Mengelola Penggunaan Smartphone di Kelas


Teknologi seperti Instagram, Twitter, dan TikTok telah dirancang untuk menarik perhatian penggunanya. Akibatnya, siswa yang kita ajar, yang hidup di era digital, sering kali teralihkan oleh teknologi ini. Namun, sebagai pendidik, menyerah pada tantangan ini bukanlah pilihan. Sebaliknya, kita perlu mencari cara untuk mengubah pendekatan pengajaran dan membangun komunitas kelas yang mendukung pembelajaran.

Mengenal siswa kita adalah langkah awal yang krusial, tetapi ini bukanlah tugas yang dilakukan sekali saja. Berikut adalah empat strategi praktis yang dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa, bahkan di tengah keberadaan ponsel mereka di kelas. Sarah  (2023) memberikan saran untuk mengelola penggunaan smartphone di Kelas sebagai berikut:

1. Bekerja Sama dengan Siswa untuk Membuat Aturan Penggunaan Ponsel

Di kelas saya, saya menggunakan bel sebagai tanda transisi, termasuk waktu untuk menyimpan ponsel dan melepas earphone. Sebelum bel berbunyi, siswa diberi waktu satu hingga dua menit untuk memeriksa ponsel mereka. Setelah itu, kami melakukan pernapasan bersama sebelum memulai pelajaran.

Kadang-kadang, ponsel diizinkan untuk kegiatan tertentu seperti penelitian atau tugas mandiri, tetapi batasannya jelas. Kami juga menyusun kontrak sosial yang dibuat bersama antara guru dan siswa. Kontrak ini mencakup aturan tentang penggunaan ponsel agar tidak mengganggu pembelajaran. Di setiap tugas, saya sering menambahkan catatan seperti, "Harap pastikan ponsel Anda disimpan."

Meski demikian, siswa kadang-kadang menguji batasan. Dalam kasus ini, pendekatan restoratif sangat membantu. Saya berdiskusi dengan siswa untuk menjelaskan alasan di balik aturan tersebut, termasuk dampak negatif ponsel pada kesehatan mental berdasarkan penelitian. Jika pelanggaran terus berlanjut, langkah seperti melibatkan orang tua atau pemberian konsekuensi sekolah bisa diterapkan. Namun, dengan pemahaman yang baik tentang kapan ponsel boleh digunakan, masalah semacam ini biasanya dapat diminimalkan.

2. Menyediakan Pengisi Daya Ponsel di Kelas

Untuk mengurangi konflik terkait ponsel, saya menyediakan pengisi daya di tempat yang jauh dari meja siswa. Ketika siswa ingin mengisi daya, mereka merasa lebih memiliki kontrol atas situasi dibandingkan dengan metode seperti menyimpan ponsel di kantong khusus. Ini membantu menciptakan suasana yang lebih mendukung, sekaligus mengurangi potensi gangguan.

3. Mengintegrasikan Ponsel ke dalam Pembelajaran

Ponsel dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif jika digunakan dengan cara yang tepat. Misalnya, saya menggunakan Google Forms yang terhubung melalui kode QR untuk survei, pemeriksaan pemahaman, atau check-in sosial-emosional. Untuk siswa yang mengalami kendala teknis, saya menyediakan versi cetak.

Aplikasi lain seperti Kahoot, Duolingo, dan Canva juga sering saya manfaatkan untuk menjaga siswa tetap aktif. Canva, misalnya, memungkinkan siswa untuk berkreasi dengan desain dari ponsel mereka. Alternatif ini juga tersedia di perangkat sekolah, sehingga semua siswa dapat terlibat.

4. Membuat Pelajaran Lebih Menarik

Ketika pelajaran terasa membosankan, siswa cenderung mengalihkan perhatian mereka ke ponsel. Untuk mengatasi hal ini, saya menciptakan kelas yang interaktif. Misalnya, saya menggunakan strategi seperti galeri keliling, lingkaran diskusi, atau kegiatan kinestetik yang melibatkan gerakan.

Jika siswa tampak tidak tertarik, saya mengubah lokasi pembelajaran, seperti memindahkan kegiatan ke lorong kelas. Setelah beberapa kali, siswa biasanya memahami pentingnya keterlibatan aktif.

Dalam percakapan dengan anak-anak remaja saya, saya pernah mengatakan bahwa dunia tidak akan berubah dalam 50 menit saat mereka menyimpan ponsel di kelas. Namun, mereka menjawab, "Kami tumbuh besar selama pandemi, dunia memang berubah." Jawaban ini mengingatkan saya untuk terus mencari pendekatan yang relevan dan adaptif dalam menghadapi generasi digital.

Mengelola penggunaan ponsel di kelas bukan tentang melarang teknologi sepenuhnya, tetapi tentang menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan fokus pada pembelajaran. Dengan mengenal siswa, menetapkan batasan yang jelas, memanfaatkan teknologi secara kreatif, dan merancang pembelajaran yang menarik, kita dapat membantu siswa lebih terlibat dalam proses belajar.

Referensi 

Sarah Said. 2023. Ways to Reduce Smartphone Distractions

318 Komentar

  1. Nama : Elisnawatie
    NPM: 2386206069
    kelas :VD
    menurut saya saran untuk mengelola penggunaaan smartphone sangat membantu di zaman sekarang pak ,yang paling saya suka yaitu mengintegrasikan smartphone ke pembelajaran .karena jujur saja pak melarang total ponsel itu hampir mustahil di zaman sekarang justru kalau ponsel di jadikan bagian dari belajar ,siswa merasa apa yang dipelajari lebih mudah di pahami sama mereka ,contohnya menggunakan Canva atau QR code buat kuis ,itu bikin siswa lebih semangat .saya sendiripun pernah menggunakan Canva dan rasanya seru banget tidak monoton

    BalasHapus
  2. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    di era sekarang mungkin sudah sulit untuk kita menemukan seseorang atau anak yang tidak memiliki ponsel. bahkan di zaman sekarang anak yang sudah mulai umu 3 atau 4 tahun ke atas terkadang banyak yang kecanduan dengan ponsel sampai tantrum jika tidak di berikan ponsel.
    betul yang di katakan dalam blog ini kita tidak dapat menyerah pada tantangan ini karena memang zaman nya. tetapi kita hanya bisa mengontrol penggunaan smartphone ini. adapun beberapa cara mengelola penggunaan ponsel yaitu bekerja sama dengan siswa untuk membuat aturan penggunaan ponsel yaitu ada waktu waktu tertentu saja untuk menggunakan ponsel seperti adanya proyek tetapi tetap dengan waktu tidak di bebaskan begitu saja, tetap menyediakan pengisi daya ponsel agar anak juga nyaman saat membawa ponsel di karenakan ponsel beberapa kali di gunakan di pembelajaran tertentu jadi pasti bakal ada anak yg membutuhkan pengisian daya tanpa harus keluar kls atau sekolah dulu, mengintegrasikan ponsel ke dalam pembelajaran yaitu agar ponsel tidak di bawa begitu saja tanpa tujuan sebaiknya guru harus memanfaatkan teknologi ponsel di pembelajaran seperti mengedit edit media yang di pelajari seperti poster di aplikasi mengedit dan masih banyak lagi, yang terakhir membuat pelajaran lebih menarik, dengan membuat pembelajaran lebih menarik kemungkinan besar bisa mengubah fokus siswa dari ponsel ke pembelajaran yang sedang di lakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

      Salam untuk Andi Nurfika!
      Saya Fauzan Nashrullah Fajar, NPM. 2386206021 dari Kelas 5B PGSD.

      Setuju banget, Fika..! HP itu harusnya jadi alat bantu, bukan gangguan.
      Pernyataan mu soal guru yang mengedit media dan memanfaatkan waktu luang siswa itu solusi brilian untuk mengatasi masalah TIK di kelas kita. Ini pas banget untuk mendukung Computational Thinking (CT). Jika lab komputer terbatas, smartphone bisa kita pakai untuk mengumpulkan data dan simulasi sederhana dalam latihan CT.

      Fika dan teman-teman PGSD, Gimana kalau kita mencari strategi pemanfaatan HP sebagai alat TIK pengganti lab ke dosen? Ini kunci agar CT bisa merata! Dan kita juga masih bisa main HP heheheh....

      Hapus
  3. Nama: Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm:2386206058
    Kelas: VB PGSD

    Izin menanggapi pak, dari materi di atas saran saya agar siswa tidak cenderung bermain HP. Guru dapat mengelola penggunaan smartphone dengan baik di mana HP tersebut dapat di jadikan sesuatu yang menarik dalam pembelajaran dimna guru dapat membuat kuis dalam pembelajaran agar dapat menarik fokus murid karena apabila terlalu di fokuskan dalam pembelajaran murid akan merasa bosan dan mereka cenderung tidak fokus dan malah main hp. Dengan adanya kuis mereka akan lebih fokus kerjakan dan melatih cara berfikir siswa dalam pemberian kuis guru juga memberikan waktu sesuai dengan lama penggunaan nya agar siswa tetap fokus dalam pembelajaran 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : 5B PGSD

      Izin menambah kan tanggapan komentar saya pak, menurut saya materi di atas ini sangat relevan dengan situasi pembelajaran masa kini pak, karena di mana penggunaan smartphone di kelas tidak bisa dihindari lagi. Saya setuju bahwa kunci utamanya bukan melarang sepenuhnya, tetapi guru mengarahkan siswa agar mampu menggunakan ponsel secara bijak. Saya tertarik dengan bagian tentang kerja sama antara guru dan siswa dalam membuat aturan penggunaan ponsel. Dengan melibatkan siswa, mereka jadi merasa memiliki tanggung jawab dan kesadaran untuk menaati kesepakatan bersama. Selain itu, ide menyediakan pengisi daya ponsel juga menarik, karena hal sederhana seperti ini bisa mengurangi gangguan di kelas dan membuat suasana belajar lebih kondusif.

      Hapus
  4. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Sejak SD hingga SMA saya bersekolah di asrama, jadi saya tidak tau rasanya bawa smartphone ke kelas. Baru saat kuliah saya merasakan luar biasa distraksinya menggenggam setan gepeng di kelas. Pas merasa diri ini sudah fokus dengarin dosen tetap aja ke distrak kalau ngeliat notifikasi muncul hehehehe. Belum lagi kalau lagi ada disituasi yang mengharuskan diskusi atau berpikir kritis. Harusnya bisa dengan hasil pikiran sendiri, tapi karna mau instan jadinya buka hp deh..

    Saya jadi sadar, kalau teknologi ini bisa jadi jembatan belajar tapi bisa juga jadi jurang distraksi kalau penggunaannya tidak tepat. Yang perlu di ingat untuk kita semua yang sekarang adalah seorang mahasiswa dan calon guru (pengingat untuk saya sendiri juga) kalau teknologi ini sebagai sarana, bukan tujuan.

    BalasHapus
  5. Nama: Syahrul
    NPM: 2386206092
    Kelas: 5D

    pengelolaan hp di kelas memang sangat penting, karena hp bisa jadi peluang tapi bisa jadi hambatan juga.maka dari itu guru harus mengelola supaya hp tersebut bisa jadi alat bantu bukan gangguan di kelas.
    guru juga tidak bisa melarang membawa hp kesekolah karena disisi lain pasti ada aj siswa yg bawa dengan alasan sebagai alat komunikasi kepada orang tua kalau mau di jemput sepulang sekolah dan bagi siswa yg rumah nya terbilang jauh dari sekolah.makanya guru harus bisa mengendalikan penggunaan hp seperti membuat aturan yang bisa disepakati oleh siswa dan guru,dan bisa memanfaatkan hp tersebut sebagai media pembelajaran dimana siswa tidak hanya berpatokan di buku tapi bisa cari referensi dari luar.guru juga bisa membuat zona khusus dimana siswa diizinkan menggunakan ponsel hanya selama transisi antar aktivitas atau selama istirahat, dengan syarat perangkat dimatikanatau disimpan kembali saat bel berbunyi.

    BalasHapus
  6. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    izin bertanya ya pak, mengingat kami sebagai calon guru sd, umumnya anak sd belum diizinkan membawa smartphone atau bisa di singkat hp untuk dibawa ke kelas, bagaimana cara kami sebagai guru memanfaatkan empat strategi di atas untuk mengajarkan siswa agar fokus dan tidak mudah teralihkan pikirannya ke pada hp yang berada di rumah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Margaretha saya izin menjawab pertanyaannya ya, menurut saya strategi yang tepat untuk digunakan dalam mengajar agar siswa pikirannya tidak teralihkan dengan ponselnya dirumah ialah
      1. guru menciptakan suasana kelas yang tidak membosankan
      2. guru menggunakan strateegi pembelajaran yang asik dan menggembirakan
      3. guru rajin mengajak siswa untuk aktif dikelas dengan melakukan game dalam pembelajaran agar siswanya tidak bosan
      4. guru melakukan kegiatan ice breaking pada setiap pertemuan agar menambah semangat belajar siswa
      5. guru tidak memainkan ponselnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas tapi ikut serta menjaga dan memperhatikan
      6. memberikan reward kepada siswa yang aktif,dengan ini dapat memancing siswa yang lain untuk aktif juga jadi pikiran mereka tidak kemana-mana

      itu tips dari saya ka semoga bermanfaat ..

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      Ijin menanggapi elin.
      menurut pendapat saya, walaupun siswa tidak membawa hp ke sekolah, guru tetap bisa menerapkan strategi tersebut dengan menggunakan alat elektronik yang guru punya sebagai media, misalnya menampilkan vidio, kuis interaktif, atau simulasi lewat proyektor. selain itu guru juga bisa membuat pelajaran yang aktif dan menarik, seperti kerja kelompok, eksperimen sederhana, atau permainan edukatif, sehingga perhatian siswa tetap terjaga dan mereka tidak terpikirkan hp-nya. dengan begitu teknologi bisa tetap dimanfaatkan, tapi tanpa membuat siswa bergantung pada hp pribadi.

      Hapus
    3. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      Izin menjawab ya Margaretha

      Menurut saya Walaupun siswa SD tidak membawa HP ke sekolah, guru tetap dapat melatih empat strategi tersebut untuk membangun kebiasaan fokus, pengendalian diri, dan motivasi belajar yang kuat. Hasilnya, ketika pulang ke rumah pun anak lebih mampu mengatur kapan bermain HP dan kapan belajar.
      Strateginya itu seperti
      1.Mengelola Lingkungan Belajar Ciptakan Kelas yang Minim Distraksi
      Meskipun HP tidak hadir secara fisik, pikiran anak bisa tetap terarah ke hal-hal lain
      2.Mengajarkan Keterampilan Self-Management Latih Disiplin Fokus Melalui Latihan Sederhana Anak SD perlu diajarkan mengatur diri, bukan hanya “dilarang memainkan HP”.
      3.Membangun Motivasi Internal Bantu Anak Merasa Belajar Itu Menyenangkan
      Ketika belajar terasa menyenangkan, mereka tidak memikirkan HP meskipun di rumah nanti ada godaan.
      4.Menciptakan Rutinitas dan Kebiasaan Positif Latih Konsistensi
      Kebiasaan terjadilah jika dilakukan terus-menerus.

      Hapus
    4. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      saya izin menjawab pertanyaan dari Margaretha, dari pendapat saya walaupun anak SD belum boleh bawa HP ke sekolah, empat strategi itu tetap bisa kita pakai, cuma disesuaikan saja.
      Kita bisa ajak mereka bikin aturan penggunaan HP di rumah, supaya mereka belajar kapan waktunya boleh main dan kapan harus belajar.

      Nah kalau untuk di kelas, kita siapkan aktivitas seru, transisi yang jelas, dan media belajar yang menarik misalnya video atau game edukasi lewat proyektor. Jadi mereka tetap merasa pakai teknologi tapi bukan lewat HP pribadi. Intinya buat kita sebagai calon guru, bikin kelasnya hidup dan menyenangkan, nanti fokus mereka ke pelajaran, bukan ke HP yang ada di rumah.
      jadi itu saja pendapat dari daya terimakasih.

      Hapus
    5. Nama: Dominika Dew Daleq
      ‎Npm: 2386206051
      ‎Kelas: V.A

      ‎Izin untuk menjawab pertanyaan dari Elintia.

      ‎Jadi kita sendiri sudah tahu ya bahwa anak SD memang belum boleh membawa HP ke sekolah, nah di sini kita tetap bisa memakai empat strategi tadi untuk menjaga fokus mereka di kelas kita mulai dengan mengajak siswa membuat aturan belajar yang asyik, siswa akan lebih patuh kalau ikut menentukan aturan sejak awal, kita kasih waktu istirahat yang cukup agar otak mereka segar kembali kita buat pelajaran jadi lebih seru lewat permainan atau kegiatan fisik, siswa sendiri tidak akan terpikir main HP di rumah kalau kegiatan di sekolah sangat menyenangkan, kita juga bisa gunakan media kreatif seperti gambar atau alat peraga yang mirip dengan apa yang mereka lihat di internet kita ajarkan mereka bahwa belajar secara langsung jauh lebih seru daripada sekadar melihat layar.

      ‎Fokus utama kita adalah membangun hubungan yang kuat dengan setiap anak, anak yang merasa dihargai di kelas pasti akan lebih semangat belajar, kita tunjukkan bahwa dunia nyata punya banyak hal hebat untuk mereka jelajahi bersama teman-teman nya yang lain.

      ‎Strategi ini membantu anak mengendalikan rasa penasaran mereka pada teknologi dengan cara yang sehat.

      Terima kasih.

      Hapus
  7. Pembelajaraan di sekolah sekarang memang terlihat canggih dan praktis dibandingkan dengan zaman dulu , sekarang jarang sekali kita melihat anak sekolah tidak punya hp, beda banget sama kita zaman sekolah yang taunya sekolah dan bermain bersama teman,
    tapi walaupun pembelajaran sekarang terlihat canggih dan praktis ternyata banyak sekali sisi negatif yang dapat timbul ketika pengelolahan penggunaan hp sendiri itu tidak bjjak.

    lagi dan lagi tenaga pendidik juga ditekan keras untuk memberi contoh yang baik,dan bijak dalam mengelola hp dikelas. Tapi sebenarnya gk semua hp siswa tu harus dibawah ke sekolah kan ya? soalnya yang saya tau tu ada larangan untuk siswa membawa hp kesekolah, mungkin setiap peraturan sekolah itu berbeda ya.

    dan kalo kita berada diposisi yang mewajibkan siswa membawa hp saya rasa kita perlu menyimak dan memahami lagi tips-tips yang dibagikan pada materi ini, karena ini sangat berguna sekali untuk kita terapkan.
    terimaksih materinya pak.

    BalasHapus
  8. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    Materi ini menurut saya sangat realistis , karena memberikan sudut pandangan gimana guru dapat menghadapi tantangan besar di era digital , saya sangat setuju dengan ungkapan bahwa mengelola ponsel di kelas itu bukan sekedar larangan , melainkan tentang keseimbangan , pendekatan ini menunjukkan bahwa generasi sekarang tumbuh dengan adanya teknologi , bagian paling menarik menurut saya itu bagian dari membuat kontrak sosial dan mengintegrasikan ponsel ke pembelajaran , karena itu dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada siswa , sebenarnya sumber masalah itu bukan perihal ponsel saja , tetapi juga kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran , ketika pembelajaran yang menyenangkan siswa otomatis akan lebih fokus ke layar ponsel saja , tantangan teknologi itu saat di kelas jangan di takuti tetapi dikelola dengan cerdas dengan pendekatan yang fleksibel dan kreatif, guru dapat menjadikan ponsel bukan sebagai musuh pembelajaran tetapi alat yang memperkuat proses pembelajaran .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat Oktavia. Apa yang ia sampaikan sangat tepat bahwa tantangan ponsel di era digital bukan sekadar soal melarang atau membatasi, tetapi bagaimana guru mampu mengelolanya secara bijak dan kreatif. Melalui pendekatan seperti membuat kontrak sosial, mengintegrasikan ponsel ke dalam pembelajaran, dan menciptakan kegiatan belajar yang menarik, siswa justru belajar bertanggung jawab dan tidak mudah terdistraksi. Pandangan Oktavia menegaskan bahwa masalah utamanya bukan pada ponselnya, melainkan pada sejauh mana pembelajaran mampu melibatkan siswa secara aktif. Dengan cara ini, teknologi tidak lagi dianggap ancaman, tetapi menjadi alat yang memperkuat proses belajar di kelas.

      Hapus
  9. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Izin bertanya pak apabila ada sekolah dan ada satu kelas dan beberapa anak tidak memanfaatkan handphone secara baik bisa di bilng kesalahan nya fatal, apa solusi terbaik dari masalah tersebut ,apakah melarang siswa membawa handphone lagi atau boleh saja membawa tetapi dalam pengawasan guru dalam beberapa hari atau beberapa minggu agar kesalahan yang dilakukan siswa bisa dikontrol guru dan tidak terulang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Izin menjawab Ya Andi Nurfika, menurut saya sebaiknya penggunaan handphone di sekolah tidak langsung dilarang, tetapi bisa dikelola melalui pengawasan guru. Kalau ada siswa yang salah gunakan, sebagai guru kita bisa merangkul atau mengajak mereka berdiskusi dan membuat aturan bersama agar mereka lebih bertanggung jawab. Dengan ini, siswa tetap bisa belajar memanfaatkan teknologi dengan bijak dan baik. 🙏

      Hapus
    2. Hallo ka Andi saya izin menjawab pertanyaanya ya
      Seperti yang kita ketahui di zaman sekarang teknologi tidak dapat dipisahkan dari pendidikan ataupun pembelajaran.
      Menurut saya untuk menyelesaikan permasalahan yang ka Andi tanyakan ialah, sebagai seorang pendidik guru harus bisa menjadi seseorang yang bijak,tegas dan dapat menentukan aturan dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran di kelas.
      Guru bisa membuat kesepakatan kelas di awal pembelajaran untuk menghindari kesalahan -kesalahan anak didik yang tidak memanfaatkan handphone nya secara baik untuk pembelajaran.
      Begitu pula setelah pembelajaran di kelas selesai, guru atau wali kelasnya bisa mengumpulkan gadget anak didik agar anak didik tersebut pada jam istirahat tidak bermain handphone di lingkungan sekolah tetapi bermain bersama teman sebayanya di lingkungan sekolah.
      saya rasa jika ini diterapkan akan dapat mengurangi kesalahan anak didik dalam menyalahgunakan handphone mereka di lingkungan sekolah ataupun di dalam kelas.

      semoga beermanfaat ka..

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Andi Nurfika, menurut saya solusinya yang baik itu bukanlah langsung melarang siswa, namun bisa dengan cara mengatur penggunaan dengan pengawasan yang jelas. Para siswa tetap boleh membawa handphonenya ke sekolah, tetapi mungkin bisa dengan memberika pemberitahuan kalau hendphone mereka itu hanya boleh digunakan pada saat waktu dan kegiatan tertentu saja, lalu para guru juga harus lebih ketat lagi untuk mengawasinya sampai perilaku siswa tersebut membaik. Namun jika mereka masih tetap juga melanggar, sebaiknya diberi konsekuensi bertahap atau pembatasan yang lebih ketat lagi. Jadi menurut saya pengawasan yang terarah itu lebih efektif dibandingkan dengan langsung melarang para siswa sepenuhnya.

      Hapus
    4. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      izin menjawab pertanyaan dari Fika, ini menurut dari pendapat saya, dua-duanya itu bisa jadi pilihan, tapi yang terbaik biasanya kombinasi keduanya.
      Melarang total sering bikin masalah baru, karena siswa tidak belajar cara menggunakan HP dengan benar. Tapi kalau dibiarkan begitu saja juga bisa bahaya. Jadi guru buat solusi yang paling pas seperti:
      HP tetap boleh dibawa, tapi dalam pengawasan guru untuk sementara waktu misalnya 1–2 minggu. Selama masa itu, guru bisa mengarahkan, memberi aturan jelas, dan membiasakan penggunaan yang benar. Setelah perilaku siswa membaik, pengawasan bisa dikurangi bertahap.
      Jadi bukan langsung melarang, tapi membimbing sampai mereka bisa bertanggung jawab. Cara ini biasanya lebih efektif dan lebih mendidik.
      itu saja dari yang saya ketahui semoga bermanfaat😌

      Hapus
    5. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A

      Hai Andi Nurfika 👋🏻 pertanyaanmu sangat relevan sekali ya dengan kondisi sekolah saat ini, melarang siswa membawa ponsel sama sekali bukan solusi terbaik karena ini tidak mengajarkan mereka bertanggung jawab tapi sebaliknya, kita perlu ajari siswa cara menggunakan ponsel dengan bijak. Adapun langkah-langkah nya sebagai berikut:

      1. Ajak siswa buat aturan bersama tentang kapan boleh dan tidak boleh pakai ponsel, buat kontrak sosial yang jelas.
      2. Integrasikan ponsel ke dalam pembelajaran pakai untuk kegiatan edukatif seperti kuis di Kahoot atau tugas kreatif di Canva.
      3. Buat pelajaran lebih menarik ketika siswa sudah bosen pakai ponsel ponsel, coba variasi metode mengajar seperti diskusi kelompok atau kegiatan yang melibatkan gerakan.
      4. Lakukan pendekatan restoratif kalau ada yang melanggar panggil siswa secara pribadi dan jelaskan dampak negatif penggunaan ponsel berlebihan.

      Pengawasan ketat selama beberapa hari atau minggu bisa jadi langkah awal, tapi ini harus diikuti dengan pendidikan tentang tanggung jawab dan libatkan juga orang tua kalau pelanggaran terus terjadi, beritahu mereka apa yang terjadi di sekolah dan minta kerja sama untuk awasi penggunaan ponsel di rumah. Intinya solusi terbaik adalah kombinasi aturan jelas, pendekatan edukatif, dan pembelajaran menarik kita tidak melarang teknologi tapi mengajarkan cara pakai dengan bijak.

      Semoga membantu.

      Hapus
  10. Nama: Stevani
    NPM: (2386206045)
    Kelas: V C PGSD
    Waitt menarik Aku jadi kepikiran buat coba zona HP atau waktu khusus pakai HP buat kegiatan belajar. Kayaknya seru jugaaa, seperti paragraf paling akhir ditulis mengelola penggunaan ponsel dikelas bukan tentang melarang teknologi sepenuhnya tetapi ttng menciptakan keseimbangan antra pemanfaatan teknologi Dan fokus pada pembelajaran dengan mengenal siswa menetapkan batasan yang jelas memanfaatkan teknologi dengan kreatif pasti proses pembelajaran akan lebih menarik Dan siswa semangatt

    BalasHapus
  11. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Wah ini adalah solusi yang sangat bermanfaat bagi guru untuk mengontrol penggunaan smartphone di sekolah , mengingat pembelajaran di zaman sekarang lebih berfokus ke digitital semua apalagi SD, dan SMP sudah menggunakan Chroomebook dan pastinya tak sedikit siswa yang memiliki smartphone sendiri, memiliki akun WA, IG bahkan Tiktok sendiri, Penggunaan smartphone di kelas bisa bermanfaat seperti membantu siswa mencari informasi baru yang tidak tersedia dibuku bahkan informasi yang lebih luas jangkauanya seperti hasil penelitian dan jurnal , belajar hal baru menggunakan aplikasi digital seperti membuat desain dll . tetapi jika tidak dalam pengawasan guru penggunaan smarthpone dapat menggangu konsentrasi siswa saat menanggapi pelajaran, menurunkan interaksi dengan teman dan guru, juga penyalahgunaan misalnya untuk mencontek. Maka itulah pentingnya pengelolaan penggunaan smartphone yang ada di sekolah, sebagai guru kita harus bijak memberikan contoh dan peraturan yang dapat disepakati bersama agar menghindari hal yang tidak diinginkan.

    BalasHapus
  12. Nama : Aprilina awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Saya suka dengan strategi yang disebutkan, seperti bekerja sama dengan siswa untuk membuat aturan penggunaan ponsel, menyediakan pengisi daya ponsel di kelas, mengintegrasikan ponsel ke dalam pembelajaran, dan membuat pelajaran lebih menarik. Ini semua dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa dan mengurangi gangguan. Dengan mengelola penggunaan ponsel di kelas adalah tantangan yang harus dihadapi oleh pendidik. Namun, dengan pendekatan yang tepat, kita dapat mengubah ponsel menjadi alat pembelajaran yang efektif. Saya rasa, mengelola penggunaan ponsel di kelas adalah proses yang berkelanjutan. Kita harus terus mencari pendekatan yang relevan dan adaptif untuk menghadapi generasi digital.


    BalasHapus
  13. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Di era digital seperti sekarang penggunaan smartphone sudah sangat umum di kalangan anak SD, banyak siswa yang sudah terbiasa menggunakan smartphone dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun smartphone memiliki dua sisi pandangan bagi banyak orang, satu sisi bisa menjadi sumber gangguan karena anak SD zaman sekarang biasa menggunakan smartphone untuk bermain game hingga tidak ingat waktu, namun di sisi lain kita sebagai pendidik perlu mencari cara untuk membangun penggunaan smartphone yang bermanfaat bagi peserta didik jika di gunakan dengan bimbingan yang tepat, sebagai pendidik kita perlu belajar cara mengelola penggunaan smartphone di kelas, seperti saran dari Sarah (2023) pada materi di atas yang bisa menambah ilmu dan di terapkan saat mengajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA : DIAS PINASIH
      KELAS : 5B PGSD
      NPM : 2386206057
      sedikit menambahkan saran saya buat jawaban dri Sinta

      Selain membimbing siswa agar penggunaan smartphone menjadi lebih bermanfaat menurut saya penting juga bagi pendidik untuk mami bahwa penggunaan teknologi siswa harus diselesaikan dengan tahap perkembangan kognitif dan emosional mereka anak-anak usia sekolah dasar masih berada pada masa belajar mengontrol perhatian dan emosi sehingga pengawasan arahan dari guru sangat diperlukan guru bisa membuat aktivitas yang terarah seperti pencari informasi sederhana kuis digital atau pengguna aplikasi pembelajaran yang aman dan ramah anak dengan kegiatan yang dipandu seperti justru tidak hanya belajar menggunakan smartphone tapi juga mempelajari bagaimana menggunakan teknologi dengan disiplin dan fokus.

      Hapus
  14. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menambahkan informasi berkaitan dengan penggunaan ponsel bagi siswa yaitu ponsel dapat memberikan akses ke informasi yang relevan dengan materi pelajaran, sehingga siswa dapat memperluas pengetahuan mereka, Ponsel dapat digunakan sebagai alat pembelajaran interaktif, seperti aplikasi pendidikan dan game edukatif, dan Ponsel dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan guru atau teman sekelas tentang materi pelajaran atau tugas. Untuk mengoptimalkan penggunaan ponsel di kelas, guru dan siswa dapat bekerja sama untuk menetapkan aturan dan batasan yang jelas tentang penggunaan ponsel selama jam pelajaran. Dengan demikian, ponsel dapat menjadi alat yang bermanfaat dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  15. Nama : Putri Lestari Pinang
    NPM : 2386206081
    Kelas : 5D PGSD

    izin bertanya mengenai beberapa pernyataan diatas, apa yang dapat dilakukan siswa dalam menggunakan ponsel secara bertanggung jawab saat dikelas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Alya Salsabila
      Npm : 2386206062
      Kelas : V C
      Hai putri lestari pinang, aku izin jawab pertanyaan kamu ya, menurut aku siswa itu bisa menggunakan ponsel secara bertanggung jawab di kelas dengan cara memakainya hanya untuk keperluan belajar aja, misalnya mencari informasi atau membuka materi dari guru terus juga ponsel itu sebaiknya tidak digunakan untuk hal lain seperti bermain game atau sosial media agar tidak menggangu pembelajaran, selain itu penting juga untuk menaati aturan dari guru dan menjaga sikap sopan, misalnya ya seperti mematikan suara notifikasi, nah dengan begitu ponsel bisa menjadi alat yang bisa membantu proses belajar, bukan malah mengganggu

      Hapus
    2. Hallo ka Putri saya izin menaggapi ya.
      Menurut saya hal yang dapat dilakukan siswa dalam menggunakan puasa secara bertanggung jawab saat di kelas itu kembali lagi dari kondisi atau pembelajaran yang diciptakan oleh seorang guru.
      Kita sebagai guru harus mempunyai sifat yang tegas untuk memberikan peraturan penggunaan ponsel dan menyadarkan siswa tentang bagaimana cara yang bertanggung jawab dalam menggunakan ponsel di kelas.
      Guru bisa menerapkan trik dan tips yang telah diuraikan pada laman ini untuk membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab kepada siswa dalam penggunaan ponsel di kelas.
      Misalnya yang pertama-tama guru wajib membuat peraturan dan sebagai seorang guru kita harus menunjukkan teladan bahwasanya kita juga mengikuti peraturan yang telah kita buat, nah ini sangat penting nih karena guru itu sebagai pendidik jadi harus memberikan contoh untuk mentaati aturan agar diikuti oleh siswanya.
      Setelah itu guru bisa menyediakan pengisi daya ponsel di kelas seperti yang dikatakan pada laman ini ketika guru menyediakan pengisi daya ponsel di kelas yang tempatnya agak berjauhan dengan tempat duduk siswa maka mereka akan memiliki rasa tanggung jawab untuk tidak memainkan ponsel saat sedang mengisi daya, ini bagus untuk melatih sikap tanggung jawab seorang siswa.
      Selanjutnya pada tips yang ketiga di laman ini menjelaskan guru bisa mengintegrasikan ponsel ke dalam pembelajaran dengan cara memberikan peraturan bahwasanya ponsel hanya digunakan pada saat mengerjakan tugas, lalu menonton video tentang materi pembelajaran nah setelah itu HP dapat dikumpulkan kembali.
      Lalu pada tips yang keempat guru membuat pelajaran yang menarik nah pola pembelajaran yang menarik ini dapat melatih siswa untuk bisa meninggalkan ponselnya saat pembelajaran karena ketika guru menciptakan pembelajaran yang menarik ,menyenangkan,interkatif dan sebagainya murid akan tertarik untuk mengikuti pembelajaran tersebut .

      semoga bermanfaat....



      Mungkin itu saja dari saya Kak semoga bermanfaat....

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, menurut saya yang dapat dilakukan para siswa yaitu dengan para siswa mematuhi peraturan kelas mengenai kapan mereka boleh dan kapan mereka tidak boleh menggunakan handphone, menggunakan handphone pada saat ketika hanya untuk kegiatan belajar saja dan jika itu diperbolehkan oleh gurunya yang sedang mengajar bukan untuk sebuah hiburan, lalu bisa juga para siswa bertanya kepada guru yang sedang mengajar jika saat para siswa merasa ragu apakah diperbolehkan untuk menggunakan handphone.

      Hapus
    4. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5 B PGSD

      izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, jadi menurut saya, siswa bisa menunjukkan penggunaan ponsel yang bertanggung jawab dengan cara simpel,busa pakai HP hanya saat diperbolehkan guru, simpan kembali kalau sudah selesai, dan nggak membuka hal-hal yang nggak ada hubungannya dengan pelajaran. Mereka juga perlu jujur sama aturan yang disepakati bersama. Kalau bisa melakukan itu, artinya mereka sudah belajar mengontrol diri dan menghargai proses belajar di kelas.
      yah segitu aja dari pendapat saya terimakasih.

      Hapus
    5. Nama: Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Putri Lestari Pinang, jadi menurut saya, siswa dapat menggunakan ponsel secara bertanggung jawab di kelas dengan memastikan bahwa perangkat tersebut benar-benar mendukung pembelajaran, seperti mencari informasi relevan saat diminta guru, mengerjakan kuis digital, atau mencatat poin penting, sambil tetap menjaga etika seperti mematikan notifikasi, tidak membuka media sosial atau gim selama pelajaran, dan tidak merekam orang lain tanpa izin, selain itu, siswa sebaiknya mengikuti aturan sekolah, mengembalikan fokus ke guru setelah penggunaan ponsel selesai, serta menunjukkan kedewasaan dengan menggunakan ponsel hanya ketika dibutuhkan agar proses belajar tetap tertib dan efektif.

      Hapus
  16. Saya setuju dengan apa yang bapak sampaikan mengenai pentingnya pengelolaan smartphone di kelas. Materinya mengingatkan saya bahwa smartphone bisa menjadi alat bantu belajar yang sangat baik namun kalau ga di atur dengan baik bisa menggangu suasana belajar, hal ini bisa saya terapkan juga untuk menjadi fokus saya saat belajar, terimakasih banyak bapak

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin menambahkan identitas yang terlupa di komentar saya ya pak Nama : Alya Salsabila
      Npm : 2386206062
      Kelas : V C

      Hapus
  17. nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    Saya izin bertanya ya bapak mengenai materi "mengelola penggunaan smartphone di kelas" bagaimana cara kita untuk menyeimbangkan antara larangan dan pemanfaatan smartphone di kelas? karna dari pengalaman saya, masih banyak yang memakai smartphone untuk hiburan, bukan untuk hal yang mendukung pembelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm: 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Menurut saya, msteru di atas ini memberikan pandangan yang bijak tentang bagaimana guru bisa menghadapi tantangan penggunaan smartphone di kelas.Bukan dengan melarang sepenuhnya, tetapi dengan mencari keseimbangan antara manfaat teknologi dan konsentrasi belajar siswa.Saya setuju bahwa kunci utamanya adalah memahami karakter siswa dan membuat aturan bersama agar mereka merasa dilibatkan. Bagi saya, materi ini mengingatkan bahwa teknologi bukan musuh dalam pendidikan, tetapi alat yang bisa mendukung proses belajar jika digunakan dengan cara yang tepat.🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      Ijin menanggapi ya alya, menurut saya, cara menyeimbangkan larangan dan pemanfaatan smartphone di kelas yaitu dengan membuat aturan penggunaan yang jelas dan disepakati bersama. hp hanya dipakai saat kegiatan belajar tertentu, misalnya untuk kuis atau mencari informasi, dan disimpan kembali setelah selesai.
      selain itu, guru juga perlu mengawasi dan membuat pelajaran lebih menarik, supaya siswa tidak merasa bosan dan akhirnya memakai hp untuk hiburan. bisa juga pakai reward atau konsekuensi supaya anak lebih disiplin. jadi intinya bukan melarang total, tapi mengatur dan mengarahkan penggunaannya secara positif.

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Alya Salsabila, menurut saya mungkin bisa dengan membuat aturan waktu kapan ponsel tersebut boleh untuk digunakan, lalu memberikan tujuan setiap penggunaan ponsel tersebut yaitu selalu diarahkan untuk aktivitas belajar saja, lalu bisa juga membuat pembelajaran yang menarik karena ketika semakin kegiatannya aktif belajarnya, akan semakin kecil keinginan para siswa itu untuk membuka ponsel, lalu para guru bisa juga memberikan pengawasan yang konsisten yaitu dengan guru selalu memantau penggunaan ponselnya dan dapat menegur siswa secara halus jika keluar dari tujuan pembelajaran saat itu.

      Hapus
    4. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      izin menjawab pertanyaan dari Alya, jadi menurut saya, kuncinya ada di aturan yang jelas + pemanfaatan yang terarah + pengawasan yang wajar. Smartphone nggak perlu dilarang total, tapi juga nggak dibiarkan bebas.
      Guru bisa menentukan kapan HP boleh dipakai dan kapan harus disimpan. Lalu, setiap kali HP dipakai, tugasnya harus jelas supaya siswa nggak sempat nyasar ke hiburan. Sesekali guru juga bisa keliling untuk memastikan mereka tetap on track.
      Intinya, bukan keras melarang atau bebas membiarkan, tapi ngatur ritme penggunaannya supaya teknologi tetap bermanfaat tanpa mengganggu fokus belajar.
      yah itu saja mungkin dari pendapat saya semoga bermanfaat😌

      Hapus
  18. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Pada materi ini memberikan penjelasan betapa pentingnya dalam mengelola penggunaan smartphone di dalam kelas dengan cara kolaboratif dan kreatif, bukan dengan larangan total. Melalui aturan bersama, integrasi teknologi ke pembelajaran, dan kegiatan menarik, guru juga bisa menjaga fokus siswa dan memanfaatkan teknologi dengan cara yang positif/bijak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA : DIAS PINASIH
      KELAS : 5B PGSD
      NPM : 2386206057

      izin menambahkan sedikit yaa jawaban dri Nanda

      Selain pentingnya kolaborasi dan aturan bersama menurut saya guru juga perlu memperhatikan persiapan digital siswa tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menggunakan teknologi secara efektif karena itu sebelum mengintegrasikan smartphone dalam pembelajaran guru bisa memberikan pembekalan dasar seperti cara mencari informasi yang benar menggunakan aplikasi pembelajaran atau etika komunikasi digital selain itu untuk mematikan motor berburu mendukung proses belajar guru juga bisa membuat aktivitas yang struktur misalnya kuis interaksi project based learning atau pencari informasi cepat yang langsung dikaitkan dengan materi dengan kegiatan seperti ini siswa tidak hanya menggunakan ponsel secara pasif tapi juga tips berkontribusi.

      Hapus
    2. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A

      Halo Nanda, tanggapanmu sudah sangat tepat sekali ya, saya setuju dengan pendapat mu bahwa pengelolaan smartphone perlu dilakukan secara kolaboratif dan kreatif, bukan lewat larangan total. Disini saya tambahkan sedikit yaitu pentingnya konsistensi dalam menerapkan aturan yang sudah dibuat bersama, kolaborasi dalam membuat aturan memang bagus, tapi aturan itu harus diterapkan secara konsisten juga kalau guru kadang tegas kadang tidak maka siswa jadi bingung dan aturan kehilangan kekuatannya, integrasi teknologi ke pembelajaran memang efektif, tapi guru juga harus punya rencana cadangan tidak semua siswa punya smartphone atau kuota internet jadi saat memanfaatkan smartphone untuk pembelajaran sediakan juga alternatif seperti versi cetak atau perangkat sekolah supaya semua siswa bisa ikut.

      ‎Kegiatan menarik dalam pembelajaran seperti ini memang kunci nya untuk jaga fokus siswa, tapi ini butuh persiapan ekstra dari guru, kita sebagai calon guru perlu terus belajar variasi metode mengajar supaya nanti bisa membantu pembelajaran yang tidak membosankan, ini juga investasi waktu yang sepadan karena siswa yang tertarik dengan pelajaran tidak akan cari hiburan di smartphone mereka.

      Hapus
  19. Nama:bella ayu pusdita
    Nim:2386206114
    Kelas:5d
    Tanggapan Saya Mengenai Materi ini
    Saya menilai materi ini sangat efektif karena mengambil pendekatan yang realistis dan kolaboratif, alih-alih sekadar menerapkan larangan mutlak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:bella ayu pusdita
      Nim:2386206114
      Kelas:5d
      Jadi Secara keseluruhan, materi ini sangat direkomendasikan karena memberikan keseimbangan antara penetapan batas yang jelas dan pemberian otonomi/kepercayaan kepada siswa, yang merupakan kunci untuk membentuk warga digital yang bertanggung jawab.

      Hapus
    2. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A

      Terima kasih banyak Bella atas tanggapannya tentang materi ini, saya setuju sekali bahwa kita memang perlu membangun kerja sama dengan siswa agar kelas tetap kondusif kita bisa mengajak mereka membuat aturan bersama tentang kapan boleh memakai HP dan kapan harus fokus belajar, kita juga bisa menyediakan tempat cas HP di sudut kelas agar mereka tidak sibuk memegang gawai saat guru menjelaskan, kita juga bisa masukan aplikasi seru seperti Kahoot atau Canva dalam tugas agar HP menjadi alat belajar yang lebih asyik. Pelajaran yang banyak gerak dan diskusi juga akan membuat siswa lupa dengan HP mereka cara ini membantu siswa menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab.

      Terima kasih.

      Hapus
  20. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Izin bertanya juga pak Bagaimana cara guru yang menggunakan kontrak sosial dan pendekatan restoratif dapat menangani siswa yang secara konsisten melanggar aturan penggunaan ponsel, dan kapan saat yang tepat untuk meningkatkan konsekuensi dari diskusi restoratif ke keterlibatan orang tua atau sanksi sekolah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : 5B PGSD

      Hallo bella ayu pusdita izin menjawab yh. Menurut aku, guru yang memakai kontrak sosial dan pendekatan restoratif itu cara yang bagus banget buat mengatur penggunaan ponsel di kelas. Karena dengan kontrak sosial, siswa diajak bareng-bareng bikin aturan, jadi mereka lebih sadar dan merasa punya tanggung jawab untuk menaatinya. Kalau ada yang melanggar, pendekatan restoratif bisa membantu siswa memahami kesalahannya tanpa harus langsung dihukum. Misalnya itu, kalau ada siswa yang sering main ponsel saat pelajaran, guru bisa ngobrol baik-baik dan membahas kenapa aturan itu penting supaya proses belajar tetap fokus. Dengan cara ini, siswa jadi lebih terbuka dan sadar sendiri, bukan karena takut sama hukuman, tapi karena paham tujuannya. Menurut aku, pendekatan kayak gini lebih efektif buat menumbuhkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Bella Ayu Pusdita, menurut saya mungkin guru bisa mengajak siswa tersebut untuk berdiskusi agar memahami apa alasan mereka itu melanggar peraturan tersebut, lalu guru bisa mengingatkan kembali kesepakatan awal (kesepakatan sosial), lalu guru bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk siswa memperbaiki dirinya. Dan jika anak tersebut masih saja terus melanggar dan tidak merubah sikapnya mungkin bisa meningkatkan lagi konsekuensinya yaitu dengan melibatkan orang tua atau sanksi sekolah.

      Hapus
    3. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      hallo Bella saya izin menjawab yah jadi menurut saya, kalau guru sudah pakai kontrak sosial dan pendekatan restoratif tapi ada siswa yang tetap saja melanggar, berarti saatnya naik satu langkah tapi tetap dengan cara yang tenang.
      Guru bisa mulai dari ngobrol baik-baik dulu sama siswa. Kalau sudah diingatkan beberapa kali tapi tetap melanggar, saatnya libatkan orang tua. Dan kalau masih juga nggak berubah, barulah pakai sanksi sekolah. Jadi langkahnya naik pelan-pelan aja: ngobrol → orang tua → sanksi.
      Nah segitu saja dari pemahaman saya terimakasih.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas: 5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Bella, jadi menurut saya, guru dapat menggunakan kontrak sosial dan pendekatan restoratif dengan memastikan bahwa aturan penggunaan ponsel disepakati bersama sejak awal, sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap kesepakatan tersebut, ketika siswa terus melanggar, guru dapat melakukan percakapan restoratif yang fokus pada dampak perilaku, alasan di balik pelanggaran, dan langkah perbaikan yang disetujui bersama, sambil tetap tegas menjaga konsistensi, namun jika pelanggaran tetap berulang meski sudah diberi kesempatan memperbaiki diri, saat itulah guru dapat meningkatkan konsekuensi secara bertahap dimulai dari melibatkan orang tua untuk mencari solusi bersama.

      Hapus
  21. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Bener dan related materi bapak yang di atas. Biasanya kita sering banget ke distraksi untuk soal HP ini. Misalnya, momen belajar yang emang lagi pake HP eh tiba tiba ada notif terus notifnya dibaca terus dibuka deh. Padahal di awal udah bertekad untuk fokus. Tapi tetap aja ke distraksi karena kurangnya pengendalian diri.


    (51)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Karna adanya strategi pengelolaan HP kaya gini pasti punya impact baik untuk keadaan belajar. Kalau di atas konteksnya di kelas, kita bisa integrasikan materinya ke dalam real life. Untuk pengendalian diri aja, kaya bkin aturan waktu istirahat dan stop kontak yg ga deket ama tempat. Ini realated banget loh dengan situasi gen z yang ketempelan setan gepeng.



      (52)

      Hapus
    2. Komen ke 53

      Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Kalau dilihat dengan kaca mata sekarang, pembahasan ini juga related untuk keadaan di kelas pak. Soalnya, materinya apik dan klop sesuai keadaan sekarang dan ngejawab tantangan zaman yang ada. Guru ngakalin gimana caranya supaya pembelajaran bisa berkembang ngikutin era. Tapi, guru sudah mempelajari cara biar pembelajarannya tetap terarah dan punya batasan yang bagus. Jadi, anak anak pun sebenernya ngikutin pembelajaran sesuai dengan skenario yang udah guru bikin. Cakeeeppppp.



      (53)

      Hapus
  22. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM :2386306009
    Kelas : 5 A PGSD

    Di zaman sekarang ini penggunaan smartphone di kelas merupakan tantangan yang sangat penting di era digital.menurut saya penggunaan smartphone di kelas itu sangat bagus untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembelajaran sehingga mengurangi gangguan saat pembelajaran. tetapi banyak siswa yang sering menggunakan media sosial dengan tidak baik,untuk menggurangi penggunaan smatrtphone di kelas,sekolah harus membuat peraturan yang jelas dan tetap.seperti guru dan siswa mendiskusikan mengenai kapan smatphone boleh digunakan dan tidak boleh digunakan,dan juga sekolah disa menetukan tempat dimana smartphone harus disimpan.guru juga perlu aktif berkeliling dan mengawasi siswa selama penggunaaan smartphone untuk memastikan apakah mereka menggunakan smartphone sesuai dengan fungsi pembelajarannya.untung mengurangi kecanduan smartphone guru bisa mengajak siswa untuk mendiskusiakan secara terbuka tentang pentingnya etika digital,bahaya kecanduan gadged,dan dampak penggunaan smartphone yang tidak bijak terhadap kesehatan mental dan sosial mereka.dengan memgelolah smartphone di kelas membutukan sebuah keseimbangan antara pemanfaatan potensi positif teknologi dan menjaga lingkungan belajar yang fokus serta kondusif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga ada sedikit cerita saat itu saya masih di bangku SMA,dahulu sekolah kami diperbolekan untuk membawa smartphone.tapi smartphone kami hanya boleh kami pakai saat pembelajaran tertentu .saat kami menggunakan smartphone kami guru kami membuat peraturan penggunaan smartphone di kelas,dan kami menyepakati peraturan yang telah di buat oleh guru kami.saat kami menggunakan smartphone kami guru kami mengawasi satu-satu siswanya agar menggunakan smartphone dengan benar saat pembelajarannya.kami menggunakan smartphone kami untuk mencari e-book,quizizz,serta mengumpulkan tugas menggunakan google forms.guru kami juga menentukan waktu untuk penggunaan smartphone saat pemebelajaran biasanya kami hanya boleh menggunakan smartphone 30-45 menit.setelah selesai pembelajaran menggunakan smartphone kami menggumpulkan smartphone kami di kantor guru,dan saat pulang sekolah baru boleh kami ambil kembali.
      jadi menurut saya penggunakan smartphone sangat bagus untuk mendukung pembelajaran yang penting kita harus tahu cara menggunakan smartphone dengan bijak.

      Hapus
  23. Pendapat saya, materi ini cocok untuk tantangan pengajaran di era digital. Pendekatan yang ditawarkan terasa seimbang, tidak sepenuhnya melarang, tetapi fokus pada pemanfaatan teknologi dan fokus belajar.

    BalasHapus
  24. Menurut saya, dari ke 4 strategi ini yaitu mengajar kan ponsel sebagai alat bantu yang terintegrasi, apalagi di era digital ini sangat cocok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Haii Margareta saya izi menyangga lagi ya, jadi Sanggahan saya terhadap pernyataan bahwa dari ke 4 strategi ini yaitu mengajar kan ponsel sebagai alat bantu yang terintegrasi adalah bahwa komentar yang Margareta sampaikan ini mengabaikan dua strategi penting lainnya yang justru menjadi penopang agar integrasi itu bisa terjadi secara efektif. Strategi integrasi (menggunakan Kahoot, Google Forms) tidak akan berhasil jika tanpa adanya kontrol perilaku yang diatur oleh Strategi 1 (Membuat Aturan) dan Strategi 2 (Menyediakan Pengisi Daya di Tempat Jauh). Integrasi hanyalah output dari sebuah pengelolaan yang berhasil. Faktanya, jika guru hanya berfokus pada integrasi (menggunakan aplikasi) tanpa menciptakan lingkungan yang disiplin dan kondusif terlebih dahulu, ponsel tetap akan menjadi distraksi, bukan alat bantu. Strategi pembuatan aturan memastikan ponsel hanya digunakan ketika dan untuk apa yang ditentukan, dan strategi pengisian daya membantu siswa merasa memiliki kontrol sehingga mereka tidak harus selalu memegang ponsel. Oleh karena itu, klaim bahwa intinya adalah integrasi adalah kurang tepat. Inti dari keseluruhan materi adalah pengelolaan perilaku dan lingkungan (classroom management), di mana integrasi teknologi hanyalah salah satu dari empat strategi yang harus berjalan beriringan untuk menciptakan pembelajaran yang fokus.

      Hapus
  25. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM :2386206048
    Kelas : 5C
    Sebetulnya memakai ponsel di kelas bukan pelarangan untuk jaman sekaran,mungkin dengan melibatkan siswa dan guru untuk pembuatan aturan misalnya ponsel hanya di izinkan untuk tugas akademik tertentu atau pembelajaran membuka materi di google

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA: DIAS PINASIH
      KELAS : 5B PGSD
      NPM : 2386206057

      sedikit tambahan jawaban dri Dita
      Selain memberikan aturan yang jelas mengenai kapan ponsel boleh digunakan menurut saya penting juga bagi guru untuk mengajarkan siswa tentang tanggung jawab digital dengan begitu situs yang namanya kita turunkan dari surat tapi berguna memahami alasan pentingnya menggunakan konsep secara bijak sama pelajaran guru juga bisa melakukan monitoring ringan misalnya dengan menggunakan aplikasi pembelajaran yang mengharuskan siswa tetap berada dalam satu laman tertentu ini membuat penggunaan ponsel lebih terarah dan mengurangi kemungkinan sesuaian bukan hal yang di luar kebutuhan akademik.

      Selain itu mengintegrasikan ponsel dalam aktivitas kelas seperti kelas digital pencairan panas secara cepat atau aplikasi simulasi dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif dengan strategi seperti ini ponsel tidak hanya menjadi alat bantu tapi juga sarana untuk menjadi meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar.

      Hapus
  26. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    Menurut saya juga,anak anak di perbolehkan membawa hp dan belajar menggunakan hp adalah cara hemat,mengapa? karena mengurangi biaya untuk tidak membeli pulpen,buku,dan alat tuli lainnya,beli tapi jarang di pakai jadi bisa lebih hemat,dan jaman sekarang juga sekolah sudah menyediakan fasilitas seperti wifi sekolah. Jadi anak anak bisa belajar menggunakan hp dan membaca lewat hp dengan aplikasi classroom.namun ada juga kekurangan nya yaitu anak jika bermain hp terus mata mereka akan rusak.karena sudah dirumah bermain hp di sekolah juga belajar memakai hp. tapi semua memang ada kelebihan dan kekurangan nya masing - masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      NPM : 2386206048
      Kelas : 5 C
      Tapi juga anak anak jika belajar memakai hp sulit fokus. saya pernah mengajar di sekolah,nah mereka sudah dapat fasilitas wifi dari sekolah dan bagian chromebook(cb) dia sejenis laptop tapi bukan windows. anak anak belajar memakai itu dan memakai wifi sekolah tapi ada saja yang membawa hp karna kadang jaringan wifi sekolah jelek. Nah anak anak belajar memakai aplikasi classroom mereka disitu bisa membaca materi yng di berikan dan di siapkan guru nya dan bisa menonton video pembelajaran yang ada di youtube yang di berikan guru.

      Hapus
    2. Izin menanggapi Dita,benar bahwa penggunaan ponsel secara hemat dapat mengurangi biaya pembelian alat tulis dan buku, didukung oleh fasilitas sekolah seperti WiFi. Namun, kekhawatiran tentang potensi kerusakan mata akibat terlalu sering bermain ponsel juga valid. Untuk mengatasi tantangan ini, kami menyusun kontrak sosial bersama antara guru dan siswa yang secara jelas mengatur kapan ponsel diizinkan (misalnya, untuk penelitian atau tugas mandiri) dan kapan harus disimpan, seperti yang tertera dalam catatan tugas: "Harap pastikan ponsel Anda disimpan". Pendekatan kolaboratif ini (bekerja sama dengan siswa) meningkatkan kepatuhan meskipun diakui bahwa siswa terkadang melanggar batasan tersebut.

      Hapus
  27. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5C
    Tetapi anak anak malah lebih fokus belajar menggunakan buku,karena mereka kalau memakai cb itu lebih fokus dan excited untuk bermain game,jadi kalau istirahat bebas main game. Walaupun tidak boleh tetap saja mereka bermain. menonton dan membaca materi pembelajaran pun tidak efektif karena mereka hanya scroll membuka dan tidak memahami materi betul-betul. Dan mengerjakan tugas di classroom mereka bisa buka google.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      NPM : 2386206048
      Kelas : 5 C
      Nah sekarang,bagaimana mengatasi permasalahan di atas itu ya pak?
      tapi mohon maaf jdi kemana mana dan membahas pengalaman saya,tapi jujur saya bingung juga harus gimana ngatasi masalah ini,berasa ngajar nya kurang konsisten kalau anak anak belajar pakai cb mereka

      Hapus
    2. Hallo ka Dita saya izin menanggapi dan memberikan pendapat terkait masalah tersebut ya
      Menurut saya cara yang paling efektif untuk menghalangi hal tersebut terjadi ialah :
      1. Guru bisa membuat peraturan bahwasannya jika diperbolehkan membawa HP ke sekolah siswa itu hanya boleh menggunakan HP saat pembelajaran berlangsung, saat pembelajaran berlangsung pun penggunaan HP pada siswa tetap diawasi oleh guru agar mereka tidak bermain games ataupun fokus membuka aplikasi yang lain di luar pembelajaran.
      2. Guru bisa mengumpulkan HP saat jam istirahat, setiap sekolah pasti mempunyai peraturan bahwasanya siswa dilarang membawa HP untuk digunakan di luar pembelajaran, nah ini baik diterapkan pada siswa saat pembelajaran telah selesai atau pada saat istirahat, guru bisa mengambil hp dan mengumpulkannya di kantor agar siswa memanfaatkan jam istirahatnya untuk bermain bersama teman.
      3. Guru bisa bekerja sama dengan orang tua, jadi tidak menimbulkan permasalahan ketika kita sebagai seorang guru mengambil hp dari siswa untuk dikumpulkan saat jam-jam tertentu atau setelah pembelajaran selesai
      4. Selain itu guru juga bisa bekerja sama dengan orang tua untuk membuat peraturan dan meminta bantuan orang tua untuk memberikan arahan kepada anaknya supaya mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh guru di kelas
      5. Guru bisa melakukan pendekatan kepada siswa yang tidak ingin mengumpulkan HPnya, memberikan pengertian kepada siswa bahwasannya setelah pembelajaran atau pada saat istirahat siswa tidak boleh bermain HP di lingkungan sekolah .

      Itu saja tips yang dapat saya berikan untuk mengatasi masalah tersebut Kak semoga bermanfaat....

      Hapus
  28. Nama : Jossen
    Kelas : 5D
    NPM :2386206078
    Menurut saya, poin terpenting dari materi Bapak adalah bagaimana teknologi itu diposisikan—bukan sebagai pengganggu, tetapi sebagai sarana yang bisa mendukung pembelajaran jika aturan dan penggunaannya dibuat dengan bijak. Ini jadi pengingat untuk kami sebagai calon guru bahwa kunci keberhasilan penggunaan teknologi bukan terletak pada perangkatnya, melainkan pada bagaimana kita mengelolanya di kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA: DIAS PINASIH
      KELAS: 5B PGSD
      NPM : 2386206057

      sedikit menambahkan materi dri josen ya pak
      Selain mendapatkan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran menurut saya penting juga bagi guru untuk memenuhi bahwa setiap siswa memiliki kemampuan digital yang berbeda-beda oleh karena itu peran guru tidak hanya mengatur kapan teknologi boleh digunakan tetapi juga mengarahkan bagaimana siswa dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat dan bertanggung jawab guru dapat memasukkan kegiatan melatih siswa berpikir kritis seperti memprivasikan informasi yang membedakan sumber yang kredibel serta menggunakan aplikasi pembelajaran sesuai dengan demikian smartphone atau perangkat teknologi lainnya tidak hanya menjadi alat tetapi juga saran pengembangan kompetensi siswa daerah digital selain itu keberhasilan pemanfaatan teknologi sangat dipengaruhi oleh konsistensi aturan dan budaya kelas jika guru memberikan contoh disiplin dan penggunaan yang tepat maka siswa akan lebih mudah mengikuti sebaliknya tanpa aturan yang jelas teknologi justru bisa menimbulkan difraksi karena itu pengelolaan yang bijak dan terancam sangat diperlukan agar teknologi benar-benar menjadi pendukung bukan hambatan.

      Hapus
  29. Nama: Imelda Rizky Putri
    Npm: 2386206024
    Kelas: 5B

    Izin menanggapi pak, materi ini sangat bermanfaat bagi siswa dimana media sosial yang baik dan terarah tidak menyalah gunakan media sosial, dan tidak langsung percaya pada informasi atau berita-berita hoax di media sosial dan selalu menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan untuk mencari ilmu. Dan membuat peraturan yang bijak untuk di kelas pada saat jam pelajaran tidak boleh main hp karna bisa menggangu fokus siswa pada saat belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA: DIAS PINASIH
      KELAS: 5B PGSD
      NPM : 2386206057

      sedikit menambahkan saran saya kepada Imel

      Selain pentingnya mengajarkan siswa untuk menggunakan media sosial cara bijak dan tidak mudah percaya pada informasi hoax menurut saya guru juga perlu membimbing siswa untuk memiliki etika digital etika digital ini mencakup bagaimana siswa berinteraksi secara sopan di dunia maya menghargai prestasi orang lain serta memahami konsekuensi dari jejak digital yang mereka tinggalkan selain itu pengaturan penggunaan HP dalam kelas memang sangat diperlukan namun akan lebih efektif jika guru juga memberikan literasi media kepada siswa dengan literasi tersebut siswa bukan hanya dilarang menggunakan HP saat jam pelajaran tapi juga memahami alasan dibalik aturan itu hal ini dapat membentuk kesadaran dari dalam diri siswa bukan hanya karena aturan semata.

      Hapus
  30. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    Kelas: V.A

    Dari bacaan di atas Saya mengerti bahwa pendidikan saat ini tuh harus menyesuaikan dengan teknologi yang ada, nah salah satunya itu yaitu penggunaan smartphone di kelas. Tapi Menurut pendapat saya apabila penggunaan smartphone di kelas ini tidak dikelola dengan baik maka akan memberikan dampak negatif tentunya kepada pendidikan.
    Nah pada bacaan ini tuh kita diberikan saran untuk mengelola smartphone di dalam kelas.
    1. Nah pada poin yang pertama ini saya sangat setuju yang di mana Dengan adanya kontrak pembelajaran di sebelum kegiatan pembelajaran, tentunya di mana guru dan siswa dapat membuat kesepakatan bersama Kapan waktunya ponsel bisa digunakan, dan kapan tidak, nah Apabila ada yang melanggar aturan tersebut maka akan dikenakan hukuman.
    2. Tentunya dengan menyediakan pengisian daya ponsel di kelas nah siswa itu mempunyai tempat untuk menyimpan ponsel mereka sehingga mereka tidak terus-menerus kepikiran tentang ponsel itu nah pastinya kalau disimpan di saku pasti mereka teringat terus.
    3. Nah tentunya sangat seru ya apabila pembelajaran kita itu sangat interaktif Nah kan dengan adanya Smartphone Ini guru bisa merancang pembelajaran yang tidak begitu-begitu saja yang tentunya membuat siswa itu menjadi tertarik dalam pembelajaran.
    Benar sekali kita itu harus terus mengikuti perkembangan teknologi dan manfaat-manfaatkannya dengan benar sehingga smartphone ini bisa menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan bisa membantu siswa dalam proses pembelajaran.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA: Dias pinasih
      KELAS: 5B PGSD
      NPM : 2386206057

      Sedikit menambahkan ya Maya atas jawaban nya

      Selain bahan-bahan yang sudah disebutkan Maya menurut saya penting juga untuk mempertimbangkan bagaimana guru dapat mengembangkan literasi digital siswa ketika smartphone digunakan di kelas menggunakan smartphone bukan hanya soal mengatur kapan boleh tidak boleh digunakan tapi juga bagaimana peserta didik mampu menggunakan teknologi tersebut cara bertanggung jawab dan produktif guru dapat mengajarkan siswa tentang etika digital seperti cara mencari informasi yang valid bagaimana menghindari hoax serta bagaimana menggunakan aplikasi edukatif cara tepat ketika siswa memiliki pemahaman yang baik tentang literasi digital maka risiko penggunaan smartphone yang tidak sesuai dapat berkurang dengan sendirinya selain itu sangat penting juga bagi sekolah untuk menyiapkan kebijakan yang konsisten tidak hanya guru saja yang membuat aturan tapi seluruh pihak sekolah perlu memiliki panduan bersama terkait penggunaan smartphone agar tidak terjadi perbedaan aturan antar kelas hal ini membuat siswa lebih mudah mengikuti aturan dan pembelajaran bisa berjalan lebih efektif.

      Hapus
  31. Nama: Ratna Andina
    NPM:2386206074
    Kelas: 5C PGSD

    menurut saya, pembelajaran menggunakan hp di sd sebenarnya bisa menjadi hal yang baik jika dipakai dengan cara yang benar. hp bisa membantu siswa mencari informasi, belajar dengan aplikasi edukasi, atau mengerjakan tugas secara lebih menarik dan tidak membosankan. tapi, penggunaanya juga harus tetap diawasi supaya tidak disalahgunakan untuk bermain game atau membuka hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. guru juga harus memberikan arahan dan batasan waktu supaya penggunaan hp tidak mengganggu fokus belajar siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      ijin menambahkan lagi, menurut saya penggunaan hp dalam pembelajaran di sd juga adalah salah satu bentuk adaptasi teknologi yang sesuai dengan perkembangan zaman. anak-anak sekarang sudah sangat lengket dengan barang-barang digital, jadi daripada melarang, lebih baik mengarahkannya untuk hal yang bermanfaat. jadi, intinya hp bisa menjadi alat yang membantu meningkatkan motivasi belajar, tetapi harus ada kontrol yang baik agar tujuannya bisa tercapai.

      Hapus
  32. NAMA : DIAS PINASIH
    KELAS : 5B PGSD
    NPM : 2386206057
    izin menanggapi materi yang bapak jelaskan di atas pak.

    Materi yang bapak sampaikan mengenai penggunaan smartphone di kelas sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini pak di mana teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan siswa bahwa smartphone dapat menjadi alat indikatif yang efektif apabila digunakan secara tepat menurut saya sangat membuka wawasan selama ini banyak guru maupun orang tua memandang smartphone mode sebagai gangguan padahal melalui pengelolaan yang bijak perangkat ini bisa menjadi sumber belajar yang kreatif dan inovatif

    BalasHapus
  33. Sedikit tambahan lagi pak saya juga sangat mengapresiasi contoh-contoh konkret yang bapak jelaskan seperti membuat aturan penggunaan smartphone bersama siswa memanfaatkan perangkat untuk mencari materi secara cepat sehingga mengintegrasikan aplikasi edukatif dalam proses belajar hal ini membuat materi terasa lebih praktis dan mudah diterapkan di berbagai jenjang sekolah penekanannya pada komunikasi antara guru dan siswa juga sangat membantu memenuhi bahwa penggunaan smartphone di kelas tidak hanya soal izin atau larangan tetapi bagaimana membangun kepercayaan dan tanggung jawab bersama selain itu bagian yang menjelaskan tentang bagaimana smartphone dapat membuat pembelajaran lebih menarik melalui video simulasi maupun aplikasi sangat relevan dengan karakter siswa zaman sekarang yang lebih referensi terhadap media visual.

    BalasHapus
  34. NAMA DIAS PINASIH
    KELAS 5B PGSD
    NPM 2386206057

    SEDIKIT TAMBAHAN KERIPIK PAK WALAUPUN MATERINYA SUDAH SANGAT JELAS MUNGKIN MERASA MASIH ADA BEBERAPA BAGIAN YANG BISA DIPERLUAS MISALNYA TANTANGAN PENGGUNAAN SMARTPHONE DI KELAS BELUM DIBAHAS SECARA LEBIH MENDALAM GURU SERING MENGHADAPI MASALAH SEPERTI DIFRAKSI SISWA MEMBUKA APLIKASI YANG TIDAK RELAWAN ATAU KESULITAN MENGONTROL PENGGUNAAN SAAT BELAJAR BERLANGSUNG AKAN LEBIH BAIK JIKA MATERI JUGA MENYERTAKAN STRATEGI PROTEKTIF YANG LEBIH DETAIL UNTUK MENGATASI Risiko TERSEBUT SELAIN ITU MATERI LEBIH BANYAK MENYOROTI PENGGUNAAN SMARTPHONE DI KELAS DARI SISI GURU NAMUN KURANG MEMBERIKAN SUDUT PANDANG ORANG TUA ATAU KEBIJAKAN SEKOLAH PADAHAL KEDUA PIHAK TERSEBUT SANGAT BERPENGARUH TERHADAP KONSENTRASI PER PENERAPAN ATURAN PENGGUNAAN SMARTPHONE DI LINGKUNGAN PENDIDIK.

    BalasHapus
  35. Sedikit menambah saran pak tambahkan studi kasus yang tentang keberhasilan penggunaan smartphone dalam pembelajaran agar mahasiswa dapat melihat penerapan secara lebih konkret.
    Berikan daftar aplikasi edukatif yang direkomendasikan sehingga guru memiliki panduan awal dalam memilih media pembelajaran digital sertakan strategi untuk mengatasi potensi penyalahgunaan misalnya teknik classroom manajemen khusus untuk kelas digital atau pengawasan berbasis kolaborasi masukkan perspektif orang tua dan sekolah agar terlihat bagaimana konsep sistem pendidikan dapat bekerja sama untuk mendukung penggunaan smartphone secara positif diskusi di kelas mengenai etika digital supaya mahasiswa sebagai calon guru memahami pentingnya membangun budaya literasi digital yang sehat.

    BalasHapus
  36. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Zaman semakin modern, namun sebagai seorang guru kita tidak boleh kalah dengan teknologi. Menurut data yang ditemukan dengan penggunaan smartphone yang berlebihan membuat siswa terlena, hingga mengabaikan pembelajaran, dan muncul rasa cepat bosan. Maka dari itu kita sebagai calon guru dituntut untuk kreatif dengan cara bagaimana membuat pembelajaran jadi menarik dengan mengikuti perkembangan zaman.

    Nah materi di atas juga sudah menjelaskan strategi praktis yang dapat membantu keterlibatan siswa ditengah keberadaan ponsel mereka dikelas, saya setuju dengan materi diatas biar bisa mengurangi pemakaian smartphone untuk siswa-siswi biar lebih fokus ke pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

      Halo Kak Ros, terima kasih banyak sudah berbagi pandangan yang asik banget! Saya setuju, kita sebagai calon guru memang nggak boleh "kalah" sama smartphone yang bikin siswa terlena dan cepat bosan. Tidak bisa dibantah, kita hidup di era digital, jadi melarang total itu bukan solusi yang tepat, kan?

      Poin yang Kak Ros sampaikan soal guru harus kreatif itu inti dari semua strategi yang dibahas pada materi di atas Kalau pelajaran kita membosankan, sudah pasti siswa akan otomatis lari ke ponsel mereka yang menawarkan interaksi tanpa henti (seperti TikTok, game, IG, You Tube dll.). Ruang bosan itulah yang harus kita isi dengan kreativitas.

      Nah... Dari materi di atas kita sudah mendapatkan clue nya nih.. Kak Ros. Kreatif itu bukan cuma soal game atau dekorasi, tapi juga soal keseimbangan dan pemanfaatan. Misalnya, membuat aturan bareng-bareng atau justru mengintegrasikan ponsel itu sendiri (pakai Kahoot atau Canva) sebagai alat untuk menciptakan sesuatu yang menarik dan tidak membosankan di kelas. Ini membuktikan bahwa kita bisa kok membuat pembelajaran jadi menarik dan tetap mengikuti perkembangan zaman, tanpa harus mengorbankan fokus siswa.

      Jadi, fokus ke kreativitas membuat siswa lebih terlibat aktif. Dan kalau siswa sudah terlibat aktif, masalah penggunaan smartphone yang berlebihan itu otomatis berkurang karena energi dan perhatian mereka sudah tercurah sepenuhnya ke materi di kelas.

      Tapi entah mengapa, saya rasa materi ini seperti bumerang pada situasi kita tersendiri sebagai mahasiswa, heheheh....

      Hapus
  37. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Halo teman-teman, perkenalkan saya Fauzan Nashrullah Fajar NPM.2386206021 dari kelas 5B PGSD.

    Materi tentang strategi mengelola ponsel di kelas ini menurut saya sangat realistis dan absolute banget. Pendekatan yang ditawarkan juga sangat menarik.. dimana dikatakan bahwa kita nggak usah melarang teknologi sepenuhnya, tapi kita harus cari keseimbangan antara teknologi yang menarik (kayak Instagram atau TikTok) dengan Pembelajaran.

    Saya suka banget sama ide "Bekerja Sama dengan Siswa untuk Membuat Aturan." Ini lah kuncinya. Ketika aturan dibuat bareng, rasa tanggung jawab siswa saya rasa pastinya bakal jadi lebih tinggi. Apalagi trik menyediakan Pengisi Daya Ponsel di Kelas, wah wah wahh... Saya rasa ini sangat mind blowing.. or out the boks.... karena idenya mengubah konflik (siswa yang Hp-nya kehabisan baterai automatis akan ngecas dan casannya jauh dari tempat duduk mereka, alhasil siswa akan berhenti bermain Hp) menjadi solusi yang masih di bawah kontrol guru. Saya rasa ini akan membantu banget menciptakan suasana yang supportive.

    Selain itu, strategi Mengintegrasikan Ponsel ke dalam Pembelajaran juga keren, apalagi pakai tools kayak Google Forms, Kahoot, atau Canva. Ini menunjukkan bahwa ponsel bisa jadi alat kreatif yang mendorong siswa ke level Menciptakan di Taksonomi Bloom—bukan cuma dipakai buat scroll media sosial.

    Namun, ada sedikit catatan yang perlu diperhatikan. Strategi ini sangat bergantung pada kualitas jaringan di sekolah. Kalau WiFi-nya lemot atau malah nggak ada, integrasi teknologi ini bisa gagal total. Dan yang paling penting, semua ini kembali lagi ke poin kita sebelumnya: Membuat Pelajaran Lebih Menarik itu butuh energi guru yang sangat besar. Kalau guru sendiri sudah kelelahan (isu mental health dan beban kerja struktural), akan sulit bagi mereka untuk setiap hari "bersaing" dengan daya tarik gadget di tangan siswa.

    Namun tetap saja ini materi yang sangat sempurna dan sangat bagus untuk kita coba praktekkan nanti. Terimakasih banyak atas Ilmu barunya Pak.

    BalasHapus
  38. Nama : Zakky Setiawan
    NPM : ( 2386206066 )
    Kelas : 5C
    Saya sangat setuju dengan materi ini, dengan membuat peraturan di sekolah tentang menggunkan smartphone peserta didik jadi mempunyai batasan untuk menggunakannya, semisal boleh membawa smartphone tapi hanya boleh di gunakan saat jam istirat, dan saat pelajaran disimpan, hal ini tuh membuat guru yang mengajar di depan bisa lebih di perhatikan

    BalasHapus
  39. Nama : Zakky Setiawan
    NPM : ( 2386206066 )
    Kelas : 5C
    Disela-sela pelajaran guru sedikit menyelipkan informasi untuk bijak menggunakan smartphone, karena media sosial yang sangat mudah di akses, tujuan ini di lakukan agar tidak merugikan siswa itu sendiri dan almamater sekolah

    BalasHapus
  40. Nama: Patricia Nini Making
    Kelas: 5C
    NPM: 2386206046

    izib bertanya pak, dalam materi dijelaskan pentingnya pengawasan penggunaan smartphone. bagaimana guru dapat melakukan pengawasan tersebut tanpa membuat siswa merasa diawasi secara berlebihan atau tidak dipercaya pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Hallo Patricia izin menjawab yh. Menurut aku memang penggunaan ponsel di kelas itu perlu dikelola dengan baik agar nggak mengganggu proses belajar. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat aturan yang jelas tentang kapan dan untuk apa ponsel boleh digunakan. Misalnya, ponsel hanya dipakai saat mencari informasi yang relevan dengan pelajaran atau ketika diminta oleh guru. Selain itu, bisa juga disiapkan pengisi daya ponsel di kelas, biar siswa nggak khawatir ponselnya mati saat sedang belajar. Tapi, yang paling penting tetap harus ada pengawasan dari guru, supaya penggunaan ponsel nggak jadi gangguan dan tetap bisa mendukung kegiatan belajar. Kalau aturan dan pengawasannya pas, ponsel malah bisa jadi alat bantu yang berguna, bukan gangguan.

      Terimakasih😊

      Hapus
    2. Hallo ka Patricia saya izin menanggapi pertanyaannya ya
      Menurut saya cara yang bisa dilakukan guru untuk melakukan pengawasan tanpa membuat siswa merasa diawasi secara berlebihan atau tidak dipercaya itu guru bisa memulai melakukan pengelolaan penggunaan atau pemanfaatan handphone di dalam kelas.
      Sebagai seorang guru ,guru bisa mengajak siswa untuk bersama-sama membuat peraturan dan meminta mereka untuk memberikan pandangan dan juga tanggapan terkait beberapa peraturan yang telah guru buat setelah itu guru bisa mengajak mereka untuk bersama-sama menyak menyepakati peraturan tersebut.
      Nah menurut saya dengan adanya peraturan ketika siswa melakukan pelanggaran guru bisa memberikan teguran dengan pendekatan yang baik terhadap siswa yang melanggar agar mereka tidak merasa dipermalukan ataupun tidak merasa dijatuhkan di hadapan teman-temannya
      Selain itu juga guru berhak melakukan pengawasan secara keseluruhan ketika menggunakan handphone dalam pembelajaran ini bertujuan agar siswa tidak menyalahgunakan penggunaan handphone di kelas.

      Hapus
    3. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab juga yaa pactria, menurut saya Pengawasan penggunaan smartphone di kelas harus dilakukan dengan cara membuat kesepakatan aturan bersama siswa, memanfaatkan HP sebagai alat bantu belajar sesuai waktu yang ditentukan, dan fokus pada pengawasan tugas daripada mengawasi privasi, sehingga siswa merasa dihargai dan dipercaya.

      Hapus
    4. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

      Halo Nini Making, Alusia, dan Isdiana!
      Saya Fauzan Nashrullah Fajar, NPM. 2386206021 dari Kelas 5B PGSD.

      Wah.... diskusi yang menarik banget asik! Pertanyaan Nini soal pengawasan tanpa membuat siswa merasa diawasi itu sangat top markotop! Jawaban Isdiana dan Alusia juga sangat tepat, "mengatur, membuat peraturan bersama, dan fokus pada pemanfaatan". Ponsel itu harusnya jadi alat bantu yang berguna, bukan gangguan.

      Nah... ini nyambung banget sama pembahasan di materi CT. Kalian ingat kan..? di Computational Thinking (CT) itu intinya adalah pola pikir untuk memecahkan masalah dan menganalisis data? Kalau kita berhasil memanfaatkan smartphone ini sebagai alat TIK untuk mendukung CT (misalnya, dipakai untuk membuat simulasi atau mengumpulkan data sederhana), maka siswa tidak akan merasa smartphone itu diawasi, karena mereka sedang menggunakannya untuk tujuan belajar yang jelas dan terstruktur!

      Hapus
    5. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Patricia Nini Making, jadi menurut saya, guru dapat melakukan pengawasan penggunaan ponsel tanpa membuat siswa merasa tidak dipercaya dengan menerapkan aturan yang jelas sejak awal, memberi penjelasan bahwa pengawasan dilakukan untuk mendukung fokus dan keberhasilan belajar, serta menggunakan pendekatan kolaboratif seperti membuat kesepakatan kelas bersama siswa; guru juga dapat memberi ruang kepercayaan dengan hanya memeriksa ketika ada indikasi penyalahgunaan, bukan memantau setiap detik, dan menggunakan gaya komunikasi yang ramah serta menghargai privasi sehingga siswa merasa dihargai, dipercaya, dan tetap termotivasi untuk menggunakan ponsel secara positif.

      Hapus
    6. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A

      ‎Hai Patricia, saya izin menjawab pertanyaan kamu tadi, bagi saya sendiri cara terbaik adalah mengajak siswa untuk membuat aturan bersama sejak awal disini kita buat kesepakatan kapan ponsel boleh dipakai dan kapan harus disimpan, berikan juga ni waktu satu menit bagi siswa untuk cek ponsel sebelum pelajaran mulai dan kita juga bisa sediakan tempat pengisian daya di sudut kelas agar mereka tidak memegang ponsel di meja kita juga bisa menggunakan ponsel hanya sebagai alat belajar lewat kuis atau mencari informasi jadi itu tidak membuat siswa terus-menerus memegang ponsel dan siswa tidak merasa dicurigai juga jika kita fokus pada kegiatan yang lebih seru dan aktif, komunikasi terbuka tentang dampak ponsel jauh lebih efektif daripada sekadar melarang kita harus menunjukkan bahwa aturan ini ada untuk membantu mereka belajar lebih fokus.

      Semoga Bermanfaat 🙏🏻

      Hapus
  41. Nama: Patricia Nini Making
    Kelas: 5C
    NPM: 2386206046

    izin bertanya pak, jika sekolah tidak memiliki fasilitas (internet, perangkat, atau guru terlatih), apakah pendekatan constructionism tetap bisa dijalankan? Mialnya dengan aktivitas non-digital tetapi tetap "membuat artefak nyata"? apakah ini masih sesuai dengan semangat constructionism pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menjawab yaa, jika sekolah tidak memiliki fasilitas itu maka akan tetap bisa dijalankan constructiniam melalui kegiatan kegiatan seperti membuat model fisik seperti membuat model gunung berapi dari tanah liat. Ya sangat sesuai, bahwaa teknologi bukan hanya tujuan yang utama adalah menciptakan lingkungan dimana siswa membangun pengetahuan melalui aksi kreativitas.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089
      Ijin menanggapi pertanyaan patricia Justru dengan keterbatasan fasilitas, kreativitas kita sebagai guru makin ditantang. Selain bikin artefak nyata, mungkin kita bisa ajak siswa observasi lingkungan sekitar atau wawancara tokoh masyarakat. Jadi, pembelajaran tetap relevan dan bermakna, meski tanpa internet atau perangkat canggih.Jangan khawatir, semangat constructionism tetap bisa kok diimplementasikan. Contohnya, siswa bisa memanfaatkan bahan-bahan bekas di sekitar sekolah untuk membuat model atau alat peraga sederhana. Yang penting, siswa tetap aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman langsung.Dulu waktu saya sd juga pernah mengalami hal serupa. Salah satu solusi yang saya coba adalah dengan memanfaatkan sumber belajar gratis dari perpustakaan atau museum terdekat. Selain itu, kita juga bisa berkolaborasi dengan guru lain untuk saling berbagi sumber daya dan ide pembelajaran. Semangat terus ya Memang jadi tantangan tersendiri ya, Patricia, kalau fasilitas di sekolah terbatas. Tapi bukan berarti kita harus menyerah pada keadaan. Mungkin kita bisa kombinasikan pendekatan constructionism dengan metode pembelajaran lain yang lebih sesuai dengan kondisi sekolah. Yang penting, tujuan pembelajaran tetap tercapai.

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSB

      Izin menjawab pertanyaan dari Patricia Nini Making menurut sepengetahuan saya pendekatan constructionism itu tetap bisa untuk dijalankan tanpa harus ada teknologi yaitu misalnya bisa dengan cara membuat aktivitas membuat poster dengan menggunakan kertas/karton, eksperimen sederhana, dan juga karya seni.

      Hapus
    4. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      izin menjawab pertanyaan dari Patricia Nini Making, jadi menurut saya tetap bisa banget yah Patricia, Constructionism itu intinya belajar sambil bikin sesuatu, bukan harus pakai teknologi. Jadi meski tanpa internet atau perangkat, aktivitas non-digital seperti membuat , model, kerajinan, atau proyek kecil tetap masuk semangat constructionism. Yang penting siswa membuat dan belajar dari prosesnya, bukan alatnya.
      yah segitu aja yang saya ketahui terimakasih.

      Hapus
  42. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM:2386206089
    Di era digital ini, smartphone udah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Tapi di sisi lain, penggunaan smartphone di kelas bisa jadi tantangan besar buat guru. Gimana caranya biar siswa tetep fokus belajar tanpa terganggu notifikasi atau godaan media sosial? Artikel ini kayaknya bakal ngebahas strategi-strategi kreatif yang bisa diterapkan guru di kelas. Mungkin ada tips tentang penggunaan aplikasi pendidikan yang menarik, atau cara membuat aturan kelas yang jelas tentang penggunaan smartphone. Yang jelas, artikel ini penting banget buat dibaca guru-guru yang pengen ngadepin era digital dengan bijak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali dgn komentar virgin,smartphone memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan siswa, dan artikel ini mengusulkan strategi kreatif yaitu melibatkan siswa dalam pembuatan "kontrak sosial" untuk aturan penggunaan ponsel agar mengurangi gangguan saat belajar.

      Hapus
  43. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Izin menanggapi ya Pak, jadi menurut saya, strategi yang Bapak dibahas di materi ini keren banget karena realistis dan nggak asal larang. Penulis mengakui bahwa di era sekarang, ponsel itu sudah jadi bagian dari hidup siswa, jadi solusinya bukan membuangnya, tapi mengaturnya agar seimbang. Saya paling suka ide tentang bekerja sama dengan siswa untuk bikin aturan. Ini menunjukkan bahwa guru tidak cuma jadi bos yang kasih perintah, tapi jadi partner yang ngajarin tanggung jawab. Kalau ada yang melanggar pun, pendekatannya nggak langsung menghukum, tapi diajak diskusi tentang bahaya ponsel buat kesehatan mental. Ini penting banget, karena intinya adalah mendidik siswa jadi pintar mengontrol diri, bukan sekadar menaati aturan karena takut dihukum.

    Inti dari semua strategi ini, menurut saya, adalah bahwa pelajaran harus lebih seru dari handphone. Daripada pusing melarang, lebih baik energinya dipakai buat bikin kelas jadi interaktif, misalnya pindah lokasi belajar, diskusi seru, atau pakai aplikasi kayak Google Forms atau Canva untuk kegiatan yang bermanfaat. Dengan begitu, ponsel berubah dari musuh jadi alat bantu belajar yang efektif. Jadi, daripada guru stres karena siswa main HP, lebih baik guru berinovasi dan bikin kegiatan yang menarik. Ini sejalan banget dengan perkembangan pendidikan modern yang maunya siswa aktif, mandiri, dan belajarnya nyambung sama dunia nyata yang serba digital.

    BalasHapus
  44. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Menurut saya, materi ini secara tidak langsung juga menyentuh isu kesenjangan digital dalam pendidikan. Meskipun disarankan untuk mengintegrasikan ponsel ke dalam pembelajaran menggunakan aplikasi seperti Kahoot atau Google Forms, penulis juga bijak menyediakan solusi alternatif versi cetak bagi siswa yang mengalami kendala teknis. Ini adalah poin penting. Pendidikan saat ini harus tetap inklusif dan memastikan bahwa strategi yang diterapkan (seperti memanfaatkan smartphone) tidak justru menghukum siswa yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu atau yang memiliki keterbatasan perangkat. Jadi, pengelolaan ponsel di kelas bukan hanya tentang disiplin, tetapi juga tentang keadilan akses terhadap sumber belajar, memastikan setiap siswa, apapun kondisi gawainya, tetap bisa terlibat aktif.

    Selain itu, strategi penulis yang mencoba memahami jawaban remaja, dunia memang berubah, adalah kunci untuk relevansi pedagogis. Ini menunjukkan bahwa guru harus terus belajar dan beradaptasi dengan budaya generasi digital. Dengan memahami mengapa siswa begitu terikat pada ponsel (karena dirancang untuk menarik perhatian), guru bisa merancang intervensi yang berlawanan dan lebih kuat yaitu, mendesain pelajaran yang secara intrinsik menarik, interaktif, dan memberikan penghargaan emosional yang lebih besar daripada sekadar notifikasi dari media sosial. Intinya, pendekatan ini adalah strategi psikologis yang cerdas, yang bertujuan menggantikan keterikatan siswa pada layar dengan keterikatan pada proses pembelajaran yang bermakna.

    BalasHapus
  45. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    Saya sangat setuju dengan cara-cara ini pak, karena saran-saran ini benar-benar bisa diterapkan guru di kelas. Intinya, daripada melarang ponsel sama sekali, lebih baik kita ajak siswa membuat aturan bersama, pakai ponsel untuk kegiatan belajar yang bermanfaat (seperti kuis), dan yang paling penting, buat pelajaran jadi seru dan tidak membosankan. Jadi, siswa akan lebih fokus belajar, bukan main ponsel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5 B PGSD

      hallo naida saya setuju dengan pendapatmu dan saya izin menambahkan, pendekatan seperti ini juga bikin hubungan antara guru dan siswa jadi lebih cair. Mereka merasa dihargai karena dilibatkan, bukan sekadar disuruh patuh. Dengan begitu, aturan soal ponsel pun nggak terasa sebagai larangan, tapi sebagai kesepakatan bersama. Selain itu, kalau ponsel diarahkan untuk hal positif, siswa jadi nggak melihatnya sebagai alat larangan, tapi sebagai bagian dari proses belajar. Dan ketika kelas dibuat interaktif, aktif, dan asyik, ponsel otomatis kalah menarik. Intinya, yang penting bukan memutus akses teknologi, tapi mengelolanya dengan bijak supaya suasana belajar tetap kondusif dan menyenangkan.
      Terimakasih.

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      Saya sangat setuju dengan tambahan dari Rismardiana, karena pendekatan ini tidak hanya efektif mengontrol HP, tetapi juga sukses mencairkan hubungan antara guru dan siswa dengan menumbuhkan rasa dihargai pada siswa, yang pada akhirnya membuat aturan HP terasa sebagai kesepakatan bijak, terutama jika kelas sudah dibuat interaktif dan menarik sehingga ponsel menjadi tidak relevan.

      Hapus
  46. Nama: Patricia Nini Making
    Kelas: 5C
    NPM: 2386206046

    Izin brtnya pak,
    apakah penggunaan smartphone sebagai alat belajar bisa menggantikan metode tradisional sepenuhnya? atau paling ideal ketika digabungkan dengan metode konvensional seperti diskusi tatap muka, eksperimen langsung, atau tugas fisik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Halo patricia izin menjawab. Menurutku, HP itu bisa banget bantu belajar, tapi nggak bisa gantiin cara belajar biasa secara penuh. Soalnya beberapa hal tetap lebih ngena kalau dilakukan langsung, kayak ngobrol tatap muka, coba-coba eksperimen, atau ngerjain tugas yang butuh gerak. Yang paling oke tuh kalau digabung aja: HP dipakai buat hal-hal yang memang cocok, misalnya cari info cepat, isi kuis online, atau bikin tugas kreatif, tapi metode biasa tetap dipakai biar belajarnya lebih kerasa dan nggak cuma mantengin layar. Jadi HP itu lebih pas jadi pendukung, bukan jadi satu-satunya cara belajar.

      Terimakasih😊

      Hapus
    2. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206035

      Hallo Patricia saya izin menjawab ya.. sebelumnya saya juga sependapat dengan isdiana tapi izin menambahkan lagi.. Kalau menurut saya penggunaan smartphone itu ngga bisa sepenuhnya menggantikan metode tradisional, mengapa? karena belajar itu bukan hanya sekedar mencari informasisaja. Tetapi ada hal - hal yang cuma bisa didapatkan lewat pembelajaran tatap muka, diskusi langsung, praktik nyata, dan tugas fisik. Nah interaksi sosial juga sangat perlu seperti kerja kelompok yang membentuk pembiasaan sikap siswa, bahkan cara guru mengajar dan memberi arahan itu semua punya nilai tersendiri yang ngga sepenuhnya bisa kita dapatkan lewat sebuah aplikasi.

      Tapi disisi lain Smarthphone bisa banget dirasakan manfaatnya kalauu dipakai sebagai pelengkap, kyk bisa bantu siswa mencari refrensi atau ide lebih cepat dengan berbagai sumber dan pengetahuan baru diluar sana ( informasi dari luar pulau bahkan luar negeri) atau berdasarkan risert seseorang, bisa belajar lewat vidio yang membuat kita tahu lebih banyak informasi lewat desain grafis bukan sekedar membayangkan saja, serta media interaktif yang bikin pembelajaran semakin hidup dan tidak monoton.

      Jadi yang paling revelan sekarang adalah menggabungkan kedua pembelajaran tersebut anatar teknologi dan tradisional, misalnya nih saya beri contoh : Praktik + Vidio pendek, dalam proses penanaman kacang hijau, nah sebelum siswa menanam kacang hijau, guru memutar vidio singkat tentang cara menanam ( di proyektor/ smarthphone) kemudian setelah guru menampilkan vidio tersebut siswa bisa langsung mempraktikanya dikelas atau dihalaman sekolah. Jadi metode seperti ini dapat mempermudah guru untuk menyampaikan materi serta membuat siswa bisa melihat langsung tata cara dan prosesnya. Semoga komentar saya dapat membantu yaa

      Hapus
    3. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      Hai Patricia Nini Making saya izin memerikan jawaban dari yang saya ketahui, jadi smartphone nggak bisa menggantikan metode tradisional sepenuhnya. HP itu bagus buat interaktif, cepat cari info, atau bikin kuis seru, tapi hal-hal seperti diskusi tatap muka, eksperimen langsung, dan tugas fisik tetap punya nilai yang nggak bisa diganti layar.
      Jadi yang paling ideal itu digabungkan, smartphone dipakai sebagai pelengkap, bukan pengganti. Dengan begitu, belajar tetap seimbang: ada teknologi, tapi tetap ada pengalaman nyata di kelas.

      Hapus
  47. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    Materi di atas menekankan bahwa ponsel bukan sekadar gangguan, tetapi juga bagian dari dunia siswa yang tidak bisa dihapus begitu saja. Karena itu, tugas pendidik bukan melarang, melainkan mengarahkan.
    Intinya:
    Bangun aturan bersama agar siswa merasa memiliki dan memahami alasan di balik batasan.
    Sediakan solusi praktis, seperti tempat pengisi daya, agar konflik berkurang.
    Gunakan ponsel sebagai alat belajar**, bukan musuh.
    Buat pelajaran lebih menarik**, sehingga perhatian siswa berpindah secara alami dari layar ke aktivitas kelas.
    Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan ponsel yang efektif muncul dari kombinasi hubungan yang kuat dengan siswa, batasan yang jelas, dan pembelajaran yang relevan Bukan melawan teknologi, tapi memanfaatkannya dengan bijak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rismardiana
      NPM: 2386206025
      Kelas: 5B PGSD

      saya setuju dengan pendapat Kornelia, ini memang cara yang paling masuk akal untuk kondisi siswa sekarang. Ponsel nggak bisa dipisahkan dari hidup mereka, jadi lebih baik diarahkan daripada dilarang total. Dengan aturan yang disepakati bersama, solusi praktis di kelas, dan pembelajaran yang seru, ponsel justru bisa jadi teman belajar. Kuncinya ada di hubungan yang baik dan batasan yang jelas bukan melawan teknologi, tapi pakai dengan bijak.

      Hapus
  48. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Menurut saya dari materi ini kaya, pendekatan seperti ini tuh terasa banget relevannya dengan kondisi siswa zaman sekarang. Kita nggak bisa pura-pura hidup di dunia tanpa ponsel, karena faktanya ponsel sudah jadi bagian identitas mereka. Yang keren dari strategi ini adalah guru tidak sekadar melarang, tapi mencoba memahami kebutuhan siswa dulu. Memberi waktu 1–2 menit untuk cek ponsel sebelum mulai belajar itu sederhana, tapi efeknya besar kayak memberi mereka kesempatan untuk “menutup pintu dunia luar” dulu sebelum masuk ke pembelajaran. Intinya, bukan ponselnya yang salah, tapi bagaimana kita mengelola ritme dan interaksi di kelas. Salut dengan pendekatan yang penuh empati ini.

    BalasHapus
  49. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Wah, jujur saya merasa pendekatan ini sangat manusiawi dan pas banget untuk generasi pascapandemi seperti sekarang. Siswa yang tumbuh besar di masa COVID memang punya pola kebiasaan dan ketergantungan teknologi yang berbeda. Jadi kalau guru tetap pakai cara lama yang super ketat, ya wajar kalau anak-anak makin memberontak. Yang saya suka, tulisan ini menunjukkan keseimbangan: ada aturan, tapi juga ada fleksibilitas. Ada batasan, tapi juga ada kesempatan. Penggunaan QR code, Kahoot, dan Canva itu bukan cuma keren, tapi juga cerdas karena mengalihkan ponsel dari gangguan menjadi alat belajar. Ditambah lagi ada pendekatan restoratif ketika aturan dilanggar; ini bukti bahwa guru sedang membentuk karakter, bukan sekadar menertibkan. Kelas seperti ini pasti terasa lebih hangat.

    BalasHapus
  50. Nama: Rismardiana
    NPM: 2386206025
    Kelas: 5B PGSD

    Sering kali sebagai guru merasa harus memegang kendali penuh soal ponsel, padahal kalau guru fleksibel sedikit saja, suasana kelas bisa jauh lebih tenang. Saya suka momen sebelum pelajaran dimulai ketika siswa diberi waktu cek ponsel dulu itu tuh kayak ‘waktu pendinginan’ buat mereka. Terus, ide memindahkan lokasi belajar kalau siswa mulai nggak fokus juga kreatif banget. Kadang perubahan kecil kayak pindah ke lorong aja bisa bikin suasana lebih fresh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin menambahkan pak, jadi intinya, materi ini mengingatkan bahwa guru bukan cuma pengajar, tapi juga arsitek suasana belajar. Dan untuk membangun suasana yang nyaman, kita harus mau bertemu siswa di titik tengah.

      Hapus
  51. Nama: Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206082

    Menurut saya, materi ini penting karena mengingatkan bahwa smartphone di kelas bisa membantu proses ajar mengajar dikelas. asal penggunaannya dikontrol dengan jelas. Kalau guru dan siswa sepakat: kapan boleh dan kapan tidak, maka hp/smartphone bisa jadi alat bantu, bukan gangguan. Dengan aturan yang jelas, suasana kelas bisa tetap fokus dan lancar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      setuju yormatiana, bahwa smartphone adalah alat bantu yang penting dalam proses belajar mengajar, asalkan penggunaannya dikontrol dengan jelas melalui kesepakatan bersama antara guru dan siswa mengenai kapan boleh dan kapan tidak, sehingga HP bisa mendukung fokus dan kelancaran kelas alih-alih menjadi gangguan.

      Hapus
    2. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A

      Saya setuju dengan pendapat Yormatiana di sini bahwa kunci utama ada pada kesepakatan antara guru dan siswa kita harus membuat aturan yang jelas agar HP tidak menjadi gangguan di kelas dan kita juga bisa menentukan waktu khusus untuk menyimpan HP dan waktu untuk memakainya sebagai alat belajar misalnya kita meminta siswa memakai HP hanya untuk mencari informasi atau untuk mengerjakan tugas di Canva dengan ini kita juga perlu merancang pelajaran yang aktif dan penuh gerakan supaya siswa tidak merasa bosan hanya menatap HP saja. Jika siswa merasa senang belajar maka mereka akan lupa dengan HP mereka sendiri, kita mendidik mereka untuk disiplin sejak dini melalui cara yang sederhana dan menyenangkan kita perlu menunjukkan bahwa belajar bersama teman jauh lebih seru daripada hanya menatap layar sendirian.

      Terima kasih.

      Hapus
  52. Nama: Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206082

    izin menanggapi pak, Setelah membaca materi tersebut, saya jadi bertanya-tanya, apakah penggunaan smartphone di kelas bisa benar-benar dikendalikan tanpa membuat siswa merasa dibatasi atau diawasi berlebihan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Yormatiana saya izin menanggapi pertanyaanya
      YA! penggunaan smartphone di kelas bisa benar-benar di kendalikan tanpa membuat siswa merasa dibatasi atau diawasi berlebihan.
      Dengan catatan guru membuat peraturan atau kebijakan yang disepakai bersama dengan para siswa, karena dengan adanya peraturan yang dibuat bersama ketika di terapkan siswa tidak akan merasa dibatasi dan diawasi secara berlebihan sebab sudah ada aturan dan kebijakan dalam penggunaan smartphone di kelas.

      Beberapa peraturan juga telah disampaikan pada laman ini,menurut saya peraturan yang telah ada pada laman ini cukup baik untuk diterapkan pada peserta didik dan bisa mengatasi pertanyaannya permasalahan yang kaka tanyakan,berikut saya kasih beberapa poin untuk bisa dijadikan sebagai acuan dalam membuat kesepakatan penggunaan smartphone di kelas diantaranya : guru bisa memberikan pengarahan dan pengertian kepada semua peserta didik mengenai cara yang baik dalam menggunakan smartphone di kelas, guru juga bisa melakukan pendekatan untuk memberikan arahan mengenai manfaat smartphone ketika digunakan untuk pendidikan dan bisa memberikan penjelasan mengenai dampak negatifnya juga agar menjadi pertimbangan bagi siswa yang mungkin masih melanggar aturan..

      sekian semoga bermanfaat...

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab ya yormatiana,Pengendalian smartphone di kelas dapat dilakukan secara efektif tanpa membuat siswa merasa diawasi berlebihan, asalkan aturan dibuat bersama melalui kesepakatan (kontrak sosial) yang menekankan kepercayaan dan solusi, seperti menyediakan tempat pengisian daya, daripada sekadar larangan otoriter.

      Hapus
  53. Materi ini membuka pandangan bahwa ponsel bukan musuh. Jika digunakan dengan tepat misalnya untuk QR code, survei, atau aplikasi pembelajaran ponsel bisa mendukung kreativitas dan menambah semangat siswa dalam belajar.
    Ketika pembelajaran aktif dan bervariasi, siswa lebih fokus dan tidak tergoda membuka ponsel. Ini mengingatkan bahwa kunci utama pengelolaan ponsel adalah kualitas pembelajaran, bukan sekadar aturan yang ketat.
    Komentar siswa tentang dunia yang berubah saat pandemi menunjukkan bahwa pola pikir generasi sekarang berbeda. Guru perlu fleksibel, adaptif, dan memahami alasan di balik perilaku siswa terkait ponsel.

    BalasHapus
  54. Nama: Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206082

    izin menanggapi pak,Setelah saya membaca materi tersebut, menurut saya materinya memang sangat benar dengan kondisi sekarang, karena hampir semua siswa sudah menggunakan smartphone. Meskipun smartphone bisa membantu belajar, tapi di sisi lain juga bisa bikin siswa jadi kurang fokus. Saya suka bagian yang menjelaskan bahwa kuncinya bukan melarang sepenuhnya, tapi bagaimana guru bisa mengatur penggunaannya supaya tetap bermanfaat.

    BalasHapus
  55. Nama: Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206082

    Izin memberikan tanggapan, ngatur anak-anak supaya enggak melulu liat HP itu PR banget. Kadang gurunya lagi semangat jelasin, eh ada aja yang diem-diem buka media sosial di bawah meja. Makanya, ide soal "HP dipakai buat belajar" (kayak buat quiz atau cari bahan) itu kena banget. Jadi, HP-nya enggak dilarang total, tapi malah jadi alat bantu yang yang menyenangkan.

    BalasHapus
  56. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Tujuannya bahwa ponsel bisa menjadi alat pendukung, membantu pembelajaran lebih abstrak misalnya menggunakan geogbra sangat efektif dalam pembelajaran bagun ruang dan persegi panjang, ini membuat perserta didik lebih efektif dalam pembelajaran matematika tersebut.

    BalasHapus
  57. Tujuannya bahwa ponsel bisa menjadi alat pendukung membuat pembelajaran matematika abstrak misalnya menggunakan geogbra sangat efektif dalam pembelajaran bangun ruang dan persegi panjang itu membuat perserta didik lebih efektif dalam pembelajaran tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk tambahan dalam menggunakan hp dengan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pemahaman tersebut menggunakan aplikasi geogbra untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat bangun ruang dan persegi panjang dimana peserta didik dapat memahami luas persegi panjang dan dapat menentukan luas persegi panjang tersebut

      Hapus
  58. Terima kasih bapak karena telah mambarikan materi ini, setelah saya baca materi bapak tentang mengelola ponsel ini, saya jadi kepikiran betapa besarnya tantangan yang dihadapi guru di era digital sekarang. Bagian awal yang menyebutkan bahwa siswa sering teralihkan karena teknologi itu benar-benar relate. Nah, saya saya suka sama ide dari materi bapak yang membahas tentang Bekerja Sama dengan Siswa untuk Membuat Aturan Penggunaan Ponsel. Menurut saya, ini langkah paling awal yang cerdas. Kalau aturannya datang dari guru saja, siswa pasti merasa tertekan atau diperintah. Tapi, kalau kita ajak mereka duduk bareng, diskusi, dan bikin kontrak sosial seperti yang Bapak sudah sebutkan, mereka akan merasa dihargai dan punya tanggung jawab. Ini bukan cuma soal disiplin, tapi soal membangun rasa memiliki terhadap kelas itu sendiri. Contoh aturan yang dikasih waktu sebentar buat cek ponsel saat transisi itu juga masuk akal, biar siswa tidak merasa terputus dari dunia luar tapi tetap menghargai waktu belajar.

    BalasHapus
  59. Saya juga suka materi bapak yang membahas tentang pendekatan di bagian kedua, bapak. Saya setuju kalau kita tidak bisa langsung marah atau menghukum saat ada pelanggaran, apalagi sampai menyangkut kesehatan mental siswa. Pendekatan restoratif itu penting. Jadi, alih-alih cuma menghukum, kita ajak siswa bicara kenapa mereka melanggar dan menjelaskan dampak negatif ponsel berdasarkan penelitian. Sebagai calon guru, saya merasa lebih nyaman dengan cara ini karena kita jadi mendidik, bukan cuma menertibkan. ​Selain itu, ide Menyediakan Pengisi Daya Ponsel di Kelas. Jujur, saya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dengan menyediakan tempat ngecas yang jauh dari meja mereka, siswa jadi merasa bahwa ponsel mereka tetap aman dan terkontrol, tapi pada saat yang sama mereka harus meletakkannya jauh-jauh. Itu cara yang halus untuk memisahkan siswa dari ponsel tanpa perlu rebutan atau menyimpannya di kantong khusus yang mungkin membuat siswa khawatir. Cara ini benar-benar mengurangi potensi konflik di kelas.

    BalasHapus
  60. Dandari materi bapak ini saya suka di bagian Mengintegrasikan Ponsel ke dalam Pembelajaran. Ini membuktikan bahwa kita sebagai calon guru tidak perlu anti sama teknologi. Ponsel itu bisa jadi alat bantu yang luar biasa kalau digunakan dengan benar. Contoh yang Bapak berikan, seperti pakai Google Forms untuk survei atau checkin emosional, itu simpel tapi dampaknya besar. Itu menunjukkan kita bisa menggunakan ponsel buat kegiatan akademik yang serius, bukan cuma buat main media sosial. Terus, penggunaan aplikasi seperti Kahoot, Duolingo, atau Canva juga sangat membantu. Dulu saya pikir Canva itu cuma buat desain biasa, tapi ternyata bisa dipakai buat tugas kelompok kreatif langsung dari ponsel siswa. Ini membuat materi jadi lebih hidup dan tidak membosankan. Jadi, hal utama bukan melarang, tapi mengubah peran ponsel dari pengganggu jadi pendukung belajar.

    BalasHapus
  61. Saya suka penjelasan bapak pada materi ini tentang Membuat Pelajaran Lebih Menarik. Karena jujur saja, kalau pelajarannya sudah membosankan, secanggih apapun aturan yang kita buat, siswa pasti akan cari cara buat melirik ponselnya. Jadi, root causenya memang ada di guru dan metode mengajarnya. Strategi seperti galeri keliling atau kegiatan kinestetik yang melibatkan gerakan itu cara yang bagus buat memecah rutinitas dan membuat siswa aktif. Apalagi kalau sampai memindahkan kegiatan ke lorong kelas, itu pasti bikin siswa kaget dan jadi fokus lagi. Ini menunjukkan bahwa guru harus kreatif dan mau beradaptasi. Terakhir, kesimpulan di materi bapak ini benar-benar merangkum semuanya. Mengelola penggunaan ponsel itu bukan tentang melarang sepenuhnya, tapi menciptakan keseimbangan. Dengan mengenal siswa, menetapkan batasan yang jelas, dan merancang pelajaran yang menarik, kita bisa membawa siswa ke proses belajar yang lebih fokus. Terima kasih, bapak, untuk materinya yang sudah memberi ilmu baru dan memberikan banyak ide buat kami yang sebentar lagi akan terjun mengajar.

    BalasHapus
  62. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, saya menilai penggunaan ponsel di kelas perlu diatur secara bijak. Guru memiliki peran penting dalam menetapkan aturan yang jelas bersama siswa. Kesepakatan bersama membantu siswa memahami batasan penggunaan ponsel. Pendekatan dialogis membuat siswa merasa dihargai dalam proses pembelajaran. Guru membangun kepercayaan melalui konsistensi penerapan aturan. Lingkungan kelas menjadi lebih kondusif ketika aturan dijalankan bersama. Pembelajaran pun berjalan lebih fokus dan bermakna.

    BalasHapus
  63. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, saya melihat strategi menyediakan pengisi daya sebagai langkah yang solutif. Guru menciptakan suasana kelas yang lebih tenang melalui cara tersebut. Siswa merasa dipercaya untuk mengelola ponsel mereka sendiri. Kepercayaan tersebut mendorong tanggung jawab siswa dalam belajar. Guru mengurangi konflik tanpa perlu larangan yang kaku. Kelas menjadi lebih nyaman dan tertib. Proses belajar pun berlangsung dengan lebih efektif.

    BalasHapus
  64. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, saya berpendapat ponsel dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat. Guru memanfaatkan aplikasi digital untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Siswa mengakses materi dan aktivitas pembelajaran melalui ponsel secara terarah. Penggunaan teknologi membuat pembelajaran terasa lebih relevan. Guru tetap menyediakan alternatif bagi siswa yang mengalami kendala. Semua siswa mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Tujuan pembelajaran pun tercapai dengan lebih optimal.

    BalasHapus
  65. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, saya sepakat bahwa pembelajaran menarik mengurangi distraksi ponsel. Guru merancang aktivitas interaktif untuk melibatkan siswa secara aktif. Siswa mengikuti pembelajaran dengan antusias melalui diskusi dan gerak. Variasi metode membuat kelas tidak membosankan. Guru menyesuaikan strategi saat siswa terlihat kurang fokus. Perubahan suasana belajar meningkatkan perhatian siswa. Keterlibatan siswa pun semakin meningkat.

    BalasHapus
  66. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, saya memahami bahwa mengelola ponsel bukan tentang melarang teknologi. Guru berusaha menyeimbangkan teknologi dan fokus belajar. Siswa belajar mengontrol penggunaan ponsel secara bertanggung jawab. Pendekatan manusiawi membantu siswa memahami alasan aturan. Guru membangun komunitas kelas yang saling menghargai. Hubungan positif mendukung suasana belajar yang aman. Pembelajaran berlangsung lebih bermakna bagi siswa.

    BalasHapus
  67. Setuju pak,pengalihan perhatian siswa oleh media sosial seperti TikTok menuntut pendidik untuk segera mengubah metode pengajaran agar menciptakan lingkungan kelas yang lebih menarik dan suportif

    BalasHapus
  68. Alih-alih menyerah, guru didorong untuk membangun komunitas kelas yang kuat sebagai strategi kunci untuk melawan disrupsi teknologi digital.

    BalasHapus
  69. Menurut saya,strategi membangun 'kontrak sosial' bersama guru dan siswa adalah kunci untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab siswa terhadap aturan penggunaan ponsel, meskipun pengawasan tetap diperlukan karena adanya kecenderungan siswa melanggar batasan.

    BalasHapus
  70. Menurut saya, bekerja sama dengan siswa dalam menyusun aturan penggunaan ponsel merupakan langkah yang sangat bijak. Ketika siswa dilibatkan, mereka merasa dihargai dan lebih bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang dibuat. Pendekatan ini juga membantu membangun disiplin positif tanpa tekanan, sehingga suasana kelas tetap kondusif dan saling menghormati.

    BalasHapus
  71. Saya sepakat bahwa pendekatan restoratif jauh lebih manusiawi dan mendidik dibandingkan hukuman semata. Dengan berdialog dan menjelaskan alasan di balik aturan, siswa dapat memahami dampak penggunaan ponsel secara berlebihan, baik bagi pembelajaran maupun kesehatan mental mereka. Cara ini mendorong kesadaran diri siswa dan membantu mereka belajar membuat keputusan yang lebih baik.

    BalasHapus
  72. Penyediaan pengisi daya di kelas menurut saya adalah solusi sederhana namun sangat efektif. Strategi ini mampu mengurangi kecemasan siswa terhadap baterai ponsel tanpa harus menimbulkan konflik dengan guru. Selain itu, penempatan pengisi daya yang jauh dari meja siswa secara tidak langsung membantu mengurangi distraksi selama pembelajaran berlangsung.

    BalasHapus
  73. Saya melihat integrasi ponsel dalam pembelajaran sebagai bentuk adaptasi guru terhadap kebutuhan generasi digital. Penggunaan aplikasi seperti Google Forms, Kahoot, atau Canva dapat meningkatkan partisipasi siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Selama penggunaannya terarah dan memiliki tujuan yang jelas, ponsel justru menjadi alat pendukung pembelajaran yang sangat efektif.

    BalasHapus
  74. Menurut pendapat saya, inti dari pengelolaan ponsel di kelas terletak pada kualitas pembelajaran itu sendiri. Ketika kegiatan belajar dirancang menarik, interaktif, dan melibatkan siswa secara aktif, keinginan untuk membuka ponsel akan berkurang dengan sendirinya. Guru yang fleksibel dan kreatif dalam mengelola kelas menunjukkan bahwa pembelajaran dapat bersaing dengan daya tarik teknologi digital.

    BalasHapus
  75. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: VB PGSD

    Setelah saya baca ulang materi ini mengajak kita bahwa smartphone tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi proses pembelajaran, tetapi dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif jika dikelola dengan baik, kunci keberhasilan terletak pada aturan penggunaan yang jelas, sosialisasi yang konsisten serta keterlibatan siswa dalam menyusun kesepakatan. Guru perlu menyediakan aktivitas pembelajaran menarik yang bermanfaat smartphone secara interaktif, maupun pencairan informasi, dengan pendekatan tersebut risiko distraksi dapat dikurangi dan siswa belajar mengembangkan kedisiplinan, tanggung jawab serta etika digital. Pada akhirnya pengelolaan smartphone yang bijak mendorong terciptanya lingkungan belajar yang relevan, interaktif daj sesuai tuntutan pendidikan abad ke-21.

    BalasHapus
  76. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Saya setuju dengan pandangan dalam materi ini bahwa ponsel bukan sepenuhnya musuh dalam pembelajaran, melainkan tantangan yang perlu dikelola dengan bijak. Menurut saya, pendekatan bekerja sama dengan siswa dalam membuat aturan justru terasa lebih manusiawi dan realistis. Dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa, ketika aturan dibuat bersama, kami cenderung lebih menghargainya karena merasa dilibatkan, bukan sekadar diperintah. Materi ini mengingatkan saya bahwa membangun kedisiplinan tidak selalu harus dengan larangan keras, tetapi bisa melalui komunikasi dan kepercayaan yang dibangun perlahan di kelas.

    BalasHapus
  77. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi ya, Pak. Menurut saya materi di atas sangat menarik karena menunjukkan bahwa ponsel bisa diubah menjadi alat belajar, bukan sekadar sumber distraksi. Sebagai mahasiswa, saya merasa metode seperti Kahoot, Google Forms, atau Canva memang membuat suasana belajar jadi lebih hidup dan tidak monoton. Kadang rasa bosan di kelas bukan karena materinya sulit, tetapi karena penyampaiannya terasa jauh dari keseharian kami. Integrasi teknologi seperti ini terasa lebih relevan dengan cara belajar generasi sekarang.

    BalasHapus
  78. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi lagi, Pak. Saya setuju bahwa kunci utama dari masalah ponsel di kelas sering kali bukan pada perangkatnya, tetapi pada desain pembelajarannya. Menurut saya, saat pelajaran terasa pasif dan satu arah, ponsel jadi pelarian yang paling mudah. Strategi seperti diskusi, galeri keliling, atau kegiatan yang melibatkan gerak membuat siswa merasa dilibatkan secara aktif. Dari pengalaman saya sendiri, kelas yang interaktif membuat waktu terasa lebih cepat berlalu tanpa harus tergoda membuka ponsel.

    BalasHapus
  79. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin memberikan saran Pak, berdasarkan materi diatas ini, penting bagi pendidik untuk terus bersikap fleksibel dan reflektif menghadapi generasi digital. Kutipan percakapan dengan siswa tentang perubahan dunia pascapandemi terasa sangat nyata dan menyentuh. Menurut saya, guru tidak dituntut untuk selalu sempurna atau serba tahu, tetapi mau belajar bersama siswa dan menyesuaikan diri dengan zaman. Materi ini memberi gambaran bahwa pendidikan bukan hanya soal mengajar, tetapi juga soal memahami konteks hidup peserta didik saat ini.

    BalasHapus
  80. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Saya setuju dengan gagasan bahwa ponsel sebaiknya tidak langsung diposisikan sebagai musuh di kelas, karena faktanya siswa memang hidup berdampingan dengan teknologi setiap hari. Dari pengalaman yang Bapak paparkan, terlihat bahwa aturan yang dibuat bersama siswa dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab. Izin bertanya Pak, menurut Bapak, bagaimana cara menjaga komitmen bersama tersebut dalam jangka panjang, terutama ketika motivasi siswa mulai turun atau saat mereka merasa aturan itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kelas?

    BalasHapus
  81. nama : bangkit dwi prasetyo
    npm : 2386206044
    kelas : 5b

    saya mau nanya nih bapak, dan teman teman semua, sekarang kan smartphone susah banget dipisahin dari kehidupan siswa. Menurut bpk dan teman", gimana sih cara ngatur penggunaan HP di kelas supaya tetap bisa dimanfaatkan buat belajar, tapi di sisi lain siswa juga nggak jadi terdistraksi atau malah kebablasan main HP?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Hallo kaka bangkit
      Kalo menurut saya nie kak kunci mengatur penggunaan HP di kelas itu bukan melarang total, tapi mengatur waktu, tujuan, dan batasannya dengan jelas. Di materi bapak juga sudah dijelaskan kok kak kadang-kadang HP boleh digunakan hanya saat memang dibutuhkan untuk belajar, misalnya untuk kuis, survei, atau tugas tertentu. Di luar itu, HP disimpan supaya fokus siswa tetap terjaga.

      Selain itu, penting juga nie kak melibatkan siswa dalam membuat aturan kelas. Kalau aturan penggunaan HP disepakati bersama, siswa biasanya lebih sadar dan tidak merasa dikekang. Jadi mereka tahu kapan boleh pakai HP dan kapan harus benar-benar fokus ke guru atau diskusi.

      Intinya kak, HP bisa tetap dimanfaatkan untuk belajar asal ada aturan yang jelas, tujuan yang tepat, dan kontrol dari guru, bukan dibiarkan bebas tanpa arah hehe

      Semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman

      Hapus
  82. Saya setuju bahwa melarang ponsel sepenuhnya bukan solusi yang tepat. Justru dengan mengintegrasikan ponsel ke dalam pembelajaran, seperti menggunakan Google Forms atau Kahoot, siswa bisa tetap fokus dan merasa pembelajaran lebih menarik.

    BalasHapus
  83. Pendekatan yang digunakan guru dalam materi ini menurut saya sangat bijak, karena lebih mengedepankan komunikasi dan pemahaman daripada hukuman. Pendekatan restoratif membantu siswa menyadari dampak penggunaan ponsel tanpa merasa disalahkan

    BalasHapus
  84. Sangat setuju dengan tips yang dibagikan, Pak. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di zaman sekarang kita tidak bisa menjauhkan anak dari smartphone, jadi kuncinya adalah pengelolaan yang bijak. Artikel ini memberikan solusi cerdas agar HP tidak menjadi pengalih perhatian, melainkan alat bantu belajar yang bermanfaat di kelas. Sangat membantu guru dalam menciptakan batasan yang jelas sekaligus melatih kedisiplinan digital bagi siswa. Terima kasih pak

    BalasHapus
  85. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Materi ini juga menekankan pentingnya membuat pembelajaran yang interaktif. Ketika siswa merasa terlibat secara aktif, perhatian mereka tidak mudah teralihkan ke ponsel. Ini menunjukkan bahwa metode mengajar sangat berpengaruh terhadap fokus siswa.

    BalasHapus
  86. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Menurut saya, mengelola smartphone di kelas adalah tentang keseimbangan. Dengan batasan yang jelas dan pemanfaatan teknologi secara kreatif, ponsel justru bisa menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan gangguan.

    BalasHapus
  87. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Menurut saya, kerja sama antara guru dan siswa dalam mengatur penggunaan ponsel membuat suasana kelas lebih nyaman. Siswa tidak merasa dikekang, tetapi tetap memahami batasan yang harus dipatuhi demi kelancaran pembelajaran.

    BalasHapus
  88. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Saya tertarik dengan ide menyediakan pengisi daya di kelas, karena cara ini memberi kepercayaan kepada siswa untuk mengatur ponsel mereka sendiri. Pendekatan seperti ini bisa mengurangi konflik dan membuat siswa merasa dihargai.

    BalasHapus
  89. Nama : Nadia Vega
    Kelas : 5C PGSD
    NPM : 2386206063

    Saya merasa artikel ini sangat relevan dengan kondisi pembelajaran masa kini, di mana smartphone sering kali menjadi gangguan sekaligus sumber belajar. Penjelasan tentang bagaimana guru bisa mengelola penggunaan smartphone secara bijak membuat saya berpikir bahwa teknologi tidak harus selalu dibatasi, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai alat pembelajaran yang efektif jika diarahkan dengan tepat. Artikel ini memberi saya banyak ide untuk menciptakan aturan yang seimbang yang tetap menghargai kebutuhan siswa, sekaligus menjaga fokus belajar di kelas.

    BalasHapus
  90. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Materi ini menunjukkan bahwa mengenal karakter dan kebiasaan siswa sangat penting dalam mengelola penggunaan smartphone. Setiap kelas memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga guru perlu bersikap fleksibel dan adaptif.

    BalasHapus
  91. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Menurut saya, penggunaan aplikasi pembelajaran melalui ponsel dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selama ada aturan yang jelas, teknologi justru bisa membantu siswa lebih aktif dan terlibat dalam pembelajaran.

    BalasHapus
  92. Nama : Leoni Wulandari
    Kelas : 5D
    Npm : 2386206088
    Saya setuju bahwa kunci utama mengelola smartphone di kelas adalah menciptakan pembelajaran yang menarik. Ketika siswa merasa pelajaran bermakna dan menyenangkan, mereka tidak akan terlalu bergantung pada ponsel sebagai pengalih perhatian.

    BalasHapus
  93. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Menurut saya aturan kelas memang lebih baik dibuat bersama siswa melalui kesepakatan bersama bukan hanya aturan dari guru saja dengan cara ini siswa merasa ikut terlibat dan lebih bertanggung jawab untuk menaati aturan tersebut memberi waktu sekitar 1–2 menit untuk mengecek ponsel sebelum pelajaran dimulai juga menurut saya cukup cerdas karena siswa jadi tidak penasaran lagi dan bisa lebih fokus saat belajar selain itu pendekatan yang bersifat restoratif lebih baik daripada langsung memarahi siswa jika siswa diberi penjelasan yang masuk akal misalnya tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan fokus belajar, mereka biasanya lebih mudah diajak bekerja sama.

    BalasHapus
  94. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Menurut saya, strategi ini termasuk trik psikologi yang bagus daripada HP siswa disita dan bikin mereka merasa cemas atau kesal lebih baik disediakan tempat untuk mengisi daya HP di pojok kelas dengan cara ini HP tetap jauh dari siswa tapi mereka tidak merasa barangnya diambil menurut saya cara ini lebih santai dan efektif untuk mengurangi gangguan saat belajar tanpa harus menimbulkan konflik antara guru dan siswa.

    BalasHapus
  95. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386296003

    Menurut saya kita memang tidak bisa melawan perkembangan teknologi jadi mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri menggunakan HP untuk hal positif seperti kuis lewat QR Code atau membuat desain di Canva bisa membantu siswa paham bahwa HP bukan hanya untuk main media sosial tapi juga bisa jadi alat belajar namun menurut saya guru juga perlu menyiapkan pilihan lain misalnya versi cetak supaya siswa yang HP-nya bermasalah tetap bisa ikut belajar dan tidak merasa tertinggal.

    BalasHapus
  96. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Menurut saya inti dari masalah HP di kelas sebenarnya ada di cara pembelajaran kalau pelajarannya menarik dan menyenangkan siswa biasanya tidak terlalu tertarik untuk main HP sering kali siswa membuka HP karena merasa bosan atau tidak dilibatkan dalam kegiatan belajar oleh karena itu strategi seperti diskusi melingkar atau belajar di luar kelas bisa jadi solusi yang baik karena siswa diajak bergerak dan aktif sehingga perhatian mereka lebih fokus pada pembelajaran dan bukan pada media sosial.

    BalasHapus
  97. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Pernyataan siswa tentang dunia yang sudah berubah itu tamparan buat kita para pendidik kita nggak bisa pakai standar zaman dulu untuk anak-anak yang tumbuh besar di masa pandemi kta harus terima kalau buat mereka teknologi itu sudah jadi bagian dari identitas jadi kuncinya bukan dilarang total tapi gimana caranya kita tuntun mereka biar bisa seimbang antara dunia digital dan tanggung jawab belajar.

    BalasHapus
  98. Nama: Dominika Dew Daleq
    Npm: 2386206051
    Kelas: V.A

    Ternyata materi ini sangat relevan sekali ya untuk kondisi pendidikan kita saat ini, pendekatannya juga realistis karena mengakui bahwa smartphone adalah bagian dari kehidupan siswa, bukan sesuatu yang bisa dihilangkan begitu saja, kekuatan materi ini ada pada pendekatan kolaboratif yang di mana melibatkan siswa dalam membuat aturan jauh lebih efektif daripada memaksakan larangan sepihak dengan ini juga siswa merasa dihargai dan lebih mungkin mematuhi aturan yang mereka bantu buat adapun strategi menyediakan pengisi daya di tempat yang jauh dari meja siswa cerdas dan praktis sekali dan integrasi ponsel ke pembelajaran lewat aplikasi seperti Kahoot dan Google Forms mengubah ponsel dari sumber gangguan menjadi alat belajar yang penting, materi ini ingat sediakan alternatif bagi siswa yang tidak punya akses teknologi, disini juga terdapat poin penting tentang membuat pelajaran lebih menarik sangat krusial, siswa lari ke ponsel karena bosan kalau pembelajarannya interaktif dan melibatkan gerakan, siswa tidak butuh ponsel untuk hiburan, pendekatan ini restoratif saat siswa melanggar aturan juga lebih edukatif daripada langsung memberi hukuman dan yang perlu diperhatikan juga materi ini butuh komitmen waktu dan energi ekstra dari guru tidak semua guru punya kapasitas atau dukungan untuk melakukan ini, terutama di sekolah dengan sumber daya terbatas, strategi ini juga perlu disesuaikan dengan konteks lokal setiap sekolah.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  99. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Menurut saya, memang tidak bisa dipungkiri bahwasannya anak zaman sekarang ini tuh sangat melekat sekali dengan yang namanya handphone. tapi saya suka sekali dengan idenya yang tidak cuma melarang saja. tapi malah diajak diskusi bikin aturan bersama. kadang kalau dilarang keras juga malah makin jadi anak-anaknya, maka dari itu mending dikasih wadah buat mereka menggunakan handphone tapi yang bermanfaat seperti ini.

    BalasHapus
  100. Hanifah
    5C
    2386206073

    Materi ini menjelaskan tentang isu penting dalam pendidikan yaitu smartphone sebagai tantangan sekaligus peluang. Oleh karena itu, kebijakan sekolah dan strategi guru harus seimbang antara disiplin dan pemanfaatan teknologi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju bahwa smartphone tidak bisa dihindari, tapi harus dikelola dengan bijak. Sebagai calon guru, saya melihat pentingnya membuat aturan sederhana, misalnya menggunakan smartphone hanya ketika ada tugas berbasis internet atau mencari informasi.

      Hapus
    2. Dan bagi guru juga dapat memanfaatkan smartphone untuk tugas atau kuis interaktif atau juga diskusi daring, sehingga siswa merasa perangkat mereka benar-benar mendukung pembelajaran. Dengan ini, smartphone dapat digunakan dengan bermanfaat untuk alat bantu belajar.

      Hapus
    3. Nama : Erlynda Yuna nurviah
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206035

      Hai Hanifah, saya sependapat nih kalau perlunya kebijakan sekolah dan guru yang harus seimbang antara disiplin dan pemanfaatan teknologi, semua itu kembali lagi pada konsistensi pihak sekolah .Aturan dan kebijakan yang sudah dibuat akan berjalan efektif apabila guru mampu menerapkannya secara konsisten, sehingga penggunaan teknologi di kelas tetap terarah tanpa mengurangi kedisiplinan siswa.

      Hapus
  101. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035


    Di materi yang dibahas diatas tentang cara mengelola peggunaan smarthphone dikelas, saya sangat tertarik dengan saran yang diberikan oleh Sarah ( 2023) tentang pentingnya kerjasama santar guru dan siswa dalam membuat sebuah atran dalam penggunaan hp di dalam kelas. Dari yang saya baca Sarah memberikan aturan yang tidak melarang sepenuhnya penggunaan Hp tetapii membatasi penggunaan hp hanya untuk kegiatan tertentu.
    Dulu waktu saya SMA, guru juga pernah membuat kontrak kesepakatan tentang penggunaan HP di dalam kelas. Saat pelajaran berlangsung, siswa tidak diperbolehkan bermain HP. Namun, karena mungkin pengawasannya kurang efektif, masih ada saja yang diam-diam bermain HP di dalam laci tanpa sepengetahuan guru. Dari pengalaman itu, menurut saya bisa ditambahkan solusi seperti menyediakan rak atau laci khusus di depan kelas untuk mengumpulkan HP. Dengan begitu, penggunaan HP bisa lebih terkontrol dan proses pembelajaran tetap berjalan dengan fokus dan efektif.

    BalasHapus
  102. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    saya ingin sedikit berbagi cerita..Dulu waktu SMA, saat HP sudah diperbolehkan dibawa ke sekolah, ada salah satu guru yang menurut saya cara mengajarnya kurang menarik. Di kelas, kami sebagai siswa lebih banyak pasif dan hanya mendengarkan, jadi wajar kalau perhatian mudah teralihkan ke HP. Dari tips yang dijelaskan di atas, hal ini membuka pemikiran saya bahwa guru juga perlu pintar mengalihkan pembelajaran agar lebih menarik dan siswa tidak cepat bosan. Seperti yang disampaikan Sarah, salah satu caranya adalah dengan menciptakan kelas yang interaktif, misalnya menggunakan strategi galeri keliling, lingkaran diskusi, atau kegiatan kinestetik yang melibatkan gerakan. Bahkan pembelajaran bisa dialihkan ke luar kelas atau ke lorong sekolah agar suasana tidak monoton. Selain itu, dijelaskan juga bahwa siswa saat itu tumbuh di era pascapandemi, di mana selama masa Covid-19 pembelajaran sangat bergantung pada HP. Dari situ, banyak siswa termasuk saya, jadi terbiasa dan cukup terdistraksi dengan penggunaan HP dalam pembelajaran.
    Jadi menurut saya perlunya guru untuk bisa mengembangkan banyak metode dan cara mengajar agar pembelajaran lebih asik, variatif, dan tidak membosankan, sehingga siswa bisa tetap fokus tanpa harus terus bergantung pada HP.

    BalasHapus
  103. OKTA PUTRI ADITIA
    2386206060
    5B (PGSD) eh jadi setuju juga ni sama tulisan i itu udah kayak pendamping hidup siswa gitu jadi bisa langsung dilarang kadang malah bikin ribut. ide buat sediakan pengisi daya di kelas itu lucu tapi nendang juga, kana kalau baterai habis siswa itu kepikiran buat ngambil HP terus keluar kelas deh, nah Kalau boleh nambahin tips nih mungkin bisa buat sistem stoplight di kelas (bendera warna merah/kuning/hijau) biar siswa tahu kapan HP boleh dipakai atau harus disimpen aja misalnya merah semua HP masuk tas/lemari, kuning boleh dipakai buat tugas, hijau bebas pakai gitu tapi ngga sembarangan dan tetap sopan, gitu sih Ini juga biar suasananya lebih ‘asik dan nggak kaku banget, tapi yah tetap fokus belajar biar Selalu happy kalau ada solusi yang ngajak siswa kerjasama daripada sekadar melarang.

    BalasHapus
  104. OKTA PUTRI ADITIA
    2386206060
    5B (PGSD) nah teman teman untuk cerita ini itu dapat membuka pandangan kita bahwa penggunaan smartphone di kelas sebenarnya tergantung cara mengaturnya emmm emang iya?. Kadang yang jadi masalah bukan HP nya kan yaah, tapi bagaimana mreka yang penggunaannya. untuk ku si yah, guru bisa kok kalau bisa lebih sering mengajak siswa berdiskusi soal dampak positif dan negatif smartphone supaya mereka sadar sendiri batasannyanya dimana, kan ada yang biasanya bodohamat giru loh sama praturan,. Contohnya, saat pembelajaran, HP bisa dimanfaatkan buat cari referensi cepat atau kuis online, tapi setelah itu disimpan lagi. Jadi siswa belajar tanggung jawab dan kontrol diri, bukan cuma ikut aturan.

    BalasHapus
  105. OKTA PUTRI ADITIA
    2386206060
    5B (PGSD) untuk cerita ini juga membuka mata soal penggunaan smartphone di kelas yang sering jadi dilema semuanya. Di satu sisi kan HP membantu, tapi di sisi lain juga HP gampang bikin siswa kehilangan fokus iya kan, jadi setuju kalau solusi yang dipakai bukan melarang, tapi mengatur dengan jelas. Masukannya, mungkin guru bisa bikin aturan yang sederhana tapi tegas, biar siswa nggak bingung kapan HP boleh dipakai dan kapan harus disimpan. jadi untuk pertanyaan ku ni bagaimana cara guru menjaga konsistensi aturan itu supaya tetap berjalan walaupun kondisi kelas lagi kurang kondusif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      Kelas : 5 C
      NPM : 2386206048

      Izin menjawab pertanyaan dari Okta ya.

      Menjaga konsistensi aturan ponsel saat kelas kurang kondusif dapat dilakukan dengan mengandalkan kontak sosial yang telah di sepakati bersama sejak awal,sehingga aturan tersebut menjadi tanggung jawab kolektif antara guru dan siswa. Guru juga perlu konsisten menjalankan rutinitas transisi,seperti menggunakan ice breaking atau latihan pernapasan untuk mengembalikan fokus siswa secara psikologis.Secara fisik penyediaan tempat pengisian daya yang jauh dari jangkauan siswa sangat membantu menjauhkan gangguan saat situasi kelas mulai riuh. Jika kebosanan menjadi pemicu siswa mulai melirik ponsel,guru harus segera beralih ke aktivitas kinestetik atau mengubah lokasi belajar agar perhatian siswa kembali ke materi ajar. Nah yang terakhir pendekatan empatik terhadap latar belakang siswa sebagai generasi digital akan menjaga kewibawaan guru dalam menegakkan aturan tanpa harus melihat emosional.
      Itu saja dari aku,terimakasih semoga bermanfaat ya okta dan teman teman lainnya.

      Hapus
  106. OKTA PUTRI ADITIA
    2386206060
    5B (PGSD) jadi ni Kalau dilihat lagi dari sisi siswanya, aturan soal smartphone itu kadang terasa berat ya kalau ngga di jelaskan alasanya apa, emmm dan cerita ini kasi kita ingatan kalau komunikasi itu sangat lah penting sebelum melakukan aturan, nahh untuk ku ni ya gimana kalau guru bisa mulai dari cara ngbrol ngajak anak anak untuk bikin aturan yang mreka juga sudah sepakati sebelum nya melakukan adanya praturan tentang hp di kelas gitu...

    BalasHapus
  107. Hanifah
    5C
    2386206073

    Dengan penggunaan smartphone di kelas bisa menjadi pedang bermata dua. Yang satu sisi dapat membuat siswa terdistraksi oleh media sosial atau game, yang satu lagi jika dapat dikelola dengan baik maka bisa menjadi sumber belajar yang bermanfaat.

    BalasHapus
  108. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5 C
    NPM : 2386206048

    Izin menanggapi materi lagi ya pak.
    Saya akan membahas keempat saran dari bapak. Tapi akan saya bagi bagi pembahasannya.
    Yang pertama akan saya bahas masalah Kolaborasi pada aturan kelas.
    Guru harus melibatkan siswa dalam pembuatan aturan penggunaan ponsel melalui kontrak sosial yang transparan. Pendekatan ini menumbuhkan kesadaran mandiri bagi siswa daripada rasa takut dengan memberikan waktu transisi untuk memeriksa ponsel sebelum belajar,siswa merasa di hargai sehingga fokus belajar yang dapat terjaga secara alami tanpa paksaan secara berlebihan dari pihak manapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      Kelas : 5 C
      NPM : 2386206048

      Yang kedua pembahasan tentang Fasilitas Pengisian daya strategis.
      Ini adalah saran bagus,menyediakan tempat pengisian daya yang jauh dari meja siswa adalah strategis cerdas untuk mengurangi konflik. Siswa tetap merasa memiliki kontrol atas perangkat mereka tanpa harus memegangnya terus menerus.Hal ini menciptakan suasana kelas yang lebih tenang dan bisa mengurangi kecemasan siswa akan batrai habis.

      Hapus
  109. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5 C
    NPM : 2386206048

    lanjut ke 3 yaa. Ponsel harus di pandang sebagai alat bantu belajar yang efektif jika dikelola dengan tepat. Penggunaan QR code dan Google forms untuk survei atau cek emosional membuat pelajaran lebih interaktif dan kekinian. Sebagian calon guru kita perlu merancang metode yang memanfaatkan kecagihan ponsel untuk belajar dan menambah pengetahuan aktif kepada peserta didik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      Kelas : 5 C
      NPM : 2386206048

      Izin ya pak yang terakhir. Gangguan ponsel sering kali muncul akibat metode mengajar yang monoton.Dengan menciptakan kelas yang interaktif melalui strategi kinestetik dan diskusi kelompok,perhatian siswa akan beralih dari layar ke aktivitas nyata. Guru yang kreatif mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik daripada sekedar berselancar di media sosial saat jam pelajaran.

      Hapus
  110. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5 C
    NPM : 2386206048

    Kita harus memahami bahwa peserta didik saat ini tumbuh besar dalam ekosistem digital,terutama pasca pandemi. Mengedukasi mereka tentang pentingnya kehadiran fisik tanpa merendahkan keterikatan mereka pada dunia digital adalah kunci. Pendekatan yang penuh empati membantu membangun hubungan guru dan murid yang harmonis dalam menghadapi teknologi di masa yang akan datang.

    BalasHapus
  111. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Tulisan ini sangat realistis dengan kondisi kelas saat ini. Ponsel memang tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola dengan bijak. Pendekatan yang melibatkan siswa terasa lebih manusiawi. Kelas jadi lebih tertib tanpa suasana tegang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka ide membuat aturan ponsel bersama siswa. Anak-anak jadi merasa dilibatkan, bukan sekadar diatur. Dengan begitu, mereka lebih mau bertanggung jawab. Hubungan guru dan siswa pun jadi lebih sehat.

      Hapus
    2. Memberi waktu sebentar untuk cek ponsel sebelum pelajaran itu ide cerdas. Siswa jadi tidak penasaran saat pelajaran dimulai. Transisi belajar terasa lebih tenang. Cara sederhana tapi berdampak besar.

      Hapus
    3. Penyediaan pengisi daya di kelas itu solusi yang jarang terpikirkan. Ini menunjukkan guru memahami kebutuhan siswa. Konflik soal ponsel bisa ditekan tanpa harus melarang keras. Suasana kelas jadi lebih nyaman.

      Hapus
    4. Pemanfaatan ponsel untuk pembelajaran digital sangat relevan. Aplikasi seperti Kahoot dan Google Forms membuat siswa lebih aktif. Belajar jadi tidak terasa membosankan. Teknologi akhirnya jadi teman, bukan musuh.

      Hapus
  112. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Canva dan aplikasi kreatif lainnya cocok untuk generasi sekarang. Siswa bisa mengekspresikan ide mereka dengan cara yang mereka suka. Guru juga tetap mengarahkan tujuan pembelajaran. Ini contoh adaptasi yang positif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagian tentang membuat pelajaran lebih menarik sangat mengena. Saat siswa terlibat aktif, keinginan membuka ponsel berkurang dengan sendirinya. Aktivitas bergerak dan diskusi membuat kelas lebih hidup. Belajar pun jadi pengalaman, bukan kewajiban.

      Hapus
    2. Pendekatan restoratif dalam menegur siswa terasa sangat mendidik. Anak tidak langsung dihukum, tapi diajak berpikir. Ini membantu mereka memahami alasan di balik aturan. Pembelajaran karakter ikut terbentuk.

      Hapus
    3. Cerita tentang percakapan dengan siswa remaja sangat reflektif. Guru dituntut terus belajar memahami generasi digital. Bukan melawan perubahan, tapi menyesuaikan diri. Sikap seperti ini patut diapresiasi.

      Hapus
    4. Tulisan ini menegaskan bahwa kunci pengelolaan ponsel adalah keseimbangan. Tidak melarang total, tapi juga tidak membiarkan bebas. Dengan strategi yang tepat, ponsel bisa mendukung pembelajaran. Ini panduan yang sangat relevan untuk guru masa kini.

      Hapus
  113. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    baik sebelumnya izin menanggapi,
    dari yang saya dapat simpulkan dari penjelasan kali ini, yaitu penggunaan ponsel di kelas memang jadi tantangan di era digital, tetapi bukan berarti harus dilarang sepenuhnya, kuncinya memang ada pada cara guru yang mengelolanya. Dengan mengenal siswa, membuat aturan bersama, juga memanfaatkan ponsel sebagai alat belajar, dan menciptakan pembelajaran yang menarik, kelas bisa tetap kondusif tanpa membuat siswa merasa tertekan. jadi menurut saya memang yang dibutuhkan bukan larangan yang keras, tetapi keseimbangan dan pendekatan yang lebih bijak serta relevan dengan dunia siswa sekarang.

    BalasHapus
  114. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    izin menanggapi kembali, dari penjelasan yang di bahas kali ini menurut saya cukup menarik, karena hal ini terjadi di era sekarang, selain karena kita dapat mengintegrasikan smartphone ke dalam pembelajaran, yang menarik lagi menurut saya yaitu, saat guru melakukan pendekatan bekerja sama dengan siswa dalam membuat aturan penggunaan smartphone, menurut saya ini sangat menarik karena guru di sini tidak langsung melarang atau mengambil smartphone siswa tersebut tetapi justru melibatkan siswa untuk menyusun aturan, dan cara ini menunjukkan bahwa siswa dapat dipercaya dan dianggap mampu bertanggung jawab.

    BalasHapus
  115. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    izin menambahkan sedikit lagi, menurut saya untuk kita yang akan jadi calon guru juga akan lebih bagus mengkombinasikan pembelajaran dengan cara tradisional juga smartphone, agar anak-anak tidak merasa bosan, contoh kegiatan yang bisa kita lakukan saat pembelajaran dengan menggunakan smartphone, yaitu bisa dengan kuis interaktif atau kuis cepat yang nantinya di isi oleh siswa,
    kemudian bisa juga dengan membuat poster atau infografis, biasanya pada mata pelajaran bahasa Indonesia ada tugas membuat poster, nah disini agar anak-anak tidak merasa bosan atau tertinggal, kita bisa mengalihkan lewat smartphone.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak