Hal menarik yang ditulis oleh Eva Thanheiser (2023) bahwa :
Matematika sering digambarkan sebagai "ilmu pola", "aktivitas intelektual yang membutuhkan intuisi danimajinasi dalam memperoleh "bukti" dan mencapai kesimpulan". Matematika autentik dipandang sebagai magangdalam disiplin matematika. Pembenaran dan generalisasi sering kali dipandang sebagai tujuan akhir yang ingin dicapai di kelas dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Tujuan-tujuan ini dicapai dengan mengeksplorasi berbagai topik termasuk "sekumpulan pengetahuan yang berkaitan dengan angka dan ruang, dan …[meresepkan] serangkaian metode untuk mencapai kesimpulan tentang dunia fisik" atau "ide-ide tersebut berkaitan dengan angka, logika,dan konfigurasi spasial dan, yang sangat penting, kombinasi atau pengorganisasian ide-ide tersebut menjadi sistem dan struktur." (Ascher &D'Ambrosio, 1994).
Matematika sebagai daftar topik dan praktik yang berpuncak pada pembuktian atau pembenaran dan generalisasi diajarkan setiap tahun melalui kurikulum SD-SMA dan juga merupakan bidang studi akademis. National Research Council (NRC) menggambarkan matematika sebagai “salah satu pencapaian besar manusia” (Kilpatrick, Swafford, Findell, & research, 2001, hlm. 1), “begitu banyak menjadi bagian dari kehidupan modern sehingga siapa pun yang ingin menjadi anggota masyarakat yang berpartisipasi penuh harus mengetahui matematika dasar” dan “upaya yang dilakukan selama ribuan tahun oleh setiap peradaban untuk memahami alam dan menertibkan urusan manusia” (Kilpatrick et al., 2001, hlm. 15).
Deskripsi ini secara erat menghubungkan matematika dengan konteks, budaya, dan masyarakat. Lima jalinan yang membentuk keseluruhan kompleks dari kemahiran matematika: pemahaman konseptual—pemahaman konsep, operasi, dan relasi matematika, kelancaran prosedural—keterampilan dalam menjalankan prosedur secara fleksibel, akurat, efisien, dan tepat, kompetensi strategis—kemampuan untuk merumuskan, merepresentasikan, dan memecahkan masalah matematika, penalaran adaptif—kapasitas untuk berpikir logis, refleksi, penjelasan, dan pembenaran, dan disposisi produktif—kecenderungan kebiasaan untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga, disertai dengan keyakinan pada ketekunan dan kemanjuran diri sendiri.
Sebagian besar matematika sekolah dipandang sebagai aturan dan prosedur abstrak. Standar-standar tersebut penuh dengan prosedur tentang cara menghitung sesuatu dan cara memahami perhitungan tersebut secara konseptual. Baik dengan pemahaman konseptual, pemahaman menyeluruh tentang mengapa prosedur tersebut bekerja, atau kefasihan prosedural , mengetahui kapan harus menggunakan aturan yang mana, standar-standar tersebut berfokus pada aturan-aturan abstrak dan kemudian beberapa penerapannya.
Matematika sekolah biasanya masih didefinisikan sebagai serangkaian topik terpisah yang diajarkan dalam perkembangan linier yang pada akhirnya mengarah ke trigonometri ataupun kalkulus. Ini adalah satu-satunya versi matematika yang diketahui kebanyakan orang, dan dengan demikian, kalkulus dipandang sebagai puncak pemahaman matematika.
(Yeh, Tan, & Reinholz, 2021, para Siswa (dalam hal ini calon guru sekolah dasar) sering menggambarkan jenis matematika ini sebagai: membosankan, menakutkan, mencemaskan, tentang menemukan jawaban yang tepat, bahasa yang sama sekali berbeda yang tidak dapat saya pahami, saya pikir saya tidak benar-benar membutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan mata pelajaran yang paling netral secara politik yang diajarkan di sekolah (Thanheiser & Koestler, 2021).
Tujuan yang dipersepsikan dari ‘matematika sekolah’sering kali adalah untuk membuka akses ke topik berikutnya (di kelas matematika), kelas matematika berikutnya, jenjang sekolah berikutnya, dst. Mahir dalam matematika berkenaan dengan definisi matematika ini berarti cepat dan akurat dalam berhitung (Leyva, 2022), seperti menghafal tabel perkalian.
Eva Thanheiser. 2023. What is the Mathematics in Mathematics Education?. Journal of Mathematical Behavior

Nama:Elisnawatie
BalasHapusKelas:VD
NPM:2386206069
Izin bertanya pak
Dizaman sekarang banyak siswa menggambarkan matematika sebagai sesuatu yang membosankan, menakutkan, penuh kecemasan, serta jauh dari kehidupan sehari-hari. Apa penyebab utama munculnya persepsi negatif ini, dan strategi apa yang bisa dilakukan guru agar matematika lebih dipandang sebagai ilmu yang bermakna, menyenangkan, serta relevan dengan kehidupan nyata siswa pak?🙏🏻
Hallo ka Elis saya izin menjawab pertanyaanya ya, menurut saya ada beberapa hal ni kenapa sih peserta didik ini mempunnyai persepsi negatif mulu sama pelajaran matematika ini ,
Hapus1. Pengaruh lingkungan, pengaruh lingkungan yang menjadi kebiasaan menilai pembelajaran matemtika itu susah, menakutkan dll ,akan keterusan sampai penerus generasi kebawah, karena persepsi yang mereka tanamkan kepada generasi kebawah ini berdasarkan pengalaaman dan pemahaman mereka, bukan pengalaman dan pemahaman seseorang yang mempelajari matematika dengan baik.
2. Pengalaman pembelajaran matematika yang membosankan, ini dapat memunculkan persepsi negatif tadi ya karena mereka mikir pelajaran matematika sudah sulit lalu pembelajaran juga yang diterapkan di kelas oleh pendidik sangat monoton.
3. Kurangnya media ajar yang nyata untuk menambah pemahaman siswa, hal ini menurut saya dapat membuat siswa itu bingung dalam menentukan bentuk atau objek yang seharusnya dimengerti karena, media ajar tidak nyata al hasil siswa diminta untuk membayangkan suatu objek atau bentuk yang mereka saja tidak tau bentuk atau objek itu bagaimana.
4. Kurangnya keterkaittan pembelajaran matematika itu dengan kehidupan sehari-hari, hal ini menurut saya juga sangat bisa menjadi persepsi negatif ditimbulkan, karena pasti siswa berikir buat apa saya belajar ini tidak ada guna nya juga dalam kehidupan saya.
lalu srategi yang dapat guru terapkan uuntuk dipandang sebagai ilmu yang menyenangkan,bermakna, dan relevan berdasarkan persepri negatif siswa yang saya sampaikan diatas ialah
1. Ubah pemikiran lingkungan yang selalu menganggap matematika itu sulit, padahal lingkungan itu kurang memahaminya , lalu dimulai dari mana? dari DIRI SENDIRI
2. Catatan penting banget bagi calon pendidik ketika siswa sudah keliahtan bosan pendidik harus punya cara untuk bisa membangkitkan susana agar peserta didik itu semangat lagi dalam menyimak, sesekali juga boleh memberikan pertanyaan pemantik agar mereka tambah semangat memperhatikan supaya bisa menjawab pertanyaan pemantik itu
3. Pendidik harus mempunyai berbagai macam ide agar menciptakan media ajar visual yang membantu siswa cepat memahami materi, lalu pendidik juga bisa mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa agar mereka tertarik mendengarkan dan mengamati karena mempunyai fungsi dalam kehidupan.
semoga bermanfaat...
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut sepengetahuan yang aku tau sih persepsi negatif mengenai matematika itu biasannya bisa muncul karena cara belajarnya itu biasannya terlalu fokus pada sebuah rumus tanpa ada contoh yang nyata, lalu membuat tugas menjadi terasa sulit, dan pengalamana belajar yang mungkin membuat tertekan. Nahh strateginya, mungkin guru itu bisa bisa menggunkan konteks dalam kehidupan sehari-hari, permainan sederhana, proyek kecil, dan juga yang pasti harus mudah untuk dipahami.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, jadi menurut saya, banyak siswa nganggep matematika itu menakutkan karena dari awal belajarnya sering terlalu fokus ke rumus dan jawaban benar salah, jarang dikaitkan sama kehidupan nyata, ditambah cara mengajar yang kaku dan tekanan nilai bikin anak cemas dan takut salah. Supaya matematika lebih bermakna dan menyenangkan, guru bisa mulai dari masalah sehari-hari yang dekat dengan siswa, pakai media konkret atau permainan, kasih ruang buat diskusi dan mencoba tanpa takut salah, serta nunjukin kalau matematika itu dipakai di banyak hal nyata kayak belanja, mengatur waktu, atau main game, jadi anak ngerasa matematika itu berguna dan masuk akal buat hidup mereka.
Nama : Dias Pinasih
HapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menjawab ya Pak 🙏
Menurut saya, penyebab utama munculnya persepsi negatif siswa terhadap matematika itu karena sejak awal matematika sering dikenalkan sebagai pelajaran yang penuh rumus, sulit, dan menakutkan, tanpa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, cara penyampaian yang terlalu fokus pada hasil dan angka, bukan pada proses berpikir, juga membuat siswa merasa tertekan dan cemas saat belajar matematika.
Untuk mengatasi hal tersebut, strategi yang bisa dilakukan guru adalah mengaitkan materi matematika dengan situasi nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti menghitung uang, mengukur benda di sekitar, atau membuat pola dari aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, siswa bisa melihat bahwa matematika itu sebenarnya berguna dan tidak jauh dari kehidupan mereka.
Selain itu, guru juga perlu menciptakan suasana belajar yang lebih santai dan tidak menekan, misalnya memberi kesempatan siswa bertanya tanpa takut salah, menggunakan media atau permainan sederhana, serta memberi apresiasi pada usaha siswa, bukan hanya jawaban benar. Menurut saya, jika siswa sudah merasa nyaman, maka pandangan mereka terhadap matematika perlahan akan berubah menjadi lebih positif dan bermakna.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Menurutku sih, banyak siswa nganggep matematika itu serem dan ngebosenin karena dari awal ketemunya langsung sama rumus, angka, dan soal-soal yang kaku. Belajarnya sering cuma disuruh ikut langkah, hafalin cara, tapi nggak pernah diajak ngerti buat apa sih ini dipelajari. Belum lagi kalau salah jawab langsung dianggap nggak bisa, makin males dan takut duluan.
Biar matematika nggak kelihatan serem, guru bisa bawa ke hal-hal yang deket sama kehidupan anak. Misalnya dari uang jajan, main game, ngukur tinggi badan, atau bagi-bagi makanan. Suasana kelas juga jangan tegang, salah itu wajar. Kalau anak ngerasa aman, bebas nanya, dan ngerti gunanya matematika di hidup sehari-hari, lama-lama mereka bisa mikir, oh ternyata matematika tuh kepake dan nggak sesusah itu.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Elisnawatie saya izin menjawab pertanyaan komentar anda yaa. Menurut saya, banyak anak menganggap matematika itu menakutkan karena terlalu banyak angka dan rumus, lalu cara belajarnya hanya mengerjakan soal di buku. Kalau salah, anak sering dimarahi, jadi makin takut dan cemas. Anak juga jadi bingung karena nggak tahu matematika dipakai untuk apa dalam kehidupan sehari-hari.
Supaya matematika jadi menyenangkan. Menurut saya, guru bisa mengaitkan matematika dengan hal yang dekat dengan anak, kayak menghitung uang jajan, membagi kue, mengukur tinggi badan, atau bermain game berhitung. Guru juga bisa buat permainan, cerita, dan kerja kelompok, jadi belajar nggak terasa kayak beban. Kalau guru sabar dan memberi semangat saat anak salah, anak akan lebih berani mencoba. Kalau matematika dibuat kayak bermain dan berguna untuk kehidupan sehari-hari, anak jadi nggak takut lagi dan bisa bilang, “Oh, ternyata matematika itu seru!” 😊
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Elisnawatie, izin bantu jawab 🙏🏻
Penyebab utama munculnya persepsi negatif terhadap matematika berakar pada cara materi ini disajikan di sekolah yang cenderung kaku dan mekanistis. Berdasarkan materi tersebut, matematika sering kali direduksi menjadi sekadar daftar aturan dan prosedur abstrak yang harus dihafal tanpa pemahaman makna di baliknya. Ketika keberhasilan hanya diukur dari kecepatan dan akurasi dalam berhitung—seperti menghafal tabel perkalian—siswa merasa terjebak dalam aktivitas yang membosankan dan penuh kecemasan. Matematika sekolah akhirnya terlihat seperti bahasa asing yang sulit dipahami dan hanya berfungsi sebagai tiket untuk lulus ke jenjang berikutnya, bukan sebagai alat yang berguna untuk memahami dunia nyata atau memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.. 😃
Nama :Elisnawatie
BalasHapusKelas:VD
NPM:2386206069
Izin bertanya lagi pak
Dari materi di atas sudah di jelaskan Jika matematika dipahami sebagai “ilmu pola” yang erat hubungannya dengan budaya, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari, bagaimana pengalaman belajar matematika di sekolah dapat diubah agar siswa tidak hanya menghafal prosedur, tetapi juga mampu menemukan keterkaitan antara konsep matematika dengan fenomena di sekitar mereka pak?🙏🏻
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
HapusNpm : 2386206058
Kelas : 5B PGSD
Izin menjawab pak pertanyaan dari elisnawatie, menurut saya pembelajaran matematika di sekolah bisa diubah dengan cara mengaitkan konsep-konsep matematika ke situasi nyata di lingkungan siswa. Contohnya, guru bisa menampilkan contoh pola dan perbandingan dalam kebudayaan lokal, kegiatan pasar, atau tata ruang rumah, sehingga siswa menyadari bahwa matematika tidak hanya ada di buku, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, siswa tidak sekadar menghafal rumus, tetapi memahami bagaimana ide matematika membantu mereka membaca dan menata fenomena di sekitar🙏🏻
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut aku sih mungkin pengalaman belajar matematika itu tadi bisa untuk dirubah misalnya dengan guru memberikan tugas yang mengaitkan antara konsep matematika dengan pola dan juga keadaan nyata yang ada di sekitar para siswa, nahh dari situ para siswa itu jadi dapat menemukan sendiri apa makna dari konsep, yaitu yang bukan hanya sekedar hanya menghafal prosedur saja.
Nama: Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, jadi menurut saya pengalaman belajar matematika bisa diubah dengan cara mengajak siswa belajar dari situasi nyata yang mereka temui sehari-hari, misalnya lewat masalah yang diambil dari lingkungan, budaya, kebiasaan masyarakat, atau aktivitas sederhana di rumah, jadi siswa nggak cuma disuruh ngikutin rumus tapi juga mikir kenapa rumus itu bisa dipakai. Dengan diskusi, eksplorasi, dan memberi kesempatan siswa menemukan pola sendiri, mereka jadi lebih paham hubungan antara konsep matematika dan fenomena di sekitar mereka, karena belajar terasa lebih masuk akal, dekat dengan kehidupan, dan bukan sekadar hafalan langkah-langkah.
Nama : Dias Pinasih
HapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menanggapi dan menjawab, Pak.
Menurut saya, agar siswa tidak hanya menghafal prosedur tetapi benar-benar memahami matematika sebagai ilmu pola yang dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari, pengalaman belajar di sekolah memang perlu diubah dari yang terlalu abstrak menjadi lebih kontekstual.
Salah satu caranya adalah dengan mengaitkan konsep matematika dengan fenomena yang sering siswa temui, seperti pola pada batik atau anyaman, perhitungan saat berbelanja, serta pengukuran dalam aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, siswa bisa melihat bahwa matematika tidak berdiri sendiri, tetapi hadir dalam kehidupan mereka.
Selain itu, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep melalui diskusi dan eksplorasi sederhana, bukan hanya menghafal rumus. Menurut saya, ketika pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman nyata, matematika akan terasa lebih bermakna dan mudah dipahami oleh siswa.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Izin menjawab ya. Pengalaman belajar matematika bisa diubah dengan cara ngaitin materi ke hal-hal yang sering siswa temuin sehari-hari. Jadi bukan langsung dikasih rumus, tapi diajak mikir dulu lewat contoh nyata, kayak ngatur uang jajan, ngukur luas lapangan, atau lihat pola di batik dan permainan tradisional. Guru juga bisa sering ngajak diskusi, nanya “kenapa bisa begitu” bukan cuma “hasilnya berapa”. Dengan cara ini, siswa pelan-pelan sadar kalau matematika itu ada di sekitar mereka, bukan cuma buat dihafal, tapi buat dipahami dan dipakai.
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Setelah membaca materi di atas pak, Saya ingin bertanya di dalam materi tersebut ada menuliskan bahwa secarah erat matematika menghubungkann konteks dengan budaya. Yang saya ingin tanyakan pak Bagaimana hubungan antara matematika dan konteks budaya yang dapat mempengaruhi pemahaman pembelajaran matematika di sekolah dasar🙏
Hallo ka Isdiana saya izin menjawab pertanyaanya ya
HapusSeperti yang kita ketahui konteks budaya itu adalah kegiatan yang dilakukan secara berulang dan dilakukan terus-menerus, dan diajarkan kepada anak secara turun-temurun, nah dengan kebiasaan yang sering dilakukan dan terus berulang pastinya ada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan matematika, misalnya dalam konteks budaya permainan tradisional, banyak sekali keterkaitannya dengan matematika, contohnya dalam permainan tradisional kelereng, permainan kelereng ini dapat dimainkan dengan cara anak yang satunya bertaruh dengan sesama temannya menggunakan kelereng, otomatis dalam pertaruhan tersebut atau permainan tersebut membutuhkan perhitungan berapa kelereng yang ditaruhkan untuk dimainkan, nah di sini guru dapat mengaitkan atau menghubungkan konteks budayanya dengan cara mengaitkan permainan tradisional kelereng tadi ke dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar .
Misalnya guru membuat cerita Adi dan Edo bermain kelereng mereka mempertaruhkan masing-masing 5 kelereng ,berapa total kelereng taruhan Adi dan Edo dalam permainan kelereng tersebut?
Ini merupakan salah satu hubungan antara matematika dan konteks budaya yang dapat mempengaruhi pemahaman pembelajaran matematika di kelas, cara ini juga membuat pembelajaran berlangsung hidup karena mengaitkan pengalaman dan budaya siswa.
Sekian semoga bermanfaat Kak..
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Hai Isdi! aku izin mau bantu jawab pertanyaan kamu juga yaa 😃
Aku suka banget nih sama pertanyaan kamu. Aku jadinya cari tau lagi, aku baca-baca lagi, aku jadi banyak tau lagi. Terimakasih sudah bertanya tentang ini yaa!
Aku barusan baca dan searching mengenai pertanyaanmu ini, dan dari yang aku dapat aku bisa simpulkan kalau ternyata matematika itu ga pernah lepas dari budaya. Cara anak memahami konsep matematika sering dipengaruhi sama pengalaman mereka sehari-hari, kebiasaan, dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Aku kasih contoh nih yaa
Bayangkan ada anak SD yang tinggal di daerah pesisir. Mereka terbiasa ikut orang tua ke pasar ikan. Dari pengalaman itu, mereka belajar ngitung uang, nimbang ikan. Nah, ketika guru ngajarin konsep penjumlahan, pengurangan, perbandingan, anak itu lebih cepat paham karena sudah punya pengalaman dari budaya dan kehidupannya sehar-hari.
Contoh lain nih, ada anak di daerah pedalaman yang sering ikut orang tua buat anyaman atau sering bikin batik deh. Dari situ mereka terbiasa buat pola dan bentuk berulang. Jadi pas dia ke sekolah dan gurunya menjelaskan geometri atau pola bilangan, anak itu bisa langsung menghubungkan dengan pengalamannya membuat motif tadi.
Intinya, budaya dan pengalaman sehari-hari itu bisa jadi `jembatan` supaya matematika terasa nyata dan gampang dimengerti.
cmiiw guys 😀🙌
Nama : Dias Pinasih
HapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menanggapi dan menjawab, Pak.
Menurut saya, hubungan antara matematika dan konteks budaya sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa di sekolah dasar. Ketika matematika dikaitkan dengan budaya atau kehidupan sehari-hari, siswa tidak hanya memahami rumus, tetapi juga mengerti makna dan kegunaannya.
Dengan menghubungkan konsep matematika ke budaya, seperti pola batik, permainan tradisional, atau kegiatan jual beli di pasar, siswa akan merasa materi lebih dekat dengan kehidupan mereka. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak terasa sulit atau abstrak.
Menurut saya, pendekatan ini dapat meningkatkan pemahaman siswa karena mereka belajar melalui pengalaman nyata. Selain itu, siswa juga menjadi lebih aktif dan termotivasi karena melihat langsung bahwa matematika memang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Matematika itu sebenarnya nggak lepas dari budaya sehari-hari anak. Anak bakal lebih gampang paham kalau contoh matematika diambil dari hal yang mereka kenal di lingkungan dan budayanya. Misalnya ngitung pakai contoh jual beli di pasar, membagi makanan khas daerah, atau ngukur waktu lewat kegiatan adat. Kalau konteksnya dekat sama kehidupan mereka, matematika jadi terasa nyata, nggak sekadar angka di buku, dan anak juga jadi lebih tertarik belajar.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin menjawab, jadi begini isdiana hubungan antara matematika dan konteks budaya itu sangat erat karena seperti yang dijelaskan dalam materi ini bahwa matematika sebenarnya adalah "upaya yang dilakukan selama ribuan tahun oleh setiap peradaban untuk memahami alam dan menertibkan urusan manusia", jadi ketika kita mengajar matematika di SD sebaiknya tidak hanya fokus pada rumus dan hafalan saja tetapi juga menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari dan budaya anak-anak kita supaya mereka bisa melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga dalam konteks mereka sendiri bukan hanya sebagai pelajaran yang membosankan untuk menuju ke jenjang berikutnya.
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm :2386206058
Kelas : 5B PGSD
Izin menanggapi pak, menurut saya, materi di atas ini memberikan pemahaman yang lebih luas tentang hakikat matematika sebagai ilmu yang tidak hanya berfokus pada hitungan dan rumus, tetapi juga sebagai cara berpikir yang sistematis dan terstruktur. Saya setuju pak bahwa matematika merupakan aktivitas intelektual yang menuntut kemampuan mengorganisasi ide-ide abstrak, sehingga siswa tidak hanya menghafal prosedur, tetapi juga memahami konsep di baliknya. Pendekatan seperti ini penting agar pembelajaran matematika di sekolah menjadi lebih bermakna dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari🙏🏻
Matematika memang dapat dikaitkan dengan lingkungan apa saja baik dengan lingkungan sekitar ,lingkungan budaya, dan lingkungan masyarakat.
BalasHapusDalam kehidupan baik itu di lingkungan budaya, kita pasti membutuhkan yang namanya perhitungan atau konsep-konsep tentang bagaimana sesuatu kegiatan yang dilangsungkan dalam budaya itu dapat terus dijalankan dan dapat berjalan sesuai dengan skema yang telah kita atur.
Misalnya saya ambil contoh budaya yang ada di Kalimantan :
Nah dari sini kita bisa mengaitkan matematika dengan budaya di Kalimantan, di Kalimantan terkenal dengan suku Dayak yang memiliki rumah adat yang bernama Rumah Lamin. Dalam pembuatan rumah adat Rumah Lamin pastinya membutuhkan hitungan dan pengukuran untuk menjadikan rumah tersebut berdiri secara kokoh di lingkungan budayanya, dari sini kita bisa tahu bahwa matematika itu bisa masuk dan bisa dikaitkan dengan budaya karena, dalam pembangunan rumah ada Rumah Lamin tadi ada konsep matematika yang diterapkan, ini mebuktikan bahwa matematika dapat dikaitkan dengan budaya.
Nama:syahrul
BalasHapusKelas:5D
Npm:2386206092
Sering kita liat kalau matematika tuh hanya sebagai serangkaian aturan abstrak dan prosedur hitungan yang harus dihafal dan diterapkan,kek seolah-olah tujuannya tuh cuma untuk membuka akses ke pelajaran matematika berikutnya yang lebih susah. Tak heran kalau banyak siswa,bahkan calon guru,menganggap matematika ini hal yang membosankan,menakutkan,dan merasa tidak butuh itu di kehidupan sehari-hari.ibaratnya kita dipaksa jalan trus tanpa tahu kita kemana arahnya.Padahal matematika yang sesungguhnya itu lebih dari sekadar hitungan tapi ilmu pola dan aktivitas intelektual yang butuh intuisi dan imajinasi untuk mencapai kesimpulan. Intinya bukan cuma hafal perkalian tapu harus paham konsepnya.intinya tuh matematika adalah tentang mengembangkan cara berpikir agar kita bisa melihat sesuatu itu masuk akal,berguna,dan berharga,sambil punya keyakinan diri dan ketekunan.Ini jauh lebih keren daripada sekadar menghafal rumus.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
npm:2386206092
Intinya, Matematika itu gak cuma hitung hitungan dan rumus doang. Artikel yang bapak kirim ini bilang kalau Matematika itu kyak ilmu pola dan kegiatan berpikir yang butuh intuisi dan imajinasi buat cari bukti dan kesimpulan. Tujuan utamanya di sekolah, dari SD sampai SMA, seharusnya adalah kita bisa membenarkan ide-ide dan membuat generalisasi, gak cuma menghafal. Tapi sayangnya, banyak siswa bahkan calon guru ngerasa Matematika di sekolah itu membosankan, menakutkan, dan rasanya nggak dipakai di kehidupan sehari-hari.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNpm : 2386206086
Kelas : 5D
Materi ini sangat menarik karena banyak sekali siswa merasa matematika itu sangat membosankan,membingungkan dan menakutkan padahal matematika itu bukan hanya sekedar kumpulan rumus , angka dan prosedur saja tetapi juga sebagai hasil dari aktivitas manusia dengan pola pikir untuk sistematika dalam berpikir , matematika sesungguhnya merupakan ilmu yang hidup yang sangat terhubung erat dengan konteks sosial , budaya dan bahkan nilai nilai kemanusiaan , tetapi matematika di sekolah itu masih sering diajarkan sebagai aturan yang kaku , akibat banyak siswa termasuk kita calon guru merasa matematika itu sangat menakutkan dan tidak relevan dalam kehidupan nyata , kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi dalam cara mengajarkan matematika dari yang semula , berpusat pada hasil menjadi hanya berpusat pada proses berpikir dan pemahaman konsep .
Matematika itu bukan hanya alat untuk mengukur kemampuan kognitif, melainkan juga sebagai sarana membentuk cara berpikir secara ilmiah dan karakter belajar yang tahan uji , guru seharusnya tidak hanya mengajarkan apa dan bagaimana dalam matematika tetapi jugaa mengapa dan untuk apa konselor tersebut penting ? Dan bagaimana agar matematika itu benar - benar bermakna untuk peserta didik .
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Materi ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang Oppositional Defiant Disorder (ODD) dan bagaimana hal itu mempengaruhi anak-anak. Menarik untuk melihat bahwa ODD bukan sekadar perilaku nakal, tetapi merupakan gangguan yang lebih kompleks yang bisa berdampak besar pada kehidupan sehari-hari anak dan orang-orang di sekitarnya. Gejala seperti kemarahan yang berlebihan, sikap menantang, dan perilaku kasar menunjukkan bahwa anak-anak dengan ODD membutuhkan perhatian khusus dan pendekatan yang tepat dari orang tua dan guru.
Penting juga untuk diperhatikan bahwa penyebab ODD bersifat multifaktorial, melibatkan aspek genetik, lingkungan, dan neurobiologis. Ini mengingatkan kita bahwa perilaku anak tidak selalu hanya hasil dari pola asuh, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang lebih dalam.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Ijin Pak Saya ingin bertanya, bagaimana cara orang tua dan guru bisa lebih efektif dalam mengenali tanda-tanda awal ODD sebelum menjadi masalah yang lebih serius? Apakah ada strategi khusus yang bisa diterapkan untuk mengatasi perilaku menantang di rumah atau di sekolah? Selain itu, bagaimana cara memastikan bahwa terapi dan program pelatihan untuk orang tua dapat diakses oleh semua keluarga, terutama yang berada di komunitas dengan sumber daya terbatas?
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
HapusNpm : 2386206058
Kelas : 5B PGSD
Halo aprilina awing aku izin menjawab yah.
Menurut aku, orang tua dan guru bisa lebih efektif mengenali tanda-tanda awal ODD kalau memakai cara berpikir yang teratur seperti dalam matematika. Matematika itu bukan cuma sekedar hitung-hitungan, tapi juga tentang pola dan cara berpikir logis. Jadi, dalam menghadapi anak dengan gejala ODD, penting buat melihat pola perilakunya, bukan hanya reaksinya sesaat. Guru dan orang tua perlu kerja sama, saling komunikasi, dan peka sama perubahan sikap anak. Bisa juga mulai dari langkah-langkah kecil, contohnya memberi pujian kalau anak menunjukkan sikap positif. Pendekatan yang sabar, konsisten, dan terarah ini bisa bantu mencegah masalah jadi lebih berat. Walaupun kadang fasilitas terbatas, yang penting tetap ada niat dan usaha bersama buat memahami anak secara lebih dalam🙏🏻
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Menurut aku Untuk mengenali ODD lebih awal, orang tua dan guru perlu memperhatikan pola perilaku menantang yang terjadi terus-menerus, bukan hanya kejadian sesaat. Pendekatan terbaik dalam menangani anak dengan perilaku menantang adalah menggunakan disiplin positif, aturan yang jelas, dukungan emosional, serta kerja sama yang kuat antara rumah dan sekolah. Selain itu, agar dukungan dan terapi dapat diakses oleh semua keluarga terutama yang memiliki keterbatasan sumber daya diperlukan program pelatihan orang tua yang berbasis komunitas, layanan psikologi di sekolah dan fasilitas kesehatan, serta pemanfaatan teknologi untuk pendampingan jarak jauh. Dengan langkah-langkah ini, masalah dapat dicegah sebelum menjadi lebih serius dan perkembangan anak tetap terjaga dengan baik.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, menurut sepengetahuan yang aku sih ya Awing mungkin bisa dengan observasi/pengamatan yang cukup rutin dan juga komunikasi dengan guru dan juga orang tua, lalu atasi perilaku menentang itu dengan ketentuan yang jelas, lalu konsisten untuk memberikan penguatan yang positif, dan juga suportif. Dan butuh dipastikan juga akses dari terapi itu dengan program sekolah maupun puskesmas yang sederhana dan juga mudah untuk dijangkau oleh semua keluarga para siswa.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, orang tua dan guru bisa lebih cepat mengenali tanda awal ODD dengan memperhatikan pola perilaku menentang yang sering muncul, konsisten, dan terjadi di berbagai situasi, bukan cuma sesekali, misalnya sering membantah, mudah marah, dan sengaja melanggar aturan. Untuk mengatasinya, bisa pakai strategi sederhana seperti aturan yang jelas dan konsisten, komunikasi yang tenang, penguatan perilaku positif, serta kerja sama antara rumah dan sekolah supaya responnya sejalan. Supaya terapi dan pelatihan orang tua bisa diakses semua keluarga, terutama di daerah dengan keterbatasan, perlu dukungan sekolah, puskesmas, layanan konseling komunitas, pelatihan gratis atau daring, dan kebijakan yang memudahkan keluarga mendapat pendampingan tanpa biaya besar.
Nama : Dias Pinasih
HapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menanggapi dan menjawab, Pak.
Menurut saya, orang tua dan guru memang punya peran besar agar lebih efektif mengenali tanda-tanda awal ODD sebelum perilakunya menjadi lebih serius. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, misalnya anak sering menentang, mudah marah, atau sulit menerima arahan secara terus-menerus, baik di rumah maupun di sekolah.
Selain itu, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan guru juga sangat penting. Dengan saling berbagi informasi tentang perilaku anak di rumah dan di sekolah, tanda-tanda awal ODD bisa lebih cepat dikenali. Menurut saya, pendekatan yang konsisten, tenang, dan penuh empati dari lingkungan terdekat anak dapat membantu mencegah perilaku berkembang menjadi lebih berat.
Terkait keluarga dengan sumber daya terbatas, pelatihan atau pendampingan bisa dilakukan melalui sekolah, puskesmas, atau komunitas setempat. Edukasi sederhana tentang cara menghadapi perilaku anak dengan tepat sudah sangat membantu, asalkan dilakukan secara konsisten dan didukung oleh lingkungan sekitar.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Aprilina Awing. Menurut saya, orang tua dan guru bisa mengenali tanda awal ODD dengan sering memperhatikan perilaku anak. Kalau anak sering marah, suka membantah, nggak mau mendengarkan, dan itu terjadi berulang-ulang, bukan cuma sekali dua kali, orang dewasa perlu lebih peduli. Guru dan orang tua juga bisa saling bercerita tentang perilaku anak di rumah dan di sekolah supaya lebih cepat tahu kalau ada masalah.
Untuk mengatasi perilaku menantang, orang tua dan guru bisa bersikap sabar, tegas, dan konsisten. Anak perlu aturan yang jelas dan sederhana. Kalau anak berbuat baik, di kasih pujian, bukan hanya ditegur saat salah. Mengajak anak ngobrol dengan lembut juga penting supaya anak merasa dimengerti, bukan dimarahi terus.
Supaya terapi dan pelatihan orang tua bisa diakses semua keluarga, menurut saya sekolah dan puskesmas bisa bekerja sama untuk kasih penyuluhan gratis. Guru juga bisa kasih arahan sederhana ke orang tua, contohnya lewat pertemuan atau grup chat. Dengan saling membantu, semua anak bisa mendapat dukungan, walaupun keluarganya sederhana.
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya membaca materi ini, ternyata materi ini memberikan sudut pandang yang sangat amat menarik yaitu tentang bagaimana kita memahami matematika sebagai ilmu dan sebagai praktik pendidikan. Materi ini juga menyoroti/membahas bahwasanya pembelajaran matematika autentik seharusnya menyerupai “magang dalam disiplin matematika” yang artinya siswa diajak untuk berpikir, menalar, menggeneralisasi dan membenarkan ide-ide seperti seorang matematikawan sejati, bukan hanya sekedar mengerjakan latihan tanpa makna.
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Apa yang disampaikan Nanda benar sekali. Matematika bukan hanya kumpulan rumus dan soal hitungan yang harus dikerjakan berulang-ulang, tetapi merupakan sebuah cara berpikir. Ketika pembelajaran matematika dilakukan secara autentik, siswa tidak hanya menirukan langkah yang sudah ditentukan, melainkan dilatih untuk menalar, mencari pola, menghubungkan konsep, dan menjelaskan alasan di balik jawabannya persis seperti yang dilakukan para matematika.Pendekatan ini membuat siswa:
Memahami konsep dengan lebih bermakna
Membangun kepercayaan diri dalam berpikir logis Mengembangkan kreativitas dalam mencari strategi pemecahan masalah
Menyadari bahwa matematika sangat dekat dengan kehidupan nyata
Dengan kata lain, siswa bukan lagi hanya “penghafal rumus”, tetapi menjadi pembelajar aktif yang mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematikanya. Jadi, benar yang dikatakan Nanda bahwa pembelajaran matematika seharusnya menjadi pengalaman yang menyerupai “magang dalam dunia matematika”, karena di situlah siswa belajar berperan sebagai mini matematika dalam kelas.
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menanggapai pak, setelah saya membaca materi ini ternyata materi ini sangat menarik sebab pada materi ini juga mengkeritik pandangan umum masyarakat bahwasanya matematika sekolah hanyalah “aturan abstrak yang harus dihafal”. Pandangan seperti ini yang dapat membuat para siswa seringkali merasa kalau matematika itu adalah hal yang membosankan, menakutkan, dan tidak relevan dengan kahidupan nyata. Itulah tantangan yang besar dalam pendidikan matematika, bagaimana seorang guru mampu mengubah paradigma/cara pandang pembelajaran dari sekedar prosedural menjadi bermakna dan kontekstual.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nanda yang ini sangat kritis karena ia menyoroti bahwa Matematika Sekolah seringnya cuma dilihat sebagai aturan abstrak yang harus dihafal, dan ini yang bikin siswa merasa Matematika itu membosankan, menakutkan, dan nggak relevan. Sebagai tambahan, tantangan besar yang Nanda sebutkan harus diatasi dengan fokus pada Lima Jalinan Kemahiran Matematika, khususnya Penalaran Adaptif. Penalaran Adaptif adalah kemampuan untuk berpikir logis, merefleksi, menjelaskan, dan membenarkan. Jadi, kalau guru menggeser fokus ke penalaran, ini akan membuat siswa melihat Matematika sebagai masuk akal dan berguna, bukan sekadar hafalan aturan yang bikin cemas.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Izin menanggapi pak, setelah saya membaca materi di atas sebenarnya matematika itu bukan cuma soal angka atau rumus, tapi cara kita melihat pola dan menyusun ide biar lebih masuk akal. Pas kita belajar matematika, kita lagi latihan pakai logika dan imajinasi buat nyari bukti dan nyimpulin sesuatu. Jadi matematika itu lebih mirip pelatihan otak daripada sekedar ngerjain soal. Sayangnya di sekolah, matematika sering diajarin Saya daftar topik yang harus diselesaikan. Padahal kalau ngerti maksud dan idenya belajar matematika bisa lebih seru lagi
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Yapss betul sekali apa yang disampaikan Andi Fika! Matematika itu memang lebih dari sekadar angka dan rumus. Intinya adalah bagaimana kita belajar melihat pola, menyusun ide, dan menggunakan logika untuk memahami dunia secara lebih masuk akal. Saat kita belajar matematika, sebenarnya kita sedang melatih otak untuk berpikir kritis, kreatif, dan menemukan alasan di balik setiap jawaban bukan hanya mengisi soal.Sayangnya, pembelajaran di sekolah sering terlalu fokus pada tuntutan menyelesaikan topik dan latihan tanpa menjelaskan makna di baliknya. Padahal kalau tujuan, konsep, dan ide matematika benar-benar dipahami, proses belajar bisa jauh lebih seru dan menantang seperti memecahkan teka-teki. Andi Fika sudah menyampaikan poin yang sangat tepat dan penting bagi pembelajaran matematika yang lebih bermakna!
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Kalau dipikir-pikir, belajar matematika itu kayak ikut latihan jadi mini matematikawan. Kita diajak buat lebih mengerti konsep, kita bisa mengerjakan langkah-langkah, menyelesaikan masalah, dan mikir pakai logika, dan juga punya sikap positif sama matematika. 5 hal ini sebenarnya bikin belajar matematika lebih lengkap. Tapi di sekolah seringnya fokus kita cuma pindah ke bab berikutnya dan pada akhirnya kita ingat cuma rumus bukan cara mikirnya.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Andi Nurfika ini luar biasa karena ia berhasil menyimpulkan bahwa belajar Matematika itu seharusnya seperti latihan jadi mini matematikawan dengan fokus pada konsep, logika, dan sikap positif (5 hal yang lengkap). Sebagai tambahan, 5 hal yang ia sebutkan itu adalah Lima Jalinan Kemahiran Matematika yang harus dicapai. Masalah yang ia soroti, yaitu fokus sekolah seringnya cuma pindah ke bab berikutnya, itu benar sekali materi menyebutkan tujuan Matematika Sekolah seringkali hanya untuk membuka akses ke topik berikutnya. Padahal, tujuan sejati Matematika itu adalah pembuktian dan generalisasi yang dicapai lewat eksplorasi dan penalaran, bukan cuma loncat bab.
Nama : Dias Pinasih
HapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menanggapi, Pak.
Saya setuju dengan pendapat yang disampaikan oleh Andi Nurfika. Dari materi dan penjelasan tersebut terlihat bahwa belajar matematika tidak hanya soal menghafal rumus, tetapi juga melatih cara berpikir, logika, dan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah. Ketika siswa diajak memahami prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya, pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna.
Pendapat ini juga mengingatkan bahwa di sekolah sering kali siswa hanya fokus pada hasil atau rumus, tanpa benar-benar memahami cara berpikir matematisnya. Padahal, jika konsep dipahami dengan baik, siswa akan lebih mudah mengaitkan matematika dengan situasi sehari-hari dan tidak cepat merasa takut atau tertekan saat belajar.
Menurut saya, hal ini menjadi refleksi penting bagi guru agar pembelajaran matematika lebih menekankan pada proses berpikir, diskusi, dan pemahaman konsep, sehingga siswa tidak hanya pintar menghitung, tetapi juga mampu berpikir logis dan sistematis.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Deskripsi Eva tanheser tentang matematika menunjukkan bahwa matematika sangat dekat dengan budaya, cara berpikir masyarakat, dan perkembangan ilmu. Matematika ini juga bukan hanya angka atau bentuk, tetapi juga cara kita mengatur ide agar lebih masuk akal. Kalau kita memahami matematika sebagai sistem yang saling berhubungan proses belajarnya tadi lebih bermakna kan tapi kenyataannya matematika sekolah sering difokuskan pada naik level ke topik berikutnya. Akhirnya siswa lebih banyak menghafal langkah daripada memahami makna matematika itu sendiri
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Andi Nurfika ini sangat kritis karena ia menyadari bahwa Matematika sejati itu dekat dengan budaya dan cara berpikir masyarakat serta bukan hanya angka. Sebagai tambahan, ketika Matematika Sekolah terlalu fokus pada naik level ke topik berikutnya, siswa akhirnya hanya menghafal langkah tanpa memahami maknanya. Ini adalah kritik yang kuat terhadap Kelancaran Prosedural yang terlalu ditekankan. Padahal, Matematika itu adalah organisasi ide ke dalam sistem dan struktur, dan jika guru mengajarkannya dengan menghubungkan ke konteks dan budaya, anak akan melihat subjek ini masuk akal, berguna, dan berharga.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: 5B PGSD
Menurut saya materi ini menunjukkan bahwa matematika tidak hanya berisi angka dan perhitungan, tetapi merupakan ilmu yang dibangun dari ide-ide menjadi sistem dan struktur merupakan ilmu yang dibangun dari konsep-konsep yang saling berhubungan. Matematika bersifat abstrak yang mana ide-idenya tidak selalu terlihat secara langsung namun bisa di pahami melalui simbol misalnya konsep bilangan adalah hasil pemikiran abstrak yang membantu kita memahami fenomena, dengan memahami matematika sebagai ide abstrak yang terstruktur kita dapat melihat bahwa pembelajaran matematika bukan hanya tentang hafal rumus tetapi membangun pemahaman konsep, menalar serta mengaitkan satu konsep dengan konsep lainnya
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
materi ini membuka mata tentang bagaimana matematika seharusnya diajarkan.bukan hanya soal rumus dan angka, tapi juga tentang bagaimana matematika bisa menjadi alat untuk memahami dunia di sekitar kita.saya suka bagaimana materi ini menekankan pentingnya pemahaman konseptual dan kemampuan berpikir logis dalam matematika.matematika dalam pendidikan matematika seharusnya tidak hanya berfokus pada penguasaan rumus dan prosedur, tapi juga pada pengembangan pemahaman konseptual dan kemampuan berpikir logis.dengan memahami konsep-konsep matematika secara mendalam, siswa akan lebih mampu menerapkan matematika dalam berbagai situasi dan memecahkan masalah-masalah kompleks.
Nama: Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM :2386206009
Kelas :V A PGSD
Izin menanggapi lagi dari materi ini saya setuju dengan pendapat bahwa matematika sekolah seharusnya tidak hanya berfokus pada aturan dan prosedur abstrak, tapi juga pada bagaimana matematika terhubung dengan konteks, budaya, dan masyarakat.dengan menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan memahami matematika dengan lebih baik.untuk membuat matematika lebih relevan dan menarik bagi siswa, guru perlu menghubungkan matematika dengan konteks, budaya, dan masyarakat. dengan menunjukkan bagaimana matematika digunakan dalam kehidupan sehari-hari, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan memahami matematika dengan lebih baik.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Hai Tatii, saya sangat setuju dengan pendapat kamu karena memang seperti yang disampaikan dalam materi matematika itu sebenarnya adalah "upaya yang dilakukan selama ribuan tahun oleh setiap peradaban untuk memahami alam dan menertibkan urusan manusia", jadi ketika kita sebagai calon guru SD bisa menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari dan budaya siswa maka lima jalinan kemahiran matematika itu bisa tercapai terutama yang paling penting adalah disposisi produktif yaitu kecenderungan siswa untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga, sehingga matematika tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang membosankan atau menakutkan seperti yang sering dirasakan banyak siswa selama ini melainkan menjadi ilmu yang benar-benar mereka butuhkan dan bermakna dalam kehidupan mereka.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Izin menanggapi pak materi diatas adalah sebuah refleksi kritis yang sangat mendalam mengenai hakikat matematika, khususnya perbedaannya antara matematika sebagai disiplin ilmu autentik dan "matematika sekolah" yang sering kali kaku. Materi ini berhasil menyoroti adanya jurang pemisah antara matematika sebagai pengetahuan/ide abstrak, pengorganisasian dalam sistem dan struktur (hakikatnya) dengan pelaksanaannya di ruang kelas. Pesan utamanya adalah bahwa pendidikan matematika perlu bergerak dari fokus pada prosedur (apa) ke fokus pada pemahaman, penalaran, dan pembenaran (mengapa).
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Bella yang ini sangat keren karena menyebut materi ini adalah refleksi kritis yang menyoroti jurang pemisah antara Matematika sebagai disiplin ilmu dan Matematika Sekolah yang terlalu fokus pada prosedur. Sebagai tambahan, jurang pemisah ini muncul karena tujuan Matematika Sekolah seringkali hanya untuk membuka akses ke topik atau jenjang berikutnya, seperti menuju kalkulus. Padahal, tujuan akhir Matematika yang sejati adalah pembenaran (justifikasi) dan generalisasi, yang menuntut siswa untuk bernalar dan memahami konsep bukan sekadar menghafal rumus.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Saya mau bertanya juga ni pak karna saya sedikit kurang paham, Bagaimana kerangka kerja 'Lima Jalinan Kemahiran Matematika' dapat secara praktis diimplementasikan oleh guru di kelas (misalnya, pada topik Aljabar atau Geometri) untuk secara efektif menggeser fokus dari 'prosedur abstrak' (kelancaran prosedural yang berlebihan) menuju pengembangan 'penalaran adaptif' dan 'disposisi produktif' pada siswa?
Terimaksih pak🙏🏻🙏🏻
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Bella yang ini sangat praktis karena ia ingin tahu bagaimana menerapkan Lima Jalinan Kemahiran Matematika terutama penalaran adaptif dan disposisi produktif secara efektif di kelas. Sebagai tambahan, salah satu cara paling efektif adalah dengan menggeser fokus dari Kelancaran Prosedural menuju Disposisi Produktif. Ini dilakukan dengan membuat siswa melihat Matematika itu masuk akal, berguna, dan berharga. Contohnya, daripada langsung memberi rumus, guru bisa meminta siswa mengeksplorasi suatu pola, membenarkan kenapa pola itu terjadi, dan baru setelah itu mereka akan merasa yakin dan tekun untuk memecahkan masalah.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan Bella, jadi menurut saya, kerangka 5 jalinan kemahiran matematika bisa diterapkan dengan cara guru nggak langsung ngasih rumus, tapi mulai dari masalah kontekstual di aljabar atau geometri yang bikin siswa mikir dan berdiskusi, misalnya mencari pola, menebak solusi, lalu menjelaskan alasan mereka. Prosedur tetap diajarkan, tapi setelah siswa paham konsepnya, sambil dilatih menjelaskan strategi, membandingkan jawaban, dan mengaitkan dengan situasi nyata, sehingga penalaran adaptif berkembang dan siswa jadi lebih percaya diri, tertarik, serta punya sikap positif terhadap matematika karena merasa “oh, ini masuk akal dan bisa aku pahami,” bukan sekadar menghafal langkah.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Bella Ayu Pusdita saya izin menjawab pertanyaan komentar anda yaa. menurut saya, guru bisa buat belajar matematika kayak bercerita dan bermain.
Contohnya, guru kasih masalah sederhana lalu bertanya, “Menurutmu, ada berapa cara untuk menjawab ini?” Anak boleh punya jawaban yang berbeda dan menjelaskan alasannya. Dengan begitu, anak belajar bahwa matematika bukan cuma satu cara aja, tapi bisa dipikirkan bersama.
Guru juga bisa ajak anak bekerja kelompok kecil. Saat berdiskusi, anak belajar mendengarkan teman dan menyampaikan pendapatnya. Ini bisa buat anak lebih percaya diri dan merasa matematika itu nggak menakutkan.
Kalau guru sering mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan kasih kesempatan anak berpikir sendiri, anak akan merasa matematika itu berguna, seru, dan bisa dipelajari pelan-pelan.
Nama: Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Setelah saya membaca materi ini, materi ini mengingatkan kita bahwa matematika itu bukan cuma soal angka dan rumus, tetapi ada juga tentang ide - ide abstrak yang di bentuk rapi. Jadi matematika itu seperti cara berpikir yang teratur dan bukan sekedar hitung - hitungan, jika kita paham konsep dasarnya semua topik matematika masuk akal dan gampang dipahami.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Imelda ini sangat keren karena ia langsung menyimpulkan bahwa Matematika itu adalah ide-ide abstrak yang dibentuk rapi dan merupakan cara berpikir yang teratur. Sebagai tambahan, pandangan bahwa Matematika adalah pengorganisasian ide ke dalam sistem dan struktur ini sangat bertolak belakang dengan Matematika Sekolah yang cuma fokus pada aturan dan prosedur abstrak. Ketika guru mengajarkan Matematika sebagai konsep dasar yang logis seperti yang Imelda katakan, siswa akan mampu mencapai penalaran adaptif dan pembenaran. Inilah yang membuat semua topik jadi terasa masuk akal dan gampang dipahami, tidak hanya sekadar menghafal rumus demi ujian.
Terima kasih bapak, karena memberikan materi ini saya suka penjelasan materi bapak pada bagian yang menjelaskan tentang lima jalinan kemahiran matematika itu menurut saya adalah inti dari kenapa matematika itu harus diajarkan. Jujur, selama ini matematika sekolah itu seringnya cuma fokus ke Kelancaran prosedural hitung cepat dan benar dan sedikit di Pemahaman Konseptual. Padahal, ada tiga hal lain yang sama pentingnya, yaitu Penalaran Adaptif kemampuan berpikir logis, Kompetensi Strategis kemampuan memecahkan masalah, dan yang paling menarik itu Produktif keyakinan bahwa matematika itu berguna. Kalau kita cuma jago hitung tapi tidak punya keyakinan bahwa matematika itu berguna di kehidupan nyata, ya percuma. Saya rasa, fokus kita harusnya diseimbangkan di kelima jalinan ini agar siswa benar-benar melihat matematika sebagai sesuatu yang keren.
BalasHapusSaya sangat setuju juga dengan pernyataan bapak di materi yang bilang kalau siswa atau calon guru sering menganggap matematika itu membosankan, menakutkan, dan mencemaskan. Kenapa bisa begitu? Salah satunya karena materi menyebut bahwa matematika sekolah itu sering didefinisikan sebagai topik-topik yang terpisah yang ujung-ujungnya cuma buat masuk ke materi berikutnya, seperti trigonometri atau kalkulus. Jadi, tujuannya jadi sempit, cuma untuk lulus ke jenjang berikutnya. Padahal, harusnya matematika dilihat sebagai upaya peradaban untuk memahami alam dan manusia, seperti yang disebutkan di bagian awal. Mungkin, kalau guru bisa lebih sering menghubungkan topik-topik itu ke konteks budaya dan masyarakat, matematika bisa jadi jauh lebih seru dan siswa tidak perlu takut lagi.
BalasHapusSaya juga tertarik dengan kritik di materi mengenai matematika sekolah yang sebagian besar dilihat sebagai aturan dan prosedur abstrak. Memang benar, fokusnya sering hanya pada kefasihan prosedural, yaitu tahu cara menghitungnya. Padahal, pemahaman yang utuh itu adalah kalau kita tahu mengapa prosedur itu bekerja dan kapan harus menggunakannya Pemahaman Konseptual. Kalau kita hanya menghafal aturan tanpa tahu konsepnya, begitu aturannya diganti sedikit, siswa pasti langsung bingung. Jadi, PR besar di pendidikan matematika adalah menggeser fokus dari sekadar cepat dan akurat menghitung seperti hafal perkalian menjadi mendalam memahami konsep dan logikanya, sehingga siswa bisa menggunakan matematika sebagai akal sehat yang berguna. Terima kasih bapak untuk materi ini
BalasHapusNama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Matematika bukan sebagai kumpulan angka dan rumus , tetapi sebagai ide abstrak yang tersusun dalam sistem struktur yang sangat teratur. Sebagian orang juga mungkin mengiyakan kalau matematika ini menakutkan, membosankan dan membuat kita cemas ( karena gabisa ngerjakan). Di materi bapak mengajak kita untuk menyadari bahwa matematika dalam pendidikan bukan sekedar Cuma memindahkan rumus ke kepala siswa , tetapi juga mengajak mereka untuk berpikiir , menata , mengelompokkan, menghubungkan serta memberi sebuah makna dari apa yang di lihat dan dikerjakan. Hmm tapi saya bertanya – tanya apakah matematika itu ada memang dari buku pelajaran atau justru dari sebuah pengalaman manusia?
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
Memang matematika yang selama ini kita sendiri dari kita menjadi murid dan sekarang menjadi calon guru matematika di anggap hapalan rumus yang menakutkan padahal sebetulnya ilmu tentang pola,penalaran dan pemecahan masalah. Tetapi masalahnya pada cara kita mengajarkannya dan bukan pada mata pelajarannya.
Nama : Dita Ayu Safarila
HapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
Jadi kita harus mengubah dan memutus rasa ketakutan terhadap matematika. Kita sebagai guru kita memiliki tugas untuk menunjukkan kepada siswa kita sendiri bahwa matematika itu masuk akal berguna dan berharga bagi kehidupan kita sehari hari.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
Jadi kesimpulannya, materi ini menegaskan bahwa kita harus mengajar matematika sebagai aktivitas berpikir yang otentik bukan sebagai latihan berhitung yang mekanis.Dengan melakukan ini kita tidak hanya meningkatkan kognitif siswa,tetapi juga dengan cara menyembuhkan kecemasan mereka terhadap mata pelajaran matematika.
Sekian itu saja pak tanggapan saya tentang materi ini
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Dita yang ini sangat akurat karena menyimpulkan bahwa kita harus mengajar Matematika sebagai aktivitas berpikir yang otentik dan bukan cuma latihan berhitung yang mekanis. Sebagai tambahan dari saya, fokus pada berpikir otentik ini adalah kunci untuk mencapai tujuan sejati Matematika, yaitu pembenaran (justifikasi) dan generalisasi. Ketika siswa diajak bernalar, mereka akan melihat Matematika sebagai ilmu pola dan membutuhkan intuisi. Ini sangat berbeda dengan Matematika Sekolah yang cuma berfokus pada aturan dan prosedur abstrak. Dengan begitu, kecemasan siswa yang Dita sebutkan itu bisa sembuh karena mereka tahu proses berpikir jauh lebih penting daripada hasil akhir yang harus cepat.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206125
Tulisan Pak Nurdin kali ini ngajak kita buat liat matematika dari sisi yang lebih dalam, karena ternyata matematika itu bukan cuma soal hitungan. Tapi ide-ide abstrak yang bantu kita untuk `mengatur dunia`.
Artikel ini juga bilang sangat menyayangkan kalau di sekolah matematika cuma dipandang sebagai hafalan rumus, hafalan perkalian. Padahal kalau dibawa ke arah eksplorasi, anak bisa liat kalau matematika itu berguna dan seru.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nabilah yang ini tepat sekali karena menyimpulkan bahwa Matematika itu bukan cuma hitungan, tapi adalah ide-ide abstrak yang membantu kita mengatur dunia. Sebagai tambahan, pandangan ini didukung oleh definisi Matematika yang sejati sebagai ilmu pola, aktivitas intelektual yang membutuhkan intuisi dan imajinasi, dan sebagai organisasi ide ke dalam sistem dan struktur. Guru harus berani membawa Matematika ke arah eksplorasi seperti yang Nabilah sebutkan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu pembenaran (justifikasi) dan generalisasi, alih-alih hanya berfokus pada hafalan rumus dan perkalian.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Artikel ini juga bisa jadi reminder buat kita nih calon guru. Kalau nanti kita sudah jadi guru di Sekolah Dasar, harus buat matematika terasa ringan dan bermakna, bukan sekedar kumpulan rumus yang bikin pusing.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nabilah yang ini juga bagus sekali karena ia menyadari bahwa materi ini menjadi reminder bagi kita calon guru agar membuat Matematika terasa ringan dan bermakna. Tambahan dari saya, membuat Matematika bermakna itu harus diwujudkan dengan menerapkan Lima Jalinan Kemahiran Matematika secara seimbang. Calon guru tidak boleh cuma fokus pada kelancaran prosedural cepat dan akurat dalam berhitung, tapi harus mengutamakan pemahaman konseptual dan yang paling penting, disposisi produktif. Artinya, guru harus menumbuhkan keyakinan pada siswa bahwa Matematika itu masuk akal, berguna, dan berharga, sehingga anak-anak tidak lagi menganggapnya sebagai kumpulan rumus yang bikin pusing.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Temen-temen, saya mau tanya nih 😃
Kira-kira temen-temen setuju ga sama pendapat National Research Council yang bilang kalau matematika itu salah satu pencapaian terbesar manusia?
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Hallo Nabilah, kalo menurut aku, iyaa, aku setuju kalau matematika itu memang salah satu pencapaian terbesar. Makanya aku sampai sekarang terkagum-kagum kalo melihat orang yang suka matematika dan pintar dibidang itu dan aku sekarang juga sedang mengusahakan diposisi itu nie hehe berusaha untuk suka di bidang itu dan terus belajar hehe. Nah aku mau menjelaskan nie kenapa aku, setuju kalau matematika itu salah satu pencapaian terbesar. Disini National Research Council juga bilang bahwa matematika adalah hasil usaha ribuan tahun untuk mengerti alam dan menertibkan urusan mereka. Nah menurut aku bener banget, dalam kehidupan sehari-hari pun keliatan jelas, dari ngatur uang belanja, nyari rute tercepat, dan teknologi, bahkan HP yang sekarang kita pakai, semuanya ada matematika dibaliknya, jadi matematika itu sebenarnya pondasi dari banyak kemajuan manusia.
Kalau matematika nggk prnah dikembangkan, mungkin teknologi sekarang nggk bakal sejauh ini, jadi menurut aku, matematika memang layak disebut sebagai salah satu pencapaian terbesar manusia, karena dia membantu kita berpikir logis, membuat keputusan dan sebagainya.
Semoga tanggapan aku bermanfaat untuk nabilah dan teman-teman lainnya 😊
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Nabila Aqli Rahman, kalau aku sih setuju ya Nabila dikarenakan matematika itukan bukanlah hanya sekedar mengenai hitung-hitungan saja namun juga cara bagaimana manusia itu dapat memahamani sebuah pola, lalu membuat keputusan, dan juga menertibkan dunia ini. Tanpa matematika, mungkin akan banyak teknologi dan juga kemajuan budaya yang tidak mungikin itu terjadi.
Nama: Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Nabilah, jadi menurut saya, menurut saya sih masuk akal kalau National Research Council bilang matematika itu salah satu pencapaian terbesar manusia, karena dari matematika kita bisa membangun teknologi, ilmu pengetahuan, sampai mengatur kehidupan sehari-hari dengan lebih teratur dan logis. Tanpa matematika, banyak kemajuan seperti bangunan, transportasi, ekonomi, dan sains nggak bakal berkembang seperti sekarang, jadi wajar kalau matematika dianggap sebagai pencapaian besar umat manusia.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Kalau menurut saya sih setuju banget. Soalnya matematika itu bukan cuma buat ngisi buku pelajaran, tapi dipakai di hampir semua hal penting dalam hidup manusia. Dari ngatur waktu, bangun rumah, bikin teknologi, sampai ngitung uang dan data, semuanya butuh matematika.
Tanpa matematika, mungkin nggak ada sains, teknologi, atau sistem yang rapi kayak sekarang. Jadi wajar kalau dibilang matematika itu salah satu pencapaian terbesar manusia, karena bantu manusia berpikir lebih logis, teratur, dan bisa ngembangin peradaban sampai sejauh ini.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari Nabilah, kalau saya secara pribadi setuju banget dengan pendapat kamu karena kalau kita pikir-pikir lagi matematika memang benar-benar salah satu pencapaian terbesar manusia coba bayangkan saja dari zaman dulu sampai sekarang semua peradaban di dunia pakai matematika untuk memahami alam dan mengatur kehidupan mereka mulai dari hal sederhana seperti menghitung hasil panen, membangun rumah, sampai hal kompleks seperti teknologi smartphone yang kita pakai sekarang ini semua tidak lepas dari matematika dan seperti yang dijelaskan di materi bahwasanya matematika itu sudah menjadi bagian dari kehidupan modern sehingga siapa pun yang ingin berpartisipasi penuh dalam masyarakat harus paham matematika dasar, jadi menurut saya wajar kalau matematika itu disebut sebagai pencapaian besar manusia karena tanpa matematika mungkin peradaban kita tidak akan semaju sekarang ini.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Nabilah Aqli Rahman saya izin menjawab yaa🙏 Kalau menurut saya, iya, saya setuju kalau matematika itu salah satu pencapaian terbesar manusia. Matematika itu kayak alat berpikir. Dengan matematika, manusia bisa menghitung, merencanakan, dan memecahkan masalah. Dari menghitung makanan sampai buat pesawat dan roket, semuanya pakai matematika. Walaupun kadang terasa sulit, matematika sebenarnya menolong manusia hidup lebih teratur dan maju. Jadi menurut saya, matematika itu bukan cuma pelajaran di sekolah, tapi hal penting yang membantu dunia jadi seperti sekarang 😊
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin menanggapi ya pak, materi kali ini membuka wawasan karena menegaskan bahwa matematika adalah ilmu pola yang erat kaitannya dengan budaya dan kehidupan sehari-hari, penting untuk mengembangkan pemahaman konsep dan kemampuan bernalar bukan hanya mengerjakan rumus, sesuai dengan lima jalinan kemahiran matematika.
Nama: Margaretha Elintia
HapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
Izin bertanya pak, jika matematika adalah tentang pola, budaya, dan bernalar, bagaimana cara guru di kelas dasar bisa membuat siswa melihat pola di kehidupan mereka sehari-hari?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, guru bisa mulai dari hal-hal yang dekat sama kehidupan siswa, misalnya pola ubin lantai, jadwal piket, irama tepuk tangan, atau kebiasaan harian seperti jam makan dan berangkat sekolah, lalu mengajak siswa mengamati dan berdiskusi “apa yang berulang” atau “apa yang teratur”. Dengan sering kasih contoh nyata, tanya balik ke siswa, dan biarin mereka cerita pengalaman sendiri, siswa jadi sadar kalau pola itu ada di mana-mana, bukan cuma di buku matematika.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas 5B (PGSD)
Matematika jauh lebih luas, daripada sekedar hitung-hitungan, dulu saya mengangap matematika hanyalah kumpulan rumus yang harus dihafal, tetapi setelah membaca blog bapak ini, tanggapan saya sedikit berubah, ternyata matematika itu lebih mirip cara berpikir, bagaimana melihat pola, membuat keputusan yang masuk akal, dan memahami hubungan antara hal.
Dan jika pendekatan matematika disekolah lebih menekankan pada pemahaman dan dikaitkan dengan kehidupan nyata, mungkin lebih banyak siswa merasa matematika lebih masuk akal atau bahkan menyenangkan.
Jadi ilmu yang saya dapatkan dan insyaallah bisa kita semua terapkan, matematika bukan soal cepat menghitung saja, tetapi bagaimana kita mampu berpikir jernih dan logis dalam berbagai situasi.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
HapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Saya sependapat dengan rosidah, bahwa matematika bukan sekadar hitung-hitungan, tapi cara berpikir. Namun menurut saya, tantangannya ada pada praktik di kelas, karena masih banyak pembelajaran yang fokus pada kecepatan menghitung dan target soal, bukan pada pemahaman. Kalau pendekatan kontekstual dan berpikir logis benar-benar diterapkan secara konsisten, barulah matematika bisa terasa lebih masuk akal dan bermakna bagi siswa.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, materi ini penting banget karena berhasil membuka mata kita bahwa ada jurang besar antara Matematika yang seharusnya yaitu ilmu pola, intuisi, imajinasi, dan penalaran logis dengan Matematika yang diajarkan di sekolah. Selama ini, Matematika Sekolah lebih sering fokus cuma ke aturan abstrak, menghafal rumus, dan harus cepat berhitung. Akibatnya, banyak siswa, bahkan calon guru, menganggap Matematika itu membosankan, bikin cemas, dan nggak ada gunanya di kehidupan sehari-hari. Padahal, Matematika yang sebenarnya itu melibatkan lima kemampuan seimbang yaitu pemahaman konsep, prosedur, strategi, penalaran, dan sikap positif.
Menurut saya kita wajib mengubah cara pandang ini, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Kita harus berhenti fokus menjadikan Matematika cuma sebagai "pintu masuk" ke jenjang atau topik berikutnya. Guru harus didorong untuk mengajarkan Matematika secara kontekstual, menghubungkannya dengan budaya dan masyarakat, bukan hanya rumus di papan tulis. Tujuannya, bukan cuma menghasilkan anak yang cepat menghitung, tapi yang mampu bernalar logis, memecahkan masalah, dan punya sikap tekun. Intinya, pendidikan harus berani keluar dari zona nyaman hafalan prosedur.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Materi jelas menunjukkan bahwa Matematika Sekolah yang terlalu fokus pada prosedur dan aturan telah membuat siswa termasuk calon guru merasa membosankan, menakutkan, dan mencemaskan. Kecemasan ini adalah penghalang besar bagi keberhasilan akademik, karena fokus pada hafalan dan kecepatan berhitung membuat siswa takut salah. Pendidikan modern harus secara aktif mengikis stigma ini dengan menerapkan Disposisi Produktif dari Lima Jalinan Kemahiran Matematika. Disposisi produktif berarti menumbuhkan keyakinan pada ketekunan dan kemajuan diri sendiri, serta melihat Matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga. Guru harus bergeser dari penguji kecepatan berhitung menjadi fasilitator penalaran, sehingga siswa lebih nyaman untuk mencoba, membuat kesalahan, dan memahami daripada sekadar menghafal.
NAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
Materi ini sebenarnya ngebuka mata banget soal bagaimana kita memandang matematika. Selama ini banyak orang (termasuk calon guru) melihat matematika itu cuma kumpulan rumus, hitungan, hafalan, dan langkah-langkah prosedural. Nggak heran banyak yang bilang matematika itu “menakutkan”, “nggak ngerti bahasanya”, sampai merasa “kayaknya nggak kepake di hidup sehari-hari”. materi ini mengajak kita melihat matematika bukan sebagai momok, tapi sebagai cara berpikir yang kaya dan manusiawi. Kalau guru (atau calon guru) bisa melihat matematika dari kacamata yang lebih luas dan kontekstual, mungkin siswa juga akan lebih merasa Oh, ternyata matematika itu masuk akal dan berguna, ya.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setuju pak, materi ini kritik keras terhadap cara mengajar matematika saat ini. Kita perlu berhenti melihat matematika sebagai sekumpulan resep kaku yang harus dihafal dan mulai mengajarkannya sebagai alat berpikir, kreativitas, dan pemecahan masalah sesuai dengan Lima Pilar Kemahiran tersebut.
Nama :Zakky Setiawan
BalasHapusNPM ; ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Materi yang mernarik pak bahwa ternyata matematika erat kaitannya dengan konteks, budaya dan masyarakat, yang membuat matematika berguna dan masuk akal, tapi memang harus di barengi dengan ketekunan dam kemajuan diri
Nama :Zakky Setiawan
HapusNPM ; ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Sedikit menambahkan, dengan pemahaman konsep matematika dan di barengi dengan ketekunan itu baru akan membuat matematika menjadi masuk akal, karena apa yang kita pahami konsepnya akan membuat kita sadar bahwa itu tuh masuk akal
Materi ini sudah cukup baik karena mengaitkan matematika dengan budaya, sosial dan kehidupan. Sebagai seorang siswa tidak hanya Melihat matematika sebagai angka dan rumus saja, akan tetapi sebagai praktik yang nyata dalam masyarakat. Pentingnya mengaitkan antar jalin bahwa kelima aspek tersebut tidak hanya berdiri sendiri.
BalasHapusPak izin bertanya terkait materi ini lagi dan lagi heheh. ....
BalasHapusPertanyaan saya gimana ya pak caranya kelima jalinan kemahiran matematika itu saling berhubung dan membantu para siswa memahami matematika secara keseluruhan? Itu saja pertanyaan dari sayaaa terimakasih 😊😊
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Agustiani, jadi menurut saya, kelima jalinan kemahiran matematika itu saling nyambung dan nggak bisa dipisahin, karena saat siswa paham konsep, mereka jadi lebih lancar ngitung, bisa bernalar, tahu strategi yang tepat, dan percaya diri sama jawabannya. Misalnya waktu ngerjain soal, siswa pakai pemahaman konsep buat ngerti masalah, kelancaran prosedur buat hitung, penalaran buat ngecek masuk akal atau nggak, strategi buat nyelesain soal, dan sikap positif biar nggak gampang nyerah, jadi belajarnya utuh dan nggak cuma hafal rumus
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Kelima jalinan itu sebenernya nggak jalan sendiri-sendiri, tapi saling nyambung. Kalau anak paham konsep, dia jadi nggak cuma hafal cara, tapi ngerti kenapa caranya begitu. Pas ngerjain soal, dia pakai penalaran buat mikir masuk akal atau nggak jawabannya. Terus kalau ketemu soal cerita atau masalah nyata, dia bisa ngaplikasiin matematika ke situasi sehari-hari. Nah, kalau sering berhasil dan ngerasa “oh ternyata bisa”, lama-lama tumbuh percaya diri dan sikap positif ke matematika.
Jadi satu narik yang lain. Bukan belajar rumus doang, tapi ngerti, bisa pakai, dan nggak takut sama matematikanya.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Agustiani. Menurut saya, lima jalinan kemahiran matematika itu kayak lima tali yang saling terikat. Kalau satu tali dipakai sendiri, hasilnya kurang kuat. Tapi kalau dipakai bersama, jadi kuat dan membantu anak paham matematika dengan baik.
Misalnya, anak mengerti konsepnya dulu, lalu bisa mengerjakan caranya. Setelah itu anak menjelaskan alasan jawabannya, dan nggak mudah menyerah saat salah. Lama-lama anak merasa, “Matematika itu masuk akal dan aku bisa!”
Kalau kelima jalinan itu dipakai bersama, anak cuma bisa menghitung, tapi juga mengerti, berpikir, dan percaya diri. Jadi matematika terasa lebih mudah, menyenangkan, dan menyatu 😊
Terima kasih atas paparannya pak. Hal yang menarik bagi saya adalah mengenai pengorganisasian matematika dalam struktur yang sistematis. Konsistensi logis dalam sistem matematika ini menunjukkan bahwa setiap konsep baru tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan pengembangan dari aksioma atau struktur yang telah ada sebelumnya.
BalasHapusNama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Wahh dayah pendapat kamu memang benar bahwasanya pengorganisasian matematika dalam sistem dan struktur itu sangat penting karena seperti yang dijelaskan pada materi kalau matematika itu bukan hanya sekedar kumpulan ide-ide yang terpisah tentang angka, logika, dan konfigurasi spasial saja, tetapi yang sangat penting adalah bagaimana kombinasi atau pengorganisasian ide-ide tersebut menjadi sistem dan struktur yang saling berhubungan, jadi ketika kita mengajar matematika di SD nanti kita perlu membantu siswa memahami bahwa setiap konsep matematika itu sebenarnya terhubung satu sama lain dan berkembang dari konsep-konsep dasar yang sudah mereka pelajari sebelumnya, sehingga matematika tidak dipandang sebagai serangkaian topik terpisah yang membosankan seperti yang sering terjadi selama ini tadi.
Penjelasan ini menegaskan bahwa matematika bukan sekadar kumpulan rumus dan hitungan, tetapi merupakan kumpulan ide abstrak yang tersusun rapi dalam pola, sistem, dan struktur. Matematika adalah aktivitas berpikir yang membutuhkan logika, intuisi, imajinasi, serta kemampuan menjelaskan dan membuktikan suatu ide. Pandangan ini membantu kita melihat matematika sebagai ilmu yang hidup dan bermakna, bukan pelajaran yang kaku.
BalasHapusPenjelasan tentang lima jalinan kemahiran matematika sangat penting. Matematika yang baik tidak hanya soal cepat menghitung, tetapi juga memahami konsep, memilih strategi, bernalar secara logis, dan memiliki sikap positif terhadap matematika. Jika salah satu bagian ini diabaikan, maka pemahaman siswa menjadi tidak utuh.
Saya setuju bahwa pandangan ini perlu diubah, terutama dalam pendidikan dasar. Matematika seharusnya membantu siswa memahami dunia, melihat pola, dan berpikir secara logis, bukan sekadar menghafal rumus atau tabel perkalian. Jika matematika diajarkan sebagai sistem ide yang saling terhubung dan dekat dengan konteks kehidupan, siswa akan lebih mudah memahami dan menghargainya.
BalasHapusNama: Arjuna
BalasHapusKelas: 5A
Npm: 2386206018
bahwa pembelajaran matematika seharusnya tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi menekankan proses memahami konsep dan alasan di balik suatu jawaban. Ketika siswa diajak mengeksplorasi ide, mencoba berbagai cara, dan menjelaskan pemikirannya, matematika menjadi lebih bermakna dan tidak terasa sekadar aturan yang harus dihafal.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Materi ini menurut saya sangat membuka sudut pandang tentang bagaimana matematika seharusnya dipahami, bukan hanya sebagai kumpulan rumus dan prosedur, tetapi sebagai ilmu yang penuh pola, makna, dan keterkaitan dengan kehidupan manusia. Penjelasan dari Eva Thanheiser dan NRC membuat saya sadar bahwa matematika sebenarnya lahir dari kebutuhan manusia untuk memahami dunia, budaya, dan relasi sosial, bukan sekadar untuk mengejar jawaban benar atau nilai tinggi. Jika konsep ini bisa lebih ditekankan sejak dini, mungkin citra matematika sebagai pelajaran yang menakutkan tidak akan sekuat sekarang.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Saya setuju nih, Pak. Bahwa cara matematika sekolah selama ini dipersepsikan memang cenderung sempit dan prosedural. Banyak siswa, termasuk saya dulu, menganggap matematika hanya soal cepat menghitung dan menghafal aturan tanpa benar-benar memahami maknanya. Padahal, lima jalinan kemahiran matematika yang dijelaskan menunjukkan bahwa matematika juga berkaitan dengan penalaran, strategi, refleksi, dan sikap positif. Sayangnya, aspek disposisi produktif sering terabaikan, sehingga siswa merasa matematika tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi lagi, Pak. Menurut saya, pandangan bahwa kalkulus adalah puncak matematika justru membuat banyak siswa merasa gagal sebelum mencoba. Ketika matematika diajarkan secara linier dan terpisah-pisah, siswa sulit melihat keterkaitan antar konsep dan makna besarnya. Akibatnya, matematika terasa asing dan jauh dari realitas. Jika sejak awal siswa diajak melihat matematika sebagai sistem ide yang saling terhubung dan bisa digunakan untuk memahami dunia, rasa percaya diri dan minat mereka mungkin akan tumbuh lebih baik.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin memberikan saran dari saya, Pak. Pendekatan pembelajaran matematika seharusnya lebih menekankan proses berpikir daripada hasil akhir. Daripada hanya menilai kecepatan dan ketepatan hitung, guru bisa memberi ruang bagi siswa untuk menjelaskan alasan, membuat generalisasi, dan mengaitkan konsep dengan pengalaman mereka. Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar “cara”, tetapi juga “mengapa”. Hal ini sejalan dengan tujuan matematika autentik sebagai proses magang dalam disiplin matematika, bukan sekadar latihan mekanis.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Kalau boleh curhat sedikit, Pak. Pengalaman saya sebagai siswa dulu memang sangat sesuai dengan yang dijelaskan dalam materi ini. Matematika terasa menegangkan karena selalu fokus pada jawaban benar dan salah, bukan pada proses memahami. Akibatnya, rasa cemas muncul lebih dulu sebelum mencoba berpikir. Setelah membaca materi ini, saya jadi paham bahwa masalahnya bukan pada matematikanya, tetapi pada cara kita memperkenalkannya. Menurut saya, perubahan cara pandang inilah yang penting dibawa oleh calon guru agar matematika bisa dirasakan lebih manusiawi dan bermakna.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi yaa, Pak. Materi ini membuka pandangan bahwa matematika seharusnya tidak hanya dipahami sebagai kumpulan rumus dan prosedur, tetapi sebagai ilmu yang penuh makna, pola, dan keterkaitan dengan kehidupan serta budaya. Penjelasan tentang kemahiran matematika dan pengalaman siswa yang merasa matematika itu menakutkan menunjukkan bahwa cara mengajar sangat berpengaruh pada cara siswa memandang matematika, Izin bertanya Pak, menurut Bapak, bagaimana guru dapat mulai mengubah pembelajaran yang terlalu fokus pada hitungan cepat menjadi pembelajaran yang lebih bermakna dan membangun pemahaman siswa?
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Dalam pendidikan matematika bisa memahami konsep abstrak dan struktur pembelajaran matematika tersebut adalah kunci dalam pembelajaran tersebut siswa belajar untuk memahami konsep struktur pembelajaran tersebut dan berfikir secara logis dan juga guru memberi sebuah materi pokok terhadap pembelajaran matematika tersebut sehingga siswa dapat memahami konsep pembelajaran tersebut.
Nama Hanifah
BalasHapusKelas 5C
NPM 2386206073
Materi ini menarik karena menekankan bahwa matematika bukan sekedar kumpulan rumus, tapi sebuah cara berpikir yang sistematis dan logis. Penjelasan tentang bagaimana matematika menjadi dasar dalam pendidikan membuat saya sadar bahwa tujuan utama bukan hanya menguasai hitungan, tapi membentuk pola pikir yang kritis dan terstruktur. Menurut saya, ini adalah pesan penting agar siswa tidak melihat matematika sebagai beban, tapi sebagai alat untuk memahami dunia.
Nama: Ajuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Mulai dari SD sampai SMA, tujuan belajar matematika menurut saya adalah agar kita bisa melihat hubungan antara angka, bentuk, dan situasi di sekitar kita, lalu mengolahnya jadi pemahaman yang lebih jelas. Jadi, matematika bukan hanya pelajaran di kelas, tapi juga alat untuk menata cara berpikir kita dalam kehidupan sehari-hari.
Nama : Dias Pinasih
BalasHapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin menambahkan dan menanggapi materi ya Pak 🙏
Menurut saya, materi ini membuka cara pandang baru tentang matematika. Selama ini matematika sering dianggap cuma hitung-hitungan dan rumus, padahal dari penjelasan Bapak terlihat jelas kalau matematika itu sebenarnya ide abstrak yang tersusun rapi dalam sistem dan struktur. Jadi bukan sekadar angka, tapi juga cara berpikir yang logis dan terorganisir. Ini penting banget buat calon guru supaya tidak salah menyampaikan makna matematika ke siswa.
Saya juga setuju bahwa matematika melatih pola pikir sistematis dan kemampuan memecahkan masalah. Kalau guru paham konsep ini, pembelajaran matematika tidak lagi hanya fokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses berpikir siswa. Ini menurut saya sangat relevan untuk diterapkan di SD supaya anak tidak takut duluan sama matematika.
Saran dari saya, mungkin ke depannya materi ini bisa ditambahkan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan siswa SD, misalnya contoh sederhana tentang pola, pengelompokan benda, atau aktivitas sehari-hari yang menunjukkan struktur matematika. Dengan begitu, konsep abstrak bisa lebih mudah dipahami dan tidak terasa terlalu berat.
HapusSedikit kritik dari saya, materinya cukup padat dan konseptual, jadi untuk pembaca awam atau mahasiswa yang baru belajar filsafat matematika mungkin agak sulit dipahami di awal. Mungkin bisa ditambahkan ringkasan atau penjelasan singkat di tiap bagian supaya alurnya lebih ringan dan tidak membingungkan.
Nama : Dias Pinasih
BalasHapusNPM : 2386206057
Kelas : 5B PGSD
Izin bertanya Pak 🙏
Bagaimana cara yang paling efektif bagi guru SD untuk menjelaskan konsep matematika sebagai ide abstrak dan sistem terstruktur kepada siswa, tanpa membuat siswa merasa matematika itu sulit dan menakutkan?
Nama: Selma Alsayanti Mariam
HapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Izin bantu menjawab ya kak dias, menurut saya jangan langsung memberikan mereka rumus di papan tulis. kalau mau ajarkan pembagian, bawa permen atau buah lalu bagi-bagi ke mereka. agar mereka dapat melihat terlebih dahulu visualnya sebelum masuk ke angka-angka di buku. atau coba selipkan game atau kuis yang seru. agar matematika yang tadinya sistem terstruktur yang kaku bisa jadi petualangan yang asik kalau dikemas menggunakan kompetensi kelompok atau tebak-tebakan.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Intinya jangan langsung bikin anak mikir waduh rumus lagi. Mulai aja dari hal yang mereka kenal sehari-hari, kayak main, cerita, gambar, atau benda di kelas. Kalau udah kebayang, baru deh masuk ke simbol dan hitungannya dikit-dikit.
Terus suasana kelasnya dibikin rileks, nggak tegang. Salah itu biasa, malah boleh. Kalau anak ngerasa nyaman dan ngerti maksudnya, matematika yang kelihatannya ribet jadi terasa lebih santai dan nggak serem.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari Dias, kalau menurut saya yaa cara paling efektif untuk menjelaskan konsep matematika sebagai ide abstrak dan sistem terstruktur kepada siswa SD adalah dengan membangun kecenderungan mereka untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga dalam kehidupan mereka caranya bisa dengan menghubungkan konsep matematika dengan konteks budaya dan kehidupan sehari-hari siswa seperti yang dijelaskan dalam materi bahwa matematika itu adalah upaya setiap peradaban untuk memahami alam dan menertibkan urusan manusia, jadi misalnya ketika mengajar penjumlahan kita bisa mulai dari hal nyata seperti menghitung kelereng atau buah-buahan yang mereka kenal lalu perlahan bantu mereka melihat pola dan hubungan antara konsep sehingga mereka paham bahwa matematika itu bukan hanya hafalan rumus yang menakutkan saja.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Dias Pinasih saya izin menjawab pertanyaan komentar anda yaa. Menurut saya, cara yang paling baik adalah guru menjelaskan matematika pelan-pelan dan dengan contoh nyata. Jangan langsung pakai rumus yang sulit, tapi mulai dari benda di sekitar anak, contoh nya kayak pensil, kelereng, uang, atau gambar. Guru juga bisa ajak anak bercerita dan bertanya, misalnya “Kalau kue ini dibagi sama rata, gimana caranya?” Jadi anak merasa matematika itu dekat dengan kehidupan, bukan sesuatu yang jauh dan menakutkan.
Kalau anak salah, guru nggak memarahi, tapi kasih semangat dan bantu. Dengan suasana kelas yang ramah dan menyenangkan, anak jadi berani mencoba dan berpikir, “Oh, matematika itu ternyata bisa dimengerti dan nggak perlu ditakuti.” 😊
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Menurut saya, guru tidak cuma memberi tau rumus saja akan tetapi juga menjadi fasilitator yang benar-benar paham akan konsep luar dan dalamnya. kemudian para murid pun harus terlibat aktif, eksplorasi sendiri, dan sering diskusi bareng teman agar dapat sudut pandang yang baru. lalu penting sekali harus paham kenapa suatu rumus itu ada, bukan cuma tau cara pakainya saja. tugasnya juga tidak harus melulu soal ujian tertulis, tapi bisa berupa proyek atau presentasi yang lebih nyata.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, pandangan matematika sebagai ilmu pola memperluas cara guru memaknai pembelajaran matematika. Matematika tidak hanya berisi aturan dan prosedur. Guru memandang matematika sebagai aktivitas intelektual yang melibatkan intuisi dan imajinasi. Siswa belajar membenarkan dan menggeneralisasi ide matematika. Proses ini mencerminkan praktik matematika autentik. Guru membimbing siswa seperti magang dalam disiplin matematika. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Lima jalinan kemahiran matematika menunjukkan bahwa belajar matematika bersifat menyeluruh. Pemahaman konseptual membantu siswa memahami makna di balik prosedur. Kelancaran prosedural mendukung ketepatan dan efisiensi perhitungan. Kompetensi strategis memungkinkan siswa memecahkan masalah secara fleksibel. Penalaran adaptif melatih siswa berpikir logis dan reflektif. Disposisi produktif membangun sikap positif terhadap matematika. Guru perlu mengembangkan kelima aspek tersebut secara seimbang.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Matematika sekolah sering dipersepsikan sebagai kumpulan aturan abstrak. Kurikulum banyak menekankan prosedur dan perhitungan. Siswa sering fokus pada jawaban benar daripada proses berpikir. Guru berperan penting mengubah cara pandang ini. Pembelajaran dapat diarahkan pada pemahaman konsep yang mendalam. Siswa belajar mengaitkan prosedur dengan makna. Matematika menjadi lebih masuk akal bagi siswa.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Definisi matematika sekolah yang linear membatasi pengalaman belajar siswa. Matematika sering diajarkan sebagai topik terpisah yang berujung pada kalkulus. Siswa memandang kalkulus sebagai puncak kemampuan matematika. Persepsi ini membuat matematika terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Banyak siswa merasa matematika membosankan dan menakutkan. Guru dapat menghadirkan matematika yang relevan dengan konteks nyata. Pembelajaran menjadi lebih inklusif dan manusiawi.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Tujuan matematika sekolah sering dipersepsikan hanya sebagai syarat naik jenjang. Kemahiran matematika dianggap sebatas kecepatan dan ketepatan berhitung. Pendekatan ini mendorong hafalan tanpa pemahaman. Guru perlu menekankan makna dan kegunaan matematika. Siswa didorong untuk melihat matematika sebagai alat berpikir. Proses belajar menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Matematika menjadi pengetahuan yang bernilai sepanjang hayat.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi menurut saya materi ini membuka pemahaman bahwa matematika bukan hanya soal angka dan rumus tetapi juga tentang pola logika dan cara manusia memahami dunia di sekitarnya matematika juga berkaitan dengan budaya dan kehidupan sehari hari sehingga pembelajaran matematika seharusnya lebih bermakna dan tidak hanya berfokus pada hasil akhir
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386296993
Menurut saya matematika autentik yang digambarkan sebagai proses magang dalam disiplin matematika menunjukkan bahwa siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam berpikir dan bernalar bukan hanya menerima penjelasan guru dengan cara ini siswa dapat belajar bagaimana matematika dibangun melalui proses pembenaran dan generalisasi
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
saya setuju bahwa lima jalinan kemahiran matematika saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena jika siswa hanya diajarkan cara menghitung tanpa memahami konsepnya maka siswa hanya menghafal tanpa benar benar mengerti sebaliknya jika siswa memahami konsep tetapi jarang berlatih prosedur mereka juga akan kesulitan sehingga pembelajaran matematika perlu menyeimbangkan pemahaman konsep latihan berhitung kemampuan memecahkan masalah dan kebiasaan berpikir positif
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386296993
Izin menanggapi menurut saya cara matematika diajarkan di sekolah selama ini sering terlalu fokus pada aturan dan rumus sehingga banyak siswa merasa matematika itu sulit menakutkan dan membosankan siswa hanya diminta mencari jawaban yang benar tanpa diajak memahami prosesnya hal ini membuat siswa cepat menyerah dan merasa matematika tidak dekat dengan kehidupan mereka
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Menurut saya disposisi produktif dalam matematika itu sangat penting karena berhubungan dengan cara siswa melihat matematika jika sejak awal siswa merasa matematika itu sulit dan tidak ada gunanya maka siswa akan cepat menyerah dan malas mencoba tetapi jika siswa dibiasakan melihat matematika sebagai pelajaran yang masuk akal dan berguna dalam kehidupan sehari hari maka siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan soal walaupun masih sering salah sikap percaya diri dan tidak mudah menyerah ini perlu dibangun sedikit demi sedikit melalui pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga siswa tidak hanya belajar menghitung tetapi juga belajar percaya pada kemampuan dirinya sendiri
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Pak, terima kasih atas materinya. Dari tulisan ini saya jadi lebih paham kalau matematika bukan sekadar angka atau rumus, tapi sebenarnya cara berpikir yang sistematis dan logis. Kalau siswa diajarin memahami konsepnya, bukan cuma menghafal langkah, mereka pasti bisa pakai matematika untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari. Artikel ini sangat bermanfaat buat kita yang ingin melihat pelajaran matematika lebih dari sekadar hitung-menghitung.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Iya, bener banget. Materi ini kayak ngingetin lagi kalau inti matematika itu ada di cara mikirnya, bukan di banyaknya rumus yang dihafal. Kalau konsepnya udah nyantol, mau soalnya dibikin beda atau dipakai di situasi sehari-hari, siswa tetap bisa jalan.
Justru di situ nilai pentingnya matematika. Bukan cuma buat ngerjain soal di kelas, tapi buat bantu mikir runtut, ambil keputusan, dan nyelesain masalah nyata. Jadi wajar kalau artikel ini kerasa relevan, apalagi buat yang pengin ngajarin matematika dengan cara yang lebih masuk akal dan bermakna.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin bertanya ya pak, bagaimana cara membantu siswa yang sudah merasa takut atau tidak suka dengan pelajaran matematika? terimakasih
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Intinya, bikin anak ngerasa nyaman dulu sama matematika. Mulai dari soal yang gampang dan dekat sama keseharian, jangan langsung yang susah.
Belajarnya juga dibikin santai, bisa lewat gambar, cerita, atau mainan kecil. Kalau salah, jangan dimarahin, tapi dibantu pelan-pelan. Kalau anak sering ngerasa “oh aku bisa”, lama-lama rasa takut sama matematikanya bakal hilang sendiri.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari Alya, menurut saya cara membantu siswa yang sudah merasa takut atau tidak suka dengan matematika adalah dengan mengubah kecenderungan mereka untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga, caranya kita sebagai guru harus menghindari pendekatan yang hanya fokus pada aturan saja yang membosankan, tetapi lebih baik kita tunjukkan kepada siswa bahwa matematika itu sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka dan sudah digunakan oleh setiap peradaban untuk memahami alam dan menertibkan urusan manusia, jadi misalnya kita bisa memulai dengan aktivitas yang menyenangkan dan kontekstual seperti bermain, bercerita, atau menggunakan benda-benda di sekitar mereka sehingga perlahan mereka akan menyadari bahwa matematika itu tidak menakutkan dan mereka sebenarnya mampu memahaminya dengan baik asalkan diajarkan dengan cara yang tepat dan menyenangkan.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, mengapa kita harus belajar matematika dasar? lalu pada materi ini disebutkan kalau ini pencapaian besar manusia. menurut bapak, sepenting apa sih untuk orang biasa agar bisa survive di kehidupan modern?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Karena matematika dasar itu kepake banget buat hidup sehari-hari, mau sadar atau nggak. Hal simpel kayak ngatur uang bulanan, baca diskon, ngerti grafik di berita, sampai mikir mana pilihan yang paling masuk akal, semuanya butuh dasar matematika. Kalau nggak punya itu, orang gampang bingung dan gampang salah ambil keputusan.
Dibilang pencapaian besar manusia karena matematika bikin cara mikir kita jadi lebih rapi dan logis. Di zaman sekarang yang serba angka dan data, orang biasa pun perlu matematika dasar buat bertahan. Nggak perlu jago hitung rumit, yang penting ngerti logikanya biar nggak gampang ketipu dan bisa ngadepin hidup dengan lebih siap.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya kembali pak, kenapa para calon guru pada materi ini merasa matematika itu seperti bahasa asing yang tidak akan digunakan di kehidupan sehari-hari?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Karena pengalaman belajar mereka dulu, matematika lebih sering diajarkan sebagai hafalan rumus, bukan sebagai alat buat mikir atau nyelesain masalah nyata. Sejak awal, matematika dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, jadi kesannya cuma dipakai pas di kelas atau ujian aja.
Selain itu, mereka jarang diajak ngaitin konsep matematika dengan situasi nyata. Akhirnya matematika terasa kayak simbol-simbol asing yang susah dipahami dan jarang kepake. Bukan karena matematikanya nggak berguna, tapi karena cara belajarnya dulu bikin matematika kehilangan makna.
Izin menambahkan Intinya, buat saya matematika itu bukan sekadar pelajaran, tapi cara berpikir. Kalau cara mengajarnya lebih manusiawi dan masuk akal, mungkin siswa nggak akan terlalu takut atau benci sama matematika.
BalasHapusSaya setuju dengan kutipan NRC yang menyatakan bahwa penguasaan matematika dasar adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk dapat berpartisipasi secara penuh dan efektif dalam kehidupan masyarakat modern.
BalasHapusArtikel ini dengan sangat baik menjelaskan bahwa matematika bukan sekadar mata pelajaran sekolah, melainkan pencapaian besar manusia yang menjadi fondasi penting bagi peradaban untuk memahami alam semesta.
BalasHapusPenjelasan mengenai "lima jalinan kemahiran" sangat mencerahkan karena menunjukkan bahwa menjadi mahir dalam matematika tidak cukup hanya dengan menghafal rumus, tetapi juga memerlukan pemahaman konseptual dan penalaran adaptif.
BalasHapusSaya sangat tertarik pada konsep "disposisi produktif", di mana siswa didorong untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal dan berguna, bukan sebagai momok yang menakutkan.
BalasHapusMenurut saya artikel ini berhasil mendobrak pandangan kaku tentang matematika dengan menghubungkannya secara erat pada konteks budaya dan kebutuhan praktis dalam menertibkan urusan manusia selama ribuan tahun.
BalasHapusNama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Konteks pembelajaran matematika sangat sulit bagi siswa untuk mengerjakan soal
Tersebut dimana guru akan menyampaikan soal secara struktur .
Jadi ini sangat bagus bagi guru untuk menyampaikan sebuah ide
HapusPemahaman belajar mereka kepada siswa jadi siswa dapat memahami
Konsep dasar matematika
Pembelajaran matematika matematika itu lebih kondusif Dan efektif tapi bagi siswa pembelajaran matematika itu sulit untuk di pahami jadi guru
HapusMengajar bagian dasar matematika jadi siswa dapat memahami.
Penjelasan materi tersebut itu mengajar anak untuk bisa lebih mahir
HapusDalam pembelajaran matematika tersebut dan mengerjakan soal tersebut.
Jadi tujuan pembelajaran tersebut itu membantu siswa untuk memahami konsep dasar matematika lebih efektif.
HapusNama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
dari materi ini sangat jelas dan mudah dipahami karena disampaikan secara runtut. Saya jadi lebih mengerti inti pembahasan dari awal sampai akhir. Contoh yang diberikan juga membantu memperjelas penjelasan. Menurut saya materi ini penting untuk menambah wawasan kita.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Saya setuju dengan penjelasan pada materi ini karena sesuai dengan pembelajaran yang kita terima. Penyampaian materinya sederhana namun bermakna. Hal ini membuat pembaca tidak bingung saat memahaminya. Materi ini juga bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386306090
Materi ini menjelaskan konsep dengan baik dan terstruktur. Informasi yang disampaikan relevan dengan topik pembelajaran. Saya mendapatkan pengetahuan baru setelah membaca materi ini. Semoga ke depannya penjelasan seperti ini terus digunakan.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Penjelasan dalam materi ini cukup lengkap dan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga tidak membingungkan. Materi ini membantu saya memahami topik yang dibahas dengan lebih baik. Saya merasa materi ini sangat bermanfaat bagi pelajar.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
memberikan pemahaman yang jelas tentang topik yang dibahas. Isi materinya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penjelasan yang disampaikan cukup menarik untuk dibaca. Saya berharap materi seperti ini bisa terus dikembangkan.
Nama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Materi ini membuka cara pandang bahwa matematika seharusnya tidak berhenti pada hitung-hitungan dan hafalan rumus, tetapi menjadi proses berpikir yang hidup, penuh makna, dan dekat dengan budaya serta kehidupan sehari-hari. Penjelasan tentang lima jalinan kemahiran matematika sangat mengingatkan bahwa keberhasilan belajar matematika bukan soal cepat menjawab, melainkan memahami, bernalar, dan percaya diri menghadapi masalah, sehingga matematika bisa dirasakan lebih masuk akal dan tidak lagi menakutkan bagi siswa.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Setuju banget sama ini. Dari materi ini kelihatan jelas kalau matematika tuh harusnya hidup dan dekat sama keseharian anak, bukan cuma angka di buku. Lima jalinan kemahiran itu ngingetin kalau yang penting bukan siapa paling cepat, tapi siapa yang ngerti dan berani mikir.
Kalau siswa diajak paham prosesnya, dikaitin sama budaya dan pengalaman sehari-hari, matematika jadi lebih masuk akal. Rasa takut pelan-pelan bisa hilang, dan anak jadi lebih percaya diri waktu ketemu masalah, bukan malah langsung nyerah.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Jujur, waktu membaca bagian terakhir itu relate banget. kebanyakan dari kita memang mengganggap matematika itu hanya soal menghitung cepat, menghafal rumus, sama menakutkan sekali. padahal kata Eva Thanheiser, seharusnya matematika itu menjadi pola ilmu yang menggunakan imajinasi sama intuisi. sayangnya, di sekolah kita lebih sering dipaksa menghafal tabel perkalian saja daripada mengerti konsepnya. tidak heran kalau banyak yang merasa matematika itu bahasa asing yang tidak akan digunakan di kehidupan sehari-hari.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Ternyata matematika itu bukan hanya soal mendapatkan nilai 100 ketika ujian saja. di sini dijelaskan kalau matematika itu salah satu pencapaian terbesar manusia untuk mengerti alam semesta. tapi mirisnya, sekolah malah membuat matematika kelihatan seperti tumpukan aturan abstrak yang membosankan. padahal intinya itu ada di lima jalinan kemahiran, seperti bagaimana kita bisa berpikir logis sama mempunyai habit kalau matematika itu masuk akal (disposisi produktif). bukan hanya sekedar puncak yang mentok di kalkulus saja.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Iya, setuju banget. Matematika itu sebenernya keren dan dalem, dipakai manusia buat ngerti alam, pola, dan cara kerja dunia. Tapi sayangnya di sekolah sering keburu dipersempit jadi hafalan rumus + target nilai. Alhasil yang kelihatan ke siswa cuma capeknya, bukan maknanya.
Lima jalinan kemahiran itu ngingetin kalau matematika tuh bukan cuma soal bisa ngitung, tapi juga soal cara mikir, nalar, nyelesain masalah, dan yang paling penting: ngerasa kalau matematika itu masuk akal dan berguna. Disposisi produktif ini sering kelupaan, padahal justru ini yang bikin anak nggak gampang nyerah dan nggak takut sama matematika.
Jadi bener banget, tujuan belajar matematika bukan buat mentok di materi tinggi kayak kalkulus doang, tapi buat ngebentuk cara mikir yang logis dan masuk akal buat dipakai seumur hidup. Kalau ini yang ditekankan dari awal, matematika nggak bakal kelihatan seseram itu.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Tambahan lagi, di sekolah matematika seringnya cuma fokus ke rumus dan cepat selesai. Anak jadi mikir matematika itu ribet dan jauh dari kehidupan. Padahal kalau diajak ngerti cara mikirnya dan dikaitin sama hal sehari-hari, matematika tuh masuk akal kok. Masalahnya bukan di materinya, tapi di cara nyampeinnya. Kalau dari awal anak ngerasa “oh ini kepake ya”, lama-lama rasa takutnya juga turun. Matematika jadi bukan buat nilai doang, tapi buat bantu mikir.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Setelah membaca materi ini hampir sama dengan pembahasan materi materi yang sebelumnya, saya jadi semakinsadar bahwa matematika itu bukan sekadar hitung-hitungan atau hafalan rumus, tapi sebuah sistem ide dan pola yang saling terhubung dan dekat dengan konteks kehidupan, budaya, dan cara manusia berpikir. Penjelasan tentang lima jalinan kemahiran matematika membuka wawasan saya bahwa belajar matematika seharusnya menekankan pemahaman, penalaran, dan sikap positif terhadap matematika, bukan cuma kecepatan mengerjakan soal. Materi ini juga “ngeh” banget karena menjelaskan kenapa banyak siswa merasa matematika itu menakutkan dan membosankan karena selama ini matematika sekolah terlalu fokus pada prosedur dan target naik ke materi berikutnya, bukan pada makna dan proses berpikirnya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusNama: Stevani
HapusNPM: 2386206045
Kelas: VC
Saya punya pertanyaan, Jika matematika sekolah selama ini lebih dipersepsikan sebagai kumpulan aturan dan prosedur abstrak, bagaimana dampak pendekatan tersebut terhadap disposisi produktif siswa, dan bagaimana penerapan lima jalinan kemahiran matematika dapat mengubah cara siswa memaknai matematika sebagai ilmu yang bermakna dan relevan?
nama : miftahul hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Izin bertanya, artikel ini menunjukkan bahwa matematika itu lebih dari sekadar hitung-hitung — bahwa matematika punya struktur, logika, dan sistem yang bisa membantu siswa berpikir secara tertata. Tapi di praktik sekolah saya sering melihat matematika diajarkan sebagai rangkaian rumus dan prosedur saja. Menurut Bapak, apa tantangan terbesar supaya kita bisa membawa sisi “abstrak & struktural” matematika ke kelas tanpa membuat siswa tambah takut atau stres?
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Menurut saya tantangan paling besarnya itu ada di cara nyampeinnya. Konsep matematika yang abstrak sebenernya nggak salah, cuma sering langsung dilempar mentah-mentah ke siswa. Akhirnya anak langsung mikir
wah susah duluan.
Biar sisi struktur dan logikanya masuk tanpa bikin stres, guru perlu mulai dari hal yang dekat sama anak. Misalnya dari cerita, gambar, benda nyata, atau pola sederhana dulu, baru pelan-pelan ditarik ke rumus dan simbol. Jadi anak ngerasa, oh ternyata ini masuk akal, bukan cuma disuruh hafal.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Tantangan lainnya juga soal waktu dan kebiasaan. Karena dikejar target, guru kadang fokus ke cepat selesai materi, bukan ke pahamnya anak. Padahal kalau konsep dasarnya dapet, ke depannya malah lebih gampang.
Intinya, sisi abstrak matematika itu tetap bisa dibawa ke kelas asal dibikin ramah: pelan-pelan, banyak contoh, dan nggak langsung menuntut jawaban benar. Kalau anak udah merasa aman dan ngerti alurnya, rasa takut sama matematika biasanya ikut hilang.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
pendidikan matematika menurut aku juga ngasih bekal buat kehidupan nyata misalnya ngatur keuangan bisa ngerti statistik sederhana atau kerja tim waktu ngerjain proyek yang butuh logika itu bikin pelajaran ini jadi bukan sekadar kewajiban sekolah tapi skill yang relevan buat masa depan siswa
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5C
Menurut Saya artikel menyebut bahwa penguasaan matematika melibatkan lima aspek: pemahaman konseptual, kelancaran prosedural, kompetensi strategis, penalaran adaptif, dan disposisi produktif. Kalau begitu, apakah masuk akal kalau penilaian di sekolah hanya fokus pada jawaban cepat dan benar? Bagaimana sebaiknya guru menilai supaya aspek-aspek mendalam itu juga terlihat, bukan hanya kemampuan hitung saja?
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi terkait materi yang bapak sampaikan diatas, Saya juga setuju bahwa matematika nggak melulu soal angka kaku di buku cetak, tapi aslinya nempel banget sama budaya dan kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari. Bayangkan saja gimana orang zaman dulu membangun candi atau rumah adat yang simetris banget, itu kan pakai hitungan matang yang diturunkan lewat tradisi, bukan cuma asal tumpuk batu doang. Bahkan dalam hal sepele kayak menakar bumbu masakan tradisional atau menghitung hari baik buat acara hajatan, masyarakat kita tuh sudah pakai logika matematika yang unik dan keren banget. Kalau anak diajari pakai contoh nyata dari budaya sekitarnya, mereka jadi nggak bakal mikir kalau matematika itu "musuh" yang membosankan, tapi malah merasa kalau itu bagian dari identitas mereka sendiri.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Haii Putrii, saya sangat setuju dengan pendapat kamu karena memang seperti yang dijelaskan pada materi ini bahwa matematika itu adalah upaya yang dilakukan selama ribuan tahun oleh setiap peradaban untuk memahami alam dan menertibkan urusan manusia, jadi contoh-contoh yang kamu sebutkan seperti pembangunan candi dengan perhitungan simetris, takaran bumbu masakan, atau menghitung hari baik itu semua adalah bukti nyata bahwa matematika memang sudah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari kita, dan kalau kita sebagai calon guru SD bisa mengajarkan matematika dengan menghubungkannya ke konteks budaya lokal seperti ini maka siswa akan membangun disposisi produktif yaitu kecenderungan untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga bagi kehidupan mereka.
Nama: Ratna Andina
BalasHapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Menurut aku materi ini tuh bikin kita sadar kalau matematika nggak seseram itu sebenernya. Selama ini kan seringnya matematika cuma identik sama angka dan rumus, padahal isinya lebih ke cara mikir yang runtut dan nyambung satu sama lain. Kalau konsep dasarnya udah kebentuk, soal model apa pun jadi lebih gampang dihadapi.
Terus aku juga ngerasa tulisan ini kayak nyentil guru biar ngajarnya jangan cuma ngejar kelar materi. Anak-anak perlu dikasih waktu buat ngerti alurnya, bukan cuma disuruh hafal. Soalnya kalau cuma hafal, begitu soalnya dipelintir dikit langsung blank.
Yang aku suka, bacaan ini nunjukin kalau matematika itu sistem yang rapi. Jadi satu konsep tuh nyambung ke konsep lain, bukan berdiri sendiri. Kalau itu dijelasin pelan-pelan, matematika bisa jadi lebih masuk akal dan nggak bikin pusing.
Nama: Ratna Andina
HapusNPM:2386206074
Kelas: 5C PGSD
Selain itu, bacaan ini juga bikin kita mikir kalau cara guru nyampein materi itu ngaruh banget ke cara anak ngerti matematika. Kalau dari awal udah dikasih gambaran besarnya dulu, anak jadi tahu “oh, ini lagi belajar apa sih sebenernya”, bukan asal ngerjain soal.
Aku juga ngerasa tulisan ini cocok banget buat ngingetin kita supaya nggak buru-buru pindah ke materi baru. Kadang kita mikir anak udah bisa karena nilainya oke, padahal belum tentu mereka beneran paham. Padahal kalau fondasinya belum kuat, materi selanjutnya malah makin bikin bingung.
Terus, materi ini juga kayak ngajak kita buat lebih sabar ngeliat proses belajar anak. Salah itu wajar, karena dari situ justru kelihatan cara berpikir mereka. Dari kesalahan itu guru bisa tahu bagian mana yang perlu dikuatin lagi.
HapusPokoknya, materi ini ngebuka mata banget kalau matematika itu soal membangun cara mikir pelan-pelan. Kalau konsepnya nyantol, anak nggak cuma jago di kelas, tapi juga bisa kepake di kehidupan sehari-hari.
NPM : 2386206060 (5B)
BalasHapusyang lagi dibahas soal matematika sebagai ide abstrak itu emang kerasa banget di sekolah banyak siswa bingung bukan karena mereka nggak pinter tapi karena dari awal langsung ketemu konsep yang nggak kelihatan bentuknya dunia nyata orang biasanya paham sesuatu kalau ada contoh konkrit dulu Jadi masukannya matematika sebaiknya lebih sering dikaitin sama hal yang anak temuin sehari-hari biar nggak cuma jadi angka kosong di buku.
NPM : 2386206060
BalasHapusNAMA : OKTA PUTRI ADITIA
KELAS : 5B
matematika sebagai sistem dan struktur itu sebenernya penting tapi sering nggak kerasa sama siswa di kelas siswa taunya cuma ini rumus pakai yang itu padahal kalau mereka tau hubungan antar konsep belajarnya bisa lebih masuk akal di dunia nyata kan kita juga nyusun sesuatu pelan-pelan nggak lompat langsung jadi Jadi saran aku guru bisa sering jelasin alurnya bukan cuma hasil akhirnya.
NPM : 2386206060 (5B)
BalasHapusNAMA : OKTA PUTRI ADITIA
tujuan pendidikan matematika ini relate banget banyak siswa mikir matematika cuma buat ujian abis itu lupa dan yang penting justru cara mikirnya di kehidupan sehari-hari orang butuh logika bukan hafalan rumus Jadi pembahasan ini kayak ngingetin kalau matematika itu alat buat mikir bukan cuma pelajaran buat dikejar nilainya
NPM : 2386206060 (5B)
BalasHapuspembahsan lima aspek kemahiran matematika ini menurutku bagus tapi di lapangan sering nggak seimbang yang dikejar biasanya cuma bisa ngerjain soal cepat sementara paham konsepnya belum tentu di dunia nyata orang nggak ditanya seberapa cepat ngitung tapi seberapa tepat ngambil keputusan Jadi saran aku pembelajaran matematika jangan cuma fokus ke hasil tapi ke proses mikirnya juga.
NPM : 2386206060 (5B)
BalasHapustentang matematika sekolah yang dianggap susah dan menakutkan ini fakta banget banyak orang dewasa aja masih bilang aku nggak bisa matematika karena pengalaman buruk waktu sekolah pembahsan ini masuk akal karena cara penyampaian punya pengaruh besar Kalau dari awal udah bikin takut wajar kalau anak jadi males Jadi penting banget bikin suasana belajar matematika lebih santai dan nggak bikin tegang
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, artikel ini membuka wawasan bahwa matematika bukan sekadar kumpulan rumus, tetapi merupakan ilmu tentang pola, struktur, dan pengorganisasian ide. Pandangan ini membantu kita memahami bahwa belajar matematika seharusnya melatih intuisi, imajinasi, dan cara berpikir logis siswa, bukan hanya menghafal prosedur.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Leoni, izin ya 🙏🏻
Benar yang kamu katakan diatas ketika kita melihat matematika sebagai pengorganisasian ide, kita sebenarnya sedang memanusiakan mata pelajaran tersebut. Matematika bukan lagi benda mati yang jatuh dari langit dalam bentuk rumus, melainkan hasil kreativitas manusia untuk merapikan pemikiran yang abstrak menjadi sistem yang teratur.. 👍🏻
Izin menambahkan 🙏🏻
HapusPergeseran sudut pandang dari "menghafal prosedur" menjadi "melatih intuisi dan imajinasi" adalah kunci untuk menghilangkan trauma matematika pada siswa. Jika siswa diajak melihat matematika sebagai alat untuk menemukan pola di balik kekacauan, mereka akan merasa memiliki otonomi intelektual. Mereka tidak lagi sekadar menjadi robot pelaksana instruksi, tetapi menjadi penemu yang menggunakan logika untuk mencapai kesimpulan yang bisa mereka buktikan sendiri kebenarannya.. 😀
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, penjelasan tentang matematika sebagai bagian dari budaya dan kehidupan manusia sangat menarik. Hal ini menunjukkan bahwa matematika berkembang bersama masyarakat dan digunakan untuk memahami dunia nyata, sehingga pembelajaran matematika di sekolah perlu dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, konsep lima jalinan kemahiran matematika sangat penting dalam pendidikan. Pemahaman konseptual, kelancaran prosedural, kompetensi strategis, penalaran adaptif, dan disposisi produktif saling melengkapi dan harus dikembangkan secara seimbang agar siswa benar-benar mahir dalam matematika.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, kritik terhadap matematika sekolah yang terlalu fokus pada aturan dan prosedur abstrak sangat relevan. Pembelajaran yang hanya menekankan perhitungan cepat sering membuat siswa merasa matematika membosankan dan menakutkan, sehingga mereka kurang memahami makna di balik konsep yang dipelajari.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, anggapan bahwa kalkulus adalah puncak matematika perlu ditinjau kembali. Matematika seharusnya dipahami sebagai proses berpikir dan pemecahan masalah, bukan hanya sebagai tangga menuju materi berikutnya. Dengan pendekatan yang lebih bermakna, siswa dapat melihat matematika sebagai ilmu yang berguna dan bernilai dalam kehidupan.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Artikel ini menarik karena menjelaskan peran matematika dalam pendidikan matematika secara jelas. Karena penting bagi guru dan siswa untuk memahami bahwa matematika bukan sekadar hitung-hitungan, tapi juga cara berpikir logis dan sistematis. Dengan pemahaman ini, pembelajaran bisa lebih bermakna dan menstimulasi kemampuan berpikir siswa.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Menurut artikel ini, matematika bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir sistematis siswa. Karena guru yang menerapkan pendekatan ini bisa membuat belajar matematika lebih menyenangkan dan bermakna. Anak-anak jadi tidak hanya fokus pada jawaban, tapi juga memahami proses dan strategi dalam menyelesaikan masalah.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
HapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
Bagaimana cara membuat siswa tidak hanya fokus pada jawaban, tapi juga memahami proses dan strategi dalam menyelesaikan soal?
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,izin menanggapi pak,Artikel ini menjelaskan kalau pendidikan matematika bukan hanya mengajarkan rumus, tapi juga membentuk pola pikir kritis. Anak-anak jadi terbiasa memecahkan masalah dan berpikir logis. Saya ingin tahu, metode pembelajaran apa yang paling efektif untuk menekankan aspek berpikir logis ini di kelas?
Nama: Dominika Dew Daleq
BalasHapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Setelah saya membaca materi ini saya menjadi sadar bahwa selama ini pandangan kita tentang matematika sekolah memang terlalu sempit ya pak, karena kebanyakan dari kita menganggap matematika itu hanya soal hafalan rumus dan menghitung saja padahal sebenarnya matematika itu jauh lebih luas dari itu, seperti yang dijelaskan dalam materi ini bahwa matematika adalah aktivitas intelektual yang membutuhkan intuisi dan imajinasi serta merupakan upaya ribuan tahun setiap peradaban untuk memahami alam dan kehidupan yang paling menarik untuk saya yaitu konsep lima jalinan kemahiran matematika terutama disposisi produktif yaitu kecenderungan untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna dan berharga, karena kalau kita sebagai calon guru SD bisa membangun disposisi produktif ini pada siswa dengan menghubungkan matematika ke konteks budaya dan kehidupan sehari-hari mereka maka matematika tidak akan lagi dipandang sebagai pelajaran yang menakutkan atau membosankan seperti yang sering terjadi selama saat ini, adapun tantangan kita ke depan adalah bagaimana mengajar matematika tidak hanya fokus pada aturan tetapi juga menunjukkan bahwa matematika itu bagian penting dari identitas budaya dan kehidupan kita sehari-hari.
NPM : 2386206060
BalasHapusNAMA : OKTA PUTRI ADITIA (5B)
soal peran matematika di kehidupan modern juga nyata banget Sekarang hampir semua hal pakai matematika dari teknologi sampai ngatur keuangan tapi sayangnya di sekolah kadang anak nggak dikasih gambaran ini padahal kalau mereka tau manfaatnya di kehidupan nyata mungkin pandangan ke matematika bisa lebih positif dan nggak cuma dianggap pelajaran sulit
Nama : Desy Olivia Sapitri
BalasHapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Izin pak, terimakasih atas penyampaian materi diatas 🙏🏻
Pada materi ini sangat penting karena membahas kesenjangan besar antara matematika sebagai pencapaian peradaban dan matematika sebagai mata pelajaran sekolah. Penyebab utama munculnya persepsi negatif seperti rasa takut dan bosan adalah karena matematika sering kali disajikan hanya sebagai daftar prosedur abstrak dan aturan berhitung yang kaku. Ketika fokus pendidikan hanya mengejar kecepatan dan keakuratan jawaban benar, siswa kehilangan kesempatan untuk menggunakan intuisi dan imajinasi mereka, sehingga matematika terasa seperti bahasa asing yang tidak punya kegunaan nyata selain untuk lulus ke jenjang kelas berikutnya.. 👍🏻
Izin menambahkan pak 🙏🏻
HapusAgar matematika menjadi lebih relevan, strategi yang bisa diambil adalah dengan mengembalikan aspek intuisi dan imajinasi dalam setiap pembelajarannya. Guru sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai pemberi instruksi metode, tetapi sebagai pembimbing dalam "magang" intelektual. Dengan memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan generalisasi dan pembenaran atas temuan mereka sendiri, matematika berubah dari mata pelajaran yang "netral dan mati" menjadi aktivitas kreatif yang hidup. Ketika siswa mulai melihat bahwa matematika adalah cara manusia selama ribuan tahun untuk menertibkan alam dan urusan sosial, mereka akan memiliki disposisi produktif atau keyakinan bahwa ilmu ini masuk akal dan sangat mereka butuhkan untuk menjadi anggota masyarakat yang berpartisipasi penuh.. 😄
Tanggapan dari Desy Olivia Sapitri memberikan perspektif yang sangat tajam mengenai realitas pendidikan matematika saat ini. Ia menyoroti adanya kesenjangan antara nilai filosofis matematika dan cara matematika diajarkan di sekolah. Desy menggarisbawahi poin yang sangat krusial: matematika adalah salah satu pencapaian tertinggi peradaban manusia. Namun, ketika masuk ke ruang kelas, ia seringkali menyusut menjadi sekadar daftar prosedur yang kaku.
HapusKetidakhadiran konteks sejarah dan filosofis dalam pembelajaran membuat siswa gagal melihat matematika sebagai alat yang membangun dunia.
Fokus ke perubahan cara pandang)
BalasHapusWah, materi ini bener-bener ngebuka mata saya sih Pak. Terutama pas bagian yang bilang kalau kebanyakan orang—termasuk saya sendiri—ngelihat kalkulus itu sebagai puncak paling tinggi di matematika. Padahal kalau dibaca lagi, matematika itu luas banget, bukan cuma soal jadi "kalkulator berjalan" yang harus hafal tabel perkalian atau hitung cepat. Saya baru sadar kalau matematika itu sebenarnya alat buat kita manusia supaya bisa ngatur sistem dan struktur di kehidupan ini.
Saya juga ngerasa kesindir pas baca bagian calon guru SD yang ngerasa matematika itu bahasa asing yang nggak dimengerti. Soalnya jujur aja Pak, kadang saya juga ngerasa cemas kalau ketemu soal yang ribet. Tapi lewat materi ini, saya jadi paham kalau yang paling penting itu sebenarnya gimana kita punya "disposisi produktif", alias percaya kalau matematika itu masuk akal dan ada gunanya. Jadi nanti pas saya beneran terjun jadi guru, saya nggak mau cuma kasih hafalan rumus ke murid-murid, tapi pengen ngebantu mereka biar nggak takut duluan sama matematika. Ternyata matematika itu bukan cuma soal angka ya Pak, tapi soal cara kita berpikir logis buat nyelesaiin masalah di sekitar kita.
Tanggapan Rakinah Hidayah menunjukkan refleksi diri yang sangat mendalam dan kritis, terutama bagi seorang calon guru Sekolah Dasar (PGSD). Pesan yang disampaikan menyentuh inti dari permasalahan pendidikan matematika saat ini: pergeseran dari sekadar menghafal (prosedural) ke pemahaman bermakna (konseptual). Rakinah sangat tepat dalam menyadari bahwa matematika bukan hanya soal kalkulus atau angka-angka rumit. Kesadaran bahwa matematika adalah alat untuk mengatur sistem dan struktur kehidupan adalah langkah awal untuk menjadi guru yang hebat. Jika seorang guru memahami relevansi matematika, ia akan lebih mudah menjelaskan "untuk apa kita belajar ini?" kepada siswanya nanti.
HapusFokus ke gimana kita ngelihat matematika)
BalasHapusbaca materi ini bikin saya jadi mikir ulang soal matematika. Selama ini kan saya sama teman-teman ngerasa matematika itu kayak musuh ya Pak, isinya cuma rumus, hitung-hitungan cepat, sama hafalan perkalian doang. Ternyata di materi ini dijelasin kalau matematika itu sebenarnya lebih ke arah cara kita ngatur ide sama pola pikir supaya lebih terstruktur.
Saya setuju banget sama bagian yang bilang kalau banyak calon guru SD kayak kita ini merasa matematika itu membosankan atau malah bikin cemas. Mungkin karena dari dulu kita diajarinnya cuma buat "nyari jawaban yang benar" doang, bukan buat paham kenapa rumusnya bisa begitu. Jadi pas nanti saya jadi guru, saya pengennya nggak cuma ngajarin cara hitung cepat, tapi gimana biar anak-anak itu nggak ngerasa matematika itu bahasa asing yang nggak berguna buat kehidupan mereka. Soalnya kalau dipikir-pikir, matematika itu kan cara manusia buat paham alam semesta juga, bukan cuma sekadar angka-angka di atas kertas.
Fokus ke kemahiran dan manfaat matematika)
BalasHapusMenarik banget materinya Pak, apalagi bagian yang ngebahas soal lima jalinan kemahiran matematika itu. Selama ini saya pikir kalau udah bisa ngerjain soal dengan cepat dan hasilnya benar, berarti udah jago matematika. Tapi ternyata ada hal lain kayak penalaran adaptif sama disposisi produktif yang nggak kalah penting. Jadi bukan cuma soal pinter hitung-hitungan, tapi gimana kita bisa yakin kalau matematika itu sebenarnya masuk akal dan berguna buat kita.
Terus saya juga baru sadar kalau matematika sekolah itu seringnya diajarin kepisah-pisah per topik, padahal tujuannya buat ngebentuk pemahaman yang luas sampai ke kalkulus. Sebagai mahasiswa yang nanti bakal ngajar, saya ngerasa ini jadi tantangan sih Pak. Soalnya sering banget matematika dianggap nggak ada hubungannya sama budaya atau masyarakat, padahal di materi Bapak disebutin kalau tiap peradaban punya cara sendiri buat paham alam pakai matematika. Jadi ke depannya saya pengen lebih banyak belajar gimana caranya biar matematika itu nggak kelihatan kayak aturan abstrak yang nggak ada ujung pangkalnya, tapi sesuatu yang emang penting buat sehari-hari.
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
ini bikin aku sadar kalau proses belajar matematika itu bukan sekadar ngerjain soal tapi gimana kita bangun pemahaman konsep dari dasar sampai lebih kompleks biar murid gak cuma hapal tapi ngerti beneran
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Yang Aku suka bagian yang ngomongin tentang pentingnya pembelajaran matematika yang kontekstual karena waktu belajar berdasarkan realita sehari-hari murid jadi lebih “ngerti” dan gak ngerasa matematika itu aneh atau ngeri
Materi ini ngebahas kalau matematika punya sistem dan struktur yang jelas, bukan asal dibuat. Setiap konsep punya aturan dan hubungan tertentu. Menurut saya, ini sering nggak kelihatan di pembelajaran SD karena fokusnya lebih ke hasil akhir. Padahal, kalau struktur konsepnya dipahami, siswa bisa lebih ngerti kenapa suatu aturan itu berlaku. Materi ini ngingetin saya kalau guru SD nggak cukup cuma bisa ngasih soal, tapi juga harus ngerti alur berpikir matematikanya.
BalasHapusNama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
izin menambahkan Pak, menurut Eva Thanheiser dalam tulisannya di tahun 2023, matematika itu nggak cuma soal angka atau rumus ribet doang, tapi lebih ke arah ilmu tentang pola yang punya tiga sudut pandang keren.
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
menurut Eva Thanheiser matematika dilihat sebagai kumpulan ide dan struktur abstrak yang saling nyambung. matematika itu kayak kacamata atau bahasa buat kita memahami apa yang terjadi di dunia nyata lewat konteks di sekitar kita. Terakhir, yang paling asik, dia bilang matematika itu adalah aktivitas manusia atau kata kerja, jadi itu bagian dari identitas kita pas lagi nyoba mecahin masalah atau mikir logis, bukan cuma benda mati yang dihafal di sekolah.
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
izin menambahkan Pak, setelah saya membaca materi diatas saya setuju dengan Eva Thanhieser. menurut Eva Thanheiser dalam tulisannya di tahun 2023, matematika itu nggak cuma soal angka atau rumus ribet doang, tapi lebih ke arah ilmu tentang pola yang punya tiga sudut pandang keren
Nama : Yasmin
BalasHapusKelas : 5D
NPM : 2386206071
Matematika itu bukan cuma soal hitung-hitungan, tapi juga ngajarin siswa buat berpikir logis dan ngerti konsep abstrak. Guru yang ngajarin siswa buat melihat pola, hubungan, dan struktur ide bikin anak lebih paham kenapa suatu rumus atau metode bisa dipakai. Dengan cara ini, siswa gak cuma hafal rumus, tapi ngerti alasannya. Matematika jadi lebih dari pelajaran, tapi juga alat bantu berpikir yang berguna di kehidupan sehari-hari.