Fokus pada Proses, Bukan hanya NIlai (Angka)


Di banyak kelas, penilaian sering kali menjadi pusat perhatian. Siswa sering kali lebih terfokus pada angka yang tertera di ujian atau tugas mereka, daripada pemahaman yang sebenarnya mereka dapatkan dari materi tersebut. Ini adalah tantangan besar dalam pendidikan, karena terlalu banyak tekanan pada nilai dapat mengalihkan perhatian siswa dari tujuan utama pendidikan, yaitu pembelajaran yang bermakna. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan yang menekankan proses pembelajaran, bukan hanya hasil akhir berupa nilai.

sebagai pendidik, memiliki peran penting dalam menciptakan budaya kelas yang mendukung pembelajaran yang sesungguhnya. Dengan mengurangi tekanan nilai dan menekankan proses serta pemahaman, kita memberikan siswa kesempatan untuk berkembang secara optimal, tidak hanya sebagai individu yang menguasai materi, tetapi juga sebagai pembelajar yang selalu haus akan pengetahuan.

 Crystal Frommert (2021) memberikan saran dan bercerita kepada kita agar membantu siswa terhadap proses, bukan hanya nilai sebagai berikut penjelasannya:

Sesuaikan Bahasa Anda (dengan siswa dan orang tua):
Dulu, ketika seorang siswa kurang termotivasi untuk menyelesaikan tugas, saya sering memberi ancaman seperti, "Kamu harus menyelesaikannya, ini akan mempengaruhi nilaimu!" Sekarang, saya lebih memilih untuk memberi semangat dengan mengatakan, "Kamu sangat baik dalam menyederhanakan radikal, saya ingin melihat bagaimana kamu menerapkan keterampilan itu dalam teorema Pythagoras." Hasilnya tidak selalu sempurna, namun dengan mengubah fokus bahasa saya pada pembelajaran, budaya kelas saya pun perlahan berubah.

Begitu juga dengan komunikasi saya dengan orang tua. Alih-alih membahas nilai, saya lebih cenderung mengirimkan informasi tentang perkembangan keterampilan atau konsep yang dikuasai anak mereka. Jika diminta untuk memberi nilai, saya akan menyebutkan, "Devon mendapatkan 35 dari 42 poin pada ujian terakhir. Saya sarankan ia berlatih faktorisasi prima agar lebih siap untuk materi berikutnya." Ini mungkin terdengar seperti trik matematika, namun dengan menunjukkan angka 35 dari 42, saya dapat mengurangi stigma yang sering timbul dari nilai yang rendah.


Tunda Pemberian Nilai:
Saya pertama kali mendengar ide ini dari blog Kristy Louden yang menulis tentang bagaimana cara membuat siswa lebih memperhatikan umpan balik daripada nilai. Ia menyarankan untuk menunda pemberian nilai sehingga fokus siswa beralih ke umpan balik, bukan angka.

Bersama dengan rekan guru matematika lainnya, kami mencoba pendekatan ini. Di kelas, ujian dinilai dengan catatan dan komentar singkat, namun tanpa mencantumkan pengurangan poin atau nilai pada ujian tersebut. Setelah ujian dikembalikan, siswa diminta untuk merefleksikan dan melakukan perbaikan. Saya memberi umpan balik dan berdiskusi tentang konsep-konsep yang mereka perbaiki, tetapi tanpa menyebutkan angka. Awalnya, beberapa siswa merasa kesal, namun seiring waktu mereka mulai lebih fokus pada pemahaman daripada angka yang tertera.


Kurangi Risiko:
Penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan rumah atau penilaian formatif sebaiknya tidak diberi nilai berdasarkan tingkat keakuratannya. Beberapa tahun lalu, saya memutuskan untuk berhenti mencatat nilai pada pekerjaan rumah. Saya hanya mencatat siapa saja yang mengerjakannya, yang bisa digunakan saat konferensi siswa/orang tua. Saya menekankan bahwa pekerjaan rumah adalah kesempatan untuk berlatih dan mengeksplorasi. Untuk lebih mengurangi tekanan, saya memberi tahu siswa bahwa nilai kuis terendah mereka akan dihapus secara otomatis setiap semester, yang dapat mengurangi kecemasan mereka.


Sediakan Ujian Ulang:
Saya mendukung ide ujian ulang dan sering membaca blog Starr Sackstein tentang penilaian berbasis standar. Sackstein menyatakan bahwa ujian dan situasi "sekali dan selesai" tidak memberikan hasil terbaik bagi siswa, terutama karena waktu terbatas dan kebutuhan untuk menghafal. Di sekolah saya, kebijakan menyediakan ujian ulang untuk mengganti nilai ujian terendah diterapkan setiap semester. Jika kebijakan ini tidak ada di sekolah Anda, Anda bisa berinovasi di kelas untuk menawarkan ujian ulang dengan fokus pada pembelajaran, bukan sekadar untuk mengganti nilai.


Izinkan Penilaian Mandiri:
Sebagai seorang guru, saya sering mendengar keraguan, "Jika kita tidak memberikan nilai tradisional, apakah kita mempersiapkan mereka untuk kuliah?" Meskipun kita tidak bisa memprediksi apa yang akan dihadapi siswa setelah sekolah, ada tren yang berkembang di kalangan beberapa profesor perguruan tinggi yang mendukung penilaian ulang, karena penelitian menunjukkan bahwa nilai dapat mengurangi motivasi intrinsik siswa dan meningkatkan rasa takut gagal. Nilai juga seringkali tidak mencerminkan pembelajaran yang sesungguhnya.

Untuk mengatasi efek buruk dari sistem penilaian tradisional, saya memberikan siswa lebih banyak kendali atas penilaian mereka. Misalnya, saat memberikan proyek yang dinilai dengan rubrik, saya meminta siswa untuk menilai diri mereka sendiri terlebih dahulu, kemudian mendiskusikan hasil penilaian tersebut dengan mereka. Terkadang, nilai yang mereka berikan lebih rendah daripada yang saya tentukan, namun ini menjadi titik awal untuk percakapan produktif. Penilaian mandiri membantu siswa merasa memiliki pembelajaran mereka sendiri dan memperkuat keterampilan metakognitif mereka.


Referensi

Crystal Frommert. 2021. 5 Ways to Help Students Focus on Learning Rather Than Grades

254 Komentar

  1. Senang hati rasanya ketika menemukan guru yang mengajar kita seperti ini, tidak memberikan tekanan untuk dapat mencapai apa yang orang capai tapi mau bersabar untuk memberikan kesempatan pada kita untuk belajar dan membuktikan lagi, semoga saya ketika menjadi seorang guru saya juga memiliki pendirian seperti ini. Kadang sebagian pendidik tidak mempunyai pendirian seperti ini, ada yang keras dan tetap teguh untuk mengucapkan kata-kata yang membuat anak semakin drop saat nilainya anjlok, tanpa melakukan pendekatan dan bertanya kesuliatannya apa :) , melalu materi diatas juga mengajarkan saya untuk bisa menaruh kepercayaan pada anak murid untuk membuktikan bahwa diri mereka bisa.
    sehat semua bapak ibu guru yang memiliki pendirian seperti materi diatas..

    BalasHapus
  2. Nama: Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm: 2386206058
    Kelas: VB PGSD

    Izin menanggapi Pak, menurut saya materi ini mengajarkan bahwa pentingnya bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan yang menekankan pada proses bukan hanya hasil akhir perubahan nilai atau angka. Karena dengan adanya proses itu siswa dapat belajar memahami materi tersebut sehingga tidak berfokus pada angka atau nilai. Dengan saran di atas menegaskan sebagai pendidik untuk mengajarkan atau mendidik suatu pendidikan yaitu dengan berpikir dan berproses bukan hanya sekedar mengajar angka . Penting bagi siswa untuk belajar dari proses mereka terutama anak sekolah dasar karena dengan ini akan menumbuhkan rasa ingin tahu mereka dan tanggung jawab mereka terhadap diri mereka sendiri🙏

    BalasHapus
  3. Nama:Elisnawatie
    Kelas:VD
    NPM:2386206069

    saya sering melihat pak bagaimana banyak siswa bahkan orang tua lebih fokus pada nilai daripada pada proses belajar itu sendiri. Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai rendah, sering kali yang disoroti adalah angkanya, bukan usaha dan kemajuan yang telah ia capai. Padahal, melalui proses belajar yang bermakna, anak belajar tentang ketekunan, rasa ingin tahu, dan cara berpikir kritis hal-hal yang jauh lebih penting untuk kehidupan mereka di masa depan. Oleh karena itu, saya percaya bahwa sebagai pendidik, kita perlu menumbuhkan budaya belajar yang menekankan pemahaman dan proses, bukan sekadar angka di rapor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Saya setuju banget dengan Elisnawatie bahwa fokus ke nilai, bukan ke proses, itu masalah besar yang sering terjadi di mana-mana, bahkan orang tua pun ikut-ikutan cemas dengan angka di rapor. Padahal, kalau kita lihat materi yang dibahas, strategi seperti Tunda Pemberian Nilai dan Izinkan Penilaian Mandiri itu tujuannya memang untuk mengembalikan fokus itu ke tempat yang seharusnya yaitu pembelajaran yang bermakna dan menumbuhkan ketekunan, rasa ingin tahu, dan berpikir kritis pada anak. Dengan mengurangi tekanan nilai, kita kasih kesempatan ke anak untuk fokus pada feedback dan perbaikan, yang secara tidak langsung mengajarkan mereka bahwa usaha dan kemajuan itu jauh lebih penting daripada sekadar angka di kertas.

      Hapus
  4. Nama:Elisnawatie
    Kelas.VD
    NPM:2386206069

    Izin bertanya pak

    kegiatan atau pendekatan apa yang dapat dilakukan di kelas untuk menumbuhkan kesadaran siswa atau orang tua bahwa kegagalan juga bagian dari proses belajar pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Baik kak elisnawatie izin menjawab yah, untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, dimana guru dapat menggunakan beberapa pendekatan sederhana di kelas. Contohnya guru dapat menunda memberikan penilaian. Yang dapat guru lakukan terlebih dahulu adalah memberi umpan balik berupa catatan perbaikan. Dengan begitu, siswa akan belajar memperbaiki pekerjaannya tanpa merasa takut salah. Selain itu juga guru bisa menggunakan bahasa dapat berpengaruh daripada menekankan hasil akhir. Melalui pedekatan- pendekatan ini akan membantu siswa dan orang tua memahami proses, usaha dan juga penerbangan🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut saya mungkin guru itu bisa memberikan contoh seperti guru itu menceritakan pengalamannya saat guru itu gagal dan bangkit kembali, lalu guru bisa juga berikan ujian atau sebuah perbaikan dari sini guru menunjukkan kalau sebuah kesalahan atau kegagalan itu bisa untuk diperbaiki, dan juga guru bisa memberikan kata-kata yang suportif kepada siswanya tersebut dan orang tuanya bisa seperti memberi semangat seperti memberi tau ke anak “kalau ini bagian dari belajar bukan karena tidak bisa jadi ayo coba lagi diperbaiki kamu pasti bisa”.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, jadi menurut saya, guru bisa membiasakan refleksi sederhana setelah tugas atau ulangan, misalnya siswa cerita bagian mana yang sulit dan apa yang bisa diperbaiki, bukan cuma fokus nilainya; bisa juga pakai portofolio proses, memberi apresiasi pada usaha dan perkembangan kecil, serta menceritakan contoh tokoh atau pengalaman guru sendiri yang pernah gagal tapi belajar dari situ, lalu libatkan orang tua lewat komunikasi bahwa yang dinilai bukan hanya hasil akhir, tapi proses belajar anak dari waktu ke waktu.

      Hapus
    4. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut saya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut kita bisa menerapkan beberapa pendekatan seperti menyediakan kesempatan ujian ulang supaya siswa paham bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya melainkan awal untuk belajar lebih baik, memberikan umpan balik yang fokus pada proses perbaikan bukan angka, menunda pemberian nilai agar mereka lebih memperhatikan catatan dan saran kita, serta mengubah komunikasi dengan orang tua dari membahas angka menjadi membahas perkembangan keterampilan anak mereka misalnya "Anaknya sudah menguasai konsep ini tapi masih perlu latihan di bagian ini untuk materi selanjutnya" sehingga baik siswa maupun orang tua mulai melihat kesalahan sebagai bagian normal dari proses pembelajaran bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti.

      Terima kasih

      Hapus
  5. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Ada ga sih pak penilaian yang tolak ukur nya itu bukan angka gitu?. Jadi kayak kalau misalkan mau ngambil penilaian habis dari pembelajaran. Ntah itu di awal, di tengah maupun di akhir pembelajaran tolak ukurnya itu bukan nilai berupa angka gitu pak. Atau ga bisa yah?? Kayak kita bikin sistem penilaian baru yang tolak ukurnya itu nilai yang berupa angka.. Biar fokus dari mereka yang mengikuti pembelajaran dan akan melewati tahap penilaian itu bener bener fokus pada pemahaman materinya bukan dari tolak ukur berupa angkanya ini.

    *komen ke-23.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo ka Aulia saya izin menjawab pertanyaannya ya, ini pertama kalinya nih saya tanggapi pertanyaan ka Aulia hehe,saya akan menjawab sepengetahuan saya ya.

      menurut saya ada ya penilaian yang tolak ukurnya itu bukan nilai semata, biasanya ada juga penilaian yang berupa deskripsi dari pendidik, dulu tu zaman saya sekolah di bangku SD kami biasanya mendapatkan itu nilai berupa deskripsi dari tugas yang kami kumpulkan, jadi nilai deskripsi itu isinya kesesuaian jawaban kita terhadap soal dan kekurangan jawaban kita terhadap soal, selain itu ada juga tips tambahan dari pendidik kami untuk melengkapi kekurangan jawaban kami.

      Selain deskripsi ada juga penilaian menggunakan huruf, yaitu huruf : A,B,C,D dan E.
      nah setiap kumpul tugas tu ada juga penilai begini ka Aul, yang mempunyai arti masing-maasing, yaitu huruf A berati baik sekali, huruf B berarti baik, huruf C berarti cukup, huruf D berarti kurang, dan huruf E berarti kurang sekali.

      jadi menurut saya penilain itu bukan semata-mata tentang nilai berupa angka tapi banyak aspek yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur penilaian.

      semoga bermanfaat.

      Hapus
  6. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Alhamdulillah, saya punya mama bapak yang ga nuntut anak-anaknya harus dapat 100 atau sempurna. Bapak saya sering nanyain gimana sekolahnya gimana kuliahnya nak. Tapi yang Bapak saya maksud itu apa aja yang udah kamu dapat dari yg diajarkan di sekolah. Paham nda sama materi yang diajarkan tadi. Patuh nda sama peraturan yang dibuat di sekolah. Karena kata Bapak saya, Bapak nda minta kamu dapat 100. Tapi Bapak mau waktu kamu sekolah kamu betul betul belajar. Jadi anak yang patuh, karena guru mu di sekolah itu orang tua mu juga gitu Bapak saya blg.

    *komen ke-24 aul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      “Kalaupun saatnya ulangan, ya ulangan dengan baik. Percaya sama kemampuan mu kan sudah belajar betul betul kemarin. Karena Bapak nda mau kamu dapat 100 tapi kamu nda paham sama apa yang kamu kerjakan. Itu sama aja kamu bohongi dirimu sendiri dan bohongi banyak orang. Emang kalau dilihat belum kelihatan dampaknya sekarang. Tapi nanti kalau kamu sudah kerja terus nda bisa apa apa, itu semua yang kamu kerjakan di sekolah. Jadi, kalau kamu ulangan dapat 70 dan kamu udah betul betul ngerjain berarti sampe situ ple nak kamu pahamnya. Bapak nda minta apa apa selain sekolah yang betul. Kalaupun hasil kamu belajar nilainya tinggi Alhamdulillah”. Kira kira begitu Bapak saya bilang kalau udah mau abis ulangan dan waktunya liburan.

      *komen ke-25 aul.

      Hapus
  7. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Saya setuju banget Pak dengan judulnya : Fokus pada proses, bukan hanya nilai

    Kaya tamparan lembut gitu buat kita semua. Soalnya, di dunia belajar sekarang, anak-anak (mahasiswa juga sih hehe) sering banget diburu nilai, sampai lupa rasanya belajar itu bisa seru dan penuh dengan rasa penasaran. Padahal, proses belajar itu menurut saya ibarat petualangan, bukan cuma soal sampai di tujuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Waktu saya masih sekolah, jujur aja yaa, nilai tuh kayak penentu harga diri. Dapat nilai jelek tuh rasanya saya gagal jadi manusia. Tapi makin ke sini, saya sadar, yang bikin tumbuh itu bukan angka, tapi gimana kita berusaha, mikir, dan berani salah. Sayangnya, sistem pendidikan kita masih suka bikin nilai seakan-akan raja.

      Hapus
    2. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Di waktu saya mengajar bimbel privat juga, saya sering banget ketemu anak-anak yang takut salah. Mereka nunggu jawaban pasti aja Pak bukan mikir dulu. Kadang saya bilangin ke mereka

      "Gapapa kok salah, yang penting dicoba aja dulu"

      Pelan-pelan mereka mulai berani. Dan dari situ, proses belajarnya jadi hidup. Mereka ga cuma hafal, tapi alhamdulillah pelan-pelan mengerti.

      Hapus
    3. Nama : Nabilah Aqli Rahman
      NPM : 2386206125
      Kelas : 5D PGSD

      Reminder juga nih buat kita semua calon pendidik kalau fokus ke proses pembelajaran juga bikin kita sadar kalau tiap anak punya cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang suka gambar, ada yang harus gerak dulu, ada yang baru nyambung kalau diajak ngobrol atau bercerita. Saya pengen banget jadi guru yang jadi pendamping proses, bukan cuma 'penjaga' hasil.

      Menurut saya yang paling keren dari proses itu adalah anak-anak belajar jadi lebih sabar, belajar bangkit, dan masih banyak lagi pembelajaran yang akan mereka dapatkan. Mereka pelan-pelan akan belajar kalau gagal itu bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan. Dan itu pelajaran hidup yan ga bisa dikasih sama angka di rapor.

      Hapus
  8. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Artikel ini jadi bekal banget pokoknya buat kita semua calon pendidik supaya nanti kalau jadi guru, kita ga jadi guru yang cuma ngejar nilai, tapi yang juga hadir buat prosesnya. Karena nilai bisa hilang, tapi proses yang bermakna akan terus hodup di hati dan pikiran anak-anak yang kita ajar.

    BalasHapus
  9. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    Memang benar penilaian itu selalu menjadi pusat perhatian , siswa sering sekali berfokus pada angka yang tertera di ujian atau tugas mereka daripada pemahaman yang sebenarnya mereka dapatkan dari materi tersebut , bahkan pun orang tua kadang berpatokan pada nilai anak , saya sangat setuju dengan pendekatan yang telah dijelaskan oleh crystal frommert , bagaimana ia mengajak pendidik untuk mengubah pola berpikir untuk berkomunikasi, baik kepada siswa maupun orang tua , ketika guru lebih menekankan pada proses belajar dan perkembangan kemampuan saja , siswa akan lebih merasa kalau dirinya di hargai atas usahanya .

    Pendidikan itu bukan hanya tentang angka saja tetapi tentang gimana tumbuhnya rasa ingin tahu , kemampuan berpikir kritis dan adanya semangat belajar sepanjang hayat , kita sebagian calon seorang pendidik , kita perlu menanamkan nilai nilai tersebut ke dalam proses belajar agar siswa tidak hanya pintar di atas kertas saja tetapi juga bisa memahami makna dari apa yang mereka pelajari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D


      Wahh Saya setuju sekali dengan pendapat Oktavia. Memang benar, selama ini penilaian sering jadi pusat perhatian, sampai-sampai siswa lebih fokus ke angka daripada pemahaman yang sebenarnya mereka dapatkan. Bahkan orang tua pun kadang terpaku pada nilai, bukan proses belajarnya.
      Pendekatan yang dijelaskan Crystal Frommert itu menurut saya pas banget—guru diajak untuk mengubah cara komunikasi, baik ke siswa maupun orang tua, supaya fokusnya bukan hanya “berapa nilainya”, tapi “apa yang sudah kamu pahami” dan “sejauh mana kamu berkembang”.Kalau guru lebih menekankan proses, usaha, dan perkembangan kemampuan, siswa akan merasa dihargai sebagai pembelajar, bukan sekadar mesin pencetak nilai. Pendidikan itu kan bukan cuma soal angka, tapi tentang menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan semangat belajar sepanjang hayat.Sebagai calon pendidik, sudah seharusnya kita menanamkan nilai-nilai itu di kelas, supaya siswa bukan hanya pintar di atas kertas, tapi juga benar-benar mengerti, memaknai, dan bisa menerapkan apa yang mereka pelajari.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  10. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Baik pak saya setuju dengan pendapat materi di atas bahwa guru juga perlu menyesuaikan bahasa saat sedang berkomunikasi dengan siswa maupun orang tua dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami akan membuat pesan tentang pentingnya proses belajar lebih diterima orang tua. Ketika guru menggunakan bahasa yang ramah dan membangun siswa juga akan merasa lebih dihargai dalam setiap usaha yang bisa dilakukan siswa dengan itu mereka tidak takut melakukan kesalahan Karena fokusnya bukan hanya pada hasil akhir atau angka saja. Dengan cara ini juga membantu orang tua siswa memahami bahwa nilai bukan satu-satunya untuk melihat keberhasilan anak mereka. Namun dalam proses belajar yang paling penting adalah perkembangan kemampuan dan sikap dari siswa itu sendiri. Guru juga perlu untuk menanamkan bahwa siswa belajar adalah perjalanan bukan ajang perlombaan. Oleh karena itu komunikasi yang baik akan menjadi dasar untuk membangun motivasi belajar siswa yang lebih sehat dan kreatif.

    BalasHapus
  11. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Menunda pemberian nilai agar siswa lebih fokus ini adalah langkah yang sangat baik. Dengan langkah ini siswa bisa memahami apa yang perlu mereka perbaiki sebelum hanya melihat angka pada raport. Sering juga angka membuat siswa cepat puas atau malah kecewa karena tidak sesuai keinginan mereka namun tidak memahami makna dari nilai tersebut. Pada saat guru memberikan fokus yang detail dan membangun siswa bisa belajar dari apa kesalahan yang pernah mereka lakukan dengan lebih tenang. Hal ini bisa melatih mereka untuk lebih berpikir reflektif terhadap proses belajar yang mereka jalani. Fokus pada umpan balik membuat suasana kelas lebih mendukung pembelajaran bermakna. Guru bisa menjadi fasilitator yang membantu siswa berkembang bukan sekedar memberi nilai dengan begitu hasil belajar akan lebih meningkat secara alami karena siswa lebih paham prosesnya.

    BalasHapus
  12. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Izin menanggapi lagi pak dengan memberikan kesempatan siswa untuk ujian ulang dan penilaian mandiri adalah langkah yang lebih inovatif dalam ranah pendidikan. Melalui ujian ulang siswa bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya tanpa merasa gagal langkah ini menurut saya sangatlah efektif dan tidak membuat siswa langsung down saat mereka mendapatkan nilai ujian yang kurang memuaskan untuk mereka. Dengan ini juga lebih menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat belajar siswa lebih tinggi lagi. Penilaian mandiri juga membantu siswa mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri dengan begitu mereka bisa belajar menilai prosesnya juga tidak hanya menunggu penilaian dari gurunya. Pendekatan seperti ini membuat siswa menjadi lebih mandiri dan sadar dengan cara belajarnya. Guru di sini hanya berperan sebagai pembimbing yang memberi kepercayaan kepada siswa untuk lebih berkembang dengan cara mereka sendiri titik jika siswa menerapkan dengan konsisten strategi ini akan menciptakan budaya belajar yang lebih positif yang lebih berpusat pada proses siswa.

    BalasHapus
  13. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    setelah saya membaca materi ini, menurut saya materi ini sangat releven dikarenakan memberitahukan betapa pentingnya fokus pada proses belajar dari pada sekedar nilai. Pendekatan seperti umpan balik tanpa angka, ujian ulang, dan penilaian sendiri/mandiri membantu siswa untuk lebih memahami materi, mengurangi rasa kecemasan, dan juga dapat menimbulkan motivasi intrinsik untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Saya setuju banget dengan Nanda bahwa materi ini sangat relevan karena fokusnya yang dalam pada proses belajar. Nanda benar sekali bahwa strategi seperti umpan balik tanpa angka, ujian ulang, dan penilaian mandiri itu sangat membantu siswa untuk benar-benar menguasai materi, mengurangi rasa cemas, dan yang paling penting, memicu motivasi dari dalam (intrinsik). Intinya adalah, saat ancaman nilai kita hilangkan, anak-anak jadi didorong oleh rasa ingin tahu dan kepuasan karena berhasil menguasai sesuatu, bukan cuma didorong oleh angka 100.

      Pendekatan ini benar-benar mengubah cara pandang siswa tentang kesalahan. Di sistem lama, kesalahan itu adalah hukuman, tapi dalam kerangka berpikir ini, kesalahan adalah informasi yang harus diperbaiki, dan itu yang paling penting. Strategi Penilaian Mandiri misalnya, itu kan memaksa siswa untuk jujur tentang pemahaman mereka sendiri, lalu berdiskusi dengan guru. Ini mengajarkan mereka untuk jadi pembelajar yang mandiri dan bertanggung jawab atas proses mereka sendiri. Jadi, tidak hanya soal nilai, ini soal membentuk karakter pembelajar seumur hidup yang selalu haus akan pengetahuan, seperti yang juga disebutkan dalam materi.

      Hapus
  14. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    saya merasa diri saya setuju dengan inti dari pembahasan di atas, karena banyak siswa yang belajar hanya demi angka tinggi, dan bukan benar-benar memahami materi. Seperti beberapa saran yang telah diberikan dengan menunda pemberian nilai dan mengurangi risiko pada tugas rumah, ini adalah cara yang bagus karena dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Margaretha sangat tepat, dia menyoroti masalah utama di kelas banyak siswa yang belajar cuma demi angka tinggi. Saya sependapat, menunda pemberian nilai dan mengurangi risiko pada tugas rumah itu adalah cara elegan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat. Kenapa sehat? Karena kita menghilangkan stigma bahwa tugas rumah atau penilaian formatif itu adalah jebakan yang menentukan nasib rapor. Ketika tugas rumah hanya dicatat siapa yang mengerjakannya, itu langsung mengubah fokusnya menjadi kesempatan untuk berlatih dan eksplorasi, bukan penilaian akurasi.

      Selain itu, strategi komunikasi juga penting banget untuk mendukung lingkungan sehat ini, seperti yang dibahas di bagian Sesuaikan Bahasa Anda. Guru tidak lagi mengancam nilai, tapi fokus pada perkembangan keterampilan. Dan saat berkomunikasi dengan orang tua, kita lebih baik membahas skill atau konsep yang sudah dikuasai daripada cuma angka rendah. Misalnya, bilang Anak Anda dapat 35 dari 42 poin dan perlu latihan faktorisasi prima, itu jauh lebih membangun daripada cuma bilang Nilainya C. Ini membantu semua pihak (guru, siswa, orang tua) fokus pada solusi pembelajaran, bukan cuma pada masalah nilai yang rendah, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung proses belajar yang sebenarnya.

      Hapus
  15. Nama: Margaretha Elintia
    Kelas: 5C PGSD
    Npm: 2386206055

    saya ingin bertanya ni pak, dengan menunda pemberian nilai supaya siswa fokus perbaikan, pertanyaan saya bagaimana cara menjelaskan ide ini kepada orang tua yang biasanya hanya peduli pada nilai angka di rapor?, dan apakah ada strategi yang bagus untuk menjelaskan kepada orang tua bahwa umpan balik lebih berharga daripada nilai di rapor?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo ka Margaretha saya izin meberikan pandangan saya terkait pertanyaanya ya
      Sebagai seorang guru, guru harus bisa melakukan pendekatan kepada orang tua yang biasanya hanya peduli pada nilai angka dirapor, guru bisa mengundang orang tua untuk membahas bahwasannya kemampuan anak-anak seharusnya tidak hanya dilihat dari sudut pandang nilai rapor yang keluar saja, namun setiap anak-anak mempunyai kelebihannya sendiri untuk menunjukkan bahwasannya anak itu mampu bersaing dan mempunyai prestasi di bidang lain, guru juga bisa meminta orang tua untuk selalu mendukung hobi yang ada pada anak didik.
      Dan strategi yang bisa diterapkan guru untuk menjelaskan kepada orang tua bahwa umpan balik lebih berharga daripada nilai rapor itu bisa guru jelaskan keseharian anaknya saat pembelajaran, guru bisa memberikan penjelasan dan pengertian kepada orang tua bahwasanya anak didik ini sangat aktif dan sangat responsif kepada pertanyaan yang diajukan guru kepadanya, anak didik tersebut juga aktif dalam kegiatan kelompok kegiatan ekstrakurikuler lain, dan mampu memimpin temannya, sampaikan penjelasan secara baik-baik kepada orang tua tanpa menyinggung perasaan anak didik ataupun orang tua karena nilai rapor yang keluar tidak sesuai harapan.
      Itu saja dari saya semoga bermanfaat Kak...

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D
      menurut saya, Margaretha, kalau kita mau menjelaskan ide menunda pemberian nilai ke orang tua—yang biasanya fokusnya hanya ke angka rapor—kuncinya adalah komunikasinya harus sederhana, jelas, dan pakai contoh nyata.
      1. kita bisa bilang ke orang tua bahwa tujuan menunda nilai bukan untuk menghilangkan nilai, tapi supaya anak punya kesempatan memperbaiki dulu sebelum dinilai. Jadi, nilainya nanti tetap ada, tapi proses belajarnya diperkuat dulu.
      2. jelaskan bahwa kalau nilai diberikan terlalu cepat, anak sering langsung menyerah: “Oh, nilai saya segini… ya udah.”
      Padahal kalau kita kasih umpan balik dulu“Bagian ini sudah bagus, bagian ini perlu diperbaiki”anak jadi tahu harus memperbaiki apa. Hasil akhirnya justru bisa lebih baik.
      3.kita bisa pakai perbandingan yang gampang dimengerti:“Ibu/Bapak, kalau anak belajar naik sepeda, yang penting kan bukan langsung bisa atau tidak bisa, tapi proses latihannya dulu. Belajar di sekolah juga begitu. Umpan balik itu seperti pegangan saat belajar naik sepedabikin anak lebih percaya diri sebelum dilepas sendiri.”
      4.strategi yang bagus untuk menjelaskan ke orang tua adalah:
      1. Kasih contoh nyata hasil belajar anak sebelum dan sesudah diberi umpan balik.
      2. Gunakan bahasa positif, misalnya: “Kami ingin memastikan anak Ibu/Bapak benar-benar paham sebelum kami beri nilai final.”
      3. Tunjukkan buktinya lewat portofolio, tugas yang sudah direvisi, atau refleksi anak.
      4. Tekankan manfaat jangka panjang, bahwa keterampilan memperbaiki pekerjaan itu jauh lebih penting daripada angka sesaat di kertas.
      5. yakinkan orang tua bahwa rapor tetap penting, tapi pemahaman dan kemajuan anak jauh lebih berharga. Karena nilai itu hanya angka, sedangkan umpan balik membantu anak belajar seumur hidup.
      Jadi, menurut saya, komunikasi yang baik, contoh yang konkret, dan penjelasan manfaatnya ke masa depan anak itu akan membuat orang tua lebih menerima ide ini.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, ke orang tua bisa dijelaskan bahwa penundaan nilai itu bukan menahan hasil, tapi memberi waktu anak memperbaiki pemahaman supaya nilai akhirnya justru lebih kuat dan jujur, sambil ditunjukkan contoh konkret umpan balik guru dan hasil revisi siswa agar mereka melihat perkembangan nyata, lalu tekankan bahwa umpan balik membantu anak tahu apa yang harus diperbaiki dan menumbuhkan tanggung jawab belajar, sementara nilai rapor tetap ada sebagai ringkasan akhir, bukan satu-satunya ukuran kemampuan anak.

      Hapus
    4. dias pinasih
      kelas 5b pgsd
      2386206057
      izin menjawab pertanyaannya ya margaretha elintia Menurut saya, cara menjelaskan ide menunda pemberian nilai kepada orang tua bisa dimulai dengan menyamakan tujuan terlebih dahulu, yaitu bahwa guru dan orang tua sama-sama ingin anak berkembang, bukan sekadar mendapatkan angka tinggi di rapor. Guru dapat menjelaskan bahwa nilai angka hanyalah hasil akhir, sedangkan yang lebih penting adalah proses belajar anak dan kemampuan yang sedang dikembangkan.
      Strategi yang bisa digunakan adalah dengan menyampaikan umpan balik yang konkret dan spesifik. Misalnya, guru menjelaskan apa yang sudah dikuasai anak, bagian mana yang masih perlu diperbaiki, serta langkah apa yang sedang dan akan dilakukan guru untuk membantu anak berkembang. Dengan begitu, orang tua bisa melihat bahwa anaknya tetap belajar dan bertumbuh meskipun nilai akhir belum diberikan.
      Dengan komunikasi yang terbuka, bahasa yang positif, dan fokus pada perkembangan anak, orang tua diharapkan dapat memahami bahwa menunda nilai bukan berarti mengabaikan penilaian, tetapi justru membantu anak belajar dengan lebih bermakna dan berkelanjutan.
      Selain itu, guru juga bisa menunjukkan contoh nyata dampak umpan balik, seperti peningkatan keaktifan siswa di kelas, keberanian bertanya, atau kemajuan dalam menyelesaikan tugas. Hal ini membantu orang tua memahami bahwa umpan balik memberi arah perbaikan yang jelas, bukan sekadar label angka.

      Hapus
  16. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    izin menanggapi materi diatas pak materi ini menyajikan argumen yang sangat kuat dan strategis mengenai perlunya pergeseran fokus dalam penilaian, dari sekadar hasil akhir berupa nilai (angka) menjadi proses pembelajaran dan pemahaman yang bermakna. Saran-saran yang diberikan oleh Crystal Frommert menawarkan solusi praktis untuk mengubah budaya kelas dan mengurangi kecemasan siswa terhadap nilai.

    BalasHapus
  17. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    pengalaman Crystal Frommert memberikan kerangka kerja holistik bagi pendidik. Perubahan dari fokus nilai ke fokus proses adalah langkah penting untuk meningkatkan motivasi intrinsik dan memastikan siswa berkembang menjadi pembelajar seumur hidup, bukan hanya pengejar angka.

    BalasHapus
  18. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Setuju sekali bahwa seorang guru harus menekankan pada proses pembelajaran bukan hasil akhir berupa nilai, jika siswa hanya fokus mengejar nilai maka mereka tidak akan memahami makna di balik ujian atau tugas yang mereka kerjakan. Hal ini akan mendorong siswa untuk belajar secara instan cuman mengejar nilai, sebagai seorang pendidik perlu menakankan pentingnya memandang pembelajaran sebagai suatu perjalanan dengan mengurangi tekanan nilai dan menekankan proses pemahaman menjadikan siswa sebagai pembelajar yang selalu haus akan pengetahuan. Dengan cara menerapkan saran dari Crystal Frommert langkah-langkah ini akan menanamkan pembelajaran yang bermakna pada siswa

    BalasHapus
  19. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Izin menanggapi pak...
    Jika siswa hanya fokus pada hasil akhir berupa nilai atau angka yang dapat menjadi penyebab munculnya perilaku menyontek seperti yang terjadi di kelas saya di masa sekolah mereka saling berbagi jawaban saat ujian dan masuk 10 besar, ini akan sangat berdampak pada pengetahuan mereka. Saya jadi bertanya-tanya apakah jika kita hanya fokus pada nilai dapat menjadi penyebab kita lupa bahwa telah belajar materi tersebut di masa sekolah? contohnya saat seorang dosen bertanya materi dan memberitahu bahwa kalian pernah belajar materi ini di masa sekolah namun diri ini lupa itu kapan

    BalasHapus
  20. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPN : 2386206113

    Ijin menanggapi Pak, dari materi ini saya jadi lebih paham bahwa ternyata fokus yang berlebihan pada nilai bisa membuat siswa lupa bahwa tujuan utama sekolah itu adalah belajar, bukan sekadar angka. Dan benar juga, Pak, bahwa banyak siswa akhirnya tertekan karena nilai, padahal pemahaman mereka belum tentu meningkat hanya karena dapat angka bagus.

    Yang menarik buat saya, Pak, adalah bagaimana Crystal Frommert mengubah cara komunikasinya. Ketika beliau berhenti menakut-nakuti siswa dengan nilai dan mulai menekankan kemampuan mereka, budaya kelasnya ikut berubah. Menurut saya, Pak, pendekatan seperti ini bikin siswa merasa dihargai karena prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya.

    BalasHapus
  21. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 23862061123

    Saya mau bertanya pak, dari semua strategi seperti mengubah bahasa, menunda nilai, memberi ujian ulang, dan penilaian mandiri, mana yang paling penting dilakukan terlebih dahulu untuk membangun budaya belajar yang lebih sehat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Dita Ayu Safarila
      NPM : 2386206048
      Kelas : 5 C
      Izin menjawab pertanyaan aprilina awing dengan pengetahuan saya sendiri. Jadi mulailah fokus untuk mengganti kata kata dari fokus ke nilai menjadi fokus ke usaha.dan jika harus memilih satu langkah pertama yaitu mulai dari kata kata yang keluar dari guru dan orang tua. mengubah bahasa komunikasi dan fokus adalah yang paling efektif karena mengubah budaya bukan sekedar sistem. Budaya yang di bangun atas apresiasi proses,usaha dan pertumbuhan akan secara otomatis membuat strategi yang lain menjadi efektif.setelah lingkungan komunikasi sehat,barulah strategi lain seperti menunda nilai atau ujian ulang juga akan efektif pastinya

      Hapus
    2. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
      Kelas : VB PGSD
      Npm : 2386206035

      Hai Apriliana Awing saya izin menjawab ya... saya setuju dengan apa yang dijawab oleh dita tetapi saya izin menambahkan lagi ya...untuk mengubah budaya belajar siswa agar lebih sehat dengan acuan empat strategi yang disebutkan diatas, semua strategi ini penting jika diurutkan agar hasilnya maksimal... adapun urutanya yaitu
      1. Mengubah bahasa
      stategi ini paling penting dilakukan terlebih dahulu, karena cara guru berbicara sangat berpengaruh pada perasaan siswa. contohnya dari kata " ini salah semua" bisa diganti menjadi " Ayo dilihat lagi yang mana yang perlu diperbaiki". bahasa yang ramah dan suportif, dan berfokus pada proses akan menciptakan rasa aman psikologis siswa.
      2. Menunda Nilai
      Setelah itu guru bisa mengalihkan perhatian siswa dari angka ( nilai) menuju proses pemahaman. Strategi seperti ini sangat efektif, sehinga siswa dapat menerima kritik serta umpan baik tanpa adanya tekanan.
      3. Memberi ujian ulang
      Memberikan ujian ulang adalah kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki hasil belajarnya. Ini cocok dilakukan ketika siswa sudah memahmi apa yang perlu diperbaiki. Ini mengajarkan bahwa belajar adalah sebuah proses berulang bukan sekedar ujian lalu selesai.
      4. Penilaian Mandiri
      Ini merupakan langkah terakhir dan dilakukan ketika siswa sudah cukup dewasa dalam belajar dan sudah biasa menerima umpan balik. Siswa dapat menilai kemampuanya sendiri,agar berhasil kondisi siswa harus merasa aman , jujur dan memahami tujuan pembelajaran.Siswa mengisi lembar refleksi seperti " Bagian mana yang sudah saya pahami?".

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, yang paling penting dilakukan dulu adalah mengubah bahasa penilaian, karena dari cara guru berbicara soal nilai, salah, dan proses belajar itulah pola pikir siswa terbentuk; kalau sejak awal guru konsisten pakai bahasa yang menekankan usaha, perbaikan, dan belajar dari kesalahan, siswa jadi lebih aman mencoba, baru setelah itu strategi lain seperti menunda nilai, ujian ulang, atau penilaian mandiri akan lebih mudah diterima dan berjalan efektif.

      Hapus
  22. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Saya juga setuju, Pak, dengan ide menunda nilai dan memberikan umpan balik dulu. Dari cerita itu terlihat bahwa siswa jadi lebih fokus memperbaiki pemahaman mereka, bukan sekadar mengejar angka. Ditambah lagi strategi seperti mengurangi risiko dengan tidak memberi nilai pada PR, memberi kesempatan ujian ulang, dan melibatkan siswa dalam penilaian mandiri—semuanya membuat proses belajar terasa lebih manusiawi dan tidak menakutkan. Jadi menurut saya, Pak, pendekatan seperti ini bisa membantu siswa belajar dengan lebih tenang dan lebih jujur menilai kemampuan mereka.

    BalasHapus
  23. Izin menanggapi materi ini dalam materi ini memberikan pandangan yang penting tentang bagaimana kita seharusnya menilai siswa di sekolah.seringkali,guru terlalu fokus pada nilai atau angka yang tertera di kertas ujian, dan melupakan proses belajar yang sebenarnya dialami oleh siswa.padahal, proses belajar inilah yang seharusnya menjadi fokus utama kita sebagai pendidik. dengan menekankan pada proses, kita dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan keterampilan yang lebih relevan, serta menumbuhkan minat dan motivasi belajar yang lebih tinggi.fokus pada proses, bukan hanya nilai, adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna dan efektif.dengan menekankan pada proses belajar, kita dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam, keterampilan yang lebih relevan, serta minat dan motivasi belajar yang lebih tinggi. Selain itu,guru juga dapat membantu siswa merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk terus belajar dan berkembang.

    BalasHapus
  24. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Tambahan lagi terkait materi ini dari saya jadi menurut saya materi ini juga memberikan contoh konkret tentang bagaimana kita dapat mengubah cara kita berbicara kepada siswa dan orang tua tentang nilai.dengan memberikan ancaman atau tekanan untuk mendapatkan nilai yang tinggi, kita dapat memberikan pujian dan dukungan atas usaha dan kemajuan yang telah mereka capai. dengan memberikan umpan balik yang konstruktif dan fokus pada proses belajar, kita dapat membantu siswa merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk terus belajar dan berkembang.serta materi ini mengingatkan kita bahwa peran kita sebagai pendidik bukan hanya untuk memberikan nilai atau angka kepada siswa, tetapi juga untuk membantu mereka mengembangkan potensi diri mereka secara optimal.dengan memberikan umpan balik yang konstruktif, fokus pada proses belajar, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, kita dapat membantu siswa mencapai kesuksesan tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan mereka di masa depan.

    BalasHapus
  25. Terima kasih bapak atas materi nya, saya suka pada materi bapak pada Bagian "Kurangi Risiko" dan "Sediakan Ujian Ulang" itu benar-benar harus diterapkan. Saya setuju banget dengan ide bahwa pekerjaan rumah atau penilaian formatif tidak seharusnya diberi nilai angka yang kaku. PR seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk berlatih dan bereksplorasi tanpa takut nilai mereka jeblok. Ketika PR diberi nilai, siswa cenderung hanya fokus pada keakuratan, bahkan mungkin menyalin jawaban, padahal tujuannya adalah melatih pemahaman.
    ​Selain itu, kebijakan Ujian Ulang yang mengganti nilai terendah, atau minimal fokus pada pembelajaran ulang, juga sangat keren. Ujian "sekali dan selesai" itu tidak realistis karena membatasi kesempatan siswa untuk berkembang. Manusia tidak didesain untuk menghafal mendadak, terutama jika ada kecemasan tinggi. Dengan adanya ujian ulang, siswa yang awalnya stuck di konsep tertentu punya kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa mereka sudah menguasai materi setelah berusaha dan belajar dari kesalahan pertama. Ini mengirimkan pesan kuat bahwa pembelajaran itu adalah proses pertumbuhan, bukan hanya momen penilaian yang tunggal.

    BalasHapus
  26. Saya pribadi merasa terinspirasi oleh saran "Sesuaikan Bahasa Anda" yang dicontohkan oleh Crystal Frommert. Perubahan kecil dalam komunikasi ternyata bisa mengubah budaya kelas. Daripada menggunakan bahasa yang mengancam "Ini akan mempengaruhi nilaimu!" beralih ke bahasa yang memotivasi dan menghargai proses "Saya ingin melihat bagaimana kamu menerapkan keterampilan ini", itu dampaknya besar. Ini menunjukkan bahwa guru melihat usaha siswa, bukan hanya hasil akhirnya.
    ​Hal ini juga terhubung erat dengan poin "Izinkan Penilaian Mandiri". Ketika siswa diminta menilai diri mereka sendiri dengan rubrik, mereka dipaksa untuk berpikir secara kritis tentang kualitas pekerjaan mereka, bahkan terkadang mereka memberi nilai lebih rendah dari yang guru berikan. Ini membuktikan bahwa mereka sudah mulai mengembangkan kemampuan metakognitif kemampuan untuk memahami dan mengendalikan proses berpikir mereka sendiri. Penilaian jadi terasa seperti percakapan produktif antara guru dan siswa, bukan sekadar pemberian hukuman atau hadiah berupa angka.

    BalasHapus
  27. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    Sangat bagus dan menarik materi ini,strategi penilaian yang di angkat yaitu beralih dari fokus ke nilai menjdi fokus ke proses adalah langkah penting dalam pendidikan yang child centered. Hal ini menjaga membantu kesehatan mental siswa SD dengan mengurangi kecemasan akan nilai dan membentuk pandangan positif terhadap proses belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Menurut saya, komentar Dita itu mengena banget karena langsung menghubungkan strategi penilaian ini dengan isu kesehatan mental siswa, terutama anak SD. Benar, bahwa fokus pindah dari nilai ke proses itu adalah langkah penting untuk menciptakan pendidikan yang berpusat pada anak (child centered). Ketika guru mengurangi tekanan nilai, kecemasan anak-anak saat menghadapi tugas atau ujian juga pasti berkurang. Anak-anak jadi lebih santai dan berani mencoba, karena mereka tahu kesalahan itu bukan akhir dunia, tapi bagian dari belajar. Dengan begitu, kita bisa membantu mereka membentuk pandangan yang positif terhadap belajar, bukannya melihat sekolah sebagai tempat yang penuh ancaman angka, tapi sebagai tempat yang aman untuk eksplorasi dan perbaikan, seperti yang dilakukan saat guru menunda pemberian nilai dan menggantinya dengan catatan perbaikan.

      Strategi Kurangi Risiko yang dibahas di materi itu sangat mendukung poin Dita ini. Misalnya, pekerjaan rumah (PR) yang tidak dinilai berdasarkan akurasi, tapi hanya dicatat siapa yang mengerjakannya, langsung menghilangkan beban harus sempurna. Ini mengubah PR menjadi kesempatan buat berlatih dan eksplorasi. Apalagi dengan adanya kebijakan Ujian Ulang, itu mengirim pesan yang jelas ke siswa bahwa penguasaan materi lebih penting daripada nilai sekali jadi. Dampaknya besar lho, terutama untuk anak SD yang sangat sensitif dengan penilaian. Mereka jadi tahu kalau mereka gagal di percobaan pertama, mereka masih punya kesempatan kedua untuk menunjukkan bahwa mereka sudah menguasai materinya, yang mana ini sangat baik untuk menjaga semangat dan mental mereka.

      Hapus
  28. Nama : Dita Ayu Safarila
    NPM : 2386206048
    Kelas : 5 C
    namun ada sedikit pertanyaan dari saya pak,Jadi ketika orang tua murid atau wali murid itu khwatir terhadap nilai anak mereka pada sehari hari belajar atau nilai raport anak mereka,strategi komunikasi seperti apa yang paling tepat untuk mengedukasi mereka mengenai pentingnya fokus pada penguasaan konsep dan perkembangan keterampilan sebagai indikator keberhasilan jangka panjang,bukan hanya akhir? namun juga ada orang tua yang membiarkan anak nya untuk tidak belajar dirumah atau tidak peduli tetapi peduli pada saat anak sudah mendapatkan nilai yang jelek?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Hallo Dita izin menjawab yh. Menurutku, kalau orang tua khawatir soal nilai, sebaiknya di ajak ngobrol pelan-pelan dan jelasin dulu proses belajarnya, bukan cuma angka di rapor. Contoh, anak yang paham konsep itu mungkin nilainya nggak langsung tinggi, tapi ilmunya lebih nempel dan ke depannya lebih siap. Jadi fokusnya pelan-pelan aku geser ke apa yang sudah anak bisa dan perkembangan apa yang sudah kelihatan, baru setelah itu ngomongin nilainya. Kalau ketemu kasus anak yang jarang belajar di rumah atau orang tua yang baru panik pas nilai jelek, sebaiknya ngajak kerja sama, bukan nyalahin. Misalnya aku bilang, yuk, kita bantu sama-sama, di sekolah bantu dari sisi materi, di rumah orang tua bisa bantu ngingetin dan nemenin belajar sebentar aja tiap hari. Dengan cara itu, orang tua tetap merasa didengar, tapi mereka juga paham kalau yang penting bukan cuma nilai, tapi usaha dan kebiasaan belajar anak pelan-pelan.

      Terimakasih😊

      Hapus
    2. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Dita, jadi menurut saya, strategi komunikasi yang tepat adalah komunikasi yang rutin, jelas, dan pakai contoh konkret, misalnya guru menjelaskan ke orang tua bahwa fokus ke penguasaan konsep dan keterampilan itu membantu anak lebih siap jangka panjang, bukan cuma untuk rapor tapi juga kebiasaan belajar dan karakternya, sambil menunjukkan progres anak dari tugas, catatan umpan balik, atau hasil perbaikan, lalu untuk orang tua yang baru peduli saat nilainya jelek, guru bisa ajak ngobrol tanpa menyalahkan dan menekankan bahwa pendampingan kecil di rumah jauh lebih berdampak kalau dilakukan sebelum nilai turun, bukan setelahnya.

      Hapus
  29. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Terkadang saya juga masih seperti itu pak , nilai berupa angka yang menjadi patokan saya dalam hasil belajar hehe. Sebagai calon guru materi ini menjadikan pikiran saya terbuka bahwasanya proses pemahamanlah yang lebih penting dibanding hasil akhir yang berupa angka. Dulu ketika masih SD ada juga guru saya yang berucap " kalau cepat mengumpulkan nilainya nanti 100" jadi itulah yang membuat saya mengerjakan dan mencari jawaban hanya sekedar menulis bukan benar - benar memahami. Komunikasi guru dengan orangtua juga sangat penting, jika guru sudah menerapkan pemahaman bahwa nilai itu tidak selamanya angka dan orangtua tidak memberi pemahaman seperti ini kepada anak , mereka akan tetap menganggap nilai itu sangat penting dibandingkan sebuah proses pemahaman.Dari tips yang bapak berikan sangat menambah wawasan saya yang nanti bisa saya terapkan saat menjadi guru😃

    BalasHapus
  30. Nama: Imelda Rizky Putri
    Npm:2386206024
    Kelas:5B

    Materi ini adalah usaha atau belajar sesungguhnya bukan diukur dari angka tetapi dari usaha juga, guru membantu siswa membangun rasa percaya diri, keberanian mencoba sesuatu, dan berpikir kritis. Ketika siswa merasa dihargai atas prosesnya mereka akan lebih termotivasi, lebih gigih, dan lebih giat belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5B (PGSD)

      Izin menanggapi ya kak imelda, saya setuju dengan kak imelda, bahwa belajar tidak semestinya hanya dinilai dari angka, tapi dari proses dan usaha siswa. Materi ini juga menekankan, ketika guru memberikan umpan balik yang jelas, bukan hanya nilai, siswa lebih bisa percaya diri dan tidak takut gagal.

      Dari pendekatan seperti ini membuat siswa merasa dihargai atas prosesnya, sehingga mereka lebih berani mencoba, lebih gigih dan tidak cepat menyerah. semoga penilaian yang fokus pada proses lebih banyak digunakan, karena belajar seharusnya membuat kita berkembang, bukan tertekan oleh angka.

      Semoga tanggapan saya berguna untuk kak Imelda dan teman-teman lainnya 😊
      Semangat berproses calon guru

      Hapus
  31. Nama : Zakky Setiawan
    NPM : ( 2386206066 )
    Kelas : 5C
    Ya saya sangat setuju nih dengan materi ini, banyak orang terlalu memikirkan hasil daripada proses, padahal proses juga tidak kalah penting loh dari hasil, dari proses ini kita tuh jadi tau bagimana harus bersikap trus gimana cara- cara menjawabnya, dengan proses kita tuh bisa bertanggung jawab dengan hasil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Saya setuju banget dengan pendapat Zakky bahwa banyak orang sekarang terlalu pusing mikirin hasil akhir, padahal proses itu sama pentingnya, lho. Kalau kita fokus ke proses, kita otomatis belajar bagaimana cara bersikap yang benar dan bertanggung jawab dengan setiap langkah yang kita ambil. Ini persis seperti yang dibahas di materi, di mana guru mencoba mengubah bahasa dari ancaman (Ini akan memengaruhi nilaimu) jadi dorongan yang fokus pada skill (Kamu hebat dalam menyederhanakan, terapkan di teorema Pythagoras). Dengan begitu, fokus kita pindah dari ketakutan akan nilai jelek menjadi semangat untuk benar-benar menguasai ilmunya. Proses itu ibarat pondasi rumah kalau kita kerjakan dengan serius dan tahu setiap detailnya, hasil akhirnya pasti akan kokoh, bahkan jauh lebih berharga daripada sekadar angka di rapor.

      Hapus
  32. Nama : Zakky Setiawan
    NPM : ( 2386206066 )
    Kelas : 5C
    Proses tidak menghianati hasil, kata-kata in tuh ada benarnya, asal kita mau bersunggung-sungguh pasti hasil yang kita dapatkan akan maksimal, jika ada kesalahan kita cari tau dimana kesalahan itu berasal dan diperbaiki, dan jangan melakukan kesalahakn itu lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Pendapat Zakky soal Proses tidak mengkhianati hasil itu benar banget, asalkan kita serius menjalaninya. Kalau kita ketemu salah, kita pasti cari tahu salahnya di mana, perbaiki, dan usahakan enggak mengulanginya lagi. Ini pas sekali dengan strategi yang dianjurkan dalam materi, yaitu memberikan kesempatan Ujian Ulang dan Mengurangi Risiko pada penilaian. Kenapa strategi itu penting? Karena memberi ruang buat siswa untuk gagal, belajar dari kegagalan itu, dan mencoba lagi sampai berhasil menguasai materinya. Dengan begitu, hasil maksimal itu bukan cuma soal nilai 100 sekali jadi, tapi soal benar-benar paham dan punya skill yang matang. Ini mengajarkan tanggung jawab dan metakognisi, jauh lebih penting daripada sekadar angka.

      Hapus
  33. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Materi ini mengingatkan saya bahwa kita kadang sibuk mengejar nilai, sampai lupa tujuan belajar adalah memahami. dulu saya sangat takut kalo ujian karna fokus saya cuma ke angka, padahal saat nilai keluar saya mengaku masih binggung dengan materinya, karna dulu saya lebih banyak menghafalkan dari pada memahami, sekarang saya sudah sadar ketika saya mencoba untuk memperhatikan dengan seksama setiap penjelasan dosen dan bertanya saat ada yang tidak saya pahami, ternyata belajar lebih ringan, saat uts saya tidak takut, saya tinggal belajar sedikit saja tanpa memaksa otak saya di H-1, dikarenakan saya sudah paham saat proses pembelajaran berlangsung.

    jika nanti saya menjadi guru, saya merasa lebih baik memilih penundaan pemberian nilai atau lebih banyak umpan balik, rasanya lebih masuk akal, kalo siswa hanya melihat angka, mereka bisa cepat puas atau malah langsung menyerah, tapi kalo diberi komentar yang jelas mereka jadi tau bagian mana yang harus diperbaiki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Wahh Rosidah pengalaman kamu ini justru menjadi bukti nyata lohh dari apa yang materi kita bahas ini, dulu kamu takut ujian karena hanya fokus ke angka dan akhirnya malah sibuk hafalan tanpa paham beneran kan, tetapi sekarang karena kamu mulai fokus ke proses belajarnya dengan memperhatikan penjelasan dosen dan berani bertanya saat belum paham, ternyata belajar menjadi lebih ringan dan kamu tidak perlu lagi begadang H-1 karena selama proses kamu sudah paham materinya, nah ini yang namanya pembelajaran bermakna seperti yang dijelaskan di materi dan saya setuju sekali dengan rencana kamu nanti kalau jadi guru mau lebih banyak memberikan umpan balik daripada langsung berikan angka karena memang seperti yang kamu beritahu kalau siswa hanya melihat angka mereka bisa langsung puas atau malah menyerah tetapi kalau di berikan komentar yang jelas maka mereka jadi tahu harus belajar apa lagi dan itu jauh lebih membantu untuk perkembangan mereka ke depannya.

      Hapus
  34. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Menurut saya, materi tentang bagaimana membuat siswa fokus ke proses belajar ketimbang cuma nilai itu penting banget dan sangat nyambung dengan kondisi pendidikan kita sekarang. Intinya, kita harus berhenti menjadikan nilai sebagai hantu yang menakut-nakuti siswa. Kalau guru terus-terusan mengancam atau cuma melihat angka, anak-anak jadi malas berpikir mendalam mereka cuma mau cepat dapat nilai bagus, bahkan kalau harus menghafal sebentar lalu lupa. Solusinya, kita perlu mengubah mindset di kelas. Strategi seperti mengizinkan anak menilai diri sendiri, menunda pemberian angka biar mereka fokus ke feedback, atau memberi kesempatan ujian ulang itu bukan bikin gampang, tapi justru mengajarkan bahwa belajar itu soal menguasai, bukan sekali coba langsung selesai. Ini membantu anak punya rasa memiliki atas belajarnya sendiri.

    Saat ini, di tengah Kurikulum Merdeka dan tuntutan skill abad ke-21, ide-ide ini jadi makin relevan. Kita perlu lulusan yang benar-benar bisa memecahkan masalah dan terus mau belajar, bukan cuma lulusan yang nilainya tinggi di kertas. Oleh karena itu, cara-cara seperti mengubah bahasa komunikasi dengan siswa dan orang tua ngomongin perkembangan skill daripada sekadar angka dan mengurangi beban penilaian pada tugas latihan biar PR dijadikan tempat eksplorasi, bukan penentu nilai akhir adalah langkah yang cerdas. Dengan begitu, kita bisa bantu anak-anak jadi pembelajar sejati yang tangguh, bukannya sekadar pemburu nilai yang cemas kalau dapat angka jelek.

    BalasHapus
  35. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Tanggapan tambahan saya adalah bahwa penerapan ide-ide ini sebenarnya bisa menjadi alat yang ampuh untuk mengatasi masalah motivasi belajar yang sering dikeluhkan guru di berbagai tingkatan. Menurut saya, fokus berlebihan pada nilai sering kali tanpa sadar menghancurkan motivasi intrinsik siswa mereka hanya didorong oleh hadiah eksternal nilai A atau angka 100. Ketika ancaman nilai itu ditiadakan, seperti saat tugas formatif hanya dicatat kehadirannya, siswa punya ruang aman untuk berani mencoba hal-hal sulit tanpa takut nilainya anjlok. Inilah kunci untuk menumbuhkan rasa ingin tahu yang sejati. Jadi, strategi yang disarankan bukan cuma teknik penilaian, tapi juga teknik untuk membangun lingkungan belajar yang aman dan mendukung keberanian intelektual siswa.

    Selain itu, penting untuk ditekankan bahwa perubahan ini juga menuntut perubahan peran guru yang besar. Guru tidak lagi hanya menjadi penilai atau pemberi angka, melainkan berubah menjadi fasilitator dan pelatih. Ketika guru menunda pemberian nilai dan menggantinya dengan feedback mendalam tentang konsep mana yang belum dikuasai seperti disarankan dalam Tunda Pemberian Nilai, ini meningkatkan interaksi kualitas tinggi antara guru dan siswa. Bagi saya, ini adalah investasi waktu yang sangat berharga. Meskipun mungkin terasa merepotkan di awal karena harus memikirkan feedback yang detail, hasilnya adalah siswa menjadi lebih mandiri dan lebih cepat menguasai materi karena tahu persis di mana letak kesalahannya. Jadi, kita bukan hanya membantu siswa, tapi juga meningkatkan kualitas pengajaran secara keseluruhan.

    BalasHapus
  36. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    Materi ini memberikan panduan yang sangat baik bagi pendidik untuk membangun budaya kelas yang positif dan suportif. Dengan menerapkan strategi ini, kita tidak hanya mendidik siswa untuk mendapatkan nilai, tetapi mendidik mereka untuk menjadi pembelajar sejati yang menghargai proses, berani mengambil risiko, dan terus haus akan pengetahuan.

    BalasHapus
  37. Nama: Yormatiana Datu Limbong
    Kelas : 5C
    Npm : 2386206082

    izin menanggapi pak,materinya mudah dipahami dalam pendidikan, yang menjadi cuma nilai akhirnya saja. Padahal, seperti yang bapak jelaskan , proses belajar itu jauh lebih penting daripada angka nilai yang diterima. Saya setuju kalau siswa perlu di apresiasi usahanya, bukan cuma hasil akhirnya saja. Dengan cara itu, mereka bisa percaya diri dan tidak takut salah saat belajar. Menurut saya pesan dalam materi bagus dan bisa jadi pengingat untuk guru dan orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      saya sepakat dengan yormatiana, Memang sudah saatnya kita bergeser dari sekadar mengejar angka menuju penghargaan terhadap proses. Ketika kita mengapresiasi usaha siswa, kita sebenarnya sedang membangun mentalitas berani mencoba yang sangat berharga bagi masa depan mereka.

      Hapus
    2. terus sering kali, tekanan untuk mendapatkan nilai sempurna justru membuat siswa menjadi pasif dan takut mengambil risiko karena mereka memandang kesalahan sebagai sebuah kegagalan, bukan sebagai bagian dari tangga menuju pemahaman. Dengan memberikan ruang bagi mereka untuk menjelaskan proses berpikirnya, kita sedang memvalidasi bahwa setiap usaha mereka itu bernilai, terlepas dari apakah hasil akhirnya sudah tepat atau belum.

      Hapus
    3. Pesan ini memang pengingat yang sangat kuat bagi kita semua baik guru maupun orang tua bahwa rasa percaya diri anak tumbuh justru saat mereka merasa aman untuk melakukan kesalahan dalam belajar. Pada akhirnya, yang akan mereka bawa ke dunia nyata bukan hanya tumpukan angka di rapor, melainkan ketangguhan mental dan kemampuan untuk terus belajar dari setiap proses yang mereka lalui. Inilah esensi sebenarnya dari pendidikan yang memanusiakan siswa.

      Hapus
  38. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    Benar menurut saya, Materi ini memberikan pandangan yang sangat penting tentang bagaimana penilaian seharusnya mendukung pembelajaran, bukan menjadi sumber tekanan bagi siswa. seperti Crystal Frommert menunjukkan bahwa dengan mengubah bahasa, menunda nilai, mengurangi risiko, dan memberikan kesempatan ujian ulang, guru dapat menciptakan kelas yang lebih fokus pada pemahaman daripada angka. Pendekatan seperti ini membantu siswa lebih percaya diri dan termotivasi karena mereka tidak lagi merasa belajar hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk benar-benar memahami konsep. Strategi seperti penilaian mandiri juga memberi ruang bagi siswa untuk merefleksikan kemampuan mereka dan menjadi pembelajar yang lebih mandiri. budaya kelas yang sehat bukan dibangun dari angka-angka, tetapi dari proses, umpan balik, dan kesempatan belajar yang berkelanjutan. Ini merupakan pengingat bahwa tujuan pendidikan sejati adalah pembelajaran, bukan sekadar penilaian.

    BalasHapus
  39. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Izin menanggapi materi ini, materi ini mengajak kita untuk melakukan pergeseran paradigma dalam pendidikan.selama ini, sistem pendidikan kita cenderung terlalu berorientasi pada hasil akhir berupa nilai atau angka.padahal, proses belajar yang dialami siswa jauh lebih penting.proses ini mencakup bagaimana siswa memahami materi, bagaimana mereka mengatasi kesulitan, dan bagaimana mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis.dengan fokus pada proses, kita dapat menciptakan siswa yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk belajar sepanjang hayat.
    pendidikan holistik pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik.dengan kata lain, pendidikan harus mengembangkan seluruh potensi siswa, termasuk kemampuan berpikir, emosi, dan keterampilan praktis.

    BalasHapus
  40. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    nilai sebagai indikator,bukan tujuan utama nilai atau angka seharusnya hanya menjadi indikator dari pemahaman siswa, bukan menjadi tujuan utama dalam pendidikan.ketika kita terlalu fokus pada nilai, kita cenderung mengabaikan aspek-aspek penting lainnya seperti kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan problem - solving. siswa mungkin akan berusaha menghafal materi pelajaran hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, tanpa benar-benar memahami konsep dasarnya.hal ini dapat menghambat perkembangan potensi mereka secara menyeluruh.
    pembelajaran berpusat pada Siswa proses pembelajaran harus berpusat pada siswa, bukan pada guru atau materi pelajaran.siswa harus memiliki peran aktif dalam proses belajar mereka sendiri. Mereka harus diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan bereksplorasi.

    BalasHapus
  41. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Salah satu hal yang menarik dari materi ini adalah penekanannya pada pentingnya mengatasi stigma kegagalan.dalam masyarakat kita, kegagalan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau tabu.padahal, kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar.dengan memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut, kita dapat membantu mereka mengembangkan mentalitas yang lebih tangguh dan adaptif.penilaian formatif Penilaian seharusnya tidak hanya dilakukan di akhir semester atau tahun ajaran, tetapi juga secara berkala selama proses pembelajaran.penilaian formatif dapat membantu guru untuk memantau perkembangan siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif.

    BalasHapus
  42. Nahh ada pun peran guru sebagai fasilitator materi ini juga menyoroti peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.guru tidak hanya bertugas untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung.guru dapat membantu siswa menemukan minat dan bakat mereka, serta memberikan bimbingan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk mencapai potensi maksimal.lingkungan belajar yang aman dan mendukung sekolah atau institusi pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung bagi semua siswa.lingkungan belajar yang positif dapat membantu siswa merasa termotivasi untuk belajar dan berprestasi.

    BalasHapus
  43. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Tambahan lagi ujian ulang sebagai bentuk apresiasi,ide untuk memberikan kesempatan ujian ulang adalah inovasi yang patut diapresiasi.ini menunjukkan bahwa sekolah atau institusi pendidikan peduli terhadap perkembangan siswa secara individu.ujian ulang bukan hanya sekadar memberikan kesempatan untuk memperbaiki nilai, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka telah belajar dan berkembang.
    pentingnya kolaborasi,kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif, relevan, dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

    BalasHapus
  44. Menurut saya materi ini penting dalam dunia pendidikan, yaitu nilai sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Penjelasan ini sudah sangat jelas terutama apabila siswa lebih banyak berfokus pada angka dibandingkan pemahaman. ini menunjukkan kesadaran penilaian tidak seharusnya jadi penilaian akhir, melainkan hasil/proses pembelajaran.

    BalasHapus
  45. Nama: Stevani
    NPM: 2386206045
    Kelas: V C
    Dari semua materi yang sudah saya baca ini yang paling menyenggol pendidikan sekarang seperti yang sudah ada dan terjadi, materi ini beri pengingat penting banget bahwa belajar bukan hanya cuman soal ngejar angka dan nilai yang belum tentu murni dari pengetahuan dio sendiri, dimna itu buat siswa jadi lupa tujuan utamanyadan tertekan akan ekspektasi, paham sma apa yang di pelajari jauh lebih penting dengan mengutamakan proses, lebih berani mencoba nilai itu bonus yang utama adalah perkembangan Dan usaha setiap siswa

    BalasHapus
  46. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  47. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM:2386206089
    Menurut aku, artikel ini bener-bener nyadarin bahwa sistem pendidikan kita masih terlalu terikat sama angka. Banyak siswa jadi takut salah karena mereka pikir nilai adalah segalanya. Padahal, kalau dipikir lagi, tujuan utama belajar itu kan supaya kita paham dan bisa menerapkan apa yang kita pelajari dalam hidup nyata, bukan cuma buat dapet angka bagus di kertas. Aku suka banget waktu bapak bilang bahwa guru perlu mengubah cara komunikasinya. Kadang cuma dari cara ngomong, siswa bisa merasa lebih dihargai. Dengan mendorong siswa fokus pada proses, guru bisa bantu mereka lebih percaya diri dan nggak takut mencoba. Menurutku, artikel ini benar-benar ngasih gambaran bahwa perubahan-perubahan kecil di kelas bisa punya dampak besar buat perkembangan siswa.

    BalasHapus
  48. Nama:syahrul
    kelas:5D
    npm:2386206092

    Sebagai calon guru, dulu kita mungkin sering diancam guru, kayak kamu harus selesaikan ini, nanti nilaimu jelek Sekarang, kita harus mengganti ancaman itu dengan dorongan positif. Misalnya, fokus pada keterampilan yang sudah mereka kuasai kayak kamu jago menyederhanakan akar, coba terapkan di teorema Pythagoras. Tujuannya jelas membuat siswa fokus pada penguasaan konsep, bukan cuma angka di rapor. Dampaknya tidak hanya ke siswa, tapi juga mengubah keseluruhan budaya di kelas jadi lebih suportif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:syahrul
      kelas:5D
      npm:2386206092

      Perubahan ini juga berlaku saat kita berkomunikasi dengan orang tua. Nggak langsung membahas nilai, lebih baik kita ceritakan perkembangan keterampilan anak mereka. Kalau memang diminta angka, berikan dalam bentuk poin, seperti Jossen dapat 35 dari 42 poin di ujian. Kemudian, berikan saran spesifik untuk perbaikan, kek, saya sarankan Jossen latihan faktorisasi prima. Ini jauh lebih humanis dan mengurangi stigma yang sering muncul akibat nilai rendah. Selain itu, artikel menyarankan untuk mengurangi risiko dalam tugas formatif dan PR dengan tidak menilai akurasi, dan menghapus nilai kuis terendah otomatis setiap semester.

      Hapus
    2. Nama:syahrul
      kelas:5D
      npm:2386206092

      Salah satu ide menarik yang diusulkan adalah menunda pemberian nilai. Beberapa guru mencoba pendekatan di mana ujian hanya diberikan catatan dan komentar singkat, tanpa angka atau potongan poin. Siswa diminta merefleksikan dan memperbaiki pekerjaannya terlebih dahulu. Angka baru muncul setelah perbaikan. Awalnya siswa mungkin kaget, tapi lama-lama mereka belajar untuk lebih memperhatikan feedback daripada hanga angkanya. Ini juga sejalan dengan ide memberi kesempatan ujian ulang dan mengizinkan penilaian mandiri, di mana siswa menilai diri mereka sendiri berdasarkan rubrik sebelum didiskusikan dengan guru.

      Hapus
    3. Nama:syahrul
      kelas:5D
      npm:2386206092

      Intinya tuh di artikel ini ngajak para pendidik untuk berhenti menjadikan nilai sebagai pusat perhatian. Ketika kita mengurangi tekanan nilai dan menekankan pada pemahaman serta proses belajar, kita ngasih siswa ruang untuk berkembang. Mereka tidak hanya nguasai materi, tapi juga menjadi pembelajar seumur hidup yang haus akan pengetahuan. Ini tentang menciptakan lingkungan di mana belajar bermakna adalah tujuan utama, bukan sekadar memburu angka.

      Hapus
  49. nama:virginia jau
    kelas:vd
    npm:2386206089
    Waktu baca artikel ini, aku langsung kepikiran pengalaman pribadi. Dulu aku juga termasuk siswa yang selalu khawatir banget soal nilai. Kadang sampai nggak menikmati belajarnya gara-gara fokus ke angka. Makanya waktu baca ide seperti menunda pemberian nilai atau ngasih kesempatan ujian ulang, rasanya masuk akal banget. Siswa jadi bisa fokus ke apa yang belum dipahami tanpa harus merasa gagal. Dan jujur, aku suka bagian tentang penilaian mandiri. Itu bikin siswa lebih sadar tentang apa yang udah mereka kuasai, bukannya cuma nerima angka dan selesai. Artikel ini bener-bener ngajak kita mikir bahwa pendidikan bukan perlombaan angka, tapi perjalanan memahami sesuatu secara mendalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama:virginia jau
      kelas:vd
      npm:2386206089
      Menurut aku artikel ini keren karena dia ngasih solusi yang realistis buat masalah yang udah lama ada di sekolah: fokus yang terlalu besar ke nilai. Bukan rahasia lagi kalau banyak siswa jadi stres, takut gagal, atau bahkan hilang minat belajar cuma karena tekanan nilai. Bapak membaut artikel ini ngasih ide-ide praktis seperti ngurangin risiko, nggak ngasih nilai untuk PR, dan ngehapus nilai kuis terendah. Semua itu bikin suasana belajar lebih manusiawi dan ramah buat siswa. Yang paling menarik, artikelnya ngajak guru untuk ngehargain usaha dan cara berpikir siswa, bukan cuma hasil akhirnya. Ini menurutku langkah besar menuju pembelajaran yang lebih bermakna dan lebih sehat secara emosional.

      Hapus
    2. NAMA:VIRGINIA JAU
      KELAS:VD
      NPM:2386206089

      Artikel ini menurut aku sangat relevan dengan situasi pendidikan sekarang. Banyak sekolah masih mengukur kemampuan siswa dari nilai semata, padahal nggak semua hal bisa diukur dari angka. Beberapa siswa mungkin butuh waktu lebih lama untuk memahami konsep, tapi itu bukan berarti mereka kurang pintar. Makanya aku setuju banget dengan ide memberikan kesempatan ujian ulang, karena itu ngasih peluang buat siswa menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya. Selain itu, komunikasi guru yang lebih fokus ke perkembangan daripada nilai juga penting banget. Dengan begitu, siswa merasa aman untuk belajar dan nggak takut salah. Artikel ini bikin kita sadar bahwa perubahan kecil dalam pendekatan guru bisa berdampak besar buat suasana kelas.

      Hapus
  50. NAMA:VIRGINIA JAU
    KELAS:VD
    NPM:2386206089
    Menurut aku, artikel ini benar-benar membuka pikiran tentang bagaimana penilaian yang terlalu berorientasi nilai bisa bikin siswa kehilangan motivasi. Fokus pada proses belajar itu jauh lebih penting karena di situlah siswa membangun pemahaman yang sebenarnya. Aku paling suka bagian yang menjelaskan bahwa guru harus mengubah bahasa dan cara berkomunikasi. Kadang guru nggak sadar bahwa tekanan itu datang dari hal-hal kecil seperti komentar tentang nilai. Selain itu, ide untuk melakukan penilaian mandiri juga sangat bagus, karena melatih siswa untuk reflektif dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Secara keseluruhan, artikel ini menurutku memberikan banyak inspirasi untuk membangun kelas yang lebih suportif, positif, dan berpusat pada perkembangan siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang bener sih, cara guru ngomong itu impact-nya gede banget. Setuju banget dengan Virginia,kalau vibes belajar bisa berubah total cuma gara-gara satu atau dua kalimat kecil tentang nilai, makanya guru emang perlu banget upgrade cara komunikasi mereka biar nggak bikin siswa ngerasa tertekan.

      Hapus
  51. Mengulas kembali tentang isi pada laman ini fokus pada proses bukan hanya nilai, saya membaca ulang-ulang poin mengenai tunda pemberian nilai, setelah saya baca dan saya pahami ternyata tunda pemberian nilai oleh guru itu baik dilakukan namun dengan catatan setelah memberikan tugas guru fokus untuk memberikan umpan balik kepada siswa misalnya guru mengulas kembali pembelajaran yang diajarkan dan muncul nih soal tentang pembelajaran tersebut pada tugas yang diberikan.
    Namun ada juga nih poin yang saya rasa kurang setuju yang dituangkan dalam tunda pemberian nilai, yaitu guru menilai ujian dengan memberikan catatan dan komentar singkat tanpa mencantumkan pengurangan poin atau nilai pada ujian tersebut, menurut saya jika guru melakukan hal ini secara terus-menerus siswa jadi kurang mengerti kesalahan yang mereka buat pada jawabannya itu di bagian mana, kalau menurut saya lebih efisiennya guru memberikan tanda pada penyelesaian soal yang salah jadi ketika siswa kembali menerima kertas ujian tersebut ia mengetahui bahwasannya pada bagian ini ia melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas maka dia bisa belajar dan bisa memahami lebih dalam lagi mengenai kesalahan yang telah dibuat dalam pengerjaan soal.
    Ya mungkin saja nilai tidak perlu dicantumkan namun menurut saya perlu diberitahukan kepada siswa tentang bagian mana dalam pengerjaan tugas yang ia kerjakan itu salah, hal ini juga bisa menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar.

    BalasHapus
  52. Menyediakan ujian ulang pada saat ujian atau remedial menurut saya sangat baik dilakukan pada setiap sekolah, hal ini dikarenakan pembelajaran yang diterima oleh siswa itu banyak, banyak sekali mata pelajaran yang melakukan ujian di waktu yang bersamaan ataupun di waktu yang berbeda namun berdekatan.
    Hal ini tentunya harus diperhatikan karena mengingat kemampuan penyerapan informasi di otak manusia itu terbatas, jadi kalau dalam satu hari tiga mata pelajaran yang diujikan otak manusia akan susah memasukkan informasi penting dari ketiga mata pelajaran tersebut dalam satu hari untuk mengerjakan soal-soal yang diujikan.
    Maka dari itu dengan menerapkan remedial pada setiap ujian siswa akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan pada ujian yang pertama.
    Dengan melakukan remedial juga dapat membantu siswa menunjukkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal-soal yang diujikan dengan baik. Namun tetap perlu digarisbawahi ujian ulang atau remedial sebaiknya dilakukan hanya satu kali pengulangan dari hasil ujian pertama yang telah keluar...

    BalasHapus
  53. Materi ini menyentuh salah satu persoalan paling mendasar dalam dunia pendidikan, yaitu dominasi nilai angka sebagai tolok ukur keberhasilan belajar. Penulis dengan sangat tepat menyoroti bagaimana fokus berlebihan pada nilai dapat menggeser tujuan utama pendidikan dari pemahaman dan pertumbuhan belajar menjadi sekadar pencapaian angka. Gagasan ini relevan dengan kondisi kelas saat ini, di mana banyak siswa belajar karena tekanan, bukan karena rasa ingin tahu.
    Strategi menunda pemberian nilai, mengurangi risiko dalam penilaian, serta menyediakan ujian ulang memperlihatkan keberanian guru untuk keluar dari praktik penilaian tradisional. Pendekatan ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar dari kesalahan tanpa rasa takut berlebihan. Ketika siswa tidak lagi cemas terhadap kegagalan, mereka lebih berani mencoba, bertanya, dan merefleksikan pemahamannya.

    BalasHapus
  54. materi ini sangat inspiratif dan relevan bagi pendidik yang ingin membangun kelas berorientasi pembelajaran bermakna. Penekanan pada penilaian mandiri dan refleksi membantu siswa menjadi pembelajar yang sadar akan proses belajarnya sendiri. Materi ini mengingatkan bahwa nilai seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan tujuan akhir, dan bahwa fokus pada proses akan menghasilkan pemahaman yang lebih dalam serta karakter belajar yang lebih kuat pada diri siswa.

    BalasHapus
  55. Izin menanggapi pak Materi “Fokus pada Proses, Bukan hanya Nilai (Angka)” ini terasa sangat relate dengan realitas pendidikan di kelas saat ini. Tulisan ini tidak hanya mengkritik budaya penilaian yang terlalu berorientasi pada angka, tetapi juga menawarkan cara berpikir dan praktik yang lebih manusiawi, mendidik, dan berdampak jangka panjang bagi perkembangan siswa.materi ini dengan sangat jelas menyoroti masalah utama dalam sistem pembelajaran: angka sering kali mengalahkan makna belajar itu sendiri. Ketika nilai dijadikan tujuan akhir, siswa cenderung belajar untuk “lulus” atau “mendapat angka bagus”, bukan untuk benar-benar memahami konsep. Akibatnya, pembelajaran menjadi dangkal, penuh kecemasan, dan minim refleksi. Pesan bahwa pendidikan seharusnya menumbuhkan pemahaman, rasa ingin tahu, dan kegigihan terasa kuat dan konsisten dari awal hingga akhir tulisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjut peran guru digambarkan secara realistis sekaligus reflektif. Perubahan kecil dalam bahasa yang digunakan guru ternyata memiliki dampak besar terhadap budaya kelas. Contoh yang diberikan Crystal Frommert sangat kuat: menggeser kalimat bernuansa ancaman nilai menjadi kalimat yang mengapresiasi keterampilan dan proses belajar siswa. Pendekatan ini membuat siswa merasa dihargai, dipercaya, dan dilihat sebagai pembelajar yang sedang bertumbuh, bukan sekadar “angka di rapor”. Ini menunjukkan bahwa motivasi intrinsik siswa bisa tumbuh ketika guru menekankan usaha dan strategi, bukan hasil semata.cara berkomunikasi dengan orang tua juga dikupas dengan sangat bijak. Alih-alih terjebak pada diskusi nilai tinggi atau rendah, guru mengarahkan percakapan pada perkembangan keterampilan dan kesiapan belajar siswa. Ini penting karena sering kali tekanan nilai justru datang dari ekspektasi orang tua. Dengan mengubah fokus komunikasi, guru tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga membantu orang tua memahami bahwa belajar adalah proses berkelanjutan, bukan kompetisi angka.

      Hapus
    2. Lanjut cara berkomunikasi dengan orang tua juga dikupas dengan sangat bijak. Alih-alih terjebak pada diskusi nilai tinggi atau rendah, guru mengarahkan percakapan pada perkembangan keterampilan dan kesiapan belajar siswa. Ini penting karena sering kali tekanan nilai justru datang dari ekspektasi orang tua. Dengan mengubah fokus komunikasi, guru tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga membantu orang tua memahami bahwa belajar adalah proses berkelanjutan, bukan kompetisi angka.Selanjutnya, gagasan menunda pemberian nilai merupakan bagian yang sangat menarik dan berani. Strategi ini menantang kebiasaan lama di sekolah, tetapi justru sejalan dengan tujuan pembelajaran yang sesungguhnya. Ketika nilai ditunda, siswa dipaksa dalam arti positif untuk membaca umpan balik, merefleksikan kesalahan, dan memperbaiki pemahaman. Proses ini mengajarkan siswa bahwa kesalahan bukan akhir, melainkan pintu masuk menuju belajar yang lebih dalam. Di sinilah pembelajaran menjadi aktif, reflektif, dan bermakna.

      Hapus
  56. Izin bertanya pak Bagaimana budaya penilaian yang terlalu berorientasi pada angka dapat memengaruhi motivasi intrinsik siswa dalam jangka panjang, dan apa dampaknya terhadap cara siswa memandang proses belajar sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban akademik? Jelaskan dengan contoh situasi di kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dias pinasih
      5b pgsd
      2386206057

      izin menjawab yan sary dari pertanyaan kamu yang ad di kaitannya materi di atas
      Budaya penilaian yang terlalu menekankan angka cenderung membuat siswa belajar hanya untuk mendapatkan nilai, bukan untuk memahami materi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan motivasi intrinsik siswa karena mereka terbiasa bergerak berdasarkan reward eksternal, seperti nilai tinggi atau pujian. Akibatnya, siswa menjadi takut salah, kurang berani mencoba, dan melihat belajar sebagai kewajiban akademik semata, bukan sebagai kebutuhan untuk berkembang.

      Contohnya di kelas, ada siswa yang sebenarnya aktif berdiskusi dan punya rasa ingin tahu tinggi, tetapi ketika nilai ujiannya rendah, ia merasa gagal dan kehilangan semangat. Padahal proses belajarnya sudah baik. Hal ini menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada angka bisa menutup penghargaan terhadap usaha dan perkembangan siswa.

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab ya sari, kalo menurutku ya budaya penilaian yang terlalu berorientasi pada angka dapat mematikan motivasi intrinsik siswa karena fokus mereka teralihkan dari rasa ingin tahu menjadi sekadar mengejar skor. Dalam jangka panjang, hal ini membuat siswa terjebak dalam pola pikir "belajar untuk ujian", bukan "belajar untuk hidup".

