Kemajuan teknologi terkini telah memengaruhi banyak bidang kehidupan kita, termasuk cara kita berkomunikasi, berkolaborasi, belajar, dan tentu saja, mengajar. Mengajar di abad ke-21 adalah fenomena yang sama sekali berbeda; sebelumnya pembelajaran tidak dapat terjadi seperti sekarang, di mana saja, setiap saat, pada topik apa pun yang memungkinkan, mendukung gaya atau preferensi belajar apa pun. Namun, kita perlu bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya arti menjadi guru abad ke-21?
Tsisiana Palmer (2015) memberikan karakteristik guru abad 21 sebagai berikut.
1. Kelas yang berpusat pada peserta didik dan pembelajaran yang dipersonalisasi: Karena peserta didik memiliki akses ke informasi apa pun yang memungkinkan, tentu saja tidak perlu menyuapi mereka dengan pengetahuan atau mengajarkan konten yang sama untuk semua orang. Peserta didik memiliki kepribadian, tujuan, dan kebutuhan yang berbeda, dan memberikan pembelajaran yang dipersonalisasi tidak hanya mungkin tetapi juga diinginkan. Ketika peserta didik diizinkan untuk membuat pilihan mereka sendiri, mereka memiliki kendali atas pembelajaran mereka, meningkatkan motivasi intrinsik, dan berusaha lebih keras—resep ideal untuk hasil pembelajaran yang lebih baik.
2. Siswa sebagai produsen: Siswa masa kini memiliki perangkat terbaru dan terbaik, tetapi penggunaannya dalam banyak kasus hanya terbatas pada komunikasi dengan keluarga dan teman melalui obrolan, teks, atau panggilan. Meskipun siswa kini dianggap sebagai penduduk asli digital, banyak yang masih jauh dari memproduksi konten digital apa pun. Mereka memiliki perangkat mahal dengan kemampuan untuk membuat blog, infografis, buku, video tutorial, dan tutorial, dan masih banyak lagi, tetapi di banyak kelas mereka masih diminta untuk mematikan perangkat tersebut dan mengerjakan handout dan lembar kerja.
3. Pelajari teknologi baru: Agar dapat menawarkan pilihan kepada siswa, memiliki pengalaman dan keahlian langsung akan berguna. Karena teknologi terus berkembang, mempelajari suatu alat sekali dan untuk selamanya bukanlah suatu pilihan. Kabar baiknya adalah bahwa teknologi baru merupakan hal baru bagi guru pemula dan berpengalaman, sehingga setiap orang dapat menggunakannya kapan saja.
4. Mendunia: Berbagai alat yang ada saat ini memungkinkan kita untuk belajar tentang negara dan orang lain secara langsung. Tentu saja, buku teks masih cukup, tetapi tidak ada yang lebih baik daripada belajar bahasa, budaya, dan keterampilan komunikasi dengan berbicara langsung dengan orang-orang dari belahan dunia lain.
Namun, sayang sekali bahwa dengan semua alat yang tersedia, kita masih belajar tentang budaya, orang, dan peristiwa lain dari media. Mengajarkan siswa cara menggunakan alat di tangan mereka untuk mengunjungi—setidaknya secara virtual—setiap sudut planet ini diharapkan akan membuat kita lebih berpengetahuan dan bersimpati.
5. Jadilah pintar dan gunakan ponsel: Sekali lagi—ketika siswa didorong untuk melihat perangkat mereka sebagai alat berharga yang mendukung pengetahuan (bukan sebagai gangguan), mereka mulai menggunakannya seperti itu. Setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda dalam hal bantuan untuk kosakata atau pertanyaan baru, jadi tidak perlu membuang waktu dan menjelaskan sesuatu yang mungkin hanya bermanfaat bagi satu atau dua siswa. Sebaliknya, mengajarkan siswa untuk mandiri dan mengetahui cara menemukan jawaban yang mereka butuhkan membuat kelas menjadi lingkungan yang berbeda.
6. Beralih ke digital: Atribut penting lainnya adalah beralih ke sistem tanpa kertas—mengatur sumber daya dan aktivitas pengajaran di situs web sendiri dan mengintegrasikan teknologi dapat membawa pengalaman belajar siswa ke tingkat yang berbeda. Berbagi tautan dan menawarkan diskusi digital, bukan aliran kertas yang konstan, memungkinkan siswa untuk mengakses dan berbagi sumber daya kelas dengan cara yang lebih terorganisasi.
7. Berkolaborasi: Teknologi memungkinkan kolaborasi antara guru dan siswa. Membuat sumber daya digital, presentasi, dan proyek bersama dengan pendidik dan siswa lain akan membuat aktivitas kelas menyerupai dunia nyata. Kolaborasi harus lebih dari sekadar berbagi dokumen melalui email atau membuat presentasi PowerPoint. Banyak ide hebat tidak pernah lebih dari sekadar percakapan atau salinan kertas, yang merupakan kerugian besar. Kolaborasi secara global dapat mengubah seluruh pengalaman kita.
8. Terhubung: Terhubung dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama. Sekali lagi, perangkat masa kini memungkinkan kita untuk terhubung dengan siapa saja, di mana saja, kapan saja. Punya pertanyaan untuk pakar atau kolega? Cukup terhubung melalui media sosial: ikuti, bergabung, tanyakan, atau beri tahu.
9. Pembelajaran berbasis proyek: Karena siswa masa kini memiliki akses ke sumber daya autentik di web, pakar di mana pun di dunia, dan rekan yang mempelajari subjek yang sama di tempat lain, mengajar dengan buku teks sangat ketinggalan zaman. Siswa masa kini harus mengembangkan pertanyaan pendorong mereka sendiri, melakukan penelitian, menghubungi pakar, dan membuat proyek akhir untuk dibagikan, semuanya menggunakan perangkat yang sudah ada di tangan mereka. Yang mereka butuhkan dari guru mereka hanyalah bimbingan.
10. Bangun jejak digital positif: Mungkin kedengarannya jelas, tetapi guru masa kini harus menjadi contoh bagaimana menggunakan media sosial dengan tepat, bagaimana membuat dan menerbitkan konten yang berharga, dan bagaimana membuat sumber daya yang dapat dibagikan. Meskipun benar bahwa guru adalah manusia, dan mereka ingin menggunakan media sosial dan mengunggah gambar serta pemikiran mereka, kita tidak dapat meminta siswa kita untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas secara daring jika kita sendiri melakukannya. Mempertahankan perilaku profesional baik di kelas maupun daring akan membantu membangun jejak digital positif dan menjadi contoh tindakan yang tepat bagi siswa.
11. Bahasa Pemrograman (coding): Meskipun ini mungkin terdengar rumit, pengodean tidak lain adalah literasi masa kini. Karena pensil dan pena adalah alat pada abad ke-20, guru masa kini harus mampu mengoperasikan pena dan pensil masa kini yakni komputer.
12. Berinovasi: memperluas perangkat pengajaran dan mencoba cara-cara baru yang belum pernah Anda coba sebelumnya, seperti mengajar dengan media sosial atau mengganti buku teks dengan sumber daya web.
13. Teruslah belajar: Karena alat dan teknologi baru terus bermunculan, apalagai AI sudah begitu menjamur saat ini dalam dunia. Belajar dan beradaptasi adalah hal yang penting.
Referensi

Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
BalasHapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Izin menanggapi pak, dari materi di atas membahas arti guru pada abad ke 21 dimana pada abad tersebut guru tidak lagi sebagai guru, tetapi guru juga berperan sebagai pendukung siswa dimana guru harus memiliki karakteristik seperti yang telah di berikan materi di atas. Contohnya yang akan saya ambil adalah bagian dimana guru hrus mempelajari teknologi baru dimana guru harus sering mempelajarinya karena itu akan berguna agar kita bisa sampai kan kepada siswa karena itu akan berguna untuk siswa, agar siswa dapat mengembangkan pengalaman dan keahliannya. Apalagi pada jaman sekarang yang dimana teknologi sudah sangat berkembang, dari sini lah sebagai guru kita harus belajar teknologi digital dan mengembangkan wawasan atau ide dengan teknologi 🙏
Saya sangat setuju dengan Isdiana bahwa peran guru di abad ke-21 telah bergeser dari sekadar pemberi materi menjadi pendukung utama yang harus membekali siswa dengan karakteristik dan pengalaman belajar yang relevan.
HapusNama : Nabilah Aqli Rahman
BalasHapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Ngomongin guru abad 21 tuh selalu seru menurut sayaa, karena peran guru sekarang udah nggak cuman belajar di depan kelas. Tapi guru zaman sekarang dituntut buat melek teknologi, terus belajar dan bisa bikin suasana belajar jadi lebih hidup. Guru-guru yang menjadi guru di abad 21 nggak cuman nyampaikan materi aja tapi juga bantuk supaya anak-anak bisa berpikir kritis, berani ngomong, dan pastinya juga ngajarin tentang kerja sama. Pokoknya seruuu, karna guru ga cuman sekedar ngasih jawaban tapi juga bisa jadi teman buat eksplor barenggg.
Nama : Nabilah Aqli Rahman
HapusNPM : 2386206125
Kelas : 5D PGSD
Tapi yaa, ga bisa dipungkiri, tantangannya juga lumayan. Nggak semua guru punya akses mudah ke teknologi. Nggak semua guru punya waktu buat belajar hal baru. Kadang kelihatannya tuntutan jadi guru abad 21 terasa berat. Contohnya di daerah terpencil, guru bisa kesulitan buat ngikutin perkembangan, dan itu bisa bikin kualitas pendidika jadi nggak merata. Kalau guru terlalu fokus ke teknologi juga, bisa-bisa nilai-nilai lokal dan hubungan hangat antara guru dan siswa jadi berkurang. Bondingnya ga adaa.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama:elisnawatie
BalasHapusKelas:VD
NPM :2386206069
Izin bertanya pak
Guru diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta mengubah perannya dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Melihat kenyataan bahwa tidak semua guru maupun siswa memiliki kemampuan dan akses teknologi yang sama, bagaimana seharusnya seorang guru abad ke-21 merancang strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi perbedaan tersebut, sekaligus menumbuhkan kemandirian belajar, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa agar mereka dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat di era sekarang yang serba digital ini pak?
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNpm : 2386206086
Kelas : 5D
Izin menanggapi elis , menurut saya pertanyaan elis ini sangat bagus karena relevan dengan tantangan nyata untuk pendidikan masa kini , di mana tidak semua guru dan siswa ini memiliki kemampuan atau untuk akses teknologi yang sama , menurut saya seorang guru pada abad 21 ini perlu bersikap adaptif , inklusif, dan juga kreatif dalam merancang pembelajaran, teknologi itu memang penting , tetapi ya bukan satu - satunya jalan , yang utama itu bagaimana guru itu mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna untuk semua siswa .
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Elisnawatie, menurut sepengetahuan yang saya ketahui guru di abad 21 ini harus bisa membuat pembelajaran itu menjadi fleksibel, guru juga perlu untuk menyediakan pilihan kegiatan tersebut yang berupa digital dan juga non digital agar para siswa itu bisa ikut belajar. Tidaklah hanya berfokus pada teknologi saja, namamu juga pada bagaimana cara berpikir para siswa itu, menganalisa dan juga dapat memecahkan suatu masalah.
Nama : Oktavia Ramadani
BalasHapusNpm : 2386206086
Kelas : 5D
Izin menanggapi pak , materi ini menggambarkan dengan jelas bagaimana peran guru yang berubah secara signifikan di tengah kemajuan teknologi yang maju dan arus informasi global , dulu guru menjadi satu - satunya sumber pengetahuan tetapi sekarang siswa dapat mengakses informasi itu kapan saja dan di mana saja peran guru beralih menjadi fasilitator, pembimbing serta inspirator pembelajaran , guru pada abad 21 harus mampu menyesuaikan pendekatan agar setiap siswa akan merasa dihargai .
Guru pada abad 21 ini tidak hanya mengusai metode lama saja tetapi mereka harus selalu siap untuk beradaptasi dengan teknologi baru seperti kecerdasan AI dan aplikasi digital pembelajaran lainnya , guru yang terus belajar akan menumbuhkan cara belajar yang hidup untuk siswa di kelasnya , memang kemajuan teknologi saat ini telah mempengaruhi banyak bidang di kehidupan kita contohnya pada saat berkomunikasi, berkolaborasi, belajar , dan tentu saja mengajar di abad 21 ini fenomena yang sama sekali berbeda .
Nama : Oktavia Ramadani
HapusNpm : 2386206086
Kelas : 5D
Saya izin menambahkan lagi pak , disini materi nya juga menegaskan bahwa guru pada abad 21 ini bukan hanya sebagai pengajar saja, tetapi juga sebagai pembelajar yang mampu memanfaatkan teknologi itu sebagai menciptakan pembelajaran yang relevan , bermakna, dan juga menginspirasi .
Nama : Andi nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Jadi yang dapat saya ambil dari materi di atas yaitu karakteristik guru abad ke-21 menurut sisiana Palmer 2015 mencerminkan perubahan besar dalam pendekatan pendidikan, yaitu sekarang guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi tetapi menjadi fasilitator yang mendorong pembelajaran aktif dan personalisasi. Guru abad ke-21 adalah pembelajaran sepanjang hayat yang beradaptasi terhadap teknologi. Guru mendorong pembelajaran yang aktif berkalaboratif dan bersangkutan dengan dunia nyata. Pendekatan berbasis proyek menjadi strategi utama guru mereka juga membekali siswa keterampilan termasuk literasi digital atau bacaan-bacaan buku yang ada di internet dan pemrograman. Berkolaborasi global menjadi kekuatan baru dalam dunia pendidikan dengan berinovasi dan kreativitas bukan lagi pilihan tetapi kebutuhan menjadi guru di abad 21 ini berarti siap berubah dalam berbagai hal ,berkembang dalam berbagai hal, dan membimbing generasi masa depan dengan cara yang berbeda
Nama : Andi Nurfika
BalasHapusNPM : 2386206017
Kelas : VB PGSD
Izin bertanya, di sini membahas tentang beberapa karakteristik guru pada abad ke-21. Jadi bagaimana cara guru untuk menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kebutuhan emosional dan sosial siswa dalam pembelajaran abad ke-21, dan seberapa penting kemampuan coding bagi guru dari semua mata pelajaran bukan yang terkait dengan teknologi?
Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
HapusNpm : 2386206058
Kelas : VB PGSD
Izin menjawab pertanyaannya ya Andi Nurfika terkait dalam materi di atas menurut saya penggunaan teknologi dalam pembelajaran abad ke-21 memang penting. Namun guru juga perlu menyimbangkannya dengan perhatikan terhadap kebutuhan emosional dan sosial siswa. Teknologi bisa digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai tujuan utama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus tetap berperan sebagai pembimbing yang di mana menghadirkan interaksi serta pembelajaran yang bermakna. Kemampuan coding bagi guru ini sifatnya pilihan di mana disesuaikan dengan kebutuhan. Yang terpenting itu adalah di mana guru mampu memanfaatkan teknologi secara bijak agar pembelajaran menjadi lebih kreatif dengan mengikuti perkembangan zaman🙏
Nama : Juliana Dai
HapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Hallo Andi Nurfia saya izin menjawab ya, Guru dapat menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kebutuhan emosional dan sosial siswa dengan menerapkan konsep kelas yang berpusat pada peserta didik dan pembelajaran yang dipersonalisasi. Teknologi harus dipandang sebagai alat berharga yang mendukung pengetahuan (bukan gangguan), yang memungkinkan siswa untuk mandiri dan menemukan jawaban yang mereka butuhkan, sehingga kelas menjadi lingkungan yang berbeda. Namun, teknologi harus selalu diimbangi dengan kolaborasi, di mana guru membuat sumber daya digital, presentasi, dan proyek bersama dengan siswa lain untuk meniru aktivitas dunia nyata. Kolaborasi ini harus lebih dari sekadar berbagi dokumen, tetapi juga terhubung dengan orang-orang atau pakar yang memiliki pemikiran yang sama untuk memperkaya pengalaman sosial dan intelektual siswa.
Kemampuan coding (Bahasa Pemrograman) sangat penting bagi guru dari semua mata pelajaran karena pengodean tidak lain adalah literasi masa kini. Sama halnya pensil dan pena adalah alat pada abad ke-20, komputer adalah pena dan pensil masa kini yang harus mampu dioperasikan oleh guru. Guru abad ke-21 tidak hanya harus menjadi pengguna, tetapi juga Terus belajar dan Beradaptasi karena alat dan teknologi baru, seperti AI, terus bermunculan. Dengan menguasai logika dasar coding dan digital, guru mampu Berinovasi dalam memperluas perangkat pengajaran, misalnya dengan mengganti buku teks dengan sumber daya web, sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih terorganisasi dan relevan di era digital ini.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm; 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Andi Nurfika, menurut sepengetahuan yang saya ketahui teknologi dan juga kebutuhan emosional pada siswa itu menurut saya memang haruslah seimbang yaitu dengan menggunakan teknologi itu dengan seperlunya saja ialah untuk mendukung belajar para siswa, namun haruslah tetap mengutamakan interaksi kepada manusia seperti diskusi, kerja kelompok, dan juga komunikasi supaya sisi emosional para siswa itu tetap bisa terus menerus berkembang. Sepengetahuan saya coding itu tidaklah bersifat wajib untuk dikuasai oleh semua guru, namun pentinglah untuk dipahami dasarnya yaitu sebagai literasi abad 21 yaitu untuk melatih cara berpikir yang logis dan juga dapat memecahkan sebuah masalah.
Nam:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Fika, jadi menurut saya, guru bisa menyeimbangkan teknologi dan kebutuhan emosional siswa dengan cara tetap memakai teknologi seperlunya sambil tetap hadir secara hangat, ngobrol, dan peka sama perasaan anak-anak, jadi teknologi cuma jadi alat bantu, bukan pusatnya. Soal coding, guru dari semua mata pelajaran nggak harus jago, tapi punya dasar logika coding itu penting buat nambah cara berpikir terstruktur, kreatif, dan ngerti gimana dunia digital bekerja, jadi bisa ngarahin siswa dengan lebih relevan di abad 21.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Hai Andi Nurfika, saya izin menjawab pertanyaan kamu.
Untuk menyeimbangkan teknologi dengan kebutuhan emosional dan sosial siswa, menurut saya guru perlu menggunakan teknologi sebagai jembatan bukan pengganti interaksi para siswa, misalnya saat menggunakan perangkat digital untuk pembelajaran berbasis proyek guru tetap harus memfasilitasi diskusi tatap muka dan kerja kelompok. Teknologi seperti kolaborasi digital yang disebutkan dalam materi justru bisa memperkuat hubungan sosial siswa kalau digunakan dengan tepat, kuncinya adalah guru harus peka membaca kapan siswa butuh interaksi langsung dan kapan teknologi bisa membantu jangan sampai kita terlalu fokus pada alat digitalnya sampai lupa bahwa siswa juga butuh koneksi emosional dan pembelajaran sosial.
Soal coding saya rasa tidak harus semua guru menguasai programmer tingkat lanjut, yang dimaksud pada materi ini lebih ke pemahaman dasar tentang logika digital dan bagaimana teknologi bekerja, analoginya seperti di abad 20 semua guru perlu bisa menulis dengan pena meski bukan guru Bahasa Indonesia. Coding di abad 21 adalah bentuk literasi baru guru matematika, IPA, bahkan seni bisa menggabungkan pemikiran komputasional dalam pembelajarannya dan yang penting juga bukan jadi programmer nya tetapi paham cara kerja teknologi supaya bisa membimbing siswa menggunakan perangkat mereka secara produktif dan kreatif.
Nama : Tarenta Syensis Septiani Mbitu
HapusNPM : 2386206068
Kelas : Vb
Hallo Andi Nurfika saya izin menjawab pertanyaan komentar anda yaa. Menurut saya, guru zaman sekarang itu harus pintar pakai teknologi, tapi juga pintar sayang sama murid 😊
Guru boleh pakai laptop, proyektor, atau video supaya belajar jadi seru. Tapi guru juga harus tetap ajak murid ngobrol, kerja kelompok, dan bermain bersama, supaya murid nggak merasa sendirian dan tetap punya banyak teman. Jadi, teknologi itu alat bantu, bukan pengganti guru. Kalau soal coding, menurut saya nggak semua guru harus jago coding kayak buat program. Yang penting guru tahu dasar-dasarnya, supaya nggak takut dengan teknologi dan bisa mengajarkan murid cara berpikir rapi, sabar, dan nggak mudah menyerah.
Jadi, guru hebat itu bukan cuma yang bisa teknologi, tapi juga yang mau dengarkan murid, peduli perasaan murid, dan bikin kelas jadi aman dan menyenangkan 😊
Uraian Pandrah laman ini benar-benar sangat relevan dengan kehidupan di abad ke-21.
BalasHapusYang paling enggak masuk akal bagi saya itu ilmuan Tsisiana Palmer (2015) memberikan karakteristik guru abad ke-21 dan Waw nya benar-benar karakteristik yang dia sampaikan kejadian pada abad ke21 ini .
Memang tidak bisa dipungkiri kegiatan proses belajar mengajar pada abad ke-21 ini menurut saya mengedepankan penggunaan teknologi untuk diterapkan dalam pembelajaran, guru-guru yang dulunya kurang update tentang penggunaan teknologi sekarang banyak mengikuti pelatihan ,banyak mengikuti seminar ,untuk mengenali penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar.
Pada laman ini saya mendapatkan manfaat informasi bahwasanya guru itu harus benar-benar belajar tentang teknologi untuk membantu jalannya proses belajar mengajar.
BalasHapusSeperti yang kita ketahui pada abad ke-21 ini anak didik dari tingkatan sekolah dasar sudah lihai menggunakan teknologi, maka benar yang dinyatakan pada laman ini peserta didik itu memiliki perangkat mahal dengan kemampuan untuk membuat blog, infografis buku, dan tutorial serta masih banyak lagi.
Nah peran guru dalam pembelajaran di abad ke-21 ini ialah mengarahkan siswa agar memanfaatkan perangkat mahal mereka supaya, dengan perangkat mahal Yang mereka punya dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi pembelajaran yang baik, dapat dimanfaatkan untuk menciptakan karya-karya yang baik dalam penggunaan teknologi yang akan memberikan dampak besar bagi kehidupan mereka.
Nama: Stevani
BalasHapusNPM: (2386206045)
Kelas: V C PGSD
Sebagai calon guru, saya merasa tertantang untuk mengembangkan karakter abad 21 seperti kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Materi ini mengingatkan saya bahwa siswa abad 21 tidak lagi mencari guru yang hanya memberi jawaban, tetapi guru yang membimbing mereka menemukan pertanyaan yang tepat.
Materi mengenai guru abad 21 sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini namun, sering kali konsep seperti collaboration dan critical thinking hanya menjadi jargon jika tidak diikuti dengan dukungan nyata, seperti pelatihan berkelanjutan dan kebijakan sekolah yang adaptif guru butuh ekosistem yang memungkinkan mereka benar-benar menerapkan karakteristik tersebut, guru masa kini harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, kreatif dalam mengajar, serta peka terhadap kebutuhan siswa yang hidup di dunia digital.
HapusNama : Aprilina Awing
BalasHapusKelas : 5D PGSD
NPM : 2386206113
Ijin menanggapi pak, yang saya baca dari materi yang di sampaikan di atas menjadi Guru di abad 21 itu udah beda bangettt sama yang dulu. Guru nggak bisa lagi ngajar drngan menggunakan cara tradisional. sekarang siswa sudah hidup di dunia yang penuh teknologi, akses informasi gampang, dan belajar bisa terjadi dari mana saja. Makanya, guru zaman sekarang harus lebih fleksibel dan melek teknologi. Dalam materi ini ada banyak karakteristik yang dibutuhkan, mulai dari membuat kelas yang fokus ke siswa, kasih kebebasan buat siswa berkreasi, sampai belajar teknologi baru dan terus berinovasi.
Nama: Margaretha Elintia
BalasHapusNpm: 2386206055
Kelas: 5C PGSD
izin menanggapi pak, saya setuju menjadi guru pada zaman sekarang memang harus berubah total, guru engga bisa lagi cuman ceramah di depan kelas, kita sebagai guru harus melek teknologi dan tau cara pakai alat-alat baru serta mengajak anak-anak lebih aktif, bukan hanya menyuruh anak-anak untuk menyalin dari buku.
Nama:Elisnawatie
HapusNPM:2386206069
Kelas:5D
Haloo Margaretha Saya sangat setuju dengan pendapat kamu. Jadi guru di zaman sekarang memang harus berubah total. Kita nggak bisa lagi hanya mengandalkan ceramah di depan kelas seperti dulu. Dunia sudah berubah, kebutuhan siswa juga ikut berubah. Makanya, sebagai guru kita harus melek teknologi, ngerti cara pakai berbagai alat dan media pembelajaran baru, supaya proses belajar lebih menarik dan relevan buat mereka.
Selain itu, guru juga perlu mengajak siswa lebih aktif, bukan cuma menyuruh mereka menyalin dari buku atau hanya mendengarkan. Anak-anak zaman sekarang butuh ruang untuk bereksplorasi, bertanya, mencoba, dan berpendapat. Dengan cara seperti itu, mereka bisa lebih paham materi dan merasa belajar itu bukan beban, tapi kegiatan yang menyenangkan. Jadi, saya sepenuhnya sepakat bahwa perubahan cara mengajar itu sudah jadi kebutuhan, bukan pilihan lagi.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Izin menanggapi pak setau saya setelah membaca materi diatas tadi Materi ini menyajikan 13 karakteristik yang sangat komprehensif dan visioner mengenai peran guru di era digital. Inti dari pandangan ini adalah pergeseran dari Guru sebagai Penyebar Informasi (Sage on the Stage) menjadi Guru sebagai Fasilitator dan Pemandu Pembelajaran (Guide on the Side), dengan teknologi sebagai alat penggerak utama.
Nama:bella ayu pusdita
BalasHapusKelas:5d
Nim:2386206114
Menerapkan Pembelajaran Berpusat pada Siswa dan Proyek (PBL). Mengganti pembelajaran berbasis buku teks dengan Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) yang memungkinkan siswa menghasilkan konten digital (produser) dan mencari solusi autentik.
Memodelkan Jejak Digital Positif dan Kolaborasi Global. Guru secara aktif memodelkan penggunaan media sosial yang profesional dan etis, serta memfasilitasi kolaborasi global (virtual field trip atau proyek bersama) untuk membuat koneksi 'Mendunia' menjadi nyata.
Mengevaluasi Keterlibatan dan Produk Digital Siswa. Observasi dilakukan tidak hanya pada hasil akhir (nilai) tetapi pada proses siswa dalam menggunakan teknologi (Mandiri dan Pintar) dan kualitas konten digital yang mereka hasilkan, yang mencerminkan pemahaman yang dipersonalisasi.
Komitmen pada Pembelajaran Seumur Hidup dan Inovasi. Guru berkomitmen untuk terus belajar teknologi baru (termasuk coding dan AI) dan berinovasi dengan memperluas perangkat pengajaran, misalnya beralih ke sistem digital penuh dan terhubung dengan komunitas profesional sejenis.
Nama: Nanda Vika Sari
BalasHapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya membaca materi ini, menurut saya materi diatas sangat berkaitan dengan kewajibban pendidikan masa kini. Karakteristik guru abad ke-21 menyampaikan bahwa pentingnya adaptasi terhadap teknologi, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan juga kemampuan agar mampu berkolaborasi dan berinovasi. Dengan danya belajar dan terbuka terhadap adanya perubahan, guru dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna, modern/terkini, dan sesuai dengan kebutughan zaman.
Nama : Dita Ayu Safarila
BalasHapusNPM : 2386206048
Kelas : 5 c
izin bertanya,kenapa ya guru abad 21 harus dan perlu membuat pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan bagaimana cara guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswa nya?
Hallo ka Dita saya izin menjawab pertanyaanya ya
HapusKenapa sih guru pada abad 21 ini perlu membuat belajar yang berpusat pada siswa ?menurut saya ini sangat perlu karena pada abad ke-21 ini pembelajaran itu dapat diakses oleh siapa pun dan di mana pun, jadi dengan menerapkan pembelajaran berpusat pada siswa ini sangat membantu mereka untuk mengembangkan pemikiran dan pengalaman yang telah mereka alami dan telah mereka laksanakan , dengan pembelajaran berpusat pada siswa pun guru dapat mengaitkan pengalaman mereka dengan pembelajaran ini membantu anak didik untuk berpikir kritis dan mengingat pengalaman yang telah mereka alami
Selanjutnya bagaimana sih cara guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswanya?
Guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswa dengan cara mengidentifikasi kesusahan atau kesulitan yang dialami pada setiap siswa misalnya guru akan memberikan teks untuk mengukur pemahaman dan pengetahuan siswa terkait materi yang akan diajarkan, nah dari hasil tes tersebut guru bisa mengetahui murid mana yang harus lebih intens untuk diberikan pemahaman terkait materi dan murid mana yang bisa membantu guru untuk memberikan pemahaman kepada temannya juga
Ini dapat menjadi cara yang efisien untuk diterapkan ,selain berpikir kritis peserta didik juga dapat belajar mengenai nilai moral seperti tanggung jawab, kerja sama, kolaborasi,mandiri dll
nama : dias pinasih
Hapuskelas : 5b pgsd
npm : 2386206057
izin menjawab yah pak pertanyyan dri dita
Karena anak-anak sekarang itu cara belajarnya beda banget. Mereka udah terbiasa sama teknologi, info gampang dicari, jadi kalau gurunya cuma ceramah terus, ya pasti bosen. Makanya pembelajaran harus lebih ngikutin kebutuhan siswa biar mereka lebih aktif dan enjoy belajar.
Jadi intinya, guru zaman sekarang harus lebih fleksibel dan ngerti kondisi muridnya, biar belajarnya nggak kaku dan lebih nyambung sama kehidupan mereka sehari-hari.
Nama: Nanda Vika Sari
HapusNpm: 2386206053
Kelas: 5B PGSD
Izin menjawab pertanyaan dari Dita Ayu Safarila, menurut sepengetahuan saya mungkin karena pasti setiap siswa itu kan mempunyai sebuah kemampuan minat, ritme belajar, dan juga latar belakang yang pasti berbeda-beda setiap siswa. Nah pembelajaran yang berpusat itu pada siswa dapat membuat para siswa itu menjadi lebih aktif, mandiri, dan juga termotivasi. Lalu dengan mendiferensiasikan pembelajaran misalnya dengan memberikan pilihan tugas, variasi cara belajarnya yaitu bisa visual, auditori, dan juga kinestetik, lalu guru juga bisa memberikan dukungan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan para siswanya, lalu para guru bisa gunakan penilaian formatif yaitu untuk memantau setiap perkembangan dari setiap siswanya.
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Dita, jadi menurut saya, guru abad 21 perlu bikin pembelajaran yang berpusat pada peserta didik karena tiap anak punya cara belajar, minat, dan kecepatan yang beda, jadi belajar jadi lebih hidup, bermakna, dan bikin mereka lebih mandiri. Cara menyesuaikannya bisa dengan ngasih pilihan tugas, pakai metode yang variatif, ngobrol sama siswa biar paham kebutuhan mereka, dan ngatur ritme belajar yang fleksibel supaya semua anak bisa berkembang sesuai kemampuan masing-masing tanpa merasa tertinggal.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2486206033
Kelas: 5B PGSD
Setelah saya baca materi ini sudah sangat menggambarkan sosok guru di abad ke-21 saat ini, menjadi guru di abad ke-21 tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran saja di era digital ini kemajuan teknologi sudah sangat pesat. Seperti apa yang tertulis pada materi ini guru di abad ke-21 harus mampu memanfaatkan berbagai media digital dalam proses pembelajaran dan menjadi guru di abad ke-21 ini kita harus terus belajar hal-hal baru agar bisa menyesuaikan dengan kebutuhan siswa saat mengajar
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Permisi pak saya izin menangapi materi ini jadi guru abad ke- 21 harus lebih dari sekadar penyampai materi pelajaran.nah mereka tuh perlu menjadi fasilitator pembelajaran yang personal, yang mampu menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan kebutuhan unik setiap siswa. Ini berarti memanfaatkan teknologi untuk memberikan akses ke sumber daya yang relevan, mendorong motivasi intrinsik, dan membantu siswa mengembangkan keterampilan belajar mandiri.guru abad ke-21 juga harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, terus mengembangkan diri dan beradaptasi dengan perubahan teknologi dan pedagogi.guru abad ke-21 harus menguasai berbagai keterampilan, termasuk kemampuan untuk mempersonalisasi pembelajaran bagi semua siswa di kelas mereka, memanfaatkan setidaknya beberapa alat digital yang berbeda untuk berkolaborasi dan berkomunikasi, serta mengintegrasikan teknologi ke dalam setidaknya setengah dari rencana pelajaran mereka.dengan begini tuh mengadopsi pendekatan ini, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih relevan, menarik, dan efektif bagi semua siswa.
Nama : Maria Ritna Tati
BalasHapusNPM : 2386206009
Kelas : V A PGSD
Izin menambahkan lagi pak terkait materi ini menekankan pentingnya guru abad ke-21 untuk memanfaatkan teknologi secara efektif untuk berkolaborasi, berkomunikasi, dan menciptakan pengalaman belajar yang autentik. guru perlu mahir dalam menggunakan berbagai alat digital untuk berkolaborasi dengan siswa dan kolega, berbagi sumber daya, dan menciptakan proyek yang bermakna. Mereka juga perlu menjadi contoh dalam penggunaan media sosial yang positif dan bertanggung jawab, serta membantu siswa mengembangkan literasi digital yang kuat.
sera untuk berhasil di abad ke-21, guru perlu fokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21 pada siswa mereka,nah ini juga termasuk kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.guru juga perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat,untuk pengembangan profesional dan terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka agar tetap relevan dengan tuntutan dunia yang terus berubah.
WAH tenyata menjadi seorang guru itu tidak mudah ya,guru harus selalu update terhadap teknologi yang sangat maju.
Nama : Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Dari materi yang bapak berikan saya memahami kalau Karakteristik guru pada abad 21 ini, guru harus bisa dan mampu memanfaatkan teknologi yang semakin hari semakin bertambah kecanggihannya , mampu berpikir kritis dan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan tetapi juga membuat proses belajar siswa jadi bermakna, berkesan dan menyenangkan. Setiap point yang disampaikan , menjelaskan bagaimana guru perlu memahami dan menerapkan serta memanfaatkan teknologi yang tersedia mulai dari media sosial, web serta aplikasi yang canggih untuk menyampaikan materi agar pembelajaran siswa terasa nyata dan revelan dengan kehidupan sehari-hari mereka.🙏
Nama: Imelda Rizky Putri
BalasHapusNpm:2386206024
Kelas: 5B
Materi ini menjelaskan tentang guru abad 21, dan guru saat ini dituntut untuk paham teknologi karena pada zaman sekarang pembelajaran banyak menggunakan teknologi digital. Guru harus bisa berpikir kritis, kolaboratif, dan berorientasi agar menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Saya setuju sekali dengan pendapat Imelda, bahwasanya memang benar sekarang guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran saja karena zaman sudah berubah dan kita sebagai calon guru juga harus ikut perubahan.
Cukup menarik ya materi ini menurut saya khususnya di bagian kolaborasi dan terus belajar karena teknologi itu berkembangnya cukup cepat sekali sekali bahkan sekarang AI sudah mulai masuk ke dunia pendidikan, kalau kita sebagai guru tidak mau belajar hal baru pasti kita akan ketinggalan siswa-siswa kita juga akan kesulitan kalau gurunya sendiri gaptek (gagap teknologi). Tapi yang perlu diingat kan juga paham teknologi bukan berarti kita harus menjadi ahli IT lebih ke bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi itu untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna buat siswa.
Intinya guru abad 21 memang harus fleksibel dan mau terus berkembang sesuai kebutuhan zaman kalau tidak pembelajaran kita bakal monoton dan siswa menjadi bosan.
Nama : Zakky Setiawan
BalasHapusNPM : ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Abad 21 membuat cara mengajar guru berbeda itu ada benarnya, karena dengan kemajuan teknologi di zaman ini membuat guru lumayan mudah dan kesulitan, mudahnya guru dapat mengakses informasi dan media belajar dari media mana pun, tetapi gurubjuga harus paham betul dengan materi itu, karena agar saat menyampaikan ke peserta didik tidak ada kesalahan
Nama : Zakky Setiawan
BalasHapusNPM : ( 2386206066 )
Kelas : 5C
Sedikit menambahkan, kesulitan ini bisa juga di alami oleh guru contohnya para peserta didik dapat mengakses informasi apapun termasuk pelajaran dari manapun, informasi negatif menjadi pr bagi guru tau untuk meluruskan hal tersebut di dalam lingkup sekolah agar di lingkungan masyarakat tidak berdampak
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Menurut saya, materi tentang karakteristik Guru Abad 21 ini revolusioner dan sangat nendang untuk kondisi pendidikan kita sekarang. Intinya, guru tidak boleh lagi jadi tukang ceramah yang cuma menyuapi informasi, karena semua sudah ada di Google. Guru modern harus bertransformasi jadi arsitek pembelajaran yang pintar memfasilitasi dan membuat pelajaran jadi personal sesuai kebutuhan setiap siswa. Konsep ini, ditambah dorongan agar siswa menjadi produsen konten digital (bisa bikin vlog atau infografis), itu sangat nyambung dengan tantangan di era digital dan tujuan Kurikulum Merdeka di Indonesia.
Selain itu, pendapat saya, tuntutan agar guru menguasai teknologi itu bukan cuma soal bisa pakai PowerPoint, tapi harus menguasai hal fundamental seperti logika coding dan menggunakan ponsel sebagai alat belajar mandiri. Di tengah serbuan AI dan informasi yang membanjiri, guru juga dituntut punya wawasan global dan menjadi teladan etika (jejak digital positif). Ini memastikan bahwa guru tidak cuma cerdas secara teknis, tapi juga punya integritas moral yang bisa dicontoh. Pada akhirnya, guru Abad 21 adalah mentor yang cerdas digital, peka sosial, dan terus mau belajar, yang sangat krusial untuk mencetak generasi yang mampu berpikir kritis.
Nama : Juliana Dai
BalasHapusNPM : 2386206029
Kelas : V,B
Saya igin menambahi bahwa semua 13 karakteristik ini pada dasarnya bermuara pada satu hal: keharusan untuk terus belajar dan beradaptasi. Mengajar di abad ke-21 itu bukan lagi pekerjaan statis di mana ilmu yang dipelajari saat kuliah sudah cukup; sebaliknya, itu adalah pekerjaan seumur hidup yang menuntut guru memiliki growth mindset yang kuat. Apalagi di tengah perkembangan AI yang cepat, kemampuan untuk Berinovasi dan Mempelajari teknologi baru harus menjadi rutinitas, bukan sekadar tugas opsional. Ini berarti guru harus secara aktif mencari pelatihan, berkolaborasi dengan guru lain, dan merefleksikan pengajaran mereka, karena kemauan untuk terus berubah itulah yang akan membuat guru tetap relevan dan memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga.
Nama: Rosidah
BalasHapusNpm: 2386206034
Kelas: 5B (PGSD)
Saya suka membahas tentang guru abad-21 ini, dimana guru bukan hanya belajar menguasai pembelajaran tetapi juga bisa menguasai teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Hal yang paling saya suka di abad sekarang bisa menjadikan pembelajaran interaktif dengan teknologi, misalnya pembelajaran lewat games online dll.
Dan bisa memanfaatkan HP siswa-siswi untuk hal pembelajaran bukan untuk hal-hal yang mengsia-siakan.
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Wahh keren banget pak materinya tentang karakteristik guru abad ke 21.
Saya setuju pak, guru itu bukan cuman ngajarin pelajaran aja, tapi juga menjadi fasilitator, motivator dan juga teman belajar siswa, kalau guru bisa kreatif, inovatif dan terbuka sama perkembangan zaman, pasti pembelajaran menjadi lebih hidup dan siswa bisa berkembang sesuai zaman, terimakasih banyak bapak atas materinya
Nama : Alya Salsabila
BalasHapusNpm : 2386206062
Kelas : V C
Izin menambahkan ya pak, saya ingin bertanya, menurut bapak karakter mana yang paling sulit di terapkan guru di era sekarang? terimakasih
nama : dias pinasih
Hapuskelas : 5b pgsd
npm : 2386206057
izin untuk menjawab yah pak dari pertanyaan alya salsabila yah pak
izin menjawab ya alya
kalau menurut saya, karakter guru yang paling susah diterapin di zaman sekarang itu konsisten buat tetap profesional sambil terus ngikutin perkembangan teknologi.
soalnya sekarang segala sesuatunya cepat banget berubah. Guru harus bisa terus belajar hal baru, apalagi soal teknologi, tapi di sisi lain juga harus tetap jadi contoh yang baik buat siswa.
Selain itu, sabar dan punya empati juga makin susah dijalanin, karena anak-anak sekarang karakternya beragam banget. Ada yang gampang bosan, ada yang sensitif, ada yang susah fokus. Jadi guru harus benar-benar bisa ngertiin tiap siswanya.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Izin ya Alya untuk menjawab pertanyaan kamu di atas, menurut saya karakteristik yang paling sulit diterapkan yakni pembelajaran yang dipersonalisasi atau dikhususkan untuk setiap siswa, kenapa demikian karena di kelas kita punya banyak siswa dengan kebutuhan yang berbeda-beda, bayangkan aja dalam satu kelas ada 30-40 anak masing-masing punya gaya belajar yang berbeda, kecepatan pemahaman, dan minat yang tidak sama juga, guru dituntut memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tiap anak tetapi di sisi lain juga harus mengejar target kurikulum dan waktu yang terbatas dan Ini juga yang menjadi dilema besar belum lagi kalau fasilitasnya kurang memadai, misalnya tidak semua siswa punya akses internet atau perangkat digital yang sama, jadi mau tidak mau guru harus ekstra kreatif dan sabar untuk bisa menyeimbangkan semuanya itu.
Karakteristik lain yang menurut saya cukup menantang juga yakni terus belajar teknologi baru karena teknologi semakin berkembang sangat cepat hari ini kita belajar satu aplikasi esok sudah ada yang lebih baru lagi, apalagi untuk guru senior yang mungkin tidak terlalu familiar dengan dunia digital, ini butuh usaha ekstra dan kemauan yang kuat untuk keluar dari zona nyaman, tapi namanya juga tantangan ya pasti bisa diatasi kalau kita mau terus belajar dan beradaptasi seperti yang ditekankan di poin terakhir pada materi ini.
Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
BalasHapusKelas : 5 B
Npm : 2386206042
setuju pak, jadi guru abad ke-21 itu mengubah pola pikir. Kita tidak lagi bekerja di dalam kotak buku teks, tapi beroperasi di dunia yang sangat terhubung. Tugas kita adalah melatih siswa agar mandiri, kreatif, dan cerdas secara digital supaya mereka siap menghadapi dunia nyata.
NAMA : DIAS PINASIH
BalasHapusKELAS : 5B PGSD
NPM : 2386206057
izin menanggapi materi yang bapak jelaskan di atas pak
Materi mengenai kreativitas dan proses kreatif yang dijelaskan di atas sangat menarik dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana kreativitas nga hanya muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses mental yang kompleks dan bertahap. Penjelasan mengenai empat tahap kreatif persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi sangat membantu saya memahami bahwa ide-ide besar nga lahir begitu saja, melainkan melalui perjalanan berpikir yang panjang dan penuh refleksi.
saya juga sangat setuju dengan pembahasan mengenai kreativitas sebagai kemampuan yang dapat dilatih, karena hal ini menegaskan bahwa setiap siswa memiliki potensi untuk berkembang jika diberikan rangsangan yang tepat. Materi ini sangat relevan dengan dunia pendidikan, terutama bagi kami sebagai calon pendidik yang akan berperan menciptakan lingkungan kelas yang mendorong siswa untuk berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan menemukan ide-ide baru
NAMA : DIAS PINASIH
HapusKELAS : 5B PGSD
NPM : 2386206057
izin menambahakan lagi yah pak di materi yang bapak jelaskan pak
apalagi pembahasan tentang faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kreativitas sangat membantu dalam memahami bahwa kreativitas nga hanya bergantung pada bakat, tetapi juga lingkungan belajar yang mendukung, kebebasan bereksperimen, serta apresiasi terhadap perbedaan cara berpikir siswa.
tapi pak sebelum itu saya menambahakan kritik di materi yang bapak jelaskan
materinya kaya dan informatif, ada beberapa bagian yang terasa cukup padat dan panjang sehingga memerlukan fokus tinggi untuk memahaminya secara menyeluruh. Beberapa paragraf menggunakan bahasa yang cukup ilmiah, sehingga mahasiswa mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna konsepnya.
Selain itu pak, materi lebih banyak menekankan pada teori, namun belum memberikan cukup contoh konkret mengenai bagaimana proses kreatif dapat diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya di kelas sekolah dasar. Padahal, contoh nyata atau ilustrasi praktis dapat membantu mahasiswa menghubungkan teori dengan situasi pembelajaran di lapangan.
Halo Dias,Aku Dita Ayu Safarila Kelas 5 C
HapusNPM 2386206048
izin menanggapi komentar kamu ya.
Secara keseluruhan aku sangat setuju bahwa kreativitas bukanlah bakat instan,melainkan sebuah proses mental terstruktur yang melibatkan tahap persiapan hingga verifikasi ide. sebagai calon guru hal ini memberikan optimisme bahwa kreativitas bisa di latih pada setiap siswa asalkan kita mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung,memberikan kebebasan eksperimen serta memberikan apresiasi terhadap keunikan cara berpikir mereka.
NAMA : DIAS PINASIH
BalasHapusKELAS : 5B PGSD
NPM : 2386206057
izin mau bertanya pak pada materi yang bapak jelaskan di atas pak
Pada materi Bapak, disebutkan faktor penghambat kreativitas seperti rasa takut gagal dan kurangnya motivasi. Bagaimana cara guru mengurangi faktor-faktor tersebut dalam kegiatan belajar mengajar?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Dias, jadi menurut saya, guru bisa ngurangin hambatan kreativitas dengan bikin suasana kelas yang aman dan santai, misalnya kasih apresiasi kecil tiap usaha, bukan cuma hasil akhirnya, lalu kasih contoh bahwa salah itu bagian dari proses belajar. Guru juga bisa kasih tugas yang fleksibel dan seru biar anak lebih termotivasi, plus sering ajak mereka diskusi atau coba hal baru tanpa takut dinilai. Dengan cara itu, rasa takut gagal pelan-pelan turun dan motivasi mereka naik sendiri.
Nama: Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,saya merasa bahwa peran guru sekarang bukan hanya mengajar, tapi juga harus bisa menjadi pembimbing bagi siswa. Pentingnya guru terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Selain itu, kemampuan komunikasi, kreativitas, dan kerja sama juga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.
Nama: Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak,Apakah teknologi benar-benar membantu proses pembelajaran, atau justru membuat guru dan siswa jadi terlalu bergantung?
Nama:Imelda Rizky Putri
HapusNpm:2386206024
Kelas:5B
Izin menjawab pertanyaan dari Yorma, jadi menurut saya, teknologi itu bisa banget bantu pembelajaran karena bikin materi lebih menarik, akses informasi lebih cepat, dan aktivitas belajar jadi lebih fleksibel, tapi kalau dipakai tanpa batas atau tanpa arahan yang jelas, guru dan siswa bisa jadi terlalu bergantung dan malah kurang melatih kreativitas atau pemahaman mendalam; intinya, teknologi oke banget asal dipakai secukupnya dan tetap diimbangi cara belajar yang aktif dan berpikir kritis.
Terima kasih bapak untuk materi ini setelah baca materi yang Bapak berikan, saya suka materi bapak pada bagian tentang Kelas yang Berpusat pada Peserta Didik dan Pelajari Teknologi Baru.
BalasHapusMenurut saya, inti dari menjadi guru di Abad 21 itu memang harus berani coba-coba hal baru, terutama teknologi. Kan sayang sekali ya, Pak, kalau murid-murid sekarang sudah punya HP canggih dan bisa akses banyak hal, tapi di kelas kita masih diajari pakai metode yang sama terus. Konsep pembelajaran yang dipersonalisasi dimateri 1 itu terasa masuk akal banget. Daripada guru capek-capek ngajarin hal yang sama ke semua orang, lebih baik kita dorong mereka untuk cari tahu sendiri dan kita bantu arahkan.
Terus, soal belajar teknologi baru Dimateri 3, itu seperti keharusan. Kita sebagai mahasiswa saja dituntut melek digital. Jadi, wajar kalau guru juga harus terus update supaya bisa kasih pilihan dan pengalaman yang nyambung sama dunia nyata anak-anak zaman sekarang. Kalau gurunya enggak kenal teknologi, rasanya agak sulit mau bikin kegiatan belajar yang seru dan relevan.
Disini saya juga mau menanggapi materi bapak tentang Karakteristik Guru Abad 21. Yang paling saya catat itu ada bagian Kolaborasi dan Teruslah Belajar.
BalasHapusPoin kolaborasi itu penting banget, Pak. Di dunia kerja nanti, kita pasti dituntut untuk bisa kerja tim. Jadi, kalau guru-guru sudah membiasakan diri kolaborasi dengan guru lain atau melibatkan siswa dalam proyek bersama, itu akan sangat membantu. Materinya juga bilang kolaborasi itu enggak cuma kirim email atau PowerPoint, tapi harus sampai menghasilkan ide besar. Ini menunjukkan kalau interaksi di kelas itu memang harus lebih dari sekadar tatap muka, tapi memanfaatkan alat digital untuk koneksi global.
Dan yang terakhir, soal Teruslah Belajar karena sudah ada AI. Ini benar-benar pengingat yang kuat, Pak. Perkembangan AI ini cepat sekali, dan kalau kita sebagai calon guru atau pendidik tidak mau beradaptasi, kita bisa ketinggalan jauh. Jadi, belajar dan mencoba hal baru bukan lagi pilihan, tapi wajib. Adaptasi itu kuncinya supaya kita tetap relevan di tengah banjirnya alat dan teknologi baru.
Saja juga izin menangapi materi bapak ini tentang Karakteristik Guru Abad 21. Saya suka sama konsep Pembelajaran Berbasis Proyek. Karena anak-anak sekarang itu kan aksesnya ke sumber daya sudah luar biasa luas. Kalau cuma disuruh baca buku teks, itu memang sudah enggak zamannya lagi. Metode proyek yang menuntut mereka bikin pertanyaan sendiri, melakukan riset, dan membuat karya untuk dibagikan itu jauh lebih menantang dan berguna. Ini mengajarkan mereka keterampilan yang benar-benar dipakai di masa depan, bukan sekadar menghafal.
BalasHapusSelain itu, Bangun Jejak Digital Positif juga sangat sesuai untuk jaman sekarang. Guru itu kan panutan. Kalau guru saja tidak bijak menggunakan media sosial atau tidak bisa memproduksi konten yang bermanfaat, bagaimana mereka bisa meminta siswanya melakukan hal yang sama? Jadi, jejak digital guru harus bagus, tidak hanya untuk pencitraan, tapi juga untuk jadi contoh nyata bagaimana menggunakan teknologi secara profesional dan positif. Dua poin ini benar-benar menunjukkan bahwa guru Abad 21 harus jadi fasilitator dan teladan, bukan cuma pemberi materi.
NAMA : KORNELIA SUMIATY
BalasHapusNPM : 2386206059
KELAS : 5B PGSD
Menurut saya materi diatas menjelaskan bahwa menjadi guru abad ke-21 berarti mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan belajar siswa. Guru tidak lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator yang membantu siswa belajar secara mandiri, kreatif, dan kolaboratif.
Teknologi membuat pembelajaran lebih fleksibel, terbuka, dan terhubung dengan dunia luar. Karena itu, guru perlu terus belajar alat baru, memanfaatkan perangkat digital, mendorong siswa menghasilkan karya, dan membangun lingkungan kelas yang modern. Selain itu, guru juga harus memberikan teladan dalam penggunaan media sosial dan menjaga jejak digital positif. Secara keseluruhan, materi ini menekankan bahwa guru abad ke-21 harus inovatif, melek teknologi, mampu berkolaborasi, dan selalu siap beradaptasi agar pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Nama: Yormatiana Datu Limbong
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206082
izin menanggapi pak, karena dunia pendidikan sekarang memang sudah berbeda dengan yang dulu. Guru tidak lagi cuma jadi pembawa materi, tapi juga sebagai pendamping siswa dalam belajar. Di penjelasan bapak ini juga dijelaskan bahwa guru perlu terus belajar bukan mengulang cara mengajar lama.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Wahh 🤩 betul sekali yaa Yormatiana, saya sangat setuju dengan pendapat kamu, peran guru memang sudah bergeser dari yang tadinya sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sekarang lebih jadi fasilitator atau pembimbing bagi siswa. Kalau kita lihat dari materi di sini, siswa sekarang sudah punya akses ke banyak informasi lewat internet dan perangkat mereka jadi guru tidak perlu lagi menyuapi istilahnya semua pengetahuan seperti dulu dan yang terpenting sekarang yaitu bagaimana guru membimbing siswa untuk bisa mencari, memilah, dan menggunakan informasi tersebut dengan baik, seperti yang disebutkan di poin pembelajaran berbasis proyek, siswa butuh bimbingan guru bukan ceramah terus-menerus.
Dan poin tentang terus belajar yang kamu sebutkan tadi juga memang penting sekali, kalau guru masih stuck dengan metode lama yang cuma mengandalkan ceramah dan LKPD yaa siswa bakalan bosan dan tidak tertantang padahal kan mereka hidup di zaman yang serba cepat dan dinamis makanya guru harus mau keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal-hal baru seperti mengintegrasikan teknologi atau menggunakan metode pembelajaran yang lebih interaktif.
Materi ini sangat komprehensif dan memberikan gambaran yang jelas tentang apa saja yang perlu dimiliki guru di era modern. Penjelasan mengenai peran guru yang tidak lagi menjadi pusat informasi, tetapi menjadi fasilitator dan pembimbing, sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Setiap poin yang disampaikan menggambarkan perubahan besar dalam cara guru mengajar dan cara siswa belajar.
BalasHapusKarakteristik seperti pembelajaran yang dipersonalisasi, pemanfaatan teknologi, kemampuan berkolaborasi, dan penggunaan perangkat digital sebagai alat belajar adalah aspek penting yang harus dimiliki guru masa kini. Materi ini juga menekankan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi bagian penting dari proses pembelajaran yang membuat siswa menjadi produsen pengetahuan, bukan hanya penerima.
Materi ini memberikan panduan praktis dan inspiratif bagi guru untuk mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan zaman. Materinya relevan, mudah dipahami, dan dapat diimplementasikan langsung dalam praktik pembelajaran.
BalasHapusSelain itu, poin mengenai jejak digital positif dan pembelajaran sepanjang hayat sangat penting, karena guru abad 21 tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi model dalam berperilaku digital dan dalam terus memperbarui pengetahuan mereka. Dengan perkembangan AI dan teknologi baru, kemampuan guru untuk terus beradaptasi menjadi sebuah keharusan.
Terima kasih bapak telah memberikan materi, menurut saya, konsep kelas yang personalized ( dipersonalisasi ) dan siswa sebagai produsen ini benar-benar inti dari perubahan besar di dunia pendidikan. Dulu, mungkin kita belajar semua materi yang sama, tapi sekarang informasinya udah ada di mana-mana. Jadi, tugas kita sebagai calon guru memang harus berubah.
BalasHapusSaya setuju banget bahwa membiarkan peserta didik memilih jalannya sendiri dalam belajar itu bikin mereka punya kendali, jadi motivasinya tuh datang dari dalam diri mereka ( intrinsik ), bukan cuma karena disuruh guru, tapi juga membiarkan mereka sesuai dengan kemampuan dan minatnya masing-masing. Terus, tentang siswa sebagai produsen. Siswa sekarang udah punya gadget canggih, tapi sayangnya di kelas mereka sering disuruh matiin. Padahal, mereka bisa banget bikin konten digital, blog, infografis, atau tutorial. Kalau kita sebagai guru bisa mengarahkan skill digital mereka untuk membuat project yang edukatif, ini jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mencatat di buku. Intinya, kita harus manfaatin potensi perangkat di tangan mereka, bukan malah melarangnya.
Dan materi bapak yang membahas pada bagian Terhubung ( Connected ) dan Berkolaborasi ( Collaborative ) ini menurut saya paling menantang sekaligus menjanjikan. Terhubung itu benar-benar mengubah cara kita mencari ahlinya atau sumbernya. Kita enggak perlu lagi nunggu buku tebal atau seminar mahal. Cukup terhubung lewat media sosial atau platform lain, kita bisa tanya langsung ke ahlinya atau berdiskusi dengan sesama guru di seluruh dunia. Ini bikin wawasan kita sebagai calon guru jadi luas banget dan enggak terkurung di satu sekolah atau kota aja. Kemudian, Berkolaborasi itu enggak cuma sekadar kerja kelompok. Tapi lebih ke membuat sesuatu bersama guru dengan siswa, atau siswa dengan siswa lain menggunakan sumber daya digital. Kalau kolaborasi ini berhasil, aktivitas kelas kita enggak akan terasa seperti pelajaran di buku, tapi lebih seperti proyek di dunia nyata. Ini melatih siswa buat siap terjun di lingkungan kerja yang pasti butuh kolaborasi global.
BalasHapusSaya juga suka materi bapak pada bagian Beralih ke Digital dan Bahasa Pemrograman ( Coding ), Soal Beralih ke Digital, ini bukan cuma tentang enggak pakai kertas lagi. Lebih dari itu, ini tentang mengatur semua sumber belajar di web atau platform digital. Ini memudahkan siswa buat mengakses kapan aja dan di mana aja. Mereka juga bisa langsung diskusi secara digital. Sebagai calon guru, kita harus siap mengelola sarana digital ini, biar enggak cuma fokus ke lembar materi atau LKS kertas terus-menerus. Lalu, Coding dianggap literasi masa kini. Dulu kita belajar baca, tulis, dan hitung sekarang coding itu sama pentingnya karena ini melatih cara berpikir logis dan sistematis. Meskipun enggak semua guru akan mengajar coding secara langsung, tapi setidaknya guru Abad ke-21 harus mengerti konsep dasarnya dan bisa mengoperasikan perangkat digital sebagai alat utama. Intinya, kita harus melek teknologi, enggak cuma bisa pakai gadget buat scroll media sosial aja.
BalasHapussaya mau memberikan tangapan say tentang materi bapaak yang berinovasi dan Terus Belajar, ini adalah sikap dasar yang wajib dimiliki guru Abad ke-21, Pak. Ini seperti mindset yang harus kita pegang erat. Tentang Berinovasi, saya setuju kalo kita enggak boleh takut buat mencoba cara mengajar yang baru, seperti pakai media sosial buat edukasi atau ganti buku teks dengan sumber daya web yang lebih update. Inovasi ini penting supaya kelas enggak gitu-gitu aja, dan materi yang kita sampaikan jadi relevan dengan kehidupan siswa.Dan Terus Belajar itu adalah kunci. Dengan AI yang udah menjamur dan teknologi yang berubah secepat kilat, kalau kita enggak beradaptasi, kita pasti ketinggalan. Guru harus jadi pembelajar seumur hidup. Kalau kita enggak belajar terus, bagaimana kita bisa mengajarkan siswa kita tentang hal-hal baru di dunia ini? Ini juga berlaku buat kita, sebagai calon guru, kita harus selalu update ilmu dan skill kita sebelum masuk ke kelas nanti. Terima kaih bapak untuk maateri yang bermanfaat ini.
BalasHapusNama:syahrul
BalasHapusKelas:5D
Npm:2386206092
Menjadi guru di era digital ini jauh berbeda dengan zaman dulu. Teknologi sudah mengubah segalanya, mulai dari cara kita komunikasi, kolaborasi, sampe cara kita ngajar. Intinya, guru abad ke-21 harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang berpusat pada siswa . Siswa saat ini punya akses informasi tak terbatas karena ada hp dan semcamnya, jadi tugas kita bukan lagi menyuapi mereka dengan semua pengetahuan, tapi ngebantu mereka menemukan, memilih, dan menggunakan informasi itu sendiri. Ini bukan cuma mungkin, tapi memang ideal asupaya motivasi belajar mereka tuh meningkat.
Bama:syahrul
HapusKelas:5D
Npm:2386206092
Salah satu perubahan penting adalah melihat siswa sebagai produsen, bukan cuma konsumen. Bayangin, mereka punya gadget canggih tapi penggunaannya seringkali cuma buat chat atau scroll tiktok. Padahal, perangkat itu adalah alat yang bisa dipakai untuk membuat blog, video tutorial, atau proyek digital. Kita sebagai guru harus mendorong mereka untuk memproduksi konten, gak cuman menerima materi
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
npm:2368206092
Selain itu kita juga harus:
• Belajar teknologi baru karena ita harus aktif dan punya pengalaman langsung dengan teknologi. Alat terus berubah, jadi belajar sekali saja tidak cukup.
• Gunakan alat yang ada untuk menghubungkan siswa dengan budaya dan orang dari belahan dunia lain secara langsung. Ini lebih baik daripada baca buku teks.Karena kita busa lebih paham kalau cerita langsung.
• Gunakan Hp secara cerdas daripada melarang, dorong siswa melihat hp mereka sebagai alat pendukung belajar yang berharga. Ajari mereka cara mandiri menemukan jawaban dan sumber daya yang mereka butuhkan.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
npm:2386206092
Sebagai guru, kita juga harus punya pola pikir baru. Selain beradaptasi dan terus belajar karena AI dan alat baru bermunculan, kita juga harus jadi contoh yang baik. Kayak membangun jejak digital positif artinya kita harus tahu cara menggunakan media sosial dengan tepat, membuat konten yang bermanfaat, dan menjadi contoh tindakan profesional, baik di kelas maupun online. Siswa akan meniru apa yang kita lakukan.
Nama:syahrul
Hapuskelas:5D
Npm:2386206092
Pengajaran di kelas harus lebih dinamis. Ini berarti kita perlu beralih ke digital , Berkolaborasi membuat proyek digital bersama guru dan siswa lain agar aktivitas kelas terasa seperti dunia nyata, dan menggunakan pembelajaran berbasis proyek. Jangan lupakan Bahasa Pemrograman atau coding ini adalah literasi modern, sama pentingnya dengan mengoperasikan pena dan pensil di masa lalu. Kita juga didorong untuk Berinovasi, kayak mencoba mengajar dengan media sosial atau sumber daya web, memperluas cara-cara yang belum pernah kita coba sebelumnya. Intinya, guru abad ke-21 adalah pemandu, fasilitator, dan role model digital yang terus berkembang.
Nama: Arjuna
BalasHapusKelas: 5A
Npm: 2386206018
menjadi guru abad ke-21 berarti siap menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan siswa. Guru tidak lagi hanya menyampaikan materi, tetapi berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa belajar sesuai minat dan kemampuannyaSiswa juga perlu diberi ruang untuk aktif, berkreasi, dan memanfaatkan teknologi secara positif.
Izin menanggapi pak Materi ini secara jelas menggambarkan perubahan besar dalam dunia pendidikan akibat kemajuan teknologi dan pergeseran cara belajar peserta didik. Guru abad ke-21 tidak lagi dapat diposisikan hanya sebagai sumber utama pengetahuan, karena informasi kini tersedia kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, pertanyaan “apa arti menjadi guru abad ke-21?” menjadi sangat relevan dan penting untuk direnungkan oleh setiap pendidik, khususnya calon guru.Karakteristik pertama, yaitu kelas yang berpusat pada peserta didik dan pembelajaran yang dipersonalisasi, menunjukkan perubahan paradigma pembelajaran yang sangat mendasar. Peserta didik tidak lagi dipandang sebagai kelompok homogen dengan kebutuhan yang sama, melainkan individu yang unik dengan gaya belajar, minat, dan tujuan yang berbeda. Pembelajaran yang memberi ruang pilihan kepada siswa bukan hanya meningkatkan motivasi intrinsik, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping yang membantu siswa menemukan cara belajar terbaik bagi dirinya, bukan sebagai pemberi instruksi satu arah.
BalasHapusSelanjutnya materi ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang sosok guru abad ke-21 sebagai pendidik yang adaptif, reflektif, dan berorientasi pada peserta didik. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel, relevan, dan bermakna. Dengan menerapkan karakteristik-karakteristik ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan hidup yang dibutuhkan siswa di masa depan. Materi ini sangat penting sebagai bahan refleksi, terutama bagi calon guru, agar siap menghadapi tantangan dan peluang pendidikan di era global dan digital.
HapusIzin bertanya pak atau teman -teman yg bisa menjawab Bagaimana seorang guru abad ke-21 dapat tetap menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik di kelas dengan jumlah siswa besar dan keterbatasan sarana teknologi?
BalasHapusJelaskan nya kaya strategi konkret yang dapat digunakan tanpa menghilangkan esensi pembelajaran personalisasi.
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Menurutku ya Sarimahyanti Mandingu guru abad ke-21 tetap dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik meskipun kelas besar dan sarana teknologi terbatas. Kuncinya bukan pada teknologi, tetapi pada sikap adaptif dan strategi mengajar guru. Guru dapat melakukan diferensiasi sederhana membagi siswa dalam kelompok kecil kolaboratif, serta menggunakan assesmen formatif sederhana untuk memahami kebutuhan belajar siswa. Selain itu guru memberi pilihan cara belajar, mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata siswa dan berperan sebagai fasilitator, bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Dengan cara ini pembelajaran tetap personal, aktif dan bermakna meskipun kondisi kelas tidak ideal.
Izin bertanya lagi pak atau teman -teman yg bisa menjawab Apakah pembelajaran yang sepenuhnya dipersonalisasi berisiko mengurangi kemampuan siswa untuk bekerja dalam struktur dan aturan bersama?
BalasHapusAnalisis kelebihan dan kelemahannya dalam konteks pembentukan karakter sosial siswa.
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Izin menjawab mengenai pertanyaanmu yang kritis ini ya Sarimahyati Madingnu
Benar bahwa pembelajaran yang sepenuhnya dipersonalisasi memang berisiko mengurangi kemampuan siswa bekerja dalam struktur bersama jika diterapkan tanpa kontrol, pembelajaran yang sepenuhnya dipersonalisasi memang memiliki banyak kelebihan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko jika tidak diimbangi dengan pembelajara sosial, dalam konteks pembentukan karakter sosial siswa pendekatan ini perlu dilihat secara proposional, bukan ekstrem. Mengenai kelebihan pembelajaran personalisasi membantu siswa belajar sesuai minat, kemampuan dan gaya belajarnya hal ini sejalan dengan karakteristik guru abad ke-21 yang menghargai keberagaman dan mendorong kemandirian serta tanggung jawab individu, siswa menjadi lebih termotivasi. Selain itu ada kelemahan dan risiko terhadap karakter sosial yaitu jika pembelajaran terlalu berfokus pada individu, ada risiko siswa kurang terlatih bekerja dalam struktur, aturan dan tujuan bersama. Siswa bisa menjadi terbiasa belajar sesuai preferensi pribadi saja, sehingga kemampuan seperti kerja sama, disiplin sosial, toleransi dan menghargai perbedaan kurang berkembang. Namun bila dikelola dengan baik oleh guru abad ke-21, personalisasi justru dapat berjalan berdampingan dengan pembentukan karakter sosial seperti kerja sama, disiplin dan empati. Kuncinya adalah keseimbangan antara kebutuhan individu dan kepentingan bersama.
Nama: Nur Sinta
BalasHapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Materi karakteristik guru abad ke-21 menegaskan bahwa guru tidak lagi hanya berperan sebagai fasilitator materi melainkan sebagai fasilitator adaptif, reflektif dan mampu memahami keberagaman peserta didik. Pembelajaran berpusat pada siswa tetap dapat diterapkan meskipun kelas besar dan sarana teknologi terbatas melalui diferensiasi sederhana, kerja kelompok, asesmen formatif dan pembelajaran kontekstual. Materi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran abad ke-21 lebih ditentukan oleh pola pikir dan profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran yang bermakna dan berimbang antara kebutuhan individu dan sosial siswa.
Menurut pendapat saya, karakteristik guru abad ke-21 yang paling mendasar adalah kemampuannya menggeser peran dari pusat informasi menjadi fasilitator pembelajaran. Artikel ini menegaskan bahwa pembelajaran yang dipersonalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Saya sepakat bahwa ketika siswa diberi ruang untuk memilih cara belajar, topik yang diminati, dan ritme belajar mereka sendiri, motivasi intrinsik akan tumbuh secara alami. Guru tidak lagi sekadar "mengajar materi", tetapi membimbing proses berpikir, membantu siswa mengenali potensinya, serta menumbuhkan tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.
BalasHapusSaya berpendapat bahwa teknologi dalam pembelajaran abad ke-21 tidak boleh dipahami hanya sebagai penggunaan perangkat digital, tetapi harus dimaknai sebagai alat untuk meningkatkan kualitas belajar. Artikel ini menyoroti pentingnya guru mempelajari teknologi baru dan mendorong siswa menjadi produsen konten. Hal ini sangat relevan, karena siswa sebenarnya memiliki potensi besar untuk mencipta, bukan hanya mengonsumsi informasi.
BalasHapusTantangannya terletak pada kesiapan guru dalam memilih dan menggunakan teknologi secara bijak agar benar-benar mendukung tujuan pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren digital.
Disini saya berpendapat dengan gagasan ini bahwa guru abad ke-21 perlu membuka jendela dunia bagi siswanya. Melalui teknologi, pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku teks dan ruang kelas. Siswa dapat belajar langsung tentang budaya, bahasa, dan perspektif global melalui interaksi nyata, meskipun secara virtual. Menurut saya, pembelajaran mendunia ini sangat penting untuk menumbuhkan empati, toleransi, dan kemampuan komunikasi lintas budaya, yang menjadi bekal utama siswa dalam menghadapi dunia global yang semakin terhubung.
BalasHapusArtikel ini menekankan bahwa pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) sangat relevan di abad ke-21, dan saya sepenuhnya setuju. Pembelajaran semacam ini memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah secara nyata. Menurut saya, peran guru dalam konteks ini adalah sebagai pembimbing yang memberikan arahan, bukan pemberi jawaban. Dengan proyek yang autentik, siswa tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga belajar menghadapi tantangan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil kerjanya.
BalasHapusMenurut pandangan saya, salah satu karakteristik terpenting guru abad ke-21 adalah kesediaannya untuk terus belajar dan beradaptasi. Artikel ini dengan tepat menekankan bahwa guru harus menjadi teladan dalam membangun jejak digital positif serta bersikap profesional, baik di dunia nyata maupun daring. Di era kecerdasan buatan dan teknologi yang berkembang pesat, guru yang mau belajar, berinovasi, dan bersikap terbuka terhadap perubahan akan lebih mampu membimbing siswa secara relevan. Guru tidak harus mengetahui segalanya, tetapi harus menunjukkan sikap pembelajar sepanjang hayat.
BalasHapusNama :Erlynda Yuna Nurviah
BalasHapusKelas : VB PGSD
Npm : 2386206035
Saya tertarik dengan karakteristik guru abad 21 yang dibahas ini, bukan hanya soal penggunaan teknologi, tetapi lebih pada mengubah cara pandang seorang guru terhadap peran mereka di kelas. Guru abad 21 harus mendorong siswa menjadi produsen pembelajaran yang aktif dan kreatif, bukan hanya konsumen informasi. Itu berarti guru perlu membangun pengalaman belajar yang personal, kolaboratif, dan kontekstual sesuai kebutuhan masing-masing siswa. Selain itu, kemampuan guru untuk terhubung secara global dan memanfaatkan teknologi bukan sekadar alat, tetapi sebagai jembatan untuk memperluas wawasan siswa ke dunia luar ini menunjukkan bahwa pembelajaran saat ini harus relevan, dinamis, dan membuka peluang siswa mengeksplorasi berbagai sumber belajar secara mandiri.
Setuju dgn apa yang disampaikan Erlynda bahwa membangun pengalaman belajar yang personal, kolaboratif, dan kontekstual sesuai kebutuhan masing-masing siswa adalah kunci agar pendidikan tetap relevan dan dinamis di era sekarang.
HapusNama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, guru abad ke-21 memegang peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Peserta didik mengembangkan kemandirian belajar melalui pilihan dan pembelajaran yang dipersonalisasi. Guru memberikan ruang kepada siswa untuk menentukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendekatan ini meningkatkan motivasi intrinsik siswa dalam proses pembelajaran. Guru mendukung siswa agar lebih bertanggung jawab terhadap tujuan belajarnya. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, karakteristik guru abad ke-21 menuntut siswa menjadi produsen, bukan sekadar konsumen pengetahuan. Guru mendorong siswa untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat berkarya. Siswa menghasilkan konten digital seperti video, infografis, atau proyek kreatif lainnya. Guru membimbing siswa agar menggunakan perangkat digital secara produktif dan bertanggung jawab. Proses ini melatih keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. Guru menyesuaikan pembelajaran dengan tuntutan dunia nyata yang berbasis teknologi. Dengan cara ini, siswa lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, guru abad ke-21 perlu terus mempelajari teknologi baru yang berkembang pesat. Guru meningkatkan kompetensi digital agar mampu memberikan pilihan pembelajaran yang beragam. Teknologi membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan interaktif. Guru menyesuaikan strategi mengajar sesuai dengan perkembangan zaman. Proses belajar guru berlangsung sepanjang hayat, bukan hanya saat pendidikan formal. Sikap terbuka terhadap perubahan menjadi kunci profesionalisme guru. Oleh karena itu, guru tetap relevan dalam dunia pendidikan modern.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, kolaborasi dan keterhubungan global menjadi ciri penting pembelajaran abad ke-21. Guru memfasilitasi kerja sama antara siswa, guru lain, dan pihak luar. Siswa belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan berbagai latar belakang budaya. Guru memanfaatkan teknologi untuk menghubungkan kelas dengan dunia nyata. Kegiatan kolaboratif melatih keterampilan sosial dan komunikasi siswa. Guru menyiapkan siswa agar mampu bekerja dalam lingkungan global. Hal ini memperkaya pengalaman belajar siswa secara menyeluruh.
Nama: Lidia Jaimun
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206091
Izin menanggapi Pak, guru abad ke-21 juga bertanggung jawab membangun jejak digital positif. Guru memberi contoh penggunaan media sosial yang bijak dan profesional. Siswa meniru perilaku guru dalam berinteraksi di dunia digital. Guru mengajarkan etika, tanggung jawab, dan keamanan digital kepada siswa. Proses ini membantu siswa memahami dampak dari aktivitas daring mereka. Guru membimbing siswa agar menggunakan teknologi secara sehat dan bermanfaat. Dengan demikian, pendidikan karakter tetap terjaga di era digital.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Guru pada abad 21 mengajar tentang bagaimana siswa untuk berfikir lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan HP ini sangat membantu siswa memahami dampak jika menggunakan media sosial secara berlebihan dan juga guru bertanggung Jawab membimbing siswa untuk menggunakan teknologi lebih bijak dan efektif
Saya sangat setuju bahwa pembelajaran abad ke-21 harus dipersonalisasi karena setiap peserta didik memiliki kepribadian, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda, sehingga memberikan konten yang seragam untuk semua orang sudah tidak lagi relevan.
BalasHapusArtikel ini memberikan poin yang kuat bahwa ketika siswa diberikan kendali atas pembelajaran mereka dan diizinkan membuat pilihan sendiri, hal tersebut secara efektif dapat meningkatkan motivasi intrinsik dan mendorong mereka untuk berusaha mencapai hasil belajar yang lebih baik.
BalasHapusSangat menarik melihat bagaimana kemajuan teknologi menuntut guru untuk tidak sekadar menyuapi pengetahuan, tetapi menjadi fasilitator yang mendukung gaya dan preferensi belajar peserta didik yang kini memiliki akses tak terbatas ke informasi.
BalasHapusNama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Setelah membaca materi ini, saya jadi semakin paham bahwa peran guru abad ke-21 memang sudah sangat berbeda dengan sebelumnya. Kelas yang berpusat pada peserta didik terasa lebih relevan dengan kondisi sekarang, karena siswa punya kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda-beda. Ketika siswa diberi ruang untuk memilih cara belajar mereka sendiri, suasana kelas juga jadi lebih hidup dan tidak kaku. Dari pengalaman pribadi saya, belajar terasa lebih bermakna saat kita merasa dipercaya untuk mengatur proses belajar sendiri, bukan hanya menerima materi secara satu arah.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi lagi, Pak. Saya setuju dengan penekanan bahwa siswa seharusnya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen. Selama ini, banyak siswa memang akrab dengan gawai, tetapi belum tentu mampu memanfaatkannya untuk hal produktif. Padahal, potensi seperti membuat video, infografis, atau proyek digital bisa sangat membantu mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka. Jika diarahkan dengan baik, perangkat yang sering dianggap gangguan justru bisa menjadi alat belajar yang kuat dan relevan dengan dunia nyata.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin memberikan saran dari saya, Pak. Bagian tentang guru yang terus belajar teknologi terasa sangat realistis dan jujur. Teknologi memang berkembang sangat cepat, dan rasanya wajar jika guru juga merasa kewalahan. Namun, materi ini mengingatkan bahwa guru pemula maupun berpengalaman sama-sama belajar dari titik yang hampir sama ketika teknologi baru muncul. Pola pikir mau belajar dan mencoba menurut saya lebih penting daripada harus langsung mahir, karena sikap inilah yang nantinya juga dicontoh siswa
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi yaa, Pak. Menurut saya, materi di atas sangat menarik ketika membahas pembelajaran yang bersifat global dan kolaboratif. Kesempatan untuk terhubung dengan orang dari budaya dan negara lain membuka wawasan siswa secara nyata, bukan hanya dari buku teks. Ini membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual dan bermakna. Saya membayangkan siswa tidak hanya belajar materi pelajaran, tetapi juga belajar empati, komunikasi, dan menghargai perbedaan, yang sangat dibutuhkan di dunia saat ini.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin curhat sedikit, Pak. Bagian tentang jejak digital positif dan etika penggunaan media sosial terasa sangat relevan dengan kondisi sekarang. Guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga menjadi teladan di ruang digital. Sikap guru di media sosial secara tidak langsung membentuk cara pandang siswa tentang etika dan tanggung jawab daring. Menurut saya, ketika guru mampu menunjukkan penggunaan teknologi yang bijak dan profesional, siswa pun akan lebih mudah diarahkan untuk membangun identitas digital yang positif dan bertanggung jawab.
Nama : Ninda Amelia Saputri
BalasHapusNPM : 2386206093
Kelas : 5D PGSD
Izin menanggapi, Pak. Dari materi ini terlihat bahwa peran guru abad ke-21 menuntut kemampuan untuk terus beradaptasi dengan teknologi dan kebutuhan siswa yang beragam. Namun, di lapangan sering kali guru juga dibatasi oleh kurikulum, fasilitas sekolah, atau kesiapan siswa itu sendiri. Izin bertanya, Pak. Menurut Bapak, bagaimana cara guru tetap bisa menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memanfaatkan teknologi secara optimal di tengah keterbatasan tersebut?
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Hai Ninda aku izin dan bantu jawab pertanyaanmu ya. Kalau menurutku, meskipun guru abad ke-21 dituntut untuk memanfaatkan teknologi dan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, keterbatasan di lapangan memang menjadi tantangan yang nyata namun, hal ini tidak selalu berarti pembelajaran tidak bisa berjalan optimal. Salah satu cara agar pembelajaran tetap berpusat pada siswa adalah dengan memposisikan guru sebagai fasilitator, bukan satu-satunya sumber belajar. Guru dapat memberi ruang bagi siswa untuk aktif bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi ide, meskipun dengan fasilitas yang sederhana misalnya, diskusi kelompok kecil atau tugas berbasis masalah tetap bisa dilakukan tanpa teknologi yang canggih dalam pemanfaatan teknologi, menurutku guru abad ke-21 tidak harus selalu menggunakan alat yang kompleks. Teknologi sederhana dan dekat dengan siswa, seperti penggunaan ponsel secara terbatas, video pendek, atau media visual yang mudah diakses, sudah cukup membantu meningkatkan minat belajar siswa dan yang terpenting adalah tujuan penggunaannya jelas dan sesuai dengan kebutuhan siswa, bukan sekadar mengikuti tren.
Nama: Nur Sinta
HapusNPM: 2386206033
Kelas: VB PGSD
Ninda aku izin menambahkan jawabanku. Selain itu, karakter guru abad ke-21 juga terlihat dari kemampuan beradaptasi dan reflektif. Guru perlu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi siswa dan lingkungan sekolah. Jika siswa belum siap menggunakan teknologi tertentu, guru dapat mengombinasikan pembelajaran konvensional dengan pendekatan aktif agar siswa tetap terlibat. Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa guru abad ke-21 bukan hanya dinilai dari kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi dari kemampuannya menciptakan pembelajaran yang bermakna, relevan, dan berpusat pada siswa, meskipun di tengah berbagai keterbatasan.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Terimakasih atas materinya pak dengan adanya materi ini saya jadi tau hal baru. ternyata jadi guru di zaman sekarang itu tantangannya beda ya. kita tidak cuma mengajarkan materi saja, tetapi juga diharuskan pintar dalam menggunakan teknologi agar kelas tidak membosankan dan kaku kalau pakai buku teks terus. lalu saya juga tertarik pada bagian yang bilang bahwa guru itu harus terus belajar dan berinovasi, apalagi sekarang AI makin menjamur. intinya, guru dan siswa harus jadi tim yang solid buat kolaborasi bareng.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM: 2386266003
Menurut saya teknologi seperti ponsel dan komputer seharusnya tidak lagi dianggap sebagai gangguan di dalam kelas melainkan sebagai alat bantu yang sangat berguna selama ini kita sering melarang siswa memakai ponsel padahal jika diarahkan dengan benar mereka bisa belajar menjadi pembuat konten atau bahkan belajar coding intinya guru perlu membimbing siswa agar perangkat canggih yang mereka pegang tidak hanya dipakai untuk sekadar mengobrol tapi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Saya setuju bahwa cara mengajar dengan hanya mengandalkan buku teks sudah terasa ketinggalan zaman sekarang kelas harus lebih berpusat pada siswa di mana mereka bebas mencari informasi sendiri dan mengerjakan proyek yang nyata guru tidak perlu lagi memberikan materi yang sama persis kepada semua siswa karena setiap anak punya minat dan kebutuhan yang berbeda-beda memberikan mereka pilihan dalam belajar justru akan membuat mereka lebih semangat.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Menurut saya membangun jejak digital yang positif itu sangat penting guru adalah contoh bagi murid tidak hanya di sekolah tetapi juga di media sosial kita tidak bisa melarang siswa berperilaku buruk di internet jika kita sendiri tidak memberi contoh yang baik oleh karena itu bersikap profesional di media sosial bukan hanya untuk menjaga nama baik tetapi juga sebagai cara mengajarkan siswa agar bersikap sopan dan bertanggung jawab di dunia digital.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Saya setuju bahwa teknologi membuat kita bisa mendunia tanpa harus pergi ke mana-mana lewat internet siswa dapat belajar tentang budaya lain langsung dari sumbernya dan bekerja sama dengan orang dari berbagai daerah atau negara guru juga bisa terhubung dengan pakar atau sesama guru untuk saling berbagi ide kolaborasi seperti ini terasa lebih menarik dibandingkan hanya membaca teori di kelas karena siswa bisa melihat dan memahami gambaran dunia kerja yang sebenarnya.
Nama : Muhammad Nur Fauzi
BalasHapusKelas : 5A PGSD
NPM : 2386206003
Menurut saya melihat perkembangan zaman yang sangat cepat guru memang tidak bisa berhenti belajar ekarang sudah banyak teknologi baru seperti AI yang mulai digunakan di berbagai bidang guru yang baik adalah guru yang mau belajar hal baru walaupun harus belajar bersama dengan siswa dengan terus mencoba dan menyesuaikan diri dengan teknologi guru tidak akan tertinggal dan tetap bisa mengikuti perkembangan zaman.
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Izin menanggapi pak, dari materi ini mengingatkan pada peran guru di abad 21 jauh berbeda dengan masa lalu. Yang mana, guru tidak hanya menjadi sumber pengetahuan tapi juga fasilitator yang membantu siswa menemukan dan mengolah informasi.
Dan dalam materi ini menyoroti tentang tantangan besar yang dihadapi guru di abad 21. Banyak guru yang masih terjebak pada metode lama, padahal siswa sekarang sudah hidup di jaman modern yang penuh dengan teknologi dan informasi.
HapusOleh karena itu, guru modern harus bisa mencakup kemampuan literasi digital, keterampilan komunikasi global, dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan.
HapusNama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, guru abad ke-21 harus mampu menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Setiap siswa memiliki kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda, sehingga pembelajaran yang dipersonalisasi dapat membantu siswa lebih termotivasi dan aktif dalam proses belajar.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, peran siswa sebagai produsen sangat penting di era digital. Dengan memanfaatkan teknologi, siswa dapat menghasilkan karya seperti video, presentasi, atau proyek digital yang dapat melatih kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan rasa percaya diri mereka.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, guru abad ke-21 harus terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal ini penting agar guru tidak tertinggal dan dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran yang lebih menarik dan relevan.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, pembelajaran berbasis proyek sangat sesuai diterapkan pada siswa masa kini. Melalui proyek, siswa belajar bekerja sama, mencari informasi secara mandiri, serta menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Nama: Leoni Wulandari
BalasHapusKelas: 5D
NPM: 2386206088
Menurut saya, guru abad ke-21 harus mampu menjadi teladan dalam membangun jejak digital yang positif. Dengan menunjukkan penggunaan teknologi dan media sosial secara bijak, guru dapat mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab dan beretika di dunia digital.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Menjadi guru di abad ke-21 berarti harus berani mempelajari teknologi baru secara berkelanjutan,Ponsel dan komputer bukan lagi gangguan,melainkan alat bantu belajar yang kuat. Guru yang gagap teknologi akan sulit menjembatani komunikasi dengan siswa yang setiap harinya sudah sangat akrab dengan berbagai aplikasi dan platform digital.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
inti dari guru abad ke-21 adalah kerendahan hati untuk terus belajar. Kita sebagai calon guru harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Dengan tetap berinovasi dan mencoba cara cara baru,kita tidak hanya memberikan ilmu,tetapi juga menularkan semangat belajar yang tak bisa pernah padam kepada peserta didik.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Munculnya teknologi Al seperti saat ini menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Al tidak bisa di hindari,maka guru harus mampu mengintegrasikan dalam pembelajaran. Fokusnya adalah mengajari siswa bagaimana cara menggunakan Al secara kritis dan kreatif,sehingga teknologi tersebut memperkuat kemampuan berpikir bukan justru menggantikannya.
Dita Ayu Safarila
Hapus5 C
2386206048
Guru harus menjadi teladan dalam menggunakan media sosial dan internet secara bijak. Sebagai calon guru kita bertanggung jawab mengarahkan siswa agar membangun reputasi digital yang baik. Mengajarkan etika berinternet sama pentingnya dengan mengajarkan materi pelajaran,karena jejak digital mereka akan sangat berpengaruh pada masa depan mereka kelak.
Dita Ayu Safarila
BalasHapus5 C
2386206048
Kolaborasi di abad 21 bukan hanya sekedar mengirim email. kita harus mampu menciptakan proyek digital bersama yang melibatkan interaksi nyata. Ketika siswa berkolaborasi secara global atau digital mereka belajar cara berkomunikasi secara profesional. ini mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia kerja nyata yang sangat ini mayoritas berbasis kerja sama tim.
2386206060 (5B)
BalasHapusjadi kalau kita liat dari kondisi nyata di sekolah, konsep guru abad 21 itu bagus, tapi praktiknya nggak selalu semulus teorinya. Banyak guru masih diburu target kurikulum dan administrasi, jadi susah fokus ke kreativitas dan inovasi. di sisi lain juga ada siswa yang sekarang cepat bosan kalau pembelajaran cuma satu arah,jadi guru bisa mulai dari hal kecil dulu, nggak harus langsung pakai teknologi canggih. Misalnya ubah cara bertanya, ajak diskusi ringan, atau beri tugas yang sedikit lebih bebas tapi tetap terarah.
2386206060 (5B)
BalasHapuskalau Di dunia sekarangkan kemampuan digital sudah jadi kebutuhan,itu bukan pilihan ya Walau coding terdengar sulit, sebenarnya bisa dikenalkan secara sederhana kayak sekolah tidak perlu memaksa, tapi mengenalkan dasar-dasarnya saja agar siswa tidak kaget menghadapi dunia luar yang serba teknologi di jaman sekarang
2386206060 (5B)
BalasHapuskalau di luar sklh jejak digital anak sering tidak terkontrol karena kurang pendampingan. Guru abad 21 punya peran penting sebagai contoh. Masukannya, guru bisa memberi pemahaman soal etika digital, bukan cuma melarang media sosial, tapi mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak.
Nama: Finsensos Maria Seno
HapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin menanggapi, saya sependapat dengan Okta bahwa siswa sudah dekat dengan gadget. Peran guru bukan hanya melarang, tetapi juga mengarahkan. Aturan tetap penting, namun harus disertai penjelasan. Hal ini membantu siswa lebih bertanggung jawab.
Nama: Finsensos Maria Seno
HapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin menjawab, terimah kasih okta Guru memang berperan penting dalam mendampingi siswa di era digital. Larangan saja tidak cukup tanpa adanya penjelasan yang jelas. Guru perlu memberi contoh penggunaan teknologi yang baik.
2386206060 (5B)
BalasHapusbahkan di dunia nyata juga masih banyak kelas yang gurunya dominan ngomong, sementara siswa cuma duduk, dengar, dan nyatet udahb gitu ada, Padahal konsep kelas berpusat pada siswa ini relevan banget sama kondisi anak sekarang yang sebenarnya aktif dan kritis. tapi Kalau siswa diberi ruang buat berpendapat dan memilih cara belajarnya, mereka jadi lebih terlibat. kayak guru bisa mulai dari hal kecil dulu, misalnya memberi pilihan tugas atau memberi waktu diskusi, supaya siswa merasa pendapatnya dihargai.
Nama: Finsensos Maria Seno
HapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin menanggapi, pendapat Okta sangat sesuai dengan kondisi saat ini. Banyak siswa yang sudah terbiasa dengan dunia digital sejak dini. Guru perlu memberi ruang diskusi agar siswa bisa menyampaikan pendapat. Dengan begitu, siswa merasa lebih dihargai.
2386206060(5B)
BalasHapusdan nyatanya siswa sudah sangat dekat dengan gadget dan media sosial, tapi di sekolah justru sering dilarang total itu pasti sudah sangat jelas di sekolah manapun, Padahal di luar sekolah, mereka belajar banyak hal dari internet. Komentar ini nyambung banget sama pembahasan guru abad 21. untuk itu sekolah dan guru sebaiknya tidak hanya melarang, tapi mengarahkan. Ajarkan cara pakai HP buat hal positif, supaya siswa tahu batasan dan tanggung jawabnya.
2386206060
BalasHapus(5B)
bahkan di lapangan pun ya, tidak semua guru nyaman dengan teknologi, bahkan ada yang masih takut salah pakai. Tapi kenyataannya, dunia di luar sekolah sudah serba digital anak anak malah sering lebih cepat paham teknologi dibanding gurunya. guru tidak harus langsung mahir, cukup mau belajar pelan-pelan. Yang penting terbuka dan mau mencoba, karena sikap guru juga jadi contoh buat siswa.
Nama: Finsensos Maria Seno
HapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin menanggapi, pendapat Okta sangat tepat. Guru tidak harus selalu bersikap keras kepada siswa. Sikap terbuka dan mau mendengar akan membuat siswa lebih nyaman. Guru juga menjadi teladan bagi peserta didik.
2386206060 (5B)
BalasHapuskalau kita ngomongin soal teknologi dan digital,itu bisa saja realitanya nggak semua guru dan sekolah punya fasilitas yang sama. Ada sekolah yang lengkap, bahkan ada juga yang sangat terbatas. tapi ya bukan berarti nggak bisa jadi guru abad 21. karna yang penting itu sikap mau belajar dan terbuka terhadap perubahan. Walaupun sederhana, kalau guru mau menyesuaikan dengan dunia siswa yg sekarang, pembelajaran tetap bisa terasa relevan dan bermakna.
Nama: Finsensos Maria Seno
HapusKelas::5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin menanggapi, saya setuju dengan Okta mengenai perbedaan fasilitas sekolah. Tidak semua sekolah memiliki akses teknologi yang sama. Guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi siswa. Dengan begitu, pembelajaran tetap berjalan efektif.
2386206060 (5B)
BalasHapusada hal penting yang sering kejadian di dunia nyata itu soal hubungan guru dan siswa Di sekolah, masih ada jarak yang cukup besar antara guru dan siswa, seolah guru cuma penyampai materi dan siswa penerima. Padahal di luar sekolah, anak anak itu lebih terbuka belajar dari orang yang mereka rasa dekat dan paham kondisi mereka. Guru abad 21 itu bukan cuma pintar mengajar, tapi juga mampu membangun hubungan yang nyaman dengan siswa. Kalau siswa sudah merasa dihargai dan didengar, mereka lebih berani bertanya, mencoba, dan tidak takut salah guru bisa mulai dari hal sederhana seperti menyapa siswa dengan hangat, mendengarkan cerita mereka, atau memberi respon yang tidak menghakimi. Hal kecil seperti ini kelihatannya sepele, tapi di dunia nyata dampaknya besar untuk suasana belajar dan perkembangan siswa.
Nama: Finsensos Maria Seno
HapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin menjawab , pendapat Okta menekankan pentingnya peran guru sebagai pembimbing. Hubungan yang baik antara guru dan siswa sangat diperlukan. Siswa akan lebih mudah menerima arahan jika merasa didengar. Hal ini berdampak positif pada proses belajar.
2386206060 (5B)
BalasHapusada juga hal yang sering banget kejadian tapi jarang dibahas itu adalah kesenjangan antara aturan sekolah dan kenyataan di luar sekolah. kalau di skolah siswa sering dituntut rapi, patuh, dan serba diatur pasti nya itu ada selalu di sklh mana pun. Tapi begitu di luar sekolah, mereka harus menghadapi dunia yang bebas, penuh pilihan, dan menuntut tanggung jawab sendiri. Kalau di sekolah anak terlalu dibiasakan “disuruh”, mereka jadi kaget saat harus mandiri. Guru abad 21 seharusnya bisa menjembatani hal ini dengan memberi siswa ruang mengambil keputusan kecil, seperti memilih cara belajar atau menentukan bentuk tugas.makanya itu sekolah tidak perlu takut memberi kepercayaan pada siswa. Dengan latihan sejak dini, siswa akan lebih siap menghadapi dunia nyata yang tidak selalu ada aturan tertulisnya
Hanifah
BalasHapus5C
2386206073
Menurut saya guru abad 21 tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami kebutuhan siswa yang beragam dan menjadi teladan dalam sikap serta nilai.
Pesan dari materi ini yaitu guru abad 21 adalah agen perubahan yang membentuk generasi masa depan. Dengan kreativitas, keterampilan digital, dan kepedulian sosial guru. isa menjadikan kelas sebagai ruang inovasi dan inspirasi.
HapusMateri ini menyoroti bahwa karakteristik guru abad 21 mencakup kompetensi pedagogik, teknologi, sosial, dan moral. Tantangan global menuntut guru untuk tidak hanya mengajar, tapi juga membimbing siswa agar memiliki keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.
HapusNama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya pak, pada materi ini disebutkan kalau sekarang siswa bisa mencari informasi apa saja sendiri. menurut bapak, apakah masih relevan kalau guru di kelas hanya berceramah terus atau memberikan materi yang sama ke semua orang? kenapa?
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Haii Selma👋🏻 izin menjawab pertanyaan kamu, menurut saya metode ceramah terus-menerus dan memberikan materi yang sama ke semua siswa itu sudah tidak relevan lagi yaa untuk di era sekarang, kalau di tanya kenapa?Alasannya cukup sederhana yakni pertama, seperti yang disebutkan pada materi tentang kelas berpusat pada peserta didik setiap siswa itu punya kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda ada yang lebih cepat paham, ada yang butuh waktu lebih lama, ada yang suka visual dan ada yang lebih suka praktek langsung, kalau kita paksa semua siswa belajar dengan cara yang sama, ya pasti ada yang tertinggal atau malah bosan karena itu terlalu mudah dan yang kedua, siswa sekarang bisa googling sendiri kalau hanya butuh informasi dasar mereka tidak perlu mendengarkan guru ceramah satu jam buat tahu definisi fotosintesis misalnya, karena itu bisa mereka cari sendiri dalam hitungan menit jadi kalau guru hanya jadi mesin pemberi informasi saja, perannya jadi tidak efektif.
Jadi yang lebih dibutuhkan sekarang yakni guru yang bisa membimbing siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, memilah informasi mana yang benar, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam bentuk proyek nyata seperti yang dijelaskan di poin pembelajaran berbasis proyek, siswa perlu dibimbing untuk mengeksplorasi sendiri bukan cuma menerima informasi mentah-mentah saja. Jadi kalau dilihat lagi guru harus lebih banyak memfasilitasi diskusi, membuat kegiatan yang melibatkan siswa aktif, dan memberikan pembelajaran yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Semoga membantu 🙏🏻
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskelas : 5C
Izin menjawab pertanyaan dari selma. Jujur saja menurut saya pribadi, kalau guru cuma datang buat ceramah atau sekadar membacakan teks, posisi guru bakal gampang banget digantikan sama YouTube atau Google.
Jadi, gaya lama itu sudah kurang relevan, karena sekarang siswa bisa cari info di mana saja. Kalau guru cuma kasih materi yang sama persis dengan yang ada di internet, mereka bakal bosan dan merasa nggak butuh sekolah. Dengan cara memberikan materi yang sama rata ke semua orang itu nggak adil. Ada anak yang cepat paham, ada yang butuh waktu. Guru harusnya jadi "pemandu" yang membantu tiap anak sesuai kebutuhannya, bukan "siaran radio" yang cuma satu arah.
Nama: Selma Alsayanti Mariam
BalasHapusNpm: 2386206038
Kelas: VC
Saya izin bertanya lagi pak, bayangkan jika kelas yang benar-benar paperless alias tidak menggunakan kertas sama sekali. menurut bapak, apa tantangan paling berat untuk guru dan siswa di Indonesia apabila ingin menerapkan hal tersebut?
Nama : Miftahul hasanah
Hapuskelas : 5C
izin menjawab pertanyaan dari selma, tantangan yang paling berat guru dan siswa ada beberapa sperti.
1. kesenjangan digital, tidak smua siswa punya hp yang mendukung atau sinyal internet yang stabil.
2. kelelahan mata dan mental, menatap layar selamsa 5-7 jam sehari itu melelahkan banget. dan godaan untuk malah buka tab hibura sepwrti game/sosmed saat belajar.
3. hilangnya sentuhan "motorik"
karena mengetik di layar sm menulis di kertas itu beda rasanya di otak. Tantangan nya adalah memastikan siswa tidak kehilangan kemampuan fokus dan daya ingay yang biasanya lebib kuat saat kita menulis tangan.
Nama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Guru abad ke-21 dituntut untuk mampu memahami perbedaan kebutuhan belajar setiap peserta didik. Pembelajaran yang berpusat pada siswa membuat mereka merasa dihargai dan dilibatkan secara aktif. Dengan memberi ruang pilihan, siswa menjadi lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Hal ini berdampak positif pada motivasi dan hasil belajar mereka.
Peran siswa sebagai produsen konten merupakan langkah maju dalam dunia pendidikan modern. Ketika siswa diberi kesempatan mencipta, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka berkembang. Teknologi tidak lagi hanya menjadi sarana hiburan, tetapi alat pembelajaran yang bermakna. Guru berperan penting dalam mengarahkan pemanfaatannya secara tepat.
HapusKesediaan guru untuk terus mempelajari teknologi baru menunjukkan sikap profesional dan terbuka terhadap perubahan. Dunia pendidikan bergerak cepat seiring perkembangan digital. Guru yang mau belajar ulang akan lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini juga memberi contoh nyata bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.
HapusPembelajaran yang bersifat global membuka wawasan siswa terhadap keberagaman dunia. Interaksi lintas budaya membantu menumbuhkan sikap toleransi dan empati. Guru abad ke-21 tidak membatasi pembelajaran pada buku teks semata. Mereka membawa dunia nyata ke dalam kelas melalui teknologi.
HapusPemanfaatan ponsel secara bijak dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemandirian siswa. Siswa belajar mencari informasi sesuai kebutuhannya sendiri. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Kelas pun menjadi lebih dinamis dan efisien.
HapusNama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Peralihan ke sistem pembelajaran digital memberikan kemudahan akses dan pengelolaan materi. Lingkungan belajar tanpa kertas lebih ramah dan terorganisir. Siswa dapat mengakses sumber belajar kapan saja dan di mana saja. Hal ini mendukung pembelajaran yang fleksibel dan berkelanjutan.
Kolaborasi menjadi keterampilan penting yang harus difasilitasi guru masa kini. Teknologi memungkinkan kerja sama lintas kelas bahkan lintas negara. Melalui kolaborasi, siswa belajar berkomunikasi dan menghargai ide orang lain. Pembelajaran pun terasa lebih kontekstual dan nyata.
HapusKeterhubungan guru dengan komunitas profesional memperkaya wawasan dan praktik mengajar. Media sosial dapat menjadi sarana berbagi ide dan solusi pendidikan. Guru tidak lagi bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan pembelajaran. Jaringan yang kuat mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
HapusPembelajaran berbasis proyek mendorong siswa untuk aktif mengeksplorasi dan meneliti. Siswa belajar memecahkan masalah nyata dengan sumber yang autentik. Guru berperan sebagai pembimbing, bukan pemberi jawaban. Pendekatan ini melatih kemandirian dan tanggung jawab siswa.
HapusGuru abad ke-21 harus menjadi teladan dalam membangun jejak digital yang positif. Sikap profesional di dunia maya sama pentingnya dengan di kelas. Dengan memberi contoh yang baik, siswa belajar etika digital sejak dini. Hal ini penting untuk membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter di era digital.
HapusNama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Terimakasih sebelumnya Izin bertanya pak , apa tujuan utama dari materi ini? Mengapa materi ini penting untuk dipelajari? Izin menanggapi, menurut saya materi ini sudah dijelaskan dengan jelas. Materi ini juga mudah dipahami.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin bertanya, apa manfaat dari materi ini dalam kehidupan sehari-hari? Apakah ada contoh nyatanya? Izin menanggapi, materi ini sangat membantu menambah wawasan. Penjelasannya juga sederhana.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin bertanya, bagaimana cara menerapkan materi ini dengan baik? Apakah semua orang bisa menerapkannya? Izin menanggapi, materi ini cukup relevan. Isi materinya juga bermanfaat.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin bertanya, mengapa materi ini perlu diajarkan kepada peserta didik? Apa dampaknya jika tidak dipahami? Izin menanggapi, menurut saya materi ini penting. Penyampaiannya juga mudah dimengerti.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin bertanya, apa inti pembahasan dari materi ini? Apakah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari? Izin menanggapi, materi ini sangat jelas. Contohnya juga membantu pemahaman.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Izin bertanya lagi pak, apa peran kita setelah mempelajari materi ini? Bagaimana penerapannya di lingkungan sekitar? Izin menanggapi, materi ini sangat bermanfaat. Penjelasannya juga tidak membingungkan.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Materi ini sesuai relevan dengan kondisi saat ini. Isinya sesuai dengan keadaan yang kita alami sekarang. Materi ini penting untuk dipahami oleh peserta didik. Penjelasannya cukup jelas dan mudah dimengerti.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Halo Finsensos 👋🏻 betul sekali pendapat kamu tentang materi ini karena memang sangat sesuai dengan apa yang kita hadapi sebagai calon guru di era digital coba kita lihat sekeliling, hampir semua siswa sudah punya smartphone dan akses internet kan? Nah, ini yang membuat karakteristik guru abad 21 ini jadi sangat penting untuk kita pahami dan terapkan nantinya, materi ini juga tidak hanya bicara soal teknologi saja tetapi juga tentang perubahan mindset atau pola pikir kita sebagai guru misalnya, soal membangun jejak digital positif atau mengubah siswa dari konsumen jadi produsen konten ini hal-hal yang bener-bener terjadi di kehidupan nyata sekarang.
Kalau boleh saya tambahkan sedikit, sebagai mahasiswa PGSD kita harus mulai membiasakan diri dengan poin-poin ini sejak sekarang jangan sampai nanti pas sudah jadi guru baru kaget dan bingung harus mulai dari mana misalnya, mulai belajar bikin konten edukatif digital, atau coba aplikasi-aplikasi pembelajaran yang bisa dipake di kelas dari sekarang kita bisa latihan kolaborasi digital bersama teman-teman lewat Google Docs atau platform lainnya, pokoknya di materi ini memang benar-benar jadi bekal penting buat kita semua nantinya.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Materi ini berkaitan dengan materi sebelumnya. Penyusunannya runtut sehingga mudah dipahami. Hal ini membantu kita memahami pembahasan secara menyeluruh. Materinya tidak membingungkan.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Materi ini memberikan pemahaman baru bagi saya. Isi materinya disampaikan dengan jelas. Contoh yang diberikan membantu pemahaman. Materi ini menambah wawasan.
Nama: Finsensos Maria Seno
BalasHapusKelas: 5D PGSD
Npm: 2386206090
Dari Materi ini memiliki bnyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Isinya dapat diterapkan dalam lingkungan sekitar. Menurut saya materi ini sangat berguna. Pembahasannya bersifat mendidik.
Nama: Hizkia Thiofany
BalasHapusKelas: V A
Npm: 2386206001
Pada abad 21 guru mengajar dengan cara menjelaskan materi penting kepada siswa jadi siswa belajar menyimak dengan baik dan cermat.
Dalam pembelajaran matematika guru akan menjelaskan bagian rumus permasalahan jadi guru menjelaskan secara diteil.
HapusAda berapa manfaat bagi kehidupan sehari Hari dimana mereka belajar berdasarkan kemampuan analisa mereka jadi mereka belajar secara komputasi.
HapusDalam pembelajaran matematika pada abad 21 sangat bagus bagi siswa dan mendidik moralitas mereka
HapusJadi guru pada abad 21 menggunakan metode pembelajaran matematika tersebut supaya dapat menjelaskan materi secara terperinci.
HapusNama : Shela Mayangsari
BalasHapusNpm : 2386206056
Kelas : V C
Ulasan ini menjelaskan ODD dengan sangat runtut dan mudah dipahami, mulai dari pengertian, faktor penyebab, hingga penanganannya, sehingga membantu pembaca melihat bahwa perilaku menentang pada anak bukan muncul begitu saja. Penekanan pada peran lingkungan, pola asuh, dan pendekatan terapi yang tepat memberi gambaran bahwa anak dengan ODD tetap bisa berkembang dengan baik jika mendapat dukungan yang konsisten dari keluarga, sekolah, dan tenaga profesional.
Nama : miftahul hasanah
BalasHapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Dengan banyaknya tuntutan guru abad 21—dari penggunaan teknologi, kolaborasi global, sampai personalisasi belajar—gimana caranya guru nggak kewalahan? Apa ada prioritas yang seharusnya dikuasai dulu biar nggak terasa “terlalu banyak”?
Nama: Arjuna
BalasHapusNpm: 2386206018
Kelas: 5A
Aku juga setuju banget kalau guru zaman sekarang harus terus belajar teknologi baru, karena itu ngebantu banget buat nyambung sama cara siswa belajar jaman sekarang bukan berarti semua harus pakai hp 100% waktu belajar tapi setidaknya guru paham gimana alat digital bisa dipakai untuk ngembangin ide pembelajaran yang lebih menarik
Terus itu menurut aku karakteristik yang paling penting itu mampu membangun kolaborasi dan koneksi, baik dengan siswa maupun dengan guru lain di luar sekola guru abad 21 juga perlu ngerti budaya global dan bisa menunjukkan contoh cara menggunakan teknologi secara bijak
BalasHapusPokoknya jadi guru sekarang itu berarti harus adaptif kreatif kolaboratif dan terus belajar bukan cuma sekadar guru di depan kelas itu bikin tugas mengajar jadi lebih dinamis dan relevan sama tantangan dunia nyata yang siswa hadapi
BalasHapusnama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
Izin bertanya, Pak… saya masih agak bingung. Dengan banyaknya tuntutan guru abad 21—dari penggunaan teknologi, kolaborasi global, sampai personalisasi belajar—gimana caranya guru nggak kewalahan? Apa ada prioritas yang seharusnya dikuasai dulu biar nggak terasa “terlalu banyak”?
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskls : 5C
Izin menjawab pertanyaa erfina, jujur aja kalau semua mau dikejar sekaligus, yang ada malah burnout.
prioritas yang bisa kamu pegang dulu seperti.
Kuasai "Mindset" sebelum "Tools". Teknologi itu cuma alat. Prioritas pertama adalah bangun hubungan dulu sama siswa. Kalau kamu sudah kenal karakter mereka, mau pakai cara manual atau teknologi canggih pun, pelajaran bakal lebih masuk. bisa juga bangun kolaborasi, Jangan "Solo Player":
Guru abad 21 itu bukan yang jago sendirian, tapi yang pinter bagi tugas. Gabung ke komunitas (kayak MGMP atau grup WA guru), contek ide yang sudah ada, modifikasi dikit. Jangan bikin semuanya dari nol.
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
npm:2386206065
Pak, mau nanya juga. Di bagian soal memanfaatkan perangkat siswa untuk belajar, gimana cara memastikan mereka benar-benar fokus buat belajar, bukan malah buka hal lain? Soalnya di lapangan kayaknya itu tantangan besar banget.
Nama: Dominika Dew Daleq
BalasHapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Setelah membaca materi ini, saya merasa cukup tercerahkan yaa sekaligus sedikit tertantang materi ini benar-benar membuka mata saya bahwa menjadi guru di zaman sekarang itu jauh lebih sulit dibanding yang saya bayangkan sebelumnya. Sempat perhatian saya juga tertuju pada bagian tentang siswa sebagai produsen konten saya baru sadar ternyata kita sering melarang siswa menggunakan smartphone di kelas, padahal perangkat itu sebenarnya bisa menjadi alat pembelajaran yang sangat menyenangkan siswa bisa membuat video pembelajaran sendiri, infografis, atau bahkan blog untuk dokumentasi belajar mereka sayang sekali kalau potensi ini diabaikan hanya karena kita masih stuck dengan cara lama.
Nama: Dominika Dew Daleq
HapusNpm: 2386206051
Kelas: V.A
Sedikit saya tambahkan lagi pak yakni poin tentang pembelajaran yang dipersonalisasi juga membuat saya berpikir di bangku kuliah saja kita merasa bosan kalau dosennya hanya ceramah dengan materi yang sama untuk semua orang, apalagi anak SD yang pasti lebih cepat bosan, mereka butuh variasi dan kesempatan untuk belajar sesuai minat mereka masing-masing. Tapi jujur yang membuat saya sedikit khawatir adalah poin tentang coding dan terus belajar teknologi baru saya sendiri masih belum terlalu bisa dengan berbagai aplikasi pembelajaran digital dan ternyata ini adalah tuntutan dasar untuk guru abad 21 ini sekaligus menjadi pengingat buat saya bahwa mulai sekarang harus lebih aktif eksplorasi berbagai tools digital yang bisa mendukung pembelajaran nantinya.
Secara keseluruhan untuk materi ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan sekaligus peluang yang akan kita hadapi sebagai calon guru nantinya, kuncinya itu ada di kemauan kita untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Terima kasih.
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskelas : 5c
Di bagian soal memanfaatkan perangkat siswa untuk belajar, gimana cara memastikan mereka benar-benar fokus buat belajar, bukan malah buka hal lain? Soalnya di lapangan kayaknya itu tantangan besar banget.
nama:erfina feren heldiana
Hapuskelas:5c
npm:2386206065
hallo mifta izin menangapin ya, iya nih bener benget ini tuh PR banget buat kita, tapi ada solusi dengan kasih aturan clear dan fun, misal “perangkat cuma buat ini, kalau kelar bisa explore game atau medsos.” Terus, bikin checkpoint mini atau kuis cepat biar mereka stay fokus. Intinya, gabungin aturan dan tantangan seru, biar mereka ngerasa belajar itu kayak main game, bukan tugas ngebosenin gitu.
Nama : Nadia Vega
BalasHapusKelas : 5C PGSD
NPM : 2386206063
Menurut saya, artikel ini sangat membantu untuk memahami bagaimana peran guru di abad 21 tidak lagi sekadar mengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong peserta didik untuk aktif berpikir, berkolaborasi, dan menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Karakteristik seperti kemampuan mengintegrasikan digitalisasi, mendorong keterlibatan siswa, dan menciptakan lingkungan belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman membuat guru lebih siap menghadapi tantangan pendidikan modern.
Nama : Nadia Vega
BalasHapusKelas : 5C PGSD
NPM : 2386206063
Saya setuju bahwa guru abad 21 dituntut memiliki kreativitas, kemampuan adaptasi, serta keterampilan kolaborasi agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan karakter peserta didik masa kini. Pendekatan yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa, penggunaan teknologi, serta pembelajaran berbasis proyek membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih dinamis dan efektif.
Nama : Miftahul Hasanah
BalasHapuskls : 5C
npm : 2386206040
Materi mengenai karakteristik guru abad 21 ini sangat relevan bagi kita sebagai calon pendidik untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang memengaruhi cara belajar-mengajar. Kita diajak untuk tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan siswa agar menjadi produsen konten kreatif daripada sekadar konsumen digital dalam kehidupan sehari-hari.
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskls : 5C
npm 2386206040
Penting bagi kita untuk membangun jejak digital positif serta terus berinovasi guna menciptakan pembelajaran berbasis proyek yang kolaboratif dan personal bagi siswa.
Nama : Miftahul Hasanah
Hapuskelas : 5C
npm : 2386206040
Dengan terus belajar, kita dapat menjadi contoh profesional yang mampu membimbing generasi digital ini dengan lebih bijak.
nama:erfina feren heldiana
BalasHapuskelas:5c
menurut saya peran guru menjadi sangat lebih bermakna dalam membantu perkembangan siswa secara menyeluruh. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing cara berpikir, sikap, dan keterampilan siswa agar siap menghadapi tantangan zaman. Dengan pendekatan ini, siswa jadi lebih aktif, percaya diri, dan terbiasa berpikir kritis, sehingga proses belajar terasa lebih hidup dan tidak membosankan.
nama:erfina feren heldiana
HapusDan juga guru harus bisa mengikuti perkembangan zaman, termasuk menggunakan teknologi dan mengajak siswa bekerja sama. guru abad 21 itu terbuka, mau belajar terus, dan fokus membantu siswa berkembang, bukan sekadar mengejar nilai.
Nama : Putri Lestari Pinang
BalasHapusNPM : 2386206081
Kelas : 5D PGSD
ijin menambahkan Pak, menurut saya Pak, guru di zaman sekarang tuh dituntut banget buat nggak cuma jago materi, tapi juga harus melek teknologi dan bisa jadi fasilitator yang asikk buat murid-muridnya Pak. Mereka kudu punya pemikiran yang terbuka, fleksibel, dan selalu haus buat belajar hal baru karena ilmu pengetahuan berkembangnya cepet banget loh Pak. Selain itu, guru abad 21 itu biasanya lebih kreatif dalam bikin metode belajar yang nggak ngebosenin dan pinter ngerangkul keberagaman karakter siswa biar suasana kelas jadi lebih hidup dan kolaboratif.
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Izin Pak, sebagai mahasiswa, saya jadi sadar kalau jadi guru di era sekarang itu nggak cukup cuma modal pinter materi aja. Ternyata aspek seperti adaptasi teknologi dan kemampuan menjadi fasilitator itu jauh lebih krusial. Ini jadi pengingat buat saya untuk terus upgrade skill sebelum terjun ke lapangan nanti.
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Suka banget sama poin yang bilang kalau guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Di zaman serba Google ini, peran guru sebagai kompas atau pemandu bagi siswa itu penting banget biar mereka nggak tersesat di tengah banjir informasi. Makasih Pak sudah membedah karakteristik ini dengan sangat jelas.
Nama : Reslinda
HapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Nah saya juga setuju banget sama poin bahwa guru abad 21 harus memiliki jiwa pembelajar sepanjang hayat. Saya sepakat kalau dunia pendidikan itu dinamis banget, apa yang relevan hari ini belum tentu relevan tahun depan. Dengan terus belajar dan terbuka pada hal baru, guru nggak cuma sekadar mengajar, tapi juga memberi teladan tentang cara beradaptasi di dunia yang terus berubah ini. Karakteristik ini menurut saya adalah pondasi dari semua poin lainnya.
Nama : Reslinda
BalasHapusKelas : 5C
Npm : 2386206067
Izin bertanya Pak. bagaimana cara kita sebagai mahasiswa mulai melatih karakteristik ini sejak di bangku kuliah, agar nantinya nggak kaget pas harus berhadapan langsung dengan dinamika di sekolah? Terima kasih sebelumnya.