izin menanggapi materi.
    penilaian matematika ini fokus pada pertanyaan berkualitas sangat bagus dan penggunaan data untuk bimbingan kelompok kecil tidak hanya menguntungkan guru,tetapi secara kritis juga mendukung kesahatan mental dan siswa. Dengan mengurangi beban kerja yang tidak perlu dan mendorong pikiran yang bermanfaat siswa dapat belajar matematika lebih sedikit setres dan pemahaman yang mendalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      saya setuju banget dengan pendapat Dita ini, terutama soal dampak positifnya ke kesehatan mental guru dan siswa. Coba kita pikirkan, kalau guru mengurangi jumlah soal yang diperiksa, tentu energi guru bisa lebih fokus untuk hal yang lebih penting, yaitu merancang latihan khusus untuk mengatasi kesalahpahaman siswa. Selain itu, kalau siswa tahu bahwa guru lebih menghargai proses berpikir mereka, bukan cuma jawaban akhir, mereka pasti jadi lebih berani menunjukkan ide mereka tanpa takut salah. Ini otomatis mengurangi stres, karena tujuan utama tugasnya jadi bergeser dari sekadar mencari nilai sempurna menjadi kesempatan untuk mengomunikasikan pemikiran dan merefleksikan diri. Dengan begitu, komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua juga jadi lebih konsisten dan jelas.

      Hapus
  20. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    materi ini sangat unggul karena pendekatan nya menghindari penilaian rutinitas dan memastikan setiap tugas yang di nilai benar benar memberikan data yang dapat di lanjutkan oleh guru. Dengan menggunakan 2-3 pertanyaan penting yang fokus pada keterampilan inti siswa di ajak berpikir mendalam jdi bukan hanya menghafal prosedur.jadi siswa tidak merasa kewalahan karena mendapat kesalahan yang banyak pada soal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Pendapat Dita ini juga pas banget, di mana poin utamanya adalah menghindari penilaian yang rutinitas dan memastikan data yang didapat benar-benar bisa dipakai guru. Inti dari materi ini memang menyarankan untuk hanya menggunakan dua atau tiga pertanyaan penting yang fokus pada keterampilan yang harus dikuasai. Ini bukan cuma soal menghemat waktu, tapi juga membuat siswa diajak untuk berpikir mendalam daripada cuma menghafal prosedur. Kalau siswa tidak dibanjiri soal yang banyak, mereka tidak akan merasa kewalahan, dan nilai mereka tidak hanya bergantung pada satu jawaban yang salah, yang seringkali bikin orang tua khawatir. Dengan cara ini, siswa jadi lebih mandiri dan terarah dalam belajar Matematika, dan kemampuan mereka pun makin kuat.

      Hapus
  21. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V APGSD

    Dari materi yang saya baca materi ini memberikan informasi yang sangat penting dan bermanfaat tentang ODD.penjelasan tentang gejala, penyebab, dan penanganan ODD sangat membantu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gangguan ini.saya suka bagaimana materi ini menekankan pentingnya penanganan ODD secara multidisiplin, yang melibatkan berbagai pihak seperti psikolog, psikiater, guru, dan orang tua.
    oppositional defiant disorder (ODD) adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan pola perilaku negatif, menentang, atau kasar yang konsisten dan terjadi selama setidaknya enam bulan. Gejala ODD meliputi marah dan mudah tersinggung, argumentatif dan menentang, serta perilaku kasar dan dendam. ODD dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan pola asuh yang otoriter atau terlalu permisif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Maria Ritna Tati
      NPM:2386206009
      Kelas: V A PGSD

      Maaf pak atas kesalahan mengirim tentang materi ini jadi kebalik-balik sama yang materi satunya,izinmenanggapi lagi ya pak,materi ini sangat membantu para guru matematika! Penjelasan tentang bagaimana cara melakukan penilaian yang efisien dan produktif sangat relevan dengan tantangan yang sering dihadapi guru di kelas.saya suka bagaimana materi ini menekankan pentingnya memahami pemikiran siswa, bukan hanya sekadar hasil akhir atau perhitungan yang benar.penilaian matematika yang efisien dan produktif melibatkan lebih dari sekadar memberikan soal dan memeriksa jawaban.guru perlu meluangkan waktu untuk memahami pemikiran siswa, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan mendorong siswa untuk merefleksikan pemikiran mereka sendiri.dengan melakukan ini, guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman konsep yang lebih dalam dan kemampuan problem-solving yang lebih baik.

      Hapus
  22. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Tambahan tentang materi ini saya merasa materi ini tuh sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana semakin banyak anak-anak dan remaja yang menunjukkan gejala-gejala ODD.dengan memahami ODD, kita bisa lebih berempati terhadap anak-anak dan remaja yang mengalami gangguan ini dan memberikan dukungan yang tepat agar mereka bisa berkembang secara optimal.
    penanganan ODD melibatkan pendekatan multidisiplin, yang meliputi terapi kognitif dan perilaku (CBT),pelatihan orang tua, terapi keluarga,dan penggunaan obat-obatan atau dalam kasus tertentu. CBT membantu anak-anak untuk memahami dan mengubah pola pikir dan perilaku negatif mereka, sementara pelatihan orang tua membantu orang tua untuk memahami dan merespon perilaku anak dengan lebih efektif.terapi keluarga membantu meningkatkan komunikasi dan interaksi yang positif di dalam keluarga, sementara obat-obatan digunakan untuk mengendalikan gejala yang lebih parah atau jika ODD terjadi bersamaan dengan gangguan lain, seperti ADHD atau depresi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : 2386206009
      NPM : 2386206009
      Kelas : V A PGSD

      Maaf ini juga salah membahas materi,izin menanggapi lagi saya setuju dengan pendapat bahwa penilaian matematika seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan siswa dalam menghitung, tapi juga pada kemampuan mereka dalam mengkomunikasikan pemikiran mereka dan merefleksikan pemikiran mereka dengan mendalam. Ini penting untuk mengembangkan pemahaman konsep yang lebih kuat dan kemampuan problem solving yang lebih baik pada siswa.untuk melakukan penilaian matematika yang efisien dan produktif, guru perlu menggunakan berbagai alat dan teknik penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa. beberapa contoh alat dan teknik penilaian yang bisa digunakan adalah pertanyaan terbuka, tugas proyek, observasi kelas, dan portofolio siswa.dengan menggunakan berbagai alat dan teknik penilaian, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang kemampuan siswa dan memberikan umpan balik yang lebih efektif.

      Hapus
  23. Terima kasih bapak,sudah memberi kan materi ini menurut saya, poin tentang pentingnya menilai proses berpikir siswa alih-alih hanya hasil akhir itu bagus banget, bapak
    ​Selama ini, terutama dengan soal pilihan ganda, yang dinilai cuma jawaban benar atau salah. Padahal, seperti yang materi ini sebut, jawaban benar bisa aja "menyembunyikan kebingungan," dan jawaban salah belum tentu siswa tidak mengerti sama sekali. Mungkin salah hitung, atau salah langkah sedikit di akhir.
    ​Konsep penilaian yang lebih tepat itu yang menyarankan kita hanya pakai dua atau tiga pertanyaan penting benar-benar menantang cara pandang kita. Itu berarti kita harus merancang soal yang memang memaksa siswa untuk menunjukkan pemikiran yang mereka bisa secara lisan atau tulisan, bukan sekadar mengisi kotak kosong. Ini akan jauh lebih mendidik bagi guru, itu karena kita bisa langsung tahu di mana letak miskonsepsi siswa, dan bukan hanya tahu bahwa siswa itu salah. Dengan begitu, umpan balik dan sesi bimbingan kelompok kecil yang disarankan akan jadi jauh lebih tepat sasaran.

    BalasHapus
  24. Saya juga suka banget dengan materi bapak pada bagian yang membahas bahwa penyesuaian penilaian ini ternyata juga bisa mengurangi beban kerja guru dan meningkatkan komunikasi.
    ​Seringkali, guru merasa harus memberikan banyak sekali soal latihan atau tugas harian karena berpikir itu akan membangun stamina siswa untuk ujian. Tapi, materi ini menawarkan pendapat yang lebih cerdas: dengan fokus pada kualitas pekerjaan yang dinilai bukan kuantitas, guru bisa hemat waktu karena bisa menilai lebih sedikit soal dengan lebih efektif.
    ​Selain itu, penilaian yang fokus pada proses ini juga membantu menenangkan orang tua. Ketika orang tua hanya melihat nilai sebagai indikator kuasai materi, mereka jadi khawatir. Namun, jika penilaian itu juga disertai komunikasi yang menunjukkan bahwa siswa sudah berkembang dalam proses berpikirnya misalnya, mampu mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahannya sendiri, ini memberikan gambaran kemajuan yang lebih jelas dan lebih meyakinkan, bukan hanya angka di rapor.

    BalasHapus
  25. Dan m
    enurut saya yang paling penting dan berharga bagi saya ada di awal materi, yaitu tujuan untuk menciptakan siswa yang berpikir kritis dan fleksibel, yang mampu berkomunikasi dan merefleksikan pemikiran mereka.
    ​Intinya, pelajaran matematika itu bukan cuma tentang menghitung, tapi tentang problem solving dan kemampuan untuk mengomunikasikan ide yang kompleks dengan jelas. Materi ini menekankan bahwa jenis keterampilan ini berguna di kehidupan sehari-hari, bukan hanya di kelas matematika.
    ​Dengan beralih dari soal pilihan ganda yang cenderung hanya menguji ingatan atau tebakan ke jenis pekerjaan yang meminta siswa untuk menyusun dan menyampaikan pemikiran mereka baik lisan maupun tulisan, kita secara tidak langsung sedang melatih mereka untuk menghadapi masalah kompleks di masa depan. Ini adalah cara yang sistematis untuk memastikan siswa tidak hanya mencari jawaban benar, tapi juga tahu mengapa jawaban itu benar dan mampu menjelaskan jalannya. Ini benar-benar membuat pembelajaran jadi lebih bermakna. Sekali lagi terima kasih bapak untuk materi nya

    BalasHapus
  26. Nama:Imelda Rizky Putri
    Npm:2386206024
    Kelas:5B

    Pada materi ini guru memberi penilaian matematika tidak harus rumit dan memakan banyak waktu, dengan menggunakan strategi efisiensi, rubrik penilaian yang jelas dan pemanfaatan teknologi yang tepat guru menjadi mudah melakukan penilaian pada siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      Saya sangat setuju dengan pendapat yang disampaikan Imelda pak. Benar sekali bahwa penilaian matematika sebenarnya tidak harus rumit atau memakan banyak waktu. Ketika guru menggunakan strategi yang efisien, semuanya jadi lebih tertata. Ditambah lagi dengan adanya rubrik penilaian yang jelas, guru tidak perlu bingung menentukan kriteria nilai karena semuanya sudah terstruktur.

      Pemanfaatan teknologi juga membuat proses penilaian jauh lebih cepat dan praktis mulai dari mengoreksi tugas, merekap nilai, sampai membuat laporan hasil belajar siswa. Jadi guru tidak kewalahan lagi hanya karena urusan penilaian. Dengan kombinasi strategi yang tepat, rubrik yang terarah, dan teknologi yang mendukung, penilaian matematika bisa menjadi jauh lebih mudah, efektif, dan tidak menguras waktu maupun tenaga guru.

      Hapus
  27. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    Kelas: V.A

    Izin memberikan tanggapan saya terkait materi yang telah disediakan yaitu efisien dan produktif untuk melakukan penilaian matematika, Nah dari bacaan ini menurut saya seringkali guru itu tidak menyadari bahwa Terkadang mereka itu memberikan tugas yang begitu banyak namun itu akan membuat susah pada diri mereka sendiri, yang di mananya guru pasti akan kewalahan pada saat ingin melakukan penilaian.

    Nah melalui bacaan ini juga saya melihat bahwa ternyata penilaian itu tidak berfokus kepada benar atau tidaknya suatu jawaban melainkan kita melihat proses berpikir siswa. Melalui tugas yang guru berikan tentunya guru berharap siswa dapat berpikir kritis,menuliskan pemahaman-pemahaman mereka, dan mengerjakan sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

    Nah kemudian dari bacaan ini juga saya melihat bahwa dinyatakan bahwa soal pilihan ganda itu tidak efektif untuk diterapkan kepada siswa, karena bisa jadi siswa itu hanya menebak saja, bukan benar-benar dari pemikiran mereka secara step by step.
    Nah tentunya ada strategi yang dilakukan agar penilaian lebih efektif.
    1. Sebagai guru tidak perlu membuat begitu banyak soal cukup beberapa soal aja yang penting soal itu benar-benar terkait dengan materi itu dan betul-betul mencangkup inti dari tujuan pembelajaran itu.
    2. Kemudian kita memberikan soal yang benar-benar yang sudah kita ajari sebelumnya.
    3. Kemudian kita memberikan penjelasan yang jelas agar siswa mudah menyusun dan menyampaikan pemikiran mereka dalam menjawab soal.
    4. Kemudian gunakan kesalahan untuk mengelompokkan siswa dalam sesi bimbingan kecil.
    5. Kemudian kita perlu melatih siswa Apabila mereka mengalami kesusahan agar mereka dapat menguasai materi dengan tepat.
    Guru Harus melihat bahwa tugas yang diberikan itu Apakah sudah benar-benar dapat mencakup pemahaman siswa dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
    Terima kasih

    BalasHapus
  28. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Yang bisa saya simpulkan dari artikel kali ini adalah kalau banyak guru SD sering kewalahan karena penilaian yang terlalu banyak. Akhirnya, waktu habis buat ngoreksi, bukan buat membantu siswa memahami konsep matematika dengan cara yang menyenangkan.

    Makanya, dengan beberapa point pertimbangan yang sudah dijelaskan di atas, harapannya penilaian jadi lebih simpel dan tepat sasaran.

    BalasHapus
  29. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Nah beberapa ide pertimbangan tadi bisa dicoba tuh, supaya penilaian gajadi beban. Jadi penilaian tetap bermanfaat dan ga bikin guru dan murid kewalahan.

    BalasHapus
  30. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Saya ada pertanyaan nih untuk temen-temen 😃

    Habis baca artikel ini, kalian ada bayangan ga nanti kalau jadi guru mau ada aktivitas apa yang bisa di pakai sebagai penilaian seru di kelas biar anak-anak merasa belajar sambil bermain?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206058

      Hallo nabila izin yah menjawab. Kalo dari aku, setelah baca artikel ini, aku kebayang penilaian yang tetap seru buat anak-anak, misalnya bikin permainan seperti mencari “harta karun” berisi soal-soal ringan di sudut kelas, atau main kartu matematika biar mereka mikir sambil main. Bisa juga kasih tantangan kecil dimana mereka jelasin cara mereka menyelesaikan soal, bukan cuma cepat-cepat jawab. Jadi penilaiannya tetap dapet, anak-anak tetap belajar, tapi suasananya lebih fun dan nggak bikin tegang.

      Terimakasih 😊

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Nabila Aqil Rahman, ada banget sih Nabila jadi setelah aku membaca artikel ini aku kaya mau buat Math Talk nah jadi itu kaya game jadi disini tu aku bakal kasih satu soal yang cukup menantang untuk para siswa, terus nanti para siswanya tu menjelaskan idenya ke teman-temannya secara bergiliran. Terus temannya yang mendengarkan tadi boleh bertanya atau memberi pertanyaan ataupun sebuah tanggapan. Nah jadi para siswa tu bisa merasa bermain, namun disisi lain gurunya sedang menilai bagaimana cara para siswa itu berpikir, komunikasi, dan juga menyusun sebuah strategi.

      Hapus
    3. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab yah Kak Nabila. Dari yang saya bayangkan yah semisal saya jadi guru, penilaiannya saya bikin kayak main bareng, bukan kayak tes. Misalnya nih lewat game kelompok kecil, kayak tebak strategi, kartu soal, atau papan permainan sederhana.
      nah jadi anak diskusi, terus ngejelasin caranya gimana aja, guru tinggal ngamatin aja prosesnya. Saya juga buat tantangan mini: “cari cara paling masuk akal”, bukan paling cepat.
      Ada juga nih cara lainnya kaya gallery walk, anak itungerjain soal di kertas besar, ditempel, lalu saling lihat dan komentar. Dari situ kan bisa keliatan banget cara berpikir mereka. Atau cerita matematika deh, anak diminta bikin soal sendiri dari cerita sehari-hari.
      Jadi anak ngerasa lagi main dan ngobrol, tapi gurunya dapet data belajar yang lengkap. Belajar jalan, senyum jalan, nilai juga tetap ada.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Nabilah, Ada sih bayangan aktivitas semisal saya menajdi guru nanti,, misalnya anak diminta membuat kolase, menggambar bebas sesuai tema, atau bermain peran sederhana sambil mengekspresikan gerak dan lagu, lalu penilaiannya fokus ke keberanian berekspresi, kreativitas, dan usaha mereka, jadi anak merasa seperti bermain tapi guru tetap bisa menilai proses dan hasil belajarnya

      Hapus
    5. dias pinasih
      5b pgsd
      2386206057
      izin menjawab yah nabila dari pertanyaan yang ad di atas Menurut saya, kalau jadi guru nanti, penilaian bisa dibuat lewat aktivitas yang seru tapi tetap bermakna. Misalnya di pelajaran matematika, bisa pakai game sederhana seperti kuis kelompok, kartu soal, atau lomba menyusun langkah penyelesaian soal. Dari situ guru bisa menilai cara berpikir, kerja sama, dan pemahaman siswa, bukan cuma jawaban akhirnya.
      Selain itu, bisa juga pakai aktivitas proyek kecil, seperti siswa diminta membuat poster, cerita bergambar, atau presentasi sederhana yang berkaitan dengan materi. Saat anak menjelaskan hasil kerjanya, guru bisa melihat sejauh mana mereka paham konsepnya. Anak-anak jadi merasa sedang bermain dan berkarya, bukan sedang diuji.
      Menurut saya, penilaian seperti ini bikin suasana kelas lebih hidup dan anak nggak gampang tegang. Anak tetap belajar, tapi sambil bermain, dan guru juga tetap dapat data penilaian yang jelas tanpa harus selalu mengandalkan tes tertulis.

      Hapus
  31. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Menurut saya, pendekatan seperti yang dibahas di blog ini, bisa bikin guru lebih hemat waktu juga nggk perlu lagi periksa puluhan perkerjaan siswa, cukup beberapa tugas terpilih tapi benar-benar menunjukkan kemampuan mereka. Dan itu juga bikin hubungan guru dan siswa lebih enak, karena siswa merasa didengar proses berpikirnya, bukan cuma dinilai dari benar atau salah.

    Nah sama kayak bapak saat setiap uts maupun uas pasti kami diminta mengumpulkan lembar coretan dan mengisi pun harus sertakan langkah-langkahnya.
    Intinya belajar matematika itu bukan perlombaan Cepat-cepat dapat jawaban, tapi proses belajar cara berpikir. Sama halnya dengan kita sehari-hari yang memutuskan belanja bulanan, menghitung ongkos. Yang penting itu bukan hafal rumusnya tapi ngerti logikanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dias pinasih
      5b pgsd
      2386206057
      izin sedikit tambahan yah kak rosa di materi kak rosa Menurut saya ya , penjelasan Kak Rosidah ini ngena banget karena nunjukin kalau penilaian yang fokus ke proses bisa bikin belajar jadi lebih manusiawi. Dengan nggak harus menilai semua tugas secara detail, guru bisa lebih fokus ke tugas-tugas yang benar-benar nunjukin cara berpikir siswa. Ini juga bikin siswa ngerasa dihargai karena yang dilihat bukan cuma hasil akhirnya, tapi juga usaha dan langkah-langkahnya.
      Selain itu, contoh yang Kak Rosidah sampaikan tentang lembar coretan dan langkah pengerjaan itu pas banget. Dari situ kelihatan kalau matematika bukan soal cepat-cepatan, tapi soal logika dan pengambilan keputusan, sama seperti di kehidupan sehari-hari. Jadi penilaian seperti ini bukan cuma efisien buat guru, tapi juga bikin pemahaman siswa jadi lebih dalam dan bermakna.

      Hapus
  32. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    saya setuju pak dengan materi ini, Materi ini menyarankan agar guru matematika SD fokus pada penilaian yang berkualitas (bukan kuantitas) dengan cara mengurangi jumlah tugas dan mengutamakan penilaian proses berpikir siswa, sehingga penilaian menjadi alat yang efektif untuk bimbingan kelompok kecil dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

    BalasHapus
  33. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Menurut saya, materi tentang cara menilai pelajaran Matematika yang lebih efisien ini benar-benar kena banget dengan kondisi pendidikan kita sekarang, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Intinya, kita diajak untuk berhenti fokus cuma sama jawaban benar atau salah dan nilai akhir. Bayangkan, guru sering capek memeriksa tumpukan tugas hanya karena takut orang tua protes kalau anaknya dapat nilai jelek, padahal yang paling penting adalah tahu kenapa siswa bingung. Solusi dari artikel ini keren, yaitu kita cukup kasih sedikit pertanyaan yang benar-benar penting, lalu gunakan jawaban siswa itu sebagai alat GPS untuk tahu bagian mana yang belum dipahami. Dengan begitu, kita bisa langsung bantu mereka di kelompok kecil, sehingga waktu memeriksa jadi lebih singkat, dan proses belajar siswa juga jadi lebih mendalam.

    Jadi, intinya artikel ini mengajak guru untuk jadi lebih pintar dan strategis dalam menilai. Daripada menghabiskan waktu dengan soal pilihan ganda yang tidak bisa menunjukkan cara berpikir siswa, lebih baik kita minta mereka menunjukkan prosesnya. Ini sejalan sekali dengan harapan agar siswa kita bukan hanya pintar menghitung, tapi juga bisa berpikir kritis dan luwes dalam menyelesaikan masalah, serta pandai menjelaskan ide mereka. Memang, mengubah kebiasaan orang tua yang terlanjur nilai adalah segalanya itu susah, tapi langkah-langkah praktis seperti membuat rubrik yang jelas dan fokus pada beberapa pertanyaan inti adalah cara paling jitu untuk membuat penilaian jadi bermanfaat bagi semua pihak siswa, guru, dan juga orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dias pinasih
      5b pgsd
      2386206057
      izin menambahkan sedikit dari penjelasan dari juliana yahh penilaian matematika seharusnya membantu guru memahami cara berpikir siswa, bukan sekadar melihat benar atau salahnya jawaban. Dengan menilai proses, guru bisa lebih cepat mengetahui di bagian mana siswa mengalami kesulitan, sehingga pembelajaran lanjutan bisa lebih tepat sasaran. Ini juga membuat waktu guru lebih efisien karena penilaian tidak perlu dilakukan secara detail di semua soal, tetapi cukup pada soal-soal kunci yang mewakili tujuan pembelajaran.Selain itu, pendekatan ini mendorong siswa untuk lebih berani menjelaskan langkah-langkah berpikirnya. Ketika siswa diminta menunjukkan proses, mereka belajar untuk berpikir lebih runtut dan reflektif, bukan hanya menebak jawaban. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika yang ingin membentuk kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, bukan sekadar kemampuan menghitung.Penilaian yang fokus pada proses juga membantu membangun komunikasi yang lebih baik antara guru, siswa, dan orang tua. Dengan adanya rubrik yang jelas, guru dapat menjelaskan alasan penilaian secara transparan, sehingga orang tua tidak hanya melihat angka, tetapi juga memahami perkembangan belajar anak. Dengan begitu, penilaian menjadi alat untuk mendukung pembelajaran, bukan sekadar penentu hasil akhir.



      Hapus
  34. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Di luar semua hal positif tadi, ada satu hal lagi yang menurut saya sangat penting penilaian yang efisien ini juga berdampak besar pada kesejahteraan mental guru (guru well-being). Guru-guru di Indonesia sering kali merasa tertekan oleh tumpukan administrasi dan pekerjaan rumah (PR) siswa yang harus diperiksa, yang akhirnya memicu kelelahan (burnout). Dengan beralih ke sistem penilaian yang lebih fokus, seperti mengurangi jumlah soal penting dan menjadikannya alat diagnostik, guru tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk pekerjaan yang kurang bermanfaat. Ini memungkinkan guru punya lebih banyak energi untuk merancang instruksi yang kreatif dan benar-benar membantu siswa, bukan hanya sekadar administrasi, sehingga guru bisa lebih produktif dan merasa pekerjaannya lebih bermakna.

    BalasHapus
  35. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    Materi ini memberikan refleksi yang sangat relevan bagi guru matematika SD yang sering merasa kewalahan dengan banyaknya penilaian. Fokus utamanya adalah mengingatkan bahwa tujuan tugas bukan sekadar mendapatkan jawaban yang benar, tetapi memahami bagaimana siswa berpikir, bagaimana mereka memproses informasi, dan bagaimana mereka membangun pemahaman matematika yang kuat. pentingnya memilih jumlah dan jenis tugas juga sangat tepat. Terlalu banyak tugas justru membuat penilaian tidak efektif, sementara tugas yang hanya menekankan jawaban akhir tidak memberi gambaran tentang proses berpikir siswa. bahwa yang paling penting adalah melihat bagaimana siswa sampai pada jawaban tersebut. dari penilaian yang sekadar mengumpulkan angka, menuju penilaian yang benar-benar membantu siswa memahami matematika dan menjadi pemikir yang lebih mandiri. Ini adalah pendekatan yang lebih manusiawi, efektif, dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.

    BalasHapus
  36. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Izin menanggapi,jadi materi ini sangat membantu karena menjelaskan bagaimana cara membuat proses belajar matematika jadi lebih efisien dan menyenangkan.dengan menggunakan cara yang tepat, seperti memberi soal yang sesuai dan memotivasi siswa, guru bisa membantu siswa belajar lebih baik tanpa merasa terbebani.materi ini mengingatkan kita bahwa belajar harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa, supaya mereka tidak merasa stres dan tetap semangat.materi ini menunjukkan bahwa proses belajar matematika harus dilakukan dengan cara yang tepat dan menyenangkan agar siswa bisa belajar dengan efisien dan tidak merasa terbebani.guru harus memilih soal yang sesuai dengan kemampuan siswa dan memberi latihan secara bertahap supaya mereka bisa memahami dengan baik.

    BalasHapus
  37. Nama: Maria ritna Tati
    NPM: 2386206009
    Kelas: V A PGSD

    Nah dalam materi ini dijelaskan bahwa penting banget untuk memahami apa yang siswa butuhkan saat belajar.guru harus bisa memilih soal yang tepat dan tidak terlalu sulit, supaya siswa merasa percaya diri dan nggak merasa gagal. kalau proses belajar dilakukan dengan cara yang benar,siswa bisa belajar lebih cepat dan hasilnya juga lebih bagus.jadi,guru harus pinter-pinter menyesuaikan cara mengajar dan soal yang diberikan.dalam materi ini dijelaskan bahwa penilaian siswa tidak cukup hanya melihat hasil akhir,tetapi juga harus memperhatikan proses belajar mereka.guru perlu memahami apa yang siswa lakukan saat menjawab soal dan bagaimana mereka berpikir, agar bisa membantu mereka belajar lebih efektif.

    BalasHapus
  38. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Dalam materi ini mengajarkan bahwa cara menilai siswa harus lebih efektif dan tidak cuma berdasarkan hasil akhir saja.guru perlu memperhatikan proses belajar siswa, seperti bagaimana mereka menjawab soal dan cara mereka berpikir.dengan begitu,guru bisa tahu apa yang sebenarnya siswa butuhkan dan bisa membantu mereka memperbaiki kekurangan.ini penting supaya proses belajar jadi lebih bermakna dan siswa tidak merasa gagal.materi ini mengajarkan bahwa latihan dan soal yang diberikan harus sesuai dengan kemampuan siswa.latihan yang terlalu sulit bisa membuat mereka merasa gagal, sedangkan latihan yang sesuai bisa meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal.

    BalasHapus
  39. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    tamabahan lagi,materi ini mengingatkan kita bahwa proses belajar matematika harus disesuaikan dengan setiap siswa.tidak semua siswa sama, jadi guru harus pinter-pinter menyesuaikan soal dan cara mengajar.tengan begitu, setiap siswa bisa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan mereka sendiri.kalau proses belajar dilakukan dengan baik, siswa akan lebih suka belajar dan hasilnya pun akan lebih memuaskan.materi ini menegaskan bahwa belajar matematika harus dilakukan secara sistematis dan bertahap, dimulai dari dasar yang sederhana dan terus meningkat.dengan cara ini, siswa akan lebih mudah memahami apa yang diajarkan dan bisa menguasai materi dengan baik, serta merasa lebih percaya diri saat menghadapi soal-soal berikutnya.

    BalasHapus
  40. Saya sangat tertarik memahami parameter penilaian yang lebih efektif yang telah diuraikan pada laman dengan judul efisien dan produktif untuk melakukan penilaian matematika ini.
    Isi pada poin-poin yang diuraikan sangat menambah wawasan bagi saya calon seorang guru untuk memahami pemikiran siswa secara lebih mendalam terkait pembelajaran yang telah dilakukan untuk melakukan penilaian.
    Isi pada poin-poin ini menurut saya merupakan bagian penting untuk seorang guru hendak mengukur pemahaman siswa terkait pembelajaran dan memberikan nilai untuk mengukur pemahaman mereka.
    Mulai dari poin pertama yaitu gunakan hanya dua atau tiga pertanyaan penting yang berfokus pada keterampilan yang dikuasai, lalu poin kedua pilih pertanyaan yang standar yang relevan dan yang sudah diajarkan sebelumnya sehingga siswa dapat berfokus pada penerapan keterampilan mereka,nah ini yang biasanya agak sering diabaikan seorang guru kadang pertanyaan terlalu melebar ke luar topik yang telah dipelajari siswa. Selanjutnya poin ketiga dijabarkan berikan daftar periksa atau representasi yang jelas untuk mempermudah siswa dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran mereka, ini juga penting guru harus memberikan kayak konsep atau cara-cara yang bisa dilakukan siswa ketika ingin memberikan jawabannya agar mempermudah siswa menyusun pemahaman mereka, lalu pada poin ke empat identifikasi kesalahpahaman umum dan gunakan data ini untuk mengelompokkan siswa dalam sesi bimbingan kelompok kecil ,ini juga bagian penting dalam pembelajaran guru harus bisa mengidentifikasi kesalahan siswa saat mengerjakan tugas dan bisa membimbing siswa dalam kelompok kelompok kecil agar mempermudah saat memberikan penjelasan tambahan tentang bagian yang kurang dimengerti.
    Dan menurut saya yang paling penting itu ada poin kelima yaitu latih keterampilan yang lebih rumit secara bertahap agar siswa menguasai nya dengan tepat, ini bener banget !! siswa harus diajarkan secara bertahap mulai dari hal-hal yang kecil lalu bisa ke hal-hal yang besar dengan cara memperkenalkan konsep yang lebih sederhana untuk menyelesaikan permasalahan yang kecil dulu lalu setelah itu bisa membuat soal penyelesaian masalah dalam bentuk soal yang lebih kompleks dan rumit lagi karena siswa sudah didasari oleh konsep awal maka mereka akan terlatih untuk dapat mengerjakan permasalahan yang lebih kompleks.

    BalasHapus
  41. dapat kita ketahui pak banyak sekali guru matematika yang memiliki hubungan rumit dengan penilaian. Di satu sisi, ia butuh menginformasikan untuk mendukung proses pembelajaran. akan tetapi di sisi lain pada proses penilaian sering terjadi banya melelahkan para guru, sehingga para guru harus memilih berbagai data sehingga dengan mereka bekerja tidak terasa efesien. Sebetulnya masih ada cara sederhana untuk penilaian agar lebih fokus untuk kebutuhan pelajar siswa dan tujuan pendidikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. namun ada beberapa refleksi terhadap praktek mereka, dapat kita ketahui juga ada banyak diluar sana para guru menyampaikan keinginan nya untuk membantu para siswa dalam ketahanan belajar, bisa atau mampu menyampaikan pikirannya dengan begitu siswa jadi dapat mandiri

      Hapus
  42. di dalam pembahasan materi ini juga memberikan cara cara yang mudah untuk membantu guru dalam proses berpikir siswa. Setiap poinnya dapat diliat berfokus pada penguatan keterampilan yang di butuhkan dalam pembelajaran matematika pada siswa.

    BalasHapus
  43. Nama :Zakky Setiawan
    NPM ; ( 2386206066 )
    Kelas : 5C
    Saya sangat setuju dengan materi ini, karena dengan memberi pertimbangan jumlah pekerjaan membuat mereka menjadi berpikir kritis dengan pemberian tugas, hal ini tuh bagus untuk masa depan mereka, supaya bisa menyelesaikan masalah dengan benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama :Zakky Setiawan
      NPM ; ( 2386206066 )
      Kelas : 5C
      Sedikit menambahkan, pertimbangan jumlah pekerjaan membuat peserta didik berpikir bahwa jawaban yang palin benar adalah patokan, sebenarnya yang paling penting dari itu adalah proses, disini guru harus memberikan parameter penilaian yang lebih efektif, seperti bertanya 2 atau 3 pertanyaan yang sangat penting untuk menilai seorang anak

      Hapus
  44. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: V C
    Menurut saya materi ini ngasih sudut pandang baru tentang bagaimana sebenarnya penilaian di pelajaran matematika itu seharusnya berjalan bukan soal banyaknya tugas tpi bagaimana proses berpikir siswa benar" terlihat dn di hargai kalau guru lebih menekankan kualitas penilaian misalnya lwat diskusi kecil, latihan yg memancing analisis dan menyelesaikan masalah siwa jdi lebih terarah untuk memahami konsep bukan hanya sekedar mengejar angka dngan pendekatan seperti ini penilaian lebih jelas dan positif untuk melatih pola pikir kritis dan membiasakan siswa utk belajar dengan lebih bermakna

    BalasHapus
  45. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM:2386206089
    Penilaian bukanlah sekadar tugas, melainkan...
    Sebagai seorang guru, artikel ini menjelaskan bahwa memberikan banyak tugas tidak selalu sama dengan pembelajaran yang baik. Saat ini, ada kepercayaan umum bahwa semakin banyak materi yang diberikan, siswa akan semakin mahir. Dengan kata lain, siswa justru dapat... dan hanya berkonsentrasi pada tugas-tugas pembelajaran tanpa sepenuhnya memahami konsepnya. Artikel ini menyoroti perlunya penilaian untuk membantu guru dalam mengamati perilaku siswa daripada hanya mengumpulkan data. Hal ini relevan dengan kondisi sekolah saat ini, karena guru seringkali berada di bawah tekanan dari administrasi dan harapan orang lain. Sebagai seorang guru, saya ingin menggunakan tugas yang mudah namun menantang dan menjelaskan tujuannya dengan jelas kepada siswa dan orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Penting untuk mengamati proses berpikir siswa daripada hanya jawaban akhir.
      Saya cukup tertarik pada bagian yang menjelaskan bahwa jawaban benar tidak selalu menunjukkan pemahaman, dan jawaban salah tidak selalu menunjukkan bahwa siswa tidak memahami. Sebagai seorang guru, saya sering menekankan betapa pentingnya memahami siswa sampai ke jawaban mereka. Soal pilihan ganda memang praktis, namun seringkali mengharuskan siswa untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang diri mereka sendiri. Artikel ini membuat saya sadar bahwa memberikan ruang bagi siswa untuk menjelaskan pembelajaran mereka, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan, merupakan komponen penting dari pendidikan matematika. Selain itu, ini membantu guru memberikan bantuan yang lebih sesuai.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Penilaian yang efektif justru membantu guru menghemat waktu.
      Akibatnya, saya percaya bahwa mengamati uraian jawaban atau penjelasan siswa pasti akan memakan waktu lebih sedikit. Namun, artikel ini hanya mengilustrasikan hal sebaliknya. Dengan memilih dua atau tiga topik penting yang berkaitan erat dengan kompetensi utama, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kemampuan siswa tanpa harus menjelaskan banyak hal terkait pekerjaan. Sebagai seorang guru, ini sangat sulit karena salah satu kekhawatiran yang paling umum adalah etos kerja yang sangat kuat. Pendekatan ini lebih realistis dan manusiawi bagi guru

      Hapus
  46. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM:2386206089
    penggunaan hasil belajar membentuk kelompok kecil sangat relevan dengan metodepengajaran yang digunakan di kelas. Artikel ini menjelaskan bahwa meskipun penilaiantidak ada dengan sendirinya, namun penilaian dapat dengan mudahditerapkan untuk meningkatkan proses pembelajaran. Sebagai seorangguru, saya melihat ini sebagai strategi yang sangat cerdas. Daripada memberites tambahan seperti tiket keluar setiap hari, guru bisa memanfaatkan satu penilaian untuk banyak tujuan sekaligus. Ini membuat pembelajaran lebih terarah dan siswa merasa terbantu sesuai kebutuhannya, bukan disamaratakan.

    BalasHapus
  47. NAMA: VIRGINIA JAU
    NPM:2386206089
    KELAS:VD
    Mengembangkan siswa yang mandiri dan mampu menghadapi tantangan.
    Secara keseluruhan, artikel ini mendorong guru untuk menulis tentang jangka panjang: bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang mengembangkan siswa yang mampu menulis secara kritis, menghadapi kritik, dan mengkomunikasikan ide-ide mereka. Sebagai calon seorang guru, ini cukup menginspirasi. Alih-alih sekadar hafalan, dunia ke depan menuntut kemampuan berpikir. Dengan lebih banyak berpikir kritis, siswa belajar untuk reflektif dan percaya diri tentang proses belajar mereka sendiri. Ini membuat saya menyadari bahwa menjadi seorang calon guru melibatkan lebih dari sekadar mengajar; itu juga melibatkan mengajar siswa bagaimana menghadapi tantangan hidup.

    BalasHapus
  48. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Izin menanggapi pak. Setelah saya baca pelan-pelan, materi ini tuh kayak curhatan banyak guru matematika yang akhirnya ditulis rapi dan reflektif. Rasanya itu relate banget sih, karena di lapangan guru kan sering terjebak di antara dua tuntutan contohnya pengen ngajarin dengan bermakna, tapi juga harus memenuhi target nilai, laporan, dan ekspektasi orang tua. Akhirnya tugas menumpuk, penilaian banyak, tapi capeknya nggak selalu sebanding dengan informasi yang kita dapat tentang kemampuan siswa.
    Sama kaya waktu saya masih SD, saya liat beberapa orang tuanya mendatangi gurunya karena nilai anaknya anjlok, terus di banding-bandingi sama nilai siswa lain. Padahal emang dari anaknya yang nggak memenuhi standar nilai, terus ujung-ujungnya guru juga yang disalahkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Halo Rismardiana, saya setuju dengan pendapat kamu materi ini memang seperti refleksi dari realita yang dialami guru sehari-hari yang kamu cerita tentang orang tua yang datang komplain dan akhirnya guru yang di salahkan itu justru memperkuat poin penting dari materi ini yaitu tentang perlunya mengubah pola pikir kita semua tentang apa sebenarnya tujuan dari penilaian itu seperti yang disebutkan di materi, kalau siswa dan orang tua hanya berfokus ke nilai akhir atau jawaban benar saja yaa mereka akan terus menganggap itu yang paling penting padahal yang sebenarnya perlu dilihat adalah bagaimana proses berpikir siswa tersebut.

      Makanya salah satu solusi yang ditawarkan adalah komunikasi yang lebih baik antara guru, siswa, dan orang tua tentang apa yang benar-benar penting dalam pembelajaran matematika, bukan sekedar angka di rapor tapi kemampuan berpikir kritis dan sistematis kalau komunikasinya jelas dari awal harapannya orang tua juga bisa lebih memahami bahwa nilai rendah bukan berarti guru gagal, tapi mungkin memang ada yang perlu diperbaiki dari cara belajar anaknya dan guru bisa bantu perbaiki itu lewat pendekatan yang lebih fokus ke proses berpikir.

      Hapus
  49. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Yang saya suka sama materi ini di bagian yang menekankan bahwa tugas nggak perlu banyak-banyak kalau akhirnya cuma bikin siswa capek, guru capek, tapi datanya juga nggak terlalu bermakna. Justru dengan memilih beberapa soal kunci yang benar-benar menggambarkan kemampuan berpikir siswa, guru bisa lebih paham proses yang terjadi di kepala mereka. Ini penting sih, karena jawaban benar itu nggak selalu berarti siswa paham, dan jawaban salah juga nggak selalu berarti tentunya, mereka nggak ngerti kadang cuma salah strategi, salah fokus, atau salah baca.
    Tapi Kadang kita tuh mikir, “kalau soalnya banyak, nilainya lebih adil.” Padahal belum tentu banget. Bisa jadi kan siswa yang paham malah kelelahan, sementara itu yang nggak paham cuma nebak atau niru temannya. Ujung-ujungnya kita dapet angka, tapi nggak dapet cerita di balik angka itu. Padahal justru cerita proses berpikir siswa itulah yang paling kita butuhkan sebagai guru.

    BalasHapus
  50. Nama:syahrul
    kelas:5D
    npm:2386206092

    Gimana rasanya saat nilai ujian di sekolah cuma fokus ke jawaban benar atau salah? Rasanya pasti bikin tegang, apalagi kalau orang tua kita cuma melihat nilai sebagai satu satunya tolok ukur sukses akademis. Masalahnya, fokus berlebihan pada nilai ini sering mendorong guru untuk kasih tugas menumpuk, hanya biar siswa nggak dapat nilai jelek gara gara salah satu soal. Padahal, tujuan utamanya bukan cuma cari jawaban benar kalkulator juga bisa kalau gitu tapi lebih ke membentuk siswa yang bisa berpikir kritis dan mengkomunikasikan proses berpikir mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:syahrul
      kelas:5D
      Npm:2386206092

      Intinya tuh penilaian matematika yang guru buat sekarang sering kali terlalu fokus pada hasil akhir dan menyembunyikan pemahaman yang sesungguhnya. Soal pilihan ganda, misalnya, nggak kasih tahu kita apakah siswa benar-benar paham atau cuma nebak. Bahkan, jawaban yang benar bisa aja menyembunyikan kebingungan mereka, sama kayak jawaban salah bisa menyembunyikan pemahaman parsial. Para pendidik sadar, kita perlu banget bergeser dari sekadar hitungan dan mulai melihat proses berpikir siswa. Kalau nggak, kita susah banget tahu kebutuhan spesifik tiap anak.

      Hapus
    2. nama:syahrul
      kelas:5D
      Npm:2386206092

      Nah, untuk membuat penilaian lebih efektif, artikel yang bapak kasih ini ngasih beberapa saran praktis, yang tujuannya adalah dapat wawasan mendalam tentang pemikiran siswa. Coba deh kita ngelakukan ini
      • Batasi soal: Kasih cuma dua atau tiga pertanyaan penting yang fokus pada keterampilan inti yang harus dikuasai.
      • Relevansi: Pilih pertanyaan dari standar yang sudah diajarkan sebelumnya.
      • Libatkan proses: Minta siswa menunjukkan proses dan pemikiran mereka, bukan cuma hasil akhir.
      • Gunakan pekerjaan siswa: Nilai tugas atau pekerjaan rumah sebagai alat penilaian.

      Hapus
    3. nama:syahrul
      kelas:5D
      npm:2386206092

      Kenapa cara ini bisa di bilang lebih oke? Karena penyesuaian kecil ini punya manfaat besar,. Pertama, ini bakal menghemat waktu guru karena mereka nggak perlu memeriksa soal yang banyak banget dan bisa menilai lebih efektif. Kedua, komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua jadi lebih konsisten dan jelas. Terakhir, siswa jadi lebih mandiri dan terarah dalam belajar, yang ujung ujungnya memperkuat kemampuan mereka di matematika. Mereka juga jadi lebih terbiasa berpikir komputasional dan efisien, yang penting banget buat masa depan.

      Hapus
    4. nama:syahrul
      kelas5D
      Npm:2386206092

      Jadi, daripada terjebak dalam rutinitas penilaian yang bikin capek dan nggak efisien, kita perlu pertimbangkan untuk menggunakan tugas atau pekerjaan siswa yang dinilai sebagai alat bantu ajar sekaligus penilaian. Dengan menghargai dan melihat proses berpikir siswa, kita jadi gampang mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahpahaman yang ada. Hasil penilaian ini bisa dipakai buat mengelompokkan siswa untuk bimbingan kecil yang lebih tepat sasaran. Ini akan mengurangi kebutuhan penilaian formal lain, dan yang paling penting, membantu siswa mengembangkan daya tahan belajar serta kemampuan mengkomunikasikan pemikiran secara mendalam.

      Hapus
  51. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya baca lagi, materi ini juga menegaskan bahwa penilaian itu nggak harus berdiri sendiri. Penilaian bisa sekalian jadi bahan untuk pengajaran kelompok kecil. Jadi bukannya nambah pekerjaan, malah mengurangi. Guru cukup fokus ke beberapa soal penting, lalu dari situ langsung kelihatan siapa yang butuh bantuan di bagian mana. Ini jauh lebih realistis dan ramah waktu, apalagi buat guru SD yang pegang banyak mata pelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menambahkan pak. Jadi secara keseluruhan, materi ini ngajak kita buat sedikit mengubah cara pandang dari berapa banyak yang dinilai ke seberapa bermakna yang dinilai. Perubahannya mungkin kecil, tapi dampaknya besar siswa pun jadi lebih berpikir, guru jadi lebih paham muridnya, dan proses belajar matematika jadi nggak seseram atau seberat yang sering dibayangkan.

      Hapus
  52. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Saya jadi sadar kalau bekerja secara efisien dan produktif itu bukan soal sibuk terus, tapi soal bagaimana mengatur waktu, fokus, dan prioritas dengan baik. kebiasaan kecil, kayak ngatur waktu dan ngelola diri sendiri, ternyata punya pengaruh besar ke hasil kerja. Bapak juga pernah menjelaskan di kelas bahwa penilaian matematika itu harus punya struktur yang rinci dan jelas bukan bermodalkan perasaan dan bukan sekadar benar atau salah. Menurut saya, ini relevan banget diterapkan baik di dunia pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  53. Materi ini mengangkat persoalan yang sangat nyata dan sering dialami guru matematika, khususnya di sekolah dasar, yaitu beban penilaian yang besar namun belum tentu berdampak signifikan pada kualitas pembelajaran. Penulis berhasil menempatkan penilaian bukan sebagai rutinitas administratif, tetapi sebagai alat strategis untuk memahami cara berpikir siswa dan mendukung pengambilan keputusan pembelajaran.
    Pembahasan tentang jumlah pekerjaan yang dinilai disampaikan dengan sudut pandang yang seimbang, antara tuntutan akademik dan harapan orang tua. Penekanan bahwa tujuan utama tugas bukan sekadar jawaban benar, melainkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan sistematis, sangat relevan dengan kebutuhan siswa di masa depan. Gagasan ini menegaskan bahwa kualitas penilaian jauh lebih penting daripada kuantitasnya.

    BalasHapus
  54. materi ini memberikan panduan praktis dan reflektif bagi guru untuk merancang penilaian yang lebih efisien, informatif, dan berorientasi pada pembelajaran. Dengan menyederhanakan jumlah soal, memfokuskan pada keterampilan inti, serta memanfaatkan hasil penilaian untuk pembelajaran kelompok kecil, guru tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang kebutuhan siswa. Materi ini sangat relevan untuk dijadikan rujukan dalam upaya meningkatkan kualitas penilaian dan pembelajaran matematika secara berkelanjutan.

    BalasHapus
  55. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB {GSD
    Npm : 2386206035

    Materi yangbapak sediakan ini menegaskan kalau penilaian matematika yang efisien dan produktif tidak diukur dari banyaknya tugas atau soal, tetapi dari sejauh mana penilaian tersebut benar-benar mencerminkan pemahaman siswa dan membantu guru memperbaiki proses pembelajaran. Dengan memilih bentuk penilaian yang tepat, terstruktur, dan bermakna, guru dapat menghemat waktu sekaligus memperoleh informasi penting tentang cara berpikir siswa. Terima kasih pak telah memberikan materi ini , karena sangat bermanfaat bagi calon guru untuk belajar merancang penilaian yang tidak memberatkan, namun tetap berkualitas dan berdampak nyata pada proses belajar mengajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dias pinasih
      5b pgsd
      2386206057
      izin menambahkan sedikit saran yah mba lynda dri penjelasan materi yang ad di atas Selain penilaian yang efisien dan produktif, penting juga dipahami bahwa penilaian seharusnya tidak hanya melihat hasil akhir, tapi juga proses berpikir siswa. Dalam pembelajaran, khususnya matematika, cara siswa sampai pada jawaban sering kali lebih penting daripada jawabannya itu sendiri. Dari proses tersebut, guru bisa melihat apakah siswa benar-benar paham konsep atau hanya menghafal rumus.
      Penilaian yang baik juga perlu memberi umpan balik yang jelas ini bukan cuma berupa nilai, tapi juga komentar singkat yang membantu siswa tahu letak kesalahannya dan bagaimana cara memperbaikinya. Dengan begitu, penilaian bisa menjadi alat belajar, bukan sekadar alat pengukur.
      Selain itu, penilaian bisa dibuat lebih fleksibel dengan memanfaatkan berbagai teknik, seperti observasi saat diskusi, tugas kelompok, refleksi singkat setelah pembelajaran, atau pertanyaan terbuka. Cara ini membantu guru memahami kemampuan siswa secara lebih menyeluruh tanpa harus selalu mengandalkan tes tertulis.

      Hapus
  56. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, banyak guru matematika SD mengalami dilema dalam praktik penilaian. Guru membutuhkan data untuk mengajar, tetapi sering terbebani oleh banyaknya tugas yang harus dinilai. Kondisi ini menyulitkan guru bekerja secara efisien. Guru sebenarnya ingin membantu siswa berpikir mandiri dan memiliki daya tahan belajar. Penilaian yang terlalu banyak justru mengaburkan tujuan pembelajaran. Guru perlu meninjau kembali apa yang benar-benar penting untuk dinilai. Dengan demikian, penilaian dapat menjadi alat belajar, bukan beban.

    BalasHapus
  57. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, jumlah tugas yang diberikan kepada siswa perlu dipertimbangkan secara bijak. Guru sering memberi banyak tugas karena tekanan ekspektasi orang tua terhadap nilai. Orang tua memandang nilai sebagai indikator utama kemampuan akademik anak. Akibatnya, siswa fokus pada jawaban benar semata. Guru perlu mengomunikasikan tujuan tugas kepada siswa dan orang tua. Pembelajaran seharusnya menekankan proses berpikir, bukan sekadar hasil. Pendekatan ini mendukung perkembangan berpikir kritis siswa.

    BalasHapus
  58. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, jenis tugas yang diberikan sangat memengaruhi kualitas penilaian. Soal pilihan ganda tidak selalu menunjukkan pemahaman siswa. Guru tidak dapat melihat proses berpikir di balik jawaban siswa. Siswa bisa menebak tanpa benar-benar memahami konsep. Tugas terbuka memberi ruang bagi siswa untuk menjelaskan pemikirannya. Guru memperoleh informasi yang lebih akurat tentang pemahaman siswa. Dengan demikian, penilaian menjadi lebih bermakna.

    BalasHapus
  59. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, parameter penilaian yang efektif membantu guru memahami pemikiran siswa secara mendalam. Guru dapat memilih sedikit soal yang benar-benar penting. Soal tersebut harus sesuai dengan standar yang telah diajarkan. Guru menyediakan panduan atau daftar periksa untuk membantu siswa mengekspresikan pemikiran. Kesalahpahaman siswa dapat diidentifikasi melalui jawaban mereka. Guru menggunakan data tersebut untuk bimbingan kelompok kecil. Proses ini meningkatkan kualitas pembelajaran.

    BalasHapus
  60. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    pekerjaan yang dinilai dapat dimanfaatkan sebagai alat penilaian dan pengajaran. Guru menggunakan hasil pekerjaan siswa untuk merancang pembelajaran kelompok kecil. Siswa mendapat bimbingan sesuai kebutuhan mereka. Guru mengurangi kebutuhan akan banyak jenis penilaian tambahan. Waktu guru menjadi lebih efisien dan terarah. Siswa belajar secara lebih mendalam dan mandiri. Pada akhirnya, penilaian mendukung perkembangan matematika siswa secara optimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Hallo kak Lidia, saya setuju dengan pendapat kakak tersebut. Penilaian memang seharusnya tidak hanya berhenti pada pemberian nilai, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Jadi ketika hasil pekerjaan siswa digunakan untuk merancang bimbingan kelompok kecil, guru sebenarnya sedang membaca pola berpikir siswa, bukan sekadar menilai benar atau salah.

      Sebagai tambahan ya kak, penilaian seperti ini jua membantu guru membedakan kebutuhan belajar setiap siswa. Ada siswa yang butuh penguatan konsep dasar, ada juga yang siap diberi tantangan lebih. Dengan kayak gitu insyaallah pembelajaran menjadi lebih adil dan tepat sasaran. Dan siswa pun merasa diperhatikan proses belajarnya, bukan hanya hasil akhirnya, sehingga motivasi dan kemandirian belajar bisa tumbuh secara bertahap.

      Semoga bermanfaat ya kak

      Hapus
  61. dias pinasih
    kelas 5b pgsd
    2386206057
    izin menanggapi materi yang bapak berikan diatas saya ngerasa kalau penilaian itu sebenarnya bisa dibuat lebih simpel tanpa ngurangin maknanya. Selama ini penilaian sering kelihatan ribet dan makan waktu, baik buat guru maupun siswa. Dari tulisan ini, aku nangkep kalau penilaian yang efisien itu bukan berarti asal cepat, tapi lebih ke pintar milih apa yang benar-benar perlu dinilai supaya tujuan pembelajaran tetap kena.
    Menurut saya ya pak, di beberapa bagian penjelasannya masih agak umum, jadi pembaca harus mikir lagi sendiri contoh penerapannya di kelas. Buat mahasiswa atau guru yang masih belajar, mungkin masih sedikit bingung gimana cara langsung menerapkan penilaian yang efisien tapi tetap adil ke semua siswa, terutama di kelas yang siswanya banyak.
    Kalau boleh ngasih saran, akan lebih membantu kalau ditambah contoh nyata dari praktik di kelas, misalnya contoh penilaian matematika yang sederhana tapi tetap nunjukin cara berpikir siswa. Bisa juga ditambahkan gambaran format penilaian yang praktis dan nggak ribet, supaya guru punya acuan dan nggak merasa terbebani. Dengan begitu, konsep penilaian yang efisien dan produktif ini bisa lebih gampang dipahami dan diterapkan di kondisi kelas yang sebenarnya.

    BalasHapus
  62. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Setelah saya baca ulang materi ini menyampaikan bahwa guru perlu benar-benar memikirkan tujuan dari setiap tugas yang diberikan. Apakah tugas tersebut membantu siswa memahami konsep, atau hanya agar nilai di buku nilai terlihat banyak? Kadang guru memberikan banyak soal, padahal tidak semua soal itu penting untuk menunjukkan kemampuan siswa dengan menyederhanakan jumlah soal dan memilih jenis soal yang meminta siswa menjelaskan cara berpikirnya, penilaian menjadi lebih bermakna dan tidak hanya melihat jawaban akhir, tetapi juga prosesnya, cara ini juga membuat pekerjaan guru lebih efisien karena tidak perlu memeriksa banyak soal yang sifatnya repetitif. Selain itu, ketika guru melihat bagaimana siswa menyelesaikan soal, guru bisa lebih cepat memahami di mana letak kesalahan atau miskonsepsi yang dimiliki siswa, dengan begitu, umpan balik dan bantuan yang diberikan bisa lebih tepat sasaran, sehingga kualitas pembelajaran tetap terjaga meski jumlah soal dikurangi dan ini menunjukkan bahwa efisien bukan berarti mengurangi kualitas, tetapi justru fokus pada hal yang benar-benar bermanfaat bagi belajar siswa.

    BalasHapus
  63. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Selain itu saya juga mau menyampaikan pendapat saya mengenai penilaian yang efesien dan produktif ini ada tantangannya juga, nah kalau menurut saya dalam praktiknya ada tantangan nyata bagi guru yaitu bagaimana menyeimbangkan penilaian resmi yang dilakukan sesuai aturan sekolah dan bisa dipertanggungjawabkan hasilnya, seperti yang diminta sekolah dan orang tua, dengan penilaian yang benar-benar mendukung proses belajar siswa. Tidak jarang guru merasa harus memberi banyak tugas agar nilai terlihat lengkap, padahal hal ini justru membuat siswa hanya fokus pada angka, bukan memahami pelajaran. Materi ini mengajak kita berdiskusi bahwa penilaian seharusnya tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri yang membantu siswa berkembang dan membantu guru memperbaiki cara mengajar agar pembelajaran lebih bermakna. Ide ini penting agar penilaian tidak hanya membebani siswa dan guru, tetapi benar-benar memberikan manfaat dalam pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas opininya, Sinta. Poin kamu mengenai guru yang merasa harus memberi banyak tugas demi kelengkapan nilai adalah realita yang sering terjadi. Semoga ke depannya sistem penilaian kita bisa lebih berpihak pada perkembangan karakter dan pemahaman siswa, bukan sekadar tumpukan tugas.

      Hapus
  64. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    Pak, terima kasih atas materinya. Saya jadi paham kalau supaya tugas pembelajaran bisa selesai dengan baik, kita perlu kerja secara efisien dan produktif, jangan cuma sibuk tapi hasilnya kurang maksimal. Dengan bikin perencanaan jelas, susun prioritas tugas, dan atur waktu dengan baik, pasti pekerjaan jadi lebih ringan dan fokus.

    BalasHapus
  65. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    Izin bertanya ya pak, menurut bapak, apakah ada kebiasaan kecil yang paling berpengaruh supaya pekerjaan jadi lebih produktif? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Selma Alsayanti Mariam
      Npm: 2386206038
      Kelas: VC

      Izin bantu menjawab yaa kak alyaa, menurut saya hal kecil yang paling berpengaruh agar pekerjaan jadi produktif adalah dengan cara. pertama setiap pagi atau malam hari, tulis 3 hal yang paling penting sekali untuk harus segera diselesaikan di hari itu juga. tidak usah banyak-banyak, kalau 3 ini sudah selesai kamu sudah boleh bilang hari itu produktif. dan yang kedua kalau ada tugas atau pekerjaan yang kira-kira bisa diselesaikan dalam 2 menit, misalnya seperti membales email pendek, merapihkan meja, atau menaruh baju kotor ditempatnya. itu langsung dikerjakan detik itu juga, jangan ditunda. karena kalau ditumpuk malah membuat otak merasa berat.

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab juga ya alya, menurut saya kebiasaan kecil yang paling berpengaruh adalah menyelesaikan tugas terberat atau yang paling malas dikerjakan di awal waktu, karena saat itulah energi dan fokus kita masih berada di level tertinggi sehingga sisa hari akan terasa lebih ringan dan produktif.

      Hapus
    3. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Hai Alya, izin menjawab pertanyaan dari kamu, menurut saya kebiasaan kecil yang paling berpengaruh supaya pekerjaan jadi lebih produktif itu adalah mulai mengubah cara kita memberikan tugas dari yang tadinya banyak soal tapi sekilas menjadi hanya 2-3 soal penting yang fokus ke pemahaman mendalam, karena dengan begitu guru bisa memanfaatkan hasil pekerjaan siswa tersebut untuk berbagai tujuan sekaligus seperti mengumpulkan data, mengidentifikasi kesalahpahaman, mengelompokkan siswa untuk bimbingan kelompok kecil, dan bahkan mengurangi kebutuhan penilaian lain seperti tiket keluar atau penilaian harian, menjadi satu kali kerja bisa dapat banyak manfaat dan waktu guru jauh lebih hemat tapi hasilnya justru lebih berkualitas karena kita dapat wawasan yang lebih dalam tentang kemampuan siswa.

      Terima kasih

      Hapus
  66. Nama: Arjuna
    Kelas: 5A
    Npm: 2386206018
    Saya melihat bahwa yang perlu dipertimbangkan bukan seberapa banyak tugas yang diberikan, tetapi seberapa bermakna tugas tersebut bagi siswa. Jika penilaian hanya menekankan jawaban benar atau salah, siswa akan cenderung fokus pada hasil akhir, bukan pada proses berpikirnya. Padahal, dalam matematika, cara berpikir dan cara menyelesaikan masalah justru lebih penting.

    BalasHapus
  67. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Teknik meningkatkan produktivitas karena menggabungkan penilaian individu maupun kelompok menggunakan teknik " two - stage - assessment' dalam pembelajaran matematika bukan sekedar memberi nilai benar dan salah tapi berdasarkan logika dalam pemahaman peserta didik dalam meriksa penilaian punya teman

    BalasHapus
  68. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Materi ini membuka cara pandang saya tentang penilaian di kelas, khususnya dalam pembelajaran matematika. Selama ini, penilaian sering identik dengan banyaknya tugas dan soal yang harus dikerjakan siswa, seolah semakin banyak soal maka semakin lengkap datanya. Padahal, dari penjelasan di atas terlihat bahwa tidak semua pekerjaan benar-benar memberikan gambaran utuh tentang pemahaman siswa. Penilaian justru seharusnya membantu guru melihat bagaimana cara siswa berpikir dan memproses sebuah masalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Ninda Amelia Saputri
      NPM : 2386206093
      Kelas : 5D PGSD

      Izin menambahkan, Pak. Ketika penilaian lebih menekankan pada proses berpikir, siswa didorong untuk menjelaskan ide dan langkah-langkah yang mereka ambil, bukan hanya mengejar jawaban akhir. Pendekatan ini membuat siswa lebih sadar terhadap cara mereka belajar dan berani mengungkapkan pemikirannya. Saya merasa hal ini juga membantu siswa yang mungkin sebenarnya paham, tetapi sering salah hitung, agar tidak langsung dianggap “tidak bisa”. Di sisi lain, guru jadi lebih mudah mengidentifikasi kesalahpahaman yang muncul dan menanganinya secara tepat.

      Hapus
    2. Nama : Ninda Amelia Saputri
      NPM : 2386206093
      Kelas : 5D PGSD

      Selain berdampak pada siswa, pendekatan penilaian seperti ini juga menurut saya meringankan beban guru. Dengan memilih soal-soal yang benar-benar penting dan bermakna, guru tidak perlu menilai terlalu banyak pekerjaan, tetapi tetap mendapatkan informasi yang mendalam. Penilaian kemudian bisa digunakan sebagai dasar pembelajaran lanjutan, seperti bimbingan kelompok kecil atau diskusi kelas. Pada akhirnya, suasana belajar menjadi lebih sehat, siswa lebih mandiri, dan penilaian benar-benar berfungsi untuk mendukung proses belajar, bukan sekadar mengejar nilai.

      Hapus
  69. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi lagi, Pak. Membaca materi ini saya jadi merasa apa yang dialami guru matematika di sekolah dasar sangat manusiawi. Di satu sisi guru ingin benar-benar memahami perkembangan siswa lewat data penilaian, tapi di sisi lain justru terbebani oleh banyaknya tugas dan penilaian yang harus dilakukan. Kondisi ini menurut saya sering membuat tujuan awal penilaian bergeser, dari alat bantu pembelajaran menjadi sekadar rutinitas administratif. Penjelasan tentang pentingnya memilah mana penilaian yang benar-benar bermakna membuat saya sadar bahwa efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas, justru bisa memperdalam pemahaman siswa jika dilakukan dengan tepat.

    BalasHapus
  70. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Saya setuju nih, Pak. Bahwa jumlah tugas yang terlalu banyak tidak selalu sejalan dengan kualitas pembelajaran. Tekanan dari sudut pandang orang tua yang sering menilai kemampuan anak hanya dari angka memang nyata adanya. Namun, materi ini membuka sudut pandang baru bahwa tugas seharusnya membantu siswa berpikir, bukan sekadar mengumpulkan jawaban benar. Ketika siswa dilatih untuk mengomunikasikan proses berpikir mereka, nilai tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan hasil dari proses belajar yang lebih mendalam dan jujur.

    BalasHapus
  71. Artikel ini menegaskan bahwa penilaian matematika seharusnya tidak hanya berorientasi pada jawaban akhir, tetapi pada proses berpikir siswa. Dengan menilai cara siswa memahami dan menyelesaikan masalah, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang kemampuan sebenarnya. Pendekatan ini membantu siswa menjadi pembelajar yang reflektif dan tidak sekadar mengejar nilai.

    BalasHapus
  72. Penekanan pada jumlah tugas yang lebih sedikit namun bermakna sangat relevan dengan tantangan guru saat ini. Guru dapat menghemat waktu tanpa mengurangi kualitas penilaian dengan memilih pertanyaan kunci yang benar-benar mencerminkan kompetensi siswa. Hal ini membuat penilaian menjadi lebih produktif dan berdampak langsung pada perbaikan pembelajaran.

    BalasHapus
  73. Artikel ini menunjukkan pentingnya memberi ruang bagi siswa untuk menjelaskan pemikiran mereka secara lisan maupun tertulis.

    Kemampuan mengomunikasikan ide matematika akan membantu siswa membangun pemahaman yang lebih mendalam dan tahan lama. Selain itu, keterampilan ini juga bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan nyata di luar kelas.

    BalasHapus
  74. Pemanfaatan hasil penilaian untuk mengidentifikasi kesalahpahaman siswa merupakan langkah strategis dalam pembelajaran. Guru dapat mengelompokkan siswa secara tepat dan memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

    Dengan demikian, penilaian tidak berhenti pada angka, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan pedagogis.

    BalasHapus
  75. Artikel ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas mengenai tujuan penilaian kepada orang tua. Ketika orang tua memahami bahwa proses belajar lebih penting daripada sekadar nilai, dukungan terhadap anak akan menjadi lebih positif. Hal ini menciptakan ekosistem pembelajaran yang saling mendukung dan berorientasi pada perkembangan jangka panjang siswa.

    BalasHapus
  76. Setuju sekali, Pak. Menjadi efisien dan produktif bukan berarti kita harus bekerja tanpa henti, melainkan tentang bagaimana kita cerdas dalam mengelola waktu dan energi. Tips yang dibagikan dalam artikel ini sangat praktis, terutama dalam menetapkan skala prioritas agar pekerjaan tidak terasa menumpuk dan melelahkan.

    BalasHapus
  77. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi yaa, Pak. Menurut saya, materi di atas sangat kuat ketika membahas jenis tugas yang diberikan kepada siswa. Selama ini soal pilihan ganda memang terasa praktis, tapi sering menutup kesempatan siswa menunjukkan cara berpikir mereka. Kutipan dari Marilyn Burns terasa relevan, karena benar sekali bahwa jawaban benar belum tentu berarti paham. Dengan memberi ruang pada siswa untuk menjelaskan ide dan strategi mereka, guru bisa lebih akurat melihat kebutuhan belajar siswa dan merancang tindak lanjut yang tepat.

    BalasHapus
  78. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin memberikan saran dari saya, Pak. Pendekatan penggunaan sedikit pertanyaan kunci namun bermakna terasa sangat realistis untuk diterapkan. Fokus pada dua atau tiga soal penting justru membantu guru dan siswa sama-sama memahami tujuan pembelajaran. Langkah-langkah seperti menyediakan daftar periksa dan mengidentifikasi kesalahpahaman umum menurut saya bisa membangun kebiasaan berpikir mendalam pada siswa secara bertahap. Ini juga membantu siswa tidak merasa “tersesat” saat mengerjakan tugas, karena ekspektasi sudah jelas sejak awal.

    BalasHapus
  79. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Kalau boleh curhat sedikit, Pak. Sebagai calon pendidik saya sering membayangkan betapa melelahkannya menilai banyak tugas tanpa benar-benar mendapatkan gambaran utuh tentang pemahaman siswa. Materi ini memberi harapan bahwa dengan menilai lebih sedikit tetapi lebih fokus pada proses, guru justru bisa bekerja lebih efektif. Selain menghemat waktu, hubungan antara guru, siswa, dan orang tua juga bisa menjadi lebih sehat karena komunikasi yang dibangun tidak hanya soal nilai, tetapi tentang perkembangan belajar yang nyata dan berkelanjutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Hallo kak ninda, saya sepakat dengan yang disampaikan kakak. Realitanya, menilai terlalu banyak tugas justru bisa membuat guru lelah, tapi belum tentu benar-benar memahami cara berpikir siswa. Dari materi ini saya belajar bahwa menilai lebih sedikit tapi lebih bermakna justru membantu guru melihat pemahaman siswa secara utuh, bukan hanya dari angka.

      Nah fokus pada proses membuat guru bisa tahu di mana siswa mulai bingung, bagaimana cara mereka mencoba menyelesaikan masalah, dan apa yang sebenarnya perlu dibantu.

      Dampaknya bukan cuma ke efektivitas kerja guru, tapi juga ke hubungan yang lebih sehat antara guru, siswa, dan orang tua, karena yang dibicarakan bukan sekadar nilai, melainkan perkembangan belajar anak yang nyata.

      Semoga tanggapan saya bermanfaat ya kak

      Hapus
  80. Nama Hanifah
    Kelas 5C
    NPM 2386206073

    Materi ini membuka wawasan bahwa efisiensi dan produktivitas harus seimbang. Jika hanya mengejar efisiensi, kita bisa kehilangan makna pekerjaan. Dan jika hanya mengejar produktivitas, kita bisa kelelahan. Materi ini mengingatkan bahwa keduanya saling melengkapi, efisiensi membuat proses lebih ringan dan produktivitas memastikan hasilnya bernilai. Menurut saya, ini adalah pesa. penting agar kita tidak sekedar bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas.

    BalasHapus
  81. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Terimakasih atas materinya pak, dari sini saya bisa belajar. ternyata daripada ngasih banyak latihan soal buat membangun stamina ujian. mending kasih masalah yang mendalam supaya staminanya terbentuk lewat berpikir kritis. kemudian cara ini juga dapat membuat komunikasi antara guru, murid, dan orang tua jadi lebih nyambung karena adanya progres yang terlihat dengan jelas.

    BalasHapus
  82. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya saya setuju bahwa penilaian seharusnya tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa nilai tetapi lebih pada proses belajar siswa dari materi di atas terlihat bahwa terlalu banyak penilaian justru membuat guru kewalahan dan siswa tertekan dengan menilai proses berpikir siswa guru dapat memahami bagaimana cara siswa belajar dan membantu mereka berkembang secara bertahap.

    BalasHapus
  83. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya saya setuju bahwa jumlah tugas yang diberikan kepada siswa perlu dipertimbangkan dengan matang karena memberikan terlalu banyak tugas hanya demi nilai bisa membuat siswa kehilangan makna dalam belajar. Lebih baik guru memilih tugas yang benar-benar penting dan sesuai tujuan pembelajaran agar siswa tidak hanya mengejar jawaban benar tetapi juga memahami konsep yang dipelajari.

    BalasHapus
  84. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya saya setuju bahwa soal pilihan ganda memiliki keterbatasan dalam melihat pemahaman siswa dari materi ini saya memahami bahwa siswa perlu diberi kesempatan untuk menjelaskan cara berpikir mereka baik secara lisan maupun tulisan dengan begitu guru dapat mengetahui apakah siswa benar-benar paham atau hanya menebak jawaban.

    BalasHapus
  85. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas: 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya saya setuju bahwa pekerjaan yang dinilai dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mendukung pembelajaran kelompok kecil dengan melihat kesalahan dan kesalahpahaman siswa guru dapat memberikan bimbingan yang lebih tepat sasaran cara ini juga membantu guru menghemat waktu dan membuat pembelajaran menjadi lebih terarah dan efektif

    BalasHapus
  86. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB Pgsd
    Npm : 2386206035

    Di bagian parameter penilaian ini menurust saya penjelasanya menekankan kalau penilaian yang efektif tidak harus banyak tetapi tepat dan terstruktur, menurt saya penialain ini dibuat supaya lebih fokus, adil dan benar-benar membantu siswa belajar. Dengan cukup 2–3 pertanyaan penting dari materi yang sudah diajarkan, ditambah panduan yang jelas, siswa jadi bisa menunjukkan cara berpikirnya tanpa bingung. Hasil penilaianya juga ngga berhenti hanya di angka, tapi dipakai guru untuk melihat kesalahan yang sering terjadi dan menindaklanjutinya lewat bimbingan kelompok kecil. Keterampilan yang rumit pun dilatih bertahap, jadi siswa lebih siap dan percaya diri. Dari sudut pandang saya , ini menunjukkan bahwa penilaian seharusnya jadi bagian dari proses belajar, bukan cuma penentu nilai akhir.

    BalasHapus
  87. Artikel ini real banget sih pak, karena jujur yang saya lihat selama ini banyak guru yang ngerasa burned out gara-gara terjebak rutinitas administrasi penilaian yang tumpuk-tumpuk, padahal intinya kan guru tu pengen fokus nemenin siswa buat bener-bener paham sama materinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206090

      Saya setuju dengan pendapatmu Elsiana . Memang kenyataannya banyak guru yang merasa lelah karena beban administrasi penilaian yang menumpuk. Padahal peran utama guru adalah mendampingi siswa agar benar-benar memahami materi. Dengan sistem penilaian yang lebih sederhana dan bermakna, guru bisa lebih fokus pada proses belajar siswa.

      Hapus
  88. Point tentang refleksi mandiri itu menurut saya top tier banget sih, karena selain ngebantu guru buat hemat waktu, cara ini juga bikin siswa jadi lebih punya ownership dan nggak cuma nungguin dikasih nilai rendah cuma gara-gara satu soal yang nggak terjawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Setuju banget dengan kak elsiana nie👍 di poin refleksi mandiri ini memang penting. Selain bikin guru lebih hemat waktu, siswa juga jadi lebih sadar sama proses belajarnya sendiri. Mereka nggak cuma nunggu nilai, tapi diajak mikir: bagian mana yang sudah paham dan mana yang masih perlu diperbaiki.

      Aku kepikiran kalo buat refleksi sederhana seperti menuliskan “bagian yang sudah dipahami” dan “bagian yang masih bingung” juga bisa jadi jembatan komunikasi antara guru dan siswa. Dari situ guru bisa tahu kebutuhan siswa tanpa harus selalu nambah banyak tugas atau tes. Jadi penilaian bukan cuma soal angka, tapi benar-benar jadi alat belajar.

      Semoga tanggapan saya bermanfaat ya kak

      Hapus
    2. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206099

      Ijin Menanggapi , menurut saya sistem penilaian sebaiknya dibuat lebih sederhana dan efektif. Dengan begitu, guru bisa lebih fokus pada proses pembelajaran dan membantu siswa berkembang dengan maksimal.

      Hapus
  89. Artikel ini ngasih vibes positif banget buat dunia pendidikan, soalnya kita emang butuh cara yang lebih efisien dan produktif biar pengajaran matematika nggak kerasa kayak beban horor, tapi jadi proses yang bener-bener bermanfaat buat semua orang,saya bakal terapin sih ketika saya nanti sudah menjadi guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Wahhh Elsiana semangat kamu untuk mau menerapkan pendekatan ini nanti saat akan jadi guru itu baik sekali karena memang artikel ini menunjukkan bahwa dengan sedikit penyesuaian pada cara kita menilai siswa, seperti fokus ke kualitas pertanyaan bukan kuantitas, menghargai proses berpikir siswa dan memanfaatkan hasil penilaian untuk berbagai tujuan sekaligus, kita bisa menciptakan pembelajaran matematika yang tidak lagi terasa seperti beban horor penuh tumpukan tugas dan nilai yang membuat stres, tapi menjadi proses yang lebih bermakna, lebih efisien untuk guru dan yang paling penting bisa membantu siswa berkembang jadi pembelajar yang kritis, mandiri, dan siap menghadapi masa depan dengan kemampuan berpikir yang lebih tajam.

      Hapus
  90. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya pak, bagaimana caranya menjelaskan ke orang tua murid kalau nilai itu bukan hanya soal angka benar atau salah saja. tetapi soal bagaimana proses anak itu dalam berpikir?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Hallo kak selma, kayaknya saya memang ditakdirkan selalu menanggapi komen kakak ya😭
      Izin menanggapi lebih dulu ya bapak pertanyaan dari kak selma, ini versi saya hehe

      Kalo menurut saya, cara menjelaskan ke orang tua bahwa nilai tidak hanya soal angka benar atau salah bisa dimulai dari mengubah fokus pembicaraan. Soalnya saya sering melihat guru-guru saya saat SMA setiap ada acara, ujian, dan pembagian rapot pasti didiskusikan dengan orang tua/wali murid entah offline/dari WA grup khusus

      Jadi kak menurut saya, orang tua perlu diajak memahami bahwa angka hanyalah ringkasan, sedangkan yang lebih penting adalah proses berpikir anak. Misalnya, guru bisa menjelaskan bahwa dari langkah-langkah pengerjaan, guru bisa melihat apakah anak sudah paham konsep, masih ragu, atau keliru di bagian tertentu. Jadi meskipun hasil akhirnya belum tepat, prosesnya menunjukkan perkembangan berpikir anaknya.

      Intinya komunikasikan dengan baik dan kalo ada bukti boleh di kasih liat, makanya setiap proses pembelajaran kita juga harus menilai mana siswa yang aktif dan mana yang banyak mainnya dan lain-lain lah kak.
      Kayak kata dosen ku tu setiap pembelajaran kita harus sediakan buku kecil untuk menilai siswa disetiap proses pembelajaran berlangsung.

      Semoga bermanfaat kak

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab ya selma, menurut saya, Untuk memberikan pemahaman kepada orang tua, kita bisa menyampaikan bahwa nilai matematika saat ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari ketangguhan anak dalam berpikir. Jelaskan secara perlahan bahwa jika anak hanya tau jawaban benar tanpa paham prosesnya, mereka akan kesulitan saat menghadapi masalah hidup yang lebih rumit di masa depan. Kita perlu menekankan bahwa proses berpikir adalah investasi jangka panjang, di mana kemampuan anak menjelaskan "bagaimana" mereka menemukan jawaban adalah bukti bahwa logika mereka telah terbentuk dengan kuat.

      Hapus
    3. Sampaikan juga bahwa skor yang tinggi namun hasil dari menghafal atau menebak bersifat semu, sedangkan pemahaman mendalam terhadap konsep akan membuat anak menjadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah menyerah saat menemui kesulitan. Dengan menunjukkan contoh pekerjaan anak yang memiliki penjelasan langkah demi langkah yang rapi, orang tua dapat melihat bahwa "corat-coret" proses tersebut adalah prestasi nyata yang menunjukkan anak mereka benar-benar sedang belajar, bukan sekadar memindahkan angka.

      Hapus
  91. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya lagi pak, bagaimana caranya melatih anak agar mereka tidak cuma ingin mendapat centang benar saja. tetapi juga berani bercerita atau menulis bagaimana cara mereka menemukan jawaban tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Hallo kak selma, jangan bosan² ya membaca jawaban saya hehe, izin menanggapi lebih dulu ya bapak untuk pertanyaan kaka selma,

      Kalo menurut saya kak, anak bisa dilatih agar tidak hanya mengejar centang benar dengan "membiasakan proses berpikir lebih dihargai daripada hasil akhir".

      Jadi guru bisa memberi pertanyaan lanjutan saat anak selesai mengerjakan seperti “kenapa bisa dapat jawaban ini?” atau “langkah apa yang kamu lakukan dulu?” sehingga anak terbiasa bercerita dan menuliskan cara berpikirnya.

      Oh iya kak sebelum anak menjawab soal, diberi intruksi atau arahan buat mereka menuliskan langkah-langkah dalam pengerjaan, atau mungkin minta mereka menuliskan alasan hasil jawaban tersebut.

      Semoga bermanfaat ya kak

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab ya selma, menurut saya sering-seringlah bertanya "Bagaimana cara kamu menemukannya?" daripada "Apa jawabannya?". Berikan apresiasi lebih pada corat-coret atau penjelasan langkah kerja mereka, meskipun hasilnya salah. Gunakan teknik Think Aloud(menyuarakan pikiran Anda sendiri sebagai contoh) agar anak terbiasa bahwa bercerita tentang angka itu menyenangkan dan keren.

      Hapus
  92. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5 B

    Kembali lagi laman ini, dari materi ini, hal lain yang penting untuk dibahas menurut saya adalah tujuan penilaian dalam pembelajaran. Penilaian seharusnya membantu guru memahami perkembangan siswa, bukan hanya menjadi alat untuk menentukan lulus atau tidak. Ketika penilaian dilakukan dengan tujuan yang jelas, proses belajar bisa lebih terarah dan tidak membingungkan siswa.
    Materi ini jua menekankan bahwa siswa perlu diberi ruang untuk mengomunikasikan pemikirannya. Artinya, siswa tidak hanya diminta menjawab, tetapi juga diberi kesempatan menjelaskan alasan dan cara mereka berpikir. Dengan cara ini, guru bisa melihat kemampuan siswa secara lebih utuh, bukan hanya dari hasil akhir yang terlihat di kertas.

    BalasHapus
  93. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5 B

    Kalau dikaitkan dengan materi di laman ini, saya jadi teringat dengan pembahasan bapak dikelas kami, tentang penilaian dalam matematika. Waktu itu disampaikan bahwa dalam menilai matematika, guru sebaiknya nggk melibatkan perasaan. Penilaian harus objektif, berdasarkan logika, proses, dan hasil kerja siswa, bukan karena kasihan, suka atau faktor pribadi lainnya.

    Mungkin karena itu, setiap kali bapak memberikan tugas seperti UTS atau UAS, kami selalu diminta untuk menuliskan coretan dan langkah-langkah pengerjaan secara lengkap. Nggk cukup hanya menuliskan jawaban akhir, tetapi jua harus ada bagian diketahui, ditanya, dan jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa yang dinilai bukan hanya benar atau salahnya hasil, tetapi juga cara berpikir dan proses penyelesaiannya.
    Betul seperti itu bapak heheh

    BalasHapus
  94. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Materi ini menekankan pada pertimbangan jumlah pekerjaan agar tidak berlebihan, memilih jenis tugas yang mengukur proses berpikir (bukan hanya jawaban benar), menggunakan parameter penilaian efektif seperti pertanyaan terfokus dan panduan jelas, serta memanfaatkan pekerjaan sebagai alat penilaian untuk memperbaiki pembelajaran—semua ini membantu membuat penilaian lebih bermakna, mendukung keterampilan berpikir kritis siswa, dan mengurangi beban guru. Sangat praktis untuk diterapkan di kela.

    BalasHapus
  95. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, artikel ini menjelaskan dengan jelas bahwa penilaian matematika tidak harus selalu banyak jumlah soalnya. Yang terpenting adalah kualitas soal yang benar-benar dapat menunjukkan cara berpikir dan pemahaman siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206090


      Saya setuju dengan pendapatmu Leoni. Penilaian matematika memang tidak harus dilihat dari banyaknya soal, tetapi dari kualitas soal itu sendiri. Soal yang baik dapat membantu guru melihat cara berpikir dan tingkat pemahaman siswa secara lebih mendalam.

      Hapus
  96. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, memberikan terlalu banyak tugas justru bisa membuat siswa kelelahan dan guru kewalahan. Dengan memilih soal yang penting dan bermakna, penilaian menjadi lebih efisien dan tetap bermanfaat bagi proses belajar siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5 D PGSD
      Npm: 2386206090


      Ijin Menanggapi pendatmu benar bahwa terlalu banyak tugas dapat membuat siswa dan guru kelelahan. Dengan memilih soal yang penting dan bermakna, penilaian menjadi lebih efisien dan tetap mendukung proses belajar siswa.

      Hapus
  97. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Materi ini menyentil realitas guru matematika yang sering kewalahan dengan penilaian, lalu menawarkan solusi yang masuk akal dan bisa langsung dicoba. Penekanannya pada kualitas tugas dan proses berpikir siswa terasa sangat relevan, karena membantu guru melihat pemahaman sebenarnya, bukan sekadar benar atau salah. Gagasan menilai lebih sedikit soal tapi lebih bermakna juga menunjukkan bahwa efisiensi tidak harus mengorbankan kualitas pembelajaran. Bacaan ini memberi sudut pandang segar bahwa penilaian bisa menjadi alat belajar yang kuat, bukan beban bagi guru maupun siswa.

    BalasHapus
  98. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Dalam sebuah penilaian guru selalu memberikan penilaian yang bagus kepada siswa jadi siswa merasa semangat untuk belajar lebih giat di sini guru juga memberi motivasi dan stimulus terhadap siswa tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat pemberian nilai ada argumentasi untuk melihat kemampuan berpikir siswa tersebut dalam mengerjakan soal tersebut jadi selalu memberi nilai yang adil kepada siswa.

      Hapus
    2. Dalam pembelajaran matematika guru memberi contoh dan cara pengerjaan soal tersebut jadi guru memberi kan berapa soal untuk siswa mengerjakan soal tersebut jadi guru dapat menilai mereka dalam pembelajaran matematika.

      Hapus
    3. Jadi penilaian secara efektif dan efesien sangat membantu bagi guru untuk memberi sebuah nilai kepada siswa di setiap matapelajaran tersebut jadi guru dapat menilai kemampuan mereka berdasarkan kemampuan mereka sendiri.

      Hapus
  99. Guru memberi penilaian secara adil kepada siswa kenapa supaya siswa tidak merasa takut saat melihat nilai tersebut jadi guru melakukan secara efesien dan efektif jadi guru bukan sekedar memberi nilai cuma tapi juga adil saat pemberian nilai.

    BalasHapus
  100. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Insight bagus sekali ni untuk bahan renungan. karena kita sering mendapatkan tekanan dari orang tua yang ingin anaknya mendapatkan nilai yang besar. padahal yang lebih mahal itu proses berpikir kritis dan komunikasinya. kalau hanya ingin hasil yang benar menggunakan kalkulator juga selesai. pelan-pelan memang harus dirubah mindset yang penting jawaban benar ini menjadi yang penting paham prosesnya.

    BalasHapus
  101. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Materi ini solusinya untuk yang sering merasakan keteteran koreksi tugas yang menumpuk. ternyata kuncinya bukan di banyaknya soal, tapi di kualitas pertanyaan. poin nomor 4 soal identifikasi salah paham itu penting sekali, agar kita bisa langsung fokus membantu siswa yang memang membutuhkan bimbingan dibagian yang susah saja. hemat waktu, lebih efektif juga.

    BalasHapus
  102. Izin menanggapi pak Materi Efisien dan Produktif untuk Melakukan Penilaian Matematika menyajikan refleksi yang sangat relevan dengan realitas guru sekolah dasar, khususnya dalam menghadapi kompleksitas penilaian. Penulis dengan tepat menyoroti dilema guru antara tuntutan administrasi, ekspektasi orang tua, dan tujuan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.Kekuatan utama materi ini terletak pada penekanannya bahwa penilaian tidak seharusnya berfokus semata pada jawaban benar atau salah, melainkan pada proses berpikir siswa. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika di SD, yaitu membentuk siswa yang mampu bernalar, mengomunikasikan ide, dan memecahkan masalah secara sistematis.

    BalasHapus
  103. Nama : Miftahul Hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    saya penasaran… artikel ini juga menyarankan agar hasil penilaian digunakan sebagai dasar bimbingan kelompok kecil dan memperbaiki pembelajaran berikutnya, sehingga tugas berfungsi ganda sebagai alat mengajar. Namun di praktik nyata seringkali guru merasa terjebak memberi banyak tugas karena tuntutan nilai orang tua atau kurikulum. Menurut Bapak, bagaimana cara menyelaraskan penilaian bermakna dan tuntutan administratif tanpa membuat beban kerja guru dan siswa menjadi terlalu berat?

    BalasHapus
  104. nama : Miftahul Hasanah
    kelas: 5C
    npm : 2386206040

    saya setuju bahwa guru perlu memilah tugas mana yang benar-benar penting sebelum menetapkan penilaian, supaya tidak membebani siswa terus-menerus. Tapi kalau sekolah punya banyak kurikulum dan target, kadang sulit memilih hanya 2–3 soal penting saja. Menurut Bapak, bagaimana cara memprioritaskan “yang penting” tanpa mengabaikan kebutuhan evaluasi yang menyeluruh — supaya penilaian tetap adil dan bermakna?

    BalasHapus
  105. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    npm:2386206065
    menurut saya pak artikel ini menyarankan supaya penilaian fokus pada kemampuan siswa dalam berpikir & menjelaskan — bukan hanya jawaban benar/salah. Tapi apakah ini realistis di kelas besar, dengan jumlah siswa banyak dan jam pelajaran terbatas? Gimana caranya supaya guru tetap bisa memberi umpan balik mendalam tanpa kelelahan atau terburu-buru?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Izin menjawab pertanyaan dari Erfina, menurut saya justru artikel ini menawarkan solusi yang realistis untuk kelas besar karena dengan hanya memberikan 2-3 soal penting yang dilengkapi daftar periksa atau panduan jelas siswa sudah terlatih untuk menyusun dan menunjukkan proses berpikirnya secara terstruktur sehingga guru tidak perlu menganalisis terlalu dalam satu per satu, lalu dari hasil pekerjaan tersebut guru bisa mengidentifikasi pola kesalahpahaman yang sama dan mengelompokkan siswa untuk diberi umpan balik secara berkelompok kecil bukan individual, jadi umpan balik mendalam tetap bisa diberikan tanpa harus kelelahan karena guru sebenarnya menilai lebih sedikit soal tapi lebih berkualitas dan cara ini justru menghemat waktu dibanding harus mengoreksi 20-30 soal pilihan ganda yang bahkan tidak memberikan informasi apapun tentang cara berpikir siswa.

      Semoga membantu

      Hapus
  106. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    npm:2386206065
    penilaian matematika sebaiknya dibuat efisien dan produktif dengan fokus pada tugas yang penting, penggunaan sedikit pertanyaan bermakna, rubrik jelas, dan pekerjaan yang membantu siswa menunjukkan proses berpikir mereka, bukan sekadar jawaban benar. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif agar guru bisa menilai dengan cara seperti ini secara rutin di kelas tanpa membuat siswa kewalahan dan guru kehabisan waktu?

    BalasHapus
  107. Nama : Miftahul Hasanah
    kelas : 5C

    Materi ini menekankan bahwa penilaian matematika perlu dirancang agar efisien dan produktif, misalnya melalui pertanyaan bermakna, rubrik yang jelas, serta tugas yang bisa menunjukkan proses berpikir siswa, bukan hanya jawaban akhir strategi apa yang paling efektif agar penilaian semacam ini bisa diterapkan secara rutin di kelas tanpa membuat siswa kewalahan dan guru kehilangan waktu pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama:erfina feren heldiana
      kelas:5c
      npm:2386206065
      Hallo miftah saya izin memnanggapin ya, menurut saya biar penilaian kayak gini bisa jalan rutin tanpa ribet, strateginya dibikin simpel dan nyatu sama kegiatan belajar.
      Guru bisa pakai pertanyaan bermakna tapi singkat, rubrik sederhana, dan tugas kecil yang nunjukin cara mikir siswa, nggak perlu panjang. Jadi siswa nggak keteteran, guru juga nggak habis waktu, tapi tetap dapet gambaran proses berpikir anak.trimakasih

      Hapus
  108. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    penilaian digunakan sebagai umpan balik untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya, misalnya melalui bimbingan kelompok kecil. Namun di praktik nyata seringkali guru tetap terjebak pada penilaian kuantitatif atau banyaknya tugas. Menurut Bapak, bagaimana cara menyeimbangkan antara strategi penilaian bermakna dan tuntutan administrasi sekolah tanpa membebani guru dan siswa?

    BalasHapus
  109. Nama: Dominika Dew Daleq
    Npm: 2386206051
    Kelas: V.A


    Menurut saya, materi ini sangat menarik karena memberikan perspektif baru tentang penilaian matematika yang selama ini mungkin kita anggap sudah baku dan susah diubah padahal ternyata ada cara yang jauh lebih efisien dan bermakna yaitu dengan fokus ke kualitas bukan kuantitas penilaian dimana guru cukup memberikan 2-3 soal penting yang bisa mengungkap proses berpikir siswa daripada puluhan soal yang justru tidak memberikan informasi mendalam tentang pemahaman mereka dan saya suka bagaimana materi ini juga menekankan pentingnya komunikasi dengan orang tua agar mereka tidak hanya fokus pada angka nilai tapi juga pada perkembangan kemampuan berpikir anak mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Tambahan sedikit untuk memperkuat poin di materi ini, saya rasa bagian tentang kutipan Marilyn Burns yang mengatakan "Jawaban yang benar bisa menyembunyikan kebingungan, seperti halnya jawaban yang salah bisa menyembunyikan pemahaman" itu benar-benar membuka mata kita bahwa sistem penilaian konvensional dengan soal pilihan ganda atau hanya fokus pada jawaban akhir itu sebenarnya tidak cukup untuk menilai pemahaman siswa secara akurat dan dengan menggunakan daftar periksa serta pengelompokan siswa berdasarkan kesalahpahaman yang sama, guru bisa lebih tepat sasaran dalam memberikan bimbingan tanpa harus kelelahan menganalisis satu per satu.

      Dan yang saya tanyakan Pak, bagaimana cara paling efektif untuk melatih siswa kelas rendah yang mungkin masih kesulitan dalam mengkomunikasikan atau menuliskan proses berpikir mereka secara terstruktur, apakah ada strategi khusus atau tahapan bertahap yang bisa diterapkan agar mereka terbiasa dengan sistem penilaian yang mengutamakan penjelasan proses ini?

      Hapus
  110. Nama : Reslinda
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206067

    Setuju banget sama poin bahwa fokus pada prioritas itu kunci produktivitas. Saya sepakat kalau kita nggak perlu melakukan semuanya sekaligus (multitasking) karena itu justru bikin otak cepat lelah dan hasilnya nggak maksimal. Dengan menentukan skala prioritas, kita jadi punya kontrol lebih besar terhadap waktu kita sendiri. Produktivitas yang sesungguhnya emang bukan soal seberapa banyak yang dikerjakan, tapi seberapa berkualitas dampak dari apa yang kita kerjakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Desy Olivia Sapitri
      Kelas / Npm : 5D / 2386206087

      Hai kak Reslinda, izin ya 🙏🏻
      Pendapat yang kamu sampaikan sangat relevan karena menyorot aspek kesehatan mental dan kualitas kerja. Benar bahwa terjebak dalam jebakan multitasking hanya akan memberikan ilusi kemajuan, padahal yang terjadi adalah pemborosan energi mental. Dengan memahami skala prioritas, seorang pendidik bisa beralih dari sekadar "sibuk" menjadi "berdampak", di mana energi difokuskan pada kegiatan yang benar-benar meningkatkan pemahaman siswa.. 😀

      Hapus
  111. Nama : Reslinda
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206067

    Sangat menarik menyimak bahasan mengenai cara melakukan sesuatu dengan benar. Seringkali kita hanya fokus pada kuantitas tugas yang selesai, tanpa memikirkan apakah cara yang kita gunakan sudah paling efisien. Artikel ini berhasil membedah secara mendalam bahwa strategi yang tepat jauh lebih mahal harganya daripada sekadar bekerja keras.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Reslinda
      Kelas : 5C
      Npm : 2386206067

      Saya sangat sependapat dengan argumen Bapak mengenai pentingnya orientasi pada hasil tanpa mengabaikan kualitas proses. Saya sepakat bahwa produktivitas yang sesungguhnya adalah saat kita mampu memaksimalkan sumber daya yang terbatas untuk mencapai dampak yang besar. Poin mengenai manajemen prioritas yang Bapak sampaikan adalah solusi nyata agar kita tidak kehilangan arah di tengah banyaknya tuntutan pekerjaan. Ini adalah perspektif yang sangat krusial bagi siapa pun yang ingin berkembang di era digital ini.

      Hapus
    2. Nama : Reslinda
      Kelas : 5C
      Npm : 2386206067

      Izin bertanya lebih lanjut, Pak. Dalam artikel disebutkan bahwa efisiensi sangat bergantung pada strategi yang kita ambil. Menurut Bapak, bagaimana cara terbaik untuk melatih insting agar kita bisa cepat menentukan strategi mana yang paling tepat ketika dihadapkan pada masalah yang benar-benar baru?

      Hapus
  112. Nama : Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C Pgsd
    Npm : 2386206082

    izin menanggapi pak,Materi ini menjelaskan pentingnya bekerja atau belajar secara efisien dan produktif agar waktu tidak terbuang sia-sia. Menurut saya, tips yang disampaikan cukup mudah diterapkan, terutama dalam mengatur waktu dan menentukan prioritas. Jika dilakukan secara konsisten, cara ini bisa membantu kita menyelesaikan tugas lebih cepat dan tidak merasa terburu-buru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Yormatiana Datu Limbong
      Kelas : 5C Pgsd
      Npm : 2386206082

      Saya ingin bertanya pak, bagaimana cara menjaga fokus ketika jadwal sudah dibuat tetapi masih sering terganggu oleh hal lain?

      Hapus
    2. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Izin menjawab pertanyaan dari yormaa, Sebagai mahasiswa yang juga sering berantem sama jadwal sendiri, saya paham banget rasanya. Sudah bikin jadwal rapi, eh tiba-tiba ada gangguan atau malah mood yang berantakan. Berdasarkan teori beban kognitif yang kita sudah bacaa di atas, fokus itu bukan soal kemauan keras saja, tapi soal cara kita mengelola Central Executive si manajer perhatiandi otak kita. Janjikan pada diri sendiri untuk mengerjakan tugas itu cuma 5 menit. Setelah 5 menit, Anda boleh berhenti. Biasanya, setelah mesin otak panas, beban kognitif untuk lanjut jadi lebih ringan dan Anda bakal keterusan fokus.

      Hapus
  113. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: VC
    Soal yang dikit tapi mendalam itu ngasih ruang buat memori kerja siswa untuk fokus ke problem solving, bukan cuma ngebut ngejar setoran jawaban yang malah bikin otak mereka burnout, Baca deh Kutipan Marilyn Burns itu juara sih Jawaban benar sering kali cuma keberuntungan atau hasil hafal mati tanpa skema denganfokus ke cara siswa mengomunikasikan pikiran, guru sebenernya lagi ngebedah proses produksi di otak siswa. Ini kunci buat nemuin di mana kabel pemahaman mereka yang korslet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Stevani
      NPM: 2386206045
      Kelas: VC
      Saya punya pertanyaan, Gimana cara paling taktis buat guru dalam mengedukasi orang tua yang sudah terlanjur punya skema bahwa makin banyak tugas dan nilai 100 di pilihan ganda adalah standar kesuksesan, supaya mereka bisa beralih mendukung penilaian berbasis proses yang kelihatannya sedikit tapi secara kognitif jauh lebih berat??

      Hapus
  114. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    Efektivitas pembelajaran matematika tidak ditentukan oleh banyaknya soal yang dikerjakan siswa, melainkan oleh kedalaman pemikiran dan proses pemecahan masalah yang mereka lalui. Dengan beralih dari penilaian kuantitas (pilihan ganda/tugas menumpuk) ke penilaian kualitas (proses berpikir/komunikasi ide), guru dapat bekerja lebih efisien sekaligus membantu siswa membangun ketahanan belajar yang lebih kuat. Pendekatan ini mengubah nilai dari sekadar angka menjadi data bermakna untuk membimbing siswa secara lebih personal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin bertanya pak, Dari berbagai poin di atas, menurut bapak bagian mana yang paling menantang untuk diterapkan di sekolah saat ini mengubah ekspektasi orang tua tentang jumlah tugas, atau melatih siswa agar mau mengungkapkan proses berpikir mereka secara tertulis?

      Hapus
  115. Nama : Desy Olivia Sapitri
    Kelas / Npm : 5D / 2386206087

    Izin pak, terimakasih atas materi yang disampaikan 🙏🏻
    Pada materi ini memberikan perspektif yang sangat menyegarkan bagi guru, terutama dalam mata pelajaran Matematika yang seringkali terjebak pada hasil akhir. Inti dari materi ini adalah kualitas lebih penting daripada kuantitas. Daripada memberikan puluhan soal yang hanya melatih kecepatan menghitung, guru lebih disarankan memberikan sedikit soal (dua atau tiga saja) namun yang mampu menggali kedalaman berpikir dan logika siswa.. 👍🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menambahkan pak 🙏🏻
      Kutipan dari Marilyn Burns bahwa "jawaban benar bisa menyembunyikan kebingungan." Ini mengingatkan kita bahwa siswa yang bisa menjawab benar belum tentu paham konsepnya; bisa jadi mereka hanya hafal rumus atau sekadar menebak. Dengan beralih ke soal uraian yang meminta siswa menjelaskan prosesnya, guru dapat melihat "peta pikiran" siswa secara utuh. Ini jauh lebih efisien karena data dari pekerjaan tersebut bisa langsung digunakan untuk memetakan kelompok bimbingan kecil tanpa perlu mengadakan tes tambahan lagi.. ☺️

      Hapus
  116. Izin bertanya pak, terkait pada materi diatas 🙏🏻
    Dalam materi disebutkan bahwa "jawaban benar bisa menyembunyikan kebingungan", jadi strategi apa yang paling efektif untuk mengungkap proses berpikir siswa selain menggunakan soal uraian? 🙏🏻

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak