Sebagai guru, mampukah Anda menjawab pertanyaan berikut untuk setiap siswa di kelas Anda?
- Siapa di kelas Anda yang gemar membaca?
- Apa buku favorit mereka sejak kelas tiga?
- Apakah semua siswa Anda membaca sesuai tingkat kelas mereka?
- Kapan terakhir kali setiap siswa membaca buku yang tidak ditugaskan?
Bagi guru yang mengajar siswa tingkat lanjut, menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi tantangan. Hal ini disebabkan karena seringkali kurangnya perhatian terhadap kebiasaan membaca mandiri siswa yang lebih tua. Meskipun tugas membaca diberikan, eksplorasi mandiri sering kali terabaikan.
Situasi ini memunculkan dua pertanyaan penting:
- Mengapa membaca mandiri kurang menjadi fokus pada siswa yang lebih besar?
- Apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan mereka dalam membangun keterampilan literasi?
Kathy Y. Stovall (2023) memberikan saran sebagai berikut
Sebagai seorang guru yang bertanggung jawab atas pembelajaran, pastinya pernah menghadapi kekhawatiran besar terkait literasi siswa. Beberapa siswa tidak pernah mencoba membaca buku sejak kelas dua, beberapa lainnya kesulitan membaca sesuai tingkat kelas, sementara ada yang benar-benar kehilangan semangat untuk belajar membaca.
Guru menyadari perlunya pendekatan berbeda untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa dan menumbuhkan kecintaan terhadap membaca. Di awal tahun ajaran, saya mengamati kurangnya minat siswa terhadap membaca, serta kelemahan mereka dalam kosakata dan pengetahuan dasar.
Langkah Awal: Pendekatan Personal
Sebagai solusi, guru merancang rencana literasi yang dimulai dengan berbicara langsung kepada siswa. Selama enam minggu kedua tahun ajaran, dua hari dalam seminggu seorang guru menggunakan untuk mewawancarai 24 siswa, mempelajari minat mereka, dan memahami pandangan mereka tentang membaca.
Percakapan Berorientasi Literasi
Memilih beberapa siswa secara acak untuk diajak berbincang. Percakapan ini berlangsung sekitar lima hingga tujuh menit, dimulai dengan pertanyaan ringan seperti:
- "Apa yang kamu sukai?"
- "Apa kegiatan favoritmu?"
- "Buku apa yang terakhir kamu baca?"
Jika mereka menjawab tidak menyukai membaca, saya mendalami alasan di baliknya. Dari sini, untuk mencatat buku yang sesuai dengan minat siswa untuk kemudian dipilihkan.
Mencari dan Memberikan Buku
Setelah berbincang, guru menghabiskan waktu di perpustakaan untuk memilihkan buku sesuai dengan minat setiap siswa. Dua buku literasi awal (setara kelas satu hingga tiga) selalu disertakan untuk membangun kepercayaan diri mereka. Siswa yang membaca di bawah tingkat kelas sering kali merasa membaca melelahkan, sehingga pemilihan buku dengan tingkat kesulitan rendah menjadi strategi utama.
Buku-buku yang dipilih kemudian dikirimkan ke kelas masing-masing, lengkap dengan nama siswa dan topik yang sesuai. Siswa diminta membaca setidaknya satu buku dan memberikan laporan lisan kepada guru.
Hasil Awal
nantinya ada siswa dapat menghubungkan cerita dalam bukunya dengan pengalaman pribadi, seperti minat olahraga dan terapi manajemen emosi. Setelah laporan lisan, guru memberikan penghargaan/stempel membaca dengan stiker sebagai motivasi tambahan.
Menerapkan Strategi di Seluruh Sekolah
Berikut langkah-langkah yang dapat diadaptasi:
Siapkan Kelompok Buku:
- Kumpulkan minimal lima kelompok buku dengan beragam topik dan tingkat membaca.
- Pastikan setiap kelompok memiliki variasi yang menarik bagi siswa.
Diskusi Buku:
- Bagilah siswa ke dalam kelompok kecil.
- Gunakan daftar periksa untuk membantu siswa membahas buku.
- Minta mereka membaca sinopsis untuk mengenal buku dan penulisnya.
Pilih Buku Favorit:
- Setelah diskusi, minta setiap siswa memilih lima buku yang menarik.
- Pajang 15-20 buku terpilih di tempat strategis di kelas.
Kunjungan Perpustakaan:
- Jadwalkan kunjungan rutin ke perpustakaan agar siswa dapat memilih buku baru.
- Dorong mereka memilih setidaknya dua buku literasi awal.
Perpustakaan Pribadi:
- Berikan siswa kotak kecil yang bisa dihias untuk menyimpan buku pilihan mereka.
Laporan Buku Lisan:
- Jadwalkan laporan lisan secara berkala dengan rubrik penilaian yang jelas.
- Setelah laporan, dorong siswa untuk membaca buku literasi awal kepada siswa kelas bawah, menciptakan rasa percaya diri dan menjadi panutan.
Meningkatkan minat membaca pada siswa yang lebih besar membutuhkan pendekatan kreatif dan personal. Strategi seperti wawancara, pemilihan buku yang tepat, dan penguatan melalui laporan lisan dapat membantu siswa menemukan kembali kegembiraan membaca. Dengan langkah-langkah ini, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung literasi untuk semua siswa.
Referensi

Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm: 2386206058
Kelas : VB PGSD
Izin menanggapi pak, pada materi di atas membahas tentang penting nya pendekatan dan literasi dalam meningkatkan kemampuan siswa. Guru dapat melakukan pendekatan kepada siswa dengan cara menanyakan mengenai minat dan apa yang siswa sukai. Dengan ini guru dapat mengetahui langkah awal agar siswa dapat menyukai literasi membaca ini. Apabila siswa merasa senang mereka akan mengaitkan cerita tersebut dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dengy menggunakan strategi di atas ini sangat membantu guru dalam menciptakan pembelajaran yang lingkungan belajar yang menyenangkan dan menumbuhkan minat membaca siswa.
Saya ingin bertanya pak, bagaimana cara seorang guru atau calon guru untuk memastikan bahwa pendekatan pendekatan personal dapat dilakukan secara konsisten, terutama di kelas tinggi dengn jumlah siswa yang banyak kususnya di sekolah dasar? 🙏
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Izin menanggapi pertanyaanmu ya kak Isdiana, Kalau menurutku pendekatan personal tetap bisa dilakukan secara konsisten meskipun di kelas tinggi dengan jumlah siswa yang banyak, asalkan guru menggunakan strategi yang tepat salah satu caranya adalah dengan mengelompokkan siswa berdasarkan minat atau tingkat kemampuan membaca, dengan begitu guru tetap dapat memperhatikan kebutuhan siswa tanpa harus selalu mendampingi satu per satu. Selain itu guru dapat memanfaatkan kegiatan literasi rutin seperti membaca bersama, jurnal membaca atau diskusi singkat setelah membaca dari kegiatan tersebut guru bisa mengamati respons, minat dan pemahaman siswa secara bertahap pendekatan personal tidak harus selalu dilakukan secara individual, tetapi bisa melalui pendekatan kelompok yang fleksibel dan berkelanjutan.
Guru juga dapat menggunakan pilihan bacaan yang beragam agar siswa merasa diperhatikan minatnya, misalnya menyediakan beberapa jenis teks lalu memberi kebebasan siswa untuk memilih. Dengan cara ini siswa tetap merasa dihargai secara personal meskipun berada di kelas tinggi dengan jumlah siswa yang banyak, konsistensi pendekatan dapat terjaga jika guru menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan pembelajaran literasi, bukan kegiatan tambahan sehingga minat dan kemampuan literasi siswa dapat berkembang secara bertahap dan berkelanjutan.
Nama:Elisnawatie
BalasHapusKelas:VD
NPM:2386206069
Pendekatan personal yang dilakukan guru menunjukkan strategi yang relevan dan efektif dalam menumbuhkan minat baca, meningkatkan motivasi belajar, serta memperkuat kemampuan dasar membaca dan memahami teks pak Selain itu, kegiatan seperti wawancara, pemilihan buku sesuai minat, dan pemberian kesempatan untuk berbagi hasil bacaan, mencerminkan penerapan pembelajaran literasi kontekstual dan humanis, yang berorientasi pada pengembangan karakter dan kecintaan terhadap membaca
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Elisnawatie, izin menambahkan ya 🙏🏻
Apa yang kamu sampaikan itu sangat bagus karena menjelaskan inti dari literasi humanis, yaitu menempatkan manusia (siswa) di atas materi pelajaran. Bahwa pendekatan personal adalah fondasi terkuat untuk membangun karakter siswa agar mereka mencintai proses belajar, bukan sekadar mengejar nilai. Strategi ini sebenarnya sedang menyembuhkan trauma belajar. Banyak siswa yang membenci membaca karena merasa "bodoh" saat dipaksa membaca buku yang terlalu sulit. Dengan memilihkan buku yang tingkat kesulitannya lebih rendah namun topiknya menarik, guru sebenarnya sedang membantu siswa membangun ulang rasa percaya diri mereka dari nol. Ini adalah langkah strategis agar siswa tidak lagi melihat buku sebagai ancaman, melainkan sebagai kawan.. 😃
Nama:Elisnawatie
BalasHapusKelas:VD
NPM:2386206069
Izin bertanya pak
Saya kan calon guru nih pak Bagaimana caranya saya menyesuaikan pilihan buku dengan minat dan kemampuan membaca setiap siswa saya nanti?
Nama: Maya Apriyani
HapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Izin menanggapi pertanyaan dari Kak elisnawatie. Menurut saya ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk dapat menyesuaikan pemilihan buku dengan minat siswa dan kemampuan membaca setiap siswa.
Yang pertama sama seperti yang dikatakan pada bacaan kita harus memahami minat setiap siswa Apakah siswa ini suka membaca ataupun siswa ini sering membaca tentang buku apa, dengan begitu sebagai calon guru kita dapat mengetahui hal yang menarik bagi setiap siswa.
Yang kedua untuk mengetahui kemampuan membaca setiap siswa mungkin pada awal pembelajaran kita dapat melakukan tes agar kita tu mengetahui kemampuan membaca siswa ini sampai di mana.
Setelah itu yang ketiga kita sebagai guru tidak boleh memaksa keinginan siswa misalnya siswa ingin membaca buku tentang hewan tapi kita memaksa mereka tu membaca buku tentang petualangan itu tidak boleh dipaksakan mereka memiliki kebebasan untuk memilih apa yang mereka sukai. terima kasih
Hallo ka Elisnawatie saya izin menanggapi pertanyaanya.
HapusMenurut saya cara yang bisa dilakukan guru untuk menyesuaikan pilihan buku siswa dengan minat dan kemampuan membaca setiap siswa itu bisa dimulai dengan guru menggali informasi apa kesukaan anak didiknya ketika membaca. Guru bisa memulai bercerita tentang hobi ataupun kegiatan yang sering dilakukan anak tersebut nah dari kegiatan atau hobi yang sering dilakukan bisa nih guru memberikan saran untuk membaca buku ini karena sesuai dengan hobi ataupun kegiatan kesukaannya yang sering dia lakukan, nah dengan cara ini murid tidak merasa tertekan atau terbebani dengan kegiatan selalu membaca dan selalu berliterasi setiap hari.
Guru juga bisa membentuk pola ataupun membuat kegiatan yang menarik dalam berliterasi misalnya setelah berliterasi atau membaca buku sesuai minatnya siapa anak didik yang berani bercerita tentang isi dari bukunya atau isi dari bahan bacaannya mendapatkan reward ataupun sekadar stiker bintang yang ditempel nah menurut saya ini bisa membangkitkan rasa semangat siswa untuk berliterasi dan mengembangkan tingkat kemampuan membaca siswa itu sendiri.
Selain itu juga guru bisa menciptakan suasana literasi yang menyenangkan misalnya dengan menghadirkan sound atau musik yang menenangkan untuk menemani proses literasi anak didik.
Sekian dari saya semoga bermanfaat...
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut saya mungkin kita pertama-tama bisa tanyakan dulu kepada para siswa kita apa minatnya seperti hobi dan juga jenis cerita yang para siswa suka, lalu kita bisa membantu memilihkan buku yang sesuai dengan kesukaan para anak murid tersebut, kita bisa pilihkan levelnya yang di bawah atau pas agar tidak membuat siswa kita itu menjadi bingung, kita mulai dulu dari yang mudah, baru naik ke tingkat yang lebih sulit lagi, kita bisa lihat dulu bagaimana respons murid tersebut jika murid tersebut menikmati dan juga kelihatan mampu, barulah naikkan level tingkatannya dengan perlahan-lahan.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut saya, sebagai calon guru, kamu bisa mulai dengan mengenali minat dan kemampuan baca siswa lewat obrolan ringan, angket sederhana, atau lihat kebiasaan mereka saat membaca, lalu sediakan pilihan buku dengan tema yang beragam dan tingkat kesulitan yang berbeda, misalnya topiknya sama tapi versi ceritanya lebih sederhana atau lebih panjang, jadi siswa tetap belajar hal yang sama tapi sesuai kemampuan masing-masing tanpa merasa dipaksa.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Hai Elis, izin menjawab pertanyaan kamu, menurut saya ini memang tantangan yang akan kita hadapi nanti sebagai guru dan dari materi yang kita bahas ada beberapa cara praktis yang bisa kita terapkan:
1. Kenali dulu siswamu secara personal caranya dengan ngobrol santai sama mereka, tanya hal-hal sederhana seperti hobi mereka, kegiatan favorit, atau buku terakhir yang mereka baca dari sini kita bisa tahu minat mereka sebenarnya apa kalau ada yang bilang tidak suka baca tanya kenapa siapa tahu mereka hanya belum nemukan buku yang tepat.
2. Untuk kemampuan membacanya, kamu perlu sediakan buku dengan berbagai tingkat kesulitan jangan lupa sisipkan buku-buku yang lebih mudah (setara kelas 1-3) terutamakan buat siswa yang kemampuannya masih di bawah tingkat kelasnya ini penting supaya mereka nggak merasa kewalahan dan malah jadi malas baca.
3. Praktisnya begini setelah tau minat dan kemampuan mereka cariin buku yang sesuai misalnya ada siswa suka sepak bola tapi bacanya masih lemah kasih buku tentang sepak bola yang bahasanya lebih sederhana dulu yang penting isinya menarik buat mereka.
Kuncinya ada di pendekatan personal ini kita tidak bisa sama ratakan semua siswa, karena tiap anak punya kebutuhan yang beda-beda.
Semoga membantu.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Menurut saya, cara menyesuaikan buku bacaan itu bisa dibuat sederhana dan menyenangkan 😊
Caranya bisa begini:
- Guru bertanya dulu buku apa yang anak suka, contoh nya tentang hewan, petualangan, atau cerita lucu 📚
- Guru menyiapkan buku dengan tingkat berbeda, ada yang hurufnya besar dan ceritanya pendek, ada yang lebih panjang
- Anak boleh memilih buku sendiri sesuai kemampuannya 👍
Guru juga bisa:
- ajak anak menceritakan isi buku dengan kata-kata sendiri
- Nggak memaksa semua anak membaca buku yang sama
- Kasih pujian saat anak mau membaca, walau sedikit 🌟
Dengan cara ini:
- Anak nggak takut membaca
- Anak merasa bukunya “cocok” dengan dirinya
- Anak jadi lebih semangat belajar membaca 😄
Jadi menurut saya, buku yang baik itu yang bisa buat anak senang membaca, bukan yang buat anak takut atau pusing 📖✨
Nama: Maya Apriyani
BalasHapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Dari bacaan di atas ini mengajarkan kita bagaimana untuk meningkatkan minat literasi kepada siswa, bahwa untuk meningkatkan minat membaca siswa itu terdapat melalui beberapa cara yang pertama guru itu melakukan pendekatan kepada siswa melalui interaksi komunikasi. Guru pertama-tama Harus melihat Apakah siswa ini suka membaca atau tidak, kemudian jika siswa ini tidak suka membaca guru bisa menanyakan apa sih hal yang mereka sukai, Kemudian dari situ apabila guru sudah menemukan Apa hal yang mereka sukai kemudian guru mencari buku-buku yang sesuai dengan minat mereka, mereka pasti akan suka karena buku itu berkaitan dengan mungkin Hobi mereka.
Mulai dari hal yang seperti itu secara tidak langsung itu akan membiasakan siswa untuk membaca buku dan memiliki ketertarikan dengan literasi.
terima kasih
Nama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Pembahasan kali ini membahas isu yang sangat dekat dengan dunia pelajar dan guru : Literasi di dalam kelas.
Kadang, sebagian dari kita merasa baca buku itu berat, apalagi kalau materinya kaku dan ga nyambung sama kehidupan sehari-hari kita. Tapi lewat artikel ini, kita semua yang membacanya diajak melihat kalau literasi bukan cuma soal baca tulis, tapi juga soal membangun rasa ingin takut dan menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia membaca kepada anak-anak.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Yang menurut saya menarik, artikel ini menekankan kalau strategi literasi harus disesuaikan dengan karekter dan kebutuhan siswa. Ini penting banget, karena setiap siswa punya gaya belajar yang berbeda. Kalau pendekatannya terlalu kaku atau satu arah, siswa bisa merasa membaca itu membosankan.
Intinya, kita sebagai calon pendidik harus ingat kalau nanti jadi guru, kita harus kreatif dan peka terhadap respon siswa. Supaya literasi bukan jadi beban, tapi jadi pengalaman yang seru dan bermakna 😃
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Terus juga yang buat artikel ini makin menarik, artikel ini ga cuma bahas teori, tapi juga kasih strategi langsung yang bisa dipraktikkan di kelas. Salah satunya tadi : membuat pojok baca yang menarik dan relevan. Strategi ini sederhana, ga butuh alat canggih, tapi bisa berdampak besar kalau dilakukan dengan konsisten dan penih semangat.
Harus diingat semua nih strategi dan langkah-langkahnya! pasti suatu hari bakal berguna banget buat kita yang jadi guru kelas.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Ohh iya, jadi guru di zaman sekarang tuh juga ga gampang loh. Di satu sisi kita di tuntut harus paham pentingnya literasi dan pengen anak-anak suka membaca. Tapi di sisi lain, kita juga tau kalau anak-anak zaman sekarang lebih tertarik sama video lucu atau game. Kita pengen ajak mereka jatuh cinta sama buku, tapi jelas kita kalah sama layar.
Saya jadi timbul pertanyaan nih Pak.
Langkah atau strategi apa yang tepat untuk guru di era sekarang supaya bisa jadi jembatan antara dunia digital dan nilai-nilai pendidikan yang bermakna?
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206126
Kelas : 5D PGSD
Saya ada sedikit reminder juga nih buat temen-temen yang baca komentar saya—pun juga reminder buat diri saya sendiri.
Sebelum kita berharap anak-anak yang kita ajar suka membaca, sebelum kita menerapkan langkah dan strategi supaya anak cinta kepada buku, ada baiknya kita tanya dulu ke diri sendiri : "aku sendiri suka baca ga ya?" Karena kecintaan membaca itu ga bisa dipaksakan lewat tugas atau aturan, tapi lewat semangat dan kebiasaan. Anak-anak pasti bisa merasakan kalau gurunya benar-benar menikmati proses membaca—bukan sekedar menyuruh.
Kita bisa eksplorasi buku lewat podcast, review di media sosial, sekarang banyak banget influenser yang suka review buku terus insightnya menarik banget karena relate sama kita. Semakin kita suka membaca, semakin mudah kita menemukan cara kreatif untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Kalau membaca sudah menjadi bagian dari diri kita, insyaAllah menumbuhkan kecintaan membaca di kelas menjadi lebih ringan, ga lagi jadi beban. Tapi jadi bagian dari perjalanan bersama antara guru dan siswa.
komentar saya di kolom komentar yang pertama itu typo ya, bukan rasa ingin takut tapi rasa ingin tahu, hehehe.
HapusNama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
izin menanggapi ya pak, saya setuju dengan ide pendekatan personal yang dibahas pada materi ini, menurut saya mewawancarai siswa tentang minat mereka itu langkah paling penting, karena kalau buku yang kita kasih itu sesuai dengan yang mereka mau, maka pasti minat membaca mereka akan naik.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Margaretha, izin ya 🙏🏻
Apa yang kamu sampaikan sangat tepat karena langsung menyasar ke akar masalah literasi, yaitu kebutuhan akan relevansi. Benar bahwa minat baca siswa seringkali rendah bukan karena mereka malas, tetapi karena mereka belum menemukan buku yang "klik" dengan hatinya. Yang perlu kita garis bawahi adalah pendekatan ini mengubah posisi guru dari sekadar pemberi tugas menjadi seorang kurator pribadi. Dengan melakukan wawancara, guru menunjukkan rasa hormat kepada pilihan siswa. Hal ini akan membuat siswa merasa didengarkan, sehingga ketika guru memberikan rekomendasi buku, siswa akan membacanya dengan sukarela karena merasa buku itu memang "dijahit" khusus untuk mereka.. ☺️
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusKelas: 5C PGSD
Npm: 2386206055
izin bertanya ya pak, setelah kita memberikan buku kepada siswa sesuai dengan yang mereka suka, bagaimana cara kita sebagai guru bisa memastikan bahwa buku yang siswa suka itu juga sesuai dengan tingkat kemampuan membaca dirinya?
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
HapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Izin menjawab pertanyaannya ya Margaretha elintia, menurut saya caranya yang bisa dilakukan adalah guru mendampingi proses bacanya siswa tersebut. Dan juga guru bisa melihat Apakah siswa tersebut lancar, paham alur ceritanya atau justru siswa sering merasa kebingungan dengan kosakata dalam cerita tersebut. Guru bisa sesekali meminta siswa cerita ulang isi buku yang mereka baca tetapi harus menggunakan bahasanya sendiri. Apabila siswa menjelaskannya dengan aman berarti buku tersebut sudah sesuai. Tetapi kalau sebaliknya maka guru harus bantu untuk mengarahkan ke buku yang levelnya lebih ringan, tetapi juga disesuaikan dengan minat siswa tersebut agar semangat membacanya tetap terjaga🙏
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, menurut sepengetahuan yang saya ketahui mungkin kita bisa meminta kepada para siswanya untuk membaca sebagian paragraf atau satu halaman saja, lalu kita bisa tanyakan kepada siswa tersebut dua sampai tiga pertanyaan yang sederhana saja sekitaran mengenai dari bacaan yang mereka baca seperti “siapakah tokoh yang ada di dalam cerita tersebut? atau apa yang terjadi di dalam cerita itu?”. Nah ketika siswa tersebut bisa menjawab dengan benar, itu berarti level bukunya sudah sesuai sedangkan jika anak tersebut tidak paham isinya, maka guru harus menurunkan level bukunya itu.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, sebagai guru, kita bisa cek dengan cara minta siswa membaca beberapa halaman lalu lihat kelancarannya, pemahamannya, dan apakah dia masih bisa menceritakan isi bacaan dengan bahasanya sendiri, kalau siswa terlihat nyaman tapi tetap sedikit tertantang berarti bukunya sudah pas, jadi minatnya terpenuhi dan kemampuan bacanya juga berkembang.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari teman kita, menurut saya kita tidak bisa hanya fokus ke minat saja ya kemampuan membacanya juga harus pas nah, dari materi yang kita pelajari ada beberapa cara untuk memastikan ini pertama, lewat laporan lisan setelah siswa baca bukunya kita minta mereka ceritain isinya secara lisan dari sini kita bisa lihat langsung apakah mereka benar-benar paham isi bukunya atau tidak kalau mereka lancar jelasin dan bisa nyambungin sama pengalaman pribadi mereka berarti bukunya cocok tapi kalau mereka kesusahan cerita atau tidak paham isinya bisa jadi bukunya terlalu berat buat mereka. Kedua, strategi buku literasi awal dalam materi dijelaskan kalau kita sebaiknya selalu kasih dua buku yang levelnya lebih mudah (setara kelas 1-3) bersama buku yang sesuai minat mereka ini berguna banget buat bangun kepercayaan diri siswa yang kemampuannya masih di bawah tingkat kelas, soalnya kalau langsung kasih buku yang terlalu susah, mereka malah jadi frustasi dan males baca. Dan ketiga, observasi saat proses membaca kita bisa amati apakah siswa terlihat kesulitan atau justru enjoy waktu baca kalau mereka terlihat lelah atau lama banget bacanya, mungkin perlu dikasih buku yang lebih ringan dulu.
Jadi kombinasi antara pemilihan buku bertingkat dan evaluasi lewat laporan lisan itu yang jadi kunci untuk memastikan kecocokannya.
Terima kasih
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Margaretha Elintia saya izin menjawab pertanyaan komentar anda yaa. Menurut saya, guru bisa memastikan buku yang disukai anak itu pas dengan kemampuan membacanya dengan cara yang santai dan nggak menakutkan 😊
Caranya bisa begini:
- Guru minta anak membaca sedikit saja, misalnya satu halaman 📖
- Kalau anak bisa membaca tanpa terlalu sering berhenti, berarti bukunya cocok 👍
- Kalau anak sering bingung dan terlihat capek, berarti bukunya terlalu sulit
Guru juga bisa:
- Bertanya setelah membaca, “Ceritanya tentang apa?”
- Kalau anak bisa menjawab, berarti dia mengerti 😊
- Kalau belum mengerti, guru bisa bantu atau ganti buku
Dengan cara ini:
- Anak tetap baca buku yang dia suka
- Anak nggak merasa gagal
- Guru tahu kemampuan anak tanpa buat anak takut
Jadi menurut saya, buku yang baik itu yang bikin anak senang dan bisa memahami isinya 😄
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Izin menanggapi pak, jadi pendekatan personal dalam meningkatkan minat baca itu penting banget pak karena dengan itu bisa membuat siswa merasa lebih dekat dengan guru. Saat guru menanyakan hal hal yang sederhana saat itu siswa dapat merasa di hargai. Dari situ muncul rasa nyaman dan percaya diri siswa untuk bercerita, kalau siswa sudah mulai terbuka kepada guru, guru bisa menilai bacaan apa yang cocok dengan setiap anak. Pendekatan ini juga bikin kegiatan membaca siswa terasa lebih santai dan menyenangkan untuk mereka. Siswa jadinya tidak merasa tertekan deh karena membaca bukan kewajiban, tapi jadi kesenangan. Selain itu dengan kegembiraan siswa suasana kelas juga menjadi akrab dan lebih hidup. Jadi, pendekatan personal bisa juga menjadi langkah awal yang bagus untuk membangun budaya literasi kelas.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Andi Nurfika, izin ya 🙏🏻
Kamu benar sekali bahwa ketika guru memulai dengan pertanyaan sederhana dan menghargai jawaban siswa, rasa percaya diri siswa akan tumbuh. Lingkungan kelas yang akrab dan tanpa tekanan seperti ini adalah "tanah yang subur" bagi literasi. Siswa yang tadinya menganggap buku sebagai musuh, berubah menjadi pencinta buku karena mereka merasa didukung sepenuhnya oleh guru yang mereka percayai.. 😀
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Dengan memberikan buku yang sesuai dengan minat siswa adalah cara yang paling efektif buat menumbuhkan semangat membaca anak. Kalau siswa suka berolahraga bisa di berikan bacaan tentang atlet yang dapat menginspirasi pasti mereka happy membaca. Buku yang sesuai minat siswa bisa membuat siswa membayangkan diri mereka berada dalam bacaan mereka. Dari situlah mereka bisa belajar memahami isi bacaan dengan perasaan yang lebih dalam. Bahkan setelah membaca juga mereka bisa menghubungkan isi bacaan mereka dengan pengalaman pribadi mereka. Seperti kerja keras dan cara mengatur emosi. Hal inilah yang bikin kegiatan membaca lebih bermakna dan menyenangkan. Jadi dengan memilih buku bacaan yang tepat bisa menjadi jembatan antara minat siswa dan kemampuan pribadinya.
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Izin bertanya pak, apa yang bisa di lakukan guru di sekolah dan orang tua di rumah biar anak semangat membaca yang sudah tumbuh di kelas agar terus bisa berlanjut di rumah dan lingkungan sekitar siswa itu sendiri?
Hallo ka Andi saya izin menjawab pertanyaanya ya.
HapusMenurut saya siswa dapat menerapkan perillaku seperti yang ka Andi tanyakan dengan mempunyai pondasi dan dorongan kuat serta adanya kerja sama antara guru,orang tua dan lingkungan.
Kalo dari guru, biasanya setiap kelas pasti ada pojok baca, nah guru bisa nih memanfaatkan pojok baca sebagai alat untuk membangkitkan minat siswa dalam membaca, dengan cara menerapkan budaya 10 menit membaca buku sebelum memulai pembelajaaran.
Kalo dari orang tua, pastinya harus bisa menyempatkan waktu luang agar dapat membangkitkan semangat anak untuk membaca, misalnya dimulai dari menyiapkan buku-buku pelajaran dan cerita yang menarik agar anak tertarik untuk membaca, dan pastinya orang tua mendampingi anak.
Lalu dari lingkungan untuk menciptakan anak agar tetap membudayakan kebiasaan membaca dilingkungan pastinya harus ada kerjasama antara orang tua anak dilingkungan tersebut, misal membuat kesepakatan bersama bahwa setiap hari ini anak dilingkungan tersebut kumpul bermain di pos ronda sambil membaca buku,tentunya buku pun disediakan oleh orang tua masing-masing anak.
Semoga bermanfaaat
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Andi Nurfika, menurut saya mungkin ketika anak sedang di sekolah mungkin gurunya bisa sediakan pilihan beberapa buku, lalu gurunya bisa memberikan tugas membaca yang menyenangkan, lalu gurunya bisa memberi pujian atau sebuah pengakuan di setiap kemajuan yang di peroleh oleh para siswanya. Sedangkan ketika anak sedang di rumah mungkin orang tuanya bisa menyediakan sedikit waktu untuk kegiatan membaca bersama dibuat seperti kegiatan rutin di setiap harinya bisa dengan memberikan waktu sepuluh sampai lima belas menit dan orang tua pun harus mencontohkan juga kalau bahwasanya orang tuanya pun juga membaca.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Fika, jadi menurut saya, guru dan orang tua bisa saling kerja sama dengan memberi contoh kebiasaan membaca, menyediakan bacaan yang menarik sesuai minat anak, memberi waktu khusus untuk membaca tanpa paksaan, lalu ajak anak ngobrol santai soal isi buku supaya dia merasa dihargai, bukan sekadar disuruh, jadi semangat membaca yang tumbuh di sekolah bisa terus kebawa ke rumah dan lingkungan sekitarnya.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Andi Nurfika saya izin menanggapi pertanyaan komentar anda yaa. Menurut saya, supaya siswa semangat membaca dari sekolah bisa lanjut sampai rumah, guru dan orang tua harus kerja sama 😊
Yang bisa dilakukan guru di sekolah:
- Guru kasih waktu untuk anak membaca santai, bukan cuma untuk tugas 📚
- Guru menceritakan buku dengan cara seru supaya anak penasaran 😄
- Guru kasih pujian, walau anak membaca sedikit
Yang bisa dilakukan orang tua di rumah:
- Menyediakan waktu membaca bareng, walau sebentar ⏰
- Orang tua ikut membaca atau mendengarkan cerita anak 👨👩👧
- Nggak memarahi kalau anak masih terbata-bata, tapi menyemangati 🌟
Kalau di rumah dan di sekolah sama-sama mendukung:
- Anak merasa membaca itu menyenangkan
- Anak nggak merasa dipaksa
- Anak jadi mau membaca sendiri
Jadi menurut saya, kalau guru dan orang tua sama-sama kasih contoh dan semangat, kebiasaan membaca anak bisa terus tumbuh dan nggak hilang 😄
Anak-anak sekarang memang kebanyakan jarang membaca buku, dan dari kebiasaan yang kurang baik itu anak-anak sekarang kesulitan dalam membaca. Ternyata selain memikirkan pembelajaran guru juga harus memikirkan kemampuan dan minat dari siswanya, memperhatikan perkembangan, mencari solusi atas masalah siswa.
BalasHapusPada laman ini menjelaskan bagaimana strategi seorang guru untuk mengajak peserta didik agar tertarik pada literasi ,tapi menurut saya kegiatan menumbuhkan atau meningkatkan kemampuan literasi siswa itu bukan hanya peran seorang guru tetapi, juga peran orang tua di rumah, serta lingkungan. Orang tua memiliki waktu lebih banyak dibandingkan guru bersama siswa, jadi orang tua harus juga membiasakan diri membangun rasa minat anaknya untuk membaca buku.
Begitu juga dengan lingkungan orang tua harus bekerja sama dengan semua orang tua yang ada di lingkungan tersebut, agar mereka juga membiasakan anak mereka untuk membaca. Hal ini dapat menarik perhatian anak-anak agar anak di lingkungan tersebut dapat melakukan kegiatan membaca bersama, ini mengurangi rasa bosan anak ketika membaca karena bersama teman.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNpm : 2386206086
Kelas : 5D
Menurut saya ini ini sangat menarik karena ya sangat relevan dengan kondisi pembelajaran saat inii , ya di mana Mina baca siswa ituuu cenderung sama menurun , kemampuan literasi itu tidak cukup hanya dilatih melalui tugas membaca saja tetapi perlu pendekatan yang lebih kreatif dan berpusat pada siswa , menurut saya guru perlu mengenal lebih dekat setiap siswanya memahami kesulitan mereka dan minat mereka serta pengalaman mereka dengan membaca , pendekatan ini menunjukkan literasi itu bukan hanya keterampilan akademik saja melainkan juga sebagai bagian dari pengembangan karakter siswa , melalui percakapan yang santai dan pemulihan buku dengan minat guru dapat membantu siswa untuk menemukan kembali rasa senang dalam membaca bukan hanya sekedar salam kewajiban sekolah saja.
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Ijin menanggapi Pak, dari materi ini saya jadi sadar kalau ternyata kebiasaan membaca siswa, apalagi yang sudah kelas besar sering banget terabaikan. Dan benar juga, Pak, kalau guru ditanya siapa yang suka membaca atau buku apa yang terakhir siswa baca, belum tentu semua bisa jawab. Padahal hal-hal kecil seperti itu penting untuk melihat minat dan kemampuan literasi tiap siswa.
Yang menarik buat saya, Pak, adalah pendekatan yang dilakukan Kathy Stovall. Ternyata, ngobrol langsung dengan siswa itu dampaknya besar banget. Dengan cara wawancara ringan, guru bisa tahu minat asli siswa, alasan mereka nggak suka baca, dan buku macam apa yang cocok buat mereka. Lalu guru juga aktif mencarikan buku sesuai tingkat kemampuan siswa ini menurut saya sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Strateginya juga cukup simpel tapi efektif, Pak: kelompok buku, diskusi kecil, pilih buku favorit, kunjungan rutin ke perpustakaan, sampai laporan lisan. Ternyata langkah-langkah seperti ini bisa bikin siswa yang awalnya malas baca jadi lebih tertarik dan merasa diperhatikan. Jadi menurut saya, pendekatan yang personal seperti ini memang cocok banget dipakai untuk meningkatkan literasi siswa yang lebih besar.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Aprilina, izin ya 🙏🏻Pendapat yang kamu sampaikan itu sangat benar karena berhasil menyadari sebuah "titik buta" dalam pendidikan, yaitu pengabaian literasi pada siswa kelas besar. Dia benar sekali bahwa semakin tinggi jenjang kelas, seringkali guru lebih fokus pada ketuntasan materi pelajaran daripada perkembangan minat baca pribadi siswanya. Pada pendapat yang diatas poin yang mengenai "validasi emosional". Ketika guru aktif mencarikan buku yang sesuai dengan kemampuan siswa (bahkan jika itu buku level rendah), guru sebenarnya sedang mengirimkan pesan bahwa: "Tidak apa-apa memulai dari mana pun kamu berada sekarang." Tindakan ini sangat efektif untuk menghilangkan rasa malu pada siswa kelas besar yang kemampuan bacanya mungkin masih tertinggal.. 😄
Nama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM :2386206113
Ijin Bertaya Pak, apakah wawancara personal seperti yang dilakukan Stovall bisa diterapkan di kelas dengan jumlah siswa yang sangat banyak?
Mengingat waktunya cukup intensif.
Nama : Aprilina Awing
HapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Saya juga ingin tahu pak, bagaimana cara guru menjaga motivasi membaca siswa yang tidak turun setelah beberapa minggu?
Apakah perlu variasi strategi tertentu?
Nama: Maya Apriyani
HapusNpm: 2386206013
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan dari saudari aprilina Awing.
Apakah strategi wawancara ini dapat kita lakukan atau kita terapkan di kelas dengan jumlah siswa yang sangat banyak? Mengingat waktu yang cukup intensif
Menurut saya tentunya bisa, misalnya dengan cara kita membentuk anak-anak ini menjadi beberapa kelompok kecil kemudian dalam kelompok itu kita memberikan pertanyaan kepada mereka.
Kemudian bisa juga kita menggunakan sistem rolling di mana setiap pertemuan kita mewawancarai. Sekian tanggapan dari saya terima kasih
Nama: Maya Apriyani
HapusNpm: 2386206013
kelas: V.A
Izin menanggapi lagi pertanyaan dari saudari aprilina yaitu Bagaimana cara guru menjaga motivasi membaca siswa yang tidak turun setelah beberapa minggu dan apakah perlu variasi strategi?
Menurut pendapat saya menjaga motivasi membaca siswa itu sangat penting dan sangat memerlukan strategi. yang di mana biasanya motivasi membaca siswa itu Tinggi karena mereka itu masih baru dan masih panas, tapi Seiring berjalannya waktu siswa akan merasa bosan, maka dari itu dibutuhkannya strategi-strategi agar siswa ini tetap termotivasi untuk membaca.
Salah satu strategi yaitu
1. kita harus membuat membaca ini menjadi menarik yaitu menggunakan media-media yang bukan hanya berisi tentang teks.
2. Kemudian yang kedua kita harus memberikan siswa kebebasan untuk memilih bahan bacaan mereka yang sesuai dengan minat mereka.
3. Kemudian mengajak siswa untuk berkolaborasi mendiskusikan bacaan mereka dengan teman mereka.
itu lah beberapa strategi yang menurut saya bisa dilakukan. Terima kasih
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Izin menjawab ya April, jadi menurut saya kalau guru mau menjaga motivasi membaca siswa supaya nggak turun setelah beberapa minggu, caranya harus dibuat konsisten tapi tetap santai dan menyenangkan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
1. Ganti suasana biar nggak bosan
Kadang baca di luar kelas, di sudut baca, atau sambil lesehan bisa bikin anak lebih semangat.
2. Kasih pilihan buku yang bervariasi
Jangan cuma satu jenis. Kadang mereka butuh coba komik, cerita hewan, misteri, atau buku bergambar biar tetap penasaran.
3. Ajak ngobrol ringan soal bacaan mereka
Bukan ditanya “rangkuman mana?” tapi cukup “bagian mana yang lucu?” atau “karakternya siapa yang kamu suka?”
Anak jadi merasa dihargai, bukan diuji.
4. Berikan tantangan kecil yang fun
Misalnya “baca 10 menit setiap hari selama seminggu” atau “temukan satu kalimat favorit”. Tantangannya ringan, tapi bikin anak merasa berhasil.
5. Rayakan kemajuan sekecil apa pun
Kalau mereka selesai satu buku pendek, beri apresiasi simple: “Keren, kamu sudah selesai baca!” Hal kecil begini ngaruh banget buat motivasi.
6. Guru ikut terlihat membaca
Anak lebih semangat kalau lihat gurunya juga menikmati buku. Jadi guru bisa sesekali cerita, “Ibu/Bapak lagi baca buku ini nih, seru!”
Intinya, biar motivasi membaca nggak turun, kegiatan membaca harus dibuat hidup, santai, dan penuh dukungan. Kalau anak merasa dibimbing, bukan ditekan, mereka akan terus semangat buat lanjut membaca.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, wawancara personal ala Stovall sebenarnya agak sulit diterapkan secara penuh di kelas yang siswanya banyak karena butuh waktu dan fokus tinggi, tapi gurunya masih bisa menyiasati dengan versi singkat, dilakukan bertahap, atau diganti dengan angket sederhana dan obrolan santai saat kegiatan membaca, jadi esensinya tetap jalan tanpa membebani waktu pembelajaran.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Saya izin menjawab pertanyaan komentar dari Aprilina Awing. Menurut saya, wawancara satu-satu kayak Stovall memang sulit kalau muridnya banyak 😅
Tapi guru masih bisa menyiasatinya dengan cara yang lebih ringan.
Caranya bisa begini:
- Guru nggak wawancara semua anak sekaligus, tapi bergantian tiap minggu 😊
- Guru bisa ngomong singkat, cukup tanya: “Bukunya seru nggak?” atau “Bagian mana yang kalian suka?”
- Guru juga bisa mendengar cerita anak saat kerja kelompok, jadi nggak harus satu-satu terus.
Supaya semangat membaca anak nggak turun, guru harus punya banyak variasi cara 📚✨
Contohnya :
- Anak boleh tukar buku sama teman
- Anak boleh menggambar atau boleh cerita tentang buku yang dibaca 🎨
- Guru sesekali membacakan cerita dengan suara lucu 😄
- Anak di kasih tantangan kecil, bukan lomba, tapi ajakan
Dengan cara ini:
- Anak jadi nggak bosan
- Anak merasa diperhatikan
- Membaca jadi menyenangkan, bukan kewajiban
Jadi menurut saya, walau murid banyak, guru tetap bisa menjaga semangat membaca dengan cara sederhana dan kreatif 😊
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Aprilina, izin bantu jawab juga ya 🙏🏻
Bisa tapi kuncinya bukan pada durasi, melainkan pada manajemen waktu yang cerdas. Kamu tidak perlu mewawancarai semua siswa dalam satu hari.
Caranya, bisa mencicilnya dengan mengajak ngobrol 1-2 siswa saja setiap harinya, misalnya saat jam istirahat, saat berkeliling kelas, atau di sela-sela waktu luang selama 5 menit. Selain itu, kamu bisa menggunakan bantuan angket minat sederhana terlebih dahulu untuk memetakan kelompok siswa, sehingga saat wawancara nanti, kamu sudah tahu poin apa yang ingin dibahas.. 😄
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya membaca materi ini, menurut saya materi ini sangat bermanfaat karna memberitahukan betapa pentingnya pendekatan personal dalam menumbuhkan minat baca siswa. Strategi yang digunakan seperti wawancara, pemilihan buku sesuai minat, dan laporan lisan untuk membangun motivasi, kepercayaan diri, serta kebiasaan membaca yang berkelanjutan.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Nanda benar banget, strategi ini menekankan pentingnya pendekatan personal dalam menumbuhkan minat baca. Tambahan dari saya, kehebatan strategi ini adalah guru tidak hanya bertanya apa yang mereka suka, tapi juga mendalami alasan di balik kenapa siswa tidak menyukai membaca. Ini menunjukkan bahwa guru berusaha mencari akar masalahnya, bukan cuma sekadar memberikan solusi permukaan. Setelah itu, guru menghabiskan waktu di perpustakaan untuk memilihkan buku yang benar-benar sesuai dengan minat setiap siswa. Bahkan, untuk siswa yang merasa membaca itu melelahkan, selalu disertakan dua buku literasi awal setara kelas 1-3 untuk membangun kepercayaan diri mereka dulu. Ini adalah bukti nyata bahwa pendekatan personal itu diwujudkan dalam aksi yang sangat konkret.
Pendekatan personal ini juga sangat efektif dalam membangun motivasi dan kepercayaan diri siswa. Buktinya ada di langkah akhir: setelah siswa memberikan Laporan Buku Lisan, mereka didorong untuk membaca buku literasi awal kepada siswa kelas bawah. Bayangkan, siswa yang tadinya kesulitan membaca, tiba-tiba menjadi panutan atau mentor bagi adik kelasnya. Ini memberikan mereka rasa bangga dan pengakuan yang luar biasa, sehingga otomatis mendorong kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Jadi, strategi ini bukan cuma soal buku, tapi soal membangun karakter dan peran siswa di sekolah, yang menjadikannya sangat bermanfaat bagi guru dan siswa.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Saya udah baca materi diatas menurut saya ini memberikan panduan yang sangat personal dan terstruktur untuk mengatasi masalah umum di kalangan siswa tingkat lanjut: kurangnya minat dan keterlibatan dalam membaca mandiri. Pendekatan yang disarankan—berfokus pada personalisasi, kepercayaan diri, dan penguatan—sangat relevan dan praktis.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Setelah saya baca lagi dan saya simpulkan tentang materi diatas Strategi ini berfokus pada pergeseran filosofi dari membaca sebagai tugas menjadi membaca sebagai penemuan diri yang didukung oleh bimbingan personal dan lingkungan yang inklusif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi pada siswa yang lebih besar sangat bergantung pada personalisasi dan penciptaan kesuksesan awal melalui pemilihan buku yang tepat.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: 5B PGSD
Sebagai seorang guru kita harus mencari solusi jika siswa mengalami keterlambatan atau masalah dalam belajar namun orang tua juga mestinya berperan dalam mendampingi siswa apa lagi masalah literasi, berdasarkan strategi dari Kathy. Y Stovall (2023) untuk guru dalam meningkatkan minat membaca pada siswa yang sudah di tingkat lanjut, saya pikir akan sulit namun setelah saya baca ternyata menarik sekali dan menambah ilmu, pendekatan yang sederhana namun bermanfaat melalui strategi wawancara setiap siswa, memilih buku yang di sukai siswa dan siswa diminta membuat laporan lisan setelah membaca buku tersebut yang akan menumbuhkan minat siswa dalam literasi
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM :2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menanggapi pak dari materi yang saya baca ini memberikan panduan praktis tentang bagaimana meningkatkan minat baca siswa, terutama melalui pendekatan yang personal dan kreatif. pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di awal artikel sangat relevan untuk merangsang pemikiran tentang bagaimana kita sebagai pendidik dapat menciptakan pengalaman membaca yang lebih bermakna bagi siswa.selain itu, langkah-langkah yang diusulkan, seperti percakapan berorientasi literasi dan pembentukan kelompok buku, sangat mudah diadaptasi dalam berbagai konteks kelas.
meningkatkan minat baca siswa membutuhkan pendekatan yang personal.dengan berfokus pada percakapan, pilihan buku yang relevan, dan lingkungan yang mendukung, kita dapat membantu siswa menemukan kegembiraan dalam membaca dan mengembangkan keterampilan literasi yang penting untuk keberhasilan akademik dan pribadi.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Halo Tatiii, saya setuju banget sama poin-poin yang kamu sampaikan memang benar, pertanyaan-pertanyaan di awal materi itu seperti cermin buat kita sebagai calon guru untuk merefleksikan seberapa jauh kita mengenal siswa kita nanti karena tanpa mengenal mereka secara personal, susah rasanya kita bisa bantu mereka jatuh cinta sama kegiatan membaca.
Menurut saya materi ini adalah konsep pendekatan personalnya itu sendiri kita tidak cuma memberikan tugas baca terus selesai tapi ada upaya nyata untuk mengobrol langsung bersama siswa, tanya minat mereka bahkan sampai mencari tahu kenapa mereka tidak suka baca ini menunjukkan kalau setiap siswa itu unik dan butuh perlakuan yang berbeda-beda. Saya juga sependapat sama kamu tentang langkah-langkah yang diberikan dalam materi ini sangat praktis misalnya soal perpustakaan pribadi dengan kotak yang bisa dihias sendiri ini simpel tapi bisa membuat siswa merasa punya tanggung jawab dan kepemilikan terhadap buku-buku mereka, terus strategi laporan lisan juga bagus karena bukan hanya jadi evaluasi tapi juga kesempatan siswa buat berbagi dan bangun kepercayaan diri.
Pada akhirnya seperti yang kamu ucapkan menciptakan lingkungan yang mendukung itu kunci utamanya kalau siswa merasa dihargai minatnya dan didukung dalam proses belajarnya, pasti mereka akan lebih termotivasi untuk terus berkembang.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM :2386206009
Kelas : V A PPGSD
Tambahan dari materi ini pentingnya memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih buku yang mereka sukai dan memberikan ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman membaca mereka dengan teman-teman sekelas.dengan menciptakan lingkungan yang mendukung dan mendorong eksplorasi literasi, kita dapat membantu siswa mengembangkan kecintaan membaca yang akan bertahan seumur hidup.
jadi,materi ini mengingatkan kita bahwa membaca adalah keterampilan penting yang perlu ditumbuhkan sejak dini.dengan memberikan dukungan dan sumber daya yang tepat, kita dapat membantu siswa mengembangkan kecintaan membaca yang akan membuka pintu menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas.nah penting bagi guru dan orang tua untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang mendorong eksplorasi literasi dan merayakan keberagaman minat baca siswa.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 C
Materi ini sangat bagus karena strategi literasi yang di jelaskan dalam materi dengan fokus pada minat tersendiri dan diskusi kelompok,tidak hanya meningkatkan nilai akademik siswa tetapi juga menjaga kesehatan mental siswa SD. Menumbuhkan kebiasaan membaca yang positif sekolah menciptakan lingkungan yang individu tidak hanya cerdas tetapi juga seimbang secara emosional dan mental
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Banyak guru ternyata tidak benar-benar tahu siapa saja siswanya yang suka membaca, buku apa yang mereka sukai, atau kapan terakhir mereka membaca tanpa paksaan. Pada siswa yang lebih besar, membaca mandiri sering terlupakan—padahal justru di usia ini mereka butuh dukungan untuk mempertahankan kebiasaan membaca.
Kathy Y. Stovall menemukan bahwa kuncinya adalah mendekat ke siswa lebih dulu. Ia mulai dengan obrolan ringan: tentang hobi, aktivitas favorit, sampai buku terakhir yang mereka baca. Dari percakapan singkat ini, ia mulai memahami alasan di balik minat membaca yang menurun. Setelah itu, ia memilihkan buku yang benar-benar sesuai minat mereka—bahkan buku level rendah sekalipun—untuk membangun kembali kepercayaan diri siswa.
Hasilnya? Siswa mulai merasa bahwa membaca itu bukan tugas, melainkan pengalaman yang bisa mereka nikmati dan hubungkan dengan kehidupan nyata. Sedikit penghargaan seperti stiker atau laporan lisan ringan pun cukup membuat mereka lebih termotivasi.
Pendekatan ini lalu diperluas ke seluruh sekolah: membuat kelompok buku, diskusi kecil, kunjungan rutin ke perpustakaan, hingga menyediakan “perpustakaan pribadi” kecil untuk setiap siswa. Dengan cara-cara sederhana namun personal ini, sekolah bisa menumbuhkan kembali budaya membaca—bukan karena kewajiban, tetapi karena rasa penasaran dan kesenangan.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
ijin bertanya pak dan teman-teman yang ingin menjawab, Jika membaca mandiri sering terabaikan karena sekolah lebih fokus pada penilaian, rangkuman, dan tugas-tugas yang bersifat formal, apakah ini berarti sistem pendidikan justru menciptakan jarak antara siswa dan kegiatan membaca itu sendiri, dan bagaimana sekolah dapat menata ulang budaya literasi agar membaca kembali menjadi aktivitas yang alami dan menyenangkan?
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Izin menjawab ya Oktavia, jadi menurut saya sebenarnya ketika membaca mandiri sering terabaikan karena sekolah terlalu fokus pada penilaian, rangkuman, dan tugas-tugas formal, hal itu memang bisa bikin siswa merasa jauh dari kegiatan membaca itu sendiri. Anak jadi melihat membaca sebagai “tugas” bukan sebagai kegiatan yang seru atau menenangkan. Akhirnya, motivasi membaca turun karena mereka merasa harus memenuhi kewajiban, bukan menikmati isi bacaan.
Menurut saya, sekolah bisa menata ulang budaya literasi dengan beberapa cara sederhana:
1. Berikan waktu membaca tanpa tugas
Sediakan 10–15 menit membaca bebas tanpa harus membuat rangkuman. Tujuannya biar siswa menikmati dulu prosesnya.
2. Biarkan siswa memilih buku sesuai minat
Kalau siswa bisa memilih buku yang mereka suka, mereka akan lebih semangat membaca.
3. Buat suasana membaca lebih santai
Tidak selalu harus di meja belajar. Bisa di sudut baca, luar kelas, atau duduk lesehan supaya membaca terasa alami.
4. Ajak siswa berbagi cerita, bukan laporan
Setelah membaca, cukup tanyakan hal sederhana seperti “bagian mana yang paling kamu suka?”
Ini lebih ringan dan menyenangkan dibanding menulis rangkuman panjang.
5. Guru menjadi role model
Guru yang terlihat sering membaca dan bercerita tentang buku membuat siswa ikut merasa bahwa membaca itu kegiatan yang wajar dan menyenangkan.
Jadi intinya, supaya membaca kembali terasa alami, sekolah perlu mengurangi tekanan formalnya dan lebih menekankan pengalaman membaca yang hangat, santai, dan sesuai minat siswa. Dengan begitu, membaca bukan lagi “tugas sekolah”, tapi kebiasaan yang tumbuh dengan sendirinya.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia Ramadani, menurut sepengetahuan saya betul sekali via sekolah itu kebanyakan hanya fokusnya selalu terlebih ke penilaian dan juga rangkuman yang sering membuat kalau membaca itu terasa seperti tugas bukanlah kebutuhan. Menurut sepengetahuan aku sih mungkin sekolah itu bisa untuk menata ulang mengenai budaya literasinya, yaitu dengan sekolah itu menyediakan pilihan buku sesuai dengan minat para siswa, lalu buat kegiatan membaca tanpa selalu untuk dinilai, lalu memberi waktu untuk membaca rutin di kelas, dan guru bisa mengapresiasi setiap proses para siswanya.
nama dias pinasih kelas 5b pgsd npm 23862006057
HapusOktavia, izin menjawab ya! Pertanyaan kamu sangat bagus, dan ini terkait dengan bagaimana kita bisa membuat pembelajaran literasi benar-benar menarik dan bermanfaat untuk siswa.
Untuk memastikan bahwa pemilihan buku berdasarkan minat siswa benar-benar mendukung proses belajar, kita bisa menggunakan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan melibatkan siswa dalam proses pemilihan. Misalnya, kita bisa memberikan mereka pilihan buku atau materi yang sesuai dengan minat mereka dan meminta mereka memilih mana yang mereka suka, sehingga mereka merasa lebih terlibat. Memberikan kebebasan memilih itu penting, karena ini bisa meningkatkan rasa tanggung jawab mereka terhadap pembelajaran.
Kemudian, kita juga bisa membuat kegiatan membaca menjadi lebih interaktif. Misalnya, bukan hanya sekadar membaca buku, tapi juga mengajak mereka untuk berdiskusi, membuat proyek terkait materi yang dibaca, atau mungkin presentasi kecil mengenai isi buku. Dengan cara ini, mereka tidak hanya pasif membaca, tetapi juga aktif mengolah informasi yang mereka peroleh, dan akhirnya lebih memahami apa yang mereka baca.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia, menurut saya, iya, kalau membaca cuma dijadikan bahan nilai dan tugas formal, itu bisa bikin siswa merasa membaca sebagai beban, bukan kebutuhan, jadi wajar kalau muncul jarak dengan aktivitas membaca itu sendiri, supaya lebih alami dan menyenangkan, sekolah bisa ngasih waktu baca bebas tanpa tugas, sudut baca yang nyaman, pilihan buku sesuai minat siswa, serta penilaian yang lebih ke respons santai seperti ngobrol atau berbagi cerita, bukan rangkuman kaku.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Oktavia Ramadani saya izin menjawab pertanyaan komentar dari anda yaa. Menurut saya, kalau membaca hanya dijadikan tugas, anak bisa jadi merasa membaca itu capek dan nggak seru 😔
Akhirnya anak membaca karena disuruh, bukan karena suka. Supaya membaca jadi alami dan menyenangkan lagi, sekolah bisa melakukan hal ini 😊
- Guru kasih waktu membaca santai, tanpa harus dirangkum atau dinilai 📖
- Anak boleh memilih buku sendiri sesuai yang disukai
- Nggak setiap anak membaca harus ada PR atau tes
- Guru ikut membaca bersama anak, jadi anak merasa ditemani 👩🏫
Kalau membaca dibuat kayak:
- Bermain
- Bercerita
- Waktu tenang yang menyenangkan
Anak akan merasa:
- Membaca itu teman, bukan beban
- Membaca itu kebiasaan, bukan hukuman
Jadi menurut saya, sekolah perlu buat membaca itu bagian dari keseharian, supaya anak bisa dekat lagi dengan buku dan senang membaca 😄📚
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Pendekatan personal seperti berbicara langsung dengan siswa, menanyakan minat mereka, dan memahami pengalaman mereka dengan membaca bukan hanya strategi pengajaran, tetapi langkah mendasar untuk membangun kembali hubungan yang sehat antara siswa dan kegiatan membaca.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Dalam banyak situasi pembelajaran, terutama ketika anak-anak berhadapan dengan soal cerita, kita sering lupa bahwa kesulitan mereka bukan muncul karena mereka tidak mampu berpikir, melainkan karena cara penyajian masalah sering kali jauh dari cara mereka memahami dunia sehari-hari. Kita mengharapkan mereka bisa menafsirkan informasi yang tersembunyi, memilah angka yang relevan, dan menebak apa yang sebenarnya diminta soal—padahal dalam kehidupan nyata, mereka secara alami memaknai masalah melalui konteks yang jelas, bahasa yang mudah, dan tujuan yang terang. Maka muncul pertanyaan besar: apakah benar siswa sulit matematika, atau justru kita yang membungkus matematika dalam bahasa yang tidak manusiawi dan tidak ramah pemahaman? Jika demikian, mungkin bukan kemampuan berhitung mereka yang perlu dipertanyakan, tetapi cara kita merancang masalah yang seharusnya membantu, bukan memperumit.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNPM : 2386206086
Kelas : 5D
Ijin bertanya lagi pak dan teman-teman yang ingin menjawab, Bagaimana guru dapat memastikan bahwa pemilihan buku berdasarkan minat siswa tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi benar-benar menjadi proses berkelanjutan yang membuat siswa merasa diperhatikan, dihargai, dan didampingi dalam perjalanan literasinya, terutama bagi siswa yang merasa membaca itu berat atau membosankan?
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Izin menjawab ya Oktavia, jadi menurut saya supaya pemilihan buku berdasarkan minat siswa jadi proses yang berkelanjutan, guru bisa lakukan hal-hal ini secara ringkas:
1. Rutin cek minat siswa, karena minat bisa berubah.
2. Ajak ngobrol ringan setelah membaca, tanpa tugas.
3. Mulai dari bacaan yang sederhana untuk siswa yang belum suka membaca.
4. Catat buku yang dipilih siswa supaya mereka merasa diperhatikan.
5. Berikan ruang untuk berbagi, misalnya cerita singkat tentang buku yang dibaca.
6. Tekankan bahwa membaca itu fleksibel, tidak harus cepat atau sempurna.
7. Dampingi, bukan menguji, agar siswa merasa nyaman dan termotivasi.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, siswa merasa dihargai dan perjalanan literasinya bisa terus berkembang.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia Ramadani, menurut sepengetahuan saya mungkin guru itu bisa menjadikannya seperti suatu proses yang berkelanjutan dengan sambil memantau bacaan para siswanya secara rutin, lalu melakukan percakapan singkat saja tentang buku bacaan tersebut, dan bisa juga mengganti buku tersebut sesuai dengan perkembangan siswanya. Kalau begitu pasti akan membuat para siswa itu jadi merasa seperti diperhatikan dengan ditanya oleh gurunya, lalu merasa dihargai karena dipilihkan buku bacaannya oleh gurunya, dan juga merasa didampingi karena guru membimbing perlahan-lahan.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
izin menjawab ya pia, kalau menurutku ya Intinya gini, biar anak-anak milih buku itu enggak cuma buat seru-seruan sebentar doang, tapi jadi kebiasaanyang bikin mereka betah, ya kuncinya harus konsisten. Kita wajib banget sediain waktu baca bebas (SSR) tiap hari. Di situ, kita enggak cuma duduk manis, tapi kita harus jadi mentor yang suka ngajak ngobrol dan nyari tahu apa sih yang lagi mereka suka banget sekarang. Jangan lupa, hargain banget pilihan bukunya. Walaupun bukunya tipis kayak komik, kita harus kasih jempol. Dan yang paling penting, kasih izin buat ganti buku kalau mereka ternyata bosan. Ini tuh nunjukkin kalau kita beneran nemenin proses mereka nyari buku yang pas, bukan cuma ngejar-ngejar target halaman doang. Terakhir, pas mereka udah selesai, output-nya jangan dibikin serem kayak ulangan. Mending dibikin kayak pesta kecil aja, suruh mereka bikin review singkat atau gambar karakter favorit. Biar mereka ngerasa usahanya dikasih apresiasi dengan cara yang asik, bukan yang bikin stress.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Oktavia, jadi menurut saya, guru bisa menjadikannya berkelanjutan dengan rutin ngobrol ringan soal bacaan siswa, mencatat perkembangan minat dan kemampuan mereka, memberi rekomendasi buku lanjutan yang masih nyambung dengan kesukaannya, serta tidak memaksa target berlebihan, jadi siswa terutama yang merasa membaca itu berat merasa ditemani pelan-pelan, diperhatikan, dan membaca jadi proses yang manusiawi, bukan kewajiban.
Nama: Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm: 2386206024
Kelas:5B
Materi ini memberikan gambaran bahwa literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi tentang berpikir kritis memahami informasi dan gagasan. Menumbuhkan jiwa kreativitas anak dan pemanfaatan teknologi membantu guru agar siswa lebih termotivasi.
Nama: Rosidah
HapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Ijin menanggapi ya kak Imelda, saya setuju dengan pendapat kamu sangat menarik.
Saya juga ingin menambahkan satu hal yang saya pelajari, menurut saya literasi lebih berkembang cepat ketika guru memberikan ruang untuk eksplorasi juga kak Imelda, selain itu, untuk pemanfaatan teknologi juga bisa menjadi alat bantu jika digunakan dengan tepat, seperti aplikasi membaca membaca, cerita interaktif dan lainnya. Hal seperti ini bisa membuat literasi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semoga dengan tanggapan saya ini, kita sama-sama bisa melihat literasi bukan hanya kegiatan dikelas, tapi proses membentuk cara berpikir yang lebih matang☺
Nama : Zakky Setiawan
BalasHapusNPM : ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Pendekatan personal yang dilakukan guru merupakan salah satu langkah awal yang sangat baik, dengan melakukan metode ini guru jadi tau mengapa minim membaca di kelas tersebut, hal ini tuh bagus banget jadi guru tau bagaimana harus bersikap kepada peserta didik tersebut
Nama : Zakky Setiawan
HapusNPM : ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Sedikit menambahkan, kemudian setelah mendapatkan informasi dari peserta didik tersebut, harus ada yang di lakukan, dengan cara mengajak dan membiasakan peserta untuk setidaknya membaca apapun sebelum pembelajaran dimulai
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Sedikit berbagi cerita, sekarang di SD, SMP, SMA rata - rata sudah menyedialkan pojok baca jadi anak - anak diminta membawa buku cerita, dongeng, Novel atau buku - buku lainya. Tetapi mungkin mereka tidak begitu optimal dan konsisten dalam membaca..tips yang bapak berikan ini sangat membantu guru untuk meningkatkan literasi siswa, saya tertarik dengan bacaan diatas tentang penerapan serta langkah - langkah yang bisa diterapkan disekolah mengenai literasi. jadi kesanya kegaitan siswa di sekolah itu produktif di sela - sela istirahat atau jamkos, dan dapat bermanfaat bagi mereka seperti menambah wawasan, melatih berpikir kritis,memperluas kosakata dan mendorong kreativitas serta imajinasi siswa.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Erlynda ini sangat bagus karena menyoroti masalah utama: meskipun sudah ada pojok baca di sekolah, kegiatan membaca siswa sering tidak optimal atau konsisten. Nah, tambahan dari saya, strategi dalam materi ini persis menjawab masalah itu dengan pendekatan yang sangat personal di awal. Guru tidak cuma bilang baca buku, tapi malah mewawancarai siswa satu per satu selama beberapa minggu untuk tahu apa sih kegiatan favorit mereka dan kenapa mereka tidak suka membaca. Setelah itu, guru memilihkan buku yang benar-benar sesuai minat dan tingkat kesulitan mereka, bahkan menyertakan dua buku yang tingkatannya mudah setara kelas 1-3 khusus untuk membangun rasa percaya diri. Ini adalah kunci untuk membuat membaca itu terasa spesial dan bisa dilakukan, bukan sekadar kewajiban yang memberatkan.
Poin tambahan lainnya yang membuat strategi ini optimal adalah bagaimana mereka menjaga kegairahan membaca itu tetap hidup. Setelah siswa membaca, mereka diminta melakukan Laporan Buku Lisan yang kemudian diikuti dengan dorongan untuk membacakan buku literasi awal kepada siswa kelas bawah. Ini adalah taktik brilian karena secara otomatis membuat siswa yang tadi mungkin kesulitan membaca, kini merasa percaya diri dan menjadi panutan bagi adik kelasnya. Ini mengubah citra membaca dari pekerjaan rumah menjadi sumber kebanggaan. Jadi, strategi ini bukan cuma menyediakan buku, tapi menciptakan pengalaman yang membuat membaca jadi bermanfaat banget, seperti yang Erlynda bilang, yaitu untuk menambah wawasan, melatih berpikir kritis, dan mengembangkan imajinasi.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Saya setuju dengan materi di atas, menurut saya, pendekatan personal dalam mengobrol langsung dengan siswa dapat menggali minat mereka, lalu memilih buku yang pas, merupakan hal yang efektif. Ini mirip kayak saat kita mencari tontonan di platform streaming, kalo tidak sesuai selera pasti malas mulai. Tapi kalo ada film yang cocok dengan minat dan mood, kita bisa menonton berjam-jam tanpa terasa. Nah membaca juga begitu, tinggal mencari pintu masuk yang tepat.
Dengan stategi ini, literasi bukan lagi soal kewajiban, tapi bisa jadi kebiasaan yang tumbuh alami, yang memberikan dampak jangka panjang.
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Komentar Rosidah sangat tepat, pendekatan personal itu kunci utamanya, persis seperti memilih tontonan yang pas di platform streaming. Tambahan dari saya, strategi ini tidak berhenti di memilihkan buku yang sesuai minat saja, tapi juga mengatasi akar masalahnya, yaitu siswa yang merasa membaca itu melelahkan. Untuk siswa seperti ini, guru sengaja memasukkan dua buku literasi awal yang tingkat kesulitannya rendah setara kelas 1-3. Tujuannya jelas untuk membangun kepercayaan diri mereka dulu. Karena kalau sudah merasa bisa, baru deh mereka semangat melanjutkan ke buku yang lebih sesuai tingkat kelas. Jadi, ini bukan sekadar soal minat, tapi juga soal strategi psikologis untuk menyembuhkan trauma membaca yang sulit.
Kemudian, langkah selanjutnya juga sangat cerdas untuk memastikan kebiasaan itu tumbuh alami. Setelah siswa membuat Laporan Buku Lisan, guru mendorong mereka untuk membaca buku literasi awal itu kepada siswa kelas bawah. Ini adalah puncak dari pendekatan personal itu. Siswa yang tadinya mungkin merasa lemah dalam membaca, tiba-tiba diangkat perannya menjadi panutan. Ini memberikan mereka rasa bangga dan pengakuan, yang secara otomatis mengubah pandangan mereka tentang membaca dari beban menjadi sumber kekuatan. Dengan begitu, seperti yang Rosidah bilang, membaca bukan lagi kewajiban, tapi menjadi kebiasaan yang punya dampak jangka panjang karena sudah terkait dengan rasa percaya diri dan kehormatan.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, strategi yang ditawarkan dalam materi ini sangatlah keren dan menjawab masalah utama literasi saat ini, yaitu rendahnya minat membaca pada siswa yang lebih besar. Daripada cuma mewajibkan tugas membaca yang membosankan, guru justru mulai dengan pendekatan personal. Mereka wawancara santai untuk tahu minat dan hobi tiap siswa, lalu memilihkan buku yang sesuai dengan minat dan tingkat kesulitan membaca mereka. Taktik ini cerdas banget karena membuat kegiatan membaca terasa personal, bukan tugas sekolah yang membebani. Apalagi ada pemberian dua buku literasi awal untuk siswa yang kesulitan, tujuannya untuk membangun kepercayaan diri mereka dulu. Ini bukti bahwa program ini fokus pada individu.
Saya juga suka banget dengan langkah-langkah praktisnya, seperti mendorong siswa memilih buku favorit dan membuat Perpustakaan Pribadi mereka sendiri. Tapi, yang paling top adalah ide Laporan Buku Lisan di mana siswa yang sudah baca diminta membacakan buku ke siswa kelas bawah. Menurut saya, ini adalah strategi jitu yang mengubah siswa dari pembaca biasa menjadi panutan. Hal ini menciptakan rasa bangga dan percaya diri. Intinya, program ini sejalan dengan perkembangan pendidikan sekarang yang ingin membuat literasi menjadi aktivitas yang menyenangkan, relevan, dan membangun karakter, bukan sekadar kewajiban di sekolah.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, hal yang paling berharga dari strategi literasi ini adalah keberaniannya untuk mengubah peran guru menjadi detektif minat dan konselor pribadi. Guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tapi meluangkan waktu khusus untuk mewawancarai 24 siswa selama enam minggu, hanya untuk mengetahui apa yang mereka sukai dan apa pandangan mereka tentang membaca. Pendekatan satu per satu ini benar-benar menunjukkan bahwa guru menganggap literasi bukan sekadar nilai di rapor, tapi sebagai pintu gerbang menuju pemahaman diri siswa dan koneksi emosional. Ini jauh lebih mendalam daripada sekadar memberikan daftar buku yang wajib dibaca, dan inilah yang membuat siswa akhirnya menemukan kembali kegembiraan membaca.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setuju juliana dai, karena pendekatan wawancara 1-per-1 ini secara transformatif mengubah guru menjadi detektif minat yang berhasil membuka kunci minat dan membangun jembatan kepercayaan, sehingga menjadikan literasi sebagai alat hidup yang sesungguhnya dan bukan sekadar nilai akademis.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5B
Npm : 2386206042
materi ini bagus sekali, materi ini menawarkan solusi yang holistik dan berorientasi pada siswa untuk krisis literasi. Ini menegaskan bahwa meningkatkan kemampuan literasi pada siswa yang lebih besar bukan hanya tentang tugas yang lebih banyak, tetapi tentang menciptakan lingkungan yang menghargai pilihan, mendorong eksplorasi, dan membangun kepercayaan diri melalui pendekatan yang tulus dan personal.
Terima kasih bapak karena sudah menberikan materi ini, saya suka dengan materi bapak padan bagian Pendekatan Personal di awal materi ini. Sebagai calon guru, jujur aja kadang kita cuma fokus sama materi, lupa kalau tiap siswa itu punya latar belakang dan minat yang beda-beda. Strategi wawancara singkat lima sampai tujuh menit dengan pertanyaan santai kayak, Buku apa yang terakhir kamu baca? itu kelihatan sederhana, tapi dampaknya besar. Itu kan cara kita benar-benar mengenal mereka secara personal, bukan cuma sebagai murid di kelas.
BalasHapusTerus, strategi memilih dan menyediakan buku di kelas juga keren. Ide menempatkan dua buku literasi awal kelas satu sampai tiga buat semua siswa itu cerdas banget. Ini menjawab masalah siswa yang lelah atau merasa kesulitan saat membaca buku tingkat kelas mereka. Dengan buku yang tingkat kesulitannya lebih rendah, mereka jadi bisa membangun rasa percaya diri dulu. Ini bukan cuma soal ngasih buku, tapi tentang gimana kita membuat proses membaca itu menyenangkan dan enggak terasa sebagai beban. Intinya, materi ini ngingetin kita bahwa sebelum kita mengajar membaca, kita harus membuat mereka cinta dulu sama membaca.
Disini say juga mau izin komentar soal materi bapak ini. Menurut saya, yang membuat strategi ini kuat adalah dia punya lapisan-lapisan tahapan yang jelas. Enggak cuma berhenti di kasih buku, selesai. Mulai dari pendekatan personal, pencarian buku sesuai minat, diskusi kelompok, sampai akhirnya Laporan Buku Lisan. Bagian laporan lisan ini penting banget, karena itu kan jadi semacam umpan balik langsung ke guru.
BalasHapusKonsep menjadwalkan laporan lisan secara berkala dan pakai rubrik yang jelas itu bikin kegiatan membaca jadi punya tujuan yang pasti, enggak sekadar kewajiban. Yang paling saya suka adalah bagian Hasil Awal di mana siswa bisa menghubungkan cerita di buku dengan pengalaman pribadi mereka, misalnya hobi olahraga atau cara mengatur emosi. Itu membuktikan kalau literasi itu bukan cuma nangkep isi cerita, tapi juga jadi alat buat memahami diri sendiri dan dunia mereka. Pemberian reward kayak stiker juga simpel, tapi efektif buat motivasi tambahan. Jadi, strateginya menyeluruh, dari perencanaan sampai evaluasi.
Di materi bapak ini saya juga ingin menangapi nya pada materi tentang peningkatan literasi ini benar-benar membuka pandangan saya, terutama saat membahas dua pertanyaan penting di awal, yaitu kenapa membaca mandiri kurang jadi fokus buat siswa yang lebih besar. Seringkali kita, sebagai calon pendidik, anggap siswa yang lebih tua itu sudah otomatis bisa membaca, padahal minatnya bisa jadi sudah hilang karena tugas yang terlalu berat.
BalasHapusMateri ini memberikan solusi dengan melihat literasi bukan cuma sebagai keterampilan sekolah, tapi sebagai jembatan ke keterampilan hidup. Contohnya kayak di bagian hasil awal tadi, di mana membaca bisa dihubungkan dengan terapi manajemen emosi. Ini berarti kita enggak cuma ngajarin mereka gimana cara membaca, tapi kita tunjukkan kenapa membaca itu penting buat hidup mereka. Kemudian, dorongan untuk siswa yang sudah memberikan laporan lisan untuk membaca buku literasi awal kepada adik kelasnya itu ide yang luar biasa! Itu menciptakan rasa percaya diri dan menjadikan siswa yang lebih besar itu contoh nyata atau bisa jadi panutan bagi teman dan juga yang lainnya. Jadi, strategi ini enggak cuma mengurus satu kelas, tapi menciptakan budaya membaca di seluruh lingkungan sekolah. Sederhana, tapi efektif dan berkesinambungan.
NAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
Pentingnya perhatian guru terhadap kebiasaan membaca mandiri, terutama pada siswa yang lebih besar yang sering kali diasumsikan sudah bisa membaca. Padahal, banyak dari mereka sebenarnya masih kesulitan, kurang percaya diri, atau bahkan sudah kehilangan minat membaca sama sekali. Pendekatan yang dilakukan guru dalam contoh ini terasa sangat manusiawi dan personal. Dengan mewawancarai siswa satu per satu, guru bisa benar-benar memahami minat, pengalaman, dan hambatan setiap anak. Strategi ini membantu menemukan buku yang tepat, yang membuat siswa merasa dihargai dan dipahami. Tidak heran jika setelah itu minat membaca mereka mulai muncul kembali.
Nama : Maria Ritna
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menanggapi materi ini,nah dalam materi ini bukan hanya tentang bagaimana meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, tetapi lebih jauh lagi, tentang bagaimana mentransformasi paradigma literasi di kelas.kita seringkali terjebak dalam pemikiran bahwa literasi hanya sebatas kemampuan teknis membaca dan menulis.padahal, literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengkomunikasikan ide secara efektif.materi ini mengajak kita untuk melihat literasi sebagai sebuah proses yang dinamis dan berkelanjutan, yang melibatkan interaksi antara siswa, guru, teks, dan konteks sosial.
literasi sepanjang hayat,literasi bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari di sekolah, tetapi merupakan keterampilan yang harus terus dikembangkan sepanjang hayat.di dunia yang terus berubah ini, kita perlu terus belajar dan beradaptasi dengan informasi baru.kemampuan literasi yang kuat akan membantu kita untuk melakukan ini.
Nama: Maria ritna Tati
BalasHapusNPM: 2386206009
Kelas: V A PGSD
Personalisasi pembelajaran literasi salah satu poin penting dalam materi ini adalah penekanan pada personalisasi pembelajaran literasi.setiap siswa memiliki minat, kebutuhan, dan gaya belajar yang berbeda.oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan strategi pembelajaran literasi mereka agar sesuai dengan karakteristik unik setiap siswa.ini bisa dilakukan dengan memberikan pilihan buku yang beragam, memberikan tugas yang menantang, dan memberikan umpan balik yang konstruktif.dengan mempersonalisasi pembelajaran literasi, kita dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan bagi siswa.literasi dan keadilan sosial literasi memiliki peran penting dalam mewujudkan keadilan sosial.kemampuan literasi yang baik dapat membantu individu untuk mengakses informasi, berpartisipasi dalam masyarakat, dan memperjuangkan hak-hak mereka.oleh karena itu, meningkatkan kemampuan literasi semua orang, terutama mereka yang kurang beruntung, adalah sebuah keharusan.
Nama: Maria ritna Tati
BalasHapusNPM: 2386206009
Kelas: V A PGSD
Guru sebagai model literasi,materi ini mengingatkan kita bahwa guru memiliki peran yang sangat penting sebagai model literasi bagi siswa.guru tidak hanya bertugas untuk mengajarkan keterampilan literasi, tetapi juga untuk menunjukkan kepada siswa bagaimana menjadi pembaca dan penulis yang aktif dan kritis.guru dapat melakukan ini dengan membaca buku bersama siswa, menulis bersama siswa, dan berbagi pengalaman membaca dan menulis mereka sendiri. dengan menjadi model literasi yang baik, guru dapat menginspirasi siswa untuk mencintai membaca dan menulis.literasi dan kreativitas,literasi tidak hanya tentang memahami informasi, tetapi juga tentang menciptakan informasi baru. Kemampuan literasi yang baik dapat membantu individu untuk mengembangkan kreativitas mereka, menghasilkan ide-ide baru, dan mengkomunikasikan ide-ide tersebut kepada orang lain.
Nama: Maria ritna Tati
BalasHapusNPM: 2386206009
Kelas: V A PGSD
Kolaborasi dalam literasi materi ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam pembelajaran literasi.kolaborasi dapat dilakukan antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, dan antara guru dengan orang tua.kolaborasi dapat membantu siswa untuk belajar dari satu sama lain, berbagi ide, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang teks.kolaborasi juga dapat membantu guru untuk mendapatkan dukungan dari orang tua dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa.literasi dan teknologi,teknologi memiliki peran yang semakin penting dalam pembelajaran literasi.teknologi dapat digunakan untuk mengakses informasi, berkolaborasi dengan orang lain, dan menciptakan konten digital.namun, kita juga perlu berhati-hati dalam menggunakan teknologi.kita perlu memastikan bahwa teknologi digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa, bukan untuk menggantikannya.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Literasi dan multimodalitas,di era digital ini, literasi tidak hanya terbatas pada teks tertulis, tetapi juga mencakup berbagai bentuk media lainnya, seperti gambar, video, dan audio.materi ini mengajak kita untuk mempertimbangkan multimodalitas dalam pembelajaran literasi.guru dapat menggunakan berbagai bentuk media untuk membantu siswa memahami teks, mengekspresikan ide, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis.dengan memanfaatkan multimodalitas, kita dapat membuat pembelajaran literasi menjadi lebih menarik dan relevan bagi siswa di era digital.literasi sebagai investasi masa depan,meningkatkan kemampuan literasi adalah sebuah investasi masa depan.dengan memiliki kemampuan literasi yang kuat, individu akan lebih mampu untuk meraih kesuksesan dalam pendidikan, karir, dan kehidupan pribadi mereka.oleh karena itu, kita perlu berinvestasi dalam pendidikan literasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: (2386206045)
Kelas: V C
dan yapp literasi lagiii! bagaimana membuat literasi bukan hanya kegiatan membaca dan menulis, tetapi pengalaman belajar yang benar-benar bermakna saya suka dari materi ini adalah penekanannya pada pendekatan yang tidak memaksa, melainkan mengundang siswa untuk terlibat. Ketika minat dibangkitkan terlebih dahulu, kemampuan literasi biasanya mengikuti dengan lebih alami, menurut saya paling penting dari materi ini adalah kesadaran bahwa meningkatkan literasi bukan tentang memberikan lebih banyak tugas baca atau tulis, tetapi tentang menciptakan lingkungan yang membuat siswa ingin tahu.
Dikelass yg tingkat literasinya sangat kurang strategi apa yang paling efektif untuk meningkatkan minat dan kemampuan literasi siswa di kelas apakah melalui pemilihan teks yang relevan, kegiatan kolaboratif seperti diskusi dan membaca berpasangan, atau variasi tugas seperti proyek dan menulis kreatif dan bagaimana alasanmu memilih strategi tersebut?
HapusNama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Hai Stevani, menurut saya kalau tingkat literasinya sangat kurang strategi pemilihan teks yang relevan harus jadi fondasi utama dulu, baru kemudian dikombinasikan dengan kegiatan kolaboratif, kenapa pemilihan teks yang relevan menjadi prioritas?
Dari materi yang kita pelajari jelas sekali kalau siswa yang literasinya kurang itu sering merasa membaca itu melelahkan dan bikin frustasi makanya strategi utamanya adalah kasih mereka buku-buku yang tingkat kesulitannya lebih rendah dulu (seperti buku literasi awal setara kelas 1-3) sambil tetap sesuai minat mereka tujuannya buat bangun kepercayaan diri mereka dulu mereka harus ngerasain "wah, ternyata aku bisa baca buku sampai selesai!" Setelah fondasi itu kuat, baru masuk ke kegiatan kolaboratif seperti diskusi kelompok kecil yang ada di materi soalnya percuma kan kalau kita suruh mereka diskusi atau kerja kelompok tapi mereka belum bisa atau males baca sama sekali harus ada minat dan kemampuan dasar dulu, lalu kenapa kegiatan kolaboratif penting? Karena lewat diskusi buku dalam kelompok kecil siswa bisa saling bantu dan termotivasi ditambah dengan laporan lisan yang membuat mereka bisa sharing pengalaman bacanya ini membantu mereka lebih paham dan merasa dihargai.
Terima kasih
Nama:syahrul
BalasHapuskelas:5D
Npm:2386206092
Pernah gak kalian denger soal tantangan membuat anak-anak tertarik membaca? Ini sering jadi masalah gede, terutama buat siswa yang merasa membaca itu sulit, melelahkan, atau membosankan, sampai ada yang menghindarinya sejak lama. Daripada hanya basih tugas yang aj, ada pendekatan yang jauh lebih personal dan efektif. Intinya, kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya menarik perhatian mereka dan mengapa minat membaca itu bisa hilang di awal.
nama:syahrul
Hapuskelas:5D
Npm:2386206092
Pendekatan awalnya sih emang bisa dibilang simpel tapi penting kek ngajak mereka mengobrol santai. Guru bisa coba ngobrol lima sampai tujuh menit per anak, seperti sedang bertanya ke teman. Tujuannya untuk tau minat pribadi mereka. Beberapa pertanyaan kuncinya gampang saja, kek
• Apa yang kamu sukai?
• Apa kegiatan favoritmu?
• Buku apa yang terakhir kamu baca?
Kalau mereka ternyata gak suka membaca, kita perlu gali alasannya. Dari obrolan ini, kita bisa mencatat minat mereka, misalnya olahraga, musik, atau manajemen emosi, yang kemudian akan menjadi panduan utama untuk memilih buku yang cocok untuk mereka.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
npm:2386206092
Setelah tahu minatnya, langkah berikutnya adalah mencarikan dan memberikan buku yang betu betul tepat. Untuk anak-anak yang kesulitan, strateginya adalah mulai dari buku dengan tingkat kesulitan yang rendah kayak setara kelas satu sampe kelas tiga sebagai langkah awal. Ini penting banget untuk membangun kembali rasa percaya diri mereka! Bukan soal seberapa tebal atau sulit bukunya, tapi seberapa berhasil mereka menyelesaikan bacaan tanpa merasa tertekan. Mereka juga bisa memiliki kotak kecil untuk menyimpan buku pilihan, seolah olah punya perpustakaan pribadi mini.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
Npm:2386206092
Nah setelah membaca, ada bagian seru.Siswa disuru ceritain buku yang mereka baca dan yang menarik, mereka harus bisa menghubungkannya dengan pengalaman pribadi mereka, misalnya pengalaman saat berolahraga. Ini membuat cerita jadi lebih hidup dan relevan! Setelah laporannya selesai, guru cukup memberikan apresiasi, bisa berupa stempel atau stiker, sebagai motivasi tambahan. Selain itu, strategi ini bisa diterapkan ke seluruh sekolah melalui langkah langkah terstruktur seperti menyiapkan kelompok buku dengan beragam topik dan mengadakan diskusi buku rutin.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
Npm:2386206092
Intinya tuh untuk menumbuhkan kembali suka membaca, kita perlu pendekatan yang kreatif dan personal. Ini ngak cuman penugasan, tapi tentang menciptakan lingkungan yang mendukung. Dengan langkah langkah seperti diskusi kelompok, kunjungan perpustakaan rutin, dan membiarkan siswa memilih buku favorit sendiri, mereka jadi merasa punya kendali atas proses belajarnya. Harapannya, siswa bisa menemukan kembali kegembiraan membaca dan menjadikannya kebiasaan yang menyenangkan
Nama: Arjuna
BalasHapusKelas: 5A
Npm: 2386206018
Saya juga melihat bahwa banyak siswa yang sebenarnya mampu membaca, tetapi kurang memiliki minat. Ada yang kesulitan memahami bacaan sesuai tingkat kelasnya, ada pula yang sudah kehilangan semangat karena sejak awal merasa membaca itu membosankan. Hal ini membuat saya menyadari bahwa pendekatan yang digunakan tidak bisa disamakan untuk semua siswa.
Materi ini sangat reflektif dan menggugah kesadaran guru akan pentingnya mengenal kebiasaan membaca setiap siswa secara mendalam. Pertanyaan-pertanyaan pembuka yang diajukan kepada guru sangat kuat karena mendorong evaluasi diri: sejauh mana guru benar-benar memahami minat, pengalaman, dan tingkat literasi siswanya. Pendekatan ini membuat pembaca langsung terlibat secara emosional dan profesional.
BalasHapusStrategi yang diangkat dari pengalaman Kathy Y. Stovall disajikan secara manusiawi dan realistis. Pendekatan personal melalui percakapan singkat dengan siswa menunjukkan bahwa meningkatkan literasi tidak selalu harus dimulai dari program besar, tetapi dari hubungan yang hangat antara guru dan siswa. Wawancara singkat namun terarah terbukti mampu membuka informasi penting tentang minat siswa yang selama ini tersembunyi.
Pemilihan buku yang disesuaikan dengan minat dan tingkat kemampuan siswa merupakan langkah yang sangat tepat. Penyertaan buku literasi awal untuk siswa yang mengalami kesulitan membaca menunjukkan empati dan pemahaman terhadap kondisi psikologis siswa. Strategi ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa yang sebelumnya merasa gagal atau lelah saat membaca.
BalasHapusIzin menanggapi pak Materi “Meningkatkan Minat dan Kemampuan Literasi di Kelas: Strategi dan Pendekatan” ini sangat relevan dengan tantangan nyata yang dihadapi guru di kelas, terutama ketika berhadapan dengan siswa yang secara usia sudah lebih besar tetapi justru mulai menjauh dari aktivitas membaca. Tulisan ini terasa kuat karena tidak hanya menyajikan masalah, tetapi juga mengajak guru untuk bercermin dan reflektif terhadap praktik pembelajaran literasi yang selama ini dilakukan.
BalasHapusMateri ini juga dengan tepat menyoroti bahwa membaca mandiri sering kali terabaikan pada siswa tingkat lanjut. Fokus pembelajaran yang bergeser ke tuntutan akademik, target kurikulum, dan penilaian sering membuat aktivitas membaca menjadi kewajiban semata, bukan kebutuhan atau kesenangan. Akibatnya, siswa membaca karena disuruh, bukan karena ingin. Hal ini berdampak pada menurunnya motivasi, kosakata yang terbatas, serta pemahaman bacaan yang dangkal.Pendekatan yang ditawarkan Kathy Y. Stovall (2023) terasa sangat manusiawi dan kontekstual. Langkah awal berupa pendekatan personal melalui percakapan langsung menunjukkan bahwa membangun literasi sejatinya dimulai dari membangun hubungan. Guru tidak langsung menilai kemampuan membaca, tetapi terlebih dahulu mendengarkan cerita, minat, dan pengalaman siswa. Strategi ini memberi pesan kuat bahwa siswa dihargai sebagai individu, bukan sekadar angka atau level membaca.
HapusIzin bertanya pak atau teman -teman yg bisa menjawab Mengapa si pendekatan personal menjadi kunci dalam membangun kembali minat literasi siswa yang sudah kehilangan motivasi membaca?
BalasHapusIzin bertanya lagi pak atau teman -teman yg bisa menjawab Sejauh mana si guru bertanggung jawab atas rendahnya minat baca siswa, dan sejauh mana faktor lingkungan di luar sekolah berpengaruh?
BalasHapusNama : Naida Dwi Nur Herlianawati
HapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
izin menjawab ya sari, kalo menurtku Guru bertanggung jawab pada aspek Metode . Guru harus bisa mengubah persepsi bahwa membaca itu membosankan menjadi aktivitas yang seru melalui teknik bercerita atau diskusi yang interaktif. Rendahnya minat baca bisa jadi karena cara penyampaian di sekolah yang kurang variatif.
Namun, lingkungan luar bertanggung jawab pada aspek Budaya. Sejauh mana pun guru berusaha, jika lingkungan di luar sekolah (seperti paparan gadget yang berlebih atau kurangnya koleksi buku di rumah) tidak mendukung, minat baca siswa akan sulit bertahan lama. Kesimpulannya, guru menanam benihnya, tapi lingkungan luar yang menentukan apakah tanahnya cukup subur untuk membuat benih itu tumbuh.
HapusNama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, penekanan berlebihan pada nilai sering mengaburkan tujuan utama pembelajaran. Siswa lebih memperhatikan angka daripada memahami konsep yang dipelajari. Guru memiliki peran strategis dalam menggeser fokus tersebut ke proses belajar. Lingkungan kelas yang aman membantu siswa berani mencoba dan belajar dari kesalahan. Pendekatan ini menumbuhkan motivasi intrinsik siswa. Guru mendorong siswa untuk menghargai usaha dan perkembangan diri. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan.
Tanggapan 2
BalasHapusIzin menanggapi Pak, penerapan pembelajaran diferensiasi memang terasa menantang pada awalnya. Guru menghadapi kelas dengan kemampuan siswa yang sangat beragam. Namun, kolaborasi tim membantu guru mengelola tantangan tersebut. Guru pendidikan khusus dan asisten pengajar mendukung proses pembelajaran di kelas. Kerja sama ini meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Siswa menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dalam proses belajar. Hasil ini membuktikan bahwa diferensiasi dapat diterapkan secara nyata.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, perencanaan terstruktur menjadi kunci keberhasilan pembelajaran diferensiasi. Guru menyusun tujuan, standar, dan harapan pembelajaran secara jelas. Guru mengaitkan materi dengan dunia nyata untuk meningkatkan motivasi siswa. Instruksi langsung yang singkat membantu siswa fokus pada konsep utama. Latihan terbimbing memberikan kesempatan siswa memahami materi secara bertahap. Guru memantau pemahaman siswa sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Proses ini membantu siswa belajar dengan lebih percaya diri.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, latihan mandiri dan umpan balik berperan penting dalam pembelajaran diferensiasi. Guru memberikan soal yang telah disesuaikan dengan kemampuan siswa. Siswa memeriksa jawaban mereka sebelum meminta penilaian. Guru memberikan kesempatan perbaikan sebagai bagian dari proses belajar. Pendekatan ini menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab siswa. Siswa tidak takut melakukan kesalahan karena mendapat bimbingan yang tepat. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih manusiawi dan suportif.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, pembelajaran diferensiasi memberikan dampak positif bagi seluruh siswa. Siswa berkemampuan tinggi merasa tertantang melalui kegiatan pengayaan. Siswa yang sebelumnya kesulitan menunjukkan peningkatan kepercayaan diri. Interaksi antar siswa berkembang melalui kegiatan saling membantu. Guru menciptakan suasana kelas yang kolaboratif dan inklusif. Pembelajaran matematika terasa lebih menyenangkan dan bermakna. Oleh karena itu, pembelajaran diferensiasi layak diterapkan secara berkelanjutan.
Nama : Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Disini guru menerapkan konsep matematika dikehidupan sehari Hari dimana siswa mengasah kemampuan berpikir mereka dalam pembelajaran matematika tersebut dan guru juga melakukan literasi dan pendekatan dengan siswa dimana guru juga mengasah minat siswa dalam sebuah pembelajaran matematika .
HapusNama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Saya jadi lebih paham kalau minat membaca itu bukan cuma soal murid dibiasakan buka buku, tapi juga bagaimana guru dan sekolah bisa bikin kegiatan membaca jadi menarik dan bermakna. Kalau anak sudah tertarik membaca, pasti kemampuan membaca dan pemahamannya juga ikut meningkat. materi ini sangat bermanfaat buat yang ingin bantu anak-anak makin rajin membaca di sekolah
Nama : Alya Salsabila
HapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
izin bertanya ya pak, bagaimana cara menjaga agar minat membaca siswa itu tetap konsisten dan tidak hanya semangat di awal saja, terimakasih
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin menjawab pertanyaan yang diajukan teman kita Alya.
Dari materi yang kita pelajari, ada beberapa strategi untuk menjaga konsistensi ini:
1. Kunjungan perpustakaan rutin, dalam materi disebutkan kalau kita perlu jadwalkan kunjungan rutin ke perpustakaan supaya siswa bisa terus pilih buku baru ini penting sekali karena kalau hanya sekali kasih buku terus selesai lama-lama mereka bosan dengan rutinitas ini, ada variasi buku yang terus fresh dan sesuai perkembangan minat mereka.
2. Sistem penghargaan berkala, di materi menyebutkan ada pemberian stempel atau penghargaan setelah laporan lisan ini menjadi motivasi tambahan yang membuat siswa merasa usaha mereka dihargai tapi yang penting penghargaannya diberikan secara konsisten, bukan cuma di awal aja.
3. Perpustakaan pribadi dengan kotak sendiri. Strategi ini bikin siswa punya rasa kepemilikan terhadap buku-buku mereka. Kotak yang bisa dihias sendiri itu menciptakan ikatan emosional - buku jadi terasa milik mereka, bukan sekadar pinjaman.
4. Jadwal laporan lisan berkala, dalam materi dijelaskan juga kalau laporan lisan dijadwalkan secara berkala bukan cuma sekali ini menciptakan rutinitas yang membuat siswa harus tetap baca supaya bisa laporan nilai plus nya mereka juga didorong buat baca ke adik kelas, yang bikin mereka jadi role model dan makin termotivasi.
Terima kasih
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Saya setuju bahwa kebiasaan membaca mandiri pada siswa yang lebih besar sering kali luput dari perhatian guru. Materi ini membuka sudut pandang saya bahwa memberi tugas membaca saja ternyata belum cukup untuk menumbuhkan minat literasi. Dari pengalaman yang diceritakan, terlihat jelas bahwa siswa membutuhkan pendekatan yang lebih personal, terutama untuk memahami alasan mengapa mereka enggan membaca. Ketika guru mau meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita dan minat siswa, membaca tidak lagi terasa sebagai kewajiban, tetapi mulai menjadi aktivitas yang lebih bermakna dan dekat dengan kehidupan mereka.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi yaa, Pak. Saya setuju dengan gagasan bahwa wawancara singkat dengan siswa bisa menjadi langkah awal yang sangat efektif dalam meningkatkan literasi. Materi di atas membuat saya sadar bahwa sering kali siswa kehilangan minat membaca bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak pernah menemukan buku yang benar-benar sesuai dengan minat mereka. Pendekatan ini terasa sangat manusiawi, karena guru tidak langsung menilai kemampuan membaca siswa, melainkan mencoba memahami latar belakang dan pengalaman mereka terlebih dahulu.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin memberikan saran dari saya, Pak. Materi di atas menunjukkan bahwa membangun minat membaca tidak selalu harus dimulai dari buku yang sulit atau sesuai tingkat kelas. Justru, pemberian buku literasi awal sebagai langkah membangun kepercayaan diri terasa sangat relevan, terutama bagi siswa yang sudah terlanjur merasa membaca itu melelahkan. Dari cerita ini, saya melihat bahwa keberhasilan literasi bukan hanya soal kemampuan teknis membaca, tetapi juga soal rasa percaya diri dan kenyamanan siswa saat berinteraksi dengan buku.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi lagi, Pak. Menurut saya, strategi seperti laporan lisan dan pemberian stiker membaca merupakan bentuk apresiasi sederhana namun berdampak besar bagi motivasi siswa. Materi ini menggambarkan bahwa penguatan positif dapat membantu siswa merasa dihargai atas usaha mereka, bukan hanya hasil akhirnya. Saya pribadi merasa pendekatan seperti ini bisa menciptakan suasana kelas yang lebih suportif, di mana siswa tidak takut salah dan lebih berani mencoba membaca kembali.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Saya setuju bahwa meningkatkan literasi siswa membutuhkan proses yang konsisten dan melibatkan seluruh ekosistem sekolah. Dari materi ini, terlihat bahwa kolaborasi antara guru, perpustakaan, dan siswa mampu menciptakan lingkungan literasi yang hidup. Pendekatan yang terencana, personal, dan berkelanjutan seperti ini membuat membaca tidak lagi terasa sebagai tuntutan akademik semata, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami dalam diri siswa.
Artikel ini menegaskan bahwa peningkatan literasi tidak dapat disamaratakan untuk semua siswa, terutama pada siswa tingkat lanjut. Pendekatan personal melalui wawancara singkat memungkinkan guru memahami minat, latar belakang, serta pengalaman membaca setiap siswa. Strategi ini sangat efektif karena membaca bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga aktivitas emosional dan sosial.
BalasHapusKetika siswa merasa diperhatikan dan dipahami, mereka cenderung lebih terbuka untuk kembali mencoba membaca. Hal ini menunjukkan bahwa relasi guru-siswa memiliki peran besar dalam membangun motivasi literasi.
Artikel ini mengkritisi kurangnya perhatian terhadap kebiasaan membaca mandiri pada siswa yang lebih besar. Padahal, membaca mandiri merupakan fondasi penting untuk memperkuat kosakata, pemahaman bacaan, dan daya pikir kritis. Fokus pembelajaran yang terlalu terikat pada tugas akademik sering membuat membaca kehilangan makna sebagai kegiatan yang menyenangkan. Dengan memberi ruang eksplorasi membaca yang bebas dan relevan dengan minat siswa, guru membantu siswa membangun hubungan positif dengan teks, bukan sekadar memenuhi tuntutan kurikulum.
BalasHapusSalah satu kekuatan utama strategi yang disampaikan Kathy Y. Stovall adalah pemilihan buku yang sesuai dengan minat dan tingkat kemampuan membaca siswa. Penyertaan buku literasi awal untuk siswa yang membaca di bawah tingkat kelas merupakan langkah bijak untuk mengurangi rasa frustrasi dan kelelahan membaca. Strategi ini membantu siswa merasakan keberhasilan kecil yang berdampak besar terhadap kepercayaan diri mereka. Ketika siswa merasa mampu menyelesaikan bacaan, motivasi intrinsik untuk membaca akan tumbuh secara alami.
BalasHapusLaporan buku secara lisan tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi pemahaman membaca, tetapi juga sebagai sarana penguatan keterampilan berbicara dan refleksi diri. Melalui kegiatan ini, siswa belajar mengaitkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi, sehingga membaca menjadi lebih bermakna. Pemberian penghargaan sederhana seperti stiker juga menunjukkan bahwa apresiasi kecil dapat memberikan dampak besar pada semangat belajar siswa. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa literasi dapat dikembangkan secara holistik, mencakup aspek kognitif dan afektif.
BalasHapusStrategi yang diterapkan secara menyeluruh di sekolah, seperti diskusi kelompok buku, kunjungan perpustakaan, dan perpustakaan pribadi siswa, menunjukkan upaya membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Keterlibatan siswa dalam memilih buku dan berbagi bacaan dengan adik kelas menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap proses belajar. Budaya literasi yang kuat tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui konsistensi, dukungan lingkungan, dan pendekatan yang humanis. Artikel ini memberikan gambaran konkret bahwa literasi dapat tumbuh ketika sekolah menjadi ruang yang aman dan menyenangkan untuk membaca.
BalasHapusSetuju sekali, Pak. Meningkatkan minat dan kemampuan literasi siswa memang tantangan besar, namun artikel ini memberikan solusi yang sangat segar dan inspiratif. Pendekatan yang berfokus pada menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menarik bagi siswa adalah kunci agar membaca tidak lagi dianggap sebagai beban.
BalasHapusNama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi pak menurut saya cara guru mengajak bicara setiap siswa secara pribadi adalah langkah yang sangat bagus saya setuju bahwa dengan bertanya tentang hobi dan apa yang disukai siswa guru bisa tahu buku apa yang cocok untuk mereka sering kali siswa malas membaca hanya karena mereka belum menemukan buku yang menarik hati jika guru memberikan buku yang sesuai dengan minat siswa, maka mereka akan lebih semangat untuk mulai membaca lagi.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi pak menurut saya memberikan buku yang mudah atai setara kelas rendah kepada siswa yang lebih besar adalah ide yang cerdas saya setuju bahwa siswa yang kesulitan membaca sering merasa cepat lelah dan malu jika harus membaca buku yang tebal dengan memulai dari buku yang sederhana siswa merasa mampu menyelesaikannya dan rasa percaya diri mereka akan tumbuh ini adalah cara yang baik agar mereka tidak merasa takut lagi saat melihat buku.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi pak menurut saya rencana enam langkah untuk sekolah ini sangat praktis untuk dilakukan di kelas saya setuju bahwa kegiatan seperti diskusi kelompok dan membuat perpustakaan pribadi di kotak kecil akan membuat siswa merasa senang apalagi saat siswa diminta membacakan buku untuk adik kelas mereka akan merasa bangga karena bisa menjadi contoh yang baik jika semua ini dilakukan secara rutin siswa pasti akan lebih mencintai dunia literasi.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Izin menanggapi pak menurut saya pemberian stempel dan stiker setelah siswa selesai membaca merupakan sebuah metode yang sangat menarik saya setuju bahwa bentuk penghargaan sederhana tersebut mampu membuat siswa merasa lebih diapresiasi setelah mereka mengerahkan upaya maksimal dalam membaca serta menyampaikan laporan lisan hal ini tentu akan menciptakan suasana pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan apabila para siswa merasa bahagia karena mendapatkan apresiasi mereka akan memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk melanjutkan kegiatan membaca buku-buku berikutnya tanpa adanya unsur keterpaksaan.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSd
Npm : 2386206035
Saya merasa kalau materi yang bapak berikan ini sangtlah revelan karena sering kali kita melihat kejadian disekolah dimana minat membaca dan kemampuan literasi siswa tidak merata bahkan.. ada yang sudah SMA cara membacanya masih terbata - bata. Banyak siswa yang membaca buku pelajaran hanya karena ada tugas saja, tapi jarang untuk membaca secara mandiri atau atas dasar iisiatif mereka.. hal ini penah saya alami juga waktu di sekolah bahkan ketika sudah diberikan waktu untuk membaca dikelas responya masih beragam dan tidak semua siswa aktif jadi terkadang guru meminta siswa untuk membaca buku secara bergiliran.
Materi ini sangat menkankan pentingnya pendekatan profesionalisme guru. seperti mengetahui minat siswa dan memilih buku yang sesuai dengan minat mereka agar membaca terasa lebih menyenangkan dan relevan. Strategi seperti itu memang penting karena realitanya di banyak sekolah, kegiatan literasi sering kali hanya bersifat formal misalnya membaca “wajib 15 menit” tanpa konteks menarik sehingga kurang efektif dalam menumbuhkan kecintaan membaca.
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Dari materi ini dapat dilihat bahwa minat belajar matematika tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Siswa sering merasa matematika sulit karena pengalaman belajar yang kurang menyenangkan. Materi ini menegaskan bahwa kemampuan tidak hanya lahir dari latihan, tapi juga dari rasa suka terhadap proses belajar.
Tapi tantangannya banyak siswa yang kehilangan minat karena pembelajaran terlalu fokus pada hafalan dan ujian. Padahal, minat adalah kunci yang mendorong siswa untuk berlatih dan mengasah kemampuan.
HapusMenurut saya strategi guru dalam melakukan pendekatan personal melalui wawancara langsung kepada 24 siswa merupakan langkah awal yang sangat krusial untuk memetakan alasan di balik rendahnya minat baca, apakah karena kendala kognitif seperti kosa kata atau karena faktor psikologis seperti hilangnya semangat belajar.
BalasHapusSaya sangat mengapresiasi metode "Percakapan Berorientasi Literasi" yang dilakukan secara acak, karena hal ini menciptakan ruang aman bagi siswa untuk mengungkapkan pandangan mereka tanpa merasa dihakimi, sehingga guru dapat membangun strategi instruksional yang jauh lebih relevan dengan minat mereka.
BalasHapusArtikel ini dengan jelas menggambarkan tantangan nyata di kelas di mana tingkat kemampuan membaca siswa sangat variatif, dan solusi berupa "Pendekatan Berbeda" membuktikan bahwa literasi tidak bisa diajarkan dengan metode one-size-fits-all melainkan harus menyesuaikan tingkat perkembangan masing-masing anak.
BalasHapusSaya setuju dgn penekanan pada penguatan kosakata dan pengetahuan dasar dalam rencana literasi selama enam minggu menunjukkan pemahaman yang mendalam bahwa mencintai buku tidak hanya soal kemauan, tetapi juga soal membekali siswa dengan alat atau keterampilan yang cukup agar mereka tidak merasa kesulitan saat membaca.
BalasHapusTrmksi pak tulisan ini mengingatkan kita semua bahwa peran guru lebih dari sekadar pengajar materi, melainkan juga sebagai perancang rencana yang suportif yang mampu mengubah kecemasan guru akan rendahnya literasi menjadi aksi nyata yang terukur melalui interaksi personal yang hangat.
BalasHapusNama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, bagaimana cara mengatur perpustakaan pribadi di dalam kelas agar anak-anak merasa mempunyai barang berharga, bukan hanya sekedar menaruh buku di loker saja? kemudian menurut bapak, mending diberikan nilai langsung atau diberikan stiker/penghargaan lain setelah anak selesai membaca satu buku lalu kemudian bercerita ke kita?
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Kalau menurut saya, jika penerapan literasi ini benar - benar diterapkan secara menyeluruh dan konsisten , pasti dampaknya sangat bagus. Siswa iswa tidak hanya terbiasa membaca, tetapi juga kosakatanya akan semakin bertambah, cara berbicaranya lebih terstruktur, dan pemahamannya terhadap bacaan juga meningkat. Ketika literasi ini tidak hanya dijadikan kegiatan formal saja tetapi benar - benar masuk ke dalam pembelajaran sehari-hari, siswa akan lebih aktif mengekspresikan ide dan pendapatnya.Jadi ini juga pasti bisa membantu siswa menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Jadi menurut saya, keberhasilan program literasi ini sangat bisa diterapkan dengan konsisten jika dialankan dengan baik , manfaatnya bisa terasa langsung pada perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir siswa.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya lagi pak, kalau saya mempunyai waktu 5 menit untuk mengobrol santai bersama murid. mending bertanya soal hobi mereka terlebih dahulu atau langsung bertanya mengapa mereka tidak suka membaca? lalu menurut bapak, apakah efektif kalau saya masuk ke kelas sebentar dengan memberikan mereka buku yang levelnya memang diperuntukkan kelas 1 sampai 3 ke anak kelas atas agar mereka menjadi lebih percaya diri lagi?
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGsd
Npm : 2386206035
Menurut saya, materi ini menunjukkan bahwa masalah literasi di sekolah bukan karena siswa tidak bisa membaca, tetapi karena minat baca belum benar-benar tumbuh. Kegiatan literasi sering dilakukan hanya sebagai kewajiban, sehingga siswa kurang menikmati prosesnya.
Materi ini mengingatkan bahwa guru perlu memahami minat dan karakter siswa agar bacaan yang diberikan terasa lebih dekat dengan dunia mereka. Jika literasi diterapkan secara konsisten dan menyenangkan, siswa akan lebih tertarik membaca, kosakatanya bertambah, dan kemampuan berpikirnya juga berkembang.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Dari materi ini, saya mengambil bahwa meningkatkan literasi memerlukan pendekatan personal dengan mewawancarai siswa untuk memahami minat dan pandangan mereka tentang membaca. Selain itu, penting untuk mencari dan memberikan buku sesuai minat serta tingkat kemampuan siswa untuk membangun kepercayaan dan ketertarikan pada membaca. Materi juga menyoroti strategi sekolah seperti pembentukan kelompok buku, diskusi kelompok, kunjungan perpustakaan, perpustakaan pribadi, dan laporan lisan untuk memperkuat budaya literasi. Pesannya adalah bahwa pendekatan yang disesuaikan dengan minat siswa dapat meningkatkan keterlibatan membaca mandiri dan kemampuan literasi secara efektif.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5DLGSD
Npm: 2386206090
Ijin bertanya pak Mengapa pemilihan buku sesuai minat dan tingkat kemampuan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan siswa terhadap literasi?
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Halo Finsensos, izin ya menjawab pertanyaan nya.
Menurut saya, pemilihan buku sesuai minat dan tingkat kemampuan itu menjadi kunci karena berkaitan langsung dengan pengalaman sukses siswa dalam membaca, bisa di lihat dari sisi minat, kalau bukunya tentang hal yang mereka sukai otomatis mereka punya motivasi internal untuk baca dalam materi disebutkan ada siswa yang bisa menghubungkan cerita dalam buku dengan pengalaman pribadinya seperti minat olahraga. Nah, koneksi personal ini yang bikin membaca terasa bermakna, bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan. Dan dari sisi tingkat kemampuan, ini sangat sulit materi menjelaskan kalau siswa yang membaca di bawah tingkat kelas sering merasa membaca itu melelahkan, bayangkan kalau kita berikan buku yang terlalu susah mereka akan frustasi, ngerasa gagal, dan akhirnya semakin males baca sebaliknya, kalau kita kasih buku literasi awal yang lebih mudah dulu mereka bisa ngerasain "wah, aku berhasil baca buku sampai habis" pengalaman sukses ini yang bangun kepercayaan diri mereka.
Jadi kepercayaan siswa terhadap literasi itu tumbuh dari pengalaman positif yang berulang mereka baca tentang hal yang mereka suka (jadi enjoy prosesnya) dan merasa mampu menyelesaikannya (jadi merasa kompeten) kalau dua hal ini terpenuhi, mereka akan mulai percaya bahwa membaca itu bukan sesuatu yang menakutkan atau membosankan, tapi justru menyenangkan. Singkatnya kita bangun kepercayaan mereka dengan memberi pengalaman membaca yang sesuai kemampuan dan relevan dengan kehidupan mereka.
Semoga mambantu.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Ijin bertanya pak Bagaimana implementasi strategi sekolah seperti pembentukan kelompok buku dengan berbagai tema dan tingkat kesulitan, diskusi kelompok dengan panduan pertanyaan, kunjungan perpustakaan untuk pemilihan buku mandiri, pembuatan perpustakaan pribadi, dan penyelenggaraan laporan lisan secara berkala dapat secara kolektif memperkuat keterlibatan siswa dalam aktivitas literasi dan menciptakan budaya membaca yang berkelanjutan?
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Ijin bertanya pak Apa tantangan utama yang dihadapi guru dalam memelihara dan meningkatkan minat membaca mandiri pada siswa tingkat lanjut, mengingat seringkali kurangnya perhatian terhadap kebiasaan membaca mandiri dan adanya variasi kemampuan literasi di antara siswa?
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, artikel ini menyadarkan bahwa guru perlu benar-benar mengenal kebiasaan membaca setiap siswa. Pertanyaan sederhana seperti buku favorit dan kebiasaan membaca ternyata sangat penting untuk memahami minat serta kemampuan literasi siswa secara lebih mendalam.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, pendekatan personal melalui wawancara dengan siswa merupakan strategi yang sangat efektif. Dengan berbicara langsung, guru dapat mengetahui alasan siswa tidak suka membaca dan kemudian mencarikan solusi yang sesuai dengan minat mereka.
Nama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Materi ini terasa hangat dan mudah karena menempatkan siswa sebagai pribadi, bukan sekadar angka kemampuan membaca. Pendekatan wawancara dan pemilihan buku berdasarkan minat menunjukkan bahwa literasi bisa tumbuh ketika siswa merasa didengar dan dipahami. Strateginya sederhana tapi berdampak, mulai dari buku yang lebih mudah sampai laporan lisan yang membangun percaya diri. Bacaan ini memberi inspirasi nyata bahwa minat membaca bisa ditumbuhkan kembali, bahkan pada siswa yang sudah lama merasa “tidak cocok” dengan buku.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, pada materi ini disebutkan kalau guru itu menggunakan cara wawancara 5-7 menit ke muridnya. menurut bapak, jika kita melakukan hal itu apakah ngaruh jika hanya berbicara sebentar untuk mencari tau buku yang cocok untuk murid?
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya lagi pak, pada materi ini disebutkan juga perihal membuat Perpustakaan Pribadi. dengan menggunakan kotak kecil yang dihias. menurut bapak, cara seperti ini apakah masih mempan tidak untuk menarik minat baca anak zaman sekarang?
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Jadi guru melakukan literasi singkat kepada siswa untuk memberi umpan balik supaya siswa dapat belajar lebih kondusif jadi sesudah itu baru guru mulai pembelajaran dan sambil menjelaskan materi tersebut
Selain itu guru menceritakan tentang minat mereka masing-masing dan mereka menceritakan di depan kelas dan menjelaskan minat ia sukai jadi guru dapat mengetahui minat siswa tersebut
HapusJadi siswa sambil belajar lebih semangat dan senang di mana guru memberi motivasi dan apresiasi kepada siswa karena sudah menceritakan minat mereka masing-masing.
HapusGuru respon terhadap anak dalam pembelajaran matematika di mana guru memberi stimulus terhadap mereka Dan langsung memahami penjelasan dari guru tersebut.
HapusJadi mengajar siswa untuk memahami konsep dasar dan memberi motivasi dan apresiasi terhadap mereka jadi minat mereka masing-masing jadi mereka lebih semangat dan giat.
Hapus2386206060
BalasHapusuntuk bagian yg tentang kondisi dan tantangan literasi di kelas kita melihat kondisi siswa yang minat bacanya masih rendah dan membaca hanya karena tugas, menurut sejauh mana peran lingkungan kelas dan kebiasaan di rumah ikut memengaruhi hal ini? Apakah rendahnya minat baca ini lebih banyak disebabkan oleh metode pembelajaran di sekolah, atau justru karena anak-anak sekarang sudah terbiasa sehingga buku jadi kurang menarik bagi mereka?
2386206060
BalasHapustujuan meningkatkan minat dan kemampuan literasi yang meningkatkan minat dan kemampuan literasi ini terdengar ideal, tapi menurut kalian ya apakah realistis itu jika diterapkan di kelas dengan jumlah siswa banyak dan waktu belajar terbatas? apa Strategi yang menurut pengalaman paling efektif untuk dijadikan prioritas supaya tujuan literasi ini benar-benar tercapai, bukan hanya sebatas rencana di atas kertas?
2386206060
BalasHapusuntuk itu bahwa minat baca tidak bisa dipaksa sangat relevan, tapi bagaimana posisi guru dalam menyeimbangkan antara tuntutan kurikulum dan pendekatan menyenangkan dalam literasi? Apakah ada batas tertentu di mana guru tetap perlu memaksakan demi target pembelajaran, atau sebaiknya literasi selalu dibangun secara perlahan tanpa tekanan?
2386306060 (5B)
BalasHapuspersonal sebagai kunci keberhasilan literasi yang sangat wajib diapresiasi dari cerita ini adalah penekanan pada pendekatan personal kepada siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendengar yang mau memahami minat, kesulitan, dan latar belakang siswa dalam membaca. di Pendekatan ini bagus karena membuat siswa merasa diperhatikan, sehingga mereka lebih terbuka dan termotivasi untuk mencoba membaca tanpa rasa terpaksa.
2386206060 (5B)
BalasHapusnilai penting dari cerita ini adalah pergeseran peran guru dari sekadar pemberi tugas membaca menjadi fasilitator literasi. Guru hadir untuk mengarahkan, mendampingi, dan memberi ruang eksplorasi bagi siswa. Ini adalah poin yang sangat bagus karena literasi akan lebih berkembang ketika guru menciptakan suasana aman dan nyaman, bukan hanya mengejar target kurikulum.
2386206060(5B)
BalasHapusada banyak siswa yang sebenarnya bukan nggak bisa membaca, tapi nggak tertarik aja, dah buku dianggap membosankan, apalagi kalau dari awal sudah dipaksa baca buku yang tebal, bahasanya berat, dan isinya nggak nyambung sama kehidupan mereka. Jadi wajar kalau akhirnya siswa jadi males sebelum mulai.
2386206060
BalasHapusitu juga guru nggak langsung nyalahin siswanya, tapi malah berusaha mengenal mereka satu per satu dulu.Ini realita yang sering kelewat di sekolah. di lapangan, guru sering kejar target kurikulum, administrasi, penilaian, sampai lupa kalau setiap anak itu beda. Padahal, pendekatan ngobrol santai sama siswa soal hobi, kesukaan, atau hal yang mereka suka baca itu pengaruhnya besar banget. Anak jadi merasa diperhatikan, bukan cuma disuruh
2386206060
BalasHapusDi sekolah, yang hal kecil kayak gini sering dianggap sepele, padahal buat anak itu bentuk pengakuan. Anak merasa usahanya dihargai, bukan cuma dinilai angka. Ini juga bikin suasana belajar lebih manusiawi, nggak melulu soal nilai rapor
Nama : Miftahul hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
artikel ini menekankan bahwa meningkatkan minat dan kemampuan literasi siswa sebaiknya dimulai dengan memahami minat baca mereka, menyediakan bahan bacaan yang sesuai, dan memberi ruang bagi siswa untuk berbagi hasil bacaannya. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif agar guru bisa memetakan minat baca setiap siswa dan mengintegrasikannya ke kegiatan kelas, terutama ketika jumlah siswa banyak dan minat mereka sangat beragam?
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Izin bertanya, artikel ini menunjukkan bahwa meningkatkan minat dan kemampuan literasi siswa di kelas sebaiknya dimulai dengan pendekatan personal kepada setiap siswa untuk memahami minat baca mereka, kemudian memilih bahan bacaan yang relevan, dan memberi kesempatan siswa berbagi hasil bacaannya melalui diskusi atau laporan lisan sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam literasi. Kalau begitu, menurut Bapak, bagaimana strategi paling efektif agar seorang guru dapat konsisten melakukan pendekatan personal kepada setiap siswa di kelas yang jumlahnya banyak, terutama ketika minat dan kemampuan baca siswa sangat beragam? Apakah ada cara yang bisa membantu guru mengelola wawancara singkat atau pemetaan minat baca tanpa menghabiskan waktu pembelajaran secara signifikan?
nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas: 5C
npm : 2386206040
saya masih bingung soal pemilihan buku untuk siswa yang membaca di bawah level kelas. Gimana cara memastikan buku yang dipilih itu nggak bikin mereka merasa “diturunkan level”-nya, tapi tetap nyaman dan percaya diri?
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
fokusnya buat tingkatin minat dan kemampuan membaca siswa itu bukan hanya soal latihan aja tapi gimana caranya bikin kegiatan membaca itu menyenangkan dan bermakna buat mereka misalnya dengan nanya ke siswa tentang buku favoritnya atau aktivitas baca mandiri yang sesuai tingkat mereka itu bisa bantu kita lihat apa yang mereka suka dan mana yang bikin mereka semangat baca sendiri
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Selain itu menurut aku cara ngembangin keterampilan baca juga bisa lewat strategi pembelajaran yang variatif misalnya metode membaca bersama diskusi teks atau media yang menarik karena ini bisa bantu mereka lebih paham isi bacaan sekaligus makin percaya diri itu artinya minat baca dan kemampuan membaca itu berkembang bareng bukan berdiri sendiri
erfina feren heldiana
BalasHapus5c
Izin bertanya, Pak… saya masih bingung soal pemilihan buku untuk siswa yang membaca di bawah level kelas. Gimana cara memastikan buku yang dipilih itu nggak bikin mereka merasa “diturunkan level”-nya, tapi tetap nyaman dan percaya diri?
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
Untuk wawancara siswa satu per satu itu kan makan waktu, ya pak. Kalau jumlah siswanya banyak, ada cara biar tetap bisa dilakukan tanpa kewalahan? Atau ada alternatif yang lebih praktis tapi tetap personal?
Nama : Miftahul hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Untuk wawancara siswa satu per satu itu kan makan waktu, ya. Kalau jumlah siswanya banyak, ada cara biar tetap bisa dilakukan tanpa kewalahan? Atau ada alternatif yang lebih praktis tapi tetap personal?
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
npm:2386206065
menekankan pentingnya menghubungkan bacaan dengan minat siswa dan memberikan penghargaan kecil atau mekanisme umpan balik, seperti stiker atau pujian, agar siswa merasa lebih termotivasi untuk membaca dan berbagi pengalaman membaca mereka. Namun di praktik nyata, seringkali kegiatan membaca dan diskusi membutuhkan waktu dan konsentrasi yang tidak sedikit, sementara guru juga harus mengejar target kurikulum akademik. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif agar kegiatan literasi seperti ini tetap berjalan lancar tetapi tidak mengganggu pencapaian kompetensi akademik lainnya, misalnya melalui integrasi aktivitas literasi dalam pembelajaran mata pelajaran lain atau penjadwalan kegiatan literasi secara berkala?
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
saya penasaran agar kegiatan literasi tidak hanya membaca saja, tetapi diikuti dengan diskusi atau laporan siswa agar keterlibatan mereka semakin tinggi. Namun di praktik nyata seringkali waktu pembelajaran terbatas. Menurut Bapak, bagaimana cara guru menggabungkan kegiatan literasi yang menarik dengan pencapaian target kurikulum lain tanpa membuat siswa merasa terbebani?
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskelas 5C
halo erfina izin menjawab pertanyaan nya ya, erfina bisa menggunakan strategi "membaca berpasangan" menyuruh siswa membaca satu bab sendirian, mintalah mereka membaca satu paragraf dengan teman sebangku. prakteknya siswaAa membaca, siswa B merangkum secara lisan, lalu bergantian. hasilnya diskusi terjadi secara otomatis tanpa memakan waktu khusus, dan materi pelajaran tetap tersampaikan. intinya literasi yang efektif tidak harus lama. lebih baik dilakukan 5 sampai 10 menit secara konsisten setiap hari sebagai bagian dari pelajaran, daripada 1 jam penuh tapi hanya sekali.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Erfina Izin bantu jawab ya 🙏🏻
Jadi kuncinya adalah dengan melakukan integrasi materi, yaitu menghubungkan buku bacaan pilihan siswa dengan topik pelajaran yang sedang dipelajari. Guru tidak perlu memisahkan waktu literasi dan waktu kurikulum secara kaku, melainkan bisa menggunakan buku bacaan tersebut sebagai pintu masuk untuk membahas konsep pelajaran, misalnya mengaitkan kosakata baru dari buku cerita dengan materi bahasa atau sains.
Selain itu, laporan lisan yang disebutkan dalam materi bisa dilakukan secara singkat melalui metode "tiket keluar" atau diskusi kilat di 5 menit terakhir kelas, sehingga tidak memakan banyak waktu namun tetap memberikan apresiasi pada siswa. Dengan memberikan kebebasan memilih buku yang relevan dengan hobi mereka, siswa akan merasa bahwa membaca adalah bagian dari eksplorasi ilmu, bukan beban tambahan di luar kurikulum. Jadi, target kurikulum tetap tercapai melalui cara yang lebih personal dan bermakna bagi setiap siswa.. 😀
Nama: Dominika Dew Daleq
BalasHapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Setelah membaca materi ini, saya merasa terbuka tentang pentingnya pendekatan personal dalam membangun literasi siswa selama ini mungkin kita sering berpikir bahwa cukup dengan memberi tugas membaca, tapi ternyata itu tidak cukup, paling menarik juga buat saya adalah strategi wawancara di awal tahun ajaran menghabiskan waktu lima sampai tujuh menit ngobrol bersama tiap siswa tentang minat mereka sepertinya sepele, tapi dampaknya sangat besar sekali dari situ kita bisa tahu kenapa mereka males baca, apa yang mereka suka, dan bagaimana cara mendekati mereka ini menunjukkan kalau setiap siswa itu unik dan butuh perhatian khusus.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin tambahkan sedikit saya juga suka dengan konsep buku literasi awal yang selalu disertakan kadang kita lupa bahwa siswa yang kemampuan bacanya di bawah tingkat kelas seringkali merasa kewalahan dan akhirnya menyerah dengan memberi mereka buku yang lebih mudah dulu, kita kasih kesempatan mereka untuk merasakan sukses menyelesaikan bacaan dan pengalaman sukses ini yang akan membangun kepercayaan diri mereka.
Strategi perpustakaan pribadi dengan kotak yang bisa dihias juga cerdas sekali siswa jadi merasa punya tanggung jawab dan kepemilikan terhadap buku-bukunya ditambah lagi dengan sistem laporan lisan berkala dan kesempatan membacakan ke adik kelas ini menciptakan siklus positif yang membuat mereka terus termotivasi.
Sebagai calon guru materi ini mengingatkan saya bahwa tugas kita bukan hanya ngajar, tapi juga mengenal dan memahami siswa secara mendalam supaya bisa membantu mereka berkembang sesuai potensi masing-masing.
Terima kasih.
Nama : Nadia Vega
BalasHapusKelas : 5C PGSD
NPM : 2386206063
Menurut saya, artikel ini sangat inspiratif karena memberikan strategi nyata agar guru bisa meningkatkan minat dan kemampuan literasi siswa di kelas. Penekanan pada pendekatan personal kepada siswa dan pemilihan buku sesuai minat mereka membuat saya semakin paham bahwa minat membaca tak sekadar soal bahan bacaan, tapi juga tentang bagaimana guru memahami kebutuhan dan preferensi setiap anak. Pendekatan ini tentu membantu menciptakan pengalaman membaca yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa.
Saya setuju bahwa meningkatkan keterampilan literasi siswa membutuhkan langkah-langkah kreatif seperti wawancara minat siswa, menyediakan pilihan buku yang beragam, serta mendorong diskusi dan laporan lisan. Dengan cara ini siswa tidak hanya membaca, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar sehingga minat membaca mereka bisa tumbuh secara alami. Strategi seperti ini sangat relevan untuk diterapkan di kelas yang memiliki beragam kebutuhan belajar.
BalasHapusNama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
izin menanggapi pak saya setuju mengenai pendekatan literasi personal melalui komunikasi langsung, dapat memungkinkan guru untuk menyentuh sisi psikologis siswa guna menumbuhkan kecintaan pada dunia literasi secara alami. Dengan berbicara tatap muka, guru dapat melakukan diagnosa mendalam terhadap minat, hobi, dan tingkat pemahaman siswa yang mungkin tidak terungkap dalam suasana kelas yang ramai. Guru bertindak sebagai mitra diskusi yang memberikan perhatian penuh, sehingga siswa merasa dihargai dan lebih berani mengungkapkan kesulitan yang mereka alami saat membaca atau menulis. Interaksi ini menciptakan ruang bagi guru untuk memberikan rekomendasi bahan bacaan yang sangat spesifik dan relevan dengan kehidupan siswa, yang secara otomatis akan meningkatkan keterikatan mereka terhadap teks. Melalui bimbingan personal yang hangat ini, hambatan teknis dapat segera diatasi dengan umpan balik yang akurat, sementara kepercayaan diri siswa terbangun karena mereka merasa didampingi secara khusus dalam perjalanan literasinya.
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
izin menambahkan pak, agar menumbuhkan cinta literasi di kalangan siswa dapat dilakukan secara efektif melalui pembiasaan rutin yang konsisten, salah satunya dengan menetapkan program literasi khusus setiap hari Kamis pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Dalam sesi ini, sekolah dapat menciptakan suasana yang santai namun fokus di mana seluruh warga sekolah, termasuk guru dan siswa, menyisihkan waktu sekitar lima belas hingga tiga puluh menit untuk membaca buku bacaan non-pelajaran pilihan mereka sendiri. Kebebasan memilih bahan bacaan sangat krusial agar siswa merasa kegiatan ini bukan sebagai beban akademis melainkan sarana hiburan dan eksplorasi minat pribadi. Agar lebih bermakna, sesi membaca tersebut bisa ditutup dengan diskusi ringan atau berbagi cerita singkat antar teman mengenai hal menarik yang baru saja mereka baca.
Nama : Desy Olivia Sapitri
HapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Hai kak Putri, izin juga ya 🙏🏻
Apa yang kamu sampaikan itu sangat luar biasa karena menawarkan solusi yang sangat praktis dan sistematis. Benar sekali bahwa minat baca tidak bisa tumbuh secara mendadak, melainkan harus dipupuk melalui pembiasaan rutin yang terjadwal seperti program Kamis pagi tersebut.Hal yang paling positif dari pendapat yang kamu sampaikan adalah poin tentang keteladanan guru. Dengan ikut membaca bersama siswa, guru menunjukkan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan bagi semua umur, bukan sekadar perintah untuk murid saja. Selain itu, ide tentang "kebebasan memilih bacaan" sangat nyambung dengan materi Kathy Stovall, karena hal itulah yang membuat siswa merasa dihargai minatnya dan tidak merasa tertekan oleh beban pelajaran. Diskusi ringan di akhir sesi juga menjadi cara yang hebat untuk membangun rasa percaya diri siswa saat menceritakan kembali apa yang mereka pahami.. ☺️👍🏻
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Menurut saya, artikel ini menarik karena menekankan pentingnya minat membaca sebelum kemampuan membaca bisa berkembang. Saya setuju kalau orang tua dan guru punya peran besar dalam membimbing anak. Rasanya memang tidak cukup hanya menyediakan buku, tapi juga harus ada cara supaya anak senang membaca.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
HapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menambahkan pak,Saya setuju kalau motivasi anak itu kunci. Anak yang termotivasi pasti lebih semangat belajar membaca. Jadi, pujian dan hadiah itu penting, tapi suasana yang menyenangkan juga tidak kalah penting.
Nama : Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C Pgsd
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Dari artikel ini saya belajar kalau lingkungan juga penting untuk meningkatkan minat baca. Saya ingin bertanya,lingkungan seperti apa yang paling mendukung? Apakah sekadar menyediakan buku di rumah cukup, atau harus ada kegiatan komunitas membaca juga?
Hai kak Yormatiana, izin bantu jawab ya 🙏🏻
HapusBerdasarkan materi diatas, lingkungan yang paling mendukung sebenarnya bukan sekadar tempat yang dipenuhi tumpukan buku, melainkan lingkungan yang mengutamakan pendekatan personal dan apresiasi. Menyediakan buku di rumah atau di kelas memang penting sebagai langkah awal, namun buku-buku itu akan terabaikan jika tidak ada interaksi yang menghubungkan isi buku dengan minat pribadi siswa.. 😄
semoga membantu kak 🙏🏻
Nama : Desy Olivia Sapitri
BalasHapusKelas / Npm : 5D / 2386206087
Izin, terimakasih atas materi yang disampaikan pak 🙏🏻
Kesimpulan dari materi ini adalah bahwa kunci untuk membangkitkan minat baca siswa (terutama yang sudah besar) adalah dengan pendekatan personal. Guru perlu "turun tangan" untuk mengobrol, mendengarkan hobi mereka, dan secara khusus memilihkan buku yang sesuai dengan level kemampuan serta minat siswa tersebut. Strategi memberikan buku yang "lebih mudah" (level kelas bawah) ternyata sangat efektif untuk membangun kepercayaan diri siswa yang selama ini merasa membaca itu melelahkan..😀
Izin menambahkan pak 🙏🏻
HapusStrategi ini sangat cerdas karena tidak menghakimi siswa yang "tidak bisa baca", tapi justru memberikan jembatan agar mereka merasa sukses saat menyelesaikan satu buku kecil. Dengan cara ini, membaca tidak lagi terasa seperti tugas sekolah yang berat, tetapi perjalanan menemukan diri sendiri melalui buku.. 🤩
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
Menurut saya, pendekatan wawancara personal sangat efektif karena membantu guru mengenal siswa secara lebih mendalam, tidak hanya dari sisi akademik tetapi juga minat dan pengalaman hidup mereka.
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
Menurut saya lagi pemilihan buku dengan tingkat literasi lebih rendah merupakan strategi yang tepat untuk membangun kembali kepercayaan diri siswa yang selama ini merasa membaca adalah aktivitas yang melelahkan.
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
laporan buku secara lisan lebih bermakna dibandingkan laporan tertulis semata karena melatih pemahaman, keberanian berbicara, dan refleksi personal siswa.
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
Izin bertanya, bagaimana strategi ini dapat diterapkan di kelas dengan jumlah siswa yang sangat besar dan keterbatasan waktu guru?
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
Izin bertanya lagi pak bagaimana cara menjaga konsistensi minat membaca siswa setelah program awal enam minggu selesai?
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
Saya baca materi ini , fokus pada membaca mandiri siswa tingkat lanjut memang sering terabaikan karena tuntutan kurikulum, sehingga strategi ini menjadi solusi yang relevan dan realistis.
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
Saya menanggapi, keterlibatan perpustakaan dan pemajangan buku di kelas dapat menciptakan budaya literasi yang lebih hidup dan menarik bagi siswa.
Nama : Selpira Nur Wulandari
BalasHapusNPM : 2386206049
Kelas : 5C
kegiatan membaca buku literasi awal kepada siswa kelas bawah merupakan ide yang sangat baik karena menumbuhkan rasa percaya diri dan peran sebagai teladan.