      Dampaknya, proses belajar tidak lagi dirasakan sebagai kebutuhan untuk mengembangkan diri, melainkan berubah menjadi beban akademik yang penuh tekanan. Sebagai contoh, di dalam kelas, siswa yang hanya mengejar nilai cenderung memilih cara instan seperti menghafal rumus tanpa paham maknanya, sehingga ilmu tersebut cepat hilang setelah ujian selesai. Sebaliknya, jika proses lebih dihargai daripada sekadar angka, siswa akan merasa lebih berani bereksperimen, tidak takut salah, dan memandang ilmu sebagai alat yang mereka butuhkan untuk memahami dunia.

      Hapus
    3. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Izin menjawab pertanyaan dari Sari.

      Kalau menurut saya budaya penilaian yang terlalu fokus pada angka ini memang punya dampak serius terhadap motivasi intrinsik siswa dalam jangka panjang karena seperti yang dijelaskan di materi bahwa nilai bisa mengurangi motivasi intrinsik dan meningkatkan rasa takut gagal, jadi siswa yang awalnya mungkin suka belajar karena penasaran atau ingin tahu menjadi berubah hanya belajar demi mengejar angka bagus saja dan ketika sudah mendapatkan nilai tinggi mereka berhenti belajar padahal belum tentu paham benar materinya, makanya di materi ini menekankan pentingnya kita sebagai guru mengubah pendekatan dengan lebih fokus ke proses seperti memberikan umpan balik yang jelas, menunda pemberian nilai supaya siswa fokus ke perbaikan, dan memberikan kesempatan ujian ulang agar siswa paham bahwa belajar itu tentang memahami bukan hanya mendapatkan angka sekali terus selesai.

      Hapus
  57. Izin bertanya lagi pak atau teman - teman yg bisa menjawab Apa tantangan terbesar yang mungkin dihadapi guru ketika mengubah paradigma dari fokus nilai ke fokus proses, baik dari sisi siswa, orang tua, maupun sistem sekolah, dan bagaimana solusi yang realistis untuk mengatasinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menjawab pertanyaan dari Sarimahyanti Mandingu🙏🏻
      Kalau menurut saya,
      Tantangan terbesar saat guru mengubah fokus dari nilai ke proses adalah:
      - Siswa terbiasa mengejar angka, bukan memahami pelajaran.
      - Orang tua masih menilai keberhasilan dari nilai rapor.
      - Sistem sekolah menuntut laporan nilai dan ujian.

      Solusi realistisnya:
      - Guru menjelaskan tujuan belajar dan memberi apresiasi pada usaha siswa.
      - Guru berkomunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anak, bukan hanya nilai.
      - Guru mulai dari langkah kecil di kelas, seperti memberi umpan balik dan penilaian proses.

      Fokus pada proses memang tidak mudah, tapi bisa dilakukan perlahan dan konsisten. Nilai tetap ada, namun pemahaman siswa menjadi lebih bermakna.

      Hapus
    2. izin menjawab lagi yah sari dari pertanyaan nya
      dias pinasih
      5b pgsd
      2386206057
      tantangan terbesar datang dari beberapa sisi. Dari sisi siswa, mereka sudah terbiasa mengukur keberhasilan dari nilai, sehingga kurang menghargai proses. Dari sisi orang tua, masih banyak yang menilai keberhasilan anak hanya dari angka rapor. Selain itu, sistem sekolah juga sering menuntut laporan penilaian berbasis angka, sehingga guru merasa terbatas dalam menerapkan penilaian proses secara penuh,

      Solusi yang realistis adalah menerapkan perubahan secara bertahap. Guru bisa mulai dengan mengombinasikan penilaian angka dan penilaian proses, misalnya melalui observasi, refleksi siswa, atau penilaian keaktifan. Guru juga perlu mengomunikasikan kepada siswa dan orang tua bahwa proses belajar memiliki peran penting dalam perkembangan kemampuan anak. Dengan pendekatan yang konsisten dan sederhana, fokus pada proses bisa tetap berjalan tanpa bertentangan dengan sistem yang ada.

      Hapus
  58. Materi ini sangat menguatkan peran guru dalam menggeser fokus belajar dari sekadar mengejar nilai menjadi memahami proses. Penjelasan yang diberikan mudah dipahami dan dekat dengan praktik nyata di kelas. Strategi seperti menunda nilai, memberi umpan balik, ujian ulang, dan penilaian mandiri menunjukkan bahwa siswa diberi ruang untuk belajar dari kesalahan tanpa takut gagal.
    Pendekatan ini membantu membangun budaya kelas yang lebih positif, membuat siswa lebih percaya diri, dan menumbuhkan motivasi belajar dari dalam diri mereka sendiri. Ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama pendidikan bukan angka, tetapi proses belajar yang bermakna dan berkelanjutan.

    BalasHapus
  59. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    dari penjelasan diats mengingatkan kita kalau penilaian matematika tidak selalu harus rumit dan memakan banyak waktu. terkadang sering kali tugas yang terlalu banyak justru membuat siswa lelah tanpa benar-benar menunjukkan pemahamannya. Pendekatan penilaian yang efisien seperti yang dijelaskan di materi ini membantu guru lebih fokus melihat proses berpikir siswa, bukan sekadar hasil akhirnya. Dengan begitu, penilaian menjadi lebih bermakna dan benar-benar mendukung pembelajaran.

    BalasHapus
  60. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Materi ini juga memberi wawasan baru bagi saya bahwa produktivitas dalam penilaian bukan tentang seberapa sering memberi tes, tetapi seberapa tepat instrumen yang digunakan. Bagi calon guru, artikel ini sangat relevan karena mengajarkan pentingnya merancang penilaian yang terstruktur dan sesuai tujuan pembelajaran. Penilaian yang efisien tidak hanya meringankan beban guru dan siswa, tetapi juga memberikan data yang jelas untuk memperbaiki strategi mengajar ke depannya.

    BalasHapus
  61. nama dias pinasih
    kelas 5b pgsd
    2386206057

    izin menanggapi materi yang bapak jelaskan di atas pak
    materi ini sangat releven karena aku jadi sadar kalau penilaian selama ini memang masih banyak yang fokus ke angka. Padahal proses belajar siswa itu beda-beda dan nggak semuanya bisa langsung kelihatan dari nilai akhir. Menurutku, kalau prosesnya lebih diperhatikan, siswa bisa merasa usahanya dihargai dan nggak cuma dinilai dari satu hasil saja.

    Menurut saya, di materi bapak jelaskan ini masih agak berat di penjelasan konsepnya. Pembahasannya bagus, tapi ada beberapa bagian yang terasa umum dan belum kebayang banget penerapannya di kelas. Buat pembaca seperti mahasiswa atau guru pemula, mungkin masih bingung harus mulai dari mana kalau mau benar-benar fokus menilai proses belajar siswa.


    BalasHapus
  62. sedikit tambahan lagi yah pak buat materi yang bapak jelaskan Kalau boleh saran, mungkin bisa ditambahkan contoh nyata dari kegiatan di kelas, misalnya cara guru menilai proses diskusi, kerja kelompok, atau perkembangan siswa dari waktu ke waktu. Selain itu, akan lebih membantu juga kalau ada tips penilaian proses yang sederhana dan realistis, supaya guru nggak merasa terbebani.

    izin bertanya pak Kalau ada siswa yang proses belajarnya bagus tapi hasil akhirnya masih rendah, sebaiknya sikap guru dalam memberi nilai seperti apa supaya tetap adil?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Sinta
      NPM: 2386206033
      Kelas: VB PGSD

      izin menjawab pertanyaan kak Dias, kalau menurut saya jika ada siswa yang proses belajarnya sudah baik tetapi hasil akhirnya masih rendah sesuai materi bahwa guru tidak seharusnya langsung menilai dari angka saja. Sebaiknya guru juga fokus pada proses seperti memperhatikan usaha siswa, keaktifan siswa dan perkembangan dari waktu ke waktu, nilai angka tetap penting tetapi harus dilengkapi dengan penilaian proses agar penilaian lebih adil selain itu guru bisa memberi kesempatan untuk remedial atau perbaikan tugas sebagai bentuk pendampingan bukan hukuman. Dengan cara ini siswa tetap termotivasi belajar dan merasa usahanya dihargai .

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin menjawab juga ya dias, menurutku ya, Sikap yang paling pas adalah dengan tetap menghargai kerja kerasnya melalui pemberian nilai tambahan pada poin keaktifan dan tugas harian, jadi nilai akhirnya tidak hanya diambil dari satu ujian saja. Guru bisa tetap objektif memberikan nilai apa adanya pada hasil tes, tapi jangan lupa berikan apresiasi lewat kata-kata atau kesempatan remedial supaya dia merasa usahanya tidak sia-sia. Intinya, kita tidak hanya menilai hasil di atas kertas, tapi juga menghargai semangat belajarnya agar dia tetap termotivasi dan tidak merasa diperlakukan tidak adil.

      Hapus
  63. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, penilaian yang terlalu berfokus pada angka sering mengalihkan perhatian siswa dari makna belajar. Siswa mengejar nilai tanpa benar-benar memahami konsep yang dipelajari. Guru memegang peran penting dalam mengubah orientasi tersebut. Guru menciptakan budaya kelas yang menekankan proses belajar daripada hasil akhir. Pendekatan ini membantu siswa belajar dengan lebih tenang dan reflektif. Siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna.

    BalasHapus
  64. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, penggunaan bahasa guru sangat memengaruhi cara siswa memandang pembelajaran. Guru yang menekankan perkembangan keterampilan membangun motivasi siswa. Siswa merasa dihargai atas usaha dan proses belajarnya. Guru mengalihkan fokus dari ancaman nilai ke dorongan belajar. Komunikasi yang sama diterapkan guru kepada orang tua siswa. Orang tua memahami perkembangan belajar anak secara lebih utuh. Hal ini membantu membangun ekosistem pembelajaran yang sehat.

    BalasHapus
  65. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, penundaan pemberian nilai mendorong siswa lebih memperhatikan umpan balik. Guru memberikan komentar yang membimbing tanpa mencantumkan angka. Siswa merefleksikan kesalahan dan melakukan perbaikan secara mandiri. Proses ini melatih tanggung jawab belajar siswa. Guru berdiskusi dengan siswa mengenai konsep yang belum dipahami. Perlahan, siswa tidak lagi terpaku pada nilai. Pendekatan ini memperkuat pemahaman konsep siswa.

    BalasHapus
  66. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, penilaian ulang dan penilaian mandiri memberi ruang refleksi bagi siswa. Guru memberikan kesempatan siswa memperbaiki hasil belajarnya. Siswa menilai diri sendiri berdasarkan rubrik yang jelas. Proses diskusi memperdalam pemahaman siswa terhadap kriteria keberhasilan. Guru menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap pembelajaran. Siswa mengembangkan keterampilan metakognitif secara bertahap. Dengan cara ini, siswa tumbuh sebagai pembelajar sejati.

    BalasHapus
  67. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    pengurangan risiko dalam penilaian membantu menurunkan kecemasan siswa. Guru menjadikan pekerjaan rumah sebagai sarana latihan, bukan penentu nilai. Siswa berani mencoba tanpa takut melakukan kesalahan. Kebijakan penghapusan nilai terendah memberi rasa aman bagi siswa. Guru menciptakan suasana belajar yang lebih suportif. Siswa menunjukkan partisipasi yang lebih aktif dalam pembelajaran. Lingkungan kelas pun menjadi lebih kondusif.

    BalasHapus
  68. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Disini guru bukan sekedar memberi nilai tapi juga memberi proses pada pembelajaran tersebut di siswa dapat memahami konsep pembelajaran tersebut bukan sekedar untuk tapi melalui proses pada pembelajaran tersebut dan juga guru mengajar siswa untuk belajar melalui proses dan mengasah kemampuan kemandirian mereka.

    BalasHapus
  69. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    setelah saya membaca materi ini, saya jadi sadar kalau meningkatkan minat membaca itu nggak bisa instan, tapi perlu dibiasakan pelan-pelan lewat kegiatan yang menyenangkan., kalau anak sudah suka membaca, kemampuan membacanya juga pasti ikut berkembang. Terima kasih pak sudah berbagi materinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Alya Salsabila
      Npm : 2386206062
      Kelas : V C
      izin ya pak, saya mau tanya, gimana cara kita bisa membuat siswa yang kurang suka membaca jadi lebih tertarik untuk membaca? terimakasih

      Hapus
    2. Nama: Selma Alsayanti Mariam
      Npm: 2386206038
      Kelas: VC

      Izin bantu menjawab ya kak alya, menurut saya coba untuk memberikan mereka bacaan yang sesuai hobi atau apa yang lagi viral. kalau mereka suka game, berikan mereka komik atau artikel tentang game. intinya, biarkan mereka membaca apa yang mereka suka, bukan apa yang kita suruh. lalu bisa juga membuat pojok baca di kelas yang suasananya asik, bukan seperti perpustakaan yang kaku. ada bantal lesehan atau dekorasi yang lucu hal itu bisa membuat mereka betah buat nongkrong disana sambil membaca buku. lalu bisa juga membuat tantangan kecil-kecilan seperti pohon literasi contohnya. jadi setiap mereka selesai membaca satu buku, mereka boleh menempel stiker daun di pohon itu. kalau sudah penuh, bisa memberikan reward kecil seperti pujian atau tambahan poin santai.

      Hapus
  70. Izin menanggapi pak Materi ini Fokus pada Proses, Bukan hanya Nilai (Angka) ini sangat kuat dan relevan dengan realitas pembelajaran di kelas saat ini. Tulisan ini secara jelas menyoroti persoalan klasik dalam pendidikan: ketika nilai menjadi tujuan utama, makna belajar justru terpinggirkan. Banyak siswa akhirnya belajar bukan untuk memahami, melainkan sekadar mengejar angka, dan materi ini dengan tepat mengajak pendidik untuk menggeser paradigma tersebut.
    Gagasan bahwa pendidik berperan besar dalam membangun budaya kelas yang sehat terasa sangat nyambung dengan kondisi di lapangan. Tekanan nilai sering kali bukan hanya datang dari sistem, tetapi juga dari kebiasaan bahasa yang digunakan guru, siswa, dan orang tua. Ketika guru mulai mengubah cara berbicara dari ancaman nilai ke penguatan proses perlahan namun pasti, suasana kelas ikut berubah. Contoh yang diberikan Crystal Frommert sangat konkret dan mudah dibayangkan: pujian terhadap keterampilan dan strategi siswa jauh lebih memotivasi dibandingkan sekadar mengingatkan konsekuensi nilai rendah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjut Pendekatan komunikasi dengan orang tua juga menjadi poin penting yang sering luput dibahas. Materi ini menunjukkan bahwa fokus pada proses bukan berarti mengabaikan nilai, melainkan menempatkan nilai sebagai informasi pendukung, bukan label keberhasilan atau kegagalan. Dengan menyampaikan capaian siswa dalam bentuk perkembangan keterampilan dan saran perbaikan, guru membantu orang tua melihat pembelajaran anak secara lebih utuh dan manusiawi. Cara ini juga efektif mengurangi stigma terhadap angka yang dianggap rendah, sehingga siswa tidak merasa dicap atau dibanding-bandingkan Strategi menunda pemberian nilai menjadi bagian yang sangat reflektif dan menantang kebiasaan lama. Selama ini, begitu tugas dikembalikan, hal pertama yang dicari siswa adalah angkanya, bukan catatan guru. Dengan menunda nilai dan memprioritaskan umpan balik, siswa diajak untuk benar-benar membaca, berpikir, dan merevisi. Walaupun pada awalnya menimbulkan resistensi, pendekatan ini secara jangka panjang melatih siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.

      Hapus
    2. Halo Sarima,aku Dita Ayu Safarila
      Kelas 5C
      NPM 2386206048
      izin menanggapi komentar ini ya.

      Aku sangat setuju dengan pendekatan fokus pada proses karena hal ini memanusiakan hubungan antara guru,siswa dan orang tua. Mengubah bahasa dari ancaman nilai menjadi pujian terhadap strategi belajar terbukti lebih efektif meningkatkan motivasi intrinsik siswa daripada sekedar menakut-nakuti mereka dengan angka rendah. ade lain itu strategi menunda pemberian nilai memaksa siswa untuk bener benar membaca umpan balik dan melakukan refleksi mendalam,bukan hanya sekedar melihat skor akhir. Dengan menempatkan nilai sebagai informasi pendukung,kita membantu orang tua melihat perkembangan anak secara utuh dan mengurangi kecemasan berlebih pada peserta didik zaman sekarang.

      Hapus
  71. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Saya setuju bahwa penilaian yang terlalu menekankan angka sering kali membuat siswa lupa bahwa belajar adalah sebuah proses. Dari materi ini terlihat jelas bagaimana perubahan pendekatan guru, terutama dalam cara berbahasa dan memberi umpan balik, dapat membangun budaya kelas yang lebih sehat. Ketika guru mulai menyoroti keterampilan yang sedang berkembang dan bukan sekadar hasil akhir, siswa menjadi lebih percaya diri untuk mencoba dan tidak terlalu takut melakukan kesalahan. Hal ini menurut saya penting, karena rasa aman dalam belajar justru menjadi kunci agar siswa mau terus berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Ninda Amelia Saputri
      NPM : 2386206093
      Kelas : 5D PGSD

      Izin menambahkan, Pak. Selain itu, praktik seperti menunda pemberian nilai, menyediakan ujian ulang, dan memberi ruang untuk penilaian mandiri terasa sangat relevan dengan kondisi siswa saat ini. Pendekatan ini membantu siswa lebih fokus memahami konsep daripada mengejar angka semata. Saya melihat bahwa dengan cara ini, siswa diajak untuk merefleksikan proses belajar mereka sendiri dan bertanggung jawab atas kemajuannya. Secara tidak langsung, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa tidak hanya belajar untuk lulus, tetapi juga untuk benar-benar memahami apa yang mereka pelajari.

      Hapus
  72. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi yaa, Pak. Saya setuju bahwa penilaian yang terlalu berfokus pada angka sering membuat siswa lupa pada tujuan utama belajar itu sendiri. Dari materi ini, saya melihat bahwa perubahan kecil seperti menyesuaikan bahasa saat memberi umpan balik ternyata bisa berdampak besar pada cara siswa memandang pembelajaran. Ketika guru lebih menekankan pada keterampilan dan proses yang sedang berkembang, siswa menjadi lebih dihargai sebagai pembelajar, bukan sekadar pencari nilai. Pendekatan ini menurut saya juga membantu mengurangi rasa takut salah yang sering muncul di kelas.

    BalasHapus
  73. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi lagi, Pak. Saya setuju dengan gagasan menunda pemberian nilai agar siswa lebih fokus pada umpan balik. Materi ini membuat saya sadar bahwa selama ini siswa cenderung langsung mencari angka di kertas ujian tanpa benar-benar membaca komentar guru. Dengan menunda nilai, siswa diajak untuk refleksi dan memahami letak kesalahan mereka. Walaupun di awal mungkin menimbulkan protes, dalam jangka panjang cara ini terasa lebih mendidik dan membantu siswa membangun pemahaman yang lebih kuat.

    BalasHapus
  74. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin memberikan saran dari saya, Pak. Praktik mengurangi risiko dengan tidak memberi nilai pada pekerjaan rumah terasa sangat relevan dengan kondisi siswa saat ini. Dari cerita yang disampaikan, terlihat bahwa tugas seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Tekanan nilai yang terus-menerus justru bisa membuat siswa enggan berusaha. Dengan menghapus nilai kuis terendah atau tidak menilai PR secara ketat, guru membantu menciptakan suasana belajar yang lebih sehat dan tidak menakutkan.

    BalasHapus
  75. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Menurut saya kebijakan menyediakan ujian ulang adalah bentuk keadilan dalam pembelajaran. Materi ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa tidak bisa diukur hanya dari satu momen ujian. Faktor seperti kondisi mental, waktu, dan tekanan sangat memengaruhi hasil. Dengan adanya kesempatan ujian ulang, siswa tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga benar-benar belajar dari kesalahan sebelumnya. Pendekatan ini terasa lebih manusiawi dan memberi ruang bagi proses belajar yang berkelanjutan.

    BalasHapus
  76. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi lagi, Pak. Saya setuju nih bahwa penilaian mandiri dapat membantu siswa merasa lebih memiliki terhadap pembelajaran mereka. Dari materi ini, saya menangkap bahwa ketika siswa dilibatkan dalam menilai diri sendiri, mereka belajar jujur terhadap kemampuan dan kekurangannya. Proses diskusi antara guru dan siswa setelah penilaian mandiri juga membuka ruang komunikasi yang lebih sehat. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga melatih siswa berpikir reflektif dan bertanggung jawab atas proses belajarnya.

    BalasHapus
  77. Artikel ini menegaskan bahwa penilaian bukan sekadar alat ukur hasil belajar, melainkan bagian dari budaya pembelajaran di kelas.

    Ketika guru menggeser fokus dari nilai ke proses, siswa tidak lagi belajar untuk "mengejar angka", tetapi untuk memahami konsep secara mendalam. Perubahan paradigma ini berdampak besar pada iklim kelas, karena siswa merasa lebih aman untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar dari kesalahan tersebut.

    Budaya kelas yang menekankan proses membantu menumbuhkan rasa ingin tahu, ketekunan, serta motivasi intrinsik yang menjadi fondasi pembelajaran bermakna.

    BalasHapus
  78. Penekanan Crystal Frommert pada penyesuaian bahasa guru menunjukkan bahwa cara guru berkomunikasi sangat memengaruhi cara siswa memandang belajar. Bahasa yang berorientasi pada keterampilan dan usaha, bukan ancaman nilai, mampu membangun pola pikir bertumbuh (growth mindset). Ketika siswa diapresiasi atas proses berpikir dan kemajuan yang mereka capai, mereka merasa dihargai sebagai pembelajar, bukan sekadar penerima nilai. Hal ini juga memperkuat hubungan guru-siswa serta mendorong keterlibatan aktif dalam pembelajaran.

    BalasHapus
  79. Strategi menunda pemberian nilai merupakan langkah efektif untuk mengalihkan perhatian siswa dari angka menuju pemahaman. Praktik ini memberikan ruang bagi siswa untuk merefleksikan kesalahan dan memperbaiki hasil belajar mereka berdasarkan umpan balik yang bermakna. Meskipun pada awalnya menimbulkan resistensi, pendekatan ini dalam jangka panjang membantu siswa menyadari bahwa kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar. Dengan demikian, siswa belajar untuk lebih menghargai umpan balik sebagai sarana pengembangan diri, bukan sekadar penilaian akhir.

    BalasHapus
  80. Artikel ini juga menyoroti pentingnya mengurangi risiko dalam penilaian, khususnya pada tugas formatif dan pekerjaan rumah.

    Dengan tidak menjadikan keakuratan sebagai satu-satunya dasar penilaian, siswa lebih berani mencoba dan mengeksplorasi ide tanpa takut gagal. Kebijakan seperti menghapus nilai terendah atau tidak memberi nilai pada pekerjaan rumah dapat menurunkan kecemasan akademik. Lingkungan belajar yang minim risiko mendorong siswa untuk fokus pada latihan, pemahaman, dan perbaikan berkelanjutan.

    BalasHapus
  81. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian mandiri merupakan strategi yang sangat berharga dalam pembelajaran. Melalui penilaian diri, siswa belajar merefleksikan kekuatan dan kelemahan mereka secara jujur dan bertanggung jawab.

    Praktik ini tidak hanya meningkatkan rasa kepemilikan terhadap pembelajaran, tetapi juga melatih keterampilan metakognitif yang penting bagi pembelajar sepanjang hayat. Diskusi antara guru dan siswa terkait hasil penilaian mandiri membuka ruang dialog yang konstruktif dan memperdalam pemahaman siswa terhadap standar pembelajaran.

    BalasHapus
  82. Fokus pada proses daripada sekadar nilai akhir adalah kunci untuk membangun mental pembelajar sejati pada anak. Artikel ini mengingatkan kita bahwa apresiasi terhadap usaha, ketekunan, dan kemajuan sekecil apa pun akan membuat siswa lebih percaya diri dan tidak takut salah.

    BalasHapus
  83. Nama Hanifah
    Kelas 5C
    NPM 2386206073

    Saya setuju dengan gagasan bahwa menekankan proses bisa membuat siswa lebih termotivasi. Ketika guru menghargai usaha, strategi, dan cara berpikir siswa, mereka akan merasa dihargai meskipun hasil akhirnya belum sempurna. Hal ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk mencoba hal baru. Artikel ini memberi sudut pandang positif bahwa kegagalan dalam proses bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.

    BalasHapus
  84. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya sangat tertarik sekali pada poin yang "izinkan penilaian mandiri" itu menarik sekali bagi saya. karena selama ini kita berpikir bahwa hanya guru saja yang berhak memberikan nilai. padahal kalau murid disuruh menilai dirinya sendiri pake rubrik, mereka jadi lebih berpikir seperti "saya kurangnya dimana ya?". metakognisinya dapat sekali. tantangannya memang di bagaimana mengedukasikan orang tua agar tidak terkejut kalau tidak ada nilai di pekerjaan rumah anaknya.

    BalasHapus
  85. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya cara guru ngobrol sama murid dan orang tua itu penting banget saya setuju kalau daripada nakut-nakutin soal nilai mendingan guru kasih semangat dengan memuji kehebatan murid di bagian pelajaran tertentu dengan cara ini anak-anak nggak bakal merasa takut lagi sama angka-angka di kertas orang tua juga jadi lebih paham gimana perkembangan anaknya yang sebenarnya nggak cuma sekadar lihat angka di rapot doang.

    BalasHapus
  86. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak saya setuju dengan ide buat tidak langsung kasih nilai angka pas ujian saya setuju kalau guru cuma kasih coretan saran atau komentar dulu murid bakal lebih fokus baca masukan itu daripada stres lihat nilai kecil walaupun awalnya mungkin murid merasa tidak terbiasa tapi cara ini lama-lama bikin mereka makin paham sama pelajaran karena fokusnya buat benerin kesalahan bukan cuma ngejar nilai.

    BalasHapus
  87. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya memberikan kesempatan ujian ulang adalah langkah yang sangat membantu siswa saya setuju bahwa pekerjaan rumah sebaiknya dipakai untuk latihan saja dan tidak usah diberi nilai yang kaku. Dengan menghapus nilai paling rendah rasa takut siswa akan berkurang hal ini membuat mereka lebih berani mencoba belajar tanpa harus merasa stres atau takut gagal terus-menerus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Hai Fauzi betul sekali yaa pendapat kamu tentang materi ini memang benar bahwa ujian ulang dan menghapus nilai terendah itu bukan hanya soal memberikan kesempatan kedua tetapi lebih ke menciptakan lingkungan belajar yang aman di mana siswa tidak perlu takut untuk mencoba dan gagal karena seperti yang dijelaskan pada materi pekerjaan rumah atau penilaian formatif itu seharusnya menjadi tempat latihan dan eksplorasi bukan ajang untuk dinilai secara kaku, jadi ketika Siswa tahu bahwa PR atau kuis mereka tidak akan langsung jadi nilai jelek di rapor mereka menjadi lebih rileks dan berani mengerjakan soal-soal sulit berikutnya tanpa merasa takut salah nah, hal ini penting sekali karena kalau siswa terus-menerus takut gagal mereka malah tidak akan berkembang dan hanya main di zona nyamannya mereka dengan mengerjakan soal yang mudah-mudah saya sedangkan tujuan belajar kan bukan hanya mendapatkan nilai bagus tetapi supaya mereka benar-benar paham dan bisa menguasai materi dengan baik.

      Terima kasih.

      Hapus
  88. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak menurut saya mengajak siswa untuk menilai hasil kerjanya sendiri adalah ide yang keren. Saya setuju bahwa dengan cara ini siswa jadi belajar jujur tentang apa yang mereka bisa dan apa yang belum mereka pahami saat guru dan siswa mengobrol tentang nilai tersebut hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih baik dan siswa jadi merasa lebih bertanggung jawab atas kemajuan belajar mereka sendiri di kelas.

    BalasHapus
  89. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi pak saya setuju pada pembahasan materi mengenai perubahan fokus dari yang sekadar mengejar angka atau nilai ujian menjadi lebih fokus pada proses pemahaman siswa menurut saya kalau kita terlalu menekan anak-anak soal nilai mereka malah jadi stres dan cuma belajar buat hafalan saja padahal yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka bisa benar-benar mengerti apa yang dipelajari dengan menghargai prosesnya siswa jadi punya ruang buat salah dan berani mencoba lagi tanpa merasa takut gagal sehingga belajar pun terasa lebih bermakna buat mereka.

    BalasHapus
  90. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    Sepertinya terlalu fokus pada nilai justru sering membuat siswa takut salah dan berfokus untuk menghafal sebuah rumus dalam menyelesaikan soal aja de.. bukan benar - benar memahami. Dengan menggeser perhatian ke proses melaui umpan balik, refleksi, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan penilaian diri, siswa jadi belajar kalau kesalahan adalah bagian dari belajar. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih manusiawi, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membangun motivasi belajar jangka panjang. Nilai memang penting, tapi tanpa proses yang bermakna, angka hanyalah simbol kosong.

    BalasHapus
  91. Menurut saya penekanan pada proses pembelajaran daripada hasil akhir berupa nilai numerik merupakan langkah strategis untuk membangun mentalitas pembelajar sepanjang hayat yang tidak hanya terpaku pada validasi eksternal, melainkan pada kepuasan intelektual saat menguasai konsep baru.

    BalasHapus
  92. Saya setuju sekali pak dengan strategi menyesuaikan bahasa komunikasi kepada siswa dan orang tua sebagaimana disarankan oleh Crystal Frommert sangatlah penting, karena kata-kata yang memotivasi proses akan lebih efektif dalam membangun rasa percaya diri anak dibandingkan dengan ancaman terkait penurunan nilai.

    BalasHapus
  93. Menurut saya dengan mengurangi tekanan psikologis akibat standarisasi nilai yang kaku, siswa diberikan ruang bernapas untuk mengeksplorasi minat mereka secara kreatif tanpa rasa takut, sehingga potensi unik dari setiap individu dapat berkembang secara lebih optimal dan autentik.

    BalasHapus
  94. Artikel ini secara tidak langsung mengingatkan kita bahwa keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya diukur dari sejauh mana siswa mampu menerapkan pemahaman mereka dalam kehidupan nyata, bukan dari seberapa tinggi angka yang tercetak di atas kertas ujian mereka.

    BalasHapus
  95. Dita Ayu Safarila
    5 C
    2386206048

    Materi ini menekankan bahwa nilai bukanlah tujuan akhir,melainkan sekedar indikator. Fokus pada proses membantu membangun mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Strategi seperti menunda pemberian nilai atau mengubah bahasa komunikasi sangat efektif untuk mengurangi kecemasan siswa dan membangun kepercayaan diri mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dita Ayu Safarila
      5 C
      2386206048

      Penilaian seharusnya mengutamakan pemahaman konsep daripada sekedar angka di atas kertas. Siswa yang fokus pada proses akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan tahan lama. Sebagai calon guru kita perlu menggeser pola pikir dari “berapa nilai kamu?” menjadi “apa yang sudah kamu pahami hari ini?” agar memotivasi internal terjaga.

      Hapus
  96. Dita Ayu Safarila
    5C
    2386206048

    Mengubah fokus dari angka ke proses secara perlahan akan mengubah keseluruhan budaya di dalam kelas. Siswa akan menjadi lebih kolaboratif daripada kompetitif secara tidak sehat. Sebagai calon pendidik tugas kita besar yaitu mengembalikan hakikat sekolah sebagai tempat belajar yang menyenangkan bukan sekedar pabrik penghasil angka di rapor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dita Ayu Safarila
      5 C
      2386206048

      Konsep sekali ujian dan selesai seringkali tidak adil karena kondisi siswa yang beragam. Memberikan kesempatan ujian ulang membuktikan bahwa guru lebih peduli pada penguasaan materi daripada batas waktu. Ini mengajarkan siswa tentang kegigihan dan bahwa mereka selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama mereka mau dan mau berusaha keras.

      Hapus
  97. Dita Ayu Safarila
    5C
    2386206048

    Pekerjaan rumah atau PR dan penilaian formatif sebaiknya tidak di nilai secara kaku berdasarkan keakuratan. Jadikan tugas-tugas tersebut sebagai sarana berlatih dan eksplorasi tanpa tekanan. Dengan menghapus nilai terendah secara otomatis,guru memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan kesalahan tanpa menanggung konsekuensi nilai yang merusak rata rata mereka di akhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dita Ayu Safarila
      5C
      2386206048

      Perubahan pilihan kata saat berkomunikasi dengan siswa dan orang tua memiliki dampak besar bagi budaya kelas. Menghilangkan ancaman nilai dan mengganti nya dengan apresiasi terhadap keterampilan spefisik akan membangun hubungan yang lebih harmonis. Guru yang menggunakan bahasa positif mampu membangkitkan semangat belajar siswa yang sebelum nya kehilangan motivasi di sekolah.

      Hapus
  98. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya pak, bagaimana caranya agar sesi penilaian mandiri ini tidak hanya formalitas. tetapi benar-benar menjadi obrolan yang enak antara guru dan murid untuk membahas progres mereka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206090

      Untuk membuat penilaian mandiri tidak sekadar formalitas, guru bisa mempersiapkan panduan pertanyaan terbuka seperti, Bagaimana kamu merasa tentang kemampuan menyelesaikan soal ini?' atau 'Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi?' Selain itu, fokus pada proses daripada hasil diskusikan langkah-langkah yang sudah ditempuh dan area yang perlu diperbaiki secara santai. Juga, berikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pandangan mereka tentang pembelajaran, sehingga obrolan terasa saling mendengar dan bermakna.

      Hapus
  99. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya lagi pak, apakah ada ide lain selain menghapus nilai kuis paling rendah di setiap semesternya. agar anak-anak tidak terlalu cemas kalau mendapatkan nilai buruk sekali? menurut bapak, apakah hal itu efektif atau tidak untuk mengurangi beban mental mereka?

    BalasHapus
  100. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    BalasHapus
  101. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Ijin bertanya pak Bagaimana perubahan bahasa komunikasi guru dengan siswa dan orang tua (dari fokus nilai ke fokus proses pembelajaran) dapat mengubah budaya kelas dan mengurangi stigma terhadap nilai rendah?

    BalasHapus
  102. Nama : Finsensos Maria Seno
    Kelas : 5D PGSD
    Npm : 2386206090

    Ijin bertanya pak apa mekanisme pendekatan tunda pemberian nilai yang membuat siswa lebih fokus pada pemahaman konsep dan umpan balik daripada angka hasil akhir?

    BalasHapus
  103. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Bagaimana strategi mengurangi risiko penilaian (seperti tidak mencatat nilai pekerjaan rumah dan memberikan "ulang tahun" tugas) dapat menekankan fungsi pembelajaran daripada penilaian?

    BalasHapus
  104. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

     Mengapa ujian ulang dan penilaian mandiri efektif untuk memberikan kesempatan siswa memperbaiki pemahaman tanpa tekanan nilai semata?

    BalasHapus
  105. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, artikel ini menegaskan bahwa pembelajaran seharusnya tidak hanya berpusat pada nilai angka. Jika siswa terlalu fokus pada nilai, mereka bisa kehilangan makna belajar yang sebenarnya, yaitu memahami materi dan mengembangkan kemampuan berpikir.

    BalasHapus
  106. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, cara guru menyesuaikan bahasa saat berbicara kepada siswa dan orang tua sangat penting. Dengan menekankan perkembangan keterampilan dibandingkan angka, siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar dan tidak mudah merasa gagal.

    BalasHapus
  107. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Materi ini mengingatkan kita bahwa belajar seharusnya tentang memahami, bukan sekadar mengejar angka di rapor. Perubahan bahasa, penundaan nilai, sampai memberi ruang refleksi dan penilaian mandiri terasa sangat manusiawi dan relevan dengan kondisi siswa sekarang. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ketika tekanan nilai dikurangi, siswa justru lebih berani mencoba, salah, dan belajar dari prosesnya. Bacaan ini memberi dorongan kuat bagi guru untuk membangun kelas yang lebih aman, suportif, dan benar-benar berpihak pada pembelajaran.

    BalasHapus
  108. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Dalam pembelajaran matematika perlu nama proses jadi dalam pembelajaran tersebut perlu latihan dasar supaya dapat mendalam pemahaman konsep pembelajaran tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru selalu memberikan contoh dan pembelajaran matematika tersebut jadi guru menjelaskan secara berurutan jadi siswa dapat mengerti dan memahami konsep pembelajaran tersebut.

      Hapus
    2. Dalam pembelajaran tidak ada kata instan jadi perlu latihan dasar untuk menguasai materi tersebut jadi siswa belajar melalui proses pembelajaran tersebut dimana guru membimbing mereka supaya dapat mengerti dan memahami konsep dasar.

      Hapus
    3. Selain itu siswa perlu dorongan dalam membaca jadi belajar sambil membaca dan mengingat jadi siswa dapat mengetahui bentuk konsep pembelajaran tersebut.

      Hapus
    4. Jadi pembelajaran tersebut perlu proses bukan angka yang menjadi nilai tapi proses yang menjadi hasil belajar siswa tersebut.

      Hapus
  109. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Materi yang bapak berikan ini benar sekali, terkadang angka di rapor itu malah membuat murid menjadi takut gagal daripada semangat belajar. saya suka sekali sama ide menunda memberikan nilai angka agar mereka fokus ke feedback dulu. dengan begitu, mereka menjadi lebih paham apa yang perlu diperbaiki, bukan hanya sekedar mengejar skor. ternyata memberikan kepercayaan ke murid untuk menilai diri sendiri itu juga bisa melatih cara berpikir mereka ya.

    BalasHapus
  110. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya sangat setuju sekali sama materi yang bapak berikan ini. penilaian itu seharusnya mendukung proses belajar, bukan malah menjadi beban. keren sekali idenya tentang PR tidak usah dinilai akurasinya, cukup melihat usahanya saja untuk latihan. terus memberikan kesempatan ujian ulang juga agar mereka fokus ke penguasaan materi, bukan hanya sekali gagal langsung selesai. fokus ke pemahaman jauh lebih penting.

    BalasHapus
  111. 2386206060(5B)
    bagian yang membahas soal fokus pada proses, bukan cuma nilai itu sangat relevan dengan kondisi pendidikan sekarang ya. tapi di realita, banyak siswa yang belajar bukan karena ingin paham, tapi karena takut nilainya jelek. dan akhhirnya yang dikejar cuma angka, bukan ilmunya. dari cerita ini juga ini ngingetin kalau pendidikan seharusnya bikin anak berkembang, bukan cuma bikin stres ngejar nilai.

    BalasHapus
  112. 2386206060(5B)
    Ada juga di tekanan nilai ya, tekanan nilai yang terlalu besar itu nyata banget terjadi di sekolah mana aja. udah bannyak siswa yang sebenarnya pintar dan punya potensi, tapi jadi takut mencoba karena khawatir salah dan nilainya turun. Dari cerita ini kelihatan kalau saat guru lebih menghargai proses, siswa bisa lebih berani belajar dan nggak takut gagal. Ini penting banget di zaman sekarang, apalagi mental anak juga rentan.

    BalasHapus
  113. 2386206060
    Ada ni Peran guru yang mengubah cara memberi feedback juga menurutku sangat penting. di lapangan, komentar guru sering cuma soal “nilaimu segini” tanpa penjelasan. Padahal kalau guru fokus ke usaha dan pemahaman siswa, anak jadi merasa dihargai. Cerita ini ngasih gambaran bahwa kata-kata guru itu punya pengaruh besar ke cara siswa memandang belajar.

    BalasHapus
  114. 2386206060 (5B)
    tapi ya di dunia nyata cukup berani dan nggak semua guru mau melakukannya. Tapi justru di situ letak poin pentingnya. jadi Kalau siswa dikasih waktu fokus ke komentar dan perbaikan dulu, mereka bisa benar-benar belajar dari kesalahan, bukan langsung kecewa lihat angka

    BalasHapus
  115. 2386206060(5B)
    di kehidupan nyata orang dewasa juga belajar dari kesalahan dan dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri, Jadi wajar kan kalau siswa juga diberi ruang yang sama Sistem yang terlalu kaku malah bikin siswa merasa gagal sejak awal dan akhirnya malas berusaha

    BalasHapus
  116. 2386206060 (5B)
    penilaian mandiri yang dibahas di cerita ini juga relevan dengan kebutuhan zaman sekarang jadi anak anak perlu dilatih refleksi, bukan cuma disuruh menerima nilai aja, menilai diri sendiri, siswa belajar jujur, sadar kekurangan, dan tahu apa yang perlu diperbaiki. Ini juga keterampilan hidup yang kepakai sampai dewasa, bukan cuma di sekolah.

    BalasHapus
  117. 2386206060(5B)
    dan secara tidak langsung menyinggung soal kesehatan mental siswa, meskipun tidak dibahas secara eksplisit fokus berlebihan pada nilai sering bikin siswa cemas, tertekan, dan kehilangan rasa percaya diri dengan menekankan proses, suasana belajar bisa lebih manusiawi dan nggak menakutkan.

    BalasHapus
  118. Nama : Miftahul hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    artikel ini menekankan bahwa penting bagi guru untuk menilai proses belajar siswa, bukan hanya hasil akhir atau nilai, karena fokus pada proses membantu siswa memahami konsep lebih mendalam dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Menurut Bapak, strategi apa yang paling efektif agar guru bisa menilai proses belajar secara adil dan praktis, terutama di kelas dengan banyak siswa dan waktu terbatas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dominika Dew Daleq
      Npm: 2386206051
      Kelas: V.A


      Izin menjawab pertanyaan dari Miftahul, menurut saya untuk menilai proses secara adil dan praktis di situasi seperti ini ada beberapa strategi dari materi yang bisa kita terapkan yaitu pertama gunakan penilaian secara mandiri di mana siswa diminta menilai hasil kerja mereka sendiri dengan rubrik yang jelas kemudian kita diskusikan secara bersama-sama mereka Jadi kita tidak harus menilai detail satu persatu untuk semua siswa tetapi tetap bisa melihat sejauh mana pemahaman mereka. Kedua adalah dengan memberikan umpan balik yang singkat tetapi jelas pada hasil ujian atau tugas seperti catatan "bagian ini sudah bagus, tapi coba perbaiki bagian yang ini" tanpa harus mencantumkan angka dulu sehingga Siswa lebih fokus ke perbaikan bukan ke nilainya. Ketiga kita bisa mencatat siapa saja yang mengerjakan PR tanpa menilai keakuratannya secara detail karena PR itu untuk melatih jadi cukup dicatat sebagai bukti usaha mereka. Dan keempat terapkan sistem seperti menghapus nilai kuis terendah atau memberikan kesempatan ujian ulang supaya siswa merasa aman untuk belajar dari kesalahan dengan strategi-strategi ini kita tetap bisa berfokus ke proses meskipun waktu dan tenaga kita terbatas karena kuncinya bukan menilai setiap detail tapi menciptakan budaya kelas yang menekankan pembelajaran bermakna dibanding sekedar angka saja.

      Semoga membantu

      Hapus
  119. 2386206060 (5B)
    nah untuk pendekatan seperti ini sebaiknya didukung oleh sistem sekolah juga, karna bukan cuma inisiatif guru tertentu aja ada juga kalau satu guru fokus proses tapi sistem sekolah masih menekan nilai, nah itu hasilnya nggak maksimal jadi perlu kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua supaya cara pandang terhadap belajar bisa berubah.

    BalasHapus
  120. 2386206060 (5B)
    untuk di erah sekarang ini ketika informasi mudah diakses dan skill lebih dibutuhkan daripada hafalan,maka fokus pada proses belajar itu jauh lebih masuk akal dan cerita ini seolah mengingatkan bahwa sekolah bukan pabrik nilai, tapi tempat siswa belajar berpikir, mencoba, dan berkembang.

    BalasHapus
  121. 2386206060(5B)
    untuk keseluruhannya di cerita ini memberikan pesan yang kuat dan realistis, nilai itu penting, tapi bukan segalanya juga proses belajar yang sehat justru akan menghasilkan pemahaman yang lebih dalam dan nilai yang lebih bermakna. jadi Ini bukan cuma teori, tapi kebutuhan nyata di dunia pendidikan saat ini.

    BalasHapus
  122. 2386206060 (5B)
    dari cerita ini membahas tentang kebiasaan pendidikan yang terlalu fokus pada nilai angka, dan ini memang nyata terjadi di sekolah sekarang, banyak siswa belajar karena takut nilainya jelek, tapi bukan karena ingin benar-benar paham, tapi Menurutku ini jadi pengingat bahwa nilai seharusnya cuma alat, bukan tujuan utama untuk belajar.

    BalasHapus
  123. 2386206060(5B)
    sekarang tentang pentingnya proses belajar terasa sangat relevan juga di dunia nyata, orang belajar itu kalau ngga salah, ya coba lagi, dan pelan-pelan pasti paham, Tapi di sekolah, kesalahan sering dianggap kegagalan, cerita ini menekankan bahwa proses itu justru bagian penting dari belajar, bukan sesuatu yang harus dihindari.

    BalasHapus
  124. Nama : Miftahul Hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    saya tertarik dengan ide “menunda pemberian nilai” supaya siswa fokus ke umpan balik dan proses belajar dulu — itu keren banget. Tapi bagaimana kalau sekolah atau orang tua tetap menuntut angka? Apakah metode ini akan tetap efektif kalau ada tekanan eksternal seperti itu?

    BalasHapus
  125. nama : miftahul hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    saat kita menunda pemberian nilai supaya siswa fokus ke umpan balik, gimana caranya biar orang tua nggak salah paham dan tetap mendukung proses itu? Soalnya biasanya mereka paling sensitif soal angka.

    BalasHapus
  126. Nama: Arjuna
    Npm: 2386206018
    Kelas: 5A
    Jadi fokus belajar itu seharusnya bukan cuma soal ngejar angka di rapor tapi lebih ke gimana siswa benar-benar memahami materi dan proses belajarnya sendiri kalau kita terlalu ngejar nilai sering banget yang terjadi adalah siswa cuma hafal untuk ujian bukan paham konsepnya dan itu bikin proses belajarnya jadi kurang bermakna

    BalasHapus
  127. Aku juga ngerasa bahwa waktu guru atau orang tua lebih banyak ngomongin bagaimana cara siswa berkembang daripada berapa nilainya itu bisa bikin siswa lebih tenang dan berani ambil risiko untuk bertanya mencoba atau ngerjain hal yang mereka belum bisa itu malah bikin mereka belajar lebih dalam dan bukan sekadar belajar buat angka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Arjuna
      Npm: 2386206018
      Kelas: 5A
      nilai memang penting sebagai indikator tapi itu cuma sebagian kecil yg paling berharga justru pengalaman dan keterampilan yang didapat sepanjang proses belajar karena itu yang bakal ngebantu siswa siap menghadapi tantangan sesungguhnya bukan cuma naksir angka di kertas

      Hapus
  128. nama:erfina feren heldiana
    5c

    Izin bertanya, Pak… saat kita menunda pemberian nilai supaya siswa fokus ke umpan balik, gimana caranya biar orang tua nggak salah paham dan tetap mendukung proses itu? Soalnya biasanya mereka paling sensitif soal angka

    BalasHapus
  129. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    izin pak Untuk penilaian mandiri siswa, gimana cara memastikan mereka menilainya objektif? Kadang ada yang terlalu merendah, tapi ada juga yang terlalu PD. Ada tips biar prosesnya tetap jujur dan efektif?

    BalasHapus
  130. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    belajar itu bukan cuma soal angka atau nilai di raport, tapi yang lebih penting adalah cara kita belajar dan paham pelajarannya. Kalau kita cuma kejar nilai, kadang kita lupa mau ngerti atau berpikir sendiri, padahal proses belajar itu yang bikin kita makin pintar

    BalasHapus
    Balasan
    1. guru dan orang tua harus membantu anak supaya lebih fokus pada proses belajar, misalnya dengan memberi semangat, komentar yang jelas, dan menjelaskan hal yang belum dimengerti dulu sebelum ngomongin nilainya. Ini bikin kita jadi gak takut salah dan jadi lebih berani mencoba

      Hapus
    2. Kalau kita lebih memperhatikan prosesnya, kita bisa belajar dari kesalahan dan tahu langkah-langkah yang benar. Kita jadi lebih paham pelajarannya dan bisa memakai ilmu itu di kehidupan sehari-hari juga, bukan cuma supaya nilai bagus aja.

      Hapus
  131. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    Untuk penilaian mandiri siswa, gimana cara memastikan mereka menilainya objektif? Kadang ada yang terlalu merendah, tapi ada juga yang terlalu PD. Ada tips biar prosesnya tetap jujur dan efektif?

    BalasHapus
  132. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    npm:2386206065
    saat siswa diajak menilai diri sendiri dulu sebelum guru memberikan nilai (penilaian mandiri + rubrik), bagaimana cara agar penilaian mereka jujur dan obyektif? Karena kadang siswa bisa terlalu merendah atau malah memberi nilai terlalu tinggi — jadi apakah ada strategi supaya penilaian mandiri tetap bermakna dan adil?

    BalasHapus
  133. Nama : Miftahul hasanah
    kelas : 5C
    npm : 2386206040

    Untuk penilaian mandiri siswa, gimana cara memastikan mereka menilainya objektif? Kadang ada yang terlalu merendah, tapi ada juga yang terlalu PD. Ada tips biar prosesnya tetap jujur dan efektif?

    BalasHapus
  134. nama:erfina feren heldiana
    kelas:5c
    npm:2386206065
    penggunaan refleksi, diskusi, dan umpan balik sebagai bagian dari penilaian proses, bukan sekadar memberi nilai angka. Namun di praktik nyata, seringkali guru terbiasa menekankan hasil akhir. Menurut Bapak, bagaimana cara mendorong siswa menghargai proses belajar mereka sendiri, sehingga mereka lebih termotivasi untuk belajar secara aktif dan bertanggung jawab?

    BalasHapus
  135. Nama: Dominika Dew Daleq
    Npm: 2386206051
    Kelas: V.A


    Menurut saya materi ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan kita saat ini pak karena memang banyak siswa yang akhirnya hanya berfokus ke angka dan lupa bahwa tujuan belajar itu untuk memahami materinya, ide-ide seperti menunda pemberian nilai dan memberikan umpan balik yang jelas rasanya akan sangat membantu siswa untuk lebih fokus ke proses belajarnya.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak